Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOFARMASETKA PERCOBAAN II

PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN, PEMILIHAN DOSIS DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

Disusun oleh : 1. Ira Persiana Susanti 2. Karisma Yuli A. N. 3. Nisa Gita Irawati 4. Noor Hidayati 5. Okti Liftiyaningsih 1040911073 1040911077 1040911107 1040911109 1040911119

PROGRAM SI FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG 2011/2012

PERCOBAAN II PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN , PEMILIHAN DOSIS DAN ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mampu memperkirakan model kompartemen kinetika obat berdasarkan kurva semi logartitmik kadar obat dalam darah terhadap waktu. 2. Mampu menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan serta lamanya sampling untuk pengukuran parameter farmakokinetika berdasarkan model kompartemen yang telah ditetapkan. 3. Mampu menggunakan dosis obat yang tepat untuk subyek uji.

II. DASAR TEORI Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari kinetik zat aktif dalam tubuh (in vivo) dimulai dari absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Obat yang masuk ke dalam tubuh akan mengikuti suatu model farmakokinetik yang khas. Model tersebut dapat berupa model satu kompartemen atau multi kompartemen yang sangat tergantung pada proses yang dialami zat aktif selama dalam tubuh Dalam praktek, parameter farmakokinetik tidak ditentukan secara lngsung tetapi ditentukan melalui percobaan dari sejumlah variable tergantung dan bebas. Dari data ini dapat diperkirakan model farmakokinetik yang kemudian diuji kebenarannya, dan selanjutnya dipeoleh parameter-parameter farmakokinetiknya. Jumlah parameter yang diperlukan untuk menggambarkan model bergantung pada kerumitan proses dan rute pemberian obat. Model farmakokinetik ini berguna untuk: memprakirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urin pada berbagai pengaturan dosis; menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita obat dan secara individual;

memperkirakan

kemungkinan

akumulasi

metabolit-metabolit;

menghubungkan konsentrasi obat dengan aktifitas farmakokinetik atau toksikologik; menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi (bioekivalensi); menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang

mempengaruhi absorbsi, distribusi, atau eliminasi obat; menjelaskan interaksi obat. MODEL MODEL KOMPARTEMEN Tubuh dapat dinyatakan sebagai suatu susunan, atau system dari kompartemen kompartemen yang perhubungan secara timbal balik satu dengan yang lain.Suatu kompartemen bukan suatu daerah fisiologik atau anatomic yang nyata, tetapi dianggap sebagi suatu jaringan atau kelompok jaringan yang mempunyai aliran darah dan afinitas obat yang sama. Dalam masing masing kompartemen, obat dianggap didistribusi secara merata. Pencampuran obat dalam suatu kompartemen terjadi secara cepat dan homogen serta dianggap Diaduk secara baik sehingga kadar obat mewakili konsentrasi rata rata dan tiap tiap molekul obat mempunyai kemungkinan yang sama untuk meninggalkan kompartemen. Secara konseptual obat bergerak masuk dan keluar kompartemen secara dinamik. Tahapan laju reaksi digunakan untuk menyatakan semua proses laju obat masuk dan keluar kompartemen. Model merupakan suatu system yang terbuka jika obat dapat dieliminasi dari system tersebut. 1. MODEL MAMMILLARY Model mammillary merupakan model kompartemen yang paling umum digunakan dalam farmakokinetik. Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang dihubungkan ke satu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili plasma dan jaringan jaringan yang perfusinya tinggi dan secara cepat berkesetimbangan dengan obat. Model mammillary dapat dianggap sebagai suatu system yang berhubungan secara erat, karena jumlah obat dalam tiap kompartemen dalam system tersebut dapat diperkirakan setelah obat dimasukkan kedalam suatu system

kompartemen tertentu. Bila suatu obat diberikan secara IV, obat secara langsumg masuk ke kompartemen sentral. Eliminasi obat dari kompartemen sentral terjadi oleh karena organ organ yang terlibat dalam eliminasi obat terutama ginjal dan hati, merupakan jaringan yang diperfusi secara baik. Model Mammylary terdiri atas : a. Kompartemen satu terbuka IV Pafusi terjadi sangat cepat, seperti tanpa proses distribusi sebab distribusi tidak dapat diamati karena terlalu cepat. 1 K

b. Kompartemen satu tebuka EV Sebelum memasuki kompartemen sentral, obat harus mengalami absorbs. Ka k 1

c. Kompartemen dua terbuka IV Tidak ada proses absorbs,distribusi dan eliminasi. K 12 1 K 21 K 2

d. Kompartemen dua terbuka EV Obat mengalami proses absorbsi, distribusi dan eliminasi.

