Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan di zaman sekarang ini, semakin banyak orang-orang yang mengerti tentang arti pentingnya kesehatan. Hal ini berhubungan dengan semakin mawasnya masyarakat terhadap perkembangan berbagai macam penyakit. Salah satu penyakit yang cukup memprihatinkan adalah penyakit paru obstruktif. Diantara berbagai macam jenis penyakit paru obstruktif antara lain adalah asma, bronchitis kronis, dan emfisema. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu dari kelompok penyakit obstruktif yang tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan faktor risiko, seperti faktor pejamu yang diduga berhubungan dengan kejadian PPOK. Semakin banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja (Depkes, 2008). Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang mempunyai karakteristik keterbatasan jalan napas yang irreversibel atau reversibel parsial. Gangguan yang bersifat progresif ini disebabkan inflamasi kronik akibat pajanan partikel atau gas beracun yang terjadi dalam waktu lama dengan gejala utama sesak napas, batuk dan produksi sputum. Beberapa penelitian terakhir menemukan bahwa PPOK sering disertai dengan kelainan ekstra paru yang disebut sebagai efek sistemik pada PPOK. Keterbatasan aktivitas merupakan keluhan utama penderita PPOK yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Disfungsi otot rangka merupakan hal utama yang berperan dalam keterbatasan aktivitas penderita PPOK. Inflamasi sistemik, penurunan berat badan, peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, osteoporosis dan depresi merupakan manifestasi sistemik PPOK. Efek sistemik ini penting dipahami dalam penatalaksanaan PPOK sehingga didapatkan strategi terapi baru yang memberikan kondisi dan prognosis lebih baik untuk penderita PPOK.

30

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas maka dapat penulis rumuskan masalah-masalah yang akan dilaporkan yaitu Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pasien Penderita Penyakit paru Obstruksi Kronik (PPOK).

C.

TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum Untuk mengetahui proses penatalaksanaan fisioterapi pada kasus PPOK 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui prosedur assessment fisioterapi, diagnosa dan problematik, target yang dapat diraih oleh penderita dan mengetahui prosedur intervensi fisioterapi yang tepat dapat diberikan pada penderita PPOK. b. Untuk memenuhi tugas laporan kasus selama praktek di Rumah Sakit persahabatan.

D.

MANFAAT PENULISAN

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, pengetahuan serta wawasan bagi: a. Manfaatnya bagi penulis adalah untuk menambah pemahaman dan mempelajari serta menerapkan proses penatalaksanaan fisioterapi pada pasien PPOK. b. Dapat digunakan sebagai bahan kajian dan diskusi pada laporan akhir praktek. c. Bagi masyarakat dapat menjadi pengetahuan serta wawasan berupa metode terapi yang tepat dan bermanfaat pada gangguan PPOK.

31

Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan

1. Anatomi Saluran Pernafasan

Fungsi primer dari sistem pernafasan adalah menghantarkan udara masuk dan keluar dari paru sehingga oksigen dapat dipertukarkan dengan karbondiaoksida. Sistem pernafasan atas meliputi hidung, rongga hidung, sinus-sinus, dan faring. Sistem pernafasan bawah meliputi trakhea, bronkus-bronkus, dan paru. Struktur thoraks yang menyerupai sangkar atau tulangtulang dada, terdiri atas 12 vertebra thorakalis, 12 pasang tulang iga (costae), dan sternum .Tulang iga dan sternum membentuk susunan sangkar dan menyokong rongga thoraks. Diafragma adalah otot yang memisahkan rongga thoraks dari abdomen dan digunakan selama inspirasi.

2. RESPIRASI

Respirasi adalah proses pertukaran oksigen dan karbondioksida. Udara masuk ke dalam paru melalu inspirasi dan dikeluarkan melalui ekspirasi. Otot yang membantu proses respirasi adalah diafragma dan interkostal eksternal dan internal. Selama inspirasi, kontraksi diafragma ke arah bawah meningkatkan volume rongga thoraks,menyebabkan udara masuk ke dalam paru dengan cepat. Otot interkostalis eksterna membantu proses inspirasi dengan cara menggerakkan tulang iga ke atas. Selama ekspirasi, diafragma mengalami relaksasi bergerak menuju/melawan paru, mengurangi volume rongga thoraks, dan hal ini memaksa udara keluar dari paru. Secara bersamaan, interkostalis menurunkan tulang iga, membantu ekspirasi. Ketika dalam dan lajunya respirasi harus ditingkatkan, seperti saat berolah raga atau dalam kondisi gangguan pernafasan, otot-otot tambahan di daerah leher akan mengangkat tulang iga dan sternum, yang memungkinan volume udara yang masuk ke paru selama inspirasi menjadi lebih besar. Otot-otot ini meliputi sternomastoid, dan trapezii (Gambar 11-6). Selain itu, selama ekspirasi, otot-otot perut berkontraksi dengan kuat, memakasa diafragma lebih jauh menekan paru.

