Anda di halaman 1dari 12

MODUL MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Disusun Oleh Zakiyatul Fitri, M.Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2009

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

MODUL IV Perkembangan Psikososial Pada Masa Remaja

TIU: Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan perkembangan psikososial remaja TIK: Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan perkembangan psikososial pada remaja, teori Erikson, teori Marcia, seksualitas, hubungan dengan keluarga, teman sebaya dan masyarakat orang dewasa

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Perkembangan Psikososial pada Remaja

A. Erikson Saat seseorang mencapai masa remaja, maka orang tersebut berada dalam masa pencarian identitas diri (Erikson, dalam Papalia, 2008). Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001). Pencarian identitas diri menurut Erikson (Papalia, 2008) sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang. Usaha remaja untuk memahami diri merupakan proses vital dan sehat yang didasarkan kepada pencapaian tahap sebelumnya. Adapun tahap-tahap perkembangan psikososial ( Erikson, Marat, 2006) yang terjadi pada manusia adalah sebagai berikut:
a. Kepercayaan vs ketidakpercayaan (trust vs mistrust); terjadi saat usia lahir 1 tahun.

b. Otonomi vs Rasa malu dan ragu-ragu (Autonomy vs Shame and Doubt); terjadi saat usia 1 3 tahun. c. Inisiatif vs rasa bersalah (Initiative vs guilt); terjadi saat usia 4-5 tahun. d. Ketekunan vs rasa rendah diri (industry vs inferiority); terjadi saat usia 6 11 tahun. e. Identitas vs kebingungan peran (ego identity vs role diffusion); terjadi saat usia 12 20 tahun. f. Keintiman vs isolasi (intimacy vs isolation); terjadi saat usia 20 24 tahun. g. Generativitas vs stagnasi (generativity vs stagnation); terjadi pada usia 25 65 tahun.
h. Integritas ego vs keputus asaan (ego integrity vs despair); terjadi saat usia 65 meninggal.

Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas, yang mengharuskan individu menghadapi suatu krisis. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya (Santrock, 2001). Lebih lanjut, Erikson lebih menekankan pada tahap perkembangan psikososial yang terjadi pada masa remaja yaitu identity vs role diffusion, hal ini karena pada tahap tersebut merupakan peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan perkembangan masa dewasa.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Selama masa ini, remaja mulai menyadari tentang identitas dirinya. Remaja juga mulai memahami bagaimana dirinya, serta keinginannya. Akan tetapi, remaja sering mengalami kekacauan peran dalam lingkungannya, karena biasanya remaja masih diperlakukan seperti anak kecil yang belum mengetahui apa yang diinginkannya. Kondisi ini menyebabkan remaja merasa terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Remaja menjadi sangat peka tewrhadap cara orang lain memandangnya, dan menjadi mudah tersinggung, dan merasa malu. Remaja menjadi sosok yang tidak mudah ditebak, dan menjadi tertutup terhadap orang lain, karena takut ditolak atau dikecewakan. Namun di saat lain, remaja menjadi pengikut dari suatu kelompok, tanpa memperdulikan konsekuensinya. Tugas utama remaja adalah memcahkan krisis identitas versus kebingungan identitas., untuk dapat menjadi orang dewasa unik dengan pemahaman akan diri yang utuh dan memahami peran nilkai dalam masyarakat. krisis identitas ini jarang teratasi pada masa remaja, berbagai isu berkaitan dengan keterpecahan identitas kembali mengemuka sepanjang kehidupan masa dewasa. Menurut Erikson (Papalia, 2008) remaja tidak membentuk identitas dengan meniru orang lain, sebagaimana yang dilakukan anak yang lebih muda, tetapi dengan memodifikasi dan menyintesis identifikasi lebih awal ke dalam struktur psikologi baru yang lebih besar. Untuk membentuk identitas, seorang remaja harus memastikan dan mengorganisir kemampuan, kebutuhan, ketertarikan, dan hasrat mereka sehingga dapat diekspresikan dalam konteks social. Identitas terbentuk saat remaja berhasil memecahkan tiga masalah utama, yaitu: 1. Pilihan pekerjaan 2. Adopsi nilai yang diyakini dan dijalani 3. Perkembangan identitas seksual yang memuaskan Lawan dari identitas adalah kekaburan identitas, jika remaja tidak mampu mengatasi krisis identitas dan mengalami kekaburan identitas, hal ini dapat memperlambat pencapaian kedewasaan psikologis. Hal ini juga dapat mempengaruhi karakter alamiah perilaku remaja dan kesadaran diri remaja, remaja juga dapat menunjukkan kekaburan identitas ini dengan mundur ke masa kanakkanak untuk menghindari konflik atau dengan melibatkan diri secara impulsive ke dalam serangkaian tindakan yang buruk.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB
Zakiyatul Fitri, M.Psi PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991). Selain tugas mengatasi krisis identitas ini, pada masa remaja, remaja juga berusaha merumuskan dan mengembangkan nilai kesetiaan (komitmen), yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas terhadap sesuatu atau seseorang. Komitmen ini merupakan fondasi yang menjadi landasan terbentuknya identitas yang bersifat kontinu (Marat, 2006). B. Perkembangan Individuasi dan Identitas Menurut Josselson (Marat, 2006) proses pencarian identitas, - yaitu proses di mana seseorang mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain- ini disebut dengan individuasi (individuation). Poses ini terdiri dari empat tahap yang berbeda tetapi saling melengkapi. Empat tahap tersebut adalah:

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

1. Diferensiasi; terjadi pada usia 12 14 tahun; pada tahap ini remaja menyadari bahwa ia berbeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasehat orang tuanya, sekalipun hal tersebut masuk akan. 2. Praktis; terjadi pada usia 14 15 tauhn; pada tahap ini remaja percaya bahwa ia mengetahui segalanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Remaja menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menantang orang tuanya pada setiap kesempatan. Komitmen terhadap teman sebaya juga bertambah.
3. Penyesuaian dan eksperimentasi; terjadi pada usia 15 -18 tahun; pada tahap ini, remaja

mulai dapat menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya dengan syarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang menentang dan kadang berdamai. Di satu sisi remaja dapat menerima tanggung jawab di sekitar rumah, namun di sisi lain remaja akan kesal saat orang tuanya selalu mengontrol dan membatasinya. 4. Konsolidasi; pada usia 18 21 tahun; pada tahap ini remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independen dan individualitas. C. Marcia: Status Identitas: Krisis dan Komitmen
Status identitas menurut Marcia (Papalia, 2008) adalah perkembangan ego yang tergantung pada kehadiran atau ketidakhadiran krisis dan komitmen. Krisis menunjuk masa dimana remaja berusaha memilih beberapa alternalif pilihan, yang pada akhirnya bisa menetapkan satu alternative tertentu dan memberikan perhatian besar terhadap keyakinan dan nilai-nilai yang diperlukan dalam pemilihan alternative tersebut. Sedangkan komitmen menunjuk pada usaha membuat keputusan mngenai sesuatu dan menentukan berbagai startegi untuk merealisasikannya (Marat, 2006). Proses pembentukan identitas diri melibatkan dua aspek, yaitu eksplorasi dan komitmen. Berdasarkan ada atau tidaknya proses eksplorasi dan komiten pada individu, Marcia mengolongkan identitas diri ke dalam 4 (empat) status identitas yaitu identity diffusion, identity foreclosure, moratorium, dan identity achievement. Identity Achievement adalah pencapaian status identitas yang ditandai dengan

komitmen untuk memilih menjadikannya sebuah krisis, sebuah periode yang dihabiskan untuk mencari alternative. Foreclosure merupakan status identitas dimana seseorang tidak

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

menghabiskan banyak waktu untuk mempertimbangkan berbagai alternative (dank arena itu tidak pernah berada dalam krisis) dan melaksanakan rencana yang disiapkan orang lain untuk dirinya. Moratorium merupakan status identitas dimana seseorang mempertimbangkan berbagai alternative (dalam krisis) dan tampaknya mengarah pada komitmen. Identity diffusion merupakan status identitas yang ditandai oleh ketiadaan komitmen dan kurangnya pertimbangan serius terhadap berbagai alternative yang ada.

Terdapat 5 kasus dari psikososial yaitu: 1. Identity yaitu mengemukakan dan mengerti dari sebagai individu.

Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri (Harter, 1990). Pada masa remaja sangsi akan identitas dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkungan bahwa dirinya merupakan indiviodu yang unik dan khusus.

2. Autonomy yaitu menetapkan rasa yang nyaman dalam ketidaktergantungan. Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung tetapi berusaha untuk menemukan dirinya dengan kaca mata dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan suatu proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Terdapat tiga perkembangan penting dari autonomy, yaitu: - mengurangi ikatan emosional dengan orang tua. - mampu untuk mengambil keputusan secara mandiri. - Membentuk tanda personalnya dari nilai dan moral (Donvan and Andelson, 1966; Seinberg, 1990).

3. Intimacy yaitu membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain. Selama masa remaja perubahan penting lainnya adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, khususnya dengan sebaya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Pertemuan muncul pertama kali pada masa remaja melibatkan keterbukaan, kejujuran, loyaliyas dan saling percaya, juda berbagi kegiatan dan minat (Sarin Williams and Bernet, 1990). dating, menjadi penting dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk menjalin hubungan melalui kepercayaan dan cinta.

