Anda di halaman 1dari 7

Mazhab Hukum Alam (Naturalisme Atau Hukum Kodrat)

Sebagian besar filsuf meyakini bahwa terdapat asas-asas tertentu yang sifatnya lebih tinggi dan lebih superior ketimbang hukum buatan manusia atau negara. Inilah yang dinamakan Hukum Alam. Dalam menanggapi hal ini banyak pendapat oleh pakar-pakarnya namun secara keseluruhan mempunyai satu tema sentral yaitu ada asas moral yang eksis, yang diterapkan oleh alam yang dapat diketahui oleh manusia dengan penggunaan intuisi atau penalaran. Salah satu pemikiran hukum alam yang khas adalah tidak dipisahkannya secara tegas antara hukum dan moral. Berbeda halnya dengan kaum positivistis yang secara sangat tegas membedakan antara moral dan hukum. Penganut hukum alam memandang hukum dan moral sebagai pencerminan dan pengaturan secara internal dan eksternal dari kehidupan perhubungannya sesama manusia. Dalam berbicara tentang hukum alam akan ada banyak sekali pendapat, tetapi diantara itu semua kita dapat menangkap beberapa pandangan umum yang dapat kita namakan sebagai pokokpokok pikiran hukum alam. Pemahaman hukum tentang apa yang dimaksud sebagai hukum adalah: A. B. C. D. Hukum itu tidak dibuat oleh manusia ataupun negara, tetapi ditetapkan oleh alam. Hukum itu bersifat unviversal Hukum berlaku abadi Hukum tidak dapat dipisahkan dari moral

Di zaman modern ini, pemikiran-pemikiran tentang hukum alam kembali diminati dan dijadikan acuan. Namun untuk penggunaan ajaran hukum alam diabad ke-21 ini, terlebih dahulu kita membedakan antara hukum alam sebagai substansi dan hukum alam sebagai metode. A. Hukum alam sebagai metode, yaitu usaha menciptakan aturan-aturan yang mampu untuk menghadapi keadaan yang berbeda-beda. Ia tidak mengandung kaidah, tetapi ia hanya mengajarkan bagaiman membuat aturan yang baik. Hukum alam sebagai metode merupakan ciri hukum alam padma sebelum abad ke-17 B. Hukum alam sebagai substansi, yaitu hukum alam yang memuat kaidah-kaidah. Ia menciptakan sejumlah besar aturan-aturan yang dilahirkan dari beberapa asas yang absolut sifatnya, lazim dikenal sebagai 'hak asasi manusia'. Hukum alam sebagai substansi merupakan ciri hukum alam pada abad ke-17 dan ke-18.

Legal Positivisme (positivisme hukum)


Positivisme hukum membedakan secara tajam antara: what it is for a norm to exist as a valid law standard dengan what it is for a norm to exist as a valid moral standard (baca: Roger A. Shiner, dalam Dennis Patterson, 1999). Jadi positivisme secara tegas membedakan

antara apa yang membuat suatu norma menjadi eksis sebagai suatu standar hukum yang valid dan apa yang membuat suatu norma menjadi eksis sebagai suatu standar moral yang valid. John Austin (1790-1859) ditempatkan sebagai the founding father of legal positivism. John Austin dikenal sebagai pakar hukum paling terkemuka diawal abad ke-19. Pemikirannya berfokus pada hukum dalam hubungannya dengan perilaku manusia. Menurut eksponen utama positivisme hukum, John Austin : law is command set, either directly or circuitously, by a sovereign individual or body, to a member or members of some independent political society in which his authority is supreme". Jadi, hukum adalah seperangkat perintah, baik langsung ataupun tidak langsung, dari pihak yang berkuasa kepada warga masyarakatnya yang merupakan masyarakat politik yang independen, dimana otoritasnya (pihak yang berkuasa) merupakan otoritas tertinggi. Ada juga eksponen positivisme lain yaitu Hans Kelsen yang mengemukakan bahwa: "Law is a coercive order of human behavior, it is the primary norm which stipulates the sanction". (Hukum adalah suatu perintah memaksa terhadap perilaku manusia. Hukum adalah kaidah primer yang menetapkan sanksi-sanksi). Hans Kelsen terkenal dengan konsep hukum murninya (reine rechtslehre, the pure theory of law), yang ingin membersihkan ilmu hukum dari semua yang sifatnya non hukum, seperti kultur, moral, politik, sosiologis, dan sebagainya. Karakter positivis dari Hans Kelsen, sangat "kental" dalam tiga ajarannya yang utama, yang sangat menekankan pengakuannya hanya pada eksistensi hukum positif. Ada tiga ajaran utama dari Hans Kelsen, yaitu: A. Ajaran hukum murni (reine rechtslehre) B. Ajaran tentang grundnorm C. Ajaran tentang Stufenbautheorie (i) Ajaran Hukum Murni ( Reine Rechtslehre) Hans Kelsen ingin membersihkan ilmu hukum dari anasir-anasir yang sifatnya non hukum, seperti kultur, moral, politik, sosiologis, dan sebagainya. Kelsen menentang jika maslah keadilan dicampuradukkan dengan pembahasan dalam ilmu hukum. Baginya, keadilan adalah masalah ideologi yang ideal- rasional. Ia hanya ingin menerima hukum apa adanya, yaitu berupa peraturan-peraturan yang dibuat dan diakui oleh negara. Dalam kaitan dengan ajaran hukum murninya, Hans Kelsen membedakan norma ke dalam dua jenis: A. The moral norm B. The legal norm (ii) Ajaran tentang Grundnorm Hans Kelsen mengajarkan adanya grundnorm yang merupakan induk yang melahirkan peraturan-peraturan hukum dalam suatu tatanan sistem hukum tertentu. Grundnorm ibarat bahan

