Anda di halaman 1dari 16

JEPANG DAN KEBANGKITANNYA

Jepang, Negara kepulauan di ujung barat Samudera pasifik merupakan salah satu Negara maju di bidang perekonomian. Negara tersebut mempunyai produk domestik bruto terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat dan menempati urutan tiga besar dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Kondisi perekonomian Jepang saat ini merupakan hasil dari perjuangan yang keras. Hingga kini Jepang dikenal sebagai salah satu penggerak perekonomian dunia. Jepang mempunyai latar belakang perkembangan ekonomi yang menarik untuk di pelajari. Hal tersebut dikarenakan Jepang merupakan salah satu model bagi perkembangan perekonomian di Asia. Cerminan ini tampak pada kebangkitanyang Jepang pernah mengalami keterpurukan kondisi ekonomi setelah kekalahannya saat perang dunia II. Kekalahan tersebut tentunya sangat berpengaruh pada keadaan perekonomian di Jepang. Perang Dunia II merupakan konflik yang paling mematikan dalam sejarah dunia. Perang terebut melibatkan sebagian besar Negara Negara di dunia. Pihak yang telibat mengerahkan seluruh bidang ekonomi, industri, dan kemampuan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan militer selama perang. Peristiwa ini dimulai saat Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939. Hingga akhirnya menewaskan lebih dari tujuh puluh juta orang dengan mayoritas warga sipil. Kegilaan militer tersebut berakhir saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat pada tanggal 14 Agustus 1945 pada. Pihak Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945. Peristiwa tesebut menjadi penanda resmi akhir dari kejamnya kegiataan militer di dunia.

Kekalahan pihak Jepang tentunya memberikan dampak yang sangat buruk. Banyaknya sumber daya yang telah digerakkan oleh Jepang ternyata tidak berbalik secara efisien dan efektif. Selama masa perang, kota kota penting bagi jepang seperti Tokyo, Osaka, Nagoya, kobe, dan Yokohama diserang oleh pasukan sekutu. Penyerangan tersebut menghancurkan fasilitas penting untuk transportasi di Jepang dan juga hancurnya pemukiman penduduk, gedung gedung, dan pabrik. Akibat pabrik yang telah hancur maka kegiatan produksi menjadi terhenti. Hal tersebut membuat banyak orang kehilangan pekerjaan sehingga menambah jumlah pengangguran. Hubungan perdagangan dengan Negara asing dan daerah koloni Jepang juga menjadi terputusKeadaan ekonomi pada masa setelah perang menjadi semakin buruk dengan bertambahnya jumlah pengangguran dalam skala besar, masalah krisis energy, penurunan jumlah produksi, persediaan pangan yang tidak mencukupi, inflasi yang parah hingga munculnya pasar gelap. Masalah masalah ekonomi tersebut membuat keadaan dan situasi di dalam negeri menjadi bertambah kacau dan sulit dikendalikan oleh pemerintah jepang. Untuk menyelesaikan masalah perekonomian tersebut, pemerintah Jepang diinstruksikan oleh pemerintah pendudukan (SCAP) untuk menjalankan kebijakan demokratisasi ekonomi (Keizai no Minshuka). Kebijakan demokratisasi ekonomi merupakan salah satu instruksi kebijakan Reformasi Lima Besar yang disampaikan oleh SCAP. Dalam pelaksanaan ada tiga aspek utama demokratiasi ekonomi yaitu reformasi tanah pertanian, pemecahan zaibatsu, dan reformasi tenaga kerja . Kebijakan yang pertama adalah reformasi tanah pertanian. Pemerintahan pendudukan Sekutu menginstruksikan pemerintah Jepang untuk melakukan reformasi

