Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Saat ini dalam setiap menit, setiap harinya, seorang ibu meninggal disebabkan

oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu diperkirakan sebanyak 500.000 kematian setiap tahun, 99% diantaranya terjadi di negara berkembang. Menurut Millenium Development Goals (2004), dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya. Menurut Depkes RI (2003), kondisi derajat kesehatan di Indonesia ini masih harus ditingkatkan antara lain ditandai dengan tingginya AKI yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi baru lahir 35 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003, Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 307 per 100.000 (SDKI, 2003) dan turun menjadi 228 per 100.000 pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Menurut Depkes RI (2001), angka kematian ibu dan bayi merupakan tolok ukur dalam menilai derajat kesehatan suatu bangsa, oleh karena itu pemerintah sangat menekankan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui program-program kesehatan. Menurut Depkes RI (1999), definisi kematian maternal adalah kematian seorang wanita pada waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan.1 Menurut Sensus yang dilakukan pada tahun 2000, lima penyebab utama kematian ibu adalah pendarahan, infeksi, eklampsi, partus lama, dan komplikasi abortus.1 Kebijakan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) pada dasarnya mengacu pada intervensi strategis Empat Pilar Safe Mother Hood yaitu; 1) Keluarga berencana, 2) Pelayanan antenatal care, 3) Persalinan yang aman, 4) Pelayanan obstetric essensial. Pilar yang kedua yaitu pelayanan antenatal

care yang tujuan utamanya mencegah komplikasi obstetri dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.1

BAB II PENGAWASAN WANITA HAMIL 2.1 Definisi Antenatal Care Antenatal care adalah pengupayaan observasi berencana terhadap ibu hamil pemeriksaan, pendidikan, pengawasan secara dini terhadap komplikasi penyakit ibu yang dapat mempengaruhi kehamilan.2 Menurut World Health Organization (WHO) Antenatal Care adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medik pada ibu hamil untuk memperoleh suatu proses kehamilan serta persalinan yang aman dan memuaskan.1 Masalah pengawasan kehamilan merupakan bagian terpenting dari seluruh rangkaian perawatan ibu hamil. Melalui pengawasan tersebut, dapat dinilai kesehatan ibu
2

hamil, kesehatan janin, dan hubungan keduanya sehingga dapat direncanakan pertolongan sesegera mungkin. Dengan ilmu kebidanan (obstetri), diusahakan setiap kehamilan berlangsung dengan aman, bersih dan bebas dari penyulit sehingga keadaan ibu dan anak terpelihara dengan baik. Setiap wanita hamil dapat melalui proses persalinan tanpa gangguan dan akhirnya mampu memelihara bayi dan memberikan ASI. Proses persalinan yang aman dan bersih dapat diartikan sebagai pelaksanaan persalinan dengan trauma yang sangat minimal dengan cara:

Spontan kepala belakang Ekstraksi vakum atau forseps Seksio Sesaria (jalan terakhir)

Melalui proses diatas, akan tercapai well born baby dan well health mother sebagai titik awal dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Istilah untuk pemeriksaan dan pengawasan untuk ibu hamil, diantaranya:

Maternity care : pelayanan kebidanan pada ibu hamil Antenatal care : pengawasan sebelum anak lahir terutama ditujukan pada anak Prenatal care : pengawasan sebelum janin lahir dan lebih ditekan kepada kesehatan janin

Dalam arti sempit, ketiga bentuk pengawasan tersebut bertujuan untuk:

Mengawasi ibu hamil selama kehamilan sampai melahirkan. Merawat dan memeriksa ibu hamil. Jika didapatkan kelainan yang dapat mengganggu tumbuh kembang janin, harus diikuti untuk dilakukan penatalaksanaan lebih lanjut dan diberikan pengobatan.

Menemukan penyakit sedini mungkin pada ibu yang dapat mempengaruhi pertumbuhan janin serta berusaha mengobatinya. Mempersiapkan ibu sehingga proses persalinan yang dijalaninya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mempersiapkan ibu hamil agar dapat memelihara bayi dan menyusui seoptimal mungkin.