bakar yang menggerakkan seluruh sistem hukum. Grundnorm memiliki fungsi sebagai dasar mengapa hukum itu ditaati dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan hukum. (iii)Ajaran tentang Stufenbautheorie Peraturan hukum keseluruhannya diturunkan dari norma dasar yang berada dipuncak piramida, dan semakin ke bawah semakin beragam dan menyebar. Norma dasar teratas adalah bersifat abstrak dan semakin ke bawah semakin konkret. Dalam proses itu, apa yang semula berupa sesuatu yang "seharusnya", berubah menjadi sesuatu yang " dapat" dilakukan. Jadi, pemikiran positivisme hukum adalah sikapnya terhadap persoalan hukum yang "is" (yang ada) dan hukum yang "ought" ( yang seharusnya ada). Istilah "ought" ini mengacu pada apa yang mungkin terjadi sebagai suatu kemungkinan (probabilitas) fisik, atau dapat digunakan sebagai suatu" keharusan moral". Jadi bagi kaum positivis, hukum dipahami sebagai berikut: A. Hukum adalah seperangkat perintah, B. Yang dibuat oleh penguasa tertinggi (negara), C. Ditujukan kepada warga masyarakat. D. Hukum berlaku lokal (dalam yurisdiksi negara pembuatnya). E. Hukum harus dipisahkan dari moralitas. F. Selalu tersedia sanksi eksternal bagi pelanggar hukum. Eksponen terkemuka lain postivisme adalah Herbert Lionel Adolphus Hart (19071992). Ia memandang hukum sebagai terdiri dari aturan-aturan. Aturan-aturan itu dibedakan ke dalam dua jenis yaitu aturan primer dan aturan sekunder. Didalam mendefinisikan positivisme hukum tidak dapat ditemukan kepersisan pendapat oleh pakar-pakarnya, setiap pakar mempunyai pendapatnya masing-masing. Positivisme hukum lahir dari teori-teori hukum alam dengan menekankan peran pranata-pranata manusia dalam menentukan hukum. Salmond (1996) memperbaiki uraian Austin tentang sifat hukum dan sangat memodifikasi pendekatan positivisme itu. Salmond mendefinisikan hukum sebagai: "the body of principles recognized and applied by the state in the administration of justice". (Sekumpulan asas-asas yang diakui dan diterapkan oleh negara melalui pengadilan). Definisi hukum dari Austin mengandung dua cacat utama, yaitu: 1. Ia tidak menghubungkan hukum dengan tujuannya, seperti pelaksanaan hak dan keadilan. 2. Ia lupa mencakup suatu jenis yang luas dari hukum, yang tidak dipikirkannya dalam sifat hukum yang hanya sebagai perintah. Tetapi ternyata pandangan Salmond pun tetap mendapat banyak kritikan walaupun teorinya diterima secara luas tetapi telah dikritik dengan beberapa tuduhan. Selain kecaman yang didapat oleh Salmond, ternyata ada lagi kaum positivis lain yang juga mendapat banyak kritikan yaitu Lon L. Fuller. Ia mengemukakan bahwa undang-undang

adalah produk usaha manusia, dan bahwa kita menghadapi risiko absurditas jika kita mencoba untuk mendeskripsikan hukum dengan mengabaikan tujuan-tujuan dari mereka yang membuat atau mengadakan hukum itu. Inilah yang banyak mendapat kritikan. Akhirnya, Ronald Dworkin menanggapi hukum alam, dan Hart, dengan memperkenaalkan konsepsinya sendiri tentang hukum dan moralitas.

