Anda di halaman 1dari 41

Siapa sebenarnya Juru Selamat Dunia ??

Perjalanan seorang mahasiswa kateketik Katolik yang akhirnya memeluk agama Islam. Beliau juga berpesan "Perpisahan dengan Gereja bukan berarti perpisahan dengan Yesus atau Isa a.s. Guruku yang pengajarannya kukagumi

Atau

Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

DAFTAR ISI Sambutan Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. STRUKTUR ORGANISASI GEREJA KATOLIK 1.1 Sri Paus dan Negara Vatikan 1.2 Kardinal 1.3 Uskup 1.4 Konferensi Uskup Nasional 1.5 Hirarkie Gereja Katolik di Indonesia 1.6 Keuskupan di Indonesia 1.7 Tarekat Religius 1.8 Direktorat Jenderal Bimasa Katolik 2. PENGALAMAN PRIBADI 2.1 Menjadi Guru Agama Katolik 2.2 Mahasiswa Kateketik 2.3 Pribadi Yesus dan Ajarannya 2.4 Kebimbangan Berjalan Terus 2.5 Putusan Terakhir 3. AGAMA NASRANI 3.1 Trinitas 3.2 Keturunan Ibrahim 3.3 Yesus dan Hukum Taurat 3.4 Hal Masuk Surga 3.5 Yesus Juru Selamat Bangsa Israel 3.6 Siapakah Sebetulnya Juru Selamat Dunia? 4. KRISTENISASI 4.1 Arti Kristenisasi 4.2 Sejarah Kristenisasi oleh Agama Protestan 4.3 Sejarah Kristenisasi oleh Agama Katolik 4.4 Kristenisasi dan Politik 4.5 Kekuatan dan Kelemahan 5. ISLAM YANG KUAT DAN PEMELUKNYA YANG LEMAH 6. KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

SAMBUTAN Drs. M. Sholeh Harun Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Assalamualaikum wr. wb. Setelah saya membaca sekilas lintas tulisan Saudara Y.B. Sariyanto Siswosoebroto, seorang bekas Guru Agama Katolik yang telah masuk Islam, dengan judul: Siapakah Juru Selamat Dunia, saya menyampaikan penghargaan kepada penulis. Sebab dengan tulisan tersebut para pembaca akan bertambah memiliki alat guna menyingkapkan kebenaran yang oleh usaha/fihak lain sengaja hendak disembunyikan dan dikaburkan. Sebenarnya, umat Islam dengan kitab Sucinya (Al Quranul Karim), sudah tertanam iman dalam dada mereka, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah Rasulullah yang terakhir yang memancarkan nur Ilahi keseluruh penjuru dunia, guna menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dan kehancuran akhlaq; disamping adanya iman terhadap Nabi dan Rasul sebelum Muhammad s.a.w. tanpa membeda-bedakan antara satu dan yang lain. Namun demikian, kiranya tulisan ini ada manfaatnya bagi para pembacanya dan semoga mendapat sambutan sebagaimana mestinya. Terima kasih. Wassalam wr. wb. Yogyakarta, 12 Mei 1977 Kepala, ttd Drs. M. Sholeh Harun

Bab 1.1 STRUKTUR ORGANISASI GEREJA KATOLIK Bab 1.1 Sri Paus dan Negara Vatikan Menurut kepercayaan dalam Agama Katolik, maka kepala Gereja adalah Sri Yesus yang dalam bentuk nampak sehari-hari di dunia diwakili oleh Sri Paus. Jadi Sri Paus adalah Wakil Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Gereja Katolik mendasarkan Hal ini pada ayat dalam Injil Mateus 16:18: Petrus, engkau adalah batu karang; di atas karang padas ini akan kudirikan Gerejaku. Kuasa mautpun tidak dapat mengalahkannya. Jadi menurut tradisi Gereja Katolik Petrus diakui sebagai Paus yang Pertama. Pelantikan Petrus sebagai Paus yang pertama, kemudian diikuti juga dengan penugasannya yang tertera dalam dialog Yesus dan Petrus seperti ditulis dalam Injil Yohanes 21:15-19, dimana Sri Yesus bertanya: Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari yang lain? Jawab Petrus: Ya Tuhan, Tuhan mengetahui bahwa hamba mengasihi Tuhan. Yesus berkata: Gembalakanlah segala dombaku. Dialog itu berlangsung sampai tiga kali dengan kata-kata yang sama. Gereja Protestanpun mengakui bahwa Sri Yesus Kristus adalah Kepala Gerejanya, tetapi tidak mengakui kekuasaan Petrus sebagai Paus pertama dan dengan demikian juga tidak mengakui penggantinya sampai yang sekarang. Semenjak Petrus sebagai Paus pertama sampai kepada Paus Paulus VI terdapat 263 orang Paus. Jadi Sri Paus Paulus VI adalah Paus yang ke 263. Bagaimana cara memilib nama seorang Paus? Seorang Kardinal yang terpilih menjadi Paus bebas memilih namanya. Jika dia memilih nama Yohanes, maka dilihat dalam daftar para Paus nama itu sudah dipakai oleh 23 orang Paus terdahulu, maka Paus yang sekarang bergelar Sri Paus Yohanes ke XXIV. Jika dia memilih nama Pius, sedang nama itu pernah dipakai oleh 12 pendahulunya, maka dia bergelar Paus Pius XIII; jika pengganti Paus Paulus VI memilih nama Paulus, maka dia bergelar Sri Paus Paulus VII, demikian seterusnya. Gelar-gelar Sri Paus adalah: Kepala Gereja Katolik. pengganti Petrus, Primas (Pangeran) Gereja Katolik, Uskup kota Roma, Kepala Negara Vatikan. Dalam urusan dunia Sri Paus adalah Kepala Negara Vatikan; Vatikan adalah negara kota seperti Singapura atau Monaco, yang luasnya 44 Ha. Didalamnya terdapat jalan raya, 2 buah Gereja besar diantaranya basilika St. Petrus, istana Sri Paus cita del Vatikano, gedung-gedung Kementerian (Konggregasi) yang berjumlah 10 dan sebuah Universitas Kepausan Gregorian. Vatikan sebagai negara terletak ditengah kota Roma (Itali) tetapi lepas dari pengaruh negara Italia. Negara Vatikan mulai berdiri semenjak abad ke VIII, tetapi kemudian oleh gerakan Persatuan Itali Raya dibawah pimpinan Garibaldi dicaplok dan dijadikan bagian dari Negara Itali Raya semenjak tahun 1871. Jadi semenjak tahun itu Sri Paus hanya menjadi kepala Gereja saja, bukan seorang Kepala Negara yang berdaulat dan merdeka; bahkan dia lalu menjadi warga negara Italia. Usaha ke arah pemulihan kemerdekaan terus diusahakan dan baru tahun 1929 berhasil ditanda tangani Perjanjian Veteranen antara Sri

Paus Pius XI dan Benedicto Musolini pemimpin Negara Itali waktu itu. Dalam Perjanjian itu ditegaskan bahwa kedaulatan Sri Paus dikembalikan dan diakui oleh Itali sebagai negara yang merdeka lepas dari Itali. Semua milik Gereja yang pernah disita dikembalikan. Negara Vatikan juga disebut Negara Gereja. Dan sebagai negara, maka Vatikan juga mempanyai alat-alat perlengkapan sebagai negara. Terdapat 10 Kementerian yang disebut Konggregasi misalnya Konggregasi Suci Kepausan untuk urusan ibadat Suci, Konggregasi Kepausan untuk urusan orang-orang Kudus, dan lain-lain. Untuk urusan luar negeri diurus oleh Seketariat Negara. Sebagai suatu negara maka Vatikan juga mempunyai Duta Besar di negara lain, yang disebut Pro Nuncio atau Nunciatur; dan juga negara lain ada juga yang mempunyai Duta Besar Vatikan; Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur, sedang pada waktu ini (1977) yang menjabat Nunciatur adalah Mgr. (di baca Monsinyur) Vincentio Varargo, sedang duta Besar kita di Vatikan adalah RM. Soebadio. Vatikan juga mempunyai gedung penjara yang praktis tidak pernah digunakan. Mata uang dan perangko juga diterbitkan. Dengan demikian maka Vatikan memang merupakan suatu negara dalam arti yang sesuugguhnya. Pakaian kebesaran Sri Paus adalah; tiara yaitu mahkota berlapis tiga yang melambangkan bahwa Sri Paus di samping seorang Raja, juga dalam memerintah mewakili Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Lalu Cincin bergambar Petrus sedang menjala ikan yang melambangkan bahwa Sri Paus meneruskan pekerjaan Petrus. Tongkat melambangkan bahwa karya gembala seperti ditugaskan Sri Yesus kepada Petrus memang sungguh diteruskan. Kasula merah, lambang Sri Paus sebagai Guru yang rela mengorbankan hidupnya (merah warna darah). Sri Yesus menurut kepercayaan orang Kristen, baik Katolik maupun Protestan berfungsi sebagai: Raja, Guru dan Gembala. Fungsi ini tampak dalam pakaian kebesaran Sri Paus. Bagaimana cara pemilihan Paus? Pada zaman dulu, pemilihan Paus selalu mengikut sertakan Kaisar, Kepala Negara yang beragama Katolik di samping para Kardinal sebagai pembantu-pembantu Paus. Namun kebiasaan itu hapus semenjak abad ke XVI. Dan mulai waktu itu maka pemilihan Sri Paus hanya diikuti oleh para Kardinal saja. Jika terdengar kabar bahwa Sri Paus meninggal dunia, maka semua Kardinal dari seluruh dunia menuju ke kota Roma (Vatikan) tanpa diundang. Disana mereka bersidang dalam ruang tertutup. Dan selama sidang para Kardinal dilarang berhubungan dengan dunia luar. Sidang dipimpin oleh Kardinal yang tertua dibantu oleh Kardinal termuda dalam usia. Selain para Kardinal hadir juga Sekretaris Negara Vatikan yang biasanya bukan seorang Kardinal. Tempat duduk para Kardinal merupakan kursi gantung yang bisa dinaikkan dan diturunkan. Kursi gantung itu disebut baldakim. Kaki para Kardinal tidak menyentuh tanah, sebagai lambang bahwa masalah duniawi (ras, bangsa, pandangan politis) tidak akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih Paus. Warna baldakim-pun bermacam-macam; ada yang berwarna merah, ada yang berwarna kuning dan ada yang berwarna hijau. Kardinal yang duduk di baldakim merah, artinya Kardinal yang diangkat oleh Paus yang baru saja meninggal dunia. Baldakim yang berwarna kuning disediakan

untuk para Kardinal yang diangkat oleh Paus sebelumnya lagi, jadi dengan demikian berarti Kardinal yang duduk pada baldakim kuning pernah dua kali mengikuti pemilihan Paus dan baldakim yang berwarna hijau untuk para Kardinal yang pernah mengikuti pemilihan Sri Paus sampai tiga kali, jadi diangkat oleh Paus yang memerintah dua periode sebelum Paus yang meninggal ini. Lazimnya tidak ada Kardinal yang duduk di baldakim hijau. Pernah pemilihan Paus didalamnya tidak ada Kardinal yang duduk di baldakim merah, karena Paus yang meninggal baru 3 hari menduduki tahta, belum sempat mengangkat Kardinal, bahkan para Kardinal yang memilihnya belum semua pulang ke negerinya. Yang sudah pulang dan baru sampai dipertengahan jalan dan mendengar bahwa Paus yang baru dipilih 3 hari yang lalu meninggal, cepat-cepat kembali ke Vatikan lagi. Sementara pemilihan Paus berlangsung, di luar gedung pemilihan telah berkumpul umat Katolik yang ingin mengetahui hasil pemilihan Paus Jika pemilihan tidak memenuhi syarat yang ditentukan misalnya Kardinal yang mendapat suara terbanyak belum mencapai prosentase yang ditentukan, maka pemilihan dianggap belum berhasil dan diulang kembali. Kertas pemungutan suara dikumpulkan dan dibakar dengan jerami basah. Dari cerobong yang dapat dilihat oleh rakyat yang menunggu di luar tampak asap hitam. Umat di luar gedung pemilihan tahu bahwa pemilihan belum berhasil. Jika sudah berhasil maka kertas pemilihan dibakar dengan jerami kering sehingga asap putihlah yang keluar dari dalam cerobong. Begitu Paus baru terpilih, maka semua Kardinal menarik tali baldakimnya sehingga baldakim menyentuh tanah, sedang Kardinal yang terpilih sebagai Paus menarik tali baldakim bukan ke bawah tetapi keatas; ini sebagai lambang bahwa kedudukan mereka sekarang berlainan tidak lagi sejajar. Para Kardinal yang tak terpilih bersujud menyatakan kesetiaan mereka kepada hasil pilihan dan Paus terpilih. Kemudian Paus terpilih memberikan berkatnya yang pertama sebagai Paus. Paus terpilih dengan diantar oleh pimpinan sidang, yaitu dua Kardinal yang tertua dan yang termuda serta Sekretaris Negara membuka jendela di mana rakyat yang berkumpul di lapangan St. Petrus bersorak-sorak: Viva il Santo Papa! Viva il Santo Papa! (Hidup Santo Bapa, Hidup Santo Bapa). Kardinal yang tertua, yang memimpin sidang, kecuali jika dia sendiri yang terpilih menjadi Paus, maka pimpinan sidang yang lain yakni yang Kardinal termuda, mengenalkan kepada rakyat banyak yang kebanyakan umat Katolik itu: Saudara-saudara, Yang Mulia Kardinal ... dari Negara ..., telah terpilih menjadi Paus baru dan beliau memilih nama: Sri Paus ... Rakyat kemudian bersujud dan Paus terpilih memberikan berkat kepausannya yang kedua. Menurut pengajaran Gereja Ratolik, maka Sri Paus tidak mungkin sesat dalam menetapkan hukum yang berhubungan dengan masalah Agama. Surat edaran Sri Paus yang menerangkan suatu masalah disebut Ensiklik. Biasanya memang setiap Ensiklik Sri Paus selalu diterima dengan penuh ketaatan oleh dunia Katolik. Namun berbeda dengan Ensiklik Humanea Vitae yang dikeluarkan oleh Sri Paus Paulus VI sempat menggegerkan dunia, bukan saja dunia Katolik tetapi dunia pada umumnya: sebab untuk pertama

kalinya Ensiklik Paus mendapat tantangan yang begitu hebat dan berakibat kewibawaan Sri Paus merosot dimata dunia. Ensiklik Humanea Vitae itu menegaskan bahwa masalah pengaturan kelahiran hanya diperbolehkan dengan metode pantang-berkala, sedang metode yang lain ditolak karena tidak sesuai dengan martabat manusia. Para Uskup di Negeri Belanda minta agar Ensiklik itu dicabut. Para Uskup di Indonesia dalam sidangnya memberikan penjelasan Pastoral tentang Ensiklik Humanea Vitae menjelaskan; Bahwa Ensiklik itu lahir setelah penyelidikan yang cukup lama dengan penelitian yang biayanya tidak sedikit, serta banyak doa yang diarahkan untuk maksud itu. Maka bagaimanapun Ensiklik itu wajib kita hormati. Kepada saudara yang dengan terpaksa menjalankan dengan metode yang menyimpang dari yang dianjurkan oleh seruan Sri Paus, maka masalahnya harus dibicarakan antara suami isteri dengan sikap yang dewasa. Namun para Uskup tidak membenarkan usaha-usaha yang bersifat perkosaan terhadap martabat manusia, misalnya pengguguran dan pemandulan tetap. Bab 1.2. Kardinal Kardinal adalah pembantu Paus, sebagai Dewan Penasehat, Dewan Paus. Ada Kardinal yang bertempat tinggal di Negara Vatikan, yang biasanya memimpin suatu Konggregasi (Kementerian) dan ada pula yang bertempat tinggal di luar Vatikan, umpamanya Kardinal Darmoyuwono, Uskup Agung Semarang. Pada jaman dulu jumlah Kardinal hanya 70, dan jumlah ini terus dipertahankan. Jika ada yang meninggal maka diangkat yang baru. Tetapi semenjak Paus Yohanes XXIII, maka tradisi yang menetapkan Kardinal hanya berjumlah 70 dihapuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, sekarang jumlah para Kardinal lebih dari 120 orang dan jumlah itu bisa terus bertambah. Rupanya tradisi yang menetapkan jumlah Kardinal 70 diperoleh dari nas Injil Lukas 10:1 di mana diceritakan bahwa Yesus menyuruh 70 orang muridnya. Menurut teori Kardinal itu bukan jabatan atau pangkat di atas Uskup, bahkan boleh seorang Pastor biasa diangkat Kardinal, bahkan seorang awam (dalam arti tidak ditahbiskan sebagai imam atau biarawan) dapat saja diangkat menjadi Kardinal, asal Katolik dan laki-laki. Tetapi dalam kenyataannya sekarang semua Kardinal yang diangkat itu umumnya Uskup atau Uskup Agung. Bab 1.3. Uskup Lain halnya dengan Kardinal, maka Uskup tidak boleh di sebut pembantu Paus; sebab pada hakekataya Paus juga Uskup kota Roma. Dalam tradisi Gereja Katolik, maka setiap Uskup harus sumpah setia dan tunduk dibawah pengganti Petrus yaitu Paus. Kita mengenal istilah Uskup Agung dan Uskup, seolah-olah Uskup Agung membawahi Uskup. Setiap Uskup (Uskup Agung dan Uskup biasa) bertanggung jawab langsung kepada Sri Paus, namun mereka adalah Kepala Daerah otonom. Memang Uskup Agung merupakan koordisnator para Uskup di dalam wilayah Propinsi Gerejani Jika suatu daerah dinilai belum dewasa sehingga belum diberi pemerintahan sendiri (hirarkie gereja), maka di daerah itu belum ada Keuskupan Agung atau Keuskupan. Untuk daerah itu, seperti Indonesia sebelum tahun 1961, dibentuk Vikariat atau Prefektur, yang dikepalai oleh seorang yang berpangkat Uskup. Bedanya Keuskupan (dan atau

