Anda di halaman 1dari 6

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept.

2012) ISSN: 2301-928X A-12


AbstrakEnergi angin merupakan salah satu energi alternatif
selain dari minyak bumi dan batu bara. Generator merupakan
komponen terpenting sistem konversi energi angin karena dapat
mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. Pada tulisan ini,
model dari permanent magnet synchronous generator (PMSG) yang
merupakan model non linear ditransformasikan ke sistem linear
dengan menggunakan metode feedback linearization control.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menganalisis model
PMSG dengan menurunkan model matematis sistem fisis.
Selanjutnya, setelah dilakukan linearisasi, diperoleh nilai
1
k ,
2
k ,
dan
3
k yang memenuhi dengan menggunakan kriteria kestabilan
Routh Hurwitz. Dengan nilai
1
k ,
2
k , dan
3
k tersebut, dilakukan
simulasi dan analisis kestabilan sistem dan error kecepatan
generator. Selain itu, dengan memvariasikan parameter kecepatan
angin dan kecepatan rotor, dilakukan simulasi dan analisis untuk
menentukan daya yang dihasilkan dari sistem konversi energi angin.

Kata Kuncifeedback linearization control, kriteria kestabilan
Routh Hurwitz, sistem konversi energi angin.
I. PENDAHULUAN
AAT ini energi menjadi masalah penting karena telah terjadi
peningkatan konsumsi energi yang sangat signifikan. Namun
peningkatan konsumsi energi tersebut menjadi permasalahan
ketika persediaannya semakin langka dan terbatas.
Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan udara yang
lebih tinggi ke tekanan udara yang lebih rendah. Perbedaan
tekanan udara disebabkan oleh perbedaan suhu akibat
pemanasan atmosfir yang tidak merata oleh sinar matahari.
Karena bergerak, angin memiliki energi kinetik. Untuk dapat
memanfaatkan energi angin, maka energi angin harus
dikonversikan terlebih dahulu ke dalam bentuk energi lain yang
sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan turbin angin. Oleh
karena itu, turbin angin sering disebut sistem konversi energi
angin (SKEA) [1]. Untuk menghasilkan energi listrik dari energi
angin, maka energi angin diubah menjadi energi mekanik oleh
kincir angin dalam bentuk putaran poros dan selanjutnya dengan
menggunakan permanent magnet synchronous generator
(PMSG), energi mekanik diubah menjadi energi listrik.
Sistem konversi energi angin merupakan sistem non linear.
Sehingga dalam tulisan ini, digunakan metode feedback
linearization control untuk mengatasi ketidaklinearan tersebut
melalui perubahan variabel dan input kendali yang sesuai
sehingga dapat diketahui daya maksimal. Kemudian dilakukan
simulasi hasil dari analisis konversi energi angin menjadi energi
listrik.
II. MODEL SKEA
Dalam tulisan ini, digunakan jenis generator PMSG
sehingga putaran turbin memiliki putaran yang relatif lebih
rendah dengan konversi bahwa rpm
s
rad
H
=
2
60
1 .
Diberikan model non linear PMSG berdasarkan sistem
konversi energi angin [2] seperti berikut:
(
(
(

O
=
h
q
d
i
i
x
(
(
(
(
(
(
(

u + +
u + +
+
+ +
+
=
) (
1
) ( (
1
) ) ( (
1
) (
2
2
3 3 3 2
2
1
3 3 1 2
3 2 1
x p x d vx d v d
J
x p x x L L p Rx
L L
x x L L p Rx
L L
x f
m
m s d
s q
s q
s d

(
(
(
(
(
(
(

=
0
1
1
) (
2
1
x
L L
x
L L
x g
s q
s d

s
R u =
h
x x h y O = = =
3
) (
(1)
dengan:
d
i ,
q
i adalah arus listrik ) , ( q d ) ( A ,
d
L ,
q
L adalah induktansi
) , ( q d ) (H ,
h
O adalah kecepatan rotasi generator ) / ( s rad ,
s
L adalah induktansi stator ) (H , R adalah hambatan ( ) O ,
s
R adalah hambatan stator ( ) O , p adalah banyak pasangan
kutub,
m
u adalah fluks yang konstan karena magnet permanen,
J adalah inersia ) (
2
kgm , dan v adalah kecepatan angin
) / ( s m .

