Anda di halaman 1dari 7

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Biologi Ikan Nilem 4.1.1 Klasifikasi Ikan Nilem sebenarnya salah satu jenis dari keanekaragaman ikan asli Indonesia, yang merupakan kekayaan alam Indonesia, Nilem sebenarnya paling umum bagi orang Pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatra, karena di alam terdistribusi di daerah tersebut. Jenis ikan ini termasuk ikan konsumsi, terkenal dengan rasa gurih dan teristimewa karena mempunyai kandungan telor yang banyak, orang daerah Jawa Barat terbiasa dengan pepes telor ikan nilem yang dicampur nasi. Di alam masih relatif banyak tersebar dibeberapa perairan umum, habitatnya berupa sungai, danau dan rawa, serta telah lama menjadi ikan budidya di kolam-kolam. Sayangnya jenis ikan asli ini semakin terdesak keberadaannya oleh ikan-ikan pendatang. Nilem termasuk suku Cyprinidae satu kerabat dengan ikan mas, tawes dan ikan suku Cyprinidae lainnya. Kebiasaan makannya termasuk pemakan dedaunan (herbivora). Klasifikasi ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Saanin (1987) adalah sebagai berikut : Phylum : Chordata Subphylum : Vertebrata Classis : Pisces Subclassis : Teleostei Ordo : Ostariophysi Sub Ordo : Cyprinoidae Familia : Cyprinidae Sub familia : Cyprininae Genus : Ostechilus Spesies : Osteochilus hasselti

27

Gambar13. Ikan Tawes

4.1.2 Morfologi Ikan nilem atau Silver Shark minnow Familia Cyprinidae, Genus

Osteochilus, Species Osteochilus hasselti (Val) mempunyai ciri morfologi antara lain bentuk tubuh hampir serupa dengan ikan mas. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih kecil. Pada sudut-sudut mulutnya, terdapat dua pasang sungut peraba. Warna tubuhnya hijau abu-abu. Sirip punggung memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berbentuk cagak dan simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada terdiri dari 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik pada gurat sisi ada 33-36 keping. Dekat sudut rahang atas ada 2 pasang sungut perabadan bibirnya tertutup oleh lipatan kulit, serta tidak memiliki tubus keras dibagian moncongnya. Sistem pencernaan pada ikan di mulai dari oesophagus yang sangat pendek, karena hampir ronga mulut langsung menuju ke lambung atau intestine ventriculus melengkung seperti huruf U, dan dibedakan menjadi 2 yaitu pars cardiaca yang lebar dan pars pylorica yang sempit. Pada bangsa ikan sangat berliku dan hampir memenuhi rongga perut, dan bermuara ke anus. Hepar terdiri atas dua lobi, vesca fellea dari hepar menuju ductus hepaicus kemudian bersatu dengan ductus cyticus menjadi ductus choledocus yang bermuara ke duodenum. Adapun yang dihubungkan dengan peritoneum ke tundus ventriculli. Osteochilus hasselti mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga disebut
28

