Anda di halaman 1dari 49

DAFTAR ISI

 

Hal

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

I.

PENDAHULUAN

1

1.1.

Kerangka Konsep Ketahanan Pangan dan Gizi

1

1.2.

Tujuan

2

II.

INDIKATOR FSVA

3

2.1.

Ringkasan Indikator terhadap Kerawanan Pangan

3

2.2.

Pemetaan Indikator Individu

3

2.3.

Menentukan Jumlah Range (Kelas) pada Pemetaan Thematik

6

2.4.

Penghitungan Indeks Ketahanan Pangan Komposit

6

III.

TAHAPAN PENYUSUNAN FSVA TINGKAT PROVINSI

8

LAMPIRAN

MODUL I.

Penjelasan Indikator Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan

MODUL II.

Pengolahan Data/Indikator FSVA dengan menggunakan Software Excel

MODUL III. Pemetaan dengan menggunakan Software MapInfo

II

PPEENNDDAAHHUULLUUAANN

Indonesia yang memiliki penduduk 230 juta dengan beraneka ragam budaya, sosio-ekonomi dan letak geografis menduduki peringkat 107 dari 177 negara untuk Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index tahun 2008). Meskipun Indonesia mengalami pemulihan yang cukup berarti sejak krisis ekonomi tahun 1998, namun masalah kemiskinan, kerawanan pangan dan gizi masih cukup besar dan beragam antar provinsi dan kabupaten. Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani World Food Summit (1996) dan Millennium Declaration (2000), terus menerus memperkuat upayanya untuk mencapai tujuan ke 1 dari Millennium Development Goals (MDG), yaitu menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah US$1 per hari dan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya pada tahun 2015.

Peluncuran FIA 2005 ternyata masih menyebabkan kesalahpahaman mengenai pengertian pemeringkatan kabupaten. Kata kerawanan pangan (food insecurity) di indikasikan secara langsung bahwa kabupaten-kabupaten peringkat bawah adalah kabupaten yang memiliki penduduk rawan pangan. Oleh karena itu, peta nasional kedua ini diberi judul baru yaitu “Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia - Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA)” untuk menghindari kesalahpahaman pengertian tersebut. Perubahan nama Peta Kerawanan Pangan (FIA) menjadi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) dilakukan dengan pertimbangan untuk memperjelas pengertian mengenai konsep ketahanan pangan berdasarkan tiga dimensi ketahanan pangan (ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan) dalam semua kondisi bukan hanya pada situasi kerawanan pangan saja. Pertimbangan yang kedua, FSVA juga bermaksud untuk mengetahui berbagai penyebab kerawanan pangan secara lebih baik atau dengan kata lain kerentanan terhadap kerawanan pangan, bukan hanya kerawanan pangan itu sendiri. Pembuatan FSVA ini mencakup 346 kabupaten di 32 provinsi dimana kegiatan ini sudah terintegrasi dalam rencana tahunan dan alokasi anggaran tahunan pemerintah.

Seperti halnya FIA pertama, FSVA menyediakan sarana bagi para pengambil keputusan untuk secara cepat dalam mengidentifikasi daerah yang lebih rentan, dimana investasi dari berbagai sektor seperti pelayanan jasa, pembangunan manusia dan infrastuktur yang berkaitan dengan ketahanan pangan dapat memberikan dampak yang lebih baik terhadap penghidupan, ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

11 11

KKEERRAANNGGKKAA KKOONNSSEEPP KKEETTAAHHAANNAANN PPAANNGGAANN DDAANN GGIIZZII

Pada World Food Summit (1996), ketahanan pangan didefinisikan sebagai: ”Ketahanan pangan terjadi apabila semua orang secara terus menerus, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai/cukup, bergizi dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup secara aktif dan sehat”.

Pada FSVA 2009, analisis dan pemetaan dilakukan berdasarkan pada pemahaman mengenai ketahanan dan kerentanan pangan dan gizi seperti yang tercantum dalam Kerangka Konsep Ketahanan Pangan dan Gizi (Gambar 1.1).

Di Indonesia, Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan mengartikan Ketahanan Pangan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Sebagaimana FIA 2005, FSVA dibuat berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan: (i) ketersediaan pangan; (ii) akses terhadap pangan; dan (iii) pemanfaatan pangan.

Gambar 1.1. Kerangka Konsep Ketahanan Pangan dan Gizi (WFP, Januari 2009) 1 1 2 2

Gambar 1.1. Kerangka Konsep Ketahanan Pangan dan Gizi (WFP, Januari 2009)

11

22

TTUUJJUUAANN

1. Memberikan pedoman bagi aparat pemerintah daerah dalam menyusun peta ketahanan dan kerentanan pangan (FSVA) daerah; dan

2. Meningkatkan kemampuan aparat pemerintah daerah dalam melakukan analisis ketahanan pangan.

IIII IINNDDIIKKAATTOORR FFSSVVAA

Indikator Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan dapat digolongkan ke dalam dua komponen:

Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Kronis, yang dicerminkan melalui indikator ketersediaan pangan, indikator akses terhadap pangan serta pemanfaatan pangan (9 indikator). Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Transien, dicerminkan melalui indikator kerentanan terhadap bencana alam dan bencana lainnya (4 indikator).

