I. 1.

Pengertian
Abses otak (AO) adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak; terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan atau melaui sistem vaskular. Timbunan abses pada daerah otak mempunyai daerah spesifik, pada daerah cerebrum 75% dan cerebellum 25%.

II. 2. Etiologi Penyebab dari abses otak ini antara lain, yaitu: 1. Bakteri Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. 2. Jamur Jamur penyebab AO antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. 3. Parasit Walaupun jarang, Entamuba histolitica, suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan AO secara hematogen. 4. Komplikasi dari infeksi lain Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media, mastoiditis )hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta Komplikasi infeksi lainnya seperti: paru-paru (bronkiektaksis, abses paru, empisema), jantung (endokarditis), organ pelvis, gigi dan kulit.

II. 3. Patofisiologi Mikroorganisme penyebab abses masuk ke otak dengan cara: 1. Implantasi langsung akibat trauma, tindakan operasi, pungsi lumbal. Penyebaran infeksi kronik pada telinga, sinus, mastoid, dimana bakteri dapat masuk ke otak dengan melalui tulang atau pembuluh darah. 2. Penyebaran bakteri dari fokus primer pada paru-paru seperti abses paru, bronchiactasis, empyema, pada endokarditis dan perikarditis. 3. Komplikasi dari meningitis purulenta.

sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak. tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea. hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik. Trombisis sepsis dan edema. kadang-kadang disertai bintik perdarahan. selulitis orbita.Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal. Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu : 1. sinusitis etmoidalis. hanya sepertiga AO adalah multipel. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun. stadium serebritis dini 2. adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem. Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. stadium pembentukan kapsul dini 4. stadium pembentukan kapsul lanjut. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Dua pertiga AO adalah soliter. amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan AO yang berlokasi pada lobus frontalis. fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. AO dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh. Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. II. Manifestasi Klinik . Otitis media. tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. Astroglia. bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis. dapat menimbulkan meningitis. perlunakan dan kongesti jaringan otak. atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. Kemudian terjadi ruptur. 4. Infeksi jaringan fasial. mastoiditis terutama menyebabkan AO lobus temporalis dan serebelum. stadium serebritis lanjut 3. AO bersifat soliter atau multipel. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris.

2. kejang. Nystagmus 3. disorientasi 4. apatis. Kontralateral 6. defisit motorik. V. Paralisis fasial kontralateral cerebellum 1. Nyeri kepala pada suboccipital 6. Kejang Sumber Infeksi Sinus paranasal Lobus temporal 1. Hemiparesis /paralisis 5.Tanda dan gejala awal dan umum dari abses otak adalah nyeri kepala. Demam tinggi 7. Dystonia 4. Infeksi pada telinga tengah II. Lokasi Lobus frontalis Tanda dan Gejala 1. mastoid. IM menurun kesadaran mungkin dpat terjadi. sinus. adanya tandatanda peningkatan tekanan intrakranial. . Kulit kepala lunak/lembut 2. paru-paru: terdapat proses suppurative. Dispagia 2. Disfungsi saraf III. kaku kuduk. yaitu: 1. 5. Letargi. Paralisis saraf III dan IV 5. X-ray tengkorak. Distonia 4. VI. Ataxia ipsilateral 2. CT scan: adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran. Kaku kuduk positif 5. Gangguan lapang pandang 3. Nyeri kepala yang terlokalisir di frontal 3. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diganostik yang dapat dilakukan pada pasien dengan kasus abses otak. Tanda dan gejala lain tergantung dari lokasi abses. IV.

6. Defisit neurologis fokal 5. fisioterapi 2. 3. II. Antibiotik: Penicillin G. glukosa normal. yaitu: 1. Hidrosephalus 6. Nafcillin. Chlorampenicol. Support nutrisi: tinggi kalori dan tinggi protein. MRI: sama halnya dengan CT scan yaitu adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran. b. 4. Anticonvulsants: Oilantin. Lumbal Pungsi: meningkatnya sel darah putih. Terapi peningktan TIK c. Biopsi otak: mengetahui jenis kuman patogen. Herniasi . Komplikasi Kemungkinan komplikasi yang akan terjadi pada pasien dengan abses otak adalah: 1. Gangguan mental 2. 7.3. Paralisis. Pembedahan 3. Penatalaksaan Umum a. b. Support fungsi tanda vital d. Pengobatan a. Matronidazole. 5. protein meningkat (kontraindikasi pada kemungkinan terjadi herniasi karena peningkatan TIK). II. Penatalaksanaan Penetalaksaan medis yang dilakukan pada abses otak. Kejang 4. Glococorticosteroid: Dexamethasone c.

