Anda di halaman 1dari 2

Motor Induksi Tiga Phase

March 14th, 2008 · 1 Comment

Motor induksi tiga phase pada umumnya banyak digunakan pada pabrik. Untuk motor
berkapasitas 200 KW biasanya dirancang dengan tegangan rendah sedangkan untuk
kapasitas di atas 200 KW ke atas dengan tegangan menengah. Hal ini dikarenakan
semakin besar motor tentu arusnya pun semakin besar yang berarti harus mamakai kawat
yang besar sebagai kumparanya sedangkan dengan kawat yang beasr ini sulit sulit untuk
ditekuk dan dibentuk. Juga body motornya harus lebih besar. Untuk mengatasi ini maka
tegangan motor harus dinaikkan, di mana rumus untuk mencari arus adalah berbanding
lurus dengan tegangan motor .

I = V/R

Di mana I adalah arus , V tegangan dan R tahanan

Keuntungan dan Kerugian Motor Induksi

Keuntungan :
a. Bentuknya sederhana/simple dan kuat
b. Biaya pembuatan murah
c. Perawatannya tidak sulit
d. Untuk start tidak memerlukan extra starting motor

Kerugian :
a. Apabila beban dinaikkan maka speednya akan menurun
b. Speed tidak bervariasi tanpa mengorbankan efisiensinya

A. Konstruksi
Konstruksi motor induksi 3 phse terdiri dari:
1. Stator
2. Rotor
Stator merupakan inti besi yang terbuat dari lapisan atau lanel dari besi baja yang
tersusun rapi dan masing-masing terisolasi secara listrik.
P = 2 n dimana n adalah jumlah slots
Ns = 120 f/P dimana Ns adalah putaran sinkron, f frekwensi.
Rotor motor induksi ini berbentuk cylinder dengan slots paralel untuk tempat conductor /
copper /aluminium di mana satu bar satu slots. Adakalanya slot rotor tidak paralel dengan
shaft rotor melainkan miring. Hal ini berguna untuk mengurangi gaya magnet pada rotor .

B. Slip
Pada kenyataanya rotor tidak akan pernah mengejar atau menangkap medan stator.
Perbedaan antara speed sinkron Ns dan actual speed N disebut dengan SLIP di mana ,
% Slip S = (Ns-N)/Ns x 100

Kadang-kadang Ns-N disebut Slip speed , maka


N = Ns (1-S)

C. Frekwensi Arus Rotor


Bilamana rotor diam atau tidak bergerak maka frewensi arus rotor adalah sama dengan
frekwensi sumber tegangan. Tetapi apabila rotor berputar maka Frekwensi arus rotor
menjadi f” di mana :
Ns-N = 120 f”/P juga Ns=120 f/P dan

f”/f = (Ns-N)/Ns = S dan f” = S f