bidang pertanian. Reformasi tersebut dikenal dengan reformasi tanah pertanian (Nchi Kaikaku/Land Reform) yang dilaksanakan pada tahun 1947. Reformasi tanah pertanian merupakan tindakan yang diambil oleh Kebijakan ekonomi pemerintah pendudukan untuk mengubah status kepemilikan tanah pertanian, dilakukan dengan cara pembebasan biaya sewa. Pemerintah membeli tanah dari tuan tanah dan semua tanah sewa lebih dari satu hektar, kemudian menjualnya kepada petani penyewa dengan harga nominal. Hal ini menyebabkan lahan penyewaan menurun dari 46 % menjadi 10 % dan jumlah petani Independen meningkat. Selain itu reformasi tanah pertanian tersebut berdampak pada distribusi pendapatan masyarakat. Distribusi pendapatan dari sektor pertanian di dalam masyarakat menjadi lebih merata dan para petani penggarap mempunyai kesempatan untuk memiliki lahan pertanian sendiri. Kebijakan yang kedua adalah Pemecahan Zaibatsu (Zaibatsu

Kaitai/Dissolution of Zaibatsu) . SCAP menganggap bahwa zaibatsu merupakan sumber penting bagi kekuatan militer Jepang, dan menghambat perkembangan demokrasi ekonomi. Tujuan pembubaran zaibatsu adalah untuk menghentikan dukungan pihak zaibatsu kepada militer Jepang. Industri Jepang sebelumnya berada di bawah penguasaan beberapa gabungan zaibatsu yang mendapat hak dan perlakuan khusus dari pemerintah Jepang. Tujuan penguasaan industri tersebut untuk mempertahankan dan melanjutkan hubungan semifeodal antara tenaga kerja dan sistem manajemen. Hal tersebut dilakukan dengan cara menekan para pekerja dengan upah yang rendah, mencegah perkembangan serikat pekerja, menghalangi kebebasan suatu perusahaan yang berpotensi, dan menghalangi kebangkitan kelas menegah di Jepang. Zaibatsu merupakan pusat aktivitas industri dan ekonomi di Jepang yang

mempunyai pengaruh besar dalam pemerintahan Jepang sebelum perang. Empat besar zaibatsu yaitu Mitsui, Sumitomo, Mitsubishi dan Yasuda mempunyai kendali langsung atas lebih dari 30% industri pertambangan, industri kimia, industri besi baja, dan hampir 50% mengendalikan industri mesin kapal dan industry pembuatan kapal dan mempunyai 60% kepemilikan saham dalam bursa perdagangan saham. Hal tersebut membuat zaibatsu mempunyai kekuatan dan pengaruh untuk mengendalikan perekonomian Jepang. Tujuan dibubarkannya zibatsu adalah untuk mencegah konsentrasi dari kekuatan ekonomi. Untuk menghilangkan konsentrasi kekuasaan ekonomi, zaibatsu dibubarkan dan perusahaan bersama dilarang. Hukum

Perdagangan yang adil dan Hukum penghapusan kekuatan ekonomi yang berlebihan diberlakukan pada tahun 1947. Kebijakan yang ketiga adalah Reformasi Tenaga Kerja (Rd Kaikaku/Labor Reform). Ada beberapa hal yang menjadi masalah bagi tenaga kerja di Jepang pada masa perang. Masalah tersebut seperti gaji yang rendah, kesejahteraan pekerja, diskriminasi wanita dalam pekerjaan. Hal tersebut membuat pemerintah pendudukan (SCAP) perlu mengambil langkah reformasi demokrasi ekonomi perbaikan kesejahteraan para tenaga kerja. SCAP menginstruksikan pemerintah Jepang untuk membuat landasan hukum tentang hubungan para pekerja dengan industri serta perusahaan dengan merancang undang-undang yang menjamin hakhak dasar bagi para pekerja. Selain itu SCAP juga, mendukung gerakan serikat para pekerja yang demokratis untuk memperjuangkan hak pekerja. Dalam pelaksanaannya ada 3 buah undang undang yang ditetapkan untuk mengatur masalah-masalah para pekerja di Jepang, yaitu pengesahan gerakan buruh, Pembentukan serikat buruh, berlakunya UU

