Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar belakang Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangnya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Masalah gizi meskipun sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan pangan. Pada kasus tertentu, seperti keadaan krisis (bencana kekeringan, perang, kekacauan sosial, krisis ekonomi), masalah gizi muncul akibat ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga untuk memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Menyadari hal ini, peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan yang cukup dalam jumlah dan mutunya. Dalam konteks ini masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah kesehatan tetapi juga masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja. Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA) dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar (Supariasa dkk, 2002). Oleh karena itu harus di adakannya pedekatan masalah kesehatan oleh pemerintah kepada masyarakat agar segalam permasalahan kesehatan yang ada dapat di selesaikan. 1.2. Tujuan 1.2.1. Tujuan umum Untuk mengetahui cara mengatasi masalah kesehatan di bidang gizi dan pangan. 1.2.2. Tujuan khusus Untuk mengetahui metode-metode pendekatan yang dapat di gunakan dalam meningkatkan sistem kesehatan masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gizi 2.1.1 Pengertian Gizi Ilmu gizi adalah pengetahuan tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan atau pengetahuan tentang cara memberikan makanan dengan benar, agar tubuh berada dalam keadaan sehat yang sebaik-baiknya. Semua zat gizi dalam badan adalah penting dan harus terdapat dalam makanan sehari-hari. Tidak satupun bahan makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap dalam jumlah cukup besar untuk memenuhi kebutuhan badan. Beberapa bahan makanan mengandung banyak protein dan sedikit hidrat arang, yang disebut sumber protein. Beberapa makanan lain banyak mengandung vitamin tetapi sedikit mengandung protein, sumber makanan demikian merupakan makanan sumber vitamin. 2.1.2 Kandungan Zat Gizi Kebutuhan akan zat gizi mutlak dibutuhkan tubuh manusia agar dapat melaksanakan fungsi normalnya. Dalam menentukan besarnya zat gizi harus dimulai dengan menentukan besarnya kebutuhan energi. Menu yang disusun berdasarkan kecukupan energi dan zat gizi penghasil energi seimbang serta dibuat dari bahan makanan yang memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna. Pada umumnya mengandung vitamin dan mineral sesuai dengan kebutuhan. Energi berguna untuk melaksanakan proses metabolisme, melakukan aktivitas fisik, menjalan-kan pencernaan, dan pertumbuhan. Besarnya kebutuhan energi tergantung pada keadaan faktor yang

mempengaruhinya, yaitu : berat badan, tinggi badan, umur, lamanya kegiatan, dan sebagainya. Kandungan zat gizi dalam makanan menurut Rusli Lutan dkk. (2000), yaitu harus mengandung : protein, yaitu kebutuhan untuk tenaga, lemak, untuk sumber energi bagi proses katabolisme, karbohidrat, vitamin,
2

mineral, air.

2.1.3 Penyakit Dan Gizi Ada beberapa penyakit yang terkait langsung dengan kekurangan gizi ini, yaitu : gondok endemik, diare, kekurangan vitamin (avitaminosis), anemia gizi (Depkes, 1990). Gondok endemik, yaitu pem-besaran kelenjar tyroid akibat kekurangan unsur yodium yang diperlukan untuk pembentukan hormon tyroid dalam waktu lama. Kekurangan vitamin, menderita salah satu penyakit akibat kekurangan salah satu vitamin. Misalnya kekurangan vitamin A bisa mengakibatkan buta senja, anemia, atau mudah terkena diare. Anemia gizi adalah keadaan zat merah darah atau Hb lebih rendah dari normal. Akibat kekurangan zat gizi yang diperlukan. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manuasia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif. Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat. Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan umur harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development Index (HDI). Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein. Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya

disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro. Data Susenas menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang menurun dari 37,5 % (1989) menjadi 24,6 % (2000). Namun kondisi tersebut tidak diikuti dengan penurunan prevalensi gizi buruk bahkan prevalensi gizi buruk cenderung meningkat. 2.1.4 Penyebab Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu : 1. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan. 2. Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik. Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu: 1. Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat 2. Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak 3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai. 4. Kemiskinan 5. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak 2.1.5 Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor.
4

Kwasiorkor memiliki ciri-ciri: Edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab Pandangan mata sayu Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok Terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel Terjadi pembesaran hati Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk Terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) Sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut Anemia dan diare.

