Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KLINIK TANAMAN (PTN402)

PENGAMATAN KEJADIAN SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA KOMODITAS CABAI DI DESA SUKA DAMAI KECAMATAN DRAMAGA, BOGOR

Disusun Oleh: Andrixinata B Maeniwati Rachmah R Tia Santiani Heryana Muhammad Prio Santoso A34070016 A34080054 A34080072 A34080081

Dosen: Dr. Suryo Wiyono

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PENDAHULUAN

Latar Belakang Cabai (Capsicum annum varlongum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terongterongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negaranegara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industry makanan dan industri obatobatan atau jamu. Buah cabai ini selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani. Disamping itu tanaman ini juga berfungsi sebagai bahan baku industri, yang memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja. Kebutuhan akan cabai merah, diduga masih dapat ditingkatkan dengan pesat sejalan dengan kenaikan pendapatan dan atau jumlah penduduk sebagaimana terlihat dari trend permintaan yang cenderung meningkat yaitu tahun 1988 sebesar 2,45 kg/kapita, menjadi sebesar 2,88 kg/kapita pada tahun 1990 dan pada tahun 1992 mencapai sebesar 3,16 kg/kapita. Sekalipun ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi permintaan terhadap cabai merah untuk kebutuhan sehari-hari dapat berfluktuasi, yang disebabkan karena tingkat harga yang terjadi di pasar eceran. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran. Dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi pada kondisisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang diminta. Hal ini yang mengakibatkan harga akan sangat tinggi. Demikian pula terjadi sebaliknya sehingga harga sangat rendah. Tujuan Melakukan observasi dan identifikasi serangan organisme pengganggu tanamana (OPT) pada tanaman cabai merah serta memberikan rekomendasi pengendalian yang spesisfik.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pengamatan Pengamatan dilakukan di lahan Cabai bapak Ata yang dikelola oleh bapak Eman desa Sukadamai, kecamatan Dramaga, Bogor barat, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan mulai tanggal 19 september 2011, pengamatan dilakukan seminggu sekali selama 5 minggu. Bahan Pada pengamatan kali ini bahan-bahan yang digunakan adalah daun, buah dan batang tanaman yang terinfeksi pada lahan pengamatan seluas 4000 m2. Bagian tanaman yang diambil tersebut adalah sampel dalam pengamatan. Alat Alat yang digunakan berupa kamera untuk pengambilan gambar bagian tanaman yang terinfeksi, mikroskop cahaya dan stereo, cawan petri, spatula, plastik dan label Metode Pengamatan dilakukan di desa Koncong, kelurahan Sukadamai kecamatan Dramaga kabupaten Bogor. Lahan yang diamati adalah milik Bapak Ata dan pengelola lahan adalah Bapak Eman, tanaman cabai ditanam pada lahan seluas 4000 m2. Metode pengambilan contoh Tanaman tumbuh di atas lahan seluas 4000 m2 sehingga tanaman yang diamati adalah hanya tanaman yang sudah ditentukan secara acak. Metode pengacakan dilakukan dengan metode silang. Pada lahan diambil beberapa tanaman yang berada pada garis silang yang telah ditentukan. Sehingga diperoleh 22 tanaman contoh yang akan diambil bagian-bagiannya yang menunjukkan gejala kemudian diamati secara mikroskopis. Metode wawancara Informasi yang lebih lengkap dapat diperoleh dengan cara melakukan wawancara pada pemilik lahan, dan pengelola lahan. Informasi yang diperoleh berupa tanaman budidaya, penggunaan benih, sistem budidaya, sejarah pertanaman, kondisi pertanaman disekitarnya,dan sejarah pengendalian. Metode pengamatan. Pengamatan dilakukan secara lapang dan laboratorium. Pengamatan lapang pada tanaman contoh dilakukan seminggu sekali selama 5 minggu dengan mengamati perkembangan gejala penyakit yang timbul pada saat itu, sedangkan

pengamatan laboratorium dilakukan di laboratorium pendidikan Proteksi Tanaman. Pengamatan laboratorium dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya untuk mendeteksi gejala penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan. Bagian tanaman yang menunjukkan gejala dibawa dengan menggunakan plastik yang digelembungkan dan diamati. Perlakuan sama untuk bagian tanaman yang terserang oleh hama atau cendawan.

