Anda di halaman 1dari 3

HASIL DISKUSI KELOMPOK BAWEAN Initiator Participant : Lady Mahendra : Brian Nova Prathama Fatih Wicaksono Kishino Bawono

Dionisius cahya W. G Dine Chandra Devi Dania Wijayanti Farha Kamalia Pricylia Wulandari Gigih Agung Baskara Panitia HE 12 10/297220/SP/23952 10/297207/SP/23948 10/305002/SP/24344 09/282487/SP/23481 10/299339/SP/24106 10/296561/SP/23851 09/282514/SP/23491 10/305534/SP/24378 (tidak hadir) 10/304770/SP/24319 (tidak hadir)

Secara garis besar, medium diskusi ini membahas 3 pertanyaan, antara lain: 1. Setujukah anda dengan pernyataan bahwa Thomas Hobbes lebih mengarah pada skeptical moralist ketimbang moral skeptic? Sertakan argument anda. 2. Bagaimanakah anda memahami pemikiran Hobbes? Dan menurut anda apa yang membuat pemikiran tersebut mendominasi di abad 17an? 3. Bagaimana relevansi konsep Leviathan bila diterapkan di era kontemporer?

Pertanyaan-pertanyaan ini direspon dengan sangat antusias oleh para peserta diskusi, kebanyakan diantara mereka menganggap bahwa Thomas Hobbes adalah, tetap, moral skeptic dikarenakan pemikiran awalnya mengenai human nature meniadakan nilai moral. Namun ada pula yang sependapat bahwa hobbes merupakan skeptical moralist karena ide-ide yang dikemukakannya terkait hukum dan hak-hak manusia, serta pemisahan agama dalam pemerintahan sebagai bentuk pandangan skeptis terhadap moral

yang terkandung dalam agama dapat memberikan kebaikan dalam kehidupan bernegara. Namun ada pula yang kurang setuju dengan pendapat tersebut dan beranggapan bahwa sejak semula Hobbes menekankan bahwa politik adalah bentuk dari suatu aturan yang rigid, dan bukan soal etika. Pertanyaan kedua terjawab dari diskusi dalam kelompok bawean ini, bahwa pemikiran Hobbes dapat mendominasi abad 17an karena setting waktu yang memang sangat relevan dengan pemikirannya, dimana era tersebut merupakan era okupansi atau penjajahan, disamping itu terdapat pula argument bahwa era tersebut merupakan era revolusi industry dimana sangat terlihat sifat serakah manusia yang berlomba-lomba menimbun keuntungan dari sektor industri, pada masa itu umumnya Eropa masih berupa kerajaaan2 mornarki absolute. Negara-negara Eropa abad 16 mulai berjuang memperebutkan 3G (gold, gospel glory). Dan hal ini kemudian melahirkan berbagai bentuk kolonialisasi. Disamping itu, juga dipengaruhi oleh trend yang muncul, yaitu filosofi mengenai bagaimana dan apa yang bisa dilakukan manusia untuk mencapai "kondisi yang lebih baik", sehingga konsep Leviathanic state sebagai pemerintahan yang tepat sangat diakui. Hobbes sendiri tumbuh besar dalam lingkungan monarki, diayomi oleh monarki, bahkan sempat mengabdi pada keluarga monarki.Teorinya juga berkembang pesat akibat pengaruh pemikiran Enlightment Age di Eropa. Pertanyaan terakhir mengenai relevansi pemikiran Hobbes di Era Kontemporer juga, menuai argument-argumen yang menarik. Dimana ada yang mengemukakan bahwa yang kurang relevan adalah konsep leviathan, yang dirasa dapat tergantikan oleh konsep world leader dari siklus modelsky. Dalam konsep leviathan tidak dijelaskan tentang adanya penantang leviathan. Sementara dari siklus modelsky menyatakan bahwa kejayaan world leader (yang kira-kira statusnya sama dengan leviathan) memiliki pola tertentu, karena world leader memiliki challenger yang dapat merebut posisi world leader dari pemegangnya. Argument lain menyebutkan bahwa pemikiran Hobbes masih relevan sebatas perlunya ada 1 pihak yang menjadi pengatur dan pengendali, namun di era kontemporer ini pemerintah yang di analogikan sebagai leviathan bertindak keras, tapi tertutup, penuh justifikasi logis dan mudah diterima, tapi juga nampak baik di sisi lain. Yang mana hal ini mungkin dapat dikatakan sebagai Leviathan bentuk sekarang.

Sementara dari sisi teori state of nature yang dikemukakan hobbes mengenai salah satu sifat dasar manusia yaitu keingan untuk mencapai kejayaan, hingga saat ini teori tersebut dirasa masih belum menghilang. Diluar pertanyaan utama terjadi sedikit diskusi menarik soal konsepsi penindasan negara terhadap rakyat yang dimiripkan dengan sistem monarki atau otoriter, yang kemudian berujung dengan adanya kesepakatan bahwa suatu pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang dapat mengimbangi pemikiran realisnya dengan pemikiran yang idealis. Pernyataan tersebut diibaratkan seperti yin dan yang yang saling mengimbangi. Idealism dapat membuat suatu pemerintahan lebih bertindak positif untuk terus bergerak maju memainkan perannya di lingkup domestic maupun internasional, namun realism dapat mengimbangi idealism untuk tetap fokus pada kepentingan sehingga pertimbangan dari langkah yang diambil tidak akan merugikan negara dan rakyatnya.