Ka K

K12 K21

Tahapan

laju

farmakokinetik

digambarkan

dengan

huruk

K.

kompartemen satu mewakili plama atau kompaertemen sentral, sedangkan kompartemen dua mewakoli kompartemen jaringan. Penggambaran model ini mempunyai tiga kegunaan, yaitu : 1. Memungkinkan ahli farmakokinetika merumuskan persamaan diferensial untuk menggambarkan perubahan konsentrasi obat dalam masing masing kompartemen, 2. Memberikan suatu gambaran nyata dari laju proses, 3. Menunjukkan berapa banyak tetapan farmakokinetik yang diperlukan untuk menggambarkan proses secara memadai. Dalam mempelajarimodel ini, penting untuk diketahui apakah data konsentrasi obat dapat diperoleh secara langsung dari masing masing kompartemen.untuk model 2 dan 3 untuk kompartemen 2 tak dapar diperoleh dengan mudah oleh karena jaringan tak mudah diambil cuplikannya disamping konsentrasi obat yang tidak homogen. Jika jumlah obat yang terabsorbsi dan tereliminasi per satuan waktu didapat dari cuplikan kompartemen 1, maka jumlah obat yang berada dalam jaringan dapat diperkirakan secara matematik. 2. MODEL CATERNARY Dalam farmakokinetika model memmillary harus dibedakan dengan macam model kompartemen yang lain yang disebut model caternary. Model caternary terdiri atas kompartemen kompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deret kompartemen. Sebaiknya nodel mammilary terdiri atas satu atau lebih kompartemen yang mengelilingi suatu kompartemen sentral seperti satelit. Oleh karena model ceternary tidak dapat dipakai dalam sebagian besar organ fungsional dalam tubuh yang secara langsung berhubungan dengan plasma, model ini digunakan tidak sesering model mammillary. Ka 1 K12 K12 2 K23 K32 3

Keterangan : 1. Plasma 2. Jaringan 3. Otak 3. MODEL FISIOLOGIK ( MODEL ALIRAN) Model fisiologik juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi, merupakan model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomic dan fisiologik yang diketahui. Perbedaan utama antara model perfusi dan model kompartemen yang lazim adalah sebagai berikut. Pertama, tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi. Konsentrasi obat dalam berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran jaringan organ, aliran darah, dam melalui percobaan ditentukan perbandingan obat dalam daringan darah ( yakni partisi obat antara jaringan dan darah ). Kedua, aliran darah, ukuran, ukuran jaringan dan perbandingan obat dalam jaringan darah dapat berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologik tertentu. Oleh karena itu, dalam model fisiologik pengaruh perubahan perubahan ini terdapat distribusi obat harus diperhitungkan. Ketiga, dan yang terpenting dari semuanya, model farmakokinetik, dengan dasar fisiologik dapat diterapkan pada beberapa spesies, dan dengan beberapa data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan. Ekstrapolasi ini tidak mungkin dilakukan pada model kompartemen, oleh karena itu volume distribusi dalam model seperti itu merupakan suatu konsep matematik yang hubungannya tidak sederhana dengan volume aliran darah Makna yang nyata dari model fisiologik adalah dapat digunakan model ini dalam memperkirakan farmakokinetika pada manusia dari data hewan. Besarnya berbagai organ tubuh atau jaringan, tingkat ikatan protein, kapasitas metabolism obat, dan aliran darah pada manusia dan spesies lain seringkali telah diketahui atau dapat ditentukan. Jadi parameter parameter fisiologik dan anatomic dapat digunakan untuk memperkirakan efek obat

pada manusia berdasarkan efek obat pada hewan, dalam hal percobaan pada manusia sulit dilakukan atau dilarang. (Leon Shargel & Andrew B.C.YU. 2005, hlm 38 62) Diklofenak Penggunaan terapi diantaranya adalah penyakit sendi yang meradang, juga degeneratif, penyakit dechterew, serangan piray akut, peradangan jaringan lunak dan dismenoreae berat. Mekanisme kerjanya adalah inhibisi reversibel dari siklooksigenase dan penghambatan

pembebasan asam arachidonat dan penggabungan kembali asam arachidonat yang lebih kuat di trigliserida. (Gery Schmitz, dkk. 2009, hal 244)

