Anda di halaman 1dari 200

10019

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan izin-Nya buku ini telah berhasil saya
tulis dan diterbitkan. Shalawat dan salam disampaikan kepada nabi besar Muhammad
SAW, yang telah memberikan motivasi yang kuat untuk ikut mengembangkan Ilmu
Pengetahuan, dengan hadis beliau: 'tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.
Buku ini merupakan pengembangan dari sejumlah diktat kuliah yang pernah
saya tulis sejak tahun 1987, setelah saya menyelesaikan studi Magister pada Jurusan
Perencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Bandung, dan mendapat tugas dari
Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas
Padjadjaran untuk mencoba mengembangkan Mata Kuliah (MK) Ilmu Ekonomi
Regional (sebagai salah satu mata kuliah pilihan) di jurusan tersebut. Buku-buku untuk
rujukan mahasiswa S1 sangat terbatas, sedangkan buku-buku yang ada (seperti:
Regional Economics dari HW Richardson) terlalu tinggi untuk mahasiswa S1. Buku-
buku yang saya anggap dasar tersebut saya coba terjemahkan bagian-bagian yang saya
anggap penting, dan mengelaborasinya agar lebih mudah dipahami mahasiswa S1 dan
saya berikan sebagai diktat kuliah. Pada pembuatan kontrak belajar dengan mahasiswa,
pada awal semester, saya meminjamkan buku-buku yang saya miliki untuk dicopy para
mahasiswa karena tidak tersedianya di perpustakaan dan juga di toko-toko buku.
Sampai dengan tahun 2000 saya membina MK ini di tiga Universitas, yaitu di
Universitas Padjadjaran, Univesitas Islam Bandung, dan Universitas Siliwangi
Tasikmalaya. Sejak tahun 1995 saya ikut membina M.K. ini pada Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran, dan terakhir 2004 juga di Program Magister Ekonomi Terapam
(MET) Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Buku ini baik dijadikakan sebagai rujukan untuk mahasiswa S1, karena telah
dielaborasi dengan berbagai contoh ilustrasi dan gambar-gambar, yang dapat membantu
para mahasiswa dalam mempelajari subyek studi ini, sebagai salah satu spesialisasi ilmu
ekonomi dengan pendekatandekatan spasial. Sedangkan untuk mahasiswa S2 juga baik,
namun diwajibkan membaca buku-buku rujukannya yang asli, dan buku-buku lain yang
baru diterbitkan dan jurnal-jurnal. Mereka juga diwajibkan menulis makalah 12 15
halaman untuk diseminarkan. Makalah tersebut sumbernya dapat dipilih dari studi
perpustakaan, atau dari contoh-contoh kasus implenetasinya di dalam pembangunan.
Buku ini juga memperlihatkan dengan jelas aspek-asper mikro dan makro ekonomi
yang terkandung dalam pengajaran Ilmu Ekonomi Regional. Lahirnya Ilmu Ekonomi
Perkotaan (Urban Economics), karena kebutuhan dari adanya siIat-siIat ekonomi
perkotaan yang khas masih dilihat sebagai satu kesatuan obyek studi (wilayah). Idialnya
ekonomi pedesaan (Rural Economics) juga kita kembangkan dengan kecepatan yang
sama. Insya Allah pada suatu saat akan ditambah dengan bab-bab ekonomi pedesaan.
Saya yakin buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya akan sangat
berterima kasih kepada para pembaca dan pengguna yang berkenan menyampaikan
kritik dan sarannya bagi perbaikannya lebih lanjut.

Bandung, 6 Oktober 2005
Penulis.



(Rusli Ghalib)
ii
$AMBUTAN DEKAN
FAKULTA$ EKONOMU UNIVER$ITA$ PAD1AD1ARAN

Syukur Alhamdulillah, satu lagi buku yang merupakan karya tulis ilmiah dosen
di lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Kali ini di bidang strudi
Pembangunan spesialis Ekonomi Regional dan Perkotaan.
Saya sangat mengharapkan kiranya para dosen dapat memberikan perhatian
yang seimbang terhadap tugas-tugas kita sebagai pengajar perguruan tinggi, yang
meliputi aspek-aspek pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena dengan pelaksanaan tugas-tugas tersebut secara seimbang akan memberikan
dampak ganda bagi kita, yaitu dampak kepada peningkatan mutu pengajaran sebagai
tugas pokok/meningkatkan mutu lulusan, kedua yaitu: dampak kepada universitas
sebagai wahana pelaksanaan misi mempercepat peningkatan kualitas sumberdaya
manusia. Salah satu indikator awal berkembangnya mutu pengajaran adalah
meningkatnya penerbitan buku-buku yang ditulis dosen-dosen kita sebagai hasil studi
perpustakaan, peningkatan jenjang studi, hasil penelitian, dan hasil pengabdian pada
masyarakat. Dengan dapat diterbitkannya berbagai buku ajar juga berarti kita telah
dapat membantu perguruan-perguruan tinggi lain yang masih perlu kita bantu, dimana
buku tersebut berIungsi sebai sumber inIormasi perkembangan ilmu yang tidak pernah
berhenti, tanpa kita selalu harus hadir sendiri secara Iisik.
Kita sadari, banyak permasalahan yang membatasi para dosen kita untuk
melaksanakan himbauan yang seperti ini. Oleh karena itu pula Fakultas Ekonomi
khususnya, dan Universitas Padjadjaran umumnya, dalam upaya meningkatkan
'Academic Atmosphere melalui penerbitan buku ajar di kalangan dosen ini, tidak
hanya menghimbau tepapi secara konkrit diupayakan melalui kebijakan insentiI seta
Iasilitas untuk menulis dan menerbitkan buku.
Demikian, kiranya ajakan yang telah lama saya sampaikan ini menjadi lebih
wujud. Akhirnya saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada sdr. Dr. H. Rusli Ghalib, SE., MSP. Dan saya harapkan terus memperki dan
menyempurnakan buku ini dengan edisi berikutnya, dan terus menulis dengan judul-
judul baru bagi pengembangan ilmu ekonomi.

Bandung, 10 Oktober 2005
Dekan,



ProI. Dr. Hj. Sutyastie Soemitro Remi, M.S.

iii
DAFTAR I$I

PENGANTAR i
SAMBUTAN DEKAN ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR TABEL ix
PENDAHULUAN 1
1.1. Aspek Sektoral 2
1.2. Aspek Regional 2
1.3 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Regional 3
1.4 Perwilayahan (Regionalisasi) Pembangunan 4
1.5 Tujuan Pembangunan Regional di Indonesia 5
1.6 Masalah-masalah Perwilayahan (Regionalisasi) di Indonesia 5
1.7. Keserasian Pembangunan antar Daerah 6
1.8. Penggunaan Teori Ekonomi Mikro dan Makro 7
TEORI LOKASI PASAR (HARGA) SPASIAL 9
2.1 Teori Harga Spasial ( Spatial Price Theory) 9
2.1.1. Keseimbangan Harga Lokal dan Harga Spasial 9
2.1.2 Kasus 2 Wilayah 10
2.1.3 Kasus Wilayah Lebih Dari Dua 12
2.1.4 Kasus Tiga Wilayah 12
2.1.5 Kasus n- Wilayah 13
2.2. Pola-pola Sebaran Spasial Secara Umum 14
2.2.1. Pembeli Dengan Kurva Permintaan Sama Elastisitas Permintaannya Sama 15
2.2.2. Permintaan Pembeli Jauh Lebih Kecil tetapi Lebih Elastis. 16
2.2.3. Batas-batas Monopoly Spasial 17
2.2.4. Pengaturan Pasar Oleh Sebuah Industri 18
2.2.5.Dua Penjual di Lokasi-lokasi Yang Berbeda dan Dikitari Banyak Pembeli
(Hukum Luas Areal Pasar). 19
2.2.6. Penjual Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Pembeli Juga Banyak Tersebar.24
2.2.7. Pembeli Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Penjual Juga Banyak tetapi
Tersebar 25
2.2.8. Para Penjual dan Para Pembeli Sama-sama Tersebar tetapi Mempunyai
Sebuah Pusat Pasar Bersama (Kasus Pasar Transito ) 27
2.2.9. Pembeli Maupun Penjual Tersebar (Persaingan Monopolistik/Oligopoli
Spasial) 29
2.2.10. AlternatiI Sistem Harga Spasial 31
2.2.11. Keragaman-keragaman Harga Spasial : A Testable Model. 33
TEORI LOKASI INDUSTRI 35
3.1. Pendahuluan 35
3.2. Prinsip Lokasi Median 35
3.3. Persaingan Sepanjang Satu Garis Lurus 37
3.4. Industri Dengan Satu Pasar dan Satu Bahan Baku 38
3.5. Struktur Biaya Transpor (Transport Cost Structure) 39
3.6. Lokasi Industri Titik-Titik Ujung (End Points Location) 40
3.7. Keunggulan Lokasi Transhitment 41
iv
3.8. Lokasi Industri Kasus Satu Pasar dan Banyak Bahan Baku 42
3.9. Lokasi Industri dengan Pasar Banyak dan Bahan Baku Banyak 44
3.10. Peranan Biaya Produksi Error! Bookmark not defined.
EKONOMI PERKOTAAN 48
4.1. Pendahuluan 48
4.2. SiIat-siIat Wilayah Perkotaan 49
4.3. Proses Tumbuh dan Berkembangnya Sebuah Kota 49
4.4. Perkembangan Ekonomi Perkotaan 50
4.5. Aktivitas Masyarakat Kota Yang Multi Aspek 51
4.6. Berkembangnya Sebuah Kota 52
4.7. Masalah Kota di Indonesia 53
4.8. Perencanaan Penduduk Kota 54
4.9. Pertumbuhan dan Perencanaan Penduduk Kota di Indonesia 55
4.10. Aglomerasi 57
4.11. Program Anti Konsentrasi dan Pengendalian Pertumbuhan Kota 57
4.12. Beberapa Model Observasi Lokasi Pemukiman Kota 58
4.12.1. Model Hawley 58
4.12.2. Model William Alonso 59
4.12.3. Model Becman 59
4.12.4. Model Wendt 60
4.12.5. Model Harbert Stevens (model Linear Programming) 60
4.12.6. Model Lowrey 61
4.12.7. Model Artle 61
4.13. Keterkaitan Wilayah 62
4.14. Pembangunan Wilayah di Negara-Negara ASEAN 64
STRUKTUR TATA RUANG KOTA 66
5.1. Pendahuluan 66
5.2. Minimalisasi Biaya Ruang 66
5.3 Lingkungan Kota 68
5.4 Perilaku Konsumen Secara Spatial dan Lokasi Perdagangan Eceran 69
5.3. Model Banneal Ide 71
5.4. Perkiraan Dampak Transportasi Pada Penggunaan Lahan 72
5.4.1. Introduction and Overview (Oleh Paul F. Wendt) 72
5.4.2. Teori Pertumbuhan Kota 73
5.4.3. Model-model Land Use 74
5.5. Beberapa Observasi Pada Model-Model Struktur Tata Ruang Kota 76
5.6. Model Operasional 77
5.7. Keseimbangan Lokal Sebuah Perushaan Yang Beroperasi Di Kota N 80
5.8. PemanIaatan Lahan 82
5.8.1.Persaingan dalam PemanIaatan Lahan 83
5.8.2. Permintaan terhadap Lahan 83
5.8.3. Teori Lokasi dan Pertumbuhan Kota 85
KERANGKA WILAYAH 86
6.1. Wilayah Sebagai Sebuah Konsep 86
6.1.1 Wilayah Homogen 86
6.1.2 Wilayah Modal (Wilayah Polarisasi) 87
6.1.3 Wilayah Perencanaan (Planning Region) 88
6.2. Akuntansi Wilayah (Regional Account) 90
v
6.2.1. Pendahuluan 90
6.2.2 Perhitungan Hasil Produksi dan Pendapatan Regional 92
6.2.3 Perhitungan Input-Output Wilayah 95
ANALISIS PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI WILAYAH 101
7.1. Pendahuluan 101
7.2. Analisis Indeks Konsentrasi 101
7.2.1. Angka Pengganda Tenaga Kerja 102
7.2.2. Analisis Location Quotient (LQ) 103
7.2.3. Analisis Concentration Indeks (CI) 104
7.2.4. Spesialisasi Indeks (SI) 105
7.2.5. Location Indeks (LI) 106
7.3 Analisis ShiIt and Share 106
TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL 109
8.1 Pendahuluan 109
8.2 PerpektiI Neo Klasik 112
8.2.1 Hubungan Model Satu-Sektor dengan Model Dua-Sektor 116
8.2.2. Akuntansi Pertumbuhan Wilayah dan Analisis Fungsi Produksi 119
8.2.3. Teknologi dan Pertumbuhan Endogenous Wilayah 121
8.3 Pandangan Keynesian Tentang Pertumbuhan Wilayah 125
8.3.1 Pendekatan Neraca Pembayaran Untuk Pertumbuhan 126
8.3.2 Hukum Verdoorn dan Pertumbuhan KumulatiI 130
8.4 Fungsi Cobb-Douglas dan Akuntansi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 134
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH 139
9.1. Konsep Wilayah 139
9.2. Kebijakan Pembangunan Wilayah (Daerah) 140
9.2.1 Perdebatan Kebijakan Perindustrian Nasional - Tindakan Khusus. 141
9.2.2 Kebijakan Moneter dan Pajak. 141
9.2.3 Kebijakan Sosial dan Kesejahteraan 142
9.2.4 Pekerjaan dan Kebijakan Pelatihan. 143
9.2.5 Kebijakan Perdagangan 143
9.2.6 Kebijakan Pembangunan Regional/Lokal 144
9.2.7 Kebijakan Nasional dan Pembangunan Ekonomi Regional 145
9.2.8 Tantangan-tantangan Baru dan Kesempatan untuk Lokal 146
9.2.9 Jenis-jenis Kumunitas dan Kesesempatan
2
Pembangunan Ekonomi Lokal. 146
ANALISIS KEBIJAKAN EKONOMI 148
PERKOTAAN DAN REGIONAL 148
10.1 Pendahuluan 148
10.2 Kebijakan Perkotaan 150
10.2.1 Kebijakan-kebijakan Zoning Perkotaan 150
10.2.2 Kebijakan Regenerasi Kota 154
10.2.3 Pengelompokan (CentriIication) 159
10.2.4 Jalur Hijau (Greenbelts) 160
10.3 Kebijakan Regional 162
10.3.2 EIek-eIek Kesejahteraan dari Kebijakan Regional 166
10.3.3 EIek-eIek Ekonomi Makro dari Kebijakan Regional. 168
10.4 Kesimpulan 172
KEUANGAN DAERAH DAN PERENCANAAN 174
PEMBANGUNAN DAERAH DI INDONESIA 174
vi
11.1. Pendahuluan 174
11.2. Keuangan Daerah 174
11.2.1 Pendapatan Daerah 175
11.2.2 DAU dan DAK 176
11.2.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 176
11.3 Belanja Daerah 177
11.3.1 Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 177
11.3.2 Pinjaman Daerah 177
11.4 Surplus dan DeIisit APBD 178
11.5 Pemberian InsentiI dan Kemudahan Iinvestasi 178
11.6 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) 179
11.7 Pengelolaan Barang Daerah 179
11.8 APBD Dasar Pengelolaan Keuangan Daerah 179
11.8.1 Perubahan APBD 179
11.8.2 Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 180
11.8.3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daearah
Tentang APBD, Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.180
11.9 Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah 181
11.10. Tidak Seluruh Pembiayaan InIrastruktur dan Pelayanan Harus Dibiayai
Pemerintah Daerah 182
10.11 Sumber Pembiayaan Sektor Swasta 183
DAFTAR PUSTAKA 186
vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1: Skema Analisis Ekonomi 1
Gambar 1.2 : Mobilitas Faktor-Faktor Ekonomi Dua Wilayah 3
Gambar 1.3 Kedudukan Ekonomi Regional di dalam Teori Ekonomi 8
Gambar 2.1 Keseimbangan Harga Lokal 10
Gambar 2.2: Interaksi Ekonomi Kasus Dua Wilayah (R1 dan R2) 10
Gambar 2.3 Fungsi Biaya Transpor Non Linier Tanpa Biaya 11
Gambar 2.4 : Diagram Keseimbangan Harga Spasial Kasus Dua Wilayah 12
Gambar 2.5 Monopoli Spasial Kasus Dua Pasar 17
Gambar 2.6 Pengendalian Pasar Spasial Oleh Monopolis 18
Gambar 2.7: Pengaturan Pasar Dengan Cara Membagi Pasar Per Perusahaan 18
Gambar 2.8: Dua Penjual di Dua Wilayah Yang Bertetangga 19
Gambar 2.9 Batas Wilayah Jika Px Py dan Txz Tyz 21
Gambar 2.10: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px Py dan Txz Tyz 22
Gambar 2.11: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px Py dan Txz Pyz 23
Gambar 2.12: Kasus Demanders Tersebar dan Suppliers Terkonsentrasi 24
Gambar 2.13 Monopoli Spasial 25
Gambar 2.14 Kasus Supplier Tersebar dan Demander Terkonsentrasi 26
Gambar 2.15 Perbaikan Transportasi Menguntungkan Produsen Jauh 26
Gambar 2.16 Demanders dan Supplier Tersebar Kasus Pasar Transito 27
Gambar 2.17 Persaingan Pasar Lokal dan Pasar Transito 28
Gambar 2.18 Demand dan Supply Pasar di Pasar Lokal dan Pasar Transito 28
Gambar 2.19: Luas Are Pasar Masing-masing Perusahaan Berbentuk Segi Enam (
Losch ) 29
Gambar 2.20 Persaingan Duopoli Secara Spasial 31
Gambar 3.1: Sebaran Pelanggan Sepanjang Sebuah Garis 36
Gambar 3.2: Proses Persaingan Sepanjang Garis Lurus 37
Gambar 3.3 Biaya Transpor Industri Dengan Satu Bahan Baku dan Satu Pasar 38
Gambar 3.4 Struktur Biaya Transpor Dengan dan Tanpa Biaya Terminal 39
Gambar 3.5 Struktur Biaya Transpor Berdasarkan Jarak Angkut dan Pilihan Moda 40
Gambar 3.6 Lokasi Industri Titik-titik Ujung 40
Gambar 3.7: Keunggulan Lokasi Transhipment 41
Gambar 3.8 Peta Isotims dan Isodapanes Penentuan Lokasi Optimal Error! Bookmark
not defined.
Gambar 3.9: Peta Isotims Biaya Distribusi yang Dikombinasikan Error! Bookmark not
defined.
Gambar 3.10: Isotims biaya perakitan yang dikombinasikan 45
Gambar 3.11 Peta Isodapanes (Penjumlahan Isotims Biaya Distribusi dan Perakitan) 45
Gambar 4.1 Prose Aglomerasi Menurut John Friedman 57
Gamabar 5.1 Lokasi Optimal Perusahaan dalam Tata Ruang Kota 82
Gambar 5.2 Struktur Biaya-biaya TC, AC dan MC 83
Gambar 5.3 Hubungan antara Penerimaan dan Biaya dan Laba 84
Gambar 5.4 Kemiringan Kurva Sewa Lahan 84
Gambar 5.5 Kurva Sewa Bergelombang Pengaruh Pusat Yang Terstruktur 84
Gambar 5.6 Kurva Sewa Gelombang Nail Pada Lokasi-lokasi Pusat kegiatan 85
Gambar 8.1: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Model Satu-Sektor 113
viii
Gambar 8-2: Batas Kemungkinan Produksi Antar Wilayah Untuk Model Satu Sektor
113
Gambar 8.3: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Untuk Model Dua Sektor 114
Gambar 8.4: Penyesuaian di Pasar Output pada Perluasan Wilayah 115
Gambar 8.5: Penyesuaian Pasar Output Wilayah yang Berkontraksi 115
Gambar 8.6: PPFC Antar Wilayah Dua Sektor 116
Gambar 8.7: Kotak Edgeworth-Bowley Antar Wilayah dari Dua-Sektor ke Satu-Sektor
117
Gambar 8.8: PPF dari Model Dua-Sektor Disesuaikan kepada Model Satu-Sektor 118
Gambar 8.9: Penyebaran Teknologi Sepanjang Waktu 121
Gambar 8.10: Tingkat Investasi Wilayah 128
Gambar 8.11 Ekpor Wilayah dan Investasi 129
Gambar 8.12: Pertumbuhan Mantap (Steady-State) Wilayah 131
Gambar 8.13: Pertumbuhan KumulatiI Wilayah 132
Gambar 8.14 Pertumbuhan Regional KumulatiI 134
Gambar 10.1 Tingkat Kemiringan Sewa Lahan Industri Kota Berdasarkan Kondisi Pasar
Lahan Persaingan 152
Gambar 10.2: Kemiringan Kurva Sewa Lahan Industri Perkotaan Berdasarkan Sebuah
Kebijakan Zoning. 153
Gambar 10.3: Lahan tempat Tinggal (Lokasi Perumahan) Kota 156
Gambar 10.4 Tata-guna Lahan Perumahan Sebagai Akibat Skema Peremajaan Pusat
Kota. 157
Gambar 10.5: EIek Kesejahteraan dari Skema Peremajaan Kota. 158
Gambar 10.6: Penggabungan antar kota (nter Urban Merging) 160
Gambar 10.7 EIek-eIek Harga Lahan dari sebuah Kebijakan Jalur Hijau. 161
Gambar 10.8: Pengaruh-pengaruh Lingkungan Lokal dari Kebijakan Jalur Hijau
(Greenbelt Policy) 163
Gambar 10.9: EIek-eIek EIisiensi Kesejahteraan dari InIrastruktur Regional 167
Gambar 10.10 EIek-eIek Ekonomi Makro Kebijakan Regional 169
ix
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1: Contoh Matrik Hubungan Proyek-Proyek Sektoral dan Daerah .................... 6
Tabel 3.1: Perhitungan Lokasi Median ........................................................................ 36
Tabel 3.2: Standar Biaya Asembly dan Distribusi Industri Peti Baja ........................... 42
Tabel 3.3: Standarisasi Biaya Bahan Baku .................... Error! Bookmark not defined.
Tabel 6.1 Tabel Perhitungan Produksi dan Pendapatan Wilayah Richard Stone ........... 93
Tabel 6.2: Perhitungan Input-Output Inter-Regional (dua wilayah, tiga
komoditas/sektor) ................................................................................................ 96
Tabel 8.1: Kontribusi Unsur-unsur Pertumbuhan PDB kill AS, 1948 1997 .............. 138
Tabel 9.1. Skema Pengelompokan Kebijakan ............................................................ 145
Tabel 9.2. Ikhtiar Pembangunan oleh Jenis Komuniti ................................................ 146

1
BAB I
PENDAHULUAN

Perekonomian nasional suatu negara senantiasa memerlukan analisis. Analisis
tersebut diperlukan untuk dapat melihat kondisi ekonomi maupun perkembangannya
dari waktu ke waktu. Pengetahuan tentang kondisi ekonomi dan perkembangannya
tersebut diperlukan untuk mendukung suatu kebijakan, atau untuk melihat hasil-hasil
dari suatu kebijakan, atau untuk memperbaiki suatu kebijakan (evaluasi bagi suatu
kebijakan). Analisis juga diperlukan untuk tujuan-tujuan pendidikan, misalnya untuk
membuktikan hipotesis-hipotesis.
Suatu analisis dilakukan dengan memanIatkan model-model (teori-teori), yang
lazim digunakan, yang telah terbukti akurat didalam membuat prediksi-prediksi. Ilmu
ekonomi memang penuh dengan model-model dan contoh-contoh ilustratiI. Dengan
didukung oleh data empiris dapat dibuat kesimpulan-kesimpulan menyangkut suatu
masalah, dan dapat prediksi-prediksinya.
Suatu perekonomian secara umum dapat dianalisis pada dua aspek, yaitu analisis
aspek sektoral dan analisis aspek regonal. Kajian tersebut dapat dilakukan untuk tingkat
ekonomi nasional, maupun untuk tingkat ekonomi daerah (lokal). Untuk tingkat
ekonomi nasional aspek regional yang akan dilihat adalah ekonomi pada tingkat-tingkat
subnasional. Model analisisnya bisa sektoral lagi atau bukan sektoral. Sedangkan untuk
ekonomi regional/daerah maka ekonomi daerah yang akan dilihat adalah ekonomi
subregional, dan pendekatan analisisnya pun bisa aspek sektoral atau aspek regional.
Semua itu sangat tergantung kepada tujuan/kepentingan dari suatu kajian. Model-model
analisis regional yang lazim dilakukan antara lain: model analisis sektoral untuk tingkat
regional, atau subreginal; model analisis Input Output Regional ( Analysis); model
analisis arus barang, jasa dan manusia (Flows Analysis), dan model analisis inIrastruktur
wilayah (Regional nfastructure Analiysis).
Pilihan model analisis akan tergantung kepada tujuan studi. Secara skematis
diperlihatkan pada gambar 1.1. Demikian pula model-model analisis aspek regional
meliputi berbagai pendekatan, seperti pendekatan sektoral sendiri, pendekatan input-
output, pendekatan arus barang, jasa, manusia dan kendaraan, dan sebagainya.









Gambar 1.1: Skema Analisis Ekonomi


ANALISIS ASPEK SEKTORAL
ANALISIS EKONOMI NASIOAL
ANALISIS ASPEK REGIONAL
ANALISIS ASPEK SEKTORAL ANALISIS ASPEK REGIONAL
2
.. Aspek $ektoral
Analisis aspek sektoral, baik perekonomian tingkat nasional, tingkat regional
(sub nasional), maupun tingkat subregional perekonomian dilihat berdasarkan sektor-
sektor kegiatan ekonomi atau lapangan usaha penduduk. Selama periode Raelita I s/d
Relita V Indonesia membagi perekonomiannya ke dalam 11 sektor, yaitu : (1) Sektor
Pertanian, (2) Sektor Pertambangan, (3) Sektor Perindustrian, (4) Sektor Listrik, Gas
dan Air Minum, (5) Sektor Bangunan atau Konstruksi, (6) Sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran, (7) Sektor Perangkutan dan Komunikasi, (8) Sektor Bank dan Lembaga
Meuangan Lainnya, (9) Sektor Sewa Rumah, (10) Sektor Pemerintahan dan Pertahanan
Keamanan, dan (11) Sektor Jasa. Namun, sejak pelita VI jumlah sektor diciutkan
menjadi sembilan sektor, dimana sektor 8 dan 9 disatukan menjadi sektor 8 yang diberi
nama sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, dan sektor 10 dan 11 disatukan
menjadi sektor 9 yang diberi nama sektor Jasa-jasa. Sehingga nama-nama kesembilan
sektor tersebut menjadi: (1) Sektor Pertanian, (2) Sektor Pertambangan, (3) Sektor
Industri (baca Sektor Industri Pengolahan), (4) Sektor Listrik, Gas dan Air Minum, (5)
Sektor Bangunan dan Konstruksi, (6) Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, (7)
Sektor Angkutan dan Komunikasi, (8) Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan, dan (9) Sektor Jasa-jasa. Mungkin ada sektor-sektor yang dipecah lagi
menjadi subsektor-subsektor. Misalnya, Sektor Pertanian dipecah meliputi subsektor-
subsektor: Tanaman Bahan Makanan, Tanaman Perdagangan Rakyat, Tanaman
Perkebunan, Peternakan dan Hasil-hasilnya, Hasil Hutan, dan Hasil Perikanan .
Jika dilihat berdasarkan judul subsektor, maka seluruhnya menjadi 26 subsektor.
Selanjutnya jika dilihat dari sektor komoditi maka jumlahnya ada 75 sektor komoditi.
Pembagian ini penting diketahui, karena jika kita ingin membuat analisis Input-Output
(I-O), kita akan mengenal analisis-analisis I-O 9 sektor, 26 sektor, dan 75 sektor. Dasar
pemilahannya adalah bersumber dari pembahagian ini.
Berdasarkan sektor-sektor dan subsektor-subsektor tersebut suatu perekonomian,
baik pada tingkat nasional, provinsi maupun pada tingkat daerah tingkat II
(Kabupaten/kota) dapat dilihat kondisinya, dapat dilihat perkembangannya, dapat
direncanakan pertumbuhannya, dapat pula direncanakan tingkat keseimbangan
pertumbuhan antar sektor atau subsektornya, dan dapat direncanakan perbaikan dalam
aspek distribusi (Equity) diantara sektor-sektor, dan/atau golongan-golongan masyarakat
berdasarkan komposisi partisipasinya.

.2. Aspek Regional
Dalam aspek regional ini perekonomian nasional dilihat berdasarkan wilayah-
wilayah perekonomian (Regions of Economy). Namun, wilayah-wilayah perekonomian
tersebut mungkin sama, dan mungkin juga tidak sama dengan wilayah-wilayah
administrasi pemerintah daerah, mungkin merupakan kesatuan dua wilayah administrasi
pemerintah daerah atau lebih, atau mungkin juga sebuah wilayah administrasi
pemerintahan daerah dipecah masuk ke dalam wilayah ekonomi yang berbeda. Hal ini
tidak menjadi masalah, karena konsep perwilahan (regionalisasi) siIatnya abstrak.
Regionalisasi juga bisa berbeda-beda pendekatannya, yang tergantung kepada
system negara. Misalnya, regionalisasi untuk negara-negara Iederasi seperti AS, India,
Malaysia, daerah berarti negara bagian. Sedangkan untuk negara-negara yang menganut
sistem kesatuan, yang terbagi kepada provinsi-provinsi hingga distrik-distrik (seperti:
3
Inggeris, Cina, dan Indonesia), maka regionalisiasi bisa menjadi dua pendekatan, yaitu
berdasarkan administrasi pemerintahan di daerah, atau tidak berdasarkan administrasi
pemerintahan di daerah, antara lain dengan menggunakan pendekatan campuran dari
sistem wilayah homogen dan wilayah nodal sebagai dasar perwilayahan perencanaan.
Menurut Richardson (1969) ada dua pola perwilayahan (regionalisasi), yaitu:
(1) Wilayah sebagai lokasi-lokasi kegiatan ekonomi. Berdasarkan pola ini, wilayah
merupakan lokasi-lokasi sumber daya ekonomi dan tempat penduduk berdomisili.
Berdasarkan pola ini ekonomi wilayah dikembangkan sesuai dengan potensi sumber
daya yang dimiliki wilayah masing-masing, dengan memanIaatkan kota-kota secara
berjenjang sebagai pusat-pusat pengembangan wilayah-wilayah sekitarnya (interland).
Pola ini diajarkan oleh teori pusat-pusat pertumbuhan (Growth Pole Theory).
(2) Wilayah sebagai unit-unit ekonomi nasional, penyusun-penyusun ekonomi nasional
yang otonom. Pola ini diajarkan oleh teori agropolitan, yang merupakan pengembangan
teori ekonomi Marxis (Neo Marxis Theory).

.3 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Regional Relatif Lebih $ulit
Perencanaan pembangunan ekonomi regional jauh lebih sulit dibandingkan
dengan perencanaan pembangunan ekonomi nasional. Hal itu disebabkan oleh batas-
batas daerah yang lebih terbuka dibandingkan batas-batas nasional. Karena batas-batas
daerah yang relatiI terbuka tersebut, maka aliran Iactor-Iaktor produksi antar daerah
lebih leluasa dibandingkan dengan antar negara. Daerah memiliki dasar hukum yang
lemah dalam melakukan pengawasan terhadap arus keluar masuknya Iactor-Iaktor
produksi atau hasil-hasil produksi. Tenaga kerja akan mengalir dari wilayah yang
memiliki tingkat upah yang lebih rendah ke wilayah yang memiliki tingkat upah yang
lebih tinggi. Begitu pula modal, akan mengalir dari daerah yang memiliki tingkat bunga
rendah ke wilayah yang memiliki tingkat bunga yang tinggi.


Gambar 1.2 : Mobilitas Faktor-Faktor Ekonomi Dua Wilayah

Keterangan: R
A
wilayah A; R
B
wilayah B; w
A
tingkat upah di wilayah A;
w
B
tingkat upah di wilayah B; r
A
tingkat bunga modal di wilayah A; r
B
tingkat
bunga modal di wilayah B. Jika w
B
~ w
A
maka tenaga kerja (N) akan mengalir
(bermigrasi) dari wilayah A ke wilayah B. Begitu pula jika r
B
~ r
A
maka modal (K) akan
mengalir dari wilayah A ke wilayah B. Upah dan bunga sebagai balas jasa input

R
A


w
A



r
A


R
B



w
B



r
B


N
K
4
produksi tergantung pada penerimaan marginal (MR
L
; MR
K
) dari input tersebut
masing-masing di wilayah A dan di wilayah B. Dalam kondisi yang seperti itu wilayah
A akan sulit membuat perencanaan ekonominya.

.4 Regionalisasi Pembangunan
Regionalisasi (Perwilayahan) pembangunan merupakan bahagian dari proses
perencanaan pembangunan, sebagai usaha membagi wilayah nasianal menjadi wilayah-
wilayah regional (subwilayah-subwilayah nasional), atau wilayah regional menjadi
wilayah-wilayah subregional. Hasil penataan perwilayahan tersebut dinamakan wilayah
perencanaan. Prinsip perwilayahan tidak sekedar membagi habis wilayah nasional
menjadi sub-subwilayah nasional dan selanjutnya menjadi sub-subwilayah regional.
Yang menjadi urgensinya adalah, 5ertama bagaimana ekonomi sub-subwilayah regional
terintegrasi dengan baik ke dalam ekonomi regional, dan ekonomi-ekonomi regional
terintegrasi dengan baik ke dalam ekonomi nasional, dan wilayah perencanaan itu
eIektiI (unsur-unsur subjektiIitas benar-benar diletakkan di atas suatu realitas).
Perwilayahan pembangunan di Indonesia, berdasarkan pengalaman
pembangunan selama periode Orde Baru (Repelita) misalnya, menghadapi masalah-
masalah kesulitan tertentu. Masalah-masalah kesulitan tersebut bersumber dari warisan
kolonial. Sejarah penjajahan Belanda yang panjang, yang telah memilih Pulau Jawa
sebagai pusat kekuasaannya dalam menguasai pulau-pulau nusantara. Sebagai wilayah
pusat kekuasaannya mereka telah membangun berbagai inIrastruktur yang lebih baik
dibandingkan dengan apa yang mereka bangun di luar Pulau Jawa. Kondisi tersebut
mendorong perkembangan ekonomi dan sosial yang relatiI lebih baik di Pulau Jawa,
yang diikuti oleh arus manusia dan modal ke Pulau Jawa. Pulau Jawa disamping lebih
ideal sebagai lokasi kegiatan investasi juga karena jumlah penduduknya banyak
sekaligus merupakan pasar yang lebih potensial. Dampak lebih lanjut dari kondisi
tersebut, maka investasi ke luar Jawa lebih pada kegiatan-kegiatan ekonomi yang
berorientasi pada sumber daya alam, dan itupun akan terbatas pada sumber daya alam
yang sulit dipindahkan secara eIisien. Ditambah lagi dengan dampak dari kemajuan
sektor transportasi, maka kegiatan ekonomi yang lokasinya dipengaruhi oleh lokasi
bahan baku semakin terbatas.
Menurut Prantilla, dalam bukunya 'National Develo5ment and Regional Policy
(1981), pada tahap-tahap awal pelaksanaan Repelita di Indonesia, kegiatan
pembangunan cenderung terkonsentrasi ke Jakarta dan sekitarnya. Keadaan ini tidak
dikehendaki, dan tidak menguntungkan bagi pembangunan Indonesia. Keadaan tersebut
terjadi oleh karena investasi swasta yang dicoba dorong melalui pembangunan oleh
pemerintah cenderung memilih lokasi Pulau Jawa, utamanya ke Jakarta dan sekitarnya.
Oleh karena itu pada awal Repelita II dimunculkan konsep regionalisasi, dengan pola
Growth Pole. Memang, pola pembangunan regional di Indonesia tidak murni
menggunakan Model Growth Pole. Pada masa pemerintahan orde baru juga
melaksanakan pembangunan berdasarkan wilayah-wilayah administratiI pemerintah
daerah, walaupun dengan mengkombinasikan berbagai model pembangunan wilayah
lainnya seperti: model pembangunan daerah aliran sungai (DAS), model pembangunan
daerah tertinggal, dan model-model lainnya. Artinya, disamping model pusat-pusat
pengembangan juga dikombinasikan dengan model agropolitan, yang diwakili oleh
inpres-inpres (seperti: inpres Tingkat I, inpres Tingkat II, dan inpres desa). Itu semua
5
diwujudkan baik dalam bentuk proyek-proyek sektoral di masing-masing daerah
maupun dalam bentuk program-program Inpres (Precident Decree Programs).


.5 Tujuan Pembangunan Regional di Indonesia
Pembangunan regional di Indonesia khususnya selama pelaksanaan Repelita
lebih dimaksudkan sebagai pembangunan daerah (ocal Dedvelo5ment). Tujuannya,
seperti yang dirumuskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yaitu untuk:
(1) memelihara keseimbangan pembangunan antar sektor dan antar wilayah. (2)
memelihara keseimbangan ekonomi antar wilayah dan mencegah kesenjangan antar
daerah. (3) meningkatkan prakarsa daerah dan peran serta masyarakat dalam
pembangunan. (4) memelihara keserasian pembangunan antara pusat-pusat kegiatan
pembangunan di wilayah-wilayah perkotaan dan di wilayah-wilayah sekitarnya.
Menurut Prantilla, konsep perwilayahan di Indonesia pada masa Repelita yang
semula terdiri dari empat wilayah pembangunan utama (WPU) pada Repelita II (Medan
dan sekitarnya, Jakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya dan Ujung Pandang dan
sekitarnya), belumlah dibangun di atas dasar-dasar yang secara teoritis kuat (S5esific).
Tetapi dengan adanya konsep perwilayahan pembangunan tersebut, sedikit banyak
telah mendorong penyebaran kegiatan pembangunan ke seluruh wilayah nasional
Indonesia. Dalam Repelita III konsep perwilayah tersebut dirubah lagi menjadi 5 WPU,
dimana WPU Ujung Pandang dan sekitarnya dipecah 2, yaitu WPU Ujung Pandang dan
sekitarnya dan WPU Ambon dan sekitarnya (yang interland-nya meliputi wilayah
provinsi Maluku dan provinsi Irian Jaya). Masing-masing WPU tersebut dipecah lagi
menjadi Wilayah-wilayah Pembangunan (WP-WP), dan selanjutnya WP dipecah lagi
atas Subwilayah-subwilayah Pekbangunan (SWP-SWP). Sampai dengan Repelita VI
konsep perwilayahan tersebut masih terjadi perubahan-perubahan pada tingkat provinsi,
seperti halnya di Jawa Barat. Perlu pula diketahui, bahwa selama konsep tersebut
dirancang Badan Perencanaan Pembangunan, baik pada tingkat nasional, propinsi dan
daerah tingkat II masih terus terjadi perubahan-perubahan dan mencari konsep
perwilayahan yang lebih eIektiI. Bahkan untuk berbagai instansi, seperti Perusahaan
Minyak Nasional (Pertamina), dan Perusahaan Negara Pos-Giro masing-masing
memiliki konsep perwilayahannya sendiri.

.6 Masalah-masalah Regionalisasi di Indonesia
Ada empat permasalahan Regionalisasi (perwilayahan) di Indonesia, yaitu:
(1) Secara teoritis wilayah harus dapat memperlihatkan spesiIikasinya masing-masing,
seperti adanya variasi dalam hal sumber daya ekonomi yang potensial, sehingga dapat
diambil kebijakan dalam pengembangan wilayah masing-masing yang lebih spesiIik.
Tetapi pada umumnya wilayah di Indonesia, memiliki kesamaan di dalam potensi dan
permasalahan.
(2) Wilayah nasional yang relatiI luas dan berbentuk kepulauan. Kalau hanya dipecah
menjadi 5 WPU dan kurang lebih 80 WP, maka WPU-WPU tersebut terlalu luas.
Akibatnya integrasi kesatuan-kesatuan WPU relatiI lemah, lebih-lebih mengingat sarana
transportasi yang masih terbatas, ditambah lagi dengan kondisi kepulauan itu sendiri.
Sebagai perbandingan, Philipina yang jauh lebih kecil dari Indonesia membagi wilayah
nasionalnya waktu itu atas 12 WPU dan aspek kelembagaan relatiI lebih kuat.
6
(3) Power daerah pada periode Repelita berada pada posisi yang sangat lemah, baik itu
power politik, power Iinancial, maupun power intelektual. Hal itu karena sistim
pemerintahan sangat sentralistis.
(4) Kontradiksi perwilayahan model pusat-pusat pertumbuhan dengan latar belakang
tumbuhnya daerah di Indonesia, kalau WPU tersebut meliputi wilayah propinsi apalagi
kalau sempat memisahkan bagian-bagian propinsi kedalam WPU-WPU yang berbeda.
Daerah-daerah di Indonesia berasal dari berbagai kerajaan yang berdiri sendiri-sendiri
sebelum penjajah datang. Setelah penjajah Belanda datang mereka menjajah kerajaan-
kerajaan tersebut, secara yuridis administratiI dalam tingkatan atau status yang berbeda-
beda. Ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Ada yang sempat dijajah atau
diduduki selama 350 tahun dan ada yang kurang dari 50 tahun, itulah Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka prinsip otonomi daerah dijamin oleh Undang-undang Dasar.
Namun dalam implementasi kondisi otonomi daerah terus berubah-ubah.

.7. Keserasian Pembangunan antar Daerah
Keserasian pembangunan antar daerah pada masa Repelita dikembangkan
Pemerintah Pusat (melalui perencanaan terpadu oleh Bappenas) berdasarkan
pertimbangan sektoral, dimana proyek-proyek sektoral didistribusikan secara seimbang
diantara berbagai daerah berdasarkan matrik tertentu (Bintoro Tjokroamidjojo, 1983).
Proyek-proyek dirangking, diberi bobot, dipilih sesuai dengan kebutuhan nasional
ataupun daerah. Proyek-proyek investasi diusahakan untuk dapat memberikan
pemerataan, dapat memberikan pengaruh penyebaran (S5reading Effect) bagi
perekonomian daerah. Setiap proyek investasi memperhitungkan seberapa besar eIek
multiplier bagi daerah, yang memberi dampak kepada perluasan kesempatan kerja, baik
langsung maupun tidak langsung, memberi dampak bagi peningkatan produktivitas serta
nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Tabel . Contoh Matrik Hubungan Proyek-Proyek $ektoral dan Daerah
Yang Dibuat Bappenas pada Masa Repelita
PROYEK
DAEARAH
p
1
p
2
p
3
p
n
_
d
1
d
1
p
1
d
1
p
2
d
1
p
3
d
1
p
n
D
1
d
2
d
2
p
1
d
2
p
2
d
2
p
3
d
2
p
n
D
2
d
3
d
3
p
1
d
3
p
2
d
3
p
3
d
3
p
n
D
3
d
28
D
28
p
1
d
28
p
2
d
28
p
3
d
28
p
n
D
28

_ P
1
P
2
P
3
P
n
I
Sumber : Bintoro Tjokroamidjojo, Perencanaan Daerah.

Keterangan : p
1
p
2
p
3..........
p
n
proyek-proyek pembangunan; d
1
d
2
d
3..........
d
27
propinsi-propinsi yang ada di wilayah nasional (27 propinsi);
7
d
28


nasional dianggap satu daerah lagi; p
1
p
2
p
3, ..,
p
n
memiliki hubungan urut-
urutan (rangking) dan hubungan-hubungan Iungsional; p
1,
p
2
, p
3
, p
4, ..,
p
n
ditentukan
I Jumlah anggaran jumlah nilai proyek: D
1
, D
2
, D
3
, D
4
,
..,
D
28
ditentukan.
Dengan matrik tersebut diciptakan perimbangan antar daerah. Begitu pula pada level
propinsi untuk antar kabupaten dari kabupaten untuk antar kecamatan.
Sebenarnya pengertian pembangunan atau ekonomi regional tidak hanya
mempermasalahkan bagaimana membagi habis wilayah geograIi nasional atas wilayah-
wilayah pembangunan ataupun wilayah-wilayah administrasi pemerintahan daerah dan
kemudian dikembangkan sesuai dengan potensi dan prospek spesialisasinya masing-
masing, tetapi juga bagaimana mengembangkan wilayah-wilayah terbelakang
(De5resed Area). Contohnya: Wilayah Appalachia di A.S, Wilayah Scotlandia di
Inggris, Wilayah Perancis Selatan di Perancis, dan Wilayah Italia Selatan di Italia.
Untuk mengembangkan perekonomian daerah khususnya, dan seluruh aspek
kehidupan masyarakat di daerah umumnya, pembangunan prasarana/sarana transportasi
memegang peranan yang amat penting. Transportasi dapat meningkatkan derajat
integrasi wilayah. Sektor transportasi dan sektor Komunikasi sangat Membantu dalam
meningkatkan integrasi wilayah. Dampaknya dapat meningkatkan perdagangan antar
daerah, spesialisasi produksi antar daerah. Meningkatkan eIisiensi dalam berproduksi,
meningkatkan nilai tambah, meningkatkan pemanIaatan sumberdaya wilayah, dan
meningkatkan eIisiensi penggunaannya. Selanjutnya produksi dan konsumsi regional
menjadi meningkat.
Bagi Indonesia pembangunan sektor transportasi penting sekali, mengingat
luasnya wilayah negara, besarnya jumlah penduduk, dan wilayah yang berbentuk
kepulauan. Proses pembangunan (industrialisasi) harus ditunjang oleh aktivitas dan
jaringan perdagangan yang lancar dan luas. Kegiatan perdagangan yang lancar dan luas
tersebut hanya mungkin terjadi jika sarana dan prasarana transportasi, dan kebijakannya
mendukung. Peningkatan standar hidup penduduk hanya mungkin ditingkatkan melalui
peningkatan aktivitas ekonomi/investasi. Usaha untuk meningkatkan pendapatan rata-
rata penduduk perlu diikuti dengan industrialisasi dan perdagangan yang luas, kalau
tidak maka negara besar tetapi ekonomi kecil. Kondisi tersebut kita alami sampai
sekarang, misalanya diantara negara-negara ASEAN, dalam ukuran GNP absolut
Indonesia merupakan yang terbesar, tetapi dalam ukuran perkapita adalah yang terkecil.
Artinya, betul bahwa GNP Indonesia merupakan yang terbesar diantara Negara-negara
ASEAN tatapi produktivitas pertenaga kerja, pendapatan perkapita, konsumsi rata-rata
masyarakat, sarana/prasarana pelayanan umum, konsumsi air bersih perkapita,
konsumsi tenaga listrik perkapita, adalah yang terendah.

.8. Penggunaan Teori Ekonomi Mikro dan Makro
Dalam Ekonomi Regional digunakan kedua aspek teori, baik teori ekonomi
makro maupun teori ekonomi mikro. Pada tahap perkembangan pembangunan regional
di Indonesia pada periode ReIormasi sekarang ini, juga sudah menyentuh masalah
pemerataan pembangunan antar daerah dengan mulai mencoba memberikan otonomi
yang seluas-luasnya kepada daerah-daerah tingkat II. Bahkan sejak tahun anggaran
1995/1996) daerah sudah dapat mengambil pinjaman (kredit) luar negeri untuk
membiayai pembangunannya (seperti yang dilakukan oleh provinsi Jawa Tengah dalam
membiayai pembangunan jalan tol kota Semarang).
8

Gambar 1.3 Kedudukan Ekonomi Regional di dalam Teori Ekonomi
Ekonomi Makro
- Pendapatan daerah
(PDRB)
- PDRB Perkapita
- Investasi Daerah
- EIek Multiplier di
daerah
- Konsumsi daerah
- Tabungan daerah
- Ekspor daerah
- Pajak daerah
- dan sebagainya
Ekonomi Regional Ekonomi Mikro
- Teori Harga Spasial
- Teori Lokasi industri
- Dan sebagainya
9
BAB II
TEORI LOKA$I PA$AR (HARGA) $PA$IAL

2. Teori Harga $pasial ( $5atial Price 1heory)
2... Keseimbangan Harga Lokal dan Harga $pasial
Harga dari suatu barang tidak harus sama di seluruh wilayah, mungkin di bagian
pasar (wilayah) yang satu berbeda dengan di bagian pasar (wilayah) yang lain. Pasar-
pasar yang secara tata ruang terpisah, kurva permintaan maupun kurva penawarannya
mungkin berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu harga dari satu barang tertentu
mungkin lebih tinggi dari yang dapat diperoleh di pasar yang lain. Perbedaan harga
yang seperti itu dapat berlangsung lama, kalau di antara pasar-pasar tersebut tidak
terintegrasi (tidak berlaku sistem perdagangan bebas). Artinya kalau barang-barang
yang berada di pasar yang memiliki harga yang lebih rendah tidak bebas mengalir ke
pasar yang memiliki harga yang lebih tinggi. Terisolasinya pasar yang satu dari pasar
yang lain bisa terjadi karena: (1) adanya biaya angkutan, (2) karena adanya pembatasan
perdagangan, dan (3) karena kedua-duanya (adanya biaya angkutan dan juga
pembatasan perdagangan).
Jika sistem perdagangan bebas diberlakukan, maka barang akan mengalir dari
wilayah yang memiliki harga lebih rendah ke wilayah yang memiliki harga lebih tinggi.
Aliran barang tersebut akan berlangsung sampai harga barang tersebut hanya dibedakan
oleh unit biaya transpornya (tercapainya keseimbangan harga spasial). Misalkan, suatu
barang diproduksi dan dikonsumsi di semua wilayah. Selanjutnya, diasumsikan bahwa
setiap wilayah memiliki hanya satu pasar yang menganut sistem persaingan sempurna.
Wilayah yang satu dengan yang lain terpisah secara nyata oleh jarak tertentu.
Diasumsikan pula antara wilayah yang satu dengan yang lainnya tidak ada perdagangan,
membentuk keseimbangan harga internal di masing-masing daerah (keseimbangan
harga lokal). Keseimbangan harga lokal yaitu keseimbangan harga yang dibentuk oleh
kekuatan-kekuatan permintaan dan penawaran local di masing-masing wilayah, atau
keseimbangan harga pada masing-masing pasar berdasarkan wilayah-wilayah geograIi
dalam satu wilayah tata ruang).
Keadaan tersebut akan berlangsung lama kalau asumsinya tidak berubah, yaitu:
adanya pembatasan perdagangan secara legal, ada biaya angkutan antara satu wilayah
dengan wilayah lain yang cukup tinggi (melebihi perbedaan harga lokal). Dengan
demikian tidak memungkinkan barang tersebut diperoleh (didatangkan) dari wilayah
yang lain, yaitu dari wilayah yang memiliki harga relative rendah.
Akan lain halnya, kalau diberlakukannya sistem perdagangan bebas dan biaya
transport antar wilayah nol. Barang akan mengalir dari wilayah yang memiliki harga
rendah ke wilayah yang memiliki harga lebih tinggi, dan akan membentuk
keseimbangan tunggal bagi semua wilayah. yang relatiI rendah karena telah
dikembangkan sistem transpor nasional/regional yang eIisien. Kalau sistem
perdagangan bebas diberlakukan, biaya transpor antar wilayah tetap positiI,
keseimbangan harga spasial akan terbentuk, dengan perbedaan-perbedaan harganya
mendekati besarnya biaya transpor.

10

Gambar 2.1 Keseimbangan Harga Lokal

Keterangan: R1, R2, R3, dan R4 adalah wilayah-wilayah (regions) 1, 2, 3, dan 4. A
1
, A
2
, A
3
, dan A
4

adalah harga-harga lokal di masing-masing wilayah (harga-harga tanpa perdagangan antar wilayah yang
satu dengan yang lain).

Adapun proses terbentuknya keseimbangan spasial (untuk berbagai kasus)
adalah sebagai berikut:

2..2 Kasus 2 Wilayah

Gambar 2.2: Interaksi Ekonomi Kasus Dua Wilayah (R1 dan R2)

R
1
dan R
2
dipisahkan oleh suatu jarak tertentu. Misalkan : Biaya transport antara R
1
-
R
2
T
21
. Biaya transpor dari R
1
ke R
2
tidak perlu sama dengan kalau dari R
2
ke R
1
.
Begitu pula biaya transport tersebut tidak harus memiliki Iungsi linier, memungkinkan
non linier juga.
R
2
R
1
P
Q
A
2
D2
S2
qd
2
qs
P
Q
A
1

D1
S1
qd
1
qs
P
Q
A
4

D4
S4
qd
4
qs
P
Q
A
3

D3
S3
qd
3
qs
R1
R4
R2
R3
11
Route (trayek) transpor tidak perlu bolak-balik. Pos-pos biaya transpor tersebut
meliputi, antara lain: biaya asuransi, biaya bunga modal, biaya transit (biaya bongkar
muat), dan lain-lain biaya yang dapat menambah biaya angkut. Diasumsikan pula,
bahwa besar kecilnya volume angkutan tidak mempengaruhi biaya transpor per unit.
Misalkan: tingkat harga di R
1
A
1
, di

R
2
A
2
(dalam keseimbangan konsumsi dan
produksi lokal (kurva-kurva DD dan SS lokal ). Tidak ada pembatasan perdagangan
antar wilayah (antara R
1
dan R
2
atau sebaliknya) . Biaya transport dari R
2
ke R
1

T
12
, dari R
1
ke R
2
T
21
, Proses pembentukan harga spasial akhir, yaitu tercapainya
harga keseimbangan pada masing-masing wilayah (pasar) Spasial, yaitu P
1
untuk R
1
dan
P
2
untuk R
2
setelah berlangsungnya perdagangan.
Bila: A
2
- A
1
~ T
12
maka barang mengalir dari R
1
ke R
2
. Jika A
2
~ A
1

tetapi A
2
- A
1
T
12
, maka kondisi yang demikian

tidak akan terjadi perdagangan. Jika
A
1
~ A
2
dan A
1
- A
2
~ T
21
, maka barang akan mengalir dari R
2
ke R
1
. Jika

A
1
~ A
2
,
tetapi A
1
A
2
T
21
, maka tidak akan terjadi perdagangan. Jadi, apabila perbedaan
harga _ biaya transport tidak akan terjadi perdagangan (tidak terjadi perpindahan
supply dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain). Wilayah yang memiliki kondisi
yang seperti itu A
1
P
1
pada saat A
2
P
2
.


Gambar 2.3 Fungsi Biaya Transpor Non Linier

Tetapi apabila margin perdagangan lebih tinggi dari biaya transport, barang-barang
yang diproduksi di wilayah tertentu dan harganya lebih rendah, akan mengalir ke
wilayah yang harganya lebih tinggi. Ini adalah keseimbangan harga spasial untuk kasus
dua wilayah. Harga diantara dua wilayah akan dibedakan oleh unit biaya transpor untuk
berlangsungnya proses perdagangan. Kondisi perbedaan harga selebihnya tidak akan
bertahan lama, karena kalau barang akan mengalir dari wilayah yang satu ke wilayah
yang lain.
Keseimbangan Harga $pasial. Harga keseimbangan spasial adalah P
1
dan P
2
.
Besarnya arus barang ekspor E dan import E, atau (E
12
-E
21
) ditentukan oleh
skedul-skedul permintaan dan penawaran spasial di kedua wilayah (pasar) dan biaya-
biaya transpor.

BT
Jarak
BT I (jarak)
12

Gambar 2.4 : Diagram Keseimbangan Harga Spasial Kasus Dua Wilayah


2..3 Kasus Wilayah Lebih Dari Dua
Asumsi yang dibuat tetap sama, yaitu jenis barang satu macam, dan berlaku
sistem perdagangan bebas antar wilayah. Jadi, ketentuan untuk kasus wilayah banyak
(Multi Regions) ini adalah sebagai berikut :
(i) _ E 0, atau import ekspor antar wilayah.
(ii) Harga di wilayah yang mengekspor ditambah dengan biaya transpor per unit dari/ke
wilayah yang bersangkutan sama dengan harga di wilayah yang mengimpor.

2..4 Kasus Tiga Wilayah
Kasus tiga wilayah masih relative mudah dipecahkan, dimana dibuat asumsi
bahwa _E _- E, harga keseimbangan spasial akhir dan perbedaan harga lokal wilayah
semula masing-masing wilayah dapat ditulis :
E
1
b
1
(P
1
A
1
); E
2
b
2
(P
2
A
2
); E
3
b
3
(P
3
A
3
)
Keterangan: b
1,
b
2
dan b
3
konstanta-konstanta untuk wilayah-wilayah R
1
, R
2

dan R
3.
.A
1
, A
2
, dan A
3
adalah harga-harga lokal di wilayah-wilayah R
1
, R
2
dan di
R
3
.T
23
, T
31
dan T
32
adalah biaya-biaya transpor dari R
3
ke R
2
, dari R
1
ke R
3
dan dari R
2

ke R
3
, yang besarnya diketahui. P
1
, P
2
, P
3
adalah harga-harga keseimbangan spasial
akhir yang merupakan permasalahan yang ingin diketahui. Kesulitan: A (harga lokal
wilayah), T (biaya transpor). Keduanya merupakan data yang harus terlebih dulu
diketahui untuk menentukan wilayah-wilayah mana yang akan mengimpor, wilayah-
wilayah mana yang akan mengekspor dan wilayah-wilayah mana yang tidak
membentuk perdagangan. Penentuan siIat-siIat perdagangan masing-masing wilayah
tersebut merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, terutama sekali wilayah-
wilayah netral dengan nilai A sedang. Kalau A
1
A
2
A
3
, maka arus barang dari R
1
ke
A
2
Q
Q
D
2
S
2

S
2
D
2
R
2
E
12
P Harga Keseimbangan Spasial
Keterangan:
R
1
Wilayah Harga
Rendah
Sumbu datar kiri (Q
R
)
dinaikkan sebesar biaya
transport dari R
2
ke R
1

(T
12
) R
1
mengekspor ke R
2

S
1
turun, S
2
S
2
naik


P
1
~ A
1
dan P
2
A
2

A
1
Harga lokal di R
1

Keseimbangan tercapai
dimana E
12
E
21

dan P
2
P
1
T
21

T
21
R
1
P
A
1
-E
21
D
1
D
1
S
1

S
1

'
1
S

'
1
S
'
2
S
'
2
S
S
2

P
2
P
1
13
R
2
dan R
3
tidak terjadi ekspor ke R
1
. Jika P
1
~ A
1
, P
3
A
3
. P
3
P
1
T
13
, dan A
2
~ A
1
;
A
2
A
3
. Pertanyaannya, wilayah mana yang pengimpor, dan wilayah mana yang
pengekspor ? R
1
dan R
2
akan menentukan lebih lanjut P
1
dan P
3
. Bila E
1
E
3
0, P
3

P
1
T
13
, R
2
akan mengimpor kalau P
3
(A
2
T
23
) ; atau akan mengekspor kalau P
3
~
(A
2
T
23
). Tetapi kalau tidak, dimana tidak terjadi perdagangan dengan R
2
(kondisi R
2

dapat memenuhi sendiri kebutuhannya), maka P
2
A
2
dan E 0. Untuk R
3
, Iungsi
perdagangan dari R
2
ke R
3
pada mulanya terjadi, yaitu bersama-sama dengan R
1
ke R
3
.
Kalau impor dan ekspor R
2
mencapai keseimbangan, dimana ditulis: P
2
( P
1
T
12
),
dan P
3
( P
1
T
13
). E
1
- ( E
2


E
3
). Substitusi perdagangan diperlihatkan melalui
Iungsi ;
E
1
- ( E
2
E
3
)
b
1
( P
1
A
1
) - b
2
( P
1
T
12
A
2
) b
3
( P
1
T
13
A
3
)}
dihasilkan :
3 2 1
13 3 3 12 2 2 1 1
1
) ( ) (
b b b
T A b T A b A b
P
+ +
+ +
=
P
1
dapat diperkirakan ; P
2
; P
3
; E
1
; E
2
dan E
3
juga dapat dihitung
Sebaliknya jika R
2
menjadi pengekspor, kemudian didalam keseimbangannya :
E
1
E
2
- E
3
dan P
3
P
2
T
23
P
1
T
13
Dalam kasus ini nilai P
3
diperoleh dengan memecahkan persamaan :

3 2 1
2 23 2 1 13 1 3 3
3
) ( ) (
b b b
A T b A T b A b
P
+ +
+ + + +
=
Dan seterusnya, dimana nilai-nilai variabel lainnya dapat diperoleh.

2..5 Kasus n- Wilayah
Pada contoh kasus tiga wilayah, volume perdangan antar wilayah masih lebih
mudah diperkirakan.
Contoh : kalau E
21
dan E
31
negatiI, maka: E
12
- E
21
; E
13
- E
31
Pada kasus n-wilayah setiap wilayah mungkin mengimpor dari wilayah lain
atau mengekspor ke wilayah yang lain. Dengan demikian jumlah netto perdagangan tiap
wilayah, volumenya tidak secara otomatis diketahui. Prosedur perhitungannya lebih
sulit.
Sejumlah metoda yang pernah diperkenalkan untuk memecahkan masalah
keseimbangan harga spasial kasus n- wilayah, atau model pasar banyak, antara lain:
(1) Metoda Enke, yang menyusun sebuah sistem spasial tiruan dengan
menggunakan sirkuit sirkuit listrik. Harga-harga keseimbangan spasial dan biaya-
biaya transpor dirancang sedemikian rupa untuk dapat dibaca pada alat-alat pengukur
arus atau tegangan listrik yang diletakkan/dihubungkan secara spasial. Dengan
menghidupkan saklar sistem akan bekerja dan membentuk keseimbangan akhir yang
stabil dengan voltase-voltase meter serta amper-amper meter tertentu yang dapat
dibaca, atau dipilih kemungkinan-kemungkinannya.
(2) Metode Samuelson, yang melihat bahwa model tersebut dapat menjadi
sebuah permasalahan linier, dan bertujuan untuk memimimalkan 'net social pay-oII,
14
yaitu jumlah aljabar dari bagian-bagian wilayah di bawah kurva-kurva supply pada
setiap pasar dikurangi sejumlah biaya transport (sisa bayaran social). Model tersebut
dibuat untuk mencoba menyederhanakan dan mengatasi permasalahan keseimbangan
harga spasial, manIaat perdagangan antar wilayah (pasar) secara timbal balik yang
dihubungkan dengan sarana-sarana transportasi dengan biaya-biaya yang minimum.
Disamping model linear yang di kembangkan oleh Samuelson tersebut juga
diperkenalkan model non linear (kwadratik). Richardson sendiri tidak menguraikan
lebih lanjut model-model tersebut secara mendetil. Dia hanya menggambarkan arus
barang dari wilayah-wilayah yang memiliki harga lebih rendah ke wilayah-wilayah
yang memiliki harga lebih tinggi dengan simbul-simbul panah, dan memperlihatkan
alokasi barang-barang secara spasial. Kondisi keseimbangan spasial bertolak dari : total
ekspor total impor. Harga pada masing-masing wilayah harga di wilayah-wilayah
lain plus-minus biaya transpor per unit.

2.2. Pola-pola $ebaran $pasial $ecara Umum
SiIat dasar dari wilayah secara spasial, atau pasar dalam suatu tata ruang, adalah
sesuatu yang abstrak. Artinya, batas wilayah atau ruang lebih diartikan sebagai sesuatu
yang berada di dalam pikiran. Di sini diasumsikan bahwa pembeli maupun produsen
dipusatkan pada sejumlah titik (pasar) yang satu dengan yang lainnya terpisahkan oleh
ruang tidak berkegiatan ekonomi. Kebenaran asumsi ini relatiI. Selanjutnya
diasumsikan pula bahwa komoditi homogen. Perbedaan-perbedaan spasial merupakan
salah satu bentuk perbedaan terhadap produk. Produsen diasumsikan memberlakukan
sistem harga pabrik (P
I.o.b
).
Pertama : S5ace terbatas. Produsen dan konsumen berada pada titik yang sama.
Bagaimana EIeknya? Kalau terdapat banyak produser dan juga banyak konsumen:
memungkinkan terbentuk kondisi persaingan, tidak terdapat biaya transpor, hanya ada
satu harga, e
s
dan e
d
. Cara yang paling sederhana untuk mengintrodusir kasus
yang seperti ini adalah dengan membuat hipotesis 2 titik atau lebih. Pada setiap titik
terdapat konsumen maupun produsen. Prosedur analisisnya sudah dibicarakan
sebelumnya (kasus dua wilayah dengan sistem perdagangan bebas). Keseimbangan
harga spasial tergantung arus keseimbangan perdagangan. Tingkat harga yang berbeda
diantara berbagai titik (pasar) hanya ditentukan oleh biaya transport di antara berbagai
titik (pasar) tersebut. Dalam kasus seperti ini taksiran-taksiran dapat dibuat mendekati
kenyataan, khususnya bagi perekonomian industri serta masyarakat urban area
(perkotaan).
Tetapi ini tidak berlaku untuk ruang (S5ace) dimana produsen dan konsumen
tidak berada pada titik yang sama. Perbedaan harga spasial dipengaruhi oleh sistem
pasar (tingkat persaingannya). Kalau sistem pasar yang berlaku adalah persaingan yang
terbatas, permintaan relatiI cukup besar dibandingkan hasil produksi, dalam kaitannya
dengan LAC minimum perusahaan monopoli. Tetapi di dalam ekonomi ruang,
kecepatan pertumbuhan permintaan terhadap hasil produksi sebuah perusahaan
monopoli biasanya dipengaruhi oleh Iactor jarak (biaya transpor). Adanya biaya tanspor
tersebut akan menggeser kurva permintaan ke kiri (menurun), dengan asumsi selera dan
pendapatan tidak berubah. Kurva permintaan menjadi kurva jumlah keseluruhan
(Aggregate) dari penyatuan permintaan-permintaan lokal. Tingkat barga tidak hanya
ditentukan oleh luas area cakupan geograIis, tetapi juga oleh volume penjualan pada
pasar tersebut.
15
Kasus Produsen tunggal dengan pembeli banyak di sekitarnya (S5acial
Mono5oly).
Kasus S5acial Mono5oly merupakan sebuah model sederhana untuk
memperlihatkan pengaruh biaya transport dan jarak terhadap permintaan. Jadi,
asumsinya: Produser tunggal, demander banyak. Pada kasus sistem pasar monopolist
akan ada diskriminasi harga di antara berbagai pasar, yaitu pasar dengan para pembeli
yang memiliki elastisitas permintaan yang rendah dan para pembeli dengan elastisitas
permintaan tinggi. Pertanyaannya: apakah Iactor spasial membentuk diskriminasi harga
spasial?

2.2.. Pembeli Dengan Kurva Permintaan $ama Elastisitas Permintaannya $ama

Kasus ini dibatasi oleh asumsi: biaya transpor tidak berpengaruh terhadap
permintaan, harga monopolist hanya satu (tunggal) untuk semua pembeli pada lokasi
yang sama, harga monopolis berbeda untuk lokasi yang berbeda. T biaya transport per
unit dari lokasi produsen ke lokasi pembeli A. Pada lokasi tersebut permintaan pembeli
A Q produk, dengan harga P dan elastisitas permintaan E, adalah sama pada setiap
titik pada kurva permintaan, untuk setiap pembeli. Harga tersebut dibayar pembeli
sebelum monopolis mengenakan biaya angkut. MR dari penjualan kepada A menjadi :
T
dQ
dP Q dQ P
T
dQ

- + -
= =
d(PQ)
MR
T
dQ
dP Q
P
-
+ = ..............(1)
Elastisitas Demand
) (
) (
dP Q
dQ P
E
-
-
=
T
E
E
P T
E
5
5

=
) 1 (
..........(2)
Monopolist akan memaksimalisasikan penjualan kepada semua pembeli dimana
MR MC. Ini berarti, apabila MC C, maka harga yang dibayar oleh setiap pembeli di
pasar A dapat dihitung dari :
T
E
E
P =
) 1 (

Jadi
1
) (

+
=
E
T E
P ...............(3)
Harga yang diterapkan produsen pada lokasi pabrik (harga Iob) :

1 1
) (

+
=

=
E
T E
T
E
T E
T P ........ .....(4)
Harga I.o.b dikurangi MC :

1 1
+
=

+
=
E
T

E
T E
T P ............(5)
16
Harga I.o.b yang ditetapkan monopolist pada lokasi pabrik (yaitu P T )
mengakibatkan adanya diskriminasi harga bagi para pembeli yang lebih jauh. Karena :

) 1 (
) (

+
=
E
T E
T P ...............(6)
Berdasarkan persamaan (6) tersebut nilai P akan meningkat kalau T meningkat,
misalnya kalau jarak bertambah. Pembeli pada lokasi pabrik, dimana T 0 (biaya
transport tidak ada), membayar harga dengan mengeyampingkan MC, dengan nilai yang
sebanding kepada
1 E

. Bagaimanapun, elastisitas permintaan (E) tak terhingga pada


kondisi persaingan Chamberlin yang murni dan wilayah harga diskriminasi spasial
dikurangi dengan sendirinya, merupakan perluasan antara P dan MC. Model sederhana
ini mendorong maksimalisasi keuntungan monopolist pada suatu diskriminasi pasar
spasial untuk pembeli-pembeli yang lebih jauh. Bagaimanapun, hasil penelitian
menyangkut pembentukan harga secara praktis di seluruh dunia lebih sering didorong
oleh diskriminasi harga antara pembeli yang lebih dekat dengan pembeli yang lebih
jauh. Jadi Iactor-Iaktor jarak dan biaya transport mempengaruhi permintaan. Elastisitas
permintaan keseimbangan diasumsikan konstan (tidak berubah) untuk semua pembeli
dalam keadaan persaingan (pembeli banyak). Monpoli spasial yang murni sudah jarang
ditemui di dunia, produsen semakin terdorong kepada situasi persaingannya.

2.2.2. Permintaan Pembeli 1auh Lebih Kecil tetapi Lebih Elastis.

Untuk mengilustrasikan dalil ini dan eIeknya terhadap harga diskriminasi
spasial, diasumsikan bahwa kurva permintaan linier dan kedua akses bekerja bersama-
sama. Kita juga mengasumsikan bahwa para pembeli akan memiliki permintaan yang
sama, yang mendapat pengaruh dari biaya-biaya transport yang sama. Biaya transport
dapat diperlihatkan sebagai suatu pengurangan terhadap kurva demand (menggeser
kurva demand ke arah yang lebih lemah dan sejajar), dalam gambar D
B
D
B
menjadi
D
A
D
A,
kedua kurva tersebut slope-nya sama bila unit biaya transport T, diasumsikan
tetap tanpa memperhatikan jumlah permintaan. Kurva permintaan untuk pembeli-
pembeli jauh dari lokasi penjual menggeser kurva tersebut sebanding dengan biaya
transport. Untuk kurva-kurva permintaan yang ada, D
B
D
B
dan D
A
D
A
berarti B adalah
pembeli yang memiliki jarak tertentu (jauh) dari lokasi pabrik, kurva demand D
A
D
A

lebih elastis. Perubahan pada harga akan memberikan perubahan mutlak yang sama
pada jumlah permintaan A dan B, karena kemiringan (Slo5e) D
A
dan D
B
sama, tetapi
proporsi perubahan pada permintaan B lebih rendah dibandingkan permintaan A karena
total permintaan B lebih besar pada tiap tingkat harga yang berlaku. Elastisitas
permintaan A lebih besar. Dalam hal ini, pembeli-pembeli terpencil memiliki elastisitas
permintaan lebih besar dibandingkan dengan elastisitas permintaan pembeli-pembeli
dekat. Untuk memperoleh laba maksimal, si monopolist akan memberlakukan
diskriminasi terhadap pembeli-pembeli yang memiliki E
d
elastis dengan yang memiliki
E
d
yang relative kurang elastis. Gambar berikut memperlihatkan bahwa pembeli-
pembeli A dan pembeli-pembeli B diasumsikan memiliki kurva permintaan garis lurus,
dan D
A
bergeser ke kiri (turun) sebesar T. Diasumsikan bahwa MC monopolist konstan
pada level C, dengan demikian pada semua sekala output monopolis akan menyamakan
17
MC dengan MR bagi pembeli-pembeli A dan B, yaitu masing-masing di E dan F, dan
harga pabrik (P
I.o.b
) masing-masing P
A
dan P
B
.


















Gambar 2.5 Monopoli Spasial Kasus Dua Pasar A dan B

2.2.3. Batas-batas Monopoly $pasial

Pengendalian yang sempurna dari sebuah perusahaan monopoly yang mencakup
seluruh area pasar jarang terjadi. Diskriminasi harga terhadap konsumen-konsumen
pasar yang berdekatan dalam praktek juga sulit dilakukan, karena pasar-pasar tersebut
cenderung terintegrasi. Penjual dapat melakukan pengawasan paling baik, meliputi
pembeli-pembeli di sekitar (pasar dengan jarak sedang). Ini sama halnya, bila sebuah
industri yang terdiri dari sejumlah produsen, yang antara seorang produsen dengan
produsen yang lain terpisah oleh jarak tertentu. Atau suplier tertentu akan memperoleh
pasar yang diproteksi. Diskriminasi untuk pasar yang relatiI jauh biasanya terbatas
dilakukan.

Monopoly (produsen tunggal)













Keterangan:
R
1
Pasar Dekat
R
2
Pasar Jarak Sedang
R
3
Pasar Jauh
Pengendalian terbaik hanya dapat dilakukan di pasar jarak sedang. Untuk dapat
mengendalikan semua pasar si monopolist harus menggunakan Pengaturan Suplier
Pasar
Saingan dari perbatasan
Kontrol Terbatas
Kontrol
Terbaik
R
1 R
2
R
3
Pasar
Terintegrasi
Q
MC
P
B
P
A
D
B
D
B
D
A
D
A
0
C
F
B
F
A
18
Monopoli dapat menguasai pasar secara keseluruhan dengan cara membentuk
agen-agen tunggal di masing-masing wilayah.