peninggikatan tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal . Suku bangsa h. 3. Riwayat penyakit sekarang: demam. Pendidikan d. Identitas klien dan psikososial a. 4. Nyeri kepala . Penampilan sebelum sakit j. Tempat tinggal yang kumuh 2.BAB III KONSEP KEPERAWATAN III. 5. Tingkat kesadaran b. Reran keluarga i. Pemeriksaan fisik a.empiema). organ pelvis. Riwayat penyakit dahulu: pernah atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media. usia. 1. Mekanisme koping k. Pekerjaan f. Pengkajian 1. mastoiditis) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis. Agama g. anoreksi dan malaise. jantung (endokarditis). gigi dan kulit. b. Keluhan utama: nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran.abses paru. Jenis kelamin c. Alamat e.

muntah. Gangguan pendengaran dan penglihatan f.masalah berjalan. e. . Eliminasi Tanda: adanya inkontensia dan/atau retensi d.kelumpuhan. c.nistagmus. Ptosis e. Nystagmus d.mata. Kaku kuduk l. b.gerakan involunter. pupil unisokor (peningkatan TIK). Nutrisi Gejala: kehilangan nafsu makan. Tanda brudzinski’s dan kernig’s positif 6.turgor kulit jelek. Paralisis/kelemahan otot h.membran mukosa kering. Peningkatan sushu tubuh g. Perubahan pola napas i.c. Kejang j. sulit dalam mengambil keputusan.parestesia. Higiene Tanda: ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri(pada periode akut) f.nadi menurun (berhubungan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor).timbul kejang. Tanda: anoreksia. Sirkulasi Gejala: adanya riwayat kardiopatologi.kehilangan memori. Neurosensori Gejala: sakit kepala. gangguan penglihatan Tanda: penurunan status mental dan kesadaran.afasia. Aktivitas/istirahat Gejala: malaise Tanda: ataksia. Pola fungsi kesehatan a. seperti endokarditis Tanda: TD meningkat. Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial k.kejang umum lokal.disfagia (pada periode akut).

menggigil. Klien mengatakan nyeri kepala b.g. sinus. bradikardia d. Perubahan pola napas. Klien mengatakan merasa mual c. III. Muntah . infeksi pelvis. pembedahan. diaforesis. h. Pernapasan Gejala: adanya riwayat infeksi sinus atau paru Tanda: peningkatan kerja pernapasan ( episode awal ). tonus otot flaksid atau spastik. Perubahan kesadaran b. telinga tengah. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Ditandai dengan : Data Subjektif (DS): a. mastoiditis. Klien mengatakan bahwa pandangannya kabur Data Objektif (DO): a.paralisis atau parese. yaitu: 1. Keamanan Gejala: adanya riwayat ISPA/infeksi lain meliputi . Diagnosa Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan abses otak. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. Menangis/mengeluh. Nyeri /kenyamanan Gejala: Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan pada leher/punggung kaku. Perubahan tanda vital c. 2. Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah. Tanda: tampak terus terjaga. fraktur pada tengkorak/cedera kepala.abses gigi. Klien mengatakan merasa lemah d. i.abdomen atau kulit.fungsi lumbal.Gangguan sensasi. Kelemahan secara umum. Tanda: suhu meningkat. Nyeri kepala e.

atropi.f. Data Objektif (DO): a. IV. parese. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. penurunan kesadaran dan status mental. VIII h. Aktivitas kejang c. Paralisis. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. VI. Kontraktur. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan demam dan rasa haus. Kelemahan motorik g. 4. . Kerusakan pada Nervus kranial III. Suhu tubuh diatas 38o C. VII. Refleks patologis i. tremor b. abses 2. Perubahan nilai ACD j. Hasil pemeriksaan CT scan adanya edema serebri. hemiplegia. Penurunan kesadaran b. Data Objektif (DO): a. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Kelurga klien mengatakan bahwa klien mengalami penurunan kesadaran. Kekuatan otot kurang c. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan lemah. Perubahan status mental 3. defisit neurologik. Data Objektif (DO): a.

Adanya tanda-tanda kekurangan nutrisi: anemis. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan demam dan rasa haus. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan tidak nafsu makan. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. mual dan muntah. Turgor kulit kurang c. Kulit kering d. intake yang tidak adekuat. Hb dan Albumin kurang dari normal f. Peningkatan leukosit 5. Data Objektif (DO): a. kehilangan cairan. cepat lelah. Perubahan nilai elektrolit 6. kaku kuduk. muntah Data Objektif (DO): a. Mukosa mulut kering d. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. 7. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): . Perubahan tanda vital c. Urine pekat e. iritasi meningeal. b. Pasien tidak menghabiskan makanan yang telah disediakan b. Suhu tubuh di atas 38oC. mual dan muntah. Diet makan c. kelemahan. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. e. Tekanan darah kurang dari normal.b. Penurunan BB d.