Derivat-fenilasetat ini (1974) termasuk NSAID yang terkuat daya antiradangnya dengan efek samping yang kurang kuat dibandingkan dengan obat lainnya (indometasin,piroxicam). Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migraine dan encok. Lagi pula secara parental sangat efektif untuk mrnanggulangi nyeri kolik hebat (kandung kemih dan kandung empedu). Kerusakan hati fatal telah dilaporkan . Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap, tetapi BA-nya rata-rata 55% akibat FPE besar. Efek analgesiknya dimulai setelah 1 jam, secara rectal dan intramuskuler lebih cepat, masing-masing setelah 30 dan 15 menit . Penyerapan garam-K (cataflam) lebih pesat daripada garam-Na. PP-nya diatas 99% plasma t nya k.l. 1 jam . Ekskresi melalui melalui kemih berlangsung untuk 60% sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja. Dosis: oral 3 dd 25-50 mg garam-Na/K d.c/p.c., rectal 1 dd 50100mg, i.m. pada nyeri kolik atau serangan encok: 1-2 dd 75 mg selama 1-3 hari. Pra- dan pasca-bedah (staar, bular-mata) dalam tetes mata 0,1%: 3-5 x 1 tetes, juga dalam krem/ gel 1 %. (Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja, 2007)

Diklofenak Na (Voltaren , Neurofenac) dan diklofenak K (Cataflam), mempunyai aktivitas antirematik, antiradang dan analgesicantipiretik, digunakan terutama untuk mengurangi rasa nyei akibat keradangan pada berbagai keadaan rematik dan kelainan degenerative pada system otot rangka. Diklofenak diabsorbsi secara cepat dn sempurna dalam lambung, kadar plasma tertinggi dicapai 2 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paro eliminasi 3-6 jam. Dosis : 25-50 mg 3 dd. (Siswandono & Bambang Soekardjo,2008)

Absorbsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami efek metabolisme lintas pertama (firtspass) sebesar 40 sampai 50%. Walaupun t 1-3 jam, diklofenak diakumulasi dicairan sinofial yang menjelaskan efek terapi disendi jauh lebih panjang dari t obat tersebut. Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala seperti semua obat ains, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung . peningkatan enzim transamilase dapat terjadi pada 15% pasien dan umumnya kembali ke normal. Pemakaian selama kehamilan tidak di anjurkan . dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis. (Mardjono, Mahar.2007 hal 240) Heparin Heparin merupakan polimer dari mukoiti nester-sulfat dam memiliki BM paling besar, yakni rata-rata 15.000-18.000 D (alton). LMWH adalah heparin yang telah dipecah (difraksionasi) dengan BM 4.000-6.500, seperti enoxaparin dan nadroparin. Fraksi heparin ini memiliki panjang rantai berbeda-beda. Dalam hubungan ini, heparin juga disebut UFH 9UnFractionated Heparin). Efek antitrombotik dari LMWH tergantung dari besar molekulnya; semakin besar BM, semakin kuat dan cepat kerjanya. LMWH ternyata sama efektifnya dengan UFH pada thrombosis dan emboli paru, lagi pula bekerja lebih efektif mengenai inaktivasi system

pembekuan darah. Selain ini, LMWH memiliki bio-availability biologis serta kinetic yang lebih baik, juga lebih mudah penggunaannya. LMWH yang lebih baru adalah reviparin (Clivarin), tinzaparin (Innohep), dan danaparoide (orgaran). (Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja, 2007)

Diklofenak Penggunaan terapi diantaranya adalah penyakit sendi yang meradang, juga degeneratif, penyakit dechterew, serangan piray akut, peradangan jaringan lunak dan dismenoreae berat. Mekanisme kerjanya adalah inhibisi reversibel dari siklooksigenase dan penghambatan

pembebasan asam arachidonat dan penggabungan kembali asam arachidonat yang lebih kuat di trigliserida. (Gery Schmitz, dkk. 2009, hal 244)