22 11

RRIINNGGKKAASSAANN IINNDDIIKKAATTOORR KKEERREENNTTAANNAANN TTEERRHHAADDAAPP KKEERRAAWWAANNAANN PPAANNGGAANN

Tabel 2.1. Ringkasan Indikator FSVA

 

Indikator

Jenis Kerawanan Pangan

Ketersediaan Pangan

   

1.

Rasio

konsumsi

normatif

per

kapita

terhadap

KERENTANAN TERHADAP KERAWANAN PANGAN KRONIS

ketersediaan bersih ‘padi + jagung + ubi kayu + ubi

jalar’.

   

Akses terhadap Pangan & Penghidupan

 

2. Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

3. Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai.

4. Persentase rumah tangga tanpa akses listrik.

 

IINNDDEEKKSS

 

KKEETTAAHHAANNAANN

Pemanfaatan Pangan

 

PPAANNGGAANN

 

KKOOMMPPOOSSIITT

5. Angka harapan hidup pada saat lahir.

 

6. Berat badan balita di bawah standar (Underweight).

 

7. Perempuan Buta Huruf.

 

8. Rumah tangga tanpa akses ke air bersih.

 

9. Persentase rumah tangga yang tinggal lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan.

Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Transien

 

10. Deforestasi hutan.

 

KERENTANAN TERHADAP KERAWANAN PANGAN TRANSIEN

11. Penyimpangan Curah Hujan.

 

12. Bencana alam.

   

13. Persentase daerah puso.

 

22 22

PPEEMMEETTAAAANN IINNDDIIKKAATTOORR IINNDDIIVVIIDDUU

Lakukan pemetaan individu untuk ke dua kelompok indikator kerawanan pangan kronis dan kerawanan pangan sementara (13 indikator). Range pada peta indikator individu ditetapkan berdasarkan konsultasi dengan para ahli. Pada dasarnya pembulatan nilai terdekat ke angka rata-

rata nasional dipakai sebagai ambang batas (cut off point) antara kelompok merah dan hijau. Range individu yang digunakan pada peta ditunjukkan oleh Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Range Indikator Individu

No

Indikator

Range

Catatan

Sumber Data

1

Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih ‘padi + jagung + ubi kayu + ubi jalar’

>= 1.5 1.25 – 1.5

Defisit tinggi

Badan Ketahanan Pangan Provinsi dan

Defisit sedang

1.00

– 1.25

Defisit rendah

Kabupaten, (data 2005-

0.75

– 1.00

Surplus rendah

2007)

0.50 – 0.75 < 0.50

Surplus sedang

 

Surplus tinggi

2

Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan

>= 35

 

Data dan Informasi

25

– < 35

Kemiskinan, BPS Tahun 2007, Kabupaten

 

20

– < 25

15

– < 20

10

– < 15

0

- <10

3

Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai

>= 30

 

PODES (Potensi Desa)

25

– < 30

2008, BPS

20

– < 25

 

15

– < 20

10

– < 15

0

– < 10

4

Persentase rumah tangga tanpa akses listrik

>= 50

 

SUSENAS (Survei Sosial

40

– < 50

Ekonomi Nasional) 2007,

 

30

– < 40

BPS

20

– < 30

10

– < 20

< 10

5

Angka harapan hidup pada saat lahir

< 58

 

SUSENAS 2007, BPS

58

– < 61

 

61

– < 64

64

– < 67

– < 70 >= 70

67

6

Berat badan balita di bawah standar

>= 30

Sangat Buruk

RISKESDAS (Riset

20

- <30

Buruk

Kesehatan Dasar) 2007,

(Underweight)

10

- <20

Kurang

Departemen Kesehatan

<10

Baik

7

Persentase Perempuan Buta Huruf

>= 40

 

SUSENAS 2007, BPS

30

– < 40

 

20

– < 30

10

– < 20

5

– < 10 < 5

8

Persentase Rumah tangga tanpa akses ke air bersih

>= 70

 

SUSENAS 2007, BPS

60

– 70

 

50

– 60

40

– 50

30

– 40

<

30

No

Indikator

Range

 

Catatan

 

Sumber Data

9

Persentase Rumah tangga berjarak > 5 km dari puskesmas

>= 60

 

RISKESDAS 2007,

50

– 60

Departemen Kesehatan

40

– 50

 

30

– 40

20

– 30

<

20

10

Deforestasi Hutan

 

Tidak ada

Departemen Kehutanan,

range, Hanya

2008

menyoroti

perubahan

kondisi

penutupan

lahan dari

hutan menjadi

non hutan

11

Penyimpangan curah hujan

<

85

Di

Bawah

Badan Meteorologi,

85 – 115

Normal

Normal

Klimatologi dan Geofisika, 2008

Range ini menunjukkan

> 115

Di

Atas Normal

penyimpangan curah hujan selama 10 tahun terakhir dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun normal, mis: - 50 artinya: selama 10 tahun terakhir curah hujan berkurang sebanyak 50% dari kondisi rata-rata normal.

12

Bencana Alam

 

Tidak ada

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (SATKORLAK dan SATLAK).

range, hanya

menyoroti

daerah dengan

kejadian

 

bencana alam

dan

kerusakannya

dalam periode

tertentu,

dengan

demikian

menunjukkan

daerah

tersebut rawan

terhadap

bencana alam

13

Prosentase Daerah padi puso*

>= 15

 

Dinas Pertanian atau

10

– 15

Balai

Proteksi

 

5 – 10

Tanaman Pangan dan

3

– 5

Holtikultura (BPTPH).

