Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEBIDANAN

Pada Ny W G3P2002 UK 18 19 mingggu Dengan Abortus Inkomplitus

OLEH : FINZA FADILAH HERLIDIAN PUTRI MELLY KURNIAWATI NI MADE DWIANI UMIANITA RIZKA WULANDARI

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KADIRI 2007

BAB I STUDI KEPUSTAKAAN A. Landasan Teori 1. gram. ( Kapita Selekta, 2001 . 260 ) Abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gr atau umur hamil kurang dari 28 minggu ( Manuaba, 1998 : 214 ) Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan ( oleh akibat tertentu ) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 20 minggu dan janin mencapai berat 500 gr. ( Sarwono, 2000 : 302 ) 2. a. Etiologi Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi Pengertian Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500

Hal hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut : Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau kecacatan. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudhgah pada hamil muda. Factor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut : 1. Kelainan kromosom 2. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pola kelainan kromosom seks.

3. Lingkungan yang sempurna 4. Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu. 5. Pengaruh dari luar. 6. Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. b. Kelainan pada plasenta

Endometritis dapat terjadi dalam vili korialis dan menyebabkan oksigenisasi placenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. c. Penyakit Ibu menyebabkan abortus. 2. Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, rubella. Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada vetus. 3. Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alcohol. 4. Ibu yang asfiksia seperti dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia garvis. 5. Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, kekurangan Vit. A, C atau B, diabetes mellitus d. Kelainan genetalia

1. Sep[erti pneumonia, tius abdominalis, malaria dan lain-lain yang dapat

Misalnya pada ibu yang menderita 1. Anomali congenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis)

2. Kelainan letak dan uterus seperti retroflesi uteri fiksata 3. Tidak sesempurna persiapan uterus dalam menanti hidasi dari ovum yang sudah dibuahi. 4. Uterus terlalu cepat meregang (kehamilan ganda, mola). 5. Distorsia uterus (terdorongnya uterus oleh tumor peluis) e. Antagonis Rhesus

Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus sehingga terjadi anemia pada fletus yang berakibat meninggalnya fetus. f. g. Terlalu cepatnya korpus lateum menjadi atrotis atau Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus

factor serviks yaitu Inkompetensi serviks servititis. berkontraksi umpamanya sangat terkejut, obat-obat uterotonika, ketakutan, laparotomi atau dapat juga karena trauma langsung fetus, selaput janin rusak langsung karena instrument, benda dan obat-obatan. h. Penyakit Bapak Umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, Anemia dekompensasi kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (Alkohol, nicotin) sinar rontgent, avitaminosis ( Sinopsis Obstetri, Rustam Mochtar . 1998 : 210) 3. Frekuensi Diperlukan frekuensi keguguran spontan berkisar antara 10 15% namun demikian, rekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan kecuali bila terjadi komplikasi. Menurut SIGLER dan EASMAN , abortus terjadi pad 10% kehamilan RS Pirngadi Medan juga mendapati angka 10% dari seluruh

kehamilan. Menurut EASTMAN 80% abortus terjadi padabulan ke 2 3 kehamilan, sementara SIEMENS mendapatkan angka 76%. ( Sinopsis Obstetri, Rustam Mochtar, 1998 : 211 ) 4. Patologi Pada awal abortus terjadio perdarahan dalam desidua basalis yang diikuti oleh nekrosi jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya yang merupakan benda asing dalam uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan < 8 minggu hasil konsepsi dikeluarkan Pada kehamilan antara 8 14 minggu villi konalis menembus seluruhnya karena vili korialis belum menembus desidua secara mendala. desidua lebih dalam sehingga plasenta tidak dilepasakan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan > 14 minggu dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin disusul beberapa waktu kemudian plasenta, abortus ini menyerupai persalinan biasa. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam bentuk : Ada kalanya kantong amnion kosong atau Janin telah mati lama (missed abortion) dapat didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (bligted ovum). berupa a. Mola kruenta : Mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. b. Mola Tuberosa : amnion tampak berbenjol benjol karena terjadi kematian antara amnion dan korion.

