Anda di halaman 1dari 9

1.

Penentuan Kebutuhan Material Handling Material Handling (MH) merupakan suatu fungsi pemindahan material yang tepat ke

tempat yang tepat, pada saat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, secara berurutan dan pada posisi atau kondisi yang tepat untuk meminimasi ongkos produksi. Tujuannya adalah untuk mempermudah transportasi dan mempercepat proses produksi.

Jenis-jenis peralatan material handling dasar (Apple, 1990) : 1. Pengantar, yaitu peralatan yang menggunakan gaya berat atau tenaga (mesin) biasanya

digunakan untuk memindahkan muatan merata sepanjang satu lintasan tetap. Contoh: roda penghantar, sabuk penghantar, corong, keranjang penghantar penghantar pneumatik. 2. Derek dan kerekan, yaitu peralatan layang yang digunakan untuk memindahkan berbagai

beban atau muatan secara serentak dan sesaat antar dua tempat, yang tepat dengan dukungan dan pengarahan rel. Contoh : derek-layang pemindah, derek jembatan, kerekan, derek penumpuk, monorel. 3. Truk, yaitu kendaraan tangan atau bermesin (bukan kendaraan jalan raya) yang

digunakan untuk memindahkan beban campuran atau sejenis secara serentak sepanjang berbagai lintasan yang mempunyai permukaan yang dapat dijalani (dilalui), dengan fungsi utama mengangkut. Contoh: truk pengangkut, truk tangan beroda dua, kereta traktor gandengan, truk dorong. 4. Peralatan tambahan, yaitu peralatan atau penunjang yang digunakan dengan peralatan

pemindah agar lebih mudah pemakaiannya. Contoh : pallet, gerobak, peti kemas, peralatan kait, penunjang truk pengangkat, papan galangan, penempat, peletak, peralatan penimbang

Saat perencanaan material handling akan muncul pertanyaan-pertanyaan dasar seperti kenapa, apa, dimana, kapan, bagaimana, siapa dan yang mana. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat membantu dalam merancang material handling yang tepat.

Ukuran lot produksi merupakan dasar dalam menentukan ukuran lot pemindahan material yang disesuaikan dengan material handling equipment yang tersedia. Setelah didapatkan jenis material handling yang paling baik dari beberapa alternatif, selanjutnya dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Kebutuhan material handling Beban material handling kapasitas material handling

...(1.7)

Beban yang dimaksud disini berupa satuan berat dan volume dari material yang akan dipindahkan, sehingga kapasitas material handling juga harus dikonversikan ke dalam satuan yang sama dengan satuan beban.

Adapun tujuan dilakukannya pemindahan bahan adalah (Apple, 1990) : 1. 2. 3. 4. 5. Menaikkan kapasitas Memperbaiki kondisi kerja Memperbaiki pelayanan pada pelanggan Meningkatkan pemanfaatan ruang dan peralatan Mengurangi ongkos produksi

1.2

Perancangan Tempat Kerja Tempat kerja harus dirancang sebaik mungkin agar semua pekerjaan atau operasi

yang berhubungan dengan kegiatan produksi dapat dilakukan dengan sebaik mungkin. Banyak aspek yang harus diperhatikan dalam merancang tempat kerja yang baik. Ruang untuk aktivitas produksi itu sendiri dan aliran barang pada tempat kerja itu sendiri.

1.2.1 Penetuan Ruang Untuk Aktivitas Produksi Stasiun kerja mandiri ialah stasiun kerja dimana terdapat operator yang beraktifitas menyelesaikan pekerjaannya yang mana aktifitas dan proses SK tidak tergantung dengan SK lain.

Stasiun kerja mandiri yang dihasilkan selanjutnya dikonversikan dalam kebutuhan luas lantai. Syarat utama perencanaan stasiun kerja adalah pembakuan stasiun kerja. Dalam perancangan stasiun kerja mandiri, dipastikan bahwa system kerja telah baku. Apabila system kerja belum baku, maka luas lantai yang dibutuhkan menjadi tidak absah.

Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam perencanaan kebutuhan luas lantai adalah luas mesin, luasan gerak operator, luas penumpukan bahan yang akan diproses dan setelah diproses, serta luasan untuk kegiatan pemindahan bahan. Luasan pokok kemudian ditambahkan allowance yang bertujuan mendukung kelamcaran kegiatan produksi.

