Anda di halaman 1dari 27

Manajemen strategis Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Manajemen

strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan pengevaluasian keputusan-keputusan lintas fungsional yang dapat memungkinkan suatu perusahaan mencapai sasarannya.[1] Sesuai definisinya, manajemen strategis berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga tahapan dalam manajemen strategis, yaitu perumusan strategi, pelaksanaan strategi, dan evaluasi strategi.[1] Manajemen strategis merupakan aktivitas manajemen tertinggi yang biasanya disusun oleh dewan direksi dan dilaksanakan oleh CEO serta tim eksekutif organisasi tersebut. Manajemen strategis memberikan arahan menyeluruh untuk perusahaan dan terkait erat dengan bidang perilaku organisasi. Manajemen strategis berbicara tentang gambaran besar. Inti dari manajemen strategis adalah mengidentifikasi tujuan organisasi, sumber dayanya, dan bagaimana sumber daya yang ada tersebut dapat digunakan secara paling efektif untuk memenuhi tujuan strategis. Manajemen strategis di saat ini harus memberikan fondasi dasar atau pedoman untuk pengambilan keputusan dalam organisasi. Ini adalah proses yang berkesinambungan dan terus-menerus. Rencana strategis organisasi merupakan dokumen hidup yang selalu dikunjungi dan kembali dikunjungi. Bahkan mungkin sampai perlu dianggap sebagaimana suatu cairan karena sifatnya yang terus harus dimodifikasi. Seiring dengan adanya informasi baru telah tersedia, dia harus digunakan untuk membuat penyesuaian dan revisi. Daftar isi

1 Definisi

2 Posisi strategis 3 Pembentukan strategi 4 Komponen proses manajemen strategis 5 Referensi 6 Pranala luar

Definisi Beberapa pakar dalam ilmu manajemen mendefinisikan manajemen strategis dengan cara yang berbeda-beda. Ketchen (2009) mendefinisikan manajemen strategis sebagai analisis, keputusan, dan aksi yang dilakukan perusahaan untuk menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif.[2] Definisi ini menggambarkan dua elemen utama manajemen strategis. Pertama, manajemen strategis dalam sebuah perusahaan berkaitan dengan proses yang berjalan (ongoing processes): analisis, keputusan, dan tindakan. Manajemen strategis berkaitan dengan bagaimana manajemen menganalisis sasaran strategis (visi, misi, tujuan) serta kondisi internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan. Selanjutnya, perusahaan harus menciptakan keputusan strategis. Keputusan ini harus mampu menjawab dua pertanyaan utama: (1) industri apa yang digeluti perusahaan dan (2) bagaimana perusahaan harus bersaing di industri tersebut. Terakhir, tindakan diambil untuk menjalankan keputusan tersebut. Tindakan yang perlu dilakukan akan mendorong manajer untuk mengalokasikan sumber daya dan merancang organisasi untuk mengubah rencana menjadi kenyataan. Elemen kedua, manajemen strategis adalah studi tentang mengapa sebuah perusahaan mampu mengalahkan perusahaan lainnya. Manajer perlu menentukan bagaimana perusahaan bisa menciptakan keunggulan kompetitif yang tidak hanya unik dan berharga, tetapi juga sulit ditiru atau dicari subtitusinya sehingga mampu bertahan lama. Keunggulan kompetitif yang mampu bertahan lama biasanya didapatkan dengan melakukan aktivitas berbeda dengan apa yang dilakukan pesaing, atau melakukan aktivitas yang sama dengan cara yang berbeda. Posisi strategis