Hal-hal yang dimaksud dan termasuk dalam pengawasan kehamilan adalah: Prekonsepsi dan prenatal care
3

Teratologi dan epidemiologi kelainan kongenital Obat-obat masa hamil dan laktasi Ultrasonografi untuk mengetahui perkembangan janin Evaluasi janin antepartum

Terdapat perbedaan pengawasan pada ibu hamil dengan usia di bawah 18 tahun disebabkan sering terjadinya:

Anemia Hipertensi yang menuju eklamsi dan preeklampsi Persalinan dengan berat badan lahir rendah Kehamilan disertai infeksi Penyulit proses persalinan sehingga memerlukan tindakan operasi Kehamilan yang tidak diinginkan Kecanduan obat atau perokok Arti dan manfaat antenatal care yang kurang diperhatikan. Saat ini, sekitar 3-5% wanita yang memiliki pekerjaan dengan pendidikan yang

Aspek sosial yang sering menyertai ibu hamil muda, yaitu:

lebih tinggi cenderung untuk terlambat menikah dan hamil diatas usia 35 tahun, sehingga diperlukan perhatian khusus karena dapat terjadi:

Hipertensi karena stress pekerjaan yang dapat memicu terjadinya preeklampsi dan eklampsi Diabetes melitus Perdarahan antepartum Abortus dan abortus berulang Persalinan prematur atau BBLR Gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim (IUGR) Kelainan kongenital Antenatal care dijalankan sejak kunjungan wanita hamil pertama sekali dan

berlanjut hingga bayi lahir. Untuk negara di Eropa Timur, Amerika Utara, dan banyak negara maju lainnya, menyarankan agar antenatal care dilaksanakan sebanyak 12-16 kali kunjungan selama kehamilan. Sedangkan di negara berkembang pemeriksaan antenatal
4

care cukup dilakukan sebanyak 4 kali sebagai kasus tercatat yaitu trimester pertama 1 kali, trimester kedua 1 kali dan trimester ketiga 2 kali. Menurut Profil Kesehatan Indonesia (2008), Antenatal care adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil oleh petugas kesehatan untuk memelihara kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan. Antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya fisik dan mental, serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas sehingga keadaan mereka pasca melahirkan sehat dan normal, tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Perawatan antenatal (PAN) adalah pemeriksaan yang sistematik dan teliti pada ibu hamil, pada perkembangan/pertumbuhan janin dalam kandungannya serta penanganan ibu hamil dan bayinya saat dilahirkan dalam kondisi yamg terbaik. 2.2 Tujuan Antenatal Care 1, 2 1. Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu, dan tumbuh kembang janin. 2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi.
3. Menemukan secara dini adanya masalah atau gangguan dan kemungkinan

komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan. 4. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin. 5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif berjalan normal. 6. Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal. Dahulu, tujuan Perawatan Antenatal (PAN) adalah untuk menjaring kasus kehamilan risiko tinggi dan risiko rendah. Faktor risiko tersebut sebenarnya bukan merupakan indikator yang baik bagi ibu hamil yang mengalami komplikasi. Jika kita telaah, mayoritas ibu hamil yang sebelumnya diidentifikasi risiko rendah, malah

mengalami komplikasi, sebaliknya sebagian besar ibu hamil yang dianggap risiko tinggi melahirkan bayinya tanpa komplikasi. Oleh karena itu, tujuan PAN, yaitu: 1. Mempromosikan serta menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan pendidikan mengenai nutrisi, kebersihan diri, dan proses persalinan. 2. Mendeteksi secara dini kelainan yang terdapat pada ibu dan janin serta segera menatalaksanakan komplikasi medis, bedah, ataupun obstetri selama kehamilan dan menanggulanginya. 3. Mempersiapkan ibu hamil, baik fisik, psikologis, dan sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan, masa nifas, masa menyusui, serta kesiapan menghadapi komplika 2.3 Fungsi Antenatal Care 1 Salah satu fungsi dari antenatal care (ANC) adalah untuk dapat mendeteksi/mengkoreksi/menatalaksanakan sedini mungkin segala kelainan yang terdapat pada ibu dan janinnya. Untuk itu, dilakukan pemeriksaan fisik diagnostik mulai dari anamnesa yang teliti sampai dapat ditegakkan diagnosa diferensial dan diagnosa sementara beserta prognosanya. Perlunya mendeteksi penyakit dan bukan penilaian risiko dikarenakan pendekatan risiko bukan merupakan strategi yang efisien ataupun efektif untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Pendekatan PAN kini mengenalkan pendekatan terbaru, yaitu Antenatal Terfokus (Focused ANC). 2.4 Antenatal Terfokus (Focused ANC)1 Antenatal terfokus yang mengutamakan kualitas kunjungan daripada kuantitasnya. Pendekatan ini mengenalkan 2 kunci realitas, yaitu: Pertama, kunjungan berkala tidak serta merta meningkatkan hasil akhir kehamilan, dan di negara berkembang secara logistik dan finansial adalah mustahil bagi fasilitas kesehatan dan komunitas yang mereka layani.