Serikat Buruh (1945) dan Labour Relations Adjustment Law, and Labour Standards Law (1947), Pada tahun 1947 muncul Aturan fair rules. Aturan ini diberlakukan dalam rangka untuk mengamankan persaingan pasar dan transparansi. Hukum atau UndangUndang "Antipakat" (antitrust) atau hukum/undang-undang persaingan, merupakan peraturan melawan kebiasaan dagang yang merendahkan persaingan atau dianggap tidak adil. Hukum yang paling penting adalah UU Anti-trust dan hukum bursa efek. Pengevaluasian kembali atas kebijakan ekonomi pemerintah pendudukan dimulai pada tahun 1948. Pihak Amerika Serikat menerima laporan tentang kondisi perekonomian di Jepang yang disampaikan oleh Supreme Command of Allied Power (SCAP). Pada saat itu, terdapat beberapa masalah yang belum terselesaikan di dalam perekonomian Jepang. Di antaranya adalah masalah produksi yang mengalami stagnasi, pengangguran dalam skala besar, dan inflasi yang terus meningkat seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Kebijakan demokratisasi ekonomi yang telah dijalankan belum menyelesaikan masalah dalam perekonomian Jepang. Oleh karena karena itu rekontruksi ekonomi dan reindustrialisasi dilakukan untuk membangun kembali perekonomian Jepang. Untuk cepat merekonstruksi perekonomian meskipun kekurangan komoditas dan dana investasi, pemerintah pada tahun 1947 menerapkan strategi untuk memusatkan sumber daya di sektor-sektor prioritas industri seperti baja, listrik pertambangan batubara,, galangan kapal, laut dan kereta api transportasi, dan pupuk kimia. Terjadinya Perang Korea membuat pemerintah pendudukan mengubah kembali arah dan tujuan kebijakan ekonomi bagi Jepang. Dengan adanya perubahan

kebijakan tersebut membuat jepang mampu melakukan Reindustrialisasi. Perang tersebut membawa pengaruh besar dalam situasi perekonomian Jepang. Perang Korea menyebabkan perubahan penting pada tujuan kebijakan SCAP yang sebelumnya masih berfokus pada demiliterisasi. Sebelumnya pada tahun 1947 arah kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat telah berubah karena terjadinya Perang Dingin dengan menginstruksikan kebijakan untuk mempercepat pemulihan perekonomian Jepang, tetapi pada saat itu tujuan kebijakan ekonominya masih berfokus pada demiliterisasi. Alasan perubahan tersebut adalah pemerintah Amerika Serikat ingin menjadikan Jepang sebagai pangkalan logistic bagi pasukan militernya dalam rangka menghadapi Perang Korea. Hal itu membuat kebijakan ekonomi yang diinstruksikan pemerintah pendudukan mengalami perubahan dari demiliterisasi menjadi penghidupan kembali industry yang berkaitan dengan militer. Dengan perubahan kebijakan tersebut, perekonomian Jepang mendapat keuntungan dalam meningkatkan produksi industri yang berkaitan dengan militer. Perubahan tujuan kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung kekuatan militernya di Asia dalam menghadapi Perang Korea. Sejak terjadinya Perang Korea, industri di Jepang mendapat program permintaan khusus (tokuju/special procurement) dari pemerintah Amerika Serikat. Tokuju merupakan permintaan khusus untuk menyediakan perbekalan bagi pihak militer. Program tersebut dijalankan untuk memenuhi keperluan militer Amerika Serikat dalam rangka menghadapi Perang Korea. Dengan adanya tokuju, produksi peralatan dan persenjataan perang yang sebelumnya dilarang oleh SCAP pada saat itu diperbolehkan kembali. SCAP mengizinkan kembali produksi peralatan perang, kapal,

