Anda di halaman 1dari 30

Foto and Text by Indra Setiawan

Kindly

FLORES

Prakata
SALAM RANSEL..
Akhirnya ebook edisi kedua ini akhirnya dapat saya selesaikan juga diantara sibuknya pekerjaan, kali ini kita akan bercerita tentang perjalanan solo backpacking saya menyusuri keunikan pulau Flores di Nusa Tenggara Tengah, total 40 hari dalam rangkaian perjalanan ini dimulai dari Pulau Jawa, Flores, Sumbawa, Lombok dan Bali. Pulau ini memberikan pelajaran banyak bagi saya tentang kebaikan dan kesehajaan. Penampilan tidak selalu mencerminkan kepribadian seseorang, hal ini terbukti dengan sangarnya orang-orang Flores namun kebaikan hati mereka bukan main. Kembali feedback dari para pembaca yang budiman sangat saya harapkan demi perbaikan ebook Backpacker Borneo kedepannya. Terima Kasih.

11

17

25 Contact :
Facebook: Backpacker Borneo Naraituh Blog: www.backpackerborneo.com Email: kambehai@gmail.com
Salam, Indra Setiawan Indra.st@hotmail.com

41

Terombang-ambing di Lautan Bersama

KM. Awu
kota Malang sebelum pendakian Gunung Semeru kemaren, setelah ngobrol dengan seorang bapak dari kota Solo akhirnya saya menggelar matras di dekatnya di dek bagian belakang kapal di lantai 3. Sleeping bag yang saya gunakan menolong saya dari dinginnya angin malam di atas laut, dan sayapun langsung tertidur lelap. Saya terbangun di pagi hari karena mendengar azan subuh dari Mosholla kapal yang tepat di belakan saya, walaupun sang mentari belum muncul namun di ufuk timur terlihat semburat warna merah yang indah sekali, kemudian cahaya merah tersebut perlahan-lahan hilang berganti dengan munculnya benda bulat berwarna merah seperti kue Untuk-untuk (Kue dari Kalimantan), perlahan-lahan seperti keluar dari garis horizon samudra, sungguh pagi yang indah. Di atas kapal ini tidak banyak yang bisa dilakukan selain jalan-jalan keliling kapal, tidur dan ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain, ternyata kebanyakan penumpang di dek sekitar saya adalah orang-orang dari Jawa yang ingin memcari kerja di NTT, namun saya juga sempat ngobrol dengan soerang pemuda asal Maumere bernama Bangka (hehe.. kebetulan waktu nulis ini di lewat dan nyolek saya). Dibalik penampilannya yang sangar seperti preman dengan rambut gondrongnya ternyata dia teman ngobrol yang baik. Dia berkerja di singapura sebagai operator alat berat di Bandar, di bercerita tentang disiplinnya orang di sana tentang kebersihan, diapun pernah di kurung karena waktu pertama kali datang di merokok di tempat umum. Setiap penumpang di kapal ini mendapat jatah makan 3 kali sehari, ketika waktu makan tiba kru kapal mengumumkannya di pengeras suara lalu berbondong-bondonglah para penumbang untuk menuju tempat pengambilan ransum makanan, panjangya antrian para penumpang yang hendak mengambil makan hingga mengelilingi ruang makan sampai ke sebelah kapal, walaupun sudah tiga bari namun tetap saja karena banyaknya penumpang kita harus menunggu hingga setengah jam lebih, seperti di penjara saja kata bapak yang juga mengantri di belakangku. Ternyata menu makannyapun ala kadarnya, di pagi hari menunya adalah nasi yang agak keras di tambah dengan telur dadar yang sudah di potong entah menjadi berapa bagian, di tambah sedikit sambal yang tidak pedas menurut saya. Sungguh menu yang sangat tidak menggiurkan, apalagi menu makan siang dan malam tambah parah, hanya ikan yang rasanya hampir busuk di tambah dengan dua potong terong yang dimasak seperti sejenis kareh. Setiap hari para awak kapal membersihkan kapal, namun membuat kita terkejut ketika sampahnya berterbangan di samping kita, selidik punya selitik ternyata mereka membuang langsung sampahnya ke laut dari samping kapal, sampah plastik, sherefoam, dan bekas makanan segera berhamburan di atas laut.

Ini merupakan pengalaman terlama bagiku dengan menggunakan kapal laut, menaiki KM. Awu selama 3 hari 3 malam dengan tujuan kota Ende di pulau Flores dari kota Surabaya menjadi titik awal perjalananku dalam lberkelana di Pulau Flores. Sedatangnya dari Malang setelah pendakian Gunung Semeru bersama team ElKaPe Indonesia selama 4 hari, dari Stasiun Gubeng di Surabaya saya segera menuju Kantor PT. Pelni untuk membeli tiket kapal laut. Ternyata jamnya berubah dari yang sebelumnya pukul 13.00 menjadi pukul 19.00, sehingga saya masih punya waktu untuk bersantai di kota Surabaya. Pukul setengah enam sore saya menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan diantarkan oleh kekasih tercinta, ternyata di pelabuhan sangat penuh oleh manusia, hingga banyak yang menggelar tikar di depan pelabuhan, saya berharap di kapal tidak sepenuh itu, namun ternyata begitu memasuki KM. Awu ternyata tidak ada lagi tempat kosong di dalam kabi. Saya berkeliling mencari tempat hingga semua ruangan saya masuki namun tetap saya semua sudah ada orang yang mengisinya, akhirnya saya duduk di samping kapal untuk makan dan baru setelah itu mencari tempat untuk menggelar matras. Ternyata kapalnya sudah sandar dari pukul 15.00 jadi mereka yang sudah menunggu berhari-hari di pelabuhan langsung menguasai bagian dalam kapal. Untung saja saya membeli matras di

www.backpackerborneo.com 2

Terombang ambing di laut membuat saya lapar, walau saya tahu harga di atas kapal pastilah mahal namun saya ingin mencobanya, saya memesan segelas Popmie di cafetaria, ternyata harganya Rp, 7.000,-. Namun baru dua suapan saya menikmatinya sudah ada panggilan untuk mengambil jatah makan siang, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil nasi kemudian mencampurnya dengan Popmie tadi agar nasinya lebih berasa. Perjalanan dengan kapal menjadi makin lama karena kita tidak berjalan lurus, namun mengelilingi beberapa pulau yang kita lewati, kita berhenti di beberapa kota untuk menurunkan dan menaikan penumpang, seperti di Pelabuhan Benoa (Bali), Pelabuhan Lembar (Lombok), Pelabuhan Bima (NTB), Pelabuhan Waingapu (Pulau Sumba). Ketika mengelilingi selatan pulau Bali menjadi pengalaman yang berbeda bagi saya, di iringi oleh Lumbalumba yang berloncatan saya bisa melihat Pura Uluwatu dari sisi yang berbeda dan tidak bisa dinikmati oleh wisatawan biasa, dari kapal terlihat kilatan-kilatan flash dari camera

wisatawan yang sedang bernarsisria di pulau bali. Kapal merapat di beberapa pelabuhan di atas tadi tidak sebentar, hingga saya memanfaatkannya untuk sekedar menjejakan kaki di darat, seperti di pelabuhan Tanjung Benoa Bali saya sempat melihat-lihat di sekitar pelabuhan, di sini banyak kapal-kapal mewah untuk melayani turis-turis yang sedang sandar seperti kapal Phinisi dan kapal pesiar Quicksilver yang sering dipakai untuk syuting FTV. Di sini saya juga menyempatkan diri untuk mandi di ruang tunggu, karena saya malas mandi di kapal, selain bau dan banjir juga harus menunggu lama, namun sayangnya colokan tidak ada yang kosong hingga saya tidak bisa mengisi ulang baterai HP saya.

Begitu juga di pelabuhan lain pasti saya sempatkan untuk turun, sekedat melepas kebosanan karena berhari-hari di atas kapal maupun untuk membeli makan untuk mengganti menu di atas kapal yang membuat eneg. Sekalian menjejakan kaki di pulau yang belum sempat saya explore, seperti di pulau Sumba yang terkenal dengan kuda dan upacara Pasolanya, kalau di tanya pernahkah ke pulau Sumba?paling tidak saya bisa menjawab Ya dengan yakin, walau hanya di pelabuhannya saja..:-)

Sebenarnya rute yang dilalui kapal ini masih panjang hingga ke Kupang dan Alor, namun karena tujuan saya di Nusa Tenggara Barat ini adalah kota Ende jadi saya harus meninggalkan kapal ini dengan berat hati (haha..). Kapal merapat di Pelabuhan Ende di malam yang gelap sekitar pukul 2 pagi, namun di pelabuhan sudah banyak orang yang menunggu untuk naik kapal ini. Di sini saya harus berpisah dengan teman-teman baru saya selama perjalanan, mereka menuju kota Maumure sedangkan saya hanya sampai Kota Ende.

www.backpackerborneo.com

ENDE Kota tempat lahirnya Pancasila


Tiba di suatu tempat yang tidak kita kenal memang kadang membuat bingung, apalagi datangnya pukul 2 dini hari seperti yang saya alami ketika pertama kali menjejakan kaki di pulau Folres atau tepatnya di kota Ende. Akhirnya saya coba tanya-tanya ke dalam ruang tunggu penumpang apakah diperbolehkan untuk tidur di situ, akhirnya saya juga diperbolehkan karena juga ada penumpang KM. Awu juga yang sedang beristirahat di sana. Namun pukul 3 pagi saya dibangunkan oleh bapak kepala pelabuhan karena katanya tempat ini akan di kunci dan sayapun diusir secara halus, mata yang masih ngantuk membuat saya males berpikir akhirnya matras saya seret dan saya gelas di beranda pelabuhan dan melanjutkan tidur lagi. Pagi harinya saya terbangun oleh kokokan ayam dan suara-suara orang yang entah mau pergi atau datang melaut, setelah hari agak terang saya segera beranjak, namun masih belum meninggalkan pelabuhan karena saya ingin menggali informasi terlebih dahulu kepada penduduk sekitar, ternyata bapak yang saya ajak ngobrol juga punya anak yang sedang bekerja di kalimantan, bahkan bapak yang satunya juga pernah ke Banjarmasin. Barulah saya bisa melihat gunung Meja yang tadi malam ketika saya datang hanyalah keliatan siluetnya, gunung ini dinamakan Gunung Meja karena atasnya yang datar sehingga keliatan seperti meja. Di sekitar pelabuhan banyak kapal nelayang yang sedang sandar di sepanjang pantai yang pasirnya agak hitam.