Kedua, banyak wanita yang diidentifikasi berisiko tinggi tidak pernah mengalami komplikasi, sementara wanita berisiko rendah sering kali mengalami komplikasi. Antenatal Terfokus tergantung pada evidence-based, goal directed interventions

yang layak untuk umur kehamilan dan ditujukan secara khusus pada isu-isu kesehatan

yang paling utama bagi wanita hamil dan jabang bayi. Strategi kunci Antenatal Terfokus (Focused ANC) lainnya adalah bahwa setiap kunjungan ditangani oleh penyedia tenaga kesehatan yang ahli, yaitu bidan, dokter, perawat, atau tenaga kesehatan yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan PAN. Selain itu, fungsi dari antenatal care (ANC) adalah untuk mempersiapkan fisik dalam menghadapi kehamilan, persalinan, dan nifas. Untuk itu, perlu komunikasi, informasi, dan edukasi seperti pemberian gizi yang baik, empat sehat lima sempurna terutama diet tinggi kalori tinggi protein, vitamin, dan mineral. Kemudian preparat Fe (zat besi) dan asam folat untuk menanggulangi anemia (Safe Blood Safe Mother). 2.5 Jadwal Antenatal Care 1, 2,3 Menurut Profil Kesehatan Indonesia (2008), K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang dilakukan pada trimester pertama kehamilan. Sedangkan K4 adalah kunjungan ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama kehamilan, 1 kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester ketiga. Setiap wanita hamil menghadapi risiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, kunjungan antenatal care (ANC) minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu:

Satu kali pada trimester I (umur kehamilan 0-13 minggu) Satu kali pada trimester II (umur kehamilan 14-27 minggu) Dua kali pada trimester III (umur kehamilan 28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) Menurut referensi dari Kuliah Obstertri, dalam upaya pengawasan ibu hamil di

Inggris tahun 1929, diusulkan gagasan pengawasan secara teratur dengan jadwal sebagai berikut: 2

Setiap 4 minggu sampai kehamilan berumur 28 minggu Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 36 minggu Setiap minggu setelah umur kehamilan diatas 36 minggu sampai proses persalinan dimulai.

Standar Asuhan Kehamilan Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, standar minimal pelayanan pada ibu hamil adalah tujuh bentuk yang disingkat 7T, antara lain: 1. Timbang berat badan. 2. Ukur tekanan darah. 3. Ukur tinggi fundus uteri. 4. Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toksoid) lengkap. 5. Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan dengan dosis 1 tablet setiap harinya. 6. Lakukan tes penyakit menular seksual (PMS).
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

2.6 Standar Pelayanan Antenatal yang berkualitas meliputi 1 Menurut Departemen Kesehatan RI tahun (2003): Memberikan pelayanan kepada ibu hamil minimal 4 kali, 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III untuk memantau keadaan ibu dan janin dengan seksama sehingga dapat mendeteksi secara dini dan dapat memberikan intervensi secara cepat dan tepat.

Melakukan penimbangan berat badan ibu hamil dan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) secara teratur mempunyai arti klinis penting, karena ada hubungan yang erat antara pertambahan berat badan selama kehamilan dengan berat badan lahir bayi. Pertambahan berat badan hanya sedikit menghasilkan rata-rata berat badan lahir bayi yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya BBLR dan kematian bayi. Pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan janin dalam kandungan. Berdasarkan pengamatan pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dipengaruhi berat badannya sebelum hamil. Pertambahan yang optimal adalah kira-kira 20% dari berat badan ibu sebelum hamil, jika berat badan tidak bertambah, Lingkar Lengan Atas < 23,5 cm menunjukkan ibu mengalami kurang gizi.

Penimbangan berat badan dan pengukuran tekanan darah harus dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap terjadinya tiga gejala preeklampsi yaitu tekanan darah tinggi, protein urin positif, pandangan kabur atau

oedema pada ekstremitas. Apabila pada kehamilan triwulan III terjadi kenaikan berat badan lebih dari 1 kg, dalam waktu 1 minggu kemungkinan disebabkan terjadinya oedema, apabila disertai dengan kenaikan tekanan darah dan tekanan diastolik yang mencapai > 140/90 mmHg atau mengalami kenaikan 15 mmHg dalam 2 kali pengukuran dengan jarak 1 jam. Ibu hamil dikatakan dalam keadaan preeklampsi jika mempunyai 2 dari 3 gejala preeklampsi. Apabila preeklampsi tidak dapat diatasi, maka akan berlanjut menjadi eklampsi. Eklampsi merupakan salah satu faktor utama penyebab terjadinya kematian maternal.

