Anda di halaman 1dari 19

Pemikiran Politik Islam Masa Nabi (2)

MK. Pemikiran Politik Islam Pertemuan ke-4 Dosen :Akhmad Satori, S.IP., M.SI

Pendahuluan
Firqah atau aliran pemikiran teologi dalam prespektif Islam merupakan satu fakta nyata dalam sejarah Islam. Oleh karena itu, sejatinya kemunculan aliran-aliran dalam Islam adalah bukan sesuatu yang aneh dan baru lagi.Atas dasar itu penting kiranya jika dalam mensikapi keberadaan aliran-aliran tersebut pedoman dasar yang berisikan ajaran Tauhid dan Syariat yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW menjadi parameter dalam mensikapi apakah aliran-aliran tersebut sejalan atakah sebaliknya bertentangan dengan ajaran pokok Islam

Saqifah Bani Saidah

Masalah Islam dan Kaum muslimin senantiasa berada dalam ketenangan semasa Rasulullah SAW hidup, beliau senantiasa menjadi sandaran setiap perkara. Sepeninggal Rasul, umat Islam mengalami kehilangan sandaran sehingga menimbulkan banyaknya perbedaan pandangan dikalangan muslimin. Perbedaan pendapat pertama yang terjadi dikalangan kaum muslimin sepeninggal Rasulullah adalah mengenai masalah imamah (kepemimpinan)

Rasulullah tidak menentukan secara pasti siapa yang akan menggantikan beliau, juga tidak menjelaskan tata cara pergantian kepemimpinan dan detail lainnya. Alasan rasulullah adalah bahwa umat lebih mengetahui permasalahan umat itu sendiri, dan agar tidak terjadi kekakuan dalam sistem islam. Kaum Anshar mengadakan pertemuan saqifah bani saidah, di hadiri oleh kaum Muhajirin, merupakan pertemuan penting dalam sejarah umat islam. Hasil terbesar dalam pertemuan ini adalah berdirinya kekhalifahan sebagai sebuah model pemerintahan Islam

Hasil Pertemuan
Pertama,Anshar mengklaim diri mereka sebagai pihak yang berhak untuk memegang jabatan kekhalifahan, dengan alasan mereka lah yang membela Islam, menjaga dengan jiwa dan harta dan memberikan tempat pertolongan, diwakili oleh Saad bin Ubadah dari Madinah. Kedua, Muhajirin membuktikan bahwa mereka adalah pihak yang pertama kali masuk Islam, mereka adalah orang kepercayaan Rasulullah dan Keluarga dan dari golongan bani Quraisy, di wakili oleh Abu Bakar r.a. dari Mekah. Ketiga, pertemuan itu disepakati untuk membaiat Abu Bakar r.a. sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah.

Khulafaur Rasyidun

Khulafaur Rasyidun (khalifah yang adil dan benar) pada dasarnya bukan hanya sistem pemerintahan politik, tetapi juga merupakan perwakilan dari nubuwwah, dengan fungsi bukan hanya menjalankan sistem kepemerintahan juga sebagai pendidik dan mursyid melanjutkan estafet fungsi kenabian. Berbeda dengan sistem kerajaan yang dijalankan oleh Bani Ummayah yang bersifat dinasti, berkuasanya Muawiyah merupakan peralihan dari sistem kekhalifahan kepada sistem kerajaan (dinasti) atau dari sistem Demokrasi Islam ke sistem Monarki Islam

1. Masa Abu Bakar r.a. (632-634 M) (632

Mengutamakan perhatiannya untuk membina ketauhidan pasca Rasulullah, karena banyak golongan yang mulai ingkar, golongan murtad, golongan sukuisme. Membentuk majelis syura semacam parlemen dan baitul mall. Pengkondisian beberapa wilayah di jazirah arab dalam perang Riddah Membagi jazirah arab kedalam beberapa wilayah bagian di pimpin oleh seorang amir dengan tugas amar makruf nahi munkar.

