Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dengan adanya era industri pada saat ini diperkirakan akan terjadi peningkatan kejadian kelainan congenital terhadap janin. Kenyataan lain dari era industri adalah terjadinya peningkatan penggunaan medikasi atau obat selama kehamilan, dari hasil survey he center for disease control (1987) terhadap 492 orang ibu hamil di Negara bagian New York mendapatkan bahwa 90% diantaranya menggunakan obat baik obat dari dokter maupun obat bebas. Sedangkan Rubin 1986 di Inggris melaporkan bahwa 35% ibu hamil menggunakan obat atau medikasi. Pada saat ini diperkirakan bahwa 10% dari semua kelainan pada manusia yang diketahui sebabnya oleh faktor lingkungan dan 10% lainnya oleh faktor genetic dan kromosom sedangkan sisanya 80% diduga mempengaruhi dalam hubungan yang sangat rumit. Beckman dan Brent (1986) memperkirakan penyebab dari kerusakan janin 20-25% disebabkan oleh genetic, 3-5% oleh infeksi, 4% oleh penyakit maternal, <1% oleh obat bius dan obat lainnya, dan 65-75% oleh berbagai faktor atau tidak diketahui. Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin ini penting karena merupakan permulaan dari kehidupan manusia. Pengetahuan perkembangan manusia bernilai praktis dalam membantu kita untuk mengerti hubungan yang normal dari struktur tubuh dan penyebab malformasi congenital. Untuk memudahkan pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan serta faktorfaktor yang mempengaruhinya akan dilihat berdasarkan waktu dalam minggu. Refrat ini bertujuan untuk menyegarkan kembali pengetahuan kita tentang pertumbuhan dan perkembangan janin serta beberapa faktor yang mempengaruhinya, dengan demikian kita dapat mengantisipasi timbulnya kelainan yang terjadi dan melakukan pencegahan.

1.2 Tujuan a. Tujuan Umum Setelah penyusunan mmakalahh ini diharapkkan mahasiswa mampu memahamii tentang pertumbbuhan dan perkembannggan janin. b. Tujuan Khusus Setelah penyusunan mmakalahh ini diharapkkan mahasiswa dapat : 1) Menjelaskan definisi tumbuh kembang janin 2) Menjelaskan faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang janin 3) Menjelaskan tahap tahap tumbuh kembang janin 4) Menjelaskan ciri ciri tumbuh kembang janin setiap periode 5) Menjelaskan tugas tugas perkembangan janin 6) Menjelaskan masalah masalah yang lazim terjadi pada saat tumbuh kembang janin setiap periode 7) Menjelaskan penatalaksanaan

1.3 Manfaat Mahasiswa mampu memahami tentang pertumbuhan dan perkembangan janin mulai dari definisi, faktor-faktor yang mempengaruhi, tahap dan prinsip tumbuh kembang janin, serta cara penatalaksanaannya.

BAB II TINJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan Pengertian Pertumbuhan : Pertumbuhan adalah Perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah / fisik dan menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru dari organisme/ individu. Pertumbuhan ( Growth ) adalah berkaitan dangan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat ( gram, pound ) ukuran panjang ( cm, inchi ), umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

Contoh : Bertambah tinggi, bertambah berat badan dan tumbuhnya kelenjar-kelenjar sex

Pengertian Perkembangan :

Perkembangan ( Development ) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan menyangkut adaanya proses difrensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk perkemabngan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Perkembangan disini di artikan sebagai perubahan yang dialami oleh individu atau oganisme menuju tingkat kedewasaannya (matury) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.

Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, walaupun demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa misalnya mengenai makanan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dsb. Oleh
3

karena itu semua orang yang mendapat tugas untuk mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang.

Contoh : Sikap perasaan dan emosi, minat, cita-cita dan kepribadian seseorang Pertumbuhan (growth) ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan mempergunakan satuan panjang dan berat. 2.2 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang 1. Gizi. Nutrisi ibu hamil dalam kehamilan akan memengaruhi pertumbuhan janin 2. Mekanis. Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan konginetal seperti club foot. 3. Toksin / zat kimia. Beberapa obat-obatan sepeti aminopetrin, thalidoid dapat menyebabkan kelainan konginetal seperti phalatokisis 4. Endokrin. Ibu hamil dengan diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, dan hiperplasia adrenal 5. Radiasi. Paparan radium dan sinar rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan konginetal mata dan jantung 6. Infeksi. Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH dapat menyebabkan kelainan janin :katarak, bisu, tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jamtung kongenital. 7. Kelainan imunologi. Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya akan menyebabkan hiperbilirubimia dan Kern ikterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak. 8. Psikologis ibu. Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah terhadap kehamilan, kekerasan pada ibu hamil, dll.

2.3 Prinsip Tumbuh Kembang Prinsip tumbuh kembang 1. tumbuh kembang terus menerus dan komplek 2. tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi 3. tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi 4. setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi 5. tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb 1. manusia tumbuh secara terus menerus 2. manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan 3. manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan 4. masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu 5. selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan.

2.4 Tugas tugas dan ciri-ciri tumbuh kembang Minggu ke 1: Pada minggu ini, menjadi menstruasi yang terakhir sebelum kehamilan. Perdarahan terjadi dan hormon-hormon ditubuh mempersiapkan sel telur untuk dilepaskan.

Minggu ke 2:

Uterus (dinding rahim) menebal dan mempersiapkan untuk tahap ovulasi Minggu ke 3: Pada minggu ke 3 merupakan masa ovulasi (pelepasan sel telur). Kehamilan terjadi pada masa ini.Bertemunya sel telur dengan sel sperma. Jika terjadi hubungan seksual yang berlangsung selama ovulasi yang memakan waktu sekitar 12-24 jam, salah satu dari ribuan sperma yang berada di liang vagina berenang melewati leher dan rongga rahim hingga mencapai tuba falopii, lalu membuahi ovum yang sedang bergerak menuju rahim. salah satu sel telur yang telah dibuahi dinamakan zigot. Minggu ke 4: Zigot berimplantasi pada diding rahim (uterus). Dengan berakhirnya minggu ini, anda tidak mendapat menstruasi, dan menjadi tanda pertama kemungkinan kehamilan. Pada beberapa wanita mendapatkan sedikit perdarahan dan disalahartikan sebagai menstruasi, sebenarnya perdarahan yang sedikit itu karena implatasi dari zigot ke dinding rahim Minggu ke 5:

Ukuran bayi sekitar sebuah biji apel dan pada minggu ini disebut sebagai embrio. Bayi anda sudah mempunyai detak jantung sendiri, plasenta dan tali pusat sudah berkerja sepenuhnya pada minggu ini. Vesikel-vesikel otak primer mulai terbentuk, sistem saraf mulai berkembang. Minggu ke 6: Pada minggu ini panjang embrio sekitar 1,25 cm bentuk embrio terlihat seperti berudu. Sudah dapat dikenali bentuk kepala, tulang ekor, kedua celah untuk bakal mata, tangan dan anggota gerak menyerupai tunas kecil. Pada minggu ini juga terjadi pembentukan awal dari hati, pankreas, paru-paru, jantung dan kelenjar tiroid. Minggu ke 7: Jantung sudah terbentuk lengkap. Saraf dan otot bekerja bersamaan untuk pertama kalinya. Bayi mempunyai reflek dan bergerak spontan, bayi mulai menendang dan berenang di dalam rahim walaupun ibu belum dapat merasakannya. pada akhir minggu ke ini otak akan terbentuk lengkap. Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulangtulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.) Minggu ke 8: Embrio berukuran sekitar 2,5-3 cm. Seluruh organ utama bayi telah terbentuk meskipun belum berkembang sempurna. Jaringan saraf di dalam otak berhubungan dengan lobi penciuman di otak. Tangan dan kaki sudah terbagi menjadi komponen tangan, lengan , bahu, paha, kaki. Organ reproduksi mulai terbentuk. Mata membentuk pigmen dan telinga bagian luar sudah terbentuk sempurna, sehingga pada minggu ini bayi sudah dapat mendengar. Jantung berdetak keras karena sudah dapat memompa dengan irama yang teratur. Pada minggu ini organ reproduksi mulai terbentuk, sehingga jenis kelamin mulai terbentuk. Jenis kelamin sebenarnya ditentukan dari awal oleh sperma pria. Hal ini terjadi pada masa pembuahan dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Menurut ilmu genetika dan biologi terdapat dua jenis kromosom seks dalam tubuh manusia, yaitu kromosom x dan kromosom y. Seluruh sel telur
7

memiliki satu kromosom x sedangkan sedangkan sperma dapat mengandung kromosom x dan kromosom y. Jika sebuah sperma mengandung kromosom x menyatu dengan sel telur (x), akan dilahirkan seorang bayi perempuan (xx). Sedangkan jika sebuah sperma yang mengandung kromosom y menyatu dengan ovum (x), akan dilahirkan seorang bayi laki-laki (xy). Minggu ke 9: Pergerakan pertama fetus dapat dideteksi dengan USG. Pada minggu ini perut dan rongga dada sudah terpisah dan otot mata dan bibir atas terbentuk. Minggu ke 10: Tulang sedang menggantikan kartilago. Kuku jari mulai berkembang. Diafragma memisahkan jantung dan paru-paru dari perut. Otot leher terbentuk. Otak berkembang cepat dalam bulan terakhir ini sehingga proporsi kepala lebih besar daripada tubuh. Minggu ke 11: Organ seks luar sudah terbentuk, juga folikel-folikel rambut dan gigi. Bayi sudah dapat menelan cairan amnion dan mengeluarkan kembali/kencing. Semua sistem organ pada bayi sudah berfungsi. Minggu ke 12:

Panjang janin sekarang sekitar 6,5-8 cm dan bobotnya sekitar 18 gram. Kepala bayi menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Semua organ vital telah terbentuk. Bayi mulai menggerak-gerakkan tungkai dan lengannya, bayi dapat mengisap lengannya tetapi ibu belum dapat merasakan gerakan-gerakan ini. Minggu ke 13: Panjang janin (dari puncak kepala sampai sakrum/bokong) sekitar 65-78 mm dengan berat kira-kira 20 gram. Rahim dapat teraba kira-kira 10 cm di bawah pusar. Pertumbuhan kepala bayi yang saat ini kira-kira separuh panjang janin mengalami perlambatan dibanding bagian tubuh lainnya. Perlambatan ini berlangsung terus, hingga di akhir kehamilan akan tampak proporsional, yakni kira-kira tinggal sepertiga panjang tubuhnya. Kedua cikal bakal matanya makin hari kian bergeser ke bagian depan wajah meski masih terpisah jauh satu sama lain. Sementara telinga bagian luar terus berkembang dan menyerupai telinga normal. Kulit janin yang masih sangat tipis membuat pembuluh darah terlihat jelas di bawah kulitnya. Seluruh tubuh janin ditutupi rambut-rambut halus yang disebut lanugo. Kerangka/tulang belulangnya sudah terbentuk di minggu-minggu sebelumnya dan di minggu-minggu selanjutnya akan

berosifikasi/menahan kalsium dengan sangat cepat, hingga tulangnya jadi lebih keras. Minggu ke 14: Panjangnya mencapai kisaran 80 mm atau 8 cm dengan berat sekitar 25 gram. Telinga janin menempati posisi normal di sisi kiri dan kanan kepala. Demikian pula mata mengarah ke posisi sebenarnya. Leher berkembang lebih nyata, hingga lebih mudah membedakan jenis kelaminnya. Bahkan, di rumah-rumah sakit besar atau rumah sakit pendidikan dengan alat-alat bantu yang serba canggih, seluruh perkembangannya bisa dipantau. Misalnya bagaimana perkembangan otak, mata dan ginjalnya. Juga bisa diketahui apakah ada anusnya atau tidak, paru-parunya berkembang baik atau tidak, saluran pencernaannya mengalami penyempitan atau tidak, serta adakah kebocoran pada klep atau bagian lain dari jantung. Termasuk jika terlihat kecacatan berupa bibir sumbing atau kelainan jemari, seumpama jari dempet. Sayangnya, meski bisa diketahui sejak masa janin, kelainan/gangguan tadi tak bisa ditangani selagi masih di rahim seperti halnya di negara-negara maju.

Minggu ke 15: Panjang janin sekitar 10-11 cm dengan berat kira-kira 80 gram. Kehamilan makin terlihat, hingga demi kenyamanan si ibu maupun janinnya, amat dianjurkan mulai mengenakan baju hamil. Sebab, kulit dan otot-otot, terutama di sekitar perut akan melar karena mengalami peregangan luar biasa guna mengakomodasi pembesaran rahim. Garis-garis regangan yang disebut striae umumnya muncul di daerah perut, payudara, bokong dan panggul. Boleh-boleh saja memakai lotion/losion khusus sekadar untuk menyamarkannya karena memang tak mungkin hilang. Namun dianjurkan tak memakai krim jenis steroid semisal hidrokortison yang dikhawatirkan bakal terserap ke dalam sistem peredaran darah ibu dan bisa mengacaukan kerja hormonal. Pada masa ini indera pengecap/lidah sudah mulai dapat merasa. Minggu 16 (bulan ke 4):