Keuskupan Agung) dengan Vikariat atau Apostolik ialah: bahwa Uskup yang memimpin sebuah Keuskupan bertindak atas nama dirinya sendiri, sedang Uskup yang memimpin Vikariat Apostolik bertindak atas nama Sri Paus. Karena pangkat Uskup harus dikaitkan dengan nama daerah, maka Uskup yang tidak memimpin sebuah Keuskupan, yaitu jika dia memimpin sebuah Vikariat atau tugas lain misalnya sebagai Duta Besar, maka dia diberi sebutan tituler dan dikaitkan dengan nama daerah, yang biasanya daerah sebuah Keuskupan kuno yang sekarang telah musnah. Misalnya sebelum tahun 1961, belum ada Keuskupan Agung Jakarta yang ada Vikariat Apostolika de Jakartae; maka juga tidak ada Uskup Agung Jakarta; pimpinan Vikariat Jakarta diberi gelar: Uskup Agung tituler Trisaba mewakili Sri Paus memimpin Vikariat de Apostolika de Jakartae. Semarang: pada waktu Uskup Agung tituler Danaba. Purwokerto: Uskup tituler Balburu. demikianlah, keadaan sebelum tahun 1961. Setelah pemberian hirarkie Gereja di Indonesia sesuai dengan Dekrit Sri Paus Acta Apostolicae Sedis LIII hal. 244; tgl. 14 Januari 1961, maka lalu muncul Keuskupan Agung dan Keuskupan di Indonesia, maka dengan demikian dikenal jabatan Uskup Agung Jakarta, Uskup Agung Semarang dan lain-lain. Uskup tituler juga diperuntukkan bagi Uskup yang tidak aktif lagi menjalankan fungsinya sebagai pemimpin Gereja (pensiun), misalnya Mgr. Adrianus Djajaseputro S.J. sewaktu memimpin Vikariat Jakartae bergelar Uskup Agung Tituler Trisaba; dan sekarang setelah tidak memimpin Keuskupan Agung Jakarta lagi, maka beliau bergelar Uskup Agung tituler Bolsena. Pada waktu Mgr. Pius Batubara menjabat sebagai Uskup Muda/Uskup Pembantu Keuskupan Agung Medan beliau bergelar: Uskup tituler Ubaba. Pada waktu dulu, jabatan Uskup selalu dipangku untuk masa seumur hidupnya, tetapi semenjak Paus Paulus VI menetapkan bahwa Uskup yang sudah berusia 75 tahun boleh mengajukan permohonan non aktif (pensiun). Jabatan Uskup bisa pensiun, tetapi pangkat yang melekat karena tahbisan (pelantikan) dibawa mati. Itu pula sebabnya pakaian kebesaran seorang Uskup yaitu tongkat, mahkota, Injil, kasula dibawakan sampai mati. Dan upacara penguburan seorang Uskup hanya boleh dilakukan oleh Uskup juga. Uskup diangkat oleh Sri Paus dari 3 calon yang diusulkan oleh Dewan Keuskupan. Namun Sri Paus bebas juga mengangkat calon lain, namun hal yang demikian itu jarang sekali dilakukan. Dalam keputusan Sri Paus selalu disebutkan bahwa Pastor yang diangkat menjadi Uskup, pentahbisannya (upacara pelantikannya) boleh meminta kepada seorang Uskup yang lain. Pakaian kebesaran Uskup sama dengan pakaian kebesaran Sri Paus hanya berbeda dalam warna saja, dan tingkatan yang lebih rendah misalnya mahkotanya bukan tiara bertingkat tiga. Dalam melaksanakan pekerjaan seorang Uskup dibantu oleh sebuah Staf yang biasanya terdiri dari Vikaris Jenderal (Wakil) bisa disebut juga Vikaris Epikopus (Wakil Uskup) dan biasanya hanya seorang, tetapi Keuskupan Agung Semarang mempunyai 4 orang Wakil Uskup; yang setiap Wakil Uskup membawahi bagian dari daerah Keuskupan itu, yakni: Semarang, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta. Selain Vik.Jen. atau Vik. Ep. Uskup juga dibantu oleh seorang Sekretaris yang biasanya dijabat oleh seorang Pastor. Beberapa Delegatus, yang mengurus suatu bidang, misalnya Delegatus Sosial (Del.Sos.),

Delegatus Pendidikan (Del.Pen.) dll, merupakan suatu Staf yang membantu Uskup. Daerah Keuskupan terbagi atas beberapa Paroki yang dikepalai oleh seorang Pastor Paroki; mungkin dibantu oleh Pastor lain mungkin juga tidak. Bab 1.4. Konferensi Uskup Nasional Walaupun setiap Uskup langsung bertanggung jawab kepada Sri Paus dan daerahnya adalah otonom dan berdaulat penuh, namun Uskup yang bertempat tinggal di satu negara mempunyai persoalan yang sama dalam hal hidup di negara yang sama. Maka UskupUskup tersebut membentuk suatu Sekretariat Bersama yang untuk Indonesia disebut MAWI, singkatan dari Majelis Agung Wali Gereja Indonesia berkantor di Jalan Taman Cut Mutiah No. 6 Jakarta. Ini bukan berarti bahwa MAWI merupakan lembaga di antara Paus dan Uskup. Uskup berdaulat penuh atas daerahnya dan setiap 5 tahun sekali masing-masing Uskup mempunyai kewajiban menghadap Sri Paus. Kunjungan wajib ini disebut ad limina. Di Indonesia terdapat 33 orang Uskup sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa setiap tahun pasti ada Uskup dari Indonesia yang menghadap Paus. MAWI setiap takun mengadakan Konferensi Para Uskup, biasanya menjelang akhir tahun. Selain membicarakan beberapa masalah juga dipilih Presidium MAWI yang baru. Presidium MAWI yang sekarang, diketuai oleh Yustinus Kardinal Darmoyuwono, Uskup Agung Semarang, dan 2 orang Wakil, yakni Mgr. Dr. Th. Lumanauw Pr. Uskup Agung Ujung Pandang dan Mgr. Donatos Djagom SVD, Uskup Agung Ende; Sekretaris Jenderal dijabat oleh Mgr. Dr. Leo Sukoto SJ, Uskup Agung Jakarta; Bendahara oleh Mgr. P.S. Hardjosoemarto, MSc. Uskup Purwokerto. Pekerjaan Sekretariat MAWI dipimpin oleh seorang Pro Sekretaris. Pada MAWI ada bagian-bagian yang mengurusi suatu masalah, yang disebut PWI (Panitya Wali Gereja Indonesia), misalnya PWI Sosial, PWI Liturgi, PWI Seminari, dan lain-lain yang jumlahnya disesuaikan menurut kebutuhan. Selain itu juga ada bagian-bagian seperti Bagian Keuangan, Bagian Pendidikan, dll. Bab 1.5. Hirarkie Gereja Katolik Di Indonesia Seperti diuraikan di atas bahwa sebelum th. 1961 di Indonesia belum ada Keuskupan Agung dan ke uskupan yang ada ialah Vikariat Apastolik (Perwakilan Takhta Suci) atau Prefektur Apostolik. Dengan Dekritnya tgl. 3 Januari 1961, Acta Apostolicae Sedis LIII (l961) hal: 244 Sri Paus Yohanes XXIII memberikan hirarkie Gereja kepada Gereja Katolik di Indonesia. Menteri Agama RI dengan surat keputusan No. 89 tanggal: 13 Desember 1965; atas usul Kepala Biro Urusan Katolik Departemen Agama (sekarang Direktorat Jenderal) No. B. IX/I/7/616 tgl 10 Februari 1965 dan usul MAWI No. A/12174/211/00, tanggal 2 Oktober 1964 telah menetapkan: 1. Merobah nama Vikariat dan Prefektur Apostolik menjadi Keuskupan Agung dan Keuskupan, kecuali Prefektur Apostolik Sibolga, dan juga Prefektur Weetebula. 2. Menetapkan pembentukan hirarkie baru bagi Gereja Katolik di Indonesia

sebagai berikut: a. Keuskupan Agung Semarang: meliputi wilayah-wilayah bekas Vikariat Apostolik Semarang, Keuskupan Purwokerto (bekas V.A. = Vikariat Apostolik Purwokerto), Keuskupan Surabaya (bekas V.A, Surabaya), Keuskupan Malang (bekas V.A. Malang). b. Keuskupan Agung Jakarta: meliputi wilayah bekas V.A. Jakarta, Keuskupan Bandung (bekas V A. Bandung), Keuskupan Bogor (bekas V.A Bogor). c. Keuskupan Agung Pontianak: meliputi wilayah bekas V.A. Pontianak, Keuskupan Banjarmasin (bekas V. A. Banjarmasin), Keuskupan Samarinda (bekas V.A. Samarinda), Keuskupan Sintang (bekas V. A. Sintang), Keuskupan Ketapang (bekas V.A. Ketapang). d. Keuskupan Agung Medan: meliputi bekas V.A. Medan, Keuskupan Palembang (bekas V.A. Palembang), Keuskupan Pangkalpinang (bekas V.A. Pangkalpinang), Keuskupan Tanjungkarang (bekas V.A. Tanjungkarang), Keuskupan Padang (bekas V.A. Padang) dan Prefektur Apostolik Sibolga. e. Keuskupan Agung Ende: meliputi bekas Vikariat Apostolik Ende, Keuskupan Larantuka (bekas V.A. Larantuka), Keuskupan Ruteng (bekas V.A. Ruteng), Keuskupan Atambua (bekas V.A. Atambua), Keuskupan Denpasar (bekas Prefekur Apostolik Denpasar) dan Prefekur ApostolikWeetebula. f. Keuskupan Agung Makasar: meliputi bekas VA. Makasar, Keuskupan Manado (bekas V.A. Manado) dan Keuskupan Amboina (bekas V.A. Amboina) dalam bagian lain dalam S.K. Menteri Agama itu disebut bahwa mempunyai daya surut 3 Januari 1961 sesuai Keputusan Sri Paus. Dalam perkembangan selanjutnya, Sri Paus membentuk propinsi Gerejani di Irian Jaya, yakni: Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats-Asmat, Keuskupan Manokwari dan Keuskupan Jayapura. Bab 1.6. Keuskupan di Indonesia Di Indonesia terdapat 7 Keuskupan Agung dan 26 Keuskupan, yakni:

1. Keuskupan Agung Jakarta: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Leo Sukoto S.J. meliputi daerah DKI Jaya, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi. 2. Keuskupan Bogor: Uskup Mgr. Drs. Ignatius Harsono Pr., meliputi wilayah Kabupaten: Bogor, Sukabumi, Cianjur, Serang, Pandeglang dan Lebak. 3. Keuskupan Bandung: Uskup Petrus Arntz OSC. meliputi Karesidenan Priangan dan Cirebon, Kabupaten Krawang dan Purwakarta. 4. Keuskupan Agung Semarang: di bawah pimpinan Uskup Agung Yustinus Kardinal Darmoyuwono Pr., meliputi Ex. Karesidenan Semarang, Surakarta, Pati (kecuali Rembang dan Blora), Kabupaten Magelang dan Temanggung, DIY. 5. Keuskupan Purwokerto: Uskup Mgr. PS. Hardjosoemarto MSC meliputi Ex. Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Kedu (kecuali Magelang dan

Temanggung). 6. Keuskupan Surabaya: Uskup Drs. Yohanes Kloster CM, meliputi Ex. Karesidenan Surabaya, Kediri, Madiun, Bojonegoro dan Kabupaten Rembang dan Blora. 7. Keuskupan Malang: Uskup Mgr. Drs. FX. Sudartanto Hadisumarto O. Carm. meliputi: ex. Karesidenan Malang, Besuki dan pulau Madura. 8. Keuskupan Agung Medan: di bawah pimpinan Uskup Agung Pius AG. Datubara OFM. Cap meliputi Propinsi Aceh dan propinsi Sumatra Utara, kecuali Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. 9. Keuskupan Sibolga: (telah ditingkatkan dari Prefektur) Uskup Mgr. Bernhard Erich Willing OFM. Cap. meliputi Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. 10. Keuskupan Padang: Uskup Mgr. Reimondo C. Bergamin S.G. meliputi Sumaters Barat, Riau Daratan dan Kabupaten Kerinci. 11. Keuskupan Palembang: Uskup J. Hubertus Soudant SCJ. meliputi Propinsi Sumatera Selatan, Bangkahulu dan Jambi kecuali Kabupaten Kerinci. 12. Keuskupan Tanjungkarang: Uskup Mgr, Dr. Andreas Henri Soesanto SCJ. meliputi propinsi Lampung. 13. Keuskupan Pangkalpinang: Uskup Nicolaas P. van der Wessten SS.CC. meliputi Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau. 14. Keuskupan Agung Pontianak: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Drs. Hieronimus Bumbun SFM. Cap. meliputi Kabupaten: Pontianak, Sambas dan Sanggau, (bag. Utara) semua terletak di Kalimantan Barat. 15. Keuskupan Sintang: Uskup Mgr. L. van de Boorn S.M.M. meliputi Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu (di Kalimantan Barat). 16. Keuskupan Ketapang: Uskup Mgr. Drs. Gabriel W. Silekens C.P. meliputi Kabupaten Ketapang 17. Prefektur Apostolik Sekadau, Prefek Mgr, Lukas Spinoso C.P. meliputi Kabupaten Sanggau sebelah selatan Sungai Kapuas dan daerah sebelah utara sungai Kapuas yang termasuk daerah ex. Karesidenan Sekadau. 18. Keuskupan Banjarmasin: Uskup Mgr Gielmus Demarteau MSF. meliputi Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. 19. Keuskupan Samarinda: Uskup Mgr. Chr. V. Weegberg meliputi Propinsi Kalimantan Timur. 20. Keuskupan Agung Ujung Pandang: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr Dr. Th. Lumanauw Pr, meliputi Propinsi Sulawesi Tenggara. 21. Keuskupan Manado: Dr. Th. Hubertus Antonius JAC Moors MSC, meliputi Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. 22. Keuskupan Amboina: Uskup And PC. Sol MSC. meliputi Propinsi Maluku. 23. Keuskupan Agung Merauke: di bawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Yohanes Divenvoorde MSC, meliputi sebagian Kabupaten Merauke. 24. Keuskupan Agats-Asmat: Uskup Mgr. Alphonse Sowada OSC, sebagian Kab. Merauke dan Daerah Cicak. 25. Keuskupan Jayapura: Uskup Mgr. Herman FM Munninghoff OFM. meliputi Kabupaten Jayapura, Teluk Cenderawasih, Jayawijaya, Saniai, Fak-Fak sebelah Timur mulai kota Kaimana. 26. Keuskupan Manokwari: Uskup Mgr. Petrus van Diepen CSA. meliputi

Manokwari, Sorong dan Fak-Fak sebelah barat 27. Keuskupan Agung Ende: dibawah pimpinan Uskup Agung Mgr. Donatus Dagom SVD, meliputi Kabapaten Sikka, Ende dan Ngada. 28. Keuskupan Larantuka: Uskup Mgr. Daritus Nggawa SVD, meliputi Flores Timur, Pulau-pulau Adonara, Solor, Lembata, Alor dan Pantar. 29. Keuskupan Ruteng: Uskup Mgr Vitalis Djebarus SVD. meliputi Flores Barat. 30. Keuskupan Atambua: Uskup Mgr. Th. van den Tillaart SVD, meliputi Kabupaten: Belu dan Timor Tengah Utara. 31. Keuskupan Kupang: Uskup Grehorius Manteiro SVD, meliputi Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan. 32. Keuskupan Weetebula: (peningkatan dari Prefektur Apostolik) meliputi pulau Sumba dan Sumbawa. Uskup: Mgr. Haripranoto SJ. 33. Keuskupan Denpasar: Uskup Mgr. A. Hubertus Thijssen SVD, meliputi pulau pulau Bali dan Lombok.