Pengukuran TFU (Tinggi Fundus Uteri) dilakukan secara rutin dengan tujuan mendeteksi secara dini terhadap berat badan janin. Indikator pertumbuhan berat janin intrauterin, tinggi fundus uteri dapat juga mendeteksi secara dini terhadap terjadinya mola hidatidosa, janin ganda atau hidramnion yang ketiganya dapat mempengaruhi terjadinya kematian maternal.

Melaksanakan palpasi abdominal setiap kunjungan untuk mengetahui usia kehamilan, letak, bagian terendah, letak punggung, menentukan janin tunggal atau kembar, dan mendengarkan denyut jantung janin untuk menentukan asuhan selanjutnya.

Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) kepada ibu hamil sebanyak 2 kali dengan jarak minimal 4 minggu, diharapkan dapat menghindari terjadinya tetanus neonatorum dan tetanus pada ibu bersalin dan nifas.

Pemeriksaan Hemoglobine (Hb) pada kunjungan pertama dan pada kehamilan 30 minggu. Saat ini, anemia dalam kandungan ditetapkan kadar Hb <11gr% pada trimester I dan III atau Hb <10,5 gr% pada trimester II, Hb <8gr% harus dilakukan pengobatan dengan pemberian 2-3 kali tablet Fe per hari.

Memberikan tablet zat besi, 90 tablet selama 3 bulan, diminum setiap hari, ingatkan ibu hamil tidak meminumnya dengan teh atau kopi. Pemeriksaan urin dilakukan jika ada indikasi (tes protein dan glukosa), pemeriksaan penyakit-penyakit infeksi (HIV/AIDS dan PMS). Memberikan penyuluhan tentang perawatan diri selama kehamilan, perawatan payudara, gizi ibu selama kehamilan, tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan

pada janin sehingga ibu dan keluarga dapat segera mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya.

Jelaskan tentang persalinan kepada ibu hamil, suami/keluarga pada trimester III, memastikan bahwa persiapan persalinan bersih, aman dan suasana yang menyenangkan, persiapan transportasi, dan biaya.

Tersedianya alat-alat pelayanan kehamilan dalam keadaan baik dan dapat digunakan, obat-obatan yang diperlukan, waktu pencatatan kehamilan, dan mencatat semua temuan pada KMS (kartu menuju sehat) ibu hamil untuk menentukan tindakan selanjutnya.

2.7 Informasi yang Diberikan ketika Memberikan Asuhan Kehamilan1,4 Informasi-informasi yang harus diberikan kepada ibu hamil pada kunjungan kehamilannya adalah: 1. Trimester I

Menjalin hubungan saling percaya. Hal ini merupakan langkah paling awal namun akan sangat menentukan kualitas asuhan di waktu-waktu berikutnya. Hubungan saling percaya antara ibu hamil dan petugas kesehatan mutlak harus dapat dipenuhi sehingga informasi dan penatalaksanaan yang diberikan oleh petugas kesehatan dapat selalu sesuai dengan data yang disampaikan oleh pasien secara jujur.

Deteksi masalah pada tahap awal pemberian asuhan, petugas kesehatan melakukan deteksi kemungkinan masalah atau komplikasi yang muncul dengan melakukan penapisan. Beberapa diantaranya adalah penapisan kelainan bentuk panggul pada pasien dengan tinggi badan kurang dari 145 cm, pre-eklampsi, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, dan sebagainya.

Mencegah masalah (TT dan anemia). Pencegahan masalah anemia merupakan prioritas pertama yang harus dilakukan oleh petugas kesehatan karena anemia merupakan penyebab utama pendarahan postpartum. Selain anemia, petugas kesehatan juga harus melakukan pencegahan

10

penyakit tetanus neonatorum karena penyakit ini memberikan peran yang cukup besar dalam menyebabkan kematian bayi.

Persiapan persalinan dan komplikasi. Meskipun proses persalinan masih cukup lama, namun petugas kesehatan tetap harus menyampaikan informasi ini sedini mungkin sehingga ibu hamil dan keluarga sudah mempunyai gambaran mengenai apa yang harus direncanakan. Selain itu untuk memberdayakan ibu hamil dan keluarga, beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dalam kehamilan juga perlu disampaikan sejak dini sehingga ibu hamil dan keluarga dapat ikut aktif dalam pemantauan perjalanan kehamilannnya.