Terlihat banyak sekali sampah berhamburan bekas keramaian tadi malam, beberapa anak-anak mengumpulkan botol-botol yang berserakan, ketika saya tanyakan apakah mereka tidak sekolah, eh tenyata itu hari minggu. Maklum kalau gak kuliah jadi sering lupa hari..:-) Angkot ke pelabuhan katanya agak siang baru ada, dan ketika saya tanyakan berapa jarak ke pusat kota ternyata ada seorang bapak yang menjawab tidak jauh, bisa kok jalan kaki katanya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki, ternyata tak jauh dari pelabuhan ini ada sebuah mesjid, sayapun mampir di sana sekedar untuk mencuci muka dan gosok gigi, kalau tau dari tadi malam mendingan tidur di sini deh. Di jalan saya sempat mampir ke sebuah warung yang hanya menjual nasi bungkus, ternyata hanya nasi kuning dengan lauk tempe hanyalah Rp. 2.000. Tujuan awal saya adalah ke desa Moni, sebuah desa yang menjadi persinggahan ketika ingin melihat Danau Kelimutu yang terkenal itu, namun mumpung masih di Ende dan masih pagi akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi bekas rumah pengasingan mantan Presiden pertama kita yaitu bapak Soekarno. Saya yang buta arah dan tak tau jalan memanfaatkan peta yang lebih akurat yaitu bertanya, sesuai pepetah Malu bertanya sesat di jalan, sebenarnya bnyak juga yang menyarankan untuk naik ojek, namun saya ingin menikmati kota Ende dan sekalian berolah raga mumpung masih pagi, namun yang paling membuat saya deg-degan ketika bertanya dengan seorang bapak, badannya besar dan sebilah parang di tangannya,

www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

Permisi pak, maaf ganggu,arah ke Jalan Perwira ke mana ya? Kamu dari mana??(masih dengan tanpa senyum) Dari Kalimantan pak Kalimantan mana Duh, ko jadi saya yang ditanya-tanya gini, mana muka bapaknya seram lagi.. Kalimantan tengah pak...knpa ya pak?' Tidak apa-apa, sapunya kelurga juga kerja di kalimantan, dia orang sudah lama di sana ooooh.. Mau apa ke jalan Perwira Mau ke bekas rumah pengasingan Bung Karno pak.. Punya Kertas?? Langsung saya robek selembar

kertas dari block note saya dan saya berikan kepada bapaknya, dan ternyata di membuat peta menuju ke Jl. Perwira, lalu dijelaskanlah panjang lebar oleh beliau, tapi saya masih kurang mengerti namun berlagak mengerti saja. Huft ternyata gak sesangar penampilannya, dan orannganya baik hati, di sini lah saya mulai merasakan kehangatan dari orang-orang Flores. Setelah sekali lagi bertanya kepada orang lain untuk memastikan jalan akhirnya saya yakin dengan jalan yang saya lalui, di Jl. A. Yani saya berpapasan dengan orang-orang Ende yang banyak berpakainya adat mereka lengkap dengan kain Sonket serta yang laki-laki pakai baju resmi, setelah dekat dengan sebuah gereja yang besar barulah saya sadar kalau itu hari Minggu, mereka baru saja pulang dari beribadah di Gereja.

Akhirnya saya bertemu juga dengan plang jalan yang bertuliskan Jl. Perwira, kurang lebih 50 meter tampaklah sebuah bangunan biasa seperti rumah-rumah di sekitarnya namun ada tulisan Situs Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, namun pagarnya tertutup rapat. Saya bertanya kepada seorang ibu yang punya kios di sebelahnya ternyata katanya yang pegang kunci baru saja pergi, biasanya sih bisa di panggil namun bayarin ojek untuk menjemputnya sebesar Rp. 20.000, sayapun mikir (Maklum backpacker kere. Akhirnya sayapun duduk saja di situ sambil bertanya-tanya tentang rumah itu, ternyata ibu An ini adalah keturunan pemilih rumah itu, katanya dulu sewaktu datang ke Ende bung karno tidak ingin turun dari kapal, beliau mau turun asal dicarikan rumah seorang haji yang mengadap ke Barat. Setelah dicarikan oleh belanda dan dapatlah rumah itu. Di rumah inilah Bung Karno tinggal selama masa pengasingan selama 4 tahun dari tahun 1934 sampai tahun 1938 di kota Ende ini, kota Ende yang dipagari oleh bukit-bukit yang seakan-akan menjadi pelindung dari laut yang tenang. Saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak yang ada di seberang rumah itu, mereka juga bercerita bahwa di Flores di Kota Endelah yang banyak muslimnya, sedangkan yang lainnya, mayoritas kristen, namun bagi saya hal itu tidak masalah, karena saya tidak memandang agama, yang penting mereka masih satu dibawah naungan Merah Putih. Karena yang bawa kunci tenyata sedang ada acara pernikahan lalu saya dibawa untuk masuk ke dalam pagar melewati bagian belakan rumah melewati depan rumah orang.
www.backpackerborneo.com

ditemani oleh Manto saya menjelajahi sekitar rumah tersebut, di bagian belakan ada ruang semedi yang katanya tidak boleh sembarang orang masuk ke sana, juga terdapat sebuah sumur tua yang airnya sangat jernih, saya coba menimba air dan mencuci muka di sana ternyata airnya sangat segar. Di bagian samping rumah ada bale-bale yang bisa digunakan untuk beistirahat oleh para pengunjung rumah ini. Karena tak dapat masuk jadinga saya hanya foto-foto di sekitar rumah dan juga di bagian depan rumah. Di Kota Ende terdapat dua buah terminal, yang pertama terminal Ndao dan kedua terminal Rawareke, karena tujuan saya selanjutnya adalah desa Moni maka saya harus ke terminal Rawareke, dari rumah pengasingan tadi saya diantarkan oleh Manto, namun sebelum ke terminal kami mampir ke sebuah taman yang ada patung Bung Karno sedang berdiri. Di sana terdapat sebuah lapangan bola yang luas dan di samping lapangan tersebut ada puhun sukun yang sering digunakan oleh Bung karno untuk berteduh dan merenung, di sinilah beliau memikirkan kemungkina dasar negara Republik Indonesia yang kemudian disebut dengan pancasili, sesuai dengan daun sukun yang bergerigi lima buah. Sebenanrnya pohon tersebut telah tumbang terkena angin namun kemudian ditanam kembali pada tanggal 17 Agustus 1981 tepat pukul 9 pagi, penanaman pohon bersejarah tersebut dilaksanakan dengan upacara singkat yang juga dihadiri oleh teman Bung Karno selama di Ende. Di terminal rupanya kita harus menunggu di pingggir jalan di depan terminal, untuk ke Moni kita bisa naik angkot atau Bus kecil jurusan Maumere atau Larantuka, namun ada juga bus Damri yang sampai pasar Moni. Dan beruntungnya ada seorang anak muda yang bersekolah di Ende dan ternyata berasal dari Moni dan akan pulang kampung, akhirnya saya berangkat bareng dia.

www.backpackerborneo.com

Backpacker Borneo
Juga menjual Ransel dan Tas Deuter Asli bikinan Jerman, yang tertarik silahkan klik www.backpackerborneo.com

Desa Moni Bukan Sekedar Tempat Transit


Dari Ende ditempuh dengan perjalanan sekitar 2 jam, melalui jalan yang berliku-liku di kanan-kiri jurang yang dalam, namun untungnya jalannya cukup baik, sebagian masih dilakukan perbaikan jalan seperti pelebaran jalan dengan mengeruk di sebelah tebing, saya tidak ingin memejamkan mata untuk menikmati perjalanan. Bus yang saya tumpangi melaju pelan, semakin lama penumpangnya semakin penuh, bahkan sampai teman kecil saya tadi di atas atas, di samping saya bapak yang badannya besar membuat tempat duduk yang tersisa makin sedikit, di samping kanan saya tampak pasangan yang tak malu-malu untuk bermesraan, inilah salah satu sensasi jalan dengan angkutan umum. Karena tak tau saya hanya mengikuti teman tadi, ketika mobil berhenti di seebuah desa di tikungan yang ternyata ini adalah desa Moni, sayapun turun. Dengan sabarnya di membantu saya mencari penginapan, di penginapan pertama ternyata harganya Rp. 10.000, dan sudah ada bule yang sedang menginap di sini. Karena masih terlalu mahal bagi kantong Backpacker seperti saya kita kembali melanjutkan pencarian, namun di sebuah warung yang bernama Nusa Bunga kita berhenti karena itu punya keluarganya dan bertanya di situ tentang penginapan yang murah, ternyata di sana mereka juga punya Homestay, setelah ditanyakan ternyata harganya Rp. 50.000 lalu saya coba untuk menawar dan harganya tidak bisa turun lagi. Sambil menunggu kamarnya dibersihkan saya ngobrol dengan anak yang punya Homestay yang bernama Wahyu, di bercerita bahwa ternyata kebanyakan yang punya penginapan di sini adalah Bule, namun dikelola oleh orang lokal.

Salah satu kendala yang dihadapi penduduk sana adalah mahalnya harga bensin yang mencapai Rp. 10.000 karena tidak adanya SPBU yang dekat, jadi wajar saja kalau ojek naik ke Danau Kelimutu menjadi lumayan mahal. Saya baru sadar kalau saya belum makan, lalu sayapun memesan makan dengan menu ayam goreng. Ternyata setelah keluar ayamnya berteman dengan mie rebus sebagai kuahnya, waktu saya membayar saya agak terkejut ternyata harganya Rp. 17.000,

hmm..mahal ternyata. Homestay Nusa Bunga lumayan jauh dari restorannya, saya diantarkan oleh Wahyo dengan motor ke sana, tempatnya cukup luas dan hanya ada dua buah kamar, ketika saya masuki kamar yang sebelah kanan ternyata kamar mandinya rusak, lalu masuk ke kamar yang satunya ternyata memang yang ini kamar yang telah disiapkan sebelumnya, air untuk mandipun sudah disiapkan. Karena belum mandi beberapa hari (he..he..)

sayapun segera segera mandi, tapi ternyata airnya sangat dingin dingin walaupun waktu itu masih siang sekitar pukul 3. Sayapun membaringkan diri menikmati nikmatnya kasur, karena 4 malam sebelumnya tidur hanya beralaskan matras. Tapi kerena tidak juga bisa tidur akhirnya saya duduk di depan Homestay, di beberapa tempat tampaknya sedang ada acara, hal ini dapat dilihat dari adanya keramaian di tenda-tenda yang terbuat dari terpal serta musik yang keras dari speaker

mereka. Tak lama saya duduk datang seorang pemuda mengampiri saya, dan bertanya saya dari mana dan daripada saya berdiam diri saja sayapun mengikuti ajakannya untuk ke tempat party yang dia bilang. Namun sebelunya di telah menjelaskan tentang adat kebiasaan mereka yaitu ketika disuguhi Moke kita sebagai tamu wajib untuk menerima walaupun sedikit sebagai wujud penghormatan kita terhadap adat-istiadat mereka.