Panjang janin sekarang sekitar 16 cm dan bobotnya sekitar 35 gram. Dengan bantuan scan, kita dapat melihat kepala dan tubuh bayi, kita juga dapat melihatnya bergerak-gerak. Ia menggerak-gerakkan seluruh tungkai dan lengannya, menendang dan menyepak. Inilah tahap paling awal di mana ibu dapat merasakan gerakan bayi. Rasanya seperti ada seekor kupu-kupu dalam perutmu. Tetapi, ibu tidak perlu khawatir jika belum dapat merasakan gerakan ini. Jika si bayi adalah anak pertama, biasanya ibu agak lebih lambat dalam merasakan gerakannya. Refleks gerak bisa dirasakan ibu, meski masih amat sederhana yang biasanya terasa sebagai kedutan. Rambut halus di atas bibir atas dan alis mata juga tampak melengkapi lanugo yang memenuhi seluruh tubuhnya. Bahkan, jari-jemari kaki dan tangannya dilengkapi dengan sebentuk kuku.
10

Tungkai kaki yang di awal pembentukannya muncul belakangan, kini lebih panjang daripada lengan. Pada usia ini janin memproduksi alfafetoprotein, yaitu protein yang hanya dijumpai pada darah ibu hamil. Bila kadar protein ini berlebih bisa merupakan pertanda ada masalah serius pada janin, seperti spina bifida, yakni kelainan kongenital yang berkaitan dengan saraf tulang belakang. Sebaliknya, kadar alfafetoprotein yang rendah bersignifikasi dengan Sindrom Down. Sementara jumlah alfafetoprotein ini sendiri dapat diukur dengan pemeriksaan air ketuban/amniosentesis dengan menyuntikkan jarum khusus lewat dinding perut ibu. Sistem pencernaan janin pun mulai menjalankan fungsinya. Dalam waktu 24 jam janin menelan air ketuban sekitar 450-500 ml. Hati yang berfungsi membentuk darah, melakukan metabolisme hemoglobin dan bilirubin, lalu mengubahnya jadi biliverdin yang disalurkan ke usus sebagai bahan sisa metabolisme. Bila terjadi asfiksia (gangguan oksigenasi) akan muncul rangsangan yang membuat gerak peristaltik usus janin meningkat sekaligus terbukanya sfingter ani (klep anus). Akibatnya, janin mengeluarkan mekoneum yang membuat air ketuban jadi kehijauan. Di usia ini, janin juga mulai mampu mengenali dan mendengar suara-suara dari luar kantong ketuban. Termasuk detak jantung ibu bahkan suara-suara di luar diri si ibu, seperti suara gaduh atau teriakan maupun sapaan lembut. Minggu ke 17:

11

Panjang tubuh janin meningkat lebih pesat ketimbang lebarnya, menjadi 13 cm dengan berat sekitar 120 gram, hingga bentuk rahim terlihat oval dan bukan membulat. Akibatnya, rahim terdorong dari rongga panggul mengarah ke rongga perut. Otomatis usus ibu terdorong nyaris mencapai daerah hati, hingga kerap terasa menusuk ulu hati. Pada masa ini bayi sudah dapat bermimpi saat ia tidur. Pertumbuhan rahim yang pesat ini pun membuat ligamen-ligamen meregang, terutama bila ada gerakan mendadak. Rasa nyeri atau tak nyaman ini disebut nyeri ligamen rotundum. Oleh karena itu amat disarankan menjaga sikap tubuh dan tak melakukan gerakan-gerakan mendadak atau yang menimbulkan peregangan. Lemak yang juga sering disebut jaringan adiposa mulai terbentuk di bawah kulit bayi yang semula sedemikian tipis pada minggu ini dan minggu-minggu berikutnya. Lemak ini berperan penting untuk menjaga kestabilan suhu dan metabolisme tubuh. Sementara pada beberapa ibu yang pernah hamil, gerakan bayi mulai bisa dirasakan di minggu ini. Kendati masih samar dan tak selalu bisa dirasakan setiap saat sepanjang hari. Sedangkan bila kehamilan tersebut merupakan kehamilan pertama, gerakan yang sama umumnya baru mulai bisa dirasakan pada minggu ke-20. Minggu ke 18: Taksiran panjang janin adalah 14 cm dengan berat sekitar 150 gram. Rahim dapat diraba tepat di bawah pusar, ukurannya kira-kira sebesar buah semangka. Pertumbuhan rahim ke depan akan mengubah keseimbangan tubuh ibu. Sementara peningkatan mobilitas persendian ikut
12

mempengaruhi perubahaan postur tubuh sekaligus menyebabkan keluhan punggung. Keluhan ini makin bertambah bila kenaikan berat badan tak terkendali. Untuk mengatasinya, biasakan berbaring miring ke kiri, hindari berdiri terlalu lama dan mengangkat beban berat. Selain itu, sempatkan sesering mungkin mengistirahatkan kaki dengan mengangkat/mengganjalnya pakai bantal. Mulai usia ini hubungan interaktif antara ibu dan janinnya kian terjalin erat. Tak mengherankan setiap kali si ibu gembira, sedih, lapar atau merasakan hal lain, janin pun merasakan hal sama. Minggu ke 19: Panjang janin diperkirakan 13-15 cm dengan taksiran berat 200 gram. Sistem saraf janin yang terbentuk di minggu ke-4, di minggu ini makin sempurna perkembangannya, yakni dengan diproduksi cairan serebrospinalis yang mestinya bersirkulasi di otak dan saraf tulang belakang tanpa hambatan. Nah, jika lubang yang ada tersumbat atau aliran cairan tersebut terhalang oleh penyebab apa pun, kemungkinan besar terjadi hidrosefalus/penumpukan cairan di otak. Jumlah cairan yang terakumulasi biasanya sekitar 500-1500 ml, namun bisa mencapai 5 liter! Penumpukan ini jelas berdampak fatal mengingat betapa banyak jumlah jaringan otak janin yang tertekan oleh cairan tadi. Minggu ke 20 (Bulan ke 5):

13

Panjang janin mencapai kisaran 14-16 cm dengan berat sekitar 260 gram. Janin sudah mengenali suara ibunya. Kulit yang menutupi tubuh janin mulai bisa dibedakan menjadi dua lapisan, yakni lapisan epidermis yang terletak di permukaan dan lapisan dermis yang merupakan lapisan dalam. Epidermis selanjutnya akan membentuk pola-pola tertentu pada ujung jari, telapak tangan maupun telapak kaki. Sedangkan lapisan dermis mengandung pembuluhpembuluh darah kecil, saraf dan sejumlah besar lemak. Seiring perkembangannya yang pesat, kebutuhan darah janin pun meningkat tajam. Agar anemia tak mengancam kehamilan, ibu harus mencukupi kebutuhannya akan asupan zat besi, baik lewat konsumsi makanan bergizi seimbang maupun suplemen yang dianjurkan dokter. Minggu ke 21 Beratnya sekitar 350 gram dengan panjang kira-kira 18 cm. Pada minggu ini, berbagai sistem organ tubuh mengalami pematangan fungsi dan perkembangan.