Derivat-fenilasetat ini (1974) termasuk NSAID yang terkuat daya antiradangnya dengan efek samping yang kurang kuat dibandingkan dengan obat lainnya (indometasin,piroxicam). Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migraine dan encok. Lagi pula secara parental sangat efektif untuk mrnanggulangi nyeri kolik hebat (kandung kemih dan kandung empedu). Kerusakan hati fatal telah dilaporkan . Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap, tetapi BA-nya rata-rata 55% akibat FPE besar. Efek analgesiknya dimulai setelah 1 jam, secara rectal dan intramuskuler lebih cepat, masing-masing setelah 30 dan 15 menit . Penyerapan garam-K (cataflam) lebih pesat daripada garam-Na. PP-nya diatas 99% plasma t nya k.l. 1 jam . Ekskresi melalui melalui kemih berlangsung untuk 60% sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja. Dosis: oral 3 dd 25-50 mg garam-Na/K d.c/p.c., rectal 1 dd 50100mg, i.m. pada nyeri kolik atau serangan encok: 1-2 dd 75 mg selama 1-3

hari. Pra- dan pasca-bedah (staar, bular-mata) dalam tetes mata 0,1%: 3-5 x 1 tetes, juga dalam krem/ gel 1 %. (Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja, 2007)

Diklofenak Na (Voltaren , Neurofenac) dan diklofenak K (Cataflam), mempunyai aktivitas antirematik, antiradang dan analgesicantipiretik, digunakan terutama untuk mengurangi rasa nyei akibat keradangan pada berbagai keadaan rematik dan kelainan degenerative pada system otot rangka. Diklofenak diabsorbsi secara cepat dn sempurna dalam lambung, kadar plasma tertinggi dicapai 2 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paro eliminasi 3-6 jam. Dosis : 25-50 mg 3 dd. (Siswandono & Bambang Soekardjo,2008)

Absorbsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami efek metabolisme lintas pertama (firtspass) sebesar 40 sampai 50%. Walaupun t 1-3 jam, diklofenak diakumulasi dicairan sinofial yang menjelaskan efek terapi disendi jauh lebih panjang dari t obat tersebut. Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala seperti semua obat ains, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung . peningkatan enzim transamilase dapat terjadi pada 15% pasien dan umumnya kembali ke normal. Pemakaian selama kehamilan tidak di anjurkan . dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis. (Mardjono, Mahar.2007 hal 240) Heparin Heparin merupakan polimer dari mukoiti nester-sulfat dam memiliki BM paling besar, yakni rata-rata 15.000-18.000 D (alton). LMWH adalah heparin yang telah dipecah (difraksionasi) dengan BM 4.000-6.500, seperti enoxaparin dan nadroparin. Fraksi heparin ini memiliki panjang rantai berbeda-beda. Dalam hubungan ini, heparin juga disebut UFH 9Un-

Fractionated Heparin). Efek antitrombotik dari LMWH tergantung dari besar molekulnya; semakin besar BM, semakin kuat dan cepat kerjanya. LMWH ternyata sama efektifnya dengan UFH pada thrombosis dan emboli paru, lagi pula bekerja lebih efektif mengenai inaktivasi system pembekuan darah. Selain ini, LMWH memiliki bio-availability biologis serta kinetic yang lebih baik, juga lebih mudah penggunaannya. LMWH yang lebih baru adalah reviparin (Clivarin), tinzaparin (Innohep), dan danaparoide (orgaran). (Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja, 2007)

III. ALAT DAN BAHAN Alat 1. Labu takar 2. Mikropipet 3. Tabung reaksi 4. Aphendrof 5. Vortex-Mixer 6. Sentrifuge 7. Kuvet 8. Sonde 9. Spektrofotometer 10. Pipet volume 11. Filler 12. Scalpel 13. Holder 14. Beaker glass 15. Kertas lensa

Bahan 1. Natrium diklofenak 2. Asam trikloroaseta(TCA 5%) 3. NaOH 0,1 N 4. Heparin 5. Aquadest 6. Tikus

IV. SKEMA KERJA DERET BAKU Pembuatan larutan stok Natrium diklofenak 50 ppm Ditimbang 50 mg serbuk Na Diklofenak Dilarutkan dengan NaOH 0,1 N Di ad pada labu takar 100 mL Digojong hingga homogen Larutan stok Na diklofenak 500 ppm

Pembuatan Kurva Baku Internal 250 l darah yang telah ditambah heparin Ditambahkan 250 l larutan stok Na Diklofenak Dicampur homogen Kadar larutan baku : 0 (blangko),6 g/ml,10 g/ml,14 g/ml,16 g/ml,18 g/ml dan 22 g/ml Ditambah 1,0 ml TCA 5% dengan vortexing