11

www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

12

Karena penasaran saya segera berangkat, dan ternyata sedang diadakan acara Sambut Baru. Acara ini seperti juga ketika sedang acara perkawinan, dan anak yang sedang merayakan sambut baru duduk di kursi dengan dandanan jas yang rapi bagi laki-laki dan baju yang bagus bagi perempuan. Di dalam agama katolik dikenal yang namanya Sekramen Ekaristi, dan anak-anak SD menerima hosti yang pertama kali dan ini dinamakan Komuni pertama, nah komuni pertama inilah yang di rayakan ketika anak tersebut duduk di kelas lima SD, ketika saya datang ada 8 orang yang sedang merayakan Sambut Baru, hingga seluruh desa menjadi rame karena sediap sudut ada yang sedang berpesta. Bukan hanya warga sekitar desa yang datang tapi juga ada yang datang

jauh-jauh dari kota untuk memenuhi undangan. Biasanya mereka berpesta dari siang hari sampai dini hari. Atau istilahnya sampai puas dan teler..hee Suasana kekaluargaan langsung terasa begitu saya datang, setelah memasukan amplop ke dalam kotak yang ada saya segera bergabung dengan penduduk yang ada di situ, warga yang ada menyambut saya dengan hangat dan saya pun memperkenalkan diri saya, dan tak lupa pula suguhan Moke dari mereka yang saya terima dan hanya saya cicipi sedikit untuk menghormati mereka. Moke adalah minuman fermentasi khas dari Flores yang terbuat dari uap dari pemasakan sari dari pohon aren ataupun lontar, dan ini sedikit lebih keras dari tuak di kalimantan yang terbuat beras. Saya juga langsung di suruh masuk ke rumah mereka yang berdindingkan bambu untuk menyantap hidangan, saya hanya menyambil lauk yang dari sayuran dan kacang-kacangan karena takut termakan babi yang juga menjadi santapan mereka, namun ternyata merekapun paham akan hal tersebut dan tetap menghormati saya yang beragama muslim. Saya makan ditemani oleh Tony

yang ternyata berkerja menjadi guide di Labuan Bajo, dan dia pulang karena dirumahnya sedang diadakan acara sambut baru tadi. Selesai makan saya kembali lagi ke tempat pesta tadi, yang mereka laukan selain minum-minum moke adalah berjoget diiringi musik yang alirannya kadang-kadang berubah-ubah dari dangdut sampai pop dan melayu, sambil ngobrol-ngobrol Babi menjadi seperti cemilan bagi mereka, diletakan di atas piring di ditaroh di atas kursi di tengah lingkaran kita duduk. Saya diajak oleh Sifrianus untuk ke acara Sambut Baru yang lainnya, sama seperti sebelumnya sayapun segera disuguhi makan, walaupun pada awalnya saya menolak karena memang sudah kenyang namun mereka tetap memaksa Di sana ya di sana, yang di sini orang yang mengundang beda lagi, akhirnya saya makan lagi walaupun dengan nasi yang sangat sedikit. Di sini saya juga mencoba untuk ikut berjoget walaupun sebenarnya saya tidak bisa berjoget, namun sayapun cuek bebek dan ikut berbaur bersama mereka hingga musinya terhenti karena sound sistemnya bermasalah. Ketika duduk saya melihat sesuatu yang menarik seperti rumah adat dan minta diri untuk meninggalkan pesta untuk melihat-lihat sebentar. Ternyata itu adalah sebuah bangunan tradisional yang sering digunakan untuk upacara adat masyarakat di sana,
www.backpackerborneo.com

13

www.backpackerborneo.com

14

bangunan ini tidak berdinding, namun atapnya yang terbuat dari jerami sangat tinggi dan yang membuatnya unik adalah di dalamnya ada dua buah kotak yang berisi tengkorak leluluhur mereka. Di depan bangunan ada seperti sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh batu-batu, sedangkan di bagian tengah ada seperti sebuah tugu yang terbuat dari batu juga, katanya ketika sedang berlangsung upacara adat masyarakat moni menari di dalam lingkaran tadi. Saya juga tertarik dengan beberapa nenek yang sedang menguyah sirih dan pinan di dekat bangunan adat tersebut, mereka mengguna kain tenunan khas Flores yaitu kain songket, ketika saya raba kain ini bertekstur keras dan tebal, memang cocok untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yang dingin seperti di Moni. Hari makin sore dan dingin mulai menusuk kulit saya yang cuma menggunakan baju pendek, tampak beberapa pemuda yang sedang mabuk karena kebanyakan minum moke menari-nari di tengan jalan hingga menyulitkan pengguna jalan yang sedang lewat, untungnya yang lain segera menariknya ke pinggir sehingga orang-orang segera bisa lewat.

Saya juga diajak mampir ke homestay baru punya Sipri, namun masih belum disewakan karena masih menunggu kasur dan lemari yang dia pesan, bahkan saya juga diajak untuk menginap di sana, seandanya saja saya belum checkin di homestay saya..huhu.. Sebenarnya saya di ajak lagi untuk ke tempat acara sambut baru yang lain namun sudah ada lagi uang kecil dan ketika ingin menukar di warung ternyata tidak ada lagi, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Homestay karena sudah mulai gelap dan dinginnya makin menusuk. Ternyata di kamar saya lampunya tidak menyala, entah rusak atau memang tidak bisa karena tadi siang saya tidak mencobanya, sayapun coba untuk melihat kamar yang satunya dan menyala, akhirnya saya pun memutuskan untuk tidur di kamar sebelah daripada repot-repot compain dengan tuan rumah, serasa lebih menewa cottage karena satu rumah saya miliki. Malamnya saya hanya berjalan ke warung di depan sebentar dan segera beristirahat karena saya tak sabar untuk kembali merasakan tidur di atas kasur dan mempersiapkan diri untuk trakking ke danau tiga warna yang terkenal, yaitu Danau Kelimutu.

15

www.backpackerborneo.com

Danau Kelimutu
Tempat Bersemayamnya Para Arwah
Waktu asik-asiknya tidur ada yang mengetuk pintu, ternyata itu adalah ojek yang akan mengantar saya besok dia, dia datang untuk memastikan dan membicarakan masalah harga. Setelah saling nego akhirnya kita sepakat dengan harga Rp. 60.000 untuk ke Danau Kelimutu sekalian dengan ke pemandian air panas dan air terjun serta dia memastikan bebas biaya masuk dan biaya camera,hehe. Namun harga tersebut sebenarnya masih bisa dinego hingga Rp. 40.000-50.000 tergantung kesepakatan. Kita berjanji untuk berangkat pukul setengah 5 pagi, namun ketika saya bangun sampai pukul 5 pagi dia masihhjuga belum datang, mana saya lupa untuk minta nomor Hp nya. Saya berpikir kalau sampai pukul 6 dia tidak datang juga saya akan berangkan dengan mencari ojek yang lain, namun ternyata pukul 6 kurang sedikit dia datang. Kita langsung berangkat menembus dinginnya pagi menuju rumah para arwah itu, medan yang harus dilalui adalah punggungan bukit yang teris menanjak dan berkelok-kelok, jaket saya yang tebalpun tetap tertembus oleh dinginnya pagi, di beberapa tempat kami melalui kabut tebat hingga jarak pandang hanya beberapa meter kedepan, diapun bercerita kenapa dia datang agak lambat karena percuma untuk naik pagi-pagi kita juga tidak akan bertemu sunrise karena tertutup kabut tebal seperti sekarang. Kurang lebih 45 menit kami akhirnya kita sampai di pintu masuk, namun dia tetap terus dan tidak berhenti untuk membeli karcis masuk hingga kita diteriaki oleh yang jaga namun kita tetap terus, membuat saya yang di belakang menjadi deg-degan. Dia bilang Kalau diaorang ambil kita punya uang, nanti sapunya bapak yang ambil kembali dengan logat timurnya yang khas, ternyata ayahnya adalah salah satu tetua adat yang berpengaruh di sana. Tak lama kita sampai juga di parkiran, di sini terlihat sepi, hanya ada satu orang yang sedang duduk di atas motor, mungin ojek yang sedang menunggu tamunya. Selain itu hanya ada dua buah mobil yang sedang terparkir. Tanpa membuang waktu kita segera jalan mengikuti jalur yang telah disemen, di beberapa tempat ada tempat sampah yang tersedia. Sekitar sekitar 15 menit berjalan akhirnya kita sampai juga di Danau Kalimutu, namun kita harus naik ke bibir kawah untuk melihat airnya. Danau yang pertama kita temui adalah yang berwarna biru muda, bernama Tiwu Ata Polo atau menurut kepercayaan masyarakat sekitar merupakan tempat bersemayamnya arwah orang yang telah meninggaldan selama hidupnya melakukan kejahatan atau tenung, tampak ada beberapa bule yang sedang duduk-duduk beristirahat dan tampaknya mereka rombongan keluarga dari Francis. Ketika saya datang sekitar danau ini masih berkabut lalu saya memutuskan untuk menuju puncak terlebih dahulu kemudian kembali lagi ke sini. Jalan untuk menuju punjak sudah lumayah bagus, terdapan dua jalur jalan yang sudah di semen sebelum kita mendaki menggunakan tangga sampai di puncak.

17

www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

18

Di tengan ada sebuah papan yang bertuliskan Danau Tiwu Nuamuri Koofai dan merupakan petunjuk tentang keberadaan danaunya yang berwarna hijau di kejauhan. Terus melangkahkan kaki menuju punjak akhirnya tugu triangulasi dapat kita capai, di sini Cuma ada seorang penjual kopi yang berselimutkan kain khas Flores yang tebal. Akhirnya bisa juga mengapai punjak gunung setelah sebelumnya gagal untuk menapakan kaki di Mahameru, puncak tertinggi di Pulau Jawa. Puncak Gunung Kelimutu ini sudah dikelola sedemikian rupa oleh pemerintah, di sini dibangun sebuah tugu yang dikelilingi oleh undakan-undakan yang bisa digunakan untuk duduk sambil menunggu sunrise di sini, untuk keamanan tempat ini juga dikelilingi pagar yang terbuat yang terbuat dari besi. Dan ada sebuah prasasti yang berjudulkan Perubahan Alam, Kepercayaan abadi. Dan di dalamnya berisi tulisan Masyarakat percaya bahwa jiwa/arwah akan datang ke Kelimutu setelah seseorang meninggal dunia, jiwanya meniggalkan kampungnya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau/kawah yang ada tergantung usia dan perbuatannya. Ketiga danau atau kawah seolah-olah bagaikan dicat berwarna. Warna airnya berubah-ubah tanpa tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut dalam air menyebebkan warna air tidak dapat diduga sebelumnya. Suasana Kelimutu berfarisai, tidak hanya perbedaan dan

perubahan warna danau, akan tetapi juga karena cuaca. Tidak aneh jika tempat yang keramat ini menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini sakral. Hormatilah tempat khusus ini dengan tidak merusak atau mengotori dan tetaplah di jalan setapak yang ditentukan. Dari puncak ini kita juga bisa melihat danau atau kawahnya yang berwarna itam ketika saya datang kesana, masyarakat juga percaya bahwa di dalam kawah yang bernama Tiwu ata Mbupu inilah bersemayam atau berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua

yang telah meninggal. Danau ini terlihat cantik dengan dinding tebingnya yang curam yang berwarna putih serta pohon-pohon cemara yang berwarna hijau sungguh kontras dengan airnya yang berwarna hitam. Di puncak ini saya duduk menikmati keindahan Danau tiga warna yang ada dalam uang kertas kita dahulu sambil berbincang-bincang dengan teman sekaligus ojek dan guide saya, ternyata dia sudah lulus SMA dan juga ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan Olahraga. Sambil ditemani oleh kopi Flores untuk membantu menghangatkan badan.
www.backpackerborneo.com