Marasmus memiliki ciri-ciri: Badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit Wajah seperti orang tua Mudah menangis/cengeng dan rewel Kulit menjadi keriput Jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) Perut cekung, dan iga gambang Seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) Diare kronik atau konstipasi (susah buang air). Marasmic-Kwashiorkor Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
5

2.1.6 Pencegahan Gizi Buruk Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak : 1. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2. Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4. Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5. Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. 2.1.7 Pengobatan Gizi Buruk a. Pada stadium ringan dengan perbaikan gizi. b. Pengobatan pada stadium berat cenderung lebih kompleks karena masingmasing penyakit harus diobati satu persatu. Penderitapun sebaiknya dirawat di Rumah Sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh.

2.2. Pangan 2.2.1 Definisi Fortifikasi pangan adalah penambahan satan atan lebih zat gizi (nutrien) kepangan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang itambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. harus

diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian, fortitkasi pangan jugaa digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya. Untuk menggambarkan proses penambahan zat gizi ke pangan, istilah-istilah lain seperti enrichment (pengkayaan), nutrification (Harris, 1968) atan restoration telah saling dipertukarkan, meskipun masing-masing mengimplikasikan tindakan spesifik. Fortifikasi mengacu kepada penambahan zat-zat gizi pada taraf yang lebih tinggi dari pada yang ditemukan pada pangan asal/awal atau pangan sebanding. Enrichment biasanya mengacu kepada penambahan satu atan lebih zat gizi pada pangan asal pada taraf yang ditetapkan dalam standar intemasional (indentitas pangan). Restoration mengacu kepada penggantian zat gizi yang hilang selama proses pengolahan, dan nutrification berarti membuat campuran makanan atan pangan lebih bergizi. Menurut Banernfeind (1994) istilah nutrification lebih spesifik terhadap ilmu gizi, sementara semua istilah-istilah yang lain diadopsi dari disiplin dan aplikasi lain. The Joint Food and Agricuktural Organization World Health Organization (FAOIWO) Expert Commitee on Nutrition (FAO/WHO, 1971) menganggap istilah fortification paling tepat menggambarkan proses dimana zat gizi makro dan zat gizi mikro ditambahkan kepada pangan yang dikonsumsi secara umum. Untuk mempertahankan dan untuk memperbaiki kualitas gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atau campuran pangan. Istilah double fortijication dan multiple fortification digunakan apabila 2 atau lebih zat gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atan campuran pangan. Pangan mbawa zat gizi yang ditambahkan disebut Vehicle',

sementara zat gizi yang ditambahkan disebut 'Fortificant '.

2.2.2 Tujuan Fortifikasi Pangan Secara umum fortifikasi pangan dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan berikut: 1. Untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan (untuk memperbaiki defisiensi akan zat gizi yang ditambahkan). 2. Untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang siquifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan. 3. Untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang digunakan sebagai sumber pangan bergizi misal : susu formula bayi. 4. Untuk menjamin equivalensi gizi dari produk pangan olahan

yangmengganti kan pangan lain, misalnya margarin yang difortifikasi sebagaipengganti mentega . 2.2.3 Langkah-langkah fortifikasi pangan Langkah-langkah pengembangan program fortifikasi pangan, antara lainadalah Menentukan prevalensi defisiensi mikronutrien Segmen populasi (menentukan segmen) Tentukan asupan mikronutrien dari survey makanan Dapatkan data konsumsi untuk pengan pembawa (vehicle) yang potensial Tentukan availabilitas mikronutrien dari jenis pangan Mencari dukungan pemerintah (pembuat kebijakan dan peraturan) Mencari dukungan industri pangan Mengukur (Asses) status pangan pembawa potensial dan cabang industri pengolahan(termasuk suplai bahan baku dan penjualan produk) Memilih jenis dan jumlah fortifikasi dan campurannya untuk meningkatkan keterterimaan oleh konsumen. 2.3. Pengembangan Pendekatan Sistem Kesehatan Masyarakat Kesehatan masyarakat sangat penting bagi ketersediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang menentukan daya saing bangsa. Menurut Achmad Suyudi (1999), pembangunan kesehatan merupakan pembangunan investasi SDM

berkelanjutan. Namun, diakui atau tidak, dewasa ini persoalan kesehatan masyarakat semakin kompleks, baik di pedesaaan maupun di perkotaan. Menurut Surjadi (2000), seringkali kita kurang menyentuh akar pemasalahan kesehatan, seperti