Gambar 2.6 Pengendalian Pasar Spasial Oleh Monopolis


2.2.4. Pengaturan Pasar Oleh $ebuah Industri

Gambar 2.7: Pengaturan Pasar Dengan Cara Membagi Pasar Per Perusahaan

Misalnya: Gula jatah Sumut 6
Aceh 2
DKI 8
Jabar 20
Kendala dalam melakukan diskriminasi untuk pasar-pasar yang relatiI jauh
karena : Kemungkinan terjadinya penjualan kembali (Reshelling). Seorang penjual
diskriminasi berhadapan dengan penjual yang jauh, pembeli dekat membeli sebagian
dari barang-barang dari penjual jauh tersebut dan menjual kembali.
Jatah DKI hanya 8, dibeli lagi jatah Aceh 1 jatah Sumut . Supply DKI
menjadi 10 (naik/berlebih). Begitu pula jatah Jabar 20, dibeli lagi dari jatah-jatah
X1 X2 X3
X4 X5 X6
X7 X8 X9
X1 X2 X5 X4 X3
X6 X7 X8 X8X9
Dimatikan
Salah Satu
Industri
Xi Perusahaan-Perusahaan
Sejenis (produsen Individu)

Masing-masing
individu
menguasai satu
area pasar tertentu
Monopoli

Suplier
R
1
R
2 R
3
19
propinsi lain. P pasar jauh naik, P pasar dekat turun, maka akan terjadi pendjualan
kembali ke pasar jauh melalui pasar tidak resmi (pasar gelap).
Lokasi-lokasi penjual saingan monopoli jauh cenderung berusaha memperlemah
monopoli. Pasar jauh (wilayah belakang) cenderung saling membagi pasar diantara para
penjual (menekan monopoli pada pengaruhnya yang minimum). Penjual terdekat
memberlakukan harga distribusi MR pada sekala produksi yang akan di pilih biaya
transpor. Kalau harga ditetapkan ~ MR biaya transpor, dia akan tersisih. Kalau harga
ditetapkan MR biaya transpor, dia tidak berusaha pada sekala produksi proIit
maximizing/loss minimizing.
Apabila pasar dirubah menjadi oligopoly, persaingan diantara penjual pada
lokasi-lokasi tersebut akan berkurang, dapat ditetapkan harga kesepakatan. Permintaan
dapat dihadapi bersama-sama. Harga dapat dikaitkan dengan sekala produksi masing-
masing produsen secara kelompok. Setiap produsen dipersilahkan menggarap bagian
pasarnya masing-masing. Namun oligopolist akan menemukan kesulitan dalam hal
administrasi, karena biaya distribusi sama untuk wilayah yang luas dan kesulitan
pengorganisasian, sehigga harga-harga kesepakatan dapat terjamin dicapai. Oleh karena
itu diskriminasi harga bagi penjual-penjual jauh cenderung sulit dilaksanakan.

2.2.5.Dua Penjual di Lokasi-lokasi Yang Berbeda dan Dikitari Banyak Pembeli
(Hukum Luas Areal Pasar).

Kasus pasar yang terdapat lebih dari satu penjual. Pada dua wilayah geograIis
terdapat pasar-pasar penjualan X dan Y. Menurut analisis Samuelson Enke, apabila
barang bebas bergerak dari pasar yang satu ke pasar yang lain, perbedaan harga di
kedua pasar tersebut tidak mungkin lebih besar dari biaya transpor. Kasus Samuelson
Enke, dua pasar tersebut seperti dua kantung ekonomi di dalam sebuah wilayah kosong.







Di asumsikan pula lokasi-lokasi pasar X dan Y tetap. Waktu pergerakan
mencapai lokasi yang satu dengan yang lain dapat diperkirakan (Teori Lokasi
Hottelling, Chamberlain, Lerner, Linger, dan lain-lain). Juga diasumsikan bahwa
diberlakukan harga I.o.b, siIat-siIat pasar duopoly dan oligopoly berlaku. Pada waktu
yang tertentu semua pembeli mendapat harga yang sama. Pertanyaan : Bagaimana luas
area pasar masing-masing penjual? Dan bagaimana pula wilayah di sekitarnya
dibagikan di antara kedua penjual tersebut? Bagaimana menentukan batas-batas area
pasar di antara kedua penjual, atau bagaimana batas-batas cakupan masing-masing perlu
dipertegas. Tujuannya adalah untuk mendapat hukum-hukum ekonomi dari kedua pasar
yang bersangkutan.
Y X
Diasumsikan seolah-olah diantara dua pasar Iakum kegiatan ekonomi
(tanpa pembeli), pembeli ragu-ragu ( z )

Gambar 2.8: Dua Penjual di Dua Wilayah Yang Bertetangga

20
Kita asumsikan : Pasar X dan Y tetap dan dikitari oleh titik : Z
1
;Z
2
;Z
3
,....Z
n
sebagai titik-titik lokasi konsumen di luarnya; barang yang dijual satu macam dan
homogen; Biaya transpor berIungsi linier, artinya biaya perunit sesuai dengan jarak
pasar dari titik Z. Biaya angkut per unit antara X dan Z Txz dan antara Y dan Z adalah
T
yz
. Jarak X Z d
xz
dan Y Z d
yz
. Jadi kalau konsumen di Z membeli barang di X,
maka dia akan membayar :
Px Txz . dxz per unit
Apabila dia membeli di Y, dia akan membayar :
Py Tyz . dyz per unit
Kalau Px Txz . dxz Py Tyz . dyz, maka konsumen berada pada kepuasan
yang sama ke mana dia akan berbelanja (ke X atau ke Y). Dengan demikian batas
cakupan antara daerah-daerah yang dipengaruhi pasar X dan pasar Y ditentukan oleh
persamaan :
Px Txz . dxz Py Tyz . dyz ............... (1)

T
P P
d
T
T
d

= - .................. (2)
Kalau
x:

T
T
selalu positiI ,


T
P P
mungkin ( ) mungkin ( - )
Persamaan menjadi :
5 d t d

I = -
..........(3)

T
T
t = ,


T
P P
5

=
Persamaan tersebut membentuk kurva-kurva indiIeren sebuah keluarga
konsumen, yang disebut hypercicles (jaring-jaring lingkaran). Kurva-kurva yang
dimaksud tersebut mewakili siIat-siIat dari masing-masing keluarga si konsumen, lokasi
dari semua titik-titik angka perbandingan dari jarak dua lingkaran tertentu. Kurva
tersebut kadang-kadang berbentuk ' bulat telur Descartes '
Persamaan (2) dan (3) memperlihatkan ketentuan-ketentuan tentang gejala-
gejala pasar secara khusus, yang tergantung tidak hanya pada harga relatiI di kedua
pasar, tetapi juga pada angka perbandingan biaya transpor yaitu t ( atau
x:
y:
T
T
), dan
pada angka perbandingan selisih harga dengan biaya-biaya angkut p (atau
Tx:
Px Py
).
Berdasarkan analisis ini dirumuskan hukum-hukum area pasar spasial secara umum
sebagai berikut:
Pasar persaingan untuk barang yang sama (homogen) merupakan sebuah hyper
circles.

Tiga Contoh Kasus Batas Wilayah (Area) Pasar $pasial
Gambar 2.9, 2.10, dan 2.11 memperlihatkan tiga kasus sederhana sebagai bahan
ilustrasi untuk batas-batas pasar spasial.



a) Px Py dan Txz Tyz
21
Gambar 2.9 memperlihatkan kasus wilayah spasial apabila biaya angkut dan
harga pasar sama (Txz Tyz dan Px Py). Kurva batas wilayah berbentuk sebuah garis
lurus (BB), artinya batas antara pasar X dan pasar Y akan berbentuk sebuah garis lurus.

Gambar 2.9 Batas Wilayah Jika Px Py dan Txz Tyz

Setiap titik pada kurva yang sama berbeda biaya angkut dari masing-masing
pasar, tetapi harga pasarnya sama mengingat perbedaan biaya angkut akan berbeda
harga pasar. Angka perbandingan (Ratio) perbedaan harga dengan biaya angkut dari
kedua pasar menentukan batas cakupan lokasi. Harga pasar yang relatiI lebih tinggi dan
biaya angkut yang relatiI lebih rendah membentuk area pengaruh yang lebih luas. Kurva
batas-batas area pasar dan luas pengaruh cakupan tiap pasar tergantung kondisi ekonomi
wilayah masing-masing.







X Y
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
4
3
2

B
B
22
b) Px Py dan Txz Tyz
Gambar 2.10 memperlihatkan biaya angkut dari kedua pasar sama, tetapi harga
jual berbeda. Kurva batas kedua pasar tersebut akan merupakan suatu potongan
hiperbola. Px Py ; Txz Tyz.

Gambar 2.10: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px Py dan Txz Tyz

c) Px Py; Txz Tyz
Gambar 2.11 memperlihatkan harga pasar sama, sedangkan biaya angkut
berbeda. Px Py ; Txz Tyz. Kurva batas area pasarnya berbentuk sebuah lingkaran.


X Y
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
4
3
2
5
B
23


Gambar 2.11: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px Py dan Txz Pyz

Diagram sebelah atas dilukis berdasarkan batas-batas luas yang dipengaruhi oleh
para penjual dengan garis-garis batas penyebarannya, menggambarkan harga pasar dan
biaya angkut yang berbeda-beda. Diagram tersebut berbentuk cabang-cabang yang
berpotongan, hasil ilustrasi diagram luas area/pengaruh masing-masing pasar yang
dilukiskan pada diagram bawah. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan luas pasar
masing-masing dari sekelompok penjual berpotongan, sebagai proyeksi dari angka-
angka perbandingan (Ratio) :
x:
y:
T
T
dan
Tx:
Px Py


X
Y
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
4
3
2
5
B
24
2.2.6. Penjual Banyak Terkonsentrasi $edangkan Pembeli 1uga Banyak Tersebar.



Gambar 2.12: Kasus Demanders Tersebar dan Suppliers Terkonsentrasi

Misalnya: penjual (s) dalam jumlah banyak terpusat pada R
1
(satu titik); pembeli
(d) dalam jumlah banyak tersebar di sekelilingnya mereka berada di sub-sub wilayah
R
1
R
6
; barang yang dihasilkan oleh semua produsen di R
1
tersebut diasumsikan
homogen. Barang bebas keluar masuk; Perusahaan-perusahaan dalam kondisi
persaingan satu sama lain; Harga (P) tunggal; Revenue rata-rata dari setiap produsen
sama; batas area pasar masing-masing perusahaan berbeda; harga yang diberlakukan
adalah harga oI pabrik; kurva permintaan individu bergeser ke kiri oleh biaya transport.
Harga (P
I.o.b
) untuk daerah dengan jarak tertentu akan lebih rendah bagi perusahaan
yang bekerja pada maksimalisasi proIit (bekerja pada MR MC MR
B
MR
A
).
Elastisitas permintaan lebih besar di lokasi yang relatiI jauh. Di Lokasi yang sama
jaraknya dengan lokasi produksi, dalam arti biaya transpornya sama, memiliki harga
yang sama. Karena itu perlu diperhatikan sebaran konsumen secara tata ruang, bila ingin
mengetahui siIat-siIat eIektiI pasar. Perubahan pada jumlah output perusahaan
mengakibatkan perubahan pada harga output : menghendaki radius pasar yang lebih
luas, perubahan dalam tingkat harga mengakibatkan perbedaan tingkat elastisitas. Ingat,
pada P yang rendah
.
Ed

lebih rendah di lokasi dekat dari lokasi yang lebih jauh. Ingat
pula suasana persaingan sempurna dan adanya lokasi-lokasi penjualan yang terbagi-
bagi/berbeda, tingkat harga tertentu. Terjadi gangguan batas-batas area pasar dengan
harga tertentu sehubungan dengan perluasan radius area pasar oleh penjual tertentu.









R1
R3
R4
R6
R5
R2
d
d d
d
d
d
d
d d
d d
d d
d d
d d
d d
d
d d
d
s
s s
s
s
s
25


Kurva permintaan menjadi lebih
ciut semakin memiliki jarak dengan
pusat produksi ( R
A
) penciutan
sebesar T.




Gambar 2.13 Monopoli Spasial

2.2.7. Pembeli Banyak Terkonsentrasi $edangkan Penjual 1uga Banyak tetapi
Tersebar
Produsen-produsen tersebar pada lokasi-lokasi subwilayah R
1
- R
6
. Konsumen
terkonsentrasi di R
1
(misalnya sebuah kota). Semua pembeli membayar harga yang
berlaku yaitu harga pabrik (P
I.o.b
). Penerimaan bersih setiap perusahaan sama, walau ada
perbedaan jarak dengan lokasi pembeli (kota). Produk homogen, berlaku sistem pasar
persaingan sempurna, dengan produk tunggal, dan kurva penerimaan individual Iirm
(permintaan rata-rata per perusahaan) mendatar. Tidak menjadi masalah tentang
diberlakukannya P
I.o.b
, atau penyaluran bebas (tidak ada yang mengendalikan harga),
juga tidak ada masalah tentang biaya transpor yang akan menciutkan kurva permintaan
atau menambah biaya (harga pabrik atau harga lokasi pembeli). Tetapi tingkat harga
pada lokasi dengan elastisitas permintaan sempurna dapat dibedakan diantara penjual
yang satu dengan yang lain, berdasarkan jarak lokasinya dengan pasar.


P
MC
Q
0
T
AB
MR
B
MR
A
P
A
P
B
C
Q
A
Q
B
26


Gambar 2.14 Kasus Supplier Tersebar dan Demander Terkonsentrasi

Kalau barang-barang tersebut dijual dengan harga lokasi konsumen kurva
permintaan rata-rata digeser ke kiri oleh biaya transport, Harga pasar (P) akan
meningkat. Di lain pihak kalau T turun maka harga pasar (P) turun (rendah). Penjualan
(Q
s
Q
d
) naik. Ini akan memberi manIaat, atau keuntungan, harapan baru bagi
penjual-penjual yang memiliki jarak lokasi yang relative jauh. Para penjual dengan
lokasi dekat (sekitar pasar) terpukul. Jadi penurunan biaya variabel (atau biaya
transport) sebagian produsen akan menguntungkan (semakin mantap memasuki pasar)
yaitu produsen yang jauh dari lokasi pasar, untuk sebagian produsen yang lain
cenderung kehilangan pasar mereka. Persaingan menjadi semakin tajam.
Secara diagramatis diperlihatkan melalui gambar berikut :














Gambar 2.15 Perbaikan Transportasi Menguntungkan Produsen Jauh

Asumsi: Lokasi penjual-penjual terletak sepanjang garis LL; konsumen
terkonsentrasi di M; biaya produksi konstan; biaya angkut perkesatuan jarak konstan;
R1
R3
R4
R6
R5
R2
s
s s
s
s
s
s
s s
s s
s s
s s
s s
s s
d
d d
d
d
d d
d
d
d
L L
X` X
M Y
A
N
A Y`
Z
Z`
P
27
MZ adalah harga dengan antaran (harga perangko konsumen); harga pabrik (P
I.o.b
) untuk
masing-masing produsen diperlihatkan dengan garis tegak lurus sisi dasar segi tiga
XYZ. Penjual-penjual di X dan Y tidak hanya melayani pasar yang bersangkutan;
penjual-penjual di X dan Y mewakili penjual terjauh untuk pasar M. Jika biaya transpor
diturunkan maka kemiringan (Slo5e) XZ dan YZ akan berubah, dan batas wilayah
pemasaran menjadi semakin luas. Kemiringan XZ menjadi X`Z
`

dan YZ menjadi
Y`
;
radius lokasi suppliers yang menjangkau pasar M semakin jauh, yaitu X`M dan Y`M.
Harga di lokasi konsumen semakin rendah, dari MZ menjadi MZ

.
Para suppliers dekat
mengalami pukulan, yaitu supplier yang berada di wilayah AA. Supplier di luar AA,
yaitu AX` dan AY` memetik manIaat (keuntungan) dari menurunnya biaya transpor.

2.2.8. Para Penjual dan Para Pembeli $ama-sama Tersebar tetapi Mempunyai
$ebuah Pusat Pasar Bersama (Kasus Pasar Transito)

Asumsi: Pembeli di d
1
, d
2
, d
3
, d
4
, d
5
hanya dapat memperoleh barang tersebut di
pasar M
1
walaupun produk SS tersebar dimana-mana. E
d
di M C ;

revenue yang
diperoleh masing-masing supplier sama, tetapi laba mungkin bervariasi, hal itu
disebabkan, (diantaranya) dipengaruhi oleh jarak yang membedakan biaya transpor (T).
Sungguhpun barang-barang tersebut dibawa kembali ke lokasi konsumen yang tersebar,
tetapi barang-barang tersebut tetap disalurkan melalui pusat pasar M; ada persaingan
baik diantara penjual maupun diantara pembeli.













Gambar 2.16 Demanders dan Supplier Tersebar Kasus Pasar Transito

Seperti diperihatkan gambar berikut ini, terbentuk dua garis harga yang
mengerucut di pasar M. Setiap kesatuan jarak dari M

harga keseimbangan bagi penjual
tertentu dan berbeda dengan harga keseimbangan yang dibayarkan pembeli karena biaya
transport menjadi 2X. Misalnya pada lokasi V, penjual menerima jumlah bersih P
v
* V,
sedangkan pembeli membayar C
V
* V (setiap unit). Padahal kalau para pembeli di V
memesan barang pada produksi di V mungkin harga yang dibayar berada di antara P
v
V
C
v
V. Perbedaan penerimaan dan pengeluaran seperti itu merupakan manIaat bagi
penjual maupun pembeli, lebih-lebih kalau letak lokasi mereka dari M relative jauh. Ini
M
s
s
s
s
s
s
s s
s
d1

d1

d2

d2

d5

d5

d4

d4

d3

d3

28
merupakan alternative dengan manIaat tertentu. Faktor ini berIungsi memberikan
kemantapan pada harga berdasarkan pada perkembangan biaya transport.
















Gambar 2.17 Persaingan Pasar Lokal dan Pasar Transito

















Gambar 2.18 Demand dan Supply Pasar di Pasar Lokal dan Pasar Transito

Harga di pasar transito M ME. Harga pada setiap titik tergantung D dan S
relative setempat. Perbedaan harga antara titik yang satu dengan titik yang lain tetap
ada. Diagram permintaan dan penawaran di atas (Gambar 2.18) mengilustrasikan bahwa
skedul-skedul permintaan dan penawaran dari setiap penjual dan pembeli mendatar pada
limit-limit harga tertentu. Pada pasar-pasar lokal E
d
dan E
s
C (pada harga C
v
. V dan
P
v
. V). Para penjual lebih suka menyalurkan barangnya lewat M. Begitu pula pada
harga ~ C
v .
V pembeli lebih suka membeli di M. Semakin pendek penyaluran
keuntungan akan lebih besar, oleh karena itu akan lebih banyak transaksi barang-
barang berlangsung di pusat pasar M. Faktor kurangnya inIormasi pasar, Iasilitas
pemasaran di pasar M, maka M (pasar transito) tetap bersaing dengan pasar-pasar local.
jarak
P
0 Q
S
D
Pv
Cv
EdC
EsC
C1
CV
C2
P1
PV
P2
E
V M
Harga yang diterima
produsen di V/unit
Harga dibayar konsumen
di V per unit
29

2.2.9. Pembeli Maupun Penjual Tersebar (Persaingan Monopolistik/Oligopoli
$pasial)
Asumsi dasar : para pembeli dan penjual tersebar; para penjual tersebar dan
jarang; perusahaan mempraktekkan produksinya pada sekala proIit maximizing atau
loss minimizing; barang diproduksi untuk mereka yang sanggup membeli pada harga
tersebut; area penjualan berbentuk lingkaran (bundar); keluar masuk barang-barang
bebas (Free Entry); industri terbentuk tetapi masing-masing perusahaan sejenis
memiliki pasar sendiri-sendiri dengan jarak tertentu satu sama yang lain, memiliki jarak
yang lebih jauh dengan perusahaan yang menjual dengan proIit nol; area-area pasar dari
masing-masing perusahaan akan berbentuk segi enam (area maksimum), akibat dari
Free Entry perusahaan akan cenderung memadatkan area-area pasar yang ideal tersebut.

Gambar 2.19: Luas Are Pasar setiap Perusahaan Berbentuk Segi Enam (Losch)

Dengan terbentuknya industri, perusahaan-perusahaan secara individu harus
dapat mempertahankan diri, yaitu dengan minimal proIit nol. Kalau ini yang terjadi,
area pasar akan terbagi-bagi diantara penjual. Dengan kesenjangan tersebut harga-harga
tidak dikaitkan dengan kondisi masing-masing bagian pasar, artinya tidak dilakukan
suatu kebijakan harga. Produksi homogen, dengan demikian seorang produsen tidak
terlepas dari persaingan. Memungkinkan masuknya barang-barang yang diproduksi
produsen di wilayah perbatasan tetapi tergantung perkembangan biaya transport.
Dengan kata lain ada kemungkinan terjadinya substitusi dengan barang import. Model
ini menyerupai model monopolistic. Kalau barang bebas keluar masuk, maka harga Iob
biaya rata-rata; P
I.o.b
~ MC; harga dengan antaran (harga di lokasi konsumen) ~ MC
T. Tingkat harga untuk keseimbangan jangka panjang (pada setiap pasar) ditentukan
Average Cost (AC) perusahaan yang berproduksi di lokasi yang bersangkutan.
Persaingan monopoli merupakan bentuk pasar spasial yang paling umum (sering
dipraktekkan). Keseimbangan jangka panjang akan lebih dimantapkan, dimana sebagian
produsen tersisih, jumlah proIit perusahaan-perusahaan yang bertahan terus beroperasi
meningkat. Masing-masing penjual cenderung memiliki/menguasai lokasi masing-
masing. Distribusi penjual akan lebih merata, sesuai dengan kondisi pembeli. ManIaat-
manIaat pengelompokan penjual dikembangkan, atau terjadilah pengelompokkan
penjual. Pusat-pusat pertumbuhan penduduk (kota-kota) menjadi kelompok-kelompok
pembeli, dengan demikian secara umum area pasar menjadi tidak homogen. Penjualan
cenderung berusaha mengontrol area pasar masing-masing. Dengan demikian dalam
jangka panjang memungkinkan terbentuknya pasar oligopoly, area pasar menjadi pasar
30
yang dikontrol secara bersama-sama dengan terbentuknya kerja sama produsen yang
jumlahnya semakin terbatas.
Walaupun para penjual dan pembeli diasumsikan dapat dikelompok-kelompokan
meliputi perluasan area, tetapi sebenarnya tidak homogen, saling mempengaruhi. Setiap
penjual ada pesaingannya. Pembeli dan penjual pada setiap lokasi dalam arti cukup
banyak, akan tetapi pengaruh dari mereka masing-masing dibatasi oleh biaya transport.
Setiap penjual dapat meningkatkan penjualannya dengan cara menjual pada harga yang
lebih murah (pemotongan harga), atau dengan pemotongan-pemotongan biaya transpor.
Jumlah pembeli banyak, pasar yang dikuasai menjadi lebih luas, menjangkau daerah-
daerah yang lebih jauh. Lain halnya kalau mereka diorganisasi dan menetapkan harga
bersama. Harga mungkin berbeda diantara penjual yang satu dengan yang penjual yang
lain, tergantung pada lokasi masing-masing dimana mereka mendapatkan perlindungan
organisasi dari persaingan dalam batas-batas ruang tertentu dan batas-batas biaya
transport. Didalam kondisi yang demikian persaingan secara terbatas masih ada, kurva
permintaan sudah tertentu dan kondisi ini dipakai sebagai stabilitas harga. Sistem
keseimbangan harga spasial dapat memperbesar Iungsi permintaan, dan ini dipakai
sebagai alasan-alasan manIaatnya, terutama pada tahapan-tahapan pengembangan
produk-produk yang mendatangkan sumberdaya-sumberdaya dari lokasi yang relatiI
jauh. Kurva permintaan lebih besar dari kurva penawaran oligopoly, tidak seperti kurva
tiga bagian (lihat gambar untuk kasus 6). Bagian teratas memiliki elastisitas permintaan
relative tinggi (E
d
tinggi). Bila diberlakukan harga yang lebih tinggi akan kehilangan
sebagian pasarnya kalau pesaingnya menurunkan harga. Bagian bawah kurva memiliki
E
d
yang tidak elastis. Kalau harga pesaing tetap, suatu penurunan harga akan
memperluas pasar baginya. Tetapi pada sisi lain akan memancing saingan menurunkan
harga pula. Karena ketidakpastian reaksi pada tingkat-tingkat harga tersebut, maka
oligopoly cenderung beroperasi pada bagian tengah-tengah kurva permintaan, bagian ini
memiliki slope yang netral, melampaui siIat permintaan monopolistic. Dalam batas-
batas ini monopolist dapat bekerja dengan kebebasan tertentu tanpa memperhitungkan
adanya reaksi-reaksi dari para pesaing. Oligopplist memiliki jarak dengan pesaing maka
mencapai sekala terpenting, dengan kata lain memiliki keuntungan aglomerasi yang
cukup besar pada lokasinya.
Ilustrasi yang menggambarkan hubungan diantara berbagai aspek monopoly
spasial dijelaskan melalui analisis sederhana Duopoly berikut ini:
Asumsi : Industri terdiri dari 2 penjual yaitu X dan Y, masing-masing
dilokasikan pada ujung-ujung (batas-batas) yang berhadap-hadapan dari sebuah batas
area pasar. Diberlakukan harga pabrik (P
I.o.b
) yang sama yaitu P
1X
dan P
1Y
. Biaya
transpor sama, baik dari X maupun dari Y. Harga di lokasi konsumen (dengan
pengantaran delivery price) pada lingkup wilayah yang beda akan berbeda, missal
C
1
B
1
di B
1
. Andaikan perusahaan X, yang memiliki kelompok pembeli tertentu didalam
batas-batas wilayah tertentu menaikkan harga oI pabriknya dari P
1x
menjadi P
2x
, maka
perusahaan Y akan menetapkan harga menjadi P
3y.
Perusahaan Y akan memetik
manIaat, karena P
2x
~ P
3y.
Biaya transport tetap, kemiringan P
2x
C
2
dan P
3y
C
2
sama
seperti P
1X
C
1
dan P
1Y
C
1.
Batas diantara kedua area pasar akan bergeser ke kiri (ke B
2
).
Perusahaan X akan kehilangan area pasar penjualan dengan radius B
2
B
1,
dan area
tersebut akan diambil oleh perusahaan Y. Perusahaan memperoleh tersebut tambahan
permintaan dan kesempatan menaikkan harga dan keuntungannya.

31

Gambar 2.20 Persaingan Duopoli Secara Spasial

Tetapi andaikata perusahaan X menurunkan harga dari P
1X
menjadi P
4X,
maka
perusahaan Y akan kehilangan sebagian area pasarnya yang semula dikuasai, yaitu B
3
B
1

yang diambil oleh perusahaan X. Perusahaan Y akan menjawab dengan menurunkan
harga dari P
1Y
menjadi P
4Y
. Batas diantara 2 pasar akan kembali ke B
1,
harga di B
1
akan
menjadi B
1
C
4.
Keuntungan bagi kedua perusahaan akan turun, sebagai akibat tindakan
perusahaan X dan kemudian mendapat reaksi dari perusahaan Y, terkecuali kalau E
d

pada harga tersebut tinggi. Reaksi-reaksi yang lebih banyak akan timbul pada oligopoly
spasial. Ini membuat semua produsen/penjual khawatir, dan mereka akan mencoba
mempertahankan stabilitas harga dengan cara bekerja sama, melakukan diskriminasi
harga dan sebagainya.
Ini adalah penerapan apa yang disebut dengan Game Theory, yang kemungkinan
dikembangkan kalau zona-zona (area-area pasar) terdiri dari kesatuan-kesatuan yang
luas, peka terhadap perubahan harga, perusahaan-perusahaan bekerja pada BEP.
Masalahnya akan menjadi lebih rumit kalau kelompok penjual menjadi lebih besar
jumlahnya, industri bebas keluar masuk perusahaan-perusahaan baru, biaya produksi
tidak mendukung mencapai lokasi yang dekat dengan zona perbatasan.
Kemungkinan yang lain pada oligopoly spasial adalah terjadinya kerja sama
dalam hal harga untuk zona-zona dekat perbatasan. Mereka mencoba meningkatkan
keuntungan dengan cara memancing meningkatnya pengeluaran konsumen. Bentuk
kerja sama yang dapat dipilih cukup banyak. Misalkan dengan memberlakukan 'Price
eader ', ' Pembagian pasar berdasarkan geograIi ', dan sebagainya. Keberhasilan
kerja sama yang demikian tergantung pada apakah bersedia atau tidak menghindari
hadirnya perusahaan-perusahaan baru.

2.2.. Alternatif $istem Harga $pasial

Selain diberlakukannya harga oI pabrik (P
I.o.b
) terdapat pula harga alternatiI yang
ditemukan pada oligopoly spasial, misalnya (yang terpenting) harga Irangko pembeli,
P
2X

P
4X

P
1X
X
P
4Y

P
1Y

P
3Y

C
2

C
1

C
3

C
4

B
3
B
1
B
2
X Y
32
atau harga dengan antaran (Delivered Price ). Harga ini oleh para penjual disusun
dengan cara membebankan biaya transport rata-rata kepada P
I.o.b
, dimana perusahaan
berproduksi pada Profit Maximi:ing. Penyaluran barang-barang bebas ke seluruh areal
pasar yang dikuasai semua penjual dan yang oleh para penjual juga diberlakukan sistem
diskriminasi. Para pembeli yang berada di sekitar lokasi para penjual yang diperluas
atau dipersempit oleh perkembangan dalam pendistribuasian ke area-area penting.
Volume penjualan kepada konsumen sangat dipengaruhi oleh sistem penyaluran
yang bebas dan tingkat keseimbangan produsen masing-masing dimana harga Iob
diberlakukan. Biaya transport (per satuan jarak) keseluruh titik (lokasi) di dalam area
pasar tetap. Demikian pula halnya bilamana para pembeli terkonsentrasi pada satu
lokasi dan para penjual tersebar di sekitarnya.
Kalau pengusaha (penjual) mengelompok dan tidak diberlakukan diskriminasi
diantara mereka, sistem penyaluran bebas dapat dioperasikan, dimana keseimbangan
harga tidak perlu diatur diantara para penjual. Stabilitas harga tergantung pada penjual
secara keseluruhan. Setiap penjual bebas melakukan diskriminasi harga dengan
membedakan area-area pasar, tetapi diberlakukan harga prangko konsumen yang bebas,
yang mana harga tersebut berbeda antara penjual yang satu dengan penjual yang lain.
Dengan siIat harga yang bersaing tersebut, para penjual tidak dapat memperoleh
keuntungan yang besar. Andaikata para penjual memiliki lokasi yang tertutup terhadap
para pesaingnya, porsi area pasar yang berimpit cukup luas, maka harga perangko
pembeli haruslah sama. Tanpa dapat membuat kesimpulan yang demikian (Delivered
Price Same), terbuka peluang bagi sebuah perusahaan yang dekat dengan area pasar
untuk menyalurkan barangnya dengan harga perangko pabrik. Dengan demikian
mereka kehilangan konsumen dekat, sistem harga perangko konsumen akan terpecah.
Metoda harga prangko konsumen paling cocok kalau kondisi permintaan inelastic
(untuk pembeli dekat). Sedangkan bagi pembeli jauh, dimana permintaan elastis tidak
cocok. Perluasan batas-batas area pasar dengan penurunan biaya, menghasilkan selisih
harga konsumen dapat diterapkan untuk seluruh negeri. Tidak masuk akal, bahwa
perluasan area pasar dengan harga-harga prangko konsumen dilakukan melalui
penciutan laba bersih, ini artinya tidak mungkin dilakukan dengan cara memperkecil
daya serap angkutan (berkurangnya partisipasi angkutan), yaitu di lain pihak untuk
mendukung harga konsumen yang rendah.
Disamping itu juga dikenal pola harga Basing Point yaitu harga dengan cara
memberlakukan P
I.o.b
pada lokasi-lokasi (kota-kota) tertentu (Basing Point), tanpa
memperhatikan di mana barang di produksi dan berapa biaya transport dari pabrik ke
lokasi basing 5oint tersebut. Harga Basing Point memiliki siIat-siIat tertentu, dimana
pada jarak tertentu dari basing point harga sama, tanpa memperhatikan dimana barang
dijual atau siapa penjual, memungkinkan diskriminasi harga pada tahapan penjual yang
dapat memberlakukan harga prangko pembeli (dari basing 5oint ke lokasi pembeli yang
telah terreIleksi biaya transport). Harga basing 5oint diberlakukan untuk suatu tujuan
penyimpangan dari pola kegiatan ekonomi spasial. Hal itu karena: 5ertama hal itu dapat
dilakukan hingga titik persilangan harga dengan biaya angkutan lawan. Sebagian dari
permintaan pembeli di wilayah hinterland sudah dipenuhi oleh saingan dari basing 5oint
lain yang mulai lebih eIisien; kedua dia menyimpang dari pola lokasi optimal. Peranan
perusahaanperusahaan besar cenderung terpusat di sekitar lokasi, sedangkan
perusahaan-perusahaan kecil melayani permintaan-permintaan kelompok pembeli jauh
(di 5eri5hery), mungkin dari jalur supply yang besar-besaran. Metode ini bertahan, dan
33
kemungkinan dapat beroperasinya metode-metode harga lain, seperti Basing Point
berganda (Multi5le Basing Points), sebagai elemen-elemen berimbang.

2.2.. Keragaman-keragaman Harga $pasial A Testable Model

Pada umumnya analisis harga spasial dilakukan berdasarkan asumsi yang begitu
abstrak dan disajikan di dalam terminology model-model Iormal. Ini dilakukan untuk
memungkinkan diperolehnya suatu pendekatan studi harga-harga spasial yang dapat
diuji secara empirisn seperti halnya pendekatan yang pernah dianjurkan W. Wentz.
Analisis tersebut merupakan sumbangan yang berharga, dimana model itu tidak terikat
dengan penentuan pembeli maupun penjual, tetapi dapat membantu pusat-pusat
penduduk yang padat (kota-kota) dan pemukiman-pemukiman penduduk yang tidak
padat (desa-desa). Adanya pengaruh-pengaruh waktu penyaluran terhadap dinamika
harga sampai dengan jarak tertentu. Berhubung keterbatasan teknik, hanya dilakukan
untuk kondisi pasar persaingan, dan dilakukan hanya untuk mempelajari pengaruh
perbedaan-perbedaan geograIis terhadap harga hasil-hasil pertanian.
Model ini sangat sederhana, sesuai dengan dalil bahwa harga ditentukan oleh
penawaran dan permintaan, tetapi tidak meliputi pengaruh Iactor spasial kepada harga.
Harga suatu komoditi beragam dalam suatu ruang, meliputi adanya pengaruh Iaktor
spasial terhadap permintaan dan penawaran. Sumbangan Wentz dalam teori harga
spasial adalah memperkenalkan metode-metode dengan intensitas penawaran dan
permintaan yang terukur. Metode tersebut mengandalkan analisa gravity potential
(Gravity Potential Analysis). Untuk mengukur permintaan Wentz menggambarkannya
pada konsep potensi penduduk (Potential Po5ulation once5t). Konsentrasi penduduk
berpengaruh langsung terhadap bagian-bagian lokasi. Tetapi pengaruh ini berkurang
jika jarak meningkat. Kekuatan suatu area dipengaruhi oleh kelompok penduduk di
sekitarnya, dan pada setiap titik pada sebuah area dapat diukur intensitasnya dengan
pembagian area wilayah perekonomian oleh ukuran penduduk dan jarak. Potensi total
penduduk pada setiap titik pada suatu wilayah perekonomian (area pasar, dan
sebagainya) dapat dihitung dengan pembagian wilayah perekonomian ke dalam
sejumlah besar unit-unit area wilayah. Kemudian dengan pembagian penduduk tersebut,
untuk setiap unit area wilayah dengan rata-rata jaraknya ke titik tertentu dapat dihitung.
Berapa total potensi penduduk untuk suatu titik, yang diekspresikan dengan
menggunakan terminology berapa reaksi pada setiap mil jarak dari titik tersebut dapat
dihitung. Perkiraan potensi penduduk dapat dihitung dari berbagai titik.
Permintaan bukan Iungsi dari potensi penduduk saja. Setiap individu penduduk
mungkin tidak memiliki bobot yang sama, tetapi juga dipengaruhi oleh pendapatannya.
Ini diperhitungkan dalam memberikan bobot kepada penduduk di masing-masing area,
dengan memperhitungkan besarnya pandapatan perkapita pertahun. Potensi tersebut
disebut Gross Economic Po5ulation Potential (GEPP), meliputi jumlah penduduk,
lokasi, dan pendapatan. Kemudian dapat dubuat peta potensi melalui titik-titik yang
memiliki volume sama (garis dengan potensi sama) dan GEPP dapat digambarkan
sesuai dengan permintaan eIektiI yang terdistribusi secara geograIis. Berdasarkan GEPP
diperoleh pula permintaan spasial suatu komoditi. Sebagai tambahan, Iaktor-Iaktor
tertentu seperti selera konsumen, elastisitas pendapatan dan permintaan untuk barang
tersebut, dan harga barang penggantinya merupakan Iaktor-Iaktor pengembangan
ekonomi penduduk secara menyeluruh dan merupakan eIek pengembangan pendapatan
secara tata ruang. Model dengan nilai-nilai yang mungkin ditambahkan itu disebut
34
'Produk Demand S5ace Potential (PDSP). Akan terjadi pengaruh-pengaruh
permintaan musiman dan siklus yang siIatnya sementara, memberikan pengaruh yang
sama diukur dengan terminology permintaan persatuan waktu, yang disebut Product
Demand Time Potential (PDTP ).
Pengaruh Iaktor jarak pada sisi penawaran juga harus diamati. Peta tersedianya
produk secara potensial dapat dibuat seperti halnya membuat peta potensi penduduk.
Keanekaragaman area dalam hal Product Su55ly S5ace Potential (PSSP), adalah
sebagai gejala keragaman aksessibilitas lokasi dan total output. Titik dengan potensi
wilayah tertinggi adalah titik yang paling besar aksesibilitasnya kepada komoditi
tersebut dan pada titik ini besar pengaruh penawaran terhadap harga. PSSP juga dapat
digambarkan sebagai sebuah peta countour wilayah permintaan dan penawaran produk
yang bervariasi di antara berbagai produk, dan potensi wilayah penawaran produk
memungkinkan bervariasi di antara komoditi-komoditi, karena luasnya wilayah geograIi
produksi dari berbagai barang.
Peta harga secara geograIi juga memperlihatkan beberapa dimensi waktu yang
penting, khususnya untuk barang-barang pertanian, sebagai output yang dihasilkan
secara musiman. ReIleksi pengaruh penawaran selalu akan terlihat pada harga, misalnya
apakah barang-barang tersebut dapat disimpan selepas panen, jumlah persediaan, dan
output yang bisa diharapkan di masa depan. Intensitas penawaran sepanjang waktu
dapat diukur dengan menggunakan konsep 'Product Su55ly Time Potential (PSTP),
yang diperhitungkan dalam terminology unit-unit produksi persatuan waktu.
Keragaman spasial di dalam intensitas penawaran dan permintaan cenderung
membentuk keragaman secara geograIis pada harga suatu komoditi. Suatu pembuktian
hipotesis secara umum harus digambarkan secara sebanding dengan porsinya, bahwa
harga cenderung dipengaruhi langsung oleh wilayah permintaan potensial (potensi
waktu penawaran, dimana produk dengan output-output yang berIluktuasi besar menjadi
dasar). Andaikata harga produk sebagai variable terikat, PDSP, PDTP, ESSP dan PSTP
sebagai variabel-variabel bebas dan setiap variabel yang ingin diketahui diteliti di
banyak lokasi (titik) didalam wilayah penelitian. Dengan asumsi bahwa variabel harga
dan variabel-variabel lain tersebut merupakan sebuah Iungsi, yang berarti bahwa Iaktor-
Iaktor yang berinteraksi tersebut dapat dikwantitatiIkan. Model Regresi multi variabel
yang diluruskan (dilogkan), atau yang disebut 'Multi inear Regression dapat dipakai
untuk mencari koeIisien regresinya. KoeIisien-koeIisien regresi tersebut dapat
digunakan untuk memperkirakan tingkat harga pada setiap titik di suatu wilayah,
dengan memperlihatkan bagaimana interaksi harga pada setiap titik tertentu ditentukan
oleh interaksi variabel-variabel bebas, keragaman spasial dan temporal di dalam
intensitas penawaran dan permintaan.
Itulah sebetulnya ruang lingkup analisis keragaman harga spasial. Kita dapat
meneliti akibat-akibat atau dampak-dampak pada harga sehubungan dengan perubahan-
perubahan yang terjadi pada lokasi-lokasi lain. Dampak umum kenaikan penawaran
akan mendorong harga turun, tetapi turunnya harga pada lokasi-lokasi itu tergantung
pada hubungan-hubungan spasial dari setiap titik yang dianalisis terhadap lokasi
spesiIik (yaitu lokasi dimana kenaikan penawaran terjadi). Hal yang lebih ambisius
yang mungkin dilakukan adalah memperluas teori keseimbangan harga. Walrasian
(suatu model yang tidak berdasarkan dimensi-dimensi static dan spaceless) dengan
memasukkan waktu penawaran dan permintaan serta potensi ruang untuk berbagai
barang dan input-input produksi yang ada dalam Iungsinya.

35
BAB III
TEORI LOKA$I INDU$TRI

3.. Pendahuluan
Masalah lokasi industri adalah bagian dari masalah bagaimana menyebarluaskan
kegiatan ekonomi di dalam suatu wilayah. Masalah ini secara spesiIik terkait dengan
masalah di mana suatu barang harus diproduksi, di mana dikonsumsi, dan bagaimana
mendistribusikannya. Sebagaimana prisip ekonomi mikro, bahwa unit usaha ekonomi
(perusahaan) haruslah senantiasa bekerja secara eIisien, untuk menghemat sumberdaya,
mampu bersaing, dan mampu menjawab keinginan konsumen secara maksimal. Salah
satu Iaktor yang memungkinkan tercapainya tingkat eIisiensi tersebut adalah mampu
memilih lokasi yang optimal.
Banyak ahli ekonomi yang menulis tentang teori lokasi, antara lain: Van Thunen
(1826), Webber (1909), Christaller (1933), August Losch (1940), William Alonso
(1940), Hoover (1948), Perroux F (1950), dan Walter Isard (1956), yang intisari teori-
teori tersebut akan disinggung pada bagian-bagian yang dianggap perlu, khususnya pada
saat kita akan membahas Ekonomi Perkotaan. Seperti diketahui kota adalah wilayah,
atau subwilayah dengan siIat-siIat tertentu, memiliki Iaktor-Iaktor daya tarik tertentu,
dan cenderung menjadi lokasi konsentrasi berbagai aspek kegiatan manusia, utamanya
aspek kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Alonso, Webber, dan Losch menulis teori
tentang lokasi pasar (Theory of Market Area), dan Perroux menulis teori pengembangan
wilayah dengan kutub-kutub pertumbuhan (Regional S5ace).
Himpunan perusahaan sejenis (ndustry) dalam usahanya memaksimalisasikan
keuntungan (Profit Maximi:ing) bagi masing-masing perusahaan (ndividual Firm)
cenderung mencari lokasi optimal. Pertanyaannya, apa Iaktor-Iaktor yang menetukan
optimal tersebut, bagaimana memanipulasi variabel-variabel yang mempengaruhinya
itu, yang banyak dan mungkin sulit dikuantiIikasikan. Besar kemungkinan, para
pengusaha yang lebih mampu mengkuantiIikasikan variabel-variabel tersebut lebih
memiliki peluang untuk berhasil, dan ini tentu terkait dengan kemampuan perusahaan
untuk mempekerjakan para proIesiaonal yang mampu membuat analisis-analisis untuk
mendukung keputusan-keputusan manajerial. Namun demikian, sebagian variabel yang
bersiIat umum, pemerintah dapat membantunya, antara lain dengan perencanaan
wilayah dan lokasi-lokasi (zona-zona) industri.

3.2. Prinsip Lokasi Median
Untuk menjelaskan prinsip lokasi median ini dibuat sebuah contoh ilustrasi.
Misalkan ada rencana pendirian sebuah perusahaan roti, yang selain memproduksi roti
juga mendistribusikannya kepada para langganan (konsumen). Baik biaya maupun
volume produksi diasumsikan tidak berpengaruh terhadap lokasi perusahaan tersebut.
Satu-satunya variabel yang berpengaruh adalah biaya pengiriman (Distribution ost).
Dengan demikian untuk maksimalkan keuntungan dilakukan dengan meminimalkan
biaya pengiriman tersebut.
Misalkan pula, bila lebih lanjut diketahui bahwa langganan bakal pabrik roti
tersebut ada 7 orang, mereka berada di sepanjang jalan (lihat gambar 3.1), dan
perusahaan hanya bisa mengirim satu roti kepada seorang langganan pada setiap waktu
36
pengiriman. Maka pertanyaannya adalah, di mana lokasi perusahaan roti tersebut yang
terbaik (yang optimal, atau yang meminimalkan biaya pengirimannya).

A B C D E F G
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Gambar 3.1: Sebaran Pelanggan Sepanjang Sebuah Garis

Untuk menjawab pertanyaan teori tersebut, dicoba cari harga rata-rata dimana
lokasi berjarak rata-rata (Mean) dianggap sebagai daya tarik, dengan menjumlahkan
jarak antara satu langganan dengan langganan yang lainnya, mulai dari A sampai
dengan G, lalu dibagi dengan jumlah pelanggan. Untuk itu, sebagai keterangan lebih
lanjut, perhatikan tabel 3.1.

Tabel 3. Perhitungan Lokasi Median
Lang
ganan
Jarak
Dari A
Jarak dari
lokasi E
Jarak dari
lokasi D
A 0 6 4
B 1 5 3
C 2 4 2
D 4 2 0
E 6 0 2
F 14 8 10
G 15 9 11
Total Jarak 42 34 32

Diperoleh nilai rata-rata (Mean) 6
7
42
= = satuan jarak, berarti lokasi mean
adalah 6 satuan jarak dari A yaitu E. Tetapi ternyata lokasi ini tidak meminimalkan
biaya distribusi. Perhatikan tabel jarak perjalanan dari lokasi D ke semua langganan
ternyata lebih singkat jaraknya, atau lebih rendah biaya distribusinya. Lokasi D akan
menghasilkan jumlah perjalanan total (Total Tri5s) lebih sedikit dibandingkan dengan
lokasi E. Titik yang dapat meminimalkan jarak total ke seluruh titik langganan lainnya
merupakan titik tengah-tengah (Median Point). Titik median adalah suatu titik dimana
baik di sebelah kiri atau di sebelah kanan suatu garis lurus terdapat titik-titik distribusi
yang jumlahnya sama. Sedangkan titik jarak rata-rata (Mean Point) pada hakekatnya
meminimalkan jumlah kuadrat dari jarak-jarak perjalanan, sehingga titik ini tidak
relevan dengan tujuan.
Logika teori ini diterapkan dalam memilih lokasi perusahaan industri. Semua
industri pengolahan perlu mendatangkan bahan-bahan baku (n5uts) produksi, dan juga
perlu menyalurkan hasil produksinya (ut5ut). Perlu diperhitungkan, apakah bahan
bakunya besar volumenya, banyak bahagian yang terbuang, dan sebagainya. Di sini ada
masalah pilihan yang dikaitkan kepada biaya angkutan untuk mendatangkan bahan
baku. Begitu pula menyangkut biaya distribusi hasil produksi, apakah produk tersebut
barang yang mudah rusak atau tidak, bernilai tinggi atau tidak, dan sebagainya.
Sehingga perlu menentukan dimana letak lokasi perusahaan yang paling ekonomis
(okasi 5timal). Atau, dikaitkan contoh di atas (lokasi perusahaan roti), dengan
pelanggan di kota-kota A, B, C, D, E, F dan G, berapa produk yang distribusikan ke
37
masing-masing kota. Misalnya ke kota A 200 unit, ke kota B 500 unit, ke kota C 650
unit dan seterusnya. Kota-kota ada yang besar dan yang kecil maka dimana seharusnya
lokasi perusahaan dipilih. Dengan bantuan teori ini problem tersebut dapat dipecahkan.

3.3. Persaingan $epanjang $atu Garis Lurus (Teori Hottelling)
Apa yang baik bagi sebuah perusahaan mungkin tidak baik bagi perusahaan
yang lain. Dengan demikian pada waktu dinyatakan bahwa lokasi perusahaan optimal,
maka perlu dipertanyakan 'optimal itu dari sudut pandang siapa? Optimal untuk
sebuah perusahaan belum tentu optimal untuk perusahaan yang lain. Optimal bagi
produsen belum tentu optimal bagi konsumen. Oleh karena itu, dalam permasalahan
lokasi optimal ini ada tiga pihak yang memiliki sudut pandang yang berbeda, yaitu: (a)
Konsumen, (b) Produsen, dan (c) Pemerintah.
Misalkan seorang penjual cendol yang menjajakan cendolnya untuk konsumen
wisatawan sepanjang pantai. Pembelinya tersebar merata di sepanjang pantai tersebut.
Setiap orang ingin membeli satu gelas dan bersedia berjalan kaki sejauh yang
diperlukan untuk memperolehnya, walaupun sebenarnya orang-orang itu lebih suka
kalau cendol tersebut dapat diperolehnya dengan berjalan sesingkat mungkin. Kalau
penjual cendol itu satu-satunya (penjual tunggal), dia tidak perlu memperhitungkan
dimana lokasi yang terbaik bagi semua pihak, karena semua konsumen yang ingin
minum cendol akan tunduk pada keputusan si produsen tunggal itu. Tetapi pemerintah
(perencana) berkepentingan untuk meminimalkan perjalanan konsumen, dalam rangka
melaksanakan Iungsinya sebagai pelayan masyarakat (memberi manIaat yang maksimal
kepada masyarakat). Total perjalanan tersebut akan optimal kalau lokasi penjual cendol
ada di tengah-tengah (Median Point) rentang garis pantai wisata tersebut.
Tetapi masalahnya akan berbeda kalau pedagang cendol ada dua, akan muncul
persaingan diantara mereka. Keduanya ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-
besarnya, dan mereka sama sekali tidak berkepentingan terhadap Iungsi pelayanan
umum. Persaingan tersebut akan menghasilkan suatu lokasi keseimbangan bersama bagi
kedua penjual. Proses itu akan menghasilkan konsentrasi kegiatan ke satu lokasi, atau
yang disebut Aglomerasi. Tentu pemerintah tidak menginginkan keseimbangan lokasi
yang seperti itu, tetapi menginginkan dekonsentrasi lokasi, atau lokasi optimal dari
sudut pandang pemerintah. Seluruh proses tersebut dijelaskan pada gambar 3.2 :












.
Gambar 3.2: Proses Persaingan Sepanjang Garis Lurus
Keterangan: I, II dan III adalah lokasi yang belum optimal bagi pengusaha
A B
O
B
O
A
O
B
O
A
O
B
O
A
O
PANTAI
B
O
A
O
I
IV
II
III
V
38
M

IV adalah lokasi keseimbangan bagi mereka, dan tercipta kondisi Aglomerasi.
Lokasi optimal menurut pandangan pemerintah (lokasi yang direncanakan)
adalah V

3.4. Industri Dengan $atu Pasar dan $atu Bahan Baku
Misalkan sebuah pabrik peti baja yang menggunakan lembaran baja yang hanya
dihasilkan oleh sebuah pabrik baja sebagai bahan bakunya. Peti baja tersebut dijual
hanya ke kota C (perhatikan gambar).
Diasumsikan, bahwa biaya produksi peti baja tersebut sama dimanapun lokasi
pembuatan dipilih. Dengan demikian satu-satunya pertimbangan pabrik adalah
bagaimana meminimumkan biaya angkut bahan baku dan outputnya (Total Trans5ort
ost). Total Trans5ort ost terdiri dari biaya perakitan (Assembly osts) dalam
mendatangkan input (plat-plat baja) dari kota M, dan biaya distribusi (Distribution ost)
dalam mengirimkan output (peti-peti baja) tersebut dari pabrik ke kota C.
Jelasnya perhatikan gambar berikut :


















Gambar 3.3 Biaya Transpor Industri Dengan Satu Bahan Baku dan Satu Pasar

Misalkan biaya angkut plat baja km r
m
per peti, maka Assembly ost per unit
0 m t r c . Bila biaya distribusi r
c
/ k
m
per unit, maka total biaya distribusi
0
t - T rc .
Kalau total transport cost k, maka:
k 0 c 0 m t - T r t r + c ............... (1)
Dengan demikian yang perlu dicari di dalam permasalahan ini adalah harga t
0
yang
meminimalkan k dari persamaan (1). Untuk lokasi yang berjarak t
0
dari gambar dapat
dilihat total transport cost sama dengan Total Assembly Cost ditambahkan dengan Total
Distribution ost.
Gambar memperlihatkan bahwa biaya transport terkecil akan diperoleh bila
pabrik tersebut berlokasi di M (di lokasi bahan bakunya), atau t
0
0. Sebabnya adalah
C
VLokasi Pabrik
Biaya Perakitan
(Assembly Cost)
r
m
t
0

r
c
(T- t
0
)


r
m
t
0

T ( Jarak dari M ke C )
o t - T
t
o

Biaya Distribusi
(Distribution Cost)
V
39
karena biaya perakitan kurva lebih menanjak dibandingkan dengan kurva biaya
distribusi, dengan kata lain biaya angkut plat-plat baja km per unit lebih mahal dari
biaya angkut peti km per unit (r
c
). Persamaan 1 dengan demikian:
k (r
m
r
c
)t
0
r
c
.T .............. (2)
Berdasarkan rumusan persamaan (2) dapat diperoleh kemungkinan lokasi pabrik
tersebut, tergantung pada nilai r
m
dan r
c
, yaitu: (1) Bila r
m
~ r
c
maka lokasi optimal
adalah di M, (2) Bila r
m
r
c
maka

lokasi optimal adalah di C, dan (3) Bila r
m
r
c
maka

lokasi optimal memungkinkan di C, di M atau di setiap titik di antara C dan M.

3.5. $truktur Biaya Transpor (Transport Cost $tructure)
Dalam kenyataannya kenaikan biaya transpor tidak proporsional dengan
pertambahan jarak angkut. Hal itu disebabkan oleh:
1. Adanya biaya terminal, seperti: (1) Biaya bongkar muat, (2) Biaya Pengepakan, dan
(3) Biaya Administrasi. Dengan demikian biaya transpor dapat ditulis :
BT S
m
r
m
.t
Keterangan: S
m
adalah biaya terminal; r
m
adalah biaya transpor rata-rata/km,
t jarak.
Dalam bentuk diagram digambarkan sebagai mana diperlihatkan gambar 3.4:














Gambar 3.4 Struktur Biaya Transpor Dengan dan Tanpa Biaya Terminal

Keterangan: A adalah biaya angkut proporsional terhadap jarak; B biaya
angkutan dengan mempertimbangkan biaya terminal; C adalah biaya angkutan
dengan mempertimbangkan biaya terminal dan juga penurunan biaya marginal
atas setiap pertambahan kesatuan jarak.
1. Adanya pengaruh kategori jarak tempuh terhadap biaya transpor (seperti jarak
dekat, jarak menengah dan jarak jauh, serta penggunaan jenis moda transpor
yang sesuai.






S
m

t
Rm (Rp)
A
C
B
0
40














Gambar 3.5 Struktur Biaya Transpor Berdasarkan Jarak Angkut dan Pilihan Moda

Keterengan: 0-t
1
Jarak dekat; 0-t
2
jarak sedang; ~ 0-t
2
jarak jauh.

3.6. Lokasi Industri Titik-Titik Ujung (End Points Location)



Gambar 3.6 Lokasi Industri Titik-titik Ujung

Keterangan: X - Y adalah biaya terminal
Biaya terminal dan bentuk kurva biaya transpor berpengaruh terhadap daya tarik
lokasi industri. Lokasi industri cenderung dipilih lokasi ujung (end points), seperti titik
Biaya
T
t
(Jarak)

Biaya distribusi
T C M
X
Y
Biaya transpor total
Biaya perakitan
Biaya
Terminal
Jauh Sedang Dekat
t
Rp
Kereta api
Kapal laut
Truck
0
t
1
t
2
41
M dan C dalam gambar di atas. Dalam gambar, biaya transpor seperti untuk kasus plat
baja dan peti baja, dikaji dengan menyesuaikan struktur biaya transpor yang lebih
realistis. Diperlihatkan pada gambar untuk kasus r
m
r
c
, maka lokasi optimal tidak lagi
arbitrasi (dimana saja antara M dan C). Karena adanya biaya terminal, dan bentuk kurva
biaya transpor yang realistis, maka biaya angkut terkecil terletak di M atau di C,
sedangkan titik tengah menunjukkan biaya tertinggi.

3.7. Keunggulan Lokasi Transhitment
Lokasi transhitment adalah suatu lokasi dimana terjadi perpindahan barang dari
satu jenis alat transpor (Moda) ke jenis alat transpor yang lain. Lokasi tersebut
misalnya pelabuhan laut, yaitu lokasi perpindahan angkutan dari kapal laut ke moda
transportasi darat, atau sebaliknya. Lokasi transhipment tersebut memiliki keunggulan,
seperti dijelaskan dengan gambar 5.6.
Misalkan kasus pabrik peti baja seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, yang
bahan bakunya adalah plat-plat baja yang didatangkan dari lokasi M sedangkan pasar
hasil produksinya tunggal, yaitu kota C. Seandainya lokasi M dengan B dipisahkan oleh
laut, dimana lokasi B adalah di lokasi pelabuhan. Sedangkan dari B ke C dapat
ditempuh dengan angkutan darat (truck atau kereta api). Dengan memperhatikan
gambar 3.7, maka kurva biaya perakitan (Assembly ost) adalah a b c d, dimana :














Gambar 3.7: Keunggulan Lokasi Transhipment

Keterngan: a adalah biaya terminal di M; b adalah biaya angkutan laut dari M ke B; c adalah
biaya terminal di B; d adalah biaya angkut dengan kereta api dari B ke C. Kurva biaya distribusi
(Distribution ost) adalah e I g h, dimana: e adalah biaya memindahkan output dari M ke B; I
adalah biaya terminal di B; g adalah biaya memindahkan output dari B ke C; h adalah biaya terminal di C

Kurva paling atas merupakan biaya transportasi total, dan merupakan
penjumlahan dari dua kurva lainnya. Karena ada biaya terminal dan biaya transhipment
maka ada tiga titik minimum: (1) Kalau pabrik peti tersebut berlokasi di M maka biaya
transport total menjadi e I g h; (2) Kalau pabrik peti tersebut berlokasi di B maka
biaya transport total menjadi a b g h; dan (3) Kalau pabrik peti tersebut berlokasi
di C maka biaya transport total menjadi a b c d. Ketiga titik dengan biaya
transport minimum tersebut memiliki biaya transport total yang sama, dimana lokasi
terbaik tergantung dari nilai masing-masing komponen biayanya, yang mungkin
B C M
a
h
g
d
c
I
b
e
42
berbeda-beda untuk kasus yang berbeda. Sering terjadi bahwa lokasi pelabuhan
merupakan lokasi terbaik. Biaya di pelabuhan (Transhi5ment ocation) tergantung pada
perkembangan teknologi kepelabuhan dan perkembangan teknologi transportasi.

3.8. Lokasi Industri Kasus $atu Pasar dan Banyak Bahan Baku
Untuk kasus seperti ini, maka jika digambarkan biaya transportasinya sudah
menjadi berdimensi tiga. Sebagai contoh diambil kasus industri dengan dua macam
bahan baku dan satu pasar. Misalkan dua bahan baku tersebut adalah N
1
dan N
2
, satu
pasar hasil produksi (ut5ut) adalah C. Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah
menstandarisasi ukuran jumlah (Quantitas) bahan baku untuk setiap unit hasil produksi
(peti baja). Misalnya untuk membuat satu peti baja diperlukan 2 ton N
1
dan 1 ton N
2
.
Biaya terminal adalah $ 1 perton bahan baku (baik untuk N
1
atau N
2
). Diketahui pula
biaya angkut bahan baku N
1
$ 0,67 perton per 100 km. Sedangkan biaya angkut N
2

$ 1 perton per 100 km. Jadi, biaya angkut untuk bahan baku N
1
dan N
2
per unit peti baja
tersebut adalah $ 1,34 $ 1 $ 2,34 perunit output per 100 km. Biaya terminal bahan
baku perunit hasil produksi $ 3. Biaya angkut output $ 1 perton per 100 km, atau $ 3
perunit per 100 km. Standard semua biaya diperlihatkan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 $tandar Biaya Asembly dan Distribusi Industri Peti Baja
No. Objek Biaya
Jumlah
ton yang
dibutuh
kan per
unit yang
diangkut
Biaya
terminal
perton
Biaya
angkut
perton
per 100
Km
Biaya
terminal
per unit
Biaya
angkut
perunit
per 100
Km
1 2 3 4=1*2 5=4*3
1
Bahan baku
N1
2 Ton $ 1,00 $ 0,67 $ 2,00 $ 1,34
2
Bahan baku
N2
1 Ton $ 1,00 $ 1,00 $ 1,00 $ 1,00
3
Hasil
Produksi
3 Ton $ 1,00 $ 1,00 $ 3,00 $ 3,00

Bahan baku N
1
didatangkan dari lokasi M
1
dan bahan baku N
2
dar M
2
.
Selanjutnya digambarkan di sekeliling M
1
biaya transpor bahan baku (2 Ton) untuk
setiap unit produk (peti baja) diperlihatkan dengan garis perjalanan (trips). Kurva ini
disebut isotim. sotim adalah garis (kurva) yang menghubungkan titik-titik sekeliling N
1

yang memiliki biaya transpor yang sama. Sekitar M
2
juga digambarkan kurva isotims
nya (dengan kurva yang terputus-putus). Lingkaran garis putus-putus dengan titik pusat
di C memperlihatkan isotim hasil produksi. Semuanya dengan harga (nilai) seperti yang
tertera di dalam tabel 3.2 di atas.
Biaya transport total pada setiap titik adalah jumlah isotims, misalnya pada titik X:
biaya untuk mengangkut 2 ton N
1
adalah $ 10, 1 ton N
2
$ 4 dan 1 unit hasil produksi ke
kota C $ 8. Total biaya transpor di lokasi X dapat dihitung, yaitu: $ 10 $ 4 $ 8 $
22. Bila dipetakan, maka kita akan memperoleh titik-titik atau lokasi-lokasi dengan
total biaya transport yang sama. Garis-garis yang menghubungkan titik-titik (lokasi-
lokasi) dengan total biaya transport yang sama disebut soda5anes.
43
Gambar 3.8 Peta Isotims dan Isodapanes Penentuan Lokasi Optimal


kan di lokasi mana yang memiliki total biaya transpor Minimum (Perhatikan
Gambar 3.7). Tetapi perlu pula diingat bahwa lokasi industri terbaik tidak hanya
ditentukan oleh isodapan terendah, banyak lagi Iaktor-Iaktor lain yang
mempengaruhinya. ParagaI 3.11 memperhitungkan Iaktor-Iaktor dimaksud.

Karena proporsi output yang diangkut ke setiap pasar dapat dipetakan







































M1
C
M2
3
4
7
5
6
8
9
10
11
12
13
14
4
7
5
6
8
9
10
11
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
X



44


Lokasi pabrik terbaik adalah lokasi yang memiliki total biaya transpor minimum
(Minimum soda5an). Dalam gambar diperlihatkan oleh titik A. Titik A tersebut terletak
di dalam isoda5an $ 20. Biasanya titik total biaya transpor minimum ini tidak terletak di
salah satu lokasi bahan baku ataupun di lokasi pasar hasil produksi, tetapi berada di
antaranya (ntermediate Point). Lokasi intermediate A merupakan titik minimum relatiI.
Minimum karena dibandingkan dengan total biaya transport di titik-titik lainnya.
Misalnya kalau di lokasi M
1
maka biaya transport adalah $ 10 (dari M
2
) $ 9 (dari C)
$ 19. Sedangkan di lokasi dipilih di M
2
total biaya transpor menjadi $14 (dari M
1
) $10
(dari C) $24. Di lokasi C total biaya transpor sebesar $10 (dari M
1
) $8 (dari M
2
)
$18. Ternyata dalam kasus ini lokasi C memiliki total biaya transpor yang paling

3.9. Lokasi Industri dengan Pasar Banyak dan Bahan Baku Banyak
Dengan menggunakan metode peta isodapanes di atas kita dapat memecahkan
masalah yang lebih rumit, yaitu menentukan lokasi optimal dari industri yang berpasar
dan berbahan baku banyak. Sebagai contoh, misal pasar-pasar hasil produksi terdiri dari
C
1
, C
2
, dan C
3
dan sumber bahan baku terdiri dari N
1
, N
2
, dan N
3
didatangkan dari
lokasi-lokasi M
1
, M
2
, dan M
3
.
Komposisi penjualan produk adalah 20 ke C
1
, 30 ke C
2
dan 50 ke C
3
.
Berdasarkan kaidah lokasi median maka biaya distribusi minimum kalau lokasi industri
di C
3
, namun peta sotims diperlukan karena dalam metode ini total biaya transpor
terdiri dari dua unsur, yaitu biaya angkut hasil produksi (Distrution ost) dan biaya
input, atau biaya perakitan (Assembly ost). Kita dapat menggambarkan peta
isodapanes (kurva-kurva dengan biaya transpor total sama) dan menentukan isodapanes
minimum.

Tabel 3.3 $tandarisasi Biaya Bahan Baku

N
1
N
2
N
3

Unit bahan baku yang
diperlukan untuk setiap
unit hasil produksi
2 1 1
Biaya transpor per unit
bahan baku per 100 km
$ 0,50 $ 0,50 $ 2,00
Biaya transport per unit
bahan baku yang
diperlukan per unit
hasil produksi
$ 1,00 $ 0,50 $ 2,00

. Begitu pula tingkat biaya transport perunit produk yang diangkut adalah $ 4
per 100 km. Dengan demikian dapat dihitung biaya transpor ke masing-masing pasar.
Kalau dimasukkan biaya terminal, maka besarnya biaya terminal untuk masing-masing
pasar akan terbagi secara sebanding. Hasil perhitungan ini, dapat dipakai sebagai dasar
untuk menggambarkan peta isotims pada sekeliling masing-masing pasar, dan
selanjutnya dijumlahkan untuk mendapatkan isotims biaya distribusi. Lokasi biaya
terendah juga di C
3
, dimana biaya distribusinya mencapai $ 8,5 per unit. Dengan
45
prosedur yang sama dapat digambarkan isotims untuk setiap bahan baku dan
menjumlahkannya untuk mendapatkan peta isotims biaya perakitan. Dasar pembuatan
peta isotim diperlihatkan dalam tabel 3.3.
Dari kedua isotims di atas, yaitu masing-masing untuk biaya distribusi dan biaya
perakitan, dapat diperoleh isoda5anes yang menggambarkan total biaya transpor.
Caranya yaitu dengan menjumlahkan isotims biaya distribusi dan isotims biaya
perakitan. Biaya transport total minimum akan berada dimana biaya tersebut mencapai
$ 19,70 per unit hasil produksi. Maka lokasi industri ditempatkan di A.














Gambar 3.10: Isotims biaya perakitan yang dikombinasikan
























Gambar 3.11 Peta Isodapanes (Penjumlahan Isotims Biaya Distribusi dan Perakitan)
9
10 11 12

13 14 15 16 17 18
M
3

M
1

M
2

20 21 22
23

24 25 26 27 28 29 30 20 21 22
23

24 25 26 27 28 29 30 A
M
3

C
1

C
2

M
1

M
2

31 31
32
32
L
C
3

Bahan N
3
yang didatangkan dari M
3
memiliki biaya transport yang relatiI
tinggi, karena volumenya besar. Karena itu M
3
memiliki Total Transport
Cost yang minimum.
Distribusi ke C
50, maka
berdasarkan prinsip
lokasi median Total
Transport Cost
minimum di C
3

46



















Gambar 3.9: Peta Isotims Biaya Distribusi yang Dikombinasikan


3.. Peranan Biaya Produksi
Misalkan pada titik L terletak di sebuah kota dengan kondisi surplus tenaga
kerja. Dengan demikian upah buruh lebih rendah dibandingkan dengan di lokasi-lokasi
lain. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan rendahnya upah buruh sebagai satu
variabel baru tersebut memungkinkan lokasi optimal yang semula di A akan berpindah
ke L?
















9 10 11 12

13 14 15 16 17 18 19 9 10 11 12

13 14 15 16 17 18 19 C
3

M
3

C
1

C
2

M
1

M
2

47
Pengusaha harus menghitung penghematan per unit output yang dihasilkannya
sebagai pengaruh upah buruh yang lebih rendah itu, sebagai salah satu Iaktor eIisiensi.
Misalkan penghematan mencapai $ 10, maka L akan menjadi lokasi optimal untuk
menggantikan A. Pada peta isodapanes dapat dibaca bahwa total biaya transport di L
$ 25,50. Ini berarti $ 5,80 lebih mahal dibandingkan dengan total biaya transpor di A,
karena total biaya transpor di A $ 19,70. Mahalnya total biaya transpor di L tersebut
akan tergantikan oleh rendahnya upah buruh di lokasi L tersebut, yaitu sebesar $ 10.
Jadi di L ada pengurangan biaya produksi sebesar $ 4,20 per unit produk.
Misalkan lagi di lokasi T terdapat keringanan pajak sebesar $ 1 per unit produk.
Apakah Pengusaha akan memilih lokasi A, L atau T? Jelas pengusaha akan tetap
memilih lokasi L, karena eIisiensi di L $ 4,20 lebih eIisien, sedang di T hanya $1
penghematannya. Pemilihan lokasi disamping dipengaruhi oleh Iaktor-Iaktor biaya
transportasi untuk perakitan dan distribusi, juga dipengaruhi oleh: upah buruh, tingkat
pajak, dan Iaktor-Iaktor lainnya, seperti kondisi iklim yang khusus, kaitan dengan
kegiatan-kegiatan usaha lainnya (Iaktor eksternalities), dan sebagainya.
48
BAB IV
EKONOMI PERKOTAAN

4.. Pendahuluan
Dewasa ini ekonomi perkotaan sudah menjadi salahsatu spesialis ilmu ekonomi,
yang disebut Urban Economics. Lahirnya spesialis ilmu ekonomi perkotaan ini tidak
terlepas dari sejarah munculnya masalah perkotaan pada pertengahan abad ke-20,
dimana kota-kota menjadi miskin, kumuh, dan macet dalam segala aspek kehidupan.
Proses urbanisasi pada awalnya membantu pemecahan masalah pengangguran di
wilayah pedesaan, dan sekaligus membantu pertumbuhan sektor industri dan jasa di
wilayah perkotaan. Proses tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi mikro dan makro.
Namun, dalam prosesnya lebih lanjut (dalam jangka panjang), urbanisasi justru dapat
menimbulkan masalah perkotaan, dimana pada waktu kota tidak mampu lagi
menyediakan lapangan pekerjaan produktiI kepada penduduknya yang semakin berlipat
ganda, dan pemerintah kota tidak mampu lagi memberikan pelayanan yang memadai
kepada penduduk kotanya. Kemakmuran berubah menjadi kemiskinan, keindahan
berubah menjadi kekumuhan, kelancaran/keteraturan berubah menjadi kemacetan.
Sebelumnya, sebagian para ahli memandang ekionomi perkotaan sebagai
bahagian dari ekonomi wilayah (Regional Economics). Kota sebagai bagian dari sestem
wilayah yang tidak dapat dipisahkan dari wilayah yang lebih luas, yang terdiri dari
subwilayah perkotaan (Urban Area) dan sub-subwilayah perdesaan (Rural Areas).
Diantara kedua subwilayah tersebut, dilihat dari sistem ekonomi wilayah, saling
memberikan pelayanan satu sama lain. Ide pengembangan spesialis ekonomi perkotaan
dilandasi oleh kekhasan permasalahan perekonomian di wilayah perkotaan, seperti:
pendapatan perkapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah perdesaan di
sekitarnya, lapangan pekerjaan yang lebih beraneka ragam, siIat pengangguran yang
terbuka, nilai sewa lahan yang didasarkan kepada nilai bangunan dan aktivitas di
atasnya, inIrastruktur dan pelayanan yang lebih lengkap dan padat, dan sebagainya.
Keberadaan spesialisasi ekonomi perkotaan tidak terlepas dari adanya kekhasan-
kekhasan tersebut, dan adanya kebutuhan analisis bagi mendukung pengembangan
ekonomi di wilayah perkotaan itu sendiri.
Ekonomi perkotaan, sebagaimana halnya ekonomi regional, meliputi studi
ekonomi mikro dan makro. Sebagai contoh, yang termasuk studi ekonomi mikro antara
lain teori sewa lahan, teori lokasi berbagai aktivitas ekonomi dan komplek perumahan
di dalam struktur tata ruang sebuah kota, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk
studi ekonomi makro antara lain PDRB kota, PDRB perpekerja kota, PDRB perkapita
kota, konsumsi rumah tangga kota, pajak kota, tabungan kota, investasi kota, ekspor
impor kota, tingkat pertumbuhan ekonomi kota, dan sebagainya.
Kota dideIinisikan sebagai sebuah wilayah atau subwilayah yang memiliki siIat-
siIat khusus tertentu, antara lain tingkat kepadatan penduduk yang relatiI tinggi
dibandingkan dengan wilayah atau subwilayah di sekitarnya, lapangan pekerjaan yang
lebih beraneka ragam, pendapatan perkapita yang relatiI tinggi dibandingkan dengan
wilayah atau subwilayah di sekitarnya, dan inIrastruktur yang relatiI lebih lengkap.
Menurut John Frietmann (1979), kota merupakan inti (ore) dari sebuah wilayah,
merupakan pusat dari semua aspek kegiatan penduduk wilayah.


49
4.2. $ifat-sifat Wilayah Perkotaan
John Freedman dan Cleyde Wever dalam bukunya Territory and Function. The
Evaluation of Regional Planning (1979) membagi suatu wilayah atas ore dan
Peri5hery. ore adalah pusat dari sebuah wilayah, sedangkan Peri5hery adalah wilayah
di sekitar core atau subwilayah di sekitarnya atau hinterlandnya. Core merupakan lokasi
pusat kegiatan atau lokasi pusat pertumbuhan kegiatan penduduk di suatu wilayah
dalam semua aspek kehidupan, yang meliputi aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dan
kebudayaan. Oleh karena itu core merupakan pusat kegiatan dan perkembangan semua
aspek kehidupan penduduk wilayah, maka siIat-siIatnya dapat dibedakan dengan bagian
wilayah yang lain (Peri5hery). Pertama, jumlah penduduk di lokasi tersebut persatuan
luas wilayah (tingkat kepadatan) relatiI lebih tinggi. Artinya bila tingkat kepadatan
penduduk tersebut dibandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk di bagian wilayah
yang lain di sekitarnya (di interlandnya). Kedua, Iasilitas pelayanan lebih lengkap.
Yang dimaksud dengan Iasilitas pelayanan adalah kemudahan-kemudahan bagi
mendukung aktivitas penduduk dalam berbagai aspek, yang meliputi pelayanan Iisik
(seperti: jalan, kendaraan umum, listrik, telepon), pelayanan ekonomi (seperti: pasar,
perbankan, lembaga asuransi, dsb.), pelayanan sosial (seperti: sekolah, rumah sakit),
pelayanan rekreasi dan sebagainya. Ketiga, struktur pekerjaan penduduk di wilayah
perkotaan lebih beraneka ragam. ore adalah subwilayah perkotaan dari sebuah wilayah
yang luas, sedangkan Peri5hery adalah subwilayah pedesaannya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa suatu kota secara deIinitiI sekurang-kurangnya haruslah memenuhi
tiga criteria tersebut di atas, yaitu menyangkut: kepadatan penduduk, struktur pekerjaan
penduduk, dan kondisi sarana dan prasarana pelayanan umum.