Data Objektif (DO): a. Berikan waktu istirahat yang cukup dan kurangi stimulus lingkungan. 2. Tidak terjadi defisit neurologi Intervensi: a. c. hindari fleksi leher. R/ : Mengurangi edema serebral. mengedan.Pasien menguluh nyeri kepala. nyri kepala. kemampuan motorik. . R/ : Tanda dari iritasi meningeal terjadi akibat peradangan dan mengakibatkan peningkatan TIK. Monitor status neurologi setiap 2 jam: tingkat kesadaran. Kaku kuduk positif III. R/ : Memfasilitasi kelancaran aliran darah vena. menghilangkan faktor penyebab. pupil. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Kriteria hasil: a. Monitor tanda vital dan temperatur setiap 2 jam. R/ : Menhindari peningktan TIK. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. muntah. Kolaborasi dalam pemberian diuretik osmotik. R/ : mengurangi peningkatan TIK. Tanda vital dalam batas normal c. Intervensi Intervensi yang direncanakan pada klien dengan abses otak. refleks. Kurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK: batuk. R/ : perubahan tekanan nadi dan bradikardia indikasi herniasi otak dan peningkatan TIK. b. e. Tinggikan posisi kepala 30-40o pertahankan kepala pada posisi neutral. steroid. 3. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. f. memenuhi kebutuhan oksigenasi. Ekspresi wajah menunjukkan rasa nyeri b. Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi b. d. penurunan kesadaran dan status mental. antibiotik. yaitu: 1. oksigen. menahan napas. kaku pada leher dan merasa tidak nyaman. kaku kuduk.

R/ : Setelah kejang kemungkinan pasien disorientasi. d. Alih posisi pasien setiap 2 jam. Pasien dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal. defisit neurologik. Injuri tidak terjadi Intervensi: a. Kriteria hasil: a. b. c. Kaji kemampuan mobilisasi. b. R/ : Menentukan keadaan pasien dan resiko kejang. . R/ : Mengurangi resiko kejang / menghentikan kejang. Catat aktivitas kejang dan tinggal bersama pasien selama kejang. Kolaborasi dalal pemberian obat anti kejang. Tidak terjadi atropi. Kaji status neurologik dan tanda vital setelah kejang. Intervensi: a. c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. d. spatel. Kaji status neurologi setiap 2 jam. R/ : Merencanakan intervensi lebih lanjut dan mengurangi kejang. R/ : Mengetahui respon post kejang. Kejang tidak terjadi c. Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi b. oksigen. 3. R/ : Hemiparese mungkin dapat terjadi. Integritas kulit utuh. e. kesiapan suction. b. Orientasikan pasien ke lingkungan. f. Tidak terjadi kontraktur. Pertahankan keamanan pasien seperti penggunaan penghalangtempat tidur.Kriteria hasil: a. R/ : Mengurangi resiko injuri dan mencegah obstruksi pernapasan.

c. c. f. d. R/ : Mengetahui suhu tubuh. . Pengeluaran urine tidak pekat. Lakukan ROM pasive. 4. Berikan obat anti pireksia. elektrolit dalam batas normal. konstipasi. Monitor tanda-tanda dehidrasi. R/ : Menghindari kontraktur dan atropi. Monitor suhu setiap 2 jam. b. R/ : Melancarkan aliran darah dan mencegah dekubitus. e. R/ : Mengurangi suhu tubuh. R/ : Tubuh dapat kehilngan cairan melalui kulit dan penguapan. 5o C. d. Berikan minum yang cukup 2000 cc/hari. R/ : Mencegah dehidrasi. Konsul pada ahli fisioterapi jika diperlukan. pernapasan dan tekanan darah. b. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Kriteria Hasil: a. Intervensi: a. Tanda vital normal.R/ : Menghindari kerusakan kulit. Lakukan masage bagian tubuh yang tertekan. d. f. Lakukan kompres dingin dan hangat. Suhu tubuh normal 36. Monitor tanda vital. R/ : Efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi. e.5 – 37. Turgor kulit baik. R/ : Perencanaan yang penting lebih lanjut. Monitor tromboemboli. R/ : Komplikasi immobilitas. c.