Kurva Baku Internal

Pemrosesan sampel darah in Vivo (sebagai blangko) . 250 l darah yang mengandung antikoagulan Ditambahkan TCA 5% 1,0 ml dengan vortexing Blangko

Pembuatan Larutan Baku Kurva baku internal dan blangko

Disentrifuge (5-10 menit, 2500 rpm) Diambil beningan 1,0 ml Ditambah 5,0 mL NaOH 0,1 N Dibaca nilai absorban larutan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimal Validasi Metode Penetapan Kadar Na Diklofenak a Mencari panjang gelombang maksimum Larutan Na Diklofenak kadar 10 dan 14 g/ml Diukur serapannya pada panjang gelombang 260280 nm

Dibuat kurva hubungan antara resapan vs waktu pengukuran dan ditetapkan waktu resapan tetap

b Mencari Kurva Baku Larutan Na Diklofenak dalam darah dengan kadar 6 g/ml,10 g/ml,14 g/ml,16 g/ml,18 g/ml dan 22 g/ml

Diukur pada maks yang diperoleh Dibuat antara kurva hubungan resapan terhadap

kadar masing-masing Persamaan garis menggunakan kuadrat terkecil y = bx + a dan dihitung nilai r dari grafik tersebut

SAMPLING Pembuatan larutan stok Natrium diklofenak 50 pp Ditimbang 50 mg serbuk Na Diklofenak Dilarutkan dengan aquadest Di ad pada labu takar 100 mL Digojong hingga homogen Larutan stok Na diklofenak 500 ppm

Penentuan Jadwal Sampling


Na diklofenak 50 mg / kg BB diberikan oral

Diambil cuplikan darah jam ke 0 ; 0,5 ; 1 ; 1,5 ; 2 ; 3 ; 3,5

Didapat t dan t max untuk sampling selanjutnya

Dihitung kadar Na diklofenak dan parameter farmakokinetik

Penetapan Dosis Na Diklofenak

Dicari dosis terapi Na diklofenak

Dikonversikan dosis untuk uji pada tikus

Uji pendahuluan untuk farmakokinetik Na diklofenak


Disiapkan tikus kemudian ditimbang

Diberikan Na diklofenak secara oral

Dilakukan pencuplikan darah lewat vena ekor pada jam ke 0; 0,5; 1; 1,5; 2; 3; 3,5

Hasil kadar Na diklofenak dari pencuplikan ditetapkan kadarnya seperti percobaan 1 dengan kurva baku yang telah dibuat

V.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN DERET BAKU 1. Penimbangan Na diklofenak Kertas + Na diklofenak = 0,2990 gram Kertas + sisa = 0,2529 gram

Na diklofenak = 0,0461 gram = 46,1 mg

2. Konsentrasi Na diklofenak sebenarnya Konsentrasi Na diklofenak

3. Deret baku Na diklofenak No Kadar 1. 0 g/ml ( blangko ) V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 0 g/ml V2 = 0 l Darah = 250 l 0 l = 250 l 2. 6 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 6 g/ml V2 = 3,25 l 3,0 l Darah = 250 l 3 l = 247 l 10 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 10 g/ml V2 = 5,42 l 5,0 l Darah = 250 l 5 l = 245 l 4. 14 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 14 g/ml V2 = 7,62 l 8,0 l Darah = 250 l 8 l = 242 l Koreksi Kadar V1. C1 = V2 . C2 0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 0 g/ml

V1. C1 = V2 . C2 3,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 5,5320 g/ml

3.

V1. C1 = V2 . C2 5,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 9,2200 g/ml

V1. C1 = V2 . C2 8,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 14,7520g/ml

5.

16 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 16 g/ml V2 = 8,68 l 9 l Darah = 250 l 9 l = 241 l

V1. C1 = V2 . C2 9,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 16,5960 g/ml

6.

18 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 18 g/ml V2 = 9,76 l 10 l Darah = 250 l 10 l = 240 l

V1. C1 = V2 . C2 10,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 18,4400 g/ml

7.

22 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 22 g/ml V2 = 11,93 l 12 l Darah = 250 l 12 l = 238 l

V1. C1 = V2 . C2 12,0 l.461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 22,1280 g/ml

Data Preparasi Sampel

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Konsentrasi Larutan Baku ( g/ml ) 0,0000 5,5320 9,2200 14,7520 16,5960 18,4400 22,1280

Na diklofenak yang diambil ( l ) 0 3 5 8 9 10 12

Darah yang diambil ( l ) 250 247 245 242 241 240 238

4. Pembuatan Larutan Na diklofenak untuk Pencarian Panjang Gelombang Maksimal ( maks )

No. 1.