4.3. Proses Tumbuh dan Berkembangnya $ebuah Kota
Ada tiga teori tentang proses tumbuhnya sebuah kota, yaitu: (1) Teori yang
mengatakan bahwa sebuah kota tumbuh dari proses perkembangan tempat-tempat
peristirahatan dalam perjalanan. (2) Teori yang mengatakan bahwa sebuah kota tumbuh
dari proses perkembangan lokasi transit (bongkar muat barang atau naik turun
penumpang) diantara jenis-jenis angkutan. (3) Teori yang mengatakan bahwa sebuah
kota tumbuh dari proses perkembangan lokasi distribusi atau koleksi barang-barang dan
jasa-jasa di suatu wilayah yang subur.
Kota yang tumbuh dari perkembangan pusat-pusat peristirahatan dalam
perjalanan. Sebagai contoh dikemukakan bagaimana asalmuasal tumbuhnya kota-kota
di pesisir timur Amerika Serikat. Menurut sejarahnya kota-kota di wilayah tersebut
bermula dari perkembangan lokasi-lokasi peristirahatan orang-orang yang melakukan
perjalanan dengan kuda. Adanya orang-orang yang melepaskan lelah, kemudian disusul
oleh adanya orang-orang yang mencoba menyediakan pelayanan, seperti warung,
penginapan, dan sebagainya muncullah tempat-tempat yang kemudian berkembang
menjadi sebuah kota. Oleh karena itu jarak antara kota yang satu dengan yang lain di
wilayah tersebut relatiI dekat-dekat, yaitu seukuran dengan lelahnya kuda dan perlu
diistirahatkan. Analog dengan kondisi perkembangan sarana transportasi dewasa ini,
kota-kota baru bisa tumbuh dan berkembang sepanjang jalan raya, sejauh supir-supir
truk/bus perlu beristirahat dan mengistirahatkan kendaraannya.
Kota yang tumbuh dari perkembangan lokasi transit. Lokasi transit bisa terjadi
antara kapal laut dan angkutan sungai, kapal laut dengan angkutan darat (pelabuhan).
50
Lokasi pelabuhan juga bisa berkembang menjadi sebuah kota. Contoh lain, angkutan-
angkutan jalan raya sering berhenti pada persimpangan-pesimpangan jalan masuk ke
pedalaman yang dilayani oleh kenderaan-kedaraan kecil, sado/delman, becak, gerobak,
ojek, dan sebagainya. Lama-kelamaan persimpangan jalan tersebut berproses menjadi
kota, yang mula-mula tumbuh karena adanya kebutuhan penumpang yang melakukan
transit akan barang-barang dan jasa-jasa (berbelanja) yang kemudian diikuti oleh
munculnya pelayanan dari orang-orang yang ingin mencari keuntungan. Analog dengan
lokasi transit ini mungkin persimpangan jalan tersebut berupa sebuah muara sungai
dimana angkutan laut dan angkutan sungai saling melakukan kegiatan transit, mungkin
juga lokasi pelabuhan laut, lokasi pelabuhan udara, persimpangan jalan arteri dengan
jalan kolektor/distributor dan sebagainya.
Kota yang tumbuh dari perkembangan sebuah wilayah yang subur. Wilayah
yang subur akan dimanIaatkan oleh penduduk, khususnya di sektor pertanian. Kegiatan
produksi di sektor pertanian ini akan terbentuk pusat pelayanannya, yaitu lokasi pusat
penyaluran hasil produksi pertanian dan tempat mendapatkan kebutuhan-kebutuhan
konsumsi dan input-input produksi pertanian. Dari waktu ke waktu pusat pelayanan itu
akan berkembang dan memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai sebuah kota.
Dalam perkembangan sekarang ini mungkin saja antara dibangun dan
dikembangkannya sebuah kota dengan kebutuhan akan lokasi peristirahatan dalam
perjalanan, dengan lokasi transit, dan lokasi pengembangan sebuah wilayah yang subur
bisa terjadi secara bersamaan waktu. Sebagai contoh, di Indonesia, kota Palangkaraya
dibangun dengan direncanakan terlebih dahulu, artinya dibangun bersamaan waktu
dengan pembangunan/pembukaan hinterlandnya, yaitu pembangunan provinsi
Kalimantan Tengah. Palangkaraya direncanakan dan dibangun sebagai pusat kegiatan
pemerintahan (politik) dan pusat pelayanan ekonomi, pusat pelayanan sosial dan
kebudayaan untuk Kalimantan Tengah. Sejarah lahirnya kota Palangka Raya tidak dapat
dilepaskan dari peranan Presiden RI pertama, Bung Karno.

4.4. Perkembangan Ekonomi Perkotaan
Dewasa ini ekonomi perkotaan sudah menjadi suatu spesialisasi ilmu ekonomi.
Bahkan sebagian para ahli berpendapat bahwa ekonomi perkotaan sudah merupakan
suatu disiplin ilmu tersendiri (Sukanto dan Karseno, 1994). Para ahli yang berpendapat
demikian itu mendasarkan pandangannya kepada luasnya masalah kajian dalam
Ekonomi Perkotaan. Adapun masalah-masalah tersebut: (1) Masalah perkembangan dan
pertumbuhan ekonomi di wilayah perkotaan. (2) Masalah penganguran di wilayah
perkotaan. (3) Masalah pendapatan di wilayah perkotaan, baik pendapatan kota maupun
pendapatan perkapita penduduk kota. (4) Masalah pemanIaatan tanah (and Use) dan
nilai tanah di wilayah perkotaan. (5) Masalah pengangkutan (transportasi) di wilayah
perkotaan. (6) Masalah inIrastuktur di wilayah perkotaan. (7) Masalah Iasilitas
pelayanan di wilayah perkotaan. (8) Masalah-masalah wilayah perkotaan lainnya yang
khas.
Semua masalah ini dapat diangkat aspek ekonominya, sebagai suatu aspek
ekonomi yang khas, baik mikro maupun makro. Melalui pemecahan aspek ekonomi dari
masalah-masalah tersebut diharapkan semakain berkembang pula Ilmu Ekonomi
Perkotaan (Urban Economics).


51
4.5. Aktivitas Masyarakat Kota Yang Multi Aspek
Kota tidak saja merupakan konsentrasi kegiatan ekonomi tetapi juga konsentrasi
kegiatan semua aspek kehidupan manusia. Masalah ini merupakan suatu kerumitan
dalam pemecahan permasalahan ekonomi perkotaan. Aspek-aspek tersebut melahirkan
sejarah, kelembagaan, pandangan hidup, dan sebagainya yang khas.
Sebuah kota dalam hubungan dengan tata ruang meliputi keterkaitan ke dalam
kota sendiri, ke dalam wilayah, dan ke luar wilayah (intra regional relationshi5 dan
inter regional relationshi5). Faktor tersebut memberikan dampak terhadap kondisi dan
lingkungan suatu kota, baik dampak yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.
Dampak yang diharapkan, misalnya masuknya modal, tenaga kerja terampil dan
terdidik, serta teknologi yang lebih maju. Sedangkan yang tidak diharapkan misalnya
masuknya penduduk tenaga kerja kasar yang berlebihan (urbanisasi) dan modal
(investasi) yang sporadis sehingga menimbulkan kemacetan di segala bidang dan
pencemaran. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh urbanisasi, setelah kota tidak
mampu lagi menyediakan lapangan pekerjaan yang layak (lapangan kerja produktiI)
kepada penduduknya dapat menimbulkan kemiskinan, lingkungan pemukiman menjadi
buruk (kumuh), kesehatan buruk, pendidikan buruk, transportasi tidak lancar,
lingkungan tercemar, dan sebagainya.
Tentang masyarakat kota, menurut Sukanto dan Karseno (1982), terdapat tiga
pandangan, yaitu: (1) Pandangan liberal, (2) Pandangan konservatiI, dan (3) Pandangan
radikal. Pandangan liberal dan pandangan konservatiI bertolak dari hipotesis yang sama,
yaitu; 'bahwa masyarakat memiliki lembaga-lembaga tertentu dan hubungan-hubungan
tertentu. Hubungan-hubungan tersebut memunculkan perilaku-peilaku tertentu dari
satuan-satuan pengambilan keputusan, sepeti rumah tangga pekerja, badan usaha, dan
sebagainya. Masing-masing satuan masyarakat dan satuan kerja tersebut menyesuaikan
diri. Putusan akhir individu-individu adalah pilihan masing-masing dengan atau tanpa
memperdulikan lembaga-lembaga yang ada. Setiap orang bebas mengusahakan
kesejahteraannya dalam batas-batas tertentu. Terdapat pula kegiatan-kegiatan
masyarakat yang dikombinasikan, yang menghasilkan keseimbangan sosial yang stabil
dan dinamis. Postulasi dasar pandangan-pandangan tersebut meliputi: (1) adanya
keseimbangan dalam aspek sosial, (2) keseimbangan masyarakat dalam pengertian
bebas dan komplek, dan (3) perubahan dalam masyarakat yang terjadi secara perlahan-
lahan (evolusi).
Pokok-pokok dari ketiga pandangan tersebut adalah sebagai berikut:
(a) Pandangan konservatiI, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) pemerintah harus
dibatasi kegiatannya, (2) mekanisme pasar diandalkan untuk mengalokasikan
sumberdaya secara eIektiI, eIisien dan memberi hasil yang maksimal, (3)
mengutamakan kebebasan individu dan keteraturan masyarakat.
(b) Pandangan Liberal, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) pemerintah harus
membagi kembali pendapatannya, (2) bila mekanisme pasar tidak memuaskan
konsumen, pemerintah harus berbuat sesuatu untuk memperbaikinya, dan (3)
pemerintah harus menyediakan Iasilitas-Iasilitas yang tidak mampu diadakan melalui
meknisme pasar, misalnya Iasilitas pertahanan keamanan.
(c) Pandangan Radikal, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) Struktur dan evolusi
masyarkat kota tergantung modus produksi yang dominan (masyarakat kapitalis tidak
sama dengan masyarakat Ieodal dan tidak sama dengan masyarakat sosialis). (2) Modus
produksi pada masyarakat kapitalis adalah organisasi buruh melalui kontrak-kontrak
52
kerja. (3) Metoda organisasi produksi meliputi usaha-usaha produksi dan distribusi. (4)
Hubungan produksi dan distribusi menentukan dinamika masyarakat (masyarakat selalu
menambah kekayaan). (5) Oleh karena hubungan produksi dan distribusi menentukan
dinamika, maka orang selalu berusaha dengan menjadi pekerja. Kapitalis akan selalu
berusaha menjadi dominan melalui akumulasi kekayaan lewat perusahaan. (6) Dinamika
masyarakat menjurus kepada berbagai reaksi: (a) mekanisme dan pembagian kerja atau
menghasilkan akibat-akibat yang tidak terkendali, (b) kapitalisme menimbulkan usaha-
usaha sosialisasi kerja, mengakibatkan manusia saling tergantung, kelompok-kelompok
saling menghancurkan persaingan merajalela, (c) konIlik masyarakat timbul dari hasrat
selalu ingin memperbesar kapasitas produksi. (7) Lembaga perlu diubah untuk dapat
melayani perubahan-perubahan yang timbul dalam masyarakat.
Menurut Sukanto dan Karseno (1982), ketiga aliran tersebut ada di Indonesia.
Tetapi berhubung sesuatu hal, tidak terlihat dengan jelas.

4.6. Berkembangnya $ebuah Kota
Sebuah kota lahir, kemudian tumbuh membesar dan mati. Apakah Iactor-Iaktor
yang menyebabkan sebuah kota tumbuh dan membesar? Faktor-Iaktor tersebut adalah
berkembangnya aktivitas penduduk kota dalam semua aspek kehidupan (utamanya
kegiatan ekonomi), proses terkonsentrasinya kegiatan penduduk tersebut ke kota yang
bersangkutan (Aglomerasi), yang kemudian diikuti oleh perpindahan penduduk dari
wilayah pedesaan ke kota tersebut (Urbanisasi). Faktor-Iaktor yang menyebabkan
terkonsentrasinya kegiatan ekonomi ke wilayah perkotaan tersebut ada empat. Pertama,
adalah Iaktor $cale Economics. Artinya melakukan kegiatan usaha berproduksi di
wilayah perkotaan dapat menerapkan sekala produksi yang besar, dapat memilih sekala
produksi yang optimal, yang terkait dengan tujuan eIisiensi (Economies of Sale),
berdampak setidak-tidaknya dapat memenuhi volume penjualan minimum untuk pabrik-
pabrik baru (Minimum Threshold). Kedua, adalah Iaktor Com5arative Advantage.
Artinya berproduksi di wilayah perkotaan lebih rendah biaya produksinya dibandingkan
dengan berlokasi di wilayah pedesaan. Alasannya, karena adanya Iasilitas pelayanan,
dimana Iasilitas pelayanan tersebut dapat dibangun dengan sekala produksi yang
optimal dan dapat dipilih teknologi yang eIisien. Ketiga Iaktor Proximity. Artinya
kedekatan kota ke berbagai pasar input dan output. Jadi Iaktor tersebut dapat menekan
biaya transpor n5uts (Assembly ost) dan biaya distribusi ut5ut (Delevery ost).
Faktor kedekatan ini temasuk kedekatan dengan perusahaan-perusahaan lain yang
terkait, atau yang disebut Iaktor Externalities. Keem5at, Iaktor Amenities. Artinya
Iaktor kemudahan-kemudahan yang disediakan pemerintah kota untuk menarik
investasi, dan penduduk ke kotanya. Contohnya pemerintah kota penyediaan
nfrastruktur yang baik, keringanan pajak, termasuk pelayanan-pelayanan pemerintah
yang bersiIat Externalities bagi perusahaan. Pemerintah kota selalu memelihara kotanya
indah, aman dan nyaman.
Industri memerlukan lahan lokasi. Lahan lokasi tersebut dipilih di mana yang
paling ekonomis. Lahan lokasi yang paling ekonomis bukan di lokasi yang harga atau
sewa lahannya paling rendah, tetapi di lokasi optimum (5timum ocation). Lokasi
optimum adalah lokasi dimana titik kombinansi biaya sewa lahan dengan jumlah ouput
maksimum yang dapat dicapai perusahaan bersinggungan (Richardson, 1969). Lahan
kota relatiI terbatas. PemanIaatan in5ut lain yang masuk ke wilayah kota dari waktu ke
waktu semakin meningkat, sehingga nisbah (Ratio) input-input tersebut terhadap lahan
53
semakin meningkat. Harga atau sewa lahan kota menjadi terus meningkat. Salah satu
kemungkinan dampaknya yang akan terjadi adalah memperluas aktivitas kota ke
pinggiran kota. Kondisi tersebut mempercepat pertumbuhan area kota. Lahan-lahan
pertanian di sekitar kota berubah Iungsi menjadi lokasi-lokasi industri. Lalu diikuti
dengan perubahan lokasi pemukiman kota. Proses tersebut dinamakan proses Penetrasi,
yaitu proses desakan suatu sektor kegiatan terhadap sektor kegiatan lain. Proses
terdesaknya sektor yang relatiI kurang mampu membayar sewa lahan oleh sektor yang
lebih mampu. Lahan pertanian berubah Iungsi menjadi lahan lokasi industri, lokasi jasa
dan lahan lokasi pemukiman penduduk kota. Perubahan Iungsi ini mengakibatkan nilai
ekonomis lahan meningkat tajam. Pemilik lahan menyukai dampak tersebut. Tetapi sisi
negatiInya area lahan pertanian akan terus berkurang, produksi bahan makanan
berkurang, dan pengangguran buruh tani akan meningkat. Oleh karena itu untuk
menghindari perkembangan wilayah kota yang tidak diinginkan tersebut diberlakukan
kebijakan tata guna lahan (and Use) dan jalur hijau (Greenbelt) yang ketat.
Begitu pula di dalam kota, terjadi 5enetrasi dari satu sektor/subsektor kegiatan
ke sektor/subsektor kegiatan yang lain, yaitu ke subsektor yang mampu membayar
sewa lahan lebih tinggi. Subwilayah kota yang semula merupakan area perumahan
penduduk berubah menjadi area pertokoan. Subwilayah kota yang semula area
perkantoran atau industri berubah menjadi area pertokoan atau perhotelan. Ini terjadi
karena kemampuan membayar sewa lahan dari masing-masing aktiIitas/peruntukan
bersaing. Kemampuan membayar sewa lahan ditentukan oleh kemampuan menciptakan
nilai tambah dari jenis kegiatan masing-masing. Kemampuan menciptakan nilai tambah
ditentukan oleh intensitas penggunaan lahan dan nilai sewa per m
2
dari lahan tersebut.
Kemampuan pedagang menyewa toko per m
2
/tahun atau kemampuan orang-orang yang
sedang berpergian menyewa kamar hotel per m
2
rata-rata per tahun jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan kemampuan penyewa ruangan kantor, penyewa rumah tinggal.
Apalagi kalau dibandingkan dengan kemampuan petani yang ingin memanIaatkannya
untuk pertanian. Terkait dengan jenis peruntukan wilayah itu sendiri memungkinkan
perbedaan intensitas penggunaan, misalnya untuk peruntukan yang dapat
menggandakan luas beberapa kali dengan cara menjadikannya lokasi gedung bertingkat,
atau gedung pencakar langit. Inilah Iaktor-Iaktor yang melatarbelakangi perubahan
Iungsi lahan dan penetrasi lokasi peruntukan ruang di wilayah perkotaan dan
sekelilingnya dan Iaktor tersebut adalah Iaktor ekonomis.
Biaya transport (Trans5ort ost) dan kegiatan penduduk akan menentukan
besarnya kota (ity Si:e). Besarnya kota dan lokasinya yang seimbang akan
menentukan keunggulan lokasi (om5arative Advantage). Jadi, Proximities, Scale
Economies, dan om5arative Advantage, merupakan Iaktor-Iaktor penawaran (Su55ly
Factors). Disamping itu ada pula Iaktor lain yang dilihat sebagai Iaktor permintaan
(Demand Faktor) yang juga menentukan perkembangan sebuah kota, yaitu Iaktor
Amenities. Faktor Amenities ini berupa kemudahan-kemudahan yang tersedia di sebuah
kota, yang berIungsi sebagai daya tarik bagi warganya. Misalnya pemerintah kota yang
baik, Iasilitas umum yang lengkap, lingkungan yang sehat dan baik karena bebas dari
pencemaran, adanya rasa aman dan sebagainya.

4.7. Masalah Kota di Indonesia
Masalah kota di Indonesia, menurut Sukanto dan Karseno (1982) lebih komplek.
Menurut dia ada tiga masalah pokok yang dapat diidentiIikasi, yaitu: (a) Masyarakat
54
kota masih menonjol ciri-ciri masyarakat pedesaannya, seperti sikap acuh tak acuh. (b)
Masih lemah dalam kesadaran hukum. (c) Juga, masih lemah dalam penegakan hukum.
Sebagai contoh, bila ada suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan
umum, masyarakat cenderung tidak memperdulikan. Barang-barang kepentingan umum
sering dirusak, bahkan dicuri. Aparat hukum cenderung memilih-milih masalah,
bertindak jika diperintah, berperilaku ulur tarik, kurang ada kepastian, dan sebagainya.

4.8. Perencanaan Penduduk Kota
Jumlah penduduk kota tumbuh relatiI cepat dan perlu direncanakan agar
pertumbuhannya sebanding dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan dan berbagai
pelayanan yang diperlukan. Angka pertumbuhan penduduk kota terdiri atas angka
pertumbuhan alamiah dan migrasi. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk kota
umumnya jauh di atas rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk wilayahnya secara
keseluruhan. Faktor yang menyebabkan perpindahan penduduk desa ke kota meliputi
Iaktor ekonomis dan non ekonomis. Memang, Iaktor ekonomis merupakan Iaktor yang
utama (Todaro, 1994). Adapun Iaktor ekonomis tersebut adalah tingkat upah di kota
yang relatiI lebih tinggi, atau pendapatan perkapita di kota yang relatiI lebih tinggi.
Faktor non ekonomis antara lain pelayanan yang lebih baik di kota, seperti pelayanan
pendidikan, pelayanan kesehatan, hiburan, dan sebagainya. Di samping itu juga Iaktor
rasa bangga tinggal di kota, Iaktor adat-istiadat yang relatiI ketat di desa, Iaktor
keamanan yang relatiI kurang terjamin di desa, dan sebagainya. Semua Iaktor tersebut
bisa dikelompokkan sebagai Iaktor-Iaktor daya tarik (Pole Factors) dan Iaktor-Iaktor
pendorong (Push Factors).
Pada sisi yang lain penduduk memerlukan pekerjaan yang produktiI, atau
pekerjaan yang layak. Jika tidak, banyak angkatan kerja yang menjadi kurang produktiI,
bahkan banyak yang mengangur (tidak produktiI), selanjutnya kota akan terjebak
kepada kondisi kemiskinan. Kondisi kemiskinan tersebut akan berdampak pada
kekumuhan, kerusakan lingkungan, kemacetan lalu lintas, bahkan kemacetan dalam
semua aspek kehidupan (seperti kurangnya pelayanan, suburnya kriminalitas, dan
sebagainya). Untuk membangun dan memelihara kondisi kota yang baik perlu
perencanaan yang komprehensiI, meliputi aspek tata guna lahan, aspek ekonomi, aspek
sosial budaya, aspek hukum, dan aspek kependudukan.
Untuk negara yang sedang berkembang, seperti halnya Indonesia, komposisi
relatiI penduduk kota terhadap total penduduk wilayah masih perlu ditingkatkan.
Karena peningkatan tersebut terkait dengan tujuan perubahan struktur ekonomi dalam
jangka panjang. Namun proses perubahannya haruslah terencana dengan baik, sebab
jika tidak perkembangan kota bisa terjebak kepada masalah kerusakan yang Iatal,
masalahnya akan menjadi lebih kompleks, yang akhirnya akan membutuhkan biaya
yang jauh lebih besar untuk merehabilitasinya dibandingkan dengan biaya membangun
dan memeliharanya secara berencana. Di samping itu ada titik optimal jumlah penduduk
sebuah kota dikaitkan dengan tujuan pertumbuhan pendapatan perkapita wilayah
(peningkatan standar hidup penduduk suatu wilayah) juga terkait dengan interval-
interval pendapatan perkapita tertentu (Henderson, 1994). Di negara-negara maju
komposisi relatiI penduduk kotanya sekitar 80 dari total penduduk wilayah. Ini tidak
berarti negara sedang berkembang lansung bisa menyamainya tanpa perencanaan secara
komprenesiI dan hati-hati.

55
4.9. Pertumbuhan dan Perencanaan Penduduk Kota di Indonesia
Kondisi penduduk di Indonesia dewasa ini masih perlu mendorong pertumbuhan
penduduk dan pembesaran kota-kota. Tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan
dan perubahan struktur ekonomi, walau itu harus dilakukan dengan hati-hati. Artinya,
aktiIitas ekonomi di wilayah perkotaan perlu didorong dengan penawaran tenaga kerja
yang cukup. Sektor-sektor ekonomi perkotaan (sekunder dan tersier) memang memiliki
tingkat pertumbuhan yang relatiI tinggi dibandingkan dengan sector-sektor ekonomi
perdesaan (primer) dan kalau didorong perkembangannya melalu rencana pembangunan
akan meningkatkan pendapatan perkapita penduduk, mempercepat peningkatan standar
hidup penduduk. Dengan keterkaitan yang baik antara kegiatan ekonomi perkotaan dan
pedesaan di sekitarnya maka akan mendorong pula peningkatan pendapatan rata-rata
penduduk pedesaan. Ini merupakan bagian dari rencana pembangunan, dimana dari
waktu ke waktu jumlah penduduk yang berdiam di kota-kota akan didorong ke arah
yang semakin seimbang dengan kemampuan sektor-sektor ekonomi dalam memberikan
pekerjaan yang produktiI di keseluruhan wilayah (pedesaan dan perkotaan sebagai satu
kesatuan). Tampaknya apa yang diharapkan itu sedang terjadi juga di Indonesia, walau
proses tersebut tidak merata di semua pulau atau wilayah .
Sebagai contoh pada tahun 1980 jumlah penduduk di Indonesia yang tinggal di
wilayah perkotaan hanya 18 dari jumlah penduduk nasional pada saat itu. Pada tahun
1988 komposisi itu telah berubah, yaitu menjadi 71,5 yang tinggal di wilayah
pedesaan dan 28,5 di wilayah perkotaan. Kalau dilihat berdasarkan wilayah-wilayah
komposisi penduduk kota tersebut tidak merata. Kalau wilayah-wilayah diidentikkan
berdasarkan pulau-pulau besar, maka keadaan tahun 1988 adalah sebagai berikut: (1)
Pulau Sumatra dengan jumlah penduduk 35,8 juta jiwa (20,38 penduduk nasional)
memiliki komposisi penduduk desa berbanding penduduk kota 76,7 : 23,3; (2) Pulau
Jawa dengan jumlah penduduk 105,8 juta jiwa (60,22 penduduk nasional) memiliki
komposisi 66,6 : 33,4; (3) Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk 8,5 juta jiwa
(4,84 penduduk nasional) memiliki komposisi 75,0 : 25,0; (4) Pulau Sulawesi dengan
jumlah penduduk 12,3juta jiwa (7,00 penduduk nasional) memiliki komposisi 83,0 :
17,0; (5) Pulau-pulau Bali dan Nusa Tenggara (termasuk Timor Timur) dengan jumlah
penduduk 10 juta jiwa (5,69 penduduk nasional) memiliki komposisi 90 : 10; Pulau-
pulau Maluku dan Irian Jaya dengan jumlah penduduk 3 juta jiwa (1,88 penduduk
nasional) memiliki komposisi 82 : 18.
Kalau dilihat wilayah berdasarkan wilayah-wilayah pembangunan utama, yaitu
berdasarkan konsep enam WPU adalah sebagai berikut: (1) Untuk WPU-A, yang
meliputi D.I. Aceh, Sumut, Sumbar, dan Riau dengan pusat pengembangannya Medan
memiliki jumlah penduduk 20,02 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaan
berbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 80 : 20; (2) Untuk WPU-B, yang
meliputi Jambi, Sumatra Selatan, Begkulu dan Lampung dengan pusat
pengembangannya Palembang memiliki jumlah penduduk 15,81 juta jiwa. Jumlah
penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 79 : 21; (3)
Untuk WPU-C yang meliputi DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan
Kalimantan Barat dengan pusat pengembangannya Jakarta memiliki jumlah penduduk
66,3 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk
perkotaan adalah 58 : 42; (4) Untuk WPU-D yang meliputi Jawa Timur, Bali,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan pusat
pengembangannya Surabaya memiliki jumlah penduduk 40,65 juta jiwa. Jumlah
56
penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 75 : 25; (5)
Untuk WPU-E yang meliputi Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara,
Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur
dengan pusat pengembangannya Ujung Pandang memiliki jumlah penduduk 19,51 juta
jiwa . Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaan
adalah 84 : 16; (6) Untuk WPU-F yang meliputi Maluku dan Irian Jaya memiliki jumlah
penduduk 3,28 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah
penduduk perkotaan 82 : 18.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi komposisi penduduk
wilayah perkotaan tidak homogen diantara pulau-pulau besar dan juga diantara
Wilayah-wilayah Pembangunan Utama di seluruh kepulauan wilayah nasional. Pada
tahun 1988, komposisi penduduk kota di Pulau Jawa sudah mencapai 33,3, sedangkan
Pulau Sumatra dan Kalimantan antara 23-25. Pulau-pulau Nusa Tenggara dan Pulau
Sulawesi antara 15-17. Begitu pula untuk pulau-pulau Maluku dan Irian Jaya antara
13-23. Kalau dilihat berdasrkan WPU-WPU, komposisi penduduk wilayah
perkotaan WPU-C sudah sangat menonjol sudah hampir mencapai 42. Kondisi ini
sangat dipengaruhi oleh wilayah urban Jakarta yang berkembang pesat dalam jumlah
penduduknya. Barangkali satu hal yang juga menarik diperhatikan adalah bahwa Pulau
Kalimantan yang tergolong jarang penduduknya dan memiliki system transportasi yang
relatiI kurang baik itu memiliki pola permukiman penduduk kota yang menonjol
(25,21). Dan yang paling menonjol adalah Provinsi Kalimantan Timur dimana 42,6
penduduknya telah berdomisili di wilayah perkotaan .
Perlu juga diketahui, bahwa sampai dengan berakhirnya Repelita V, masalah
struktur perkotaan di dalam kesatuan wilayah nasional tidak memperlihatkan suatu pola
terstruktur/berjenjang sebagaimana kecenderungan berdasarkan teori. Kota-kota tidak
tumbuh terstruktur. Diperkirakan hal itu disebabkan oleh sejarah orientasi wilayah atau
keterkaitan aktiIitas penduduk dalam berbagai aspek kehidupan di masa lalu, antara
lain sejarah sistem transportasi nusantara, polarisasi wilayah dalam saling
ketergantungannya, sejarah struktur kerajaan-kerajaan di nusantara, dan sejarah
kekuasaan kolonial di masa lalu. Demikian pula pola pembangunan wilayah atau daerah
selama Re5elita, yang berlangsung lebih dari 25 tahun, dimana kota-kota dibangun lebih
banyak berorientasi kepada tujuan yang ingin diwujudkan dibandingkan dengan usaha
pengembangan potensi keterkaitannya secara alamiah.
Disamping itu, masalah kelebihan penduduk (ver Po5ulated) dari beberapa
kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Ujung Pandang
memerlukan dana subsidi yang besar sekali untuk merehabilitasi kekumuhan dan
kesemerautannya. Pengertian kelebihan penduduk di sini dimaksudkan sebagai suatu
kondisi dimana terbatasnya kemampuan kota-kota tersebut untuk mendukung
tersedianya lapangan kerja dan pelayanan yang layak bagi penduduk (lapangan kerja,
Iasilitas sosial, lingkungan yang sehat, dan sebagainya). Pertumbuhan kota-kota tersebut
tidak didukung oleh potensi ekonominya yang riil secara mandiri. Hidup dan
perkembangannya sangat dipengaruhi anggaran subsidi. Pendapatan kota jauh lebih
kecil dibanding pengeluarannya. Perencanaan pengembangannya tidak dikaitkan
dengan titik optimasinya. Anggaran biaya tahunannya lebih besar dari penerimaan
tahunan yang asli (Government Ex5enditure ~ ocal Taxes). Ketahanan ekonomi kota
di Indonesia khususnya di masa Repelita sangat ditentukan oleh kemampuan subsidi
pemerintah pusat. Hal itu memang dimungkinkan pada periode-periode, dimana negara
banyak menerima pajak dan laba dari perusahaan-perusahaan minyak bumi dan gas
57
alam yaitu periode 1974 samapi dengan 1983, dan lain-lain sumber yang tidak dikaitkan
dengan potensi ekonomi lokal.

4.. Aglomerasi
Aglomerasi merupakan kondisi terkonsentrasinya berbagai aspek kegiatan
penduduk ke lokasi perkotaan/sekitarnya. Sedangkan aglomerasi ekonomi adalah
kondisi terkonsentrasinya kegiatan ekonomi ke wilayah perkotaan/sekitarnya. John
Friedmann membuat teori yang cukup jelas mengenai proses aglomerasi ini. Apabila
suatu wilayah dengan kegiatan ekonomi yang kecil-kecil dan tersebar di seluruh
wilayah, kemudian dibangun jalur transportasi (Iasilitas perhubungan) yang baik maka
kegiatan ekonomi yang kecil-kecilan dan tersebar itu akan menghilang dan akan muncul
kegiatan-kegiatan ekonomi yang berskala besar yang terpusat di suatu lokasi
(terkonsentrasi). Ini terjadi sebagai akibat adanya daya tarik kota terhadap kegiatan
tersebut yang merupakan Iaktor ekonomis.









Gambar 4.1 Proses Aglomerasi Menurut John Friedman

Keterngan: x aktivitas ekonomi
kota
-- jalan
Aktivitas-aktiviatas ekonomi yang semula tersebar, akan terkonsentrasi ke
sekitar kota jika wilayah diberikan inIrastruktur transportasi, tanpa diikuti perencanaan
yang komprehensiI, karena Iaktor kedekatan kota (Proximity) meningkat.
Lihat pula teori Hottelling tentang aglomerasi sepanjang garis.
4.. Program Anti Konsentrasi dan Pengendalian Pertumbuhan Kota
Pertumbuhan kota perlu dibatasi, jangan sampai terjebak kepada kondisi
kelebihan penduduk (ver Po5ulated). Untuk itu pembangunan bidang transportasi di
suatu wilayah perlu diimbangi dengan pembangunan perekonomian di wilayah
pedesaannya. Tujuannya adalah untuk memelihara pendapatan rata-rata penduduk
wilayah (antara penduduk kota dan desa) relatiI seimbang. Kesenjangan pendapatan
rata-rata ini adalah Iaktor ekonomis, yang menurut Todaro merupakan penyebab utama
urbanisasi. Disamping Iaktor tersebut terdapat pula Iactor-Iaktor lain, seperti
terbatasnya Iasilitas-Iasilitas pelayanan dan kurangnya rasa aman di wilayah pedesaan.
Urbanisasi yang tidak mampu diimbangi dengan kemampuan menyediakan
lapangan pekerjaan dan berbagai pelayanan yang dibutuhkan di wilayah perkotaan akan
x
x x

x x x

x

x
x x

x x x

x
x
x

x x x

x
x
x x

x x x

x






x
x

x
x x x x
xx xx
x x
58
menimbulkan kemiskinan dan kekumuhan kota-kota. Kemiskinan akan menimbulkan
masalah-masalah kota, baik yang berwujud Iisik maupun sosial. Pada akhirnya
pemerintahlah yang harus memikul biaya rehabilitasi yang sangat besar. Sebagai
contoh: rehabilitasi kawasan Cicadas di kota Bandung, pada masa Re5elita,
membutuhkan biaya samapi U.S $30 juta, yang bersumber dari pinjaman Asing, yang
ditangani oleh Bandung Urban Development Programme (BUDP). Dana sebesar itu
tidak memungkinkan di biaya dari sumber pemerintah kota Bandung sendiri. Problema
yang dipecahkan oleh BUDP ini hanya sebahagian kecil dari problem kekumuhan kota
Bandung, yaitu hilangnya sungai Cidurian di Kecamatan Cicadas, akibat pertumbuhan
penduduk yang berlebihan dan ketidak pedulian masyarakat terhadap kerusakan
lingkungan.
Proses membesarnya kota-kota dengan jumlah penduduk puluhan juta jiwa,
terutama berlangsung di negara-negara sedang berkembang yang daya dukung
keuangannya lemah. Ini pernah dikemukakan oleh Lembaga Kependudukan A.S
sebagai rekomendasi hasil studi berkenaan dengan perkembangan penduduk kota-kota
di dunia. Kondisi tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya dan belum begitu disadari
oleh negara berkembang itu sendiri. Salah satu cara mengantisipasinya, sepeti yang
dikemukakan oleh Rondenelly adalah dengan membangun Iasilitas yang lebih baik dan
lengkap ke kota-kota yang berstatus kota sedang dan kecil dalam struktur kota wilayah,
agar arus urbanisasi dapat dibelokkan ke kota-kota sedang dan kecil tersebut. Namun
dalam kenyataannya pembangunan kota tidak selalu berjalan sesuai dengan ketentuan
ilmiah. Sebagai contoh, Menurut Henderson, adanya Iaktor Iavoritisme elit penguasa
(eksekutiI dan legislative) terhadap kota-kota tertentu dalam proses pembangunan.
Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa IaktorIaktor yang menyebabkan
membesarnya kota-kota yang relatiI cepat meliputi Iaktor ekonomis dan non ekonomis.
Faktor-Iaktor tersebut ada yang berIungsi sebagai Pole Factors dan Push Factors.
Faktor ekonomis merupakan Iaktor yang dominan. Urbanisasi mempercepat
pertumbuhan penduduk kota, mengingat tingkat pertumbuhan penduduk kota
merupakan penjumlahan dari angka pertumbuhan alamiah dan angka pertumbuhan
migrasi. Peningkatan jumlah penduduk kota berarti pertumbuhan kota. Karena,
pertumbuhan kota ukurannya adalah pertumbuhan jumlah penduduk kota itu sendiri.
Dibedakan dengan pertumbuhan ekonomi kota, yang berarti pertumbuhan output nyata
kota, atau output nyata perkapita di wilayah kota, atau pertumbuhan output nyata per
tenaga kerja di kota. Ukuran pertumbuhan kota dilihat pada tingkat kepadatan penduduk
per satuan luas wilayah kota dan jumlah total penduduk kota itu sendiri. Ini
menunjukkan adanya hubungan pertumbuhan kota dengan tingkat pertumbuhan
urbanisasi.

4.2. Beberapa Model Observasi Lokasi Pemukiman Kota
Sebagaimana dijelaskan oleh H.W. Richardson (1969), bahwa kebanyakan ahli
menganalisis struktur tata ruang kota bertolak dari analisis sosiologis dan analisis
ekonomi. Pada umumnya mereka memusatkan perhatian pada teori nilai tanah dan
pemukiman. Berikut ini di kemukakan beberapa model (hasil penelitian empiris):


4.2.. Model Hawley
59
Menurut Hawley sebaran lokasi perumahan dipengaruhi oleh beberapa Iaktor:
(a) Nilai tanah (tingkat sewa lahan); (b) Lokasi berbagai kegiatan penduduk; (c) Biaya
dan waktu transportasi ke pusat kegiatan. Nilai sewa rumah ditentukan oleh Iaktor-
Iaktor tersebut. Hawley menemukan sebuah paradoks yang menyangkut lokasi
perumahan kota ini, yang disebut Paradok Hawley, yang berbunyi Keluarga-keluarga
yang berpendapatan rendah bertempat tinggal di lokasi-lokasi yang memiliki nilai tanah
yang tinggi, sebaliknya keluarga-keluarga yang berpendapatan tinggi tinggal di lokasi
lokasi yang memiliki nilai tanah yang rendah.
Kaum buruh yang berpendapatan rendah menginginkan tinggal di sekitar lokasi
tempat kerja mereka (di pusat-pusat kegiatan sosial dan ekonomi), mereka menghindari
biaya transport yang tinggi. Bagi mereka biaya transport menjadi pertimbangan pokok
dalam memilih tempat tinggal, pelayanan transport termasuk kebutuhan pokok, dan
merupakan biaya tetap pada anggaran belanja keluarga. Motivasi mereka bertempat
tinggal di sekitar lokasi tempat bekerja/kegiatan pelayanan adalah untuk menghindari
pengeluaran biaya transport keluarga yang tinggi. Tanah disekitar pusat-pusat kegiatan
cenderung menjadi objek spekulasi. Orang-orang kaya cenderung tidak memilih tinggal
di lokasi tersebut. Sewa tanah menjadi pertimbangan pokok orang-orang kaya dalam
memilih tempat tinggal. Mereka menginginkan lahan lokasi tempat tinggal yang relatiI
luas. Sewa tanah di sekitar lokasi aktivitas cenderung tinggi.
Kondisi perumahan/lingkungan pada lokasi sekitar pusat kegiatan biasanya
menjadi kurang terawat, karena sewa yang mampu dibayar oleh golongan yang
berpendapatan rendah relatiI rendah pula. Oleh karena itu, kemampuan melakukan
perawatan rendah. Rumah tangga orang-orang miskin cenderung padat atau berdesak-
desakan. Sebaliknya dari apa yang terjadi di lokasi tempat tinggal orang-orang kaya,
alternatiI penggunaan lahannya di lokasi yang dipilih lebih terbatas. Oleh karena itu
nilai lahan di lokasi tersebut rendah. Fasilitas-Iasilitas lingkungan kehidupan orang-
orang kaya relatiI baik, penggunaan lokasi diatur dengan baik, sewa tempat tinggal
dibayar tinggi, kebalikan dari sewa tanah. Tempat tinggal orang-orang kaya cenderung
memilih lokasi di pinggiran kota.

4.2.2. Model Alonso

William Alonso tidak mendasarkan analisisnya pada dinamika pertumbuhan
kota atau pada kebiasaan-kebiasaan spekulasi. Namun dia merinci beberapa Iaktor yang
mempengaruhi lokasi perumahan kota, yaitu: (a) Kuatnya pengaruh nilai tanah pada
pemilihan lokasi; (b) Permintaan lokasi bervariasi sesuai dengan besarnya pendapatan;
(c) Lokasi perumahan orang-orang kaya relatiI tidak dipengaruhi oleh Iaktor biaya
pulang pergi ke kota (ommuter ost); (d) Aksesibilitas berperan sebagai komoditi
inIerior. Aksesibilitas merupakan Iaktor waktu tempuh, Iaktor biaya transport, dan
Iaktor kepadatan/intensitas penggunaan lahan. Aksesibilitas tinggi adalah waktu tempuh
rendah biaya transport rendah intensitas pemakaian yang tinggi. Jadi elastisitas
pendapatan (ncome Elasticity) untuk tanah tinggi. Sebaliknya elastisitas pendapatan
untuk aksessibilitas ke pusat kota negatiI.




4.2.3. Model Becman
60

Becman mendasarkan asumsi pemilihan lokasi tempat tinggal kepada
memaksimalkan ruang tinggal, pengeluaran rata-rata keluarga dan biaya commuting.
Biaya-biaya tersebut merupakan Iungsi pendapatan keluarga yang linier. Ini dipakai
sebagai dasar penyebaran rumah (pasar perumahan). Rumah tangga orang-orang kaya
cenderung berlokasi di luar kota.

4.2.4. Model Wendt

Model Wendt disebut juga model operasional. Menurut Wendt, lokasi
perumahan ditentukan oleh 'keseluruhan nilai, yang dipandang sebagai selisih nilai
secara keseluruhan dari biaya-biaya yang diharapkan bagi amortisasi rate

) , , (
) Im ( ) , , , , (
g R fx
Dim c T P Pu S P Fx
J
+ + +
=


dimana: V keseluruhan nilai tanah kota; Fx ekspektasi; P penduduk; Y
pendapatan rata-rata; S penawaran tanah yang bersaing; Pu pusat daya tarik yang
bersaing; PI investasi pemerintah; T pajak daerah; sigma atau jumlah
keseluruhan; Oc biaya operasi; Im bunga modal yang diinvestasikan untuk
pembangunannya; Dim penyusutan pada proyek-proyek pembangunan; i tingkat
bunga; R resiko investasi; Cg kemungkinan kapital gains (hasil-hasil modal)
Wendt menentukan nilai-nilai teoritis diantara Iakta-Iakta yang mempengaruhi
keseluruhan nilai tanah dan pengaruh-pengaruh tersebut menentukan lokasi. Unsur
penerimaan dan biaya merupakan Iungsi dari macam penggunaan. Pada pemakaian di
sektor industri pelayanan akan mendasarkan unsur penerimaan pada volume penjualan
yang diharapkan di lokasi alternatiI yang dipilih dan biaya operasi pendistribusiannya.
Industri akan membandingkan penjualan produk potensial dengan biaya produksi.
Rumah tangga akan membandingkan nilai biaya dan manIaat, dibandingkan dengan
berbagai lokasi alternatiI. Membandingkan biaya ommuting, pajak, biaya
pembangunan, dan sebagainya.

4.2.5. Model $tevens

Model Harbert Stevens (inear Programming Model) ini memperlihatkan
bagaimana lokasi perumahan disebarkan di suatu wilayah hunian dalam hubungannya
dengan usaha memaksimalkan kepuasan dan jumlah sewa yang dikeluarkan rumah
tangga. Dasar asumsi yang dibuat di sini adalah, bahwa setiap orang ingin mencoba
memenuhi kebutuhannya dan dikaitkan dengan biaya-biaya yang diperlukan untuk
berbagai kebutuhan pada lokasi tersebut, serta anggaran rumah tangga yang tersedia.
Diasumsikan orang-orang memiliki pengetahuan yang cukup tentang disain lokasi yang
optimal untuk rumah tangga berdasarkan kelompok pendapatan yang berbeda-beda.
Diharapkan pula, bahwa disain (rencana) tersebut memperhitungkan daya tampung pada
masing-masing lokasi. Harbert Stevens mendasarkan modelnya kepada 4 Iaktor, yaitu:
(1) jenis rumah; (2) derajat kedekatan (Amenity); (3) Preferency aksesibilitas; dan (4)
ukuran tempat tinggal.
Kesulitan yang kemudian timbul dalam penerapan model ini adalah: (a)
bagaimana mengetahui secara sempurna sejumlah preIerensi (keuntungan/kemudahan)
untuk Iaktor-Iaktor lokasi tersebut. Faktor-Iaktor tersebut harus dihimpun dari berbagai
61
penelitian berdasarkan sampel-sampel dengan memperhitungkan tingkat pendapatan
penduduk yang berbeda-beda, kedekatan, sarana-sarana yang berbeda, ukuran tempat
tinggal yang berbeda dan sebagainya; (b) bila model ini digunakan untuk tujuan
prediksi, diasumsikan pula tidak terjadi perubahan selera.

4.2.6. Model Lowrey

Asumsi pokok model Lowrey adalah bahwa lokasi kegiatan sudah given dan
tingkat kegiatan eknomi ditentukan oleh Iaktor-Iaktor yang bersiIat eksogen. Distribusi
perumahan secara relatiI ditentukan oleh pusat-pusat pekerjaan. Ukurannya adalah
distribusi trayek yang ada (Tri5 Distribution ndicies), berdasarkan studi transportasi
wilayah. Dia mengembangkan 13 zona kompleks perumahan, yang untuk setiap
kelompok perumahan terdiri dari 11 cicin konsentrasi, dengan radius satu mil. Dihitung
trayek asal ke tempat bekeja (Work Tri5 riginating) yang tiba di terminal sebelah
luarnya (batas/lingkaran tetangga).
Di sini diasumsikan adanya keseimbangan kesempatan kerja antar zona yang
digambarkan dalam bentuk lingkaran-lingkaran. Penelitian tentang kondisi yang ada
untuk berbagai studi bertujuan untuk memperkirakan kesempatan kerja pada masing-
masing lokasi kerja dan ini penting sekali. Lowrey juga membuat model kedua yaitu
menghitung kamapanan terhadap padagang-padagang eceran sebagai dampak trayek
yang ada tersebut. Jadi populasi terhadap pedagang eceran dapat diperkirakan dan juga
terhadap jenis-jenis pelayanan lainnya.

4.2.7. Model Artle

Artle memperkenalkan dua model operasional untuk memperkirakan distribusi
spasial, yaitu: (1) Model Pendapatan Potensial (ncome Potential Model); (2) Model
Regresi (Regression Model)

4.12.7.1 Model Pendapatan Potensial

Model ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat kemampuan berbagai jenis
pelayanan, misalnya toko-toko eceran di dalam sebuah kota. Mencoba membagi kota ke
dalam bagian-bagian persegi empat (zona-zona) yang seimbang. Asumsi dasarnya
adalah bahwa pendapatan keluarga pada setiap zona memiliki potensi pengaruh pada
zona yang lain dan pengaruh tersebut menurun bila jaraknya bertambah.

Rumusnya:
dif
f Gif
iJf
*
=

dimana: Gij sebuah konstanta ; Yj pendapatan kelurga-keluarga segi empat i, j; dij
jarak antara segi empat i dan j, yaitu jarak antara pusat zona i dan zona j; n
jumlah segi empat
Artle meneliti kondisi yang ada dengan maksud dapat memperkirakan
pengeluaran pada setiap pelayanan berdasarkan data input-output yang dikaitkan dengan
potensi pendapatan agregatiI (ncome Potential Aggregate) masing-masing zona. Hasil
perhitungan tersebut diunakan untuk memperkirakan penawaran pelayanan yang dipilih/
diberikan masing-masing zona, sehingga ada keterpaduan antara zona yang satu dengan
62
zona yang lain. Biaya variabel rata-rata (AVC) pelayanan tertentu sama di setiap zona.
Lokasi perumahan dapat dipakai sebagai basis perhitungan potensi pendapatan.
Perbedaan sewa yang tinggi di antara zona dapat diabaikan. Model ini memerlukan data
yang banyak. Jika sulit memperoleh data, maka Artle mengusulkan model regresi
sederhana.

4.12.7.2 Model Regresi Sederhana

Model Regresi Sederhana Artle bertolak dari ukuran rumah tangga, ukuran
tempat tinggal, dan pekerjaan penduduk sebagai variabel bebas yang mempengaruhi
jumlah bentukan pelayanan di setiap zona.
Rumusnya:
N a bPr cPw Z
Dimana: N jumlah pelayanan yang didirikan setiap zona; Pr ukuran tempat
tinggal penduduk setiap zona; Pw ukuran pekerjaan penduduk tiap zona; a, b, c
konstanta-konstanta; z besaran sisa
Model ini masih dapat dikembangkan lagi dengan memperhitungkan tingkat
sewa pada masing-masing zona dan biaya transpornya. Implikasi kedua model tersebut
sangat berbeda. Model pendapatan potensial mengasumsikan bahwa tidak ada batas
antar zona. Sedangkan pada model regresi trayek antar zona dapat diabaikan.

4.3. Keterkaitan Wilayah
Keterkaitan wilayah dalam ajaran teori ekonomi regional merupakan Iaktor
penting. Sebagai contoh, dalam kasus pembangunan Appalachia di Amerika Serikat,
dimana 77 dari anggaran biaya pembangunan yang disediakan oleh pemerintah untuk
wilayah tersebut digunakan untuk membangun jaringan jalan raya. Dalam hal
keterkaitan wilayah ini berkaitan dengan keterkaitan wilayah tersebut ke luar
(nterregional onnections) dan keterkaitan antar sub-subwilayah yang bersangkutan
(ntraregional onnections). Melalui peningkatan keterkaitan tersebut diharapkan
permasalahan surplus dan deIisit produksi diantara wilayah-wilayah atau subwilayah
menjadi terpecahkan.
Di dalam sejarah perkembangan ekonomi makro keterkaitan wilayah ini telah
menjadi dasar bagi berkembangnya perdagangan yang saling menguntungkan baik antar
wilayah maupun diantara sub-sub wilayah sendiri, baik yang disebabkan oleh adanya
Iaktor perbedaan yang bersiIat mutlak ataupun perbedaan yang bersiIat relatiI, seperti
perbedaan sumberdaya, biaya dan keuntungan (Absolute Advantage maupun
om5arative Advantage).
Perdagangan menumbuhsuburkan unit-unit usaha mencapai puncak-puncak
spesialisasi, eIisiensi dan manIaat ekonominya, dimana sumber daya serta teknologi
yang digunakan diasumsikan tidak berubah. Semua pihak akan dapat mengambil
manIaat, dapat mengkonsumsikan barang-barang dan jasa yang lebih meningkat. Dari
aspek spasial, pada tahap pengembangan perdagangan, melahirkan kota-kota yang
eIisien. Melalui seleksi tumbuhnya industri barang dan jasa, wilayah perkotaan
mendorong peningkatan eIisien penggunaan sumber daya dan peningkatan produktivitas
tenaga kerja.
Sebagai contoh dapat dikemukan apa yang terjadi di Amerika Serikat pada awal
abad ke-20. Menurut Samuelson (1980), pada awal abad ke-20 kota-kota di Amerika
63
Serikat tumbuh dengan pesat dan urbanisasi dipandang sebagai suatu proses yang saling
menguntungkan. Namun pada sekitar pertengahan abad ke-20 arus urbanisasi sudah
dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, terutama sekali dalam pandangan
pemerintah-pemerintah kota. Tingkat penghidupan di wilayah perkotaan tidak lagi dapat
mempertahankan lingkungan yang indah dan sehat. Biaya pengadaan perumahan-
perumahan umum membengkak dan subsidinya menjadi membengkak pula. Pemerintah
kemudian mencoba memecahkan masalah ini pada akar penyebabnya yaitu kurangnya
perhatian pada kehidupan pedesaan di masa lalu. Pemerintah membuat kebijaksanaan
untuk membangun sektor pertanian melalui andreform dan Research pertanian oleh
universitas-universitas. Kebijaksanaan itu berhasil meningkatkan produksi sektor
pertanian tetapi belum berhasil memperbaiki taraI hidup di wilayah pedesaan. Oleh
karena produksi yang melimpah, elastisitas permintaan produk yang inelastis,
kesejahteraan petani justru merosot. Langkah lebih lanjut pemerintah mengembangkan
sistem pemasaran produk-produk pertanian. Beban subsidi kepada kota-kota yang
menjebak angaran pemerintah kemudian berhasil dikendalikan. Dalam pada itu pada sisi
yang lain muncul pula gagasan untuk mengurangi arus urbanisasi ke kota-kota besar
yang tidak eIisien lagi, yang ditulis oleh Dennis A Rondenelly. Rondenelly
menganjurkan agar di kota-kota sedang (sekunder) dibangun Iasilitas-Iasilitas yang
lebih baik dan lokasi industri didorong ke kota-kota sekunder tersebut. Dengan
demikian diperkirakan arus urbanisasi akan terbelokkan ke kota-kota yang berpenduduk
antara 100.000 sampai 300.000 jiwa.
Hasil stusi di banyak negara berkembang menunjukkan bahwa pertumbuhan
pusat-pusat metropolitan yang besar selalu menghasilkan Backwash Effect kepada
wilayah sekelilingnya. Tricklingdown Effect yang diharapkan tidak terbukti, dan
modernisasi kota gagal meningkatkan kesejahteraan golongan miskin, khususnya
mereka yang berada di pedesaan. Keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi telah
menyedot pendapatan wilayah pedesaan (a5ital flight from rurals to urbans) terbukti
sebagai suatu kenyataan.
Dikatakan pula bahwa rencana-rencana pembangunan di negara-negara yang
sedang berkembang, yang dimulai sekitar tahun 1970-an telah melupakan kebijakan-
kebijakan yang bertujuan mengurangi kemiskinan melalui perencanaan tingkat
pertumbuhan regional yang wajar dan tidak berusaha menghindari tumbuhnya wilayah-
wilayah konsentrasi penduduk yang besar tersebut. Padahal sejak tahun 1950-an
keseimbangan penduduk antara wilayah perkotaan dan pedesaan telah berada pada
kondisi yang tidak menguntungkan bagi negara-negara yang sedang berkembang itu
sendiri, dimana rata-rata pertumbuhan penduduk kota mereka mencapai 4 pertahun.
Pada tahun 1978 lembaga DemograIi Amerika Serikat pernah mengadakan
penelitian terhadap 116 negara yang kesimpulannya terbukti bahwa pada umumnya
pemerintah negara-negara berkembang tidak puas dengan tata ruang penyebaran
penduduknya (yaitu 68 menyatakan sangat tidak puas dan 42 menyatakan setengah
tidak puas).
Didorong oleh pernyataan tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia
dan Amerika Serikat berusaha mendorong usaha-usaha peningkatan peranan kota-kota
sekunder, karena diperkirakan bahwa negara-negara sedang berkembang akan memiliki
lebih banyak kota-kota metropolitan dengan penduduknya jauh lebih besar
dibandingkan penduduk kota metropolitan di negara-negara maju sendiri. Diperkirakan
61 kota metropolitan akan tumbuh di negara-negara sedang berkembang pada tahun
64
1990-an. Padahal di lain pihak negara-negara yang sedang berkembang sangat terbatas
dalam kemapuannya untuk memelihara kondisi kota yang layak.
Untuk membantu memecahkan masalah tersebut ditawarkan empat gagasan
kepada para perencana di negara-negara sedang berkembang, yaitu: (1) Mengurangi
kesenjangan antar wilayah melalui rencana pengembangan kota sekunder, melalui
penyebaran manIaat urbanisasi yang lebih kecil dan tersebar. (2) Mendorong
perkembangan ekonomi pedesaan melalui rencana pengembangan kota sekunder dalam
bentuk usaha memberikan pelayanan dan pemasaran barang-barang pertanian untuk
mendorong penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak di sektor pertanian. (3)
Mengusahakan peningkatan kapasitas administrasi untuk kota-kota sekunder. Dalam
rangka mengorganisir pelayanan pertumbuhan produksi yang lebih eIisien, dan
menangani proses desentralisasi bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
wilayah. (4) Berbarengan dengan usaha-usaha tersebut dilakukan pula pengurangan
tingkat kemiskinan di kota yang telah terlanjur membesar dengan cara meningkatkan
produktivitas tenaga kerja melalui pengorganisasian masyarakat perkotaan.
Pada akhir uraian tersebut diakui pula bahwa perkembangan pembangunan
regional di negara-negara yang sedang berkembang masih belum baik.

4.4. Pembangunan Wilayah di Negara-Negara A$EAN
Menurut Prantilla (1981), dari enam negara-negara ASEAN (pada waktu itu)
empat diantaranya telah memasukkan pembangunan regional ke dalam rencana
pembangunan nasionalnya, yaitu Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia. Keempat
negara ini memiliki bentuk dan bobot permasalahan yang berbeda, potensi sumber daya
yang berbeda, kondisi geograIis yang berbeda, posisi strategis yang tidak persis sama,
dan kebijaksanaan yang berbeda termasuk dalam hal sistem perwilayahannya. Ternyata
Malaysia relatiI kecil permasalahan disparitas interregionalnya dan memiliki
pendapatan perkapita yang paling tinggi diantara keempat negara tersebut. Malaysia
tidak membuat perwilayahan pembangunan, mereka membagi wilayah-wilayahnya
berdasarkan negara-negara bagian yang sembilan, perencanaan regional terkonsentrasi
ke pusat. Thailand membagi wilayah nasionalnya kepada empat wilayah pembangunan,
dengan main sektornya hanya pertanian, khususnya beras. Sedangkan Philipina
membagi wilayah nasionalnya atas 12 regions, dan satu diantaranya adalah region
metropolitan Manila. Regionalisasi di Philipina dibuat dengan jelas dimana
pengorganisasiannya oleh lembaga-lembaga perencanaan disesuaikan dengan
kebijaksanaan regionalisasi.
Di Indonesia, selama periode Repelita-I, belum begitu berdasar regionalisasinya,
akan tetapi dinilai sangat menonjol pembangunannya karena ditunjang sumber daya
pertambangan seperti minyak bumi, gas alam dan sebagainya. Telah diperkenalkan
empat Wilayah Pembangunan Utama (WPU) pada Repelita II, dan berkembang mejadi
lima WPU sejak Repelita III, yang menurut Prantilla regionalisasi di Indonesia tidak
memiliki alasan-alasan ekonomi yang cukup kuat, hanya sekedar menentukan pusat
pertumbuhan di samping Jakarta. Belum begitu terlihat adanya siIat-siIat
(characteristics) dari masingmasing wilayah yang spesiIik, baik dilihat dari kandungan
sumber daya alam (Natural Resources) maupun dari segi penduduk (uman Resources)
sehingga tidak mudah dipilih main sector alternatiI untuk dikembangkan dan dikaitkan
dengan pasar domestik dan dunia dalam suatu keterkaitan yang saling membutuhkan
dan eIisien, atau adanya manIaat om5arative ost atau oo5erative Advantage.
65
Pembagian lima wilayah dan pusat pertumbuhan tersebut belum memperlihatkan
adanya alasan-alasan teoritis maupun praktis yang dapat memberikan manIaat kepada
pembangunan daerah ataupun nasional untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi
yang lebih tinggi dan pemerataan diantara daerah-daerah, untuk memperluas
kesempatan kerja di wilayah-wilayah kekurangan lapangan pekerjaan, untuk
memperkokoh kestabilan ekonomi nasional jangka panjang, dan untuk memeratakan
kegiatan ekonomi ke seluruh pelosok tanah air.
66
BAB V
$TRUKTUR TATA RUANG KOTA

5.. Pendahuluan
Bab ini akan memusatkan perhatian kepada teori ekonomi di dalam struktur tata
ruang kota. Bagaimana susunan tata ruang kota, baik kota besar ataupun kota kecil,
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi. Pengaruh kekuatan-kekuatan ekonomi
tersebut jelas terlihat pada waktu mendiskusikan Iaktor-Iaktor minimalisasi biaya dan
aksessibilitas. Masalah ini memang perlu didiskusikan, untuk mendapatkan pengertian
konprehensiI tentang struktur kota-kota modern, membatasi asumsi-asumsi pasar bebas,
dan mengkaji berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah, berkenaan dengan
perencanaan kota dan pelayanan umum. Sarjana ekonomi sendiri tidak mungkin mampu
memberikan semua jawaban yang lenkap terhadap problema yang seperti itu, di sini
diperlukan analisis yang bersiIat lintas spesialisasi ilmu (nterdisi5liner).

5.2. Minimalisasi Biaya Ruang
Bertolak dari prinsip-prinsip dan siIat-siIat dari bagian-bagian ruang kota yang
berbeda, telah mendorong lahirnya usaha untuk mengendalikan struktur tata ruang kota,
meminimalisasi biaya dari bagian-bagian kota tersebut, diterima secara umum, serta
lazim dilakukan secara sistimatis oleh pemerintah. Pertama kali deIinisi ini dibuat oleh
R.M. Haig (1920-an), kemudian dilanjutkan oleh Dorau dan Hinman, Ely dan
Wehrwein, RoteliII, dan terakhir oleh Gutenberg dengan berbagai modiIikasi. Bagian
pokok dari teori tersebut adalah dimana 'Organisasi kota menggambarkan apa yang
dilakukan oleh rumahtangga - rumahtangga dan perusahaan-perusahaan, atau yang
disebut 'bagian-bagian ruang Friction of S5ace).
Biaya transportasi merupakan salah satu unsur biaya dari bagian-bagian ruang
tersebut. Transportasi merupakan suatu alat pemecah bagi terbagi-baginya ruang kota,
dan jaringan transportasi yang lebih eIisien membuat biaya transpor lebih rendah dan
ruang-ruang kota akan menjadi kurang terpecah-pecah kepada bagian-bagian kota, dan
lebih mudah terintegrasi satu sama lain. Sewa lahan diperhitungkan ke dalam biaya
masing-masing bagian ruang kota, dan dengan demikian dapat diperoleh manIaat dari
biaya transpor (Trans5ort ost Saving). Haig melanjutkan pikiran-pikiran maju
R.M.Hurd. Studi R.M.Hurd yang meliputi 50 kota di Amerika Serikat, dan memasukkan
analisis von Thunen, yang dikenal dengan analisis model pertanian (Agricultural
Model), sebagai awal dari perluasan model analisis nilai lahan untuk konteks perkotaan.
Hurd menyimpulkan bahwa nilai lahan tergantung pada kedekatan (Proximity).
Sedangkan von Thunen mengatakan bahwa sewa lahan akan semakin tinggi jika lahan
tersebut semakin dekat dengan pusat kota, karena alat pemuas (Iasilitas) yang paling
banyak hanya dapat diperoleh di pusat kota, oleh karena dari bagian-bagian ruang kota
(Friction of S5ace) pusat kota lebih menguntungkan dalam hal tenaga kerja dan waktu.
'Biaya dari bagian-bagian kota meliputi: (a) biaya transpor, dan (b) sewa
tempat (dalam hal ini merupakan pengurangan dari biaya transpor juga), artinya sewa
(r) maka biaya transpor (T)+. Sumbangan Haig dalam teori ekonomi tata ruang kota
ini adalah menghubungkan kedua unsur biaya tersebut secara tegas. Bagaimanapun
jumlah dari kedua unsur biaya tersebut tidak dilihat sebagai sesuatu yang tetap
(onstant). Artinya, berbeda lokasi berbeda pula unsur-unsur biaya tersebut. Di dalam
67
teori lokasi optimal untuk suatu kegiatan, biaya dipengaruhi oleh tingkat aksessibilitas.
Tata letak kota ditentukan oleh prinsip-prinsip di atas. Jadi, bertolak dari logika bebas
tentang balas jasa, pasar tanah perkotaan merupakan pegangan di dalam cara mengelola
ruang, atau biaya bagian-bagian ruang yang dihasilkan oleh keseluhan sewa tanah
minimum dan biaya transpor kota. Bagaimana biaya-biaya harus diminimalkan,
termasuk pengurangan Iaktot-Iaktor yang dapat mengurangi kegunaan (Disutility)
perjalanan. Perbaikan-perbaikan ini menjadikan hipotesis lebih realistis, tetapi ada
kelemahan dilihat dari sudut kemampuan pelaksanaan, dikarenakan sebagian besar
masalah-masalah yang dimasukkan ke dalam penentuan nilai untuk suatu jangka waktu
yang amat pendek (A Momentary Term) menjadi rendah kegunaannya.
Berdasarkan Iormulasi semula, teori tersebut mengandung sejumlah kelemahan.
Haig tidak menjelaskan bagaimana meminimalisasi biaya bagian-bagian ruang kota oleh
rumah tangga atau perusahaan untuk minimalisasi biaya-biaya agregat di seluruh kota.
Apabila potensi penerimaan (Revenue) berbeda-beda di satu tempat dengan tempat yang
lain, dan tujuan perusahaan memaksimalisasi laba, biaya dari bagian-bagian ruang kota
akan merupakan salah satu dari sekian banyak unsur biaya yang harus dikalkulasi dalam
pendekatan biaya dan penerimaan di setiap lokasi. Jadi hipotesis tersebut lebih mungkin
diterapkan pada industri-industri pengolahan di dalam persaingan sempurna daripada
sebuah toko eceran. Minimalisasi biaya dari bagian-bagian ruang kota hanya sebagai
sebuah ukuran lokasi kerja di dalam kasus yang istimewa dimana penerimaan-
penerimaan dan biaya-biaya yang lain semuanya konstan. Hipotesis tersebut juga
kurang menjabarkan perilaku rumahtangga-rumahtangga dalam mencapai kepuasan.
Biasanya rumahtangga memilih tempat untuk memaksimalkan kepuasan mereka
dibandingkan dengan meminimalkan biaya bagian-bagian ruang kota. Sebuah
rumahtangga dapat menekan unsur sewa dari biaya-biaya bagian ruang dengan memilih
ukuran rumah yang lebih kecil. Apabila pilihan-pilihan untuk ukuran tempat tidak
diikutsertakan, dan biaya-biaya bagian ruang kota menjadi satu-satunya penentu lokasi
perumahan, maka perumahan akan cenderung berjarak sangat jauh dari pusat kota.
Menurut Haig prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan pada perencanaan kota.
Fungsi perencana kota adalah menyeimbangi akibat-akibat dari ketidakbebasan pasar,
yang dapat meningkatkan biaya dari bagian-bagian ruang kota, dengan merencanakan
biaya bagian-bagian ruang tersebut menjadi minimum. Tetapi benarkah asumsi-asumsi
pasar bebas dan inIormasi yang lengkap tersebut pasti terjadi, dimana hasil akhirnya
biaya-biaya dari bagian wilayah tata ruang secara keseluruhan menjadi minimum?
Hanya sedikit contoh kasus yang memperlihatkan bahwa ini salah. Jika tuan
tanah telah memiliki pengetahuan menyeluruh ia mungkin akan menetapkan sewa tanah
yang lebih rendah daripada menetapkannya sesuai dengan prosedur pasar bebas, harga
tanah menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditentukan dengan
mekanisme pasar bebas. Ini karena para penawar cenderung berkurang dengan semakin
jauh lokasi lahan dari pusat kota, dan ini diatur di dalam sistem pasar tersebut. Pada sisi
lain, harga-harga akan cenderung diturunkan pada bagian-bagian ruang kota dimana
zona tersebut tidak jadi diusahakan, atau dibatalkan pengusahaannya. Biaya keseluruhan
bagian-bagian ruang kota dapat dinaikkan atau diturunkan tergantung pada elastisitas
harga permintaannya. Suatu pengaturan lokasi yang maksimum di seluruh kota pasti
akan menurunkan biaya dari bagian-bagian tata ruang kota. Akhirnya, akibat dari
perbedaan-perbedaan pada tingkat penyesuaian dapat mengubah keadaan dan dapat juga
memberi akibat pada biaya dari bagaian-bagian ruang kota. Sebagai misal, apabila A
adalah seorang penawar yang lebih tinggi untuk suatu lokasi tertentu, tetapi lokasi ini
68
pernah ditingalkan B sebagai pengontrak lama, A mungkin membandingkannya dengan
beberapa lokasi yang lain. Si A membuat pilihan diantara lokasi yang dekat atau yang
jauh dari pusat kota, antara kapling kecil atau besar, dan pilihannya itu dipengaruhi
oleh biaya-biaya pada bagian-bagian ruang masing-masing. Misalkan biaya dari bagian-
bagian ruang yang dipilih A tersebut lebih besar dari lokasi yang dikuasai B. Kemudian
biaya pemeliharaan bagian ruang si A tersebut lebih besar dari yang dikeluarkan si B.
Apabila biaya bagian ruang A dikeluarkan lebih besar maka itu berarti menambah
keuntungan (Saving) bagi si B. Si B membayar sewa lebih rendah dan si A akan
berkeinginan untuk membayar lebih rendah dari nilai kontrak tersebut.
Biaya dari bagian-bagian ruang secara agregat biasanya cenderung turun dari
pada naik. Apabila tekanan biaya tersebut sampai kepada batas minimumnya, hipotesis
minimalisasi biaya-biaya dari bagian ruang tersebut akan diletakkan kepada situasi-
situasi yang luar biasa. Sebagai contoh, seorang perencana kota menargetkan
minimalisasi biaya tersebut sendiri seperti memadatkan rumah-rumah yang dibangun
pada kepadatan Iisik yang maksimum di sekitar pusat kota dan membuat peraturan-
peraturan yang menakutkan semua industri konstruksi dan perdagangan, dengan
demikian menurunkan biaya bagian-bagian ruang di sektor ini hingga nol. Akan tetapi
akankah suatu bentuk ruang yang seperti ini sesuai dengan perilaku maksimalisasi
kepuasan individual? Prinsip minimalisasi biaya bagian-bagian ruang mungkin
merupakan suatu unsur penting di dalam penjelasan struktur tata ruang sebuah kota.

5.3 Lingkungan Kota
Lingkungan kota juga merupakan suatu pendekatan hipotesis dari biaya-biaya
minimum suatu bagian ruang kota, disesuaikan untuk mengangkat biaya-biaya variabel
non-ekonomi, seperti misalnya nilai tanah. Rumusan-rumusan distribusi ekologi dan
unit-unit pasar cenderung menjadi sedemikian rupa, dimana biaya total dari perolehan-
perolehan kepuasan maksimum diminimalisir. Biaya tersebut telah tertera dalam suatu
daItar, termasuk semua jenis kehilangan kegunaan (Disutility) seperti halnya biaya
ekonomi dan lain-lain bentuk biaya. Jelasnya, karena kehilangan kegunaan tidak dapat
diukur dalam terminilogi moneter, maka hipotesis dalam bentuk ini tidak dapat diuji.
Suatu pembatasan kembali apa yang disebut terakhir dari teori minimalisasi
biaya dari bagian-bagian ruang kota telah pernah dicoba oleh Guttenberg, tetapi dia
menekankan pada pentingnya eIisiensi transportasi di dalam penentuan struktur tata
ruang sebuah kota, dan rumusan-rumusan model ini disajikan dalam terminilogi yang
dinamis. Dia melihat prinsip pengorganisasian adalah 'suatu upaya masyarakat dalam
mengatasi jarak. Guttenberg membagi kemungkinan lokasi kegiatan kota ke dalam dua
bagian, yaitu: bagian yang Iasilitasnya disebarkan ke seluruh kota 'penyebaran Iasilitas-
Iasilitas, dan bagian yang Iasilitasnya dipusatkan lebih banyak pada satu pusat tertentu
'pemusatan Iasilitas-Iasilitas. Tingkat campur tangan pemerintah pada disebarkan atau
tidak disebarkannya Iasilitas-Iasilitas tersebut tergantung pada eIisiensi sistem
transportasi. Biaya transpor adalah penentu utama tingkat biaya bagian-bagian ruang
kota, oleh karena itu suatu sistem transpor yang eIisien sama dengan keberhasilan usaha
masyarakat mengatasi jarak, dan memungkinkan suatu struktur kegiatan yang terpusat.
Sebaliknya apabila transportasi terbatas, tempat-tempat kerja, pusat-pusat pelayanan,
lembaga-lembaga perdagangan dan pemerintah dapat diasumsikan mengikuti suatu pola
yang tersebar. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam eIisiensi tranportasi akan
69
merubah pola struktur tata ruang oleh substitusi perizinan antara lokasi ruang pinggir
(Peri5hery) dengan lokasi pusat (Centre).