1

– 3

< 1

Untuk pemetaan pada tingkat provinsi (atau level yang lebih rendah), kita tidak bisa begitu saja menggunakan range yang ditetapkan untuk pemetaan nasional, karena bisa saja range tersebut tidak sesuai dengan distribusi data (nilai minimum-maksimum) dan kondisi lokal. Dan tidak ada aturan yang kaku dalam penentuan range indikator individu. Untuk beberapa indikator, sudah ada

nilai ambang batas (cut off point) yang umum dipakai, seperti misalnya pada berat badan balita di bawah standar (underweight). Dan pada indikator yang lain, nilai cut off points perlu mempertimbangkan kondisi dan konteks lokal atau keputusan bersama dari pejabat terkait setempat.

22 33

MMEENNEENNTTUUKKAANN JJUUMMLLAAHH RRAANNGGEE ((KKEELLAASS)) PPAADDAA PPEEMMEETTAAAANN TTHHEEMMAATTIIKK

Untuk peta ketahanan dan kerentanan pangan nasional kita menggunakan 6 range, yang menunjukkan tiga kelompok ketahanan pangan dan tiga kelompok kerawanan pangan.

Range pada peta thematik harus dibuat dalam suatu struktur yang baik/tepat sehingga memudahkan pemahaman pembaca.

Jumlah range yang sebaiknya dipilih untuk peta thematik adalah 5 atau 6. Jumlah range yang terlalu sedikit biasanya akan men-generalisasi status kerawanan pangan, sementara terlalu banyak range akan membingungkan dalam hal interpretasi peta. Akan tetapi ada beberapa indikator yang memiliki jumlah range yang baku seperti underweight (4 range).

Warna yang berbeda harus digunakan pada masing-masing range (kelas). Biasanya daerah yang disorot (hotspot) ditunjukkan dengan warna merah atau warna ‘hangat/panas’ lainnya. Dan daerah yang tahan pangan ditunjukkan dengan warna-warna yang lebih kalem/dingin seperti warna hijau atau biru.

Pemetaan thematik adalah suatu proses bertahap, di mana dilakukan pengulangan demi pengulangan/uji coba range yang dipilih untuk mendapatkan hasil pemetaan thematik yang paling mendekati kondisi lapangan. Biasanya range peta thematik yang pertama kali dibuat tidak menjadi range final. Harus dicoba beberapa set range dan cut-off point antara kelompok tahan pangan dan rawan pangan. Kemudian mencoba hasil tes range tersebut untuk mendapatkan peta thematik yang paling mendekati kondisi di lapangan.

22 44

PPEENNGGHHIITTUUNNGGAANN IINNDDEEKKSS KKEETTAAHHAANNAANN PPAANNGGAANN KKOOMMPPOOSSIITT

Indeks ketahanan pangan komposit dibuat dengan menggunakan 9 indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan kronis.

Pertama, semua indikator dirubah ke dalam bentuk indeks untuk menstandarisasi ke dalam skala 0 sampai 1 (lihat penjelasan di Modul I):

Xij – Xi min Indeks Xij = --------------------------

Xi max -Xi min

di mana,

Xij

:

nilai ke – j dari indikator ke – i;

min

: nilai minimum dari indikator tersebut; dan

max

: nilai maksimum dari indikator tersebut.

Kemudian, indeks ketahanan pangan komposit (IFI) dihitung dengan cara sebagai berikut:

IFI = 1/9 (IAV + IBPL + IROAD + IELEC + ILIT + ILEX + INUT + IWATER + IHEALTH)

Peta komposit kerentanan terhadap kerawanan pangan dibuat hanya dengan menggabungkan ke 9 indikator kerawanan pangan kronis.

Indeks Ketahanan Pangan Komposit dibuat dengan menggunakan Principal Component Analysis/PCA (hanya untuk peta komposit nasional). Aplikasi PCA untuk pembuatan indeks komposit hanya bisa dilakukan untuk jumlah sampel data (kabupaten/kecamatan) minimal 50. Jumlah sampel yang sedikit tidak memadai dan tidak valid untuk aplikasi statistik ini.

IIIIII

TTAAHHAAPPAANN PPEENNYYUUSSUUNNAANN FFSSVVAA TTIINNGGKKAATT PPRROOVVIINNSSII

Untuk membantu kelancaran penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) tingkat Provinsi tahun 2010, maka Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian telah membentuk Tim Asistensi Penyusunan FSVA tahun 2010. Tim Asistensi terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Pelaksana yang berasal dari lintas sektor seperti Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Kesehatan, BMKG, Badan Pusat Statistik, Bappenas, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan World Food Programme (WFP).

Tim Pengarah mempunyai tugas:

1. Mengkoordinasian dalam hal pelaksanaan penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan;

2. Mengkaji dan menetapkan metodologi dan indikator penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan.

Tim Pelaksana mempunyai tugas:

1. Melakukan pelatihan metodologi dan indikator untuk penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Provinsi;

2. Mengkonsolidasikan dalam hal pengumpulan dan analisis data untuk pembuatan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Provinsi;

3. Membina dan memonitor pelaksanaan penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan di tingkat provinsi.

Penyusunan FSVA di tingkat provinsi dilaksanakan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Pertemuan teknis untuk mereview ketersediaan data;

2. Pembentukan Tim Teknis dan Tim Pengarah FSVA tingkat Provinsi;

3. Pelatihan FSVA (Metodologi, pengumpulan data, analisis data);

4. Pengumpulan data untuk tingkat kecamatan;

5. Workshop untuk mereview data yang telah tersedia;

6. Analisa data dan pembuatan peta;

7. Workshop validasi hasil awal untuk mereview data/tabel dan peta yang dihasilkan;

8. Pembuatan draft laporan FSVA;

9. Penyelesaian Laporan FSVA; dan

10. Pencetakan dan Launching FSVA.

Jenis data, cakupan data, sumber data, dan petugas pengumpul data untuk penyusunan FSVA tingkat provinsi tertera dalam tabel di bawah ini.

