Anda di halaman 1dari 12

ACARA II REAKSI ASAM BASA I

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Menentukan pH larutan menggunakan indicator ekstrak bunga Menentukan pH larutan menggunakan buffer

2. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 26 April 2012 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram B. LANDASAN TEORI Teori asam basa yang apling sederhana pada awalnya ditemukan oleh Steve Arrchenius pada 1848. Menurut teori Arrchenius, asam adalah species yang mengandung ion-ion hydrogen H+ dan H3O+ (zat yang larutannya di dalam air menghasilkan ion H+), seedangkan basa adalah species yang mengandung ion-ion hidroksida OH- (zat yang larutannya didalam air menghasilkan OH-). Brownsted dan Lowry mendefinisikan asam sebagai zat yang dapat member proton kepada zat lain, sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton dari asam. Dan teori asam basa menurut Lewis, asam adalah zat yang dapat menerima pasangan electron untuk membentuk ikatan kovalen koordinat, sedangkan basa adalah zat yang dapat memberikan pasangan electron (Sukardjo, 2002 : 306). Konsep asam basa Arrchebius dapat dikatakan masih bersifat alami. Senyawa bersifat asam bila : mempunyai rasa masam, dapat merubah indicator lakmus menjadi merah, bila ditambah logam dapat melepaskan gelombang-gelombang gas hydrogen, hingga disimpulkan senyawa bersifat asam mengandung ion hydrogen dan dapat dirumuskan dengan HX, X adalah gugus yang terikat oleh hydrogen, senyawa bersifat basa apabila mempunyai rasa pahit, dapat merubah indicator lakmus menjadi biru dan senyawa mengandung gugus hidroksi, OH-. Hingga basa dapat dirumuskan dengan MOH (Hradjono, 2008 : 257). Istilah kuat dan lemah digunakan untuk membandingkan kekuatan asam atau basa dalam larutan. Asam Sulfat, Asam Nitrat dan Asam Klorida digolongkan dalam asam kuat,

sedangkan Asam Asetat termasuk asam lemah. Kekuatan asam bergantung juga pada pelarutnya. Makin kuat sifat kebasaan pelarut, makin mudah melepaskan proton. Asam Asetat adalah asam lemah dalam larutan air tetapi dalm ammonia cair biasanya labih kuat daripada air, merupakan asam kuat CH3COOH + NH3 CH3COO- + NH4+ suatu asam

kuat dapat dilihat dari derajat ionisasi atau tetapan disosiasinya. Demikian pula kekuatan suatu basa dapat dilihat dari derajat ionisasinya atau tetapan disosiasinya. Faktor yang mempengaruhi kekuatan asam atau basa yaitu kepolaran, ukuran atom, muatan dan bilangan oksidasi (Rahmad, 2001 : 111). Indikator asam basa pada dasarnya adalah zat kimia yang mampu berubah warna atau tetap dalam suasana larutan yang bersifat asam, basa atau netral. Dalam kegiatan praktikum atau lapangan, indicator buatan yang sering digunakan biasanya dalam bentuk kertas, musalnya lakmus merah, lakmus biru, dan lakmus universal. Indikator buatan dakam bentuk larutan, misalnya larutan Feholptalein, larutan universal, larutan metal merah, larutan matil biru, dsb. Sedangkan indicator alam yang sering digunakan dalam bentuk larutan misalnya larutan kol ungu, larutan bungan atau larutan kunyit (Sidharta,) C. PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan 4 percobaan yaitu pertama pembuatan ektrak tumbuhtumbuhan sebagai indicator. Kedua penentuan trayek perubahan warna, ketiga pemakaian ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai indicator dan terakhir penentuan pH denan indicator (buffer). Pertama pembuatan ekstrak tumbuhan sebagai indicator. Dalam hal ini digunakan kembang sepatu. Penggunaan kembang sepatu ada beberapa alasan yaitu mudah didapat, warnanya mencolok, ekstraknya lebih cepat keluar, dapat memberikan warna yang berbeda antara asam, basa maupun netral, dan dapat memberikan warna atau basa. Pada percobaan ini mahkita bunga sepatu pada awalnya digerus hingga halus, tujuannya untuk memperluas bidang permukaan agar cepat bereaksi. Setelah digerus ditambahkan etanol. Dalam hal ini etanol berfungsi untuk mempercepat proses ekstraksi karena etanol mempunyai sifat yang dapat meusiskan dinding sel tumbuhan. Pada percobaan ini diperoleh warna ekstrak bungan sepatu berwarna ungu kemerah-merahan Ekstrak bunga ini nantinya akan digunakan sebagai indicator. Indikator adalah senyawa organic yang dapat menentukan sifat suatu larutan apakah bersifat asam, basa ataupun netral.