5.4 Perilaku Konsumen $ecara $patial dan Lokasi Perdagangan Eceran
Menurut H.W Richardson, dengan berpedoman pada kegiatan toko eceran dapat
diperluas generalisasi-generalisasi empiris tentang struktur tata ruang kota, khususnya di
dalam konteks sebuah wilayah metropolitan. Penjualan perkapita lebih tinggi di pusat
kota dibandingkan dengan di zona-zona (bagian-bagian) kota lainnya. Di luar sebuah
radius dengan jarak > 20 mil penjualan perkapita akan mulai meningkat lagi, sebagai
reIleksi dari pengaruh pusat perkotaan lainnya. Pola ini menggambarkan kekuatan kota
besar yang cenderung menarik para pembeli dari zona-zona tetangga. Bagaimanapun
jarak yang lebih besar memecah tata ruang kepada zona-zona yang lebih kecil, trayek-
trayek yang lebih jauh ke pusat kota akan berIungsi sebagai penyekat untuk melindungi
pusat-pusat lain dari persaingannya dengan pusat kota. Oleh karena itu Iaktor jarak
memastikan penjualan yang lebih tinggi untuk zona-zona pinggiran kota, dan untuk
kota-kota kecil yang tersebar, serta kota-kota besar dimana jarak trayek dari kota-kota
besar tersebut ke pusat-pusat toko eceran hinterland-hinterland-nya masing-masing
cukup jauh. Hasil-hasil penelitian juga memperlihatkan berbagai kejelasan tentang
jenis-jenis jarak di dalam pengalaman individu. Pusat utama tersebut dikhususkan pada
toko-toko secara umum dan kelengkapan inIormasi dari bagian-bagian pinggiran kota
pada barang-barang tahan lama (Durable Goods) umumnya. Sedangkan pakaian,
barang-barang perhiasan, makanan, surat kabar, tembakau dan sejenisnya, biasanya
dijual lebih tersebar. Di dalam sebuah analisis konseptual, yang didasarkan pada Iaktor
jarak, disebutkan bahwa jarak akan membantu menjabarkan pola spasial yang luas pada
aktivitas perdagangan eceran.
Suatu pendekatan analisis untuk masalah yang seperti ini adalah apa yang
dikenal dengan Gravity Potential Models, satu pendekatan yang paling tua digunakan,
yang sekarang disebut model-model Gravity untuk trayek perdagangan eceran. Ini pula
yang disebut hukum Rielly tentang gravitasi perdagangan eceran (Retail Gravitation),
suatu bentuk trayek detil yang diperlihatkan oleh sebuah kota dari kebiasaan-kebiasaan
individual lokasi kota dengan wilayah hinterland-nya dalam proporsi yang sebanding
dengan ukurannya (jumlah penduduknya) dan pada inverse penduduk terhadap jarak
yang memisahkan sebuah zona rival dari pusat kota. Cakupan jarak area pasar tersebut
diantara dua pusat x dan y yang bersaing untuk penjualan di pusat-pusat perbelanjaan di
sebuah hinterland, yaitu:
Px / d
bx
2
Py / d
by
2

dimana P adalah jumlah penduduk, dan d
bx
dan d
by
adalah jarak-jarak dari pusat area
dalam bentuk segi enam dari subwilayah-subwilayah x dan y.
Hukum Reilly adalah sebuah model khusus dari model gravity yang umum.
Model tersebut adalah suatu model yang digeneralisasi, yang dapat diekspresikan di
dalam terminologi sebagai berikut:
F
it
K (A
d
u
/ d
ij

)
dimana: F
ij
Irekuensi yang diharapkan dari interaksi antara titik asal dan titik tujuan;
A Atraksi dari zona tujuan j; d
ij
jarak antara zona i dan zona j; K sebuah konstanta
u dan parameter-parameter yang eksponensial, nilai yang diperkirakan.
Di dalam konteks perdagangan eceran, bentuk interaksi potensial diantara
seorang konsumen dan sumber daya perdagangan eceran tersebut (toko secara
70
individual, dan sebagainya), sebuah pusat perbelanjaan pada sebuah wilayah perkotaan
secara langsung bervariasi dengan ukuran masing-masing sumber daya, berbanding
terbalik dengan perbedaan jaraknya dari titik-titik asal para konsumen. Sebuah model
gravity jenis ini dapat digunakan untuk menjelaskan kenyataan bahwa pusat pertokoan
yang lebih luas menarik langganan lebih banyak dibandingkan dengan pusat pertokoan
yang kecil, dan memperlihatkan bagaimana kekuatan tersebut digambarkan untuk
masing-masing pusat pertokoan dikurangi dengan Iaktor kenaikan jarak.
Nilai masing-masing model ini akan tergantung pada prediksi kekuatannya, akan
tergantung pada bagian umum model yang diterapkan, akan tergantung pada masalah
empiris seperti bagaimana mengukur A dan d, dan bagaimana memperkirakan u dan .
Ini adalah pertanyaan untuk metodologi penelitian, oleh karena itu tidak didiskusikan
lebih lanjut di sini. Meskipun, masalah metodelogi ini berpengaruh kepada semua
bagian dan permasalahannya relatiI sedikit, tetapi perlu sekali kejelasan terhadap
pertanyaan empirisnya. Bagaimana akan diukur daya tarik dari pusat kota dan apa
ukurannya? Di dalam banyak kasus digunakan ukuran penduduk, adakalanya besarnya
arus barang dan jasa. Sebagai contoh sebuah penelitian tentang pola-pola perjalanan
yang baik, seperti dijabarkan dalam bentuk koreksi jumlah penduduk suatu area
(wilayah) dengan angka pelipatannya terhadap pendapatan perkapita wilayahnya. Di
dalam mempertimbangkan daya tarik sebuah pusat pertokoan, dipergunakan volume
penjualan pertokoan tersebut sebagai sebuah indikator yang jelas. Di dalam banyak
kasus, kekuatan daya tarik dari sebuah pusat pertokoan dapat dihitung berdasarkan jarak
tertentu yang dipilihnya. Suatu ndeks dibutuhkan untuk memungkinkan sejumlah pusat
yang ada pada setiap kompleks pertokoan yang umum dibedakan dengan bobot-bobot
daya tarik untuk jenis-jenis yang berhubungan, dengan bobot-bobot yang diberikan
kepada setiap kelompok yang berdasarkan ketentuan-ketentuan umum, mendasarkannya
kepada Iaktor-Iaktor tertentu seperti halnya pengertian (Substansi) secara bebas yang
dibutuhkan pada kedekatan tertentu dengan sumber daya dan perilaku berbelanja untuk
jenis-jenis barang dan mutu barang pilihan konsumen pada setiap pengalokasian
sumberdayasumberdaya. Ukuran d dapat menghasilkan peningkatan pada sembarang
wilayah apabila pemajakan rendah, permasalahan-permasalahan relatiI sedikit. Sebagai
contoh, bagaimanakah jika dihubungkan dengan jarak Iisik, atau waktu tempuh, atau
dengan suatu ukuran jarak ekonomi (seperti biaya transpor ditambah dengan suatu nilai
moneter waktu yang terbuang di dalam perjalanan dan dari ketidaknyamanan
perjalanan)?
Umumnya yang sering mengganggu adalah pertanyaan tentang apakah nilai-nilai
tersebut akan diperlukan untuk bagian-bagian pendukungnya itu. Pangkat untuk variabel
jarak tersebut, sering sekali diasumsikan harus 1 atau 2 (seperti halnya dalam hukum
Reilly); di sana tidak ada kesimpulan yang melekat atau yang menjadi siIatnya mengapa
tersebut dipilih sebagai nilai dan pengujian-pengujian empiris yang diberikan di sini.
Sejumlah penelitian dilakukan untuk mengantisiIasi linier atau square invers
setiap bulannya yang telah dihasilkan para peneliti sebelumnya untuk Iungsi jarak.
Akhirnya, apakah suatu eksponen akan diterapkan kepada A juga perlu dasar pemikiran,
yang didasarkan pada hasil-hasil penelitian. Pada kebanyakan model tidak menerapkan
pangkat (Ex5onent) atau kadang-kadang merupakan suatu bagian dari asumsi bahwa
nilai tersebut adalah satu kesatuan. Apapun tujuan penelitian, ekonomisasi aglomerasi
(Aglomeration Economies) sangat penting, dimana variabel pangkat diterapkan untuk
menjadi sebuah Iungsi A. Ini berarti bahwa pangkat-pangkat (Exs5onents) yang
berbeda-beda akan membuat ukuran A lebih dari nilai.
71
Nilai dari model-model Gravity sebagai suatu sumbangan terhadap pengertian
perilaku konsumen secara spasial dan lokasi-lokasi pertokoan. Model ini pernah dikritik
oleh HuII. Kritik tersebut terutama adalah, bahwa konsep gravity adalah sebuah dugaan
Em5iris yang isi (ontent) teoritisnya sangat sedikit. Model Gravity memprediksi dan
melukiskan suatu pola interaksi spasial, tetapi tidak menjelaskan bagaimana pola
tersebut dibangun. Kemungkinannya, bahwa sebelum teori gravity dapat diuraikan pada
terminologi perilaku optimis, seperti pada percobaan-percobaan perorangan/masyarakat
untuk meminimalkan biaya atau memaksimalkan kegunaan/kepuasan. Tetapi sedikit
analist gravity yang mencoba menyelidiki keberadaan (existence) teori ini, seperti
misalnya penggalian keterkaitannya dengan budaya (siIat alami) dari mana dasar teori
tersebut, apabila ada pada model-model mereka. Kedua, HuII memiliki alasan bahwa
model-model gravity memiliki kekuatan prediksi yang rendah, karena di dalam
pandangannya, suatu model gravity akan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar
dari interaksi yang dapat dipilih kota.

5.3. Model Banneal Ide
Model ini merupakan sebuah model yang berbeda, yang pernah dikenalkan oleh
Banneal dan Ide. Model tersebut bertolak dari anggapan bahwa seorang konsumen akan
berbelanja pada suatu sumber lokasi apabila dia mempunyai Iungsi permintaan sebagai
berikut:
F (N,D) w p (N) v (C
d
.DC
n
\(N) C
t
)}
adalah positiI.
F (N,D) mengukur net beneIit (manIaat netto) konsumsi yang diperkirakan dari
kepergian ke suatu pusat penjualan pada sebuah sumber tertentu. Keragamannya dengan
suatu jarak tertentu dari pusat perbelanjaan dan N adalah jumlah item yang dijual pada
pasar perbelanjaan tersebut.
Biaya-biaya yang diasumsikan Cd adalah sejumlah biaya transpor yang
dianggap proporsional terhadap jarak C
n
. \(N) adalah biaya-biaya nyata yang
diasumsikan untuk berbelanja, dan C
t
adalah biaya opportunitas (55ortunity Cost )
perbelanjaan ke lokasi-lokasi lain yang mungkin dipilih sebagai alternatiI. p \(N)
Iungsi kepuasan yang mungkin. w, v bobot-bobot subjektiI yang dibutuhkan oleh
konsumsi.
Implikasi-implikasi umum maupun khusus dapat ditarik dari model ini. Jumlah
minimum dari item-item dibutuhkan untuk mempengaruhi seorang konsumen
berbelanja pada pusat perbelanjaan, akan meningkat dengan meningkatnya D.
Perbelanjaan yang memaksimalkan jarak adalah dimana perkiraan kegunaan netto
konsumen dari berbelanja pada pusat perbelanjaan adalah given sama dengan nol. Ini
dengan lokasi-lokasi kelengkapan F (N,D) 0, dan pemecahan D, Alonso (1975)
Sampai 1950-an, orang hanya mengetahui bahwa perencanaan regional
dimaksudkan sebagai pembangunan untuk pencapaian suatu pengembangan
sumberdaya-sumberdaya alam sebuah wilayah. Pada masa itu pembangunan secara
umum ditentukan oleh bendungan-bendungan, oleh pembangunan atau pengembangan
sumberdaya air untuk tujuan ganda (yaitu: tenaga listrik, irigasi, pengendalian banjir,
jalur transportasi, dan rekreasi), dan pembangunan tanah (yaitu: pengendalian pola
tanaman secara teratur, pengendalian erosi, dan membuat perkiraan-perkiraan untuk
produk-produk pertanian dan peternakan).
72
Pembangunan industri kota hanya bagian dari pembangunan ekonomi wilayah. Model
ini untuk memperbaiki atau mengembangkan sumberdaya yang dimiliki oleh suatu
wilayah. Contoh, wilayah otoritas BendunganTennese di Amerika Serikat, atau yang
dinamakan Tennessee Jalley Authority. Di Columbia Bendungan Couca (ouca
Jalley), di Ghana Bendungan Sungai Volta (Jolta River), di Swedia Bendungan
Domodar (Domodar Jalley), di Mesir Bendungan Aswan, dan di Indonesia Bendungan
Jatiluhur, dengann daerah Otoritasnya mencakup pengairan yang meliputi Karawang,
Subang, Indramayu. Luas sawah teknisnya meningkat, luas area tanamnya meningkat.
Produksi padi di wilayah tersebut meningkat. Produksi perikanan darat meningkat.
Jatiluhur juga sumber tenaga listrik, sumber air minum untuk sebagian DKI dan tempat
rekreasi bagi penduduk yang memerlukan di sekitarnya.
Pembangunan seperti itu melibatkan banyak bidang keahlian (multi disiplin),
seperti: sarjana teknik (Engineer), Sarjana Pertanian (Agronomist), Sarjana Ekonomi
(Economist), dan sarjana-sarjana administrasi, sehingga memerlukan koordinasi
terhadap berbagai aspek pembangunan yang ada di dalam satu proyek. Walter Isard
menyumbang banyak ke dalam literatur ekonomi lokasi dan analisis spasial. Menurut
Isard ada kaitan antara kegiatan ekonomi dan pemukiman di suatu wilayah spasial
secara Iisik. Wilayah-wilayah diintegrasikan dengan sarana/prasarana transportasi,
sejajar, melintang dan diagonal. Wilayah merupakan lokasi pemukiman penduduk,
lokasi sumber daya dan aktivitas. Tahun 1960, dengan diedit oleh John Friedmann dan
Willian Alonso mulai mencoba meletakkan dasar-dasar bagi disiplin Regional
Economics ini. Teori-teori ini berkembang dengan perhatian khusus untuk mencapai
kemerataan. Teori-teori lokasi dan organisasi spasial diajarkan di perguruan-perguruan
tinggi secara langsung atau tidak langsung. Pada awalnya ilmu ini dinilai sulit, tetapi
sekarang itu tidak, berpuluh-puluh bidang dan kolom matrik dapat dipecahkan oleh
komputer hanya dalam waktu sekitar 5 menit. Yang penting program apa, datanya
benar, dan tentu saja orang di belakang komputer itu sendiri berkualitas.

5.4. Perkiraan Dampak Transportasi Pada Penggunaan Lahan
5.4.. Introduction and Overview
Menurut Paul F. Wendt, para perencana and Use, sarjana-sarjana transportasi,
pengembang komplek perumahan (Real Estate), analis pasar perumahan, dan
sebagainya, tertarik dengan perkiraan pertumbuhan wilayah pertokoan dan pedesaan di
masa mendatang. Literatur menyajikan berbagai teori berbeda-beda dan canggih.
Tinjauan singkat terhadap berbagai pikiran di bidang ini dan kritik-kritik terhadap
kesimpulannya bahwa ditemukan sebagian model yang dikembangkan tidak
operasional, tidak memiliki kemampuan memperkirakan tata kerja penduduk dan
perkembangan peruntukan lahan yang cukup cepat pada luas geograIis yang terbatas.
Permasalahan menjadi lebih tidak mudah untuk wilayah pedesaan.
Tidak jarang, sebagai suatu kenyataan hidup bahwa perkiraan-perkiraan
pertumbuhan yang berkembang di masa yang akan datang tidak hanya dibutuhkan
dalam sekala besar di sektor pemerintah dan swasta, tetapi selalu dibutuhkan oleh
orang-orang dan lembaga-lembaga pemerintah. Pada umumnya perkiraan-perkiraan
pertumbuhan tersebut berdasarkan kepada kasus-kasus, proyeksi-proyeksi yang dibuat
atas dasar kombinasi perasaan (ntuition) dan pendapat (1udgment).


73
5.4.2. Teori Pertumbuhan Kota
Suatu kerangka kerja analisis yang ada di dalam sajian umum kebutuhan sektor
swasta pada pegangan pembangunan kompleks pemenuhan dan investasi memiliki
prosedur tertentu di dalam penelitian land use perkotaan. Menurut R. M. Hurd, sebagai
hasil studi akhir dari perkembangan nilai land use di lebih dari 50 kota di Amerika
Serikat, menghasilkan deskripsi klasik tentang proses pertumbuhan perkotaan dan
pengaruh-pengaruh studi Klasik R. M. Haig tentang kota New York (1927),
menjangkau 2 hal pokok penting tentang transportasi. Dua prinsip kunci dari pengaruh
transpor terhadap land use dan pertumbuhan wilayah metropolitan adalah: (a)
Persaingan di antara para pemakai lahan dan peruntukan lahan pada pematangan lahan
yang tertinggi aksesibilitasnya. (b) Akibat keuntungan relatiI kepuasan transportasi pada
pasar komplek perumahan oleh perusahaan-perusahaan dagang dan individu-individu.
Haig menyimpulkan proses pemilihan lokasi adalah sebagai berikut: 'bahwa
suatu aktivitas ekonomi pada pencarian suatu lokasi ditemukan pada kedekatan pusat
pertumbuhan; jika sewa lokasi meningkat maka transpor menurun. Jika suatu lokasi
menjauhi pusat pertumbuhan maka tingkat sewanya akan menurun dan biaya transpor
naik, tambahan jumlah dari 2 pos biaya tersebut (bagian-bagian biayanya), tidak tetap.
Homer Hoyt, di dalam suatu studi empiriknya, '1he $tructure and Crowth of
Residential Aeighborhoods untuk administrasi perumahan Federal (1939) telah
memperluas prinsip Hurd tentang pertumbuhan kota yang diidentiIikasikan sebagai
Teori Sektor. (a) Wilayah dengan perkembangan besar-besaran untuk pemukiman
cenderung dimulai dari titik given areal (Civen Point) sepanjang garis yang dimapankan
(terus berkembang) dari perjalanan pulang pergi ke inti (perdagangan). (b) Zona
wilayah bersewa tinggi cenderung berproses kepada penurunan luas daerah yang bebas
resiko banjir, dan menyebar sepanjang jalur (seperti pelabuhan, sungai dan pantai-pantai
laut, dimana batas-batas air tidak digunakan untuk industri). (c) Distrik-distrik
perumahan dengan sewa tinggi cederung mengalami penurunan dan memperluas
bagian-bagian kota yang memiliki kebebasan pengembangan sebelum lokasi
pembuangan limbah dan pekuburan, yang dibatasi oleh perbatasan alam atau
perbatasan-perbatasan buatan terhadap perluasan. (d) Wilayah-wilayah pemukiman
yang lebih tinggi harganya, cenderung menimbulkan penurunan perumahan para
pemimpin masyarakat. (d) Perkembangan pergerakan gedung-gedung kantor,
perbankan, dan pusat-pusat perbelanjaan menarik wilayah-wilayah pemukiman pada
wilayah yang memiliki harga tinggi pada pengaruh-pengaruh umum yang sama secara
langung.
Kecenderungan-kecenderungan perkembangan wilayah-wilayah pemukiman
adalah: (a) Wilayah-wilayah pemukiman kelas tinggi cederung berkembang lebih cepat
di sepanjang jalur-jalur transpor. (b) Pertumbuhan wilayah-wilayah pemukiman dengan
dipengaruhi langsung oleh sewa tinggi dan dengan intensitas yang sama dan berlanjut
sepanjang periode waktu. (c) Wilayah-wilayah perumahan mewah dengan sewa yang
tinggi cenderung tumbuh berdekatan dengan pusat perdagangan dan wilayah-wilayah
pemukiman lama. (d) Para pengembang komplek perumahan pengaruhnya dapat
mencakup pertumbuhan pemukiman tingkat tinggi.
Teori basis ekonomi (Economic Base), dilahirkan bukan oleh ahli-ahli ekonomi
geograIi, pada awal-awal bekerjanya para ahli ekonomi geograIi, lembaga-lembaga
pembangunan industri, dan para sarjana ekonomi perkotaan. Teori basis ekonomi ini
dirumuskan sebagai sebuah teknik analisis oleh Weimer dan Hoyt pada tahun 1930-an.
Langkah-langkah pada perkiraan wilayah kota dengan menggunakan metoda penduduk
74
kota adalah: (a) Perkiraan pertumbuhan pada kesempatan kerja basis, yaitu kesempatan
kerja pada sektor industri, pertanian, pertambangan dan industri pengolahan barang-
barang dan jasa-jasa yang pada umumnya diekspor dari wilayah tersebut. (b) Perkiraan
tersebut dihubungkan dengan pertumbuhan pada kesempatan kerja sektor bukan basis.
(c) Memperhitungkan jumlah penduduk di masa yang akan datang yang didasarkan
pada para pekerja tiap keluarga dan jumlah anggota keluarga.
Setelah Perang Dunia II terjadi gelombang pertumbuhan urbanisasi.
Konsekwensinya adalah meningkatnya kebutuhan trasportasi, pelayanan umum, dan
pelayanan lain-lainnya di wilayah perkotaan. Meningkatnya perhatian pada kebutuhan
penerapan teknologi pembangunan untuk wilayah-wilayah perkotaan yang sebanding
dengan perkembangan jumlah penduduknya. Pada awalnya, perhatian lembaga ilmu
pengetahuan pengaruhnya relatiI kurang eIektiI bagi pembangunan, terutama dalam
teknik memprediksi kebutuhan-kebutuhan masa depan. Teori basis ekonomi dapat
digunakan sebagai dasar memperkirakan kebutuhan masa di masa yang akan datang,
dihubungkan dengan pertumbuhan kesempatan kerja di bidang pelayanan. Hasil
prediksi dari kecenderungan-kecenderungan yang diidentiIikasi tersebut digunakan
untuk mengidentiIikasi hal-hal yang bersiIat umum yang menyangkut pertumbuhan
perkotaan di masa yang akan datang. Teori-teori yang menyangkut pengembangan
sektor perindustrian, perdagangan dan lokasi permukiman kota sarat dengan kebijakan,
dan hasil sangat terbatas, dan kebijakan-kebijakan tersebut sama sekali tidak didasarkan
pada hasil-hasil study yang bersiIat empiris. Pada hal pengembangan teknologi,
khususnya teknologi transportasi dan Iorcasting bagi perencanaan tata guna lahan (and
Use) sangat penting.

5.4.3. Model-model Land Use
Model-model land use didisain untuk suatu jangka waktu yang sangat panjang,
untuk aplikasi-aplikasi Iormulasi kebijakan-kebijakan land use untuk penggunaan
perorangan, swasta dan pemerintah. Formulasi kebijakan tersebut dapat ditentukan
dalam bentuk angka-angka matematik, sebagai gambaran hubungan antara pertumbuhan
ekonomi di suatu wilayah di masa yang akan datang dengan variabel tertentu yang
mempengaruhi aktivitas-aktivitas pembangunan dan alokasi lahan pada rencana tata
guna lahan.
Suatu penelitian (1972), yang membahas tentang pemodelan secara umum, dan
bahan dari penelitian aspek seni (Art observasi) dimana disain model kuantitatiI pola-
pola spasial pertumbuhan dan pengembangan kota menyisakan bagian-bagian yang
diubah selama dekade sebelumnya. Terutama semua model tersebut didasarkan pada
prestasi yang memuaskan dari empat tugas dasar yang saling berkaitan, yaitu: (1)
proyeksi komposisi tenaga kerja industri wilayah, (2) jumlah angkatan kerja dan lain-
lain input yang diperlukan, (3) alokasi spasial tenaga kerja di wilayah tersebut, dan (4)
distribusi spasial penduduk dan rumah tangga di wilayah tersebut.
Masalah tersebut penting diteliti dimana perkembangan model tidak lagi sebagai
hasil pengembangan teori basis ekonomi; pertumbuhan kota, atau pertumbuhan lokasi-
lokasi perdagangan dan pemukiman. Tujuan tersebut dapat dilukiskan lebih tepat
sebagai mencoba untuk mengintegrasikan pengetahuan yang sedang berlaku dan teknik
dari sejumlah proIesi untuk tujuan peramalan (Iorecasting) penduduk, kesempatan kerja,
pendapatan, struktur-struktur industri dan kebutuhan perumahan wilayah. Yang menarik
bagi mereka yaitu bahwa model-model tersebut memerlukan input-input data
komputer, yang menyangkut: perjalanan konsumen, perilaku pusat perbelanjaan,
75
perindustrian, keputusan-keputusan pengalokasian perdangangan, semua asumsi penting
yang menarik bagi kebijaksanaan pemerintah, perumahan, investasi pemerintah,
transportasi, dan land use.
Tidak masuk akal, bahwa pemecahan masalah secara empiris dapat dilakukan
tanpa bisa mengukur nilai dari variabel-variabel yang ada pada model teori yang
digunakan. Tugas tersebut terlalu berat dan sulit dilaksanakan, karena kenyataannya
pemakai-pemakai potensial dari hasil-hasil produksi pada awal masa pemodelan
diperkirakan begitu banyak. Di dalam banyak kasus, dorongan dari lembaga-lembaga
perencanaan pada Iase-Iase awal pemodelan tertarik pada perencanaan yang tepat, atau
pada suatu alat perencanaan yang diasumsikan dapat dipergunakan untuk meramalkan
dampak dari kebijakan transportasi yang bermacam-macam, dan kebijaksanaan-
kebijakan pemerintah di sektor lainnya .
Lebih lanjut, para karyawan perencanaan ragu dengan hasil dari sebuah model
yang dipakai sebagai dasar untuk meniru kekuatan-kekuatan pasar di dalam
pembangunan tata guna lahan di masa yang akan datang, tanpa menyamakan masa
berlakunya kerangka kebijaksanaan dengan masa mengoperasikan alat tersebut. Kotak
hitam misterius terebut yang membuat ramalan-ramalan pertumbuhan ekonomi masa
yang akan datang dan pengembangan komplek perumahan tanpa alasan-alasan yang
kuat, telah meningkatkan keraguan. Meskipun dengan keterbatasan-keterbatasan seperti
yang disebut di atas dan sebelum mesin itu diperkenalkan secara penuh, banyak proyek
pemodelan tata guna lahan dalam sekala besar diajukan sebagai bagian biaya dan
dengan tingkatan keberhasilan yang bermacam-macam.
Sebuah penelitian terbaru untuk Departemen Transportasi AS membanggakan
lebih dari 60 judul buku atau artikel yang dipublikasikan pada dekade yang lalu yang
melukiskan dan mengevaluasi model-model tata guna lahan perkotaan, dan lima volume
kepustakaan, literatur dipublikasikan di lapangan sebagai Progres Sistem Lingkungan
Wilayah di Oak Redge National Laboratory yang meliputi lebih dari 5000 bagian.
Perkembangbiakan usaha-usaha pemodelan dan literatur di dalam tahun-tahun
terakhir tidak diletakkan pada pengupasan secara kritis dan mengevaluasi penilaian para
ahli negara bagian. Suatu survei yang mensporsori usaha-usaha permodelan oleh
pemerintah dilakukan oleh Panitia. Model-model peramalan untuk perencanaan tersebut
juga dihasilkan oleh ahli-ahli di Universitas-universitas dan diseleksi Yayasan Ilmu
Pengetahuan Nasional.
Douglas B. Lee Jr, dalam artikel yang terakhir dengan judul 'Requien Ior Large-
Scale Model`s selanjutnya disebutkan sebagai tujuh model sain skala besar, yaitu: (1)
1). Hypercomprehensiveness, (2) Grossness, (3) Hungriness, (4) Wrongheadedness, (5)
Complicatedness, (6) Mechanicalness, dan (7) Expensiveness. Kesimpulan Lee tentang
gagasan suatu model and Uses terkait dengan operasional perencanaan transportasi.
Rekomendasinya: (a) Suatu keseimbangan perlu diperiksa di antara teori, keobyektiIan
dan lembaga, (b) Sebuah model memusatkan pada sebuah masalah kebijaksanaan dan
tidak pada sebuah metodologi, (c) Sebuah model harus simpel, (d) Medel harus dapat
dimengerti oleh setiap calon pemakai.
Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan dari usaha-usaha pemodelan
terdahulu didasarkan pada mengembangkan suatu kerangka kerja untuk suatu model tata
guna lahan, perencanaan transportasi untuk dipergunakan di negara bagian Norwegia.
Pemilihan momen tersebut, metetapkan banyak kelemahan-kelemahan model-model
tata guna lahan. Pertama, tidak ada teknik alternatiI untuk menghadirkan model-model
tata guna lahan untuk mengintegrasikan kekuatan-kekuatan permintaan yang komplek,
76
pengaruh perkembangan permintaan dan penawaran lahan di masa yang akan datang,
alasan-alasan dibatasi oleh kebijaksanaan pemerintah yang akan saling mempengaruhi
satu sama lain, Ileksibel, kerangka kerja berulang (teratif). Kedua, suatu model
simulasi mesin hitung untuk perkembangan tata guna lahan di masa yang akan datang
memerlukan asumsi-asumsi bagi setiap perhatian khusus untuk setiap variabel yang
mungkin diidentiIikasi berpengaruh pada perkembangan tata guna lahan. Ketiga, teknik-
teknik programing mesin hitung dibangun untuk model simulasi tata guna lahan
berdasarkan perkiraan eIisiensi dari sensitivitas output dari model-model tersebut untuk
perubahan-perubahan di dalam variabel lapangan kerja, seperti yang dilukiskan di
dalam berbagai parameter pengaruh variabel-variabel. Keem5at, disiplin intelektual
diasosiasikan dengan penggunaan model simulasi tata guna lahan, dibutuhkan untuk
penggunaan model, mencakup asumsi-asumsi kebijakan pemerintah, swasta dan
perilaku.
Tugas lebih lanjut dari sebuah tim pembangunan model adalah melakukan
segala usaha bagaimana membiayai keuntungan-keuntungan yang begitu substansial,
dan bagaimana membantu himpunan-himpunan dengan membangun model perencanaan
yang berorientasi kepada 'mesin hitung, apabila pada waktu yang sama
memperlihatkan terhindar dari kerugian-kerugian jika dilakukan dengan 'komputer.
Tim pembangunan pemodelan tata guna lahan pada Sekolah Tinggi Administrasi
Perusahaan Universitas Georgia telah menyusun sebuah kerangka kerja untuk model
tata guna lahan bagi rencana transportasi yang dicoba menemukan kriteria-kriterianya.

5.5. Beberapa Observasi Pada Model-Model $truktur Tata Ruang Kota
Terlepas dari cara perlakuan hipotesis minimalisasi biaya bagian-bagian tata
ruang seperti yang telah didiskusikan di atas, dan analisis detil model-model tersebut
(diantaranya untuk lokasi pemukiman, perusahaan perdagangan, dan hubungan tata
ruang antara para konsumen dan lokasi-lokasi berbelanja), dihindarkan ruang lebih
banyak dari yang terstruktur di dalam teori tersebut dan uraian model-model spasial
yang disebarkan di dalam sebuah kota.
Kebanyakan ahli analisis, khususnya analisis pendekatan sosiologi, kemudian
analisis pendekatan ekonomi, dikonsentrasikan pada teori nilai-nilai tanah permukiman.
Hawley, sebagai contoh, memberikan alasan bahwa perumahan disebarkan berdasarkan
kepada (1) nilai lahan, (2) lokasi kegiatan, dan (3) biaya dan waktu yang dikeluarkan
untuk transportasi ke pusat kegiatan. Ketiga-tiga Iaktor tersebut dikombinasikan di
dalam suatu ukuran tunggal, yaitu nilai sewa tempat tinggal (rumah).
Hawley menemukan sebuah paradox, yang disebut Paradoks Hawley, yang
mengatakan bahwa keluarga-keluarga yang berpendapatan rendah hidup di lahan yang
bernilai tinggi dan keluarga-keluarga kaya di lahan yang bernilai murah. Pemilikan
tempat tinggal di lahan dengan nilai tinggi biasanya di sebuah kondisi yang rumah dan
lingkungan yang buruk. Oleh karena sejak lahan-lahan tersebut diperuntukkan untuk
area industri dan komersial lahan ini menjadi objek spekulasi di dalam mengambil
posisi untuk dipergunakan bagi yang mengambil keuntungan lebih besar. Pemilik dari
lahan-lahan tersebut tidak bersedia mengeluarkan biaya pemeliharaan sebab sewanya
rendah. Sewa yang rendah juga karena dekatnya lahan-lahan tersebut dengan objek-
objek aktivitas yang jaraknya antar keluarga sangat dekat-dekat untuk mengimbangi
perluasan dengan aksessibilitas. Rumah-rumah baru, dibangun pada lokasi yang nilai
77
tanahnya rendah dengan alternatiI penggunaan yang terbatas. Lahan-lahan tersebut
memiliki sewa yang tinggi karena baru dan mutunya baik, dan dekat dengan Iasilitas-
Iasilitas tetapi jauh dari penggunaan yang tidak mendapat izin, juga cenderung dilayani
dengan aksesibilitas yang baik ke pusat kota dan ke tempat pekerjaan. Ini berarti bahwa
pada saat nilai lahan pada Iasilitas, grade-nya menurun, dengan jarak dari konsentrasi
kesatuan-kesatuan yang terhimpun, nilai sewa bangunan-bangunan tempat tinggal
meningkat. Itu adalah nilai-nilai sewa untuk tempat tinggal untuk orang-orang kaya,
luas, mutu dan lingkungan tempat tinggal cenderung kebalikan dari nilai lahannya.
Konsekuensi dari paradoks ini adalah pertumbuhan kota, yang nyata atau dikehendaki.
Ini adalah pertumbuhan kota yang didasarkan kepada kegiatan-kegiatan spekulasi pada
wilayah potensial yang memburuk, dan pertumbuhan penduduk di rumah-rumah pada
lokasi dengan sewa lahan rendah, maka pembangunan rumah-rumah baru cenderung
berlokasi di pinggiran kota.
Alonso merangsang suatu uraian alternatiI yang tidak bertolak pada dinamika
pertumbuhan kota atau pada hukum yang bertentangan dengan para spekulator. Dengan
alasan-alasan bahwa pengaruh pada lahan adalah kuat dan sulit dipuaskan.
Konsekuensinya, besarnya permintaan lokasi perumahan bervariasi sesuai dengan
pendapatan. Orang-orang kaya relatiI kurang dipengaruhi oleh biaya-biaya pulang pergi
ke kota. Mereka berorientasi kepada harga lahan, sedangkan orang miskin kepada
lokasi. Kalau aksesibilitas rendah dibeli oleh orang-orang berpendapatan tinggi,
aksesibilitas berperilaku sebagai barang inIerior. Jadi, income elasticity oI demand
untuk tanah adalah tinggi, tetapi untuk aksesibilitas ke pusat kota negatiI, proposisi
tersebut menjadi sangat signiIikan kebenarannya untuk kelompok orang-orang kaya.
Apabila hipotesis tersebut diperluas, Ilat-Ilat mewah dekat pusat kota akan memuaskan
permintaan hanya untuk suatu proporsi kecil dari orang-orang kaya.
Sebuah model yang mirip diperkenalkan oleh Beckmann. Dasar asumsinya
adalah di dalam hal peremajaan lokasi tempat tinggal, setiap tempat tinggal
dimaksimalkan jumlah ruang tinggal dapat menghasilkan belanja perumahan,
pengeluaran rata-rata pada perumahan dan komuter merupakan Iungsi pendapatan;
sebuah Iungsi linier terhadap biaya komuter. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut
Beckmann menghasilkan suatu solusi pasar untuk distribusi spasial rumah tangga, yang
memperlihatkan susunan rumah tangga-rumah tangga orang-orang kaya berlokasi di
bagian luar kota.

5.6. Model Operasional
Bagian-bagian perbincangan di atas di antaranya dihubungkan dengan penelitian
tanah dan struktur tata ruang kota, atau dalam kasus Beckmann dihubungkan dengan
suatu model matematik yang didasarkan pada asumsi-asumsi sederhana. Aliran lain dari
analisis struktur tata ruang dari kota-kota dicoba untuk membangun model-model yang
lebih realistis yang menghasilkan sejumlah usul operasional.
Wendt, misalnya, mengeritik asumsi-asumsi sederhana dari sarjana-sarjana
ekonomi lahan, selanjutnya seperti memecah kota atas pusat inti kota tunggal dan
meliputi cakupan wilayah yang dipengaruhi biaya transpor. Atas dasar itu,
diIormulasikan sebuah model umum, dimana keseluruhan nilai lahan ditentukan sebagai
selisih antara nilai keseluruhan dan biaya-biaya yang dibagi dengan amortization rate
yang diharapkan. Model tersebut dapat ditulis sebagai berikut:

78
V Ix (P
1
Y
1
S
1
P
u
, PI) (T O
c
I
tm
D
tm
)
Ix (i
1
R
1
C
g
)

dimana: V adalah nilai keseluruhan dari lahan kota; Ix adalah ekspektasi; P adalah
jumlah penduduk; Y adalah pendapatan rata-rata; S adalah penawaran lahan bersaing;
Pu adalah daya tarik yang competitive (keunggulan) dari suatu wilayah; PI adalah
investasi pemerintah; T adalah jumlah pajak-pajak; O
c
adalah biaya-biaya operasional;
I
tm
adalah bunga modal yang diinvestasikan di dalam pengembangan; D
tm
adalah nilai
penyusutan pada proyek-proyek yang dibangun; i adalah tingkat bunga; R adalah resiko
proyek pembangunan; C
g
adalah kemungkinan untuk mendapatkan hasil modal.
Potensi operasional model ini bertolak dari kenyataan bahwa biasanya sasaran
produksi tergantung pada perputaran dari keseluruhan hasil produksi, pada jumlah
keseluruhan nilai lahan, yang kemudian dicoba menganalisis kondisi keseimbangan
statisnya itu. Wendt membuat suatu perbedaan yang kritis antara Iaktor-Iaktor yang
mempengaruhi keseluruhan nilai lahan di suatu lokasi tertentu. Dalam hal ini komponen
revenue dan biaya merupakan Iungsi jenis kegiatan produksi di atasnya, akan sangat
tergantung perpindahan dari pemakai yang satu ke pemakai yang lain, para pemakai di
lingkungan industri pelayanan (jasa) akan mendasarkan komponen penerimaannya pada
volume penjualan yang diharapkan pada lokasi alternatiI tersebut dan biaya operasi
perdagangan pada lokasi tersebut, para pemakai di sektor industri akan membandingkan
penjualan produksi potensial terhadap biaya produksi, untuk rumah tangga akan dilihat
perbandingan antara nilai uang dari kemanIaatan lokasi-lokasi alternatiI lain dan biaya
yang diukur/ditentukan oleh biaya-biaya pulang dan pergi ke kota, pajak-pajak, biaya-
biaya membangun, dan sebagainya.
Pendekatan lain adalah model linear programming dari Harbert Stevens tentang
pembangunan tempat tinggal (perumahan). Model ini memperlihatkan bagaimana
kemungkinan rumah tangga disebar ke lokasi-lokasi apabila mereka memaksimalkan
kepuasan dari jumlah keseluruhan pembayaran sewa. Model ini mengasumsikan bahwa
rumah tangga mencoba memuaskan kebutuhan-kebutuhan mereka terhadap perumahan
dan keinginan-keinginan pada pasar, dan keputusan terhadap lokasi tersebut dibaca pada
kesimpulan dari perbandingan biaya-biaya kebutuhan-kebutuhan perumahan dengan
anggaran rumah tangga yang tersedia. Diasumsikan rumah tangga memiliki
pengetahuan yang cukup, model tersebut didisain untuk lokasi-lokasi yang optimal
untuk rumah tangga pada kelompok-kelompok pendapatan yang berbeda-beda,
diharapkan meliputi batas daya tampung di masing-masing zona hunian dan jumlah
rumah tangga yang tepat pada tiap-tiap kelompok. Model tersebut mengenal empat
Iaktor lokasi, tingkat kenyamanan dan pelayanan (amenity), tingkat aksesibilitas
(proximity) dan ukuran tempat tinggal (ukuran rumah). Kesulitan-kesulitan di dalam
penerapan model ini timbul dari kebutuhan untuk mengetahui secara sempurna jumlah
preIerensi (kesenangan/kemudahan) sebagai Iaktor-Iaktor lokasi. InIormasi tersebut
dihimpun dari survey-survey yang berdasarkan pada tingkat pendapatan yang berbeda
untuk jenis perumahan tertentu, tingkat kedekatan dengan sarana-sarana pemuas dan
ukuran rumah. Kebanyakan, apabila model yang seperti itu digunakan untuk tujuan
prediksi, kita akan membutuhkan salah satu diantara dua asumsi, yaitu tidak terjadi
perubahan selera atau membuat perkiraan preIerensi masa depan.
Lowrey mencoba meramalkan struktur tata guna tanah yang luas dengan
serangkaian model kredit pengaman yang terkait. Asumsi pokoknya adalah bahwa
79
lokasi pusat-pusat pekerjaan yang basis adalah given dan tingkat eIektivitas ekonomi
adalah ditentukan oleh Iaktor-Iaktor yang bersiIat eksogen. Model pertama dari Lowrey
ini adalah distribusi rumah tangga secara relatiI terhadap pusat-pusat pekerjaan, yang
merupakan tujuan untuk membatasi keadaan seperti strategisnya lokasi lahan untuk
pembangunan rumah, dan tingkat kepadatan maksimum. Kunci imbalan yang digunakan
adalah indeks distribusi trayek (1ri5 Distribution ndices) yang berupa kepadatan lalu
lintas yang memberi kemudahan bagi pembangunan sebuah wilayah perkotaan, atau
studi transportasi regional. Lowrey membangun setiap 13 zona komplek perumahan
sebagai suatu susunan/rangkaian 11 lingkaran (cincin) konsentrasi dari luas satu unit
radius. Dia menghitung persentase dari seluruh trayek asal untuk pergi bekerja (Work
1ri5s riginating) dari setiap zona yang dapat diharapkan mencapai terminal di setiap
lingkaran di sebelah luar yang berturut-turut, dengan asumsi bahwa sebuah di setiap
lingkaran pendistribusian kesempatan kerja. Penelitian indeks-indeks oleh metode ini
diterapkan untuk memperkirakan kesempatan kerja pada masing-masing lokasi kerja
(Work Places) jadi pendatang (penduduk) pada sebaran tempat tinggal sebanding
dengan kesempatan kerja.
Model kedua yang didasarkan pada indeks trayek untuk empat jenis
pembentukan kemapanan para pedagang dan lain-lain trayek pelayanan. Indeks-indeks
yang dihitung yang kemudian diterapkan kepada distribusi yang didapatkan oleh model
yang pertama agar memenuhi distribusi kegiatan para pengecer dan pelayanan di basis
yang memberikan akses ke pasar-pasar, di dalam kasus rumah tangga-rumah tangga ini,
hal yang pokok adalah pada keterbatasan ukuran minimum pasar yang dikhususkan.
Artle, memperkenalkan dua model operasional tersebut untuk memperkirakan
distribusi spasial untuk pembangunan/pembentukan (Establishment) jasa pedagang
eceran (pengecer) di dalam kota, sebuah model pendapatan potensial (ncome Potential
Model) dan sebuah model regresi (Regression Model). Pada model pendapatan
potensial, Artle membagi kota ke dalam sejumlah segi-empat yang seimbang. Dengan
dasar bahwa pendapatan di setiap zona tempat tinggal memiliki suatu pengaruh
potensial pada semua zona lain, tetapi pengaruh tersebut akan meningkat dengan jarak
yang menurun. Pendapatan potensial yang dihasilkan oleh setiap zona/pada zona e
ditunjukkan:
i Vj G
ij
Y / d
ij
(j 1, 2, . n)
dimana: G
ij
sebuah konstanta; Y
j
pendapatan dari lokasi tempat tinggal j; d
ij
jarak
i dan j, diukur untuk tujuan-tujuan sederhana seperti pajak antara titik-titik pusat; n
jumlah total dari zona
Artle meneliti ramalan-ramalan tentang kondisi pengeluaran pada sembarang
pelayanan dari data input output dan diterapkannya pada aggregate income potensial
untuk setiap zona yang berbentuk segi empat, dan dari prosedur ini diperkirakan
pendapatan di masa yang akan datang untuk pelayanan yang dipilih sebagai hubungan
kepada zona-zona individual. Apabila pendapatan tiap zona di masa yang akan datang
dapat diterima sebagai cadangan yang diperkirakan di masa yang akan datang, itu
kemudian memungkinkan untuk dibagikan kepada bagian-bagian yang berbeda dari
wilayah kota tersebut, suatu jumlah total dari pedagang eceran dan pelayanan dibangun
dari jenis yang dipilih secara tepat. Prosedur tersebut menghasilkan asumsi-asumsi
sederhana tertentu, dimana biaya variabel rata-rata (AVC) pelayanan tertentu telah sama
di setiap zona, bahwa lokasi-lokasi perumahan sendiri dapat dipergunakan sebagai titik
tolak (basis) untuk perhitungan pendapatan potensial, kecenderungan pengabaian
pengeluaran konsumsi untuk memperoleh pengaruh distribusi spasial dari pembentukan
80
(establishment), pengabaian kemungkinan sewa yang tinggi di beberapa zona untuk
menentukan lokasi.
Kebutuhan data untuk model ini sangat besar, apabila inIormasi yang diperlukan
tidak ada maka mungkin tidak dapat diteliti. Artle menyarankan sebuah model
alternatiI yang disebut model regresi sederhana. Penggunaan ukuran tempat tinggal,
jumlah penduduk, dan ukuran pekerjaan penduduk per zona merupakan variabel-
variabel independen mempengaruhi jumlah pembentukan pelayanan di setiap zona.
Formula model regresi sederhana tersebut sebagai berikut:
N a b P
r
c P
w
Z
dimana: N jumlah pembentukan/kekuasaan-kekuasaan tiap zona; P
r
ukuran tempat
tinggal penduduk per zona; P
w
ukuran pekerjaan penduduk per zona; a, b, c
konstanta-konstanta; z residual (sisa)
Suatu model yang lebih canggih akan dapat disusun dari tingkat sewa-sewa
sebagai suatu pengaruh pada lokasi yang umum pada setiap zona dan beberapa ukuran
dari biaya transpor sebagai suatu pengaruh pada pusat-pusat lokasi dari pengecer dan
lainnya yang sama. Ini penting untuk dicatat bahwa implikasi teoritis dari kedua model
tersebut begitu berbeda; di dalam model income potential asumsinya tidak ada batas
antar zona sesuai dengan kesimpulan pemilihan lokasi, tetapi model regresi menyatakan
bahwa trayek antar zona dapat diabaikan.

5.7. Keseimbangan Lokal $ebuah Perushaan Yang Beroperasi Di Kota N
H.W. Richardson membuat pertanyaan, bagaimanakah sebuah perusahaan
memilih lokasi di dalam sebuah kota dikaitkan dengan jaraknya dengan pusat kota?
Model yang diperkenalkan tergantung pada penyederhanaan tertentu. Kota diasumsikan
dipusatkan secara tepat, dan pusat yang lebih dipilih adalah yang memiliki akses kepada
konsumen terbesar. Masalah-masalah interdependensi lokal akibat pilihan pada harga
produk perusahaan mengabaikan, dianggap sudah tertentu (Given). Jadi, volume
penjualan dan revenue dari penjualan lokal akan meningkat jika perusahaan dilokasikan
lebih dekat ke pusat kota (ore). Diasumsikan lebih lanjut bahwa perubahan-perubahan
diperlihatkan sesuai dengan struktur yang given berdasarkan keragaman dari harga-
harga lahan yang merupakan kebalikan dengan arah dari pusat kota, dilukiskan oleh
Iungsi Pd, dimana Pd adalah harga lahan pada lokasi given, d adalah jarak dari pusat
kota. Diasumsikan bahwa Iungsi harga ini ditentukan oleh supply dan demand; seluruh
lahan urban dianggap sebagai berkualitas aktual dan dapat dibeli dan dijual secara bebas
berdasarkan ketentuan mekanisme sebuah pasar persaingan tanpa adanya pembatasan-
pembatasan kelembagaan. Banyak Iaktor yang mungkin mempengaruhi sewa lahan
lokasi kota diabaikan, seperti halnya jenis perdagangan diasumsikan bisa di sembarang
lokasi, dan pengaruh-pengaruh ekonomisasi aglomerasi dan deglomerasi belum
diperhitungkan. Diasumsikan bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan laba
(Profit Maximi:ing).
Pada saat perusahaan bergerak menjauhi pusat kota maka penerimaannya
cenderung menurun dan biaya operasinya meningkat (terutama karena meningkatnya
biaya transpor pada lokasi yang aksesibilitasnya menurun), tetapi ini akan
dikompensasikan dengan biaya lokasi (sewa lahan lokasi kota) yang lebih rendah. Jadi,
pada waktu perusahaan bergerak menjauhi pusat kota, diikuti oleh kenaikan biaya
transpor dan biaya-biaya lainnya, penerimaan (Revenue) menurun, dan biaya sewa juga
menurun. Apabila penerimaan perusahaan eksak yaitu harga dikalikan jumlah, laba
81
tertentu yaitu penerimaan total dikurangi biaya total, maka untuk lokasi yang akan
menghasilkan laba yang berbeda. Di semua lokasi diantara pusat dan perbatasan kota
total revenue akan sama disyaratkan sama untuk sebuah tingkatan jarak dari pusat kota,
laba tambah biaya-biaya operasi akan sama penerimaan dengan catatan akan ada sedikit
biaya tambahan untuk membayar pengorbanan-pengorbanan tidak terduga yang
berpengaruh terhadap terminologi laba.
Mungkin juga akan ada tambahan biaya dengan suatu jumlah yang relatiI besar
dari kesulitan lalu lintas (misalnya harus melewati jalan-jalan kecil) yang mungkin
mengikuti Iungsi-Iungsi harga (sewa) yang diminta, yang semuanya dihubungkan
dengan suatu tingkat laba tertentu. Diasumsikan bahwa Iungsi harga nyata lahan (Pd)
yang telah tertentu. Perusahaan akan dilokasikan pada titik dimana harga yang akan
dibayar perusahaan menjamin pada kemungkinan laba yang tinggi.
Pilihan lokasi tersebut dapat diperlihatkan dengan lebih mudah dengan bantuan
konsep kurva harga yang diminta dan ditawarkan Bid Price urve). Fungsi harga yang
diminta tidak harus dihubungkan dengan harga aktual. Biasanya harga merupakan
sebuah Iungsi hipotesis yang diperlihatkan oleh bagaimana harga lahan yang
dihubungkan dengan jarak dari perusahaan tersebut dari pusat kota. Untuk
meperlihatkan laba yang diterima sama pada semua lokasi, digambarkan kurva isoproIit.
Fungsi tersebut memungkinkan ditentukan oleh Pd (x) yang dibaca sebagai harga (P)
yang diminta. Suatu perusahaan pada setiap lokasi yang berjarak d dari pusat kota,
memiliki laba yang sama apabila ukuran lokasi dioptimalisasikan, perusahaan akan
mencapai tingkat laba yang konstan (x). Pada saat perusahaan mencapai tingkat laba
konstan, perusahaan mencapai kepuasan yang diinginkan terhadap lokasi yang
dimilikinya keseimbangan lokasi). Harga yang diminta di lokasi-lokasi tersebut
memungkinkan untuk mendeIinisikan harga yang diminta (The Bid Price) P, pada
terminologi harga dengan variabel tunggal yaitu jarak dari pusat kota adalah d.
Ketentuan-ketentuan tentang Iungsi Bid Price lahan milik (Pro5erties): (a)
Fungsi bid price bernilai tunggal. Untuk setiap tingkatan laba (x) tertentu, di sana hanya
ada satu nilai p yang memungkinkan untuk setiap d yang sudah tertentu. (b) Curve bid
price, yang mewakili nilai yang berbeda dari laba yang sama, satu dengan yang lainnya
tidak berpotongan. (c) Curve bid price yang lebih rendah mewakili tingkat laba tinggi,
dan ini yang diharapkan oleh sebuah perusahaan. Bertolak dari laba sebagai selisih
penerimaan setelah dikurangi biaya operasi, jika harga tanah yang murah maka labanya
tinggi. Curve di atas yang menghasilkan laba nol (x 0) dapat diabaikan, karena jika
pun digunakan akan merugikan perusahaan. (d) Biasanya Iungsi bid price memiliki
kemiringan (Slo5e) yang menurun. Kemiringan tersebut seperti halnya tabungan pada
sewa persis sama dengan kehilangan penerimaan tambah peningkatan biaya operasi.
Diagram bid price dapat digunakannya untuk memperlihatkan lokasi perusahaan
yang seimbang. Gambar di atas memperlihatkan curve bid price sebuah keluarga. BPC1
adalah tingkat laba X1, BPC2 adalah tingkat X2 dan BPC3 adalah tingkat laba X3,
dimana X1~X2~X3. Jadi lokasi perusahaan dengan laba BPC1 dilebihkan dari lokasi
perusahaan dengan laba BPC2, dan lokasi perusahaan dengan laba BPC2 lebih baik dari
lokasi perusahaan dengan laba BPC3. Pada Gambar diperlihatkan perusahaan dengan
suatu struktur yang telah tertentu, dimana harga lahan Pd. Fungsi harga aktual tersebut
digambarkan dengan cara mengasumsikan bahwa harga lahan menurun dengan
kenaikan jarak dari pusat kota; ini suatu syarat keseimbangan yang dialami kebanyakan
kota. Di dalam gambar peta (Ma5) curve-curve bid price preIerensi-preIerensi
perusahaan, dimana pada saat struktur harga Pd, diilustrasikan pada kemungkinan yang
82
ada kepadanya. Perusahaan akan dilokasikan pada titik dimana Iungsi harga merupakan
nilai kemiringan (Tangensial) kepada kurva Bid Rent yang paling rendah yang mungkin
dicapai. P
d
tangensial pada BPC
2
, di dalam gambar, jadi dimana diwakili lokasi d
e

dimana laba-laba dimaksimalisasikan (X
2
).

unit sewa









BPC
1
(X
1
) BPC
2
(X
2
)





Gambar 5.1 Lokasi Optimal Perusahaan dalam Tata Ruang Kota


Slope P
d
tersebut merupakan tangensial Iungsi harga P
d
dan sama dengan
kemiringan proIit maximizing kurva bid price BPC
2
, dan titik singgungnya adalah titik
seimbang. Lokasi yang terdekat ke pusat kota untuk Iungsi harga P
d
adalah d
e
, P
d

adalah harga tertinggi untuk BPC
2
. Sebagaimana diketahui bahwa slope kurva Bid Price
tersebut adalah suatu perubahan pada harga lahan yang dibutuhkan untuk menentukan
penurunan penerimaan dan untuk biaya yang lebih tinggi, dimana Pd yang lebih tinggi
maka tabungan (Saving) di lokasi dengan biaya yang berkurang, pengurangan pada
penerimaan kenaikan pada biaya operasi. Sebaliknya sebelah kanan de BPC2 lebih
tinggi dari Pd, berarti bahwa tabungan Saving) dari lahan tidak cukup untuk mengatasi
berkurangnya penerimaan dan meningkatnya biaya-biaya. Perusahaan akan bergerak
mendekati pusat kota dan berlokasi di titik keseimbangan de.

5.8. Pemanfaatan Lahan
Setiap kegiatan manusia memerlukan ruang dan ruangan tersebut berada di atas
lahan. Lahan sebagaimana halnya Iaktor-Iaktor produksi lain (tenaga kerja, modal dan
skill) memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pemanIaatannya. Balas jasa
terhadap lahan adalah sewa (Rent). Lahan merupakan sumber dasar makanan (lahan
pertanian), lokasi di mana berdirinya gedung-gedung, dan area konsesi pertambangan
dan sebagainya. PemanIaatan lahan sama dengan pemanIaatan lingkungan hidup
manusia, yang memerlukan pertimbangan bagi perkembangan mutu kehidupan yang
lebih baik.


Jarak
BPC3 (x
3
)
Pe
d
0
Pd
83
5.8..Persaingan dalam Pemanfaatan Lahan
Dalam pemanIaatan lahan selalu ada persaingan. Lahan mempunyai kegunaan
ganda, analisis pemanIaatan lahan tidak hanya dapat bertolak dari konsep kegiatan
individu, tetapi juga bertolak dari konsep kegiatan ganda suatu daerah (wilayah).
Permintaan terhadap lahan ditentukan oleh Iaktor kegunaan lahan itu sendiri dan
harganya. Faktor kegunaan ditentukan oleh letak lahan (peruntukan, strategis tidaknya
lokasi/intensitas kegiatan/aksessibilitas). Harga lahan menentukan permintaan serta
intensitas persaingan untuk mendapatkannya. Ada kegiatan yang membutuhkan lahan
lebih luas dibandingkan untuk kegiatan lain. Contoh: industri kehutanan, pertanian
membutuhkan lahan yang luas, sedangkan untuk kegiatan perkotaan relatiI sempit.
Maka terjadi transIer dari peruntukan kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain,
tergantung pada intensitas pemanIaatan dan nilai produktivitasnya. Terdapat persaingan
untuk mendapatkan lahan, misalnya untuk tujuan perluasan kota. Lahan akan digunakan
oleh mereka yang berani membayar sewa lebih mahal (pasar bebas). Suatu kenyataan
bahwa perlu pengendalian atas pemanIaatan lahan. Akibatnya: (1) tidak diperoleh
maksimalisasi keuntungan individu, (2) tidak diperoleh pola pemanIaatan yang
optimum bagi masyarakat.

5.8.2. Permintaan terhadap Lahan









Gambar 5.2 Struktur Biaya-biaya TC, AC dan MC

Lahan ada yang lebih bernilai dan ada yang kurang bernilai, tergantung pada
keberanian orang membayar harga atau sewanya. Jenis sewanya berbeda-beda, sesuai
dengan jenis pemanIaatan. Perbedaan nilai lahan sesuai dengan tujuan pemanIaatan,
diistilahkan dengan Rent Cradient. Tinggi rendahnya nilai lahan, atau bernilai kurang
bernilainya lahan tersebut karena kondisi permukaan, yang disebut sewa permukaan
(Surfaces Rent). Orientasi sewa lahan adalah kepada: (a) hasil produksi, (b) Iaktor-
Iaktor produksi ad. a) hubungan tingkat hasil/ha dan biaya Iaktor produksi. Kurva biaya,
tidak termasuk sewa untuk produksi pada setiap 1 ha lahan.
Biaya: FC (F); VC(a Q
b
) ; Biaya rata-rata (AC)
TC F a Q
b
Biaya marginal (MC); b 1
Untuk melihat hasil, penerimaan total dikurangi dengan biaya total
Hubungan antara TC dengan berbagai kemungkinan penerimaan, pemakai lahan
dan akibat-akibat yang mungkin timbul yaitu B-C ($ur5lus); D dimana sewa 0 dan HJ
merupakan subsidi atau sewa negatiI yang diperlukan agar pemanIaatan tanah itu dapat
dipertanggungjawabkan.
Bila penerimaan OL, 0L menggambarkan penerimaan hasil kegiatan yang
dekat dengan pasar atau kegiatan lain yang pada hakekatnya menguntungkan. OM
TC
MC
AC
Hasil
Biaya
84
merupakan garis yang menunjukkan kegiatan batas. Hasil di bawah OE menyebabkan
orang yang menggunakan lahan tak dapat menutup biaya-biaya dan sewa 0.

Cost L
Revenue M

B
I F N
C

H D

E A Rrevenue
G 1



Gambar 5.3 Hubungan antara Penerimaan dan Biaya dan Laba

Sewa
Rent gradien



0 Harga
100 0
Jarak dari pasar

Gambar 5.4 Kemiringan Kurva Sewa Lahan

Sewa akan meningkat lebih cepat jika lokasi semakin mendekati pasar dan
berkurang lebih lambat bila lokasinya semakin menjauhi pasar.
Hasil perhektar relatiI tinggi di lokasi-lokasi relatiI dekat dengan pasar.
Penerimaan dan sewa dapat diperoleh lebih sensitiI terhadap biaya karena lebih banyak
yang harus diangkut ke luar dari daerah tersebut. Oleh karena itu harga produk hanya
turun perlahan dengan bertambahnya jarak. Biaya transpor lebih mahal bila mengangkut


Sewa

Rent gradient


Kota Jarak Pinggir kota

Gambar 5.5 Kurva Sewa Bergelombang Pengaruh Pusat Yang Terstruktur
TC
85

dari jarak yang lebih jauh. Semuanya merupakan Iungsi jarak, sehingga bentuk curva
rent gradient itu concave. Di dalam kenyataannya antara pusat pasar dengan jarak
terjauh membentuk rent gradient yang memiliki berbagai Iaktor yang menguntungkan,
sehingga mungkin kurva rent gradien bergelombang.

5.8.3. Teori Lokasi dan Pertumbuhan Kota
Faktor-Iaktor apakah yang menyebabkan timbulnya kegiatan ekonomi kota?
Perusahaan
Pemerintah Penentuan lokasi terbaik
Rumah tangga Teori-teori lokasi (terutama teori von Thunen)



Sewa






Jarak
Pusat Kota Lokasi tertentu Pinggir kota


Gambar 5.6 Kurva Sewa Gelombang Nail Pada Lokasi-lokasi Pusat kegiatan

Apa penyebab-penyebab pertumbuhan kota? Bagaimana komposisi kegiatan
produktiI yang ada di kota? Yang akan menentukan lokasi terbaik adalah perusahaan,
pemerintah dan rumah tangga. Teori dasarnya adalah teori lokasi Van Thunen. Teori ini
pernah dilupakan orang selama satu abad, tetapi kemudian dikembangkan kembali
sehubungan dengan kemampuannya dalam menjelaskan lokasi perkotaan, yang sangat
penting sehubungan dengan munculnya masalah perkotaan pada pertengahan abad ke-
20 dan lahirnya ekonomi perkotaan (&rban Economics).

86
BAB VI
KERANGKA WILAYAH

6.. Wilayah $ebagai $ebuah Konsep
Apa yang dijadikan dasar hukum suatu wilayah dan bagaimana ekonomi
nasional dipecah ke dalam suatu sitem ekonomi wilayah perlu diperjelas, sebagai
prasyarat penting bagi analisis ekonomi wilayah. Dalam hal ini terdapat kesulitan,
karena adanya dua konsepsi wilayah: Pertama. Wilayah berdasarkan administrasi
pemerintahan. Data bagi penelitian empiris tidak begitu sulit, karena tersedia pada
kantor-kantor pemerintah daerah dan lembaga-lembaga daerah. Kedua. Wilayah yang
tidak didasarkan kepada batas-batas administrasi pemerintah Daerah, tetapi didasarkan
kepada pengaruh-pengaruh lokasi dan keseimbangan-keseimbangan harga spasial.
Adanya konsep yang kedua ini mempersulit perumusan deIinisi wilayah. Suatu wilayah
mungkin dikaitkan dengan suatu pusat konsentrasi penduduk dari suatu wilayah besar di
sekitarnya. DeIinisi wilayah dapat berbeda antara satu penelitian dengan penelitian yang
lain, tergantung kepada tujuan penelitian itu masing-masing.
Satu kesatuan ekonomi nasional yang dipecah menjadi beberapa wilayah
ekonomi regional maka wilayah-wilayah ekonomi regional tersebut haruslah deIinitiI.
Jadi kesulitan pertama adalah kesulitan deIinisi. Kesulitan yang kedua adalah
bagaimana memecah ekonomi nasional tersebut ke dalam ekonomi-ekonomi wilayah
yang saling terkait, atau menjadi wilayah-wilayah ekonomi yang terintegrasi.
Berdasarkan pendekatan deIinisi ini, maka wilayah dapat dibedakan dalam tiga kategori
pokok: (1) Wilayah-wilayah Homogen (omogenous Regions). (2) Wilayah-wilayah
Modal (Modal Regions). (3) Wilayah-wilayah Perencanaan (Planning Regions).

6.. Wilayah Homogen
Wilayah ini merupakan satu kesatuan tata ruang yang dibentuk oleh wilayah-
wilayah yang memiliki siIat-siIat (charateristics) sama atau mirip. Misalnya: struktur
produksinya sama, struktur pekerjaan penduduk sama, Iaktor geograIis, sumber daya
alam yang menonjol, dan mungkin pula meliputi siIat-siIat characteristic) yang non
ekonomis seperti: kesamaan perilaku sosial, latar belakang sejarah dan budaya,
pandangan politik, dan sebagainya.
Masalah yang ditemukan dalam kategori wilayah ini adalah, dimana beberapa
wilayah di sekitarnya mungkin saling terkait dalam hal-hal tertentu dan tidak terkait
dalam hal-hal yang lain. Kriteria homogen misalnya pendapatan perkapita. Kriteria ini
mungkin berguna bila diterapkan secara dinamis dan saling berketergantungan di antara
pendapatan wilayah dalam proses pembangunan. Pendapatan perkapita tiap wilayah
tersebut dapat dipakai sebagai ukuran maju mundurnya suatu wilayah atau sub-wilayah
dalam proses pembangunan.
D.C North memakai kesatuan daya tarik sebagai dasar kesatuan wilayah dan
ekonomi wilayah diperlihatkan sebagai model ekonomi basis ekspor (Ex5ort Base).
Perkembangan pada kegiatan ekspor base dilakukan untuk mencapai tingkat pendapatan
wilayah yang lebih baik. Di dalam wilayah tersebut terjadi interaksi antara pusat
aglomerasi (pusat pertumbuhan) dengan wilayah pinggiran/sekitarnya (Peri5hery).
Hasil ekspor akan memperbesar pendapatan wilayah dengan adanya penguatan proses
multi5lier.
87
Dalam kasus seperti Indonesia, ekspor sumber daya alam dari daerah-daerah ada
berbagai kemungkinan yang mungkin perlu dipertimbangkan, antara lain: Pertama:
Sumber daya alam diekspor tetapi devisa tidak kembali langsung ke daerah pengekspor.
Penguatan multiplier tidak terjadi secara langsung di daerah tersebut. Kedua. Sumber
daya alam diekspor dan devisa masuk langsung ke daerah tersebut. Penguatan multiplier
akan terjadi secara langsung di daerah tersebut. Ketiga. Sumber daya alam diekspor
setelah di olah di daerah tersebut. Penguatan multiplier yang terjadi di daerah tersebut
akan lebih besar. Kemungkinan yang ketiga ini adalah pilihan yang paling ideal.
L. Vining berpendapat bahwa wilayah dapat dibentuk sektor ekspornya, juga
sector ekspor tersebut membentuk arus pemasukan modal (a5ital nflow).
Perdagangan tersebut meliputi perdagangan di dalam wilayah dan perdagangan ke luar
wilayah. Area pengaruh tersebut dikategorikan sebagai sebuah wilayah. Model ini
menganalisis MP rumahtangga terhadap produk lokal, MP terhadap produk antar
wilayah dan elastisitas permintaan kelompok masyarakat berpendapatan rendah
terhadap barang impor.
Perhatian konsep analisis ini ditujukan terhadap wilayah terbatas, tetapi dapat
meluas meliputi analisis makro ekonomi wilayah secara keseluruhan yang merupakan
teori penentuan pendapatan wilayah, pertumbuhan ekonomi wilayah, dan siklus
ekonomi wilayah. Secara langsung atau tidak langsung analisis ini mengandung
pengertian akan adanya kesatuan tujuan jangka pendek dan jangka panjang di dalam
aktiIitas ekonomi wilayah, menyangkut gerak-gerik variabel-variabel parameter
tertentu, seperti: MP Marginal Pro5ensity to onsume), MP Marginal Pro5ensity
to m5ort), MR Margimal a5ital ut5ut Ratio), dan ASR Average Saving ncome
Ratio). Variabel-variabel tersebut harus diasumsikan mendekati konstan meliputi
wilayah besar guna memiliki kekuatan peramalan.
Di dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan di dalam suatu wilayah tetap ada.
Ini merupakan gejala ekonomi yang umum, misalnya perbedaan karakteristik antara
wilayah pedesaan dan wilayah perkotaan. Oleh karena itu pula di dalam sebuah wilayah
terdapat perbedaan tingkat pendapatan dan selera penduduk di antara sub-subwilayah
tersebut. Kepadatan penduduk sering tidak merata. Oleh karena itu pula konsep wilayah
homogen banyak ditinggalkan oleh ahli-ahli ekonomi regional. Terkecuali untuk
wilayah-wilayah yang sangat luas dan pusat-pusat pertumbuhan kota selalu diintrodusir
sebagai homogen.

6..2 Wilayah Modal (Wilayah Polarisasi)
Perbedaan kategori wilayah ini adalah pada adanya saling ketergantungan di
antara bagian-bagian wilayah yang berbeda. Hubungan di antara kesatuan-kesatuan
wilayah di dalam batas (lingkupan) ruang berIungsi saling keterkaitan, dan tidak
dimasukkan Iaktor jarak, sebagaimana halnya di dalam model graIiti potensial Graffiti
Potential Model).
Ahli-ahli geograIi berpendapat bahwa wilayah nodal ini merupakan wilayah
yang real, sedangkan wilayah Homogen bersiIat subjektiI. Fungsi saling terkait terlihat
pada gejala arus penduduk, arus barang dan jasa, arus komunikasi, dan rute alat
transportasi. Arus tersebut biasanya tidak merata, terpola, dimana pada pusat-pusat
kegiatan (kota-kota besar) arus tersebut lebih padat. Struktur arus akan terstruktur sesuai
dengan pusat-pusat kegiatan (kota-kota) dan pengendalian terhadap arus-arus tersebut
dilakukan di pusat-pusat kegiatan yang menonjol tersebut. Yang dimaksudkan dengan
saling ketergantungan dalam hal ini adalah ketergantungan antara inti core) dengan
88
sub-sub wilayah sekitarnya. Ketergantungan in lebih ditekankan pada organisasi tata
ruang wilayah, seperti struktur kota, wilayah metropolitan dan wilayah pengaruhnya.
Harus disadari bahwa konsep wilayah nodes ini sulit menentukan batas-batas
wilayahnya. Yang menjadi perhatian tidak hanya Iungsi saling keterkaitan secara
terstruktur ke dalam intra regional connection/internal relationshi5) tetapi keterkaitan
antara nodes dengan wilayah-wilayah lain inter regional connection). Disamping itu,
wilayah nodal juga mengungkapkan tentang sarana/prasarana yang terstruktur (jaringan
transportasi, tenaga listrik, komunikasi, pipa air bersih, dan sebagainya). Demikian pula
arus flow) lainnya, seperti migrasi antar wilayah, bahan baku industri pengolahan, dan
lain-lain sehingga terbentuk suatu kerangka tataruang yang luas.
Dalam perkembangan Iungsi keterkaitan wilayah tersebut ternyata Iungsi
keterkaitan pelayanan lebih baik dibandingkan Iungsi keterkaitan produksi, karena
Iungsi keterkaitan pelayanan mendorong tumbuhnya berbagai bentuk kegiatan ekonomi
nasional pada tingkat wilayah dan subwilayah.
Tingkatan dan orientasi arus polarisasi dapat dilihat dalam banyak cara, seperti:
Luas wilayah distribusi barang-barang eceran, distribusi barang-barang persediaan,
persentase gerakan barang-barang pada masing-masing route transportasi, persentase
arus penumpang pada masing-masing route transportasi, pola komuter (orang-orang
yang hilir mudik antara rumah dan tempat kerja), kepadatan komunikasi telepon,
kepadatan surat kabar, arus keuangan, konsentrasi mahasiswa/perguruan tinggi, sebaran
Iasilitas pelayanan sosial, sebaran Iasilitas rekreasi, sebaran wilayah-wilayah
konsentrasi buruh, dan lain sebaginaya.
Wilayah metropolitan secara umum sama dengan wilayah modal. Wilayah
metropolitan memiliki lebih dari satu pusat wilayah. Kepadatan penduduk menyerupai
sebuah cincin.

6..3 Wilayah Perencanaan (Planning Region)
Wilayah perencanaan dibuat atas dasar: kedekatan, saling terkait secara logis,
dan merupakan kesatuan pengambilan keputusan ekonomi. Planning Region disebut
juga Programming Region. Melalui perencanaan, pemerintah mencoba mengatur
aktiIitas dalam rangka meningkatkan manIaat bagi rakyat banyak. Pemerintah membuat
kebijakan-kebijakan, dan salah satu kebijakan itu adalah kebijakan perwilayahan.
Rencana-rencana atau program-program pemerintah tersebut diimplementasikan.
Melalui perencanaan-perencanaan yang cukup Ileksibel pemerintah membuat
pengaturan-pengaturan tersebut berbeda-beda. Di negara-negara sosialis lebih ketat, di
mana regionalisasi berarti pembagian wilayah negara dalam proses perencanaan ke
dalam bagian-bagian yang spesiIik dan membuat dasar administrasinya. Status
hukumnya kuat sekali.
Di Indonesia pada periode orde lama, status hokum perencanaan lebih kuat
dibandingkan dengan pada periode orde baru. Rencana Pembangunan Semesta
Berencana (1959-1967), periode orde lama, dibuat berdasarkan Undang Undang
(produk legislatiI), sedangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), sejak
1969, dibuat berdasrkan peraturan pemerintah. Repelita relatiI lebih mudah dilakukan
penyesuaian-penyesuaian oleh pemerintah (lebih Ileksibel), sedangkan Rencana
Pembangunan Semesta Berencana tidak mudah untuk dilakukan penyesuaian-
penyesuaian (kaku).
Ketidakberhasilan Pembangunan Semesta Berencana 1959-1966 dinilai karena
kurang realistis dan karena pada periode-periode tersebut bangsa Indonesia lebih banyak
89
memberikan perhatian kepada masalah-masalah politik, masalah-masalah konsolidasi
ideologi nasional. Masalah eIisiensi kurang mendapat perhatian. Pembangunan
dilaksanakan dengan system anggaran deIisit, yang kemudian mengundang inIlasi
mencapai sekitar 670 pertahun pada tahun 1965 dan terjadi kekacauan ekonomi.
Untuk suatu wilayah perencanaan perlu diketahui ruang lingkup (batas-batas)
pengaruhnya, sebagai batas-batas pengaruh ekonominya. Dengan demikian ekonomi
wilayah tersebut dapat didorong dengan suatu perencanaan yang didasarkan kepada
batas-batasnya secara alamiah dan pengetahuan tentang siIat-siIat wilayah tersebut.
Kalau perencanaan tidak memperhatikan Iungsi-Iungsi keterkaitan dari wilayah seperti
itu maka besar kemungkinan keputusan-keputusan pemerintah yang dibuat untuk
mendorong pembangunan wilayah tidak akan eIektiI. Untuk itu suatu perencanaan
memerlukan data statistik dan monograIi wilayah yang tidak terbatasi oleh batas-batas
wilayah administrtasi.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, wilayah perencanaan dapat sama dengan
wilayah modal. Wilayah perencanaan juga tidak berbeda dengan wilayah homogen.
Kalau siIat-siIat homogen dipakai pada unit-unit wilayah perencanaan maka akan terjadi
partisipasi, akan ada arus hubungan di antara pusat wilayah. Mengenai mana yang lebih
penting apakah wilayah homogen dengan wilayah nodal, itu tergantung kepada maksud
perencanaan. Apabila yang diinginkan adalah berkembangnya saling keterkaitan antar
wilayah maka yang lebih penting adalah wilayah modal. Akan tetapi kalau interest
perencanaan itu adalah untuk kesatuan wilayah, maka yang lebih penting adalah
wilayah homogen, yaitu didasarkan kepada saling pengaruh-mempengaruhi antar sub-
subwilayah.
Selain itu kategori suatu wilayah akan ditentukan oleh kedudukannya di dalam
satu kesatuan struktur wilayah nasional. Apabila ekonomi nasional dipecah ke dalam
sejumlah ekonomi wilayah dengan baik dan jelas struktur internalnya, maka ekonomi
wilayah seperti itu merupakan sub-sub wilayah perekonomian nasional di atas wilayah-
wilayah homogen yang baik.
Akan tetapi kalau sistem wilayah tersebut merupakan sistem ketidakseimbangan,
membentuk wilayah-wilayah yang tidak sama, maka sistem wilayah seperti itu
dinamakan sistem wilayah polarisasi. Misalnya di dalam suatu wilayah nasional
terdapat dua wilayah yang besar-besar dan maju, dan selebihnya terdiri dari wilayah-
wilayah yang kecil-kecil serta terbelakang, struktur ekonominya tidak tertata secara
berencana, tidak jelas keterkaitannya satu sama lain secara geograIis, tidak jelas
keterkaitan wilayah yang satu dengan yang lainnya dengan spesiIikasi masing-masing
sebagai satu kesatuan dalam wilayah nasional. Wilayah tersebut lebih memperlihatkan
keterkaitan Iungsinya pada arus polarisasi wilayah kepada dua wilayah yang maju saja,
bukan arus antar wilayah secara keseluruhan dengan pusat-pusat wilayah tersebut, yang
memakai arus keterkaitan antar wilayah baik ke dalam maupun ke luar. Oleh karena itu
pilihan ideal sebuah wilayah perencanaan tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai.
Didasarkan kepada tujuan tersebut sekelompok wilayah diteliti, bagaimana struktur
umum yang dimilikinya, bagaimana system integrasinya secara umum.
Langkah selanjutnya adalah membuat kerangka siIat-siIat wilayah, akuntansi
wilayah berdasarkan struktur umumnya, yang didasarkan kepada teori-teori, analisis
pendapatan wilayah dan pertumbuhan pendapatan/ekonomi wilayah. Diasumsikan
bahwa wilayah-wilayah itu homogen, atau wilayah-wilayah tersebut sama dengan
wilayah perencanaan. Di dalam system akuntansi wilayah diakui (diterima) variabel-
variabel: wilayah sebagai satu kesatuan produksi, pendapatan, konsumsi dan jarak, serta
90
keterkaitan wilayah ke dalam (keterkaitan akuntansi input-output industri) digunakan
sebagai dasarnya.

