Anda di halaman 1dari 9

Category: Listrik

Jam Trafo
Filed under: Listrik Tinggalkan Komentar September 4, 2012 Jam trafo adalah gambaran perbedaan atau pergeseran sudut antara primer dan sekunder suatu trafo ( R-r, S-s, T-t). Perbedaan sudut tersebut digambarkan dengan vektor dan akan membentuk seperti jam. kalau dalam bahasa inggris, namanya vector group of transformer. Kita kan tau, kalau trafo terdiri dari lilitan primer dan sekunder. Pada trafo 3 fase, jumlah lilitannya 3, untuk memenuhi 1 fase 1 lilitan. Hubungan lilitan pada trafo itu dapat dibagi menjadi 2 tipe (gambar 1), wye/star dan delta.

gambar 1. sisi kiri menggambarkan contoh lilitan berbentuk wye/star, dengan a), b), c) sama namun dengan penggambaran yang berbeda. sisi kanan menggambarkan konfigurasi lilitan delta, dengan a), b), c) sama namun dengan penggambaran yang berbeda Cara pemasangan dan tipe hubungan lilitan tersebut dapat bermacam-macam, sehingga membuat berbagai jam trafo (lebih jelasnya coba lihat gambar 6). Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jam trafo tersusun dari vektor-vektor tegangan pada lilitan-lilitan trafo, sehingga dapat dibentuk kode-kode tertentu seperti jam. Pada jam trafo, Setiap perbedaan 1 jam, artinya fasenya berbeda 30 derajat. Berikut ini ada 4 contoh: 1. Hubungan Trafo Wye-Delta Jam 1 Ambil contoh, anggap lilitan merah (R) primer dan sekunder menghasilkan fasor tegangan demikian, begitu pula S dan T ( gambar 2a ). Tiap fase memiliki perbedaan 120 derajat.

Gambar 2. a) Trafo dengan wye-delta berserta arah fasornya. b) jika fasor kedua sisi dibandingkan, akan membuat arah jam 1 Bagian primer (kiri) mempunyai konfigurasi lilitan star, bagian sekunder (kanan) mempunyai konfigurasi delta. Jika kedua fasor sisi primer dan sekunder disatukan dengan titik tengahnya, maka akan membentuk arah jam 1 (gambar 2b ). Jika kita ambil patokan fase warna merah, sisi primernya sebagai penunjuk angka 12, sedang sisi sekundernya terlihat bergeser. Kemudian ditarik garis dari titik netral ke ujung panah r, maka membentuk sudut 30 derajat (gambar 2b). 2. Hubungan Trafo Wye-Delta Jam 11

Gambar 3. a) Trafo dengan wye-delta berserta arah fasornya. b) jika fasor kedua sisi dibandingkan, akan membuat arah jam 11 Mirip dengan Yd1. Namun, liat konfigurasi delta pada sekunder, dan bandingkan dengan Yd1. Perbedaan tersebut membuat perbedaan urutan fasenya, sehingga membentuk arah jam yang berbeda. 3. Hubungan Trafo Delta-Wye Jam 1

Gambar 4. a) Trafo dengan delta-wye berserta arah fasornya. b) jika fasor kedua sisi dibandingkan, akan membuat arah jam 1

Sisi primer mempunyai lilitan delta, dan sekunder mempunyai lilitan star. 4. Hubungan Trafo Delta-Wye Jam 11

Gambar 5. a) Trafo dengan delta-wye berserta arah fasornya. b) jika fasor kedua sisi dibandingkan, akan membuat arah jam 11 Mirip dengan konfigurasi Dy1. Sekali lagi, pengaruh hubungan lilitan di bagian delta yang mempengaruhi perbedaan dengan Dy1. Konfigurasi Lainnya: Berikut ini adalah beberapa contoh konfigurasi lilitan pada trafo. Contoh sebelumnya menggunakan penanda berupa r-s-t, namun pada gambar 6, berupa I-II-III. Intinya sama, hanya masalah penamaan saja.

Gambar 6. konfigurasi jam trafo lainnya beserta susunan lilitannya (zone4info.com) Reference: http://yourelectrichome.blogspot.com/2011/07/theree-phase-transformer-phasor-groups.html http://www.skm-eleksys.com/2010/07/transformer-vector-groups.html http://www.zone4info.com/articles/284/zig-zag-transformer-and-transformer-vector-groups http://electricalnotes.wordpress.com/2012/05/23/vector-group-of-transformer/

http://www.trafomic.fi/transformers Komentar

Daya Aktif, Daya Reaktif, dan Daya Semu


Filed under: Listrik Tinggalkan Komentar Mei 15, 2012 Untuk memahami ketiga macam daya itu, akan lebih mudah jika telah memahami konsep listrik, beban resistif, beban induktif, lagging, power factor, dsb (belajar ndiri ya bro 1. Daya Aktif Pengertian daya aktif adalah daya yang benar-benar dimanfaatkan oleh beban untuk melakukan kerja. Satuan daya ini adalah Watt. Untuk lebih jelasnya, sebuah generator AC menyuplai daya ke suatu beban resistif: )

gambar 1. a) generator menyuplai beban resistif. b) bentuk gelombang tegangan, arus, daya. c) fasor tegangan dan arus.