Dengan perut yang kian membuncit dan keseimbangan tubuh yang terganggu, bukan saatnya lagi melakukan olahraga kontak seperti basket yang kemungkinan terjatuhnya besar. Hindari pula olahraga peregangan ataupun yang bersikap kompetitif, semisal golf atau bahkan lomba lari. Minggu ke 22 Dengan berat mencapai taksiran 400-500 gram dan panjang sekitar 19 cm, si ibu kian mampu beradaptasi dengan kehamilannya. Kekhawatiran bakal terjadi keguguran juga sudah pupus. Tak heran bila ibu amat menikmatinya karena keluhan mual-muntah sudah berlalu dan kini nafsu makannya justru sedang menggebu, hingga ia mesti berhati-hati agar tak terjadi pertambahan berat badan yang berlebih. Ciri khas usia kehamilan ini adalah substansi putih mirip pasta penutup kulit tubuh janin yang disebut vernix caseosa. Fungsinya melindungi kulit janin terhadap cairan ketuban maupun kelak saat berada di jalan lahir. Di usia ini pula kelopak mata mulai menjalankan fungsinya untuk melindungi mata dengan gerakan menutup dan membuka. Jantung janin yang terbentuk di minggu ke-5 pun mengalami modifikasi sedemikian rupa dan mulai menjalankan fungsinya memompa darah sebagai persiapannya kelak saat lahir ke dunia. Minggu ke 23

14

Tubuh janin tak lagi terlihat kelewat ringkih karena bertambah montok dengan berat hampir mencapai 550 gram dan panjang sekitar 20 cm. Kendati begitu, kulitnya masih tampak keriput karena kandungan lemak di bawah kulitnya tak sebanyak saat ia dilahirkan kelak. Namun wajah dan tubuhnya secara keseluruhan amat mirip dengan penampilannya sewaktu dilahirkan nanti. Hanya saja rambut lanugo yang menutup sekujur tubuhnya kadang berwarna lebih gelap di usia kehamilan ini. Minggu ke 24 (Bulan ke 6):

Janin makin terlihat berisi dengan berat yang diperkirakan mencapai 600 gram dan panjang sekitar 21 cm. Rahim terletak sekitar 5 cm di atas pusar atau sekitar 24 cm di atas simfisis pubis/tulang kemaluan. Kelopak-kelopak matanya kian sempurna dilengkapi bulu mata. Pendengarannya berfungsi penuh. Terbukti, janin mulai bereaksi dengan menggerakkan tubuhnya secara lembut jika mendengar irama musik yang disukainya. Begitu juga ia akan menunjukkan respon khas saat mendengar suara-suara bising atau teriakan yang tak disukainya. Minggu ke 25: Berat bayi kini mencapai sekitar 700 gram dengan panjang dari puncak kepala sampai bokong kira-kira 22 cm. Sementara jarak dari puncak rahim ke simfisis pubis sekitar 25 cm. Bila ada indikasi medis, umumnya akan dilakukan USG berseri seminggu 2 kali untuk melihat apakah perkembangan bayi terganggu atau tidak. Yang termasuk indikasi medis di antaranya hipertensi ataupun preeklampsia yang membuat pembuluh darah menguncup, hingga suplai nutrisi jadi terhambat. Akibatnya, terjadi IUGR (Intra Uterin Growth Retardation atau perkembangan janin
15

terhambat). Begitu juga bila semula tidak ada, tiba-tiba muncul gangguan asma selama kehamilan. Jika dari hasil pantauan ternyata tak terjadi perkembangan semestinya, akan dipertimbangkan untuk membesarkan janin di luar rahim dengan mengakhiri kehamilan. Tentu saja harus ada sejumlah syarat ketat yang mengikuti. Di antaranya, rumah sakit yang merawat bayi-bayi prematur haruslah rumah sakit bersalin khusus yang lengkap dengan ahli-ahli neonatologi (ahli anak yang mengkhususkan diri pada

spesialisasi perawatan bayi baru lahir sampai usia 40 hari). Selain fasilitas NICU (neonatal intensive Care Unit). Minggu ke 26: Di usia ini berat bayi diperkirakan hampir mencapai 850 gram dengan panjang dari bokong dan puncak kepala sekitar 23 cm. Denyut jantung sudah jelas-jelas terdengar, normalnya 120-160 denyut per menit. Ketidaknormalan seputar denyut jantung harus dicermati karena bukan tak mungkin merupakan gejala ada keluhan serius. Sementara rasa tak nyaman berupa keluhan nyeri pinggang, kram kaki dan sakit kepala akan lebih sering dirasakan si ibu. Begitu juga keluhan nyeri di bawah tulang rusuk dan perut bagian bawah, terutama saat bayi bergerak. Sebab, rahim jadi makin besar yang akan memberi tekanan pada semua organ tubuh. Termasuk usus kecil, kantung kemih dan rektum. Tak jarang ibu hamil jadi terkena sembelit, namun terpaksa bolak-balik ke kamar mandi karena beser. Minggu ke 27: Bayi kini beratnya melebihi 1000 gram. Panjang totalnya mencapai 34 cm dengan panjang bokong ke puncak kepala sekitar 24 cm. Di minggu ini kelopak mata mulai membuka. Sementara retina yang berada di bagian belakang mata, membentuk lapisan-lapisan yang berfungsi menerima cahaya dan informasi mengenai pencahayaan itu sekaligus meneruskannya ke otak. Jika terjadi kesalahan pembentukan lapisan-lapisan inilah yang kelak memunculkan katarak kongenital/bawaan saat bayi dilahirkan. Lensa jadi berkabut atau keputihan. Walaupun dipicu oleh faktor genetik, katarak bawaan ini ditemukan pada anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang terserang rubella pada usia kehamilan di minggu-minggu akhir trimester dua.
16

Minggu ke 28:

Kepala bayi sekarang sudah proporsional dengan tubuhnya. Ibu mungkin mengalami tekanan di bagian diafrakma dan perut. Sekarang bobot bayi sekitar 1700 gram dan panjangnya sekitar 40 cm. Puncak rahim berada kira-kira 8 cm di atas pusar. Gerakan janin makin kuat dengan intensitas yang makin sering, sementara denyut jantungnya pun kian mudah didengar. Tubuhnya masih terlihat kurus meski mencapai berat sekitar 1100 gram dengan kisaran panjang 35-38 cm. Kendati dibanding minggu-minggu sebelumnya lebih berisi dengan bertambah jumlah lemak di bawah kulitnya yang terlihat kemerahan. Jumlah jaringan otak di usia kehamilan ini meningkat. Begitu juga rambut kepalanya terus bertumbuh makin panjang. Alis dan kelopak matanya pun terbentuk, sementara selaput yang semula menutupi bola matanya sudah hilang. Minggu ke 29: Beratnya sekitar 1250 gram dengan panjang rata-rata 37 cm. Kelahiran prematur mesti diwaspadai karena umumnya meningkatkan keterlambatan perkembangan fisik maupun mentalnya. Bila dilahirkan di minggu ini, ia mampu bernapas meski dengan susah payah. Ia pun bisa menangis, kendati masih terdengar lirih. Kemampuannya bertahan untuk hidup pun masih tipis karena perkembangan paru-parunya belum sempurna. Meski dengan perawatan yang baik dan terkoordinasi dengan ahli lain yang terkait, kemungkinan hidup bayi prematur pun cukup besar.
17