Selain itu kita mengenal istilah Uskup ABRI yang dijabat oleh Yustinus Kardinal Darmoyuwono Pr. Uskup ABRI bukan merupakan suatu lembaga di bawah pimpinan ABRI, melainkan Uskup yang bertanggung jawab akan rawatan rokhani terhadap anggota ABRI yang beragama Katolik. Bab 1.7. Tarekat Religius Kalau kita perhatikan daftar nama Uskup di atas maka di belakang nama-nama itu kita jumpai singkatan: SJ, SVD, SCJ, OFM, dll. Singkatan-singkatan itu adalah menunjukkan nama Organisasi Tarekat Relegius, Pimpinan Tarekat itu biasanya bermarkas besar di Roma dan disebut Jenderal, sedang wakilnya di tiap negara disebut Propincial. Tarekat itu misalnya: SJ, (Tarekat Jesuit), SVD (Kalam Allah) MSC (Hati-Kudus), OFM (Fransiskan), OFM Cap (Fransiskan Capusin), O. Carm (Ordo Karmelit), CM Conggregasi Maria) dll. Seorang Pastor ketika akan ditahbiskan mengucapkan kaul (ikrar: kemiskinan tidak menguasai harta pribadi), ketaatan kepada Pimpinan Tarekat dan hidup selibat (tidak menikah). Untuk Pastor dari tarekat masih ditambah satu kaul lagi ialah: taat secara mutlak kepada Santo Bapa (Sri Paus). Untuk Pastor Praja (Pr) tidak harus berkaul kemiskinan, dan ketaatannya bukan kepada Pimpinan Tarekat melainkan kepada Uskup setempat. Perbedaan Pastor anggota Tarekat Religius dg Pastor Praja ialah: 1. Anggota Tarekat tidak mengikatkan kepada Keuskupan tertentu, sedang Pastor Praja mengikatkan diri sepenuhnya kepada Keuskupan tertentu. 2. Praja, adalah bukan nama suatu tarekat melainkan bahwa Pastor tersebut Pastor yang tidak mempunyai tarekat (organisasi). Mereka juga

mempunyai organisasi UNIO, tetapi hakekatnya lain sekali dengan Organisasi Tarekat. UNIO tidak mempunyai kekuasaan mutlak kepada anggotanya. 3. Keperluan hidup anggota tarekat (makan, pakaian) menjadi tanggung jawab tarekat, sedang kebutuhan untuk melaksanakan tugas (kendaraan) menjadi tanggung jawab Uskup di mana dia berkarya, sedang untuk Pastor Praja baik keperluan hidupnya maupun kebutuhan untuk melaksanakan tugas menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Uskup Bab 1.8. Direktorat Jenderal Bimasa Katolik Departemen Agama Rl mempunyai 5 Direktorat Jenderal: Dir.Jen. Bimasa Islam, Dir.Jen. Bimasa Kristen, Dir.Jen. Bimasa Katolik, Dir.Jen Bimasa Hindu dan Budha, Dir.Jen. Urusan Haji, Dir.Jen. Bimasa Katolik adalah instansi pemerintah yang tidak ada hubungan hirarkie dengan Gereja Katolik. Sebelum th 1967, kedudukan Dir.Jen. Bimasa Katolik belum ada, Urusan Katolik diurus oleh Biro Urusan Katolik yang dipimpin pada waktu itu oleh Sp. M J. Oentoe yang kemudian diangkat menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Bimasa Katolik pada waktu Biro Urusan Katolik ditingkatkan menjadi Direktorat Jenderal Bimasa Katolik. Direktur Jenderal Bimasa Katolik yang pertama ialah Ibu B. Kwari Sosrosoemarto sampai akhir tahun 1974 yang kemudian diganti oleh Bapak Mayor Jenderal Ignatius Joko Mulyono. Literatur 1. Ensiklopedi Indonesia. 2. Sejarah Gereja Katolik lndonesia, jilid 4 tentang: Pengintegrasian di Alam Indonesia, Dr. M.P.M. Muskens Pr. 3. Riwayat hidup Paus Pius X, khususnya tentang tata cara pemilihan Paus. 4. Kitab Suci Perjanjian Baru, terbitan Departemen Agama, 5. Majalah Bimas Katolik No. 2 Tri Wulan I tahun VIII-1976. 6. Buku Petunjuk Gereja Katolik tahun 1976 Bab 2. PENGALAMAN PRIBADI Bab 2.1. Menjadi Guru Agama Katolik Selama aku di SMP dan SMA kakekku selalu menganjurkan agar aku mengikuti kursus, entah itu kursus tertulis entah itu kursus lesan. Demikian maka aku mengikuti Kursus Tata Buku, mengetik, Bahasa Inggris, dan banyak lagi Tetapi tidak semua berakhir dengan mendapat Ijazah. Selain itu tidak kulupakan pelajaran Agama selalu kuikuti di luar sekolah, melalui seorang Pastor. Itu kuikuti walaupun aku sendiri sudah dibaptis. Pada waktu itu yang menjadi Pastor Kepala di Magelang (Pastor Paroki) adalah: Rama H. van Heusden S.J. seorang Belanda yang lebih senang menggunakan bahasa Jawa dari pada Bahasa Indonesia. Pernah ada seorang Jawa bercakap-cakap dengan beliau mulai menggunakan bahasa Belanda, beliaupun melayaninya. Ketika pembicaraannya sudah selesai, Rama

van Heusden bertanya: Menapa panjenengan boten saget boso Jawi? (Apakah anda tidak bisa bahasa Jawa?). Pastor pembantunya ada dua: Rama Knooren S.J. yang lebih banyak berkarya dan bergaul di lingkungan keluarga Tionghoa, sehingga beliau mendapat predikat Pastor Cina. Kemudian beliau pindah ke Jakarta memimpin Mingguan Hidup Katolik yang kemudian berubah HIDUP. Sekarang di Nederland lkabarnya sudah meninggal. Pastor pembantu yang lain-lain ialah Pastor de Keyper S.J. umurya paling tua di antara 3 Pastor yang lain, bahkan katanya beliau Guru dari pada Pastor Knooren dan van Heusden. Dari dia aku belajar banyak akan menularkan agama kepada orang lain, atau dengan istilah Katolik, karya kerasulan. Mulai itu aku menemukan diriku keinginan untuk menjadi Guru Agama, orang yang tugasaya merasul (mengajar). Saya sendiri sebetulnya kurang tertarik pada jabatan Pastor. Yang ketika itu mengherankan aku ialah, mengapa saya sebagai orang Katolik tidak boleh membaca buku SUCI (Kitab SUCI kami) yaitu Injil. Padahal tidak demikian orang Protestan dan orang Islam. Mereka bebas untuk membaca Kitab Sucinya. Ketika hal itu aku tanyakan kepada Pastor de Keyper S.J, beliau berkata bahwa hal itu supaya orang tidak menafsirkan salah tentang Ritab Sucinya. Kuasa menafsirkan Kitab Suci hanyalah wewenang Gereja saja. Ketika aku bertanya mengapa hanya Gereja saja yang boleh menafsirkan kitab Suci beliau tidak menjawab hanya berceritera atau boleh juga dikatakan bahwa jawabannya diberikan dalam bentuk suatu ceritera: Dahulu kala ada 2 orang katak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal: pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadanya, dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari. Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak. Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh

sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris karena mempunyai jam kerja lebih lama. Demikianlah, Sariyanto, kata Rama de Keyper S.J. menutup keterangannya, jadi walaupun Injil orang Katolik dan Protestan sama tetapi harus ada penafsiran yang satu yang hanya boleh di buat secara resmi oleh Gereja supaya tidak keliru. Puas dengan keterangan saya? Ya, Pastor, jawabku dan memang ketika itu saya juga merasa puas dengan keterangannya. Aku mengakhiri masa sekolahku di SMA dengan lancar. Setelah selesai belajar saya bekerja pada Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa. Tokoh LPKB ini kebanyakan adalah orang Katolik: K. Sindhunata S,H. dulu Mayor ALRI, sekarang Pimpinan I.L.C. (lnternational Legal Consultant) di Jakarta; Bapak Wignyosumarsono, bekas Kep. Bag. Urusan Katolik di Perwakilan Departemen Agama Jawa Tengah, sekarang Pegawai Tinggi di BPK dan salah seorang pimpinan DPP PDI, Hary Tjan Silalahi S.H. bekas anggota DPR, Cosmas Batubara dan masih banyak orang-orang Katolik di LPKB itu. Karena dalam tubuh LPKB itu yang dominan orang Katolik Di sinilah maka jiwa kerasulan saya mendapat siraman yang baik. Saya membina hubungan baik dengan pejabat Gereja, saya menentang rapat-rapat Organisasi Massa yang diadakan pada hari Minggu karena mengganggu orang bisa mengikuti Misa dengan baik. Dalam pekerjaanku sebagai pegawai LPKB saya sudah mulai turut serta dan dipercaya oleh Pastor untuk membantu mengajar Agama. Pada waktu itu pelajaran Agama yang diberikan oleh orang awam, bukan Pastor masih jarang sekali, lebih-lebih oleh orang muda seusia saya dan belum pernah mendapat pendidikan khusus, Tahun 1966 saya dipindahkan dari LPKB Pusat ke LPKB Daerah Propinsi Lampung, yang kemudian akan membawa riwaayat hidup lain. Bab 2.2. Mahasiswa Kateketik Agama yang benar untuk umat manusia ialah Agama Katolik, demikianlah pendapatku. Agama yang mengajarkan cinta kasih secara murni dan konsekwens. Dengan bekal keyakinan yang semacam ini aku pindah dari Jakarta ke Lampung Ada dua hal yang menyenangkan aku pindah ke Lampung. Pertama ialah dekat dengan tempat orang tua dan kedua Staf LPKB Lampung semuanya part-timer, jadi dengan kedatanganku menjadi satu-satunya orang yang full-timer. Sehingga memang dengan demikian saya menjadi orang yang menentukan policy LPKB. Karena sering tugas luar, saya banyak bergaul dengan masyarakat luas. Keinginan untuk melaksanakan ajaran Yesus: Pergilah dan ajarlah semua bangsa menjadi muridKu dan permandikanlah mereka atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus menjadi demikian bernyala-nyala. Keinginan itu kulaksanakan juga dengan menyerahkan waktuku untuk maksud itu. Rupanya hal itu menarik perhatian Bapak Uskup Lampung Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCY. Seorang Uskup yang begitu rendah hati, bisa dijumpai oleh siapa saja

kapan saja. Jika seorang ingin menghadap beliau tidak perlu mendaftar terlebih dahulu kepada Sekretaris Keuskupan seperti lajimnya dibuat oleh kebanyakan Uskup. Oleh beliau aku kemudian dikirim ke Fakultas Pendidikan Kateketik di Madiun di bawah pimpinan Pastor Dr. Paulus Janssen C.M seorang yang suka sekali bekerja keras seorang theolog dan social worker. Pada waktu aku belum masuk ke Fakultas Pendidikan Kateketik saya telah meragukan 2 hal. Yang pertama ialah: Dosa asal dan tentang Santo dan &Santa (orang Suci). Bagaimana mungkin seorang yang baru lahir dari rahim ibunya sudah berdosa karena mewarisi dosa asal? Dan bagaimana mungkin Bapa Paus di Vatikan bisa menetapkan bahwa seorang yang meninggal dunia bisa ditetapkan sudah masuk surga. Ada juga hal lain, yaitu tentang api pensucian. Sementara semua agama mengajar bahwa hanya ada dua tempat ialah neraka dan surga di alam sana, Gereja Katolik mengajarkan ada tempat lain ialah api pencuci. Tetapi semua kebimbangan itu kubiarkan saja, karena saya berpendapat bahwa dengan menjadi Mahasiswa pada Fakutas Pendidikan Kateketik keraguan dan kebimbangan itu akan menjadi hilang atau sekurang-kurangnya bahkan menjadi jelas. Tentang dosa asal, ada dosen yang menjelaskan bahwa semua perbuatan orang tua bagaimanapun pasti berakibat pada anak. Misalnya jika orang tuanya suka pergi ke wanita pelacur, maka penyakit yang di derita bukan saja oleh dia tetapi anak-cucunya ikut menanggung akibatnya. Hal itu untuk sementara cukup memuaskan hatiku; walaupun dalam perkembangan selanjutnya kebimbangan tentang hal ini muncul lagi dan tetap tidak terjawab. Tentang Santo dan Santa tidak ada jawaban yang memuaskan. Yah, terima begitu saja. Bukankah ada suatu dogma bahwa Sri Paus tidak bisa keliru dalam menentukan kaidah agama. Jawaban itu bukan saja tidak memuaskan, bahkan keraguan bertambah satu, yaitu apakah betul Sri Paus tidak bisa salah dalam memutuskan kaidah agama? Hilang satu keraguan yakni tentang dosa asal, muncul satu keraguan lain, yaitu tentang ketidakmungkinan salah dari Sri Paus di Vatikan. Aku mulai banyak mengenal pendeta Protestan. Pada saat itu Gereja Katolik, sudah maju dalam hal keinginan untuk ekomune (hidup bersama dalam persatuan). Tetapi rupanya Gereja Protestan masih memandang dengan mata curiga akan keinginan-baik Gereja Katolik. Ada memang Gereja Protestan yang sudah maju, misalnya Kristen Jawa, tetapi aliran Pantekosta sukar sekali untuk bisa mengerti hal ini. Sehingga dari aliran Pantekosta selalu ada usaha supaya mendapat pemeluk yang sebanyak-banyaknya. Sedangkan, pandangan Gereja Katolik dan Kristen Indonesia atau yang sejenis, orang yang sudah mempercayai Kristus- sebagai juru Selamat tidak usah ditarik lagi, barlah mereka tetap tenang pada agamanya entah itu Katolik entah itu Protestan. Perkenalan dangan para Pendeta menyebabkan saya bisa menerima pandangan agama