Porter (1996) mendefinisikan strategi sebagai "penciptaan posis unik dan berharga yang didapatkan dengan melakukan serangkaian aktivitas."[3]. Porter menjabarkan tiga basis posisi strategis. Ketiganya tidak mutually exclusive dan seringkali saling bersinggungan. Basis pertama didapatkan dengan memproduksi bagian kecil (subset) sebuah produk dari industri tertentu. Porter menyebutnya sebagai variety-based positioning karena posisi ini berasal dari pemilihan produk, bukan berdasarkan segmentasi konsumen. Dengan kata lain, perusahaan berusaha memenuhi sedikit kebutuhan dari banyak orang. Porter menyontohkan Jiff Lube International yang hanya memproduksi pelicin (lubricant) otomotif dan tidak menawarkan produk perawatan lainnya. Variety-based positioning efektif bila perusahaan memiliki kemampuan menciptakan produk subset tersebut dengan baik, jauh lebih unggul dibanding pesaingnya. Basis kedua adalah melayani sebagian besar atau bahkan seluruh kebutuhan dari sekelompok konsumen tertentu, yang disebut sebagai needs-based positioning. Contohnya adalah IKEA yang berusaha memenuhi seluruh kebutuhan mebel, bukan hanya sebagian (subset), untuk target pasarnya. Posisi ini didapatkan dengan melakukan serangkaian aktivitas dengan cara berbeda dengan yang dilakukan pesaing. Apabila tidak ada perbedaan dalam aktivitas, konsumen tidak akan mampu membedakan perusahaan bersangkutan dengan pesaing. Varian dari model ini adalah memenuhi kebutuhan target pasar untuk waktu yang berbeda-beda. Seorang konsumen, misalnya, memilki kebutuhan yang berbeda ketika ia melakukan perjalanan untuk bisnis dan ketika dia melakukan perjalanan untuk liburan. Perusahaan bisa mengambil posisi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda dari target pasar yang sama. Basis ketiga didapatkan dengan menarget konsumen yang dapat diakses dalam cara yang berbeda, yang disebut sebagai access-based positioning. Konsumen-konsumen ini, meskipun memiliki kebutuhan dan keinginan yang hampir sama dengan konsumen lainnya, membutuhkan konfigurasi aktivitas yang berbeda untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut. Porter mencontohkannya lewat Carmike Cinemas, yang mengoperasikan bioskop hanya di kota-kota kecil yang padat, namun dengan populasi kurang dari 200.000 orang. Meskipun pasarnya kecil dengan kemampuan pembeliannya di bawah kota besar, Carmike Cinemas berhasil meraih keuntungan karena melakukan aktivitas berbeda dengan yang ditawarkan bioskop-bioskop di kota besar, misalnya dengan melakukan standardisasi, membuka hanya sedikit studio, dan menggunakan teknologi proyektor yang lebih rendah dibanding dengan bioskop di kota besar.

Pembentukan strategi Tugas pertama dalam manajemen strategis pada umumnya adalah kompilasi dan penyebarluasan pernyataan misi. Aktivitas ini mendokumentasikan kerangka dasar organisasi dan mendefinisikan lingkup aktivitas yang hendak dijalankan oleh organisasi. Setelah itu, organisasi bersangkutan akan melakukan pemindaian lingkungan untuk membangun keselarasan dengan pernyataan misi yang telah dibuat. Pembentukan strategi adalah kombinasi dari tiga proses utama sebagai berikut:

Melakukan analisis situasi, evaluasi diri dan analisis pesaing: baik internal maupun eksternal; baik lingkungan mikro maupun makro. Bersamaan dengan penaksiran tersebut, tujuan dirumuskan. Tujuan ini harus bersifat paralel dalam rentang jangka pendek dan juga jangka panjang. Maka di sini juga termasuk di dalamnya penyusunan pernyataan visi (cara pandang jauh ke depan dari masa depan yang dimungkinkan), pernyataan misi (bagaimana peran organisasi terhadap lingkungan publik), tujuan perusahaan secara umum (baik finansial maupun strategis), tujuan unit bisnis strategis (baik finansial maupun strategis), dan tujuan taktis.

Komponen proses manajemen strategis Manajemen strategis secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang berorientasi masa depan yang memungkinkan organisasi untuk membuat keputusan hari ini untuk memposisikan diri untuk kesuksesan di masa mendatang. Pandangan yang lebih tradisional dari manajemen strategis menggunakan pendekatan linear dimana pertama dilakukan pemantauan terhadap lingkungan organisasi (baik internal dan eksternal), strategi dirumuskan, strategi yang diimplementasikan dan lantas kemajuan organisasi terhadap strategi kemudian dievaluasi. Kecepatan pacu saat ini dari perubahan menyatakan bahwa tahap perumusan dan pelaksanaan harus lebih diintegrasikan lebih erat untuk memastikan bahwa sejalan terjadinya perubahan dan timbulnya masalah di implementasi, strategi tersebut kembali dikunjungi secara terus menerus.