32

Anatomi saluran pernafasan terdiri dari:

a. Hidung

Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkiolis dilapisi oleh membrane mukosa bersilia. Udara masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketika fungsi tersebut disebabkan karena adanya mukosa saluran pernafasan, yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia, dan mengandung sel goblet. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia menuju pharing. Udara inspirasi akan disesuaikan dengan suhu tubuh sehingga dalam keadaan normal, jika udara tersebut mencapai pharing, dapat dikatak an hampir bebas debu yang bersuhu sama dengan suhu tubuh dan kelembabannya 100%.

33

b. Pharing

Pharing atau tenggorokan berada dibelakang mulut dan rongga nasal dibagi dalam tiga bagian yaitu nasofaring, oropharing dan laringopharing. Pharing merupakan saluran penghubung ke saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Normalnya bila makanan masuk melalui oropharing, epiglotis akan menutup secara otomatis sehingga aspirasi tidak terjadi.

c. Laring Laring terdiri dari satu seri cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan disini didapatkan pita suara dan epiglotis. Glotis merupakan pemisah antara saluran pernafasan bagian atas dan bawah. Kalau ada benda asing masuk sampai melewati glotis, maka dengan adanya reflex batuk akan membantu mengeluarkan benda atau sekret dari saluran pernafasan bagian bawah.

d. Trachea Terletak di bagian depan esophagus, dari mulai bagian bawah krikoid kartilago laring dan berakhir setinggi vertebra thorakal 4 atau5. Trachea bercabang menjadi bronchus kanan dan kiri. Tempat percabangannya disebut karina yang terdiri dari 6 10 cincin kartilago.

e. Bronkhus Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang-cabang menjadi segmen lobus, kemudian menjadi segmen brokus. Percabangan ini diteruskan sampai cabang terkecil bronkiolus terminalis yang tidak mengandung alveolus, bergaris tengah sekitar 1 mm, diperkuat oleh cincin tulang rawan yang dikelilingi otot polos.

f. Bronchiolus Anderson(1) mengatakan bahwa diluar bronkiolus terminalis terdapat asinus sebagai unit fungsional paru yang merupakan tempat pertukaran gas, asinus tersebut terdiri bronkiolus respirasi yang mempunyai alveoli. Duktus alveolaris yang seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan alveolus terminal, merupakan struktur akhir paru-paru.
34

g. Paru-paru Setiap paru berisi sekitar tiga ratus juta alveolus dengan luas permukaan total seluas sebuah lapangan tenis. Alveolus dibatasi oleh zat lipoprotein yang disebut surfaktan, yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan resistensi terdapat pengembangan pada waktu inspirasi serta mencegah kolapsnya alveolus pada waktu respirasi. Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus tergantung dari beberapa faktor antara lain pendewasaan sel alveolus dan sel sistem biosintesis enzim, ventilasi yang memadai, serta aliran darah kedinding alveolus. Surfaktan merupakan faktor penting dan berperansebagai pathogenesis beberapa penyakit rongga dada.

Rongga thoraks tersusun atas susunan tulang iga yang membatasi/rib cage (sebagai dinding) dan diafragma (sebagai lantai) (Gambar 11-5). Mediastinum membagi dua rongga pleura. Tiap paru terletak di dalam satu rongga pleura, yang dilapisi dengan membran serosa disebut pleura. Pleura parietal menutupi permukaan dalam dinding thoraks dan meluas hingga diafragma dan mediastinum. Pleura viseralis menutupi permukaan luar paru dan meluas hingga fisura antara lobus. Membran pleura mensekresi cairan pleura dalam jumlah sedikit, yang menciptakan kelembaban dan mantel licin untuk lubrikasi saat bernafas. Paru terbagi atas beberapa lobus yang terpisah dengan jelas. Paru kanan terdiri dari tiga lobus : lobus superior, media dan inferior. Paru kiri hanya memiliki dua lobus: lobus superior, dan inferior. Dasar setiap paru terletak di atas permukaan diafragma.

35

3. Fisiologi Pernafasan

Rahajoe dkk, (1994) menyatakan bahwa salah satu fungsi utama paru adalah sebagai alat pernafasan yaitu melakukan pertukaran udara(ventilasi), yang bertujuan menghirup masuknya udara dari alveolus ke luar tubuh (ekspirasi). Pernafasan dapat berarti pengangkutan oksigen ke sel dan pengangkutan CO2 dari sel kembali ke atmosfer. Proses inimenurut Guyton (1981) dapat dibagi menjadi 4 tahap yaitu:

a. Pertukaran udara paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara ke dan dari alveoli. Alveoli yang sudah mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih adanya udara yang tersisa didalam alveoli yang tidak dapat dikeluarkan walaupun dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut volume residu. Volume ini penting karena menyediakan O2 dalam alveoli untuk menghasilkan darah. b. Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan darah.
36

c. Pengangkutan O2 dan CO2 dalam darah dan cairan tubuh menuju ke dan dari sel-sel. d. Regulasi pertukaran udara dan aspek-aspek lain pernapasan. Menurut Rahajoe dkk (1994), dari aspek fisiologi, ada dua macam pernapasan yaitu: Pernapasan luar (eksternal respiration) yang berlangsung di paru, aktivitas utamanya adalah pertukaran udara. Pernapasan dalam (internal respiration) yang aktivitas utamanya adalah pertukaran gas pada metabolisme energi yang terjadi dalam sel.