Minggu ke 30: Beratnya mencapai 1400 gram dan kisaran panjang 38 cm. Puncak rahim yang berada sekitar 10 cm di atas pusar memperbesar rasa tak nyaman, terutama pada panggul dan perut seiring bertambah besar kehamilan. Bagilah kebahagiaan saat merasakan gerakan si kecil pada suami dengan memintanya meraba perut Anda. Mulai denyutan halus, sikutan/tendangan sampai gerak cepat meliuk-liuk yang menimbulkan rasa nyeri. Aktifnya gerakan ini tak mustahil akan membentuk simpul-simpul. Bila sampai membentuk simpul mati tentu sangat membahayakan karena suplai gizi dan oksigen dari ibu jadi terhenti atau paling tidak terhambat. Minggu ke 31: Berat bayi sekitar 1600 gram dengan taksiran panjang 40 cm. Waspadai bila muncul gejala nyeri di bawah tulang iga sebelah kanan, sakit kepala maupun penglihatan berkunangkunang. Terutama bila disertai tekanan darah tinggi yang mencapai peningkatan lebih dari 30 ml/Hg. Itu sebab, pemeriksaan tekanan darah rutin dilakukan pada setiap kunjungan ke bidan/dokter. Cermati pula gangguan aliran darah ke anggota tubuh bawah yang membuat kaki jadi bengkak. Pada gangguan ringan, anjuran untuk lebih banyak beristirahat dengan berbaring miring sekaligus mengurangi aktivitas, bisa membantu. Minggu ke 32: Pada usia ini berat bayi harus berkisar 1800-2000 gram dengan panjang tubuh 42 cm. Mulai minggu ini biasanya kunjungan rutin diperketat/lebih intensif dari sebulan sekali menjadi 2 minggu sekali. Umumnya hemodilusi atau pengenceran darah mengalami puncaknya pada minggu ini. Untuk ibu hamil dengan kelainan jantung, hipertensi dan preeklampsia, mesti ekstra hati-hati. Sebab dengan jumlah darah yang makin banyak, beban kerja jantung pun meningkat. Pada mereka yang mengalami gangguan jantung dan tekanan darah, tentu makin besar pula peluang terjadi penjepitan di pembuluh-pembuluh darah. Dampak lebih lanjut adalah tekanan darah meningkat. Gangguan semacam ini tak hanya berbahaya pada ibu, tapi juga si bayi, hingga biasanya dipertimbangkan untuk dilahirkan. Terlebih bila terjadi perburukan kondisi, semisal tekanan darah tak kunjung turun.

18

Minggu ke 33: Beratnya lebih dari 2000 gram dan panjangnya sekitar 43 cm. Di minggu ini mesti diwaspadai terjadi abrupsio plasenta atau plasenta lepas dari dinding rahim. Bisa terlepas sebagian maupun terlepas total yang berujung dengan syok pada ibu akibat kehilangan darah dalam jumlah besar maupun kematian bayi. Penyebabnya tak diketahui pasti, namun diduga akibat trauma pada ibu semisal saat kecelakaan/benturan yang sangat keras, tali pusat yang pendek, hipertensi, keabnormalan rahim, maupun kekurangan asam folat. Ibu perokok dan peminum alkohol diprediksi lebih berkemungkinan mengalami masalah ini. Yang juga mesti diwaspadai adalah kantung air ketuban pecah/bocor. Tak ada cara lain selain segera hubungi dokter. Minggu ke 34: Berat bayi hampir 2275 gram dengan taksiran panjang sekitar 44 cm. Idealnya, di minggu ini dilakukan tes untuk menilai kondisi kesehatan si bayi secara umum. Penggunaan USG bisa dimanfaatkan untuk pemeriksaan ini, terutama evaluasi terhadap otak, jantung dan organ lain. Sedangkan pemeriksaan lain yang biasa dilakukan adalah tes non-stres dan profil biofisik. Dalam profil biofisik digunakan skor 0 sampai 2 dengan 5 poin yang dievaluasi, yakni pernapasan, gerakan tubuh, tonus yang dievaluasi berdasarkan gerakan lengan dan atau tungkai, denyut jantung dan banyaknya cairan ketuban. Bila nilainya rendah, disarankan persalinan segera dilakukan. Pemeriksaan biofisik biasanya dilakukan bila diduga bayi mengalami IUGR (Intrauterin Growth Retardation), pada ibu pengidap diabetes, kehamilan yang bayinya tak banyak bergerak, kehamilan risiko tinggi ataupun kehamilan lewat waktu. Minggu ke 35: Secara fisik bayi berukuran sekitar 45 cm dengan berat 2450 gram. Namun yang terpenting, mulai minggu ini bayi umumnya sudah matang fungsi paru-parunya. Ini sangat penting karena kematangan paru-paru sangat menentukan life viabilitas atau kemampuan si bayi untuk bertahan hidup. Kematangan fungsi paru-paru ini sendiri akan dilakukan lewat