Kegiatan rancangan tempat kerja melukiskan rincian operasi mengenai cara yang digunakan dalam melaksanakan operasi. Kegiatan ini berhubungan dengan pemaduan operator ke dalam operasi, dengan tujuan menentukan bagaimana pegawai harus dipadukan ke dalam proses produksi agar dapat menunjang tujuan perusahaan dengan cara yang paling mudah. Kegiatan ini penting karena selalu meningkatkan upah buruh.

Penentuan ruang yang dibutuhkan untuk kegiatan produktif bergantung pada luasnya tempat kerja mandiri, dan menghasilkan kaitan seimbang terhadap jumlah luas tempat kerja mandiri. Biasanya ditambahkan kelonggaran untuk gang, dan tempat tidak produktif lainnya yang terlalu kecil jika dihitung terpisah. Tempat kerja adalah lokasi tempat operasi berada.

Kegiatan perencanaan tempat kerja meliputi (Apple, 1990) : 1. 2. 3. Analisis, pengonsepan rancangan cara pelaksanaan pekerjaan yang paling ekonomis. Pembakuan cara kerja. Secara rutin membantu melatih operator untuk metode yang telah ditentukan.

Sebuah tempat kerja adalah ruang yang dihuni oleh mesin atau meja kerja, peralatan penunjang yang dibutuhkan dan operator, atau mungkin berisi sekelompok mesin yang kecilkecil atau sekelompok mesin yang sama, yang mungkin memerlukan lebih dari satu operator (Apple, 1990).

Faktor-faktor bahan pertimbangan dalam perencanaan ruang (Apple, 1990): 1. Umum a. Kegiatan yang menghuni ruang terbanyak 1) Produksi atau yang setara 2) Pelayanan produksi, administrasi, produksi pegawai b. c. d. e. f. g. h. i. Ramalan penjualan Jumlah produksi Perkiraan kemajuan teknologi dalam proses produksi Kemungkinan perubahan pada produk atau jalur Rencana jangka panjang Rencana induk Rencana perluasan Perluasan atau tapak baru

j. k. l.

Keluwesan yang diinginkan (dibutuhkan) Jumlah giliran kerja (shift) Jumlah pegawai total

m. Perbandingan pria/wanita n. Kecenderungan ekonomi

2. Produksi a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Ukuran produk Sifat dan ukuran bahan Metode produksi: jalur, job shop, dan lain-lain. Sifat proses Jumlah operasi Metode kerja Kebakuan kerja Efisiensi produksi Persentase gagal Jumlah mesin Ukuran mesin Pola aliran bahan

m. Jumlah operator n. o. p. q. r. s. t. u. Jumlah pegawai penunjang dan pelayanan Cara pemindahan dan peralatannya Kebutuhan penyimpanan Bahan Baku Pasokan Barang setengah jadi Kebijakan persediaan Metode dan peralatan penyimpanan

3. Bangunan (baru atau lama) a. b. c. d. e. f. Jenis Konstruksi Jumlah lantai Tinggi Kapasitas beban lantai Tangga, tangga pengangkat, lift

g. a. b. c. h. i. j. k. l.

Gang : Jenis. Letak. Lebar. Ukuran Bentuk Kondisi Ketersediaan Penjarakan tiang

m. Kemungkinan penggunaan loteng, balkon ruang bawah tanah, atap. n. o. Utilitas Ukuran peta

4. Biaya a. b. c. Ketersediaan dana Suku bunga Kecenderungan ekonomi

1.2.2 Perencanaan Aliran Barang Tempat kerja merupakan sesuatu yang menempati lokasi sepanjang aliran keseluruhan, maka tempat kerja harus dirancang sesuai dengan aliran barang. Jika tempat kerja direncanakan untuk efisiensi terbaik, perancang harus mempertimbangkan prinsipprinsip ekonomi gerakan dan perancangan tempat kerja, dengan mementingkan pelaksanaan yang benar dan didasarkan atas pengalaman produksi di berbagai tempat selama waktu yang cukup panjang.

Prosedur umum untuk membuat rancangan tempat kerja yang efisien adalah (Apple, 1990) : 1. Tentukan arah aliran bahan secara umum atau aliran kegiatan sepanjang lintas pabrik

atau departemen dari pola aliran total. 2. Tentukan arah aliran yang diinginkan, berdasarkan aliran bahan tadi ketika melewati

tempat kerja. 3. Tentukan barang atau kegitan yang akan mengisi tempat kerja, misalnya: mesin, meja,

peti kemas persediaan, dan ban pengangkut.

4.