Protestan yang wajar tentang tidak adanya pentahbisan (pelantikan) Santo-Santa, tentang tidak ditekankannya masalah dosa asal. Dari mereka saya mendapatkan buku Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya simpan Kitab Suci itu dengan nada agak takut sebab bagaimanapun Gereja Katolik belum mengijinkan secara luas orang Katolik menyimpan buku-buku Kitab Suci terbitan Protestan, bahkan pendeknya pada teorinya orang Katolik dilarang membaca buku-buku tanpa Imprimatur (persetujuan Uskup setempat) dan atau Nihil Obstat (tidak ada keberatan). Suatu ketika Rama Janssen yang memberikan kuliah Kitab Suci (sebelum itu Bruder Honorius) memulai kuliahnya dengan berkata: Seperti kalian tahu, bahwa tidak boleh seorang Katolik memakai kitab Injil terbitan Protestan. Hatiku berdebar-debar juga, jangan jangan kena sanksi administrasi saya. Tetapi beliau melanjutkan: Tetapi berhubung dari Katolik sendiri belum banyak usaha penerbitan Kitab Suci, dan karena Saudara calon Guru Agama yang harus lebih tahu dari pada umat biasa tentang Kitab Suci, maka Saudara perlu mempunyai. Untuk memakai buku Injil terbitan Protestan harus ada ijin dari Bapak Uskup setempat dalam hal ini Uskup Surabaya, Mgr. Drs. J. Kloster CM. Saya, selaku pimpinan Fakultas atas nama Bapa Uskup memberikan ijin secara umum, khusus kepada para Mahasiswa saya untuk mempergunakan Bijbel Protestan. Saya lega sekali. Keesokan harinya teman-temanku mencari Injil itu sedang saya sendiri menjadi bebas mengeluarkan Kitab Suci itu. Yang saya kagumi dari golongan Protestan ialah mereka dapat hafal ayat-ayat Injil itu. Sedang saya, calon Guru Agama Katolik untuk mencari tempat-tempatnya dalam Injil masih merasa sulit. Hal ini juga berlaku untuk semua orang Katolik bahkan guru Agamanya juga. Aku berpendapat, bahwa dengan mempunyai Injil imanku akan bertambah kuat, tetapi tidak demikian halnya. Dalam suatu tempat di dalam Pe:rjanjian Lama, sayang saya tidak bisa mengingat lagi di mana letaknya dan untuk mencarinya kembali ternyata sulit sekali, saya menemukan: Bahwa dosa orang lain tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada orang lain walaupun itu anaknya sendiri. Yah, dengan demikian jelas bahwa dosa dan akibat dosa itu berlainan. Akibat dosa bisa diwariskan tetapi dosa itu sendiri tidak bisa. Umpamanya, anak seorang pembunuh dijauhkan dari pergaulan oleh kawan-kawannya, tetapi dia sendiri tidak bisa dianggap salah karena menjadi anak seorang pembunuh. Kemudian hal ini di luar waktu kuliah saya tanyakan kepada Pastor Bartels C.M., beliau hanya menjawalb: Itu bukan hal yang penting. Jika kau tidak percaya kepada dosa asal, engkau engkau tidak dosa dan tetap bisa menjadi orang Katolik yang baik. Saya berkata lagi: Kalau demikian apa bukan lebih baik saya menjadi Protestan saja, Rama? Rama menjawab: Pikiranmu yang kacau anggap saja sebagai godaan setan, dan sekarang banyaklah berdoa dengan tekun lewat perantaraan bunda Maria. Dari akibat membaca Bijbel saya mendapatkan hal lain yang terasa ganjil. Hal itu ialah silsilah Yesus. Sebaiknya tidak usah saya kutipkan Silsilah itu, tetapi saudara buka saja Kitab Perjanjian Baru pada halaman pertama Injil Mateus. Setelah Mateus

memproklamirkan bahwa Yesus adalah Anak Ibrahim, Anak Daud, dan menyuguhkan deretan nama-nama, maka pada akhir silsilah itu Mateus berkata: Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yarng melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Hal ini saya fikir aneh. Jika Yesus adalah putera (keturunan) Ibrahim, maka lebih tepat jika yang disebut keturunan Ibrahim itu Maria saja, bukan Yusuf yang bukan saja Bapa dari jasmani Yesus. Hal ini saya tanyakan kepada Rama Wignyopranoto C.M. beliau menjawab: Orang Yahudi itu garis keturunan adalah garis Bapak sehingga lebih mudah jika yang disebut keturunan Ibrahim itu Bapanya, bukan Ibunya. Tetapi itu tidak penting, yang penting YESUS secara fakta sudah turun ke dunia menyelamatkan umat manusia. Itu inti iman kita. Jawaban itu tidak memuaskan saya, namun kesempatan tidak banyak untuk mendiskusikan, karena katanya akan ada kesempatan untuk mendiskusikannya dalam pelajaran yang akan datang waktu membicarakan persoalan itu. Tetapi sampai Rama Wignyo studi di Universitas Gregorian di Roma dan sampai saya keluar dari pendidikan itu tidak ada kesempatan lagi untuk omong-omong tentang hal itu. Tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah, saya mendapatkan silsilah Yesus dalam Injil yang lain, yakni Injil Lukas. Di situ dilukiskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dari garis Natan yang ke 43, sedang dalam Injil Mateus adalah anak Daud yang ke 27 dari garis Sulaiman. Terhadap ini belum pernah saya tanyakan. Bab 2.3. Pribadi Yesus dan Ajarannya Yesus yang menurut orang Kristen dan Katolik adalah Allah Putera yang turun ke dunia untuk menjadi manusia dan penebus dosa umat manusia, memang dapat diakui sebagai tokoh sejarah yang hebat. Tahun dibagi menjadi dua ialah sebelum Masehi dan sesudah Masehi. Terhadap tokoh ini beraneka ragam pendapat. Golongan Yahudi, berpendapat bahwa Yesus itu tokoh pemberontak dan pengacau. Golongan Kristen, memujanya sebagai pribadi Allah yang turun mengejawantah. Golongan Islam berpendapat bahwa Yesus seorang Nabi besar, tetapi bukan putera Allah. Lepas dari semua pandangan yang berbeda, kalau kita meninjau tokoh ini memang merupakan tokoh yang boleh dibanggakan pengajaran-pengajarannya. Beliau mengajarkan kerendahan hati yang tulus: Jika engkau ditampar pipamu yang kiri; serahkanlah yang kanan. Sikap munafik ditentangnya hebat-hebatan. Jika engkau berdoa, masuklah kedalam rumah, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi (Mateus 6: 6). Dan sabdanya: Janganlah berdoa seperti orang munafik, yang suka bertdoa ditepi-tepi jalan dan ditikungan jalan supaya dilihat orang. Dalam memberi dermapun Yesus mengutuk sikap munafik, Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui oleh tangan kiri apa yang dibuat oleh tangan kanan (Mateus 6: 3). Juga dalam hal berpuasa sikap munafik yang hanya ingin dilihat orang lain sangat dicela oleh Yesus: Jika engkau berpuasa jangan muram mukamu, tetapi minyakilah rambutmu dan cucilah mukamu supaya orang lain tak melihat engkau sedang

berpuasa (Mateus 6: 16-18). Yesus mengajar kepada kita untuk percaya betul kepada penyelenggaraan Ilahi, supaya kita tidak membalas dendam kepada orang lain. Untuk itu periksalah Mateus pasal 6. Orang dari agama apapun bisa menghargai Yesus dan semua ajarannya. Bagiku Yesus adalah Guru yang baik, Guru yang mengajarkan kebaikan dan kesolehan yang tidak dibuat-buat. Beliau paling membenci sesuatu hal yang dibuat-buat, hari Sabat yang dianggap keramat oleh golongan Parisi didobraknya karena mereka melaksanakan hukum hari Sabat secara berlebih-lebihan sehingga cinta kasih kepada sesama diabaikan demi kekeramatan hari Sabat. Yesus mengajar dengan bahasa rakyat, bahasa yang bisa dimengerti oleh rakyat jelata. Beliau bukan saja mengajarkan kesederhanaan, tetapi beliau juga melaksanakan kesederhanaan itu. Beliau tidak hanya mengajar supaya kita mencintai orang lain, tetapi beliau juga melaksanakan cinta kasih dengan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menolong penganten yang nyaris kehabisan anggur di tengah-tengah pesta mereka. Yesus juga contoh pribadi yang tidak segan-segan berkata: Tidak jika memang keyakinannya demikian. Beberapa kali orang Parisi mencoba menjebak dia, namun dia bisa membalikkannya dengan begitu tepat. Ketika orang Parisi bertanya: Perlukah kita membayar pajak? Yesus dengan pertanyaan ini dihadapkan kepada buah simalakama, pata posisi yang sulit. Jika dia berkata: ~tidak,, dia dianggap pemberontak. Jika menjawab: ya, mereka akan berkata mengapa utusan Allah lebih rendah dari pada Kaisar. Dalam keadaan seperti itu Yesus balik bertanya: Coba tunjukkan uang itu. Gambar siapakah itu? Jawab kaum Parisi: Gambar Kaisar. Kemudian Yesus berkata: Serahkanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Saya mengakui bahwa pribadi Yesus begitu agungnya, sampai-sampai seluruh hidupnya dicurahkan untuk memberikan perhatian kepada orang kecil. Saya menghormati pribadi ini sebagai pribadi yang mendobrak ketidakadilan, dan menolak kultus individu. Kepada orang yang disembuhkan dari sakit, dia selalu berpesan agar tidak dikatakan kepada orang lain peristiwa penyembuhannya itu. Tentang kemurnian hidup beliau mengajarkan: Setiap orang yang memandang seorang wanita, dan menginginkannya sudah berzina di dalam hatinya (Mateus 5: 28). Dalam memilih murid-muridnya Yesus tidak memandang dari mana asal usulnya. Mateus, seorang penarik bea yang dalam pandangan masyarakat Yahudi bukan profesi yang baik, dipilih sebagai seorang muridnya. Petrus seorang nelayan sederhana, dipilih sebagai tuatua murid yang lain. Yesus tidak menyukai kekerasan, walaupun itu kepada musuhnya. Ketika Petrus memarang telinga tentara yang akan menangkap Yesus sehingga daun telinganya putus,

daun telinga itu justru diambil oleh Yesus dan dilekatkan kembali ketempat asalnya. Kepada orang yang mendengarkan pengajarannya, beliau tidak melupakan kesejahteraannya. Ketika pada waktu makan dan tidak tersedia makanan, Yesus mengambil sepotong roti kecil dan dua ekor ikan yang dibawa oleh anak kecil kemudian diperbanyak olehnya dan dibagikan kepada orang-orang itu; tetapi manakala pada kesempatan lain orang berbondong-bondong mengikuti, justru Yesus menolaknya karena tahu bahwa motivasinya karena ingin roti hasil mukjijat Yesus. Tiada suatu pengaruh lain yang bisa melenyapkan peoghormatanku pada Yesus Kristus sebagai pribadi pembaharu peradaban manusia Bab 2.4. Kebimbangan Berjalan Terus Terhadap pribadi Yesus, saya tidak mempunyai keraguan tentang pengajarannya. Tentang hukum etis dan moral yang diajarkannya sungguh bernilai tinggi. Tetapi tentang dosa asal, tentang Santo dan Santa, tentang silsilah Yesus; bolehkah semua itu kuanggap tidak penting? Yang penting inti iman. Sampai aku menjadi Guru Agama, kebimbangan itu berjalan terus. Yang saya herankan sekarang ialah, apakah orang yang saya ajar itu tidak bimbang bila saya sendiri yang mengajar sesungguhnya hatiku juga bimbang. Saya tidak tahu, dan belum pernah menanyakan kepada katekumers saya (orang yang aya ajar agama) dan dari mereka saya tidak pernah menerima pertanyaan itu. Lebih aneh lagi sebetulnya, kalau aku mengingat bahwa ketika aku menjadi mahasiswa di Fakultas Pendidikan Kateketik dan berpraktek Stasi di kota kecil Walikukun, Kabupaten Ngawi begitu banyak orang yang saya Katolikkan. Cara pendekatan saya begitu baik sehingga kepada Kepala Desa Mengger, Kepala Desa Karangbanyu dan Kepala Desa Dirgo (Bau) saya bisa minta dikumpulkan orang-orang desa untuk saya ajar agama Katolik. Setelah saya menjadi Guru Agamapun saya boleh dikatakan sebagai Guru Agama yang berhasil dalam hal meng-Katolik-kan banyak orang, atau sekurang-kurangaya membuat suatu masyarakat bernafaskan Katolik. Akhirnya masa tugasku sebagai Guru Agama kujalani di kota kecil Sumpiuh, Kabupaten Banyumas dalam Keuskupan Purwokerto. Tempat tugasku hanya berjarak 5 km dari tempat kelahiranku, Tambak. Di dalam Injil ada disebut: Seorang nabi tak dihargai di negerinya, walaupun begitu tugasku di Sumpiuh dapat kunilai dan dinilai orang lain: sukses. Dalam waktu tiga tahun saya di Sumpiuh saya melayani tiga orang Pastor berturut-turut yaitu: Rama A. Wahyo Bawono Pr, bekas Letnan Kolonel Kostrad Tituler, Rama Antonius Willing MSC, Rama H. Obbens MSC. Dengan dua Pastor yang terdahulu saya bisa bekerja sama dengan baik tidak pernah ada misunderstanding, tetapi dengan Rama Obbens keadaannya lain. Tetapi hubungan yang kurang baik antara saya dengan beliau tidak menjadi alasan yang penting mengapa saya masuk Islam. Kalau hal itu dianggap sebagai proses yang mempercepat mungkin boleh, tetapi jika ini dianggap sebagai penyebab utama tidak mungkin. Seperti lajimnya keluarga Katolik, lebih-lebih saya Guru Agama, maka anak yang baru

lahir itupun kumintakan baptis. Ketika aku menyaksikan upacara baptis anakku timbullah suatu pertanyaan besar: Apakah betul anakku sudah punya dosa asal warisan zaman Adam dan Hawa akibat dosa mereka? Gereja Protestan memang lebih rationil dalam hal pembaptisan ini, yang tidak mau membaptis seseorang tanpa kemauan bebas dan kehendak orang yang bersangkutan. Seperti halnya kakekku yang meletakkan dasar pada pendidikanku sehingga seluruh pribadinya sempat mewarnai juga pribadiku, maka pergaulanku tidak tertutup pada suatu kelompok masyarakat. Dengan orang Protestan dan Islam saya banyak bergaul. Dengan pejabat-pejabat setempat selalu saya memelihara hubungan baik. Tetapi juga dengan kalangan masyarakat yang diemohi oleh masyarakat saya usahakan hubungan yang baik. Dengan wanita pelacur saya tidak segan-segan untuk bergaul dan mengunJungi mereka. Itu semua kulakukan bersama-sama isteriku bila aku mengunjungi tempat-tempat pelacuran. Bukan karena isteriku tidak percaya kepada kesetiaanku, tetapi suara masyarakat yang negatif hampir tidak pernah saya dengar dengan selalu mengajak isteri saya bila ke sana. Di situlah saya berpikir, mengapa Pimpinan Gereja tidak pernah mempunyai konsepsi dan buah pemikiran untuk wanita P? Bukankah Kristus memberi contoh dengan membela Maria Magdalena yang akan dihukum rajam (lempar batu) karena kedapatan sedang berjina? Yesus dengan kewibawaanya berkata: Siapa yang tidak mempunyai; dosa silakan lempar batu dahulu! Kebimbangan itu pada akhirnya sampai pada puncaknya ialah, mula pertama dengan tidak meyakini peranan Bunda Maria sebagai perantara manusia kepada Allah Bapa dan Allah Putera. Jadi imanku Katolik saya kurangi dengan dosaasal, pembaptisan bayi, peranan Bunda Maria. Bolehlah dikatakan saya sudah menjadi Protestan secara praktis. Hal itu memang benar, jika saja proses. itu berhenti sampai di sini saia. Tetapi proses ini berkembang dengan tidak meyakini lagi pada diri saya bahwa Yesus itu Allah, walaupun saya tetap meyakini bahwa Kristus adalah Guru yang baik. Soal Trinitas dan lain-lainnya dapat Saudara baca pada bagian karangan saya yang berjudul: Siapakah Juru Selamat Dunia?, yang dimuat bersama-sama serial ini. Perlu kiranya saya tambahkan bahwa buku: Yesus Kristus dalam Al Quran dan Mohammad dalam Bijbel, karya Drs. Hasbullah Bakri, telah mendorong saya dan membantu studi tentang masalah ketuhanan Yesus. Bab 2.5. Putusan Terakhir Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan terakhir, lebih-lebih jika ini menyangkut soal iman. Pada studi saya lebih lanjut disamping saya sampai pada kesimpulan bahwa Yesus bukan pribadi Allah, sampai juga saya mengimani bahwa Muhammad itu adalah Nabi Utusan Allah. Sebetulnya dengan ini saya sudah menjadi orang Islam dalam batin. Saya seorang yang dalam mengambil keputusan tidak begitu tergesa-gesa, segi-segi saya pertimbangkan