1. kemiskinan dan lingkungan yang menyebabkan masyarakat tidak berdaya untuk mengakses pelayanan publik karena terbebani oleh stigma-stigma tertentu; 2. pengaruh industrialisasi, seperti pariwisata, makanan, dan perilaku; 3. faktor Psikososial keluarga dan individu, seperti stress, ketergantungan terhadap NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya); 4. factor yang berkaitan dengan anak jalanan, pekerja sector informal, pekerja seks komersial, petugas kebersihan kota, remaja kota, dan usia lanjut (manula); serta 5. faktor akibat terjadinya krisis seperti bencana banjir, gempa bumi, kebakaran,dll. Sementara, di daerah pedesaan, sering dijumpai keterbatasan jumlah tenaga

medis di wilayah-wilayah pedalaman, minimnya ketrsediaan infrastruktur prasarana pelayanan kesehatan, dll. Kondisi tersebut menyebabkan minimnya penanganan gizi buruk, busung lapar, serta diare bayi dan balita; minimnya pelatihan tentang upaya perbaikan gizi masyarakat dengan pembudidayaan dan pemanfaatan berbagai sumber makanan nabati, seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, dll. Yang dimiliki bangsa Indonesia; perilaku masyarakat yang acuh tak acuh terhadap kesehatannya sendiri atau keluarganya, dll. ada praduga kesengajaan sistematis dari pemerintah daerah (pemda) tertentu dalam memberikan laporan objektif mengenai status kesehatan

masyarakatnya, gizi buruk, dan busung lapar yang terjadi di daerahnya dengan dalih akan dicap sebagai daerah miskin atau takut dianggap gagal oleh pemerintahan yang lebih tinggi. Laporan para bidan desa (Bindes) mengenai derajat kesehatan masyarakat yang buruk, termasukkasus-kasus gizi buruk dan busung lapar, dan lainlain disimpan dan ditutup rapat-rapat, serta memberikan laporan kepada atasan yang baik-baik. Dengan demikia, diperlukan pengembangan pola pendekatan kesehatan masyarakat yang melibatkan berbagai pihak. Pola pendekatan bukan secara medis saja, tetapi bagaimana melakukan pendekatan kombinasi secara medis, cultural, sosiologis, berdasarkan nilai-nilai, dan keberagaman budaya bangsa Indonesia. Pendekatan sitem Kesehatan Masyarakat. Ada lima (5) hal mendasar yang mendorong dilakukannya pengembangan sistem kesehatan masyarakat, diantaranya: 1. perubahan-perubahan mendasar pada dinamika kependudukan dewasa ini yang mendorong lahirnya transisi demografis dan epidemiologis, industrialisasi, serta urbanisasi;

2.

temuan-temuan substansial dalam ilmu dan teknologi kedokteran yang membuka cakrawala baru dalam memandang proses hidup, sehat, sakit, dan mati;

3.

tantangan global sebagai akibat kebijakan perdagangan bebas, serta pesatnya revolusi dalam bidang informasi, telekomunikasi, dan transportasi;

4. perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap derajat dan upaya kesehatan; serta 5. demokratisasi disegala bidang yang menuntut pemberdayaan dan kemitraan dalam pembangunan kesehatan (Depkes, 1999). Di satu pihak, penyakit-penyakit degeneratif, usia lanjut, masalah-masalah kesehatan ibu dan bayi, balita, gizi buruk, busung lapar, dan penyakit infeksi makin menonjol. Fenomena-fenomena tersebut menyebabkan biaya kesehatan menjadi semakin besar karena upaya kesehatan harus dilakukan dengan lingkup dan cakupan yang makin luas. Hal tersebut diperkuat oleh proses industrialisasi yang berkembang begitu cepat akhir-akhir ini, yang mempunyai dampak luas bagi bidang ekonomi, sosial-budaya, maupun lingkungan fisik dan biologik. Oleh karena itu, diperlukan sistem pendekatan yang bertumpu pada kerjasama lintas sektoral dan pendayagunaan masyarakat luas untuk menciptakan habitus baru bagi warga bangsa bagaimana hidup sehat. Paradigma hidup sehat merupakan cara pandang yang lebih mengutamakan upaya preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif untuk mengantisipasi,

mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan permasalahan yang timbul dalam menunjang keberhasilan pembangunan di sektor kesehatan. Sejalan dengan paradigm sehat, kemandirian masyarakat perlu didorong untuk tetap sehat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (Depkes, 1999). Beberapa pendekatan pengembangan sistem kesehatan masyarakat antara lain : 1. Pendekatan WHO dan Depkes. Badan kesehatan dunia (world Health Organization-WHO) mendefinisikan sehat sebagai keadan sejahtera/ sehat dari fisik, mental/ rohani, dan sosial, bukan hanya terbebas dari penyakit, cacat, serta kelemahan untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk sehat secara fisik maka ekonomi seseorang harus baik. Hal ini masih menjadi beban masyarakat miskin karena tidak tersedianya pangan yang cukup, daya beli masyarakat yang rendah, gagal panen, dan kesulitan distribusi. Departemen yang berhubungan antara lain
10

Departemen Keuangan, Departemen Transmigrasi dan departemen pertanian, Tenaga Kerja, serta Departemen Koperasi. Akan tetapi, ekonomi hanyalah sebagai tujuan antara, karena masih harus sehat sosial, mental, dan religious/rohani. Seseorang belum dikatakan sehat jika tidak sehat secara sosial. Misalnya, seorang wanita yang hamil diluar nikah, seseorang yang positif terjangkit virus HIV/AIDS, dll. Ia hanya menanggung pengucilan dari masyarakat selama menjalani akhir hidupnya. Dalam hal ini, Departemen yang berhubungan dengan unsur ini, antara lain Departemen Pemberayaan Perempuan, Departemen sosial, serta Departemen Pemuda dan Olah Raga. Kesehatan mental manusia dikaitkan dengan dinikmatinya rasa aman yang tidak menyebabkan depresi, stres, serta terancam kehidupannya. Departemen yang terkait antara lain Departemen Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Departemen Perundang-Undangan dan HAM, Departemen Pertahanan, dan Departeman Pariwisata. Sedangkan sehat secara religius berkaitan dengan Departeman Agama yang bertugas menyadarkan masyarakat dalam upaya pemantapan iman dan takwa untuk mencegah atau mengurangi penyakit-penyakit sosial masyarakat agar tidak menular ke orang lain. H. L. Blum (1974), dalam Muninjaya (1999), mengatakan bahwa kesehatan manusia dipengaruhi oleh 4 faktor, antara lain faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut, faktor lingkungan sangat berpengaruh bagi kesehatan masyarakat. Departemen yang terkait dengan faktor ini antara lain Departemen Lingkungan Hidup, Departemen Pemukiman dan Pengembangan Wilayah, serta Departemen Kelautan. Sedangkan Departemen yang berkaitan dengan perilaku adalah Departemen Pendidikan, yang bertugas memberikan pendidikan bagi peserta didik sejak dini mengenai bagaimana berperilaku sehat. Sementara, untuk pelayanan kesehatan, pihak swasta juga memiliki andil besar dalam peningkatan kesehatan masyarakat (Tualeka, 2000). Tidak ada salahnya jika kita mau bercermin dari pola pendekatan pembangunan kesehatan nasional di Cina yang berhasil mencairkan dan membebaskan diri dari kebekuan serta belenggu dominasi dan eksploitasi ekonomi dunia barat. Para punggawa kekuasaan Cina ketika itu berpandangan bahwa kemampuan suatu bangsa terletak pada bagaimana mendayagunakan segenap potensi bangsa, seperti pendayagunaan tenaga-tenaga kesehatan tradisional (sinshe) dalam semua fase pembangunan kesehatan.
11