Analisis dan Simulasi Konversi Energi Angin
Menjadi Energi Listrik Menggunakan Metode
Feedback Linearization Control
Isti Rizkiani, Kamiran, dan Subchan
Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: subchan@matematika.its.ac.id
S
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X A-13
III. FEEDBACK LINEARIZATION CONTROL
Metode feedback linearization control dapat diterapkan ke
sistem non linear dalam bentuk:
u x g x f x ) ( ) ( + = (2)
) (x h y = (3)
dengan
n
x 9 e adalah vektor keadaan, u adalah input, dan
y adalah output.
Untuk memahami sistem (2) dan (3), digunakan turunan Lie
dengan menggunakan aturan rantai.
Definisi 1 [2]: Turunan Lie didefinisikan sebagai hasil kali
x
x h
c
c ) (
dengan ) (x f atau secara umum ditulis:
) (
) (
) ( x f
x
x h
x h L
f
c
c
=
dengan ) (x h L
f
diartikan sebagai turunan fungsi h atas vektor
f .
Elemen dari turunan Lie adalah:
) (
1
x f
x
h
i
n
i
i
i

=
c
c

Definisi 2 [2]: Yang dimaksud dengan ) (x h L
n
f
adalah:
) (
) ( (
) (
1
x f
x
x h L
x h L
n
f
n
f
c
c
=


dengan ) (x h L
n
f
diartikan sebagai turunan ke- n fungsi h atas
vektor f .
Sistem non linear (2) dan (3) mempunyai derajat relatif n , x
dipersekitaran
0
x jika [3]:
0 ) (
1
=

x h L L
n
f g
dan 0 ) ( = x h L L
n
f g

Diasumsikan bahwa derajat relatif sistem adalah n . Dalam
kasus ini, setelah mendifferensialkan output ke- n diperoleh:








u x h L L x h L y
n
f g
n
f
n
) ( ) (
1 ) (
+ =
Transformasi variabel yang didefinisikan oleh ) (x z | = [3]
mengakibatkan sistem menjadi bentuk normal dan secara umum
ditulis:
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(

=

) (
) (
) (
) (
) (
) (
) (
) (
1
2
) 1 (
3
2
1
x h L
x h L
x h L
x h
y
y
y
y
x
x
x
x
z
n
f
f
f
n
n

|
|
|
|

n i x h L x z
i
f i i
, , 2 , 1 ), ( ) (
1
= = =

|
Transformasi ini mengakibatkan sistem non linear (2) dan (3)
menjadi sistem linear dan terkontrol:









Dengan demikian, dari sistem non linear menjadi sistem
linear:
Bu Az z + = (4)
Du Cz y + = (5)
Jika diberikan (4) dan (5), maka dapat ditentukan kestabilan
dari suatu sistem tersebut dengan menggunakan kriteria
kestabilan Routh-Hurwitz melalui polinomial karakteristik
untuk mencari nilai k agar sistem stabil. Untuk mendapatkan
nilai karakteristik tersebut adalah sebagai berikut [4]:
0 ) det( = A I
dengan:
= nilai karakteristik
I = matriks identitas
A = matriks ordo n n bernilai real
IV. PEMBAHASAN
Model PMSG (1) didasarkan pada persamaan ) , ( q d [2].
Persamaan yang digunakan untuk membangun model PMSG ini
terdiri dari persamaan tegangan untuk masing-masing sumbu d
dan q , persamaan torsi magnet listrik, dan torsi mekanik.
Persamaan tegangan untuk masing-masing sumbu d dan q
adalah sebagai berikut:
s q q d d d d
i L i
dt
d
L Ri u e + =
s m d d q q q q
i L i
dt
d
L Ri u e ) ( u + + + =
dengan:

q d
u u , adalah tegangan stator ) , ( q d ) (V , R adalah
hambatan ) (O ,
q d
i i , adalah arus listrik ) , ( q d ) ( A ,
q d
L L ,
adalah induktansi ) , ( q d ) (H ,
q d
u u , adalah fluks
) , ( q d ) (
b
W ,
m
u adalah fluks yang konstan karena magnet
permanen ) (
b
W ,
s
e adalah getaran stator ) / ( s rad .
Persamaan torsi magnet listrik yang ditulis
G
I diperoleh
seperti berikut:
) (
d q q d G
i i p u u = I
dengan p adalah banyaknya pasangan kutub. Jika magnet
permanen dipasang dipermukaan rotor maka
q d
L L = dan torsi
magnet listrik menjadi:
q m G
i pu = I
Torsi mekanik ) (
mec
I diperoleh sebagai berikut:
) (x h y =
= y ) (x h L
f

) (
2
x h L y
f
=

) (
1 ) 1 (
x h L y
n
f
n
=
1
1
3 2
2 1
z y
u z
z z
z z
z z
v n
n n
=
=
=
=
=


JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X A-14
2
3 2
2
1 h h mec
d v d v d O + O + = I
Sehingga PMSG berdasarkan model sistem konversi energi
angin dapat ditulis seperti (1).
Untuk menentukan derajat relatif dari sistem, akan dihitung
turunan Lie seperti berikut:
) (
1
) (
2 4
2
3 3 3 2
2
1
x d x d vx d v d
J
x h L
f
+ + =
dengan:
m
p d u =
4

2 3 4
1
) ( x a d
J
x h L L
f g
=
dengan:
s q
L L
a
+
=
1
3

Ketika 0 ) ( = x h L L
n
f g
, derajat relatif sistem adalah 2 = n .
Sistem akan diubah ke bentuk normal melalui transformasi
variabel yang memenuhi kondisi diffeomorphism:
0 ) ( ) ( ) (
3
3
3
2
2
3
1
1
3
=
c
c
+
c
c
+
c
c
x g
x
z
x g
x
z
x g
x
z

Kondisi ini memenuhi
|
|
.
|

\
|
=
2
1
3 3
x
x
a z .Transformasi variabel dari
sistem menuju linearisasi parsial adalah:
(
(
(
(
(
(

+ + =
2
1
3
2 4
2
3 3 3 2
2
1
3
) (
1
x
x
a
x d x d vx d v d
J
x
z
) ) ( (
) (
1
2
v f
f g
u x h L
x h L L
u + =
dengan:
+ +
+
=
3 1 2 4
2
) ( (
1 1
) ( x x L L p Rx
L L
d
J
x h L
s d
s q
f
+ + + u
2 1 3 3 2 3
(
1
))( 2 (
1
( v d
J
x d v d
J
x p
m

))
2
2
3 3 3 2
x p x d vx d
m
u +
2 3 4
1
) ( x a d
J
x h L L
f g
=
Untuk memastikan zero error, sebuah integrator ditambahkan
dalam sistem seperti yang ditunjukkan pada Gambar1:

ref
y + c
c +
v
u z y









Gambar. 1. State Feedback Control [2]