20

Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh orang lio Van Such Telen, warga negara Bapak Belanda Mama Lio, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu.Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992. Tak lupa saya juga untuk berfoto sebagai kenang-kenangan, namun karena cuma membawa lensa fix saya tidak bisa mengabadikan kebeluruhan danau, namun saya mengakalinya dengan membuat foto fanorama kemudian saya berencana untuk menggabungnya setelah tiba kembali di rumah. Setelah puas saja kembali turun untuk kembali ke danau yang pertama tadi, namun ternyata masih saja ada kabut yang menghalangi. Akhirnya saya lihatlihat sebentar kemudian kembali turun untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu pemandian air panas dan air terjun yang akan kita lalui dalam perjalanan pulang. Menuruni gunung pun butuh tekhnik khusus, bagi motor yang masih prima dan remnya masih mencengkram dengan kuat sebenarnya mesin bisa dimatikan untuk menghemat bensin, namun kerena motor yang kami gunakan sudah butut jadi kita tetap menghidupkan motor tapi porsneling tetap berada di

gigi yang rendah sehingga motor berjalan lambat walaupun suaranya kurang enak didengar. Di pertengahan jalan kita berhenti di sebuah desa, dan di situ Cuma ada sebuah gapura sederhana Welcome to WISATA AE PETU, Liesembe, Moni dan Cuma ini satu satunya penunjuk jalan untuk menuju Pemandian air panas ini, kita turun melalui samping rumah warga yang kebanyakannya berdinding bambu, jalannya tampak di halangi dengan kayu sehingga kita harus sedikit memutar, mungkin kalau musim rame akan dipungut biaya masuk. Ternyata pemandian air panas ini hanyalah dua buah kolam dari keramik dengan diameter sekitar lima

meter, di sampingnya ada tempat untuk mengganti pakaian. Air panasnya tampak mengalir dari sebuah pancuran yang ketika saya coba untuk menyentuhnya ternyata panas juga, sebenernya sanagat menggoda untuk berendam di air yang hangat pada suasana yang dingin seperti ini, namun saya hanya merendam kaki saya saja ke dalam kolam.

Tampak beberapa anak kecil yang sedang mandi dan bermain bahkan mereka juga sangat antusias ketika saya ajak untuk foto-foto. Selesai dari pemandian air panas kita kembali melanjutkan perjalanan pulang, di sepanjang jalan banyak yang bisa kita nikmati, dari hamparan sawah yang menghijau, tampak beberapa pemujaan di bawah pohon, sampai desa moni dari ketinggian hingga kadang-kadang saya mengajaknya untuk berhenti sekedar menikmati keagungan ciptaan tuhan maupun diselingi dengan sedikit jepret-jepret.

Tujuan kita selanjutnya adalah air terjun, namun air terjun ini tidak jauh dari desa moni, bahkan sudah masuk daerah Koanara. Namun sayangnya air terjun yang lumayan ini tidak ada sama sekali petunjuk atau tulisan bahwa di situ ada air terjun yang bisa dinikmati. Namun Cafe Rainbow yang ada tepat diseberang jalannya bisa untuk dijadikan patokan. Cafe ini berwarna kuning dengan dinding artistik yang tebuat dari bambu, sedangkan nama cafenya tepat berada di seberang di jalan masuk untuk menuju air terjun. Sebenarnya dari jalan pun kita sudah bisa melihat Air Terjun ini, namun karena tertutup oleh rimbunnya semak belukar jadi tertutup, jalan menurun harus kita lalui untuk menuju Air terjun di desa Moni-

Koanara ini, Air terjun dengan nama Matundaoh ini mempunyai tinggi sekitar 15 meter, tepat di depan air terjun ada seperti tembok atau untuk membendung air namun telah roboh sebaginnya. Lewat air terjun ini pulalah warga desa yang berada diseberang sungai untuk menuju Pasar Moni, mereka meniti jembatan kecil yang terbuat dari bambu yang dibentangkan di atas sungai. Dan kebetulan ketika saya mau meninggalkan tempat ini ada beberapa warga yang lewat sambil membawa barang belanjaan di atas kepalanya. Setelah kembali ke penginapan saya segera packing karena kalau terlalu sore maka tak ada lagi angkutan umum yang akan saya gunakan menuju tujuan saya selanjutnya, yaitu Kota Bajawa. Nah, setelah membaca cerita saya di

atas anda tentu paham kenapa judulnya Danau Kelimutu, Negeri para Arwah, judul tersebut lebih kepada legenda tentang danau tersebut, namun walaupun begitu danau ini sangat mistis bagi masyarakat setempat, mereka tidak berani untuk datang sendiri ke sana, karena katanya pendangan kita bisa dikaburkan oleh orang yang tinggal di tempat tersebut, katanya juga tidak boleh menyentuh air danau tersebut karena dulu pernah seorang peneliti Belanda yang hilang di danau tersebut waktu mau meneliti kenapa airnya yang berubah-ubah. Waulahualaam bissawab, hanya tuhan yang tahu, tapi walau bagaimanapun kita sebagai masyarakat yang berbudaya ada baiknya menghormati masyarakat setempat, seperti pribahasa yang sangat kita kenal, Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

23

www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

24

MAU

Klik www.backpackerborneo.com

Menikmati

Dinginnya Bajawa, Dan Hangatnya Soa

Uniknya Desa Bena,

Setelah packing saya segera menuju restoran Nusa Bunga untuk membayar biaya penginapan dan menyerahkan kunci (Yang belakangan ternyata lupa saya serahkan..:-). Di sana ternyata saya disambut dan di ajak kebelakang rumah dan berbincangbincang dengan Mama Sicilia yang mempunyai rumah ini, beliau begitu baik dan bercerita kalau salah satu anaknya juga sedang berada dikalimantan untuk bekerja. Sebenarnya saya ingin segera mencari Bus, namun dipaksa untuk minumminum. Dan akhirnya saya menunggu di luar sambil membantu cucunya Mega membalaskan surat dari teman kecilnya dari Belanda. Tak lama keluarlah Kopi dan Roti isi mentega, lumayan untuk mengisi perut yang memang sudah mulai keroncongan karena memang belum terisi sejak pagi, apalagi gratis membuat Branch kali ini terasa nikmat. Karena sudah agak siang maka sedikit susah untuk mencari bus yang lewat menuju Bajawa, walaupun sebenarnya banyak travel yang lewat namun saya indahkan, karena dengan travel sedikit lebih mahal dari Bus. Untuk menuju Bajawa kita bisa menuju Ende terlebih dahulu kemudian naik Bus yang menuju Bajawa atau Ruteng atau Labuan Bajo, selain itu bisa juga langsung dari Moni mencegat bus yang dari Maumere yang menuju kota kota tersebut. Hingga pukul 2 belum ada juga bus yang lewat, namun ada sebuah bus Damri yang datang dari Ende dan segera kembali ke Ende, saya bergegas untuk naik Bus itu untuk menuju Ende.

Kali ini saya duduk di depan dan bisa lebih menikmati perjalanan tidak seperti ketika berangkat dulu, namun kadang saya dibuat deg-degan karena jalurnya yang ekstrim di kiri kanan jurang yang dalam, kalau supirnya tidak hati-hati maka selamat tinggallah dunia. Ternyata Bus Damri ini hanya sampai terminal Rawareke, sedangkan bus yang menuju Bajawa biasanya berada di terminal Ndao, jadi saya harus naik angkot atau naik ojek ke sana. Saya diturunkan oleh bus di tengah jalan bersama seorang bapak dan saya bertanya bagaimana untuk menuju terminal Ndao, dan kebetulan ada angkot yang lewat lalu saya segera naik angkot itu. Angkot ini ternyata berputar-putar terlebih dahulu, bahkan ke rumah sakit menjemput rombongan kemudian mengantarkan mereka ke rumah mereka yang jauh masuk ke gang-gang kecil. Lumayanlah bisa sekalian melihat-lihat kota Ende karena kemaren belum sempat berkeliling. Tapi ternyata kemudian saya dioper ke angkot yang lain yang akan melewati terminal Ndao, untungnya saya tidak diminta ongkos tambahan, namun di angkot yang satunya ini sangat penuh, bahkan beberapa pelajar sampai bergelantungan di pintu, dan lagi-lagi saya roaming tak mengerti satupun apa yang mereka bicarakan. Karena tau saya akan ke Bajawa supir angkotnya menurunkan saya di depan SPBU lewat dari terminal sehingga memudahkan untuk mencegat bus. Begitu turun saya langsung bertanya tidak kepada orangorang yang ada di situ, namun mereka -

tidak yakin masih ada bus yang akan menuju Bajawa karena sudah siang seperti sekarang ini, mereka menyarankan untuk naik travel yang mempunyai selisih harga cukup tinggi. Normalnya naik Bus hanya sekitar Rp. 45.000 sedangkan dengan travel Rp. 80.000. sehingga backpacker kere seperti saya sangat menghindari untuk naik travel yang masih banyak berkeliaran tersebut. Namun kemudian ada travel yang datang dan menawarkan saya untuk ikut, saya bersikeras untuk menunggu bus dan bilang bahwa saya tidak punya cukup uang untuk naik travel. Setelah tawarmenawar yang cukup alot entah karena kasian atau memang murah hati akhirnya dia setuju hanya dengan Rp. 50.000 bisa naik dengan tujuan Bawaja..horee Mobil Avanza yang saya naiki melaju perlahan, hanya sebentar meninggalkan kota Ende handphone saya sudah kehilangan sinyalnya, namun pemandangan di sebelah kiri lautan yang luas membuat saya menjadi terhibur, di sepanjang jalan juga terlihat penduduk yang mengumpulkan batu-batu yang berwarna hijau yang cukup unik, katanya dijual untuk bahan bangunan. Kemudian medan berubah dari yang sebelumnya kita masih di sekitar pesisir kemudian masuk ke daurah pegunungan dengan rute yang meliukliuk di atas perbukitan. Semakin sore terasa semakin dingin, walau matahari masih bersinar namun hawa dinginnya pegunungan masih terasa. Di depan saya malah tampaknya tidak perduli dengan dingin dengan baju kaos tanpa tangan di membiarkan jendela terbuka dengan lebar. Jalan menuju Bajawa sebagian masih dalam perbaikan, terlihat banyak alat berat yang sedang bekerja untuk memudahkan transportasi masyarakat Flores. Mendekati kota Bajawa saya masih belum tau akan turun dimana, atau tepatnya masih belum ada tujuan. Bahkan ketika sudah masuk kota ketika supir menanyakan saya turun dimana saya sempat bingung untuk menjawabnya. Akhirnya saya putuskan untuk diturunkan di mesjid kemudian baru berfikir sesudahnya. Dan ternyata hanya ada satu mesjid di kota ini, muslim memang menjadi minoritas di beberapa kota di NTT. Bahkan mesjid ini masih dalam proses pemugaran, ketika saya datang waktu itu sedang mati lampu sehingga keadaan menjadi gelap. Selesai sholat Magrib saya melihat beberapa bapak-bapak yang sedang ngumpul di pojok mesjid, sayapun mendekat dan bertanya kepada mereka apakah memungkinkan untuk menginap di Mesjid ini. Mereka menyarankan untuk bertanya kepada dua orang pengurus mesjid yang sedang mengaji di depan, karena takut menganggu saya menuggu beberapa saat tapi

