Anda di halaman 1dari 15

MENUJU PENYUSUNAN DAN PENERAPAN STANDAR KENYAMANAN TERMAL ADAPTIF DI INDONESIA

Oleh

Wahyu Sujatmiko1, Wisnu Hendradjit2 dan Soegijanto3 Abstrak


Pada makalah ini disampaikan salah satu hasil penelitian kenyamanan adaptif pada bangunan rumah tinggal berventilasi alami yang ada di Indonesia, dengan lokasi Bandung, Semarang, dan Bekasi, dengan mengikuti prosedur penelitian Standar Kenyamanan Adaptif ASHRAE 55. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hasil kenyamanan adaptif responden (kenetralan kondisi termal dan preferensi kondisi termal) berada pada temperatur operatif Top yang lebih tinggi dari perkiraan model kenyamanan statik ASHRAE 55 dan ISO 7730, yakni PMV-PPD, dan juga model statik lainnya seperti ET*, SET*, DISC, TSENS, dan HSI. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kondisi kenetralan selalu lebih tinggi dari kondisi preferensi, berarti terdapat harga selisih yang positif, yang berarti responden menginginkan kondisi yang lebih dingin dari kondisi netral. Dengan demikian kondisi yang lebih sesuai untuk menyatakan kenyamanan termal responden adalah kondisi preferensi kondisi termal. Rentang temperatur yang dapat diterima adalah Top = 22,8 30,2 oC dan ET* = 23,4 32,3 oC. Hasil ini sesuai dengan perkiraan kenyamanan rentang nyaman 80% menurut model adaptif ASHRAE 55. Kata kunci: kenyamanan termal, pendekatan adaptif, pendekatan statik, ASHRAE 55, ISO 7730

1 2

Staf Balai Sains Bangunan, Puslitbang Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum Dosen Kelompok Keilmuan Teknik Fisika-KBK Fisika Bangunan FTI-ITB 3 Guru besar Teknik Fisika ITB

I.

PENDAHULUAN

Terkait dengan kenyamanan termal, saat ini berkembang dua pendekatan, yakni pendekatan statik dan pendekatan adaptif. Pendekatan pertama, pendekatan statik mengacu hasil riset kesan termal responden ruang iklim penelitian FO. Fanger era tahun 1970-an [Fanger, 1970], dan telah diadopsi menjadi standar baku kenyamanan termal pada ASHRAE 55 dan kemudian ISO 7730 dalam bentuk indeks termal PMV-PPD, dan juga kriteria lain yang belum dibakukan seperti ET*, SET*, DISC, TSENS, dan HSI. Alur penentuan indeks termal tersebut tertera pada Gambar 1. Berlawanan dengan pendekatan statik, pendekatan kedua, pendekatan adaptif menggunakan responden penghuni bangunan yang sebenarnya, yang telah beradaptasi dengan kondisi iklim sekitar. Riset kenyamanan termal adaptif pada dasarnya adalah upaya untuk mengetahui kenetralan termal (thermal neutrality) (diistilahkan dalam kuisioner penelitian ini sebagai KusA1), keterterimaan termal (thermal acceptability) (diistilahkan dengan KusA2), dan preferensi termal (thermal preference) (diistilahkan dengan KusA3) dari responden suatu hunian, serta pengkajian perilaku adaptif penghuni tersebut guna memperoleh kenyamanan termal dengan didukung sarana pasif yang ada pada bangunan tempat tinggalnya. Premis utama model adaptif adalah bahwa penghuni bangunan tidak dianggap sebagai penerima pasif lingkungan termal, seperti dalam kasus subyek eksperimental ruang iklim, tetapi sebaliknya, memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi yang disukai terkait lingkungan termalnya, dengan tiga jenis adaptasi, yakni: pengaturan perilaku, fisiologis, dan psikologis [de Dear, 1997 dan 1998].

Gambar 1 Alur Perhitungan Kenyamanan Termal Akhir-akhir ini kenyamanan termal adaptif kian dibicarakan karena permasalahan yang timbul akibat pemakaian energi yang berlebihan untuk kenyamanan termal bangunan. Pendekatan statik identik dengan kebutuhan akan mesin pengkondisian udara (airkon), yang juga berarti kebutuhan energi bangunan gedung yang besar (lebih 60% untuk mesin airkon). Pendekatan statik juga dituduh membuat arsitek kurang rajin untuk mengeksplorasi kenyamanan termal arsitektur tropis khas Indonesia, sebagaimana telah