 

Cakupan

Sumber Data

Tahun

 

Jenis Data

Data

Petugas

1. Produksi Padi, Jagung, Ubi kayu, dan Ubi jalar

Kecamatan

Angka Tetap

2006 - 2009

BKP Kabupaten

(ATAP)

berkoordinasi

 

dengan BPS

Kabupaten dan

Dinas Pertanian

2. % Penduduk hidup di bawah garis kemiskinan

Kecamatan

Pendataan

2008

BKP Kabupaten

Perlindungan

berkoordinasi

Sosial-PPLS

dengan BPS

 

(BPS)

Kabupaten

Small Area

Estimation, BPS

3. % Penduduk tanpa akses terhadap listrik

Kecamatan

PODES BPS

2008

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

Small Area

 

Estimation, BPS

4. Desa yang tidak bisa

Kecamatan

PODES BPS

2008

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

dilalui kendaraan roda

4

5. Angka Harapan Hidup saat lahir

Kecamatan

Small Area

2008

/ 2009

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

Estimation, BPS

 

6. Perempuan Buta Huruf (kelompok umur 15 tahun ke atas)

     

/ 2009

BKP Kabupaten

Kecamatan

Dinas

Pendidikan kab

2008

berkoordinasi

dengan Dikpora

Small Area

 

dan BPS

 

Estimation, BPS

Kabupaten

7. Data Jumlah Penduduk

Kecamatan

Kabupaten

2006-2009

BKP Kabupaten

dalam Angka,

berkoordinasi

BPS

dengan BPS

Kabupaten

8. Tingkat Pengangguran Terbuka

Kabupaten

SAKERNAS BPS

2008

/ 2009

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

Small Area

 
 

Estimation

9. Rata-Rata Konsumsi Kalori Per Kapita sehari menurut Kelompok Makanan dan Golongan Pengeluaran Per kapita Sebulan

Kabupaten

SUSENAS BPS

2008

/ 2009

BKP Pusat

Kecamatan

Small Area

 

Estimation, BPS

berkoordinasi dengan BPS Pusat

10. Rata-Rata Konsumsi Protein Per Kapita sehari menurut Kelompok Makanan dan Golongan Pengeluaran Per kapita Sebulan

Kabupaten

SUSENAS BPS

2008

/ 2009

BKP Pusat

Kecamatan

Small Area

 

Estimation, BPS

berkoordinasi dengan BPS Pusat

 

Cakupan

Sumber Data

Tahun

 
 

Jenis Data

Data

Petugas

11.

% balita Menurut

Kecamatan

PSG 2009 – Dinkes (WHO Standard)

2009

BKP Kab/Prov

Status Gizi Berat Badan/Umur

berkoordinasi

dengan Dinkes

(Underweight/Gizi

 

Kab/Prov

kurang dan gizi buruk)

12.

% Balita Menurut

Kecamatan

PSG 2009 – Dinkes (WHO Standard)

2009

BKP Kab/Prov

Status Gizi Tinggi Badan/Umur (stunting /Gizi kurang dan gizi buruk)

berkoordinasi

dengan Dinkes

 

Kab/Prov

13.

% Balita Menurut

Kecamatan

PSG 2009 – Dinkes (WHO Standard)

2009

BKP Kab/Prov

Status Gizi Berat Badan/Tinggi badan (Wasting) /Gizi kurang dan gizi buruk)

berkoordinasi

dengan Dinkes

 

Kab/Prov

14.

Sebaran Rumah

Kecamatan

PODES BPS

2008

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

Tangga Berdasarkan Jarak dan waktu tempuh ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan

15.

% Rumah tangga

Kecamatan

PODES BPS

2008

BKP Pusat berkoordinasi dengan BPS Pusat

Tanpa Akses ke Air Bersih

Small Area

Estimation, BPS

16. Deforestasi Hutan

Kecamatan

Departemen

2008

BKP Pusat

Kehutanan

berkoordinasi

dengan Dephut

17. Luas daerah Puso

Kecamatan

BPTPH

2006-2009

BKP Kabupaten

 

(Banjir, kekeringan,

berkoordinasi

OPT) pada padi, Jagung

dengan Dinas

Pertanian

 

Kabupaten

18.

Bencana Alam

Kecamatan

BPBD /

2006-2009

BKP Provinsi berkoordinasi dengan BPBD dan

(daerah berpotensi longsor, banjir, gempa bumi dll), data tentang kejadian bencana alam

Satkorlak

Provinsi, PODES

BPS

PODES 2008

BPS Pusat

19.