salah satu bapak itu mendahului untuk menanyakan kepada imam tersebut, akhirnya saya diijinkan bahkan diberitahu untuk ikut menginap di tempat marbot yang ada di samping mesjid. Ternyata bapak-bapak ini adalah orangprang yang sedang melaksanakan manasik haji di kota Bajawa dan kebetulan mereka berasal dari Kecamatan Riung yang sebelumnya saya rencanakan untuk dikunjungi sebelumnya. Dan sayapun mencari informasi dengan dengan mereka, dan ternyata untuk menuju Riung 17 pulau yang ada di sana harus menyewa perahu dengan harga sekitar Rp. 300.000, harga yang berat untuk saya, apalagi saya sendiri dan tidak ada teman untuk sharing cost. Sebenarnya saya ingin tetap nekad berangkat ke sana, kali aja bisa ikut nebeng dengan nelayan atau penduduk sana, namun setelah saya pikir-pikir saya lebih baik saya skip saja tempat ini kemudian ke tempat lain yang lebih pasti. Di sini saya tidur di tempat marbot mesjidnya yang bernama Tarmizi, orangnya masih muda dan berasal dari pulau Lombok, dengannya saya bertanya lebih banyak informasi tentang apa saja yang bisa dilihat di kota ini. Dan akhirnya saya memutuskan untuk ke desa adat Bena dan pemandian air panas Soa keesokan harinya. Perut yang belum terisi nasi sejak pagi kini terasa pedih, akhirnya saya keluar untuk mencari makan, namun ternyata jam 8 kota ini sudah sepi, suhunya yang dingin memang lebih enak untuk berselimut di kamar. Setelah makan saya segera beristirahat dan mempersiapkan fisik untuk keesokan harinya, sleeping bag yang selalu saya bawa sangat membantu untuk menghangatkan tubuh saya di tambah jaket tebal yang saya pakai cukup hangat untuk malam ini. Kumandang azan Subuh membangunkan saya, ketika berwudhu airnya terasa sangat dingin bagai air yang baru keluar dari kulkas, tampaknya di sini kulsas bakal tak terpakai karena untuk mencari air dingin tidak perlu susah-susah. Seperti yang saya rencanakan sebelumnnya hari ini saya ingin mengunjungi desa adat Bena dan pemandian air panas di Soa. Sebelum berangkat saya terlebih dahulu mencari sarapan, namun tampaknya yang banyak di sini hanyalah Warung Padang yang harganya lumayan, akhirnya terpaksa saya makan di sana, namun walau kali ini agak murah namun yang menjual tidak ramah, hingga saya tidak berencana untuk makan yang kedua kalinya disini. Sambil smsn dengan Rizal yang sudah pernah ke Bajawa jadi tau informasi lebih banyak tentang bagaiman menuju Bena, saya berjalan menuju pasar Bajawa atau ada juga yang menyebutnya pasar Inpres.

Dari sinilah saya akan mencari ojek untuk menuju Desa adat Bena dan setelah tawar menawar dengan seorang tukan ojek akhirnya dapatlah harga Rp. 20.000 untuk mengantarkan saya ke desa megalit itu. Sebenarnya selain dengan ojek bisa juga dengan naik angkot yang terbuat dari truk yang telah dimodifikasi dibuat tempat duduk dibagian belakangnya, tarifnya hanya Rp. 5.000. Namun angkotnya hanya sewaktu-waktu alias sangat jarang. Untuk menuju Desa Bena kita melalui jalan utama kemudian di sebuah pertiaang di dekat gereja kita belok kiri menuju ke arah Desa Luarekeo, namun ternyata jalannya ditutup karena sedang ada acara sehingga kita harus memutar lebih jauh lagi. Menuju desa yang masih tradisional ini kita disungguhi oleh suasana yang sangat damai dan tenang, banyak kebun kopi penduduk yang kita lalui, kita

juga banyak melalui jalan turunan dan mendaki karena desa Bena terletak di lereng Gunung Inerie. Kurang lebih 30 menit akhirnya kita tiba juga di Desa Bena, saya langsung menuju pos penjagaan untuk mengisi buku tamu. Di sini kita tidak dipungut biaya masuk hanya donasi sukarela saja yang bisa kita masukan kedalam sebuah kotak yang sudah disediakan, di dinding tampak sebuah kertas yang berisi jadwal penjagaan oleh beberapa suku yang mendiami desa bena. Begitu memasuki desa Bena saya langsung merasa terlempar kembali kemasa lalu saat masih jaman batu, tampak banyak berserakan alat-alat yang terbuat dari batu. Di depan rumah yang pertama tampak seorang bapak duduk, lalu sayapun menghampiri beliau dan ternyata beliau sangat mengetahui tentang sejarah Desa ini, sambil

mendengarkan penjelasan beliau tangan sayapun sibuk untuk mencatat seperti mesin ketik. Dan lagi-lagi separti orang flores lainnya bapak yang bernama Joseph ini bercerita kalau dia punya teman akrab di kalimantan, di nitip salam sama temannya itu. Duh, disangka Pulau Kalimantan kecil kali ya..:-) Yang mendiami desa Bena ini ternyata ada sembilan suku yang berbeda yaitu suku Bena, Suku Kopa, Suku Ngadha, Suku Ago, Suku Dizi Azi, Suku Solo Mai, Suku Laiu Lewa, Suku Wato dan Suku Dizi Kae. Menurut pak Joseph dulunya kampung ini adalah sebuah Kapal dengan ukuran 350m X 80m yang kemudian terdampar karena tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi karena terhalang oleh gunung Inerie. Masyarakat Bena menganut sistem matrirkat, yaitu posisi perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Ketika seorang laki-laki

dan perempuan dari desa tersebut menikah maka mereka harus tinggal di rumah keluarga perempuan, untuk membedakan antara rumah keluarga lakilaki dan perempuan kita bisa melihat dari boneka yang ada di atas atap, di keluarga laki-laki bonekanya memegang tombak sedangkan keluarga perempuan di atas atapnya ada sebuah miniatur rumah kecil. Di depan rumah tampak terlihat tengkorak kerbau dan tulang seperti iga dan rahang hasil upacara adat yang telah dilakukan, semakin banyak tengkorak kerbau berarti semakin sering pemilik rumah tersebut melakukan upacara. Yang membuat saya betah di Kampung Bena adalah keramahan warganya, mereka selalu tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada setiap orang yang ada di sana. Tak lupa saya berintraksi dengan mereka, dua orang nenek yang sedang duduk di depan rumah sangat bersahabat ketika saya ajak ngobrol, sayangnya mereka juga tidak tahu arti dari ukiran yang ada di teras depan rumahnya ketika saya tanyakan, katanya itu sudah tradisi turun temurun.

29

www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

30

Pemandian Air Panas Soa, Mengeruda


Sebelum ke Soa saya terlebih dahulu dibawa mampir ke sebuah bengkel untuk menemui bosnya dan saya disuruh menunggu, setelah itu barulah kita melanjutkan perjalanan, seperti jalanjalan lainnya di Flores jalan menuju Soa pun jarang ada yang lurusnya, naik turun kemudan balok kiri kanan. Tampak di sepanjang jalan banyak masyarakat yang menambang batu di tebing yang rawan longsong, sopir memberitahu saya untuk menahan napas karena didepan akan ada bau tak sedap seperti bau kentut karena bau belerang. Bagi yang tak tahan bau disarankan untuk membawa masker supaya tidak mabok darat karena mencium baunya. Angkot di Folres menurut pengamatan saya pada umumnya kursi untuk penumpang di belakan dibuat sangat tinggi, seperti di Ende hingga di Bajawa yang saya naiki sekarang. Ternyata kursi sengaja ditinggikan untuk menaroh speaker di bawah sana, menaiki angkot di sini selalu full musik, dari dangdut, pop sampai lagu daerah. sehingga tampaknya kalau tidak full musik dan aksesoris mobil angkot menjadi kurang keren. Saya punya firasat buruk karena sejak tadi hanya saya sendiri yang menjadi penumpangnya, dan betul saja ketika sampai di persimpangan saya diturunkan dan ditagih Rp. 10.000 dari yang biasanya Cuma Rp. 5.000. Ketika saya tanyakan kenapa tidak sampai ke dalam katanya di dalam kalau sudah jam siang seperti ini akan susah

Ada beberapa rumah yang tampaknya masih baru, baru sekitar dua bulan lalu dibangunnya, namun tetap dalam bentuk seperti rumah tradisional seperti yang ada di kampung Bena yang lainnya. sayapun tak lupa untuk sekedar melihat seperti apa bentuk dalam rumah mereka, setelah minta izin dari sorang penduduk yang juga pengurus koperasi di sana sayapun masuk ke dalam, hanya ada dua ruangan di dalam rumah, yang pertama digunakan untuk beristirahat dan menerima tamu sedangkan ruangan yang kedua digunakan sebagai dapur, dan tentunya dapur yang tradisoinal juga dengan bahan bakar dari kayu, tampak juga alat masak seperti kuali yang digunakan untuk memasak. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, sedangkan kaum perempuan mengisi waktu dengan menenun di depan rumah, ada juga yang menjual biji vanili dan oleh-olah khas flores seperti kain tenun ikan hasil buatan mereka sendiri, ada yang berbentuk kain yang harganya sekitar Rp. 300.000 sampai syal yang berharga Rp. 75.000. dan semuanya hand made. Di ujung desa kita bisa menikmati

pemandangan Gunung Inerie yang tampak berdiri gagah dan seluruh desa juga terlihat dari sini, di tempat ini sudah dibuat tempat untuk beristirahat. Fasilitas seperti toilet juga sudah ada di sediakan bagi para pengunjung. Di bagian tengah kampung yang berundak tampak batu-batu yang berbentuk aneh-aneh seperti dari jaman dahulu. Mirip seperti desa di Galia yang ada di komik Asterix dan Obelix. Puas berkeliling di Bena saya kembali ke kota Bajawa untuk melanjutkan pertualangan saya. Setelah pulang dari Desa Asterik saya kembali ke Bajawa dan minta Tarsi untuk menurunkan saya di Pasar Inpres, saya pun berkeliling untuk melihat-lihat pasar ini, seperti pasar tradisional lainnya pasar ini banyak menjual bahan pokok sehari-hari, dari baju hingga ikan dan sayuran. Tujuan saya selanjutnya dalah pemandian air panas Mengeruda di Soa, namun kali ini saya tidak naik ojek dan saya memilih naik angkot karena kata Mas tarmizi ada banyak angkot yang menuju Soa sehingga tidak perlu naik ojek lagi. Di persimpangan saya menunggu angkot yang bertuliskan Soa di samping belakangnya, akhirnya ada yang lewat dan hanya saya sendiri yang menjadi penumpangnya.