R/ : Mengurangi distensi gaster. dan peningkatan nadi. Catat intake dan output cairan. b. R/ : Mengetahui perbaikan atau ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. elektrolit dalam batas normal. R/ : Mencegah secara dini terjadinya dehidrasi. g. Kriteria Hasil : a.R/ : Mengurangi suhu tubuh melalui proses konduksi. Ukur tanda vital setiap 4 jam. d. Turgor kulit baik. R/ : Pemenuhan kebutuhan cairan dengan IV akan mempercepat pemulihan dehidrasi. g. Observasi tanda-tanda dehidrasi. b. Suhu tubuh normal 36. Monitir hasil pemeriksaan laboratorium terutama elektrolit. c.5 – 37. 5o C. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. h. 5. kehilangan cairan. Intervensi: a. R/ : Peningkatan temperatur mengakibatkan pengeluaran cairan lewat kulit bertambah. . Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena. d. Tanda vital normal. R/ : Tekanan vena sentral untuk mengetahui keseimbangan cairan. e. f. Monitor tanda-tanda kejang. Pertahankan temperatur tubuh dalam batas normal. Pengeluaran urine tidak pekat. Berikan minuman dalam porsi sedikit tetapi sering. Pertahankan dan monitor tekanan vena setral. R/ : Suhu tubuh yang panas berisiko terjadi kejang. c. R/ : Mengetahui keseimbangan cairan. R/ : Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit menimbulkan perubahan tanda vital seperti penurunan tekanan darah.

e. i. Nafsu makan pasien baik. R/ : Meningkatkan selera makan pasien. Kurangi minum sebelum makan. e. Terjadi peningkatan BB secara bertahap. kelemahan. Intervensi: a. R/ : Meningkatkan selera makan. b. Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering. R/ : Minum yang banyak sebelum makan mengurangi intake makanan. R/ : Menekan rasa mual dan muntah. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. d. c. Kriteria hasil: a. g. Hb dan albumin dalam batas normal. Tanda-tanda kurang nutrisi tidak ada. bau. .6. kebersihan tempat makan. intake yang tidak adekuat. Lakukan perawatan mulut. Hindari keadaan yang dapat menggangu selera makan: lingkungan kotor. Kaji makanan kesukaan pasien. b. R/ : Menhindari mual dan muntah. mual dan muntah. f. d. c. Berikan antiemetik 1 jam sebelum makan. R/ : Posisi berbaring saat makanan dalam lambung penuh dapat mengakibatkan refluks dan tidak nyaman. R/ : Penuruna BB berarti kebutuhan makanan kurang. f. Hindari berbaring kurang 1 jam setelah makan. h. Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan hygiene. menarik. suara gaduh. Tanda vital normal. Pasien dapat menghabiskan makanan yang telah disediakan RS. Timbang BB 3 hari sekali secara periodik. R/ : Meningkatkan selera makan.

Implementasi Implementasi atau tindakan keperawatan yang dilakukan berdasarkan intervensi pada pasien abses otak. Berikan obat analgetik sesuai program. 4. R/ : Mengetahui penanganan yang efektif. Lakukan perubahan posisi. Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa nyeri c. Monitor kadar Hb dan albumin. Nyeri berkurang atau tidak terjadi b. R/ : Mengetahui status nutrisi. b. Kaji tingkat nyeri pasien. d. Tanda vital dalam batas normal. kaku kuduk. e.R/ : Meningkatkan nafsu makan. 7. III. yaitu: 1. keadaan bising. Lakukan massage pada daerah yang nyeri secara lembut. j. Kriteria hasil: a. iritasi meningeal. R/ : Mengetahui derajat nyeri pasien. R/ : Meningkatkan rasa nyaman. Jaga lingkungan untuk tetap nyaman: mengurangi cahaya. f. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Implementasi: . R/ : Mengurangi nyeri. Kaji faktor yang dapat meringankan dan memperberat nyeri. kompres hangat. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. R/ : Meningkatkan relaksasi. c. Intervensi a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. R/ : Meningkatkan rasa nyaman.