dengan betul. Dalam awal tahun 1977, saya pergi ke Lampung menghadap orang-tuaku untuk mohon doa restu. Keputusanku sudah bulat pada waktu itu ialah: masuk Islam. Teringatlah saya akan sabda Yesus Carilah dulu Kerajaan Allah dan segala kebenarannya yang lain akan diberikan sebagai tambahan (Mateus 6: 33). Ujian pertama, ialah kemarahan orang tuaku, ibuku marah dengan sangat begitu mendengar keputusanku. Saya: pulang dari rumah ibu dengan hati yang berkepingkeping. Di Jakarta saya istirahat beberapa hari. Dan akhirnya saya bisa bertemu dengan Bapak Mollammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang. Beliau sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat. Akhirnya dengan bantuan beliau saya berkuliah untuk memperdalam Agama Islam pada IAIN Sunan Kalijogo, Fakultas Ushuludin Yogyakarta. Keputusanku masuk Islam kutuangkan dalam Pernyataan didepan Bapak Syamsuri Ridwan, Kepala Dep. Agama Kab. Banyumas di Purwokerto disaksikan oleh: AK. Ansori, Somad, Moh. Tohar BA, tgl. 14 Januari 1977. Perpisahan dengan Gereja Katolik bukan berarti perpisahan dengan Yesus atau Isa a.s. Guruku yang pengajarannya kukagumi. Selamat tinggal Gereja Katolik saya merasa berhutang budi kepadamu karena engkau telah mendewasakan pribadiku dan mengembangkannya. Seminggu setelah aku mengambil keputusan ini, aku masih tetap menangis. Bukan menangis menyesal telah mengambil keputusan yang engkau anggap salah, namun perpisahan dengan engkau almamater yang telah sekian lama aku berkecimpung di dalamnya cukup mengharukan dan menyedihkan hatiku. Walaupun pengajaran-pengajaranmu banyak yang tidak kupercaya lagi namun aku ingin menjadi sahabatmu yang baik, walaupun aku sudah dalam biduk lain. Akhir tulisan saya, saya ingin minta maaf kepada para Wali Gereja Katolik terlebih-lebih Bapa Uskup Alb. Hermelink Gentiaras SCY, bekas Uskup Tanjungkarang, Mgr. P.S. Harjosumarto MSC, Uskup Purwokerto, para Pastor yang telah mengenal saya, sesama rekan Guru Agama dan saudara-saudara yang beragama Katolik, barangkali saya dianggap telah mengambil keputusan yang sesat. Namun keputusan itu telah saya ambil dalam kedewasaan pribadi, waktu yang lama, studi yang mendalam dan doa kepada Tuhan. Akhirnya saya mengucapkan selamat tinggal. Bab 3. AGAMA NASRANI Bab 3.1. Trinitas Dogma yaag terbesar dalam Agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik adalah tentang: TRINITAS. Kepadanya semua ajaran dan dogma yang ditetapkan kemudian tergantung. Yang dimaksud dengan Trinitas ialah suatu kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Putera (anak) yaitu Yesus Kristus dan

Roh Kudus. Dogma tentang Trinitas baru dirumuskan dalam abad ke IV dalam suatu Konsili di Nicea. Konsili itu diikuti oleh para Uskup, Theolog kenamaan dan banyak Sarjana Gereja. Keputusan Konsili itu dirumuskan dalam 12 Sahadat para Rasul, di mana dirumuskan bahwa ketiga pribadi dalam Allah yang satu itu adalah sejajar, walaupun digunakan istilah Bapa dan Anak; Dalam doa litani Umat Katolik sebutan Trinitas dirumuskan dengan kata-kata: Allah Tritunggal Kudus Tuhan Yang Maha Esa. Rumusan Konsili Nicea abad ke IV tentang TRINITAS itu mendasarkan pada ucapan Yesus Kristus sendiri dalam Injil Mateus 28: 19 Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus Tetapi apakah benar bahwa ucapan Yesus itu dimaksudkan oleh Yesus sendiri untuk mengajar bahwa dalam Allah yang Esa itu terdapat tiga pribadi, sebab Yesus sendiri secara explicit tidak pernah mengatakan hal itu. Apakah pengakuan orang Kristen tentang Allah tidak bertentangan dengan Ke-ESA-an Allah itu sendiri? Umat Eristen sendiri sulit untuk menjelaskannya; karena itu mereka selalu melarikan diri pada jawaban: misteri Tuhan yang sulit diungkapkan. Bahkan untuk memperkuat jawaban itu, mereka selalu menceriterakan kisah Agustinus, Uskup Hipo yang juga pernah mengalami kebimbangan tentang TRINITAS. Untuk memecahkan hal itu Uskup Agustinus berjalan-jalan di tepi laut. Di situ Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang membuat sumur-sumuran dengan menggali pasir di tepi laut itu. Uskup Hipo itu bertanya: Untuk apakah sumur-sumur itu, nak? Anak itu menjawab, Saya akan memasukkan semua air laut ke dalam sumur ini. Akhirnya, Agustinus mengambil kesimpulan, misteri Tuhan adalah begitu luas seperti luasnya samudera yang tak kelihatan tepinya; sedang otak manusia hanya terbatas seperti sumur-sumuran yang dibuat oleh anak kecil itu. Jadi tidak mungkin kita dapat mengerti dengan jelas misteri Allah; oleh karena itu walaupun Trinitas merupakan hal yang sulit, terimalah saja seperti itu, Marilah kita membuka halaman pertama dari AlKitab, pada Kitab Kejadian (Genesis = Purwaning Dumadi) pada pasal yang pertama. Pada Kejadian 1:26, kita baca: Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita Dalam anak ayat yang sependek itu kita menjumpai 2 kata kita, sebagai kataganti untuk Allah. Bukankah dengan kata kita terkandung pengertian ada lebih dari satu Allah? Mungkinkah kataganti untuk Allah memang dipakai kata kita? Tetapi kalau kita membuka lebih lanjut pada Kejadian 1:29 kita baca : Berfirmanlah Allah: Lihatlah, AKU memberikan kepadamu. Mengapa di sini dipakai kata AKU untuk ganti Allah? Bukankah dengan melihat kenyataan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa memang sungguh ada lebih dari satu Allah? Sekarang yang hendak kita persoalkan ialah Sabda Yesus pada Injil Mateus 28: 19;

siapakah sebetulnya Bapa, Anak dan Roh Kudus seperti sabda Yesus dalam Mateus 28: 19? Sering orang Kristen mengatakan bahwa pengertian Umat Islam tentang Allah masih kurang lengkap, sebab orang Islam hanya mengenal Allah Bapa saja. Baiklah, kita setuju saja dengan mereka bahwa yang kita imani sebagai Allah adalah Allah Bapa seperti yang diimani oleh orang Kristen, tetapi siapakah anak dan siapakah Roh Kudus? Kalau kita membaca seluruh isi Perjanjian Lama, maka semua Nabi dan orang Kudus pada waktu itu disebut sebagai Anak Allah. Bahkan oleh Yesus sebutan Anak Allah itu diperluas bagi mereka yang membawa damai. Dalam kotbah di bukit yang kemudian terkenal dengan Delapan Sabda Bahagia Yesus bersabda: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Mateus 5: 9). Jadi jelas bahwa sebutan Anak Allah bukan monopoli pribadi Yesus sendiri, tetapi untuk semua Nabi dan mereka yang membawa damai, Yesus sendiri dalam Mateus 6:9 mengajar murid-murid-NYA sebuah doa yang kemudian menjadi terkenal dengan sebutan: DOA BAPA KAMI. Dalam doa itu Yesus mengajar kepada kita agar menyebut Bapa kepada Allah yang ada di Surga. Hal ini nyata juga kalau kita perhatikan sabda Yesus pada Mateus 15: 13. Jawab Yesus: Setiap tanaman yang ditanam Bapa-Ku Dalam ayat itu Yesus menyebut Allah dengan perkataan Bapa-KU, sedang di ayat lain Yesus menyebut Allah dengan perkataan Bapa-mu (Mateus 10:20). Yesus sendiri rupanya lebih senang dengan predikat Anak manusia. (Periksalah Injil Mateus pasal 16 keseluruhan). Sekarang siapakah Roh Kudus itu? Untuk itu Yesus menjelaskan sebagai berikut: AKU (Yesus) akan minta kepada Bapa, dan IA akan memberikan kepadamu seorang Ponolong yang lain, supaya IA menyertai kamu, yaitu Roh Kebenaran (Injil Yohanes 14: 16). Jadi Penolong yang akan datang adalah seorang (tentunya seorang manusia). Sedang sesuatu disebut Roh ialah jika ia sudah mati atau belum lahir. Jadi jelaslah bahwa Penolong yang dijanjikan Yesus adalah seorang yang belum lahir. Siapakah dia? Mungkinkah Paulus? Baiklah, hal ini akan kita tinjau lebih lanjut. Bila kembali kepada ucapan Yesus pada Mateus 28: 19: , dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Apakah artinya baptis? Orang Yahudi mempunyai kepercayaan bahwa Allah akan menyelamatkan setiap manusia. Tetapi dari fihak manusia ada yang menerima penyelamatan dari Allah dan ada yang tidak mau. Mereka yang mau menerima penyelamatan itu diharuskan bertobat, dan sebagai tanda tobat mereka dibaptis. Upacara baptis biasanya dilakukan di sungai dengan mencelupkan kepala mereka ke dalam air. Upacara baptis sekarang diteruskan oleh semua Gereja Kristen dan Katolik sebagai lambang penerimaan mereka akan iman Kristen, hanya caranya yang berbeda. Ada Gereja yang membaptis dengan betul-betul mencelupkan kepala calon baptis di sebuah sungai, ada yang hanya mencucurkan air pada salah satu bagian tubuh yang biasanya adalah kepala. Upacara baptis itu kemudian diakui sebagai Sakramen. (Sakramen = setiap ucapan dan perbuatan Yesus yang mendatangkan Rahmat). Jadi dapatlah disimpulkan bahwa baptis ialah tanda bahwa manusia itu telah diselamatkan,

karena menurut kepercayaan umat Kristen pada waktu sekarang dibaptis (= dipermandikan) semua dosanya dihapus. Jadi ucapan Yesus dalam Mateus 28: 19: dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dapatlah diartikan, selamatkanlah mereka dengan nama (ajaran) Allah dan seorang nabi dan lebih-lebih ajaran seorang penolong yang datang sesudah Yesus. Tetapi siapakah Penolong yang datang sesudah Yesus? Pauluskah? Karena Paulus adalah seorang pembaharu yang datang sesudah Yesus. Pada peninjauan lebih lanjut kita akan membahas siapakah Penolong itu. Bab 3.2. Keturunan Ibrahim Orang Yahudi, yang kemudian juga orang Kristen (Protestan dan, Katolik) mempunyai kepercayaan bahwa Messias atau penyelamat dunia, Juru Selamat; adalah berasal dari keturunan Ibrahim, keturunan Daud. Sadar akan kepercayaan ini, maka Mateus pada permulaan Injil-nya menulis bahwa Yesus adalah keturunan Ibrahim, keturunan Daud. Inilah sisilah Yesus Kristus, maka Daud, anak Ibrahim (Mt. 1: 1). Sedangkan silsilah itu ternyata merupakan sesuatu yang dipaksakan. Perhatikanlah: setelah Mateus menyuguhkan kepada kita deretan nama-nama yang merupakan deretan keturunan Ibrahim dalam Injilnya pada pasal 1 ayat 2 sampai dengan 15, maka pada ayat ke 16, Mateus menulis: Yakub memperanakan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kalau kita perhatikan dengan baik, maka yang menjadi keturunan Ibrahim adalah Yusuf bukan Maria, Padahal orang Kristen mengimani bahwa Yesus tidak lahir dari hubungan Yusuf dan Maria. Jadi jelas bahwa Yesus sendiri menurut Mateus adalah bukan keturunan Ibrahim, keturunan Daud. Menurut kepercayaan orang Kristen bahwa Penyelamat dunia akan lahir dari anak Ibrahim. Ibrahim sendiri beranak 2 dari 2 orang isteri pula, yakni Sara dan Hagar. Tetapi umat Kristen menekankan bahwa anak Ibrahim yang syah adalah Ishak, yang lahir dari Sara: sedang Ismail bukanlah anak Ibrahim yang syah karena lahir dari seorang budak, jadi tidak mungkin Juru Selamat Dunia lahir dari keturunan Ismail. Betulkah Ismail bukan anak Ibrahim yang syah? Sebagai dasar untuk membuktikan bahwa hanya Ishak yang merupakan anak Ibrahim yang syah, umat Kristen mempergunakan Kitab Kejadian 22: 2, Firman-NYA: Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak. Apakah Ismail bukan anak Ibrahim yang syah? Hal ini nyata dibantah sendiri oleh Kitab Kejadian pasal 21: 13: Tetapi keturunan dari hambamu itu (Ismail) juga akan KU-buat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu. Bangsa Yahudi (Israel) mempercayai bahwa mereka adalah bangsa pilihan dimana sejarah penyelamatan manusia akan selalu bersumber kepada dan dari bangsa itu. Jadi menurut kepercayaan mereka Juru Selamat Dunia akan datang dari bangsa Israel. Tetapi apakah keturunan Ibrahim itu hanya yang lahir sebagai anak- anak Ishak? Rupanya hal

ini dibantah sendiri oleh Yesus Kristus: Dan janganlah mengira, kamu dapat berkata dalam hatimu: Ibrahim adalah bapa kami. Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak Ibrahim dari batu-batu itu. (Mateus 3: 9). Jadi jelaslah bahwa keturunan Ibrahim bukan saja yang lahir sebagai anak-anak Ishak tetapi juga dari batu-pun bisa jadi keturunan Ibrahim, lebih-lebih anak-anak Ismail yang nyata diakui dalam Kiitab Kejadian. Kalau Juru Selamat Dunia harus lahir sebagai keturunan Ibrahim maka tentu tidak menutup kemungkinan bahwa Juru Selamat itu adalah lahir dari garis Ismail. Tetapi kalau juga ditentukan bahwa Juru Selamat itu lahir dari garis Ishak, tetapi apakah Juru Selamat itu juga harus Anak Daud? Hal itupun akan ditinjau pada pasal-pasal berikut. Bab 3.3. Yesus dan Hukum Taurat Apakah yang disebut Kitab Taurat? Taurat adalah merupakan kumpulan lima buah Kitab yang kemudian dikenal sebagai dikarang oleh Musa yang sekarang diterima oleh Umat Kristen sebagai lima Kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Ke-lima Kitab itu ialah: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulang-tutur (Ulangan). Di dalam Kitab Taurat memuat Kisah penciptaan bumi langit, sejarah manusia pertama, panggilan Tuhan kepada Ibrahim, riwayat keturunan Ishak yang kemudian dikenal sebagai bangsa Israel, perbudakan bangsa Israel oleh Bangsa Mesir, panggilan Tuhan kepada Musa untuk menyelamatkan Bangsa Israel juga memuat tentang hukum-hukum moral yang wajib ditaati oleh Bangsa Israel. Apakah tugas Yesus sehubungan dengan Hukum Taurat? Yesus sendiri menegaskan misinya: Janganlah kamu menyangka, bahwa AKU datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena itu aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, sekalipun yang paling kecil dan mengajarkan demikian, ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Sorga (Mateus 5: 17-19). Salah satu HUKUM TAURAT ialah tentang SUNAT. Sunat dalam Hukum Taurat dipandang sebagai satu perjanjian dengan Tuhan. Hal ini dapat kita baca dalam Perjanjian Lama. Lagi firman Allah kepada Ibrahim: -Dari fihakmu, engkau harus memegang perjanjian-KU, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-KU, yang harus kamu pegang, perjanjian antara AKU dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatannya dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara AKU dan kamu (Kejadian 17: 9-11). Sunat, yang dipandang oleh Tuhan sebagai tanda perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim (serta keturunannya) telah dianggap sesuatu yang tidak ada gunanya oleh Paulus. Sunat memang ada gunanya, jika engkau menaati Hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah

sunat? (Surat Paulus kepada orang Kristen di Rom 2: 25-26). Ternyata Paulus begitu pandai sekali memutar-balikkan kalimat. Bagaimana mungkin orang yang tak bersunat bisa dikatakan memperhatikan Hukum Taurat, jika Sunat itu sendiri merupakan suatu kewajiban dari Hukum Taurat? Kalau kita perhatikan ucapan Yesus di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: Paulus akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Allah. Paulus dapat dianggap penyesat dari Hukum Taurat yang Yesus sendiri tidak berani merubahnya. Kita ambil contoh lain dari begitu banyak Hukum Taurat yang dilanggar oleh muridmurid Yesus sendiri, Hukum itu ialah tentang hukum hari Sabat. Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-KU harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara AKU dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Aku-lah TUHAN, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari Kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi Tuhan; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati (Kejadian 31: l3-15). Hari Sabat dan segala kekudusannya yang sudah begitu tinggi ditegaskan oleh Tuhan sampai-sampai kepada siapa yang melanggar ancaman hukumannya adalah mati, telah dilanggar sendiri oleh para murid Yesus dengan memetik gandum pada hari Sabat (Mateus 12: 2). Akan kita menaruh hormatkah kepada mereka yang melanggar hukum Taurat padahal guru mereka sendiri mengatakan bahwa kedatangan-NYA bukan untuk merubah hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya. Kita kembali pada pertanyaan: Siapakah Penolong yang datang sesudah Yesus? Pauluskah? Sekarang kita sendiri dapat menjawab dengan tegas bahwa Penolong yang dimaksud oleh Yesus yang akan datang sesudah beliau adalah bukan PAULUS, karena Paulus telah menyelewengkan salah satu hukum Taurat tentang sunat yang oleh Yesus orang semacam Paulus dikatakan sebagai orang yang paling rendah dalam Kerajaan Allah. Kalau kita mau kembali ucapan Yesus: dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan dapat kita baca, selamatkanlah mereka dalam ajaran Allah, ajaran para nabi dan ajaran seorang penolong yang datang sesudah Yesus, Pertanyaan siapakah penolong itu ternyata belum dapat kita jawab sekarang. Bab 3.4. Hal Masuk Surga Setiap orang tentu menginginkan bahwa setelah kehidupan di dunia dia akan berpindah kekehidupan di akhirat yang membahagiakan, atau masuk surga. Kebahagiaan di surga sebagai suatu hal yang tak dapat diceriterakan dan dibayangkan oleh panca indera. Tentang hal in, Yesus menandaskan bahwa: Aku berkata kepadamu sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk kedalam Kerajaan Surga. Sekali lagi AKU berkata

kepadamu lebih mudah seekor unta masuk melalui tubang jarum daripada seorang kaya masuk kedalam Kerajaan Allah (Mateus 19: 23-24). Kita melihat bahwa lembaga yang disebut Gereja lebih-lebih Gereja Katolik, secara nyata adalah suatu lembaga yang kaya. Kekayaan mereka nampak pada Gedung-gedung Gereja, Rumah, Sekolah milik mereka. Juga mobil-mobil mewah milik Gereja. Walaupun mereka berkata bahwa itu semua dibutuhkan demi charitatif (cinta-kasih), namun mereka toh tidak dapat menyembunyikan kekayaan mereka. Padahal Yesus sendiri menyuruh murid-muridnya supaya jangan membaws emas dan perak atau tembaga dalam ikat pinggang, jangan membawa bekal dalam perialanan, jangan membawa baju dua helai, kasut atau tongkat (Mateus 10:9-10). Sudah benarkah Gereja dalam menjalankan amanat Agung junjungan mereka, Yesus Kristus? Mereka mungkin akan berkata, bahwa setiap ayat Injil harus ditafsirkan dengan benar oleh kuasa Gereja. Tetapi apakah tafsirannya yang tepat jika dikatakan bahwa kita tidak boleh membawa emas, membawa perak dan sebagainya? Sesungguhnya semua orang di dunia ini dapat menjadi Kristen, jika saja Gereja percaya penuh kepada Yesus tanpa reserve. Apa yang diminta dengan penuh kepercayaan tentu akan diberi. AKU berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah kedalam laut. Hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kami menerimanya. (Mateus 91: 21-22) Gereja ternyata tidak mempunyai iman yang mendalam kepada Yesus disamping dalam perjalanan sejarahnya membuat banyak perobahan-perobahan sendiri terhadap ajaranajaran Yesus. Itu pula sebabnya mengapa tidak semua orang di dunia ini memeluk agama Kristen. Bab 3.5. Yesus Juru Selamat Bangsa Israel Kepada siapakah sebetulnya Yesus diutus oleh Allah? Dalam Injil Yohannes 20: ayat 21, Yesus bersabda: Sama seperti Bapa mengutus AKU, demikian juka sekarang AKU mengutus kamu. Luas perutusan Yesus kepada murid-murid-NYA adalah sama dengan luas perutusan yang diterima oleh Yesus dari Bapa. Jadi tidak mungkin Yesus mengutus murid-murid-Nya lebih luas dari perutusan-Nya sendiri yang diterima-Nya dari Bapa. Yesus dalam salah satu sabda-Nya pernah. bersabda bahwa Dia diutus hanya kepada domba hilang dari Bangsa Israeli. Rupanya Yesus-pun mengutus murid-murid-Nya hanya kepada Bangsa Israel saja. Janganlah kamu menyimpang ke jalan Bangsa lain atau masuks ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari pada Umat Israel (Mateus 10: 5-6). Bahwa Yesus adalah Utusan Allah khusus untuk Bangsa Israel, menjadi lebih jelas lagi, ketika beliau menegaskan bahwa para murid-Nya yang berjumlah 12 orang itu akan

duduk pada 12 tahta untuk mengadili orang Yahudi. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu pencitaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi dua belas suku Israel (Mateus 19:28). Bagaimana ciri, Juru Selamat dunia yang dijanjikan oleh Allah? Juru Selamat itu bukan hanya diutus untuk sesuatu bangsa tertentu saja, akan tetapi haruslah dimaksudkan untuk seluruh Bangsa. Yang kepadanya bangsa-bangsa akan berharap, Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa (semua bangsa), bukan hanya kepada satu bangsa tertentu saja. Untuk ini maka Nabi Yesaya, tokoh Perjanjian Lama yang terkenal meramalkan: Lihatlah, itu Hamba-KU yang KU-pilih, yang Ku-kasihi yang kepadanya jiwa-KU berkenan; Aku akan menaruh roh-KU keatas-Nya, dan ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa (Mateus 12: 18). Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap (Mateus 12: 21). Sabda Yesus yang perlu juga kita perhatikan adalah yang tercantum dalam Injil Mateus 10:41: Barang siapa yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima ubah nabi, dan barang siapa yang menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah sebagai orang benar. Kita kembali kepada pertanyaan pada pasal-pasal yang lalu: Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang akan datang sesudah Yesus? Tentu seorang nabi, karena jelas bukan Paulus? Sekarang pertanyaan kita: Siapakah nabi itu? Kita belum tahu, tetapi pasti harus seorang nabi, utusan Allah. Yesus memang Juru Selamat, tetapi seperti apa yang pernah ditandaskan-Nya sendiri bahwa beliau datang untuk domba bangsa Israel yang hilang. Kalau Yesus sudah memberikan pertanyaan tentang dirinya dan murid-murid-Nya begitu jelas, apakah kita harus berkata bahwa Yesus dikirim Allah untuk semua bangsa? Dengan menyatakan hal itu maka berarti bahwa kita tidak menaruh hormat kepada beliau, baik selaku pribadi maupun selaku Nabi Allah yang besar. Kalau Yesus sendiri lebih senang memakai predikat: Anak manusia, mengapa kita harus memaksakan dengan mengatakan bahwa beliau adalah: Anak Allah? Apakah Yesus sendiri tidak akan marah kalau diri-Nya disebut dengan cara yang tidak benar, walaupun predikat yang kita berikan kepadanya lebih tinggi? Pernah pada suatu waktu Bapak Presiden Soeharto begitu marah sekali ketika majalah POP menulis tentang silsilahnya dimana dikatakan bahwa sesungguhnya beliau adalah keturunan bangsawan, keturunan kraton. Artikel semacam itu kemudian dibantah sendiri oleh beliau, bahkan dianggap sebagai penghinaan; dalam kesempatan itu beliau menandaskan bahwa beliau hanya seorang anak petani biasa. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Allah, kita telah berbuat kesalahan yang besar, sebab Yesus sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah, bahkan sebutan itu ternyata berlaku untuk semua orang yang membawa damai seperti yang

pernah kita singgung pada bab pertama tentang TRINITAS. Dengan menyebut sesuatu yang tidak benar yang menyimpang dari apa yang dikatakan Yesus sendiri berarti kita tidak menyambut Yesus sebagai Nabi Allah yang benar. Dan apakah Umat Kristen telah menyambut Utusan Allah sesudah Yesus dengan benar? Apakah Muhammad itu utusan Allah? Apakah ada bukti-bukti kenabian melekat pada diri beliau? Apakah Yesus juga menyebut hal itu? Semoga pasal yang terakhir dan uraian kami akan dapat menjawab pertanyaan di atas. Mungkin jawaban yang akan diperoleh tidak begitu memuaskan pada saat permulaan tetapi jika Saudara mau merenungkan, dan lebih-lebih mempelajari dari buku-buku yang bobot ilmlyahnya lebih tinggi dari ini; kami percaya bahwa Saudara akan mempunyai kepuasan yang Saudara harapkan. Semoga Bab 3.6. Siapakah Sebetulnya Juru Selamat Dunia? Bangsa Yahudi/Israel mempunyai keyakinan bahwa Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dan juga keturunan Daud, hal ini berarti Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dari garis Ishak bukan dari garis Ismail. Tetapi ternyata keyakinan itu sendiri disangkal oleh Yesus sendiri. Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: Apakah pendapatmu tentang Mesias (Juru Selamat)? Anak siapakah Dia? Kata mereka kepada-Nya: Anak Daud. Kata Yesus kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuhan-nya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuhan-ku: duduklah di sebelah kanan-Ku sampai musuh-musuh-Mu kutaruh dibawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuhannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? Tidak ada seorangpun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya (Mateus 22: 41-46). Untuk mengklaim bahwa Juru Selamat Dunia adalah Bangsa Yahudi/Israel maka Mateus tidak segan-segan untuk memaksakan silsilah Yesus menjadi sedemikian rupa, sehingga Yesus menjadi Anak Ibrahim, Anak Daud. Tetapi jika ada bukti bahwa Yesus memang benar Anak Daud, namun kenyataan ini tidak bisa membuktikan bahwa Dia adalah Mesias, karena terhadap itu Yesus bahkan telah membantahnya. Yesus memang Mesias tetapi hanya untuk Bangsa Israel saja. Pada suatu hari Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: Menurut kamu, siapakah Aku? Jawab Petrus: Messias dari Allah. Dalam sejarah umat manusia telah beberapa saja Tuhan mengirim Nabi kepada Bangsa Israel, tetapi ternyata seperti Yesus sering-kali ucapkan bahwa Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar hati; maka untuk itulah kiranya Tuhan mengirim Nabi Bangsa Israel, Nabi yang terbesar dari nabi-nabi sebelumnya agar bangsa Israel menjadi selamat. Jadi Yesus memang Juru Selamat Bangsa Israel. Kita tidak boleh menyangkal kenyataan ini, sebab setiap orang yang mengakui Yesus di depan manusia akan diakui juga oleh Yesus di hadapan Tuhan, dan barang siapa yang menyangkal Yesus di hadapan manusia akan disangkal Yesus dihadapan Allah. (Mateus 10: 32-33). Alhamdulillah, Umat Islam bukan termasuk Umat yang menyangkal Yesus Umat Islam mengakui bahwa beliau adalah Utusan Allah, Nabi

Besar dari deretan Nabi-Nabi sebelumnya. Rupanya karena Bangsa lsrael memang merupakan bangsa yang tegar hati sampai-sampai Yesus bersabda: Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan Allah (Mateus 21: 43) Bangsa apa yang dimaksud oleh Yesus? Janji Tuhan akan tetap terlaksana. Demikian juga janji Tuhan kepada Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua orang anak, yaitu Ishak dan Ismail. Keduanya menurunkan bangsa yang besar, ialah Bangsa Israel dan Bangsa Arab. Jadi jika Kerajaan diambil dari bangsa Israel, maka akan lebih mudah masuk pada akal jika kemudian diserahkan kepada Bangsa Arab. Jadi akan masuk diakal jikBa Juru Selamat Dunia akan lahir dari Bangsa Arab, yakni keturunan Ibrahim dari garis Ismail. Apakah hal ini mungkin? Dalam Mateus 21: 42 dan juga Mazmur 118: 22-23, kita membaca: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari fihak Tuhan suatu perbuatan ajaib di mata Kita. Apakah yang dimaksud batu yang dibuang itu? Dan apakah yang dimaksud dengan batu penjuru? Atas anjuran dari Sarah: Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya! (Kejadian 21 : 10) maka Ibrahim lalu membuang Hagar dan Ismail. Bukankah hal itu jelas bagi kita, bahwa keturunan Ibrahim dari garis Ismail telah dibuang oleh Ibrahim sendiri sebagai tukang bangunan? Apakah batu penjuru itu? Kita tahu bahwa semua orang Islam yang bersembahyang menghadap kepada penjuru yang samas yakni Kabah. Kita kembali kepada pertanyaan Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang datang sesudah beliau? dan baptislah mereka demi nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mateus 28: 19), yang dapat kita artikan: dan selamatkanlah mereka demi nama Tuhan, dengan ajaran para Nabi dan lebih-lebih ajaran Nabi sesudah Yesus Siapakah Nabi sesudah Yesus? Ia adalah batu yang di buang oleh tukang bangunan dan sekarang menjadi batu penjuru. Ia tentu harus keturunan Ismail. Siapakah dia? Jawab-nya tidak ada dua: Muhammad! Apakah Muhammad juru selamat dunia? Ya, pasti. Bab 4. KRISTENISASI Bab 4.1. Arti Kristenisasi 1. Yang dinamakan kristenisasi ialah mengkristenkan orang atau membuat seseorang memeluk agama Kristen. Arti kata-kata itu menurut istilah ialah: mengkristenkan orang secara besar-besaran dengan segala daya upaya yang mungkin agar supaya adat dan pergaulan dalam masyarakat mencerminkan ajaran agama Kristen. Masyarakat yang demikian akan lebih melancarkan tersiar luasnya agama Kristen. Akhirnya kehidupan rohani dan sosial penduduk diatur dan berpusat ke gereja. 2. Kristenisasi tidak hanya dilancarkan terhadap orang-orang yang belum memeluk agama atau mereka yang memeluk agama animisme saja, tetapi juga ditujukan

3.

4.

5.

6.

terhadap orang yang telah memeluk agama Islam. Pengkristenan dipercayai sebagai satu tugas suci yang dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh ditinggalkan. Mengkristenkan orang dianggap sebagai membawa kembali anakanak domba yang tersesat, dibawa kembali kepada induknya. Manusia-manusia sebagai anak domba akan dibawa kepada kerajaan Allah. Kristenisasi adalah usaha internasional, artinya mereka bermaksud menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia. Dapat diakui bahwa ini adalah mutlak hak asasi mereka, sebagaimana orang Muslimin-pun mempunyai tugas menyiarkan Islam ke seluruh dunia. Namun demikian memang perlu sama-sama disadari perlunya suatu garis pengamanan yang dapat menghindarkan terjadinya pergesekan dan perselisihan, sehingga masing-masing pemeluk agama tertentu tidak merasa cemas untuk dipaksa atau dibujuk atau diusahakan pindahnya kepada agama lain. Garis ini harus jelas dan ditaati terutama oleh para pemeluk agama yang telah disahkan oleh Negara Republik Indonesia seperti misalnya agama Islam dan Kristen (Masehi). Pada tanggal 30 Nopember 1967 Pemerintah mengadakan Musyawarah Antar Agama bertempat di gedung Dewan Pertimbangan Agung Jakarta, dengan maksud antara lain untuk membina saling pengertian dan saling toleransi antara pemeluk-pemeluk agama terutama Islam dan Masehi. Dalam sambutan tertulis Jenderal Suharto pada waktu itu, Pejabat Presiden Republik Indonesia, menyatakan keprihatinannya atas kenyataan bahwa penyiaran agama masih dilakukan orang terhadap mereka yang telah memeluk agama tertentu. Dijiwai oleh sambutan Pejabat Presiden itu maka pihak umat Islam mengusulkan rumusan persetujuan, yaitu: rakyat yang telah beragama jangan dijadikan sasaran penyebaran agama lain. Pihak Masehi menolak keras usul itu. Maka dicoba untuk mengadakan pertukaran pikiran dan pendekatan-pendekatan namun sia-sia, yang mengakibatkan musyawarah yang berlangsung hampir 24 jam itu tidak menghasilkan sesuatu yang kongkrit. Kristenisasi dalam pengertian politik ialah: berusaha untuk lahirnya undangundang ataupun peraturan atau tindakan dan sikap penguasa, yang memberi kesempatan lebih banyak lagi bagi tersiarnya agama itu atau menguntungkan bagi agama itu. Apabila penyebaran dalam masyarakat telah berhasil dan dalam bidang politik berhasil pula, maka terbukalah jalan yang selebar-lebarnya untuk menjadikan keseluruhan masyarakat bernapaskan Kristen, sehingga diharapkan dengan cepat umat Kristen akan menjadi mayoritas, seperti umpamanya kejadian di Pilipina, yang sekarang ini ternyata menjadi basis perluasan ke seluruh Asia Tenggara. Usaha Kristenisasi itu dilakukan dengan segala daya, beaya peralatan yang lengkap, rencana yang masak, tehnik yang tinggi, kemauan dan kesungguhan yang mantap dan kuat, keyakinan yang mendalam serta melalui segala jalan dan saluran yang meresap dalam hampir semua aspek kehidupan manusia: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan segala macam hiburan.