Untuk melakukan tugas pertukaran disusun oleh beberapa komponen penting antara lain: a. Dinding dada yang terdiri dari tulang, otot, dan saraf perifer b. Parenkim paru yang terdiri dari saluran napas, alveoli dan pembuluh darah. c. Beberapa respirator yang berada di pembuluh arteri utama. d. Sebagai organ pernafasan, dalam melakukan tugasnya, paru dibantu oleh sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pusat. Sistem kardiovaskuler selain mensuplai darah bagi paru (perfusi), juga dipakai sebagai media transportasi O2 dan CO2, sistem saraf pusat berperan sebagai pengendali irama dan pola pernapasan.

4. Devenisi PPOK
Penyakit paru obstruksi konik (PPOK/COPD) adalah penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. PPOK meliputi bronchitis obstruksi kronik, dengan obstruksi dari aliran udara dan emfisema. Dengan keterbatasan dari permukaan dan kerusakan dari parenkim sehingga berkurangnya elastisitas dari paru dan penutupan jalan udara.

37

The Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) guidelines mendefinisikan PPOK sebagai penyakit yang ditandai dengan gangguan pernafasan yang ireversibel, progresif, dan berkaitan dengan respon inflamasi yang abnormal pada paru akibat inhalasi partikel-partikel udara atau gas-gas yang berbahaya. Sementara menurut (National Heart Lung and Blood Institute, 2009). PPOK adalah penyakit paru kronik yang tidak sepenuhnya reversibel, progresif, dan berhubungan dengan respon inflamasi yang abnormal terhadap partikel dan gas yang berbahaya. Kata progresif disini berarti semakin memburuknya keadaan seiring berjalannya waktu.

Epidemologi Data Badan Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan bahwa pada tahun 1990 PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia, sedangkan pada tahun 2002 telah menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker (WHO,2002). Di Amerika Serikat dibutuhkan dana sekitar 32 juta US$ dalam setahun untuk menanggulangi penyakit ini, dengan jumlah pasien sebanyak 16 juta orang dan lebih dari 100 ribu orang meninggal. Hasil survei penyakit tidak menular oleh Direktorat Jenderal PPM & PL di 5 rumah sakit propinsi diIndonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan) pada tahun 2004, menunjukkan PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakaitan (35%), diikuti asma bronkial bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%) (Depkes RI, 2004). Faktor resiko

A. Etiologi PPOK Penyebab utama PPOK adalah merokok. Data statistik menunjukkan bahwa 60% dari total populasi Indonesia adalah perokok. Sekitar 5,7% di antaranya perokok berat yang berisiko terkena PPOK. Menurut American Thoracic Society (ATS), faktor risiko terjadinya PPOK adalah: Faktor host : faktor genetik, jenis kelamin, dan anatomi saluran napas
38

Faktor exposure : merokok, status sosioekonomi, hipereaktivitas saluran napas, pekerjaan, polusi lingkungan, kejadian saat perinatal, genetik, infeksi bronkopulmoner rekuren, dll.

Patofisiologi
Perubahan patologis pada PPOK terjadi di saluran pernafasan, bronkiolus dan parenkim paru. Peningkatan jumlah leukosit polimorfonuklear yang diaktivasi dan makrofag yang melepaskan elastase tidak dapat dihalangi secara efektif oleh antiprotease. Hal ini mengakibatkan destruksi paru. Peningkatan tekanan oksidatif yang disebabkan oleh radikalradikal bebas di dalam rokok dan pelepasan oksidan oleh fagosit, dan leukosit polimorfonuklear menyebabkan apoptosis atau nekrosis sel yang terpapar. Penurunan usia dan mekanisme autoimun juga mempunyai peran dalam patogenesis PPOK.

a) Bronkitis kronik

Pembesaran kelenjar mukus, perubahan struktur pada saluran pernafasan termasuk atrofi, metaplasia sel squamous, abnormalitas silia, hiperplasia otot lurik, proses inflamasi, dan penebalan dinding bronkiolus adalah tanda-tanda bronkitis kronik. Neutrofilia terjadi di lumen saluran pernafasan dan infiltrasi neutrofil berkumpul di submukosa. Di bronkiolus, terjadi proses inflamasi mononuklear, oklusi, hiperplasia otot lurik, dan distorsi akibat fibrosis. Semua perubahan ini dikombinasikan bersama kehilangan supporting alveolar attachments

menyebabkan pernafasan yang terbatas akibat penyempitan lumen saluran pernafasan dan deformitas dinding saluran pernafasan

b) Emfisema

Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal dan disertai kerusakan dinding alveoli. Terdapat 3 jenis emfisema menurut morfologinya:

39

1. Centriacinar Emphysema dimulai dengan destruksi pada bronkiolus dan meluas ke perifer, mengenai terutamanya bagian atas paru. Tipe ini sering terjadi akibat kebiasaan merokok yang telah lama. 2. Panacinar Emphysema (panlobuler) yang melibatkan seluruh alveolus distal dan bronkiolus terminal serta paling banyak pada bagian paru bawah. 3. Paraseptal Emphysema yaitu tipe yang mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus. Proses ini terlokalisir di septa fibrosa atau berhampiran pleura (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).