Model linearnya:
u
z
z
z
z

+
(

=
(

1
0
0 0
1 0
2
1
2
1


| |
(

=
2
1
0 1
z
z
y
dan input u sebagai berikut:
| | c +
(

=
3
2
1
2 1
k
z
z
k k u
dengan:
| |
(

= =
2
1
0 1
z
z
y y y
ref ref
c
Sistem linear menjadi:
ref
y u
z
z
z
z
z

(
(
(

+
(
(
(

+
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

1
0
0
0
1
0
0 0 1
0 0 0
0 1 0
3
2
1
2
1
c


Input kendali
v
u , diperoleh seperti berikut:
| |
(
(
(

=
c
2
1
3 2 1
z
z
k k k u
v

Jadi, sistem loop tertutup:
| |
ref
y z
z
k k k z
z
(
(
(

+
(
(
(

|
|
|
.
|

\
|

(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

1
0
0
0
1
0
0 0 1
0 0 0
0 1 0
2
1
3 2 1 2
1
c c

| |
(
(
(

=
c
2
1
0 0 1 z
z
y
Dengan menggunakan kriteria kestabilan Routh Hurwitz,
diperoleh nilai , ,
2 1
k k dan
3
k :





V. SIMULASI DAN ANALISIS
Diuji berbagai macam nilai , ,
2 1
k k dan
3
k yang memenuhi
kriteria kestabilan Routh Hurwitz untuk menunjukkan bahwa
sistem tersebut stabil seperti berikut:
- Untuk : 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k










2
3
1
2
3 1 2
3
2
0
0
0
k
k
k
k
k k k
k
k
> >

>
>

s
1
3
k Bu Az z + = Cz y =
2 , 1
k
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X A-15
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
Analisis Kest abilan Sist em


Kecepat an Generat or


Gambar 2. Analisis Kestabilan untuk 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k
Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik
ke- 5 , 36 hingga detik ke- 50 , kecepatan generator konvergen
menuju mendekati 1 sehingga sistem tersebut dapat dikatakan
stabil.
- Untuk : 9 , 6 ; 7 , 4 ; 2 , 8
3 2 1
= = = k k k








Gambar 3. Analisis Kestabilan Sistem untuk 9 , 6 ; 7 , 4 ; 2 , 8
3 2 1
= = = k k k
Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik ke-
6 hingga detik ke- 50 , kecepatan generator konvergen menuju
1 sehingga sistem tersebut dapat dikatakan stabil.

- Untuk : 40000 ; 136 ; 4000
3 2 1
= = = k k k






Gambar 4. Analisis Kestabilan Sistem untuk 40000 ; 136 ; 4000
3 2 1
= = = k k k

Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik ke-
3 , 1 hingga detik ke- , 50 kecepatan generator konvergen menuju
1 sehingga sistem tersebut dapat dikatakan stabil.
Selanjutnya, dengan berbagai macam nilai , ,
2 1
k k dan
3
k yang
telah diuji bahwa sistem tersebut stabil, akan dianalisis error
kecepatan generator. Error dari kecepatan generator
didefinisikan sebagai selisih antara keluaran aktual ( -aktual)
dengan keluaran yang diharapkan (y-ref).
Pada tulisan ini, dianalisis beberapa nilai y-ref untuk
dibandingkan dengan nilai y-aktual, pada sistem yang stabil
dengan nilai , ,
2 1
k k dan
3
k sebelumnya sehingga diperoleh nilai
error kecepatan generator untuk mengetahui keakuratan sistem
dengan:
y-ref I = , / 5 s rad y-ref II = , / 10 s rad
y-ref III = , / 15 s rad y-ref IV = , / 20 s rad
y-ref V = , / 25 s rad y-ref VI = . / 30 s rad

- Untuk : 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k














Gambar 5. y-referensi vs y-aktual untuk 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k














Gambar 6. Error Kecepatan Generator untuk 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k
Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik ke-
0 hingga detik ke- , 88 , 46 kecepatan generator masih mempunyai
error yang besar, kemudian error kecepatan generator semakin
mengecil tepat mulai detik ke- 75 hingga detik ke- . 100




0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
Analisis Kest abilan Sist em


Kecepat an Generat or
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
Analisis Kest abilan Sist em