Pemantauan lingkungan harus mencakup baik internal dan komponen eksternal. Sementara sebagian besar organisasi merasa nyaman dengan pemindaian lingkungan internal, mereka masih memiliki lebih banyak kesulitan dengan bagian eksternal. Organisasi yang hanya melihat ke dalam masih kehilangan setengah dari persamaan utuh untuk membuat keputusan yang lebih efektif bagi perusahaan. Beberapa elemen yang biasa digunakan untuk memeriksa kondisi eksternal meliputik industri sebagai suatu keseluruhan (termasuk tren yang berdampak pada industri), dan tren sosial dalam empat bidang utama: ekonomi, teknologi, tren politik-hukum, serta sosial-budaya. Ada tiga tingkatan strategi dibuat dalam organisasi yang lebih besar, yakni meliputi strategi perusahaan, bisnis, dan fungsional (atau operasional). Sementara strategi perusahaan akan menentukan bisnis apakah yang perusahaan akan benar-benar beroperasi di sana, strategi bisnis akan menentukan bagaimana perusahaan akan bersaing di masing-masing bisnis yang telah dipilih. Dan strategi tingkat operasional akan menentukan bagaimana masing-masing bidang fungsional (seperti sumber daya manusia atau akuntansi) benar-benar akan mendukung strategi-strategi bisnis dan korporasi. Semua strategi ini harus berkaitan erat untuk memastikan bahwa organisasi bergerak ke arah yang menyatu. Data dari pemantauan lingkungan ini kemudian digunakan untuk membuat rencana strategis bagi organisasi - yang kemudian dilaksanakan. Sebuah pepatah lama menyatakan bahwa "gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan untuk gagal. Jika sebuah organisasi tidak merencanakan arahnya, dia juga terbilang tidak mengambil kendali atas masa depannya. Tahap implementasi melibatkan hampir semua anggota organisasi. Akibatnya, perusahaan akan perlu melibatkan lebih banyak karyawan dalam tahap perencanaan. Sementara perhatian historis lebih diberikan untuk tahap perencanaan, organisasi saat ini yang cerdik juga menyadari sifat kritis dari aspek pelaksanaan. Rencana terbaik tak ada artinya jika implementasinya cacat. Komponen terakhir dari manajemen strategis adalah evaluasi dan pemantauan kemajuan perusahaan ke arah sasaran strategisnya. Organisasi-organisasi yang meyakini bahwa proses terbilang selesai setelah rencana diimplementasikan hanya akan menemukan diri mereka menemui kegagalan. Penting sekali bagi organisasi untuk terus memantau kemajuannya. Referensi

1.

^ a b David, Fred R. (2004). Manajemen Strategis: Konsep-konsep (Edisi ^ Ketchen Jr. D. et all. 2009. "Strategy 2008-2009". New York: McGraw-Hill ^ Porter, Michael. 1996. "What is Strategy?". Harvard Business Review hal .61-79

Kesembilan). PT Indeks Kelompok Gramedia. ISBN 979-683-700-5.


2. 3.

Arsip untuk Pengertian Manajemen Strategik Kategori Pengertian Manajemen Strategik Februari 25, 2010 Apa yang anda ketahui tentang manajemen, strategik dan manajemen strategik ? Pengertian Manajemen Istilah manajemen berasal dari kata management (bahasa Inggris), turunan dari kata to manage yang artinya mengurus atau tata laksana atau ketata laksanaan. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara manajer (orangnya) mengatur, membimbing dan memimpin semua orang yang menjadi pembantunya agar usaha yang sedang digarap dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian Manajemen menurut beberapa ahli yaitu :

1. Menurut James A.F Stoner, Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. 2. Menurut Mary Parker Follet, Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus. 3. Menurut Drs. Oey Liang Lee, Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian,penyusunan,pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Menurut R. Terry, Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya. 5. Menurut Lawrence A. Appley, Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain 6. Menurut Horold Koontz dan Cyril Odonnel, Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Sebenarnya ada banyak versi mengenai definisi manajemen, namun demikian pengertian manajemen itu sendiri secara umum yang bisa kita jadikan pegangan adalah Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian atau pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya. Pengertian Strategik Strategi adalah rencana jangka panjang dengan diikuti tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, yang umumnya adalah kemenangan.

Asal kata strategi adalah turunan dari kata dalam bahasa Yunani, strategos. Pengertian strategi menurut Glueck dan Jauch adalah Rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi. Pengertian strategi secara umum dan khusus sebagai berikut : Pengertian Umum Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Pengertian Khusus Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan. Pengertian Manajemen Strategik Manajemen strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh pimpinan dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuan. Pengertian Manajemen Strategik menurut beberapa ahli yaitu :

1. Menurut Pearch dan Robinson (1997) dikatakan bahwa manajemen strategik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi. 2. Menurut Nawawi adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategi) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan pimpinan tertinggi (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operaional untuk menghasilkan barang dan atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut strategis) dan berbagai sasaran (tujuan operasional) organsasi. Dari pengertian-pengertian yang cukup luas tersebut menunjukkan bahwa manajemen strategik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula. Kemampuan hardskill dan softkill apa saja yang harus di perlukan oleh seorang manajer ? Manajer memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kepuasan dan komitmen karyawan. Para manajer dituntut untuk bisa membantu karyawan memahami strategi organisasi secara keseluruhan dan bagaimana pekerjaan mereka mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Para manajer juga harus memastikan pimpinan senior mengambil tindakan yang perlu berdasarkan umpan balik dari karyawan untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif. Adapun keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer, yakni : 1. Ketrampilan konseptual (conceptional skill) Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses

perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga merupakan keterampilan untuk membuat rencana kerja. 2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill) Manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah. 3. Keterampilan teknis (technical skill) Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain. Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu: 1. Keterampilan manajemen waktu Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. 2. Keterampilan membuat keputusan Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager).

Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar. Berikut yang dapat saya simpulkan, kemampuan hardskill dan softskill yang diperlukan oleh seorang manajer, adalah : Hardskill : mempunyai kemampuan dalam menganalisis dan menggunakan berbagai alat yang ada, seperti komputer. Softskill : mempunyai kemampuan dalam suatu organisasi dalam memanage para karyawan.

Pengertian Fungsi Manajemen Strategi

Januari 5, 2010 raitetsu Uncategorized Tinggalkan Komentar

6 Votes

Strategi berasal dari bahasa Yunani stratogos yang artinya ilmu para jenderal untuk memenangkan suatu pertempuran dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (Sihombing,2000). Pengertian atau defenisi Manajemen strategi dalam khasanah literatur ilmu manajemen memiliki cakupan yang luas, dan tidak ada suatu pengertian yang dianggap baku. Itulah sebabnya defenisi manajemen strategi berkembang luas tergantung pemahaman ataupun penafsiran seseorang. Meskipun demikian dari berbagai pengertian atau defenisi yang diberikan oleh para pakar manajemen dapat ditemukan suatu kesamaan pola pikir, bahwa manajemen strategi merupakan ilmu yang menggabungkan fungsi-fungsi manajemen dalam rangka pembuatan keputusankeputusan organisasi secara strategis, guna mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Dari berbagai pengertian atau defenisi yang ada dapat disimpulkan bahwa manajemen strategi adalah suatu seni dan ilmu dari suatu pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang (Dwiningsih,2001) Keberadaan lembaga pendidikan sebagai salah satu pranata sosial budaya saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks. Lembaga pendidikan kini berhadapan dengan derasnya arus perubahan akibat globalisasi yang memunculkan persaingan dalam pengelolaan lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta. Globalisasi menuntut perlunya relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja/industri terhadap mutu lulusan (out-put) serta munculnya globalisasi pendidikan dengan bermunculannya lembaga pendidikan yang bertaraf

internasional. Perubahan yang merupakan perbedaan yang terjadi dalam urutan waktu, tentu saja tidak mudah diterjemahkan secara singkat dan eksplisit. Perubahan dalam pengertian hakiki sesungguhnya mengandung konotasi majemuk yang telah tergambar, lintas ruang dan lintas waktu dengan demikian warna-warni kehidupan masyarakat, warna warni yang dikenal sebagai ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dengan adanya perubahan tersebut, lingkungan pendidikan juga mengalami perubahan yang luar biasa. Dan kalau kita mau merunut pangkalnya, semua ini tentu saja tak terlepas dari menggejalanya revolusi informasi dan globalisasi yang melanda dunia saat ini. Akibat adanya revolusi dan globalisasi sebagaimana disebutkan di atas, persaingan kini telah menjadi semakin sengit karena tidak lagi terbatas pada persaingan antar sesama perusahaan domestik, tetapi juga dengan perusahaan multinasional dari manapun juga. Ini terjadi pada hampir semua bidang usaha, bukan hanya pada bidang bisnis saja, tetapi persaingan tersebut juga telah merambah ke dunia pendidikan kita, mulai dari Play group, SD, SLTP, SLTA, Universitas, bahkan ke institusi-institusi pendidikan lainnya. Berkaitan dengan meningkatnya persaingan dalam bidang pendidikan ini, terjadi pula perubahan pada perilaku konsumen, dalam hal ini yang dimaksud adalah masyarakat (orangtua dan siswa), maupun dunia usaha. Karena banyaknya pilihan, konsumen kini menjadi semakin banyak tuntutan, baik mengenai kualitas lulusan dan biaya pendidikan maupun pasilitas pendidikan. Bargaining power masyarakat meningkat sedemikian rupa sehingga industri atau dunia pendidikan terpaksa harus melayaninya kalau tidak mau akan tersingkir dari kancah persaingan yang makin berat. Dalam situasi lingkungan yang penuh dengan dinamika ini, manajemen pendidikan harus dapat menciptakan organisasi yang dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada dan masyarakat pada umumnya dan objek pendidikan (Siswa dan orangtua) pada khususnya. Saat yang bersamaan dapat pula bersaing secara efektif dalam konteks lokal, nasional bahkan dalam konteks global. Dengan kata lain dunia pendidikan kini dituntut untuk mengembangkan manajemen strategi dan operasi yang pada dasarnya banya diterapkan dalam dunia usaha, sebagai langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan baru guna mencapai dan mempertahankan posisi bersaingnya, sehingga nantinya dapat dihasilkan manusia-manusia yang memiliki sumber daya manusia berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Makalah ini secara sederhana akan menjelaskan tentang konsep dasar manajemen strategi dan operasi dalam upaya meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan supaya dapat bersaing dalam perkembangan global.