diterapkan secara intensif pada khasanah arsitektur tradisional dan diadopsi oleh arsitektur kolonial. Menyadari kelemahan pendekatan statik tersebut, ASHRAE telah mempelopori kemungkinan penerapan standar kenyamanan adaptif (Adaptive Comfort Standard ACS) dengan memasukkannya pada ASHRAE 55 edisi 2004, sedangkan ISO masih belum sepenuhnya, hanya menyinggung sedikit pada ISO 7730 edisi 2005. ISO 7730 tidak menyertakan model adaptif ACS ini, tetapi mengungkap kemungkinan penerapannya pada bangunan ventilasi alami secara terbatas. Dalam ASHRAE 55 2004, standar ACS merupakan ketentuan pilihan untuk hunian berventilasi alami dan dikendalikan penghuni, di samping model PMV/PPD yang menjadi ketentuan utama. Model ACS ini dapat diterapkan untuk iklim dengan rata-rata suhu udara luar bulanan antara 10 33oC, dengan rentang keterterimaan termal 80% dan 90% yang masingmasing memiliki lebar 5oC dan 7oC. Persamaan model suhu nyaman (Tcomf) ACS ini adalah [Brager, 2001]: Tcomf = 0,31.Tdb,luar + 17,8 dengan Tdb,luar merupakan rata-rata suhu udara luar.

Gambar 2 Perbandingan Zona Kenyamanan Standar Kenyamanan Adaptif Ashrae 55 terhadap Zona Kenyamanan Statik PMV (Brager, 2006, hal. 9) Beberapa peneliti Indonesia telah coba mengkaji masalah ini, seperti Tri Harso Karyono (Karyono 2000, 2006), dengan responden bangunan perkantoran dan mahasiswa. Penulis pada makalah ini coba menyampaikan hasil pengamatan untuk responden penghuni bangunan lain, yakni bangunan rumah tinggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kenetralan, keterterimaan, dan preferensi kondisi termal responden bangunan berventilasi alami dan membandingkannya dengan perkiraan menurut standar dan model kenyamanan termal yang ada, baik adaptif maupun statik dari responden penghuni bangunan rumah tinggal berventilasi alami di kompleks perumahan yang ada di Bandung, Semarang, dan Bekasi. Pengukuran dilakukan antara bulan Agustus-September 2006 dan Bulan April 2007. Pada makalah ini hanya akan disampaikan hasil analisis statistik terkait tingkat kenetralan,

keterterimaan, dan preferensi kondisi termal responden. Hasil pengamatan perilaku adaptif responden tidak disampaikan pada makalah ini. II. 2.1 METODOLOGI PENELITIAN Metode Pengukuran Kesan Termal

Telah dilakukan pengukuran kesan termal responden penghuni bangunan yang teraklimatisasi dengan aktifitas santai mantap 1 -1,2 met (sebanyak 387 dari keseluruhan 689 data kesan termal). Pengukuran dilakukan mengikuti metode kelas II [de Dear, 1997, hal. 40], di mana seluruh variabel fisik lingkungan dalam ruangan (baik yang ditaksir yakni nilai clo pakaian dan besar kegiatan (met) maupun yang diukur, yakni Ta (Tdb dan Twb), Tglobe dan Va (untuk menghitung Tmrt), dan RH) yang diperlukan untuk menghitung indeks kenyamanan ET*, SET* dan PMV/PPD dikumpulkan pada waktu dan tempat bersamaan pengumpulan kuisioner. Pengukuran dilakukan pada ketinggian 0,6 m di atas lantai untuk mengukur ketinggian responden duduk. Alat-alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Sling Psikrometer merek Taylor-USA, dengan termometer air raksa baik Tdb maupun Twb dapat mengukur rentang 5 50oC, dengan skala satuan terkecil 1oC) sebanyak satu buah. Berdasarkan harga Tdb dan Twb hasil pembacaan sling psikrometer dihitung harga kelembaban nisbi RH dengan menggunakan alat hitung karta psikrometrik digital, yakni DesignTools Psychrometric Analyzer buatan McQuay. 2) Anemometer buatan Kanomax Nihon Kagaku Kogyo Co.Ltd Osaka Jepang, tipe Anemomaster model 6072, sensor hotwire tipe 3571, rentang 0 25 m/s sebanyak dua buah, untuk mengukur kecepatan angin Va (m/detik) luar ruangan dan dalam ruangan tempat responden kesan termal berada. 3) QUESTempo 34 Thermal Environment Monitor buatan Quest Technology USA, yang terdiri atas sensor Tglobe, Tdb, Twb, untuk mengukur dan menghitung besaran Tglobe, Tdb, dan Twb. Alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur WBGTi, WBGTo, RH, dan HI (Heat Index). Tglobe digunakan untuk menentukan Tmrt dengan menggunakan persamaan dari Belding [Givoni, 1963, bab 4] : Tmrt = Tglobe + 0,24Va0,5(Tglobe-Tdb) 4) Monogram suhu efektif untuk menghitung besar Te ruangan berdasarkan harga Tdb, Twb, dan Va. 5) Suhu operatif Top dihitung dengan persamaan: Top = ATdb + (1-A)Tmrt 6) di mana: A = 0,5 untuk Va < 0,2 m/det; A = 0,6 untuk 0,2 m/det < Va < 0,6m/det; dan A = 0,7 untuk 0,6 m/det < Va < 1,0 m/det