Kecepat an Generat or
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
0
10
20
30
40
50
60
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
y-referensi vs y-akt ual


y -ref I
y -ref I I
y -ref I I I
y -ref I V
y -ref V
y -ref VI
y -akt ual I
y -akt ual I I
y -akt ual I I I
y -akt ual I V
y -akt ual V
y -akt ual V I
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
-30
-20
-10
0
10
20
30
Error Kecepat an Generat or
Wakt u ( s)
E
r
r
o
r

K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)


Error I
Error I I
Error I I I
Error I V
Error V
Error VI
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X A-16
- Untuk : 9 , 6 ; 7 , 4 ; 2 , 8
3 2 1
= = = k k k














Gambar 7. y-referensi vs y-aktual untuk 9 , 6 ; 7 , 4 ; 2 , 8
3 2 1
= = = k k k














Gambar 8. Error Kecepatan Generator untuk 9 , 6 ; 7 , 4 ; 2 , 8
3 2 1
= = = k k k
Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik ke-
0 hingga detik ke- , 5 , 29 kecepatan generator masih mempunyai
error yang besar, kemudian error kecepatan generator semakin
mengecil tepat mulai detik ke- 36 hingga detik ke- . 100
- Untuk : 40000 ; 136 ; 4000
3 2 1
= = = k k k














Gambar 9. y-referensi vs y-aktual untuk 40000 ; 136 ; 4000
3 2 1
= = = k k k





















Gambar 10. Error Kecepatan Generator untuk ; 4000
1
= k ; 136
2
= k
40000
3
= k
Dari hasil simulasi di atas, dapat dilihat bahwa mulai detik ke-
0 hingga detik ke- , 6 , 3 kecepatan generator masih mempunyai
error yang besar, kemudian error kecepatan generator semakin
mengecil tepat mulai detik ke- 6 , 5 hingga detik ke- . 100
Indonesia memiliki karakteristik angin rata-rata yang relatif
lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara pengguna
sistem konversi energi angin seperti Finlandia dan Amerika
Serikat. Daerah di Indonesia umumnya memiliki kecepatan
angin antara s m/ 3 sampai . / 7 s m Jika turbin angin ini
diterapkan di wilayah Indonesia yang memiliki potensi angin
yang cukup, maka kebutuhan akan turbin angin disesuaikan
dengan besarnya daya yang dihasilkan dari masing-masing
turbin angin.
Perhitungan daya yang dapat dihasilkan oleh sebuah sistem
konversi energi angin (turbin angin) dihasilkan oleh jari-jari
rotor ) (r adalah sebagai berikut [5]:
) (
2
1
3 2

p wt
C v r P H =
Pada Tugas Akhir ini, digunakan
p
C maksimum 47 , 0 = dan
jari-jari rotor m r 5 , 2 ) ( = sehingga:
l l wt
v r v r P O H = O H =
2 3 2 3
235 , 0 ) 47 , 0 (
2
1

dengan kecepatan angin s m v / 3 ) ( = sampai s m/ 7 dan
kecepatan rotor s rad
l
/ 5 = O sampai . / 30 s rad
Pada Gambar 11, terlihat bahwa semakin besar kecepatan
rotor dengan kecepatan angin antara s m/ 3 sampai , / 7 s m maka
semakin besar pula daya yang dihasilkan dari turbin angin
seperti yang terlihat pada Tabel 1:

Tabel. 1.
Daya Turbin Angin vs Kecepatan Rotor
Kecepatan Rotor Kecepatan Angin Daya yang Dihasilkan
s rad / 30 s m/ 3 . 82 , 3 kW
s rad / 30
s m/ 4
. 79 , 6 kW
s rad / 30
s m/ 5
. 60 , 10 kW
s rad / 30
s m/ 6
. 25 , 15 kW
s rad / 30
s m/ 7
. 78 , 20 kW