hepatopankreas (Radiopoetro, 1988).Ginjal yang gilik yang terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari darah dalam ginjal akan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui ureter (Jasin,1989). Sistem pernapasan dilakukan oleh insang yang terdapat dalam 4 pasang kantong insang yang terletak disebelah pharynk di bawah operculum. Waktu bernapas operculum menutup lelekat pada dinding tubuh, arcus branchialis mengembang ke arah lateral. Air masuk melalui mulut kemudian kelep mulut menutup, sedangkan arcus branchialis berkontraksi, dengan demikian operculum terangkat terbuka. Air mengalir keluar filamen sehingga darah mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida (Jasin,1989). Menurut Djuhanda (1982), lengkung insang pada ikan nilem berupa tulang rawan yang sedikit membulat dan merupakan tempat melekatnya filamen-filamen insang. Arteri branchialis dan arteri epibranchialis terdapat pada lengkung insang di bagian basal pada kedua filamen insang pada bagian basalnya. Tapis insang berupa sepasang deretan batang-batang rawan yang pendek dan sedikit bergerigi, melejat pada bagian depan dari lengkung insang. Ikan nilem memiliki gelembung renang untuk menjaga keseimbangan di dalam air. Sirip adalah suatu perluasan integument (pembungkus tubuh) yang tipis yang disokong oleh jari-jari sirip. Fungsi sirip adalah untuk mempertahankan kesetimbangan dalam air dan untuk berenang. Sirip-sirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung (dorsal fin), sirip ekor(caudal fin), dan sirip dubur (anal fin) disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan. Sirip dada (pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) disebut sirip berpasangan (Jasin, 1989). Ikan jantan dan ikan betina dapat dibedakan dengan cara memijit bagian perut ke arah anus. Ikan jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genitalnya. Induk betina yang sudah matang telurnya dicirikan dengan perut yang relatif besar dan lunak bila diraba (Sumantadinata, 1981).

29

4.1.3 Kebiasaan hidup di alam Nilem hidup di lingkungan yang jernih. Oleh karena itu, ikan ini dapat ditemukan di sungai-sungai. 1. Kebiasaan Makan Nilem tergolong ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore). 2. Kebiasaan Berkembang Biak Biasanya, ikan ini akan memijah di akhir musim penghujan, di daerah yang berpasir dan berair jernih. Di tempat budi daya, ikan nilem dapat dipijahkan sepanjang tahun dengan mengatur kondisi lingkungan. 4.2 Hama dan Penyakit Menurut Sukenda (2002) faktor yang bisa menyebabkan ikan sakit adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan jasad hidup atau sering disebut penyakit parasiter dan penyakit yang disebabkan bukan oleh jasad hidup, melainkan oleh faktor fisik dan kimia perairan atau sering disebut sebagai penyakit non parasiter. Beberapa jenis jasad renik yang menyebabkan penyakit parasiter seperti virus, jamur, bakteri, protozoa, nematoda (cacing) dan jenis udang renik. Penyakit non parasiter disebabkan oleh sifat dan kima air yang tidak cocok bagi kehidupan ikan dan kualitas pakan yang kuarng baik. Penyebaran penyakit dapat terjadi melalui beberapa cara : Air sebagai media pemeliharaan ikan. Aliran air yang masuk Kontak langsung dengan ikan yang sakit Kontak tidak langsung melalui peralatan yang telah terkontaminasi.

Selama kegiatan pembenihan tidak ditemui ikan yang terkena hama maupun penyakit. Hal ini karena hal-hal yang penting diperhatikan, seperti persiapan kolam yang cukup baik, kualitas air terjaga dengan dilakukan pengukuran setiap bulan

30

pakan yang sesuai dan dosis yang cukup serta apabila terdapat ikan yang sakit segera ditangani agar tidak segera menyebar. 4.2.1 Hama Menurut Suyanto (1994) hama juga dikenal sebagai predator atau pemangsa, hama berupa hewan baik yang hidup di dalam air maupun yang didarat. Ukuran hama biasanya lebih besar daripada mangsanya. Hama yang biasa menyerang ikan antara lain biawak, ular, sero atau linsang, kodok, dan burung di sawah. Cara penaggulangannya adalah dengan tindakan mekanis, yakni membunuh langsung hama jika ditemukan di tempat pemeliharaan ikan, bisa juga dengan cara memasang perangkap. Selain hama yang berukuran besar, terdapat juga sekelompok hewan air yang bisa memangsa benih-benih di kolam tersebut, antara lain : 1) Ucrit Ucrit adalah larva kumbang air, bentuknya panjang mirip ulat dan berukuran 3-5 cm. Hewan yang warna tubuhnya kehijauan ini memangsa benih berukuran 1-3 cm dengan cara benih ikan ditangkap lalu dilumpuhkan dengan ujung ekornya yang bercabang dua. Pencegahan yang paling baik adalah memasang saringan dipintu pemasukan air kolam (Anggrawati 1992). 2) Notonecta Notonecta ini berbentuk mirip butiran beras. Hewan ini menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan tubuh (darah) mangsanya. Pencegahan dapat dilakukan dengan memasang saringan dipintu pemasukan air. 3) Kini-kini Kini-kini adalah hewan yang hidup dibawah permukaan air kolam. Hama yang sebenarnya larva capung ini membunuh mangsanya dengan cara menghisap darah. Pencegahan yang bisa dilakukan dengan menghalangi agar capung tidak bisa bertelur dipermukaan kolam. Salah satu caranya dengan mengurangi benda-benda terapung atau tanaman air yang daunnya

