Anda di halaman 1dari 14

TUGAS INVENTARISASI

Yunus Salli Paembonan

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2011

TUGAS I soal

1.

Pada ketinggian berapakah diameter pohon diukur.

Jelaskan secara singkat alasan penentuan ketinggian termaksud.


2.

Sebutkan dan jelaskan (jika perlu dengan bantuan

gambar) alat ukur diameter batang dan diameter pohon.


3.

Sebuah batang mempunyai diameter pangkal, tengah

dan ujung masing-masing sebesar 50 cm, 40 cm, dan 30 cm. Jika diketahui panjang batang 10 meter, hitunglah volume batang termaksud dengnan menggunakan Rumus Smallian, Huber, dan Newton.
4.

Menurut pendapat saudara, diantara ketiga hasil

perhitungan pada no. 3 diatas manakah yang paling tepat digunakan.


5.

Dengan menggunakan hasil yang dimaksud pada soal

No. 3, hitunglah angka bentuk dari batang bersangkutan.


6.

Sebatang pohon mempunyai keliling pada ketinggian

tertentu sebesar 110 cm. Berapakah diameter batang pada ketinggian termaksud.
7.

Apakah nama dari alat ukur tinggi pohon. Sebutkan pula

beberapa alat ukur tinggi yang saudara ketahui.

8.

Dengan mengacu pada prinsip-prinsip yang mendasari

pengukuran tinggi pohon, bagaimanakah pohon yang condong/miring harus diukur.


9.

Sesorang bermaksud mengukur pohon setinggi 25,6 m

dengan menggunakan Aid Scale sepanjang 50 cm (tidak termasuk bagian yang berada di sebelah bawah tempat pegangan). Jika orang tersebut mempunyai ketinggian mata 1,6 m dan jarak antara mata dengan alat ukur adalah 50 cm, serta pengukuran dilakukan dari tempat kedudukan yang lebih tinggi 2 meter daripada tempat berdiri pohon, maka pada jarak berapa meterkah dari pohon pengukuran seharusnya dilakukan.
10.

Pada jarak berapa meterkah dari pangkal bawah angka

atau skala 40 harus dituliskan pada sebuah alat ukur Christens sepanjang 32 cm, jika alat termaksud dalam penggunaannya menggunakan alat bantu gala sepanjang 5 meter. Catatan : Angka atau skala 40 tersebut akan tepat sejajar dengan

ujung gala jika pohon yang diukur mempunyai tinggi 40 meter.


11.

Jika

pada

pengukuran

tinggi

pohon

dengan

menggunakan alat ukur Haga, diketahui bahwa sudut arah bidikan ke puncak pohon dan pangkal pohon masing-masing adalah 45o dan 15o,

sedang pengukuran dilakukan pada jarak 20 meter dari tempat kedudukan pohon, maka berapakah tinggi pohon yang bersangkutan.
12.

Berdasarkan

tingkat

kesaksamaan

dalam

pelaksanaannya, pengukuran volume tegakan dapat dibedakan atas tiga cara. Jelaskan secara singkat ketiga cara pengukuran termaksud.
13.

Pengukuran volume tegakan antara lain dapat dilakukan

melalui pengukuran sejumlah satuan-satuan pengukuran sebagai pewakil. Sebutkan bentuk satuan-satuan pengukuran termaksud.
14.

Dengan pertimbangan kepraktisan penerapannya di

lapangan, menurut saudara bentuk satuan pengukuran satuan yang manakah yang paling baik (paling praktis) untuk digunakan.

Jawab :
1.

Pengukuran diameter pohon dilakukan pada ketinggian setinggi dada

(sering disingkat diameter setinggi dada) dan tinggi. Pengukuran diameter setinggi dada ini didasarkan pada alasan teknis semata, dan untuk standarisasi pengukuran tersebut ditetapkan pada ketinggian 1,3 meter. 2. Alat ukur diameter batang dan diameter pohon terdiri dari meteran, pita ukur, garpu ukur dan calipper.

a.

Pengukuran dengan meteran biasa menghasilkan ukuran

keliling, sedang diameter harus dihitung dengan rumus d = K/ atau d = K/(3,14), dimana d dan K amasing-masing adalah notasi untuk diameter dan keliling.
b.

Pengukuran dengan pita ukur secara langsung menghasilkan

menghasilkan ukuran diameter oleh karena skala pada pita ukur telah diselesaikan dengan hasil konversi dari keliling diameter.
c.

pengukuran dengan calipper dan garpu ukur dilakukan dengan

jalan menjepit pohon yang diukur dengan alat ukur. Kedua alat ukur yang tersebut lebih praktis digunakan di lapangan, namun

penggunaannya biasanya terbatas pada batang-batang yang relatif kecil. Juga untuk batang yang bentuknya tidak terlalu bulat perlu dilakukan pengukuran lebih dari satu kali, dengan merubah posisi jepitan/posisi pembacaan skala pada alat ukur. Adapun gambar alat tersebut yaitu:

a. Calippert 3. Diketahui : a. Diameter pangkal (dp) = 50 cm b. Diameter tengah (dt) c. Diameter ujung (du) d. Panjang batang Penyelesaian : Bp = . (dp ) 4 = 40 cm = 30 cm = 10 m

b. Garpu Ukur

= 3,14 (50 ) = 0,785 . 2500 = 1962,5 cm = 0,19625 m 4 Bt = . (dt ) 4 = 3,14 (40 ) = 0,785 . 1600 = 1256 cm = 0,1256 m 4 Bu = . (du )

4 = 3,14 (30) = 0,785 . 900 = 706,5 cm = 0,07065 m 4 Maka : Volome batang menurut rumus Smalian adalah V = . (Bp + Bt). I = . (19,625 + 12,56). I = 0,160925 I Volume batang menurut rumus Huber adalah : V = Bt. l = 12,56 . I = 12,56 I Volume pohon menurut rumus Newton adalah : V = 1/6 (Bp + 4Bt + Bu ). I = 1/6 (0,19625 +4. 0,1256 +0,07065) = 0,0654 I 4. Menururut saya rumus yang paling tepat digunakan adalah rumus dari Newton karena dalam pengukuran volume pohon menggunakan hasil dari perhitungan dari bidang pangkal, bidang tengah dan bidang ujung dasar pada pohon.