mendapatkan penumpang dan dia mau mengantar asal dibayar Rp. 20.000. Akhirnya sayapun turun di situ dan mencari ojek atau angkot yang menuju pemandian air panasnya. Sekian lama saya menunggu tidak ada juga angkot yang lewat, demikian juga ojek karena tak tampak seorangpun yang ada disekitar saya yang bisa dijadikan tempat untuk bertanya. Akhirnya ada seorang bapak yang lewat dan kemudian saya panggil apakah mau mengantarkan saya ke dalam, namun dia minta Rp. 10.000 dan itu bukanlah tarif yang wajar sehingga saya minta Rp.5.000 namun dia menolak kemudian dia pergi. Sayapun kembali menunggu di bawah pohon mangga yang melindungi dari panasnya

sengatan matahari. Ternyata tak lama bapak ini kembali dan kemudian akhirnya mau mengantarkan saya (Alhamdulillah), menuju pemandian air panas tampak lebih gersang dan pepohonan menjadi jarang, kita juga melalui sebuah bandara kecil yang dimiliki oleh kabupaten Ngada. Saya diantar sampai kedepan pintu masuk pemandian air panas ini, di parkiran hanya tampak dua buah mobil dan beberapa motor, saya menebak bahwa sangat sedikit orang didalam.
www.backpackerborneo.com

31www.backpackerborneo.com

32

Untuk masuk ke pemandian air panas Mengeruda ini kita dikenai tarif sebesar Rp. 3.000, sedangkan untuk WNA dikenakan tarif masuk Rp.5.000. Yang menjaga pintu masuk dan penjualan karcis ternyata adalah anakanak SMK yang lagi magang, ketika mendengar saya sendiri dan dari dari Kalimantan merekapun bertanya kok berani?, sayapun menjawab apa yang ditakutkan, karena selama masih ada ada orang Indonesia saya tidak takut, karena kita semua bersaudara. Begitu masuk ke dalam saya sudah disambut dengan rusaknya bangunan, lantainya jebol sangat besar, begitu juga dengan atapnya, saya masuk ke dalam dan ketika mencari kamar mandi untuk ganti baju saya ditunjukan bahwa kamar mandi ada di bagian belakang, sebenarnya juga ada di tengah namun keadaannya sangat menggenaskan, setelah ganti celana saya berencana untuk berendam di air panas itu, namun setelah melihat kolamnya yang kering dan tak terawat membuat saya mengurungkat niat, saya hanya duduk saja, ketika ingin mencari tempat untuk beristirahatpun sangat susah karena walaupun banyak pepohonan tapi bangunannya banyak yang rusak dan kotor. Sumber air panas berada di bagian tengah, sudah dikelilingi oleh semen dan di bawah pohon yang rindang, ketika saya berdiri di tepi kolam terasa uap panas yang keluar dari panasnya air. Ada dua buah warung yang memjual makanan kecil serta bir di sini, yang pertama seperti kios kecil di bagian tengah sedangkan yang kedua berada di bangunan yang terbuat dari

33 www.backpackerborneo.com

bambu dan berbentuk seperti restoran, di pintu tampak hiasan-hiasan yang terbuat dari bambu seperti gambar komodo, rumah adat, serta bnetuk-bentuk lain yang saya tidak mengerti, di atas pintu terdapat tulisan Maromay yang katanya berarti Selamat Datang, setelah saya masuk ke bagian dalam ternyata ada yang ditangkap olah perjaga warung di sungai. Ada sungai yang mengalir deras di pemandian air panas ini, airnyapun berasa hangat, tampak beberapa bule yang sedang berendam di sungai, waktu itu hanya ada saya dan beberapa orang bule yang menjadi pengunjung tempat ini. Sayang sekali tempat seperti ini kurang terawat, begitulah aset wisata yang dikelola oleh pemerintah. Padahal tempat ini bisa menjadi salah satu tempat alternatif bagi wisatawan yang sedang

berkeliling di Pulau Flores setelah datang dari Danau Kelimutu dan Taman Nasional Komodo. Selain itu kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk menjaga fasilitas yang ada, hal ini terbukti dari banyaknya tulisan-tulisan di dinding dan bangunan yang ada. Vandalisme memang selalu ada di setiap objek wisata yang saya kunjungi selama ini, budaya narsis masyarakat yang salah diekpresikan menjadikan tempat indah menjadi kotor. Sebenarnya cukup dengan foto kita sudah bisa menunjukan bahwa I have been There tanpa harus menulis-nulis nama kita di batu atau dinding bangunan. Keluar dari Pemandian Air Panas Mengeruda ini saya harus kembali memikirkan cara untuk pulang, karena hari biasa seperti ini tidak ada angkot yang datang ke sini, sayapun ikut ngobrolngobrol di loket masuk walau kadang saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, untuk mencari ojek saya disarankan untuk berjalan keluar, namun ada seorang pemuda yang sedang menunggu temannya yang pada awalnya keberatan setelah diajak ngobrol akhirnya mau mengantarkan saya ke depan untuk menunggu angkot. Untungnya tidak lama menunggu ada angkot yang lewat, angkot ini kembali harus berhenti agak lama untuk mengambil peralatan musik bekas acara kemudian diletakan di atas atap, tidak seperti berangkat tadi kali ini saya langsung menyerahkan uang Rp. 5.000 tanpa bertanya karena memang segitu tarif angkot biasanya. Setelah mampir sebentar ke mesjid saya kembali jalan-jalan di sekitar Bajawa, ternyata di seberang mesjid ini ada sebuah

gereja, ini melambangkan tingginya tenggang rasa diantara penduduk kota Bajawa. Berjalan sekitar 500 meter ada sebuah lapangan bola atau mungkin bisa disebut alun-alun karena dibagian ujungnya ada taman dan seperti panggung, di sebelah lapangan ini juga ada sebuah gereja yang besar dengan arsitektur khas belanda, memang masih banyak rumahrumah peninggalan belanda dulu yang

masih bertahan di kota Bajawa ini yang katanya dulunya berasal dari pemukiman belanda kemudian berkembang hingga seperti sekarang ini.
www.backpackerborneo.com

34

Kota Bajawa tidak terlalu luas, namun lokasinya yang dikelilingi oleh bukit dan berada di ketinggian diatas 1000 meter di atas permukaan laut membuatnya selalu sejuk, tempaknya inilah kota idaman bagi orang-orang yang tinggal di kota besar, segar dan bebas polusi serta jauh dari kebisingan. Besok pagi saya harus bangun pagi-pagi untuk mengejar bus yang menuju Labuhan Bajo, kota terakhir yang menjadi tujuan saya di Pulau Flores ini. Kota yang menjadi pion pemberangkatan menuju Taman Nasional Komodo yang terkenal karena satu-satunya hewan purba yang masih sanggup bertahan hingga kini. Jadi tak sabar untuk melihatnya, selain itu bawahlautnya juga terkenal indah hingga saya berencana ke sana tidak hanya untuk bertemu mas Komo, tapi juga untuk menikmati bawah lautnya, walau hanya dengan snorkeling karena masih belum

memiliki sertifikat selam. Mas Tarmizi yang sedang menikmati selimut tebalnya saya bangunkan untuk berpamitan, berterima kasih atas segala kebaikannya selama saya berada di kota yang dingin ini, Bajawa. Dan sesuai petunjuk masyarakat di sana bahwa bus yang akan menuju Labuan Bajo hanya ada satu, dan berangkat pukul 7 pagi, akan melewati perempatan di pasar Bajawa. Namun setelah ke perempatan hanya ada beberapa ibu-ibu yang sedang berjualan dan mereka menyarankan untuk menuju Terminal karena walaupun biasanya Bus yang bernama Gemini ini akan melewati tempat ini namun lebih baik menunggu di terminal karena tidak mungkin ketinggalan bus. Akhirnya ada ojek yang lewat dan sayapun minta antarkan ke terminal, di perjalanan gerimis mulai turun dan pagi yang dingin semakin dingin saja. Ternyata kata bapak ojeknya saya tidak harus ke terminal untuk menunggu bus ini, lebih baik di pertigaan arah ke Ruteng, karena di situlah busnya akan menunggu. Saya menunggu di depan sebuah warung yang masih tutup, dan ketika sudah buka ibu yang punya tetap mempersilahkan saya untuk menunggu di sana, sekali lagi kebaikan warga Flores saya terima. Bus yang di tunggu tak kunjung datang juga, namun ketika ada yang datang dan menunggu Bus Gemini juga saya akhirnya tenang karena at least saya tidak sendiri. Ketika saya liat sekeliling tidak ada warung makan yang menjual nasi, di warung tempat saya berteduhpun tidak ada menjual roti atau sesuatu yang bisa untuk mengganjal perut.

35 www.backpackerborneo.com

Road To

Labuan Bajo

Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul, kamipun segera masuk, namun karena masih kosong Busnya nongkrong lagi di pertigaan untuk menunggu penumpang. Karena masih belum berangkat sayapun pergunakan kesempatan ini untuk berjalanjalan mencari sarapan, namun saya hanya bertemu warung kecil yang menjual roti, dan sayapun membeli roti untuk sarapan pagi ini, terlihat pisang goreng yang di jual oleh ibunya membuat saya memutuskan untuk makan pisang goreng terlebih dahulu dan

roti untuk bekal di dalam Bus. Akhirnya sekitar pukul 8 bus pun berangkat, namun kebali ke kota terlebih dahulu untuk mengambil penumpang dan yang lebih parah harus mutar-mutar karena alamatnya tidak jelas. Sampai sopirnyapun ngomel-ngomel kenapa tidak ke terminal saja untuk menunggu bus, tapi yang namanya bus lebih butuh duit untuk setoran ya jadinya tidak seperti di Jawa dan Kalimantan yang selama ini pengalaman saya bus hanya menunggu di terminal saja tidak menjemput penumpang yang harus menunggu di terminal atau di pinggir jalan.

