Anda di halaman 1dari 3

Lady Mahendra 10/297220/SP/23952 Teori Politik Internasional

THOMAS HOBBES DAN SKEPTISISME MORAL Thomas Hobbes adalah seorang filsuf Inggris kelahiran tahun 1588, yang filosofinya mendominasi di abad 17an1. Beliau mengenyam pendidikan di Oxford University berkat sponsor dari pamannya, karena sang ayah yang pergi tanpa kabar. Dalam perjalanannya ke negara-negara Eropa, Hobbes berkesempatan untuk bertemu dengan pemikir-pemikir besar dan mulai menulis. Namun ketika Inggris berada di ambang perang saudara, Hobbes melarikan diri ke Paris karena menghindari respon parlemen terhadap tulisannya tentang filosofi politiknya, absolute sovereignity. Hobbes tinggal di pengasingan selama kurang lebih 11 tahun. Di tahun 1650an, sekembalinya Hobbes ke Inggris, tulisan-tulisannya pun mulai diterbitkan, salah satunya adalah Leviathan, yang didalamnya terkandung pemikiran Hobbes yang kemudian melahirkan teori kontrak sosial. Leviathan sendiri berasal dari bahasa Hebrew yang berarti monster laut sekaligus menggambarkan makhluk laut mengerikan yang muncul dalam alkitab. Istilah tersebut merupakan metafora yang digunakan oleh Hobbes untuk menggambarkan pemerintahan yang sempurna yang dapat mencegah perang dan menciptakan perdamaian. Leviathan terdiri dari 4 buku, di buku pertamanya, Hobbes berargumen bahwa setiap aspek dan sifat manusia dapat disimpulkan dari prinsip-prinsip materialis. Dimana setiap tindakan yang dilakukan pada dasarnya merupakan hasil dorongan kepentingan pribadinya. Dalam buku kedua dibahas secara lebih rinci mengenai pembangunan leviathan itu sendiri. Didalamnya dijelaskan pula tentang hak-hak kedaulatan dan individu, serta gambaran mekanisme persemakmuran. Selanjutnya, sistem keagamaan leviathan dibahas lebih banyak di buku ketiga, bersamaan dengan uraian kompatibilitas doktrin Kristen dengan filosofi politik Hobbes itu sendiri. Sedangkan di bukunya yang keempat melibatkan pembongkaran keyakinan

BBC, Thomas Hobbes (1588-1679) (online), <http://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/hobbes_thomas.shtml>, diakses 14 Oktober 2012 9:36

palsu, dan argumennya akan urgensi pengimplementasian negara leviathanic untuk memperoleh persemakmuran Kristen yang aman2. Terdapat setidaknya 2 pemikiran Hobbes yang masih dipakai dalam studi HI yaitu human nature dan filosofi politik,. Human nature yang dipercayai oleh Hobbes adalah bahwa kondisi alami manusia sangatlah penuh akan kekerasan dan rasa takut. Keadaan tersebut sangatlah mengerikan dan sarat peperangan, dimana manusia hidup untuk berkompetisi atas sesuatu yang disebut dengan sumber daya, kompetisi yang dimaksud disini adalah manusia secara alamiah menghalalkan segala macam cara untuk dapat menguasai sumber daya tersebut dengan didorong oleh sifat dasarnya yang keras kepala, egois dan matrealistis, sehingga manusia otomatis mencari perdamaian yang menurut Hobbes hanya dapat diperoleh apabila manusia membangun kontrak sosial dengan pihak lain yang paling superior, yaitu dengan menyerahkan kebebasannya untuk memperoleh keamanan. Dari sini mulai beranjak ke filosofi politiknya, dimana pihak superior inilah yang dimaksud dengan pemerintah yang harus memberikan hukuman atas tindakan egois manusia. Disini Hobbes menggambarkan bahwa pemerintah yang sempurna dan mampu menggunakan otoritasnya dengan baik, dapat mencegah manusia dari tindakan egoisnya yang menimbulkan kompetisi atau peperangan, dan mendekatkan suatu negara pada terciptanya perdamaian, yang diibaratkannya sebagai Leviathan. Menurutnya, monarkilah yang mampu menyediakan otoritas yang paling tepat, Hobbes juga berargumen bahwa kekuatan kedaulatan itu mutlak. Namun pemikiran Hobbes beriringan dengan sikap skeptisnya terhadap relevansi nilai-nilai agama dalam berjalannya suatu pemerintahan, sehingga sempat terjadi investigasi terhadap karya-karya Thomas Hobbes karena kecurigaan pemerintah akan karyanya yang diduga mengarah pada ajaran sesat dan atheisme. Berangkat dari penjabaran garis besar pemikiran Thomas Hobbes diatas, saya sependapat dengan teori Hobbes bahwa untuk mendekatkan diri pada terbentuknya perdamaian, memang diperlukan pihak superior yang mampu mengendalikan massa untuk tidak menyulut terjadinya peperangan. Namun bukan berarti seluruh kebebasan harus diserahkan demi mengeluarkan diri dari state of nature yang digambarkan Hobbes, karena itu berarti sama saja menjadikan
2

Sparknotes, Leviathan (online),< http://www.sparknotes.com/philosophy/leviathan/summary.html>, diakses 14 Oktober 2012 14:23

pemerintah sebagai satu-satunya psychological egoist dengan berbagai macam kepentingannya dan mengubah rakyat menjadi altruist yang terpaksa mengutamakan kepentingan pemerintahnya, yang mana memperbesar kemungkinan akan terjadinya peperangan baru berupa konflik vertikal. Disamping itu, dari studi literatur yang saya lakukan, saya kurang mendapat gambaran akan skeptisisme moral dari Thomas Hobbes itu sendiri, karena dalam buku leviathan II, Hobbes telah menyinggung mengenai hak, baik bagi pemerintah berdaulat maupun individu. Pembahasan hak dalam karyanya merupakan suatu bentuk konkret bahwa Hobbes telah mempertimbangkan nilai moral, hal tersebut juga tersirat dalam salah satu karya tulisnya,
"one

counts that good, which another counts evil; and the same man what now he

esteemed for good, he immediately after looks on as evil: and the same thing which he calls good in himself, he terms evil in another"3 Rangkaian kata tersebut diatas, menyiratkan penilaian moral, dimana ketika seseorang menganggap sesuatu adalah baik, maka orang tersebut akan menganggap hal lain adalah buruk. Dapat juga dikatakan bahwa suatu hal yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain. Daripada moral skeptic, yaitu menggunakan skeptisisme untuk menumbangkan sensibilitas agama dan moral, menurut saya Thomas Hobbes lebih tepat disebut sebagai skeptical moralist yang menganggap bahwa agen-agen moral adalah pribadi yang terbagi dua. Di satu sisi ditarik oleh hukum yang harus ditegakkan, dan ditarik oleh hati nuraninya sendiri di sisi lain. Dengan kata lain, skeptical moralist menggunakan skeptisismenya untuk menyampaikan visinya akan hidup yang layak untuk umat manusia, dalam konteks ini, membuat orang lain sadar akan anggapannya tersebut.

Dana Chabot, Thomas Hobbes: Sceptical Moralist, The American Political Science Review, vol. 89, no. 2, Juni 1995, hal. 401-402