c. Mola Karnosa : pigmen telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi, daging. d. Fetus kompresus : janin mengalami mumufikasi terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng. e. Fetus Papiraseus : kompresi fetus berlangsung terus terjadi penipisan laksana kertas. f. Maserasi : kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek perut membesar karena terisi cairan dan seluruh jaringan berwarna kemerah-merahan. ( Ilmu Kebidanan, Prawirohardjo, 1999 : 304 ) 5. Dasar diagnosis keguguran Terjadi keterlambatan dating bulan Terjadi perdarahan Disertai rasa sakit perut Dapat diiukti oleh pengeluaran hasil konsepsi Pemeriksaan hasil tes hamil daapt masih positif / negatif sehingga semuanya tampak seperti

Dugaan keguguran diperlukan beberapa criteria sebagai berikut :

Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi 1. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan 2. Pemeriksaan fundus uteri Tinggi dan besarnya tetap sesuai dengan umur kehamilan Tinggi dan besarnya sudah mengecil Fundus uteri tidak teraba diatas simphisis Serviks uteri masih tertutup

3. Pemeriksaan dalam

6. a. b.

Serviks sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil Besarnya rahim (uterus) telah mengecil. Konsistensinya lunak.

konsepsi dalam kavum uteri / pada kanalis servikalis.

Klasifikasi Abotus spontan Abortus provokatus (induced abortus)

Abotus dapat dibagi menjadi 2 golongan Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor factor alamiah Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obaan maupun alat-alat. Aboortus ini dibagi lagi menjadi : 1. Abortus Medisinalis / therapeutika. Adalah abortus karena tindakan sendiri dengan alas an bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 orang dokter ahli 2. Abortus kriminalis Adalah abortus yang terjadi oleh kaena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis. Klinis abortus spontan Dapat dibagi atas : 1. Abortus Kompletus (keguguran lengkap) a. Pengertian Abortus kompletus adalah seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (Sinopsis Obstetri, Rustam Mochtar, 1998 : 211) Abortus kompletus adalah seluruh hasil konsepsi telah (Manuaba, 1998 : 219) dikeluarkan, sehingga tidak memerlukan tindakan (desidua dan fetus) sehingga rongga rahim kosong

b. -

Gejala Uterus mengecil Perdarahan sedikit Kanalis servikalis telah tertutup ( Manuaba , 1998 : 219 )

c. -

Penanganan Tidak perlu evakuasi lagi. Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah

penanganan. Apabila terjadi anemia sedang berikan tablet sulfur terosus 600 mg/hari, selama 2 minggu. Jika anemia berikan transfusi Konseling asuhan paska keguguran dan pemantauan lanjut ( Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal, 2002 : M 13 ) 2. Abortus Inkompletus ( keguguran bersisa ) a. Pengertian Abortus inkompletus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. ( Ilmu Kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 307 ) Abortus Inkompletus ialah sebagian dari hasil konsepsi yang ( Manuaba , 1998 : 212 ) dikeluarkan yang tertinggal adalah desidua atau placenta.

b.

Gejala

Didapati antara lain adalah amenohoe, sakit perut dan mules-mules perdarahan yang bisa sedikit atau banyak dan biasanya stolsel (darah beku ) sudak keluar fetus / jaringan ( Sinopsis obstetric , Rustam , 1998 : 212 ) c. Penanganan Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan keahmilan < 16 minggu , evakuasi dapat dilakukan secara digital atau cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yan gkeluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg 1M atau misiprostol 400 mg PO. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan < 16 minggu evakuasi hasil konsepsi dengan Aspirasi Vakum Mnual (AVM) merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg IM (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mg PO (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu). Jika kehamilan > 16 minggu Berikan infuse oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan (garam fisiologik atau RL) dengan kecepatan 40 tetes / mnt. Sampai 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. Jika perlu berikan misoprostol 200 mg pervag setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi ( max 800 mg )

Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. ( Praktis Kesehatan Maternal dan Neonatal , 2002 : M 13 )

Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

3. Abortus Insipiens (keguguran membakat) a. Pengertian Abortus Isipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan kurang 20 minggu dengan adanya diatasi serviks yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. ( Ilmu kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 306 ) Abortus Insipiens adalah keguguran membankat yang tidak dapat dihentikan karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. ( Manuaba, 1998 : 218 ) b. Gejala Perdarahan Perut terasa mules menjadi lebih sering dan kuat Pada pemeriksaan dijumpai erdarahan lebih banyak, kandis

servikalis terbuka dan jaringan / hasil konsepsi dapat diraba ( Manuaba, 1998 : 218 ) c. dilakukan : Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus Penanganan Jika usia kehamilan < 16 minggu lakukan evakuasi uterus denngan aspirasi vakum Manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera

Jika usia kehamilan > 16 minggu konsepsi.

Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi kemudian evakuasi sisa hasil Jika perlu lakukan infuse 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologik / RL ) dengan kecepatan 40 tetes / mnt untuk membantu ekspedisi hasil konsepsi. penanganan ( Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 : M 12 ) 4. Abortus Immiens (keguguran mengancam) a. Pengertian Abortus immiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu , dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks. ( Ilmu kebidanan, prawirohardjo, 1999 :305) b. Gejala Terdapat keterlambatan datang bulan Tedapat perdarahan, perut mules Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan dan kanalis Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif. (Manuaba, 1998 : 218) c. Penanganan Istirahat total di tempat tidur Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah

umur hamil dan dapat terjadi kontraksi otot rahim servikalis dan kanalis masih tertutup.

Evaluasi

Meninggikan aliran darah ke rahim Mengurangi rangsangan mekanis Obat obatan yang dapat diberikan Penenang : Phenobarbital 3 x 30 mgm valium Anti perdarahan : Adona, trnasamin Vit. B kompleks Hormonal : Progestron Penguat plasenta : getanor, duhaston Anti kontraksi rahim (duvadilan, Papaverin) Perdarahan, jumlah , lamanya Kehamilan dapat diulangi Konsultasi pada dokter ahli untuk penanganan ( Manuaba, 1998 :128)

lebih lanjut dan pemeriksaan USG

5. Missed abortion a. Pengertian Missed abortion adalah kemaatian janin berusia sebelum 20 ( Ilmu Kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 308 ) Missed abortion adalah keadaan dimana janin sudah mati, ( Sinopsis obstetric, Rustam Mochtar, 1998 : 212 ) b. Etiologi tetapi berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. minggu, tetapi janinn itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.

Etiologi abortion tidak diketahui, tetapi dengan pengaruh hormone progestron. Pemakaian hormone progestron pada abortus imminens juga dapat menyebabkan missed abortion. c. Gejala

Dijumpai amenorhoe, perdarahan, sedikit-sedikit berulang pada permulaanya, serta selama observation undus tidak bertambah tinggi malahan tambah rendah. Kalau tadinya ada gejala-gejala kehamilan belakangan menghilang, diiringi dengan reaksi kehamilan yang menjadi negative pada 2 3 minggu sesudah fetus mati. Pada pemeriksaaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit. Sekali kali pasien merasa perutnya dingin atau kosong. Fetus yan gmeninggal ini : mati. Bisa diabsorbsi kembali sehingga hilang. Bisa terjadi mongering dan menipis dicabut fetus papuraceus. Bisa jadi mola karnosa dimana fetus yang sudah mati 1 ( Sinopsis obstetric, Rustam Mochtar, 1999 : 309 ) 6. Abortus Habitualis a. Pengertian Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali ( Ilmu Kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 309 ) Abortus Habitualis adalah keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih. ( Sinopsis obstetric, Rustam Mochtar, 1998 : 213 ) atau lebih berturut-turut. Bisa keluar dengan sendirinya dalam 2 3 bulan sesudah fetus

minggu akan mengalami degenerasi dan ait ketubannya diresorbsi.

b.

Etiologi hasilnya adalah pembuahan yang patologis.

1. Kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana kalau terjadi pembuahan 2. Kesalahan ibu yaitu disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progestron sesudah korpus luteum atrois. Ini dapat dibuktikan dengan mengukur kadar pregnadiol dalam urin. Selain itu juga berantung kepada keadaan gizi ibu (malnutrisi), kelainan anatomis dari rahim, Febris Undulad (contigaius abortion), hipertensi oleh karena kelainan pembuluh darah sirkulasi pada plasenta / villi terganggu dan fetus jadi mati. Dapat juga gangguan psikis, serviks inkompeten / rhesusu antagonis. ( Sinopsisi obstetric, Rustam Mochtar, 1998 : 213 ) c. Pemeriksaan submukosa dan anomaly congenital. 2. BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada / tidak gangguan thyroidea. 3. Psiko analisis ( Sinopsis obstetric, Rustam Mochtar, 213 ) d. Gejala Pada kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks disertai mules, ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah, kemudian timbul mules yang diikuti pengeluaran janin yang biasanya masih hidup dan normal. Pada kehamilan triwulan pertama, penderita mengeluh ( Ilmu kebidanan, prawirohardjo , 1999 : 310 ) mengeluarkan banyak lendir dari vagina

1. Histerosalpingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus

e. -

Penanganan Memperbaiki keadaan umum yaitu pemberian makanan yan Terapi dengan hormone progestron, vitamin, hormone tiroid. gsempurna, istirahat cukup banyak. Larangan koitus dan olahraga. Pada serviks inkompeten terapinya adalah operatif SHIROD KAR dan MC DONALD. ( Ilmu kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 310 )

7. Abortus Infeksious dan Abortus Septik a. Pengertian Abortus infeksious adalah abortus yang disertai infeksi pada genetalia,sedang abortus septic ialah abortus infeksious berat dosertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum. ( Ilmu kebidanan, prawirohardjo, 1999 : 310 ) b. Gejala Adanya abortus amenrhoe, perdarahan keluar jaringan yang Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jairngan, Tanda tanda infeksi alat genetalia : demam, nadi cepat, Pada abortus septic : kelihatan sakit berat, panas tinggi, telah ditolong ke luar RS. perdarahan dan sebagainya. perdarahan, berbau, uterus besar dan lembek, nyeri tekan. menggigil, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun sampai syok. Perlu diobservasi apakah ada tanda perormasi atau akut abdomen. ( Sinopsis Obstetri, Rustam Mochtar, 1998 : 214 )

c. -

Penanganan Bila pedarahan banyak, berikan transfuse darah dan cairan Berikan antibiotika yang cukup dan tepat yang cukup. Berikan suntikan penicillin 1 juta satuan tiap 6 jam. Berikan suntikan streptomycin 500 mg setiap 12 jam. Atau antibiotika spectrum luas lainnya. 24 jam sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan banyak, lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi. Infus dan pemberian antibiotika diteruskan menurut kebutuhan Pada abortus septic terapi sama saja, dosis dan jenis yang tetap Tindakan operatif dilakukan bila keadaan umum membaik dan dan kemajuan penderita. sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan umum, partus mereda.

Komplikasi Abortus 1. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfuse darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi pertolongan tidak diberikan pada waktunya. 2. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperetrofleksi. Jikia ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.

3. Infeksi Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus inkompletus dan antisepsis. 4. Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan ( syok hemoragik ) dank arena infeksi berat ( syok endoseptik )

BAB II MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA ABORTUS INCOMPLETUS I. PENGKAJIAN Tanggal jam WIB a. 1. Data Subyektif Identitas klien Nama Suami : Tn Umur : .. th Agama : Pendidikan : Pekerjaan : Nama : Ny Umur : . Th Agama : Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : 2. Alasan datang

Ibu mengatakan tidak haid selama kurang dari 20 minggu mengeluarkan darah segar bergumpal gumpal warna merah tua. 3. Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu tidak menderita penyakit dan menahun seperti pneumonia, tifus, anemia keracunan, toxoplasmosis, tidak pernah menderita penyakit kelamin seperti sifilis, penyakit menurun seperti hipertensi, dan tidak pernah operasi 4. Riwayat kesehatan sekarang Sedang / tidak menderita penyakit menular dan kronis Ibu tidak haid < 20 minggu, ibu mengalami perdarahan seperti jantung, hipertensi dan DM. dari jalan lahir, ada / tidak ada jaringan, nyeri perut. 5. Riwayat kesehatan keluarga

Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti tekanan darah tinggi, dan lain-lain 6. Amenorhoe Banyaknya Menarche Keluhan 7. Nikah Riwayat Haid : < 20 minggu : . Kali sehari ganti softex : .. tahun : Riwayat perkawinan : .. x : .. tahun

Lama menikah

Umur pertama kali nikah : . tahun

8.

Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.