0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
0
10
20
30
40
50
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
y-referensi vs y-akt ual


y- r ef I
y- r ef I I
y- r ef I I I
y- r ef I V
y- r ef V
y- r ef VI
y- aktual I
y- aktual I I
y- aktual I I I
y- aktual I V
y- aktual V
y- aktual VI
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
-30
-20
-10
0
10
20
Error Kecepat an Generat or
Wakt u ( s)
E
r
r
o
r

K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)


Error I
Error I I
Error I I I
Error I V
Error V
Error VI
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
0
5
10
15
20
25
30
35
Wakt u ( s)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)
y-referensi vs y-akt ual


y-ref I
y-ref II
y-ref III
y-ref IV
y-ref V
y-ref VI
y-aktual I
y-aktual II
y-aktual III
y-aktual IV
y-aktual V
y-aktual VI
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
-30
-25
-20
-15
-10
-5
0
5
Error Kecepat an Generat or
Wakt u ( s)
E
r
r
o
r

K
e
c
e
p
a
t
a
n

G
e
n
e
r
a
t
o
r

(
r
a
d
/
s
)


Error I
Error II
Error III
Error IV
Error V
Error VI
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X A-17









Gambar 11. Grafik Daya Turbin Angin vs Kecepatan Rotor
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil analisis dan simulasi konversi energi angin menjadi
energi listrik diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil simulasi terlihat bahwa untuk nilai , ,
2 1
k k dan
3
k
yang memenuhi kriteria kestabilan Routh Hurwitz, sistem
akan stabil.
2. Dari hasil simulasi nilai , ,
2 1
k k dan
3
k yang diubah berturut-
turut terlihat bahwa sistem yang paling stabil dan memiliki
keakuratan sistem yang baik adalah sistem untuk
, 40000 ; 136 ; 4000
3 2 1
= = = k k k dan sistem yang memiliki
performansi yang baik adalah sistem untuk
. 2 , 0 ; 4 , 0 ; 4 , 1
3 2 1
= = = k k k
3. Semakin tinggi kecepatan angin dan kecepatan rotor maka
akan menghasilkan daya yang semakin besar.

Saran yang penulis berikan untuk penelitian selanjutnya
adalah:
1. Untuk penelitian selanjutnya, sistem konversi energi angin
dapat dikaji dengan menggunakan metode sliding mode
control, PI control, QFT robust control, ataupun On-Off
control.
2. Untuk penelitian selanjutnya, penentuan daya maksimal
yang dihasilkan dari tubin angin yang lebih optimal dapat
dilakukan dengan menggunakan metode Maximum Power
Point Tracking (MPPT).
DAFTAR PUSTAKA
[1] A. Khulaifah, Optimisasi Penempatan Turbin Angin di Area Ladang
Angin Menggunakan Algoritma Genetika. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya, Tugas Akhir D3 Jurusan Teknik Elektro (2009).
[2] I. Munteanu, A. I. Bratcu, N. A. Cutulius, dan E. Ceang, Optimal Control
of Wind Energy Systems. Jerman : Springer (2008).
[3] W. J. Jemai, H. Jerbi, dan M. N. Abdelkrim, Synthesis of An
Aprroximate Feedback Nonlinear Control Based on Optimization
Method, WSEAS Transactions on Systems and Control, Vol 5 (2010) 646-
655.
[4] E. Hendricks, Linear System Control. Verlag Berlin Heidelberg: Springer
(2008).
[5] A. Muhammad dan F. Hartono, Pembuatan Kode Desain dan Analisis
Turbin Angin Sumbu Vertikal Darrieus Tipe-H, Jurnal Teknologi
Dirgantara., Vol. 7, No.2 (2009) 93-100.
5 10 15 20 25 30
0
0.5
1
1.5
2
2.5
x 10
4
Kecepat an Rot or ( rad/ s)
D
a
y
a

T
u
r
b
i
n

A
n
g
i
n

(
W
a
t
t
)
Daya Turbin Angin vs Kecepat an Rot or


v= 3m/ s
v= 4m/ s
v= 5m/ s
v= 6m/ s
v= 7m/ s