dan pesawat tempur pada tahun 1952. Dengan kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada industri yang berkaitan dengan militer untuk membangun kembali produksinya. Tokuju juga berpengaruh pada peningkatan permintaan barang dan jasa sehingga perekonomian Jepang mengalami boom yang membuat banyak industri dan perusahaan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Jadi Perang Korea memberi kontribusi yang sangat besar bagi pemulihan ekonomi Jepang. Selain itu dengan adanya tokuju, kerjasama ekonomi antara Amerika Serikat dan Jepang menjadi meningkat. Hal tersebut berdampak pada peningkatan produksi dan ekspor. Tahun 1950, setelah zaibatsu dibubarkan. Kelompok pengusaha berusaha membangun kembali zaibatsu yang bertranformasi dengan nama keiretsu. Posisi jepang yang saat itu merupakan pemasok kebutuhan militer untuk Amerika Serikat memberikan keuntungan bagi keiretsu untuk menggalang kekuatan. Kireitsu adalah sebuah grup bisnis yang lahir sekitar tahun 1950-an, yang dimulai dengan berdirinya Mitshubishi Keiretsu (1951), Sumimoto Keiretsu (1952) dan Mitsui Keiretsu. Keiretsu merupakan penggabungan kegiatan bisnis dari puluhan bahkan ratusan perusahaan yang terpusat pada sebuah bank. Keiretsu bergerak pada 3 jenis usaha yaitu bank, tranding company dan manufaktur. Usaha tersebut menjadikan keiretsu sebagai kelompok bisnis terbesar dan yang paling menentukan di Jepang. Namun keiretsu menjadi sorotan tajam bagi negara barat karena dianggap melakukan praktek praktek dagang dengan proteksi serta monopoli. Keiretsu juga menjadi objek bahasan terpenting didalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dengan Jepang. Setelah penandatangan Perjanjian Damai San Fransisco (Nihonkoku tono Heiwa Jyaku/Peace Treaty of San Fransisco) pada 8 September 1951 oleh 47 negara

dan Pakta Keamanan Jepang dan Amerika (Nichibei Anzen Hosh Jyaku/Japanese American Security Pact) pada Mei 1952 maka masa pendudukan Sekutu di Jepang berakhir. Perjanjian Damai San Fransisco mulai berlaku pada tanggal 28 April 1952, dan sejak saat itu Jepang secara resmi mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai negara. Dengan mendapatkan kembali kedaulatannya maka Jepang dapat membangun kembali negaranya sendiri. Selain tu di dalam Pakta Keamanan Jepang dan Amerika, dinyatakan bahwa militer Amerika Serikat tetap berada di Jepang. Hal tersebut memungkinkan Jepang menghemat anggarannya dalam bidang militer, dan dapat dialihkan untuk pemulihan perekonomian. Sejak mendapatkan kembali

kedaulatannya, pemerintah Jepang melakukan beberapa revisi terhadap kebijakan ekonomi yang telah dijalankan selama masa pendudukan Sekutu. Jadi, setelah masa pendudukan berakhir, Jepang dapat menentukan sendiri kebijakan ekonominya. Selama periode pertumbuhan yang cepat, masyarakat jepang mengalami berbagai perubahan dari tahun 1955 hingga 1970. Infrastruktur ekonomi secara aktif mulai dikembangkan dengan pembukaan kereta cepat Tokaido antara Tokyo dan Osaka pada tahun 1964, dan jalan raya super antara Komaki (dekat Nagoya) dan Nishinomiya (dekat Kobe) pada tahun 1965. Pertumbuhan ekonomi Jepang yang cepat ini juga diikuti dengan peningkatan dari penjualan mobil dan konstruksi jalan raya. Di sisi lain hal ini menimbulkan masalah sendiri bagi Jepang, seperti keterlambatan dalam pengembangan infrastruktur, tidak adanya pemerataan penduduk antara di kota dan di pedesaan akibat urbanisasi, dan degradasi lingkungan. Di akhir tahun 1960, pemerintah membuat kebijakan dengan memberikan asuransi

sosial dan sistem pensiun nasional pada semua orang termasuk wiraswasta dan pengangguran. Pelayanan kesehatan dan kondisi kesehatan masyarakat Jepang mulai