Kadar 10 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 10 g/ml V2 = 5,42 l 5,0 l Darah = 250 l 5 l = 245 l

Koreksi Kadar V1. C1 = V2 . C2 5,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 9,2200 g/ml

2.

14 g/ml V1. C1 = V2 . C2 V1 . 461 g/ml = 250 l . 14 g/ml V2 = 7,62 l 8,0 l Darah = 250 l 8 l = 242 l

V1. C1 = V2 . C2 8,0 l . 461 g/ml = 250 l . C2 C2 = 14,7520g/ml

5. Penentuan Panjang Gelombang Maksimal ( maks )

Konsentrasi (g/ml) 9,2200 14,7520

Panjang gelombang 235,5 nm 234,5 nm

Absorbansi 0,355 0,322

Jadi, maks untuk Na diklofenak adalah 235,0 nm 6. Absorbansi Larutan Baku Na diklofenak pada maks = 233,5 nm Konsentrasi (g/ml) 0 5,5320 9,2200 14,7520 16,5960 18,4400 22,1280 Absorbansi 0,000 0,290 0,264 0,289 0,308 0,396 0,364

Larutan baku Na diklofenak


0.4 0.35 0.3 ABSORBANSI 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 5 10 15 20 25 KONSENTRASI BAKU (g/ml) Larutan baku Na diklofenak Linear (Larutan baku Na diklofenak) y = 0.0078x + 0.184 R = 0.9537

Regresi linear antara konsentrasi vs absorbansi larutan baku natrium dilkofenak : a= 0,18402 b = 7,7983 x 10-3 r = 0,9766 Persamaan Y=7,7983x10-3 X + 0,18420

SAMPLING BB Tikus : 167,6 g Dosis untuk manusia 50 kg Dosis untuk sehari Dosis untuk manusia 70 kg : 3d.d 50 mg : 150 mg :
70 kg x150 mg 50 kg

210mg/kgBB Dosis untuk tikus 200 g Dosis untuk tikus 167,6 : 210 mg/kgBB x 0,018 = 3,78 mg/200 g BB tikus :
167 ,6 g x3,78 mg = 3,1676 mg 200 g

Kadar stok = 3,1676mg/25 ml = 1,2670 mg/ml

Dibuat 50 ml lar. Stok =

1,2670mg x50ml 1ml

1.

Penimbangan Na diklofenak = 0,3134 gram = 0,2512 gram = 0,0622 gram = 62,2 mg

Kertas + Na diklofenak Kertas + sisa Na diklofenak

2.

Konsentrasi Na diklofenak sebenarnya

Konsentrasi Na diklofenak

KELOMPOK I 1. Untuk tikus BB 139,6 g Vp= = = 2,12 ml

2.

Untuk tikus BB 118,6 g Vp= = = 1,80 ml

Data sampling WAKTU (jam) 0 0,5 1 1,5 2 3 ABSORBANSI I II 0,000 0,047 0,082 0,192 0.052 0,011 0,000 0,006 -0,036 -0,151 -0,056 -0,063 KONSENTRASI 0,0000 -17,5706 -13,0823 1,0233 -16,9294 -22,1870

Kurva t VS Konsentrasi Sampel


5 Konsentrasi Sampel (g/ml) 0 0 -5 -10 -15 -20 -25 Waktu sampling ( jam ) Sampel 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

KELOMPOK II 3. Untuk tikus BB 108,6 g Vp= = = 1,65 ml

4.

Untuk tikus BB 102,6 g Vp= = = 1,56 ml

Data sampling WAKTU (jam) 0 0,5 1 1,5 2 3 ABSORBANSI I II 0,000 -0,047 0,069 0,000 0,007 0,176 0,251 0,425 0,491 KONSENTRASI 0,0000 -22,6999 -1,0284 8,5891 30,9017 39,3657

Kurva t VS Konsentrasi Sampel


50 Konsentrasi Sampel (g/ml) 40 30 20 10 0 -10 -20 -30 Waktu sampling ( jam ) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Sampel

KELOMPOK III 5. Untuk tikus BB 120,1 g Vp= = = 1,83 ml

6.