Fluktuasi Curah

Kecamatan

BMKG Provinsi

Data rata-

BKP Provinsi

Hujan (musim

rata 10

berkoordinasi

Kemarau dan

tahun

dengan BMKG

Penghujan)

terakhir

Provinsi

 

Data 30

tahun

terakhir

MMOODDUULL -- II

PENJELASAN INDIKATOR PETA KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN

II

KKEETTEERRSSEEDDIIAAAANN PPAANNGGAANN

Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik (netto), perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.

Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah- buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memenuhi tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.

11 11

PPEENNGGHHIITTUUNNGGAANN PPRROODDUUKKSSII NNEETTTTOO PPAANNGGAANN SSEERREEAALLIIAA

A. Padi

Ambil data produksi padi untuk seluruh kabupaten pada satu provinsi (P). Biasanya bersumber dari Angka Tetap (ATAP) dari BPS.

Kurangi dengan data Benih (s), Pakan (f) dan Tercecer (w) untuk mendapatkan data netto ketersediaan Padi (Pnet), nilai konversi untuk benih, pakan, dan tercecer masing-masing adalah:

Perhitungan Susut Gabah:

Benih (s)= P x 0,9%

Pakan ternak (f)= P x 0,44%

Tercecer (w)= P x 5,4%

Faktor konversi untuk benih, pakan ternak dan tercecer diambil dari Neraca Bahan Makanan (NBM) 2006/07.

Untuk mendapat produksi netto beras (Rnet), kalikan data netto padi dengan Faktor Konversi (c) di masing-masing kabupaten. Untuk seluruh kabupaten di suatu provinsi maka Faktor Konversi nasional adalah 0,632 (atau 63,2%).

Maka, produksi netto beras dihitung sebagai berikut:

R net = c * Pnet

di mana:

P net = P – (s+f+w)

B. Jagung

Ambil data produksi jagung untuk seluruh kabupaten pada satu provinsi (M). Biasanya bersumber dari Angka Tetap (ATAP) dari BPS.

Kurangi dengan data Benih (s), Pakan (f) dan Tercecer (w) untuk mendapatkan data netto ketersediaan Jagung (Mnet), nilai konversi untuk benih, pakan, dan tercecer masing-masing adalah:

Perhitungan Susut Jagung

Benih (s)= M x 0,9%

Pakan ternak (f)= M x 6%

Tercecer (w)= M x 5%

Faktor konversi untuk benih, pakan ternak dan tercecer diambil dari Neraca Bahan Makanan (NBM).

Produksi Netto Jagung (Mnet) dihitung dengan cara sebagai berikut:

M net = M - (s+f+w)

C. Umbi-umbian

1. Ubi Kayu

Ambil data produksi ubi kayu untuk seluruh kabupaten pada satu provinsi (C). Biasanya bersumber dari Angka Tetap (ATAP) dari BPS.

Kurangi dengan data Pakan (f) dan Tercecer (w) untuk mendapatkan data netto ketersediaan Ubi Kayu (Cnet), nilai konversi untuk pakan, dan tercecer masing- masing adalah:

 

Perhitungan ubi kayu

 

Pakan ternak (f)= C x 2%

Tercecer (w)= C x 2,13%

 

Faktor konversi untuk pakan ternak dan tercecer diambil dari Neraca Bahan Makanan (NBM).

Produksi Netto Ubi Kayu (Cnet) dihitung dengan cara sebagai berikut:

 

C net = C - (f+w)

 

2.

Ubi Jalar

Ambil data produksi ubi jalar untuk seluruh kabupaten pada satu provinsi (SP). Biasanya bersumber dari Angka Tetap (ATAP) dari BPS.

Kurangi dengan data Pakan (f) dan Tercecer (w) untuk mendapatkan data netto ketersediaan ubi jalar (SPnet), nilai konversi untuk pakan, dan tercecer masing- masing adalah:

Perhitungan ubi jalar

Pakan ternak (f)= SP x 2%

Tercecer (w)= SP x 10%

Faktor konversi untuk pakan ternak dan tercecer diambil dari Neraca Bahan Makanan (NBM).

Produksi Netto Ubi Jalar (SPnet) dihitung dengan cara sebagai berikut:

SP net = SP - (f+w)

Untuk produksi bersih rata-rata ubi kayu dan ubi jalar (T net ) agar setara dengan beras, maka harus dikalikan dengan 1/3 (1 kg beras atau jagung ekivalen dengan 3 kg ubi kayu dan ubi jalar dalam hal nilai kalori), dengan perhitungan sebagai berikut:

T net = 1/3 * (C net + SP net )

Maka, Produksi Netto Pangan Serealia (Padi, Jagung dan umbi-umbian) atau P food :

P tood = R net + M net + T net

11 22

PPEENNGGHHIITTUUNNGGAANN KKEETTEERRSSEEDDIIAAAANN PPAANNGGAANN SSEERREEAALLIIAA PPEERR KKAAPPIITTAA PPEERR HHAARRII

Gunakan data Total Populasi tengah tahun (tpop) kabupaten pada tahun yang sama dengan data produksi pangan serealia. Ketersediaan pangan serealia per kapita per hari (F) dihitung dengan cara sebagai berikut:

F =

P food

t pop

* 365

Satuan untuk perhitungan ini adalah dalam Gram.