5. Tanda & Gejala PPOK


Efek dari PPOK pada setiap pasien berbeda tergantung derajat keparahan penyakit. Tanda dan gejala dapat berupa lelah saat beraktifitas, sesak nafas, batuk dan di sertai sputum, frekuensi nafas yang cepat, pengguanaan otot bantu pernafasan, ekspirasi lebih lama dari inspirasi (GOLD, 2006, GPAC, 2009, Viegi, 2007, Soriano, 2008) Pasien biasanya mengeluhkan 2 keluhan utama yaitu sesak nafas dan batuk. Adapun gejala yang terlihat seperti; 1. Sesak nafas Timbul progresif secara gradual dalam beberapa tahun. Mula mula ringan, lebih lanjut akan menganggu kegiatan sehari hari. Sesak nafas yang mendadak memberat menandakan adanya eksaserbasi.

2. Batuk kronis Batuk kronis biasanya mendahak dan memberat pada waktu pagi hari. 3. Sesak nafas (whezzing) Riwayat wheezing tidak jarang ditemukan pada PPOK dan ini.bronkospasme buka satu satunya penyebab wheezing.wheezing pada PPOK terjadi pada saat pengerahan tenaga(exertion) karena udara melewati saluran nafas yang sempit oleh radang atau sikatrik.
40

4. Batuk dahak Biasa dijumpai pada saat eksaserbasi.asal darah diduga dari saluran nafas yang meradang ( blood streaked purulen sputum) 5. Anoreksia dan berat badan menurun. Penurunan berat bdan juga merupakan tanda progresif yang jelek (alsaggaf dkk,2004)

6. Pemeriksaan PPOK
Pemeriksaan.PPOK Dalam menentukan diagnose PPOK beberapa pemeriksaan harus di lakukan di antaranya: Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan klinis pada penyakit PPOK terdiri dari (Bianchi. 2004): Inspeksi. Pada pasiesn PPOK biasanya terjadi cyanosis namun sulit untuk dilihat, adanya ketidaknormalan pada dinding thorak (barrel chest), terjadi peningkatan frekunsi pernafasan (>20 kali/ menit), pada keadaan terlentang bysanya pasieen PPOK lenih banyak menggunakan otototot scalene dan sternocleidomastoid itu menandakan adanya gangguan respirasi. Palpasi dan perkusi Palpasi dan perkusi tidak begitu membantu dalam pemeriksaan penyakit PPOK. Pemeriksaan khusus untuk penyakit PPOK Berbagai Tes FUngsional paru (TFP) digunakan untuk mengevaluasi proses fisiologi dari system respirasi. Beberapa abnormalitas fisiologis fisiologis yang dapat di ukur oleh tes fungsional paru adalah obstruksi jalur nafas, restriksi ukuran paru dan penurunan pada transfer udara melalui membran alveolar-kapiler. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnose PPOK antara lain : pemeriksaan volume dan ventilasi paru, pemeriksaan
41

saturasi O2 (SPO2), pemeriksaan gas darah arteri (PACO2), pemeriksaan LED, pemeriksaan kapasitas aerobic, pemeriksaan thorak mobility dan pemeriksaan tingkat kecemasan (Renzessi, 1986). Pemeriksaan saturasi O2 Pulse oximeter adalah salah satu alat dengan metode sederhana untuk memonitor presentase dari saturasi oksigen dalam hemoglobin. Biasanya terdapat alat komputerisasi yang diletakan di jari jari atau cuping telinga.Gas arteri merupakan parameter standard dalam mengetahui status oksigen pasien (The Japanese Respiratory society, 2000 Nilai normal dari saturasi oksigen (SPO2) pada orang sehat dewasa berkisar antara 9599%. Berdasarkan study yang dilakukan , tidak di rekomendasikan melakukan latihan jika saturasi oksigen dibawah 90% (hypoxemic). Memonitor kondisi saturasi oksigen sangatb penting dilakukan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan pada saat melakukan latihan pada pasien PPOK (KNGF, 2008;stockley, 2005;Tiep, 2005).

7. Diagnosa Diagnosa dibuat berdasarkan 1. Gambaran klinis Anamnesis :riwayat penyakit yang ditandai dengan gejala diatas. Faktor resiko. 1. Pemeriksaan fisik. Pasien biasanya tampak kurus dengan barrer shaped chest Fremitus taktil dada berkurag atau tidak ada. Suara nafas berkurang, ekspirasi nafas memanjang, suara nafas bertambah(bronki atau wheezing)

42

2. Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan radiologi. Pada bronchitis kronis, foto thorak memperlihatkan tubular shadow berupa bayangan bayangan garis yang paraler keluar dari hilus menuju aspeks paru dan corakan paru yang bertambah.
Pada emfisema foto thorak menunjukkna adanya hiperinflasi dengan gambaran diafragma yang rendah dan datar,penciutan pembuluh darah pulmonar dan penambahan cortakal kedistal

Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2006, PPOK dibagi atas 4 derajat: 1. PPOK Ringan: biasanya tanpa gejala, faal paru VEP1/KVP < 70% 2. PPOK Sedang: VEP1/KVP < 70%, atau 50% =< VEP1 < 80% prediksi 3. PPOK Berat: VEP1/KVP < 70%, atau 30%=<VEP1<50% prediksi 4. PPOK Sangat Berat: VEP1/KVP < 70% atau VEP1<30% atau VEP1<50% disertai gagal napas kronik

43

8. Penatalaksanaan
Tujuan pelaksanaan penderita PPOK adalah untuk mengurangi gejala,mencegah ekserbasi, memperbaiki dan mencegah ekserbasi,memperbaiki dan memcegah penurunan faal paru, dan meningkatkan kualitas hidup. 1. Pencegahan. Dengan mencegah kebiasaan merokok, infeksi dan polusi udara. 2. terapi ekserbasi akut dengan terapi oksigen chest fisioterapi bronkiradiator

3. terapi jangka panjang dengan latihan fisik untuk meningkatkan kemampuan fisik. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal nafas tipe II

A. Rehabilitasi

1. Pernafasan difragma

Dhiafraghma merupakan otot terpenting dalam pernafasan sedangkan untuk ekspirasi adalah otot otot abdomen. Pada saat kontraksi, tekanan intra abdominal meningkat dan mendorong diafraghma. Dinding dada, Pleura dan otot otot pernafasan merupakan komponen penting dari pompa respirator dan harus berfungsi normal untuk menghasilkan ventilasi efektif. Gangguan komponen ini dapat mengakibatkan restriksi paru, ganguan ventilasi dan gagal nafas.

Selama melakukan diafraghma breathing, pasien di intruksikan untuk menggerakkan dinding abdominal lebih dominan selama inspirasi dan mengurangi gerak sangkar thorak atas ini bertujuan untuk; 1. Menambah gerak dinding dada dan distribusi ventilasi.

44

2. Mengurangi pengeluaran energy untuk proses bernafas, kontribusi otot otot sangkar thorak. 3. Meningkatkan chest exercise

Metode diafraghma breathing akan membantu untuk menggunakan otot diafraghma dengan benar pada saat bernafas untuk memperkuat otot diafraghma, meurunkan repiratory rate, meningkatkan efektifitas kebutuhan oksigen, dan menggunakan energy yang lebih efektif dalam bernafas (British Lung Foundation, 2008).

Teknik ini melibatkan pasien tersebut untuk menggunakan difragmanya pada saat merileksasikan otot abdominal pada saat inspirasi. Pasien tersebut dapat meraskan naiknya bdomen, sementara dinding thoraknya masih diam.

2. Purse lipbreathing(pernafasan bibir yang disokong)

Menurut British Thoracic Society, pursed lip breathing (PLB) di artikan sebagai teknik mengeluarkan tekanan positif melalui saluran nafas pada saat ekspirasi dengan cara mulut setengah tertutup (mencucu) seperti pada saat meniup pluit (British Thoracic Society, 2009). Pursed lip breathing juga sangat efektif dalam mengontrol pola pernafasaan menjadi lebih efektif (NHS, 2008, fregonezi, 2004). Dalam study yang dilakukan oleh dechman, prsed lip breathing dapat meningkatkan persentase kadar dari hemoglobin (pengikat oksigen dalam pembuluh darah arteri) (Dechman 2004). Dalam penelitian sebelumnya mengenai latihan berjalan dan purse lip breathing yang
45

dilakuakan pada pasien PPOK sebanyak 22 orang menunjukan hasil bawah PLB dapat mengurangi terjadinya kondisi desaturasi oksigen pada saat latihandan meningkatkan saturasi oksigen Karen amembantu melancarkan saluran udara sehingga pertukaran oksigen dan karbondioksida mudah dilakukan. Dalam prosedur pursed lip breathing pasien di instruksikan agar merileksasikan oto leher dan pudak kemudian bernafas melalui hidung (bukan nafas dalam) kemudian diikuti oleh ekspirasi dengan cara menghembuskan nafas dengan jalan meniup melalui mulut setengah tertutup dan melawan tekanan bibir selama proses ekspirasi dan di usaha kan Selama mungkin dalam melakukan ekspirasi (Tiep, 2005;Bianchi, 2004;American Lung Associettion, 2007;NHS, 2008).

3. postural drainase

Menggunakan posisi yang dibantu dengan gravitasi yang dapat membantu mobilitas secret.

4. Perkusi manual Perkusi dan vibrasi dinding thorak dapat membantu mobilisasi dinding secret.

5. Batuk terkendali. Pasien bersandar kedepan dan mulai dengan batuk yang disengaja pada waktu yang tepat dengan kekuatan yang cukup untuk mobilisasi mucus tanpa menyebabkan kollapsnya jalan nafas.

46

6. Baktu yang dibantu Tekanan yang diberikan pada abdomen pada saat ekshalasi.

7. Chest fisioterapi

Penumpukan sekresi pada jalan nafas jika dibiarkan akan menimbulkan akibat yang serius.dapat menimbulkan serangan batuk spasmodik akibat iritasi lokal,obstruksi bronkus ,infeksi paru, dan fentilasi perfusi. Postural drainage merupakan pemberian posisi terapeutik pada pasien yang memungkinkan sekresi paru mengalir berdasarkan gravitasi kedalam bronkus mayor dan trakea dan selanjutnya dapat dibatukkan.