Bab 4.2. Sejarah Kristenisasi oleh Agama Protestan 1. Zending Protestan pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1831 dengan dua orang pendeta bernama Riedel dan Schwarz ke Minahasa. Pada tahun 1850 mereka membuka

sebuah Kweekschool (sekolah pendidikan guru) di Tomohon dan pada tahun 1868 dibuka pula Sekolah Guru Injil (Hulpzendelingen). Kristenisasi di Minahasa itu ditangani dan dibeayai oleh Nederlandse Zendelinggenootschap yang didirikan di Rotterdam tahun 1787. Pada tahun 1882 di Minahasa juga didirikan asrama dan sekolah khusus bagi anakanak pegawai negeri serta orang-orang terkemuka. Semua sekolah tersebut mendapat subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1888 mereka mendirikan percetakan untuk mencetak buku-buku, selebaran dan sebuah surat kabar yang bernama, Cahaya Siang. 2. Di kepulauan Sangihe dan Talaud bangsa Portugis telah lebih dahulu menyiarkan agama Kristen. Pekerjaan ini kemudian diambil alih dan diteruskan oleh bangsa Belanda di Ambon dan Maluku dipelopori antara lain oleh: J. Kam pada pertengahan abad ke 19 juga. Dia adalah utusan dari Nederlandse Zendinggenootschap tersebut. Kemudian mereka luaskan sampai ke pulau Buru. Adapun daerah Sulawesi Tengah dan Tenggara kristenisasi dilakukan oleh Bala Keselamatan atau Leger des Heils, sedang Gereformeerde Zendingbond mengirimkan pendeta Van Den Loodrecht ke Luwuk pada tahun 1913. Di Bolaang Mongondow pengkristenan dilakukan oleh Nederlandse Zendinggenootsehap. Pada tahun 1904 seorang raja meminta kepada Zending itu untuk mendirikan sebuah H.l.S. disana. Sekolah ini terlaksana pada tahun 1913. Perkumpulan De Nederlandse Zendingvereniging yang semula diberikan tugas mengkristenkan Jawa Barat, pada tahun 1915 juga beroperasi di Sulawesi Tenggara. 3. Kristenisasi di Jawa Timur dipelopori oleh seorang tukang jam bangsa Belanda di Surabaya yang bernama Emde dan seorang tuan tanah bernama C. Coolen kira-kira pada tahun 1840. Empat tahun kemudian pengikut mereka berhasil membentuk sebuah desa Keristen di Mojowarno di mana dewasa ini berdiri sebuah rumah sakit Kristen yang amat besar dan modern. Pada tahun 1848 seorang zendeling lagi yaitu E.J. Jellesma datang ke Surabaya lalu ke Mojowarno. Dengan dibantu oleh seorang guru Injil Paulus Tosari didirikannya sebuah Kweekschool yang kemudian terpaksa ditutup pada tahun 1858. Tetapi pada tahun 1500 dapat dibuka kembali. Murid-murid dari pengikut C. Coolen menyebarluaskan agama Kristen ini sampai ke Pasuruan dan Kediri. Kemudian berdatangan para zendeling dari negeri Belanda untuk menyebarkan agamanya di tengahtengah umat Islam. Mereka mendirikan rumah sakit rumah sakit di banyak tempat di samping rumah sakit besar Mojowarno. 4. Di Jepara tinggal seorang bernama Tunggul Wulung yang terkenal dengan julukan Kiyahi Berahim. Dia adalah seorang petapa yang mengaku telah mendapat wahyu dari Allah lalu masuk Kristen. Tetapi kemudian dia campur-adukkan kepercayaan Kristen dengan Islam dan animisme, akhirnya dia tidak diakui lagi oleh gereja. Ada pula seorang santri bernama Sadrah, yang berhasil ditarik memeluk agama Kristen oleh seorang zendeling yang bernama Hoezoo. Sadrah kemudian mengembara hampir ke seluruh tanah Jawa dan banyak bertemu serta berwawancara dengan penyebar agama Kristen lainnya. Di Jakarta, dahulu Batavia, dia bertemu dengan MR. F.L. Anthing, bekas pejabat tinggi kehakiman di Semarang yang telah pindah ke Jakarta, Dia ini sangat besar jasanya dalam pernyebaran Kristen. Tahun 1867 Sadrah dibaptiskan dan dua tahun kemudian dia dipindahkan ke Purworejo untuk menyiarkan Kristen bekerja sama dengan nyonya

Philips. Tahun 1870 pindah ke desa Karangjasa dekat Bagelen dan terus giat menyebarkan agamanya dan memimpin kaum Kristen Jawa. Dari sana Kristenisasi diperluas oleh Dewan Gereja (Gereformeerde Kerken) ke Banyumas dan Kedu lalu meluas ke Yogyakarta dan Surakarta. 5. Adapun di Sumatera pekerjaan zending dapat dikatakan dimulai pada tahun 1890 di dacrah Sumatera Pasisir Timur. Pada tahun 1894 mereka sampai ke utara Danau Toba daerah Batak Karo. Pada tahun 1915 mereka dirikan rumahsakit di bawah pimpinan seorang Zuster bangsa Belanda. Pulau Nias dimasuki pada tahun 1866 oleh para zendeling dari perkumpulan Rheinische Missionsgeselschaft, yaitu gabungan zending yang berdiri pada tahun 1823 dan berpusat di Barmen wilayah Dusseldorf, Jerman. Mereka juga melebarkan sayap ke Pulau Mentawai dan Enggano. Rheinische Missionsgeselschafe ini juga beroperasi di pulau Kalimantan sebelah Selatan dan Timur untuk mengkristenkan suku Dayak. Pada tahun l904 kelihatan kemajuannya di Kuala Kurom dan Kahayan Hulu, lalu meluas dengan pesat. Demikianlah ringkasan sejarah kristenisasi yang dilakukan oleh agama Protestan di tanah air kita. Bab 4.3. Sejarah Kristenisasi oleh agama Katolik 1. Pada tahun 1902 di Batavia (Jakarta) mulai didirikan Apostolisch Vicariaan Van Batavia. Tetapi agama Katolik telah masuk ke Indonesia jauh sebelum itu. Pada abad ke 16 agama ini telah memasuki kepulauan Maluku, Ambon, Ternate, Solor dan Nusa Tenggara. Penyebarannya mula-mula dilakukan oleh bangsa Portugis yang menguasai kepulauan itu. Pada tahun 1546 seorang Apostel (muballigh) dari India juga datang ke sana, bernama Fransiscus Xaverius. Dia berhasil menarik simpati pemerintah Portugis dan penduduk asli. Tahun 1605 pulau Ambon dapat ditaklukkan. Pada waktu itu di Ambon telah ada 4 buah gereja dan sekitar 16.000 orang beragama Katolik. 2. Agama Katolik memasuki Sulawesi dari Makasar, dan itu semua dilakukan oleh pengikut madzhab Dominicus Orde (H. Dominicus hidup tahun 1170 - 1221) dan pengikut madzhab Yesuiten Orde. Madzhab Yesuit ini pada mulanya didirikan oleh seorang bangsawan Spanyol bernama Ignatius Loyola yang lahir tahun 1491. Dia adalah penganut aliran mistik dalam agama Katolik. Dalam peperangan melawan Perancis mendapat cedera yang mengakibatkan kelumpuhan seumur hidup. Mistiknya bertambah menebal dan mendapat banyak pengikut. Pada tahun 1529 dibentuknya di Paris suatu jamaah yang dibaiat untuk mengabdi kepada Paus dan menyebarluaskan agama Katolik, Tahun 1539 semua anggota jamaah dilantik menjadi pastor dan tahun 1560 Paus Paulus III meresmikan jamaah ini sebagai Jamaah Yesus atau the Society of Yesus. Jamaah terus berkembang maju dan bersama Orde Yesuit. 3. Gerakan agama Protestan yang sangat memusuhi Gereja Katolik berhasil menghancurkan kedudukan Missie Katolik di India sejak abad ke 17. Tetapi revolusi Perancis telah menyebabkan terjadinya pergolakan politik di negeri Belanda yang mengakibatkan hancurnya pusat Zending Protestan dan bangkitnya kembali Missie Katolik, serta menjadi sangat kuat. Setelah jazirah Malaka dikuasai oleh bangsa Belanda dan kekuasaan mereka di Indonesia bertambah mantap, maka secara bertahap penyebaran

agama Katolik di Sulawesi diambil-alih oleh bangsa Belanda, yaitu pada tahun 1807. Tujuh tahun kemudian yaitu tahun 1904 Pusat Missie Katolik di negeri Belanda mengirimkan 2 orang utusannya ke Jakarta yaitu Jacob Nellisen dan Lambert Prinsen. Kedudukan Missie dipusatkan di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Pada tahun 1834 di Padang ditempatkan seorang pastor. Sejak tahun 1808 hingga 1845 mereka hanya mampu menempatkan 16 orang pastor itupun akhirnya hanya tinggal 4 orang. 4. Dalam Perang Diponegoro (1825-1830) ditengah-tengah tentara Belanda ditempatkan seorang Pastor bernama Scholtes. Dia mengadakan perjalanan inspeksi sampai ke Sulawesi dan Maluku kemudian melaporkan hasil penyelidikannya kepada Paus. Berdasarkan laporan itu Paus menganggap sudah tiba waktunya untuk membantu dan meningkatkan Missie Katolik di Indonesia menjadi Vicariat (perwakilan), lalu mengirimkan Mgr. Jacob Croaff selaku pemimpinnya. Pada tahun 1848 dia digantikan oleh Mgr. Peterus Maria Francken dengan dibantu oleh 5 orang pastor. Di bawah pimpinannya, missie ini mendapat kemajuan. Dari pulau pulau yang jauh letaknya berdatangan permintaan dari umat Katolik yang hidupnya terpencil. Akhirnya pada tahun 1859 kaum Yesuiten membantu dengan mengirimkan missionaris ke pulau Jawa lalu menempatkan mereka di Flores dan kepulauan lainnya. 5. Kemajuan Missie Katolik bertambah pesat setelah pada tahun 1874 Mgr. Francken digantikan oleh Mgr. Claessen yang sejak tahun 1848 bertugas di India. Didirikannya pos-pos di Cirebon, Magelang, Bogor, Malang dan Madiun. Untuk Sumatra di Medan dan Tanjung Sakti. Di Kalimantan dibangunnya pangkalan untuk kristenisasi suku Dayak. Demikian juga Makassar, Menado, Tomohon, Seram, Flores, Irian, Kendari, Sumbawa dan Timor. Claessen digantikan oleh Vicarius Apostoles M.J. Staal, kemudian pada tahun 1898 oleh Mgr. E.S. Luypen S.J. Sejak masa itulah agama Katolik mulai berkembang di pulau Jawa orang Jawa sukar untuk dirubah agamanya. Mereka beragama Islam dan tidak mau dikatakan tidak Islam, walaupun mereka tidak atau kurang menjalankan syariahnya. Missie mengambil jalan lain yaitu dengan mendekati anak-anak mereka yang pada umumnya hidup kekurangan. Untuk mereka didirikan sekolah-sekolah dasar dengan percuma, bahkan dengan diberinya alat-alat serta pakaian yang diperlukan. Kanak-kanak itulah yang berangsur di-Katolik-kan, dan itu terjadi sejak akhir abad ke 19. Maka dapatlah dikirakan bahwa banyaknya jumlah orang Jawa yang beragama Katolik adalah akibat karena mereka dahulu bersekolah di sekolah-sekolah Katolik. 6. Pangkalan Missie untuk Jawa Tengah yang pertama ialah Muntilan dan Mendut di mana sejak dahulu telah berdiri sekolah Katolik. Sekarang Mundlan menjadi pusatnya agama Katolik, kemudian Yogyakarta pun dipenuhi oleh sekolah mereka. Guru-guru tamatan Muntilan dikirim ke luar daerah dan banyak pula yang berdinas di sekolah Pemerintah (Gubernemen). Dari tahun ke tahun mereka terus mendapat kemajuan. Sekolah bertambah banyak terutama sekolah Pendidikan Guru. Rumah Sakit dan Rumah Yatim juga dibangun, sehingga kelihatannya memang benar-benar menguasai lapangan sosial dan pendidikan. Pada akhir tahun 1923 sekolah mereka berjumlah 52 buah dengan 5.840 orang murid. Mereka memiliki surat kabar seperti Mingguan Java Post, Sociaal Leven En Streven, Katholik Schoolblad Van Nederlands Indie dan De Indische

Voorhoede. Dalam bahasa Indonesia yakni Gereja Katholik serta dalam bahasa Jawa Swara Tama. Di samping itu mereka dirikan sebuah percetakan di Yogyakarta pada tahun 1922. Untuk keperluan jalannya Missie Katolik beserta segala usahanya, mereka menerima bantuan keuangan dari negeri Belanda, yang diberikan oleh Dana St. Claverbond yang berdiri tahun 1889 dan oleh berbagai perkumpulan missie antara lain De Indische Missie Vereniging. Rupanya kaum Katolik tidak hanya berjuang dalam penyiaran agama, pendidikan, pengajaran, sosial serta pendirian gereja-gereja, tetapi juga berjuang dalam bidang politik. Pada tahun 1918 mereka telah mendirikan sebuah partai politik dengan nama De Indische Katholieke Partij. Sekianlah dengan sangat ringkas diuraikan sejarah masuknya Missie Katolik dan pekerjaannya di tanah air kita. Bab 4.4. Kristenisasi dan Politik Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, adalah Kristenisasi mempunyai segi-segi politis. Demikian pula dalam sejarah perkembangannya selalu dipengaruhi oleh perubahan situasi politik, terutama di Eropa, di mana partai-partai mereka selalu aktif dalam sidang polltik. Di negeri kitapun mereka demikian juga halnya seperti ternyata dalam berdirinya De Indische Katolieke Partij. Pada zaman kemerdekaan dengan terbukanya kehidupan politik di negeri kita mereka tidak ketinggalan membentuk partai politik, di samping partai lain-lainnya. 1. Partai Kristen Indonesia atau Parkindo didirikan di Jakarta pada tanggal 18 Nopember 1945 sebagai penjelmaan dari Partai Kristen Nasional (PKN) vang dipimpin oleh Dr. W.I. Yohannes. Di Sumatera didirikan orang Partai Kristen Indonesia yang disingkat PARKI. Pada bulan Maret 1947 pimpinan dari kedua partai itu bertemu di Malang dalam kesempatan sidang Komite Nasional Pusat mereka setuju untuk bergabung. Maka tanggal 19 April 1947 Parki mengadakan Kongres di Prapat dan memutuskan melebur diri serta bergabung pada Parkindo. Dalam Anggaran Dasarnya keputusan Konggres di Sala pada tanggal 7-9 April 1950 dicantumkan antara lain: a. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) berasaskan paham Kekristenan. b. Anggota Partai ialah warga negara Indonesia yang beragama Kristen serta berusia sekurang-kurangnya 18 tahun. Dalam deklarasi atau Pernyataan Dasar Pendirian Parkindo terdapat uraian sebagai berikut: Pasal 1 Partai Kristen Indonesia (Parkindo) berdasar atas kepercayaan bahwa: a. Segala sesuatu adalah berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. b. Bagi tiap-tiap Makhluk dan tiap-tiap lingkungan hidup demikian pula bagi negara dan pemerntahan panggilan dan hukum-hukum Tuhan sebagai ternyata dalam firman-Nya.