31

muncul ke permukaan kolam sebagai tempat hinggapnya capung. Pemberantasan masih sulit dilakukan karena kenisaan hidup hewan ini selalu berada dibawah permukaan air kolam (Amri 2003). 4.2.2 Penyakit

Jenis penyakit yang banyak menyerang ikan dan cara penanggulangannya antara lain sebagai berikut : Bintik Putih Penyakit bintik putih (white spot) menimbulkan bercak-bercak putih di sekujur tubuh ikan. Penyebabnya adalah Ichthyopthirius sp menyerang ikan dengan cara bersarang di lapisan lendir kulit, sirip, bahkan lapisan insang. Ikan yang diserang akan banyak mengeluarkan lendir, tubuhnya pucat dan pertumbuhannya lambat. Menurut Suyanto (1994) pengobatan bisa dilakukan dengan merendam ikan ke dalam larutan methylene blue dengan cara : Siapkan bak atau wadah untuk mengobati ikan yang sakit dan ukur Buat larutan baku dengan cara mencampurkan 1 g methylene blue Teteskan larutan baku tersebut ke dalam bak dengan dosis 2-4 mL Ikan yang sakit direndam ke dalam bak tadi selama 24 jam, volume bak tersebut ke dalam 100 ml air bersih untuk setiap 4L air pengobatan ini diulangi selama 3-5 kali dengan selisih waktu satu hari.
Lernea

Bentuk parasit Lernea seperti cacing. Organisme ini hidup dengan cara menancapkan kepalanya yang berbentuk jangkar ke dalam daging ikan, sementara itu tubuhnya berada diluar dan berbentuk mirip jarum. Lernea mudah sekali berkembang biak di kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan organik, seperti sisa-sisa makanan. Ikan yang terserang pertumbuhannya akan lambat dan

32

badannya kurus. Pengobatan bisa dilakukan dengan merendam ikan ke dalam formalin 2,5 ml yang dicampur dengan 100 L air bersih selama 10 menit. Kemudian ikan dilepas kembali ke air bersih dan mengalir. Jika pengobatan dilakukan di dalam pemeliharaan, insektisida yang digunakn sebaiknya berasal dari golongan organofosfat dengan dosis 0,5 mg/L. insektisida tersebut disemprotkan sebanyak empat kali berturut-turut dalam waktu 4 hari (Sukenda 2002).
Cacing insang dan cacing kulit

Penyakit ini umumnya ditemukan di insang dan kulit ikan. Penyebabnya adalah parasit Dactylogyrus yang menyerang insang dan kulit serta Gyrodactylus yang hanya menyerang kulit. Ikan yang terserang parasit ini akan berenang melompatlompat ke permukaan air karena insannya rusak. Pengobatan bisa dilakukan dengan merendam ikan selama 10 menit ke dalam larutan formalin 25 ppm (2,5 ml) yang dicampur dengan 100 ml air bersih. Selain formalin, obat-obatan lain yang dapat digunakan adalah garam dapur 20 g/l untuk merendam ikan selama 15 menit, Neguvon 2-3,5 untuk merendam ikan selama 30 detik dan kalium permanganat (PK) 0,01 g/100 ml air untuk merendam ikan selama 10 menit (Amri 2003).

33