Fase awal dilakukan dengan kampanye pendidikan kesehatan missal dalam rangka memasyarakatkan pola hidup sehat yang dikaitkan dengan ideologi Negara. Fase berikutnya adalah para sinshe dididik menjadi dokter telanjang kaki dalam rangka pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di daerah-daerah pedalaman yang dikombinasikan dengan cara-cara pengobatan modern. Penyelenggaraan kesehatan ditingkat pemerintah merupakan tanggung jawab profesional, sedangkan di tingkat komunal menjadi tanggung jawab

penyelenggara kesehatan, yaitu masyarakat (Tjiong, 1991). Deklarasi WHO (1978) di Alma Ata tentang Health for All (HFA) merekomendasikan beberapa parameter upaya kesehatan primer (Primary Health Care PHC), antara lain: a. pendidikan mengenai masalah-masalah kesehatan dan metode pencegahan serta pengendalian penyakit; b. peningkatan keadaan gizi; c. pengadaan air bersih dan sanitasi dasar yang memadai; d. upaya kesehatan ibu dan anak, termasuk keluarga berencana; e. imunisasi terhadap penyakit-penyakit menular; f. pencegahan dan pengendalian penyakit endemik yang menyebar di tingkat lokal secara cepat; g. pengobatan/ penatalaksanaan yang tepat terhadap penyakit umum; dan h. menyediakan obat-obat esensial (Tjiong, 1991). Departemen Kesehatan RI merencanakan program kesehatan nasioanal menuju Indonesia Sehat 2010 (HFA by 2010) sejak 1999, sebagai tindak lanjut dari deklarasi tersebut. Rumusan paradigma sehat yang diluncurkan Departemen Kesehatan (DepKes) RI antara lain: a. lingkungan yang bebas dari polusi; b. tersedianya air bersih; c. sanitasi lingkungan yang memadai; d. perumahan dan pemukiman yang sehat; e. perencanaan kawasan yang berwawasan kesehat; serta f. terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong-menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa. 2. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan di atas akan tumbuh dan berkembang sampai akar rumput masyarakat jika proses sosialisasinya dilandasi pendekatan proses pembelajaran
12

yang sistematis, praktis, terukur, dan berkelanjutan. Artinya, pertama-tama masyarakat perlu disadarkan bahwa tanggung jawab kesehatan masyarakat bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu semata, tetapi merupakan tanggung jawab setiap insane, baik atas diri individu, keluarga, lingkungan masyarakat lokal, maupun nasional sebagai bangsa yang sehat. Dengan kata lain, setiap individu dan kelompok masyarakat yang sehat secara tidak langsung telah berkonstribusi bagi keberhasilan pembangunan bangsa. Argumentasi tersebut didasari oleh pandangan bahwa dinamika dan turbulensi lingkungan yang berubah-ubah serta tidak adanya kepastian. Juga munculnya berbagai tekanan sosial-ekonomi dan ancaman ketidaknyamanan dalam lingkungan global, membutuhkan kemampuan yang memadai tentang

bagaimana mengelola dan berusaha keluar dari konflik-konflik yang dihadapi sehingga tidak menyebabkan jatuh sakit. Tidak dinafikan pula bahwa upaya pengembangan sistem kesehatan masyarakat masih mengalami banyak kendala dan hambatan, khususnya dalam teknis operasional di lapangan. Hal ini diduga disebabkan oleh ketidaksamaan visi dari bebagai kelompok kepentingan yang perlu dilibatkan, seperti dikemukakan sebelumnya, sebagai suatu tim dalam menyukseskan program kesehatan masyarakat. Namun demikian,

pengembangan sistem kesehatan masyarakat dengan pendekatan pembelajaran bersama akan bermuara pada peningkatan kualitas serta kedaulatan

pengetahuan, pikiran, inteligensi, dan kebijaksanaan (wisdom) kolektif yang maju. Dalam konteks demikian, akan menciptakan suatu sistem yang secara berkelanjutan berkonstribusi bagi kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan Negara sesuai definisi sehat yang dirumuskan WHO. Dengan redaksi lain, dapat

dikatakan bahwa hanya melalui keinginan untuk belajar hidup sehat dari setiap individu maupun kelompok masyarakat sebagai komunitaslah yang akan mampu menumbuhkan basis perilaku sehat masyarakat secara berkelanjutan. Diperlukan proses belajar bersama mengenai cara menghadapi persoalan kesehatan masyarakat dan mencari solusi alternatif pemecahan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 3. Pendekatan Terhadap Masalah Pembelajaran penting dalam proses

pengembangan kapabilitas dan kompetensi. Dalam praktiknya di lapangan, berbagai persoalan kesehatan masyarakat yang dijumpai tidak selalu sama antara wilayah yang satu dengan wilayah
13

lainnya. Pendekatan sistem kesehatan masyarakat yang lebih mengikut sertakan bebagai pihak sebagai tim kesehatan membutuhkan kepaduan, keselarasan, dan kesamaan visi mengenai sasaran-sasaran yang ingin dicapai. Lebih dari itu adalah bagaimana membangun suatu tim kesehatan yang dapat menjadi motivator bagi masyarakat. Bagan 2 menggambarkan proses hadap masalah (problem solving). 4. Pendekatan Asuransi Pemerintah telah mengatur mekanisme penentuan harga obat dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang harga obat. Perpres tersebut memberikan kewenangan kepada Menteri Kesehatan untuk menentukan harga obat. Menteri Kesehatan telah mengeluarkan surat keputusan No.m