Perhitungan besaran indeks termal, yakni ET*, SET*, DISC, TSENS, HSI, dan juga PMV dan PPD dilakukan dengan perangkat lunak yang disediakan de Dear, yang bisa diakses pada alamat http://atmos.es.mq.edu.au/~rededear/pmv. 2.2 Prosedur Analisis Data

Analisis kesan termal terdiri atas uji kehomogenan, analisis deskriptif, analisis korelasi, analisis regresi, dan analisis keterterimaan kondisi termal. Uji kehomogenan meliputi uji parametrik (uji T dan One Way ANOVA) dan uji non parametrik (uji Mann-Whitney U) untuk menguji pengaruh musim, aklimatisasi responden, tingkat kegiatan, usia responden, dan jenis kelamin responden4. Analisis deskriptif dilakukan dengan perbandingan hasil rata-rata besaran termal ruangan (diwakili Top), rata-rata kesan termal (KusA1, KusA2, dan KusA3), dan indeks termal (ET*, SET*, TSENS, DISC, PMV, dan HSI). Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi KusA1 dengan besaran termal ruangan dan terhadap KusA2 dan KusA3. Analisis regresi terdiri atas regresi linier dan biner. Analisis regresi linieruntuk kenetralan termal (dari KusA1) dan analisis regresi biner untuk preferensi termal (KusA3), dan analisis regresi linier untuk melihat kepekaan termal (pengaruh perubahan KusA1 terhadap perubahan suhu operatif). Hasil diperbandingkan dengan standar adaptif maupun model statik. Analisis kenetralan dan kepekaan termal dilakukan dengan melakukan analisis regresi terhadap hasil jawaban kuisioner kesan termal (KusA1): (KusA1) Mohon Saudara beri tanda (V) pada skala di bawah ini yang menggambarkan kesan termal Saudara terhadap ruangan ini : (Jika diinginkan boleh memberi tanda di antara dua skala) I_________I_________I_________I__________I_________I_________I -3 -2 -1 0 1 2 3 Dingin Sejuk Agak Sejuk Netral Agak Hangat Hangat Panas Analisis regresi dilakukan terhadap hasil besaran fisik dan indeks termal yang telah diperoleh dari hasil pengukuran dan perhitungan, mencakup besaran utama Tdb, Top, Tmrt, ET*, SET*, DISC, TSENS, PMV, dan HSI. Dengan analisis regresi ini akan diperoleh harga kenetralan kondisi termal reeponden. Analisis kepekaan termal dilakukan dengan prosedur yang sama, tetapi terhadap harga rata-rata besaran termal pada rentang tertentu besaran suhu (sebagai acuan standar dipilih Top). Jadi di sini merupakan hasil jawaban responden rata-rata, bukan jawaban personal responden, untuk dilihat kekuatan keterkaitan dan kepekaannya terhadap perubahan termperatur. Analisis keterterimaan kondisi termal dilakukan terhadap hasil jawaban kuisioner keterterimaan kondisi termal (KusA2):
4

Analisis lengkap dapat dilihat pada Sujatmiko [2007]. Pada makalah ini hanya disampaikan hasil kesan termal pada responden yang teraklimatisasi mantap (aktifitas 1-1,2 met).