6.2. Akuntansi Wilayah (Regional Account)
Uraian tentang akuntansi wilayah ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
1. Pendahuluan
2. Pehitungan Pendapatan dan Produksi Wilayah
3. Perhitungan Input-Output Wilayah

6.2.. Pendahuluan
Fungsi perhitungan pada tingkat wilayah sama saja dengan Iungsi perhitungan
pada tingkat nasional, yang bertujuan untuk dapat melakukan analisis ekonomi pada
tingkat wilayah, yaitu analisis ekonomi yang bersiIat makro. Secara umum terdapat
perbedaan antara analisis yang dilakukan untuk tujuan jangka pendek dan jangka
pannjang. Banyak analisis yang lebih mengutamakan untuk menjawab masalah-masalah
Iluktuasi ekonomi jangka pendek, yaitu bagaimana dapat menjaga stabilisasi ekonomi
jangka pendek dari gelombang Iluktusi siklus bisnis.
Analisis ekonomi wilayah lebih ditujukan untuk maksud-maksud stabilitas
ekonomi jangka panjang, misalnya untuk perubahan struktur ekonomi wilayah. Adanya
Iluktuasi ekonomi jangka pendek yang penyebabnya merupakan hasil interaksi antara
satu wilayah dengan wilayah lain tidak dibicarakan dalam analisis wilayah, tetapi yang
lebih diutamakan adalah perhatian kepada pertumbuhan ekonomi wilayah, bagaimana
masing-masing wilayah dapat menyesuaikan diri terhadap proses perkembangan jangka
panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan sumberdaya-sumberdaya produksi
(n5uts), perubahan teknologi dan perubahan struktur ekonomi wilayah.
Kerangka akuntansi wilayah diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah
yang kompleks. SiIat dan Iungsi-Iungsi akuntansi wilayah tidak melihat kepada lebih
kompleks atau sederhananya di dalam struktur perhitungan tersebut. Variabel-variabel
yang digunakan sama, walaupun ada juga perbedaan-perbedaan antara keterkaitan
secara akuntansi dengan keterkaitan secara teoritis. Akuntansi wilayah diekspresikan
dalam bentuk identitas neraca antar wilayah dan yang dideIinisikan secara benar, yaitu
berdasarkan Iakta-Iakta yang ada. Sedangkan keterkaitan secara teoritis antar wilayah
didapatkan dari tujuan analisis, tidak persis benar, tetapi merupakan suatu generalisasi
yang bersiIat prediktiI. Oleh karena itu pula akuntansi wilayah membimbing para
teoritisi dapat mendeIinisikan konsep-konsep wilayah secara jelas dan konsisten dengan
data yang ada, baik data statistik maupun inIormasi-inIormasi lain. Dengan kata lain,
sistem akuntansi wilayah membantu perkembangan teori ekonomi wilayah yang lebih
memiliki nilai operasional.
Kedudukan akuntansi wilayah: Pertama, merupakan dukungan dasar sebelum
dilakukan suatu evaluasi secara teoritis. Akuntansi wilayah dapat mengembangkan
suatu kerangka untuk analisis kebijakan ekonomi wilayah. Kedua. memberikan
inIormasi yang objektiI dalam melihat dampak evolusi yang dikaitkan dengan sistem
regional sebagai akibat dari kebijaksanaan nasional, atau perubahan-perubahan dalam
kegiatan ekonomi pada semua tingkat (pusat maupun daerah, atau nasional maupun
regional). Ketiga. menyoroti perbedaan penting di antara kerangka akuntansi wilayah
dengan akuntansi nasional. Ini diperlukan dalam rangka membangun suatu akuntansi
wilayah secara nasional dengan asumsi bahwa wilayah adalah sebagai wilayah yang
91
tertutup. Perdagangan antar wilayah dalam rangka saling mengembangkan di antara
wilayah.
Akuntansi wilayah mengikuti prosedur pengembangan analisis wilayah.
Ekonomi suatu wilayah dipandang sebagai suatu ekonomi terbuka dan akuntansi
wilayah disyaratkan harus dengan metode yang memudahkan untuk melihat dampak
pengaruh kekuatan eksternal pada produksi-produksi local daerah yang bersangkutan.
Struktur pencatatan dari akuntansi wilayah harus memungkinkan mengakomodasikan
elemen-elemen eksogenus maupun endogenus, dan memperlihatkan interaksi-interaksi
antara kegiatan-kegiatan ekonomi nasional, wilayah, dan ekonomi antar wilayah.
Dengan kata lain diperlukan disain akuntansi wilayah dalam rangka memahami siIat-
siIat keseimbangan ekonomi wilayah secara umum. Dari sistem akuntansi wilayah
tersebut juga harus terlihat perkembangan sektor pemerintahan, sektor swasta, wilayah
secara individual, wilayah-wilayah terkebelakang, dan sebagainya. Juga lebih baik lagi,
jika system akuntansi wilayah tersebut dapat memperlihatkan perkembangan sub-
subwilayah secara parsial untuk dapat melakukan analisis terhadap kebijakan-kebijakan
lokal.
Disusunnya akuntansi wilayah dimaksudkan agar dapat memberikan inIormasi
tentang dampak dari keterkaitan ke dalam suatu wilayah secara individual, keterkaitan
ke luar dengan wilayah-wilayah lain/internasional, dan dampak dari kebijakan
pemerintah pusat. Data kuantitatiI seperti itu diperlukan untuk memperkirakan impor-
ekspor wilayah yang luas, dikaitkan dengan nilai Marginal Pro5ensity to m5ort (MP),
perbedaan pendapatan regional yang bersiIat geograIis (perbedaan PDRB antar
wilayah). Perbedaan itu mungkin karena penduduk suatu wilayah yang bekerja di
wilayah lain, dan/atau modal suatu wilayah ditanamkan di wilayah lain. Tentu saja data
ini cukup sulit dihimpun, karena banyak transaksi-transaksi antar wilayah yang tidak
tercatat, mengingat hal itu bukan sasaran pengawasan administrasi. Pengambil-
pengambil keputusan memerlukan perkiraan pendapatan wilayah untuk memperkirakan
kapasitas pasar wilayah. Akuntansi ini menghasilkan perkiraan volume arus barang
antar wilayah dan neraca pembayaran antar wilayah. Ini adalah kerangka akuntansi
regional.
Sumbangan wilayah kepada pemerintah pusat tidak diperhitungkan. Anggaran
pemerintah pusat akan memberikan dampak kepada pembangunan wilayah. Demikian
pula kontribusi relatiI dari wilayah-wilayah secara individual terhadap total penerimaan
pajak pemerintah pusat, pengaruhnya besar dan luas. Berdasarkan hal-hal tersebut maka
jelas bahwa struktur perhitungan nasional konvensional tetap dipakai pada akuntansi
wilayah.
Masalah-masalah wilayah biasanya dibedakan dengan masalah-masalah yang
ditonjolkan pada tingkat nasional, masalah-masalah wilayah tidak merupakan suatu
kebutuhan lebih lanjut untuk kelengkapan perhitungan pendapatan/produksi nasional,
sebagai kerangka dasar inIormasi ekonomi. Sebagai contoh di dalam studi-studi
'dampak evolusi terhadap latar belakang perindustrian suatu wilayah mungkin lebih
banyak kegunaannya dibandingkan studi pembagian pusat-pusat tabungan dan investasi.
Dari gambaran-gambaran tersebut di atas maka akan sulit diketahui kalau sistem
akuntansi wilayah atas dasar geograIi yang didasarkan kepada perkiraan-perkiraan
imbal beli antar industri nasional yang tidak lengkap dari data arus pendapatan nasional.
Akhirnya, dengan memperhatikan konsepsi perhitungan (akuntansi) pada tingkat
wilayah tidak sampai mengaburkan Iaktanya, di mana suatu perhitungan yang demikian
itu merupakan kerangka perhitungan empiris. Akuntansi wilayah adalah penggabungan
92
data statistik dan bangun teori. Untuk mengeIektiIkan Iungsi dari akuntansi wilayah
haruslah dibangun berdasarkan apa adanya, dan yang paling pokok adalah tidak
menyulitkan dalam pengumpulan datanya. Di beberapa negara, terkecuali negara-negara
yang menganut system konstitusi Iederal, system administrasi wilayah yang digunakan
secara operasional untuk akuntansi wilayah, seperti halnya Inggris, tidak kaku. Untuk
memperoleh data tersebut sangat mahal, dan proporsi-proporsi bagiannya tidak mungkin
diukur tanpa adanya lembaga-lembaga baru yang ditugaskan untuk menghitungnya.
Untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang perlu dibuat maka data pendapatan
wilayah penting sekali, tetapi kalau transaksi-transaksi antar wilayah dan transaksi
wilayah dengan luar negeri tidak terliput oleh pengawasan administrasi tidak mungkin
dilakukan akuntansi wilayah pada level yang lebih bawah. Perusahaan-perusahaan yang
bersiIat multiplant yang beroperasi di wilayah tersebut juga mungkin menambah
masalah-masalah statistik. Sebagai perusahaan yang memproduksi barang-barang
setengah jadi di satu wilayah dan digunakan sebagai bahan baku (mata rantai produksi
industri) di wilayah yang lain, di mana nilai produksi masing-masing wilayah mungkin
sulit diketahui (sulit dicatat). Laba yang diperoleh perusahaan di masing-masing
wilayah sulit dibagi-bagi/dihitung. Alokasi proyek-proyek tidak langsung untuk
wilayah-wilayah yang berbeda juga tidak mungkin dilakukan, terutama pajak yang
dikenakan pada bahan baku/barang-barang setengah jadi di pelabuhan-pelabuhan
sebelum diangkut ke lokasi-lokasi tujuan memprosesnya lebih lanjut. Untuk barang-
barang produksi rumah tangga juga ada masalah, dimana barang-barang tersebut
biasanya tidak dikenakan pajak pada level produksi, tetapi dikenakannya pada waktu
dikonsumsi, dimana saja di dalam wilayah suatu negara. Semua masalah-masalah yang
seperti itu merupakan tambahan-tambahan masalah yang perlu mendapat pengkajian
kembali, dimana konsepsi kerangka akuntansi wilayah menjadi lebih lengkap.

6.2.2 Perhitungan Produk dan Pendapatan Regional
Sebagai contoh diperkenalkan perhitungan Richard Stone, Departemen Ilmu
Ekonomi Terapan Universitas Cambridge. Model ini mengelompokkan kegiatan
ekonomi wilayah (Daerah) ke dalam tiga kelompok utama, yaitu: (1) Produksi, (2)
Konsumsi, dan (3) Investasi
Di dalam suatu sistem perekonomian terbuka, pengelompokan seperti ini juga
diperlukan untuk menampung transaksi sisa perdagangan luar negeri. Sisa ekspor-impor
ini di satu kelompokkan dengan transaksi antar wilayah. Akuntansi wilayah tersebut
dilengkapi pula dengan kelompok transaksi pemerintah pusat. Transaksi pemerintah
pusat dipisahkan dengan transaksi daerah (wilayah) untuk menghindari kesalahan-
kesalahan di dalam pencatatan transaksi yang dilakukan oleh organisasi vertical
pemerintah pusat, yang bila disatukan dengan transaksi wilayah dapat mempengaruhi
neraca antarwilayah, menghilangkan signiIikansi wilayah. Kegiatan-kegiatan produksi
pemerintah daerah dan berbagai bentuk produksi lainnya disatukan ke dalam kelompok
perhitungan produksi, pendapatan dan modal wilayah.
Susunan atau bentuk lengkap dari perhitungan (akuntansi) wilayah disajikan
dalam bentuk matrik sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 6.1. Baris pertama dan
kolom-kolomnya meliputi tiga perhitungan. Impor semuanya dimasukkan ke dalam
perhitungan produksi sebuah wilayah, diperlihatkan baris pertama, diimbangi dengan
besaran-besaran yang diperlihatkan sebelumnya pada kolom pertama. Perkiraan
pendapatan dan pengeluaran wilayah j disajikan di dalam baris dan kolom dua. Baris
dan kolom tiga menyajikan perkiraan modal masuk dan modal ke luar wilayah j.
93
Tiga perkiraan tersebut meliputi 14 perhitungan masukan bagi setiap wilayah.
Total ketiga perhitungan tersebut menghasilkan: (1) Perkiraan produksi (GDP) wilayah
pada harga yang berlaku, (2) Perkiraan pendapatan (GRI) transIer-transIer bersih
tahun berjalan. Perkiraan modal, tambahan bersih kekayaan wilayah dalam bentuk
persediaan-persediaan investasi dan asset tetap, atau tambahan tagihan terhadap
wilayah-wilayah lainnya. Perkiraan-perkiraan pemerintah pusat diperlihatkan pada baris
4-6 kolom 5, yang merupakan aktiIitas pendapatan dan pengeluaran pada tahun yang
sedang berjalan. Baris 6 mewakili perkiraan modal pemerintah pusat. Perkiraan ini
merupakan perpindahan dari lalu-lintas pemasukan modal baru, atau akibat dari neraca
pengeluaran dan penerimaan pemerintah pusat, dikaitkan dengan arus modal wilayah
yang bersangkutan ke luar (kolom 3). Baris dan kolom 7-9 mewakili perkiraan-
perkiraan produksi, pendapatan/pengeluaran dan modal, yang menyangkut transaksi
dengan wilayah-wilayah lain dan luar negeri.

Tabel 6. Tabel Perhitungan Produksi dan Pendapatan Wilayah Richard $tone



Ke Wilayah Pemerintah Wilayah2 lain
Pusat dan luar negeri
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Dari P Y K P Y K P Y K
Wilayah
1 P 0 Cjj Vjj 0 Cjg 0 Xjr 0 0
2 Y Ydj 0 0 0 Gjg 0 Yjr Gjr 0
3 K 0 Sjj 0 0 0 Tjg 0 0 0
Pemerintah
Pusat
4 P 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Y gj Dgj 0 0 0 -Sgg Ygr 0 0
6 K 0 0 Bgj 0 0 0 -Vgr 0 Bgr
Wilayah-wilayah lain
dan luar negeri
7 P 0 0 0 0 Crg 0 0 0 0
8 Y 0 0 0 0 Grg 0 Mrr 0 0
9 K 0 0 Brj 0 0 Trg 0 Nrr 0



94
Keterangan.
Y
dj
I
gj
C
jj
V
jj

C
jg

X
jr
S
jj
D
gj

G
jg

Y
jr

G
jr

T
jg

B
gj
B
rj

C
rg

G
rg
-
Sgg
Y
gr


GDP pada harga berlaku wilayah j (termasuk apresiasi stock). Pajak tidak
langsung kurang subsidi yang dibayar wilayah j.
Konsumsi rumahtangga dan pemerintah daerah wilayah j. Investasi bruto
wilayah j dalam bentuk asset tetap dan stocks, termasuk apresiasi stocks.
Penjualan wilayah j kepada pemerintah pusat untuk tujuan konsumsi.
Ekspor netto wilayah j ke semua wilayah lain dan luar negeri. Tabungan bruto
wilayah j.
Pajak langsung pendapatan wilayah yang dibayarkan kepada pemerintah
pusat.
TransIer-transIer lancar, hadiah-hadiah dan hibah-hibah yang diterima
wilayah j dari pemerintah pusat.
Penerimaan-penerimaan netto (Iaktor pendapatan) wilayah j dari semua
wilayah dan luar negeri.
TransIers lancar yang diterima wilayah j dari semua wilayah dan luar negeri.
TransIers modal netto yang diterima wilayah j dari pemerintah pusat.
Pinjaman bersih pemerintah pusat dari wilayah j.
Pinjaman bersih seluruh wilayah lainnya dan luar negeri dari wilayah j.
Pengeluaran lancar pemerintah pusat untuk luar negeri terhadap pembelian
barang-barang dan jasa-jasa.
TransIer lancar bersih luar negeri pemerintah pusat.
DeIisit tabungan pemerintah pusat.
Pembayaran-pembayaran bersih (pendapatan Iactor) yang diterima pemerintah
pusat dari semua wilayah lainnya dan luar negeri.
TransIer-transIer modal bersih yang dibayar pemerintah pusat ke luar negeri.
Investasi yang bernilai negatiI di dalam asset-aset tetap dan stocks dari
pemerintah pusat.
Pinjaman bersih pemerintah pusat dari luar negeri.
TransIer-transIer keseimbangan terhadap perkiraan-perkiraan pendapatan dan
pengeluaran, misalnya penerimaan negara dari penjualan barang/jasa dalam
bentuk pendapatan Iaktor.
TransIer keseimbangan terhadap perhitungan transaksi modal, yaitu neraca
luar negeri dalam perkiraan lancar dengan negara tersebut.
Wilayah yang bersangkutan.
Pemerintah pusat.
Semua wilayah lainnya dan luar negeri.
Perkiraan produksi
Perkiraan pendapatan dan pengeluaran.
Perkiraan modal.
95
T
rg

-
Vgr

B
gr
M
rr


N
rr


j
g
r
P
Y
K
.
Perkiraan-perkiraan ini memberikan kemungkinan bagi diketahuinya beberapa
besaran ekonomi domestik dan nasional. Seperti Produk Domestik Bruto (GDP) pada
harga yang berlaku apresiasi stock
df
, yang merupakan produksi domestik
wilayah j. Dapat pula diketahui total konsumsi, yaitu:

+ +
rf
fg ff

6.2.3 Perhitungan Input-Output Wilayah
Pada perhitungan input-output willayah ini, industri (sektor-sektor ekonomi)
dilihat pada tingkat wilayah, untuk melihat berbagai pengaruh perubahan yang datang
dari luar terhadap ekonomi suatu wilayah. Tujuan perhitungan input-output tersebut
memiliki nilai yang lebih luas dari perhitungan-perhitungan produksi dan pendapatan
wilayah. Atas dasar perhitungan ini maka kebutuhan-kebutuhan data untuk menyusun
sebuah model input-output antar wilayah semakin banyak. Perhitungan input-output
merupakan suatu perluasan dan modiIikasi perhitungan-perhitungan produksi dan
pendapatan wilayah.
Model input-output wilayah memasukkan asumsi-asumsi dasar model LeontieI
yang umum. Setiap komoditas yang di-su55ly oleh industri tunggal atau sektor produksi
hanya digunakan satu metode, yaitu untuk pembuatan komoditi masing-masing dan
sektor masing-masing hanya terdapat satu input primer, dan tidak terdapat input
bersama. Pengembangan analisis ini menjadi suatu susunan analisis input-output antar
wilayah. Adakalanya diperlukan asumsi-asumsi tambahan sebagai berikut:
Pertama : Bahwa sistemnya tertutup, artinya tidak ada impor-ekspor (perdagangan luar
negeri). Asumsi ini tidak realistis, oleh karena itu impor-ekspor diasumsikan
sebagai suatu wilayah di samping wilayah-wilayah yang lain yang
melakukan transaksi (perdagangan) dengan wilayah yang bersangkutan.
96
Kedua. Analisis industri antar wilayah tersebut tidak hanya mengasumsikan
koeIisien produksinya tetap, tetapi koeIisien perdaganganpun diasumsikan
tidak berubah. Oleh karena itu, akibat dari perubahan tertentu tidak
menyimpang dari perbedaan-perbedaan geograIis di lokasi tersebut, yaitu
yang menyangkut permintaan Iinal atau sumber supply.
Terakhir. Bahwa seluruh impor dari suatu wilayah tercatat pada matrik antar industri.
Susunan hipotesis perhitungan input-output antar wilayah interregional in5ut
out5ut) disajikan dalam tabel l6.2 berikut ini.
Analisis ini, sebagai suatu ilustrasi, dibatasi hanya untuk dua wilayah (A dan B)
dan tiga jenis komoditas saja (1,2 dan 3), yaitu: (a) Perkiraan-perkiraan antar-industri
diperlihatkan pada kuadran kiri atas tabel, (b) Kegiatan-kegiatan produksi bersama-
sama dikelompokkan kedalam sejumlah sektor-sektor, dalam kasus ini ada tiga sektor.
Setiap sektor diperlihatkan di dalam sistem perkiraan ganda, sebagai produsen output
dan sebagai pemakai input, (c) Setiap unsur yang berhadapan memperlihatkan disposisi
output dari sektor itu dalam setiap wilayah, dan dari sumber (impor atau domestik).
Jumlah keseluruhan unsur-unsur tersebut menghasilkan total penggunaan intermediate
oleh wilayah (Wi).





Tabel 6.2 Perhitungan Input-Output Inter-Regional (dua wilayah, tiga
komoditas/sektor)
Dari
Ke


Pemakaian
ntermediate Pembelian Final Total Supply
Sektor Pembelian
Pemakai
an
Final
Domestik
Eksp
or
Tot
al
Pe
mb.
Fina
l

Permintaa
n Total
=Total
Supply

1 2 3 Total

mpor
Produk
si
Domest
ik Dari
Sektor
Prod.
1 X
AA
11
X
AA
12
X
AA
13
X
AA
11

W
A
1
D
A
1
Y
A
1


Z
A
1


X
BA
1
X
AA
1

X
BA
11
X
BA
12
X
BA
13
X
BA
11

X
BB
11
X
BB
12
X
BB
13
X
BB
11

W
B
1
D
B
1
Y
B
1


Z
B
1


X
AB
1
X
BB
1

X
AB
11
X
AB
12
X
AB
13
X
AB
11

2 X
AA
21
X
AA
22
X
AA
33
X
AA
11

W
A
2
D
A
2
Y
A
2


Z
A
2


X
BA
2
X
AA
2

X
BA
21
X
BA
22
X
BA
23
X
BA
21

X
BB
21
X
BB
22
X
BB
23
X
BB
21

W
B
2
D
B
2
Y
B
2


Z
B
2


X
AB
2
X
BB
2

X
AB
21
X
AB
22
X
AB
23
X
AB
21

3 X
AA
31
X
AA
32
X
AA
33
X
AA
31

W
A
3
D
A
3
Y
A
3


Z
A
3


X
BA
3
X
AA
3

X
BA
31
X
BA
32
X
BA
33
X
BA
31

X
BB
31
X
BB
32
X
BB
33
X
BB
31

W
B
3
D
B
3
Y
B
3


Z
B
3


X
AB
3
X
BB
3

X
AB
31
X
AB
32
X
AB
33
X
AB
31

Pembelia
n
U
A
1
U
A
2
U
A
3



97
Total
(y.i. nput
yg
diproduk
si)
U
B
1
U
B
2
U
B
3



Nilai
Tambah
(input-
input
primer)
V
A
1
V
A
2
V
A
3


V
A
D
V
AB
y
V
A
y


V
A



V
B
1
V
B
2
V
B
3


V
B
D
V
BA
x
V
B
y


V
B



Total
produksi
input-
input
yg
diimpor
X
A
1
+
M
A
1

X
A
2
+
M
A
2

X
A
3
+
M
A
3


D
A
X
AB
Y
A


Z
A


X
BA
X
AA


X
B
1
+
M
B
1

X
B
2
+
M
B
2

X
B
3
+
M
B
3


D
B
X
BA
Y
B


Z
B


X
AB
X
BB



Penggunaan netto, seperti konsumsi, investasi, pemakaian pemerintah dan
ekspor, digambarkan di dalam perkiraan-perkiraan pendapatan dan produksi, disatukan
ke dalam pos penggunaan Iinal (Y
i
). Di dalam tabel I-O, dipecah ke dalam dua pos,
yaitu pemakaian domestik Iinal dan ekspor, yang diperlihatkan di dalam kuadran atas,
yaitu:
AB
i
A
i
D +
Keterangan tabel.
Simbol-simbol A dan B Region-region (wilayah) A dan B, sedangkan angka
1,2 dan 3 komoditas-komoditas (sektor-sektor) 1,2 dan 3.
A

1
Penawaran total komoditas 1 di wilayah A
AA

1
Produksi total komoditas 1 di wilayah A
BA

1
Impor total komoditas 1 oleh wilayah A dari wilayah B
AB

1
Ekspor total komoditas 1 wilayah A ke wilayah B
AA

12
Jumlah komoditas 1 produksi domestic yang digunakan di sektor 2 di wilayah A
BA

12
Jumlah komoditas 1 yang diimpor dari wilayah B untuk digunakan di sektor 2 di
wilayah A.
A

1
Pemakaian Iinal komoditas 1 di wilayah A
A
D
1
Penggunaan domestic Iinal komoditas 1 di wilayah A
A
W
1
Penggunaan intermediate total komoditas 1 di wilayah A
A
U
2
Penggunaan total oleh sektor 2 di wilayah A dari input-input yang dibeli dari
industri-industri lain
A
J
2
Penggunaan total input-input primer (nilai tambah) di sektor 2 di wilayah A
AA

1
Produksi domestic komoditas 1 di wilayah A
A
M
2
Penggunaan total oleh sektor 2 di wilayah A untuk input-input impor yang dibayar
dari industri-industri di wilayah B.
Kuadran kiri-atas tabel memperlihatkan prosedur sektor-sektor sebagai pembeli
input-input, yaitu input-input untuk wilayah yang bersangkutan yang diserap dari
sektor-sektor produksi lainnya, di dalam wilayah itu sendiri atau di luar wilayah itu
98
sendiri. Jumlah keseluruhan input-input tersebut sama dengan total 5urchase of 5roduct
in5uts U
j
. Total produksi ditambah input-input yang diimpor untuk pemakaian sektor-
i (X
j
M
j
), input-input primer ditambahkan kepada total pembelian. Yang dimaksud
dengan input-input primer adalah belanja langsung kepada Iaktor-Iaktor primer (seperti:
tanah, tenaga kerja dan modal) yang meliputi nilai tambah sektor, yang diperlihatkan
pada kuadran kiri-bawah V
j
. Terakhir, pada kuadran kanan bawah didapatkan input
langsung Iaktor-Iaktor primer untuk pemakaian Iinal (contohnya yaitu: kesempatan
kerja sektor pemerintah dan pelayanan dalam negeri.
Disain perhitungan input-output didasarkan kepada suatu pembagian pemakaian
ke dalam dua kategori, yaitu: pemakaian intermediate (pemakaian barang setengah jadi)
dan pemakaian Iinal (pemakaian barang jadi). Demikian pula input itu sendiri dibagi
kedalam dua kategori, yaitu: input yang diproduksi (input barang-barang setengah jadi)
dan input primer.
Ciri penting analisis penentuan pendapatan wilayah ini adalah dibedakannya
antara komponen-komponen input yang diproduksi (input setengah jadi) dan yang
otonom (primer). Salah satu Iungsi pokok perhitungan input-output adalah untuk
memungkinkan para analist memisahkan gangguan eIek-eIek yang bersiIat otonomus,
misalnya perubahan pada permintaan Iinal, perubahan pada transaksi-transaksi antar
industri dan karenanya perubahan pada produksi total di setiap sektor ekonomi.
Simbol Z
i
A
mewakili penawaran total komoditas i di wilayah A, dimana besaran
ini dipecah lagi ke dalam dua unsur, yaitu impor (X
i
BA
) dan produksi domestik (X
i
AA
).
Bertolak dari persamaan yang harus seimbang, maka untuk setiap komoditas:
Penawaran Total Permintaan Total. Maka Z
i
A
dapat juga diseimbangkan dengan
permintaan total wilayah A, yaitu sebesar permintaan Iinal dikurangi impor, atau
penggunaan intermediate total ditambah penggunaan domestik Iinal, yaitu W
i
A
D
i
A
.
Untuk dapat menjelaskan besaran-besaran arus antar-industri pada tingkat
industri antar sektor, perlu beberapa keterangan terhadap unit-unit wilayah individual
dari matrik antar industri tersebut sebagai berikut: Permintaan (X
ij
AA
) masing-masing
industri (j
A
) untuk setiap komoditas yang diproduksi secara domestik (i) dapat
diperlihatkan sebagai sebuah Iungsi produk sendiri pada tingkat tersebut. Dengan
memasukkan elemen-elemen biaya tetap sama dengan nol, maka Iungsi input menjadi:
A
if
A
if
A
if
AA
if
a m c c = ................(1)
Keterangan. X
ij
AA
permintaan sektor i dari sektor j yang digunakan di wilayah A
diproduksi oleh wilayah A; a
ij
A
koeIisien marginal input.
m
ij
A

porsi (bagian) input komoditas i yang disu55ly secara domestik di wilayah A.
Permintaan industri (j
A
) untuk impor komoditas (i) dapat diperlihatkan dengan Iungsi:
A
if
A
if
BA
if
BA
if
a m c c = ...................(2)
Apabila m
ij
BA
dihubungkan secara tertutup marginal propensity industri di
wilayah A, untuk setiap mengimpor komoditi dari wilayah B, ternyata:

+
=
BA
if
AA
if
BA
if BA
if

m
Diketahui. 1 = +
BA
if
AA
if
m m
Dengan menggunakan koeIisien yang tetap bagi keduanya, model input-output
dapat memperkirakan lemah atau kuatnya eIek-eIek secara kuantitatiI tentang
perubahan-perubahan pada permintaan output dan permintaan input, baik di dalam
99
maupun di luar wilayah yang bersangkutan, yaitu dengan menggunakan matrik antar-
industri.
Hubungan-hubungan perhitungan input-output dapat diperlihatkan melalui
sejumlah identitas, yang berdasarkan contoh di atas dapat disusun sebagai berikut:
BA
i
AA
i
A
i
A
i
A
i
D W + = + = ...................(3)
Keterangan:
A
i
A
i
D W + Permintaan Total di Wilayah A;
BA
i
AA
i
+
Pendapatan Total di Wilayah A
Ini adalah persamaan keseimbangan (neraca) yang penting, dengan pengurangan
impor dari permintaan Iinal total dan juga dari produksi.

c c c + c c =
A
f
A
if
BA
if
BA
if
A
f
A
if
AA
if
A
i
a a m a m W ..........(4)
Permintaan intermediate total untuk komoditas i di wilayah A.
Juga:

c c =
A
f
A
if
BA
if
BA
i
a m ....................(5)
Impor komoditas i oleh wilayah A.
Kemudian subtitusikan persamaan (4) dan (5) ke (3), maka diperolehlah:

+ c c =
f
A
i
A
f
A
if
AA
if
AA
i
D a m ..................(6)
Produksi Total di Wilayah A Penggunaan Intermediate Total Permintaan
Final Total Impor.
BA
i
A
i
A
i
A
i
W + = .....................(7)
Oleh karena itu, maka:
AB
i
AA
i
A
i
+ = ......................(8)
Ini dapat ditulis:

c c + + c c =
f f
B
f
A
if
AB
if
A
i
A
f
A
if
AA
if
A
i
a m D a m ..........(9)
Dari kolom-kolom perkiraan (perhitungan) tersebut dapat diturunkan produksi
total untuk keseluruhan produksi total untuk keseluruhan jumlah input matrik.
Jadi:
A
f
A
f
A
f
A
f
M J U + = ..................(10)
Karena,

c c + c c =
i i
A
if
A
if
BA
if
A
f
A
if
AA
if
A
f
a m a m U ...........(11)
Dan

c c =
i
A
f
A
if
BA
if
A
f
a m M ................(12)
Kemudian,

+ c c =
i
A
f
A
f
A
if
AA
if
J a M .............(13)
Karena

=
i f
A
f
A
i
, maka persamaan (9) dan (13) dapat dijumlahkan untuk
setiap wilayah, dan selanjutnya diseimbangkan dengan setiap wilayah (region).

+ c c = c c + + c c
i f i f
A
f
A
f
A
if
AA
if
B
f
B
if
AB
if
i f i
A
i
A
f
A
if
AA
if
J a m a m D a m ...(14)
Perkiraan seluruh transaksi inter-industri bertolak dari identitas pendapatan nasional,

=
i f
f i
J
Dengan kata lain: Permintaan Final Iaktor dari perubahan-perubahan total yang
memiliki keterkaitan dengan identitas Produksi Nasional Bruto (PNB) dan Pendapatan
Nasional Bruto (INB).
100
Terakhir, neraca eksternal (neraca pembayaran) wilayah B


=
i i
BA
i
AB
i
A
B ........................(15)
atau

c c c c =
i f i f
A
f
A
if
BA
if
B
f
B
if
AB
if
A
a m a m B .........(16)
101
BAB VII
ANALI$I$ PERUBAHAN $TRUKTUR EKONOMI WILAYAH

7.. Pendahuluan
Salah satu sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang adalah terjadinya
perubahan pada struktur ekonomi wilayah. Seperti diketahui bahwa pertumbuhan
ekonomi sebagai salah satu sasaran pembangunan, terutama bila dimulai dari kondisi
keterbelakangan ke kondisi yang maju, akan disertai oleh proses perubahan pada
struktur ekonomi wilayahnya. Tidak semua sektor dalam suatu perekonomian memiliki
kemampuan tumbuh yang sama. Oleh karena itu perencana pembangunan ekonomi
biasanya akan memanIaatkan sektor-sektor yang dapat tumbuh tinggi (sektor basis, atau
sektor kunci, atau sektor unggulan) untuk mendorong pertumbuhan rata-rata yang relatiI
tinggi. Memang tidak selalu kebijakan yang seperti itu dapat dipilih begitu saja, karena
hal itu dapat menghasilkan ketimpangan pendapatan antar sektor, antar kelompok dan
antar wilayah, jika komposisi lapangan perkerjaan pada masing-masing sektor tidak
diusahakan relatiI proporsional dengan tingkat pertumbuhannya. Para perencana
ekonomi biasanya mempertimbangkan pilihan pertumbuhan moderat untuk menghindari
ketimpangan yang mencolok.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab di sini adalah bagaimana kita mengetahui
tentang proses perubahan struktur ekonomi itu terjadi di suatu wilayah? Ada beberapa
model analisis yang lazim digunakan untuk menganalisis proses perubahan struktur
ekonomi suatu wilayah. Model-model analisis tersebut dapat memberikan pengertian
yang mendalam tentang proses perubahan struktur serta potensi ekonomi wilayah.
Selanjutnya, hasil analisis ini dapat membantu memberikan dasar argumentasi yang
kuat bagi suatu kebijakan yang diambil dalam perencanaan, ataupun untuk
mengevaluasi apakah pelaksanaan pembangunan mencapai sasaran yang direncanakan
atau tidak. Hasil evaluasi tersebut juga dapat digunakan sebagai argumentasi untuk
memperbaiki perencanaan pembangunan lebih lanjut. Ada enam model analisis
perubahan struktur ekonomi yang akan dijelaskan pada bab ini, yaitu: model Sektor
Ekonomi Basis, Model Location Quotion (Model LQ), model Concentration Index (CI),
model Specialization Index (SI), model Lacation Indeks (LI) dan model ShiIt and
Share.

7.2. Analisis Indeks Konsentrasi
John Glasson mengatakan bahwa kemakmuran satu wilayah berbeda dengan
wilayah yang lain. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan pada struktur
ekonominya, dan Iaktor ini merupakan Iaktor utama. Gambaran dari perbedaan struktur
ekonomi tersebut dapat tercermin pada data statistik, perkembangan neraca pembayaran
antar wilayah, dan tabel input-output antar wilayah. Perubahan wilayah kepada kondisi
yang lebih makmur tergantung kepada usaha-usaha di wilayah tersebut dalam
menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, serta usaha-usaha pembangaunnan yang
diperlukan.

7.2.1 Sektor Basis
Ditinjau dari segi akademis, aktiviatas ekonomi wilayah dapat dibedakan atas
dua jenis sektor aktivitas, yaitu sektor aktivitas basis (Basic Sectors) dan sektor
102
aktiviatas bukan basis (NonBasic Sectors). Aktivitas basis merupakan kegiatan yang
mengekpor barang-barang dan pelayanan ke luar wilayah ekonominya atau memasarkan
barang-barang dan pelayanan kepada orang-orang yang datang dari luar perbatasan
wilayah ekonominya. Sedangkan aktivitas bukan basis adalah kegiatan yang
menyediakan barang-barang dan pelayanan untuk keperluan penduduk yang tinggal di
wilayah ekonomi sendiri. Aktivitas bukan basis tidak mengekspor barang/pelayanan ke
luar wilayah.
Meningkatnya jumlah aktivitas ekonomi basis di suatu wilayah akan
membentuk arus pendapatan ke wilayah tersebut. Dengan meningkatnya arus
pendapatan tersebut akan meningkat pula permintaan akan barang-barang dan
pelayanan di wilayah tersebut yang dihasilkan oleh sektor bukan basis. Sebaliknya,
menurunnya aktivitas sektor basis di suatu wilayah akan mengakibatkan berkurangnya
pendapatan yang mengalir ke wilayah tersebut dan akan mengurangi permintaan
terhadap sektor bukan basis. Oleh karena itu aktivitas sektor basis sewajarnya berperan
sebagai penggerak utama bagi setiap perubahan dan berpengaruh ganda terhadap
wilayah tersebut.

7.2..Angka Pengganda Pemanfaatan Tenaga Kerja
Sektor basis akan memperluas kesempatan kerja, baik di sektor basis sendiri
maupun di sekktor bukan pasis sebagai pengaruh aktivitasnya. Seberapa besar perluasan
kesempatan kerja yang diciptakan dapat dihitung. Dalam kaitan ini dikenal istilah apa
yang disebut angka pengganda pemanIaatan tenaga kerja (k).
Contoh, suatu wilayah memiliki 500.000 orang penduduk yang bekerja.
Penduduk yang bekerja itu sebanyak 250.000 orang bekerja dalam aktivitas ekonomi
sektor-sektor basis, dan 250.000 orang yang bekerja pada aktivitas ekonomi sektor-
sektor bukan basis (1 : 1). Dengan demikian angka pengganda pemanIaatan tenaga kerja
(k) di wilayah tersebut:
2
000 . 250
000 . 250 000 . 250
=
+
= k
Dengan memiliki data sektor basis dan prospeknya di masa yang akan datang,
serta angka pengganda pemanIaatan tenaga kerja perekonomian di wilayah tersebut
dapat diperkirakan jumlah tenaga kerja yang akan terserap di masa yang akan datang.
Misalnya, k 2, tambahan tenaga kerja yang diserap sektor basis diperkirakan 20.000
orang, maka tenaga kerja yang akan diserap sektor bukan basis 20.000 orang juga. Total
tenaga kerja yang akan dimanIaatkan perekonomian wilayah naik dari 500.000 orang
menjadi 540.000 orang, yaitu:
000 . 40
) 2 ( 000 . 20
) (
=
=
A = A k B T

Dimana: AT adalah perubahan dalam jumlah tenaga kerja yang dimanIaatkan; AB
adalah perubahan jumlah tenaga kerja yang diperkirakan akan terjadi di sektor-sektor
basis; k adalah angka pengganda pemanIaatan tenaga kerja. Jika komposisi tenaga yang
dimanIaatkan dalam perekonomian dengan jumlah penduduk adalah satu berbanding
tiga (1 : 3) maka tambahan 40.000 yang diperkirakan akan dimanIaatkan pada aktivitas
sektor-sektor basis dan bukan basis akan menambah jumlah penduduk menjadi 540 * 3
1.620.000 orang.

103
Menurut Glasson, teori sektor basis ini memiliki kelemahan, terutama adanya
kesulitan dalam menilai sektor basis dan bukan basis di lapangan. Sebagai contoh yang
dikemukakannya, industri tambang batu bara yang menjual produknya terlebih dahulu
kepada perusahaan dalam wilayah, kemudian sebagian menyalurkannya kepada pabrik-
pabrik di dalam wilayah dan sebagian lagi mengekspornya ke luar wilayah. Hasil
perhitungan angka pengganda industri pertambangan batu bara jelas menjadi bukan
sektor basis, yang basis adalah sektor perdagangan. Kelemahan ini kemudian diatasi
dengan analisis pendekatan hasil bagi lokasi (Analisis ocation Quotion), analisis LQ.

7.2.2. Analisis Location Quotient (LQ)
Menurut A. Bendavid () LQ adalah suatu indeks untuk mengukur tingkat
spesialisasi (relatiI) suatu sektor atau subsektor ekonomi suatu wilayah tertentu.
Pengertian relatiI di sini diartikan sebagai tingkat perbandingan suatu wilayah dengan
wilayah yang lebih luas (wilayah reIerensinya), dimana wilayah yang diamati
merupakan bagian dari wilayah yang lebih luas tersebut. Misalnya, ukuran konsentrasi
satu sektor atau subsektor di suatu provinsi dibandingkan dengan sektor atau subsektor
tersebut untuk tingkat nasionalnya. Demikian pula ukuran konsentrasi satu sektor atau
subsektor pada tingkat kabupaten/kota dibandingkan dengan sektor atau subsektor
tersebut untuk tingkat provinsinya. Sebagaimana halnya Glasson, Bendavid juga
mengatakan bahwa LQ dapat dinyatakan dalam beragam ukuran (Terminilogy), namun
yang sering digunakan adalah ukuran kesempatan kerja Sector or Subsector
Em5loyment) dan ukuran nilai tambah produk Sektor or Subsector Jalue Added).
Formula yang menggambarkan deIinisi indeks konsentrasi untuk terminologi
kesempatan kerja adalah sebagai berikut:
N
N
i
R
R
i
E
E
E
E
Q = ....................(1)
Dimana: Q Location Quotients; E
i
R
total angkatan kerja sektor i wilayah R; E
R

total angkatan kerja wilayah R; E
i
N
total angkatan kerja sektor i di negara N; E
N

total angkatan kerja di negara N
Sedangkan Iormula yang menggambarkan deIinisi indeks konsentrasi untuk
terminologi nilai tambah produksi sebagai berikut:
N
N
i
R
R
i
J
J
J
J
Q = ....................(2)
Dimana: Q Location Quotionts; J
i
R
total nilai tambah produksi sektor i di daerah
R; J
R
total nilai tambah produksi di daerah R; J
i
N
total nilai tambah produksi
sektor i di negara N; J
N
total nilai tambah produksi negara N.
Jika nilai LQ ~ 1 maka sektor tersebut relatiI di atas representasinya (ver
Re5resented) di daerah studi tersebut. Jika nilai LQ 1 maka sektor tersebut relatiI
proporsional (Pro5ortional). Dan jika nilai LQ 1 maka sektor tersebut relatiI di bawah
proporsional (Under Re5resented)
Menurut Bendavid, konsep LQ juga memiliki beberapa kelemahan, namun telah
ditemukan jalan keluar untuk mengatasi kelemahan tersebut. Kelemahannya adalah: (1)
jika daerah yang diamati merupakan bahagian yang menonjol, baik dalam hal luas
104
ataupun besarnya nilai tambah sektor, nilai pembaginya (nominator,
N N
i
E E / )
cenderung mendekati nilai pembilangnya (denominatornya,
R R
i
E E / ), sehingga nilai
LQ-nya akan cenderung bias mendekati 1. Jalan keluarnya adalah menukar, atau
merubah wilayah reIerensinya dengan yang lebih luas. (2) Perbedaan produktivitas antar
sektor dapat mengganggu gambaran kesimpulan objek analisis. Suatu daerah dapat
terovers5esialisasi dalam aktivitas tertentu, tetapi karena produktivitas tenaga kerjanya
relatiI lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain, maka hal tersebut tidak tercermin
dalam belanja angkatan kerja. Jalan keluarnya adalah dengan merubah terminologi LQ-
nya. Oleh karena itu, indeks LQ dapat merupakan alat yang sangat berguna kalau indeks
tersebut tidak diterapkan secara otomatis, terlebih dulu mempertimbangkan kenyataan-
kenyataan logis dari Ienomena.
Contoh-1 (perhitungan LQ ukuran tenaga kerja): Jika diketahui bahwa di daerah
j mempekerjakan tenaga kerja di sektor i sebanyak 40.000 orang. Sedangkan total
kesempatan kerja di daerah j adalah 200.000 orang. Untuk wilayah reIerensinya jumlah
tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor i adalah 120.000 orang dan total kesempatan
kerja di seluruh sektor pada wilayah reIerensi 1.000.000 orang. Maka perhitungan LQ:
67 , 1
000 . 000 . 1
000 . 120
000 . 200
000 . 40
= = Q
Contoh-2 (perhitungan LQ ukuran nilai tambah prosuksi): Bila diketahui sektor i
di wilayah j menghasilkan nilai tambah produksi Rp 10 trilyun, total nilai tambah
produksi semua sektor Rp 100 trilyun. Nilai tambah produksi sektor i pada tingkat
wilayah reIerensi Rp 32 trilyun dan total nilai tambah produksinya Rp 640 trilyun.
Perhitungan LQ sektor i di wilayah j adalah:
2
640
32
100
10
= = Q

7.2.3. Analisis Concentration Indeks (CI)
Model analisis ini mirip dengan model LQ. Tetapi model ini mengacu kepada
rasio angkatan kerja dengan jumlah penduduk.
N
N
i
R
R
i
P
E
P
E
=
dimana P adalah jumlah penduduk.
Contoh-1 (Perhitungan CI ukuran tenaga kerja). Jika diketahui sektor i di wilajah
j memiliki kesempatan kerja 40.000 orang dengan jumlah penduduh 240.000.
Sedangkan sektor i di wilayah reIerensinya memiliki kesempatan kerja 120.000 orang
dengan jumlah penduduknya 1.200.000 orang. Perhitungan CI:
6
4
1
000 . 200 . 1
000 . 120
000 . 240
000 . 40
= =
Perbedaan antara model LQ dengan model CI adalah, jika dijumlahkan LQ
semua sektor dan dibagi dengan jumlah sektor maka hasilnya sama dengan 1. Tetapi
tidak demikian untuk CI, karena total angkatan kerja jumlahnya tidak sama dengan
105
jumlah penduduk. Atau komposisi angkatan kerja dimungkinkan sekali berbeda untuk
wilayah yang berbeda.
Disamping nominator dengan ukuran (terminologi) jumlah penduduk juga dapat
digunakan usia kerja, dan sebagainya. Baik model LQ maupun model CI dapat juga
diterapkan untuk wilayah kota dengan wilayah reIerensinya. Hasil-hasil perhitungan
dari data berurutan tahun (Time Series) akan memberikan makna yang lebih mendalam
tentang kedua indeks tersebut. Tetapi intepretasinya hanya bisa dilakukan dengan latar
belakang adanya pengertian kuantitatiI tentang situasi perekonomian di daerah dan
negara yang bersangkutan (perlu kehati-hatian).

7.2.4. $pesialisasi Indeks ($I)
Analisis indeks ini merupakan salah satu cara untuk mengukur perilaku kegiatan
ekonomi secara keseluruhan. Misalnya, bagaimana tenaga kerja di suatu daerah tersebar
ke berbagai sektor ekonomi, yang dibandingkan secara relatiI dengan kondisi wilayah
reIerensinya. Indeks ini juga bisa mengngunakan ukuran (Terminology) nilai tambah
produksi, dan lain-lain. Perbedaannya dengan model LQ dan model CI, seperti yang
telah dibicarakan terdahulu, yaitu jika indeks LQ dan CI memberikan undeks-indeks
sektor untuk suatu wilayah yang bersiIat relatiI terhadap wilayah reIerensinya, maka
indeks SI merupakan indeks wilayah yang bersiIat relatiI terhadap wilayah reIerensinya.
Prosedur perhitungannya memilikii empat langkah, yaitu: (1) menghitung
besarnya persentase angkatan kerja masing-masing sektor terhadap total kesempatan
kerja suatu daerah; (2) menghitung besarnya persentase angkatan kerja masing-masing
sektor terhadap kesempatan kerja wilayah reIerensinya; (3) menghitung selisih
persentase angkatan kerja wilayah reIerensi dengan persentase angkatan kerja daerah
yang bersangkutan untuk masing-masing sektor; (4) Jumlahkan seluruh nilai yang
positiInya dan bagi dengan 100. Itulah indeks SI. Nilainya akan berkisar antara 0
sampai dengan 1. Jika nilainya sama dengan 0 maka distribusi angkatan kerja suatu
sektor di suatu daerah sama dengan wilaytah reIerensinya. Indeks SI juga dapat
menggunakan ukuran (Terminology) nilai tambah.
Contoh perhitungannya:
Sedtor (1)
Angkatan
Kerja
Daerah
(orang)
(2)
Angkatan
Kerja
Wilayah
ReIerensi
(orang)
(3)
Persentase
Angkatan
Kerja
Daerah
()
(4)
Persentase
Angkatan
Kerja
Wilayah
ReIerensi
()
(5)
Selisih
Persentase
(4) (3)
()
1
2
3
4
5
6
7
8
9
40
4
8
2
4
10
4
3
5
600
20
60
20
30
80
32
27
31
50
5
10
2,5
5
12,5
5
3,75
6,25
75
2,5
7,5
2,5
3,75
10
4
3,43
3,88
25
-2,5
-2,5
0
-1,25
-2,5
-1
-0,32
-2,37
80 800 100 100
106
Jadi: SI
4
1
100
25
=
Semakin besar nilai SI semakin terkonsentrasinya berbagai sektor ekonomi di
daerah yang diamati secara relatiI terhadap wilayah reIerensi. Terkecuali sektor 1, dan
sektor 4, sektor-sektor lainnya semua dengan kondisi under konsentrasi. Penerapan
metode ini juga perlu kehati-hatian.

7.2.5. Location Indeks (LI)
Indeks lain yang digunakan sebagai ukuran indeks konsentrasi adalah indeks
lokasi (LI). Walaupun demikian, LI tidak terIokus pada suatu daerah, tetapi pada suatu
sektor dan persebarannya diantara daerah-daerah yang berbeda di dalam suatu negara.
Di dalam indeks ini diperbandingkan distribuasi angkatan kerja suatu sektor daerah-
daerah dengan variabel reIerensinya. Misalnya, total angkatan kerja sektor industri
pengolahan dengan variabel reIerensinya. Keduanya dinyatakan dalam persen.
Kemudian, untuk setiap daerah dihitung perbedaan selisihnya.
Contoh: persentase angkatan kerja sektor pertanian sebuah daerah dikurangi
persentase angkatan kerja daerah tersebut. Total selisih positiI harus sama dengan total
selisih negatiInya. Jumlah selisih positiI atau negatiI dibagi 100. Besaran LI berkisar
diantara 0 1. Jika LI 0 berarti distribusi (sebaran) angkatan kerja di daerah itu sama
dengan variabel reIerensinya. Jika LI 1, distribusi angkatan kerja secara keseluruhan
berbeda dengan variabel reIerensinya.
Contoh perhitungan:

Wilayah
Pembangunan
(WP)
(1)
Angkatan
Kerja
Sektor
Industi
(orang)
(2)
Total
Angkatan
Kerja

(orang)
(3)
dari (1)
terhadap
Nasional

()
(4)
dari (2)
terhadap
Nasional

()


(4) (3)


()
WP 1
WP 2
WP 3
WP 4
25
20
15
20
2000
1000
3000
2000
31,25
25,00
18,75
25,00
25,00
12,5 0
37,50
25,00
- 6,25
-12,50
18,75
- 0,00
80 8000 100,00 100,00

Jumlah seluruh selisih 18,75
Maka LI 18,75 : 100 0,1875

LI bersiIat cenderung sebagai alat analisis sektoral, menyangkut distribusi
(sebaran) angkatan kerja wilayah. LI berguna untuk mengetahui sektor mana yang
penting bagi sebuah daerah serta penyebarannya. LI juga dapat menggunakan ukuran
nilai tambah produksi, jika ingin melihat lokalisasi sumbangan produksi sektoral.

7.3 Analisis $hift and $hare
Menurut Bendavid, konsep ini memperbaiki konsep LQ dan konsep-konsep
konsentrasi sektoral lainnya. Pada konsep ini dimasukkan unsur tingkat pertumbuhan.
Tingkat pertumbuhan dihitung secara berurutan tahun (Time Series). Oleh karena itu,
analisis Shift and Share ini besiIat dinamis, sehingga dinilai dapat memberikan
107
inIormasi yang lebih bermanIaat dibandingkan dengan konsep LQ dan indeks
konsentrasi lainnya. Namun demikian, masih diperlukan juga kehati-hatian dalam
mengintepretasikan hasil-hasil perhitungan yang didapat. Bendavid ) mengatakan
bahwa perubahan relatiI kesempatan kerja wilayah terhadap kesempatan kerja nasional
selama satu periode tertentu dapat digambarkan dalam tiga eIek. Pertama, adalah
dampak yang disebabkan oleh perubahan kesempatan kerja nasional pada wilayah yang
bersangkuatan (National Growth Effect). Kedua, pengaruh dari berbagai sektor yang
bersaing di dalam wilayah tersebut, ada sektor-sektror yang relatiI tinggi dan ada yang
relatiI rendah dalam menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan kondisi yang ada pada
tingkat nasional (ndustrial Mix). Ketiga, suatu konsekwensi perubahan kesempatan
kerja nasioanal dalam industri (sektor) yang sejenis (Regional Share), dalam arti
persaingan dianrata industri yang sama antar wilayah.
Formulanya: R N M S
Dimana: R adalah perubahan pada kesempatan kerja regional; N unsur
perubahan dari pengaruh pertumbuhan kesempatan kerja nasioanl kepada wilayah; M
unsur perubahan dari pengaruh perpaduan kesempatan kerja antar sektor dalam wilayah;
S adalah unsur pengaruh persaingan industri (sektor) yang sama antar wilayh.
Ukuran (Terminology) kesempatan kerja Sector or Subsector Em5loyment),
sepereti telah disebutkan di atas, dapat diganti dengan ukuran nilai tambah produk
Sektor or Subsector Jalue Added). Dengan bantuan model ini akan diperoleh suatu
gambaran inIormasi yang lebih mendalam tentang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah
dari ketiga unsur, atau unsur-unsur yang mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan
pada struktur ekonomi wilayah, yaitu: unsur pertumbuhan wilayah reIerensi (Regional
Growth om5onent), unsur pertumbuhan karena perpaduan antar sektor di dalam
wilayah (Sectoral, or ndustrial Mix om5onent), dan unsur pertumbuahan karena
persaingan antar sektor antar wilayah (om5etitive Effect om5onent).
LatiI Adam (1994) dan Tulus Tambunan (1994) menjabarkan ketiga unsur
pertumbuhan tersebut sebagai berikut:
Regional Growth om5onent diIormulasikan sebagai berikut:
t
if if
t
if
Q Q Q A + =
0
, atau
0
if
if
t t
if
Q Q Q = A ..............(1)
Persamaan (1) dapat diperluas menjadi:

'
+

'

'
+

'

'
+

'

= A
0 0
0
0
0
0
0
0
1
i
t
i
if
t
if
if
t
i
t
i
if
f
t
if
t
if
Q
Q
Q
Q
Q

Q
Q
Q
Q

Q Q ..................(2)
Dimana: R
t
if
Q A pertumbuhan total selama periode t ; N

'
+

'

1
0
0
f
t
if
Q

Q unsur
pertumbuhan wilayah reIerensi National Growth om5onent; M

'
+

'

0 0
0

Q
Q
Q
t
i
t
i
if

unsur pertumbuhan sektoral (industrtial) ndustrial Mix om5onet; S unsur
pengaruh persaingan

'
+

'

0 0
0
i
t
i
if
t
if
if
Q
Q
Q
Q
Q om5etitive Effect om5onent.
Yang paling penting dalam analisis ini adalah gambaran tentang potensi
pertumbuhan ekonomi wilayah (daerah) tergantung pada: (1) perpaduan sektoral (The
Sectoral Mix), yang meliputi sektor-sektor yang berbeda di dalam suatu wilayah, dan (2)
kinerja masing-masing sektor. Di dalam perekonomian suatu wilayah terdapat sektor-
108
sektor yang relatiI baik dan relatiI buruk. Pengertian relatif di sini dibandingkan di
antara sektor satu dengan sektor lain. Pengertian baik atau buruk diartikan dalam
terminologi yang ingin dilihat, misalnya dalam menyerap tenaga kerja melebihi porsi
persentase wilayah reIerensi atau sebaliknya. Jika ya dinilai baik dan fika tidak dinilai
buruk. Suatu wilayah objek studi diharapkan memiliki lebih banyak sektor yang
memiliki perbedaan yang positiI terhadap wilayah reIerensinya. Perbedaan itu disebut
MixEffect. Suatu sektor kadang memiliki kinerja yang berbeda dengan wilayah
reIerensinya. Perbedaan tersebut mungkin lebih besar atau lebih kecil dari yang
diharapkan, dengan mempertimbangkan perpaduan (The Mix), hal itu disebut Shere
Effect.
Untuk mendeIinisikan kinerja sektor-sektor di suatu wilayah dihitung tingkat
pertumbuhannya untuk beberapa tahun (yang disebut elemen dinamis). Berbeda dengan
di dalam konsep LQ di mana elemen-elemen dinamis akan diperoleh jika dihitung
berdasarkan seri waktu (dua kali pengamatan atau lebih). Sedangkan pada analisis
ShiftShare unsur dinamis tersebut sudah tercermin langsung di dalam modelnya
sendiri, dengan menggunakan tingkat pertumbuhan.
Selanjutnya, MixEffect diperoleh dengan cara: (1) menghitung besarnya
angkatan kerja hipotetis jika angkatan kerja wilayah tahun terakhir tumbuh dengan
tingkat yang sama dengan besarnya angkatan kerja wilayah reIerensi, dan (2)
menghitung besarnya angkatan kerja hipotesis jika semua sektor di daerah yang diamati
tumbuh dengan tingkat yang sama dengan semua sektor di dalam wilayah reIerensinya.
Selisih tingkat pertumbuhan wilayah reIerensi dengan tingkat pertumbuhan wilayah
yang diamati disebut MixEffect. ShereEffect didapat dengan menghitung perbedaan
antara besarnya angkatan kerja aktual dan besarnya angkatan kerja hipotetis (yang
sudah dihitung sebelumnya) jika sektor-sektor di sebuah daerah tumbuh dengan tingkat
yang sama dengan wilayah reIerensinya. Logika yang sama dapat diterapkan untuk
terminologi nilai tambah.
109
BAB VIII
TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL

8. Pendahuluan
Semua negara menginginkan adanya peningkatan standard hidup rakyatnya. Ini
berarti semua negara akan senantiasa berusaha melakukan kegiatan pembangunan, yaitu
dengan mencoba menginventarisir potensi-potensi sumberdaya ekonomi yang ada,
menyusun rencana-rencana pembangunan dan melaksanakannya melalui partisipasi
masyarakat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula halnya pada
tingkat wilayah (daerah), setiap daerah ingin meningkatkan taraI hidup penduduk di
daerahnya. Untuk itu pemerintah daerah akan berusaha mendorong pertumbuhan
aktivitas ekonomi di daerahnya. Sebuah pertanyaan penting yang timbul di sini adalah:
'Iaktor-Iaktor apakah yang melatarbelakangi pertumbuhan ekonomi tersebut.
Menurut John Glasson, analisis pertumbuhan ekonomi makro dapat digunakan
sebagai model pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan ekonomi wilayah secara
agregat ditentukan oleh Iaktor-Iaktor endogenous dan eksogenus. Faktor-Iaktor
endogenous merujuk kepada teori pertumbuhan dari Clark dan Fischer, yang
berpendapat bahwa adanya pertambahan pendapatan perkapita di suatu wilayah
dilatarbelakangi oleh adanya transIormasi tenaga kerja secara berangsur-angsur dari
sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri) dan sektor tersier (jasa). Adanya
perubahan secara berangsur-angsur pada sektor-sektor di dalam suatu wilayah akan
mengakibatkan terbentuknya spesialisasi (pembagian kerja), menciptakan unsur dinamis
bagi pertumbuhan ekonomi wilayah secara agregat. Perubahan-perubahan pada sektor
tersebut mengakibatkan meningkatnya pendapatan dan pengeluaran pekerja.
Meningkatnya pendapatan akan mengakibatkan permintaan terhadap komoditi-komoditi
yang dihasilkan sektor sekunder dan tersier yang lebih cepat dibandingkan dengan
terhadap komoditi-komoditi yang dihasilkan sektor primer. Dengan demikian terjadilah
peningkatan dalam output dan pendapatan wilayah.
Perkembangan ekonomi suatu wilayah ada Iase-Iasenya, atau peringkat-
peringkat ekonominya. Teori peringkat ekonomi ini, menurut Dominick Salvatore,
dikembangkan oleh Friedrich List, Bruno Hinderbrand, Karl Bucher, dan Walter W.
Rostow. Namun E. Wayne NaIziger hanya menyebut Walter W. Rostow sebagai
pengembangnya. Rostow membagi proses pengembangan ekonomi ke dalam lima
peringkat: yaitu (1) the traditional society; (2) the 5reconditions for take off; (3) the take
off; (4) the drive to maturity; (5) the age of high mass consum5tion. Sedangkan
persyaratan untuk peringkat industrialisasi (5recondition stage for industriali:ation)
meliputi perubahan-perubahan yang radikal (radical changes) pada tiga sektor di luar
sektor industri itu sendiri (three nonindustrial sector), yaitu: (1) increased trans5ort
investment to enlarge the market and 5roduction s5eciali:ation; (2) a revolution in
agriculture, so that a growing urban 5o5ulation can be fed, and (3) an ex5ansion of
im5orts, including ca5ital, financed 5erha5s by ex5orting some natural resources.
These changes, including increased ca5ital formation, require a 5olitical elit interested
in economic develo5ment.
Menurut Glasson pembangunan wilayah pada dasarnya merupakan proses
pengembangan lima strata ekonomi dengan urutannya sebagai berikut:
Peringkat 5ertama, yang disebut strata ekonomi subsistence, dimana keluarga-
keluarga berproduksi cukup untuk kehidupan sendiri, investasi dan perdagangan relatiI
110
kecil. Penduduk pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan berorientasi pada lokasi
sumberdaya alam.
Peringkat kedua, dimana sektor transportasi sudah berkembang, wilayah dapat
mengembangkan perdagangan dan spesialisasi produksi. Pada strata ini perekonomian
mengembangkan usaha-usaha industri pedesaan bagi petani. Bahan baku dan tenaga
kerja disediakan pedesaan, oleh karena itu strata ini erat hubungannya dengan
pengembangan dari strata satu.
Peringkat tiga, yaitu dengan berkembangnya peringkat dua (atau meningkatnya
perdagangan), diikuti pula oleh meningkatnya permintaan dan produksi sektor
pertanian. Sektor pertanian dikembangkan secara ekstensiI (yaitu mengembangkan
usaha-usaha produksi biji-bijian, peternakan, buah-buahan dan sebagainya).
Peringkat em5at, dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya
pengembalian sektor pertanian, wilayah terpaksa mengalihkan harapan kepada sektor
perindustrian. Pengembangan sektor industri meliputi tiga tahap, yaitu (1)
mengembangkan industri pengolahan hasil-hasil pertanian, (2) mengembangkan
industri-industri lain yang spesiIik. Kegagalan mengembangkan industri tahap (2) akan
menghadapi tekanan penduduk, merosotnya taraI hidup penduduk, ekonomi wilayah,
dan kemunduran ekonomi secara keseluruhan.
Peringkat terakhir, perekonomian melakukan pengembangan industri tahap 3
(ketiga), yaitu industri yang memproduksi barang-barang untuk tujuan ekspor. Wilayah
yang mencapai ekonomi peringkat ini diberi predikat sebagai wilayah maju, wilayah
yang sudah sampai pada tahap mengekspor modal, keahlian, ketrampilan/rekayasa dan
dapat membantu manajemen pengelolaan wilayah-wilayah yang masih tertinggal.
Proses pertumbuhan dan usaha-usaha pengembangan di atas merupakan dasar
bagi pengembangan struktur organisasi industri. Proses ini memberikan perubahan-
perubahan, dimana terjadi pengurangan dalam jumlah perusahaan-perusahaan kecil dan
bertambahnya jumlah perusahaan-perusahaan yang besar dan kukuh, serta terbentuknya
pola lokasi usaha dalam wilayah, berpindahnya perusahaan-perusahaan ke pusat-pusat
pertumbuhan.
Teori pase-Iase perkembangan ini mendapat kritikan dari sejumlah ahli ekonomi
pembangunan. NaIziger menyebut dua tokoh penting yang mengkritik teori Rostow ini,
yaitu Ian Drummond, dan AK. Caincross. Glasson menyimpulkan kritikan-kritikan
tersebut. Pertama, peringkat pertama, kedua dan ketiga terlalu ketat, atau lima peringkat
yang secara tegas berpendapat tentang perlunya industrialisasi untuk setiap wilayah.
Mungkin ini lebih cocok untuk wilayah yang berkembang dan potensial memenuhi
permintaan pasar di luar wilayah. Kedua, teori ini kurang memberikan perhatian pada
hubungan ekonomi ke luar wilayah. Ketiga, penggunaan Iaktor-Iaktor yang terlalu
menyeluruh. Keem5at, teori ini tidak memusatkan diri pada hal-hal yang kritis.
Faktor-Iaktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sama saja dengan
untuk pertumbuhan ekonomi nasional, sebagaimana yang terdeIinisikan dalam 'model
model ekonomi makro`. Model-model tersebut berorientasikan penawaran, menjelaskan
hubungan Iungsional output wilayah dengan Iaktor-Iaktor produksi wilayah, yang
diekspresikan sebagai berikut:

n
f
n
K, , Q, Tr, T, So)...............)
dimana: O
n
output potensial wilayah n; K modal; L tenaga kerja; Q lahan
(sumber primer); Tr transportasi; T teknologi; So sistem sosial politik
Samuelson (2001) menamakan model pertumbuhan ekonomi makro dengan
'Aggregate Production Function APF`). Model APF ini menganalisis kontribusi
111
relatiI dari empat Iaktor (roda) pertumbuhan ekonomi: modal, tenaga kerfa, teknologi,
dan bahan baku terhadap pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan output nyata) suatu
wilayah, yang diIormulasikan sebagai berikut:
Q AF K, , R)...................)
F adalah simbol Iungsi. Jika input-input modal (K), tenaga kerja (L) dan
sumberdaya alam (R) meningkat maka dapat diharapkan output nyata (Q) akan
meningkat. Begitu pula sebaliknya, output diperkirakan akan turun jika Iaktor produksi
tersebut berkurang. Teknologi (A) berIungsi menambah meningkatkan produktivitas
input-input. Kemajuan teknologi, dapat membawa kemajuan pada ekonomi wilayah,
dalam pengertian dengan jumlah input yang sama dapat memproduksi output yang lebih
banyak.
Sumber daya manusia (L) meliputi jumlah pekerja dan keahliannya. Banyak
sarjana ekonomi percaya bahwa mutu input tenaga kerja (meliputi keahlian, ilmu
pengetahuan dan disiplin) merupakan unsur yang lebih penting di dalam pertumbuhan
ekonomi suatu wilayah. Sebagai contoh, barang-barang modal yang canggih hanya akan
dapat dijalankan dan dipelihara oleh pekerja-pekerja yang ahli dan terlatih.
Sumber daya alam (R) meliputi tanah subur untuk bercocok tanam, air, mineral,
minyak, gas alam, sumberdaya laut, hutan dan sebagainya. Banyak negara yang
memiliki pendapatan yang tinggi karena memiliki basis sumberdaya alam yang
melimpah. Namun keberhasilan ekonomi suatu negara ternyata tidak hanya tergantung
kepada kekayaan sumber daya alamnya.
Modal (K) meliputi modal nyata (tangible) dan modal tidak nyata (intangible).
Modal nyata meliputi bangunan-bangunan, jalan-jembatan-pelabuhan, pembangkit
tenaga listrik, peralatan-peralatan kerja, dan persediaan barang jadi/setengah jadi.
Pembentukan modal memerlukan pengorbanan rakyat selama bertahun-tahun, dengan
bersedia mengurangi konsumsinya dalam jangka waktu yang panjang untuk memupuk
tabungan, yang selanjutnya dibelanjakan kepada barang-barang modal investasi.
Pengalaman menunjukkan bahwa negara-negara yang mengalami pertumbuhan
ekonomi lebih cepat adalah negara-negara yang cenderung menginvestasi lebih besar.
Investasi dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan swasta. Investasi swasta
biasanya mengalir setelah didahului oleh investasi-investasi pemerintah dalam bentuk
proyek-proyek bersekala besar. Proyek-proyek tersebut berkaitan dengan eksternal
ekonomis bagi investasi swasta. Proyek-proyek investasi pemerintah tersebut berupa
pembangunan inIrastruktur (social overhead ca5ital), termasuk proyek-proyek
pendidikan, kesehatan dan research & develo5ment (R&D) yang siIatnya intangible.
Perubahan teknologi dan inovasi (A) adalah Iaktor vital dan merupakan
tambahan terhadap tiga Iaktor yang disebut terdahulu. Perubahan teknologi dan inovasi
adalah sesuatu yang terjadi secara terus menerus. Penemuan-penemuan baru dan
perbaikan-perbaikan di dalam teknik berproduksi bagaikan arus yang terus mengalir dan
tidak pernah berhenti ke dalam kegiatan produksi. Temuan-temuan baru biasanya
didahului oleh temuan-temuan dasar. Perubahan teknologi mencatat perubahan-
perubahan di dalam proses produksi, diperkenalkannya produk-produk baru,
pengetahuan baru, dan peningkatan produktivitas. Perkembangan teknologi dan inovasi
mendorong pertumbuhan produksi, meningkatkan standar hidup penduduk.
Dari pendapat-pendapat H.W. Richardson (1969), Marion Temple (1994) dan
Philip McCann (2001) disimpulkan: (1) pertumbuhan ekonomi wilayah umumnya akan
selalu bervariasi antara suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya; (2) suatu wilayah
112
yang tertinggal akan mengalami pertumbuhan yang relatiI cepat bila dibuka
perhubungannya dengan wilayah-wilayah yang relatiI maju, atau dengan pusat-pusat
perkembangan, (3) kota pusat-pusat pengembangan berperan sebagai penggerak
perkembangan secara keseluruhan, (4) sedikit banyak pertumbuhan ekonomi pada level
nasional berbeda dengan pada level ekonomi wilayah, sehubungan dengan tingkat
kebebasan bergerak sumberdaya-sumberdaya ekonomi antar wilayah dibandingkan
dengan antar negara, (5) pengembangan suatu wilayah akan mengakibatkan devergence
dan convergence dalam jangka panjang dan (6) proses devergence dan convergence
berkaitan erat dengan aglomerasi dan urbanisasi.
Phillip McCann mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan suatu
proses yang kompleks, dan terkait dengan permasalahan pasar tenaga kerja dan
multiplier. Dia mengangkat dua perspektiI analisis tentang pertumbuhan ekonomi
wilayah, yaitu perspektiI Neoklasik dan perspektiI Keynesian.

8.2 Perpektif Neo Klasik
Teori pertumbuhan ini dikembangkan oleh Solow (1956) dan Swan (1956).
Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi wilayah memiliki dua unsur penting, yaitu (1)
unsur yang berkaitan dengan alokasi dan migrasi Iaktor-Iaktor produksi wilayah (yang
didasarkan pada dua kerangka analisis pula, yaitu analisis 'satu-sektor dan analisis
'dua-sektor; (2) unsur yang berkaitan dengan siIat-siIat hubungan antar Iaktor-Iaktor
produksi dan perubahan teknologi. Model ini mengasumsikan bahwa perekonomian
dalam kondisi persaingan, permintaan terhadap Iaktor-Iaktor produksi ditentukan oleh
produk marginalnya, yang teralokasikan berdasarkan mekanisme pasar dan digunakan
pada produktivitas terbaiknya.
Model ~$atu-$ektor. Model ini dikaitkan dengan alokasi dan migrasi Iaktor-
Iaktor produksi wilayah, dimana berlaku hukum penurunan tambahan hasil yang
semakin menurun (the law of diminishing marginal return), yang menentukan
komposisi Iaktor produksi variabel terhadap sejumlah Iaktor produksi tertentu. Prinsip
dasar teori ini berkaitan erat dengan penurunan produktivitas Iaktor-Iaktor produksi.
Pada kondisi jumlah modal tetap dan jumlah tenaga kerja yang terus meningkat maka
produk marginal tenaga kerja akan terus menurun. Demikian pula sebaliknya jika
jumlah tenaga kerja tetap dan modal yang terus bertambah maka produk marginal modal
akan turun. Argumentasi hukum ini diperluas penerapannya untuk Iaktor produksi yang
lebih dari dua macam. Misalnya, jika Iaktor produksi lahan tetap, jumlah modal dan
tenaga kerja terus bertambah maka produk marginal modal dan tenaga kerja menjadi
rendah. Begitu pula jika ratio modal tenaga kerja (K/L) tinggi maka produk marginal
modal menjadi rendah, di lain pihak produk marginal tenaga kerja meningkat.
Contoh, sebuah negara terdiri dari dua wilayah (A dan B). Jika ratio
modal/tenaga kerja di wilayah A lebih besar dari wilayah B ditulis:
K
A
/ L
A
~ K
B
/ L
B
...............(3)
Dengan demikian produk marginal modal di wilayah A relatiI rendah
dibandingkan dengan di wilayah B. Demikian pula produk marginal tenaga kerja di
wilayah A lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah B. Dengan asumsi bahwa Iaktor
produksi tenaga kerja dihargai sesuai dengan produktivitas marginalnya, maka laba
marginal akan lebih besar di wilayah B, sedangkan upah lebih tinggi di wilayah A.
Dalam kondisi yang seperti itu Iaktor-Iaktor produksi bergerak (mobil factors)
akan mengalir dari wilayah B ke A (misalnya: tenaga kerja dan modal). Pergerakan
113
tersebut akan terus berlanjut jika ratio K/L di wilayah A masih lebih besar dari di
wilayah B, dan akan berakhir jika telah sama, atau jika persamaan (1) menjadi:
K
A
/ L
A
K
B
/ L
B
.............(4)













Gambar 8.1: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Model Satu-Sektor

Model ~Dua-$ektor. Model ini dikaitkan dengan alokasi Iaktor produksi dan
arus Iaktor produksi yang tinggi langsung mengarah ke suatu wilayah yang disebabkan
oleh adanya perbedaan kondisi tertentu. Misalnya di dalam suatu negara terdapat dua
wilayah (A dan B), dimana proses produksi di wilayah A relatiI padat modal sedangkan
di wilayah B padat karya. Kondisi tersebut menghasilkan Contract Curve Edgeworth-
Bowley Box antar wilayah menjadi tidak lurus, seperti diperlihatkan pada Gambar 8.3.