Untuk tikus BB 125,1 g Vp= = = 1,90 ml

Data sampling WAKTU (jam) 0 0,5 1 1,5 2 3 ABSORBANSI I II 0,000 0,000 0,023 0,176 0,171 0,224 0,247 0,381 0,255 0,384 0,277 0,394 KONSENTRASI I II 0,0000 0,0000 -20,6482 -1,0248 -1,6696 5,1268 8,0762 25,2595 9,1020 25,6442 11,9232 26,9265

TIKUS 1

Kurva t VS Konsentrasi Sampel


15 Konsentrasi Sampel (g/ml) 10 5 0 -5 -10 -15 -20 -25 Waktu sampling ( jam ) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Sampel

TIKUS II

Kurva t VS Konsentrasi Sampel


15 Konsentrasi Sampel (g/ml) 10 5 0 -5 -10 -15 -20 -25 Waktu sampling ( jam ) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Sampel

KELOMPOK IV 7. Untuk tikus BB 103 g Vp= = = 1,57 ml

8.

Untuk tikus BB 167,6g Vp= = = 2,55 ml

Data sampling WAKTU (jam) 0 0,5 1 1,5 2 3 ABSORBANSI I II 0,000 0,009 -0,003 0,044 0,013 0,167 0,000 0,024 0,024 0,024 0,486 0,102 KONSENTRASI 0,0000 -20,5199 -20,5199 -20,5199 38,7240 -10,5177

Kurva t VS Konsentrasi Sampel


15 Konsentrasi Sampel (g/ml) 10 5 0 -5 -10 -15 -20 -25 Waktu sampling ( jam ) 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Sampel

VI . PEMBAHASAN Pada percobaan penetapan waktu pengambilan cuplikan, pemilihan dosis dan asumsi model kompartemen bertujuan untuk memperkirakan

model kompartemen kinetika obat, mampu menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan serta lamanya sampling untuk pengukuran parameter farmakokinetika berdasarkan model kompartemen yang telah ditetapkan dan mampu menggunakan dosis obat yang tepat untuk subyek uji. Pada percobaan kali ini dilakukan perhitungan t eliminasi sehingga dapat ditetapkan waktu dan jumlah pengambilan cuplikan yang sebenarnya. t eliminasi adalah waktu yang diperlukan sejumlah obat untuk berkurang menjadi separuhnya. Kesalahan dalam penentuan waktu maupun jumlah pengambilan cuplikan dapat menyebabkan kesalahan dalam penentuan model kompartemen. Model farmakokinetik dapat memberikan penafsiran tentang hubungan kadar obat dalam plasma dan respons farmakologik. Penentuan parameter farmakokinetika diawali dengan penetapan model kompartemen dan jadwal sampling. Kemudian dilakukan uji pendahuluan farmakokinetika dengan pencuplikan darah setelah pemberian obat pada waktu-waktu tertentu dan kemudian diukur serapannya dengan

menggunakan spektrofotometer dan data serapan yang didapat di plotkan dalam persamaan regresi linier kurva baku masing-masing obat untuk memperoleh kadar obat persatuan waktu di dalam darah. Selanjutnya dari kadar yang didapat di plotkan pada kertas semilogaritma untuk mengetahui profil farmakokinetikanya antara waktu versus konsentrasi. Pada praktikum ini dilakukan pembuatan ulang kurva baku natrium diklofenak dikarenakan ingin mendapatkan hasil yang lebih valid, hal ini karena data kurva baku pada percobaan sebelumnya kurang valid. . Setelah pembuatan kurva baku lalu ditetapkan pemberian dosis sesuai pemberian dosis lazim natrium diklofenak yaitu tiga kali sehari 50 mg pada manusia 50 kg yang di korelasikan terhadap hewan uji. Setelah diberikan secara per oral yang disesuaikan denga jalur pemberian yang digunakan oleh manusia