STRATEGIC MANAGEMENT What is strategic management? Strategic management can be used to determine mission, vision, values, goals, objectives, roles and responsibilities, timelines, etc. Top of Category What is strategic planning? Strategic planning is a management tool, period. As with any management tool, it is used for one purpose only: to help an organization do a better job - to focus its energy, to ensure that members of the organization are working toward the same goals, to assess

and adjust the organization's direction in response to a changing environment. In short, strategic planning is a disciplined effort to produce fundamental decisions and actions that shape and guide what an organization is, what it does, and why it does it, with a focus on the future. (Adapted from Bryson's Strategic Planning in Public and Nonprofit Organizations). A word by word dissection of this definition provides the key elements that underlie the meaning and success of a strategic planning process: The process is strategic because it involves preparing the best way to respond to the circumstances of the organization's environment, whether or not its circumstances are known in advance; nonprofits often must respond to dynamic and even hostile environments. Being strategic, then, means being clearr bout the organization's objectives, being aware of the organization's resources, and incorporating both into being consciously responsive to a dynamic environment. The process is about planning because it involves intentionally setting goals (i.e., choosing a desired future) and developing an approach to achieving those goals. The process is disciplined in that it calls for a certain order and pattern to keep it focused and productive. The process raises a sequence of questions that helps planners examine experience, test assumptions, gather and incorporate information about the present, and anticipate the environment in which the organization will be working in the future. Finally, the process is about fundamental decisions and actions because choices must be made in order to answer the sequence of questions mentioned above. The plan is ultimately no more, and no less, than a set of decisions about what to do, why to do it, and how to do it. Because it is impossible to do everything that needs to be done in this world, strategic planning implies that some organizational decisions and actions are more important than others - and that much of the strategy lies in making the tough decisions about what is most important to achieving organizational success. The strategic planning can be complex, challenging, and even messy, but it is always defined by the basic ideas outlined above - and you can always return to these basics for insight into your own strategic planning process. Top of Category

What is the difference between strategic planning and long-range planning? Although many use these terms interchangeably, strategic planning and long-range planning differ in their emphasis on the "assumed" environment. Long-range planning is generally considered to mean the development of a plan for accomplishing a goal or set of goals over a period of several years, with the assumption that current knowledge about future conditions is sufficiently reliable to ensure the plan's reliability over the duration of its implementation. In the late fifties and early sixties, for example, the US. economy was relatively stable and somewhat predictable, and, therefore, longrange planning was both fashionable and useful. On the other hand, strategic planning assumes that an organization must be responsive to a dynamic, changing environment (not the more stable environment assumed for long-range planning). Certainly a common assumption has emerged in the nonprofit sector that the environment is indeed changeable, often in unpredictable ways. Strategic planning, then, stresses the importance of making decisions that will ensure the organization's ability to successfully respond to changes in the environment. Top of Category What is strategic thinking and strategic management? Strategic planning is only useful if it supports strategic thinking and leads to strategic management - the basis for an effective organization. Strategic thinking means asking, "Are we doing the right thing?" Perhaps, more precisely, it means making that assessment using three key requirements about strategic thinking: a definite purpose be in mind; an understanding of the environment, particularly of the forces that affect or impede the fulfillment of that purpose; and creativity in developing effective responses to those forces. It follows, then, that strategic management is the application of strategic thinking to the job of leading an organization. Dr. Jagdish Sheth, a respected authority on marketing and strategic planning, provides the following framework for understanding strategic management: continually asking the question, "Are we doing the right thing?" It entails attention to the "big picture" and the willingness to adapt to changing circumstances, and consists of the following three elements: formulation of the organization's future mission in light of changing external factors such as regulation, competition,

technology, and customers development of a competitive strategy to achieve the mission creation of an organizational structure which will deploy resources to successfully carry out its competitive strategy. Strategic management is adaptive and keeps an organization relevant. In these dynamic times it is more likely to succeed than the traditional approach of "if it ain't broke, don't fix it." Top of Category What Strategic Planning Is Not! Everything said above to describe what strategic planning is can also provide an understanding of what it is not. For example, it is about fundamental decisions and actions, but it does not attempt to make future decisions (Steiner, 1979). Strategic planning involves anticipating the future environment, but the decisions are made in the present. This means that over time, the organization must stay abreast of changes in order to make the best decisions it can at any given point - it must manage, as well as plan, strategically. Strategic planning has also been described as a tool - but it is not a substitute for the exercise of judgment by leadership. Ultimately, the leaders of any enterprise need to sit back and ask, and answer, "What are the most important issues to respond to?" and "How shall we respond?" Just as the hammer does not create the bookshelf, so the data analysis and decision-making tools of strategic planning do not make the organization work - they can only support the intuition, reasoning skills, and judgment that people bring to their organization. Finally, strategic planning, though described as disciplined, does not typically flow smoothly from one step to the next. It is a creative process, and the fresh insight arrived at today might very well alter the decision made yesterday. Inevitably the process moves forward and back several times before arriving at the final set of decisions. Therefore, no one should be surprised if the process feels less like a comfortable trip on a commuter train, but rather like a ride on a roller coaster. But even roller coaster cars arrive at their destination, as long as they stay on track! Top of Category What is a strategic plan? In strategic planning it is critical to formally consider how your organization will accomplish its goals. The answer to this question is a strategy. There are a variety of formal definitions for strategies, but everyone fundamentally agrees that a strategy is the answer