19

pengambilan cairan amnion untuk menilai lesitin spingomyelin atau selaput tipis yang menyelubungi paru-paru. Minggu ke 36: Berat bayi harusnya mencapai 2500 gram dengan panjang 46 cm. Tes kematangan paru di minggu ini perlu dilakukan bila muncul keragu-raguan akan taksiran usia kehamilan. Terutama pada pasien yang tak ingat kapan menstruasi terakhir dan bagaimana pola/siklus haidnya. Ataupun pada bayi besar namun tak cocok dengan pertumbuhan usia sebenarnya. Mulai minggu ini pemeriksaan rutin diperketat jadi seminggu sekali. Tujuannya tak lain untuk meminimalisir risiko-risiko yang mungkin muncul mengingat penyebab terbanyak kematian ibu melahirkan (maternal mortality rate) di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan preeklampsia. Sementara dari ketiga faktor penyebab tersebut, yang bisa dicegah dengan pemeriksaan ANC (antenatal care) yang baik Cuma preeklampsia. Di antaranya dengan pemantauan tekanan darah dan kenaikan berat badan yang tak lazim, yakni maksimal 1 kg setiap bulan. Sedangkan kasus-kasus perdarahan dan infeksi bisa saja terjadi meski ANC-nya oke. Minggu ke 37: Dengan panjang 47 cm dan berat 2950 gram, di usia ini bayi dikatakan aterm atau siap lahir karena seluruh fungsi organ-organ tubuhnya bisa matang untuk bekerja sendiri. Kepala bayi biasanya masuk ke jalan lahir dengan posisi siap lahir. Kendati sebagian kecil di antaranya dengan posisi sungsang. Di minggu ini biasanya dilakukan pula pemeriksaan dalam untuk mengevaluasi kondisi kepala bayi, perlunakan jalan lahir guna mengetahui sudah mencapai pembukaan berapa. Minggu ke 38: Berat bayi sekitar 3100 gram dengan panjang 48 cm. Rasa cemas menanti-nantikan saat melahirkan yang mendebarkan bisa membuat ibu mengalami puncak gangguan emosional. Namun obat-obat golongan antidepresan tak diberikan karena dianggap tak aman. Apalagi semua obat antidepresan akan melewati plasenta yang akan berpengaruh pada bayi. Jauh lebih bijaksana bila ibu melakukan relaksasi dengan melatih pernapasan sebagai bekal menjelang persalinan.
20

Meski biasanya akan ditunggu sampai usia kehamilan 40 minggu, bayi rata-rata akan lahir di usia kehamilan 38 minggu. Minggu ke 39: Di usia kehamilan ini bayi mencapai berat sekitar 3250 gram dengan panjang sekitar 49 cm. Di minggu ini pula dokter yang menangani biasanya siaga menjaga agar kehamilan jangan sampai postmatur atau lewat waktu. Karena bila terjadi hal demikian, plasenta tak mampu lagi menjalani fungsinya untuk menyerap suplai makanan dari ibu ke bayi, hingga kekurangan gizi. Tak heran kalau bayi postmatur umumnya berkulit kering/keriput atau malah mengelupas. Sementara kapan persisnya plasenta mengalami penurunan fungsi sama sekali tak bisa diprediksi. Penurunan fungsi plasenta bisa diketahui berdasarkan evaluasi terhadap fungsi dinamik janin, arus darah, napas dan gerak bayi serta denyut jantungnya lewat pemeriksaan CTG (kardiotokografi), USG maupun doppler. Dari hasil evaluasi tersebut akan dinilai apakah memungkinkan dan memang saatnya untuk memberi induksi persalinan. Kalau fungsi arus darahnya tak baik, tentu tak dianjurkan lahir per vaginam yang justru berisiko bayi mengalami hipoksia. Minggu ke 40: Bayi siap lahir. Ibu tidak perlu khawatir jika bayinya tidak lahir tepat pada waktu yang telah diperkirakan. Persentasenya hanya 5% bayi lahir tepat pada tanggal yang diperkirakan. Waktu yang telah lama dinanti hampir tiba dan si bayi akan segera melihat dunia. Sementara itu, rambut lanugo (= rambut badan) bayi telah lenyap meskipun mungkin masih ada yang tersisa di punggung dan dahinya. Sebagian bayi lahir agak terlalu cepat, sebagian lainnya agak sedikit terlambat,Panjangnya mencapai kisaran 45-55 cm dan berat sekitar 3300 gram. Betul-betul cukup bulan dan siap dilahirkan. Jika laki-laki, testisnya sudah turun ke skrotum, sedangkan pada wanita, labia mayora (bibir kemaluan bagian luar) sudah berkembang baik dan menutupi labia minora (bibir kemaluan bagian dalam). Bila dihitung-hitung, pada akhir proses pertumbuhan embrio menjadi seorang manusia, beratnya mencapai sekitar 8 juta kali lebih besar dibanding berat sel telur yang membentuknya.
21

2.5 Tugas tugas perkembangan a. trimester I - ibu harus mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang khususnya protein untuk masa organo genesis. - janin bisa mulai di dengarkan musik- musik instrumental karena pada masa ini pendengaran mulai berfungsi - ibu mulai bisa berkomunikasi dengan janin untuk merangsang pendengarannya dan mengenalkan suara ibunya - ibu tidak boleh bekerja terlalu keras karena bisa meningkatkan resiko abortus b. trimester II - ibu harus siap dengan perubahan body image. - orang tua bisa mencurahkan kasih sayang kepada janin dengan mengelus elus perut ibu - ibu harus menjaga pola istirahat agar bayi dan ibu dalam keadaan sehat.

c. trimester III - ibu tidak di perbolehkan minum jamu jamuan atau obat obatan selain dari petugas kesehatan. - ibu mulai bisa mempersiapkan kelahiran anaknya - ibu harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat untuk menyimpan energi yang akan di gunakan pada saat persalinan - apabila ibu mengalami perdarahan segera datang ke bidan

22

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Masalah Pertumbuhan yang Lazim Terjadi pada Janin 1. Pertumbuhan janin terhambat Dahulu bayi dengan berat lahir rendah yang kecil untuk masa kehamilannya disebut menderita retardasi pertumbuhan intrauteri. Untuk menghindari kekhawatiran yang tidak semestinya pada orang tua, yang menganggap istilah retardasi mengesankan fungsi mental yang abnormal. Istilah pertumbuhan janin terhambat sekarang lebih banyak dipakai. Nilai-nilai normal berat badan, panjang, dan lingkar kepala bayi dipakai untuk menentukan pertumbuhan janin terhambat. Sekitar sepertiga bayi dengan berat lahir rendah adalah matur dan ukurannya yang kecil dapat dijelaskan sebagai akibat insufiensi plasenta kronik. Temuan ini serta observasi oleh banyak ahli lainnya menghasilkan konsep bahwa berat lahir tidak hanya diatur oleh lama kehamilan melainkan juga oleh laju pertumbuhan janin. Faktor Resiko Pertumbuhan Janin Terhambat a. Ibu berperawakan kecil. Wanita yang berperawakan kecil biasanya mempunyai bayi yang lebih kecil. Jika seorang wanita memulai kehamilan dengan berat badan kurang dari 50kg resiko melahirkan bayi kecil untuk masa kehamilan meningkat sekurangkurangnya 2x lipat. b. Pertambahan berat badan ibu dan nutrisi yang buruk. Pada wanita dengan berat badan rata-rata atau rendah, kurangnya pertambahan berat badan selama kehamilan dapat menimbulkan pertumbuhan janin terhambat. Kurangnya pertambahan berat badan pada trimester kedua berkolerasi kuat dengan penurunan berat lahir. Namun jika ibu berperwakan besar atau sehat pertambahan berat badan di bawah rata-rata tanpa penyakit pada ibu tidak mungkin disertai dengan hambatan pertumbuhan janin yang bermakna. c. Infeksi janin. Infeksi virus, bakteri, protozoa, dan spiroceta dianggap menjadi penyebab 5% kasus pertumbuhan janin terhambat. Yang paling terkenal adalah infeksi yang disebabkan oleh Rubela dan Citomegalovirus.
23