Buatlah sketsa kasar dari perlatan utama pada tempat kerja pada posisi terdekat yang

diinginkan, dan nyatakan dengan arah panah arah pola aliran pada langkah 2 diatas. 5. 6. 7. 8. Nyatakan sumber bahan yang digunakan pada tempat kerja, dan arah pergi. Nyatakan tujuan bahan dari tempat kerja, arah kepergiannya. Jika mungkin nyatakan metode pembuangan sisa dan buangan, serta arah kepergiannya. Gambarkan sketsa setiap peralatan pemindahan bahan yang melayani tempat atau

wilayah kerja. 9. Periksa sketsa terhadap prinsip ekonomi gerakan dan perencanaan tempat kerja.

10. Tunjukkan jarak antara barang (operator) mesin dan sebagainya di tempat kerja pada sketsa. 11. Catat perencanaan tempat kerja dengan skala serta secara rinci pada sebuah peta analisis dan perencanaan operasi atau peta lain yang sejenis. 12. Jika diperlukan tunjukkan metode operasi, pada tahap proses perancangan ini.

Pemindahan barang pada tempat kerja dapat ditentukan sebagai pemindahan yang biasa dilakukan setelah bahan diserahkan dan dipersiapkan untuk pemakaian pada tempat kerja dan sebelum diambil untuk dipindahkan ke operasi berikutnya.

Karakteristik pemindahan bahan pada tempat kerja adalah (Apple, 1990): 1. 2. Jarak nisbi pendek Jumlah gerakan atau pemindahan umumnya tinggi, yaitu merupakan fungsi dari jumlah

daur yang dilaksanakan 3. Semakin banyak bagian waktu daur yang dibutuhkan pada tempat kerja mandiri terpakai

oleh pemindahan barang 4. 5. Kebanyakan pemindahan barang ini diklasifikasikan sebagai buruh langsung Banyak kegiatan pemindahan pada tempat kerja dapat diperbaiki oleh teknik-teknik dan

peralatan-peralatan pemindahan barang tradisional

S a b

S c

S d

S e

Gambar 1.1 Keterkaitan Antara Aliran Bahan dan Orientasi Tempat Kerja

Keterangan gambar : a = Jalur aliran mula yang direncanakan b = Tempat kerja yang ditempatkan sesuai dengan jalur aliran c = Lintasan aliran bahan d = Tempat kerja yang ditempatkan tidak sesuai dengan jalur aliran e = Lintasan aliran bahan.

Menurut Tompkins, pola aliran secara umum dibagi ke dalam tiga kategori yaitu (Tompkins, 1996) : 1. Aliran dalam stasiun kerja (flow within workstasion)

Studi gerakan dan pertimbangan ergonomic sangat penting untuk menentukan aliran dalam stasiun kerja. 2. Aliran dalam departemen (flow within departments) Pola aliran dalam departemen tergantung pada tipe dari departemen itu sendiri. Pada departemen produksi product family maka aliran kerja mengikuti aliran produk. Pola aliran dalam product department adalah (Tompkins, 1996): a. End to end b. Back to back c. Front to front d. Circular e. Odd Angle End to end, back to back, dan odd angle menggambarkan departemen produksi dimana satu operator bekerja pada stasiun kerja masing-masing. Sedangkan front to front digunakan ketika satu operator bekerja pada dua stasiun kerja dan circular digunakan ketika satu operator bekerja untuk lebih dari dua stasiun kerja. Kelima pola aliran tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.2. 3. Aliran antar departemen (flow between department). Aliran ini merupakan kombinasi dari 4 pola aliran umum, yaitu: a. Straight line. b. U-shaped. c. S-shaped. d. W-shaped. Keempat pola di atas dapat dilihat pada Gambar 1.3

a.

b.

c.

d.

e.

Gambar 1.2 Aliran dalam Departemen Produksi (Tompkins, 1996)

a.

b.

c.

d.

Gambar 1.3 Pola Aliran Umum (Tompkins, 1996)

Hierarki perencanaan antar aliran dapat dilihat pada Gambar 1.4 di bawah ini:

Aliran efektif antar departemen Aliran efektif dalam departemen Aliran efektif dalam stasiun kerja

Gambar 1.4 Hierarki Perencanaan Pola Aliran (Tompkins, 1996)

Prinsip-prinsip perencanaan aliran yang efektif (Tompkins, 1996) adalah: 1. 2. 3. Maksimasi lintasan aliran langsung Minimasi aliran Minimasi biaya karena adanya aliran