Anak ke mual, ANC. TT / tidak, tablet Fe dan Vitamin. Melahirkan dipecah dini, BBL / PBL, Nifas normal, laktasi. 9. Riwayat hamil sekarang

Ibu merasa hamil, terjadi perdarahan disertai gumpalan, perut terasa mules di daerah symphisis, nyeri pinggang. 10. 11. BAB, BAK Kebiasaan Ibu tidak pernah merokok dan minum alcohol serta minum jamu 12. a. Psikologi perdarahan b. Sosial Ibu cemas dilakukan kuretase Ibu merasa cemas terhadap keadaanya karena terjadi Keadaan Psikososial Riwayat KB Pola kebiasaan sehari-hari Aktivitas Istirahat Nutrisi Kebersihan Eliminasi Aktivitas berat yang dapat mempengaruhi kehamilan Istirahat yang kurang Nutrisi yang buruk Ibu mandi , gosok, gigi, ganti celana dalam

Hubungan ibu dan suami serta keluarga 13. b. 1. KU TD N BB LILA TB RR 2. a. Inspeksi Rambut : warna, bersih / kotor Wajah : tidak kuning, tidak pucat, ada / tidak cloasma. Mata : kongjungtiva, simetris, sclera tidak kuning Hidung : tidak secret, pendengaran normal Mulut : bibir tidak kering, stomatitis, lidah tidak kotor, caries Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis Dada : payudara simetris, membesar, tegang, putting susu menonjol, tidak terdapat hypermigmentasi areola mammae Data Obyektif Pemeriksaan Umum : lemah : 140/80 mmHg (kenaikan systole < 30 mmHg / diastolic < 15 mmHg) : 80 120 x / mnt : bertambah 0,3 0,5 kg / minggu : 23,5 cm : > 145 cm : 20 24 x / mnt Pemeriksaan Fisik Latar Belakang Sosial Budaya Tidak / ada pantangan makanan Tempat biasa berobat Kepercayaan dan mitos-mitos berkenaan dengan abortus

Kesadaran : CM

Perut : - tinggi dan besarnya tetap sesuai dengan umur kehamilan - tinggi dan besarnya sudah mengecil - fundus uteri tidak teraba di atas symphisi b. Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis Dada : pada payudara tidak teraba benjolan abnormal Perut : Ball ( + ) 1. kehamilan 2. 3. c. Auskultasi d. Perkusi Reflek p[atella +/+ (tidak begitu banyak artinya, kecuali bila ada suatu indikasi) e. Inspekulo V/V : fluksus (+), warna merah segar tidak / ada benjolan abnormal Portio : terbuka / tertutup, warna merah, fluktus (+) f. Pemeriksaan dalam V/V : tidak / adabenjolan, darah warna merah segar Portio : terbuka, teraba jaringan, lunak seperti bibir, primipara / multipara Uterus : antefleksi/ retrofleksi, tinggi dan besarnya tetap/mengecil Adnexa : dalam batas normal, tidak ada massa, tidak nyeri goyang Tinggi dan besarnya sudah mengecil Fundus uteri tidak teraba di atas simpisis Tinggi dan besarnya tetap sesuai dengan umur

II. IDENTIFIKASI MASALAH / DIAGNOSA Dx : G . P .. UK < 20 minggu dengan abortus inkomplitus Ds : - Ibu mengatakan tidak haid selama < 20 minggu - Ibu mengatakan perdarahan kemaluan, warna merah segar,, ada/tidak jaringan hasil konsepsi yang keluar, nyeri perut. Do : HPHT Palpasi : Ball (+) Inspekulo V/V : fluktus, warna, tida / ada benjolan Portio : terbuka / tertutup, warna merah, fluktus (+) Pemeriksaan dalam V/V : tidak/ada benjolan, darah warna merah segar. Portio : terbuka, teraba jaringan, lunak Uterus : antefleksi/retrofleksi, tinggi dan besarnya Adnexa : dalam batas normal, tidak ada massa, tidak nyeri goyang Masalah : 1. Perdarahan DS : DO : keluar darah dari jaringan lahir 2. Infeksi DS : DO : suhu > 37,5 0 C , takikardi, nyeri tekan III. INTERVENSI Dx : G P Ab UK < 20 minggu dengan abortus incomplitus Tujuan : - tidak terjadi perdarahan lebih lanjut dan segera berhenti - tidak terjadi kompolikasi atau kelainan pada ibu