d. Malformasi congenital. Secara umum semakin malformasinya semakin mungkin bayi tersebut semakin kecil untuk masa kehamilannya. Hal ini sangat jelas pada janin yang mengalami abnormalitas kromosom atau malformasi kardiovaskuler yang serius. e. Kelainan kromosom. Plasenta janin dengan trisomi autosomal mempunyai jumlah artei kecil berotot yang lebih sedikit dibanding vili tersiernya. Jadi baik insufiensi plasenta maupun pertumbuhan dan diferensiasi sel abnormal primer mungkin berperan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin dengan derajat signifikan yang sering disertai kelainan kariotipe. f. Kelainan Primer pada kartilago dan tulang. Berbagai sindrom herediter seperti osteogenesis imperfecta dan berbagai jenis kondrodistrofi menyertai gangguan pertumbuhan janin. g. Teratogen kimiawi. Semua teratogen dapat mengganggu pertumbuhan janin. h. Penyakit pembuluh darah. Penyakit vascular kronis terutama bila kemudian dipersulit olrh preeklamsi superimposed, sering menyebabkan hambatan pertumbuhan. Preeklamsi sendiri dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin terutama jika awitannya sebelum berusia gestasi 37 minggu. i. Anemia pada ibu.

2. Makrosomia Makrosomia adalah istilah yang digunakan secara kurang tepat untuk menggambarkan janin yang sangat besar. Terdapat kesepakatan umum di antara para ahli obstetric bahwa bayi baru lahir yang beratnya kurang dari 4000gr tidak terlalu besar, tetapi belum tercapai consensus serupa mengenai definisi yang tepat untuk makrosomia. Bayi baru lahir jarang memiliki berat di atas 5000gr dan bayi yang sangat besar masih langka.

Faktor Resiko Makrosomia Diabetes pada ibu merupakan factor yang penting terhadap makrosomia janin. Namun harus diperhatikan bahwa diabetes pada ibu hanya disertai presentasi kecil dari bayi-bayi besar tersebut. Di antara bayi-bayi makrosomik wanita diabetic, lingkar bahu dan rasio lingkar bahu lingkar kepala lebih besar. Akibatnya, resiko menjadi lebih besar per
24

distosia bahu dibanding dengan janin berberat sama dari ibu yang non diabetic. Terdapat beberapa factor lain yang juga memperbesar kemungkinan bayi besar: 2. Orang tua berperawakan besar khususnya obesitas pada ibu 3. Multiparitas 4. Kehamilan memanjang 5. Usia ibu 6. Janin laki-laki 7. Bayi sebelumnya berberat badan lebih dari 4000gr 8. Ras dan etnik

3. Sindrom Down Kelainan bawaan sejak lahir yang terjadi pada 1 diantara 700 bayi. Mongolisma (Downs Syndrome) ditandai oleh kelainan jiwa atau cacat mental mulai dari yang sedang sampai berat. Tetapi hampir semua anak yang menderita kelainan ini dapat belajar membaca dan merawat dirinya sendiri. Sindrom Down adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom, biasanya kromosom 21, yang tidak berhasil memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi individu dengan 47 kromosom. Sindrom ini pertama kali diuraikan oleh Langdon Down pada tahun 1866. Down Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20% anak dengan down syndrom dilahirkan oleh ibu yang berusia di atas 35 tahun. Syndrom down merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromosom x. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21, karena 3 dari 21 kromosom menggantikan yang normal. 95% kasus syndrom down disebabkan oleh kelebihan kromosom.

25

Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom (Kejadian Non Disjunctional) adalah: 1. Genetik Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan syndrom down. 2. Radiasi Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30% ibu yang melahirkan anak dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi konsepsi. 3. Infeksi Dan Kelainan Kehamilan 4. Autoimun dan Kelainan Endokrin pada ibu terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid. 5. Umur Ibu. Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan non dijunction pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh. 6. Umur Ayah. Selain itu ada faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus.

Gejala-Gejala : 1. Anak-anak yang menderita kelainan ini umumnya lebih pendek dari anak yang umurnya sebaya. 2. Kepandaiannya lebih rendah dari normal. 3. Lebar tengkorak kepala pendek, mata sipit dan turun, dagu kecil yang mana lidah kelihatan menonjol keluar dan tangan lebar dengan jari-jari pendek. 4. Pada beberapa orang, mempunyai kelaianan jantung bawaan. Juga sering ditemukan kelainan saluran pencernaan seperti atresia esofagus (penyumbatan kerongkongan) dan atresia duodenum, jugaa memiliki resiko tinggi menderita leukimia limfositik akut. Dengan gejala seperti itu anak dapat

26

mengalami komplikasi retardasi mental, kerusakan hati, bawaan, kelemahan neurosensori, infeksi saluran nafas berulang, kelainan GI.

Penyebab 1. Pada kebanyakan kasus karena kelebihan kromosom (47 kromosom, normal 46, dan kadang-kadang kelebihan kromosom tersebut berada ditempat yang tidak normal) 2. Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan melahirkan bayi dengan Down syndrome. 3. Infeksi virus atau keadaan yang mempengaruhi susteim daya tahan tubuh selama ibu hamil.

Anak syndrom down akan mengalami beberapa hal berikut : 1. Gangguan tiroid 2. Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa 3. Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea 4. Usia 30 tahun menderita demensia (hilang ingatan, penurunan kecerdasan danperubahan kepribadian)

3.2 Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan Pertumbuhan Bayi Terhambat

a. Hambatan pertumbuhan mendekati aterm mengupayakan pelahiran kemungkinan memberikan hasil yang paling baik bagi janin yang dianggap terhambat pertumbuhannyapada saat atau mendekati aterm. Bila terdapat oligohidramnion yang signifikan, sebagian besar janin akan dilahirkan jika usia gestasinya telah mencapai 34minggu atau lebih. Dengan anggapan bahwa pola frekuensi denyut jantung janin baik, pelahiran pervaginam boleh dicoba. Sayangnya, janin-janin seperti ini sering kurang menoleransi persalinan daripada janin lain yang tumbuh dengan baik dan seksio caesarea perlu dilakukan atas indikasi ancaman bahaya janin intrapartum. Yang penting, ketidakpastian diagnosis pertumbuhan janin terhambat seyogyanya menunda dilakukannya intervensi sampai kematangan paru janin dipastikan.
27

Penatalaksanaan menunggu dipandu dengan menggunakan teknik surveilans janin intrapartum b. Hambatan pertumbuhan jauh dari aterm Jika janin yang terhambat pertumbuhannya didiagnosis sebelum minggu ke 34 dan volume cairan amnion serta surveilans janin antepartum notmal, dianjurkan melakukan observasi. Dilakukan pencairan anomaly janin secara ultrasonografik. Sonografi diulang dengan interval 1-2minggu. Selama pertumbuhan berlangsungbaik dan evaluasi janin tetap normal, kehamilan diperbolehkan berlanjut sampai kematangan janin, jika tidak, dilakukan terminasi. Seringkali, amniosintesis untuk penilaian maturitas paru dapat membantu pengambilan keputusan klinis.