4. Sexuality yaitu mengekspresikan perasaan-perasaan dan merasa senang jika ada kontak fisik dengan orang lain. Kegiatan seksual secara umum dimulai pada masa remaja, kebutuhan untuk memecahkan masalah nilai-nilai sosial dan moral terjadi pada masa ini (Kart Chadorin, 1990). Achivement yaitu mendapatkan keberhasilan dan memiliki kemampuan sebagai anggota masyarakat. 5. Pengembalian keputusan yang penting terjadi pada masa remaja dan membawa konsueksi yang panjang tentang sekolah dan karir (Henderson and Dweck, 1990). Umumnya pengembalian keputusan bergantung pada evaluasi diri remaja mengenai kecakapan dan kemampuan dari aspirasi dan harapannya dimasa mendatang, dan dari masukan-masukan yang diterima oleh remaja dari tugas guru dan teman. Ada tiga hal yang mendukung pembentukan Status Identitas Diri Remaja, yaitu: 1. Keyakinan dan Kematapan bahwa ia mendapat dukungan Orangtua 2. Mengembangan rasa untuk ingin bekerja dan mandiri 3. Mampu mencapai perspektif & pandangan refleksi diri terhadap masa depannya

D. Perkembangan Seksual. Pencapaian identitas seksual ditingkatkan dengan adanya perubahan fisik pubertas. Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

seks. Dalam pandangan Freud, perubahan fisiologis pubertas ini mereaktifkan libido, sumber energi yang mengisi arah seks. Hal ini ditandai dengan minat remaja pada hubungan heteroseksual dengan pasangan di luar kelurga dan melakukan masturbasi (Potter dan Perry, 2005). Namun, pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tahu tentang, metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual (PMS). Akibatnya aktivitas seksual meningkat di antara remaja sehingga angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat. (Kesrepro, 2007).

E. Tugas Perkembangan Remaja Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain: 1. memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan 2. memperoleh peranan sosial 3. menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif 4. memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya 5. mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuanberdiri sendiri 6. memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan 7. mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga 8. membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya

Tugas-tugas perkembangan remaja pada umumnya menurut Karl C. Garrison meliputi halhal sebagai berikut (Qomaruddin, 2005):
1. Menerima keadaan jasmani. Para remaja diharapkan dapat menerima keadaan dirinya sebagaimana adanya tanpa harus dibayang-bayangi oleh imitasi dengan model-model yang dianggap ideal. Dan berusaha memelihara kesehatan jasmaninya serta memanfaatkannya secara maksimal untuk kemaslahatan dirinya. 2. Memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman-teman sebaya. Para remaja harus mendapatkan pengakuan dan penerimaan dengan teman sebaya, atau kawan lawan jenis. Hal ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya serta sebagai tempat mengekspresikan keadaan yang sedang dialaminya. 3. Menerima keadaan sesuai jenis kelamin dan belajar belajar seperti kaumnya. Para remaja harus bisa menerima tanggung jawab sesuai jenis kelaminnya. Pria akan bersikap seperti seorang pria yang perkasa dengan tanggung jawab sebagai seorang pria. Wanita akan bersikap feminim dengan tanggung jawab sebagai seorang wanita yang penuh kelembutan dan kasih sayang. 4. Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa.

Para remaja harus diberikan kebebasan untuk melakukan rencana sendiri, mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas, serta diberikan pula hak untuk memilih dengan didasarkan pada tanggung jawab dan konsekwensi yang akan ditanggungnya. 5. Memperoleh kesanggupan mandiri dalam hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan. Remaja diharuskan belajar untuk melepaskan diri dari tanggung jawab kedua

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

10

orang tuanya secara sedikit demi sedikit khususnya dalam keuangan dan tentu saja dalam urusan-urusan yang lainnya. Mereka harus belajar mandiri dalam mempersipkan masa depannya hingga pada akhirnya mereka menjalani kehidupan sendiri terlepas sama sekali dari orang tua. 6. Mendapatkan perangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidupnya.

Penelitian terhadap remaja mengungkapkan bahwa ternyata remaja sangat tertarik pada persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan dan falsafah hidup serta soal-soal keagamaan. Dengan kata lain remaja membutuhkan falsafah hidup dan prinsip yang harus dipegang. Sehingga mereka memiliki kendali didalam mengarungi kehidupan ini. Tidak mudah terombang ambing menghadapi situasi hidup yang cepat berubah.

DAFTAR PUSTAKA

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

11

Agustiani,H. Perkembangan Psikososial Remaja. http://stromlah.blogspot.com/2008/03/psikologi-perkembangan-remaja_25.html (diakses 10 Oktober 2009) Gunarsa, S. D. (1991). Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. Marat, S. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya. Nining, Remaja. http://www.kesrepro.info/?q=node/385(diakses 10 Oktober 2009) -------------, Perkembangan Psikosoasial remaja, http://nsnining.blogspot.com/2009/07/tinjauan-tentang-masa-remaja_23.html(diakses 10 Oktober 2009). ------------, Remaja, http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx? tabID=61&src=k&id=124252(diakses 10 Oktober 2009). Papalia, D.E., Old, S.W., Feldman, R.D., 2008. Psikologi Perkembangan edisi kesembilan. Jakarta: Kencana Prenada media Group

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Zakiyatul Fitri, M.Psi

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

12