Indikasi Kondisi yang berkaitan dengan paru paru; bronchitis ,fibrosis kistik,pneumonia,asma, penyakit paru obstruktif. Profilaksis post operasi thoraktomi, stasis peneumonia. Kelumpuhan ,dan pasien yang tidak pada keadaan sadar.

Kontraindikasi Reflek batuk (-) Penyakit jantung akut Pada saatsetelah makan

Postural dranase Postural drainage juga merupakan sebuah rangkaian latihan non invasive yang digunakan bersamaan dengan humidifikasi dan pengobatan.Manipulasi ini dibentuk oleh komposisi mekanis(perkusi dan vibrasi) gravitasi dan mekanisme batuk. Pasien diletakkan pada posisi yang sesuai dengan segmen paru yang terlibat.segmen paru yang akan di drainage ditempatkan setinggi mungkin dan bronkus utama severtikal mungkin.

47

Pasien harus dimonitor secara cermat pada saat posisi kepala lebih rendah terhadap adanya aspirasi,dispenia, atau aritma. Pada pasien abses paru hindari pasien dengan lokasi abses disebelah atas karena akan menyebabkan pengaliran abses ke sisi paru lainnya. Waktu yang diperlukan untuk tindakan ini sangat bervariasi tergantung pada kondisi pasien20-30 menit.selama pemberian posisi pasien dianjurkan nafas dalam 5-7 kali diselangi nafas biasa 1-2 menit.Tindakan ini dapat dilakukan sebanyak 4-6 kalisehari atau setiap 2 jam sekali terhadap kasus sputum yang banyak dan kental dan dilakukan sebelum makan. Berikut macam macam postural drainase

48

49

50

51

BAB III LAPORAN KASUS FORMULIR FISIOTERAPI Nama Fisioterapi Nama Dokter Nomor Register Peminatan : : Kiryadi Amd.FT : Dr. Anita Ratnawati :

Ruangan

52

BAB III LAPORAN KASUS Nama Fisioterapi Nama Dokter Nomor Register Peminatan Ruangan : Kiryadi Amd.FT : Dr. Anita Ratnawati : : :

I.

PENGUMPULAN DATA IDENTITAS PASIEN (S) Nama Tempat Tanggal Lahir Alamat Pendidikan Terakhir Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Diagnosa medis Tanggal pemeriksaan : Tn. A : 09 September 1934 : Jl. Perhubungan II No. 79 Rawamangun, Jakarta Timur : Sarjana Muda : Laki-laki : Islam : Pensiunan Departemen Perindustrian : PPOK stabil : 25 Sepetember 2012

31

II.

PENGUMPULAN DATA RIWAYAT PENYAKIT (S)

1. Keluhan utama : Sesak nafas timbul jika beraktifitas seperti berjalan 300m, batuk berdahak pada posisi setengah tidur dengan sputum berwarna putih sedikit kental sebanyak 1 sdm dan mudah dikeluarkan. 2. Riwayat Penyakit Sekarang: Pada tahun 1974 Os mengalami sesak nafas dan batuk produktif kemudian dibawa ke RS didiagnosa mengalami asma kemudian diberikan obat asma hingga tahun

3. Riwayat penyakit Dahulu . Peny. Jantung (-) DM (+) terkontrol Hipertensi (-) Os dahulu merupakan perokok aktif selama 40 tahun (2 bungkus/hari) namun berhenti sejak tahun 1974. 4. Riwayat Penyakit Keluarga : Asma (+) dari ayah

III.

PEMERIKSAAN (O)

A. Pemeriksaan Umum - Cara Datang - Kesadaran - Kooperatif - Blood Presure - Nadi - RR - TB - BB - Saturasi O2 : Tanpa alat bantu : Compos mentis : Kooperatif : 120/80 mmHg : 66 x/ menit : 25 x/ menit : 165 cm : 60 kg : 97%
32

- Suhu - Status Gizi

: afebris : BMI= 60/(165)2 = 22,04 ( Normal )

B. Pemeriksaan Khusus : a. Inspeksi : Tidur Warna wajah Bentuk dada Gerak nafas Pergerakan thorax Pola nafas Clubbing finger Duduk Postur Atropi Oedema Berdiri Alignment vertebra Pelvic Pola jalan : kifosis : normal : normal : kifosis dengan bahu tidak simetris, kepala : tidak pucat : kesan sedikit barrel chest : pernapasan thoracal : tidak simetris, thorax kiri lebih menonjol

dibandingkan thorax kanan : teratur dan dangkal : tidak ada

sedikit flexi lateral sinistra : tidak ada : tidak ada

b. Palpasi : Spasme kanan Pergerakan thorax Gerakan nafas Keringat : asimetris, thorax kiri lebih menonjol : ada pada otot upper trapezius kiri dan

dibandingkan thorax kanan. : pernapasan thoracal : ada (sehabis latihan)