2. Masa Umar b. Khattab r.a.(634-644 M) r.a.(634

Memperoleh jabatan khalifah lewat penunjuka oleh Abu Bakar yang kemudian di baiat oleh kaum muslimin. Penaklukan Persia, Mesir dan Iran dengan pengorganisasian kekuatan militer yang kuat Mengubah sistem ekonomi yang sudah mapan kedalam sistem ekonomi Islam Menyempurnakan Majelis permusyawaratan, membentuk lembaga peradilan (al-qadha), kalender hijriyah, optimalisai baitul mall Karakter kepemimpinan : simple, frugal, energetic, talented, strong phisique, and bald headed

3. Masa Utsman b.Affan r.a (644-656 M) (644Umar r.a. Mengisyaratkan enam pengganti beliau sebagai khalifah yaitu, Utsman b.Affan, Ali b. AbiThalib,Thalhah, Zubair b.Awwam, Saad b.Abi Waqash dan Abd. Rahman b.Auf, hasil musyawarah Ustman dan Ali sebagai kandidt kuat, karena kesenioran maka Utsman terpilih. Implikasi Politik terbentuk sikap pro (bani Umayyah) dan kontra (bani Hasyim). Melanjutkan perluasan Islam sampai afrika dan asia timur, mushaf al Quran, kedermawanan. Cacat sejarah : nepotisme dengan mengangkat banyak kerabat dalam kepemimpinan.

4. Masa Ali b.Abi Thalib r.a. (656-661 M) (656Karakter kepemimpinan : tegas, keras, disiplin dan berani. Mengganti pejabat yang diangkat oleh Utsman Penuh gejolak politik antar umat Islam, perang Jamal vs Aisyah dan perang Shiffin vs Muawiyah Timbul Majlis Tahkim (arbitase), sehingga muncil ketidak puasan kelompok2 tertentu, baik secara politis, sosial maupun kesukuan, akhirnya muncul firqah dalam Islam.

Majelis Tahkim
Peristiwa Tahkim (Arbitrase) ialah persetujuan antara Ali b.Abi Thalib dan Muawiyah dalam perang Shiffin pada tahun 36 H untuk menerima keputusan wakilwakil yang dilantik dalam menyelesaikan perselisihan antara mereka. Kedua Pihak memutuskan untuk memilih dua orang pelaku perdamaian (hakamain) dari kedua belah pihak. Muawiyah menugaskan Amr bin Ash, sedangkan dari pihak Ali ditunjuklah Abdullah bin Abbas,hanya saja kaum Khawarij dan penduduk Yaman menolak, mereka malah meminta Abu Musa al-Asyari untuk menjadi perwakilan perdamaian. Ali terpaksa menerima hal ini karena Abu Musa alAsyari dipilih oleh suara terbanyak.

Kedua perwakilan ini bersepakat untuk menanggalkan pemimpin kedua belah pihak, yakni Ali dan Muawiyah. Maka tampillah Abu Musa alAsyari dan Amr bin Ash untuk mengumumkan hasil tahkim mereka ke hadapan khalayak.Amr bin Ash mempersilakan Abu Musa al-Asyari untuk maju terlebih dahulu. Maka majulah Abu Musa mengumumkan bahwa dia telah menurunkan Ali dari jabatannya.Tetapi setelah itu,Amr bin Ash maju mengumumkan bahwa dia setuju memperhentikan Ali, kemudian diumumkannya bahwa dia menetapkan Muawiyah.