Gambar 8-2: Batas Kemungkinan Produksi Antar Wilayah Untuk Model Satu Sektor

Misalnya, pada kasus kenaikan permintaan output wilayah A, dan meningkatnya
permintaan ekspor output wilayah B (Gambar 8.4a). Peningkatan permintaan tersebut
K
AC
LN

Output wilayah B
PPF
Q
B5
Q
B3
E
F
Q
A4
Q
A2

K
BC

L
BC
L
AC
C

E

D

QB6
QA1
G
QA6
QA3
FQA2
QA4
A
114
mendorong kenaikan harga di wilayah A dari P
A1
ke P
A2
dan kenaikan output wilayah A
dari Q
A1
ke Q
A2
, serta Iaktor-Iaktor produksi yang dimanIaatkan menjadi lebih intensiI.
Penerimaan produk marginal modal adalah sama dengan produk Iisik marginal modal
dikalikan dengan harga output yang diproduksi (MP
K
MPP
K
x P
o
). Demikian pula
MP
L
MPP
L
x P
o
. Jika harga output di wilayah A (P
A
) relatiI meningkat dibandingkan
dengan di wilayah B (P
B
), ini berarti produk marginal modal yang digunakan di wilayah
A relatiI tinggi dibandingkan dengan di wilayah B. Demikian pula jika produk marginal
tenaga kerja yang dipekerjakan di wilayah A lebih tinggi dibandingkan dengan di
wilayah B. Dengan demikian dapat ditulis:
MP
A
K
~ MP
B
K
dan MP
A

~ MP
B

....... (4)
Kondisi ini akan membentuk arus tenaga kerja dan modal dari wilayah B ke
wilayah A, karena penerimaan dari Iaktor produksi di wilayah A relatiI lebih tinggi.
Akibatnya kurva supply wilayah A bergeser ke kanan, dari S
1A
ke S
2A
. Jumlah output
yang ditawarkan bergeser dari Q
2A
menjadi Q
3A
. Dalam kondisi keseimbangan
persamaan (2) tingkat upah dan laba marginal di kedua wilayah sama. Solusi Model
Satu-Sektor ini dapat dianalisis berdasarkan perspektiI eIisiensi nominal dan
kesejahteraan agregatiI, dengan menggunakan 'Edgeworth-Bowler Box yang
menggambarkan tingkat penggunaan Iaktor produksi dan output kedua wilayah

.








Gambar 8.3: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Untuk Model Dua Sektor

Peningkatan penawaran output cenderung menekan harga di wilayah A, dari P
A2

ke P
A1
. Penurunan harga tersebut menurunkan penerimaan marginal baik modal maupun
tenaga kerja di wilayah A. Pada waktu yang bersamaan, terjadi penurunan output di
wilayah B, dari Q
1B
menjadi Q
2B
, maka harga output di wilayah B meningkat, seperti
terlihat pada Gambar 8.5. Kurva penawaran output di wilayah B bergeser ke kiri.
Kenaikan harga output di wilayah B akan meningkatkan penerimaan marginal
modal dan tenaga kerja di wilayah B. Pada waktu harga output di wilayah A turun dan
di wilayah B naik produk marginal modal di wilayah A dan B mengalami konvergensi.
Dengan logika yang sama, produk marginal tenaga kerja di wilayah A dan B juga
mengalami proses konvergensi. Keadaan ini akan terus berlanjut sampai produk
marginal kedua input produksi tersebut menjadi sama.
K
N
K
AT
K
AU
K
BU
K
BT
Q
1A
Q
2A
Q
1B
Q
2B
U

T

L
AT
K
N
L
BT
K
BU
B

A

115







Gambar 8.4: Penyesuaian di Pasar Output pada Perluasan Wilayah









Gambar 8.5: Penyesuaian Pasar Output Wilayah yang Berkontraksi

Masalah lainnya pada model dua sector adalah masalah elastisitas permintaan
dan penawaran. Tanpa inIormasi tentang masalah ini kasus-kasusnya tidak akan
terpecahkan. Dengan mengasumsikan bahwa alokasi Iaktor-Iaktor produksi antar
wilayah semula berada pada 'Pareto EIIicient, atau di titik T pada Gambar 8.3. Dalam
jangka panjang, akibat migrasi Iaktor-Iaktor produksi 'Pareto EIIicient akan bergeser
ke titik U, menghasilkan Contract Curve yang cembung. Harga modal relatiI yang
dipengaruhi tenaga kerja di kedua wilayah menjadi lebih rendah di titik U
dibandingkan dengan di titik T. Pada Gambar 8.4 dapat dilihat bahwa perubahan relatiI
harga-harga Iaktor produksi akan merubah kemiringan MRS, yang tegak lurus terhadap
Contract Curve, baik untuk modal maupun untuk tenaga kerja. Dengan demikian,
produk marginal modal dan tenaga kerja di antara kedua wilayah tersebut akan
berproses kepada kondisi yang sama.
Pada model dua-sektor, diasumsikan bahwa kedua wilayah memproduksi dua
jenis produk yang berbeda dengan Iungsi produksi yang berbeda pula. Perbedaannya,
produksi di wilayah A padat modal sedangkan di wilayah B padat karya. Implikasinya,
tingkat transIormasi marginal produk di antara kedua wilayah tersebut berubah secara
teratur sesuai dengan tingkat output di wilayah masing-masing. Keadaan tersebut
diperlihatkan oleh kurva batas kemungkinan produksi (PPFC), dimana terjadi suatu
S
1A
D
2A
S
2A
S
1A
D
1A
D
2A
D
1A
P
A2
P
A1
Q
2A
Q
2A
Q
3A
Q
3A
P
1B
P
2B
D
1B
Q
1B
Q
2B
S
1B
S
2B
116
pergerakan sepanjang Contract Curve dari titik T ke titik U, suatu gerakan menurun
sepanjang PPFC, seperti diperlihatkan pada Gambar 8.6.









Gambar 8.6: PPFC Antar Wilayah Dua Sektor

8.2. Hubungan Model $atu-$ektor dengan Model Dua-$ektor
Kemiringan PPF menggambarkan Marginal Rate oI TransIormation di antara
dua output, dan diberikan oleh ratio biaya produksi marginal kedua barang pada
berbagai kombinasi input. Pada model antar wilayah satu-sektor, pada Gambar 8.2, PPF
antar wilayah merupakan sebuah garis lurus. Ini mengimplikasikan bahwa ratio biaya
produksi marginal untuk produksi diantara kedua wilayah tetap dan tidak dipengaruhi
oleh tingkat output di setiap wilayah. Dilihat dari pengaruhnya, kedua wilayah tersebut
memperlihatkan Iungsi produksi yang sama dalam ukuran Iaktor-Iaktor produksi
mereka. Tetapi sangat berbeda untuk kasus model dua-sektor, dimana Iungsi-Iungsi
produksi masing-masing wilayah berbeda, dilihat dari ukuran Iaktor-Iaktor produksinya.
Ratio biaya marginal di antara kedua wilayah berubah secara konstan dan tergantung
pada tingkat output di masing-masing wilayah. Bentuk-bentuk 'Contract Curve dan
PPF model dua-sektor ini mirip dengan pada model keseimbangan umum perdagangan
internasional yang didasarkan pada 'Comparative Advantage. Pada sisi lain, bentuk
garis lurus 'Contract Curve dan PPF pada model satu-sektor berbeda dari model dua
sektor, karena diantara kedua model tersebut ada perbedaan yang mendasar dalam
proses relokasi Iaktor produksi wilayah.
Untuk menjawab pertanyaan model yang manakah yang lebih baik, disimpulkan
beberapa siIat yang mendasar dari proses alokasi Iaktor-Iaktor produksi wilayah.
Pertama, bahwa wilayah-wilayah yang berbeda di dalam sebuah negara diasumsikan
lebih terbuka, dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang berbeda negara. Di dalam
perekonomian wilayah pada sebuah negara diberlakukan satu rejim mata uang, satu
sistem hukum, dan satu kerangka budaya. Sedangkan perdagangan antar wilayah antar
negara memiliki rezim mata uang, kerangka hukum, dan kebiasaan yang berbeda.
Alasan lain, wilayah-wilayah di dalam suatu negara relatiI terbuka terhadap mobilitas
Iaktor-Iaktor produksi. Kegiatan-kegiatan pada lokasi-lokasi spesiIik suatu wilayah
tidak dapat ditiru begitu saja oleh semua wilayah, terkait dengan sumber daya masing-
masing. Distribusi-distribusi spasial di suatu wilayah dipengaruhi oleh pola pasar secara
Q
1A
Q
1B
Q
2B
U

T

Q
2A
Output Wilayah B

Output Wilayah A

117
spasial dan luas penawarannya. Fungsi-Iungsi produksi diantara wilayah yang satu
dengan yang lain bervariasi, namun diantara negara yang satu dengan yang lain lebih
berbeda. Hal itu karena adanya perbedaan terminologi pada porsi Iaktor-Iaktor produksi
antar negara, sedangkan pada antar wilayah mobilitas Iaktor produksi memungkinkan
berproses secara maksimum. Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, model ekonomi
dua sektor lebih memungkinkan bagi perekonomian wilayah. Alokasi Iaktor-Iaktor
produksi antar wilayah secara umum diperlihatkan oleh Gambar 8.1 dan 8.2,
dibandingkan dengan Gambar 8.3 dan 8.6, terkecuali untuk output-output yang berbasis
kesuburan tanah dan industri-industri primer.








Gambar 8.7: Kotak Edgeworth-Bowley Antar Wilayah dari Dua-Sektor ke Satu-Sektor

Sebagai contoh ilustrasi, misalnya, dua negara (A dan B) dibandingkan dengan
dua wilayah di dalam sebuah negara. Pada periode awal negara A dan B terpisah, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 8.8. Hubungan produksi kedua negara yang bersangkutan
diperlihatkan oleh titik V. Pada alokasi Iaktor produksinya memperlihatkan bahwa
negara A berproduksi secara padat modal, menggunakan K
AV
unit modal dan L
AV
unit
tenaga kerja. Sedangkan negara B padat karya, menggunakan K
BV
unit modal dan L
BL

unit tenaga kerja. Kedua negara memproduksi barang yang berbeda dan melakukan
perdagangan berdasarkan prinsip-prinsip Comparative Advantage Ricardo.
Di dalam periode berikutnya, kedua negara disatukan. Diharapkan terbentuknya
arus Iaktor-Iaktor produksi di antara kedua wilayah (A dan B) untuk mendorong alokasi
kepada kondisi yang lebih eIisien. Kalau Iungsi-Iungsi produksi di antara kedua wilayah
tetap berbeda maka berarti kegiatan-kegiatannya spesiIik, 'Contract Curve antar
wilayah berdasarkan model dua-sektor, seperti diperlihatkan oleh garis AB
1
. Pada sisi
lain, kalau Iaktor-Iaktor produksi yang beraneka ragam itu umumnya Iaktor-Iaktor
produksi bergerak (mobil factors), telah menjadi siIat model satu-sektor bahwa modal
akan mengalir dari wilayah A ke wilayah B, dan tenaga kerja akan bermigrasi dari B ke
A. Arus yang berdasarkan model satu-sektor tersebut akan membentuk 'Contract
Curve antar wilayah yang cenderung berkurang kecembungannya, dan untuk jangka
panjang akan menghasilkan sebuah kurva yang lurus, sebagaimana diperlihatkan oleh
kurva AB
2
pada Gambar 8.7. Pada umumnya analisis integrasi ekonomi antar wilayah
mengasumsikan bahwa untuk jangka panjang, arus Iaktor produksi antar wilayah model
satu-sektor akan menjadi model pilihan utama alokasi Iaktor produksi wilayah, dan
mendominasi berbagai penyesuaian model dua sektor.
L
N
B
1
B
2
K
AV
K
BV
AK
N
V

K
N1
K
N2
L
BV
L
AV
118
Arus Iaktor-Iaktor produksi berIungsi sebagai pendorong realokasi Iaktor-Iaktor
produksi yang ada, merupakan proses integrasi ekonomi wilayah yang juga diasumsikan
untuk menambah keterkaitan perdagangan antar wilayah yang bersangkutan.
Diasumsikan pula jumlah penduduk di kedua area kurang lebih tetap, maka kreasi
perdagangan antar wilayah akan mempengaruhi penciptaan persediaan modal nasional.
Di dalam analisis Edgeworth-Bowley Box diperlihatkan akibat perluasan modal ini
dengan perluasan pada sumbu vertikal Box. Perluasan modal yang terjadi melalui proses
integrasi ekonomi wilayah diperlihatkan Gambar 8.7, yaitu AK
N
(K
N2
K
N1
), dan
tingkat pertumbuhan modal sebagai akibat kreasi perdagangan (AK
N
/K
N1
).
Dua ciri utama proses transisi dan integrasi ekonomi wilayah, yaitu: (1)
realokasi Iaktor-Iaktor produksi antar wilayah sesuai dengan prinsip-prinsip model satu-
sektor, yang berperanan penting terhadap pelurusan 'Contract Curve, penyamaan ratio
modal/tenaga kerja yang cenderung mengembalikan keseimbangan antar wilayah, (2)
sehubungan dengan proses realokasi Iaktor produksi tersebut akan memperluas
persediaan modal wilayah (pengaruh integrasi ekonomi wilayah). Kombinasi kedua eIek
integrasi wilayah tersebut diasumsikan akan menciptakan pertumbuhan ekonomi
wilayah. Gambar 8.7 memperlihatkan terjadinya perubahan pada 'Contract Curve
sehubungan dengan kombinasi eIek-eIek itu, sebagaimana diperlihatkan oleh perubahan
dari AB
1
kepada AB
2
. EIek perubahan pada 'Contract Curve tersebut dapat juga
diperlihatkan oleh perubahan-perubahan pada bentuk dan posisi PPF antar wilayah yang
lurus dan positiI. Gambar 8.8 memperlihatkan bahwa proses integrasi ekonomi wilayah
mendorong kurva PPF kedua wilayah ke kanan (ke arah luar) dari posisi semula (PPF
1
)
dan menjadi lurus. Hasil proses ini dalam jangka panjang adalah dimana kurva PPF
antar wilayah tersebut menjadi lurus (PPF
2
).








Gambar 8.8: PPF dari Model Dua-Sektor Disesuaikan kepada Model Satu-Sektor

Proses tersebut di atas terjadi tanpa pertumbuhan pada persediaan tenaga kerja,
oleh karena itu pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut berasal dari dua sumber yang
berbeda, yaitu dari realokasi persediaan tenaga kerja antar wilayah, dan pertumbuhan
persediaan modal yang dikombinasikan dengan eIek-eIek kreasi perdagangan. Hasil
jangka panjang dari proses integrasi ekonomi wilayah model satu sektor ini adalah
adanya kecenderungan kembalinya wilayah-wilayah dengan Iungsi produksi yang sama,
ratio-ratio modal/tenaga kerja yang sama, yang dengan demikian tingkat pengembalian
modal akan konvergen. Hal yang sama juga terjadi pada tingkat upah wilayah. Karena
Output Wilayah B

PPF
1
Output Wilayah B

PPF
2
119
berlangsungnya proses mobilitas Iaktor-Iaktor produksi antar wilayah, dengan demikian
'Com5arative Advantage cenderung menghilang.
Proses integrasi ekonomi wilayah model satu-sektor dan realokasi Iaktor-Iaktor
produksi yang digambarkan di sini membentuk dasar-dasar dari sekian banyak asumsi
tentang pertumbuhan ekonomi. Sebagai salah satu contoh, kasus ekonomi Uni Eropa.
Pada kasus ini, ekonomi nasional masing-masing negara yang terpisah, yang kemudian
ditingkatkan integrasi Uni Eropa, meliputi penurunan tariI bea masuk secara progresiI,
penghapusan pembatasan perdagangan dan migrasi Iaktor-Iaktor produksi.
Proses integrasi ini dipacu sejak 1990-an, dengan mulai diberlakukannya sistem
Pasar Bersama Eropa, dimana diberlakukannya kebebasan bermigrasi bagi tenaga kerja
antar negara yang bergabung ke dalam Uni Eropa, sebagai pelaksanaan realokasi Iaktor
produksi. Penerepan model pertumbuhan Satu-sektor Uni Eropa, juga diwujudkan
melalui eIek-eIek kreasi perdagangan dan aliran modal antar wilayah-wilayah yang
potensial. Apabila alasan model satu-sektor ini benar-benar dilaksanakan dalam suatu
periode waktu tertentu akan dapat disaksikan kecenderungan kembalinya konvergensi
untuk seluruh wilayah Uni Eropa. Faktor-Iaktor yang mendukung alasan satu-sektor,
suatu konsep yang pertama kali dikemukakan Barro dan Sala-i-Martin (1992, 1995).
Mereka mendorong menurunnya tingkat kesenjangan pendapatan perkapita nyata
diantara wilayah-wilayah Uni Eropa sepanjang periode, suatu proses yang disimbolkan
dengan 'o-convergence". Barro dan Sala-i-Martin menemukan juga Iaktor-Iaktor untuk
mendorong hubungan negatiI diantara tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita dan
tingkat pendapatan perkapita semula, yaitu suatu proses yang disebut '-convergence".

8.2.2. Akuntansi Pertumbuhan Wilayah dan Analisis Fungsi Produksi
Kelompok Neo Klasik berpendapat bahwa proses integrasi wilayah berperan
penting dalam realokasi Iaktor-Iaktor produksi lintas wilayah untuk model satu-sektor.
Dengan berlangsungnya proses tersebut dalam jangka panjang, Iungsi-Iungsi produksi
di semua wilayah (seperti: ratio modal/tenaga kerja, tingkat pengembalian modal dan
tingkat upah wilayah) cenderung menjadi konvergen. Garis perluasan produksinya
menjadi lurus. Pada tingkat alokasi Iaktor-Iaktor produksi yang lebih eIisien
pertumbuhan output akan meningkat. Proses ini dapat menciptakan pertumbuhan
tambahan sebagai akibat pengaruh kreasi perdagangan. Model ini bertolak dari prinsip
bahwa sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah didasarkan kepada
kerangka kerja Iungsi produksinya. Untuk ini digunakan Iungsi produksi Cobb-Douglas
yang dideIinisikan sebagai berikut:
"t A K
o
L

............ (5)
dimana: Q
t
output wilayah dalam jangka waktu t; A konstanta; K persediaan
modal wilayah; L persediaan tenaga kerja wilayah; sumbangan modal di dalam
perekonomian wilayah; sumbangan tenaga kerja di dalam perekonomian wilayah
Fungsi Cobb Douglas memiliki dua Iaktor peramalan. Pertama, mengasumsikan
bahwa sumbangan Iaktor produksinya konstan, yang diperlihatkan oleh kontribusi
relatiI laba dan upah terhadap total belanja di dalam perekonomian. Sumbangan-
sumbangan tetap itu diwakili oleh dan . Kalau sumbangan Iaktor-Iaktor produksi
diasumsikan tetap konstan, ini mengandung arti bahwa ratio modal/tenaga kerja
konstan. Kedua, konstan return to scale, yang berarti bahwa hubungan antara total
output dan total input yang digunakan proporsional. Artinya, sejumlah tertentu modal
120
dan tenaga kerja akan menghasilkan sejumlah tertentu output, yang dideIinisikan
sebagai nilai pengganda konstan (A). Artinya, jika jumlah kedua Iaktor produksi yang
digunakan dikali dua, maka total output akan menjadi dua kali (eteris Paribus).
Dengan kata lain ( ) 1 atau (1- ).
Persamaan (3) dimodiIikasi, untuk memperhatikan Iaktor waktu. Hubungan
antara output total dan input (selama perjalanan waktu) tidak statis, dalam arti bahwa
penerapan teknik produksi dan teknologi baru dilakukan secara terus menerus dalam
rangka meningkatkan eIisiensi. Adopsi dan implementasi teknik produksi dan inovasi
berlangsung sepanjang waktu, yang berarti meningkatkan tingkat output dari sejumlah
input yang sama (adanya peningkatan produktivitas). Penerapan teknologi diperlihatkan
melalui rencana kerja (blue5rint) produksi, organisasi, inovasi dan komunikasi yang
diperlukan untuk semua perusahaan, dan yang menjadi media antara input-input yang
digunakan dan output yang dihasilkan. Tingkat teknologi dinyatakan dengan indeks
teknologi (I). Diasumsikan tingkat teknologi meningkat selama periode waktu, maka
dimasukkan perubahan teknologi (e
t
) ke dalam Iungsi produksi Cobb Douglas periode
t. Fungsi Produksi Cobb Douglas yang Constant Return to Scale menjadi:
"
t
A e
t
K
o
L
1-o
................()
Pada alokasi Iaktor-Iaktor produksi antar wilayah model satu-sektor
mengimplikasikan bahwa wilayah-wilayah tersebut akan kembali konvergen,
mengembalikan Iungsi produksi, ratio-ratio modal/tenaga kerja yang sama. Pada Iungsi
produksi Cobb-Douglas (4) ratio modal/tenaga kerja constant, yang diwakili oleh (/
). Jadi dengan mengasumsikan bahwa pasar produk agregat wilayah dan industri
sebagai persaingan sempurna, maka proses realokasi Iaktor produksi antar wilayah
untuk semua wilayah mengarah kepada Iungsi produksi Cobb-Douglas yang sama.
Metodologi Iungsi produksi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk melihat
bagaimana hubungan pertumbuhan output dengan perubahan-perubahan input pada
proses produksi wilayah. Untuk tujuan tersebut Iungsi produksi wilayah diubah menjadi
sebuah model pertumbuhan wilayah, dengan cara merubah persamaan (6) menjadi
persamaan logaritma natural dan diturunkan terhadap waktu (yang berguna untuk
menghitung pertumbuhan wilayah), yaitu:
"
t
+ oK
t
+(1- o) L
t
... (7)
dimana Q
t,
K
t
, L
t
mewakili tingkat pertumbuhan output, modal dan tenaga kerja wilayah
dalam jangka waktu penelitian t.
Perhitungan pertumbuhan persamaan (7) ini merumuskan, bahwa tingkat
pertumbuhan output wilayah periode t merupakan penjumlahan dari tingkat
pertumbuhan input-input produksi (modal dan tenaga kerja) yang sesuai dengan bobot
kontribusi relatiInya ke dalam perekonomian, ditambah tingkat pertumbuhan teknologi
(at). Di dalam terminologi perkiraan pertumbuhan itu, tingkat teknologi yang mewakili
kontribusi pertumbuhan wilayah tidak dapat dihitung secara sederhana berdasarkan
pada perubahan-perubahan kombinasi persediaan modal dan tenaga kerja wilayah yang
optimal. Terminologi I dapat dirujuk kepada residu 'pertumbuhan total produktivitas
Iaktor produksi (Solow). Pertumbuhan teknologi tergantung pertumbuhan ratio
modal/tenaga kerja, sebagai alat prediksi umum. Kenaikan upah tergantung pada
pertumbuhan ratio modal/tenaga kerja dan juga tingkat teknologi. Untuk jangka
panjang, jika situasi mantap (steady state) memberikan tingkat keungtungan konstan,
kenaikan upah tergantung pada tingkat teknologi.

121
8.2.3. Teknologi dan Pertumbuhan Endogenous Wilayah
Berdasarkan persamaan (5), maka menurut Neo Klasik, pertumbuhan wilayah
tergantung pada perubahan persediaan Iaktor-Iaktor produksi dan tingkat teknologi
wilayah. Dengan asumsi bahwa Iaktor-Iaktor produksi bergerak bebas, maka perbedaan
tingkat pertumbuhan yang bersumber dari Iaktor-Iaktor produksi menjadi tidak
sistematis untuk jangka panjang. Dengan demikian perbedaan pertumbuhan yang
disebabkan oleh perbedaan persediaan Iaktor produksi hanya mungkin terjadi untuk
jangka pendek dan menengah, sebagai akibat dari suatu proses penyesuaian kepada
eIisiensi kepada Pareto Optimal dari alokasi Iaktor-Iaktor produksi. Pada sisi lain,
pendekatan pertumbuhan ini perlu juga dipertimbangkan bahwa wilayah-wilayah yang
berbeda dapat berbeda dalam tingkat teknologi, yang mengakibatkan pertumbuhannya
mengikuti perbedaan yang sesuai dengan tingkat teknologi wilayah tersebut (I).
















Gambar 8.9: Penyebaran Teknologi Sepanjang Waktu

Teknologi dapat dideIinisikan sebagai sejumlah pedoman pelaksanaan kerja
yang lengkap 'cetak biru bagi kegiatan produksi, organisasi dan komunikasi yang
tersedia untuk semua perusahaan, dan merupakan mediasi yang menghubungkan Iaktor-
Iaktor produksi (input) yang digunakan dengan output yang dihasilkan. Di sini ada
kesepakatan umum, dimana dalam kenyataannya penerapan teknologi baru oleh semua
perusahaan, industri dan wilayah bukanlah suatu proses yang terjadi secara tiba-tiba,
seperti diasumsikan dalam model persaingan sempurna. Penyebaran teknologi secara
kumulatiI berlangsung sepanjang waktu yang cenderung memperlihatkan sebuah kurva
yang berbentuk 'huruI S (Gomulka 1971, Dosi 1998), dimana teknologi terkait dengan
waktu penyebaran yang diperlukan dalam proses investasi dan mendapatkan inovasi
bagi seluruh perusahaan, sektor, atau wilayah. 'Bentuk-S kumulatiI diperlihatkan oleh
kurva OY pada Gambar 8.9, yang memperlihatkan bahwa tingkat penyebaran teknologi
mula-mula sangat lambat, walau terus meningkat. Setelah melewati jangka waktu
tertentu, penyebarannya mencapai maksimum (yang diperlihatkan oleh slope RR*)
setelah itu kembali melambat. Akhirnya teknologi selesai tersebar di semua perusahaan,
sektor, dan wilayah. Akhirnya tambahan penyebaran mendekati nol kembali.
Asumsi dasar model Neo Klasik 'Satu-sektor adalah perekonomian berada
dalam persaingan sempurna, mobilitas Iaktor-Iaktor produksi berlangsung dengan

X

Y

Z

R

R*

Tingkat Penyebaran Teknologi

Waktu

0

122
sendirinya, dan tingkat teknologi tersebar melalui perusahaan-perusahan, sektor-sektor,
dan wilayah-wilayah. Kemungkinan penyebaran teknologi berada pada kondisi
maksimum, menyeluruh, dan selalu cepat terbaca. Di dalam terminologi gambar 10
proses penyebaran teknologi cenderung seperti yang diperlihatkan oleh kurva OX.
Pada sisi lain, kesimpulan Neo Klasik tersebut dapat memperlihatkan sejumlah
kontradiksi, dihubungkan dengan kesimpulan-kesimpulan yang berkaitan dengan
aglomerasi sebelumnya, dimana pertumbuhannya didorong oleh lokalisasi yang dapat
dilakukan untuk periode-periode yang panjang, karena adanya keunggulan teknologi
tertentu yang cenderung mengecualikan lokasi-lokasi yang tertentu pula. Demikian pula
tingkat upah dan migrasi tenaga kerja dapat merangsang pertumbuhan di wilayah-
wilayah tertentu secara geograIis. Di dalam terminologi gambar 8.9, kenyataan tersebut
mengimplikasikan bahwa penyebaran teknologi cenderung memperlihatkan proses
seperti yang diperlihatkan oleh kurva OZ, dimana adanya perbedaan-perbedaan di
dalam teknologi. Oleh karena itu, alasan-alasan Model Neo Klasik 'Satu-sektor dapat
memunculkan sedikit pertanyaan pada kesimpulan-kesimpulan untuk jangka panjang.
Masalah perbedaan tersebut disatukan dalam model 'New Growth Theory
(Endogenous Theory). Pertama kali 'Endogenous Growth Theory datang dari Romer
(1986, 1987a) dan meliputi akuntansi pertumbuhan dalam sebuah kerangka kerja
akuntansi pertumbuhan Neo Klasik Orthodox, dimana pada waktu yang bersamaan
berkembang pendapat bahwa teknologi merupakan Iaktor sisa yang berada di luar
sistem suatu perekonomian, atau 'Exogenous Technology (McCombie dan Thirwall
1994). Pendekatan yang mengasumsikan bahwa peningkatan spesialisasi akan
meningkatkan output, yang dideIinisikan sebagai sebuah Iungsi dari jumlah unit barang-
barang modal yang dispesialisasikan, yang disederhanakan sebagai persediaan modal
agregat. Berdasarkan beberapa asumsi Romer tersebut dirumuskan Iungsi produksi:
"
t
A L

K ... (8)
dan dengan mentransIormasikan persamaan (8) ke dalam bentuk logaritma dan
mendeIerensiasikannya dengan memperhatikan Iaktor waktu, diperoleh persamaan:
"
t
L
t
+ K
t
...(9)
dimana (1- u). Alasan di sini adalah bahwa semua pertumbuhan dicatat di dalam
ukuran pertumbuhan input-input, dengan permasalahan kunci mencapai tingkat
spesialisasi input-input modal dan digabungkan dengan manIaat-manIaat spesialisasi
tenaga kerja. Salah satu alasan yang mendasari model aglomerasi adalah bahwa
peningkatan spesialisasi lokasi spesiIik. Kalau yang dispesialisasikan sungguh-sungguh
merupakan tempat spesiIik, 'Model Pertumbuhan Endogenous mengimplikasikan
bahwa manIaat pertumbuhan tersebut cenderung akan dilokalisasikan juga.
Romer (1987-b) mendiskusikan sumber-sumber potensial kedua dari
'Endogenous Growth yaitu persediaan ilmu pengetahuan. Untuk menghitungnya,
dirumuskan Iungsi produksi sebagai berikut:
"
t
f(K,L,E)g(A) .. (1)
dimana E adalah ilmu pengetahuan spesiIik perusahaan, N ilmu pengetahuan umum, I
dan g adalah hubungan-hubungan Iungsional. Jika diasumsikan tingkat pertumbuhan N
sama dengan tingkat pertumbuhan E, dimana pertumbuhan-pertumbuhan tersebut
sendiri sama dengan tingkat pertumbuhan K, dan F adalah hubungan Iungsional Cobb-
Douglas maka perhitungan jumlah output totalnya dapat ditulis:
123
"
t
F(K,L)g(K) (L
1-o
K
o
)K

.. (11)
Pengembalian yang meningkat merupakan Iaktor eksternal bagi perusahaan,
yang menjamin dipertahankannya keseimbangan yang bersaing (McCombie and
Thirwall 1994). Di dalam terminologi tingkat pertumbuhan, persamaan (11) diubah
menjadi:
"
t
(1- o)L
t
+ ( o+)K
t
.. (12)
Kalau (u) sama dengan satu, pertumbuhan akan menjadi konstan. Dengan
demikian kalau (u) 1 output total akan terus menurun.
Dari kedua model Romer tersebut disimpulkan bahwa proporsi pertumbuhan
output dijadikan dasar dalam menghitung residu yang mewakili pertumbuhan teknologi,
menambahnya kepada proporsi modal. Sebelumnya, pertumbuhan output dari ilmu
pengetahuan diasumsikan langsung menambah pada tingkat persediaan modal yang
dispesialisasikan, sedangkan pada kasus yang terakhir diasumsikan bahwa peningkatan
ilmu pengetahuan ditambahkan dengan tingkat pertumbuhan input modal.
Lukas (1988) juga mendiskusikan input ilmu pengetahuan, tetapi Iokusnya pada
tingkat modal SDM, berbeda dengan modal perusahaan yang dispesiIikasikan. Pada
pendekatan ini diasumsikan bahwa tenaga kerja mengeluarkan sebagian waktu mereka
(u) untuk belajar guna meningkatkan mutu modal manusia (H). Diasumsikan bahwa
dengan peningkatan mutu modal manusia akan meningkatkan produktivitasnya secara
individual. Berdasarkan asumsi Lukas tersebut, pengaruh 'internal H juga memiliki
pengaruh 'eksternal J yang akan memberikan manIaat kepada semua pekerja lainnya.
Bertolak dari asumsi-asumsi tersebut Iungsi produksi dirumuskan menjadi:
"
t
(uHL)
1-o
K
o
1

.. (13)
Jika diasumsikan juga bahwa pengaruh eksternal modal manusia (J) sama
dengan pengaruh internal (H), persamaan (11) dapat disederhanakan menjadi:
"
t
(uH
0
L)
1-o
K
o
.. (14)
dimana 0 (1-u)/(1-u). Untuk menciptakan pertumbuhan endogenous, model ini
diperlukan untuk menentukan pertumbuhan modal manusia, yaitu:
dH / dt H
p
v(1-u) .. (15)
dimana p dan v adalah konstanta-konstanta, dengan ketentuan bahwa p _ 1, yang berarti
tidak ada penurunan hasil terhadap generasi modal manusia. Jika digunakan sebuah
kasus sederhana dimana p 1, tingkat pertumbuhan modal dideIinisikan dengan
persamaan (15), konstanta , maka persamaan (14) dapat dirubah menjadi:
"
t
(uL
q
e
zt
)
1-o
K
o
.. (1)
dimana L
q
adalah jumlah unit tenaga kerja pada tingkat eIisiensi dan mutu yang ada dan
diberikan oleh L
q
H
0
A. Sejumlah satuan tenaga kerja tertentu dari kenaikan modal
manusia tertentu dapat sama dengan kenaikan sejumlah unit tenaga kerja pada tingkat
eIisiensi dan mutu yang tetap. Di dalam terminologi pertumbuhan persamaan (16)
menjadi (McCombie dan Thirlwall, 1994):
"
t
(1-o)(z+L
t
) + oK
t
(1-o)(L
q
)
t
+o K
t
...(17)
124
Model ini menyimpulkan bahwa porsi pertumbuhan yang mendasari nilai sisa
untuk teknologi (model Neo-Classic), berkenaan dengan tenaga kerja dapat
disempurnakan dengan penambahan modal manusia.
Berbagai model 'pertumbuhan endogenous memberikan pengertian yang
berbeda terhadap sumber-sumber yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan
kuantitatiI. Untuk itu dapat dikaitkan setiap sumber pertumbuhan potensial kumulatiI
terhadap alasan-alasan spasial (Nijkamp dan Poot 1998). Model-model Romer
mengajarkan bahwa pertumbuhan endogenous dapat menimbulkan kenaikan yang
bervariasi sehubungan dengan adanya pertumbuhan barang-barang modal yang
dikhususkan, atau kenaikan pada ilmu pengetahuan dasar yang dikombinasikan dengan
barang-barang modal tersebut, dan disatukan dengan pengaruh-pengaruh eksternal yang
bersumber dari arus inIormasi. Sementara itu, model Lucas menganjurkan bahwa
pertumbuhan endogenous dapat dibangun dari investasi-investasi swasta pada modal
manusia, juga manIaat-manIaat yang datang dari atas kepada lingkungan sekitarnya.
Bagaimanapun, mengindentiIikasi secara empiris masalah delokalisasi, dan
pengisolasian sumber-sumber pertumbuhan yang demikian, sangat sulit untuk
menentukan pengaruh lingkungan yang positiI. Untuk menghindari problema tersebut
sejumlah metoda tidak langsung pernah digunakan untuk mendapat ukuran-ukuran
empiris perbedaan pertumbuhan antar wilayah yang sistematis berdasarkan pengaruh-
pengaruh tekonologi. Terhadap lokasi-lokasi khusus, dicoba menganalisis apakah terjadi
perbedaan-perbedaan yang sistematis pada perluasan arus inIormasi spasial, dengan
menguji keragaman distribusi spasial berdasarkan ketentuan-ketentuan patent (JaIIe et.
Al. 1993), riset dan aktiIitas pembangunan (Cantwell dan Lammarino, 2000), atau di
dalam distribusi teknologi secara spasial yang dikaitkan dengan inIrastruktur seperti
Universitas (Acs et.al. 1992). Kebanyakan metoda tidak langsung yang memberikan
penjelasan kepada alasan-alasan yang terkait dengan lingkungan aglomerasi, yang
merupakan pengaruh lokalisasi teknologi, yang dibatasi penyebaran lintas ruang dengan
cepat.
Suatu teori pertumbuhan endogenous spasial yang lemah, tanpa penurunan
pengembalian terhadap modal dan akumulasi modal manusia, tidak mungkin tumbuh
drastis. Jika logika ini diterapkan untuk pembangunan wilayah, akan berimplikasi
bahwa semua aktivitas dan proses convergensi akan membentuk lokasi tunggal. SiIat-
siIat alamiah ruang dari suatu perekonomian dapat memberikan pelambatan pada setiap
proses yang drastis. Karena ini semuanya sesuai dengan siIat-siIatnya akan memberikan
pengaruh terhadap pasar-pasar spasial, termasuk problema penerimaan secara tata
ruang. Kemacetan selalu muncul akibat pengelompokan industri di suatu lokasi tertentu
dalam suatu ruang, dan sebelum lingkungan sendiri memberikan dampak negatiI dari
pengelompokan kumulatiI tersebut. Neraca keseimbangan eIek-eIek lingkungan yang
positiI dan negatiI akan berperan penting terhadap realokasi Iaktor-Iaktor produksi di
dalam pengembalian Iaktor-Iaktor produksi secara nyata lintas ruang di dalam jangka
panjang yang cenderung mencari keseimbangannya. Meskipun model-model
pertumbuhan endogenous aglomerasi tidak sesuai dengan pembangunan yang mengarah
kepada lokalisasi pada lokasi tunggal, pada sisi lain sesuai dengan notasi inovasi baru,
dimana proses produksi semakin baik dan berlanjut cenderung kepada kondisi semula,
berorientasi pada beberapa lokasi, namun dalam lingkungan pasar persaingan yang
semakin luas. Alasan ini berasal dari siklus produk model-model aglomerasi. EIek-eIek
lingkungan di area lokasi tersebut, dari mana inovasi bermula, akan menciptakan
peningkatan harga-harga perumahan di rilestat-rilestat local untuk jangka panjang,
125
merupakan pengembalian nyata Iaktor produksi yang cenderung menjadi terintegrasi
diantara wilayah. Pada sisi lain, pengembalian nominal Iaktor-Iaktor produksi
cenderung seimbang secara permanen (tetap sama diantara berbagai wilayah). Wilayah-
wilayah yang mengembangkan inovasi-inovasi tertentu senantiasa memperlihatkan
harga nominal Iaktor-Iaktor produksi yang lebih tinggi. Area tersebut cenderung
menjadi pusat-pusat kota yang dominan di dalam suatu wilayah perekonomian yang
spasial, wilayah-wilayah pinggiran yang secara geograIis lebih luas cenderung
memperlihatkan harga nominal yang lebih rendah, namun jauh lebih seimbang dalam
pengembalian Iaktor-Iaktor produksi secara nyata. Pengaruh lokalisasi pertumbuhan
jangka pendek dan menengah terjadi di dalam satu ruang, sesuai dengan pendapat
model 'Satu Sektor yang mendasarinya pada arus Iaktor produksi antar wilayah.
Pertumbuhan yang dilokalisasi dalam jangka panjang tidak sesuai dengan pandangan
model 'Satu Sektor. Karena biaya lokasi yang terlokalisai secara geograIis begitu padat
akan menjadi sangat mahal. Pada waktu yang sama, secara sistematis pusat-pusar
periphery, perbedaan pengembalian nominal Iaktor-Iaktor produksinya sesuai dengan
ketentuan alokasi Iaktor-Iaktor produksi Model Neo Classic 'Satu Sektor.

8.3 Pandangan Keynesian Tentang Pertumbuhan Wilayah
Pandangan-pandangan Keynesian untuk pertumbuhan ekonomi wilayah
merupakan pendekatan alternatiI. Perekonomian suatu wilayah memiliki keterkaitan ke
dalam dan ke luar. Permintaan suatu wilayah meliputi permintaan dari dalam dan dari
luar wilayah, kedua-duanya akan membentuk arus pendapatan dan multiplier wilayah.
Ada kaitan antara arus investasi local dan pendapatan wilayah. Sehubungan dengan
pandangan tersebut mazhab Keynesian mengembangkan model multiplier pada tingkat
wilayah (local). Sedikit banyaknya ada perbedaan antar pendapatan wilayah (local) dan
tingkat nasional. Arus pengeluaran pemerintah lokal cenderung mengalir untuk
mengimbangi pendapatan wilayah dan aliran tersebut relatiI bebas dibandingkan dengan
pada tingkat nasional.
Diasumsikan bahwa arus investasi sektor pemerintah lebih banyak mengalir ke
wilayah-wilayah dimana dana-dana local wilayah tersebut memungkinkan terbentuknya
modal investasi pada tahun berjalan dan tergantung pada tingkat pendapatan tahun
berjalan. Tingkat pengeluaran investasi local biasanya lebih besar pada tahun berjalan,
yang berimplikasi pada persediaan modal wilayah dapat ditingkatkan menjadi lebih
eIisien. Pertumbuhan ekonomi dari dalam wilayah bersumber dari jumlah dan mutu
input-input local. Secara umum pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari dalam
wilayah merupakan Iungsi dari modal wilayah. Model-model pertumbuhan wilayah
Keynesian dikaitkan pula dengan investasi-investasi sumber daya manusia (SDM).
Persediaan modal local merupakan Iungsi dari pendapatan local per tahun. Dengan
demikian tingkat pertumbuhan local dibatasi oleh tingkat pendapatan lokal.
Tingkat pendapatan tahun berjalan akan dibatasi oleh permintaan terhadap
output. Umumnya, diasumsikan bahwa banyak output wilayah yang dikonsumsi di luar
wilayah. Pengeluaran wilayah juga tergantung pada pendapatan ekspornya. Pengertian
ekspor di sini meliputi ekspor antar wilayah dan luar negeri. Arus pendapatan wilayah
yang bersumber dari ekspor-impor wilayah (neraca pembayaran wilayah) berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah.


126
8.3. Pendekatan Neraca Pembayaran Untuk Pertumbuhan
Logika pendekatan pertumbuhan ini didasarkan pada logika model pendapatan/
pengeluaran sederhana, yaitu:
) ( ) (
r r r r r r
M G + + + = ................(18)
Tiga unsur dalam kurung pertama sisi kanan persamaan (18) mewakili unsur-
unsur permintaan agregat disatukan sebagai kegiatan domestik wilayah tersebut, yang
disebut kelompok 'penyerapan domestik wilayah (A
r
). Sedangkan dua unsur dalam
kurung sisi kanan persamaan merupakan unsur-unsur agregatiI permintaan wilayah dari
sector perdagangan antar wilayah. Maka, untuk kondisi ekonomi wilayah yang
seimbang dapat ditulis:
) ( ) (
r r r r
M A = ..................(19)

dimana (Y
r
-A
r
) seimbang dengan sisi tambahan aset-aset dari wilayah-wilayah lain.
Penggunaan model ini dianalogikan dengan neraca pembayaran tingkat nasional, yang
disesuaikan untuk kasus wilayah. Model neraca pembayaran pada tingkat nasional yang
sederhana adalah sebagai berikut:
0 = + =
N N N
BF KA A ...................(20)
Dimana CA
N
neraca berjalan, KA
N
neraca modal dan BOF
N
neraca devisa.
Apabila neraca tahun berjalan surplus, ini berarti mendorong pertumbuhan nilai-nilai
saham domestik. Nilai tukar valuta sendiri naik secara relatiI terhadap valuta asing.
Neraca modal menggambarkan pertumbuhan asset luar negeri baik yang bersumber dari
pinjaman maupun dari saldo positiI pendapatan luar negeri, milik warga negara yang
ditempatkan di luar negeri. Implikasi dari perkiraan modal yang surplus adalah adanya
arus uang dari negara lain ke dalam negeri yang dapat digunakan untuk dibelanjakan
kepada asset-aset domestik, atau aset-aset nasional di negara lain. Neraca devisa
(Iinansial) menggambarkan jumlah kewajiban untuk mendapatkan pendapatan yang
diterima dari dunia internasional, atau sisa permintaan dan penawaran valuta di pasar
valuta asing. Dalam persamaan dapat ditulis:
N N N
BF KA A = + ...................(21)
Jika sisi sebelah kiri persamaan (21) positiI, negara yang bersangkutan
mengalami neraca pembayaran yang surplus, dan jika negatiI negara tersebut
mengalami deIisit. Jika sebuah negara mengalami neraca pembayaran yang surplus
maka asset-aset luar negerinya bertambah, atau hutang luar negerinya berkurang.
Sebaliknya jika sebuah Negara mengalami neraca pembayaran yang deIisit terpaksa
mengurangi asset-aset luar negerinya, atau menambah pinjaman luar negeri.
Pada kasus perdagangan antar wilayah, seluruh transaksi berlangsung dalam
valuta sendiri dan tidak ada pembiayaan oIisial. Perdagangan antar wilayah tidak ada
bea masuk atau pembatasan-pembatasan perdagangan. Neraca pembayaran antar
wilayah diekspresikan sebagai berikut.
0 = +
R R
KA A ......................(22)
Dimana CA
R
adalah neraca berjalan antar wilayah dan KA
R
neraca modal antar wilayah.
Dalam keadaan seimbang antara neraca berjalan dan neraca modal menjadi sebagai
berikut:
R R
KA A = .......................(23)
127
Ini berarti surplus netto perdagangan sebuah wilayah dalam bentuk barang-barang dan
jasa-jasa dengan wilayah lain (X
r
-M
r
) diimbangi oleh peningkatan netto asset wilayah
tersebut dari wilayah-wilayah lain (Y
r
-A
r
). Sebagai contoh, apabila industri sebuah
wilayah dapat mengekspor produknya maka wilayah tersebut berhasil membentuk
pendapatan dari sektor perdagangan antar wilayah dan pendapatan tersebut dapat
digunakan untuk mengimpor barang-barang dan jasa-jasa dari wilayah lain dan juga
dapat membeli asset-aset lebih banyak dari wilayah-wilayah lain (seperti: real estate di
wilayah lain, asset-aset perusahaan yang ditempatkan di wilayah lain, dan sebagainya).
Sebaliknya apabila sebuah wilayah mengalami neraca pembayaran antar wilayah yang
deIisit, maka deIisit tersebut harus dibiayai dengan sisa penjualan keseluruhan asset-aset
domestic mereka kepada pembeli-pembeli dari wilayah lain. Dan apabila sebuah
wilayah mengalami neraca pembayaran yang seimbang itu berarti sisa peningkatan
asset-aset yang bersumber dari perdagangan dengan wilayah-wilayah lain nol. Neraca
pembayaran antar wilayah yang surplus atau deIisit merupakan sebuah permasalahan
yang tidak dapat berlangsung secara terus-menerus. Wilayah yang terus-menerus deIisit
neraca pembayarannya akan semakin terbatas persediaan asset-aset domestiknya, dan
akan semakin terbatas kekayaan yang dapat dijual kepada pihak luar untuk membiayai
deIisitnya. Oleh karena itu sebuah wilayah tidak mungkin memelihara deIisit neraca
pembayaran untuk jangka waktu yang amat panjang. Implikasinya menyangkut daya
serap wilayah secara domestik, tingkat pendapatan wilayah, dan ekspor wilayah.
Contoh: dua wilayah A dan B. A memiliki permintaan investasi yang relatiI
lemah sedangkan wilayah B relatiI kuat. Wilayah-wilayah tersebut tidak memiliki
kontrol terhadap variabel moneter, karena merupakan otoritas bank Sentral (pusat), oleh
karena itu tingkat bunga yang berlaku di setiap wilayah sama. Dalam kondisi yang
seperti itu dapat dipandang bahwa wilayah individual sebagai suatu perekonomian kecil
yang terbuka dengan kurva LM mendatar. Sebagaimana diperlihatkan gambar-10,
tingkat bunga di kedua wilayah berada pada r*. Pada tingkat bunga ini, unsur investasi
di wilayah A hanya bersumber dari pasar local (dari penyerapan domestic), membentuk
pendapatan wilayah pada tingkat Y
A
. Jika pendapatan investasi lokal yang diperlukan
untuk kesempatan kerja penuh wilayah adalah Y
FA
, maka kekurangan permintaan pasar
terhadap tenaga kerja lokal (dalam teminologi pendapatan) adalah (Y
FA
-Y
A
). Di wilayah
B, tingkat investasi lokal cukup untuk membentuk tingkat pendapatan wilayah, sesuai
dengan kebutuhan pasar tenaga kerja pada tingkat bunga yang berlaku. Oleh karena itu,
dengan logika ini, permasalahan tenaga kerja di wilayah A akan dapat diatasi jika
tingkat bunga di wilayah A diturunkan dari r* ke r
1
. Sedangkan untuk wilayah B, jika
tingkat bunga turun di bawah r* akan mengalami kekurangan supply tenaga kerja lokal
dan akan mendorong terjadinya inIlasi secara lokal di wilayah B. Namun kita ketahui,
bahwa wilayah tidak memiliki otoritas untuk menyesuaikan tingkat bunga secara lokal,
karena penggunaan mata uang tidak bebas baginya. Apabila otoritas moneter
mengetahui kedua wilayah menetapkan tingkat bunga untuk memelihara stabilitas
harga, mereka akan menjaminnya pada tingkat bunga r*, akan memaksimalisasi tingkat
kesempatan kerja lokal di kedua wilayah. Ini berarti bahwa wilayah yang bersangkutan
memelihara tingkat kesempatan kerja penuh dimana wilayah tertinggal memperlihatkan
adanya masalah permintaan lapangan kerja lokal jangka pendek.
Salah satu cara untuk mengurangi masalah pasar tenaga kerja yang tidak
seimbang (pengangguran) di wilayah A adalah melalui arus migrasi ke wilayah B.
Kondisi tersebut juga akan tidak eIisien bila diatasi dengan penyesuaian tingkat bunga
128
lokal, serta tidak dapat mencapai investasi internal pada tingkat Ir* mekanisme lebih
lanjut adalah mendapatkan perluasan ekspor.











Gambar 8.10: Tingkat Investasi Wilayah

Kuadran kanan atas Gambar 9.11 memuat diagram belanja pendapatan yang
diketahui. Diasumsikan bahwa tingkat investasi domestik wilayah secara internal
tertentu, adalah Ir*, sesuai dengan tingkat bunga yang ditentukan secara eksternal (r*).
Jika dibaca dari kanan ke kiri, kuadran kiri atas adalah inverse dalam kaitan investasi
domestik dengan tingkat bunga. Kuadran kanan bawah menggambarkan pasar tenaga
dari investasi wilayah secara individual. Sebagaimana diperlihatkan pada model belanja
pendapatan untuk kenaikan ekspor wilayah, dimana jumlah kenaikan ekspor AX.
Kenaikan ekspor tersebut menghasilkan suatu kenaikan pada pendapatan wilayah, yaitu
dari Y
1
menjadi Y
2
, pada tingkat bunga yang berlaku, implikasinya investasi wilayah
secara domestik meningkat dari IS
1
ke IS
2
. Pada tingkat bunga yang berlaku akan
mengalami kenaikan ekspor wilayah, karenanya akan meningkatkan investasi dan
pendapatan wilayah. Kenaikan tersebut mendapat pengaruh multiplier.
Untuk melihat Iaktor-Iaktor penentu ekspor, investasi dan pendapatan wilayah
ditulis sebuah Iungsi impor wilayah jangka panjang dari Thirlwall (1980), McCombie
dan Thirlwall (1974), yaitu sebagai berikut:
3
6

'
+

'

= e
P
P
a M
r
f
r r
......................(24)
dimana M adalah impor wilayah, Y pendapatan wilayah dan elastisitas
permintaan pendapatan untuk impor, P
I
harga nominal barang-barang yang diproduksi
wilayah lain. P
r
harga nominal barang yang diproduksi wilayah domestik, e tingkat
pertukaran (exchange rate) dan elastisitas permintaan impor.
Dengan cara yang sama dapat ditulis Iungsi permintaan impor wilayah sebagai
berikut:

'
+

'

=
f
r
r
eP
P
b ......................(25)
dimana X adalah ekspor wilayah, Z pendapatan dunia yang menganggur, c elastisitas
pendapatan permintaan ekspor wilayah r dari pendapatan dunia yang menganggur.

+ + = t P e P M t t
t
f
t
r
t r
) ( ) ( ) ( ) (
. . . . .
3 6 ...............(26)
r*
r
1

Y
A
Y
FA

LM
A
r*
Y
FB

IS
B
IS
A

Tingkat Bunga Tingkat Bunga
LM
A

129
Sedangkan tingkat pertumbuhan ekspornya:

+ =
t
f t
t
r
t t
r P e P ) ( ) ( ) ( ) (
. . . . .
1 ..............(27)
dimana tingkat pertumbuhan dalam jangka waktu t disimpulkan oleh huruI-huruI
bertitik di atasnya.


























Gambar 8.11 Ekspor Wilayah dan Investasi

Dalam jangka panjang, diketahui bahwa wilayah tidak dapat berjalan dengan
neraca yang deIisit. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan ekspor wilayah jangka panjang
yang berkelanjutan, tergantung pada tingkat pertumbuhan ekspor wilayah, perubahan
relative harga-harga, biaya-biaya produksi dan lingkungan sebagai subyek perubahan-
perubahan nilai tukar. Dengan kata lain:
. . .
| | e P P M
f r r r
+ =
c
c c
....................(28)
dengan memasukkan persamaan (26) ke persamaan (27) diperoleh:
Y
LM
Y
I
R

I
R
*
AX
AD
r*
r
r* Y
1
Y
2

Y
2

Y
1

r* r*
130
6
1 3 1
c
c
+ + +
=
. .
| )| 1 (
f
r
P P
...............(29)
Pada aplikasi model-model neraca pembayaran Keynesian (khususnya Post
Keynesian) untuk kasus-kasus wilayah, diasumsikan bahwa pengaruh harga relatiI ada
pada kuadrat nominator yang berada di dalam tanda kurung besar persamaan (27),
namun dianggap relatiI tidak penting. Dalam kaitan ini ada tiga alasan utama, yaitu:
5ertama bahwa wilayah tidak memiliki kewenangan untuk menyesuaikan nilai mata
uang, kedua diasumsikan bahwa harga-harga secara umum pada industri ditentukan
berdasarkan struktur pasar oligopolistik, yang dapat menjamin harga-harga relatiI stabil
diantara para produsen yang bersaing, walaupun dari sisi biaya-biaya bisa berubah
(Lavaie 1992, Davidson 1994), ketiga diasumsikan bahwa biaya transaksi secara
geograIis dan persaingan secara spasial berarti berbeda-beda pada harga-harga nominal
di antara wilayah-wilayah, juga relatiI stabil untuk jangka panjang. Berdasarkan asumsi-
asumsi tersebut, keseimbangan neraca pembayaran jangka panjang menjadi:
.
. .
6 6
1
r
r

= = ......................(30)
Dengan kata lain, neraca pembayaran membatasi tingkat pertumbuhan
maksimum jangka panjang dari suatu wilayah, sama dengan tingkat pertumbuhan dunia
jangka panjang dikalikan dengan ratio elastisitas permintaan pendapatan dunia untuk
pendapatan ekspor wilayah dibagi dengan elastisitas pendapatan wilayah untuk impor.
Pada gilirannya sama dengan tingkat pertumbuhan ekspor wilayah jangka panjang
dibagi dengan elastisitas permintaan pendapatan impor wilayah jangka panjang.
mengurangi pertumbuhan ekononmi wilayah yang elastisitas permintaan impornya
tinggi. Jadi, adalah suatu kenyataan bahwa neraca pembayaran dapat menjadi kendala
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

8.3.2 Hukum Verdoorn dan Pertumbuhan Kumulatif
Unsur terakhir teori pertumbuhan wilayah Keynesian atau Post-Keynesian
adalah menyangkut perhatian pada 'skala ekonomis. Dalam pendekatan analisis skala
ekonomis ini perhatian dipusatkan kepada 'Hukum Verdoorn (Verdoom, 1949), yang
menemukan hubungan positiI antara tingkat pertumbuhan produktiIitas tenaga kerja dan
pertumbuhan output, yang dirumuskan sebagai berikut:
. .
Q b a + = p ........................(31)
dimana
.
p tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, dan
.
Q tingkat
pertumbuhan outputnya. Didasarkan pada hasil-hasil penelitian empiris, hokum
Verdoorn mengasumsikan bahwa nilai u kira-kira 2, dan nilai b (oefisien Jerdoorn)
adalah 0.5. Nilai-nilai itu L sesuai dengan ketentuan produksi Neo Classic. yang
mengindikasikan bahwa jumlah u b 1.33 (McCombie and Thirlwall 1994).


131











Gambar 8.12: Pertumbuhan Mantap (Steady-State) Wilayah

Jika digunakan notasi yang dipakai pada ana1isis akuntansi pertumbuhan dan
Iungsi produksi wilayah di atas, maka persamaan (29) dapat ditulis menjadi:
. . .
) ( Q b a Q + = .......................(32)
Penelitian awal dan persamaan (32) memberi kesan bahwa estimasi
ekonometrika dari hubungan yang diberikan oleh persamaan (31) akan memperlihatkan
suatu permasalahan yang berlangsung secara bersamaan, mengingat terminilogi tersebut
mewakili tingkat pertumbuhan output yang terlihat pada kedua sisi persamaan.
Permasalahan ini pernah menjadi perdebatan (Kaldor 1975), Rowthorn 1975; Scott
1988: McCombie dan Thirlwall 1994), karena asumsi dasar model-model Post-
Keynesian yang langsung menyebabkan pertumbuhan secara eksplisit dari kanan ke kiri
(Boulier 1984). Dengan kata lain, peningkatan pertumbuhan output dilihat sebagai
sesuatu yang timbul dari dinamika ekonomi 'skala produksi ekonomis di dalam
kegiatan produksi, melalui belajar sambil bekerja pada sebagian tenaga kerja (Arrow
1962), dan juga meningkatkannya pengaruh pembentukan modal, dikombinasikan
dengan penyediaan kredit yang mudah pada kondisi perluasan output. Kalau asumsi
'dinamika skala produksi ekonomis Verdoonr dimasukkan ke dalam perbincangan
kendala pertumbuhan dan neraca pembayaran wilayah, dengan pendekatan diagram
Dixon dan Thirlwall (1975) selanjutnva dapat ditunjukkan bahwa pertumbuhan wilayah
tertentu, sebagai jalan pintas yang memungkinkan menjadi penyebab pertumbuhan
kumulatiI periode tertentu.
q
Q
1/
1
6
1
1
X
b
h
p
s
) ( p
132
Pada Gambar 8.11 diperlihatkan sejumlah kondisi yang menghasilkan tambahan
pertumbuhan tingkat output wilayah yang konstan. Pada kuwadran kanan atas terlihat
bahwa tingkat pentumbuhan ekspor wilayah adalah x, dan elastisitas permintaan
pendapatan ekspor wilayah t, sebagai petunjuk tingkat pertumbuhan output q yang
dibatasi oleh neraca pembayaran. Melalui eIek Verdoorn. pada kuwadran kiri atas
diperlihatkan bahwa pertumbuhan output ini menimbulkan suatu pertumbuhan
produktivitas tenaga kerja lokal (h). Pada kuwadran kiri bawah dapat dilihat petunjuk
bagi penyesuaian kualitas harga-harga nyata output wilayah yang diproduksi, yang jatuh
pada suatu tingkat s. Model-model mengasumsikan bahwa harga-harga relatiI kurang-
lebih sama diantara wilayah-wilayah. Untuk harga-harga output yang telah tertentu,
peningkatan produktivitas tenaga kerja dapat diwujudkan dalam terminologi penerapan-
penerapan mutu produk. Selain itu, penerapan mutu output wilayah akan diperluas ke
dalam kuwadran kanan bawah untuk peningkatan pertumbuhan ekspor wilayah x, suatu
perluasan yang akan tergantung pada elastisitas permintaan pendapatan ekspor wilayah
1
1 . Pada kasus-kasus yang nyata pertumbuhan ekspor akan ditentukan sendiri tingkat
pertumbuhan output q yang mantap Steady state). Sebagaimana diperlihatkan pada
Gambar 8.12, merupakan Iakta bahwa tingkat keseimbangan pertumbuhan mantap itu
bukanlah pertumbuhan wilayah untuk kembali convergen.















Gambar 8.13: Pertumbuhan KumulatiI Wilayah

Di dalam model-model Keynesian, tidak ada penjelasan mengapa pertumbuhan
ekonomi wilayah mantap harus otomatis. Sebagai contoh, kalau sebuah wilayah
dicirikan oleh pengelompokan industri yang padat, memperlihatkan ekonomi
X
b
Q
1/ 2 6
2
1
q
h p
a
b
p
p
133
aglomerasi, wilayah tersebut cenderung memproduksi output-output yang berinovasi
tinggi dan juga akan membeli input-input yang dibutuhkan secara lokal. Ini akan
berimplikasi bahwa elastisitas permintaan pendapatan terhadap output-output wilayah
tersebut cenderung lebih besar dibandingkan pada kasus pertumbuhan mantap, dan juga
elastisitas permintaan pendapatan wilayah untuk impor akan relatiI rendah. Pada kasus
impor, situasi ini dapat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan mantap yang
diperlihatkan Gambar 8.12, dengan menggeser garis di dalam kuwadran kanan atas ke
atas seperti diperlihatkan Gambar 8.13, yang mewakili invers elastisitas permintaan
pendapatan untuk impor, dari
1
1 6 menjadi
2
1 6 . Dengan cara yang sama pada kasus
ekspor, garis tersebut dapat digeser ke luar seperti dalam kuwadran kanan bawah
Gambar 8.12, yang mewakili elastisitas permintaan pendapatan untuk ekspor wilayah
tersebut dari
1
1 ke
2
1 . Seperti yang terlihat pada sejumlah keadaan, kombinasi
elastisitas pendapatan ekspor yang tinggi, elastisitas pendapatan impor yang rendah, dan
'return to scale yang meningkat, dapat menghasilkan pertumbuhan kumulatiI. Tingkat
pertumbuhan nyata wilayah tergantung pada kondisi nilai-nilai elastisitas impor dan
ekspor wilayah yang bersangkutan.
Dengan cara yang sama, dapat digambarkan situasi yang sebaliknya, yaitu untuk
sebuah wilayah yang didominasi oleh produk yang elastisitas pendapatan ekspornya
relatiI rendah, dan sangat tergantung impor. Sebagai contoh, kondisi pendapatan relatiI
rendah di wilayah periphery, industrinya menurun dan banyak perusahaan lokal
mengalami kerugian, mengembangkan industri campuran untuk memberikan
kesempatan kerja kepada penduduk. Pada kasus ini, tingkat pengeluaran di dalam
perekonomian lokal oleh perusahaan-perusahaan baru dan lama cenderung sangat kecil.
Selain itu, kalau perusahaan-perusahaan baru dan lama dikhususkan untuk produksi
produk-produk jadi yang siIatnya standar, elastisitas pendapatan permintaan ekspornya
sangat rendah. Situasi ini dapat dibandingkan dengan pertumbuhan mantap pada
Gambar 8.12, dengan menggeser ke bawah garis pada kuwadran kanan atas Gambar
8.14. yang menggambarkan invers elastisitas permintaan pendapatan untuk impor, dari
1
/ 1 6 menjadi
3
/ 1 6 . Dengan cara yang sama, untuk kasus ekspor, garis pada kuwadran
kanan bawah Gambar 8.12 dapat digeser ke dalam, yang menggambarkan elastisitas
permintaan pendapatan untuk ekspor wilayah. dan
1
1 ke
3
1 . Sebagaimana dapat dilihat
pada sejumlah kuwadran, kombinasi elastisitas pendapatan ekspor rendah, suatu
elastisitas pendapatan ekspor wilayah yang tinggi, dan 'increasing return to scale,
dapat menghasilkan kenaikan terhadap penurunan kumulatiI. Sebagai mana
dikemukakan di atas, tingkat kemunduran aktual wilayah tergantung pada kondisi nilai-
nilai elastisitas ekspor dan impor.
Pendekatan-pendekatan Keynesian dan Post-Keynesian untuk pertumbuhan
wilayah memiliki asumsi-asumsi dasar yang sangat berbeda dengan model-model Neo-
Classic. Di dalam kenyataannya, model-model tersebut tidak memerlukan asumsi
bahwa Iaktor-Iaktor produksi dibayar sama dengan produk marginalnya. Walaupun
tidak diperlukan asumsi, dimana produksi memperlihatkan 'constant return to scale
dengan memperhatikan Iaktor-Iaktor input. Dengan cara yang sama, untuk model-model
pertumbuhan endogenous mengimplikasikan bahwa tidak ada Iaktor-Iaktor
pertumbuhan jangka panjang, dengan mana sebuah wilayah diperkirakan akan kembali
konvergen. Tingkat pertumbuhan nyata wilayah akan tergantung pada perluasan
ekonomisasi atau disekonomisasi aglomerasi yang ada.

134











Gambar 8.14 Pertumbuhan Regional KumulatiI

8.4 Fungsi Cobb-Douglas dan Akuntansi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah
Pendekatan Classic maupun Neo-Classic kcduanya mengembangkan Iungsi
produksi Cobb-Douglass untuk menjelaskan teori pertumbuhan ekonomi makro.
Demikian pula untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi wilayah,. Iungsi produksi
tersebut digunakan. Adapun Iungsi produksi Cobb-Douglass dimaksud dirumuskan
sebagai berikut:
- -
=
1
K Ae Q
t
t
.....................(1)
dalam bentuk logaritmanya menjadi:
K t A Q
t
ln ) 1 ( ln ln ln - - + + + = ...............(2)
Persamaan (2) dideIerensir dengan memperhatikan Iaktor waktu (t), maka diperoleh:

dt
d
dt
dK
K Qdt
dQ
c

+ + =
) 1 ( - -
.................(3)
yang selanjutnya dapat ditulis:
t
t t
K Q
.
.
.
) 1 ( - - + + = ..................(4)
X
p
1/
3
6
3
1
q
) ( p
a
b
135
dimana
. . .
, ,
t t t
K Q adalah tingkat pertumbuhan output, tingkat pertumbuhan modal dan
tingkat pertumbuhan tenaga kerja selama periode t.
Sebagaimana diketahui bahwa upah tergantung pada produktivitas tenaga kerja
dan pertumbuhan upah. Artinya, upah berkaitan erat dengan pertumbuhan produktivitas
tenaga kerja. Untuk dapat melihat siIat-siIat hubungan tersebut dapat diambil sisi kanan
unsur kedua (unsur tenaga kerja) yang ada pada persamaan (4). Dengan demikian
produktivitas tenaga kerja dapat diekspresikan sebagai berikut:
. . . . . .
t t t t t t
K Q + + + = - .................(5)
atau
.
.
. .
) (
t t t t
K Q + = - ...................(6)
Sisi kiri persamaan (6) mewakili tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja
periode t, yang dihasilkan oleh tingkat pertumbuhan teknologi dan pertumbuhan ratio
modal/tenaga kerja, disesuaikan dengan sumbangan Iaktor produksi modal.
Sebagaimana diketahui bahwa tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja
menggambarkan tingkat pertumbuhan upah, dan ini sesuai dengan ketentuan model
Satu-Sektor, yang mendasarkannya kepada alasan alokasi Iaktor-Iaktor produksi.
Pendekatan yang sama dapat juga digunakan untuk meneliti sumber-sumber
pertumbuhan laba. Digunakan tingkat pertumbuhan modal dan kedua sisi persamaan (4)
untuk mendapatkan persamaan yang mengekspresikan pertumbuhan produktivitas
modal.
. . . . . .
t t t t t t
K K K Q - - + + = ...............(7)
dan disusun kembali menjadi:
. . . . .
) )( 1 (
t t t t t
r K Q = + = - .................(8)
Sisi kiri persamaan (8) mewakili tingkat pertumbuhan produktivitas modal pada
periode 1, dan diperoleh dari penjumlahan tingkat teknologi dengan pertumbuhan ratio
modal/tenaga kerja, yang dibatasi oleh sumbangan Iaktor produksi tenaga kerja. Tingkat
pertumbuhan produktivitas tenaga kerja menggambarkan tingkat pertumbuhan
keuntungan. Ini sesuai dengan argumentasi model Satu-Sektor yang dikaitkan dengan
alokasi Iaktor-Iaktor produksi.
Berdasarkan sumber-sumber pertumbuhan dalam kondisi pertumbuhan mantap,
yang dalam keadaan tersebut tingkat pertumbuhan keuntungan adalah nol, dapat diset
pertumbuhan keuntungan menjadi nol pada waktu tingkat pertumbuhan ratio
output/modal sama dengan nol. Dengan kata lain akan ditulis:
. .
t t
K Q = ...........................(8)
136
yang bila dikaitkan dengan persamaan (8) menjadi:
. . .
) )( 1 ( 0
t t t
r t = = - ..................(10)
atau.
.
.
. .
) )( 1 ( 0
t t t
r Q = + = - .................(11)
yang implikasinya:
-

= =
1
. . .
t t t
Q w .................(12)
Dengan kata lain, pada kondisi pertumbuhan mantap, dimana tingkat
pertumbuhan keuntungan nol, tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dan upah
tergantung kepada tingkat teknologi dan sumbangan Iaktor produksi tenaga kerja di
dalam perekonomian tersebut.
Catatan hubungan antara pertumbuhan upah dan pertumbuhan produktivitas
tenaga kerja di dalam kerangka Iungsi produksi Cobb-Douglass adalah sebagai berikut:
upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja (w) sama dengan produk marginal tenaga
kerja (MP
L
), yang dihasilkan oleh produk Iisik marginal tenaga kerja (MPP
L
) dikalikan
dengan harga output (P
x
) yang diproduksi. Pada Iungsi produksi Cobb-Douglass indeks
tenaga kerja . diberikan sebagai ) 1 ( - . = yang dideIinisikan sebagai bagian dari
elastisitas output terhadap input tenaga kcrja. Dengan kata lain:
Q

x
Q
Q

Q Q
A
A
=
A
A
=
A
A
=
/
/
) 1 ( - ..............(a1)
Oleh karena

AP MP / ) 1 ( = = - . dimana MP
L
adalah produk marginal tenaga kcrja.
dan AP
L
adalah produk rata-rata tenaga kerja, dimana w yang dihasilkan oleh MP
L

maka w diberikan oleh

AP w ) 1 ( - = .
Dengan cara yang sama, tingkat laba yang dibayarkan kepada modal r sama
dengan produk marginal modal (MP
K
), dan diberikan oleh produk Iisik marginal modal
(MPP
K
) dikalikan dengan harga output P
x
yang dihasilkan. Berdasarkan Iungsi produksi
Cobb-Douglass, indeks modal adalah - , yang dideIinisikan sebagai bagian dari
elastisitas output terhadap input modal. Dengan kata lain:
Q
K
x
K
Q
K
K
x
Q
Q
K K
Q Q
A
A
=
A
A
=
A
A
=
/
/
- ..............(a2)
Oleh karena
K K
AP MP / = - dimana MP
K
adalah produk marginal modal, dan AP
k
,
produk rata-rata modal. Pada tingkat laba r, yang diberikan produk marginal modal.

Contoh Perhitungan Dengan Menggunakan model Neo-Classic
Samuelson (2001) memaparkan hasil penelitian terhadap kasus pertumbuhan
ekonomi Amerika Serikat selama periode satu abad terakhir, memberikan contoh
bagaimana menentukan kontribusi tenaga kcrja, modal, dan Iaktor produksi lainnya,
serta perkembangan teknologi pada pertumbuhan output nasional. Diketahui, untuk
pertumbuhan ekonomi AS periode 1900 1999, / dari pendapatan nasional mengalir
ke buruh dan / ke modal. Dengan mengasumsikan Iungsi produksi 'constant return to
scale. Dengan memasukkan komposisi sumbangan masing-masing Iaktor produksi ke
dalam persamaan, maka dapat diperoleh:
137
pertumbuhan Q ) 1 ( - (pertumbuhan L) - (pertumbuhan K)
pertumbuhan Q / (pertumbuhan L) / (Pertumbuhan K)
atau untuk pertumbuhan per unit modal:
pertumbuhan

Q
perubahan Q - perubahan L TC
/ ( pertumbuhan

K
) TC
dimana TC adalah perubahan teknologi (Technological hange).
Diketahui selama periode 1900 - 1999 jam kerja pekerja (L)di AS meningkat
1.3 per tahun. dan modal (K) tumbuh 2,5 per tahun. Pertumbuhan output riil (Q)
3.1 per tahun. Berdasarkan deIinisi di atas maka perubahan teknologi (TC) dapat
dihitung setelah dihitung petumbuhan-pertumbuhan Q, K dan L, dengan persamaan:
TC perubahan Q - - (perubahan L) - ) 1 ( - (perubahan K)
untuk contoh di atas:
TC perubahan Q / (perubahan L)-1/4 (perubahan K)
Untuk menentukan kontribusi buruh, modal dan Iaktor-Iaktor produksi lainnya
terhadap pertumbuhan output nyata, disubtitusikan jumlah-jumlah representatiI masing-
masing Iaktor selama periode tersebut. Selama periode itu jam kerja buruh (L) tumbuh 1
.3 per tahun, modal (K) tumbuh 2.5 per tahun, dan output riil (Q) tumbuh 3.1 per
tahun. Maka perubahan teknologi (TC):
TC perubahan Q/L / ( pertunbuhan K.L)
1.8 / 1.5
Dengan demikian 1.8 peningkatan output/tenaga kerja/tahun, 0.3 disebabkan oleh
pertumbuhan modal per tenaga kerja dan 1.5 disebabkan oleh perubahan teknologi.
Selanjutnya kontribusi unsur-unsur pertumbuhan secara rinci diperlihatkan melalui
tabel: 1.2. dimana
.
p tingkat pertumbuhan produktiIitas tenaga kerja, dan
.
Q tingkat
pertumbuhan outputnya. Didasarkan pada hasil-hasil penelitian empiris, hokum
Verdoorn mengasumsikan bahwa nilai u kira-kira 2, dan nilai b (oefisien Jerdoorn)
adalah 0.5. Nilai-nilai itu L sesuai dengan ketentuan produksi Neo Classic. yang
mengindikasikan bahwa jumlah u b 1.33 (McCombie and Thirlwall 1994).