069/MenKes/SK/II/2006 tentang Pedoman dan Tata Cara Pemberian Harga Eceran Tertinggi (HET) pada obat yang harus dicantumkan disetiap strip dan kemasan obat, dengan struktur margin laba di apotek sebesar 10% Ppn ditambah 25%, Namun, kenaikan BBM telah memengaruhi para produsen obat untuk menaikan harga obat dengan alasan biaya produksi, distribusi, propit margin, dan pajak pun turut naik. Kondisi ini tidak dapat dielakkan lagi. Akibatnya, harga obat di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan obat sejenis di luar negri. Harga obat di luar negri murah karena mereka sudah ditopang oleh sistem pelayanan kesehatan yang berbasis asuransi, sehingga pihak asuransi akan menekan institusi kesehatan untuk menggunakan obat generik atau obat murah. Selain itu, di Negara-negara maju seperti AS dan Eropa, pasien sudah familiar dengan obat-obat generik sehingga bila berobat ke dokter, klinik, atau rumah sakit otomatis dokter akan meresepkan obat generik. Mereka sudah memiliki kesadaran dan pengetahuan yang memadai mengenai khasiat obatobatan yang diberikan oleh dokter atau institusi-institusi kesehatan (OTC Digest, Juni 2008). Sebagian besar masyarakt Indonesia kini masih dihadapkan pada kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan dan obat yang murah. Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) setiap tahun telah berdampak pada kenaikan harga obat-obatan di pasaran. Bagi mereka yang memiliki asuransi mungkin tidak menjadi soal, tetapi bagi masyarakat yang belum mengenal asuransi, merupakan pukulan dan tekanan psikologis serta beban sosial-ekonomi.

14

Adapun sistem asuransi kesehatan di Indonesia sudah lama dikembangkan. Kebijakan DepKes meliputi : a. Pengembangan jaminan kesehatan nasional (JKN) sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yakni bentuk jaminan kesehatan pra-bayar yang bersifat wajib bagi seluruh masyarakat. b. Pengembangan jaminan kesehatan berbasis sukarela, yang meliputi asuransi kesehatan komersial dan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM) sukarela. c. Pengembangan jaminan kesehatan sektor informal, meliputi jaminan kesehatan mikro (dana sehat) dan dana sosial masyarakat. d. Pemeliharaan jaminan pemeliharaaan kesehatan keluarga miskin (JPKGakin). Sistem asuransi yang dirintis pemerintah perlu disosialisasikan secara menyeluruh kepada seluruh lapisan masyarakat di tanah air. Bagi masyarakat pedesaan yang berada di daerah pedalaman, belum mengenal asuransi dan manfaat-manfaatnya. Hal ini dikarenakan terbatasnya sumber daya manusia di jajaran pemerintah.

15

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Pembangunan kesehatan kini bukan sekedar tanggung jawab pemerintah (DepKes) semata, tetapi merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat. Pemerintah tetap menjalankan fungsinya sebagai regulator dan pengendali pasar. Permasalahan-permasalahan kesehatan masyarakat yang kian kompleks, baik di daerah-daerah rural maupun di daerah-daerah urban, membutuhkan peran-aktif berbagai kelompok masyarakat untuk mencari altrnatif penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat, baik alternative penyelesaian secara medis maupun non-medis. Melalui pola pendekatan yang melibatkan berbagai kluster, diharapkan mampu menumbuh-kembangkan semangat dan perilaku sehat masyarakat yang bermutu dan berkelanjutan. 3.2. Saran Pembangunan kesehatan di Indonesia harus di realisasikan secepat mungkin dan di bangun secara merata untuk membantu masyarakat dalam mencegah permasalahan kesehatan.

16