Perilaku sehat (gizi, latihan/senam, kebersihan, istirahat). Setelah petugas kesehatan menyimpulkan bahwa ibu hamil sudah cukup paham

2.

Trimester II

dengan informasi yang harus diketahui pada Trimester I, maka pada Trimester II petugas kesehatan memberikan informasi yang berkaitan dengan preeklampsi ringan (pantau tekanan darah dan evaluasi edema). Petugas kesehatan mengajak ibu hamil dan keluarga untuk aktif dalam memantau kemungkinan gejala-gejala preeklampsi ringan dalam kehamilannya sehingga timbul tanggung jawab bagi ibu hamil dan keluarga. 3. Trimester III Gemeli (28-36 minggu) Pada usia kehamilan ini, informasi yang perlu disampaikan adalah hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dalam kandungan, salah satunya adalah janin tunggal atau ganda. Informasi tersebut akan mengurangi beberapa kekhawatiran yang dirasakan oleh ibu hamil dan keluarga berkaitan dengan janin. Letak janin (>36 minggu) Gambaran persalinan yang akan dilalui merupakan salah satu hal yang dikhawatirkan oleh ibu hamil dan keluarga pada akhir masa kehamilan. Informasi mengenai kepastian letak dan posisi janin akan mengurangi kecemasan pasien. Ibu hamil akan lebih siap jika diberikan gambaran mengenai proses persalinan secara lengkap.

11

2.8 Hak-Hak Ibu Hamil dalam Antenatal Care 4

Mendapatkan keterangan mengenai kondisi kesehatannya. Informasi harus diberikan langsung kepada ibu hamil dan keluarganya. Mendiskusikan keprihatinannya, kondisinya, dan harapannya terhadap sistem pelayanan, dalam lingkungan yang dapat ia percaya. Proses ini berlangsung secara pribadi dan didasari rasa saling percaya.

Mengetahui sebelumnya jenis prosedur yang akan dilakukan terhadap dirinya. Mendapatkan pelayanan secara pribadi/dihormati privasinya dalam setiap pelaksanaan prosedur. Menerima layanan senyaman mungkin. Menyatakan pandangan dan pilihannya mengenai pelayanan yang diterimanya. Hal ini berarti dalam pengawasan wanita hamil, harus diusahakan agar wanita

hamil sampai akhir kehamilan sekurang-kurangnya harus sama sehatnya atau lebih sehat, adanya kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan sedini mungkin dan diobati,dan melahirkan tanpa kesulitan serta bayi yang dilahirkan sehat fisik dan mental. 2.9 Pemeriksaan Antenatal Care 5 Bila seorang wanita datang dengan haid terlambat dan diduga adanya kehamilan, maka dapat ditentukan tanggal perkiraan partus, jika hari pertama haid terakhir diketahui dan siklus 28 hari. Rumus yang dipakai adalah rumus Naegele. Perkiraan partus menurut rumus ini yaitu hari + 7, bulan 3, dan tahun + 1. Misalnya hari pertama haid terakhir adalah tanggal 1-5-2011, maka perkiraan partus menurut rumus ini yaitu pada tanggal 8-2-2012. Apabila tanggal hari pertama haid terakhir tidak diingat maka dapat digunakan ukuran tinggi fundus uteri (TFU) sebagai patokan untuk menentukan usia kehamilan.

12

Gambar 1. Tinggi Fundus Uteri untuk menentukan usia kehamilan Hal-hal yang memiliki kaitan dengan kehamilan hendaknya ditanyakan dengan teliti seperti tentang keluhan, napsu makan, tidur, miksi, defekasi, riwayat kehamilan, persalinan, nifas, ataupun keguguran sebelumnya. Tanyakan juga mengenai penyakitpenyakit yang sedang atau pernah diderita oleh wanita hamil tersebut seperti penyakit jantung, ginjal, tuberkulosis, diabetes mellitus, paru, dan sebagainya. 2.10 Pemeriksaan Fisik 5 Pada pemeriksaan seluruh tubuh wanita harus diperiksa dengan teliti. Keadaan umum harus baik. Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan harus diperiksa dan dicatat. Jantung, paru, mammae dan seluruh abdomen diperiksa dengan teliti dan juga dicatat. Mammae harus terpelihara dengan baik, papilla mammae sebaiknya dibersihkan secara teratur dan diberi minyak agar kulit tetap lemas. Bila terdapat putting yang tertarik ke dalam atau retraksi, maka diadakan koreksi. Bila ringan, dapat dilakukan tarikan, sehingga puting akhirnya menonjol. Apabila terlalu berat, maka harus diatasi dengan pembedahan. Jika kehamilan masih muda, pemeriksaan ginekologik diperlukan, dengan menggunakan spekulum dilihat keadaan vulva, vagina, dan porsio. Pada uterus diperhatikan letak, besar, bentuk, dan konsistensinya. Adneksa juga perlu diraba dengan seksama.