Selanjtnya percobaan kedua yaitu penentuan trayek perubahan warna. Pertama-tama disiapkan plat tetes dan ditetesi dengan 7 jenis larutan baku dan pada masing-masing larutan baku itu ditetesi 1 tetes indicator ektrak bunga yang telah dibuat tadi. Setelah ditetesi indicator ekstrak bunga dan diukur pH dengan pH stick, diperoleh hasil sebagai berikut : HCl 0,1 M berwarna merah dengan pH = 1 CH3COOH 0,1 M berwarna merah pudar dengan pH = 3 Asam Borat 2% berwarna pink dengan pH = 5 Larutan NaCl 5% berwarna ungu dengan pH = 7 Larutan NaHCO3 5% berwarna abu dengan pH = 8 Larutan Na2CO3 5% berwarna abu tua dengan pH = 10 NaOH 0,01 M berwarna hijau dengan pH = 12 Dari data yang diperoleh nilai pH yang diambil tidak berbeda jauh dengan pH larutan yang telah ditentukan Dari warna-warna yang terlihat bahwa memang benar bunga sepatu dapat memberikan warna yang berbeda antara asam, basa dan netral. Serta dapat mmberi warna yang berbeda pada kuat lemahnya suatu asam atau basa. Selanjutnya percobaan ketiga yaitu pemakaian ekstrak tumbuhan sebagai indicator. Pada percobaan ini juga dilakukan titrasi asam basa. Dimana nantinya akan ditemukan titik ekivalen yaitu dimana mol penitrasi sama dengan mol larutan yang dititrasi. Dan juga ada titik akhir titrasi dimana proses titrasi itu dihentikan. Pada percobaan ini pertama-tama dimasukkan 25 tetes HCl 0,1 M pada tabung reaksi dan ditambahkan 2 tetes ekstrak tumbuhtumbuhan, dalam hal ini bungan sepatu tadi dan hasilnya HCl 0,1 M berubah warna menjadi merah ini mmbuktikan bahwa HCl bersifat asam. Selanjutnya dilakukan titrasi dengan menambahkan tetes demi tetes NaOH 0,1 hingga warna berubah. Dan warna berubah

menjadi bening pada tetes ke 28. Ini merupakan titik akhir titrasi. Sedangkan titik ekivalen titrasi terjadi pada tetes ke 25. Sama seperti jumlah tetesan HCl awal. Namun pada ttitk ekivalen (tetesan 25) tidak mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan kesalahan praktikkan saat meneteskan NaOH dan saat mengocok tabung reaksi. Selanjutnya percobaan terakhir yaitu, penentukan pH dengan indicator. Dalam hal ini digunakan juga larutan buffer yang berfungsi untuk menyeimbangkan masing-masing 50mL HCl 0,1 M dan 50 mL NaOH 0,1 M pada kotak bijerum, yang telah disediakan tempatnya bromkesol. Dilihat pada tempat yang bercahaya pada kotak bijerum dakan menampilkan