Perhitungan produksi pangan tingkat kabupaten dilakukan dengan menggunakan data rata- rata produksi tiga tahunan (2005–2007) untuk komoditas padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar karena sumber energi utama dari asupan energi makanan berasal dari serealia dan umbi-umbian. Pola konsumsi pangan di Indonesia menunjukkan bahwa hampir 50% dari kebutuhan total kalori berasal dari tanaman serealia. Data rata-rata bersih dari komoditi padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar dihitung dengan menggunakan faktor konversi baku.

11 33

KKOONNSSUUMMSSII NNOORRMMAATTIIFF

Rasio konsumsi normatif terhadap ketersediaan netto pangan serealia per kapita per hari adalah merupakan petunjuk kecukupan pangan pada satu wilayah. Konsumsi Normatif (C norm ) didefinisikan sebagai jumlah pangan serealia yang harus dikonsumsi oleh seseorang per hari untuk memperoleh kilo kalori energi dari serealia. Pola konsumsi pangan di Indonesia menunjukkan bahwa hampir 50% dari kebutuhan total kalori berasal dari serealia.

Standar kebutuhan kalori per hari per kapita adalah 2,000 Kkal, dan untuk mencapai 50% kebutuhan kalori dari serealia dan umbi-umbian (menurut angka Pola Pangan Harapan), maka seseorang harus mengkonsumsi kurang lebih 300 gr serealia per hari.

Oleh sebab itu dalam analisis ini, kita memakai 300 gram sebagai nilai konsumsi normatif (konsumsi yang direkomendasikan).

Perlu dijelaskan bahwa dalam analisis ini dipilih penggunaan konsumsi normatif daripada penggunaan konsumsi aktual sehari-hari; karena konsumsi aktual (konsumsi sehari-hari) dipengaruhi oleh banyak hal di luar aspek ketersediaan pangan itu sendiri (misalnya: daya beli, pasar dan infrastruktur jalan, kemampuan penyerapan serealia, kebiasaan/budaya, dll).

11 44

PPEENNGGHHIITTUUNNGGAANN RRAASSIIOO KKEETTEERRSSEEDDIIAAAANN PPAANNGGAANN

Rasio Ketersediaan Pangan/Food consumption - availability ratio (IAV):

I AV =

C norm

F

dimana,

C norm

F : Ketersediaan Pangan Serealia.

: Konsumsi Normatif (300 gram); dan

Jika nilai ‘I AV ’ lebih dari 1, maka daerah tersebut defisit pangan serealia, atau kebutuhan konsumsi normatif tidak bisa dipenuhi dari produksi bersih serealia (beras dan jagung) serta umbi-umbian yang tersedia di daerah tersebut. Dan bila nilai ‘I AV ’ kurang dari 1, maka ini menunjukkan kondisi surplus pangan serealia di daerah tersebut.

Setelah itu, data ini harus dirubah/konversi ke dalam suatu indeks, yang menggunakan skala 0 sampai 1.

Indeks X ij =

Xij Xi min

Xi

max

Xi

min

di mana,

:

X ij

nilai ke – j dari indikator ke – i;

min

: nilai minimum dari indikator tersebut; dan

max

: nilai maksimum dari indikator tersebut.

Kemampuan produksi suatu daerah dapat bervariasi dari tahun ke tahun yang dipengaruhi berbagai faktor, maka disarankan untuk menggunakan data rata-rata 3 tahun produksi untuk analisa ini. Dengan demikian memungkinkan untuk mencakup fluktuasi produksi tahunan.

IIII

AAKKSSEESS TTEERRHHAADDAAPP PPAANNGGAANN DDAANN PPEENNGGHHIIDDUUPPAANN

Dimensi ke dua dari Ketahanan Pangan adalah Akses terhadap Pangan dan Penghidupan

(livelihood).

Akses Pangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan, baik yang berasal dari produksi sendiri, stok, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan di suatu daerah mungkin mencukupi, akan tetapi tidak semua rumah tangga memiliki akses yang memadai baik secara kuantitas maupun keragaman pangan melalui mekanisme tersebut di atas. Akses pangan tergantung pada daya beli rumah tangga yang ditentukan oleh penghidupan rumah tangga tersebut. Penghidupan terdiri dari kemampuan rumah tangga, modal/aset (sumber daya alam, fisik, sumber daya manusia, ekonomi dan sosial) dan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar – penghasilan, pangan, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan. Rumah tangga yang tidak memiliki sumber penghidupan yang memadai dan berkesinambungan, sewaktu-waktu dapat berubah, menjadi tidak berkecukupan, tidak stabil dan daya beli menjadi sangat terbatas, yang menyebabkan tetap miskin dan rentan terhadap kerawanan pangan. Indikator-indikator yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah:

Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan (data estimasi dari BPS);

Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung roda empat yang memadai; dan

Persentase rumah tangga tanpa akses listrik.

22 11

PPEENNGGHHIITTUUNNGGAANN PPRROODDUUKKSSII NNEETTTTOO PPAANNGGAANN SSEERREEAALLIIAA

Indikator ini menunjukkan nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup secara layak. Garis kemiskinan nasional menggunakan US$ 1,55 (PPP - Purchasing Power Parity) per orang per hari.

BPS melalui survei tiga-tahunannya yang mencakup data konsumsi pangan dan non-pangan dan berdasarkan konsumsi normatif 2,000 kkal per hari per kapita, dihitung estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Berdasarkan data Susenas 2007 BPS menghitung estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tingkat kabupaten. Data ini kita gunakan dalam analisis ini (Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, BPS Tahun 2007).