TINJAUAN PUSTAKA

Cara Budidaya Tanaman 1. Pengolahan tanah Pengolahan tanah bertujuan mengubah struktur tanah menjadi gembur sesuai untuk perkembangan akar tanaman, menstabilkan peredaran air, peredaran udara dan suhu di dalam tanah. Sebelum dibajak lahan digenangi sehari semalam agar tanah menjadi lunak dan tidak melekat pada mata bajak saat pembajakan. Setelah dibajak lahan dikeringkan dan digaru, kemudian diangin-anginkan selama 5-7 hari. Plot dibuat dengan ukuran panjang 10-12 m. lebar 110-20 cm, tinggi 3040 cm (untuk musim kemarau) 50-70 cm (untuk musim hujan), lebar parit 50-55 cm (musim kemarau), dan 60-70 cm (musim hujan). 2. Pengapuran Pengapuran bertujuan untuk menaikkan pH tanah, selain itu juga untuk menambahkan unsur hara Calsium (Ca) maupun unsur Magnesium (Mg). Kebutuhan Kapur sangat tergantung tinggi rendahnya pH. Pada pH < 5 dibutuhkan kapur 5-10 ton/ha, sedangkan pada pH > 6 diperlukan kapur 1- 4 ton. 3. Pemupukan Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang di butuhkan tanaman, unsur tersebut terdiri dari unsur makro yaitu N, P, K, Ca, S, C, H dan Mg dan unsur mikro yaitu Fe, B, Zn, Cu dan Mo. Jenis dan dosis pupuk makro dan mikro, yang diberikan melalui akar maupun melalui daun. 4. Waktu dan Cara Pemupukan Pemupukan pertama masing-masing pupuk kandang (pupuk organik) sebanyak 100%, pupuk buatan (an-organik) sebanyak 40% dan nematisida furadan diberikan 7-10 hari sebelum tanam menjelang pemasangan mulsa. Pemupukan kedua dan ketiga masing-masing 30% pupuk buatan diberikan pada umur 30 dan 60 hari setelah tanam melalui lubang yang dibuat antar tanaman. Aplikasi ZPT masing-masing jenis diberikan tiap 10 hari sekali secara bersamaan. Sedangkan pupuk daun Gandasil D diberikan pada awal pertumbuhan vegetatif dan Gandasil B diberikan pada akhir masa vegetatif sampai akhir masa generatif. 5. Pemasangan Mulsa Selain mulsa plastik hitam-perak (MPHP) mulsa jerami dapat juga diberikan sebanyak 5ton/ha. Pemasangan mulsa dikerjakan setelah penyiraman secukupnya dan pemberian pupuk dasar.