138
Tabel 8. Kontribusi Unsur-unsur Pertumbuhan PDB riil A$, 948 -997
Uraian per tahun total
Pertumbuhan PDB Riil (Sektor Bisnis Swasta)
Kontribusi Input-input:
- Modal
- Tenaga Kerja
Total pertumbuhan produktivitas Iaktor (Penelitian &
Pengembangan Pendidikan. Kemajuan ilmu Pengetahuan.
dan Sumber-sumber Lain).
3,55
2.22
0.66
1.56


.33

63
19
44


37








139
BAB IX
KEBI1AKAN PEMBANGUNAN WILAYAH

9.. Konsep Wilayah
Apa yang menjadi dasar dari konsep wilayah, atau konsep perwilayahan?
Bagaimana perekonomian nasional dipecah ke dalam perekonomian wilayah (sub-
subperekonomian nasional) sebagai suatu sistem ekonomi yang saling terkait dan
terpadu? Dasar tersebut perlu diperjelas, agar apa yang dimaksudkan dengan wilayah itu
sendiri terdeIinisikan dengan jelas.
Ada dua pengertian wilayah yang sering digunakan, yaitu:
1. Wilayah berdasarkan batas-batas administratiI pemerintahan Daerah, dan
2. Wilayah yang tidak berdasarkan batas-batas administratiI pemerintahan daerah.
Konsep wilayah yang berdasarkan administratiI pemerintahan daerah relatiI lebih
sederhana, dan jika ingin melakukan penelitian misalnya, batas-batas wilayahnya sudah
jelas, dan datanya biasanya juga telah tersedia pada berbagai instansi di daerah tersebut,
baik instansi pemerintah maupun non-pemerintah. Konsep wilayah yang tidak
berdasarkan administrasi pemerintah yaitu wilayah yang didasarkan kepada pengaruh-
pengaruh lokasi (kepada pengaruh daya tarik kota-kota tertentu) dan keseimbangan-
keseimbangan harga secara spasial.
Sesuai dengan urgensinya, sebagai mana yang telah disebutkan di atas, maka
dikenal ada tiga konsep wilayah secara umum, yaitu:
1. Wilayah Homogen (omogenious Regions),
2. Wilayah Nodal Nodal Regions)
3. Wilayah Perencanaan (Planning Regions).
Yang dimaksud dengan wilayah homogen adalah suatu kesatuan tata-ruang
wilayah yang memiliki siIat-siIat yang sama, misalnya: struktur produksinya sama,
struktur pekerjaan penduduknya sama, Iaktor geograIis, sumberdaya alam yang
menonjol sama, dan mungkin pula meliputi siIat-siIat nonekonomis yang sama, seperti:
kesamaan perilaku sosial, latarbelakang sejarah dan sosial budaya, latar belakang
politik, dan sebagainya. Kriteria-kriteria tersebut lebih tepat jika diterapkan secara
dinamis. Misalnya pendapatan perkapita, struktur ekonomi dan struktur pekerjaan
penduduk bisa berubah dalam jangka panjang. Contoh wilayah homogen adalah
Wilayah Basis Ekspor.
Wilayah nodal adalah suatu kesatuan tata-ruang wilayah yang saling tergantung
di antara bagian-bagian wilayah yang berbeda-beda. Hubungan di antara kesatuan-
kesatuan wilayah di dalam batas-batas cakupan ruang tertentu berIungsi saling
keterkaitan, tidak termasuk Iaktor jarak seperti pada model graIiti potensial. Fungsi
saling terkait terlihat pada berbagai gejala, seperti: arus manusia, arus barang dan jasa
pada rute-rute transportasi, arus komunikasi, dan sebagainya. Struktur wilayah akan
tercermin pada struktur arus manusia, barang dan jasa, dan sebagainya, yang akan
terstruktur sesuai dengan struktur pusat-pusat kegiatan (kota-kota) wilayah secara
terstruktur pula. Pengendalian terhadap arus-arus tersebut. Konsep wilayah ini sulit
menentukan batas-batasnya, yang menjadi perhatian adalah Iungsi saling keterkaitan
secara terstruktur, baik ke dalam wilayah maupun ke luar wilayah. Struktur wilayah
dapat mengungkapkan struktur sarana/prasarana wilayah (seperti: jaringan transportasi,
tenaga listrik, komunikasi, pipa air bersih, pelayanan perbankan, pelayanan pendidikan,
pelayanan kesehatan, dan sebagainya). Demikian pula arus-arus lainnya (seperti:
140
migrasi antar wilayah, bahan baku industri pengolahan, dan sebagainya). Dengan semua
itu telah terbentuk suatu kerangka tata-ruang wilayah yang luas.
Wilayah perencanaan adalah suatu kesatuan tata-ruang wilayah yang dibuat
melalui suatu kebijakan perencanaan wilayah. Wilayah perencanaan dibuat atas dasar
kedekatan, saling terkait secara logis, dan merupakan kesatuan pengambilan keputusan
ekonomi. Melalui perencanaan tersebut pemerintah mencoba mengatur berbagai
aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi, untuk meningkatkan manIaat bagi penduduk.
Setiap kebijakan yang diambil pemerintah, termasuk kebijakan perwilayahan, harus
mampu meyakinkan masyarakat, dengan penuh alasan, bahwa kebijakan tersebut adalah
pilihan yang paling bermanIaat bagi mereka.
Suatu wilayah perencanaan mungkin merupakan pengkombinasian siIat-siIat
wilayah homogen yang subjektiI dengan siIat-siIat wilayah nodal yang objektiI. SiIat
wilayah homogen yang subjektiI akan lebih mendorong partisipasi, sedangkan siIat
wilayah nodal yang objektiI akan memperkuat integrasi wilayah itu sendiri. Wilayah
perencanaan perlu mengetahui batas-batas pengaruhnya secara alamiah, termasuk batas-
batas pengaruh ekonomi. Dengan demikian ekonomi wilayah tersebut dapat didorong
dengan suatu perencanaan yang didasarkan kepada batas-batas wilayah secara alamiah
dan pengetahuan tentang siIat-siIat wilayah masing-masing. Jika batas-batas alamiah
dan siIat-siIat wilayah tersebut kurang mendapat perhatian di dalam perencanaan, maka
besar kemungkinan perencanaan yang dibuat untuk mendorong pertumbuahan ekonomi
tidak akan eIektiI. Untuk itu perencanaan memerlukan data statistik dan monograIi
wilayah yang tidak dibatasi oleh batas-batas administrasi pemerintahan, HW Richardson
(1969)
Pengertian lain mengenai wilayah yang memiliki siIat objektiI adalah wilayah
yang dilihat berdasarkan Ienomena awal, sedangkan wilayah subjektiI adalah wilayah
yang direka oleh pikiran saja (John Glasson, 1978). Pandangan subjektiI melihat
wilayah sebagai sesuatu yang diharapkan terjadi, sedangkan pandangan objektiI melihat
wilayah sebagai suatu yang nyata, sebagai suatu kenyataan menyeluruh, suatu bagian
dari suatu sistem (organisme) yang dapat diidentiIikasi dan digambarkan sebagai suatu
kenyataan. Wilayah objektiI lebih diterima secara umum sekarang ini, sebagai sesuatu
yang telah berlangsung lama dalam sejarah.

9.2. Kebijakan Pembangunan Wilayah (Daerah)
Berbagai kebijakan nasional dan daerah perlu dibuat untuk digunakan sebagai
dasar pembangunan wilayah (daerah). Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan
peralatan (instruments) pembangunan daerah. Peralatan-peralatan pembanguan daerah
tersebut berupa UU, Peraturan Pemerintah Pusat, Keputusan Mentri, Peraturan Daerah
(Perda), Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati/Walikota, dan sebagainya. Instruments
tersebut bertujuan untuk mengatur pembangunan daerah, meliputi ketentuan tentang
otonomi (kekuasan) daerah, tentang keuangan daerah, tentang kelembagaan daerah, dan
sebagainya. Sebagai contoh, sekarang ini, UU no. 32 tahun 2004 yang mengatur
tentang otonomi daerah, UU no. 33 tahun 2004 yang mengatur tentang perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Peraturan Pemerintah tentang
Bappeda Provinsi Daerah Tingkat-I, Peraturan Pemerintah tentang Bappeda
Kabupaten/Kota Daerah TingkatII, dan sebagainya.
Faktor-Iaktor yang mempengaruhi keekonomisan masyarakat adalah ekonomi
internasional di dalam luasnya, dengan berbagai percabangan untuk seluruh ekonomi
141
nasional. Aktivitas Ekspor-Impor dapat menimbulkan dampak pada ekonomi nasional,
apakah itu perkembangan tingkat inIlasi, pengangguran, dan sebagainya. Dalam
masalah ini akan menyatu dimensi-dimensi spasial dan psikologis, yang membuat
pemerintah sangat sulit dalam mengambil keputusan. Mencoba menggunakan peralatan
kebijakan nasional yang berlaku untuk memperlihatkan pengaruh buruk terhadap
perekonomian nasional. Kondisi tersebut juga mempengaruhi perekonomian daerah,
karena akan berpengaruh buruk kepada pelaksanaan program-program nasional di
daerah. Dalam menghadapi masalah seperti itu, mungkin diberlakukan kebijakan
strategis untuk memperbaiki kondisi umum, misalnya untuk mengatasi masalah krisis
kesempatan kerja, dan sebagainya.

9.2. Perdebatan tentang Kebijakan Perindustrian Nasional - Tindakan Khusus.
Dalam melanjutkan perekonomian nasional yang kondisinya lemah, beberapa
kebijakan dari hasil perdebatan diajukan sebagai bagian dari kebijakan industri nasional
yang baru, yang bertujuan untuk memperbaiki perekonomian nasional. Dalam sejarah,
dilakukannya pembangunan jalan kereta api, penemuan sistem sewa tanah yang lebih
mendukung pembangunan, dan semua kebijakan perindustrian yang dilakukan pada
masa depresi besar adalah contoh-contoh dari kebijakan tersebut. Memang banyak
muncul orang-orang yang tidak setuju pada waktu gagasan dan kebijakan tersebut
diajukan. Beberapa programnya, seperti New Deal, masih ada pandangan kritisnya dan
pandangan-pandangan kritis tersebut berlanjut setelah target-target diintrodusir.
Alasan-alasan kebijakan industrialisasi cukup kuat. Di satu pihak pembaharu-
pembaharu School of Economic Develo5ment ingin membangun kebijakan perindustrian
yang baru, ingin meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu, ingin mewujutkan perencanaan
ekonomi. Mereka ini adalah kelompok gerakan reindustrialisasi nasional. Kelompok ini
ingin membangun kembali stock perindustrian nasional melalui membangun kebijakan-
kebijakan insentiI pajak, pengaturan perburuhan, dan menasionalisasikan inIrastruktur
pembiayaan. Kelompok yang lain ingin membangun kembali tradisi-tradisi
perindustrian yang ada, seperti industri mobil, industri baja, dan industri-industri berat
lainnya yang mungkin dikembangkan.
Di dalam pandangan-pandangan yang lain, beberapa perencana dan sarjana
ekonomi terkesan dengan sistem ekonomi Eropa yang mengusulkan kebijakan
perindustrian tidak meliputi pemecahan secara eksplisit melalui lokalisasi perusahaan-
perusahaan dan modal. Kelompok ini mendorong kedua pandangan kebijakan di atas.
Mereka memiliki premis: ' barang yang dibisniskan adalah barang untuk komunitas dan
para pekerja. Suatu pandangan maju yang lain sebagai alternatiI adalah kebijakan
perindustrian yang memiliki dimensi spasial, dan terlihat lebih manusiawi.
Argumentasi-argumentasi spesiIiknya adalah (1) kebijakan nasional dibutuhkan untuk
meningkatkan kontrol sosial pada perubahan-perubahan ekonomi yang bersumber dari
investasi-investasi perusahaan, (2) komunitas-komunitas membutuhkan sebuah prosedur
yang lebih umum dalam menentukan stabilitas ekonomi dan mutu hidup, dan (3) para
pekerja harus memiliki pengawasan yang lebih baik untuk kebutuhan hidup mereka.

9.2.2 Kebijakan Moneter dan Pajak.
Kebijakan moneter merupakan kewenangan pemerintah pusat. Daerah tidak
memiliki mata uang sendiri, mata uang nasional berlaku untuk seluruh wilayah nasional.
Dampak kebijakan moneter akan diterima semua daerah. Kebijakan moneter ada yang
bersiIat konservatiI (ketat) ada yang Ileksibel (longgar). Kebijakan yang konservatiI
142
adalah kebijakan yang secara konsisten melaksanakan ketentuan-ketentuan teori
ekonomi moneter, guna menjaga kestabilan nilai uang, dan tidak menggunakan
kebijakan moneter untuk menyetir jalannya perekonomian. Sedangkan kebijakan yang
Ileksibel dimaksukan sebagai kebijakan moneter yang agak longgar, dan jika perlu
dimanIaatkan untuk menyetir jalannya perekonomian. Buruk baiknya dampak kebijakan
tersebut kepada daerah dapat berbeda-beda, tergantung kondisi daerah masing-masing.
Misalnya, kebijakan moneter yang konservatiI dapat menyulitkan para pengambil kredit
dalam mengembalikan utang-utangnya. Sedangkan kebijakan moneter yang Ileksibel
dapat membuat masyarakat tidak percaya kepada nilai uang, mendorong spekulasi dan
penduduk tidak termotivasi untuk menabung. Kebijakan moneter yang longgar (yang
inIlatur), dalam batas-batas tertentu, dapat mendorong investasi dan meningkatkan
lapangan kerja. Situasi ekonomi yang dipengaruhi uang ketat akan menurunkan
permintaan pasar terhadap barang-barang (hasil produksi). Permintaan terhadap barang-
barang produk luar negeri meningkat, karena harganya menjadi relatiI lebih murah dan
mutunya lebih baik.
Kebijakan perpajakan sering digunakan sebagai salah satu unsur kebijakan
pembangunan. Penyederhanaan sistem perpajakan nasional akan membatasi insentiI-
insentiI untuk investasi yang tidak produktiI. Perlindungan pajak, sama dengan usaha
menyembunyikan pendapatan, dan jika dikombinasikan dengan tingkat pajak yang
rendah, akan banyak mengalihkan kekayaan negara kembali ke perusahaan-perusahaan
yang produktiI. Investasi asing juga berpeluang untuk masuknya dolar yang belum
dikenakan pajak. Pasar uang akan ditentukan oleh hasil-hasil dalam situasi tersebut. Ke
arah manapun gerakan-gerakan modal mengalir masyarakat harus membantu
perusahaan-perusahaan dengan perencanaan yang hati-hati dan agar membantu secara
agresiI hadirnya perusahaan-perusahaan baru, dan berkembangnya perusahaan-
perusahaan lama.

9.2.3 Kebijakan $osial dan Kesejahteraan
Di AS tahun 1961 lebih dari 65 keluarga kulit hitam kondisi ekonominya di
bawah garis kemiskinan dan bekerja di dalam beberapa jenis pekerjaan. Tahun 1971,
hanya 31 keluarga kulit hitam yang masih berada di bawah garis kemiskinan dan telah
bekerja pada semua lapangan pekerjaan. Kebijakan nasional untuk kesejahteraan
biasanya bersiIat sementara. Pada saat kehidupan sudah mapan nanti, tidak perlu lagi
ada kebijakan untuk mengatasi kondisi kesejahteraan dan adanya kebijakan bagi pekerja
sosial. Masyarakat umum, termasuk rakyat miskin, akan merasa merendahkan darinya
jika menerima santunan, dan kesan orang kepada orang-orang penerima utamanya
sebagai orang-orang yang memiliki moral yang rendah dan penuh kelihaian. Satu cara
yang bisa dipilih untuk memecahkannya adalah dengan menggabungkan isu welfare
(kesejahteraan) dengan workfare (kerja keras). Tujuannya adalah untuk membuat
penerima-penerima kesejahteraan meningkat keahlian dan kecakapannya dalam bekerja
untuk beralih dari menerima derma kepada memberi derma. Versi yang lain dari usaha
ini adalah perusahaan-perusahaan besar mulai melayani masyarakat dengan
menggunakan penerima-penerima kesejahteraan sebagai tenaga kerja mereka. Dalam
pendekatan ini, lembaga-lembaga non-proIit mempekerjakan orang-orang miskin itu
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang sejahtera. Para pekerja tersebut
membayar kesejahteraan mereka dengan penghasilan mereka sendiri yang ditambah
dengan premi yang diberikan perusahaan-perusahaan bagi pelayanan sosial yang
mendapat giliran bekerja (pekerja yang disubsidi).
143
Kedua pendekatan berkembang menjadi pendekatan campuran. Meskipun
demikian, pendekatan-pendekatan tersebut adalah sebuah alternatiI, disangkutkan
dengan perusahaan-perusahaan besar dan lembaga-lembaga non-proIit kepada
penduduk kelas bawah (kelompok miskin yang menganggur). Sebagai sasaran kebijakan
ekonomi pembangunan. Konsep-konsep itu merupakan saran yang potensial untuk
meningkatkan modal manusia diantara penduduk wilayah perkotaan, dengan
menggunakan wilayah opportunitas untuk menarik atau menguasai ekonomi basis.

9.2.4 Pekerjaan dan Kebijakan Pelatihan.
Wilayah yang paling inovatiI bagi kebijakan ekonomi pembangunan untuk
tahun-tahun terakhir ini, yang telah terbukti di lapangan, adalah pekerjaan dan pelatihan.
Adanya UU untuk Pekerjaan dan Pelatihan sebagai bagian dari kebijakan lapangangan
kerja dijalankan oleh kebijakan pembangunan ekonomi. Semula pekerjaan dan pelatihan
yang didisain untuk memperbaiki kecakapan para pekerja di pusat-pusat pengangguran
yang penting, atau memperbaiki kemampuan untuk mengisi lapangan-lapangan kerja
tertentu atau segment-segment penduduk untuk memasuki pasar kerja. Permasalahannya
sekarang dan untuk masa yang akan datang yang dapat diramalkan adalah: tidak
mencukupinya lapangan pekerjaan, atau tidak mencukupinya lapangan pekerjaan yang
baik. Oleh karena itu perencana pembangunan untuk lapangan pekerjaan menjadi
tertarik dengan pertumbuhan jumlah pekerjaan, dan memperkenalkan ekonomi regional
yang dapat menyerap tenaga keja yang ada. Pembangunan ekonomi dan pembangunan
lapangan pekerjaan harus sejalan. Bagaimana cara agar modal manusia dapat
digunakan untuk membantu perusahaan-perusahaan yang penuh persaingan, baik
perusahaan-perusahan yang sudah ada atau perusahaan-perusahaan yang dibangun baru.
Pada dekade yang lampau pemerintah pusat mengatasi masalah kesempatan kerja ini
melalui kebijakan perindustrian, kemudian melalui program-program kebijakan
ekonomi, yang sengaja dibuat utuk membantu wilayah-wilayah pinggiran kota-kota, di
dalam kota-kota, dan wilayah pedesaan, melalui pelaksanaan pembangunan Iisik, atau
mendorong pengembangan industri. Kebijakan-kebijakan tersebut telah berhasil
mengurangi pengangguran secara drastis.

9.2.5 Kebijakan Perdagangan
Apakah kondisi neraca pembayaran luar negeri surplus, deIisit, atau seimbang.
Ini merupakan salah satu indikator perekonomian yang penting bagi sebuah negara.
Begitu pula pada tingkat daerah, neraca pembayaran antar daerah/luar negeri merupakan
salah satu indikator penting. Neraca pembayaran tersebut memberi gambaran tentang
aktivitas ekspor impor, baik pada neraca perdagangan barang, jasa, modal, dan
cadangan devisa. Bedanya pada neraca pembayaran antar daerah tidak ada biaya sektor
moneter, karena hanya ada satu mata uang negara yang berlaku di semua daerah, yaitu
mata uang nasional. Jika sebuah negara, atau daerah melakukan ekspor berarti
negara/daerah itu memiliki sektor ekonomi basis di sektor tersebut. Ekspor akan
memberikan pekerjaan bagi pertambahan penduduk, baik untuk sektor basis itu sendiri
maupun untuk sektor non-basis. Surplus ekspor pada tingkat negara akan meningkatkan
nilai tukar (kurs) mata uang negara tersebut. Namun devisa itu sendiri juga dapat
menimbulkan tekanan inIlasi di dalam negeri. Komoditi yang diproduksi dengan
bersubsidi, seperti komoditi pertanian di negara-negara maju juga dapat mengancam
ekspor komoditi pertanian dari negara berkembang. Penguasaan teknologi yang lebih
144
baik dalam memproduksi suatu komoditi juga berpeluang menguasai pasar, dengan
catatan bahwa yang berlaku adalah sistem perdagangan bebas (tanpa kebijakan
proteksi).

9.2.6 Kebijakan Pembangunan Regional/Lokal
Kebijakan-kebijakan untuk wilayah tertinggal telah menjadi tonggak sejarah
bagi New Deal (konsep pembangunan sosial ekonomi dari Presiden Roosevelt).
Pembangunan Otorita Waduk Tennessee, listrik pedesaan, perluasan toko-toko koperasi,
program-program besar yang ditujukan untuk wilayah pedesaan tertinggal, telah
menjadi bagian dari pola kehidupan di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an, Presiden
Kennedy dan Presiden Johnson mengembangkan ide-ide cemerlang dengan menstimulir
pembangunan-pembangunan dalam kota, wilayah-wilayah di sekitar kota, Central
Business Districts (CBD), dan wilayah-wilayah pedesaan. Program-program yang
pernah dikembangkan sebelumnya tersebut dikembangkan kembali.
Secara umum, hampir senua usaha pembangunan pemerintah pusat telah
menjadi tonggak awal orientasi. Pemerintah pusat melihat prosedur tersebut sebagai
sebuah pembangunan yang mengintervensi langsung sektor swasta. Beberapa bentuk
intervensi terbatas telah sering dilakukan dengan program-program Iisik, seperti
pembangunan lokasi Iasilitas-Iasilitas tentara dan gedung-gedung pemerintah.
Dilakukannya usaha-usaha oleh pemerintah Iederal (pemerintah pusat) untuk
menstimulasi pembangunan ekonomi antar wilayah-wilayah dan kelompok-kelompok
termiskin. Hal itu secara tidak langsung adalah sebagai suatu usaha bersama pemerintah
nasional dengan pemerintah lokal, di dalam mengaplikasikan program-program mereka
terhadap masalah-masalah komunitas.
Kedua pemerintah, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, secara diam-diam
menyepakati bahwa pemerintah pusat membatasi diri pada pembiayaan tetapi tidak
menjadi pelaksana langsung program-program di daerah, yang bertujuan mendorong
perubahan ekonomi. Pengkombinasian Iungsi membiayai dan sekaligus mengintervensi
dari pemerintah pusat telah mendatangkan banyak kesulitan, yaitu dengan nenurunnya
keuangan Iederal yang tersedia untuk pembiayaan daerah. Pada saat sumbangan industri
nasional terbatas, pemerintah lokal membutuhkan lebih banyak bimbingan (asistensi)
pemerintah pusat, tetapi kenyataannya asistensi yang dapat diberikan juga berkurang.
Pemerintah daerah dan pemerintah pusat menekankan sekali komitmennya pada dua
hal, yaitu: mengatasi pengangguran dan mendorong pembangunan. Dorongan-dorongan
yang dilakukan di masa lampau adalah dengan pembebasan pajak untuk masa-masa
tertentu, dan menyeimbangkan pengeluaran dan penerimaan daerah.
Respon pemerintah pusat terhadap problem ini telah dapat mengurangi deIisit
pembiayaan, dan mengaitkannya dengan ketat kepada kekurangan pembiayaan. Secara
esensial, pemerintah nasional memberikan kepada pemerintah lokal lebih banyak
kewenangan untuk memecahkan masalah-masalahnya dengan sumberdaya yang lebih
sedikit. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah ini
berpengaruh kepada pengambil kebijakan lokal, dimana pemerintah local menjadi
memiliki lebih banyak kebijakan, memiliki dana yang melebihi dana-dana bantuan
pemerintah Iederal (pemerintah pusat), dan memiliki lebih banyak opsi untuk
mengatasi masalah-masalah lokal. Pemerintah lokal harus menggunakan dana-dana
yang dimilikinya sebagai investasi untuk masa yang akan datang, dan sewaktu-waktu
mereka akan dihadapkan kepada membuat pinjaman untuk memenuhi kewajiban-
kewajiban darurat.
145
Pemerintah pusat merespon kebutuhan masyarakat dan individu-individu untuk
kesinambungan kebijakan ekonomi yang berIluktuasi. Kebijakan pemerintah daerah
harus mampu mengambil tindakan konstruktiI untuk mendekatkan kebutuhan dengan
penerimaan mereka, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

9.2.7 Kebijakan Nasional dan Pembangunan Ekonomi Regional
Sebagaimana tujuan perbincangan ini semula, kebijakan-kebijakan nasional
untuk mendapatkan lapangan pekerjaan riil dengan konsekwensinya harus mendasari
perbaikan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mampu bersaing, seperti
peningkatan kapasitas masyarakat lokal untuk mengembangkan kesempatan kerja.
Pemerintah nasional dapat memperlihatkan kebijakan-kebijakannya, mempertinggi
kapasitas wilayah dan lokalitas untuk mengejar strategi pembangunan untuk
memperkuat perolehan daya saing sendiri seirama dengan perkembangan ekonomi pada
tingkat nasional. Adapun skema pengelompokan kebijakan adalah sebagaimana
diperlihatkan pada tabel 9.1 berikut:

Tabel 9.. $kema Pengelompokan Kebijakan
Dimensi Ekonomi
Sektoral
Dimensi Spasial Kebijakan
Tdk. Samasekali Implisit Eksplisit
Bukan Kebijakan
Industri



Beberapa sektor
didorong secara
tidak langsung
(seperti: Pertanian,
Baja)

Dorongan
2

Industri
Menurut Sektor

Menurut
Perusahaan/Pabrik
Kebijakan
2

Ekonomi Umum



Kebijakan
2

Sektoral




Kebijakan
2

Struktural


Kebijakan
2

Struktural

Kebijakan
2

Ekonomi dg.
Implikasi
2
Regional


Kebijakan2
Struktural




Kebijan
2
Struktural
Regional


Asistensi Usaha
Lokal
Kebijakan
2

Regional



Pembangunan
Regional




Pembangunan
Ekonomi Lokal


Perusahaan/Pabrik-
khusus
Kebijakan
2

Struktural

Tujuan pembangunan ekonomi regional/lokal yang didasarkan kepada rumusan
The rgani:ation of Economic oo5eration and Develo5ment ED), tahun 1986
meliputi: (1) memperkuat posisi daya saing wilayah-wilayah dan lokasi-lokasi dalam
wilayah-wilayah dengan mengembangkan potensinya, yang sumberdaya alam dan
manusianya masih kurang termanIaatkan; (2) merealisasi kesempatan-kesempatan
pertumbuhan ekonomi dari dalam (Endogeneous) melalui mengorganisasikan kembali
kesempatan-kesempatan yang ada untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa
secara lokal; (3) memperbaiki tingkat kesempatan kerja dan opsi-opsi pengembangan
karir jangka panjang untuk penduduk lokal; (4) meningkatkan partisipasi perekonomian
146
lokal dari keadaan yang merugikan dari kelompok-kelompok minoritas; dan (5)
memperbaiki lingkungan secara Iisik sebagai suatu unsur kebutuhan memperbaiki iklim
pembanguan bisnis dan mempertinggi mutu hidup penduduk sepempat.

9.2.8 Tantangan-tantangan Baru dan Kesempatan Lokal
Jika pemerintahan dan komunitas local mendasari pengorganisasian yang
dihubungkan kepada institusi-institusi dengan mengangkat tantangan-tantangan yang
dikaitkan kepada transIormasi industri nasional yang didiskusikan di sini, mereka akan
mengalami peningkatan yang dapat digambarkan ke dalam perdebatan sebagai jalan
atau jalan-jalan keluar mengatasi ekonomi dari ekonomi lokal selanjutnya. Untuk
mempertemukan tantangan ini, pemimpin-pemimpin negara perlu menguji pilihan-
pilihan yang ada dalam bentuk sebuah gambaran nyata. Dia dapat memberikan
kejelasan di mana industri, pertanian, dan sumberdaya lokal penyebab dislokasi
ekonomi untuk komunitas setempat. Bagaimana pun, dia tidak jelas, pemimpin lokal
memiliki kapasitas untuk merumuskan rencana-rencana memecahkan permasalahan-
permasalahan ekonomi lokal secara jelas. Umumnya, penampilan-penampilan
komunitas-komunitas berbeda-beda, tergantung pada keadaannya masing-masing.
Sebagian kecil komunitas lokal dapat mengantisipasi pertumbuhan ekonominya
didasarkan kepada migrasi penduduk di dalam wilayah sendiri. Tingkat pertumbuhan
penduduk nasional untuk wilayah pedesaan memiliki subtansi yang rendah. Karenanya,
wilayah-wilayah pertumbuhan umumnya dari komunitas-komunitas pinggiran kota
yang terletak di luar kota-kota metropolitan besar. Tidak mungkin setiap komunitas
dapat meningkatkan secara signiIikan kesempatan kerja lokal mereka dengan menarik
perusahaan-perusahaan industri baru. Sebagai kesimpulan, komunitas-komunitas
dengan keterbatasan atau penurunan basis-basis ekonominya harus mengembangkan
strategi ekonomi yang lebih canggih kepada sisa lokasi yang dipengaruhi secara sosial
dan ekonomi. Di sana akan meningkatkan tekanan-tekanan pada semua komunitas
untuk mengembangkan program-program yang akan dipecahkan oleh orang-orang
dewasa di masa yang akan datang. Perbandingan geograIi atau keuntungan transpotasi
akan sama sekali tidak begitu lama ditentukan pada basis-basis sumberdaya alam yang
ada.

9.2.9 1enis-jenis Kumunitas dan Kesesempatan
2
Pembangunan Ekonomi Lokal.

Tabel 9.2. Ikhtiar Pembangunan dengan 1enis Komunitas
Jenis Komunitas Ikhtiar Pembangunan
Wilayah Pertumbuhan


Menstruturalkan Kembali
Wilayah

Memundurkan (membangun)
Komunitas dan Wilayah
Sekitar Kota
Mengelola Pertumbuhan Penduduk dan AlternatiI
Rencana Ekonomi

Memvariasikan Ekonomi yang Ada dan Basis
Kesempatan Kerja

Mengelola Sumberdaya-sumberdaya Publik yang Ada
Memelihara Menjaga Bisnis Lokal
Meneliti AlternatiI-alternatiI Kegiatan Ekonomi
Sesuai dengan Kapasitas Pemerintah dan Persyaratan
Lapangan Kerja Komunitas.
147
Komunitas dari berbagai ukuran menjadi sebuah ketentuan penting untuk
dimainkan di dalam membantu negara dan Departemen Pekerjaan Umum. Pemerintah
Pusat membantu membentuk, memperluas perusahaan-perusahaan baru untuk bersaing
di pasar domestik dan internasional. Ada tiga jenis dasar komunitas yang merespon
perubahan kondisi ekonomi, yaitu sebagaimana digambarkan tabel berikut:

148
BAB X
ANALI$I$ KEBI1AKAN EKONOMI
PERKOTAAN DAN REGIONAL

. Pendahuluan
Kebijakan ekonomi perkotaan (Urban Economy Policy) dan Wilayah (Regional
Economy Policy) merupakan bentuk lain dari kebijakan ekonomi publik, yang
mencakup pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan
yang bersiIat geograIis. Motivasi dan implementasi kebijakan ini memiliki ciri-ciri dan
siIat-siIat yang spesiIik tata-ruang (S5acial). Tujuan kebijakan ini adalah mencari
bentuk campurtangan pemerintah untuk mempengaruhi perkembangan kondisi ekonomi
daerah (ocal Economy). Persepsi ekonomi lokal akan ditentukan oleh siIat-siIat
kebijakan, implementasi, dan evaluasinya. DeIinisi dan ruang lingkup ekonomi lokal
dapat diperluas lebih dari ukuran sebuah ekonomi wilayah suburban secara individual
sampai ekonomi sebuah wilayah perkotaan yang sangat besar (Metro5olitan). Sejalan
dengan perkembangan deIinisi dan ruang lingkupnya, dapat berupa sebuah
perekonomian wilayah yang lebih luas lagi, yaitu perekonomian sebuah kota ditambah
hinterlandnya (Regional Economy).
Indikator-indikator perekonomian regional terdiri dari kesempatan kerja rata-
rata, tingkat pendapatan, harga rumah, dan sejumlah indikator sosial turunannya.
Indikator-indikator tersebut dapat digunakan, atau dihitung untuk melihat kondisi
wilayah atau subwilayah spasial yang dikaji, yang akan dijadikan dasar kebijakan
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Oleh karena itu pendekatan tentang kondisi
'lingkungan ekonomi juga akan tergantung pada ukuran spasial yang diambil, atau
yang dideIinisikan sebagai wilayah 'lokal. Dengan demikian yang dimaksud dengan
kebijakan ekonomi lokal dan regional secara umum dibagi ke dalam dua kelompok
prakarsa dan kebijakan. Pertama, di sana terdapat sejumlah prakarsa yang diIokuskan
secara spesiIik kepada lingkungan ekonomi perkotaan dan dengan target ukuran urban
dan sub-urban tertentu. Semuanya akan dikaitkan dengan judul sejumlah kebijakan
umum, yaitu 'kebijakan perkotaan (Urban Policy). Kedua, di sana ada ukuran (Range)
prakarsa yang ditargetkan pada sebuah ukuran spasial wilayah, dan segala sesuatunya
akan dikaitkan kepada satu judul dari sejumlah kebijakan umum yaitu 'kebijakan
regional (Regional Policy). Perbedaan umum diantara kebijakan ekonomi perkotaan
dan ekonomi regional yang pertama yaitu pembatasan dalam luas wilayah spasial (luas
ruang) yang menjadi Iokus dan implentasi kebijakan, pada kebijakan ekonomi regional
yang ditujukan untuk diaplikasikan pada ukuran spasial yang lebih luas dibandingkan
pada kebijakan ekonomi perkotaan..
Ukuran ruang kebijakan tersebut sebenarnya tidak hanya berbeda dalam lebih
luas atau kurang luasnya, atau dengan kata lain ruang kebijakan perkotaan kurang luas
dibandingkan ruang kebijakan regional. Perbedaan kedua ada pada siIat-siIat kebijakan
yang akan diimplementasikan. Kebijakan ekonomi perkotaan dan regional dimotivasi
oleh pengaruh yang diperlukan untuk meningkatkan kondisi lingkungan ekonomi lokal.
Perluasan kebijakan tertentu dapat didasarkan kepada bakal-bakal variabel yang
mungkin untuk mengimplementasikan kebijakan, yang juga tergantung pada deIinisi
spasial lingkungan local itu sendiri. Sebagai contoh, apakah kebijakan itu untuk
pembangunan ekonomi urban atau suburban? Dengan demikian jelas, bahwa kebijakan
yang dimaksudkan tidak untuk ekonomi sekala regional, karena dampak yang
149
diinginkan cenderung dibatasi untuk wilayah lokal tertentu yang terbatas. Selanjutnya
kebijakan ekonomi regional yang lebih luas didasarkan pada siIat-siIat lingkungan dari
suatu kegiatan relokasi industri. Sebagai kebijakan ekonomi pada sekala suburban
selalu mencakup wilayah yang lebih luas meliputi sekala urban, karena dampak
sebarannya yang akan meluas. Dengan kata lain pembenaran untuk kebijakan ekonomi
spasial tertentu juga akan menjadi bagian dari kebijakan wilayah spasial yang lebih luas,
tergantung pada wilayah spasial yang menjadi objek kebijakan.
Perbedaan ketiga antara kebijakan ekonomi perkotaan dan regional adalah
menyangkut masalah kelembagaan. Perbedaan ini menyangkut kerangka administrasi
dan pemerintahan, karenanya perlu dibedakan juga di dalam implementasinya. Ini
karena area-area geograIis yang menjadi Iokus kebijakan spasial dapat melewati batas-
batas administrasi pemerintahan daerah (ocal Government) yang berbeda. Ini terutama
sekali untuk kasus-kasus kebijakan spasial regional, yang biasanya mencakup wilayah-
wilayah administrasi yang berbeda. Tetapi untuk kebijakan perkotaan umumnya
menggunakan sekala lebih-kurang, biasanya diimplementasikan pada tingkat
administrasi pemerintahan kotapraja yang tunggal.
Perbedaan keem5at adalah pada masalah pusat-pusat kegiatan, yang dapat
dianalisis dan dievaluasi dengan berbagai pendekatan analisis, untuk melihat pengaruh
dari kebijakan-kebijakan tersebut. Dilihat siIat-siIat kebijakan perkotaan dan regional
yang dijadikan sasaran tujuan kebijakan adalah sekala spasial yang umum untuk
masing-masing. Banyak model spasial dapat didiskusikan untuk memperdalam
pengertian tentang ukuran dan terminilogi spasial yang mungkin berbeda. Model Weber
dan Moses utamanya mendiskusikan pada terminologi kerangka antar wilayah (nter
Regional), Iasilitas produksi, dan alokasi produksi yang optimal mencakup sekala
spasial yang luas. Yang lainnya, model persaingan spasial dari Hottelling yang dapat
dijadikan dasar suatu sekala regional antar wilayah dengan kebijakan bagi pengadaan
Iasilitas-Iasilitas produksi yang lebih luas, atau pada sekala sub-urban dan urban jika
ingin bertolak dari perusahaan-perusahaan pengecer kecil. Selanjutnya ada model
pengelompokan dan aglomerasi industri pada sebuah kota individual. Model tersebut
berbeda dengan model tempat sentral (entral Pleace Model) dari Christaller, dan
Loch. Terakhir, model dari Krugman (1991), dan Fujita, dll. (1999) untuk sekala antar
wilayah. Sementara itu ada pula model lokasi lahan kota (Urban and ocation) dan
penentuan harga lahan, dimana model ini melihat kota secara individual. Kemudian
dikenal pula model multiplier regional, uang diperuntukkan untuk sekala wilayah kota
dan antar wilayah, seperti model kesempatan kerja dan migrasi tenaga kerja. Terakhir
juga model-model alokasi Iaktor produksi, pertumbuhan, dan neraca pembayaran
wilayah. Kenyataan dari semua model tersebut, dibangun pada sekala-sekala spasial
yang berbeda-beda, dan disarankan untuk memilih model yang sesuai dengan objeknya
dalam mengaplikasikannya (sesuai dengan sekala, ciri dan siIat ruang wilayah).
Dengan kata lain, ketetapan teknik analisis, atau kombinasi-kombinasi teknik analisis
yang digunakan tergantung pada objek kebijakan dan sekala spasial.
Pada sesi berikutnya akan didiskusikan kebijakan perkotaan (Urban Policy)
terlebih dahulu. Jadi, pertama-tama akan didiskusikan kebijakan ekonomi spasial yang
diimplementasikan pada sekala kota secara individual, atau pada sekala bagian kota
(Suburban). Langkah berikutnya akan didiskusikan kebijakan-kebijakan regional, yang
diimplementasikan sebagai kebijakan ekonomi spasial pada sekala ekonomi yang lebih
luas. Dengan membuat perbedaan-perbedaan geograIi yang seperti ini, diharapkan dapat
membuat pilihan-pilihan dalam penggunaan model-model yang lebih cocok untuk
150
menganalisis dampak dari setiap rencana atau kebijakan yang berbeda yang melewati
wilayah-wilayah spasial yang dijadikan objek kebijakan itu sendiri.

.2 Kebijakan Perkotaan
Kebijakan ekonomi yang diimplentasikan pada tingkat perkotaan (Urban evel),
pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wilayah perkotaan atau
subwilayahnya (Suburban evel) sebagai lokasi investasi. Bagaimanapun, untuk
berhasilnya sebuah kebijakan memerlukan target-target tertentu, memerlukan inisiatiI-
inisiatiI untuk mendapatkan sektor-sektor atau jenis-jenis investasi tertentu yang dapat
mempengaruhi ekonomi dan lingkungannya pada sekala perkotaan atau subperkotaan
yang beraneka ragam siIatnya. Sektor-sektor yang umum dipandang paling peka
terhadap wilayah-wilayah spasial sekala kecil (wilayah perkotaan atau subwilayah
perkotaan) adalah sektor pengembangan komplek perumahan (Real Estate) dan
pertanahan (Pro5erty). Oleh karena itu, kebijakan ekonomi perkotaan cenderung
memIokuskan diri pada pengembangan komplek perumahan dan pengembangan lahan
lokasi, dan lain-lain sektor ekonomi perkotaan lokal. Kebijakan-kebijakan ekonomi
perkotaan biasanya, atau terutama sekali, mencoba meningkatkan daya tarik relatiI dari
area-area tertentu yang kurang terbangun via pengembangan sektor pertanahan dalam
rangka meningkatkan daya tariknya. Untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakan
ekonomi perkotaan melibatkan semua pihak dalam rangka pembebasan lahan-lahan
tidur, melakukan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga atau kerangka hukum
yang memungkinkan terjadinya pembangunan ekonomi lokal tersebut. Ini diperlukan
karena pengembangan sektor pertanahan dan komplek perumahan memerlukan
inIrastruktur pasar yang mendukung transaksi-transaksi bagi proses pembangunan
setempat, yang biasanya memiliki kendala kelembagaan dan hukum yang kompleks,
dan yang biasanya juga berbeda diantara daerah yang satu dengan yang lain, dan/atau di
negara yang satu dengan di negara yang lain. Dengan adanya perubahan tersebut maka
memungkinkan digunakan kebijakan publik untuk membimbing pengembangan pola
tata ruang dan partisipasi investasi sektor swasta agar tercapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya (sesuai dengan yang ditetapkan dalam perencanaan kota atau
bagian dari kota). Dasar-dasar pemikiran kebijakan perkotaan terutama ditentukan oleh
prioritas-prioritas politik, dan Iokus dari kebijakan-kebijakan pembangunan yang seperti
itu cenderung ditujukan pada perubahan siIat-siIat lingkungan lokal.
Dari sudut pandang analisis ekonomi, setiap kebijakan perkotaan akan
berimplikasi berbeda untuk kelompok-kelompok sosial yang berbeda secara individual
(Micro), seperti halnya kebijakan perekonomian secara keseluruhan (Macro). Dampak
kesejahteraan dari kebijakan yang seperti itu haruslah dievaluasi secara terus menerus
apakah berhasil atau tidak kebijakan tersebut dikaitkan dengan tujuannya. Terkait
dengan tujuan untuk dapat menilai hasil dari suatu kebijakan, pada dasarnya dibuat dua
jenis kebijakan spasial, yang kedua-duanya untuk mengembangkan lingkungan kota
yang semakin baik.

.2. Kebijakan-kebijakan Zoning Perkotaan
Salah satu kebijakan yang lazim digunakan para perencana tata-guna lahan kota
dan tata ruang regional pada umumnya negara adalah aktivitas zonasi (oning Activity)
secara geograIis. Pada jenis kebijakan ini, jenis kegiatan yang berbeda hanya diatur
151
melalui perizinan dalam memilih lokasi yang telah ditentukan oleh sebuah kota sesuai
dengan rencananya. Dengan kata lain, sistem perencanaan tata guna lahan kota
didukung oleh sistem hukumnya, dan lembaga tersebut akan menentukan dalam
penataan jenis investasi dan kegiatan pembangunan tertentu yang memungkinkan
dipilih di dalam sebuah kota. Biasanya, jenis investasi dan aktivitas tersebut sekaligus
ditentukan bersama ukuran luas zona dalam ruang dua demensi (peta tata guna lahan)
sebuah kota, ini juga sekaligus memberi gambaran tentang jumlah penawaran lahan
lokasi terhadap suatu jenis kegiatan. Kadang-kadang sistem zoning ini juga bisa tidak
berhasil, karena bekerjanya sistem zoning tersebut mendapat pengawasan (ontrol) dari
harga lahan. Harga lahan sendiri ditentukan oleh interaksi permintaan pada harga pasar
lahan lokasi tertentu. Sedangkan jumlah penawaran lahan telah ditentukan oleh sistem
zoning sendiri untuk masing-masing jenis investasi dan aktivitas. Oleh karena itu, untuk
memahami pengaruh harga pada kebijakan adalah penting untuk mempelajari hasil
akhir harga lahan yang bertolak dari berbagai sistem harga. Sistem pasar lahan ada yang
bersaing, suatu system pasar yang berlawanan dengan sistem intervensi. Sistem zoning
menganjurkan sistem pasar lahan yang bersaing.
Untuk mendasari pengaruh tata-guna lahan terhadap kebijakan zoning, dapat
digunakan model penawaran-sewa (BidRent). Model ini akan memungkinkan kita
membandingkan kemiringan (Slo5e) harga lahan dengan memperhatikan jarak ke pusat
kota dan jenis penggunaan lahan, dalam kondisi pasar lahan persaingan dengan skema-
skema zoning dari lahan kota itu sendiri. Model penawaran-sewa lahan mengasumsikan
bahwa sudah tertentu (M), maka harga lahan lokal akan ditentukan oleh
aksessibilitasnya, dan didasari pada proporsi-proporsi Iaktor produksi. Sebagai contoh,
untuk kasus sebuah kota yang umumnya terdiri dari tiga jenis aktivitas industri, yaitu:
satu sektor pelayanan, satu sektor industri pengolahan, dan satu sektor distribusi dan
perdagangan eceran. Dalam terminologi lahan dan Iasilitas pembangunan lingkungan
ketiga kelompok industri tersebut akan berbentuk kantor-kantor, Iaktor-Iaktor produksi,
Iasilitas perbengkelan, toko-toko dan Iasilitas-Iasilitas perdagangan secara berurutan. Ini
berkaitan dengan masalah trade-oII diantara aksessibilitas dan syarat-syarat ruang, dapat
diasumsikan bahwa sektor jasa umumnya akan diorientasikan berlokasi di pusat kota,
sektor industri pengolahan sesudah sektor jasa tersebut, dan sektor perdagangan eceran
berlokasi pada pinggiran kota yang bersangkutan.
Berdasarkan kondisi-kondisi dari pengalaman teori tersebut, persaingan dalam
mendapatkan lahan akan berimplikasi bahwa kantor-kantor sektor jasa akan berlokasi
diantara pusat kota (M) dan jarak d
0
dari pusat kota. Faktor produksi industri
pengolahan dan perbengkelan akan dilokasikan di dalam cicin konsentrasi lahan untuk
sektor jasa, yaitu pada suatu jarak d
0
dan d
m
dari pusat kota. Terakhir, sektor distribusi
dan perdagangan eceran akan dilokasikan diantara d
m
dan d
r
dari pusat kota.
Kemiringan kurva penawaran-sewa lahan kota yang aktual diberikan oleh kurva yang
menyerupai tutup amplop, kemiringan kurva penawaran-sewa lahan ABC yang
merupakan tangensial kurva penawaran sewa lahan yang tertinggi pada masing-masing
lokasi. Sebagaimana terlihat pada gambar tersebut, kemiringan kurva penawaran-sewa
lahan kota akan merupakan Iungsi dari kemiringan kurva yang menurun secara teratur
dan cembung ke arah titik asal (M).




152

























Gambar 10.1 Tingkat Kemiringan Sewa Lahan Industri Kota Berdasarkan Kondisi Pasar
Lahan Persaingan

Lalu, dibandingkan hasil persaingan ini dengan suatu situasi dimana lahan kota
yang dizonakan. Sebagai contoh, kita dapat membayangkan suatu situasi sebuah kota
metropolitan dimana pemerintahan lokalnya yang melarang kegiatan-kegiatan industri
mengambil lokasi di pusat kota sebagaimana mereka akan terdistribusi kepada tiga
peruntukan yang bersaing. Sebuah keputusan dapat diambil untuk mempertahankan atau
menyempurnakan keindahan pusat kota, atau sebagai alternatiI untuk menghindari
pengaruh negatiI, seperti polusi terhadap lingkungan lokal. Dalam keadaan seperti ini,
otoritas perencanaan kota lokal dapat menentukan dimana izin hanya dapat diberikan
untuk lokasi toko bagi kegiatan perdagangan eceran, pada lokasi yang berdekatan
dengan pusat kota dimana aktivitas sektor jasa mengambil tempat. Dalam kondisi yang
seperti itu, kebijakan zoning diorganisasikan sebagai sebuah ketentuan bagi sebuah
penyangga diantara pusat kota dan kegiatan industri pengolahan. Gambar 10.2
memperlihatkan dimana zona toko eceran ditentukan sebagai sebuah area diantara jarak
d
1
dan d
2
dari pusat kota (M).
Pada waktu yang sama, otoritas perencanaan kota lokal dapat pula menentukan
area-area subwilayah perkotaan lainnya, yang merupakan lokasi perumahan penduduk
berpendapatan rendah, dan area-area perumahan untuk kelompok berpendapatan
menengah dan tinggi yang tidak akan ditempati oleh aktivitas industri pengolahan.
Industri pengolahan hanya akan ditempati di dalam salah satu area yang secara khusus
dizonakan untuk kegiatan jenis industri tersebut. Untuk itu, otoritas perencanaan lokal
Sewa per
Jarak
A
B
C
M
d
0
d
m
d
r
153
kota dapat mengkhususkan zona industri pengolahan tersebut tidak dapat diperluas lagi
dari jarak d
3
dari pusat kota. Sementara itu, untuk mengkompensasikan ruang yang
dikurangi dari sektor jasa di dalam kota untuk kehadiran zona toko eceran di dalamnya,
otoritas perencanaan lokal hanya dapat memberikan izin untuk aktivitas sektor jasa
yang mengambil tempat berjarak antara d
3
dan d
4
dari pusat kota. Sebelum zona ini
perencana dapat memberi izin untuk penggunaan campuran antara toko eceran dan
kegiatan sektor jasa.
























Gambar 10.2: Kemiringan Kurva Sewa Lahan Industri Perkotaan Berdasarkan Sebuah
Kebijakan Zoning.

Di dalam situasi yang seperti ini, kemiringan kurva sewa lahan aktual akan
bergerigi (Evans, 1985) menyerupai sebuah kurva permintaan yang menurun, seperti
diperlihatkan garis tebal pada gambar 10.2. Untuk melihat pengaruh kebijakan
perencanaan terhadap kesejahteraan dapat dibandingkan dengan area di bawah kurva
rent-gradient kasus dengan kebijakan zoning dan pasar lahan bersaing (gambar 10. 2)
dengan kurva Rentgradien lahan perkotaan aktual, atau rent-gradien yang menyerupai
tutup amplop (gambar 10. 1). Perbedaannya diwakili oleh jumlah area abce dan ghjk.
Kedua area tersebut mewakili kerugian total dari penerimaan sewa lahan perkotaan
pada lokasi-lokasi yang dizonakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak membayar sewa
lahan maksimum (sewa lahan berdasarkan sistem pasar lahan yang bersaing). Total
penerimaan yang hilang tersebut mewakili biaya opportunitas kebijakan zoning, dan
sebagai reIleksi dari kerugian kesejahteraan ekonomi perkotaan dari adanya kebijakan
perencanaan.
Sewa per
Jarak
a
k

M
d
2
d
4
d
5
d
1
d
3
b
d
c
g
h
j
154
Kata kunci dari argumentasi di atas adalah, bahwa kebijakan perencanaan
perkotaan tidak terhindarkan, dan akan memiliki implikasi kesejahteraan. Taksiran
implikasi kesejahteraan dari model analisis di atas diperlihatkan gambar 10.1 dan 10.2,
dengan asumsi bahwa mekanisme pasar memiliki eIisiensi yang terbesar. Suatu taksiran
yang benar dari implikasi kebijakan tersebut juga tergantung pada persepsi tentang
eIisiensi dari mekanisme pasar tentang harga-harga yang terkoreksi dengan baik serta
kemudahan-kemudahannya. Situasi tersebut tergambarkan pada gambar 10. 1 dan 10.2.
yang mengasumsikan bahwa untuk pasar lahan penghargaannya di tiap lingkungan tidak
dikoreksi oleh mekanisme pasar. Berdasarkan Iakta yang ada, aspek-aspek keindahan
dari lingkungan pusat kota diasumsikan haruslah di bawah nilai dengan pertimbangan-
pertimbangan biasa dari sektor swasta, sehingga keuntungan aktivitas industri
pengolahan dilakukan sepanjang masih memberikan manIaat positiI, yang digabungkan
dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Jika kemudahan-
kemudahan yang diberikan, yang pertama atau yang kedua dari solusi terbaik tidak ada
kemungkinan respon-respon terhadap kebijakan, tidak tepat menghindari kegagalan
pasar di dalam konteks ini, otoritas pemerintah menyederhanakan responnya kepada
sebuah mekanisme quota, dengan cara demikian sejumlah keterbatasan ditentukan pada
jumlah lahan yang ada pada lokasi tertentu, dan lahan dialokasikan dengan proses
penjatahan.
Dengan dipilihnya skema pembangunan tertentu, maka hal itu akan tergantung
kepada pengembangan lahan yang berdasarkan izin perencanaan dari otoritas
pemerintahan lokal. Dengan menggunakan skema perencanaan tertentu, otoritas-
otoritas perencanaan berputar ke luar, karena dibandingkan langsung dengan bentuk
yang dipresentasikan oleh pemerintah, bertolak dari gambar 10. 1 dan 10. 2, karena dia
diasumsikan bahwa harga-harga lahan sektor swasta diberikan gambar 10. 1, tidak
persis sama mereIleksikan manIaat sosial marginalnya. Ini adalah pembenaran bagi
kebijakan-kebijakan intervensi.

.2.2 Kebijakan Regenerasi Kota
Kebijakan-kebijakan perencanaan tata-guna lahan untuk masa depan diberikan
oleh gambaran perubahan-perubahan lingkungan dan kelembagaan yang mempengaruhi
bekerjanya pasar lahan kota. Pada umumnya, kebijakan-kebijakan yang seperti itu
diimplementasikan dalam kondisi dimana otoritas-otoritas Pemerintah percaya bahwa
mekanisme pasar itu akan mengarah pada hasil-hasil yang secara sosial tidak eIisien
karena adanya pengaruh ekternalitas. Bagaimanapun, di sana juga ada situasi-situasi
dimana dengan implementasi kebijakan tertentu yang menghasilkan pengaruh yang
tidak dapat mendukung peningkatan kesejahteraan. Sebagai contoh, kasus skema-
skema regenerasi kota, sebagai inisiatiI yang akhir-akhir ini sedang populer di Amerika
Utara, seperti di kota-kota Philadelvia dan Boston, dan juga di Eropa seperti London,
Manchaster, dan Rotterdam. Skema tersebut di disain secara spesiIik untuk mendorong
pembangunan area-area kota yang sedang mengalami kemunduran, untuk mencegah
migrasi ke luar (utmigration) dan pemukiman kembali penduduk dari area-area pusat
kota. Pada umumnya wilayah perkotaan memiliki keterkaitan ke luar yang banyak, yang
mempengaruhi penduduk dan aktivitasnya selama tiga sampai empat dekade, berubah
menjadi penduduk dan kegiatan bisnis pusat-pusat perkotaan yang lebih kecil. Inilah
yang disebut 'UrbanRural Shift. Pertama, keterkaitan tersebut terjadi melalui
pengenalan produksi, komunikasi, dan teknologi transportasi yang dapat mengurangi
pentingnya lokasi pusat perkotaan bagi kegiatan-kegiatan perusahaan. Kedua, pada
155
kondisi meningkatnya pedapatan, terjadi perubahan pada pilihan rumah tangga pada
ruang dan mutu lingkungan yang lebih baik mendorong terjadinya outmigration,
banyak orang pindah ke lokasi-lokasi yang lebih ke pinggiran, tetapi dengan kondisi
dimana lokasi-lokasi tersebut memiliki akses baik. Ketiga, persediaan modal perkotaan
tetap dapat membatasi kemampuan perusahaan-perusahaan untuk membentuk dan
memperluas kembali lahan lokasi di pusat-pusat kota yang mendekati jalur-jalur hijau.
Secara rata-rata hasil akhir dari beragam pengaruh tersebut cederung mengurangi daya
tarik wilayah pusat kota bagi kebanyakan orang dan aktivitas bisnis. Kombinasi dari
kecenderungan tersebut sering mengarah pada penciptaan lokasi pembuangan sampah
kota, dengan lahan yang biasanya disesuaikan pada pusat kota yang kurang terbangun
dan terlantar. Bagaimanapun pada umumnya otoritas pemerintahan sipil, cenderung
seperti itu, lebih dihargai dan juga lebih maju.
Untuk skedul meningkatkan keindahan wilayah dan kondisi kehidupan
penduduk, pada umumnya pemerintah kota telah mengimplementasikan skema-skema
regenerasi perkotaan. Di dalam skema-skema tersebut, lingkungan hukum dan
kelembagaan yang berkaitan dengan pasar lahan yang diberlakukan, dan diubah untuk
wilayah-wilayah yang diperkirakan tidak menghasilkan. Dengan cara yang sama
otoritas kota umumnya tidak menghendaki kegiatan-kegiatan tersebut dilokasikan
memusat. Oleh karena itu, skema-skema regenerasi perkotaan harus didiskusikan pada
pasar-pasar komplek perumahan dari sektor hunian, dan sektor jasa yang umumnya
sangat peka terhadap keragaman lingkungan kota. Dengan kata lain, skema tersebut
biasanya memiliki target untuk mendapatkan pembangunan perumahan dan properti
lokal.
Sehubungan dengan kasus tersebut didiskusikan kebijakan zonasi kota untuk
dapat diadopsi model penawaran-sewa (Bidrent), atau model alokasi lahan kota untuk
menganalisis dampak kesejahteraan dari skema pengembangan kota. Untuk dapat
melakukan ini kita memisalkan situasi di sebuah wilayah kota yang semula
menggantikan sebuah kota yang mengalami kemunduran dimana wilayah menganggur
berada di pusat kota. Di dalam lahan yang tidak berpenduduk harga real estate nol,
karena tidak ada orang yang bersedia pindah ke sana dan juga tidak ada kegiatan bisnis
yang ingin berlokasi ke sana, dan berlaku sistem ekonomi pasar dan kondisi lingkungan.
Situasi awal ini dapat diwakili oleh gambar 10.3, dengan asumsi untuk
penyederhanaan bahwa di sana hanya ada dua kelompok pendapatan, yang satu
berpendapatan rendah dan yang satu lagi berpendapatan tinggi. Kelompok
berpendapatan rendah tinggal di sekitar pusat kota dengan radius d
1
dari pusat kota.
Kelompok yang berpendapatan tinggi tinggal pada lokasi dengan jarak d
2
dari pusat
kota. Kelompok berpendapatan tinggi tidak tinggal di wilayah yang berdekatan dengan
wilayah tinggal kelompok berpendapatan rendah, tetapi di sebuah wilayah yang terletak
di antara d
1
dan d
2
. Di dalam wilayah yang letaknya seperti itu, prospek ekonominya
rendah dan biasanya dengan sewa lahan nol, dan kondisi investasi yang tidak
menguntungkan.
Di dalam situasi yang seperti itu , dimana otoritas pemerintah lokal mencoba
mengubah situasi yang digambarkan gambar 10.3, dengan memperbaiki keindahan
lingkungan secara umum di sekitar pusat kota, mengajak otoritas perencanaan di dalam
batas-batas kebijakannya untuk mempengaruhi perilaku pasar kompleks perumahan.
Kebijakan-kebijakan tersebut dapat membuat pemerintah lokal tidak memilih di
lingkungan tersebut, atau langsung dengan pengetatan peraturan zonasi real estate, atau
dengan memberi subsidi pajak untuk para pengembang, atau dengan subsidi tidak
156
langsung dimana pemerintah membangun inIrastruktur khusus untuk publik yang
khusus, atau provisi untuk transportasi umum, atau dalam bentuk kerjasama-kerjasama
usaha antara sektor pemerintah dan sektor swasta dalam bentuk-bentuk surat
kesepakatan kerjasama yang tercantum di dalam skema-skema.


























Gambar 10.3: Lahan tempat Tinggal (Lokasi Perumahan) Kota

Bagaimanapun, dasar logika semua skema-skema regenerasi kota adalah
untuk mencoba melakukan perubahan pada bersama lingkungan investasi, yang dengan
itu pasar real estate lokal akan bekerja, akan terjadinya perubahan-perubahan dalam
lingkungan Iisik wilayah lokal. Kesimpulannya, dimana perilaku wilayah tersebut
cenderung bertentangan dengan perilaku kurva bidrent curve yang terus meningkat
dari wilayah hunian kelompok yang berpendapatan rendah, digabungkan dengan
eksternalitas dengan persepsi-persepsi sosial. Karena itu, tujuan kebijakan perkotaan
adalah untuk mengubah persepsi kelompok berpendapatan tinggi agar mendorong
investasi real-estate oleh kelompok tersebut di pusat kota.







Sewa/m
2

Jarak (d)
M
d
1
d
2
Bid-rent curve untuk kelompok berpendapatan rendah
Bid-rent curve untuk kelompok berpendapatan tinggi
157





















Gambar 10.4 Tata-guna Lahan Perumahan Sebagai Akibat
Skema Peremajaan Pusat Kota.

Pengaruh-pengaruh kebijakan tertentu yang seperti itu dapat diperlihatkan
seperti dalam gambar 7.4. Jika dilakukan pembangunan kembali wilayah lokal pusat
kota diperkenankan berjalan terus, wilayah tersebut menjadi menarik untuk sebagian
tertentu kelompok berpendapatan tinggi yang relatiI memiliki kepentingan tinggi
terhadap aksessibilitas ke pusat kota, yang sebelum pusat kota itu dikembangkan tidak
ingin kembali kelingkungan miskin tersebut. Untuk tujuan penyederhanaan, akan dirinci
siIat-siIat dari kelompok berpendapatan tinggi tersebut, khususnya untuk penduduk
yang berusia muda, yang sebenarnya juga terdiri dari rumahtangga-rumahtangga kedua
kelompok pendapatan. Kurva bid-rent dari kelompok ini cenderung sangat landai. Pada
sisi lain, penduduk yang lebih tua, keluarga-keluarga yang memiliki bayi akan tetap
pada bid-rent-nya masing-masing. Jadi, dengan pembangunan kembali pusat kota
tersebut akan ada keluarga-keluarga miskin yang terdesak, yang kehilangan tempat
tinggal. Dalam kondisi yang demikian, rumahtangga-rumahtangga yang terdesak itu,
akan menjadi rumahahtangga-rumahtangga yang berpindah-pindah di daerah hunian
pusat kota.






Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan tinggi
Sewa/m
2
Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan rendah
Jarak (d)

M

Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan tinggi
d
y
d
h
158



























Gambar 10.5: EIek Kesejahteraan dari Skema Peremajaan Kota.

Sebagai alternatiI, penduduk kota yang berpendapatan rendah tetap stabil,
karena kemampuannya untuk bermigrasi terbatas, setelah peremajaan pusat kota mereka
akan tinggal di dalam wilayah hunian yang lebih jauh sedikit dari pusat kota. Kurva
Bidrent individual kelompok berpendapatan rendah mengindikasikan sewa per meter
persegi yang berbeda yang harus mereka bayarkan, untuk memelihara tingkat
kegunaan lahan, dimana kegunaan adalah Iungsi dari total area lokasi yang dipakai.
Jika pada masing-masing lokasi area lahan yang dipakai berkurang, pada kurva Bid
rent yang curam, maka kegunaan total dari perumahan individu akan berkurang.
Dalam pengertian analisis Bidrent menurunnya kegunaan ini diwakili oleh pergeseran
yang meningkat di dalam kurva Bidrent untuk kelompok yang berpendapatan rendah.
Pergeseran di dalam kurva Bidrent kelompok yang berpenghasilan rendah setelah
adanya skema peremajaan kembali ini akan diwakili oleh suatu kenaikan sewa per
meter persegi, yang dijual oleh kelompok berpenghasilan rendah pada masing-masing
lokasi. Persaingan di pasar real-estate mengimplikasikan bahwa kelompok
berpendapatan rendah menjadi meningkat area hunian mereka, yang mencakup area
diantara berjarak d
y
dan d
h
ke jarak d
i`
dan d
i
dari pusat kota. Dengan demikian,
kelompok berpendapatan rendah akan meluaskan wilayah lingkungan hunian mereka
dengan mengambil lingkungan wilayah kedua kelompok yang berpendapatan tinggi.
Bagaimanapun, meluasnya area lingkungan hunian kelompok berpendapatan rendah
Kurva Bid-rent kelompok berpendapatan tinggi sebelum skema
Kurva Bid-rent kelompok berpendapatan rendah setelah skema
Jarak (d)

M

d
d
Jarak (d)

M

d
d
I`
`
d
I
`
Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan
Kurva bid-rent untuk kelompok
Sewa/m
2

159
yang dijual ini, yang menghasilkan perubahan jarak batas-batasnya, disimpulkan
sebagai pergeseran Iungsi Bidrent kelompok tersebut. Kelompok berpenghasilan
rendah tidak banyak kehilangan kesejahteraan sebagai akibat dari skema peremajaan
pusat kota.

.2.3 Pengelompokan (Centrification)
Diskusi tentang skema-skema pembangunan kembali kota di sini adalah
mencoba dengan sebuah contoh ilustrasi membagi-bagi seluruh eIek-eIek kesejahteraan
yang kompleks yang ada di dalam setiap gagasan kebijakan perkotaan. Di dalam kasus
yang istimewa ini, kelompok yang berpenghasilan tinggi akan terdorong bergerak ke
belakang, ke area-area di pinggiran kota melalui usaha perbaikan lingkungan Iisik.
Kelompok yang berpendapatan tinggi ini, dalam proses tersebut bergerak ke belakang
dari area pusat kota, yang dikenal di dalam istilah pengelompokan (Gratification).
Didalam beberapa kasus proses pengelompokan ini berlangsung secara alamiah.
Biasanya, bagian-bagian kota yang sudah tua, seperti: London, New York, dan Paris
yang memiliki pertumbuhan kesempatan kerja yang menyenangkan, setelah ada eIek
aglomerasi, setelah berkembangnya sektor-sektor tertentu seperti sektor keuangan,
terbukti secara signiIikan terjadinya pengelompokan-pengelompokan. Sungguhpun
demikian, di kebanyakan kota-kota dan di dalam kota-kota tertentu ada yang sudah
tidak menyenangkan, seperti halnya eIek-eIek aglomerasi, proses perkembangan pasar
sendiri tidak bergerak ke pengelompokan. Di dalam situasi yang seperti itu, intervensi
kebijakan publik menjadi wajib dilakukan bila diyakini bahwa hasil dari proses tersebut
akan baik jika dilihat dari pandangan sosial. Bagaimanapun, sebagaimana yang telah
disaksikan di sini, seperti halnya skema pembangunan kota mengandung konsekwensi
yang tidak diinginkan, dimana yang diuntungkan oleh skema tersebut adalah kelompok
yang berpendapatan tinggi, sedangkan kelompok yang berpendapatan rendah (orang-
orang miskin) mendapatkan manIaat negatiI dari skema tersebut. Sekarang, berbagai
alasan dari gagasan-gagasan kebijakan yang seperti itu mencoba menghitung pengaruh-
pengaruh dan manIaat-manIaat bagi semua golongan pendapatan, pada waktu terjadinya
proses terpolanya wilayah-wilayah hunian masyarakat secara geograIis. Para perencana
juga tidak mempromosikan skema tersebut sebagai sesuatu yang akan memberikan
manIaat hanya kepada kelompok yang berpendapatan tinggi. Kebijakan-kebijakan yang
diambil secara umum dipercaya, bahwa dari pembangunan tersebut akan memberikan
harapan bagi berkembangnya area-area kota yang mengalami kemunduran,
melokalisasi manIaat-manIaat aglomerasi yang dapat direalisasi di dalam jangka
panjang berdasarkan pengelompokan aktivitas tersier (usaha jasa) dan kelompok
penduduk yang berpendapatan tinggi di pusat kota. Dengan kata lain, dengan target
yang berhati-hati dari skema-skema tertentu, para perencana mengharapkan dengan
menggunakan investasi publik secara selektiI dapat mendorong pertumbuhan aktivitas
ekonomi setempat. Pertumbuhan lokal tersebut diasumsikan akan memberikan manIaat
kepada semua kelompok pendapatan secara lokal, seperti penciptaan kesempatan kerja
lokal dan peningkatan kondisi lingkungan Iisik lokal. Bagaimanapun, pengelompokan
aktivitas dan manusia tidak cukup untuk mengembangkan ekonomisasi aglomerasi
lokal. Karena itu, pengaruh aglomerasi yang lebih menguntungkan kelompok yang
berpendapatan rendah, sebagai kompensasi hilangnya kesejahteraan, merupakan
spekulasi semata. Pada sisi lain, setiap kehilangan pengaruh aglomerasi akan hilang
pula kesejahteraan pada kelompok yang berpenghasilan rendah, jika tidak hati-hati,
160
mengingat kelompok yang berpendapatan tinggi akan menerima lebih banyak manIaat
ekonomi selama berlangsungnya pembangunan kota.

.2.4 1alur Hijau (Creenbelts)
Di beberapa negara yang kepadatan penduduknya secara spasial relatiI tinggi,
seperti Negeri Belanda, Korea Selatan, dan Inggeris, tata-guna dan alokasi lahan pada
kedua tingkat (nasional dan local), terutama yang diorganisasi di dalam suatu sistim
jalur hijau. Jalur hijau adalah sebuah zona lahan di sekitar wilayah kota yang tidak akan
diizinkan untuk dibangun di dalam skema pembangunan kota, dalam keadaan
bagaimana pun. Dengan kata lain, jalur hijau adalah berbentuk sebuah cincin
konsentrasi di sekitar kota, yang diberikan batasan yang jelas di sekitar pinggiran area
kota. Dasar pemikiran jalur hijau adalah untuk membatasi perluasan area kota ke luar,
agar dapat terpertahankan dan terlindunginya lahan pedesaan. MotiI kebijakan yang
bersiIat membatasi tersebut adalah, bahwa di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yang
padat penduduk, perlindungan terhadap wilayah pedesaan merupakan prioritas nasional,
mengingat lahan pedesaan relatiI terbatas.

















Rent-gradient sebelum pertumbuhan kota
Rent-gradient setelah pertumbuhan kota
Gambar 10.6: Penggabungan antar kota (nter Urban Merging)

Bertolak dari perspektiI ini, nilai area pedesaan ditentukan terlebih dahulu,
dalam ukuran-ukuran keindahan dan alasan-alasan kepurbakalaan, daripada ukuran-
ukuran ekonomi yang sederhana. Oleh karena itu, untuk terjaminnya semua orang
mendapatkan akses yang relatiI mudah ke area-area lokal pedesaan, perluasan area kota
dibatasi secara tegas. Secara im5lisits, asumsi-asumsi kebijakan yang demikian maka
mekanisme pasar lahan swasta tidak akan memasukkan nilai lahan perlindungan
pedesaan sebagai ukuran biaya dan manIaat sosial, dan kegiatan pembangunan
perkotaan akan dihargai hanya dengan ketertarikan kepada biaya dan manIaat swasta.
Dengan demikian, rasionalitas jalur hijau adalah suatu permasalahan lingkungan hidup
(eksternalitas). Pada sisi lain, sebagaimana halnya sebuah kebijakan, bersiIat tidak
dapat dihindari dan juga memiliki implikasi kesejahteraan
Sewa/m
2
Sewa/m
2

r
j2

r
j1

r
A

r
K2

r
K1

r
A

d
1

d
2
d
3
d
4

d
5
d
6

K
J
161
Untuk dapat memahami logika dari sebuah jalur hijau kita dapat merujuk
gambar 10.6, dimana sebuah wilayah diasumsikan terdiri dari dua pusat kota, dengan
dua distrik pusat bisnis yang menarik kepada lokasi 1 dan lokasi K. Diasumsikan pula
bahwa pendapatan upah yang diterima di lokasi J lebih tinggi dibandingkan dengan di
lokasi K. Harga sewa lahan per m
2
pasar persaingan adalah r
j1
di lokasi J, yang lebih
tinggi dari di lokasi K yaitu r
k1
. Kurva rent-gradient komveks untuk setiap area kota,
yang terdiri dari Iungsi-Iungsi rent-gradient individual yang dibedakan untuk masing-
masing kelompok pendapatan yang dipekerjakan pada setiap pusat kota. Sewa lahan
pertanian diberikan pada tingkat r
A
pada semua lokasi, pasar untuk lahan diasumsikan
bersaing, area kota yang dipusatkan pada J lebih luas dibandingkan dengan yang
dipusatkan pada K. Area kota yang dipusatkan pada J seluas dari d
2
ke d
3
dan yang
dipusatkan pada K seluas dari d
4
ke d
5
. Area pertanian berada di sebelah kiri d
2
dan di
sebelah kanan d
5
dan diantara d
3
dan d
4
. Dengan kata lain, pendapatan yang berlaku r
j1

dan r
k1
diterima pada kegiatan di J dan K Ketertarikan dari kedua area kota dipisahkan
oleh aktivitas pertanian. Land Rent-gradient aktual diwakili oleh garis tebal pada
gambar 10.7.






















Gambar 10.7 EIek-eIek Harga Lahan dari sebuah Kebijakan Jalur Hijau.

Sebagai contoh, jika untuk ekonomisasi aglomerasi, pendapatan nominal yang
dapat dibayarkan pada lokasi J dan lokasi K meningkat dalam jangka waktu tertentu
sebesar 50 ke r
J2
dan r
K2
, kedua wilayah kota akan diperluas . Didalam kasus ini, land
rent-gradient yang baru diperlihatkan oleh gambar 10.6, oleh garis-garis tebal. Jika
diperhatikan, wilayah kota yang berpusat di J akan tidak membesar dari lokasi d
1
ke kiri
dan yang berpusat di K tidak akan meluas dari lokasi d
6
ke kanan. Area diantara kota J
dan kota K sekarang tidak akan meluas oleh pembangunan kota-kota dari d
1
ke d
6
.
r
A

r
A

r
j3

r
j2

r
j1

r
K

r
K

r
K

J
K
d
2

d
3
d
4
d
5

Lebih Besar
Lebih Kecil
Sewa/m
2
Sewa/m
2
162
Untuk menghindari menggabungnya pusat-pusat kota bersamaan dengan
perjalanan waktu, maka otorita tata-guna lahan dapat menjalankan suatu kebijakan jalur
hijau yang ketat untuk memelihara batas-batas kota. Pengaruh kebijakan yang seperti itu
diperlihatkan pada gambar 10.6. Pada kasus ini, penerapan sistem perencanaan tata-
guna lahan dengan jalur hijau di sekitar wilayah kota yang berpusat di J, begitu pula di
sekitar kota yang berpusat di K benar-benar tidak akan diberikan izin membangun pada
lokasi sebelah kiri d
2
dan sebelah kanan d
3
untuk kota yang berpusat di J, dan sebelah
kiri d
4
dan sebelah kanan d
5
untuk kota yang berpusat di K. Di dalam situasi yang
seperti itu kota-kota tumbuh sepanjang waktu sehubungan dengan ekonomisasi
aglomerasi, jumlah lapangan kerja lokal akan meningkat, akan dibatasi perpindahan di
dalam daerah kota-kota yang sama. Ini akan menurunkan luas tempat tinggal rata-rata
untuk setiap rumah tangga. Konsekwensinya, kurva Bidrent untuk setiap rumah tangga
individual kota akan bergerak naik ke tingkat yang lebih tinggi, dibandingkan dengan
kasus situasi pasar lahan bersaing tanpa kebijakan jalur hijau. Kesimpulannya adalah,
bahwa and Rentgradient amplop akan bergerak ke kanan atas, dan harga pasar sewa
lahan per meter persegi akan naik pada semua lokasi area kota ke tingkat yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pada kasus tanpa kebijakan jalur hijau. Pada gambar 10.7,
pada and rentGradient aktual berdasarkan kondisi pertumbuhan kota dengan
pembebanan kerugian kebijakan jalur hijau diperlihatkan oleh garis tebal gambar 10.7,
dan and Rentgradient berdasarkan kondisi pertumbuhan kota tanpa kebijakan jalur
hijau yang diberikan oleh garis tebal yang digambarkan terputus-putus. Pada
kesimpulan ini batas-batas desa kota d
2
, d
3
, d
4
, dan d
5
tidak bersambung, sewa lahan
yang dapat dibayarkan juga berbeda secara signiIikan, selama perbatasan jalur hijau
tidak diubah. Dari gambaran kemungkinan biaya hidup masing-masing, semua
penderitaan penduduk kota sehubungan dengan hilangnya kesejahteraan tertuju kepada
pembebanan kebijakan jalur hijau.
Berdasarkan alasan-alasan tertentu juga dimungkinkan akan adanya pengaruh-
pengaruh negatiI dari kebijakan jalur hijau, yang mungkin lebih diperburuk oleh
perkiraan bahwa lingkungan pinggir kota akan dapat dipertahankan untuk jangka
waktu yang tidak terbatas. Kalau kemudahan-kemudahan lingkungan secara relatiI
dilokalisasi dan dilindungi dengan kebijakan pembangunan kota itu sendiri, kota akan
terpelihara dalam jangka waktu yang panjang, akan mengimplikasikan bahwa orang-
orang yang tinggal di pinggiran kota akan selalu menikmati kemudahan lingkungan
yang lebih luas dibandingkan dengan orang yang tinggal di dalam area kota sampai ke
pusat kota. Kalau kelompok orang-orang yang berpendapatan rendah dibatasi tetap
tertutup menuju pusat kota, ini mengimplikasikan bahwa hanya kelompok yang
berpendapatan tinggi yang bergerak ke pinggiran kota, dimana Urban Rentgradient
akan menyerupai tutup amplop. Sekarang menjadi menyerupai huruI U yang landai.
Pada kondisi harga-harga lahan diantara kota dan pedesaan yang relatiI rendah, maka
lokasi di sekitar kota akan lebih banyak yang terjual. Sementara itu, umumnya manIaat
jalur hijau akan mengalir ke rumahtangga-rumahtangga kelompok berpendapatan tinggi,
yang dilahirkan di area kota.