pada umum nya lalu di ambil sampel darah melalui vena ekor pada waktu yang telah ditetapkan yaitu pada menit ke 30, 60, 90, 120, 240 dan 360. Hewan uji yang digunakan adalah tikus, yang diambil darahnya pada bagian vena ekor. Sebelum diambil darahnya, bagian ekor dibersihkan dari kotoran dan bulunya dengan menggunakan scalpel sehingga memudahkan dalam pengambilan darah. Darah yang keluar ditampung dalam ephendrof yang sudah diberi 5 tetes heparin. Heparin tersebut berfungsi sebagai antikoagulan sehingga dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah. Setelah campuran darah dan heparin tercampur homogen lalu ditambahkan TCA 5% yang berfungsi untuk mengendapkan protein yang ada dalam darah. Dalam proses pencampuan darah dengan heparin dan juga TCA 5%, digunakan vortex-mixer sehingga campuran lebih homogen. Pada waktu percobaan, waktu sampling sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah pemberian obat agar dapat secara tepat mengetahui kapan waktu obat memasuki sirkulasi darah ( tahap absorbsi ). Lama pengambilan cuplikan juga perlu diperhatikan untuk dapat mngetahui secara tepat model kompartemen dari Na diklofenak dalam tubuh tikus. Pada percobaan ini digunakan darah sebagai cuplikan. Menurut ketentuan, pengambilan cuplikan darah dilakukan 3-5 kali t eliminasi obat. Hal ini diasumsikan bahwa pada waktu tersebut hampir semua obat sudah diekskresikan (jumlah obat dalam tubuh hanya tersisa 0,1% atau telah diekskresikan sebanyak 99,9%). Dari literatur yang ada ( Obat-Obat Penting ) t eliminasi Na diklofenak adalah i jam sehingga dapat ditentukan lamanya waktu sampling sekitar 3 5 jam. Berdasarkan literature yang diperoleh, natrium diklofenak mengikuti model kompartemen 2 terbuka ekstravaskuler.Gambar grafik kadar natrium diklofenak dalam darah persatuan waktu mengikuti model kompartemen dua terbuka ekstravaskuler jika didapat grafik bifasik, yang menunjukkan fase absorbsi dan eliminasi, dimana fase distribusi nya nampak.

Dari percobaan yang dilakukan didapat bahwa persamaan yang diperoleh pada pembuatan deret baku natrium diklofenak adalah y =(7,7983x10-3) x + 0,18420 dan pada data sampling natrium diklofenak tidak muncul grafik bifasik karena data yang menaik dan menurun tidak teratur sehingga tidak dapat dipastikan letak waktu eliminasi dari kedua obat tersebut. Dan pada perhitungan t eliminasi pada natrium diklofenak tidak dapat dilakukan karena data konsentrasi yang dihasilkan adalah negatif, hal ini kemungkinan terjadi akibat serapan yang muncul dari hasil pencuplikan di menit-menit yang di inginkan tidak masuk dalam rentang serapan yang dihasilkan oleh kurva baku. Karena serapan yang dihasilkan saat

pencuplikan sangat kecil dibandingkan oleh kurva baku maka solusi nya dapat dilakukan pengenceran kurva baku agar serapan yang dimunculkan pada pencuplikan dapat terdeteksi sehingga tidak menimbulkan kadar obat yang negatif didalam darah. Ketepatan dosis yang diberikan juga dapat menjadi faktor rendahnya konsentrasi obat, hal ini dapat terjadi saat pemberian tidak seluruhnya obat dapat tertelan oleh subjek uji, adanya penolakan penerimaan sediaan oleh subjek uji. Faktor terakhir yang tak dapat diabaikan adalah faktor stress hewan uji yang dapat mempengeruhi kualitas darah yang terambil saat pencuplikan.

VII. KESIMPULAN 1. Sampel yang diambil adalah darah dengan ketentuan waktu pengambilan cuplikan 3-5 t eliminasi. 2. Model kompartemen farmakokinetik natrium diklofenak mengikuti model kompartemen 2 terbuka ev (termasuk model mamilary).

VIII. DAFTAR PUSTAKA Mardjono, Mahar. 2007.Farmakologi dan Terapi ed V Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta:Gaya baru.

Shargel,

Leon

dan

B.

Andrew.

2005.

Biofarmasetika

dan

Farmakokinetika Terapan. Surabaya: Airlangga University Press.

Siswandono dan Bambang Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Schmitz, Gery,dkk. 2009. Farmakologi dan Toksikologi edisi 3. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Mengetahui, Dosen Pembimbing,

Semarang, 4 Oktober 2011 Praktikan,

Djatmika, S. Si. , Apt. Anastasia, S. Farm. , Apt.

Ira Persiana Susanti 1040911073

Karisma Yuli A. N. 1040911077

Nisa Gita Irawati 1040911107

Noor Hidayati 1040911109

Okti Liftiyaningsih 1040911119