33

Nyeri tekan dada Fremitus c. Pemeriksaan Batuk

: tidak ada : normal

Pasien biasanya jika batuk berdahak warnanya putih, sputum 1 sendok makan, namun sekarang masih batuk berdahak dan terjadi kadang-kadang saja. d. Ekspansi Thorak Lokasi Upper Middle Lower Ekspirasi 93 91,5 87,5 Inspirasi 95 94 90 Selisih 2 2,5 2,5 Nilai Normal 2-3 3-5 5-7

e. LGS dan MMT Sendi Neck Gerakan Fleksi Ekstensi Lateral fleksi Rotasi Trunk Fleksi Ekstensi Lateral fleksi Rotasi Dex 5 5 5 5 5 5 5 5 Sin 5 5 5 5 5 5 5 5 Dex Full 10o 30o Full Full Full Full Full Sin Full 10o 10o Full Full Full Full Full

f. Psikososial Kognitif : Baik Intrapersonal : Baik


34

Interpersonal : Baik

g. Tes Khusus Uji jalan 6 Menit Jarak VO2 Max : 354 meter : {0,03 X Jarak (m)} + 3,98 : (0,03 X 354) + 3,98 : 14,34mL/kg/min

Mets

: Vo2 Max : 3,5 (Laki-laki) : 14,34 : 3,5 : 4 mets beban latihan yang dapat diberikan mencapai 25 watt

Sat O2 : Awal : 97 % ; Akhir : 98 % HR : Awal : 69 x/menit ; Akhir : 66 x/menit

h. Pengukuran Keseimbangan Melakukan Pengukuran TIME UP&GO TEST PENGUKURAN Pengukuran mobilitas fisik dengan mengamati subjek berdiri dari kursi, WAKTU < 10 detik = normal < 20 detik = mobilitas baik, dapat

berjalan sejauh 3 meter, dan kembali melakukan sendiri, tanpa melakukan lagi duduk dikursi. alat bantu. < 30 detik = ada maslah, tidak dapat melakukan sendiri dan

memerlukan alat batu jalan. Dari prosedur pemeriksaan diatas ,setelah melakukan tes, didapatkan hasil 12,25 detik

35

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG D. PROBLEM FISIOTERAPI 1. 2. 3. 4. 5. Sesak saat aktivitas Spasme otot bantu napas Gangguan postur kifosis Keterbatasan mobilisasi thorax Penurunan kapasitas endurance

E. DIAGNOSA FISIOTERAPI Gangguan pola napas, spasme, postur, keterbatasan mobilisasi thorax dan penurunan endurance karena adanya PPOK F. PROGRAM FISIOTERAPI a. Tujuan Jangka Pendek 1. Mengurangi sesak 2. Mengurangi spasme otot 3. Koreksi postur ke arah simetris 4. Memperbaiki mobilitas thorax ekspirasi dan inspirasi 5. Meningkatkan kapasitas endurance b. Tujuan Jangka Panjang 1. Dapat melakukan ADL tanpa ada keluhan sesak

G. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI No. 1. Jenis Alat / Intevensi Pursed Lips Breathing Dosis D : 5 menit I : Insp 2 detik, eksp 4 detik F : 0 kali Keterangan Mengurangi sesak, meningkatkan selisih nilai ekspirasi dan inspirasi
36

2.

Control Breathing

D : 5 Menit I:F:

Untuk mengatur pola pernafasan, rileksasi, mengurangi spasme otot bantu pernafasan

3.

Massage

D: 5 Menit I:F:-

Mengurangi Spasme

4.

Chest Mobility + Koreksi postur

D:I:F : 10 repetisi

Meningkatkan selisih sangkar thoraks pada inspirasi dan ekspirasi dan memperbaiki postur

5.

Static Cycle Exercise

D : 30 menit I : 24 Watt F:-

Untuk meningkatkan kapasitas endurance

H. URAIAN TINDAKAN FISIOTERAPI PLB o Posisi pasien dalam posisi duduk, terapis mengajarkan pasien untuk meniup nafas seperti meniup lilin hingga ekspirasi maksimal dan diulang beberapa kali. Sebelum dan sesudah latihan terapis mengukur saturasi O2 pasien. Control Breathing o Pasien dalam posisi tidur, terapis meminta pasien untuk bernafas biasa menggunakan paru bagian bawah untuk menghindari penggunaan otot bantu pernafasan sehingga pasien dapat lebih rileks.
37

Massage o Pasien dalam posisi duduk, kemudian terapis malakukan massage dengan teknik stroking dan thumb kneeding pada bagian upper trapezius untuk merileksasikan otot yang mengalami spasme. Chest Mobility + Koreksi postur Posisi Pasien Berdiri, kemudian terapis menginstruksikan dan memberi contoh agar melakukan beberapa gerakan berulang, seperti : Fleksi - Ekstensi shoulder (20 Kali) Abduksi Adduksi shoulder (20 Kali) Sirkumduksi shoulder (20 Kali) Lateral fleksi trunk (20 Kali) Note : Setiap gerakan diawali bersamaan dengan tiupan nafas, istirahat sebentar kemudian kembali lagi dalam posisi semula bersamaan dengan tiupan nafas kembali. Koreksi postur dilakukan dengan memposisikan pasien sesuai dengan sikap tubuh yang baik dan memberikan calliet exercise seperti memberikan latihan flexi dan extensi kepala yang ditahan. Static Cycle Pasien diminta untuk latihan sepeda dengan dosis yang telah diatur oleh terapis (28 Watt ; ; 20 menit). Sebelum dan sesudah latihan terapis mengukur saturasi O2 pasien.
I. Home Program Edukasi yang bersifat persuasif agar pasien menghindari faktor risiko penyebab PPOK, seperti rokok dan polusi udara. Latihan agar dilakukan dirumah, seperti : PLB dilakukan sesering mungkin, Koreksi postur, Jalan sesuai dengan kemampuan, jangan sampai lelah dan sesak.