membaik seiring dengan mengkatnya pendapatan masyarakat Jepang, sehingga angka harapan hidup menjadi semakin panjang. Angka harapan hidup orang Jepang sebelumnya 60 tahun untuk laki-laki dan 63 tahun untuk perempuan, pada tahun 1950 hingga 1975 meningkat menjadi 71 tahun untuk laki-laki dan 77 tahun untuk perempuan. Sektor pendidikan juga mengalami kemajuan dengan semakin dipermudahnya akses untuk masuk ke universitas/perguruan tinggi. Kesenjangan pendapatan juga semakin menyempit pada tahun 1955-1965. Efek yang timbul akibat cepatnya pertumbuhan di Jepang adalah overpopulasi di daerah metropolitan dan depopulasi di daerah pedesaan sehingga timbul kemacetan lalu lintas, kondisi perumahan yang buruk, kurangnya insfrastruktur di perkotaan, dan polusi akibat strategi pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan industri. Depopulasi daerah pedesaan menyebabkan Jepang harus mengimpor pangan karena petani pindah ke perkotaan untuk mencari pekerjaan dan kehidupan akibat pergeseran struktur dari pertanian menjadi manufaktur.. Masalah ini mulai teratasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, sehingga jumlah penduduk yang pindak ke kota Tokyo mulai konsisten. Polusi menimbulkan pencemaran pada lingkungan di berbagai daerah, sehingga menimbulka penyakit seperti asma. Pertumbuhan ekonomi riil dari tahun 1960-an hingga 1980-an sering disebut "keajaiban ekonomi Jepang", yakni rata-rata 10% pada tahun 1960-an, 5% pada tahun 1970-an, dan 4% pada tahun 1980-an.Dekade 1980-an merupakan masa keemasan

ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan. Pada tahun 1960 industri jepang telah mampu bersaing dalam pasar Internasional dalam bidang perkapalan, radio, baja, semen dan beberapa produk lain yang kemudian merupakan tenaga pendorong bagi ekspor jepang. Pada awal tahun 1970-an Jepang telah menjadi salah satu negara industry paling maju di dunia. Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Plaza 1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat diskonto resmi diturunkan hingga 2,5% agar produk manufaktur Jepang bisa kembali kompetitif setelah terjadi kemerosotan volume ekspor akibat menguatnya yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat, dan berakibat pada penggelembungan harga aset. Harga tanah terutama menjadi sangat tinggi akibat adanya "mitos tanah" bahwa harga tanah tidak akan jatuh. Ekonomi gelembung Jepang jatuh pada awal tahun 1990-an akibat kebijakan uang ketat yang dikeluarkan Bank of Japan pada 1989, dan kenaikan tingkat diskonto resmi menjadi 6%. Pada 1990, pemerintah mengeluarkan sistem baru pajak penguasaan tanah dan bank diminta untuk membatasi pendanaan aset properti. Indeks rata-rata Nikkei dan harga tanah jatuh pada Desember 1989 dan musim gugur 1990. Pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi pada 1990-an, dengan angka rata-rata pertumbuhan ekonomi riil hanya 1,7% sebagai akibat penanaman modal yang tidak efisien dan

penggelembungan harga aset pada 1980-an. Institusi keuangan menanggung kredit bermasalah karena telah mengeluarkan pinjaman uang dengan jaminan tanah atau saham. Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Plaza 1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat diskonto resmi diturunkan hingga 2,5% agar produk manufaktur Jepang bisa kembali kompetitifsetelah terjadi kemerosotan volume ekspor akibat menguatnya yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat, dan berakibat pada penggelembungan harga aset. Harga tanah terutama menjadi sangat tinggi akibat adanya "mitos tanah" bahwa harga tanah tidak akan jatuh. Ekonomi gelembung Jepang jatuh pada awal tahun 1990-an akibat kebijakan uang ketat yang dikeluarkan Bank of Japan pada 1989, dan kenaikan tingkat diskonto resmi menjadi 6%. Pada 1990, pemerintah mengeluarkan sistem baru pajak penguasaan tanah dan bank diminta untuk membatasi pendanaan aset properti. Indeks rata-rata Nikkei dan harga tanah jatuh pada Desember 1989 dan musim gugur 1990. Pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi pada 1990-an, dengan angka rata-rata pertumbuhan ekonomi riil hanya 1,7% sebagai akibat penanaman modal yang tidak efisien dan penggelembungan harga aset pada 1980-an. Institusi keuangan menanggung kredit bermasalah karena telah mengeluarkan pinjaman uang dengan jaminan tanah atau