gradasi warna. Lalu pada sel percobaan diisi 25 mL larutan buffer dan ditetesi 5 tetes larutan indicator bromkesol. Kemudian dikocokkan warna yang ada pada sel percobaan dengan warna yang ada pada kotak bijerum. Setelah dilakukan pengamatan dan perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut : Larutan buffer 20 : 80 , pH sebenarnya = 4,05, pH hitung = 3,79 dan persen errornya adalah 6,24% Larutan buffer 30 : 70 , pH sebenarnya = 4,32, pH hitung = 4,27 dan persen errornya adalah 1,15% Larutan buffer 40 : 60 , pH sebenarnya = 4,50, pH hitung = 4,57 dan persen errornya adalah 1,55% Larutan buffer 50 : 50 , pH sebenarnya = 4,61, pH hitung = 4,74 dan persen errornya adalah 2,82% Larutan buffer 60 : 40 , pH sebenarnya = 4,82, pH hitung = 4,91 dan persen errornya adalah 1,87% Larutan buffer 70 : 30 , pH sebenarnya = 5,00, pH hitung = 5,21 dan persen errornya adalah 4,2% Larutan buffer 80 : 20 , pH sebenarnya = 5,25, pH hitung = 5,69 dan persen errornya adalah 8,38% Dari hasil percobaan, terdapat presentasi keroran, karena nilai pH yang diperoleh sedikit berbeda dengan pH yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena kesalahan dalam penentuan warna antara sel percobaan dengan kotak bijerum, selain itu juga ketidakakuratan dalam pengukuran jarak larutan asam ataupun basa. D. KESIMPULAN Ekstrak bunga dapat dijadikan indicator penentu asam, basa atau netralkan suatu larutan. Larutan buffer berfungsi untuk menyeimbangkan dan mempertahankan suatu pH.

ACARA IV KOLOID DAN SENYAWA KARBON I A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi. Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara dispersi. Untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emuisi). Untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid. Untuk mengetahui cara pembuatan sabun. Untuk mempelajari denaturasi protein.

2. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 29 Maret 2012 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram

B. LANDASAN TEORI Koloid disebut juga dispersi koloid atau suspense koloidal adalah campuran yang berasa antara larutan sejati dan suspense, misalnya susu segar yang terdiri dari butir-bitur halus dari lemak mentega yang terdispersi adalah fase air yang juga mengandung kasein (suatu protein) dan beberapa zat lainnya. Pada system koloid dikenal fase terdispersi dan medium pendispersi (Cotton, 2007 : 312). Dispersi koloid bersifat heterogen, terdiri atas fase terdispersi. Sol adalah disperse zat padat dalam zat cair. Butir-butir koloid selalu bergerak menjalani jalan zig-zag yang disebut gerak Brown, gerakan ini disebabkan adanya benturan-benturan molekul-molekul pelarut terhadap butir-butir koloid (Sukardjo, 2002 : 100). Koloid memiliki beberapa sifat anatara lain gerak brown, efek tyndall, muatan listrik pada partikel koloid dialysis, kolid pelindung dan koagulasi. Gerak brown adalah gerak acak partikel koloid dalam medium pendispersi. Efek tyndall adalah pristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Muatan listrik pada partikel koloid dikarenakan dua hal yaitu

elektroforesis yaitu pergerakan partikel koloid dibawah pengaruh medan listrik dan adsorpsi yaitu pross penyerapan suatu zat dipermukaan zat lain. Koloid pelindung koloid yang dapat melindungi koloid lain agar tidak mengalami koagulasi. Diaalisis adalah mengurangi ion-ion pengganggu dalam koloid sehingga menggunakan selaput semipermeabel. Koagulasi adalah peristiwa pengendapan partikl-partikel koloid sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersi (Foong, 2002 : 226). Tawas merupakan bahan koagulasi yang sering digunakan di pengolahan air minum ataupun air buangan domestic dan industry, ini disebabkan bahwa tawas dapat mengurangi konsentrasi, warna, bau, keruhan. Sehingga nantinya diinginkan hasil akhir pengolahan air limbah yang cukup jernih (Usada, 2007 : 3). Sabun dibuat dengan memanaskan lemak sapi atau minyak kelapa dalam ketel yang berisi natrium hidroksida lebih. Jika NaCl ditambah dalam campuran tersebut, garam natrium dari asam lemak memisah dengan sebagai dadih sabun kasar (Kristian, 2001 : 128). Denaturasi suatu protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hydrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang dibutuhkan molekul itu. Faktor yang mempengaruhi denaturasi protein antara lain temperature dan pH (Brescik, 2002 : 143). C. ALAT DAN BAHAN

ACARA IV ANALISIS KUANTITATIF ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku primer asam oksalat. Menentukan konsentrasi larutan HCl larutan baku sekunder dengan larutan NaOH.

2. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 3 Mei 2012 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram B. LANDASAN TEORI Untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dapat digunakan cara titrasi. Sejumlah volume tertentu, asam yang tidak diketahui normalitasnya dapat dititrasi dengan larutan standar asam. Pada titik ekivalen maka jumlah gram ekivalen asam dengan jumlah ekivalen basa atau titik ekivalen. Untuk mengetahui titik ekivalen ini digunakan indicator. PAda titrasi asam lemah dengan basa kuat indicator yang digunakan adalah fenolftalein karena jika digunakan indicator yang lain seperti metal orange maka baru ditambah 2mL sudah terjadi perubahan warna, sehingga terjadi kesalahan yang besar (Kristian, 2001 : 124). Titrasi atau disebut juga volumetric merupakan metode analisis kimia yang cepat, akurat dan sering digunakan untuk menentukan kadar suatu unsure atau senyawa dalam larutan. Titrasi didasarkan pada suatu reaksi yang digambarkan sebagai : a A + b B hasil reaksi dimana : A adalah penitrasi (titran), B senyawa yang dititrasi, a dan b adalah jumlah mol dari A dan B. Volumetri (titrasi) dilakukan dengan cara menambahkan (mereaksikan sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah diktahui konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi secara smpurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Untuk mengetahui bahwa reaksi berlangsung sempurna, maka digunakan larutan indicator yang ditambahkan ke dalam larutan yang dititrasi

(http://www.chem_is_try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/titrasi-volumetri/prinsiptitrasi/). Reaksi penetralan asam dapat juga digunakan untuk menntukan kadar larutan asam atau larutan basa. Dalam hal ini sejumlah tertentu larutan asam ditetesi dengan larutan basa atau sebaliknya sampai mencapai titik ekivalensi (asam dan basa tepat habis bereaksi). Jika molaritas larutan yang satu lagi dapat ditentukan. Proses penetapan kadar suatu larutan yang digunakan dengan cara seperti ini disebut titrasi volumetric. Untuk mengambil titik ekivalen dapat digunakan suatu indicator. Indikator tersebut haruslah berubah warna sekitar titim ekivalensi. Titrasi (penetralan) dihentikan saat indicator menunjukkan perubahan warna. Oleh karena itu, saat perubahan warna indicator tersebut dicatat sebagai titik akhir titrasi (Manahan, 2003 : 59). Metode polagrafi dapat digunakan untuk menentukan titik ekivalen suatu larutan bila salah satu atau kedua pereaksi dapat direduksi pada permukaan elektroda dan dilakukan pada harga potensial tertentu. Contoh : titrasi ion Pb3+ dengan ion SO43- atau ion oksalat. Ion Pb2+ dapat direduksi pada elektroda Hg sedang ion SO42- tidak. Selama penambahan titran (SO42), arus difusi dari ion Pb2+ akan turun sampai semua Pb terurai (bereaksi) (Bresnick, 2002 : 60).

ACARA V REAKSI REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Mengetahui beberapa reaksi redoks serta perubahan-perubahan yang terjadi. Mengetahui elektrolisis KI dalam reaksi-reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda.

2. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 10 Mei 2012 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram

B. LANDASAN TEORI Banyak seklai metosde volumetric yang berprinsipkan pada transfer electron. Reaksi reduksi-oksidasi berasal dari transfer langsung electron dari donor ke akseptor. Bermacam reaksi redoks dapat digunakan untuk analisis titran dapat berlangsung dengan cepat Banyak titrasi redoks dilakukan dengan menggunakan indicator warna (Khopkar, 2007 : 49). Oksidasi adalah suau perubahan kimia, jika suatu zat memberikan atau melepaskan electron, jika suatu unsure mengalami pertambahan oksidasi, jika yang terjadi di anoda sl elektrokimia Reduksi adalah suatu perubahan kimia, jika suatu unsure mengalami pengurangan bilangan oksidasi yang terjadi di katoda suatu sel elektrokimia. Jadi reaksi redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Pada keadaan tertentu pereaksi dapat bertindak seagai oksidator atau reduktor sekaligus. Reaksi tersebut disebut sebagai autoredoks (Sukardjo, 2002 : 124). Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aksi antaran sifat-sifat listrik dengan kimia. Misalnya perubahan energy kiia menjadi energy listrik pada elemen electron kimia, reaksi oksidasi-oksidasi secara spontan pada elemen yang dijadikan sumber arus listrik, dan perpindahan electron dalam larutan elektrolit dan terjadi pada aki

(http://id...shuoong.com/exact-sciences/physics/280350-pengertian-elektrokimia/). Elektrolisis terjadi jika reaksi oksidasi-oksidasi diimbas oleh arus listrik. Contoh umum suatu reaksi elektrolisis adalah penguraian aor menjadi gas hydrogen dan oksigen. Reaksi ini

membutuhkan listrik. Jika AE reaksi suatu reaksi reaksi posotof, makan reaksinya tidak spontan (AG positif), jika mengalirkan arus listrik ke dalam larutan reaksi dapat menjadi spontan. Penguraian air untuk membentuk gas hydrogen dan gas oksigen bukan merupakan reaksi spontan. Tetapi arus listrik dapat dipakai untuk menghasilkan energy yang dibutuhkan. Reaksi-reaksi ini biasanya mlibatkan larutan cair suatu senyawa yang terdisosiasi menjadi ion-ion. Senyawa yang digunakan juga dapat berupa larutan padat (lelehan) suatu senyawa ionic, seperti NaCl. Arus didalam zat elektrolit mengalir melalui ion-ion dan bukan melalui electron (Bresnick, 2002 : 105).

ACARA VI KINETIKA KIMIA

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum Untuk menentukan pengaruh katalis terhadap laju reaksi. 2. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 22 Maret 2012 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram

B. LANDASAN TEORI Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat berkarat pada suasana lembab. Nasi atau makanan lebih cepat membusuk jika tidak didinginkan. Ini merupakan contoh-contoh yang lazim dari perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang beraneka ragam. Menurut kondisi reaksi, yang lebih mendasar dari pada sekedar laju suatu reaksi adalah bagaimana perubahan kimia itu berlangsung (Cotton, 2007 : 221). Laju reaksi adalah laju rata-rata suatu produk yang dihasilkan atau suatu pereaksi yang digunakan (nilai mutlakuntuk memperoleh hasil yang positif) (Bresnick, 2002 : 89). | [ ] [ ] |

Hukum laju ialah suatu pernyataan matematis yang menghubungkan laju reaksi terhadap konstanta laju k dan konsentrasi reaktan pangkat suatu angka. Konstanta laju k untuk reaksi dipengaruhi hanya oleh satu. Orde reaksi keseluruhan ialah jumlah pangkat dari konsentrasi reaktan yang muncul dalam hokum laju. Hukum laju dan orde reaksi tidak dapat ditentukan dari stoikiometri persamaan keseluruhan suatu reaksi keduanya harus ditentukan dari percobaan. Waktu paruh reaksi (waktu yang diperlukan agar konsentrasi reaktan turun menjadi setengahnya) dapat digunakan untuk menentukan konstanta laju dari reaksi ordo pertama (Raymond, 2004 : 33).

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri (lihat pula katalis). Suatu katalis berperan dalam reaksi, tapi bukan sebagai pereaksi maupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lbih cepat. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energy aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energy yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi (Anonim, 2011).