6. Pembuatan Lubang Tanaman Bedengan yang telah ditutup mulsa dibiarkan selama 5-7 hari agar unsur hara dengan pupuk bereaksi dan dalam bentuk tersedia hingga segera dapat diserap tanaman muda. Satu atau dua hari sebelum penanaman, lubang tanaman sudah dipersiapkan dengan ukuran diameter 10cm. 7. Persiapan Polybag Sebaiknya persemaian cabai merah dilakukan dalam polybag sebelum penanaman ke lapangan. Media tanam dalam polybag merupakan campuran tanah yang telah diayak terlebih dahulu kemudian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos, dengan dosis 1:1. Pemberian pupuk an-organik dan kapur pada media persemaian masing-masing pupuk majemuk NPK sebanyak 2 kg dan kapur 10 kg/ton media kompos dan tanah. Setelah media tanam diisi dalam polybag, lalu dibiarkan antara 5-7 hari sebelum benih disemai. 8. Persemaian Benih Sebelum disemai, benih yang terpilih terlebih dahulu direndam dalam larutan fungisida sampai 12 jam dan dikering-anginkan hingga airnya kering. Setelah itu, benih ditebarkan ke dalam media tanam (polybag) sebanyak 1 biji benih per polybag. Perawatan persemaian terdiri dari penyiraman, pengaturan cahaya, dan pemberantasan hama/penyakit. 9. Penanaman dan Model Tanam Setelah umur bibit di persemaian 18-25 hari, bibit sudah dapat dipindahkan ke lapangan, pemindahan sebaiknya dilakukan pagi-pagi sebelum terik matahari atau sore hari. Jarak tanam dianjurkan bervariasi 60 x 50 cm, 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, hal ini tergantung tingkat kesuburan tanah dan varietas yang digunakan. Bentuk pertanaman sebaiknya dengan sistem tanam segitiga (zigzag). 10. Penyulaman Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Bibit sulaman yang baik diambil dari tanaman yang sehat dan tepat waktu (umur bibit) untuk penanaman. Penyulaman dilakukan pada minggu pertama atau selambatlambatnya minggu kedua. Sebaiknya penyulaman dilakukan pagi atau sore hari. 11. Perempelan Perempelan bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas produksi. Bagian yang dirempel yaitu tunas samping, yang keluar di ketiak daun pada saat tanaman berumur 10-20 hari. Perempelan dilakukan 2-3 kali sampai terbentuk percabangan utama yang ditandai dengan munculnya bunga pertama, sekitar umur 18-22 HST dataran rendah, dan 25-30 HST dataran tinggi. Selain perempelan tunas, perempelan bunga pertama dan bahkan sampai bunga kedua pada tanaman yang cukup sehat perlu dilakukan. Perempelan bunga bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif dengan menunda pertumbuhan generatif.

12. Pemasangan Ajir (sokongan) Sokongan harus dipasang sedini mungkin, yaitu dimulai pada saat tanam atau maksimal 1 (satu) bulan setelah penanaman. Sokongan dipasang sekitar 10 cm dari pangkal batang tanaman. Ukuran sokongan 125 - 150 cm, lebar 4 cm, dan tebal 2,5 cm. Sisi ajir perlu dihaluskan untuk mengurangi kerusakan mekanis pada tanaman akibat gesekan. 13. Pengairan Pengairan harus senantiasa diperhatikan, karena air merupakan faktor vital bagi tanaman cabai. Penyiraman yang paling banyak (2 hari sekali) yaitu, pada fase vegetatif <40 HST. Sistem pengairan dapat dengan menggunakan selang yang dimasukkan ke mulsa plastik melalui lubang tanaman, hingga posisi selang air tepat di tengah-tengah tempat tanaman cabai. Untuk pertanaman pada lahan sawah, sistem pengairan dilakukan dengan cara penggenangan pada saluran drainase antar bedengan dengan ketinggian air sekitar 3/4 tinggi bedengan.

Hama Thrips sp. (Thysanoptera : Thripidae) Siklus hidup Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabai tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabai hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Thrips dapat berkembang biak secara generatif (kawin) maupun vegetatif melalui proses Phartenogenesis, misalnya thrips yang mengalami phartenogenesis adalah Thrips tabaci yang menyerang tembakau. Perkembangbiakan secara phartenogenesis akan menghasilkan serangga-serangga jantan. Menurut Kalshoven (1981) bahwa imago betina Thrips dapat meletakkan telur sekitar 15 butir secara berkelompok kedalam jaringan epidhermal daun tanaman dengan masa inkubasi telur sekitar 7 hari. Gejala serangan Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah pada permukaan daun akan terdapat bercak-bercak yang berwarna putih seperti perak. Hal ini terjadi karena masuknya udara ke dalam jaringan sel-sel yang telah dihisap cairannya oleh hama Thrips tersebut. Apabila bercak-bercak tersebut saling berdekatan dan akhirnya bersatu maka daun akan memutih seluruhnya mirip seperti warna perak. Lama kelamaan bercak ini akan berubah menjadi warna coklat dan akhirnya daun akan mati. Daun-daun cabai yang terserang hebat maka tepinya akan menggulung ke dalam dan kadang-kadang juga terdapat bisul-bisul. Kotoran-kotoran dari Thrips ini akan menutup permukaan daun sehingga daun