13

Pemeriksaan panggul untuk mengadakan evaluasi akomodasinya sebaiknya ditunda karena dapat menimbulkan rasa nyeri, akibat bagian lunak jalan lahir yang masih kaku pada kehamilan muda. 2.11 Pemeriksaan Obstetri 3 Pasien berbaring telentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan ibu hamil. Setelah wanita hamil yang akan diperiksa berbaring, perhatikan terlebih dahulu apakah uterus berkontraksi. Jika berkontraksi maka harus ditunggu terlebih dahulu. Dinding perut juga harus lemas agar pemeriksaan dapat dilakukan dengan teliti. Untuk ini maka tungkai ditekuk pada pangkal paha dan lutut kemudian dilakukan palpasi bimanual pada abdomen. Palpasi abdomen menentukan Besar dan konsistensi rahim Bagian janin, letak, presentasi Gerakan janin Kontraksi rahim Braxton Hicks dan his

Terdapat berbagai macam cara palpasi namun yang sering di pakai adalah menurut Leopold karena telah hampir mencakup semuanya. Pemeriksaan Leopold I Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang berada pada fundus uteri. Cara pemeriksaan:

Pemeriksa menghadap ke bagian kepala ibu. Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus. Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan rasakan bagian janin yang ada pada bagian fundus dengan jalan menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian.

Bila kepala, maka akan teraba bulat dank eras, sedangkan bokong tidak bulat dan lunak.

14

Gambar 2. Pemeriksaan Leopold I Pemeriksaan Leopold II Untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus, pada letak lintang tentukan di mana kepala janin. Cara pemeriksaan :

Pemeriksa menghadap ke kepala pasien, letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama.

Mulai dari bagian atas tekan secara bergantian atau bersamaan (simultan) telapak tangan tangan kiri dan kanan kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (ekstremitas).

15

Gambar 3. Pemeriksaan Leopold II Pemeriksaan Leopold III Untuk menentukan bagian janin apa yang berada pada bagian bawah dan apakah bagian terbawah tersebut masih sudah terfiksasi atau masih dapat digoyangkan. Cara pemeriksaan:

Posisi pemeriksa pada sisi kanan ibu Letakkan ujung jari tangan kiri pada dimdimg lateral kiri bawah, telapak tangan kanan pada dinding lateral kanan bawah Tekan secara lembut bergantian untuk menentukan bagian terbawah janin

Gambar 4. Pemeriksaan Leopold III Pemeriksaan Leopold IV Untuk menentukan bagian terbawah janin serta mengetahui berapa bagian kepala telah masuk ke dalam pintu atas panggul. Cara pemeriksaan: Pemeriksa menghadap ke bagian kaki ibu Letakkan kedua ujung jari tangan pada tepi atas simfisis, rapatkan semua jari untuk meraba dinding bawah uterus Perhatikan sudut yang dibentuk oleh jari-jari apakah konvergen atau divergen

16

Pindahkan ibu jari dan telunjuk kiri pada bagian terbawah janin umtuk memfiksasi bagian tersebut kearah pintu atas panggul Letakkan jari-jari tangan kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul

Gambar 5. Pemeriksaan Leopold IV Dengan pemeriksaan Leopold I sampai IV tersebut di atas dapat diketahui tinggi fundus uteri, letak janin, letak punggung janin, apakah bagian terbawah janin telah masuk pintu atas panggul atau belum, dan denyut jantung janin. Setelah melakukan pemeriksaan dengan lengkap hendaknya perlu juga dijelaskan kepada ibu tersebut perlunya diadakan pemeriksaan yang teratur ; makin tua umur kehamilannya harus semakin sering dilakukan pemeriksaan. . Beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijelaskan pada antenatal care, meliputi :4 1. Makanan (diet) Ibu hamil harus mendapat perhatian terutama mengenai jumlah kalori dan protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus, dan pendarahan paska persalinan. Jika makan makanan berlebihan karena beranggapan untuk porsi dua orang dapat menyebabkan komplikasi seperti kegemukan, preeklampsi, janin terlalu besar, dan sebagainya. Hal penting yang harus diperhatikan sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut dengan berpedoman pada Pedoman Umum Gizi