saham. Usaha pemerintah mengembalikan pertumbuhan ekonomi hanya sedikit yang berhasil dan selanjutnya terhambat oleh kelesuan ekonomi global pada tahun 2000. Jepang adalah perekonomian terbesar nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan PDB nominal sekitar AS$4,5 triliun. dan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik Rakyat Cina dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Industri utama Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, realestat, bisnis eceran, transportasi, telekomunikasi, dan konstruksi. Jepang memiliki industri berteknologi tinggi di bidang otomotif, elektronik, mesin, perkakas, baja dan logam non-besi, perkapalan, industri kimia, tekstil, dan pengolahan makanan. Sebesar tiga perempat dari produk domestik bruto Jepang berasal dari sektor jasa. listrik Minato Mirai 21 di Yokohama. Ekonomi Jepang sangat mengandalkan sektor jasa. Dalam Indeks Kemudahan Berbisnis, Jepang menempati peringkat ke-12, dan termasuk salah satu negara maju dengan birokrasi paling sederhana. Kapitalisme model Jepang memiliki sejumlah ciri khas. Keiretsu adalah grup usaha yang beranggotakan perusahaan yang saling memiliki kerja sama bisnis dan kepemilikan saham. Negosiasi upah (shunt) berikut perbaikan kondisi kerja antara manajemen dan serikat buruh dilakukan setiap awal musim semi. Budaya bisnis Jepang mengenal konsep-konsep lokal, seperti Sistem Nenk, nemawashi, salaryman, dan office lady. Perusahaan di Jepang mengenal kenaikan pangkat berdasarkan senioritas dan jaminan pekerjaan seumur hidup. Kejatuhan ekonomi gelembung yang diikuti kebangkrutan besar-besaran dan pemutusan hubungan kerja menyebabkan jaminan pekerjaan seumur hidup mulai ditinggalkan. Perusahaan Jepang dikenal dengan metode manajemen seperti The

Toyota Way. Aktifisme pemegang saham sangat jarang. Dalam Indeks Kebebasan Ekonomi, Jepang menempati urutan ke-5 negara paling laissez-faire di antara 41 negara Asia Pasifik. Total ekspor Jepang pada tahun 2005 adalah 4.210 dolar AS per kapita. Pasar ekspor terbesar Jepang tahun 2006 adalah Amerika Serikat 22,8%, Uni Eropa 14,5%, Cina 14,3%, Korea Selatan 7,8%, Taiwan 6,8%, dan Hong Kong 5,6%. Produk ekspor unggulan Jepang adalah alat transportasi, kendaraan bermotor, elektronik, mesin-mesin listrik, dan bahan kimia. Negara sumber impor terbesar bagi Jepang pada tahun 2006 adalah Cina 20,5%, AS 12,0%, Uni Eropa 10,3%, Arab Saudi 6,4%, Uni Emirat Arab 5,5%, Australia 4,8%, Korea Selatan 4,7%, dan Indonesia 4,2%. Impor utama Jepang adalah mesin-mesin dan perkakas, minyak bumi, bahan makanan, tekstil, dan bahan mentah untuk industri. Industri utama Jepang yang paling dikenal dunia adalah otomotifnya (baik motor ataupun mobil), tetapi lebih dari itu Jepang juga negara penghasil kapal, elektronik, ponsel, mesin, robot (android), baja (metal), komputer, tekstil, sutera, bioindustri, semikonduktor, farmasi, kertas, petrokimia, makanan, teknologi ruang angkasa, alumunium dan lainnya. Hampir semua industri di Jepang laku di ekspor. Mau bukti? lihat saja, di jalan-jalan Indonesia, India, Malaysia dan Filipina banyak dijumpai mobil buatan Honda, Suzuki, Toyota, Hino, Isuzu, Mitsubishi dan Mazda. Alat-alat rumah tangga didominasi alat buatan Jepang seperti Sharp, Mito, Mitoshiba, Toshiba, Canon dll. Peripheral, panel plasma, semikonduktor dan komputer merek Canon, Hitachi, Fujitsu dan Toshiba juga diminati dunia.Sampai sekarang, Jepang adalah negara industri paling sukses sepanjang sejarah

Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di dunia (senilai AS$ 14 miliar). Perikanan, perikanan Jepang sangat maju dengan dukungan alat-alat penangkapan ikan yang modern, armada yang besar dan bermodal serta area penangkapan yang sangat luas. Tak heran Jepang pernah menjadi produsen ikan nomor 1 dunia sejak 1968 sampai 1996. Pada 1996, produksi ikan di Jepang terus merosot dan akhirnya berada diposisi ke-enam sampai sekarang. Tetapi, armada perikanan tetap merupakan yang terbaik didunia. Hasil perikanan/tangkapan nelayan Jepang pada umunya yaitu : tuna, cakalang, sarden, makerel, cod, haring, paus, anjing laut, salem, kepiting, gurita, cumi, belut laut, udang, salmon, kerang tiram, saury dan jenis-jenis lain.

Pertanian di Jepang tergolong maju dan menerapkan intensifikasi pertanian, sehingga walaupun luas wilayah Jepang yang dijadikan lahan pertanian kurang dari 15 % Jepang dapat berswasembada memenuhi kebutuhan domestiknya. Pertanian di Jepang kebanyakan menggunakan sistem hidroponik, aeroponik, pupuk hijau/kompos, mesin panen dan mesin-mesin pembajak yang modern. 2011 lalu, Jepang berhasil berswasembada atas komoditas beras, kedelai, kacang tanah, rumput laut, teh, tomat, sayuran, kubis, pir, jeruk, aprikot, lobak, jagung, kentang, ketan, gandum, bunga dan wasabi. Meskipun swasembada, untuk membuat Sanbei, Jepang masih mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Pertanian adalah sektor industri andalan hingga beberapa tahun seusai Perang Dunia II. Menurut sensus tahun 1950, sekitar 50% angkatan kerja berada di bidang pertanian. Sepanjang "masa keajaiban ekonomi Jepang", angkatan kerja di bidang pertanian terus menyusut hingga sekitar 4,1% pada

tahun 2008. Pada Februari 2007 terdapat 1.813.000 keluarga petani komersial, namun di antaranya hanya kurang dari 21,2% atau 387.000 keluarga petani pengusaha. Sebagian besar angkatan kerja pertanian sudah berusia lanjut, sementara angkatan kerja usia muda hanya sedikit yang bekerja di bidang pertanian.

Selain itu, Jepang juga menguasai global melalui industri anime (animasi) dan produk perfilman mereka. Anime (animasi) Jepang menyerbu dan laris manis dipasaran dunia seperti : Doraemon, Ninja Hatori, Naruto, One Piece dll. Dari industri animasi-nya (anime), Jepang membukukan keutungan bersih total sekitar 2.983,03 milliar Yen.

Jepang adalah perekonomian terbesar nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat, Jepang bersama Jerman dan Korea Selatan adalah 3 negara yang pernah mencatatkan diri sebagai negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah dunia dan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik Rakyat Cina dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Bangsa Jepang dapat berkembang dengan cepat karena semangat untuk bangkit yang luar biasa dan didukung oleh budaya Bangsa Jepang yang tidak mudah menyerah serta mau belajar dari pengalaman. Ditambah strategi rekonstruksi pasca konflik yang tepat. Jepang tidak butuh waktu lama untuk segera bangkit dan menguasai keadaan. Hanya dalam kurun waktu 30 tahun, jepang segera menjadi salah satu jantung perekonomian dunia dengan berbagai kebijakan kebijakan yang diterapkan.

Jepang habis gelap terbitlah terang. Sartini dan saring arianto. Jurnal sosio e-kons vol II No. 1 edisi februari april 2010.