Menyusuri jalan yang meninggalkan Bajawa sama seperti sebelumnya, naik turun gunung berkelok-kelok. Kabupaten Ngada memang terkenal dengan Bambunya yang besar-besar, di sepanjang jalan dari sebelum masuk kota Bajawa dari arah Ende sampai ke arah Ruteng banyak terlihat rumpun-rumpun bambu yang besar, maka tak heran banyak rumah yang seluruh bagiannya terbuat dari bambu, dari atap, dinding sampai pintu dan jendelanya. Jadi tampaknya jangan takut jadi tuna wisma di Ngada karena tidak harus tinggal di rumah kardus karena bahan bangunan untuk membuat rumah dari bambu tersedia dengan gratis dan melimpah. Penumpang cukup penuh ketika bus sudah berangkat, bahkan ada juga Bule dari jerman yang ingin kembali ke Labuan Bajo, saya juga sempat berbincang-bincang dengannya dan di sudah ke Pulau Komodo sebelumnya, yang membuat saya heran adalah tasnya yang lebih kecil dari saya dan belakangan saya tau dia punya ransel sekitar 70 liter lagi yang diletakan di atas atap Bus. Di samping saya adalah seorang bapak yang menuju kecamatan Cancar, walau kecamatan Cancar hanya lewat sedikit dari kota Ruteng bapak ini lebih memilih untuk naik bus langsung tujuan Labuan Bajo jadi tidak perlu repot-repot berganti bus di Ruteng. Ketika saya tanyakan tentang sawah yang berbentuk laba-laba ternyata itu dekat dengan rumahnya, bahkan bapak yang membawa ayam ini menawarkan saya untuk singgah dirumahnya kalau saya ingin melihat sawah yang unik pembagiannya tersebut, namun karena sudah memutuskan untuk langsung menuju Labuan Bajo akhirnya kesempatan emas ini saya lewatkan.

Bermacam-macam barang masuk ke dalam Bus, bahkan di suatu desa sebelum Ruteng kita singgah agak lama karena ada penumpang yang membawa Babi baik, dan butuh waktu untuk menaikan babi ke atas atap Bus, untungnya tidak dimasukan ke dalam..:-) Ketika tengah hari Bus berhenti di sebuah warung padang di kota Mborong untuk makan siang. Ah lagi-lagi warung Padang, saya punya firasat yang kurang baik tentang harga. Namun tidak adanya warung makan lain di sekitar dan hanya ada warung Bakso akhirnya saya masuk juga, hanya memesan ikan yang dibakar saya harus membayarnya dengan uang Rp. 15.000, firasat seorang backpacker gembel ternyata terbukti masalah murah dan mahal. Hal menarik lain yang saya perhatikan adalah kernet bus, seperti kenek pada umumnya tugasnya adalah berterika-teriak untuk memberitahukan tujuan atau mengajak penumpang untuk naik, yang unik adalah dia logat dan liriknya, dia tidak berteriak Labuan Bajo Labuan Bajo..,tapi bajobajobajo..e..., Cuma nama Bajo tanpa Labuan di depannya, dan ada akhirnya 'e yang panjang yang membuatnya unik, tentunya dengan logat Flores yang khas. Kadang-kadang Bajo-nya sampai 4/5 kali tapi ada juga 1 atau 2 kali ketika mereka capek berteriak, ada dua kenek yang ikut bus ini. Ketika melalui kota Ruteng yang ternyata sama dinginnya dengan Bajawa, ada yang mengatakan Ruteng lebih dingin ada juga yang mengatakan Bajawa lebih dingin, namun bagi saya tak ada bedanya, samasama dingin. Ternyata Ruteng berarti Pohon Beringin dalam bahasa setempat, ini saya diberi tahu oleh Abang Pedi di Pulau

Komodo belakangan. Setelah Ruteng pemandangan mulai berubah, banyak sawah-sawah yang sedang menghijau, begitu juga di kecamatan Cancar ketika bapak di samping saya turun. Dan yang lebih banyak lagi sawah terhampar ketika memasuki daerah Lembor, disepanjang jalan banyak sawah-sawah milik penduduk. Nampaknya daerah NTT yang sering terlihat kelaparan dan miskin bukan di daerah sini, dengan sawah mereka yang segitu banyak mereka pasti bisa memasok untuk daerah Flores. Ternyata pedagang asongan tidak hanya ada di pulau Jawa, di sini juga ada ketika bus sedang mampir di sebuah pertigaan yang ada sebuah baliho tentang Kampung Waerebo, salah satu kampung tradisional yang ada di flores yang juga sering jadi tujuan wisata, namun harus berjalan kaki untuk mencapainya, itulah yang membuat saya melewatkannya sebagai tujuan saya karena tidak puas kalau hanya sehari di sana.
www.backpackerborneo.com

37 www.backpackerborneo.com

38

Ketika bus berhenti langsung dikerubungi oleh ibu-ibu yang menjajakan barang yang kebanyakannya buah-buahan. Namun ketika memasuki kabupaten Manggarai Barat mulai terlihat sawahsawah yang sudah mengering, di suatu tempat saya lihat banyak orang yang berkumpul dengan Jirigen, entah untuk air atau minyak saya kurang jelas. Jalanan berbukit-bukit kembali dijalani begitu mendekati Labuan Bajo. Ketika matahari mulai terbenam laut sudah terlihat di kejauhan, namun kami belum sampai juga, saya sudah tidak sabar untuk sampai di Kota Labuan Bajo untuk melihat-lihat dan melepaskan penas karena seharian duduk di dalam Bus. Dan akhirnya ketika mulai gelap kita mulai memasuki kota, namun kita terlebih dahulu mengantar penumpang ke rumahnya masing-masing, baru di sini saya melihat bus yang seperti travel mengantar jemput penumpang ke tempatnya masing-masing. Bule jerman teman seperjalanan dari Bajawa pun di antar langsung ke hotelnya, sedangkan saya masih belum tau mau kemana, ketika saya tanyakan kepada kenek apakah terminal dekat dengan pelabuhan ternyata mereka nginap di pelabuhan, karena pelabuhan fery lah yang menjadi patokan saya untuk mencari penginapan murah yang banyak di sekitar situ

39 www.backpackerborneo.com

Penantian Indah di

Labuan Bajo

Sesampainya di pelabuhan saya pun turun setelah membayar biaya perjalanan dari Bajawa menuju Labuan Bajo sebesar Rp. 100.000. Sesuai petunjuk dari Blog yang saya baca ada penginapan murah yang bernama Homestay 21, tempat warga pulau komodo biasa menginap. Terus berjalan ke arah kanan pelabuhan saya tidak juga melihat Homestay 21 yang dimaksud hingga sampai di ujung keramaian melewati banyak hotel mewah dan dive centre yang berjejer di pinggir jalan. Akhirnya ketika melihat ada yang menjual soto ayam sayapun memutuskan untuk makan terlebih dahulu kemudian bertanya kepada yang jual dimana letak penginapan tersebut. Ternyata saya memang melewatkannya, dan di sana memang rata-rata penginapan murah bertarif Rp. 30.000 per harinya. Dan malangnya 4 penginapan yang saya singgahi semuanya penuh, begitu juga dengan homestay 21 yang ternyata masuk ke dalam gang sempit dan tidak ada papan namanya juga penuh. Sayapun kembali melanjutkan berjalan ke arah pelabuhan Fery tadi dan sebelum mesjid ada lagi penginapan yang bernama Hotel Bahagia dan untungnya masih ada kamar kosong, bahkan masih banyak kamar kosong. Namun ternyata keadaannya tidak seperti namanya aliastidak membahagiakan ketika saya ditunjukan kamar di lantai 2, dinding kamar bolongbolong dan sangat seadanya, mungkin ini yang dimaksud hotel Bahagia oleh Mbak

Trinity dalam Naked Traveler. Karena sudah terlalu lelah untuk mencari sayapun akhirnya menginap di sini dan memikirkan penginapan baru keesokan harinya. Sayapun ingin menyegarkan diri dengan mandi, namun ternyata airnya berasa payau sehingga bagaimanapun saya mandi tetap saja masih terasa lengket. Akhirnya sayapun bisa merebahkan diri untuk sekedar meluruskan badan di atas kasur. Dan segera memulai pertualangan di salah satu kota pariwisata di Indonesia yang mulai bekembang. Karena belum ngantuk akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan barang sebentar. Malam di Labuan Bajo tak seramai kota wisata lainnya seperti Bali ataupun Jogja, di jalan ... yang hanya satu arah tak tampak banyak kendaraan yang lewat, walaupun masih baru sekitar pukul 8 malam, sayapun hanya berjalan sebentar kemudian balik lagi dan duduk di atas trotoar disamping seorang bapak yang sedang asyik berbicara di telpon. Ternyata bapak ini juga baru datang dari arah timur, dia sedang menjemput tamu di Labuan Bajo yang akan berkeliling di Flores. Kalau tau mendingan ikut saya, lumayan ada teman buat ngobrol di jalan. Katanya...yah bapak, coba kita kenal lebih dulu lumayan kan gratis ke Labuan Bajo...hee Pak Leo juga bercerita kalau sebenarnya Labuan Bajo masih belum siap sebagai kota wisata, dari segi infrastruktur jalannya masih banyak yang rusak dan yang paling susah adalah air.

www.backpackerborneo.com

42

Rata-rata air dirumah penduduk masih berasa payau, begitu juga dengan air di penginapan, entah bagaimana dengan hotel-hotel mewah di sana karena belum pernah juga nginap di hotel yang harganya mahal tersebut. Pak Leo pun memilih menginap di penginapan karena cuma pengen mandi sampai puas, kadang kalau cuma tidur di mobil beliau bawa air galon buat mandi, mahal banget kan.. Tak terasa mata sudah mulai ngantuk, sebelum berpisah beliau menyarankan untuk mencari seseorang di Pusat Informasi kali aja bisa bantu untuk ke Pulau Komodo yang harganya tak murah itu. Untungnya saya selalu membawa losion anti nyamuk sehingga bisa tidur dengan bijak malam itu. Pagi harinya setelah sarapan dengan membeli nasi bungkus yang di jual seorang ibu yang lewat saya berjalan-

jalan ke pelabuhan Fery, dari sini saya bisa melihat banyaknya kapal-kapal yang sedang berlabuh di teluk, di ujung saya juga bisa memperhatikan kesibukan di dermaga pasar termpat para nelayan membawa hasil tangkapannya. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke arah barat ternyata di bagian ujung jalan di depan pasar ada seperti gazebo yang bisa dipakai untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan laut biru dengan berbagai macam kapal yang ada. Setelah itu sayapun menuju pasar ikan untuk melihat-lihat kehidupan masyarakan sana, dan saya bertemu dengan dua orang yang sedang asik foto-foto dan ternyata mereka sudah beberapa hari di Labuan Bajo dan belum ke Pulau komodo karena uangnya belum cukup, saya pun mengajak mereka bareng sambil mencari tambahan orang biar biaya sewa kapal lebih murah, namun sayangnya mereka besok sudah harus meninggalkan Labuan Bajo karena tiket sudah terbeli.