menjadi hitam. Jadi pada umumnya bagian tanaman yang diserang oleh Thrips ini adalah pada daun, kuncup, tunas yang baru saja tumbuh, bunga serta buah cabai yang masih muda ( Setiadi, 2004 ). Hama Thrips ini sudah menyerang tanaman cabai dimulai saat nimfa sampai kepada imago. Artinya begitu telur menetas menjadi nimfa maka akan langsung menghisap cairan tanaman. Nimfa biasanya bergerak jauh lebih lambat daripada imago, hal ini penting untuk membedakan antara imago dengan nimfa, Kotoran hama ini yang berbentuk seperti tetes hitam dapat menutupi jaringan daun yang diserangnya sehingga daun berubah menjadi hitam ( Setiadi, 2004 )

Penyakit Antraknosa Siklus hidup penyakit Cendawan pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak cendawan menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. cendawan menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah,- buah. Cendawan hanya sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu cendawan dapat mempertahankan diri dalam sisa - sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Aservulus dangkal, seta bersekat 12. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing (Sinaga, 2006). Umumnya, spora cendawan patek disebarkan oleh angin. Bisa juga melalui peralatan pertanian, bahkan manusia. Cendawan dapat menginfeksi biji dan bertahan dalam sisa-sisa tanaman sakit. Tanaman inang lain lain yang diserang oleh cendawan ini diantaranya yaitu bawang-bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine). Umumnya gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman. Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. Gejala serangan Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides Pens, penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan, cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan

sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 % dengan suhu 320C Cendawan C. capsici menyerang tanaman dengan menginfeksi jaringan buah dan membentuk bercak cokelat kehitaman yang kemudian meluas menjadi busuk lunak. Serangan yang berat menyebabkan buah mengering dan keriput seperti jerami. Pada bagian tengah bercak yang mengering terlihat kumpulan titik-titik hitam dari koloni cendawan. Sedangkan cendawan C. gloeosporioides Pens menyerang tanaman cabe pada saat buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung (die back). Ciri-ciri yang dapat dikenali akibat serangan cendawan ini adalah buah yang terserang terlihat bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini pada bagian tepi berwarna kuning, membesar dan memanjang. Pada kondisi lembab, cendawan memiliki lingkaran memusat berwarna merah jambu.

Penyakit Layu Fusarium Siklus hidup Layu Fusarium adalah penyakit yang paling lazim ditemukan diantara kedua penyakit ini, di daerah Kansas, layu Fusarium umumnya terjadi pada pertengahan musim panas ketika temperatur udara dan tanah tinggi. Patogen penyebab layu Fusarium, dapat menginfeksi tanaman melalui biji yang terkontaminasi atau pencangkokan tanaman yang terinfeksi. Sekali menginfeksi, cendawan ini akan bertahan selama bertahun-tahun pada tanah. Cendawan ini dapat menginfasi tanaman melewati sistem serabut akar dan mengganggu proses pengambilan air dan mineral pada tanaman.Perkembangan infeksi dan penyakit layu Fusarium, didukung oleh suhu tanah yang hangat (48oC) dan kelembapan tanah yang rendah. Cendawan Fusarium sp. merupakan patogen tular tanah atau soil-borne pathogen yang termasuk parasit lemah dan bersifat saprofit. memiliki miselium bersekat dan membentuk percabangan. Cendawan ini menular melalui tanah atau rimpang yang berasal dari tanaman sakit, dan menginfeksi tanaman melalui luka pada rimpang. Luka tersebut dapat terjadi karena pengangkutan benih, penyiangan, pembumbunan, atau karena serangga dan nematode. Daur hidup Fusarium sp. mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, cendawan hidup sebagai parasit pada tanaman inang dan mematikan tanaman inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen hidup di dalam tanah sebagai saprofit pada sisa tanaman dan masuk fase saprogenesis, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbulkan penyakit pada tanaman lain. Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi dan terbawa oleh alat pertanian dan manusia Gejala serangan Penyebab penyakit ini adalah cendawan Fusarium sp., penyakit ini biasanya menyerang tanaman cabai yang ditanam pada tanah masam (ph tanah rendah, kurang dari 6). Serangan ditandai dengan memucatnya tulang daun sebelah atas dan diikuti menunduknya tangkai daun. Jika pada batas antara akar dengan