(KusA2) Menurut Saudara, kondisi termal ruangan ini sudah sesuai/cocok dengan kondisi tubuh Saudara? Ya (dapat diterima/sudah sesuai) Tidak (tidak dapat diterima/tidak sesuai) Analisis keterterimaan kondisi termal dilakukan dengan memplot persentase rata-rata jawaban responden pada bin tertentu suhu operatif. Analisis preferensi kondisi termal dilakukan dengan menganalisis hasil kesan termal terkait KusA3, yakni: (KusA3) Silakan pilih lingkaran di bawah ini sesuai dengan yang Saudara harapkan saat ini: Saya ingin ruangan ini menjadi : 3 lebih hangat 2 tidak berubah / tetap 1 lebih sejuk Hasil dari kenetralan, kepekaan, penerimaan, dan preferensi kondisi termal tersebut diperbandingkan terhadap kelompok responden teraklimatisasi dan tidak teraklimatisasi yang diteliti pada percobaan ini untuk melihat pengaruh aklimatisasi tersebut. III. HASIL

Hasil analisis korelasi memperlihatkan hasil signifikan antara KusA1 terhadap besaran luar ruangan Tdb, dalam ruangan Tdb, Tglobe, RH, dan Top. Tidak signifikan korelasi KusA1 dengan kecepatan udara ruangan Va. Korelasi antara KusA1 terhadap KusA2 dan KusA3 signifikan. Hasil analisis regresi antara KusA1 dengan besaran fisik termal ruangan dan hasil indeks kenyamanan termal menunjukkan hasil yang signifikan. Berdasarkan data hasil analisis regresi dapat dihitung persamaan kenetralan kondisi termal seperti tertera pada Tabel 1. Selanjutnya pada Tabel 2 disampaikan hasil perhitungan kenetralan kondisi termal, preferensi kondisi termal, dan selisih semantik termal. Tabel 1 Hasil Perhitungan Kenetralan Responden No 1 2 3 4 5 6 7 Besaran Fisik Luar Tdb Dlm Tdb Dlm Top ET* SET* DISC TSENS Jumlah Data 358 387 387 387 387 387 387 Persamaan Regresi Kesan Termal (KT = Kesan Termal) KT = 0,374.Tdb 10,249 KT = 0,461.Tdb 12,659 KT = 0,456.Top 12,607 KT = 0,416 .ET* 12,273 KT = 0,345 SET* 10,436 KT = 0,952. DISC 1,692 KT = 2,504.TSENS 2,656 Harga Koef. Regresi R 0,563 0,618 0,614 0,628 0,565 0,542 0,627

8 9

PMV HSI

387 387

KT = 1,576. PMV 1,766 KT = 0,044.HSI 2,027

0,637 0,505

Tabel 2 Hasil Perhitungan Selisih Semantik Responden Besaran Luar Tdb Dlm Tdb Dlm Top ET* SET* DISC TSENS PMV HSI Kenetralan (N) 27,1 27,3 27,4 29,4 30,1 1,7 1,1 1,1 44,8 Preferensi (P) 24,5 25,3 25,5 27,3 27,2 0,8 0,7 0,5 25 Selisih (S) 2,6 2 1,9 2,1 2,9 0,9 0,4 0,6 19,8

Hasil analisis kepekaan memperlihatkan sebagai berikut: 1. Diperoleh persamaan: Rata-rata DISC = 0,265 x Rata-rata Top - 5,591, dengan R = 0,929. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 1,377 x Rata-rata DISC 2,347. 2. Diperoleh persamaan: Rata-rata TSENS = 0,158 x Rata-rata Top - 3,361, dengan R = 0,978. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 2,569 x Rata-rata TSENS 2,614. 3. Diperoleh persamaan: Rata-rata PMV = 0,284 x Rata-rata Top - 6,759, dengan R = 0,986. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 1,432 x Rata-rata PMV 1,584. 4. Diperoleh persamaan: Rata-rata KusA1 = 0,419 x Rata-rata Top 11,612, dengan R = 0,964. 5. Diperoleh persamaan: Rata-rata HSI = 4,611 x Rata-rata Top - 81,663, dengan R = 0,898. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,074 x Rata-rata HSI -3,319, dengan R = 0,873. Hasil perhitungan diagram pencar antara rata-rata ET* dan SET* terhadap rata-rata suhu operatif ruangan Top diperoleh persamaan: Rata-rata ET* = 0,994 x Rata-rata Top + 1,754, dengan R = 0,984. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,410 x Ratarata ET -12,003, dengan R = 0,953. Untuk SET* diperoleh persamaan: Rata-rata SET* = 0,791 x Rata-rata Top + 7,910, dengan R = 0,918. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,460 x Rata-rata ET -13,645. Analisis keterterimaan kondisi termal dilakukan terhadap pilihan atau jawaban responden terkait pertanyaan pada kuisioner KusA2. Terlihat rentang keterterimaan kondisi termal 80% antara 22,8 30,2 oC suhu operatif dan dalam skala ET* adalah 23,4 32,3 oC seperti tertera pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Keterterimaan kondisi termal responden teraklimatisasi gabungan - berkegiatan 1-1,2 met


100% 90% 80% 70%

Persentase

60% 50% 40% Menerima 30% 20% 10% 0%


22.8 23.7 24.9 25.4 25.9 26.3 26.9 27.3 27.9 28.4 28.9 29.4 29.9 30.2 30.7 31.3 31.8 32.4 32.8 33.3 34.0 34.3 34.7
o

Tidak Menerima

Rata-rata suhu operatif Top ( C)

Gambar 3 Persentase Keterterimaan Kondisi Termal Responden Terkait Dengan Rata-Rata Top (oC) Ruangan
Keterterimaan kondisi termal responden teraklimatisasi gabungan - berkegiatan 1-1,2 met
100% 90% 80% 70%

Persentase

60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 23.4 24.3 25.5 26.7 27.5 28.7 29.5 30.6 31.5 32.3
o

35.6

Tidak Menerima Menerima

33.7

34.7

35.5

36.5

37.1

Rata-rata suhu efektif ET* ( C)

Gambar 4 Persentase Keterterimaan Kondisi Termal Responden Terkait Dengan Rata-Rata ET* (oC) Ruangan

IV.

PEMBAHASAN

Di atas telah disampaikan hasil perhitungan statistik untuk melihat apakah terdapat perbedaan antara hasil perkiraan model statik rata-rata DISC, TSENS, PMV dengan KusA1 yang merupakan pilihan aktual kesan termal responden. 1. Diperoleh persamaan: Rata-rata DISC = 0,265 x Rata-rata Top - 5,591, dengan R = 0,929. Dengan demikian menurut perkiraan model statik DISC ini, untuk DISC

2.

3.

4.

5.

= 0 akan terjadi pada Top = 21,1 oC. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 1,377 x Rata-rata DISC - 2,347, berarti kondisi netral pada DISC = 1,7 (sama dengan hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 1,7 dengan kondisi preferensi 0,76), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,5 dan 23,97 oC. Dengan demikian perkiraan model statik terlalu rendah. Diperoleh persamaan: Rata-rata TSENS = 0,158 x Rata-rata Top - 3,361, dengan R = 0,978. Dengan demikian menurut perkiraan model statik TSENS ini, untuk TSENS = 0 akan terjadi pada Top = 21,27 oC. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 2,569 x Rata-rata TSENS - 2,614, berarti kondisi netral pada TSENS = 1,02 (hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 1,05 dengan kondisi preferensi 0,68), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,9 dan 25,6 oC. Dengan demikian perkiraan model statik terlalu rendah. Diperoleh persamaan: Rata-rata PMV = 0,284 x Rata-rata Top - 6,759, dengan R = 0,986. Dengan demikian menurut perkiraan model statik PMV ini, untuk PMV = 0 akan terjadi pada Top = 23,8 oC. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 1,432 x Rata-rata PMV - 1,584, berarti kondisi netral pada PMV = 1,11 (sama dengan hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 1,11 dengan kondisi preferensi 0,52), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,7 dan 25,6 oC. Dengan demikian perkiraan model statik terlalu rendah. Diperoleh persamaan: Rata-rata KusA1 = 0,419 x Rata-rata Top 11,612, dengan R = 0,964. Dengan demikian kesan termal responden KusA1 = 0 akan terjadi pada Top = 27,7 oC. Dengan demikian terdapat perbedaan persamaan regresi antara rata-rata DISC, TSENS, PMV, yang merupakan model statik perkiraan kondisi termal dan KusA1 yang merupakan pilihan aktual kesan termal responden. Selanjutnya juga telah dilakukan analisis terhadap hasil perkiraan HSI. Diperoleh persamaan: Rata-rata HSI = 4,611 x Rata-rata Top - 81,663, dengan R = 0,898. Dengan demikian menurut perkiraan model statik HSI, untuk HSI = 0 akan terjadi pada Top = 17,71 oC. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,074 x Ratarata HSI - 3,319, dengan R = 0,873, berarti kondisi netral pada HSI = 44,85 (hampir sama dengan hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 44,83 dengan kondisi preferensi 24,97), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,4 dan 23,2 oC. Dengan demikian perkiraan model statik terlalu rendah.