Pasal 2 Partai berpendirian bahwa negara berwujud karena Kehendak Tuhan dengan tujuan mengatur hidup manusia di dunia, agar dengan demikian warga negara dapat mempersiapkan diri untuk hidup yang kekal. Pasal 3 Parkindo adalah Partai Politik warganegara Indonesia yang berhasrat memenuhi panggilan dan kewajibannya terhadah nusa dan bangsa dan bangsa-bangsa lainnya dengan jalan berusaha di lapangan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan atas dasar paham Kristen. 2. Partai Katolik didirikan di Yogyakarta oleh Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia pada tanggal 12 Desember 1949, sebagai penjelmaan fusi daripada 17 partai Katolik yang telah ada sebelum itu yakni: 1. Partai Katolik Republik Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Surakarta. 2. Partai Katolik Rakyat Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Makassar. 3. Partai Katolik Rakyat Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Flores. 4. Partai Katolik Indonesia Timus (Parkit) yang didirikan di Timor. 5. Persatuan Politik Katolik Flores (Perkokaf) didirikan di Flores. 6. Permusyawaratan Majlis Katolik (Permakat) didirikan di Menado. 7. Partai Katolik Indonesia Kalimantan (Parkika) yang didirikan di Kalimantan. Melihat banyaknya partai-partai itu tahulah kita betapa besar hasrat mereka untuk berpolitik setelah negara kita merdeka. Anggaran Dasar Partai Katolik sebagai gabungan partai-partai tersebut di atas, telah disahkan dalam Kongresnya yang pertama di Semarang tanggal 12 Desember l949, di mana asas dan tujuan berbunyi sebagai berikut: 1. Partai Katolik berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa pada umumnya serta Pancasila pada khususnya dan bertindak menurut asas-asas Katholik, 2. Tujuan Partai Katolik ialah bekeria sekuat-kuatnya untuk kemajuan Republik Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya. Bab 4.5. Kekuatan dan Kelemahan 1. Apa yang telah diuraikan di atas memberikan gambaran kepada kita bagaimana ketekunan dan keuletan mereka dalam menyebarkan agama Kristen. Bagaimena kerapian organisasi mereka serta lengkapnya rencana yang mereka buat; dan bagaimana besarnya pembeayaan yang sengaja disediakan. Apa yang kita lihat dewasa ini adalah kemajuan kristenisasi yang semakin meningkat. Berpuluh-puluh rumah sakit yang mereka dirikan, semuanya besar dan lengkap dengan peralatan yang modern. Beratus-ratus sekolah dengan gedungnya yang indah dan megah, dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas dan Perguruan Tinggi, yang sebagian besar siswa dan mahasiswa terdiri dari kalangan orang Islam. Kantor dan gereja-gereja merupakan gedung-gedung indah menghiasi kota, terutama Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Belum lagi disebutkan proyek-proyek dalam bermacam-macam bidang tersiar di seluruh tanah air. Dalam dunia persuratkabaran dan penerbitan buku-buku serta pendirian percetakan-percetakan modern, mereka memegang peranan yang amat menentukan.

2. Namun segala kebesaran yang mengagumkan sebagai yang tersebut di atas itu tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai kelemahan-kelemahan. Mereka banyak mempunyai kelemahan, itu sudah tentu. Kelemahan itu tidak terletak pada beaya, mereka berlebih dan melimpah-limpah dalam memiliki pembeayaan. Tidak terletak pada manpower, mereka cukup dan mempunyai kemampuan untuk membayar siapa saja yang bersedia bekerja bagi mereka. Tidak terletak pula pada ilmu, mereka ahli dan mampu memperkerjakan tenaga-tenaga ahli. Tidak juga pada kekuasaan dan pengaruh dalam bidangnya masing-masing. Tetapi kelemahan itu terletak pada kelemahan ajaran agama mereka sendiri dipandang dari segi ratio, justru dalam hal-hal yang prinsipiil. Yaitu tentang Itikad Trinitas, KeAllahan Yesus, Dosa Turunan, Pertentangan Antara Ayat-ayat Dalam Kitab Suci Mereka, serta tentang Pengertian Wahyu dan sebagainya. Mereka menyadari bahwa ajaran Kristen sebagaimana tersebut di atas memang sukar diterima oleh akal. Hal-hal inilah yang telah menyebabkan kemunduran agama Kristen di dunia barat di mana orang-orang tidak bersedia lagi menerima ajaran bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Allah Sendiri, seperti antara lain yang pernah dikemukakan oleh Dr. B.J. Boland ketika berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu. Seperti yang telah pernah ditulis oleh seorang pastor dalam salah satu majallah bahwa jumlah pengunjung gereja di negeri Belanda semakin menurun, dan seperti yang sering diceritakan oleh orang-orang yang pernah mengunjungi Eropah dan Amerika Serikat. Padahal di sana disediakan kenangan yang melimpahlimpah untuk penyiaran agama Masehi dengan pendirian gereja serta pergedungan lainnya. Di sana dapat dikatakan uang itu tidak memperoleh sasaran yang semestinya, dan perlu dialihkan ke bagian dunia yang lain, ke timur. 3. Dengan keadaan demikian maka nampakya di dunia barat terutama di Eropah sudak tidak dapat diharap lagi untuk menjadi bumi subur bagi agama Masehi, yang dewasa inipun telah menjadi hanya seperti adat, bukan agama yang dimengerti dan disadari secara jelas. Apalagi andaikata (mudah-mudahan jangan) Perang Dunia III sudah sampai pada taraf tidak terelakkan lagi, maka seperti yang telah pernah diramalkan orang, dalam 17 jam pertama dari meletusnya perang nuilir itu, seluruh Eropah Barat akan musnah demikian juga mungkin seperempat dari bumi Amertka Serikat. Begitulah agama Masehi akan kehilangan tempat berpijak serta basis yang amat kuat dan kaya raya. Jadi apa yang harus dilakukan orang dewasa ini ialah sejauh mungkin berikhtiar menghilangkan gejala yang mungkin dapat menimbulkan perang itu, dan usaha itu sampai sejauh sekarang ini telah berhasil. Apa yang terjadi hanyalah perang setempat seperti misalnya Victnam, Timur Tengah, dan kini di Afrika. Tetapi apakah keadaan ini dapat dipertahankan untuk selamanya? Nampaknya karena itu mengapa agama Masehi memerlukan tanah persemaian baru yang masih dapat bertahan lebih lama serta jauh dari kancah perang nuklir yang akan datang. Dan persemaian itu harus sejak sekarang disiapkan agar jika perang pecah (mudah-mudahan jangan) tempat yang baru sudah siap selesai serta telah dapat berjalan seperti yang diharapkan. Tempat itu terletak di timur, dimana penduduknya belum sekritis penduduk Eropah.

4. Indonesia akibat penjajahan Belanda selama tiga setengah abad, penduduknya kebanyakan bodoh dan miskin. Maka usaha kristenisasi telah dapat menutupi kelemahankelemanannya itu dengan membangun usaha-usaha pertolongan kepada rakyat seperti mendirikan rumah pcmeliharaan orang miskin dan anak yatim piatu, membangun rumah sakit dan balai pengobatan, dan sekolah-sekolah yang beraneka macam ragamnya. Bangsa Indonesia yang memeluk agama Kristen pada umumnya bukan hasil daripada pengertian dan kesadaran, tetapi karena pendidikan dimasa kanak-kanak dan karena merasa berhutang budi atau jasa, sedang keyakinan dan pengertiannya terhadah agamanya yang lama (Islam) masih terlalu dangkal. Adapan mereka yang cerdas dan pandai atau mendapat gelar keilmuan yang tinggi telah lebih dahulu hatinya disegel dengan rumusan: imanadalah iman dan bukan pengetahuan, berimanlah lebih dahulu barulah berusaha untuk mengerti. Akan tetapi sampai berapa lama dan sampai berapa berapa generasikah segel ini dapat dipertahankan? Manusia di barat telah menjadi bukti bahwa akal tidak akan sanggup terlalu lama disegel. Segel itu jebol dan akan keluar mencari jalan lepas. Bab 5. ISLAM YANG KUAT DAN PEMELUKNYA YANG LEMAH 1. Telah berabad-abad lamanya umat Islam menduduki posisi yang lemah. Hal ini terutama karena penjajahan bangsa barat dan disebabkan oleh kebekuannya dalam cara berfikir. Bangsa penjajah berhasil mengadu domba sesama bangsa dan negara-negara Islam sehingga amat sukar mempersatukan mereka dalam satu kerja sama dan satu tujuan. Barulah pada akhir abad ke 19 lahir kebangkitan umat Islam untuk memperbaiki posisinya kembali. Kebangkitan ini bermula pada penggalian ajaran-ajaran Islam yang murni yang sekian lama tertutup oleh bidah khurafat dan tahayyul, oleh pengkramatan terhadap sesama manusia. Kemudian diikuti oleh terbukanya semangat dan kesadaran dakwah Islam serta amar makruf nahi munkar, lalu menjelmalah semangat mencapai kemerdekaan bebas dari penjajah bangsa asing dan penjajahan feodalisme. Maka terbukalah pula hikmah untuk meningkatkan ilmu pengetahuan serta hasrat untuk sejajar dengan lain-lain bangsa. 2. Kemerdekaan berfikir yang dianjurkan Islam mulai nampak bentuknya, antara lain dengan penangkapan yang logis dan ilmiyah tentang ajaran-ajaran aqidah serta hikmah ibadah dan seluruh aspek kemasyarakatan dari semua ajaran Islam itu. Maka terbukalah pintu-pintu diskusi dan pertukaran pikiran mengenai ajaran-ajaran agama Islam sehingga dapat diselaraskan tengan kemajuan jaman dan kemajuan perkembangan pikiran manusia. Segala syariat agama dapat dipahami dengan jelas, juga mengenai kepercayaan dan itiqad. Berdasarkan kesemuanya itu berkembang majulah usaha-usaha tabligh dan dakwah dengan cara dan uraian yang praktis, sesuai dengan kemajuan zaman lagi mudah diterima oleh akal, tidak berisi dengan dogma atau kepercayaan yang dipaksakan. Dari ajaran Islam yang telah diungkapkan ternyata memancar kesadaran dakwah dan tabligh itu sebagai suatu kewajiban yang mutlak bagi setiap orang Mukmin sesuai menurut kemampuan masing-masing, demikian pula anjuran untuk berdakwah dengan kerja sama dan aturan yang rapih. Ini telah mendorong bangkitnya para muballighin dalam segala tingkatan, pria dan wanita, tanpa kecuali. Mereka untuk mendapat pelajaran, tetapi mereka sengaja mendatangi sasaran dan tujuan dakwah yang diperlukan. Dan inilah yang memang dituntunkan oleh Rasulullah.

3. Hal-hal khusus yang perlu dikemukakan tentang kekuatan dakwah yang terkandung dalam ajaran Islam ialah antara lain: a. Jika dalam agama Masehi hanya orang-orang tertentu yang diperkenankan menyebarluaskan agama, maka dalam agama Islam setiap orang berkewajiban menyiarkan agamanya walaupun dia baru mengetahui satu ayat Al-Quran saja. Ini ternyata jelas dalam sabda Nabi: Sampaikanlah dari padaku walaupun hanya satu ayat. b. Berpuluh-puluh ayat dari firman Allah dalam Al-Quran yang memerintahkan berdakwah amar maruf nahi munkar, antara lain Surat Ali Imran ayat 104 yang memerintahkan kaum Muslimin untuk bertindak dengan membentuk umat terorganisir guna melaksanakan kewajiban tersebut. c. Jika dalam agama Masehi kehidupan keagamaan dan kesosialan pemeluknya diatur seluruhnya oleh gereja, maka dalam agama Islam hal semacam itu tidak ada. Masjid merupakan tempat beribadah dan dapat juga digunakan untuk memusyawarahkan kepentingan agama dan ummatnya, tetapi masjid dan imamnya tidak menguasai kehidupan keagamaan serta kesosialan umat. Umat Islam bebas untuk bergerak dalam lapangan keagamaan dan kesosialan diluar pengaruh masjid dan imamnya. Dengan demikian agama Islam dapat lebih jauh meresap dalam masyarakat. d. Jika dalam agama Masehi yang dapat menjadi pemimpin atau imam serta khatib hanyalah pastor atau pendeta, maka dalam agama Islam setiap orang dapat bertindak sebagai imam atau khatib asalkan mampu. Bahkan wanita diperkenankan bertindak sebagai imam dalam shalat jamaah khusus wanita. e. Jika dalam agama Masehi terutama agama Katolik, mempersoalkan masalah kepercayaan adalah setengah tertutup atau tertutup, maka dalam agama Islam selalu terbuka pintu seluas-luasnya untuk bertukar pikiran atau mendiskusikan segala ajaran agama termasuk soal-soal kepercayaan dan hukum-hukum agama. Dengan demikian ilmu-ilmu agama menjadi meningkat dan berkembang. Ini lebih menarik perhatian orang kepada Islam. f. Ajaran Tauhid Islam yang jelas dan tegas tentang keesaan Allah dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta ajaran ibadah yang praktis dan rasionil, demikian pula hukum keluarga dan kemasyarakatan yang lengkap. 4. Apa yang diuraikan diatas adalah kekuatan yang mampu mendorong perkembangan tersiarnya agama Isiam melalui kegiatan para muballigh dan guru-guru dan bahkan setiap orang mukmin. Jadi apabila kekuatan itu digunakan dengan sepertiganya dan kewajiban berdakwah itu dapat diresapkan kepada seluruh umat Islam, sesungguhnya usaha dakwah Islam akan mampu menutupi kekurangan atau kelemahan tentang pembeayaan, tenaga ahli dan sebagainya. Organisasi dakwah sebagai yang ada sekarang ini kalauperlu dapat ditambah menurut bidangnya masing-masing. Koordinasi antara organisasi-organisasi itu diatur

dengan lebih rapi, pendidikan kader muballigb ditingkatkan mutunya, kesediaan dan tekad berdakwah lebih disemangatkan, pengumpulan dana dakwah diaktifir serta dikampanyekan. Kelompokkelompok diskusi dalam kalangan generasi muda dan cendekiawan lebih sering diadakan yang acaranya penganalisaan tentang perbandingan agama. Juga dialog antar agama tidak boleh diabaikan. 5. Adapun yang terpenting langkah dakwah sebagaimana tersebut di atas adalah ditujukan untuk memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang agama Islam kepada pemeluknya, agar supaya mereka tidak akan sampai dapat dialihkan agamanya. Di samping itu menyebarluaskan kebenaran itikad Islam dan kemanfaatan ajaran Islam bagi kebangunan dan pembangunan masyarakat. Kemudian membuktikan kebaikan ajaran Islam itu dengan langkah dan usaha perbaikan sosial yang nyata. Dengan perbentengan semacam itu dapatlah semaksimal mungkin umat Islam diselamatkan dari langkah kristenisasi atau dari hal-hal lain yang akan mengalihkan agama mereka atau mengaburkan keislaman mereka. Bab 6. KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Bagi Negara Republik Indonesia yang sedang membangun ini memang kerukunan rakyat sangat diperlukan demi suksesnya pembangunan itu, termasuk kerukunan antar umat beragama. Pemerintah telah berkali-kali menyelenggarakan Dialog Antar Umat beragama yang diarahkan untuk saling mengenal dan mencari titik-titik persamaan sebagai landasan kerja sama untuk membangun. Kerja sama yang tidak merugikan sebelah pihak dan menguntungkan pihak yang lain. KerJa sama yang hanya mempunyai satu tujuan, ialah suksesnya pembangunan. Kerukunan tentu tidak berarti mengkompromikan itiqad. Tetapi kerukunan berarti saling bertoleransi yakni membiarkan masing-masing pihak memeluk dan melaksanakan agamanya sejauh tidak mengganggu kepada pihak lain. Demikian pula saling pengertiaan untuk tidak membangun atau menyelenggarakan sesuatu syiar agama seperti umpamanya musyawarah besar di tempat yang penduduknya mayoritas memeluk agama lain, serta lain-lain hal yang menimbulkan kegelisahan