batang dipotong akan terlihat cicncin coklat kehitaman diikuti busuk basah pada berkas pembuluh. Awal terbentuknya penyakit tanaman ini adalah perubahan warna daun yang paling tua menjadi kekuningan (daun yang dekat dengan tanah). Seringkali perubahan warna menjadi kekuningan terjadi pada satu sisi tanaman atau pada daun yang sejajar dengan petiole tanaman. Daun yang terinfeksi akan layu dan mongering, tetapi tetap menempel pada tanaman. Kelayuan akan berlanjut ke bagian daun yang lebih muda dan tanaman akan segera mati. Batang tanama tomat akan tetap keras dan hijau pada bagian luar, tetapi pada jaringan vaskular tanaman, terjadi diskolorisasi, berupa luka sempit berwarna cokelat. Diskolorisasi dapat dilihat dengan mudah dengan cara memotong batang tanaman didekat tanah dan akan terlihat luka sempit berbentuk cincin berwarna cokelat, diantara daera sumbu tanaman dan bagian terluar batang. Penyakit tular tanah umumnya, sulit dikendalikan karena memiliki kisaran inang yang luas, dapat bertahan dalam tanah dalam waktu yang lama, dan gejala dini sulit diidentifikasi, sehingga penyakit baru dapat diketahui ketika serangan sudah lanjut dan menyebabkan gejala pada bagian atas tanah. Tanaman yang sehat dapat terinfeksi oleh kedua patogen ini, jika di dalam tanah tempat tanaman tumbuh terkontaminasi oleh jamur ini. Jamur ini dapat menyebar pada tanaman lain dengan menginfeksi akar tanaman menggunakan tabung kecambah, atau miselium. Akar tanaman dapat terinfeksi langsung melalui jaringan akar, atau melalui akar lateral. Setelah memasuki akar tanaman, miselium akan berkembang hingga mencapai jaringan korteks akar. Pada saat miselium jamur mencapai xylem, maka miselium ini akan berkembang hingga menginfeksi pembuluh xylem. Miselium yang telah menginfeksi pembuluh xylem, akan terbawa ke bagian lain tanaman, dan mengganggu peredaran nutrisi dan air pada tanaman.

DATA DAN PEMBAHASAN

Data Hasil Pengamatan Tabel 1 Jenis hama dan penyakit yang ditemukan di lapangan Jenis OPT Gambar

Thrips sp.

Antraknosa gloeosporioides Pens)

(Colletotrichum

Layu Fusarium sp.

Lalat buah (Bactrocera dorsalis)

Jenis OPT

Gambar

Virus gemini

Bercak daun Cercospora sp.

Tabel 2. Kejadian dan keparahan penyakit yang utama di lahan cabai Kejadian penyakit Keparahan penyakit Jenis OPT (%) (%) Thrips sp. Tysanoptera: Thripidae 100 69.7 Layu Fusarium sp. 100 64.4 Busuk buah (Colletotrichum 22.72 60.5 gloeosporioides) Contoh perhitungan : Hama Thrips sp. (Tysanoptera: Thripidae)

Layu Fusarium Layu Fusarium merupakan penyakit tanaman cabai yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxyporum Schlecht. Gejala diawali dengan menguning dan layunya daun bagian bawah dekat pangkal. Bagian pembuluh kayu pangkal batang jika diiris akan terlihat berwarna coklat seperti gambar 3, dan akar tanaman yang terserang penyakit ini akan rusak dan busuk, selanjutnya tanaman akan menjadi layu dan mati. Gejala serangan yang tampak hampir mirip dengan gejala serangan layu bakteri. Perbedaanya dapat terlihat saat bagian pangkal batang dipotong dan dicelupkan ke dalam gelas berisi air putih. Tanaman yang terserang layu fusarium tidak akan mengeluarkan eksudat berupa lendir. Tanaman yang terserang penyakit layu fusarium akan mengalami kematian dengan cepat. Tanaman terserang menjadi sumber inokulum cendawan yang dapat tersebar melalui tanah dan air.