22 22

PPEERRSSEENNTTAASSEE DDEESSAA YYAANNGG TTIIDDAAKK MMEEMMIILLIIKKII AAKKSSEESS PPEENNGGHHUUBBUUNNGG RROODDAA EEMMPPAATT YYAANNGG MMEEMMAADDAAII

Desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai adalah desa yang lalu-lintas antar desanya yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Kurangnya akses terhadap infrastruktur menyebabkan ”kemiskinan lokal”, dimana masyarakat yang tinggal di daerah terisolir atau terpencil dengan kondisi geografis yang sulit dan ketersediaan pasar yang buruk, sehingga kurang memiliki kesempatan ekonomi dan pelayanan jasa yang memadai. Kelompok miskin ini tidak atau masih kurang dalam mendapatkan akses terhadap program pembangunan pemerintah. Sumber: PODES (Potensi Desa) 2008, BPS.

22

33

PPEERRSSEENNTTAASSEE RRUUMMAAHH TTAANNGGGGAA YYAANNGG TTIIDDAAKK MMEEMMIILLIIKKII AAKKSSEESS LLIISSTTRRIIKK

Tersedianya fasilitas listrik di suatu wilayah akan membuka peluang yang lebih besar untuk akses pekerjaan. Ini juga merupakan indikasi kesejahteraan suatu wilayah atau rumah tangga.

Data diambil dari publikasi BPS SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2007. Data di sini adalah Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Listrik. Dengan mengurangi persentase ini dengan 100, maka akan diperoleh persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap listrik.

IIIIII

PPEEMMAANNFFAAAATTAANN PPAANNGGAANN

Dimensi ke-tiga dari ketahanan pangan adalah pemanfaatan pangan. Pemanfaatan pangan meliputi: a) Pemanfaatan pangan yang bisa di akses oleh rumah tangga, dan b) kemampuan individu untuk menyerap zat gizi - pemanfaatan makanan secara efisien oleh tubuh.

Pemanfaatan pangan meliputi Indikator-indikator sebagai berikut:

Angka harapan hidup pada saat lahir

Berat badan balita di bawah standar (Underweight)

Perempuan buta huruf

Rumah tangga tanpa akses ke air bersih

Persentase rumah tangga yang tinggal lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan

33 11

AANNGGKKAA HHAARRAAPPAANN HHIIDDUUPP PPAADDAA SSAAAATT LLAAHHIIRR

Angka harapan hidup pada saat lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata bayi baru lahir dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas sepanjang hidupnya. Angka harapan hidup merupakan salah satu indikator tingkat kesehatan masyarakat.

33 22

BBEERRAATT BBAADDAANN BBAALLIITTAA DDII BBAAWWAAHH SSTTAANNDDAARR ((UUNNDDEERRWWEEIIGGHHTT))

Underweight pada baliata adalah anak di bawah lima tahun yang berat badannya kurang dari -2 Standar Deviasi (-2 SD) dari berat badan normal pada usia dan jenis kelamin tertentu (Standar WHO 2005).

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang sangat baik digunakan pada kelompok Penyerapan Pangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah situasi ketahanan pangan rumah tangga, status gizi dan kesehatan ibu, pendidikan ibu, pola asuh anak, akses terhadap air bersih, akses terhadap pelayanan kesehatan yang tepat waktu.

Untuk mengetahui apakah balita memiliki berat badan kurang atau tidak, maka harus dilakukan pengukuran berat badan dan pencatatan umur dalam bulan. Angka ini kemudian dibandingkan dengan standar internasional yang dikembangkan oleh badan “National Centre

for Health Statistics, Centers for Disease Control, USA (atau biasa disebut NCHS standard).

Sumber data: Departemen/Dinas Kesehatan.

33

33

PPEERREEMMPPUUAANN BBUUTTAA HHUURRUUFF

Perempuan buta huruf adalah Persentase perempuan di atas 15 tahun yang tidak dapat membaca atau menulis.

Tingkat pendidikan perempuan terutama ibu dan pengasuh anak sangat berpengaruh terhadap status kesehatan dan gizi, dan menjadi hal yang sangat penting dalam pemanfaatan pangan. Studi di berbagai negara berkembang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan kesadaran ibu dapat menjelaskan situasi gizi anak-anak.

33 44

PPEERRSSEENNTTAASSEE RRUUMMAAHH TTAANNGGGGAA TTAANNPPAA AAKKSSEESS KKEE AAIIRR BBEERRSSIIHH

Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih yaitu persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses ke air minum yang berasal dari air leding/PAM, pompa air, sumur atau mata air yang terlindung.

Akses terhadap air bersih memegang peranan yang sangat penting untuk pencapaian ketahanan pangan. Air yang tidak bersih akan meningkatkan angka kesakitan dan menurunkan kemampuan dalam menyerap makanan dan pada akhirnya akan mempengaruhi status nutrisi seseorang. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa di daerah yang akses terhadap air bersihnya rendah maka ditemukan insiden malnutrisi yang tinggi pula.

Sumber data: Data Dan Informasi kemiskinan Tahun 2007, Badan Pusat Statistik.

33 55

PPEERRSSEENNTTAASSEE RRUUMMAAHH TTAANNGGGGAA YYAANNGG TTIINNGGGGAALL LLEEBBIIHH DDAARRII 55 KKMM DDAARRII FFAASSIILLIITTAASS KKEESSEEHHAATTAANN

Persentase rumah tangga yang tinggal pada jarak lebih dari 5 kilometer dari fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas, dokter, juru rawat, bidan yang terlatih, paramedik, dan sebagainya).