2.

Penatalaksanaan makrosomia 1. Induksi Persalinan Profilaktik Sebagian pihak menganjurkan induksi persalinan jika ditegakkan diagnosis makrosomia pada wanita nondiabetes ,sebagai suatu cara menghindari pertumbuhan janin lebih lanjut sehingga kemungkinan penyulit persalinan dapat dikurangi. Akan tetapi, induksi persalinan belum terbukti dapat menurunkan angka sesar atau distosia bahu dengan mencegah pertumbuhan janin lebih lanjut. 2. Sesar Elektif Kebijakan melakukan sesar terhadap janin makrosomik yang didiagnosis dengan ultrasonografi dilaporkan tidak efektif secara medis maupun ekonomis bila dibandingkan penatalaksanaan obstetris standar. Akan tetapi, kebijakan sesar elektif pada wanita pengidap diabetes dengan janin makrosomik mungkin dapat dipertahankan. Protokol sesar rutin pada wanita pengidap diabetes dengan janin yang secara sonografis diperkirakan memiliki berat 4250 gram atau lebih dilaporkan secara bermakna dapat mengurangi angka distosia bahu.

28

3. Pencegahan Distosia Bahu Kekhawatiran utama dalam melahirkan janin makrosomik adalah distosia bahu dan risiko kelumpuhan permanen fleksus brakhialis. Distosia bahu terjadi jika panggul ibu memiliki ukuran cukup untuk melahirkan kepala janin, tetapi tidak cukup besar untuk melahirkan bahu janin yang diameternya sangat besar. Dalam keadaan ini, bahu anterior tersangkut di simfisis pubis ibu. Bahkan dengan bantuan obstetris yang cakap selama pelahiran, peregangan dan cedera fleksus brakhialis di bahu yang bersangkutan mungkin tak terhindarkan. Untungnya, kurang dari 10 persen dari seluruh kasus distosia bahu menyebabkan cedera fleksus brakhialis yang menetap. Berdasarkan fakta bahwa sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diperkirakan atau dicegah maka kebijakan sesar terencana berdasarkan kecurigaan adanya makrosomia pada populasi umum tidak memiliki alasan yang kuat karena jumlah sesar yang harus dilakukan dan biayanya. Sesar terencana mungkin merupakan strategi yang masuk akal bagi wanita penderita diabetes dengan taksiran berat janin melebihi 4250 sampai 4500 g. 3. Penatalaksanaan Sindrom Down Penanganan Secara Medis a. Pendengarannya : sekitar 70-80% anak syndrom down terdapat gangguan pendengaran dilakukan tes pendengaran oleh THT sejak dini. b. Penyakit jantung bawaan c. Penglihatan : perlu evaluasi sejak dini. d. Nutrisi : akan terjadi gangguan pertumbuhan pada masa bayi / prasekolah. e. Kelainan tulang : dislokasi patela, subluksasio pangkal paha / ketidakstabilan atlantoaksial. Bila keadaan terakhir ini sampai menimbulkan medula spinalis atau bila
29

anak memegang kepalanya dalam posisi seperti tortikolit, maka perlu pemeriksaan radiologis untuk memeriksa spina servikalis dan diperlukan konsultasi neurolugis. Pendidikan a. Intervensi Dini Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkungan yang memeadai bagi anak dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan. b. Taman Bermain Misal dengan peningkatan ketrampilan motorik kasar dan halus melalui bermain dengan temannya, karena anak dapat melakukan interaksi sosial dengan temannya. c. Pendidikan Khusus (SLB-C) Anak akan mendapat perasaan tentang identitas personal, harga diri dan kesenangan. Selain itu mengasah perkembangan fisik, akademis dan dan kemampuan sosial, bekerja dengan baik dan menjali hubungan baik.

30

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Setelah penulisan makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Definisi tumbuh kembang janin Pertumbuhan dan perkembangan janin adalah perubahan bertambahnya sel-sel jaringan embrio dan fungsinya yang bersifat alamiah menjadi wujud calon manusia yang sempurna baik dari segi fisik maupun fungsinya. 2) Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang janin Gizi, Mekanis, Toksin / zat kimia, Endokrin, Radiasi, Infeksi, Kelainan imunologi, Psikologis ibu. 3) Tahap tahap dan ciri ciri tumbuh kembang janin setiap periode, tejadi dengan perkembangan tiap minggu sejak minggu 1 sampai minggu 40, mulai saat masih embrio sampai menjadi janin yang siap dilahirkan beserta kesiapan fungsi organ tubuhnya 4) Tugas tugas perkembangan janin terbagi menjadi tiga yaitu trimester 1 yang berfokus pada organogenesis, trimester 2 yang berfokus pada pertumbuhan janin, dan trimester 3 yang berfokus pada kematangan janin untuk dilahirkan 5) Masalah masalah yang lazim terjadi pada saat tumbuh kembang janin setiap periode yaitu pertumbuhan janin terhambat, makrosomia, dan syndrom down 6) Penatalaksanaan masalah pada saat tumbuh kembang janin yaitu berfokus pada pertolongan persalinan dengan diagnosa tindakan yang aman bagi ibu dan janin,dan penatalaksanaan pengobatan bagi bayi. 4.2 Saran Untuk orang tua Menjaga kehamilan dengan menjaga asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu dan menghindari bahan-bahan konsumsi yang membahayakan pertumbuhan dan perkembangan janin.
31

Mendidik anak mulai sejak dalam kandungan dengan memberi stimulus positif

Untuk Tenaga Kesehatan Memberikan ANC yang baik pada ibu hamil dan keluarganya. Melakukan deteksi dini kelainan pertumbuhan dan perkembangan janin agar dapat segera diatasi.

32

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F Gary , 2006, Obsterti Williams Ed.21 Vol.1 , Jakarta : EGC Cunningham, F Gary , 2006, Obsterti Williams Ed.21 Vol.2 , Jakarta : EGC
http://moshimoshi.netne.net/materi/psikologi_pendidikan/bab_5.htm http://terbaike.wordpress.com/2011/04/22/tahap-perkembangan-janin-dalam-kandungan-ibu/ http://sindrom-down.html

33