Gambar 1 Tanaman terserang layu

Gambar 2 Tingkat kejadian layu

Pada pertanaman yang diamati, kejadian serangan penyakit layu fusarium mulai nampak pada saat tanaman cabai berumur 4 bulan dimana tanaman mulai panen pertama. Jumlah tanaman terserang cukup tinggi, tanaman yang sakit dicabut oleh pengelola dan diganti dengan tanaman kacang panjang. Sayangnya, tanaman yang dicabut tidak diisolasi dan dimusnahkan sehingga serangan tetap terjadi dengan tingkat keparahan yang semakin tinggi. Akibatnya kejadian penyakit sangat tinggi sampai pada saat panen ke 12 saat pengamatan sudah banyak sekali tanaman yang dicabut dan diganti dengan kacang panjang (gambar 1 dan 2). Lahan yang diamati sebelumnya merupakan lahan sawah yang dibera. Lahan sawah yang dibera ini besar kemungkinan tergenang air dalam waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkan peningkatan pH atau tingkat keasaman tanah. peningkatan pH ini diduga menjadi salah satu pemicu perkembangan patogen di lahan tersebut. Seperti diketahui, layu fusarium banyak menyerang tanaman pada lahan dengan tingkat keasaman yang tinggi. Kemudian penanganan dengan pencabutan juga memicu penyebaran penyakit. Hal ini dikarenakan tanaman yang dicabut tidak dimusnahkan dan tanaman tersebut masih ditumpuk di sekitar pertanaman seperti pada gambar 4.

Gambar 3 Akar tanaman terserang

Gambar 4 Tumpukan tanaman mati

Berdasarkan hasil wawancara, kerugian yang disebabkan oleh kerusakan tanaman akibat layu fusarium dapat dikatakan sangat tinggi. Akan tetapi, kerugian tersebut kurang dirasakan karena kejadian penyakit yang tinggi baru pada saat tanaman telah beberapa kali panen sehingga dapat dikatakan kerugian yang ditimbulkan hanya mengakibatkan penurunan keuntungan/laba bersih dari budidaya.

Antraknosa Penyakit antraknosa disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides Pens. Penyakit ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32 C, gejala serangan penyakit antraknosa pada buah dan daun ditandai bercak kering konsentris dengan spora yang nampak tersusun melingkar berlapis (gambar 5). Kejadian penyakit ini banyak teramati di lahan yang diamati, serangan juga tidak hanya pada buah yang sudah matang tetapi juga pada buah yang masih hijau. Berdasarkan hasil pengamatan spora di laboratorium, penyebab antraknosa pada pertanaman yang diamati adalah C. gloeosporioides. Spora C. gloeosporioides berbentuk lonjong dan tidak berbentuk bulan sabit seperti pada gambar 6.