.3 Kebijakan Regional
Kebijakan-kebijakan ekonomi yang diimplementasikan pada tingkat regional sering
dicoba, termasuk yang bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wilayah-wilayah
tertentu sebagai lokasi investasi. Didalam kenyataannya kebijakan-kebijakan regional
163
sering digunakan untuk meningkatkan daya tarik relatiI wilayah-wilayah yang kurang
terbangun. Dalam pengertian ini, kebijakan-kebijakan regional hampir sama dengan
kebijakan peremajaan (Regeneration) perkotaan yang telah didiskusikan di atas.
Bagaimanapun, kunci perbedaan diantara kebijakan regional dan kebijakan perkotaan
terletak pada target untuk mengembalikan sektor-sektor industri, yang pada kebijakan
regional cenderung sangat berbeda dibandingkan dengan kebijakan pada sekala kota.
Sebagaimana diketahui, bahwa sektor-sektor industri dianggap sangat sensitiI terhadap
biaya sosial, dalam wilayah yang bersekala besar (regional), bukan pembangunan
komplek-komplek perumahan dan properti seperti yang telah didiskusikan pada
kebijakan pembangunan perkotaan. Sektor industri dimaksudkan meliputi sektor
industri pengolahan dan sektor distribusi (perdagangan), beberapa sektor-sektor jasa
komersial, sepanjang sektor-sektor tersebut cenderung menarik ke luar aktivitas
ekonomi, jika tidak dikembangkan di dalam wilayah. Pada kebijakan regional dengan
kebijakan perkotaan, untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan regional yang target-
targetnya meliputi pengembangan institusi-institusi (kelembagaan) yang mengalami
kemunduran-kemunduran, atau kebijakan yang menyangkut kerangka hukum untuk
mendukung pengembangan ekonomi lokal. Dampak-dampak pembangunan ekonomi
lokal dari kebijakan regional dapat berbeda secara signiIikan dengan dampak-dampak
ekonomi dari kebijakan perkotaan pada perkembangan sektor-sektor dan wilayah-
wilayah.























Gambar 10.8: Pengaruh-pengaruh Lingkungan Lokal dari Kebijakan Jalur Hijau
(Greenbelt Policy)

Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam memilih ukuran (Si:e) dan pola ruang
(S5acial Pattern) dari setiap pengaruh pembangunan yang bersiIat lokal yang mungkin
r
A

Sewa/m
2
Sewa/m
2
r
J3

r
K3

r
A

J
K
d
2

d
4

d
5
d
3

164
terjadi dari kebijakan regional. Pada waktu yang sama pada kebijakan regional meliputi
pengadaan inIrastruktur yang didanai publik (Pemerintah), yang terkait dengan biaya
sosial marginal dari kebijakan regional, dibandingkan secara relatiI dengan jika tidak
diprakarsai kebijakan yang seperti itu. Oleh karena itu, dalam diskusi-diskusi berikut ini
akan menggunakan dasar-dasar pendekatan analisis yang berbeda untuk menganalisis
pengaruh-pengaruh kebijakan regional pada tingkat ekonomi mikro, kesejahteraan
sosial, dan ekonomi makro.

.3. Pengaruh Agregat Mikro Ekonomi dari Kebijakan Regional
Jenis-jenis kebijakan regional yang terbanyak dilakukan adalah kebijakan-
kebijakan sisi penawaran, yaitu kebijakan-kebijakan yang mencoba meningkatkan
kondisi lingkungan untuk investasi lokal, dengan cara meningkatkan mutu (kualitas)
input-input produksi lokal. Berdasarkan Iakta-Iakta, kebijakan regional sisi penawaran
cenderung memIokuskan perhatian pada input-input (Iaktor-Iaktor produksi) spesiIik
lokasi. Pada sebuah perekonomian antar wilayah yang spesiIik, modal dan tenaga kerja
merupakan Iaktor-Iaktor produksi bergerak, hanya Iaktor produksi bahan baku yang
tidak dipengaruhi intervensi kebijakan, kebijakan regional diIokuskan untuk
meningkatkan mutu input-input dan berbagai macam inIrastruktur, yang secara tidak
langsung akan menurunkan biaya-biaya dari input-input lokal secara nyata.
AlternatiInya, yang agak jarang dilakukan adalah kebijakan yang memIokuskan
perhatian pada penurunan langsung biaya input-input lokal, seperti input lahan.
Didalam kasus kebijakan-kebijakan regional yang mencoba meningkatkan mutu
input-input dan jenis inIrastruktur lokal, Iokus utamanya cenderung untuk
meningkatkan inIrastruktur transportasi lokal (Vickerman, 1991). Pengaruh yang
diperkirakan diperoleh dari kebijakan tersebut yang utama adalah mengurangi biaya
aksessibilitas ke wilayah yang menjadi objek penelitian. Oleh karena itu, peningkatan-
peningkatan secara umum dilihat di dalam unsur-unsur strategis dari inIrastruktur
transportasi lokal, yang menghubungkan wilayah objek kajian tersebut ke bagian-
bagian lain dari perekonomian antar wilayah. Ada dua kesimpulan dari pendekatan
umum ini, yaitu: 5ertama adalah bahwa input-input transportasi dianggap sebagai input-
input penting untuk hampir semua industri dan aktivitas-aktivitas komersial, baik
barang maupun manusia yang memerlukan mobilitas. Dari prospektiI Iungsi produktiI
tersebut, peningkatan di dalam input-input inIrastruktur transportasi tersebut akan dapat
dipandang sebagai peningkatan teknologi regional. Oleh karena, peningkatan di dalam
input-input transportasi tersebut akan meningkatkan total produktivitas Iaktor produksi
dari hampir semua kegiatan industri lokal, yang memperdagangkan outputnya secara
antar wilayah. Pertama-tama pengaruh yang diharapkan dari kebijakan regional yang
seperti ini adalah untuk mendorong kegiatan industri-industri basis lokal yang sedang
eksis, dengan peningkatan produktivitas lokal. Yang kedua, untuk industri-industri yang
secara relatiI bergerak, perbedaan-perbedaan biaya transpor secara spasial diyakini
berpengaruh secara signiIikan pada daya tarik menarik antar wilayah yang berbeda,
dilihat dari lokasi-lokasi investasi. Jika dapat memperbaiki biaya-biaya transpor relatiI
dan aksessibilitas lokasi-lokasi, yang dapat mengurangi keterbelakangan wilayah, maka
diperkirakan lebih lanjut akan mendapatkan migrasi investasi untuk mendorong
perluasan industri-industri basis lokal melalui masuknya modal tambahan tersebut.
Kebijakan-kebijakan regional jenis ini diimplementasikan sebagian-sebagian
atau keseluruhan wilayah melalui yang dibiayai dengan dana-dana sektor publik.
Pendanaan dijamin untuk area-area yang dipilih sebagai calon-calon penerima pinjaman
165
keuangan regional. Bagaimanapun, apakah dengan atau tanpa kebijakan yang seperti itu
tetap akan pengaruh lokal, yang pengaruhnya itu terkait dengan ketentuan-ketentuan,
atau syarat-syarat inIrastruktur transportasi di dalam dan antar wilayah, pada biaya
transpor, pada harga dan penerimaan marginal dari perubahan-perubahan biaya transpor
perusahaan-perusahaan domestik dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi antar
wilayah. Sebagai contoh, program pembangunan yang diprakarsai di sebuah wilayah
(daerah) tertentu secara umum akan mengurangi harga-harga dari semua output yang
diproduksi di wilayah itu pada setiap lokasi. Kebijakan ini mengasumsikan berlakunya
persaingan pasar yang luas, akan meningkatkan output-output wilayah secara
keseluruhan, yang dijual di dua wilayah dan wilayah-wilayah lain. Peningkatan output
pada sebagian perusahaan lokal yang sedang eksis dipengaruhi oleh: 5ertama kebijakan
regional. Kedua, oleh pengaruh kebijakan regional yang ditujukan untuk mendorong
immigrasi investasi perusahaan ke dalam wilayah. Ketiga, pengaruh yang menyebabkan
terjadinya penurunan biaya transpor, yang memberikan kemungkinan meluasnya lokasi
perumahan ke dalam sebuah wilayah, yang dilatarbelakangi oleh harga-harga lahan.
Bagaimanapun, persaingan di pasar Iaktor produksi (pasar input) akan berimplikasi
pada tabungan dari biaya transpor, yang akan segera diimbangi oleh harga-harga Iaktor
produksi lokal, sebagai keuntungan tetap yang tidak dapat dipelihara oleh kebijakan ini.
Apakah peningkatan inIrastruktur transportasi akan mendorong perusahaan-perusahaan
dari luar wilayah melakukan investasi di wilayah tersebut akan tergantung dalam hal
apa perusahaan-perusahaan itu akan mendapatkan kemudahan input-input produksinya
di wilayah itu.
Kita dapat menganalisis pengaruh-pengaruh potensial dari sebuah kebijakan
tertentu, dengan membandingkan kesimpulan-kesimpulan argumentasinya. Seperti
diketahui, pengaruh lokasi-lokasi perumahan pada biaya-biaya transpor di suatu wilayah
tertentu tergantung pada kemungkinan perubahan lokasi produksi dari perusahaan-
perusahaan tersebut. Kalau perusahaan-perusahaan memiliki kemungkinan subtitusi
outputnya nol akan terbatas, penurunan-penurunan biaya transpor yang dilokalisasi
akan diabsorbir keeIisienannya ke dalam skedul-skedul biaya perusahaan, oleh
pergerakan-pergerakan lebih lanjut area-area yang mampu menurunkan biaya
transpornya secara relatiI digabungkan dengan lokasi-lokasi yang lain. Kesimpulan ini
adalah kesimpulan jenis kebijakan Klasik dari Weber. Dengan demikian, kebijakan
regional akan berpengaruh nyata dan bertentangan dengan yang diharapkan. Sebagai
alternatiI, kalau perusahaan memiliki jarak yang jauh dari kemungkinan subtitusi,
perusahaan-perusahaan akan sangat eIisien dalam menyerap biaya transpor yang
dilokalisasi dengan mensubtitusi antara kemudahan dan tingkat harga yang lebih rendah
dari barang-barang yang dihasilkan di wilayah objek studi. Keadaan ini juga akan
mendorong perusahaan bergerak ke area yang memiliki biaya transpor yang relatiI
rendah, dengan demikian kebijakan tersebut memiliki eIek pengaruh dari peningkatan
immigrasi perusahaan-perusahaan ke dalam area (wilayah) tersebut. Kesimpulan ini
adalah kesimpulan jenis kebijakan regional yang klasik dari Moses, kesimpulan yang
terus terpelihara dengan kebijakan regional yang objektiI.
Berdasarkan diskusi di atas, bahwa pengaruh pembangunan regional lokal dari
gagasan meningkatkan inIrastruktur transpor regional juga agak berat dalam membuat
prediksi-prediksi. Jika perusahaan-perusahaan dapat mensubtitusi diantara berbagai
input dengan mudah dan adil secara nyata, maka penurunan biaya transpor akan
mendorong persaingan pada semua wilayah sesuai dengan ketentuan model satu sektor.
Tetapi jika subtitusi input tidak mudah, hasil prediksinya menjadi sangat kompleks.
166
Selanjutnya, peningkatan inIrastruktur transportasi juga dapat me bertambah pengaruh-
pengaruh regional yang dimiliki. Sebagaimana diketahui, biaya transpor yang over
space di dalam bagian busur (bagian dari kurva permintaan) ada batas-batas tariInya,
akan melindungi perusahaan-perusahaan lokal yang rendah eIisiensinya dari persaingan
yang datang dari luar (Krugman, 1991). Pada biaya transpor yang direduksi oleh
kebijakan peningkatan inIrastruktur regional, ini berarti bahwa sebagian perusahaan
lokal tidak akan bertahan lama. Krugman dan Venables (1990) memperlihatkan bahwa
jika ekonomisasi aglomerasi dioperasikan di beberapa lokasi, eIek negatiI pada wilayah-
wilayah tertinggal dapat menjadi target yang signiIikan, sehubungan dengan merosotnya
upah lokal dari persaingan secara umum. Dengan demikian, dampak spasial dari
kebijakan pengembangan inIrastruktur wilayah dan antar wilayah perlu dievaluasi
dengan hati-hati.

.3.2 Efek-efek Kesejahteraan dari Kebijakan Regional
Dimana kebijakan regional didasarkan pada ketentuan investasi-investasi
transportasi lokal, kita dapat bertolak dari sebuah perspektiI sosial, apakah sebuah
skema pembangunan jalan dapat dipilih di perekonomian yang relatiI peripheral
(wilayah pedesaan di sekitar kota). Misalnya, sebuah kasus dimana ada sebuah wilayah
pedesaan kecil di sekitar sebuah kota yang memiliki kepadatan penduduk dan terpencar-
pencar. Di wilayah tersebut dibangun inIrastruktur jalan bebas hambatan baru, yang
secara signiIikan akan mengurangi waktu perjalanan di antara wilayah pedesaan
tersebut dengan kotanya. Berkurangnya waktu perjalanan tersebut akan menekan biaya
transpor, dan dalam hubungannya dengan transportasi bisnis akan menyebabkan
menurunnya biaya marginal (MC) semua output yang diproduksi dan dikonsumsi di
wilayah tersebut. Bagaimanapun, penurunan MC terhadap semua output tersebut
dibatasi oleh jumlah transaksi komersial yang terbatas, karena total jumlah penduduk
wilayah (Region) tersebut relatiI kecil. Pada sisi lain, jika inIrastruktur jalan baru
tersebut dibangun di sebuah wilayah yang luas dan padat penduduknya, yang
inIrastruktur jalannya telah relatiI baik, penurunan waktu perjalanannya relatiI kecil
dari rata-rata waktu perjalanan antara wilayah pedesaan tersebut dengan kotanya, hanya
akan menurunkan MC sedikit saja dari semua output yang diproduksi dan dikonsumsi di
wilayah itu. Akibatnya adalah penurunan yang kecil saja pada MC tetapi pada sisi yang
lain jumlah transaksi besar terhadap semua output yang diproduksi dan dikonsumsi di
wilayah tersebut.
Untuk membandingkan dua kasus eIek tersebut kita mengembangkan gambar
10.9, dengan cara itu eIisiensi total dari perolehan kesejahteraan dari total jumlah
transaksi wilayah padat penduduk T
H
dan wilayah jarang penduduk T
L
. Untuk tujuan
penyederhanaan, diasumsikan bahwa biaya transpor semula yang dikombinasikan
dengan jumlah transaksi di dalam wilayah C di kedua wilayah. Lalu, jika sekarang
inIrastruktur transportasi jalan baru dibangun di wilayah jarang penduduk akan terjadi
penurunan yang besar pada MC, dikombinasikan dengan biaya transpor sekarang
menjadi C
L
. Penurunan besar biaya transpor dan penurunan yang signiIikan di dalam
MC dari semua transaksi individual yang melampaui ruang wilayah, memiliki
konsekwensi mendorong suatu peningkatan pada transaksi-transaksi bisnis lokal.
Perolehan total kesejahteraan sosial ini dikombinasikan dengan kenaikan pada
transaksi-transaksi bisnis diperlihatkan oleh kenaikan jumlah transaksi dari Q menjadi
Q
L
. Pada sisi lain, apabila inIrastruktur trasportasi baru tidak dibangun di wilayah padat
penduduk, penurunan MC dari transaksi-transaksi bisnis individual diperlihatkan oleh
167
penurunan C ke C
H
yang hanya kecil saja. Ini dikarenakan inIrastruktur transportasi di
wilayah tersebut sudah baik dan bersiIat ektensiI, karenanya potensi penurunan biaya
transpor untuk setiap transaksi bisnis indiviaual diperoleh dari suatu jumlah transaksi
yang besar. Karena itu, peningkatan di dalam total kesejahteraan sosial didorong oleh
jatuhnya biaya transpor begitu luas, dan di dalam gambar 7.9 diperlihatkan oleh
meningkatnya jumlah transaksi dari Q ke Q
H
. Hasil ini merupakan manIaat dari
penurunan MC dan pengembangan inIrastruktur transportasi di suatu wilayah, yang di
dalam kenyataan lebih tinggi di dalam wilayah yang luas dan kepadatan penduduknya
tinggi (wilayah sentral) dari pada wilayah kecil dan penduduknya jarang.
Sebagai contoh indikasi-indikasi dari Ienomena sebuah ekonomi masa depan
bersama, di dalam buku-buku rujukan yang berpandangan ke bawah (kerakyatan),
disebutkan bahwa dampak kesejahteraan dari campurtangan kebijakan publik tidak
hanya di dalam aspek sosial, tetapi juga mencakup isu-isu tata-ruang yang akan
menentukan ukuran dari dampak mutlaknya. Keberagaman dalam jarak, distribusi
penduduk secara tata-ruang dan distribusi pasar-pasarnya akan menentukan dampak-
dampak dari kesejahteraan dari prakarsa-prakarsa kebijakan publik yang berhati-hati
itu. Perbedaan-perbedaan lokasi prakarsa-prakarsa kebijakan diantara ruang-ruang, akan
menghasilkan distribusi kesejahteraan di antara ruang, dan juga perbedaan ukuran
absolut dari dampak kesejahteraan.


















Gambar 10.9: EIek-eIek EIisiensi Kesejahteraan dari InIrastruktur Regional

Pola-pola yang melatarbelakangi kesejahteraan sosial, misalnya pembenaran
terhadap sejumlah pertanyaan terhadap sebagian kebijakan regional, karena walaupun
inIrastruktur jalan raya secara signiIikan meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomi
perekonomian di daerah peripheral yang jarang penduduknya, jika program-program
pembagunan di wilayah peripheral secara nyata telah dimulai, pembenaran terhadap
kebijakan yang seperti itu hanya dapat diperoleh dari utamanya pada dasar-dasar politik
dan sosial, biayanya pada ekonomi lapisan bawah. Pada sisi lain, kita dapat melihat
bahwa biaya relatiI dari ketentuan-ketentuan inIrastruktur jalan jauh lebih rendah di
dalam ekonomisasi wilayah peripheral sehubungan dengan kewajiban-kewajiban yang
T
H

T
L

C
H

C
L

Q
Q
L
Q
H

C
C (Biaya Transpor)
T
L
T
H

Q
L
(Jumlah Output)
168
lebih rendah, sewa lahan, dan upah yang lebih rendah. Dengan cara yang sama,
pengaruh-pengaruh kemacetan di wilayah-wilayah yang padat penduduk dapat
mengurangi manIaat potensial biaya sosial di wilayah padat penduduk dalam jangka
panjang, dan manIaat-manIaat dari skema yang digunakan dapat mengindikasikan
bahwa perolehan-perolehan kesejahteraan sosial lebih besar di peripheral dari pada di
pusat wilayah. Sebagai tambahan, eIek-eIek pertumbuhan yang dilokalisasi diusahan
didorong di wilayah-wilayah peripheral dengan ketentuan-ketentuan (siIat-siIat) yang
ada pada inIrastruktur publik, perolehan-perolehan kesejahteraan dikombinasikan
dengan kebijakan regional mungkin sangat signiIikan. Didalam situasi ini, kurva-kurva
biaya kesejahteraan yang dilukiskan di gambar 10.9 akan dikembalikan, dengan kurva-
kurva kesejahteraan sosial untuk wilayah peripheral menjadi amat terbatas, mengingat
bahwa untuk wilayah peripheral relatiI landai. Ini adalah evaluasi sosial analisis biaya
manIaat dari seluruh potensi ekonomi dan dampak-dampak lingkungan dari kebijakan
(Sossone dan SchaIIer, 1978, Pearce dan Nash 1981, Layard dan Glaister 1994).
Argumentasi yang sama dipegang untuk kebijakan regional yang didasarkan secara
langsung atau tidak langsung pada mensubsidi investasi-investasi migrasi ke dalam
wilayah melalui penurunan-penurunan harga lahan, atau potongan-potongan pajak
lokal (Swales 1997). GeograIi memainkan sebuah prosedur di dalam menentukan kedua
ukuran absolut dan substitusi spasial dari dampak-dampak ekonomi dari prakarsa-
prakarsa kebijakan publik . Oleh karena itu, dampak-dampak dari kebijakan-kebijakan
regional perlu dievaluasi secara hati-hati dengan dasar spasial yang siIatnya abstrak (di
dalam pikiran) secara tidak langsung.

.3.3 Efek-efek Ekonomi Makro dari Kebijakan Regional.
Sebagaimana halnya kita mendasarkan kebijakan regional masing-masing
kepada perpektiI ekonomi mikro agregat dan kesejahteraan sosial, kita dapat juga
mendasarkannya secara rasional kebijakan regional tersebut kepada perpektiI ekonomi
makro. Pada diskusi-diskusi sebelumnya telah meyakinkan kita bahwa pada tingkat
bunga umum mungkin tingkat investasi regional tidak cukup untuk mengatasi semua
pengangguran pada tingkat lokal. Untuk sebuah model analisis ekonomi makro yang
tidak begitu terbuka, tingkat bunga di dalam bagian-bagian wilayah ditentukan oleh
tekanan-tekanan permintaan di wilayah-wilayah yang netral. Di wilayah-wilayah yang
berkesempatan kerja penuh, upah-upah dan sewa-sewa lahan nominal lokalnya tinggi.
Persatuan buruh lokal dan kekurangan penawaran akan membuat kondisi tersebut
berkelanjutan, menjadi sebuah sumber potensial bagi terbentuknya tekanan inIlasi pada
perekonomian regional lokal tersebut, dan tidak memungkinkan memperluas produksi
sebelum tingkat kesempatan kerja penuh. Karenanya, untuk menghindari inIlasi lokal
permintaan regional lokal tidak boleh diperluas sebelum kesempatan kerja penuh.
Ketentuan ini juga membatasi perluasan terhadap permintaan di dalam wilayah-wilayah
lain yang dapat tumbuh dari aplikasi kebijakan regional, seperti yang diperlihatkan oleh
gambar 10.10.
Di dalam gambar 10.10. kita membandingkan kasus dua wilayah A dan B,
dimana wilayah A adalah wilayah yang relatiI tidak bermasalah dengan kesempatan
kerja penuh, dan wilayah B merupakan sebuah wilayah tertinggal dengan disertai
pengangguran terpaksa. Kita dapat mendasarkan kasus wilayah A yang digambarkan di
dalam empat kuadran sisi atas gambar 10.10. Di dalam kuadran kanan atas diperlihatkan
bahwa tingkat pendapatan wilayah adalah Y
AI
. Sebagaimana yang diperlihatkan di
dalam kuadran kiri atas, tingkat permintaan agregat regional memerlukan input-input
169














































Gambar 10.10 EIek-eIek Ekonomi Makro Kebijakan Regional
Y
A

Willayah A
L
B

AD
A

AD
A

AD
B
AD
B

AD
A
2

AD
B
3

P
P
Y
B1
Y
B2
Y
B3

P*
Y
B1

Y
B3

Y
B2

i* i*
L
BF
L
B2

L
B1

IS
B

IS
B

IS
B

AD
B
2

AD
B
1

i*
i*
P
P*
IS
A2

IS
A1

LM
A

Y
A2
Y
A1

Y
A2
Y
A1

L
A1

L
AF

i i
AD
A
1

i i
Willayah B
170
tenaga kerja, yang menjamin tingkat kesempatan kerja penuh pada L
FA
. Pada tingkat
bunga tertentu i*, yang menjamin harga pada tingkat P*, tingkat permintaan tenaga
kerja penuh wilayah adalah Y
AI
, yang ditentukan oleh skedul investasi lokal regional
IS
A
. Dengan kata lain, kesempatan kerja penuh dipertahankan di wilayah yang relatiI
tidak bermasalah, tanpa menimbulkan inIlasi lokal. Pada sisi lain, pada tingkat bunga
umum i*, di wilayah B, untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja penuh dan
pendapatan lokal Y
B3
dan hanya mendapatkan tingkat pendapatan regional Y
B1
. Tingkat
pendapatan regional yang lebih rendah ini hanya memerlukan input-input buruh L
B1
,
seperti halnya tingkat pengangguran lokal regional yang diperlihatkan oleh (L
BF
L
B1
).
Pengangguran di wilayah tertinggal B terus berlanjut karena pada tingkat bunga umum
i*, tingkat investasi lokal tidak memungkinkan terjadinya arus migrasi investasi, untuk
keseimbangan pasar buruh lokal, bila arus migrasi antar wilayah tidak cukup untuk
menyeimbangkan pasar buruh lokal regional, dan tingkat bunga tidak dapat diturunkan
di bawah i* keadaan tersebut akan bertahan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Sampai dengan kesimpulan ini, kita harus mendasari tingkat bunga ditetapkan
dan dipertahankan pada tingkat i*. Ini salah satu kekhususan saling terbuka dan
terkaitnya perekonomian antar wilayah, bahwa meningkatnya harga di sebuah wilayah
dapat merambat begitu cepat ke wilayah yang lain. Di dalam kasus sebuah
perekonomian nasional dimana sebuah wilayah yang relatiI tidak bermasalah (relatiI
maju) tidak mungkin terjadi kondisi kekurangan penawaran lokal, otoritas moneter
nasional dapat menetapkan tingkat bunga nasional tertentu agar wilayah tersebut segera
terhindar dari kelebihan tenaga kerja lokal dan harga lahan di wilayah maju.
Kesimpulannya, bahwa otoritas moneter khawatir akan tingkat bunga yang rendah
tersebut yang akan menyebabkan inIlasi lokal di wilayah A, yang biasanya akan
menjalar ke wilayah-wilayah nasional yang lain.
Walaupun tingkat kesempatan kerja yang meningkat akan memberikan manIaat
kepada wilayah-wilayah tertinggal, di dalam investasi lokal dan tingkat bunga yang
menurun. Selain itu, pada kasus yang tidak memperhitungkan gangguan siklus bisnis,
yang kadang-kadang dialami perekonomian nasional. Karenanya, wilayah maju secara
konsisten bertindak sebagai wilayah 'botle neck dan rendahnya tingkat pendapatan di
wilayah-wilayah tertinggal. Di dalam sistem ekonomi regional tertentu, pengangguran
di wilayah tertinggal memelihara stabilitas harga-harga di wilayah A yang tidak
terganggu, dan tercapainya stabilitas harga-harga secara nasional. Dengan kata lain,
akan tetap ada suatu kondisi yang tidak hanya berbeda dalam permintaan individual
lokal regional dan kondisi perbedaan kesempatan kerja sebagai bagian dari hasil-hasil
kebijakan ekonomi, tetapi pada waktu yang sama kebijakan ekonomi makro
menghasilkan kondisi yang berbeda-beda di antara bagian-bagiannya, di dalam kondisi
permintaan dan penawaran nasional.
Di dalam kondisi dimana tindakan-tindakan wilayah-wilayah maju merupakan
botle neck regional, kebijakan regional memiliki prosedur yang dapat dimainkan untuk
memberikan harapan bagi pertumbuhan dan kesempatan kerja di wilayah maju dan
tertinggal, tanpa terjadinya tekanan-tekanan inIlasi. Untuk memahami logika alasan-
alasan di atas kita harus membandingkan kondisi tenaga kerja lokal di dalam dua
wilayah. Seperti yang dilihat pada gambar 10.10, investasi lokal yang umum, dan
kondisi-kondisi permintaan tenaga kerja di wilayah-wilayah tertinggal dikendalikan
oleh keterbatasan-keterbatasan Iaktor penawaran dan tekanan inIlasi di wilayah maju.
Bagaimanapun, kebijakan regional sebagai sesuatu yang dapat memberikan harapan
terhadap perbedaan-perbedaan permintaan pendapatan regional lokal dari Y
B1
ke Y
B2
,
171
dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan agregat wilayah tersebut dari AD
B1
ke
AD
B2
akan mendorong peningkatan kesempatan kerja buruh lokal dari L
B1
ke L
B2
.
Menurunnya tingkat pengangguran lokal untuk jangka pendek disebabkan oleh
penyebaran investasi ke wilayah maju, yang diperlihatkan oleh (L
BF
L
B2
) dan dalam
kenyataannya sama dengan penurunan kesempatan kerja lokal jangka pendek (L
FA

L
A2
) di wilayah A. Wilayah B lebih banyak menerima dampak ketimbang ke wilayah A,
dan dari ekspektasi perusahaan-perusahaan yang ada menyangkut Iasilitas-pasilitas
mereka akan lebih memilih wilayah B ketimbang wilayah A (wilayah maju) ke wilayah
B (wilayah tertinggal). ManiIestasi migrasi perusahaan-perusahaan ini, dimana
perusahaan-perusahaan baru akan lebih memilih bermigrasi ke di wilayah maju A dari
pada ke wilayah tertinggal B. Tujuan kebijakan regional tersebut, seperti halnya
ketentuan-ketentuan tentang inIrastruktur dan subsidi-subsidi Real Estate di wilayah
tertinggal, yang dalam perluasannya kadang-kadang dapat diaplikasikan pada kedua-
duanya di dalam aspek perencanaan tata-guna lahan di wilayah maju A, dapat
memberikan pengaruh melalui ketentuan arus investasi yang mengalir dari wilayah A.
EIek penyebaran investasi ini dapat diperlihatkan melalui !0.10 dengan
pengurangan pada arus investasi lokal di wilayah A pada tingkat bunga umum i* dari
IS
A1
ke IS
A2
dan suatu perluasan pada arus investasi lokal di wilayah B pada tingkat
bunga umum i* dari IS
B1
ke IS
B2
. Penurunan investasi di wilayah A akan bergerak ke
suatu penurunan pada pendapatan lokal regional yaitu dari Y
A1
Ke Y
A2
, dan sebagai
akibatnya akan terjadi penurunan selanjutnya pada permintaan agregat dari AD
A1
ke
AD
A2
akan bergeser ke suatu penurunan kesempatan kerja lokal dari tingkat
kesempatan kerja regional penuh L
AF
ke tingkat kesempatan kerja yang lebih rendah
L
A1
. Kesempatan kerja lokal jangka pendek menurun yang disebabkan oleh penyebaran
investasi jalan dari wilayah maju yang diperlihatkan oleh (L
AF
L
A2
). Bagaimanapun,
peningkatan investasi lokal di wilayah B, dikombinasikan dengan kebijakan regional,
akan menyebarkan eIek peningkatan. Dalam keadaan yang seperti itu, tingkat harga
pasar lokal di wilayah A akan mengalami perubahan sehubungan dengan penurunan
investasi di wilayah tersebut, atau adanya perluasan investasi di wilayah B. Selain itu,
peningkatan permintaan agregat di kedua wilayah sekarang diperlukan untuk
memperluas output agar tidak timbul inIlasi di wilayah A. Di wilayah A permintaan
regional agregat dimungkinkan untuk ditingkatkan ke tingkat AD
A1
, yang telah tercapai
sebelum kebijakan regional diaplikasikan. Pada tingkat permintaan regional agregat ini
wilayah A akan berada pada pendapatan Iull employment lokal L
AF
, dan tingkat bunga
umum i*, serta menjamin stabilitas harga pada P*. Dengan cara yang sama, di wilayah
B permintaan regional agregat dimungkinkan terjadinya perluasan dari AD
B2
ke AD
B3
.
Pada tingkat ini permintaan regional agregat wilayah B akan menghasilkan pendapatan
pada kesempatan kerja penuh lokal, investasi, dan tingkat permintaan terhadap buruh
masing-masing Y
B3
, IS
B3
, dan I
FB
, pada tingkat bunga umum i*, yang menjamin
stabilitas harga pada P di wilayah A.
Peningkatan positiI ekonomi makro ini berpengaruh kepada kedua wilayah melalui
kompensasi penyebaran eIek negatiI di wilayah A yang maju, dan mula-mula kepada
penyebaran eIek positiI di wilayah tertinggal B. Dengan kata lain, penyebaran investasi
yang dikombinasikan dengan kebijakan regional, memberi kemungkinan bahwa
pendapatan regional dan permintaan agregat di kedua wilayah dapat dipertahankan
pada tingkat yang menjamin tingkat kesempatan kerja penuh lokal di kedua wilayah
tanpa menimbulkan inIlasi di wilayah bottle neck (wilayah maju). Karena itu, prosedur
kebijakan regional juga dimaksudkan untuk meniadakan bottle neck di banyak wilayah,
172
dikombinasikan dengan perbedaan investasi regional dengan keadaan tingkat bunga
bersama lintas wilayah (yang prosedurnya ditetapkan oleh otoritas moneter nasional)
terutama untuk merespon kondisi permintaan di wilayah maju. Oleh karena itu, kalau
maksud dari kebijakan regional untuk menyebarkan eIek-eIek sebagaimana yang
dikemukan sebelumnya, termasuk eIek bagi peningkatan ekonomi makro di masing-
masing wilayah, yang memungkinkan peningkatan permintaan agregat, terjaminnya
kesempatan kerja penuh di kedua jenis wilayah tersebut, haruslah dipelihara di bawah
suatu regim moneter ekonomi makro yang stabil.

.4 Kesimpulan
Di dalam bab ini kita telah mendiskusikan berbagai jenis gagasan kebijakan,
sesuai dengan luasnya pengertian judul 'kebijakan wilayah dan kota. Kita telah
melihat, perbedaan umum diantara kebijakan-kebijakan perkotaan (Urban Policy) dan
kebijakan wilayah (Regional Policy) terletak pada sekala ruang (S5asial Scale), dimana
dengan kebijakan-kebijakan tersebut ingin didapatkan eIek-eIek tertentu dari masing-
masing jenis kebijakan yang sesuai dengan tujuan dan sekala ruang dari objek kebijakan
itu sendiri. Dampak-dampak yang diharapkan dari kebijakan perkotaan diperhitungkan
untuk mempengaruhi wilayah-wilayah perkotaan, atau sub-sub wilayah perkotaan,
yang sekala ruangnya lebih kecil dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan regional.
Perbedaan sekala ruang tersebut juga meliputi jenis dan kriteria kebijakan, dengan
demikian pada waktu mengevaluasinya juga berbeda. Untuk kasus kebijakan perkotaan,
maka isu dominan yang akan menentukan adalah sesuai tidaknya suatu kebijakan yang
diimplementasikan itu dengan siIat-siIat lingkungan lokal pada tingkat sub-wilayah kota
(Suburban). Catatan: yang dimaksud dengan lingkungan di sini dihubungkan dengan
pembangunan lingkungan Iisik dan sosial lokal, serta implementasi kebijakan umum,
termasuk pengadaan dan perubahan-perubahan kerangka kerja kelembangaan untuk
pasar realestat lokal yang dioperasikan. Semua kebijakan perkotaan yang seperti itu
memiliki dampak kesejahteraan yang dapat diwujudkan dari perubahan-perubahan
berbagai dampak kesejahteraan yang dapat meningkat pada berbagai kelompok
pendapatan. Oleh karena itu, kebijakan perkotaan memiliki eIek yang dapat
mendistribusikan kesejahteraan. Sarjana-sarjana ekonomi perkotaan dan wilayah dapat
mengevaluasi sejauh mana manIaat kebijakan-kebijakan tersebut dapat diambil
berdasarkan sebuah penaksiran eIek distribusinya.
Kebijakan regional, pada sisi lain, secara simultan keduanya diIokuskan pada
harapan pertumbuhan investasi regional dari dalam dan juga pada daya tarik investasi
migran baru dari luar wilayah. Sejauh ini pendekatan yang terakhir yang banyak
menjadi perhatian, kebijakan-kebijakan tersebut cenderung dioperasikan melebihi batas-
batas wilayah yang lebih luas, melebihi sekala ruang kebijakan perkotaan. Fokus
kebijakan-kebijakan regional cederung kepada ingin memperoleh manIaat dari
pembangunan inIrastruktur lokal dan wilayah, serta dalam beberapa kasus juga
cenderung mensubsidi input-input real-estate lokal. Sebagaimana halnya dengan
kebijakan perkotaan, kebijakan regional juga akan memiliki dampak kesejateraan
sosial, ukuran dan distribusi spasialnya akan tergantung pada ketertarikan perusahaan-
perusahaan migran terhadap prakarsa kebijakan regional tersebut. Kebanyakan
kebijakan regional dapat juga mendorong eIisiensi, di dalam situasi dimana inIlasi
sangat peka terhadap penawaran lokal agregat di setiap wilayah. Kelayakan ekonomi
bagi kebijakan tertentu, bagaimanapun, haruslah yang utama. Ketidakbebasan pasar
173
dirasakan sebagai ketidakkonsistenan, yang dapat mencegah eIisiensi, menghalangi
koreksi harga yang berdasarkan mekanisme pasar, membatasi mobilitas Iaktor-Iaktor
produksi antar wilayah.
174
BAB XI
KEBI1AKAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
DAERAH DI INDONE$IA

.. Pendahuluan
Masalah keuangan daerah merupakan bagian yang penting dalam masalah
Pembangunan Daerah. Di masa Orde Baru (Masa Repelita) masalah otonomi dan
keuangan daerah diatur dengan UU Otonomi Daerah, yaitu UU No. 5 tahun 1974. UU
ini mempunyai masa berlakunya yang relatiI cukup lama, yaitu sekitar 26 tahun. Setelah
memasuki periode ReIormasi, dimana semangat desentralisisi dan dekonsentrasi
mewarnai kehidupan politik di Indonesia, UU tersebut diganti dengan UU No. 22 tahun
1999 tentang otonomi daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang keuangan daerah, yang
diberlakukan sejak tahun 2001. Kedua UU yang mengatur otonomi dan keuangan
daerah ini tidak bertahan lama, karena tahun 2004 kedua UU ini diganti lagi dengan UU
No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang
Keuangan Daerah. UU no. 5 tahun 1974 membedakan pengeluaran atas Pengeluaran
Rutin dan Pengeluaran Pembangunan, sedangakan pada UU NO. 32 tahun 2004 tidak
dibedakan. Dari sisi penerimaan juga ada perbedaan diantara kedua UU tersebut, yaitu
pada nama sebagian pos penerimaan. Jumlah pos penerimaan daerah juga menjadi lebih
banyak, demikian pula dalam kewenangan pemungutan, dan dalam nilai penerimaan.
Dari sudut teori ekonomi memang tidak berbeda antara belanja rutin dengan
belanja pembangunan, karena sama-sama pengeluaran tersebut akan menimbulkan
penerimaan dan multiplier ekonomi di daerah. Walaupun dipisah, jika belanja tersebut
tidak menimbulkan belanja dan penerimaan di daerah tidak akan menimbulkan kegiatan
dan multiplier ekonomi di daerah.
Dari sudut perencanaan pembangunan daerah belanja pemerintah di daerah
penting, terutama yang menyangkut pengembangan inIrastruktur dan pelayanan di
daerah. InIrastruktur dan pelayanan daerah merupakan langkah awal untuk menarik
investasi sektor swasta ke suatu daerah. Inilah yang dimaksud dengan belanja
pembangunan di dalam UU otonomi daerah pada masa orde baru (UU no.5 tahun 1974).
Di dalam UU Otonomi yang berlaku sekarang ini belanja APBD diarahkan sesuai
dengan kebijakan nasional, yaitu kepada peningkatan mutu pelayanan dan kesejahteraan
masyarakat. Jika ingin mengetahui berapa yang mengalir ke pembangunan
inIrastruktur dan meningkatkan pelayanan setiap tahun perlu dipilah dan dihitung
terlebih dahulu. Tentu saja, mengalirnya investasi sektor swasta ke suatu daerah tidak
hanya ditentukan oleh kondisi inIrastruktur dan pelayanan yang baik, juga oleh
sejumlah Iaktor lain yang ikut menentukannya, misalnya sumberdaya alam, sumberdaya
manusia, akses pasar, keterkaitan industri, dan lain sebagainya.
Sebagai gambarannya, pada paragraI kedua akan dijelaskan tentang system
keuangan daerah yang berlaku saat ini, hanya pokok-pokoknya sebagaimana yang
tercantum dalam UU no. 32/2004, sedangkan detilnya ada dalam UU no. 33 tahun 2004.

.2. Keuangan Daerah
Perencanaan daerah akan mengikuti kebijakan perencanaan pusat. Demikian
pula halnya keuangan daerah, akan mengikuti kebijakan keuangan pemerintah pusat.
Kebijakan tersebut diwujudkan dalam bentuk alat-alat (instruments) kebijakan, yang
175
berbentuk UU, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan sebagainya. UU tentang
keuangan daerah (UU no. 33 tahun 2004) mengikuti UU tentang Otonomi Daerah (UU
no. 32 tahun 2004) yang berlaku sekarang ini. Undang-undang tersebut masih
memisahkan antara administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah dari administrasi pendanaan yang menjadi urusan
pemerintah pusat di daerah.
Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan dalam pengelolaan keuangan di
daerah. Dalam melaksanakan kekuasaannya itu, kepala daerah melimpahkan sebagian
atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan,
pelaporan dan pertanggungjawaban, serta pengawasan keuangan daerah kepada pejabat
perangkat daerah. Pelimpahan sebagian atau seluruh kewenangan tersebut didasarkan
pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yang
menerima/mengeluarkan uang.

.2. Pendapatan Daerah
Sumber-sumber pendapatan daerah terdiri atas:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi:
hasil pajak daerah;
hasil retribusi daerah
hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
lain-lain PAD yang sah.
2. dana perimbangan; dan
3. lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan UU, yang pelaksanaannya diatur
dengan Peraturan Daerah (Perda). Pemda dilarang melakukan pungutan di luar yang
telah diatur UU.
2. Dana perimbangan terdiri atas:
2.1 dana bagi hasil;
2.2 dana alokasi umum (DAU), dan
2.3 dana alokasi khusus (DAK)
Dana bagi hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasil
yang bersumber dari pajak terdiri dari:
PBB sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, pertambangan serta kehutanan.
Bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (BPHTB) sektor pedesaan,
pertambangan, serta kehutanan.
Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, pasal 25, dan pasal 29 wajib pajak orang
pribadi dalam negeri.
Dana bagi hasil yang bersumber dari SDA berasal dari:
Penerimaan kehutanan yang berasal dari hak pengusahaan hutan (IHPH), provisi
SDA hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah (daerah) yang
bersangkutan;
Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan tetap (andrent)
dan penerimaan iuran eksploitasi (Royalty) yang dihasilkan dari wilayah atau daerah
yang bersangkutan;
Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari
penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan;
Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang
bersangkutan;
176
Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang
bersangkutan;
Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran
bagian Pemerintah, iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah
yang bersangkutan
Daerah penghasil SDA yang menerima Dana Bagi Hasil dari SDA ditetapkan
oleh Mendagri. Dasar perhitungan bagian daerah penghasil ditetapkan menteri teknis
terkait setelah memperoleh pertimbangan Mendagri. Pelaksanaan dana bagi hasil ini
diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

.2.2 DAU dan DAK
DAU dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri
netto yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan
kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang selaras
dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang Iormula dan penghitungannya
ditetapkan sesuai dengan UU.
DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan
pelaksanaan desentralisasi untuk: (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan
Pemerintah atas dasar prioritas nasional; (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan
daerah tertentu. Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah
dikoordinasikan oleh Gubernur. Penyusunan kegiatan khusus yang diusulkan daerah
tertentu dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. Ketentuan
lebih lanjut DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pedoman penggunaan, supervisi, monitoring, dan evaluasi atas dana bagi hasil
pajak, dana bagi hasil sumberdaya alam, DAU, dan DAK diatur peraturan Mendagri.
Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan ditetapkan dalam UU
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

.2.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang $ah
Merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan, yang
meliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah.
Hibah merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dari
Pemerintah, masyarakat, dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. Pendapatan
dana darurat merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah
untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak
dapat ditanggulangi APBD.
Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu ditetapkan dengan
peraturan Presiden. Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan
dengan memperhatikan pertimbangan Mendagri dan Menteri Teknis terkait. Tata cara
pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan
mengalami krisis keuangan daerah, yang tidak mampu diatasi sendiri, sehingga
mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. Tata cara pengajuan permohonan,
evaluasi oleh Pemerintah, dan pengalokasian dana darurat diatur dalam Peraturan
Pemerintah.


177
.3 Belanja Daerah
Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah, yaitu: melindungi
masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan keamanan nasional, serta keutuhan NKRI;
1. meningkatkan kehidupan demokrasi;
2. mengembangkan kualitas kehidupan masyarakat;
3. mewujudkan keadilan dan pemerataan;
4. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan;
5. menyediakan Iasilitas pelayanan kesehatan;
6. menyediakan Iasilitas sosial dan Iasilitas umum yang layak;
7. mengembangkan sistem jaminan sosial;
8. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah;
9. mengembangkan sumberdaya produktiI di daerah;
10. melestarikan lingkungan hidup;
11. mengelola administrasi kependudukan;
12. melestarikan nilai sosial budaya;
13. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai
dengan kewenangannya; dan kewajiban lain yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan dalam
bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan Iasilitas pelayanan
kesehatan, Iasilitas sosial dan Iasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem
jaminan sosial. Belannja daerah mempertimbangkan analisis standar belanja, standar
harga, tolak ukur kinerja dan standard pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

.3. Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diatur dalam Perda yang
berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Belanja Pimpinan dan Anggota DPRD diatur
dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.
Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah daerah
dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah, pemerintah daerah lain,
lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan masyarakat. Pemerintah
daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai
investasi yang menghasilkan penerimaan daerah.
Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan
pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah
memperoleh pertimbangan Mendagri. Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan, antara
Menku dan Kepala Daerah.

.3.2 Pinjaman Daerah
Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan
Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah sekurang-kurangnya mengatur tentang:
1. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman.
2. penganggaran kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo dalam
APBD.
178
Pengenaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban
membayar pinjaman kepada Pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga perbankan,
serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat.
Tata cara pelaporan posisi kumulatiI pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap
semester dalam tahun anggaran berjalan.
Persyaratan penerbitan obligasi daerah, pembayaran bunga dan pokok obligasi.
Pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko, penjualan dan
pembelian obligasi, pelunasan dan penganggaran dalam APBD.
Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan
tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. Peraturan
tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Peraturan
Pemerintah sekurang-kurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan,
serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya.
Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu badan usaha
milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan modal tersebut dapat ditambah,
dikurangi, dijual kepada pihak lain, dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik
daerah. Penyertaan modal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

.4 $urplus dan Defisit APBD
Dalam hal APBD diperkirakan surplus, penggunaannya ditetapkan dalam Perda
tentang APBD. Surplus tersebut dapat digunakan untuk:
1. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo;
2. penyertaan modal (investasi daerah)
3. transIer ke rekening dana cadangan.
Dalam hal APBD diperkirakan deIisit, dapat didanai dari sumber pembiayaan
daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. Pembiayaan daerah tersebut
bersumber dari:
1. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu;
2. transIer dari dana cadangan;
3. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
4. pinjaman daerah.
Mendagri melakukan pengendalian deIisit anggaran setiap daerah. Pemerintah
daerah wajib melaporkan posisi surplus/deIisit APBD kepada Mendagri dan Menku
setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Dalam hal pemerintah daerah tidak
memenuhi kewajiban 'wajib melaporkan Pemerintah dapat melakukan penundaan atas
penyaluran dana perimbangan.

.5 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi
Pemda dalam meningkatkan perekonomian daerah dapat memberikan
insentiI/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda
dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.



179

.6 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Pemda dapat memiliki BUMD yang pembentukan, penggabungan, pelepasan
pemilikan, dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman pada
peraturan perundang-undangan.

.7 Pengelolaan Barang Daerah
Barang milik daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak
dapat dijual, diserahkan haknya kepada pihak lain, dijadikan tanggungan, atau
digadaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Barang milik daerah dapat
dihapus dari daItar inventaris untuk dijual, dihibahkan, dan/atau dimusnahkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan pengadaan barang
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkan
prinsip eIisiensi, eIektivitas, dan transIaransi dengan mengutamakan produk dalam
negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan penghapusan
dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah, mutu barang, usia pakai, dan nilai ekonomis
yang dilakukan secara transIaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

.8 APBD Dasar Pengelolaan Keuangan Daerah
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah selama satu tahun
anggaran, dihitung mulai 1 Januari s/d 31 Desember.
Kepala daerah dalam menyusun rencana APBD menetapkan prioritas dan plaIon
anggaran sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat
daerah. Berdasarkan prioritas dan plaIon anggaran, kepala satuan kerja perangkat daerah
menyusun rencana kerja dan satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatan
berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Rencana kerja dan anggaran satuan kerja
perangkat daerah disampaikan kepada penjabat pengelola keuangan daerah sebagai
bahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya.
Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan
dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan
bersama. Rancangan Perda dibahas Pemda bersama DPRD berdasarkan kebijakan
umum APBD serta prioritas dalam plaIon anggaran. Pengambilan keputusan DPRD
untuk menyusun rancangan Perda dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum
tahun anggaran dilaksanakan. Atas dasar persetujuan DPRD, kepala daerah menyiapkan
rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen
pelaksanaan anggran satuan kerja perangkat daerah.
Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah
serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat
daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan.

.8. Perubahan APBD
Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi:
Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD;
Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit
organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja; dan sebagainya.
180
Keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya
harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan.
Pemerintah daerah mengajukan rancangan Perda tentang perubahan APBD,
disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. Pengambilan
keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD dilakukan oleh DPRD
paling lambat tiga bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir.

.8.2 Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh
Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Laporan keuangan tersebut sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD,
neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, yang dilampiri dengan
laporan keuangan badan usaha milik daerah. Laporan keuangan tersebut disusun dan
disajikan sesuai dengan akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.

.8.3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah
Tentang APBD, Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.
Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujuai bersama dan
rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh
Gubernur paling lambat tiga hari disampaikan kepada Mendagri untuk dievaluasi. Hasil
evaluasi disampaikan oleh Mendagri kepada Gubernur paling lambat 15 hari terhitung
sejak diterimanya rancangan dimaksud. Apabila Mendagri menyatakan hasil evaluasi
rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran
APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi, Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan
Peraturan Gubernur. Apabila Mendagri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda
tentang APBD dan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan
kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Gubernur
bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama tujuh hari terhitung sejak
diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur
dan DPRD, dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan
rancanagan Peraturan Gubernur, Mendagri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur
dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.
Rancangan Perda tentang Kabupaten/Kota mengenai APBD yang telah disetujui
bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sebelum
ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama tiga hari disampaikan kepada Gubernur
untuk dievaluasi. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota
paling lama 15 hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda tentang kabupaten/kota
dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD tersebut. Apabila
Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan
Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sudah sesujai dengan kepentingan
umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Bupati/Walikota
menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.
Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan
rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan
kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
181
Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama tujuh hari
sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh
Bupati/Walikota dan DPRD, dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda
tentang APBD dan rancangan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi
Perda dan Peraturan Bupati/Walikota, Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan
Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun
sebelumnya. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota
tentang APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang peraturan APBD
kepada Mendagri.
Apabila DPRD sampai dengan batas waktu tertentu tidak mengambil keputusan
bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang
APBD, kepala daerah melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD
tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun
dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. Rancangan kepala daerah
tersebut dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Mendagri bagi
provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Untuk memperoleh pengesahan tersebut,
rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan
paling lambat 15 hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama
dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. Apabila dalam batas
waktu 30 hari Mendagri dan Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala
daerah, kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud
menjadi peraturan kepala daerah.
Proses penetapan rancangan Perda tentang Perubahan APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan
peraturan kepala daerah berlaku ketentuan tertentu. Proses penetapan rancangan Perda
yang berkaitan dengan pajak daerah, retribusi daerah, dan tata ruang daerah menjadi
Perda, berlaku pasal yang berkenaan, dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi
daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menkeu, dan untuk tata ruang dengan
menteri yang membidangi tata ruang. Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran
APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan
dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. Dalam
rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem inIormasi keuangan
daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem inIormasi pemerintah daerah.

.9 Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah
Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah dianggarkan dalam
APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum
Daerah. Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD, diterbitkan surat keputusan
obligasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat
keputusan otorisasi. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah
jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam
APBD, Kepala daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, dan pejabat daerah
lainnya, dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk
tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD.
Uang milik pemerintah daerah yang sementara waktu belum digunakan dapat
didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak
mengganggu likuiditas keuangan daerah. Bunga deposito, bunga atas penempatan uang
182
di bank, jasa giro, dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan
daerah. Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang:
1. penghapusan tagihan daerah, sebagian atau seluruhnya; dan
2. penyelesaian masalah Perdata.
Penyusunan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pengawasan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan perda yang
berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

.. Tidak $eluruh Pembiayaan Infrastruktur dan Pelayanan Harus Dibiayai
Pemerintah Daerah
Sebenarnya tidak semua biaya pengembangan inIrastruktur dan pelayanan harus
dibiayai oleh pemerintah/pemerintah daerah sendiri. Jika harus oleh pemerintah daerah
sendiri tentu akan besar sekali pajak yang harus dibebankan kepada masyarakat, atau
DAU, DAK dan lain-lain sumber penerimaan yang bersumber dari Pemerintah Pusat.
Sebagian dari biaya inIrastruktur dan pelayanan dapat dibebankan kepada
konsumen sendiri dengan cara memasukkan biaya tersebut ke dalam komoditi yang
dibeli oleh masyarakat melalui sistem hipotik. Sebagai contoh, jika orang membeli
rumah maka inIrastruktur dan pelayanan yang diperlukan oleh calon penghuni
perumahan sudah termasuk kedalam harga rumah. Kebijakan dalam pengembangan
lahan dan pembangunan kompleks-kompleks perumahan harus diatur dan diberlakukan
secara pasti. Para developer real estat harus pula menaatinya. Banyak inIrastruktur dan
pelayanan yang dapat dibebankan pembiayaannya kepada konsumen tanpa banyak
kesulitan. Persyaratannya Peraturan (aw nforcement) harus diberlakukan secara tegas
(tanpa ulur tarik). Pemerintah daerah dapat memilah-milah inIrastruktur dan pelayanan
yang memang harus dipikul, disubsidi, dan dibebankan seluruhnya kepada masyarakat.
Penghimpunan dana masyarakat lokal juga dimungkinkan melalui lembaga-
lembaga keuangan lokal, baik bank maupun nonbank. Tentu saja persyaratan pertama
yang harus dipenuhi oleh Pemerintah Pusat adalah stabilitas nilai rupiah, sehingga
masyarakat tertarik memanIaatkan sistem keuangan sebagai salah satu pilihan untuk
mendapat pendapatan. Ibu-ibu rumahtangga, atau masyarakat akan bersedia membeli
obligasi, saham-saham, dan menyimpan dananya di dalan sistem keuangan lokal.
Tampaknya sistem tersebut lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengandalkan
pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri kadang-kadang bila nilai tukar rupiah
merosot terhadap US $ dan mata uang penting lainnya, secara tidak langsung nilai
bunga riilnya justru berlipat ganda. Jadi, adalah penting sekali Pemerintah pusat mampu
menjamin nilai Rp stabil, membangun sistem moneter yang dipercaya masyarakat.
Dengan demikian nilai mata uang (Rp) sebagai cermin dari hasil produksi (keringat)
rakyat didak digunakan sebagai alat kebijakan yang dapat mempengaruhi nilainya.
Rupiah yang beredar diusahakan tetap proporsional dengan nilai produksi barang dan
jasa yang dihasilkan masyarakat. Pengeluaran pemerintah yang tidak didukung
perencanaan sistem Iiskal, dapat membuat masalah lebih komleks, karena Rp tidak
terpercaya, dan sistem moneter menjadi tidak produktiI. Tingkat bunga yang berlaku di
daerah ditentukan oleh otoritas moneter pemerintah pusat. Tingkat bunga tersebut
adalah tingkat bunga rata-rata nasional, yang kadang-kadang untuk sebagian daerah
tidak mendukung perluasan kesempatan kerjanya. Namun nilai rupiah yang stabil akan
mendapatkan kepercayaan yang luas dari masyarakat akan memungkinkan perencanaan
pembangunan daerah jauh lebih sederhana.

183
. $umber Pembiayaan $ektor $wasta
Bersamaan dengan perencanaan pembangunan wilayah sudah harus dipikirkan
kemungkinan dari mana sumber-sumber pembiayaan pembanguan (investasi) itu
diperoleh. Pembiayaan pembangunan yang bersumber dari pemerintah biasanya relatiI
kecil (sekitar 20), yang ditujukan untuk membangun inIrastruktur dan pelayanan
publik. Pada awal-awalnya mungkin relatiI besar untuk membangun inIrastruktur dan
pelayanan yang mungkin harus bersekala besar, untuk memancing partisipasi sektor
swasta dan peranserta masyarakat. Pembiayaan pembangunan yang bersumber dari
sektor swasta merupakan komponen yang relatiI besar dari total pembiayaan
pembangunan yang diperlukan, kurang lebih 80. Mengalirnya investasi sektor swasta
ke suatu daerah/wilayah, disamping harus didukung oleh perencanaan pembangunan
daerah yang jelas, yang merupakan bagian dari perencanaan pembangunan nasional,
yang disesuaikan dengan visi/misi (Pola Dasar) pembangunan daerah dan potensi
daerah, juga berbagai Iaktor lain yang mendukung, baik yang terkait dengan kondisi
lingkungan pembangunan nasional maupun yang terkait dengan kondisi lingkungan
pembangunan di daerah itu sendiri. Di masa Repelita, dikenal adanya PMA dan PMDN.
Investasi PMA ada yang langsung (Direct nvestment) ada yang tidak langsung (ndirect
nvestment).
Berbagai Iaktor (kondisi) perlu dipenuhi untuk mendukung pelaksanaan
pembangunan pada tingkat wilayah/daerah. Dengan asumsi: untuk tingkat nasional
semua telah terpenuhi. Faktor-Iaktor tersebut adalah:
Adanya alat-alat (nstruments) kebijakan pada tingkat daerah, yang merupakan
dasar penyelenggaraan berbagai lembaga pembangunan di daerah (seperti: Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Penanaman Modal Daerah, Lembaga
Bantuan Hukum dan secara khusus membantu investor di daerah dalam hal egal
As5ect, egal As5ect itu sendiri, dan sebagainya).
Adanya kemudahan/kejelasan dalam mendapatkan lahan lokasi. Aktivitas
investasi memerlukan ruang/lahan lokasi. Prosedur untuk mendapatkan lahan (peralihan
hak atas lahan) yang tidak sederhana, atau kurang ada kepastian hukum akan
menghambat masuknya investasi.
InIrastruktur (seperti jaringan jalan, pelabuhan, lapangan udara, sarana
telekomunikasi, dsb.) diperlukan dalam rangka kelancaran mobilitas input-output bagi
perusahaan. Dalam perkembangannya sekarang ini pemerintah daerah mempersiapkan
zona-zona industri yang sesuai dengan tata ruang wilayah/jaringan transportasi (laut,
darat dan udara). Bahkan ada yang sudah siap dengan kompleks-kompleks industri
dengan berbagai jenis industrinya. Para investor tinggal membelinya dalam bentuk
perusahaan yang siap beroperasi. Ini semua dilakukan oleh investor.
Tenaga kerja (baik tenaga kerja terdidik, maupun yang siap dididik) perlu
disiapkan. Aktivitas ekonomi memerlukan dukungan tenaga kerja. Aktivitas ekonomi
memiliki banyak jenis dan spesiIikasi. Oleh karena itu tenaga kerja yang dibutuhkan
pun ada yang dengan kriteria umum dan khusus, ada yang dapat dipenuhi oleh lulusan
pendidikan yang ada, ada yang memang perlu dididik/dilatih kembali secara khusus
sebagai pendidikan tambahan.
Masalah lingkungan. Limbah industri dapat mencemarkan, dapat mengganggu
lingkungan hidup, dapat menimbulkan sengketa/protes-protes dari masyarakat. Oleh
karena itu perusahan-perusahan industri disamping wajib melakukan analisis dampak
lingkungan (Amdal) sebelum mendapat izin, sebaiknya dihimpun dalam satu kompleks
184
industri agar mudah diawasi, dan lebih eIisien dalam mengelola limbah untuk
memenuhi perlindungan lingkungan yang aman dari kemungkinan pencemaran. Lokasi
industri hendaknya tidak muncul secara sporadis, seperti yang telah terjadi di Daerah-
daerah di Indonesia selama ini, termasuk di Jawa Barat. Munculnya lokasi industri yang
sporadis disampaing karena tidak adanaya satu konsep zona/lokasi industri yang baku
dan diberlakukan secara tegas (konsisten) juga karena sistem pengalihan atas lahan yang
masih memungkinkan hal itu bisa terjadi (investor mencari lahan murah melalui calo).
Perlu diketahui pula bahwa masalah lingkungan tidak hanya terbatas pada
tercemarnya lingkungan Iisik dengan masuknya suatu industri ke suatu wilayah/daerah,
juga lingkungan sosial, ekonomi, budaya dan bahkan politik. Kebijakan harus mampu
mengantisipasinya, sehingga tidak menimbulkan masalah-masalah yang merugikan
masyarakat lingkungannya dan komplek. Contoh: pencemaran air sumur, kekeringan air
sumur, pencemaran air sungai, naiknya harga-harga bahan kebutuhan pokok sehari-hari
di pasar lokal, perubahan yang drastis terhadap struktur sosial kemasyarakatan di daerah
(menjadi tidak seimbang), dan sebagainya.
Oleh karena itu hadirnya perusahaan tertentu di suatu wilayah/lokasi memiliki
tanggung jawab lingkungan, yang diatur dengan UU (instrumen kebijakan). Dengan
pengaturan dampak lingkunan yang baik, bahkan dengan kebijakan perusahaan itu
sendiri yang menyatu dengan kepentingan masyarakat, masyarakat akan merasa
memilikinya dan menjaga keberadaan perusahaan tersebut di lingkungannya. Contoh:
PT. Tambang Batu Bara Bukit Asam yang mendirikan Sekolah Teknik untuk anak-anak
karyawannya dan anak-anak masyarakat di sekitar lokasi perusahaan (pada zaman
kolonial Belanda), Perusahaan Penangkap Ikan Asing di India mempekerjakan pemuda-
pemuda di sekitar lokasi perusahaan dalam aktivitas perusahaannya. Banyak lagi contoh
usaha-usaha perusahaan dalam menyatukan diri dengan lingkungan sekitar, agar
masyarakat merasa ikut memiliki, sererti: memiliki unit musik/kesenian, unit sepak bola
dan lain-lain jenis olah raga, unit pemutaran Iilm, dsb. yang dapat memberi hiburan
kepada masyarakat (dengan mengutamakan kepentingan lingkungan usaha). Berbeda
sekali dengan apa yang berlaku di tanah air kita akhir-akhir ini, yang jauh lebih buruk
dari apa yang sudah ada di zaman kolonial sendiri. Hampir tidak pernah kita mendengar
masyarakat merasa memiliki perusahaan-perusahaan yang hadir di lingkungannya
selama ini. Semangat perusahaan-perusahaan banyak yang sudah salah, terposisikan
sebagai berada di ruang Iakum, tidak perlu tahu dengan lingkungannya (Iisik, sosial,
politik, ekonomi, dan budaya), sehingga menimbulkan masalah. Mungkin di suatu
periode waktu, dimana kekuasaan otoriter bisa melindunginya, tidak terlihat masalah
dengan jelas, tetapi akan datang momen-momen yang sangat berbahaya bagi mereka
jika kehadiran mereka dianggap sebagai unsure asing yang mengganggu lingkungan.
Investasi sektor swasta (pembiayaan pembanguan oleh sektor swasta) biasanya
masuk ke suatu negara sebagai hasil bersaing dalam daya tariknya dengan negara-
negara lain. Begitu pula masuknya ke suatu wilayah/daerah. Daya tarik tersebut
mungkin: Iaktor pajak yang relatiI ringan, Iaktor prosedur pajak yang mudah, Iaktor
inIrastruktur yang baik, Iaktor kemudahan-kemudahan yang disediakan pemerintah
pusat/lokal, Iaktor sumber daya alam yang berlimpah, Iaktor tenaga kerja yang
berlimpah/murah, pasar yang luas, dan sebagainya. Seorang investor di dalam membuat
keputusan investasi di suatu wilayah/daerah pasti memperhitungkan kemungkinan
keuntungan dan risiko usaha yang akan dihadapi. Faktor keamanan dan kepastian
hukum merupakan Iaktor penting untuk analisis ini. Faktor stabilitas pemerintah
185
(pemerintahan yang kuat) bagi mereka penting untuk menjamin hukum berjalan
sebagaimana mestinya.



186
DAFTAR PU$TAKA


Amstrong, Harvey & Jim Taylor (1993), Regional Economics & Policy,
nd
Ed.,
Harvester WheatsheaI, New York
Anis Chaudhury and Colin Kirkbatrick (1994), Develo5ment Policy and
Planning An ntroduction to Models and Techniques, Routledgr

Blakely Edward J (1989), Planning ocal Economic Develo5ment Theory and
Practice, Sage Publication

Bendavid, Avron-Lal (1991), Regional and ocal Economic Analysis for Practitioners,
4
th
Ed., Praeger, New York.
Bintoro Tjokroamidjoja (1983), Perencanaan Pembangunan, Gunung Agung, Bandung
C.S.T. Kansil (1985), Kitab Undang Undang Pemerintahan Daerah KUPD), Bina
Aksara, Jakarta.
Edel Matthew and Jerome Rotherberg, Ed. (1972), Reading in Urban Economics, The
Macmillan Company, New York.
Friedmann, John and Michael Douglas (1976), Pengembangan Agro5olitan Menufu
Siasat Baru Perencanaan Regional di Asia, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.
Friedmann, John and William Alonso (1975), Regional Policy. Reading and
A55lication, MIT Press, Canbridge.
Fu Chen Lo and Kemal Sholih (1976), Kutu5kutu5 Pertumbuhan dan Kebifakan
Ekonomi, Universitas Indonesia
Fujita, Masahisa (1989), Urban Economics Theory. and Use and ity Si:e, Cambridge
University Press, New York.
Fujita, Masahisa, cs. (2000), The S5atial Economy. ities, Regions, and nternational
Trade, MIT Press, USA.
Glasson, John, terjemahan Aris Yakub (1990), Pengenalan Perencanaan Wilayah,
Konse5 Teori, dan Amalan, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan
Malaysia, Kuala Lumpur
Hansen, Niles M, Ed. (1972), Growth enters n Regional Economic Develo5ment, The
Free Press, New York.
Henderson, J. Vernon (1994), ommunity hoice of Revenue nstruments, Regional
Science and Urban Economics 24 (1994) 159 183, North Holland
187
Henderson, Vernon (2002) ow Urban oncentration Affects to Economic Growth,
World Bank Working Paper.
Holland, Stuart (1976), a5ital Jersus Regions,The Macmillan Press, New York.
Hoover, Edgar M (1975), An ntroduction to Regional Economics, 2
nd
Ed., AlIred A.
KnoI, New York.
Isard, Walter (1971), Methods of Regional Analysis, An ntroduction to Regional
Science, MIT Press, London.
Iwan Jaya Azis (1994), lmu Ekonomi Regional dan Bebera5a A5likasinya di ndonesia,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Iwan Jaya Aziz (1997), m5acts of Economic Reform on RuralUrban Welfare. A
General Equilibrium Framework, Jurnal Urban and Regional Development
Studies No. 9.
Kivell, Philip (1993), and and The ity. Pattern and Processes of Urban hange,
Routlege, New York.
LatiI Adam (1994), A5likasi Model ShiftShere Analisis, furnal Ekonomi dan
Pembangunan, Vol II No. 1Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI, Jakarta
Lewis, Blane D (1998), The m5act of Public nfrastructure on Munici5al Economic
Develo5ment. Em5irical Result From Kenya, Regional Urban Development
Stadies Vol 10 N0.2.
McCann, Philip (2001), Urban and Regional Economics, OxIord University Press, New
York
Mudrajad Kuncoro (2002) Analisis S5asial dan Regional. Studi Aglomerasi dan Kluster
ndustri ndonesia, Uniut Penerbitdan Percetakan AMP YPKN, Yogyakarta.
NaIzinger, E Wayne (1997), The Economics of Develo5ing ountries, 3th Ed., Prentice
Hall, New Jersey.
Portnov, Boris A and Evyatar Erel (1998), lustering of The Urban Field as A
Precondition for Sustainable Po5ulation Growth in Peri5heral Areas. The ase of
srael, Regional Urban Development Studies Vol 10 No.2.
Prapto Yuwono (1999), Penentuan Sektor Unggulan Daerah Menghada5i m5lementasi
UU / dan UU / studi Kasus Kotamadia Dati Salatiga), Kritis
Vol No. 2 1999.
Premert, Matthias and Uwe Wals (1994), Divergent Regional Develo5ment, Factor
Mobility, and Nontrade Goods, Regional Science and Urban Economics 24 (1994)
707 722.
Richardson, H.W (1969), Regional Economics, Praeger Publisher, New York.
188
Samuelson, Paul A and William D Nordhaus (2001), Economics, 17
th
Ed., McGraw-
Hill, New York.
Sukanto Reksohadiprodjo dan A R Karseno (1994), Ekonomi Perkotaan, Edisi 3, Badan
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Temple, Marion (1994), Regional Economics, St. Martins Press Inc., New York.
Todaro, Michael P (1994), Economic Develo5ment, 5
th
Ed, Longman Publishing, New
York.
Undang Undang No. Tahaun 4 Tentang Pokok5okok Pemerintahan Di Daerah
dan Undang Undang No. Tahun Tentang Pemerintahan Desa, PT Pradnya
Pramita, Jakarta 1989.
Undang Undang Re5ublik ndonesia nomor tahun tentang Pemerintahan
Daerah, CV. Pustaka Mandiri, Jakarta
Undang Undang Re5ublik ndonesia nomor tahun tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, CV. Pustaka
Mandiri, Jakarta
Undang Undang tonomi Daerah Tahun 4, UU No.3 Thun 4 Tedntang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 4 TentangPerimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Tusat dan Pemerintah Daerah, Cv Tamita Utama,
Jakarta, 2004.





















189
RIWAYAT HIDUP PENULI$

Penulis dilahirkan di Samalanga, Nanggroe Aceh Darussalam,
tanggal 8 Agustus 1943 dari pasangan Teungku Peutua Ghalib
Hj. Cut Aman Fasisyah. Menammatkan Sekolah Dasar (SR) tiga
tahun di Simpang Mamplam, Samalanga, Sekolah Dasar (SR) enam
tahun pada SD Negeri 1 Samalanga, lulus tahun 1957.
Melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) bagian B (Pasti
Alam) pada SMP Negeri 1 Bireuen lulus tahun 1960, dan
melanjutkan ke Selolah Menengah Atas (SMA) bagian B pada
SMA Negeri Sigli lulus TAHUN 1963.
Penulis pernah memasuki Fakultas Kedokteran UKI Immanuel (UKI Maranatha)
di Bandung tahun 1963 dan tahun 1964 pindah ke Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran di Bandung, namun tidak berhasil menyelesaikannya. Tahun 1969 penulis
pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan (Umum) yang untuk tingkat persiapan sampai sarjana muda berstatus
sebagai mahasiswa Program Ekstensi dan selesai tahun 1979. Tahun 1983 penulis
melanjutkan program S2 (Magister) pada Fakultas Pascasarjana Institut Teknologi
Bandung Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, pada waktu program ini masih
berstatus kerjasama dengan Collage Univercity oI London lulus tahun 1986. Tahun
1998 melanjutkan pendidikan ke Program Doktor (S3) pada Program Pascasarjana
Universitas Padjadjran lulus tahun 2005.
Penulis sudah mulai bekerja di bidang pendidikan sejak tahun 1964. Semula
bekerja sebagai guru honorer pada sekolah-sekolah menengah Yayasan LPPM di
Bandung tahun 1964 1979. Tahun 1979 diterima sebagai Asisten Dosen di Fakultas
Ekonomi Universitas Padjadjaran dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun
1980 pada unit kerja Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Penulis pernah
mendapat tugas dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) untuk ikut
membina Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung dari tahun 1981 1996
bersama Drs. Mansur Muliakusumah, MA, dan Drs Soelaeman Bhaehaki dan diujung
tugas di sana pernah menjadi dekan untuk periode 1992 -1996. Disamping itu penulis
juga sebagai dosen non-organik Sekolah StaI dan Komando Angkatan Darat
(SESKOAD) di Bandung 1986 -2001.
Pengalaman berorganisasi, sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) 1957 -
1963, anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1964 - 1978, anggota Ikatan Sarjana
Ekonomi Indonesia (ISEI) 1979 sekarang, Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim
Seluruh Indonesia (ICMI) 1992 sekarang (ikut dalam perisntisan berdirinya ICMI
Jawa Barat), Anggota Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) 1986 sekarang,
anggota Korp Alumni HMI (KAHMI) 1979 sekarang, dan Anggaota Indonesian
Regional Science Association (IRSA) tahun 2003 - sekarang. Pengalaman memimpin
organisasi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bandung 1972, Ketua Umum Badko
HMI Jawa Barat 1974 1976, Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Barat 1975 1978 (salah
seorang deklarator berdirinya KNPI Jawa Barat). Ketua/anggota Presidium KAHMI
Jawa Barat 1998 2002, Ketua Dewan Penasehat KAHMI Jawa Barat 2002 sekarang,
anggota Dewan Penasehat Majlis Nasional KAHMI 2004 sekarang.
Bandung, 20 Oktober 2005
Penulis

190