Legal Utilitarisme (utilitarisme hukum)


Aliran utilitaris ini di pelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832), seorang filsuf ekonomi,juris, dan reformer hukum. Bentham mampu menenun dari "benang prinsip kemanfaatan" menjadi"permadani" doktrin etika dan ilmu hukum yang luas dan yang dikenal sebagai utilitarisme.Ia berpendapat bahwa hukum barulah dapat diakui sebagai hukum jika ia memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya terhadap sebanyak-banyaknya orang. Baginya, tujuan perundang-undangan adalah untuk menghasilkan kebahagiaan bagi masyarakat. Untuk itu perundang-undangan harus berusaha untuk mencapai empat tujuan: A. To provide subsistence (untuk memberi nafkah hidup). B. To provide abundance untuk memberikan makanan yang berlimpah). C. To provide security (untuk memberikan perlindungan). D. To attain equility (untuk mencapai persamaan). Menurut Bentham, para pembuat undang-undang dalam menyusun undang-undang, harus melibatkan penemuan sarana-sarana untuk mewujudkan"kebaikan". Dan harus mengingat bahwa yang harus di cegah adalah "keburukan" atau "kejahatan". John Stuart Mill adalah salah satu tokoh lain dari utilitarisme, inti dari ajarannya adalah: "Action are right in proportion as they tend to promote man's happiness, and wrong as they tend to promote the reverse of happiness." (Tindakan itu hendaknya ditujukan terhadap pencapaian kebahagiaan, dan aadalah keliru jika ia menghasilkan sesuatu yang merupakan kebalikan dari kebahagiaan).

Formalisme hukum
Pemikiran formalisme hukum adalah menganggap hukum sekadar ketaatan terhadap undang-undang. Jadi, hukum diidentikkan dengan perundang-undangan saja. Ernest J. Weinrib (Dennis Patterson, 1999: 332) menyatakan bahwa formalisme menggambarkan keinginan akan ketaattan yang berlebihan terhadap undang-undang: "to be an immanently intelligible normative practice" (Weinrib, 1988,1995: 1-55). Jadi formalisme adalah suatu teori tentang justifikasi hukum. Sebagai sudatu teori tentang justifikasi, formalisme memandang hukum tidak semata-mata sebagai suatu koleksi posited norms (norma-norma yang telah ditetapkan) atau suatu pelaksanaan kekuasaan resmi, melainkan a social arrangement (suatu pengaturan sosial) yang merupakan respons terhadap argumentasi moral (moral argument).

Kita pun telah menyadari betapa abstrak dan luasnya hukum itu, sehingga untuk pembahasan makna atau definisinya saja, tak pernah tuntas dari abad ke abad, meskipun sederetan panjang pakar-pakar hukum maupun pakar ilmu lain telah cukup serius membahasnya.

Legal historisme (Mazhab Historis Hukum)


Pelopor aliran historis adalah Karl von Savigny (1799-1861) dan Maine (1822-1888). Savigny adalah seorang negarawan dan sejarawan Prussia, yang mengupayakan pemahaman tentang hukum melalui penyelidikan tentang volkgeist atau the soul of people (jiwa rakyat). Istilah volkgeist sendiri diperkenalkan pertama kali oleh murid Savigny, yaitu G. Puchta. G. Puchta mengemukakan bahwa: "Law grows with the growth, and strenghthens with the strength of the people, and finally dies away as the nation loses its nationalty". (Hukum itu tumbuh bersama-bersama dengan pertumbuhan rakyat, dan menjadi kuat bersama-sama dengan kekuatan dari rakyat, dan pada akhirnya ia mati jika bangsa itu kehilangan kebangsaannya). Diakui oleh Savigny bahwa pengetahuan tentang hukum-hukum kuno itu merupakan syarat penting untuk mempelajari sejarah, pengetahuan tentang hukum-hukum kuno itu merupakan dasar yang tidak dapat ditinggalkan untuk mempelajari sejarah hukum, namun andaikata diatas fondasi tersebut tidak didirikan suatu gedung, maka kesemuanya itu menjadi tak ada gunanya. Bagi penganut historisme, oleh karen hukum itu tumbuh dan berkembang, maka berarti ada hubungan yang terus menerus antara sistem yang ada kini dengan yang ada dimasa silam. Dan oleh karen itu, hukum yang ada kini mengalir dari hukum yang ada sebelumnya atau hukum yang ada dizaman lampau. Dan selanjutnya hal itu mengandung makna bahwa hukum yang ada kini, dibentuk oleh proses-proses yang berlangsung pada masa lampau. Adapun definisi hukum menurut Savigny: "All law is originally formed by custom and popular feeling, that is, by silently operating forces. Law is rooted in a people's history; the roots are fed by the consciousness, the faith, and the customs of the people". (Keseluruhan hukum sungguh-sungguh terbentuk melalui kebiasaan dan perasaan kerakyatan, yaitu melalui pengoperasian kekuasaan secara diam-diam. Hukum berakar pada sejarah manusia, dimana akarnya dihidupkan oleh kesadaran, keyakinan, dan kebiasaan warga masyarakat). Savigny juga mendapat banyak kritikan dari pengecam historisme.