Gambar 5 Gejala antraknosa

Gambar 6 Spora C. gloeosporioides

Tingkat serangan antraknosa di lahan yang diamati nampak merata di sebagian besar pertanaman. Serangan yang lebih tinggi umumnya terjadi pada tanaman yang berada di tempat agak teduh dan tajuk tanaman rimbun. Hal ini mengindikasikan bahwa salah satu penyebab tingkat serangan tersebut adalah kelembaban relatif di area pertanaman. Kelembaban yang tinggi akan memicu perkembangan penyakit menjadi lebih cepat. Hal ini juga disebabkan oleh kurangnya pengaplikasian fungisida. Berdasarkan hasil wawancara, pengaplikasian fungisida hanya dilakukan pada saat tanamanbaru di transplantasi ke lahan selebihnya hanya dilakukan pengaplikasian insektisida. Trips Trips merupakan salah satu hama yang memiliki kisaran inang cukup luas. Cabai merupakan salah satu tanaman budidaya yang kerap kali menjadi sasaran dari hama trips. Gejala dari serangan hama ini terlihat pada permukaan daun yang terdapat bercak-bercak klorotik dan nekrotik berwarna putih seperti perak. Selain menimbulkan gejala nekrotik dan klorotik, daun terserang akan mengalami malformasi atau perubahan bentuk menjadi keriting. Daun-daun cabai yang terserang akan menampakkan tepian daun yang menggulung ke dalam dan kadang-kadang juga terdapat gejala mirip puru. Menurut Setiadi (2004), umumnya bagian tanaman yang diserang oleh Thrips ini adalah pada daun, kuncup, tunas yang baru saja tumbuh, bunga serta buah cabai yang masih muda. Pertanaman cabai yang diamati banyak terserang trips, gejala yang teramati pada pertanaman termasuk tanaman sampel tergolong cukup parah. Serangan pada bagian bunga juga banyak ditemukan. Hal ini menimbulkan keguguran bunga dan menurunkan produktifitas buah cabai. Berdasarkan hasil wawancara, serangan trips memang banyak terjadi meskipun sudah dilakukan penyemprotan insektisida secara rutin. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lahan, diketahui bahwa pemakaian insektisida oleh pengelola cenderung kurang memperhatikan tingkat keamanan. Pengelola juga kurang memperhatikan dosis maupun teknis pengaplikasian yang baik. Hal ini dapat terlihat dari teknik pemakaian insektisida yang banyak dicampur atau dioplos dengan alasan untuk meningkatkan efektifitas. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pengoplosan yang dilakukan selalu diiringi dengan penurunan dosis insektisida yang dipakai. Paradigm yang salah ini secara tidak langsung mengakibatkan penurunan daya bunuh insektisida yang dipakai dan dalam waktu panjang dapat menimbulkan resurjensi hama trips. Oleh sebab itu, pengaplikasian insektisida kurang memberikan hasil pada pertanaman cabai yang diamati. Sementara itu, kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan trips kurang begitu dirasakan oleh petani penggarap. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai ekonomi cabai pada saat panen sehingga yang terjadi hanya pengurangan nilai keuntungan saja. Namun hal ini hanya sebatas penilaian dan perhitungan sementara dari pihak petani, akan lebih jelas jika dilakukan perhitungan yang lebih mendetil.

REKOMENDASI

Pengendalian Layu Fusarium Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan beberapa cara pengendalian antara lain : 1. Pengapuran lahan sebelum tanam untuk meningkatkan pH tanah dan mengurangi kemasaman tanah. 2. Pengaturan pengairan dengan baik, jangan sampai air menggenang berlebihan pada lahan pertanaman. Jika pertanaman pada musim hujan maka bedengan agar dibuat lebih tinggi. 3. Pencelupan bibit ke dalam air yang telah dicampur dengan fungisida seperti Derosal 1,5 g per liter air sebelum bibit di tanam untuk pencegahan. 4. Penambahan Trichoderma sp pada media sebelum tanam bersama dengan pupuk kandang. Lubang tanaman yang terserang juga dapat diisi dengan Trichoderma sp sebesar butir jagung. dosis pemakaian 1 baglog per karung pupuk kandang. 5. Penyiraman dengan larutan fungisida seperti seperti Derosal dengan takaran 1,5 gram per liter air pada saat tanaman berumur 25 40 hari setelah tanam (HST). 6. Lakukan eradikasi pada tanaman terserang dengan cara mencabut tanaman yang terserang. Usahakan jangan sampai tanahnya tercecer dan bertebaran ke mana-mana karena dapat menulari tanaman yang sehat. Setelah dicabut, taburi lubang bekas tanaman terserang tadi dengan kapur secukupnya dan lubang ditutup kembali dengan tanah. 7. Untuk tanaman yang sehat yang berada di sekitar tanaman terserang, disiram dengan larutan formalin dengan takaran 2 5 cc per liter air sebanyak 200 ml per tanaman. Gunanya untuk pencegahan agar tidak tertular oleh fusarium dari tanaman yang terserang tadi. 8. Pengendalian yang lain adalah secara teknis budidaya dengan pergiliran tanaman lain selain tanaman dari famili Solancea (terung-terungan). Jika sebelumnya lahan pernah ditanami cabe atau tanaman lain yang masih satu famili, lebih baik cari lahan yang lain.