17

Seimbang. Petugas Kesehatan sebagai pengawas kecukupan gizinya dapat melakukan pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan. Pengaruh suplementasi multigizi mikro (MGM) dan Fe-folat terhadap status gizi makro ibu hamil dengan menggunakan penambahan berat badan hamil (PBBH) sebagai indikator, masih sangat sedikit. Padahal, PBBH merupakan indikator utama yang menentukan hasil kehamilan, di samping berat badan prahamil (BBpH). Berat badan sebelum hamil, PBBH, dan indeks massa tubuh (IMT) masih merupakan indikator yang banyak dipakai untuk menentukan status gizi ibu. Untuk menghindari risiko tersebut, ibu hamil harus memperhatikan asupan gizi sebelum, ketika, dan setelah kehamilan, karena rerata PBBH yang dianjurkan di negara berkembang adalah 12,5 kilogram. 2. Merokok Bayi dari ibu yang merokok mempunyai berat badan lebih kecil, sehingga ibu hamil sangat tidak diperbolehkan untuk merokok.
3.

Obat-obatan untuk ibu hamil Pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama pada trimester I perlu dipertanyakan, mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahaya terhadap janin. Sebenarnya jika kondisi ibu hamil tidak dalam keadaan yang benar-benar berindikasi untuk diberikan obat-obatan, sebaiknya pemberian obat dihindari.

4. Senam Hamil

Menurut Fraser dan Cooper (2003), dianjurkan bagi ibu hamil agar banyak berjalan, terutama pada pagi hari dalam udara segar dan melakukan senam kehamilan, yang bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan nafsu makan, pencernaan lebih baik, dan tidur menjadi lebih nyenyak. 5. Pakaian Wanita hamil Wanita hamil harus menggunakan pakaian yang longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut. Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat. 6. Kebersihan Tubuh Kebersihan tubuh perlu diperhatikan selama kehamilan karena dengan perubahan metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang

18

menempel di kulit meningkatkan kelembaban kulit dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Jika tidak dibersihkan maka ibu hamil akan sangat mudah untuk terkena penyakit kulit. Perwatan Payudara Payudara perlu dipersiapkan sejak sebelum bayi lahir sehingga dapat segera berfungsi dengan baik pada saat diperlukan. Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka duktus dan sinus laktiferus, sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan benar karena pengurutan yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim. Membasahi areola dan puting susu secara lembut dapat mencegah retak dan lecet. Untuk sekresi yang mongering pada puting susu, lakukan pembersihan dengan menggunakan campuran gliserin dan alkohol. Karena payudara menegang, sensitive, dan menjadi lebih berat, maka gunakan penopang payudara yang sesuai (brassiere). Perwatan Gigi Paling tidak dibutuhkan dua kali pemeriksaan gigi selam kehamilan, yaitu pada trimester pdertama dan ketiga. Penjadwalan pada trimester pertam dikaitkan dengan hiperemesis dan ptialisme (produksi air liur yang berlebihan) sehingga kebersihan rongga mulut harus selalu terjaga. Pada trimester ketiga terkait dengan adanya kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan janin sehingga perlu diketahui apakah terdapat pengaruh yang merugikan pada gigi ibu hamil. Dianjurkan untuk selalu menyikat gigi setelah makan karena ibu hamil sangat rentan terhadap terjadinya caries dan gingivitis. 7. Eliminasi Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron yang mempunyai efek relaksasi tehadap otot polos, salah satunya adalah otot usus. Selain itu, desakan usus oleh pembesaran janin juga menyebabkan bertambahnya konstipasi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong dapat merangsang gerakan

19

peristaltik usus. Jika ibu sudah mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang air besar agar tidak terjadi konstipasi. Sering buang air kecil merupakan kelainan yang umum dirasakan oleh ibu hamil, terutama pada trimester I dan III. Hal tersebut adalah kondisi fisiologis. Tindakan mengurangi asupan cairan untuk mengurangi keluhan ini sangat tidak dianjurkan karena akan menyebabkan dehidrasi.
8. Pemantauan kesejahteraan janin