hindari fleksi leher. 2. d. c. Meninggikan posisi kepala 30-40o pertahankan kepala pada posisi neutral. 4. penurunan kesadaran dan status mental. b. steroid. f. Memonitor tanda vital dan temperatur setiap 2 jam. pupil. kesiapan suction. refleks. 3. defisit neurologik. mengedan. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Implementasi: a. oksigen. e. menahan napas. Implementasi: a. c. Mengorientasikan pasien ke lingkungan. muntah. c. . d. Memberikan waktu istirahat yang cukup dan kurangi stimulus lingkungan. g. Mengkaji status neurologik dan tanda vital setelah kejang. b. Mengkaji status neurologi setiap 2 jam. antibiotik. nyri kepala. Mengkonsultasikan pada ahli fisioterapi jika diperlukan. Mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK: batuk. kaku kuduk. b. Mempertahankan keamanan pasien seperti penggunaan penghalang tempat tidur. e. d. Mencatat aktivitas kejang dan tinggal bersama pasien selama kejang. Mengkaji kemampuan mobilisasi. Melakukan ROM pasive. Melakukan masage bagian tubuh yang tertekan. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. spatel. Mengalih posisi pasien setiap 2 jam. Mengkolaborasi dalam pemberian obat anti kejang. Memonitor suhu setiap 2 jam. f.a. e. konstipasi. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. Mengkolaborasi dalam pemberian diuretik osmotik. kemampuan motorik. Memonitor status neurologi setiap 2 jam: tingkat kesadaran. Memonitor tromboemboli. Implementasi: a. oksigen.

kelemahan. c. d. Mempertahankan temperatur tubuh dalam batas normal. c. f. Memonitor tanda-tanda kejang. g. f. Memberikan antiemetik 1 jam sebelum makan. . Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. d. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. Memberikan obat anti pireksia. c. e. Mempertahankan dan monitor tekanan vena setral. Mengkaji makanan kesukaan pasien. kebersihan tempat makan. e. Mengkolaborasi dalam pemberian cairan intravena. Mencatat intake dan output cairan.b. f. e. d. suara gaduh. Implementasi: a. g. Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi. 5. Melakukan kompres dingin dan hangat. intake yang tidak adekuat. h. Implementasi: a. Menimbang BB 3 hari sekali secara periodik. 6. Memonitor tanda-tanda dehidrasi. Menhindari berbaring kurang 1 jam setelah makan. Memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering. Memberikan minuman dalam porsi sedikit tetapi sering. Menyajikan makanan dalam keadaan hangat dan hygiene. mual dan muntah. g. b. b. Memonitir hasil pemeriksaan laboratorium terutama elektrolit. kehilangan cairan. Memberikan minum yang cukup 2000 cc/hari. Memonitor tanda vital. Mengurangi minum sebelum makan. bau. Mengukur tanda vital setiap 4 jam. Menghindari keadaan yang dapat menggangu selera makan: lingkungan kotor. menarik. h.

b. Evaluasi Hasil evaluasi yang diharapkan setelah dilakukan implementasi dari intervensi yang direncanakan. Menunjukkan mobilisasi secara aktif dan optimal b. a. 2. j. Mengkaji tingkat nyeri pasien. Menunjukkan tidak adanya refleks patologis. 7. Klien mampu beradaptasi terhadap ganggaun mobilitas fisik yang dialami a. Tidak terjadinya resiko yang dapat menyebabkan injuri a. Mencapai perubahan tingkat kesadaran dan orientasi yang meningkat. Menunjukkan peningkatan kesadaran b. Menunjukkan integritas kulit yang utuh . Memonitor kadar Hb dan albumin. d. Melakukan massage pada daerah yang nyeri secara lembut. Mengkaji faktor yang dapat meringankan dan memperberat nyeri. keadaan bising. yaitu: 1. Implementasi: a. Memberikan obat analgetik sesuai program. III. kompres hangat. Menunjukkan peningkatan kesadaran b. c. Menunjukkan tidak terjadinya defisit neurologi f. 5. e.i. Melakukan perubahan posisi. kaku kuduk. Menurunnya kelemahan motorik d. Melakukan perawatan mulut. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. f. Tanda vital dalam batas normal e. Peningkatan satus mental 3. iritasi meningeal. Menjaga lingkungan untuk tetap nyaman: mengurangi cahaya. Tidak terjadi kejang c. Pandangan bagus c.

Menunjukkan pengeluaran urine yang tidak pekat c. g. Tidak terjadinya kontraktur. 4. Menunjukkan partisipasi dalam perawatan. Mencapai penurunan suhu tubuh a.c. h. . Menunjukkan tanda-tanda nutrisi yang terpenuhi. e. b. Menunjukkan intake makanan yang baik. Menujukkan nafsu makan yang baik d. Menunjukkan turgor kulit yang baik 5. Menunjukkan tanda vital yang normal b. Mencapai kebutuhan nutrisi yang terpenuhi a. f. Tidak terjadinya atropi d. Menunjukkan suhu tubuh normal d. Menetapkan program istirahat dan latihan yang seimbang. Mentaati program medikasi c. Tidak adanya komplikasi berhubungan dengan immobilitas yang dialami. e. Menetapkan maantaati jadwal medikasi yang memaksimalkan kekuatan otot. Menunjukkan peningkatan berat badan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful