Anda di halaman 1dari 3

WA NO SEKAI Orang Jepang sangat memikirkan kehidupan yang harmonis dengan orang-orang sekitarnya, tidak hanya memikirkan pendapatnya

sendiri. Sikap memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan keadaan sekitarnya, sangat dibenci oleh orang Jepang. Orang Jepang sangat percaya bahwa keharmonian sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, dan bila tidak ada hal tersebut, mereka tidak akan dapat mewujudkan masyarakat yang tentram. Hal ini sering dinyatakan bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang berorientasi pada kelompok. Seperti yang telah diketahui bahwa kanji Wa dalam kamus Jepang Inggris atau kamus Jepang Perancis diartikan dengan Jepang. Bila menggabungkan kanji Wa dengan istilah bahasa asing, maka Wa sering digunakan, seperti Eiwa (Inggris Jepang), Dokuwa (Jerman Jepang), Rowa (Rusia Jepang). Namun, bila penyebutan nama negara yang ditulis dengan Katakana, banyak juga yang menggunakan kanji Hi (matahari), seperti kamus Jepang Portugal, kamus Thailand Jepang, dan lain-lain. Dalam literatur Cina kuno, kanji Wa ( ) yang berarti Jepang berasal dari kanji Wa ( ). Dikatakan bahwa kanji Wa ( ) ini tidak mengandung arti yang baik, sehingga orang Jepang mencari kanji yang mengandung arti yang baik, dan menemukan kanji Wa ( ). Akhirnya kanji Wa () ini menjadi kanji yang mewakili Jepang. Kanji Wa pada Wakon Kansai pun juga menunjukkan pada Jepang. Puisi pendek (Tanka) yang berirama 5 7 5 7 7 menjadi salah satu ciri kesusastraan kuno Jepang yang disebut dengan Waka. Bahkan kanji Wakoku yang dibaca Wakoku juga mengandung arti negara Jepang. Lebih lanjut lagi, di Jepang, kanji Wa menjadi kata yang sangat penti ng yang memiliki arti harmony dalam bahasa Inggris. Berkat UU 17 Pasal yang diciptakan oleh Shotoku Taishi (Pangeran Shotoku), masyarakat Jepang hidup harmonis sampai sekarang. Selain berarti harmony, kanji Wa dapat juga berarti unity atau concord dalam bahasa Inggris. Bahkan dengan istilah Yamato yang berarti great harmony, negara Jepang dikenal sebagai negara dengan kehidupan masyarakat yang harmonis. Menentukan sikap diri dengan memperhatikan perasaan orang lain, merupakan karakter orang Jepang dalam memikirkan orang lain. Meskipun ada jawaban ya dan tidak sebagai tanda untuk memberikan hal yang sama atau tidak terhadap pendapat orang lain, namun orang Jepang tidak memikirkan pendapatnya sendiri itu benar atau salah. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan Wa adalah menciptakan keharmonisan dengan

memperhatikan posisi dan perasaan orang lain. Dengan sikap seperti ini, orang Jepang dianggap sebagai individu yang egonya lemah, tidak ada kepribadian, dan tidak memiliki identitas. Dalam penggunaan kata ganti orang pun, mereka akan menentukan penyebutannya berdasarkan hubungan antara pembicara dengan lawan bicara. Sebagai contoh adalah penyebutan kata ganti orang yang digunakan oleh seorang guru SD usia 40 tahun terhadap berbagai latar belakang lawan bicaranya. Bagaimana guru tersebut menyebut dirinya sendiri, dan bagaimana pula guru menyebut orang lain dapat terlihat di gambar berikut.