Kesejahteraan janin dalam kandungan perlu dipantau secara terus menerus agar bila terdapat gangguan pada janin dalam kandungan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau sendiri oleh ibu adalah gerakan janin dalam 24 jam. Gerakan janin dalam 24 jam minimal 10 kali. 2.11 Penilaian Maturitas Janin Untuk menilai apakah janin telah cukup matur dapat dipakai beberapa cara pemeriksaan, diantaranya: 2 1. Pembuatan foto rontgen. Pada foto tersebut tuanya janin dapat diperkirakan dari panjangnya tulang, adanya pusat-pusat isifikasi tertentu dan lain-lain. (dewasi ini pemakaian sinar rontgen tidak dibenarkan bial tidak perlu sekali, berhubung pengaruh tidak baik terhadap janin maupun ibunya). 2. Ultrasonografi. Pada kehamilan 6 minggu sesudah haid terakhir dapat dilihat adanya kantong janin dan mudigah tidak lama sesudah itu. Pada kehamilan 13 minggu kepala janin dapat dideteksi dan pula denyut jantung janin. Dengan pengukuran dinstansia biparietalis kepala janin, maka umur janin dapat diramalkan.
3. Amnioskopi.

Melakukan inspeksi likuor amni melalui ketuban yang utuh dengan menggunakan amniskop yang dimasukan melalui kanalis servikalis. Amnioskopi membantu seleksi kasus secara cermat untuk dilakukan induksi persalinan bila pada antenatal ditemukan resiko terhadap janin. Dengan menganalisa air ketuban yang didapatkan melalui amniosentesis.

20

Menentukan secara spektroskopik kadar bilirubin. Dasar pemeriksaan ini ialah penemuan bahwa pigmen menghilang pada minggu ke-36. akan tetapi adanya mekoneum atau darah di dalam air ketuban dapat menyukarkan penilaian.
4. Kadar kreatinin.

Dengan tuanya janin kadar kreatinin likuor amnni meningkat dan bila ini mencapai 2 mg per 100 ml, maka dapat dikatakan bahwa janin telah cukup tua.
5. Pengukuran sitologik air ketuban.

Ditemukan sejumlah sel yang dapat dipulas dengan pewarnaan khusus lemak. Selsel tersebut berasal dari glandula sebasea. Bila ditemukan <2 % dari seluruh sel, maka dikatakan bahwa kehamilan <36 minggu.Bilah ditemukan >20 %,maka kemungkinan prematuritas kecil sekali.
6. Pemeriksaan kadar enzim alkali fosfatase total dan kadar alkali fosfatase tahan

panas. Mulai kehamilan 26 minggu sampai 42 minggu, kadar alkali fosfatase total dan tahan panas akan naik terus menerus setiap minggunya. Pada postmaturitas kadar enzim tersebut menurun. 7. Perbandingan lesitin-sfingomielin. Di katakana bahwa kosentrasi dari kedua fosfolipid itu padapermulaan kira-kira sama, akan tetapi pada waktu paru-paru menjadi matang (kehamilan > 35 minggu) ditemukan kosentrasi lesitin menigkat, sedangkan kosentrasi sfingomielin menurun.

21

BAB III KESIMPULAN Antenatal Care adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan serta persalinan yang aman dan memuaskan. Perawatan antenatal (PAN) adalah pemeriksaan yang sistematik dan teliti pada ibu hamil, pada perkembangan/pertumbuhan janin dalam kandungannya serta penanganan ibu hamil dan bayinya saat dilahirkan dalam kondisi yang terbaik . Tujuan antenatal care adalah untuk menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat, memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi serta menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan

22

kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, antara lain: faktor pengetahuan, faktor pendidikan, faktor usia, dan faktor ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pengawasan Kehamilan

(Antenatal

Care)

di

Poliklinik

Ibu

Hamil

RSU

Dr

Pirngadi.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21428
2. Ide B. Pengawasan Wanita Hamil dalam : Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta.

Penerbit Buku Kedokteran. EGC. 2007. p 187-93.


3. Mochtar, Rustam. Diagnosis, Pemeriksaan , Pengawasan , dan Nasihat-nasihat

Untuk Ibu hamil in ; Sinopsis Obstetric. Jakarta : EGC. 1990. p. 309-81.


4.

Notoatmodjo, S., 2003. Antenatal Care in: Ilmu Kesehatan Masyarakat (PrinsipPrinsip Dasar). Jakarta: PT. Rineka Cipta, 126-33.

5. Wiknojosastro H, Rachimhadhi T, Saifuddin A.B. Pengawasan Wanita Hamil dalam Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP. 2005. p 154-63.

23