to the question, "How?" "Strategies are simply a set of actions that enable an organization to achieve results." MAP for Nonprofits, St. Paul, MN. "Strategy is a way of comparing your organization's strengths with the changing environment in order to get an idea of how best to complete or serve client needs." Jim Fisk & Robert Barron, The Official MBA Handbook. Essentially, there are three different categories of strategies: organizational, programmatic, and functional. The difference among the categories is the focus of the strategy: Organizational strategy outlines the planned avenue for organizational development (e.g., collaborations, earned income, selection of businesses, mergers, etc.). Programmatic strategy addresses how to develop, manage and deliver programs (e.g., market a prenatal care service to disadvantaged expectant mothers by providing information and intake services in welfare offices). Functional strategies articulate how to manage administration and support needs that impact the organization's efficiency and effectiveness (e.g., develop a financial system that provides accurate information using a cash accrual method). Top of Category When should a strategic plan be developed? Strategy development follows the creation and affirmation of the organization's purpose statement, environmental and program data collection and analysis, and identification of critical issues. It is critical that strategy development follow these steps because the information gathered and decisions made in these phases are the foundation for strategy creation and selection. Each of these steps provides the following: The purpose statement, the statement of the organization's ultimate goal, provides the direction to which the strategies should ultimately lead. External market data and program evaluation results provide critical data to support strategy development. Without this information and insight, the organization's strategies will not be in alignment with or effective in the marketplace. The critical issues list serves as the specific focus and framework for the activities of the organization and the pattern of these activities (developing and selecting the strategies). Top of Category

How are strategies developed? Strategy formulation is a combination of rational, scientific examinations and educated, intuitive best guesses. Many individuals are overwhelmed by the idea of developing strategies, but it can be a fun and invigorating process. The process entails: examining the organization's critical issues determining how the organization's strengths and skills can be employed to address the critical issues analyzing opportunities and strengths and looking for ways to synthesize the two exploring and choosing the best approaches for the organization. During this evaluation ask these key questions: Does the strategy meet/address critical issues? Is this aligned with our mission? Is this approach financially viable? One effective method of strategy generation is to list critical issues and organizational strengths onto flipcharts and then have staff or board members brainstorm possible uses of those strengths or other skills to address the critical issues. Once the brainstorm session is completed, use a roundtable discussion to investigate and evaluate the possible strategies. Remember to develop a list of alternative strategies to investigate and keep in the contingency planning file. It is important not to discount the ideas that come to people during non-working hours. The Polaroid camera is the result of a three year old's question to her father: "Dad, why can't I see the picture now?" Top of Category What are some tools for for analysis and planning? A number of analytical tools have been developed to assist organizations with the planning process. Many nonprofit organizations have adapted these tools, modifying the questions and criteria to align with their own specific services and markets. Listed below are analytical tools frequently used by nonprofit and for-profit organizations. Top of Category What is SWOT Analysis? SWOT analysis is a methodology of examining potential strategies derived from the synthesis of organizational strengths, weaknesses, opportunities and threats

(SWOT). The partnering of the different elements and the extensive data collected as a result of the analysis can serve as a spark for roundtable discussions and refinement of current strategies or generation of new strategies. Top of Category What is the MacMillan Matrix? This strategy grid, developed by Dr. Ian MacMillan, is specifically designed to assist nonprofit organizations to formulate organizational strategies. There are three assumptions underlying this approach: the need for resources is essentially competitive and all agencies wanting to survive must acknowledge this dynamic given that resources are scarce, there is no room for direct duplication of services to a single constituency -- this is wasteful and inefficient mediocre or low quality service to a large client population is less preferable to delivering higher quality services to a more focused population. These assumptions have implications that are difficult and painful for many organizations and individuals. It might mean terminating some programs to improve core services and competencies, giving programs and clients to more efficient, effective agencies, or competing aggressively with those programs that are less effective or efficient. MacMillan's matrix examines four program dimensions that guide placement on the strategy grid and indicate implied strategies. Alignment with Mission Statement: Services or programs that are not in alignment with the organizational mission, unable to draw on existing organizational skills or knowledge, unable to share resources, and/or unable to coordinate activities across programs should be divested. Competitive Position: Competitive position addresses the degree to which the organization has a stronger capability and potential to fund the program and serve the client base than the competitive agencies. Program Attractiveness: Program attractiveness is the complexity associated with managing a program. Programs that have low client resistance, a growing client base, easy exit barriers, and stable financial resources are considered simple or "easy to administer." The level of program attractiveness also includes an economic perspective or a review of current and future resource investments.