Manfaat fasilitas kesehatan sangat penting untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas) penduduk dan dengan demikian akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam menyerap makanan ke dalam tubuh dan memanfaatkannya. Akses yang lebih dekat ke fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas, dokter, juru rawat, bidan yang terlatih, paramedik, dan sebagainya) merupakan indikator yang sangat penting untuk menunjukkan bagaimana rumah tangga mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan/Puskesmas.

Sumber data: Data Dan Informasi kemiskinan Tahun 2007, Badan Pusat Statistik.

IIVV

KKEERREENNTTAANNAANN TTEERRHHAADDAAPP KKEERRAAWWAANNAANN PPAANNGGAANN TTRRAANNSSIIEENN

Kerentanan terhadap kerawanan pangan adalah suatu kondisi dimana suatu masyarakat berada pada resiko menjadi rawan pangan. Tingkat kerentanan dari tiap individu, rumah tangga atau kelompok masyarakat ditentukan oleh terpaparnya kondisi mereka terhadap faktor-faktor resiko/goncangan dan kemampuan mereka untuk mengatasinya dengan atau tanpa kondisi tertekan.

Indikator yang digunakan adalah:

Deforestasi hutan

Penyimpangan Curah Hujan

Bencana alam

Persentase daerah puso

44 11

DDEEFFOORREESSTTAASSII HHUUTTAANN

Deforestasi adalah perubahan kondisi penutupan lahan dari hutan menjadi non hutan. Pengelolaan hutan di Indonesia dilaksanakan melalui penetapan hutan untuk kepentingan fungsi konservasi, hutan lindung, hutan budidaya dan kawasan hutan. Luas kawasan hutan Indonesia termasuk perairan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan serta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) adalah sebesar 137,09 juta ha. Kawasan hutan dan perairan tersebut terdiri atas 3,39 juta ha kawasan konservasi perairan, 20,14 juta ha kawasan hutan konservasi, 81,95 ha hutan produksi dan 31,6 juta ha hutan lindung.

Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional, berbagai aktivitas pembangunan telah menyebabkan perubahan penggunaan lahan. Perubahan penutupan lahan pada kawasan hutan berjalan dengan cepat yang dapat menyebabkan menurunnya kondisi hutan dan berkurangnya luas penutupan hutan.

Data diperoleh dari Departemen/Dinas Kehutanan.

44 22

PPEENNYYIIMMPPAANNGGAANN CCUURRAAHH HHUUJJAANN

Variabilitas iklim secara langsung mempengaruhi berbagai aspek dari ketahanan pangan, khususnya dalam hal ketersediaan pangan dan distribusi pangan. Peristiwa bencana alam seperti kekeringan dan banjir, berkaitan dengan karakteristik dan fluktuasi curah hujan. Kekeringan dan banjir disebabkan oleh besarnya variasi curah hujan yang diterima oleh setiap wilayah geografis. Variasi curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik global, regional maupun lokal. Faktor global antara lain adalah fenomena El Nino, La Nina, dan Dipole Mode, sedangkan faktor regional antara lain Sirkulasi Monsun, Madden Julian Oscillation (MJO), dan suhu muka laut perairan Indonesia. Sementara itu, faktor lokal yang berpengaruh adalah ketinggian tempat, posisi bentangan suatu pulau, sirkulasi angin darat dan angin laut, serta tutupan lahan suatu wilayah.

Penghitungan fluktuasi curah hujan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Hitung curah hujan rata-rata (AVij = rata-rata curah hujan kabupaten ke ‘i’ pada tahun ke ‘j’) pada musim hujan (Oktober-Maret) selama 10 tahun terakhir;

Ambil data curah hujan untuk 30 tahun normal musim hujan (N); dan

Hitung penyimpangan rata-rata curah hujan bulanan (pada musim hujan).

AV i j = 1/6 * (curah hujan pada bulan Oktober+November+ Dev i j =

AV i j = 1/6 * (curah hujan pada bulan Oktober+November+ Dev i j = AV i j - N

+Maret)

AV i j = 1/6 * (curah hujan pada bulan Oktober+November+ Dev i j = AV

Lakukan perhitungan yang sama untuk data musim kemarau (April - September).

Sumber data: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

44 33

BBEENNCCAANNAA AALLAAMM

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan terhadap bencana alam di dunia. Banyak kabupaten di Indonesia rentan terhadap berbagai bencana alam, seperti letusan gunung berapi, gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dll.

Sumber data: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (SATKORLAK dan SATLAK).

44 44

DDAAEERRAAHH PPUUSSOO

Puso didefinisikan sebagai suatu daerah produksi pangan yang rusak karena disebabkan oleh bencana alam (banjir, kekeringan, longsor) dan penularan hama oleh organisme penggangu tanaman (OPT). Produksi tanaman pangan sangat di pengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. Kegiatan budidaya tanaman sebaiknya mempertimbangkan kondisi tersebut dengan menggunakan informasi perubahan musim, iklim dan cuaca.

Sumber data: Dinas Pertanian atau Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH).

MMOODDUULL -- IIII

PENGOLAHAN DATA/INDIKATOR FSVA DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE EXCEL

II

PPEE