Untuk ET* diperoleh persamaan: Rata-rata ET* = 0,994 x Rata-rata Top + 1,754, dengan R = 0,984. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,410 x Rata-rata ET - 12,003, dengan R = 0,953, berarti kondisi netral pada ET = 29,3 oC (hampir sama dengan hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 29,4 oC dengan kondisi

preferensi 27,2 oC), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,8 dan 25,6 oC. Untuk SET* diperoleh persamaan: Rata-rata SET* = 0,791 x Rata-rata Top + 7,910, dengan R = 0,918. Persamaan lain adalah Rata-rata KusA1 = 0,460 x Rata-rata ET - 13,645, dengan R = 0,911, berarti kondisi netral pada SET = 29,67 oC (lebih rendah dari hasil persamaan regresi kenetralan bukan rata-rata sebesar 30,12 oC dengan kondisi preferensi 27,24 oC), atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top 27,5 dan 24,4 oC. Hasil perbandingan antara kondisi terukur Tdb dan Top dengan suhu kenyamanan menurut standar kenyamanan adaptif ASHRAE dalam satuan suhu operatif tertera pada Gambar 5. Terlihat kondisi pengukuran berada pada rentang suhu yang lebih tinggi dari perkiraan kenyamanan atau kenetralan kondisi termal menurut model adaptif ASHRAE 55-2004.
Perbandingan hasil pengukuran rata-rata suhu operatif ruangan terhadap standar kenyamanan
37.0 35.0

Besar suhu rata-rata ( oC)

33.0 31.0 29.0 27.0 25.0 23.0 21.0 22.8 23.7 24.9 25.4 25.9 26.3 26.9 27.3 27.9 28.4 28.9 29.4 29.9 30.2 30.7 31.3 31.8 32.4 32.8 33.3 34.0 34.3 34.7 35.6

Dlm Top Dlm Tdb Tn ACS ASHRAE

Rata-rata suhu operatif ruangan ( C)

Gambar 5 Perbandingan Antara Kondisi Tdb dan Top Ruangan dengan Besar Suhu Kenyamanan Adaptif Menurut Standar Adaptif ASHRAE 55 2004 Pada Gambar 6 diperlihatkan rentang rata-rata suhu operatif ruangan responden yang terukur pada penelitian ini, dari 22,8oC sampai 35,6oC. Pada rentang tersebut digambarkan pula zona kenyamanan termal 80% menurut standar adaptif ASHRAE 55. Standar ASHRAE didasarkan hasil regresi untuk rentang suhu operatif 10 33oC. Berarti suhu pengukuran dari 22,8oC sampai 35,6oC batas atasnya melampaui rentang regresi persamaan adaptif ASHRAE tersebut. Apabila diambil tingkat kenyamanan 80% atau 3,5oC, maka daerah zona nyaman menurut ASHRAE adalah pada batas bawah pengukuran 22,8oC suhu nyamannya adalah 24,87oC dengan rentang 21,37 28,37oC dan batas atas dipakai batas atas ASHRAE, yakni 33oC dengan suhu nyamannya 28,03oC dengan rentang 24,53oC 31,53oC. Kalau diperbandingkan hasil ini dengan hasil analisis penerimaan kondisi termal ruangan sebelum ini, yakni pada rentang 22,8 30,1oC maka hasil pengukuran ini sesuai dengan perkiraan ASHRAE dengan tingkat kenyamanan 80%. Di atas 30,1, yakni pada rata-rata 30,6oC ke atas responden yang tidak menerima mulai lebih dari 20%.

Perbandingan hasil pengukuran rata-rata suhu operatif ruangan terhadap standar kenyamanan
37.0 35.0

Besar suhu rata-rata ( oC)

33.0 31.0 29.0 27.0 25.0 23.0 21.0 22.8 23.7 24.9 25.4 25.9 26.3 26.9 27.3 27.9 28.4 28.9 29.4 29.9 30.2 30.7 31.3 31.8 32.4 32.8 33.3 34.0 34.3 34.7 35.6

Dlm Top Dlm Tdb Tn ACS ASHRAE

Rata-rata suhu operatif ruangan (oC)

Gambar 6 Perbandingan Antara Kondisi Tdb dan Top Ruangan Dengan Besar Rentang Suhu Kenyamanan Adaptif 80% Menurut Standar Adaptif ASHRAE 55 2004 Pada Gambar 7 dengan skala sumbu horizontal adalah ET* diperbandingkan suhu Tdb dan Top ruangan dengan perkiraan kenyamanan atau kenetralan kondisi termal menurut model adaptif dan model statik PMV. Terlihat kondisi ruangan pengukuran naik melebihi temperatur kenetralan baik menurut adaptif maupun model statik PMV. Pada Gambar 8 disampaikan zona kenyamanan 80% dengan skala sumbu horizontal dalam ET*. Skala ET* dipakai oleh RP 884 yang mendasari model adaptif Standar ASHRAE 55 2004. Terlihat harga Tdb dan Top hasil pengukuran beririsan dengan zona nyaman pada batas atas sekitar ET* = 32,3 oC. Jika diperbandingkan dengan hasil analisis rentang keterterimaan kondisi termal, maka rentang ET* 23,4 32,3 oC sesuai sesuai perkiraan model adaptif ASHRAE.
Perbandingan hasil pengukuran rata-rata suhu efektif ET* ruangan terhadap standar kenyamanan
35.0

33.0

Besar suhu rata-rata ( C)

31.0

Dlm Top Dlm Tdb Tn Adaptif Tn PMV

29.0

27.0

25.0

23.0

21.0 23.4 24.3 25.5 26.7 27.5 28.7 29.5 30.6 31.5 32.3
o

33.7

34.7

35.5

36.5

37.1

Rata-rata suhu efektif ET* ruangan ( C)

Gambar 7 Perbandingan Antara Suhu Efektif Tdb dan Top Ruangan Dengan Besar Suhu Kenyamanan Adaptif Dan Perkiraan Suhu Kenetralan Termal Menurut PMV

Perbandingan hasil pengukuran rata-rata suhu efektif ET* ruangan terhadap standar kenyamanan
35.0

33.0

Besar suhu rata-rata ( C)

31.0

Dlm Top Dlm Tdb Tn Adaptif Tn PMV

29.0

27.0

25.0

23.0

21.0 23.4 24.3 25.5 26.7 27.5 28.7 29.5 30.6 31.5 32.3
o

33.7

34.7

35.5

36.5

37.1

Rata-rata suhu efektif ET* ruangan ( C)

Gambar 8 Perbandingan Antara Kondisi Tdb dan Top Ruangan Dengan Besar Suhu Kenyamanan Adaptif 80% Dan Perkiraan Suhu Netral Menurut PMV V. 5.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Perbandingan perkiraan model statik DISC, PMV, dan TSENS terhadap pilihan nyata responden KusA1 (kenetralan kondisi termal) dan KusA2 (preferensi kondisi termal) menunjukkan bahwa rata rata perkiraan model statik lebih besar dari pilihan nyata responden. Kenetralan dan preferensi kondisi termal reponden berada pada harga temperatur operatif yang lebih tinggi dari perkiraan model statik, sebagai berikut: 1. Kenetralan kondisi termal pilihan nyata responden KusA1 = 0 terjadi pada Top = 27,7oC, sedangkan perkiraan DISC = 0 terjadi pada Top = 21,1 oC, TSENS = 0 akan terjadi pada Top = 21,3oC, PMV = 0 akan terjadi pada Top = 23,8oC. 2. Kenetralan menurut perkiraan HSI akan terjadi pada Top = 17,7oC. Menurut hasil pilihan nyata terjadi pada kenetralan Top 27,4 dan preferensi 23,2oC. 3. Pilihan nyata kondisi netral terjadi pada ET* = 29,3oC dan preferensi terjadi pada ET* = 27,2oC atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top = 27,8 dan 25,6oC. 4. Pilihan nyata kondisi netral terjadi pada SET* = 29,7oC dan preferensi terjadi pada SET* = 27,2oC, atau berarti kondisi netral dan preferensi berturut-turut dicapai pada harga Top = 27,5 dan 24,4oC. Hasil persamaan regresi kenetralan kondisi termal dan besar kenetralan dan preferensi kondisi termal tertera pada Tabel 1 dan Tabel 2. Hasil perhitungan kenetralan dan preferensi kondisi termal pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kondisi kenetralan dan preferensi kondisi termal merupakan kondisi yang berbeda. Dengan demikian, untuk menyatakan kenyamanan termal, perlu dibedakan antara kedua kondisi tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kondisi kenetralan selalu lebih tinggi dari kondisi preferensi, berarti terdapat harga selisih yang positif, yang berarti responden

menginginkan kondisi yang lebih dingin dari kondisi netral. Untuk kondisi Indonesia, dengan memperbandingkan hasil studi peneliti lain, kondisi yang lebih sesuai untuk menyatakan kenyamanan termal adalah kondisi preferensi kondisi termal. Rentang temperatur yang dapat diterima adalah Top = 22,8 30,2oC dan ET* = 23,4 32,3oC. Hasil ini sesuai dengan perkiraan kenyamanan 80% menurut model adaptif ASHRAE 55. 5.2 Saran