Legal Marxisme
Para pelopor dasar Marxisme adalah Karl Marx ( 1818-1883), Engel (1820-1895), dan Lenin 11870-1924). Bagi pengikut Marxisme, negara adalah bagian dari struktur masyarakat

yang tertinggi. Negara Pada dasarnya adalah "suatu mesin untuk penindasan", yang direncanakan dan digunakan untuk menjalankan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Hukum dan institusi-institusi lainnya sama seperti negara, yaitu merupakan bagian struktir masyarakat yang tertinggi. Hukum adalah suatu pernyataan kehendak dari sekumpulan aturan kelompok, yang merupakan alat dominasi. Bagi penganut Marxisme, ada tiga tugas hukum yang terpenting, masing-masing: A. In educating citizens of the state. B. In regulating the relationship of family and state. C. In strengthening the state. Dapat dikatakan bahwa Marxisme dibidang hukum , merupakan kombinasi ajaran Hukum Alam dan Positivisme. Dikatakan menyerap hukum alam, karena Marxisme mengakui adanya "universalisme" dan sosialisme; sedangkan menyerap positivisme karena hanya mengakui produk legislatif sebagai satu-satunya hukum. Marxisme tentu saja tidak mengakui hukum adat dan hukum agama.

Realisme Hukum Amerika Serikat


Yang kita namakan sebagai aliran realisme Amerika Serikat merupakan kumpulan pemikiran yang beragam, tetapi mempunyai satu fokus pandangan yang sama tentang hukum. Realisme hukum berarti studi tentang hukum sebagai sesuatu yang benar-benar secara nyata dilaksanakan, ketimbang sekadar hukum sebagai serentetan aturan yang termuat dalam perundang-undangan. Aliran ilmu hukum Amerika, yang dibangun diatas penerimaan umum terhadap realisme filsufis, khususnya dipengaruhi oleh pandangan-pandangan James (1890-1922) dan Dewey (1859-1952). Esensi dari aliran realis dalam ilmu hukum ada didalam penegasan Holmes tentang pengujian fakta-fakta. Menurut Holmes, kehidupan hukum bukan logika, melainkan pengalaman ("the life of the law has been, not logic, but experience"). Semua aspek pragmatis dan empiris hukum adalah teramat penting, "Yang saya anggap sebagai hukum adalah ramalan tentang apa yang akan dilakukan oleh pengadilan didalam kenyataannya, dan tidak ada yang lebih penting daripada itu" ("The prophecies of what the courts will do in fact, and nothing more pretentious, are what i mean by the law"). Jadi bagi kaum realis, hukun tidak dapat ditemukan hanya dengan melakukan penyelidikan terhadap aturan-aturan hukum. Pemusatan perhatian hanya pada aturan-aturan tersebut justru akan membahayakan profesi hukum, karena pemusatan seperti itu akan mengaarah ke pengabaian terhadap konteks yang lebih luas yang telah memberikan makna sosial bagi hukum. Lebih lanjut, Holmes (1963:5) mengemukakan bahwa, hukum seperti yang dinyatakan secara konkret melalui pengadilan, adalah bersumber dari kebutuhan dimasanya, moral umum dan teori-teori politik, intuisi tentang apa yang menjadi kebutuhan kebijakan umum, selaras dengan prasangka yang juga dimiliki para hakim dan sejumlah faktor-faktor lain.

Realisme Amerika Serikat juga dikritik karena pendekatan realis, jika diterima, akan membawa pada sikap pesimis total tentang kegunaan hukum sebagai alat perubahan dan pembaruan.