Dampak Peristiwa Tahkim

Kubu Ali Bin Abi Thalib terpecah menjadi 2 golongan yakni:


Golongan Pendukung Ali Bin Abi Thalib, terkenal dengan nama Syiah Golongan Yang menyatakan keluar dari kelompok Ali, terkenal dengan nama Khawarij Golongan yang menjauhkan diri dari golongan Syiah dan golongan Khawarij, terkenal dengan nama golongan Murjiah

Kaum Khawarij berpandangan bahwa Sikap Ali yang menerima tipu muslihat dari Amr Bin As adalah salah, sebab putusan hanya datang dari Allah SWT melalui hukum-hukumnya dalam al-Quran. Menurut Khawarij la Hukma illa lillah (tidak ada hukum selain dari Allah)

Persoalan Dosa Besar

Kaum Khawarij berpandangan Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah,Amr Bin AS,Abu Musa AlAsyari dan seluruh orang yang menerima Arbitrase adalah berdosa besar dan Kafir dalam arti keluar dari Islam dan harus di bunuh. Pandangan ini bertolak pada S. al-Maidah:44 yang menyatakan Siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT.Adalah kafir

Dari Persoalan Politik Ke Persoalan Teologi

Persoalan Dosa besar seperti pandangan kaum Khawarij di atas, selanjutnya bergeser menjadi permasalahan Teologi. Dalam perkembangan selanjutnya persolan Dosa Besar (murtakib al-kabir) mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan aliran Teologi dalam Islam. Permasalahan utamanya adalah bagaimanakah status orang yang berdosa besar, apakah mukmin ataukah kafir

Munculnya Firqah-Firqah FirqahDari persoalan murtakib al-kabir lahir beberapa aliran teologi.Aliran tersebut adalah : Aliran Khawarij yang berpandangan bahwa orang berbuat dosa besar adalah kafir dan wajib di bunuh Aliran Murjiah yang berpendapat bahwa orang berdosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Permasalahan dosa yang dilakukan dikembalikan pada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak. Aliran Mutazilah.Aliran ini berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir tetapi bukan pula mukmin. Namun mereka terletak di antara dua posisi kafir dan mukmin. Dalam teologi mutazilah orang seperti ini dikatakan tanzilu baina manzilatain

Aliran Qodariah. Aliran ini terkenal dengan pemikiran Free Will dan Free act (kebebasan berkehendak dan berbuat) Aliran Jabariah.Aliran ini berkebalikan dengan pandangan aliran Qodariah yang menyatakan manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan berbuat, sebaliknya aliran Jabariah berpandangan manusia dalam segala tingkah lakunya bertindak atas dasar paksaan dari Allah. Paham ini selanjutnya terkenal dengan predestination atau fatalism.

Aliran Asyariah merupakan aliran teologi tradisional yang di susun oleh Abu Hasan al-Asyari (935 M). Pada awalnya Abu Hasan al-Asyari merupakan orang Mutazilah yang merasa tidak puas dengan teologi Mutazilah. Dalam satu riwayat keluarnya Abu Musa al-Asyari dari Mutazilah dikarenakan ia pernah bermimpi bahwa Mutazilah di cap Nabi Muhammad Sebagai ajaran yang sesat. Aliran Maturidiah. Aliran yang didirikan oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi (w.944 M). Dalam perkembangan selanjutnya dua aliran terakhir yakni Asyariah dan Maturidiah di kenal dengan nama aliran Ahlus Sunah Wal Jamaah. Kedua aliran ini dibedakan dalam lapangan hukum Islam.Aliran Asyariah lebih cenderung dengan pendekatan Imam SyafiI, sedangkan aliran Maturidiah cenderung pada pendekatan Imam Hanifah.

Sumber

Adeng M. Ghazali, Pemikiran Islam Kontemporer: Suatu Refleksi Keagamaan, Pustaka Setya : Bandung, 2005 M. Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam, Gema Insani Press : Jakarta, 2001 Abu Maftuh Abdgabriel dkk., Negara Tuhan, Yogyakarta, 2004 M. Sadjzali, Islam dan Tata Negara, UI Press : Jakarta, 2005 http://id.shvoong.com/humanities/religionstudies/2074105-aliran-teologi-dalamislam/#ixzz28lhU4Z5V