Di pasar saya sambil mencari tau tentang public boat yang akan menuju Pulau Komodo, namun masih belum bisa mendapatkannya. Mungkin masih kurang pagi sehingga besok harinya saya berencana untuk kembali ke pasar ini lebih pagi. Setelah itu saya pun kembali menyusuri jalan namun dengan arah sebaliknya, di sebelah kiri jalan tampak hotel-hotel sedangkan di sebelah kanan banyak berjejer dive centre yang siap mengantarkan wisatawan yang ingin Diving, Snorkling, Trekking di Pulau Komodo sampai Overland trip di Flores. Saya pun mencari seseorang yang dimaksud pak Leo tadi namun sayangnya dia sore hari baru ada di tempat, di dive centre lain saya coba-coba tanya harga ternyata paling murah sekitar Rp. 500.000 itupun Cuma satu hari dan harus mencari teman untuk sharing cost kecuali mampu untuk menyewa kapal sendiri, sedangkan yang satu malam atau dua malam harganya lebih mahal lagi lebih dari satu juta. Kayaknya Pulau Komodo semakin jauh bagi backpacker kere seperti saya. Sayapun melanjutkan perjalanan dan kayaknya dari jalan yang di atas pemandangan yang bisa dilihat lebih bagus, maka sayapun terus berjalan dan ketika melihat ada orang yang keluar dari jalan kecil saya berpikir bahwa itu pasti jalan tembus, sayapun mencobanya dan memang betul itu jalan ke atas namun melalui rumahrumah penduduk sehingga saya harus sering bertanya supaya tidak tersesat.

43 www.backpackerborneo.com

www.backpackerborneo.com

44

Akhirnya saya sampai di jalan yang berdebu, dan ikut beristirahat sebentar depan sorang bapak yang berasal dari Jawa, ternyata untuk menuju tempat yang bisa memandang semuanya saya harus menuju tempat yang bernama puncak Waringin, dari sini saya bisa melihat pemandangan keseluruhan pelabuhan Labuan Bajo dengan latar belakan laut biru yang dihiasi oleh kapal besar dan kecil yang tengan berlabuh, seandanya ada kursi pasti saya

melihat tampang saya kere akhirnya saya diajak untuk ikut dengan dia namun harus menunggu 3 hari lagi. Alhamdulillah akhirnya saya bertemu satu lagi orang Flores yang baik hati menjadi dewa penolong saya. Tidak hanya itu, orang yang saya panggil kaka Pedi ini juga mengajak saya bersantai sambil menunggu tamunya pulang. Kita bersantai di salah satu cafe di sana, saya juga ikut main bilyar namun dikalahkan langsung

dibangun untuk menikmati sunset, banyak warung-warung yang bermunculan yang menjual gorengan dan makan seperti gorengan sehingga masyarakan bisa bersantai menikmati matahari terbenam sambil menyeruput teh panas dan pisang goreng. Padahal saya sudah berencana untuk pindah dari penginapan tempat saya menginap, tapi karena kemaren tidak sempat jadi satu malam lagi saya harus tidak Bahagia, pagi harinya setelah membe li sarapan di pasa

papan agak jarang, sehingga kita bisa melihat orang di sebelah kamar. Di sekitar Pelabuhan memang banyak penginapan murah dengan Tarif sekitar Rp. 25.000 sampai Rp. 50.000, ternyata ini adalah penginapan yang biasanya digunakan oleh para penduduk Flores yang sedang menunggu kapal, baik itu kapal Fery yang menyebrang ke Sape ataupun Kapal Pelni yang melayani pelayaran dari Sulawesi dan Jawa. Dan biasanya mereka menginap di sini sampai kapal yang di tunggu datang,

menghabiskan waktu lebih banyak di sini, sayangnya saya hanya berdiri di pinggir jalan. Saya lebih memilih pulang dengan naik Angkot, tarifnya jauh dekat hanya Rp. 2.000. Dan saya putuskan untuk turun di gazebo yang menghadap kelaut dan fotofoto di sana, ada dua orang di salah satu gazebo dan ternyata salah satunya adalah seorang guide yang sedang menunggu untuk menjemput tamunya yang baru datang dari Pulau Komodo, ketika bertanyatanya tentang cara ke sana dan mungkin

dika lahkan 3 set, maklum lama tidak megang stik..:)#(Alasan) Setelah mengantar ke Bandara saya kita ke kantor Dinas kehutanan yang mengurus Taman Nasional Komodo, di sini saya mendengar bahwa tak lama sebelumnya ada seorang Ranger yang digigit oleh komodo, dan langsung di bawa ke Bali karena rumah sakit yang mampu untuk mengatasinya hanya ada di Bali, bikin ngeri mendegarya. Sore harinya saya menikmati sunset di Gazebo tadi, rupanya tempat ini memang

r saya mencari penginapan lain, sesuai petunjuk dari Rizal bahwa di dekat Bank NTT ada juga penginapan murah yang lumayan. Masuk di Jalan Cumi-Cumi ternyata ada sebuah hotel di pinggir lapangan bola yang bernama Hotel Pelangi, dilihat dari luar bangunannya memang bagus, terbuat dari beton dan ada ruang yang berAC, namun ternyata ada juga kamar ekonomi yang berharga Rp. 30.000, saya pun tak pikkir panjang segera mengambilnya, kamarnya lebih bersih dan ada dua kasur di dalam kamar, namun dindingnya yang dari

jadi jangan heran kalau kapal belum datang jadi penginpan akan banyak yang penuh. Belum sempat saya mengambil ransel di penginapan yang lama ada sebuah telepon yang masih, nomornya masih baru dan menanyakan mau ngapain saya hari ini, dan saya jawab belum tau dan dia langsung mengajak saya jalan. Tak lama menunggu ternyata dia adalah Abang Icang, temannya kaka Pedi yang kemaren bertemu di Kantor Kehutanan, sayapun diajak keliling-keliling kota Labuan Bajo, serta menuju Goa Batu Cermin, salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Labuan Bajo.
www.backpackerborneo.com

45 www.backpackerborneo.com

46

Eh ternyata yang jaga juga teman-temannya sehingga saya tidak dipungut karcis masuk. Dan menuju Goa Batu cermin dengan ditemani oleh seorang cewek yang menjadi guide saya, salah seorang bapak membisiki saya Ntar beri aja uang Rp. 10.000 buat tip dia,oke deh... Untuk menuju Lokasi Goa kita harus berjalan sekitar 200 meter di jalan yang sudah dilapisi paving blok, dan tampaknya goa ini baru dibenahi oleh pemerintah walaupun tampak ada bangunan yang sudah rusak dan penuh coretan. Silvy pun bercerita dengan lancar tentang sejarah goa ini, katanya goa ini sempat dijadikan tempat persembunyian oleh penduduk setempat ketika jaman penjajahan. Seperti goa pada umumnya banyak stalagtit dan stalagmit yang menghiasi langit-langit dan dinding goa ini.Yang menjadi keunikan goa ini adalah kita bisa menemukan fosil-fosil hewan yang biasa di bawah laut seperti ikan dan kura-kura, hal ini menandakan bahwa goa ini dulunya pernah berada di bawah laut. Selain itu goa ini dinamakan Goa Batu Cermin bukan karena kita bisa bercermin dengan batunya, namun karena pada musin hujan air yang menggenangi lantai goa terpantul oleh cahaya matahari ke dinding goa dan tampak berkilauan seperti cermin, makanya disebut Goa Batu Cermin. Untuk masuk ke dalam goa kadang kita harus menunduk karena ada yang stalaktitnya sangat rendah,

namun di bagian tengah goa ada sebuah ruangan yang cukup luas dan disinilah katanya orang-orang dulu berkumpul. Jalan masuk dan keluar goa ini berbeda sehingga kita akan melewati pemandangan yang berbeda. Setelah selesai dan kembali ke pos penjagaan saya langsung diantar oleh sepupu Bang Icank untuk bertemu dengannya di Perempatan karena dia ada yang urus sebelumnya. Karena dia tidak bisa menemani akhirnya saya dipinjamkan motor untuk berkeliling, dan untungnya jalan di Labuan Bajo tidak begitu membingungkan dan hanya ada beberapa lampu merah. Sehingga cukup aman bagi saya berkendara sendiri tanpa peta. Siangnya saya menuju Pantai Pede, bertanya menjadi panduan saya untuk menuju pantai ini. dan saya diberi petunjuk bahwa tinggal lurus menuju arah ke Hotel Jayakarta dan Pantai Pede tepat ada di samping kanan sebelum hotel ini. Sudah banyak fasilitas yang dibangun di Pantai ini seperti tempat untuk duduk-duduk, bahkan ada juga Perahu air berbentuk bebek namun terlihat dirantai dan kayaknya lama tidak digunakan. Hanya ada beberapa orang di pantai ini, serasa milik sendiri, namun pantainya yang berpasir putih hanya sedikit mungkin karena pasang atau memang begitu adanya yang pastinya cukup banyak sampah yang terlihat di tepi pantainya, mungkin terbawa dari laut.
www.backpackerborneo.com

48

Karena bosan hanya dudukduduk sayapun melanjutkan ke perjalanan mengikuti jalan, ternyata di pinggir jalan banyak terlihat pub dan bar yang kecil-kecil, dan jalan yang beraspal mulus ini ternyata berakhir di Hotel Jayakarta, Salah satu Hotel berbintang yang ada di Labuan Bajo dan memiliki banyak jaringan di berbagai kota. Matahari semakin turun, sayapun kembali ke Pantai Pede untuk menikmati sunset. Hanya ada dua orang cewek dari Polandia setengah bugil yang lagi berjemur, sisanya hanya tampak nelayan di ujung pantai yang membuat saya penasaran untuk mendekat.

Ternyata orang tua ini bernama Pak Lewu, dia tinggal di sebuah pondok di ujung pantai yang berdindingkan kardus dan atapnya seng bekas, dia melaut masih memakai perahu tenaga angin, hanya anakanaknya yang telah menggunakan perahu bermesin. Matahari semakin tenggelam dan berubah perlahan-lahan dari bundar hingga habis sama sekali, yang tertinggal hanya cahayanya yang keemasan. Itu berarti mengakhiri pertualangan saya hari ini di Labuan Bajo dan besok harinya adalah waktu yang saya tunggu-tunggu, yaitu waktunya untuk mengekplore Taman Nasional Komodo.