Hasil penelitian ini dan juga penelitian lain yang ada di Indonesia kiranya dapat menjadi pertimbangan kemungkinan penerapan standar kenyamanan termal adaptif di Indonesia guna menunjang upaya penghematan energy di bangunan gedung. VI.
ADu Clo RH Tcomf Tdb

DAFTAR ISTILAH DAN SIMBOL


: luas permukaan responden atau dikenal sebagai luasan DuBois (m2), dihitung dengan persamaan (3.2) nilai insulasi pakaian kelembaban nisbi (%) suhu kenyamanan (oC) suhu bola kering (oC) suhu bola hitam / suhu globe (oC) suhu radian rata-rata (oC) suhu kenetralan termal (oC) suhu operatif (oC), menggabungkan pengaruh Tdb dan Tmrt, dihitung dengan persamaan (2.2) suhu bola kering (oC) kecepatan angin (m/dt)

: : : :

Tglobe :
Tmrt Tn Top Twb Va : : :

: :

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. ASHRAE 55, 2005, Thermal Comfort, class notes for energy and environtment 1 at the University of Strathclyde, April 19, 2005, http://www.esru.strath.ac.uk ASHRAE Handbooks CD edisi 1997 Bagian Fundamental, Bab 8, Thermal Comfort

3.

ASHRAE STANDARD 55 2003, Thermal Environmental Conditions for Human Occupancy, American Society of Heating, Refrigeration and Air-Conditioning Engineers, Inc., Atlanta,May 16, 2005, http://www.ashrae.org ASHRAE Standard 55, edisi draft 2003, Thermal Environmental Conditions for Human Occupancy Brager, G.S., 2006, Comfort in buildings with operable windows, AIA Convention 2006, FR10 HVAC vs. Mother Nature: Operable windows in commercial buildings, http://repositories.cdlib.org/cedr/cbe/ieq/ AIAConvention2006_FR10 (15 Januari 2007) Brager, G.S., and R. de Dear, 2001, Climate, comfort, and natural ventilation: a new adaptive comfort standard for ASHRAE Standard 55, Proceedings: Moving Thermal Comfort Standards into the 21st Century, Page 1, Oxford Brookes University, Windsor, UK, April 2001, http://repositories.cdlib.org/cedr/cbe/ieq/Brager2001Windsor AdaptiveComfort (15 Januari 2007) Cena, K., dan R. De Dear, 1998, Field Study of Occupant Comfort and Office Thermal Environments in a Hot-Arid Climate, Final Report ASHRAE RP-921 de Dear, R. , 2004, Thermal Comfort in Practice, Indoor Air 2004 : 14 (Suppl 7): 32 39 de Dear, R., and G. Brager, 1998, Developing an Adaptive Model of Thermal Comfort and Preference, ASHRAE Transactions: Research vol. 104 PT 14 (4106RP-884), hal 145-167 de Dear, R., G. Brager, D. Cooper, 1997, Developing an Adaptive Model of Thermal Comfort and Preference, Final Report ASHRAE RP-884 Fanger, P.O., 1970, Thermal Comfort, analysis and applications in environmental engineering, Danish Technical Press-Copenhagen Heather Chappells dan Elizabeth Shove, 2004, Comfort : A review of philosophies and paradigms ISO 7730, 2005, Ergonomics of the thermal environment analytical determination and interpretation of thermal comfort using calculation of the PMV and PPD indices and localthermal comfort criteria, ISO Karyono, T.H., 2000, Report on thermal comfort and building energy studies in Jakarta Indonesia, Building and Environment 35 (2000) 77 90 Karyono, T.H., S. Wonohardjo, F.X.N. Soelami, W. Hendradjit, 2005, Report on thermal comfort study in Bandung, Indonesia., to be publish Nicol,J.F., 2005, Thermal Comfort, www.learn.londonmet.ac.uk/about/papers.shtml

4. 5.

6.

7. 8. 9.

10. 11. 12. 13.

14. 15. 16.

17. 18.

Nicol, J.F., and M.A. Humphreys, 2002, Adaptive thermal comfort and sustainable thermal standards for buildings, www.learn.londonmet.ac.uk/about/papers.shtml Nicol, J.F., and M.A. Humphreys, 2002, Adaptive thermal comfort and sustainable thermal standards for buildings, www.learn.londonmet.ac.uk/ about/papers.shtml Alami di Indonesia, Tesis Program Magister Teknik Fisika ITB

19. Sujatmiko, W., 2007, Studi Kenyamanan Termal Adaptif pada Hunian Berventilasi