- klien setuju dengan tindakan kuretase Intervensi : a. Beritahu tentang keadaan saat ini R/ : dengan memberitahu keadaanya diharapkan klien tenang b. Jelaskan padaibu bahwa janinnya tidak dapat dipertahankan R/ : klien mau mengerti dan tidak mengharapkan kehadiran anaknya c. Jelaskan pada ibu tentang penyebab abortus R/ : klien akan berhati-hati dalam menjaga kehamilan yang akan datang d. Anjurkan pada ibu untuk makan-makanan yang bergizi R/ : gizi terpenuhi dan gizi yang baik diharapkan dapat mencegah infeksi e. Jelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan curetase oleh dokter R/ : dengan penjelasan yang benar klien dapat kooperatif dengan tindakan yang dilakukan. f. Anjurkan ibu untuk mengikuti KB setelah kuretase R/ : dengan mengikuti KB dapat menunda kehamilan sebelum kondisi rahim benar-benar siap untuk implantasi g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi R/ : mendapat tindakan dan perawatan lebih lanjut. Masalah : 1. Perdarahan Tujuan : perdarahan berkurang KH : - muka ibu tidak gelisah - muka ibu tidak pucat - N : 84 x / mnt - RR : 20 x / mnt Intervensi :

a. Lakukan pengosongan uterus dari sisa hasil konsepsi dapat mencegah perdarahan lebih lanjut R / : pengosongan uterus dari sisahasil konsepsi dapat mencegah perdarahan lebih lanjut b. Beri tranfusi darah R / : dapat mengganti darah yang hilang 2. Infeksi Tujuan : tidak terjadi infeksi KH : - tidak terdapat tanda-tanda infeksi - suhu tubuh tidak > 37 0 C - KU baik - leukosit dalam batas normal 3.500 10.000 mm3 Intervensi : a. Observasi tanda-tanda vital R / : TTV merupakan parameter dalam mendeteksi kelaianan b. Berikan cairan infuse R / : untuk mengganti cairan yang hilang c. Beritahu transfuse darah R / : transfuse darah dapat mengganti darah yang hilang IV. IMPLEMENTASI Implementasi mengacu pada intervensi V. EVALUASI Evaluasi mengacu pada KH

BAB III TINJAUAN KASUS I. Pengkajian Hari tanggal 13 Februari 2007 jam 18.00 A. Data Subyektif 1. Biodata Nama istri Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat No Reg I : Ny W : 26 th. : Islam : SMU : IRT : Purwokerto, Ngadiluwih : 020811 2.KeluhanUtama Ibu mengatakan perutnya mules dan mengeluarkan darah yang banyak diserta Nama suami : Tn. S Unur Agama Pekerjaan : 29 th. : Islam : Wiraswasta

Pendidikan : SLTP

Janin dan plasenta sejak pukul 16.00 WIB. Di rumah 3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun seperti Hipertensi, DM. Ibu tidak pernah oprasi sebelumnya. Ibu mengatakan tidak pernah operasi 4. Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu mengatakan agak sakit pusing, mengalami perdarahan pada jalan lahir, Nyeri perut bagian bawah. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular, menahan dan menurun 6. Riwayat Haid Menarche : 14 tahun Sirklus Lama :28 hari : 8 hari Banyaknya : ganti softek 3 x /hari HPHT : 1-10-2006 Disminorhea :Tidak

7. Riwayat Perkawinan Menikah : 1 x Lama : 6 tahun Usia pertama menikah : 20 tahun 9. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu Kehamilan : Ibu mengalami mual muntah sampai usia kandungan 2 bulan. Ibu periksa di bidan sebanyak 4 kali. Ibu mendapat tablet Fe dan minum setiap hari. Ibu mendapat suntik TT dan penyuluhan dari bidan tentang senam hamil. Persalinan : Ibu melahirkan di rumah bidan secara sepotan belakang kepala. Plasenta lahir lengkap secara sepontan. Tidak ada jahitan di jalan lahir, Perdarahan normal. Nifas : Nifas normal. Tanpa komplikan. Yaitu tidak terjadi perdarahan. 10. Riwayat Kehamilan Sekarang Ibu mengatakan ini adalah kehamilanya yang ke-2 dan maih berusia 4 bulan lebih. Pada tangggal 9 Februari 2007 ibu memeriksakan kandunganya