Alternative Coverage: Alternative coverage is the number of other organizations attempting to deliver or succeeding in delivering a similar program in the same region to similar constituents. The MacMillan Matrix provides ten cells in which to place programs that have been reviewed in terms of these four dimensions. Each cell is assigned a strategy that directs the future of the program (s) listed in the cell (e.g., aggressive competition, joint venture, orderly divestment, etc.). One cell of the matrix, "Soul of the Agency," requires additional explanation. These are the difficult programs for which the organization is often the clients' "last, best hope." Management must find ways to use the programs in other cells to develop, piggyback, subsidize, leverage, promote, or otherwise support the programs in this category. Top of Category KNOWLEDGE MANAGEMENT What is knowledge management? Getting the right information to the right people at the right time -- to enable the right actions. Top of Category How are innovation and knowledge management related? Innovation is the most evolved stage in the development of knowledge management. The first stage is data, the second is information, the third is knowledge, and the fourth is innovation. Top of Category INFORMATION MANAGEMENT What is information management? Information management (IM) is the harnessing of the information resources and information capabilities of the organization in order to add and create value both for itself and for its clients or customers. Information management is the management of organizational processes and systems that acquire, create, organize, distribute, and use information. We adopt a process view of information management. In this view, IM is a continuous cycle of five closely related activities:

identification of information needs; acquisition and creation of information; organization and storage of information; information dissemination; information use.

The idea underlying IM is that just as an organization purposefully and systematically manages its human resources or financial assets, it should do likewise for its information resources and processes. All the classic functions of managing an organizational activity apply to IM as well: defining goals, providing leadership, developing policies, allocating resources, training staff, evaluation and feedback. Top of Category What are the benefits of information management? Generally speaking, there are four kinds of benefits from managing information strategically:

reduce costs; reduce uncertainty or risks; add value to existing products or services; create new value through new information-based products or services.

Top of Category What is the difference between data, information and knowledge? Consider a document containing a table of numbers indicating product sales for the quarter. As they stand, these numbers are Data. An employee reads these numbers, recognizes the name and nature of the product, and notices that the numbers are below last years figures, indicating a downward trend. The data has become Information. The employee considers possible explanations for the product decline (perhaps using additional information and personal judgment), and comes to the conclusion that the product is no longer attractive to its customers. This new belief, derived from reasoning and reflection, is Knowledge. Thus, information is data given context, and endowed with meaning

and significance. Knowledge is information that is transformed through reasoning and reflection into beliefs, concepts, and mental models. Top of Category What is an information strategy? An information strategy describes the overall direction and general framework in which the organizations information resources and processes should be managed so that the organization would achieve its most important goals. An Information Strategy typically consists of the following: IM goals and objectives that are well aligned with the organizations mission and vision IM principles that articulate desirable outcomes and form the foundation for developing information policies One or more areas of strategic focus: this could be some critical information content; common information to be shared; some information-intensive process; or new information-based products or services. Top of Category PROJECT MANAGEMENT What is the purpose of project management? To provide management with valid, auditable status on which to base management decisions. Top of Category Why should the project be planned? The main reason for planning a project is for cost expediency. Proper project planning will insure that the amount of work to be accomplished, the time allotted to satisfactory complete the work scope, and the resources required to complete the work scope are equally balanced. Every project undergoes some amount of change while in progress. Proper planning allows for the assessment of the impact of change prior to implementing the change. Top of Category What is the most important safe guard provided by project planning? Proper planning includes the documentation of the work scope in language that is understandable by the individuals

who must accomplish the work scope. This single step when properly accomplished will save many false starts as well as preventing the waste of resources working on efforts which are not required to obtain the desired goals of the project. Top of Category Why should a company have a project management system? The customer may wish to know how the company manages a project. The customer wants some assurance that the company can deliver the project on time and within budget. Senior management wants a valid insight on how the project is progressing. History is required of past performance so that new proposals can be created based on fact. The company desires to be a superior performer when compared to the competition. Top of Category Does each project have to create its own management system? The style of the individual project manager will normally vary for each project. It is the responsibility of senior management to put in place a policy and procedure, supported by a selection of project management tools and formats, which will assure that the status reporting is readable, auditable, and valid. Top of Category What are the tools needed for a project management system? A work definition policy and format, a scheduling procedure, a resource budgeting methodology and format, a real time data collection/reporting system, a material control and accountability subsystem, a change control subsystem, and a monthly formal status review format to be used by senior management. Top of Category What should the project manager look for in a scheduling system? The three basic elements that the project scheduling systems should provide are; a common basis for communication at all operational levels of the project, a basis for regular status reporting, the use of the management by exception technique. Top of Category