Pengendalian Antraknosa Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan melakukan: 1. Melakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati. 2. Penyiraman fungisida atau agen hayati yang tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam.

3. Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat. 4. Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena berdasarkan penelitian IPB patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman. 5. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. 6. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. 7. Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. 8. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi. 9. Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat. 10. Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi. 11. Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.

Pengendalian Trips Pengendalian serangan trips dapat dilakukan dengan pengelolaan diantaranya: 1. Menanam berbagai jenis tanaman inang diatas dengan lokasi yang berdekatan. Hal ini untuk menghindari terjadinya perpindahan hama Thrips dari komoditi yang satu ke komoditi yang lain, sehingga menyulitkan dalam hal pengendaliannya atau bahkan bisa menyebabkan kerusakan produksi- hasil. 2. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim. 3. Menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. 4. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktiv abamektin. Bila untuk pencegahan, sebaiknya menggunakan insektisida berbahan aktiv Profenofos.

5. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25WP konsentrasi anjuran 0.25 0.5 gr /liter atau bisa juga menggunakan insektisida bentuk cair Winder 100EC dengan konsenstrasi 0.5 1 cc/L. 6. Bila di areal pertanaman sudah ada tanaman yang di serang hama ini maka sebaiknya tanaman tersebut dibongkar dan dimusnahkan. Ini dilakukan karena untuk menghindari penyebarannya pada tanaman lain yang masih sehat. 7. Untuk mengatasi serangan thrips yang belum parah, pemakaian insektisida yang bersifat kontak maupun sistemik sangat dianjurkan. Insektisida yang dapat dipakai antara lain Nudrin 24 dan Tokuthion 500 EC. Perlu dicatat bahwa selang waktu penyemprotan harus disesuaikan dengan siklus hidup hama tersebut, yaitu berkisar 20 hari. Dengan selang waktu penyemprotan sekitar 10 hari sekali sebelum atau sesudah ada serangan maka tanaman akan terhindar dari serangan yang lebih menghebat. 8. pemberian insektisida butiran yang ditabur dalam tanah akan sangat membantu. Ini disebabkan pupa thrips banyak bertebaran di dalam tanah di sekitar tanaman. Jenis insektisida butiran yang sering dipakai petani adalah Furadan 3G dan Ternik 3G.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Organisme pengganggu tanaman (OPT) yang banyak menyerang di tanaman cabai tempat pengamatan adalah Thrips sp. (Tysanoptera: Thripidae) dengan tingkat keparahan 69.7%. kemudian penyakit Layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxyporum Schlecht dengan tingkat keparahan 64.4 pada tanaman sampel, dan penyakit Antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides dengan tingkat keparahan 60.6%. Pengendalian yang baik untuk menghindari atau mengurangi serangan OPT diatas diantaranya dengan mengintegrasikan teknik budidaya, pengelolaan agroekosistem dan pengendalian hama penyakit secara bijaksana. Saran Penggunaan pestisida tidak selalu menjadi solusi terbaik dalam mengatasi masalah serangan hama dan penyakit tanaman. Manajemen dan pengelolaan sumberdaya serta memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan, murah, dan efektif akan sangat dibutuhkan dalam proses pemeliharaan tanaman. Oleh sebab itu, pengelolaan hama penyakit terpadu dibutuhkan dalam mewujudkan pertanian yang sehat, aman, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios GN. 2005. Plant pathology. London: Academic Press BB Pengkajian. 2008. Teknologi Budidaya Cabai Merah [internet]. [diunduh 2011 November 8]. Tersedia pada: http://lampung.litbang.deptan.go.id/ ind/images/stories/publikasi/teknologibudidayacabai.pdf Setiadi. 2006. Bertanam Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.