J. Evaluasi Pemeriksaan Tanggal : 11 September 2012 S : Sesak (+) Skala (borgs scale), Batuk produktif (+), Nyeri (-), lelah O : HR = 69 x/menit, RR=, BP=120/80 mmHg, Sat O2= 97%, ekspansi thorak 38

Lokasi Upper Middle Lower

Ekspirasi

Inspirasi

Selisih

Nilai Normal 2-3 3-5 5-7

93 91,5 87,5

95 94 90

2 2,5 2,5

A : Sesak, batuk produktif dan kelelahan karena PPOK P : PLB, Mobilisasi Thorak, Static Cycle Pemeriksaan Tanggal : 25 September 2012 S : Sesak ( - ), Batuk ( - ), Nyeri (-), lelah O : HR = x/menit, RR=, BP= mmHg, Sat O2=% Lokasi Upper Middle Lower Ekspirasi Inspirasi Selisih Nilai Normal 2-3 3-5 5-7

A : Kelelahan karena PPOK P : PLB, Mobilisasi Thorak, Static Cycle Jadwal ke Dokter setelah terapi 4 kali setelah terapi latihan

39

BORG Scale SCALE 0 0.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sangat sangat berat (Almost Maximum) Maximum Sesak sangat berat SEVERITY Tidak ada sesak sama sekali Sangat sangat sedikit sesak Sangat sedikit Sedikit sesak Sedang Sedikit Berat Sesak Berat

10

40

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada penatalaksanaan kasus PPOK pasien diberikan intervensi sesuai dengan problematic atau gejala yang timbul. Hal ini dapat membantu menjaga agar penyakit tidak bertambah parah dan dapat memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang lamanya usia penderita. Karena terapi yang diberikan bukan bertujuan untuk menyembuhkan PPOK.

Latihan control breathing dan pursed lip breathing diberikan dengan tujuan untuk mengeluarkan udara yang tertahan didalam paru, sehingga menurunkan tekanan udara didalam rongga paru sehingga tekanan udara diluar lebih besar sehingga udara dapat masuk kedalam rongga paru dan dapat menurunkan sesak yang diderita oleh penderita. Sedangkan Chest mobility dan koreksi postur diberikan tidak hanya membantu mobilitas thorax tetapi juga membantu memperbaiki postur.

B. Saran Penderita PPOK mengalami gangguan pada saluran pernapasannya sehingga

menyebabkan udara ekspirasi menjadi sulit keluar dari paru, oleh sebab itu diberikan latihan pursed lip breathing agar dapat mengeluarkan udara dari dalam paru. Jika terdapat sputum pada pasien maka diberikan pelatihan berupa postural drainage, coughing and huffing, IRR dan nebulizer agar sputum dapat dikeluarkan dari dalam saluran pernapasannya.

41

DAFTAR PUSTAKA 1. Sonia Buist et al. (2006). Global Initative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). MCR VISION, Inc 2. Mukono, H.J. 1997. Pencemaran Udara dan Pengaruh terhadap Gangguan 3. Saluran Pernafasan. Airlangga University Press. Surabaya. 4. Davis, M.L dan Cornwell, D.A. 1991. Introduction to Environmental 5. Engineering. 2nd ed. Mc Graw-Hill Inc. New York. 6. Raharjoe, N. Boediman, L dkk. 1994. Perkembangan dan Masalah 7. Pulmonology Anak Saat Ini. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta. 8. Amin, M. 2000. Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Laboratorium-SMF 9. Penyakit Paru Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. 10. Tan Wan C.2008.COPD in Asia. Chest Journal. 133:517-527 11. Arnold, Edward.2005.Physiotherapy in stable COPD. Chronic Respiratory Disesase Journal.2:57-58 12. Nazaruddin Umar. (2004). Sistem Pernafasan dan Suctioning Pada Jalan Nafas; FK USU. (The Japanese Respiratory society 13. Van der Schans CP et al. (1995) . Mouth pressures during pursed lip breathing. Physioth Theory Pract.11:2934. 14. National Heart Lung and Blood Institute, 2009 15. Willeput R et al. (1983) . Thoracoabdominal motion during chest physiotherapy in patients affected by chronic obstructive lung disease. Respiration;44:20414. 16. Raylene M Rospond-terj. Ni Luh Made Agustini Leonita, D Lyrawati, 2009; Sistem Pernafasan; 2008 17. Williams IP et al. (1982) . Diaphragmatic breathing training and walking performance in chronic airways obstruction. Br J Dis Chest;76:16466.

42