Gambar 1b) merupakan besarnya masing-masing besaran berubah dari waktu ke waktu (karena AC) pada rangkaian tersebut. Dengan arus dan tegangan yang sefase, nilai daya selalu positif (perkalian Vdengan I, karena P=VI). 2. Daya Reaktif Pengertian daya reaktif adalah daya yang digunakan untuk membentuk medan magnet beban. Satuan daya reaktif adalah VAr (Volt ampere reactive). Jika sebuah generator AC menyuplai daya ke suatu beban induktif:

gambar 2. a) generator menyuplai beban induktif. b) bentuk gelombang tegangan, arus, daya. c) fasor tegangan dan arus. Beban induktif menyebabkan arus lagging terhadap tegangan sebesar 90o. Pada gambar 2 b) erlihat bahwa daya menjadi positif dan negative secara bergantian, bergerak maju dan mundur dalam sistem. Daya tersebut merupakan daya yang diakibatkan inductor, untuk membuat medan magnet. Contoh peralatan elektronik yang membutuhkan daya reaktif cukup besar untuk membuat medan magnet adalah pompa air listrik. Sedangkan yang membutuhkan daya reaktif sangat kecil sekali adalah lampu pijar. 3. Daya Semu (Apparent Power) Gabungan antara daya aktif dan reaktif adalah daya semu, atau sering disebut dengan apparent power. Satuan daya semu adalah VA (Volt Ampere). Hubungan ketiga daya ini dapat digambarkan pada suatu segitiga daya:

gambar 3. segitiga daya Ketika kita langganan listrik ke PLN, misalkan 900. Satuannya adalah VA, bukan Watt. Misalnya kita menggunakan barang yang hanya memakai daya aktif (artinya cos phi = 1) dan mengkonsumsi penuh maka: Cos =1,

= arc cos (1) = 00 p/s = 1 p= 900 *1=900 kita mengkonsumsi 900 watt dan 0 Var, dari daya semu 900 VA Jika kita menggunakan alat elektronik dengan cos phi = 0.5 (dalam kehidupan nyata, cos phi jarang yang sekecil itu) maka: Cos =0.5, = arc cos (0.5) = 600 p/s = 0.5 p= 900*0.5= 450 Q/S = sin Q /900 = 0.86 Q= 774 Var Kita mengkonsumsi daya 450 watt dan 774 var, dari daya semu 900 VA Komentar

Jenis dan Besaran Listrik


Filed under: Listrik 1 Komentar Oktober 14, 2011 Setelah membaca artikel apakah listrik itu, tentunya kita sudah mempunyai suatu gambaran apakah listrik itu sebenarnya, esensi listrik, hingga kesalahan yang dibuat ilmuwan jaman dulu. Listrik itu seperti air. Air mengalir dari daerah tinggi ke daerah relatif rendah. Listrik mengalir dari polaritas positif (banyak hole electron) ke polaritas negatif (sedikit hole electron atau banyak electron). Jangan lupa apa itu aliran hole dan aliran electron. Ternyata listrik itu ada dua jenis teman-teman sekalian. Ada yang namanya listrik DC dan listrik AC.

Gambar 1. Pergerakan listrik DC (arus searah) mirip wahana halilintar di dufan (petitevirus.wordpress.com) Listrik DC (direct current), adalah listrik yang alirannya searah saja. Seperti skema rangkaian baterai pada lampu senter. Baterai akan mengalirkan listriknya dari kutub (+) melewati lampu senter, dan kembali ke kutub (-) baterai. Hal tersebut berlangsung terus menerus, alirannya hanya satu arah. Ini adalah salah satu contoh listrik DC. Listrik AC (alternating current) adalah listrik yang arah alirannya berubah-ubah, arus bolakbalik, maju-mundur, ke kiri-kanan, pulang-pergi, atau apalah kata yang tepat mengungkapkannya . Pergerakan elektronnya dalam kabel adalah maju-mundur dengan periode waktu tertentu. Perubahan bolak balik pada listrik ini dapat dinyatakan dalam frekuensi (satuannya Hz). Contohnya, dalam listrik PLN, asal tahu saja jenis listriknya adalah AC dengan frekuensi 50 Hz. 50Hz atau 50 per detik, dalam satu detik terdapat satu kali siklus bolak dan balik sebanyak 50 kali.

Gambar 2. Pergerakan listrik AC (arus bolak-balik) seperti wahana kora-kora di dufan (langitberita.com) Jika kita bandingkan listrik DC dan AC pada suatu kasus, misalnya lampu rumah kita menggunakan listrik DC. Maka, nyala lampu akan tetap seperti itu, karena listrik mengalir melewatinya tetap dan konstan, seperti aliran air pada selang yang besarnya tetap. Namun, jika menggunakan listrik AC, apabila anda teliti, lampu akan berkedip, hidup dan mati (listrik PLN yang menggunakan 50Hz, hidup mati lampu sangat cepat, mata manusia biasa tidak

mampu menangkapnya). Kenapa demikian? Pada listrik AC , ada saatnya ketika majunya si electron akan berubah arah menjadi mundur. Pada saat tersebut, aliran electron akan berhenti sebentar, dan pada waktu itulah lampu akan padam. Jika frekuensinya 50 Hz terdapat 100 kali padamnya lampu dalam 1 detik.