5.

f =

Vp Vs

f =

(da2 + db2) x t 2 (db2) t

= (900 + 2500) = 0,68 5000

6. Diameter batang pada ketinggian tersebut adalah 1,1 meter 7. adalah :


a.

Alat yang digunakan dalam mengukur tinggi

CHRISTENS

HYPSOMETER,

dalam

penggunaannya memerlukan alat

bantu sepanjang 4 meter, yang

ditempelkan pada pohon pada saat pengukuran.


b.

HAGA HYPSOMETER, Alat ukur tinggi Haga

merupakan alat ukur sudut yang menggunakan prinsip segitga sikusiku, dan untuk penggunaannya diperlukan informasi tentang jarak antara pengukur dengan pohon yang diukur. Alat ini biasanya sudah dilengkapi dengan skala atau nilai pengukuran untuk beberapa alternatif jarak pengukuran, misalnya 15 meter, 20 meter, 25 meter dan 30 meter.

c.

AID SCALE, sama halnya dengan alat ukur Haga,

menggunakan prinsip segitiga siku-siku dan juga memerlukan informasi tentang jarak antara pengukur dengan pohon yang diukur, namun Aid Scale ini tidak menggunakan alat ukur sudut, tetapi sebagai penggantinya digunakan perbandingan jarak ketinggian. 8. Cara menghitung pohon yang miring adalah dengan dengan

menggunakan alat bantu berupa gala umtuk menghitung antara ujung tajuk dengan tanah sehingga kita dapatkan segitiga siku-siku lalu untuk mengukur tinggi pohon digunakan rumus Pytagoras
9.

Ttotal = T + T maka S=T L j = 22 m j j = 22m


10.

25,6 = T (1.6 + 2) 25,6 = T (3,6) T = 22 0,5

0,5

S/32 = 5/T

40/32 = 5/T 40T = 160

= 4m

11. Diketahui : = 45 = 15 J = 20 m Penyelesaian : T = J tg = 20 tg 45 = 20 m T = J tg T = 20 tg 15 T = 5,35 m T total = 20 + 5,35 = 25,35 m

12.

Berdasarkan tingkat kesaksamaan dalam pelaksanaannya,

maka pengukuran volume dapat dibedakan atas : 1. Pengukuran diameter dan tinggi semua pohon Jika pengukuran diameter dan tinggi semua pohon diukur, maka volume setiap pohon dan volume tegakan adalah jumlah dari

volume semua pohon penyusun tegakan dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut : vi V = bi x ti x f ; = vI ;

Dimana :V = Volume tegakan (m3) vi = Volume pohon (m3) bi = Luas bidang dasar pohon (m2) ti = Tinggi pohon (m) f = Angka bentuk pohon, yang dalam hal ini biasanya digunakan angka bentuk rata-rata

2. Pengukuran diameter semua pohon, tetapi pengukuran tinggi hanya dilakukan pada sejumlah pohon pewakil. Untuk kondisi dimana dilakukan pengukuran diameter dan tinggi hanya

secara terbatas pada pohon-pohon pewakil, maka

perhitungan volume tagakan dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : a. Perhitungan tinggi rata-rata untuk setiap kelas diameter. b. Perhitungan volume untuk setiap kelas diameter dengan rumus : vk = nk x bk x tk x f Perhitungan volume tegakan dengan rumus : V = vk ;

dimana : vk = Volume pohon-pohon untuk kelas diameter tertentu bk= Jumlah luas bidang dasar pohon-pohon untuk kelas diameter tertentu ( bki )

tk= Tinggi rata-rata dari pohon-pohon untuk kelas diameter tertentu

f = Angka bentuk pohon, yang dalam hal ini biasanya digunakan angka bentuk rata-rata, tetapi tidak jarang pula dipakai angka bentuk yang bebrbeda untuk masing-masing kelas diameter, jika informasi

tentang hal ini tersedia.


3. Pengukuran diameter dan tinggi hanya dilakukan secara

terbatas pada pohon-pohon pewakil.

pada kondisi dimana

pengukuran diameter dan tinggi hanya

dilakukan secara terbatas pada pohon-pohon pewakil, panaksiran volume tegakan dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung volume pohon-pohon pewakil. Jika luas seluruh tegakan adalah A, luas areal dimana pohon-pohon pewakil adalah a, dan volume pohonpohon pewakil adalah v, maka volumd keseluruhan pohon dalam tegakan (V) dapat ditaksir dengan rumus :
V = A V a

13. Luas seluruh tegakan adalah A, luas areal dimana pohon-pohon pewakil adalah a, dan volume pohon-pohon pewakil adalah v, maka volum keseluruhan pohon dalam tegakan (V)

14. Bentuk satuan pengukuran volume tegakan yang paling praktis adalah dengan menggunakan cara yang ketiga yaitu Pengukuran diameter dan tinggi hanya dilakukan secara terbatas pada pohon-pohon pewakil, alasannya karena dalam melakukan pengukuran waktu yang digunakan dapat lebih singkat.