kebidan dan di nyatakan normal. Tapi pada tanggal 31-02-2007 di rumah ibu mengeluarkan darah yang banyak disertai gumpalan-gumpalan dan myeri perut bagian bawah. Kemudian ibu dibawa ke bidan dan kemudian di rujuk ke RSIAl-Arafah. 11. Riwayat KB Ibu menggunakan KB pil sejak 3 tahun yang lalu. Dan sekitar 1 th yang lalu ibu berhenti memakai alat kontrasepsi. 12. Pola Kebiasaan sehari-hari a. Pola istirahat di rumah : Ibu tidak pernah tidur siang. Tidur malam 9 jam/hari di Rs :-

b. Pola nutrisi di rumah : nafsu makan ibu berkurang saat hamil karena mengalami meual muntah. Minum air putih 5 gelas/hari kadang susu/the. di Rs :c. Pola aktifitas di rumah : Ibu mengatakan bahwa is mengerjakan aktifitasnya seperti biasa. Sebulum terjadi perdarahan ibu barusaja ikut pergi dari rumah sudaranya yang jaraknya lumayan jauh. di Rs : Ibuhanya berbaring ditempat tidur karena merasa ksakitan d. Pola eliminasi di rumah : BAB = 1x/hr . BAK = 5-6 x/hr di Rs : BAB (-) , BAK = (-) e. Pola kebersihan Mandi 2x/hr, gosok gigi, ganti pakaian tiap kali kotor f. Kebiasaan Ibu tidak pernah merokok dan minum olkohol

12. Keadaan social dan kultural - Hubungan ibu dan keluarga baik - Tidak diadakan upacara 7 bulanan 13. Keadaan psikologi dan spiritual -Ibu sangat cemas karena kehamilan ini sangat diinginkan -Ibu berdoa semoga bisa hamil lagi B . Data Obyektif 1. Pemeriksaan umum KU : lemah Kesadaran : CM TD =100/60 mmHg S = 36 C N = 88 x/mnt RR =26 x/mnt 2. Pemeruksaan khusus a. Inspeksi Kepala : bersih, hitam, tidak rontok. Benjolan (-), oedema (-) Muka : agak pucat,eodoma (-) Mata : konjungtiva agak pucat, sklra putih Hidung : bersih, secrit (-), polip (-) Telinga : bersih, secrit Mulut : bersih, bibir agak kering, lidah tidak kotor Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, dan vena jugularis Dada Perut : payudara membesar, putting menonjol, heperpigmintasi (+) : strie albican (-), bekas sc (-) BB sebelum hamil = 50 kg BB setelah hamil = 51 kg TB = 160 cm TP = 8-7-07

Genetalia : vanses (-), eodoma (-), keluar darah warna merah tua Ektrimitas : oedoma (-), vanses (-) b. Payudara :benjolan (-), colostrum (-)

Perut - Leopold I

=TFU 2 jari atas simfisis

Leopold II = Leopold III = Leopold lV = c. Inspekulo Porho terbuka, fluksus (+) d. Pemeriksaan dalam v/v = oedoma (-), keluar darah portio = terbuka seujung jari 3. Terapi - Infus RL - Antibiotik (3x1), mefinal (3x1) II. INDENTIFIKASI MASALAH DIAGNOSA Dx : G2P1001 Uk = 18-19 mgs dengan abortas inkomplitas Ds : Ibu mengatakan hamil yang ke-2 . Pada tanggal 13-02-2007 jm 16.00 mengeluarkan darah banyak disertai janin dan nyeri perut bagian bawah. Do : Ku : lemah Kesadaran : CM TN : 100/60 mmmHg N : 88x/mnt RR : 26x/mnt S : 36C Infeksi : Mata : konjungsi agak pucat Genetika : keluar darah merah tua Pemeriksaa dalam v/v : oedema (-), darah (-) Porho terbuka seujung jari

Masalah : 1. Cemas Ds = Ibu mengatakan cemas terhadap keadaanya karena kehamilanya sangat diinginkan.

Do = N : 88x/mnt RR : 26x/mnt Muka tampak agak pucat III. INTERVENSI Dx : G2P1001 Uk : 18-19 mingggu dengan arbutus inkomplitasi Tujuan : tidak terjadi komplikasi pada ibu KH : - peredaran darah segera berhenti dalam waktu 1 minggu sisa konsepsi dapat keluar semua Ku = baik TD = 100/70 130/90 mmHg N = 60-100x/mnt RR = 16-24x/mnt S = 36-37C Hb : 10-11 gram % Intervensi : 1. Bertahan ibu tentang kondisinya saat ini R/ : informasi tentang keadaan ibu akan membuat ibu koperatif dengan tindakan yang akan dilakukan terhadap ibu. 2. Jelaskan pada ibu akan dilakukan kuritase oleh dokter R/ : dengan penjelasan pada ibu di harapkan kita dapat komperatif dengan tindakan yang dilakukan 3. Kolaborasi dengan tim medis dalam tindakan kuratase R/ : mendapat tinadakan dan perawatan lebih lanjut 4. Menyiapkan surat persetujuan untuk tindakan kuret R/ : sebagai bukti tertulis kesediaan menjalani tindakan Masalah : cemas Tujuan : cemas berkurang

KH : - ibu mengerti dengan keadaannya - ibu mengerti penyebab abortus - ibu siap menghadapi kuritase - ibu tidak tegang Intervensi a. Jelaskan pada ibu penyebab abortus R/ : dengan mengetaui penyebab abortus klien dapat berhenti dalam menjaga kehamilannya yangakan dating. b. Berikan kesempatan ibu mengungkapkan perasaannya R/ : ibu mudah mengontrol emosinya c. Beri dukungan mental R/ : meningkatkan percayay diri ibu. IV. IMPLEMENTASI Tgl 13 Februari 2007 jam 19.30 WIB Dx : G2P1001 Iplementasi : 1. Memberitau ibu tentang kondisi ini bahwa peredaran yang dialami ibu merupakan penyenaran dari hasil konsepsi janin ibu. Janin ibu memang sudah lahir numun masih ada sisa jaringan yang berada dirahim sehinga harus dikeluarkan supaya perdarahannya tidak banyak dan tidak terjadi infeksi di rahim ibu. 2. Menjelaskan pada ibu akan dilakukan kurates oleh dokter untuk mengeluarkan sisa jaringan yangberada di rahim dengan menggunakan sendok kuret sampai bersih agar perdarahan segera berhenti. Sebelum dilakukan kuret dipasang infuse, kemidian ibu akan disuntik bius supaya tidak kesakitan. 3. Menjelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan kuretase oleh dokter karena kuretasi adalah cara untuk menghentikan peredaran Uk 18-19 minggu dengan Ag. Implentasi

4. Berkolaborasi dengan tim medis dalam tindakan kuritase. Dalam halini kolaborasi dengan dokter obyn dan anashisi. 5. mempersiapkan surat persetujuan untuk tindakaqn curitase sebagai bukti tertulis. MASALAH : 1. Gangguan spikologis cemas Implementasi: a. Menjelaskan pada ibu tentang penyebap abortus. b. Memberi kesempatan keapada ibu untuk mengungkapkan perasannya setelah kehamilannya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. c. Memberi dukungan mental pada ibu . Dan memberitahu ibu bahwa umur ibu masih memungkinkan untuk hamil kembali karena belum memasuki resti. V . EVALUASI Tgl, 13 Februari 2007 jam 21.00 WIB Dx: P1011 Uk, 18-19 minggu dengan abortus inkomplitus. S : - Ibu mengerti keadaan saat ini. - Ibu mengeluh perytnya mules setelah dilakukan curetase. O : - Telah dilakukan curetaseoleh dokter pada jam 20.00 WIB. - Konjungtiva tidak bulat. - KU lemah. - TD : 120/80 mmHg. A : P1001 dengan poot curettage P : - Bantu ibu untuk makan dan minum. - Anjurkan ibu untuk menunda kehamilan dulu sampai 4-6 bulan sampai rahim pulih kembali. - Anjurkan ibu untuk makan, makanan yang bergizi. - Jelaskan pada ibu untuk istirahat.

- Anjurkan ibu untuk kembali ke dokter 1 minggu lagi. Masalah : Cemas S = Ibu mengatakan sudah tidak cemas lagi dengan kondisinya. O = KU = baik RR = 20x/mnt Kesasdaran = CM Ibu tampak senang TD =120 /80 mmHg N = 80x/mnt A = Cemas hilang P = - Jelaskan pada ibi bahawa ibu memungkinkan untuk hamil lagi - Anjurkan pada ibu untuk banyak iastirahat