What is a Work Breakdown Structure (WBS)? The work breakdown structure defines the total project. A work breakdown structure is a product oriented, family tree composed of hardware elements, software elements, and service elements. The work breakdown structure relates project elements or work scope definitions to each other and to the end product. The work breakdown structure is not an organization chart of company personnel. Top of Category DELEGATION MANAGEMENT Why use delegation? Although delegating is one of the most difficult aspects of any management job, there are many important benefits derived by the organization as well as the manager when tasks and responsibilities are properly delegated. Through delegation, you can ease the job of managing and thereby increase your own effectiveness and that of the work group. Top of Category What are the benefits of delegation to the manager? Everybody wins with effective delegation, but delegation is especially important if you want to survive and grow in an organization. Here is how delegation can help the manager:

Allows the manager to achieve more. Probably one of the most signifi- cant benefits is that you can achieve greater productivity. Through the proper selection, assignment, and coordination of tasks, you can mobilize resources to achieve more than would have been individually possible.

Allows time for managerial activities. Delegation gives you an opportunity to handle aspects of the job that no one else can do. These activities might include project planning, monitoring team members, and handling personnel problems as they arise. Using delegation, you can focus on doing a few tasks well rather than too many tasks poorly. Increases managerial promotion potential.

Personal advancement. If you don't have people in the department who are trained to handle responsibilities, you will be shackled to one area and won't be considered for promotion. John Henry Patterson, founder of National Cash Register Company, used to

walk into his departments and order the managers to take two-week vacations. His motive: to determine whether a team member had been adequately trained to take over the supervisor's job on short notice. The key to such training, Patterson believed was delegating--providing the team member with the experience, knowledge, and responsibility needed for a smooth transition. Managers who don't delegate don't have trained team members to take their places. Managers who aren't able to delegate at their current level won't be able to delegate at the next. Their ineffectiveness thus multiplies with each level in the organization. Top of Category What are the benefits of delegation for team members? Your team members are more highly motivated with effective delegation.

Develops team members' skills. Failure to effectively delegate deprives team members of opportunities to improve their skills and assume greater responsibility. Team members realize that they are not learning and gaining the experience they could. As a result, they may leave the firm for more challenging and supportive environments. Unfortunately, the most talented team members are the most likely to leave and those you least want to lose. A routine task for you is often a growth opportunity for a team member. Delegating a wide variety of assignments not only serves to train team members, it allows for backup personnel in times of emergency or termination of other employees. When others are wellversed in handling the responsibilities of different areas, you attain maximum flexibility and ensure that the project will not be at a standstill in your absence.

Increases team member involvement. Proper delegation encourages team members to understand and influence the work the department does. It allows team members a chance to incorporate their values in the workplace and, in many cases, to work on activities that especially interest them. Increasing team members' involvement in the workplace increases their enthusiasm and initiative. Increases promotion potential. As with managers, a team member who receives extensive delegation will be ready and able to advance to new positions. In this regard, delegation serves both to train and to test an employee. Benefits to

the Organization If both managers and team members benefit from delegation, it follows that the organization as a whole benefits.

Maximizes efficient output. When you delegate tasks according to the skills and abilities of each member of the work group, the department as a whole is likely to produce a higher level of work. Work will also be completed more efficiently. Delegation helps you make the best use of available human resources and achieve the highest possible rate of productivity. In addition, it allows new ideas, viewpoints, and suggestions to flourish. Produces faster, more effective decisions.

Top of Category How does delegation help decision making? Effective delegation makes for faster, more effective decision making. An organization is most responsive to change in the environment when decisions are made by those individuals closest to the problems; that is, responsibility and decision making are pushed further down in an organization. Individuals closest to the problem have the most information on which to base an intelligent decision. Decision making can be achieved more expediently through delegation, thus allowing the organization to be more responsive and hence more competitive. When team members participate in decision making there is an increase in employee motivation, morale, and job performance. The greater the employee participation, the greater the employee commitment to the job and the organization! Increases flexibility of operations. Effective delegation trains many people to do the same assignments. This overlap allows for greater flexibility of work assignments. When someone is absent or a crisis requires people to assist with tasks not regularly a part of their jobs, they will already be familiar with the assignment. Delegation prepares more individuals for promotion or rotation of responsibilities. And it allows you to appoint someone to supervise the work group when you're absent.