Anda di halaman 1dari 19

BAB I Pendahuluan

I.1. Latar Belakang Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian interaksi dari

pembangunan nasional yang secara keseluruhan perlu digalakkan pula. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dan sejahtera.1 Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya, melakukan pembinaan kesehatan anak sejak dini melalui kegiatan kesehatan ibu dan anak. Pembinaan kesehatan anak usia dini, sejak masih dalam kandungan hingga usia balita ditujukan untuk melindungi anak dari ancaman kematian dan kesakitan yang dapat membawa cacat serta untuk membina, membekali dan memperbesar potensinya untuk menjadi manusia tangguh.2 Dalam beberapa tahun terakhir Angka Kematian Bayi telah mengalami banyak penurunan yang cukup menggembirakan, meskipun pada tahun 2001 meningkat kembali sebagai dampak dari berbagai krisis yang melanda Indonesia. Pada tahun 1971 Angka Kematian Bayi (AKB) diperkirakan sebesar 152 per 1000 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 117 pada tahun 1980, dan turun lagi menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Berdasarkan estimasi susenas tahun 2002 2003 Angka Kematian Bayi berturut turut pada tahun 2001 sebesar 50 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1000 kelahiran hidup.3 Meskipun sudah banyak kemajuan yang telah dicapai bangsa Indonesia, yang antara lain ditandai dengan berhasil diturunkan Angka Kematian Balita dari 58 per 1000 kelahiran hidup menjadi 39 per 1000 kelahiran hidup (2007), namun pencapaiannya masih jauh dari yang diharapkan. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah yang tertinggi. Depkes menargetan pada tahun 2009 AKB menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup.3

Dalam upaya untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, angka kelahiran agar terwujud keluarga kecil bahagia dan sejahtera, pelaksanaannya tidak saja melalui program program kesehatan, melainkan berhubungan erat dengan program KB. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa, yang pelaksanaannya secara operasional dibentuklah Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU). Posyandu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatandan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat terutama dalam upaya penurunan Angka Kematian Bayi dan angka kelahiran sosial. Salah satu tujuan menyelenggarakan Posyandu adalah mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi dan balita serta pengembangan kualitas sumber daya manusia dengan mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak. Pemantauan pertumbuhan (growth monitoring) merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terusmenerus (berkesinambungan) dan teratur. Dengan pemantauan pertumbuhan, setiap ada gangguan keseimbangan gizi pada seorang anak akan dapat diketahui secara dini melalui perubahan pertumbuhannya. Dengan diketahuinya gangguan gizi secara dini maka tindakan penanggulangannya dapat dilakukan dengan segera, sehingga keadaan gizi yang memburuk dapat dicegah. Bentuk salah satu pelaksanaan kegiatan posyandu dalam mengoptimalisasi potensi tumbuh kembang anak melalui kegiatan penimbangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memonitoring balita dengan melihat naik atau tidak naik berat badan, yang dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Atas dasar penimbangan bulanan ini dapat diketahui status gizi dan penentuan tindak lanjutnya manakala dibutuhkan.4 Semua informasi yang diperlukan untuk pemantauan pertumbuhan balita bersumber dari data berat badan hasil penimbangan balita. Bulan yang diisikan kedalam KMS untuk dinilai naik (N) atau tidak naik (T) pertumbuhan balita. Ibu yang tidak menimbang balitanya ke Posyandu dapat menyebabkan tidak terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita. Balita yang tidak ditimbang berturut-turut beresiko keadaan gizinya memburuk sehingga mengalami gangguan

pertumbuhan. Cakupan penimbangan balita (D/S) di posyandu merupakan indikator tinggi/ rendahnya partisipasi masyarakat di posyandu (D/S merupakan persentase balita yang ditimbang di posyandu dibanding seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu).

BAB II Tinjauan Pustaka

II.1. Anak Dibawah Lima Tahun (Balita) II.1.1. Definisi Anak balita adalah yang berusia 0 tahun sampai dengan 5 tahun kurang dari 1 hari. Banyak hal yang mempengaruhi kesehatan anak balita, antara lain adanya keterkaitan status gizi dan keadaan fisik lingkungan. Anak balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap berbagai paparan infeksi, karena pada tubuh anak yang kekurangan gizi terdapat penghancuran jaringan untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, sehingga homeostatis dalam tubuh terganggu dan akhirnya daya tahan tubuh balita menurun, hal ini menyebabkan anak mudah terserang penyakit. Adapun keadaan fisik lingkungan juga mempengaruhi kesehatan balita, keadaan fisik lingkungan meliputi sarana sanitasi (tempat pembuangan sampah), ketersediaan air bersih, cuaca, ketersediaan rumah sehat.5,6 Pertumbuhan Balita4

II.1.2.

1. Pengertian Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dari waktu ke waktu. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh seperti pendengaran, penglihatan, kecerdasan dan tanggung jawab. 2. Garis Pertumbuhan Anak sehat tumbuh mengikuti pola garis pertumbuhan normal, bertambah umur akan bertambah berat mengikuti grafik pertumbuhan dalam kartu menuju sehat (KMS). 3. Perkembangan anak sehat Anak sehat mempunyai perkembangan kecerdasan, ketangkasan, dan tingkat kewaspadaan yang cukup tinggi sesuai dengan umurnya.

4. Ciri-ciri pertumbuhan:

a. Merupakan perubahanyang dapat diukur secara kuantitatif b. Mengikuti perjalanan waktu c. Setiap balita memiliki jalur pertumbuhan normal (growth trajectory). 5. Pemantauan pertumbuhan Balita Tujuan dari Pemantauan Pertumbuhan Balita antara lain: a. Mencegah memburuknya keadaan gizi b. Meningkatkan keadaan gizi c. Mempertahankan keadaan gizi baik

II.1.3.

Cakupan Penimbangan Balita Kegiatan bulanan di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang

bertujuan untuk:4 1. Memantau pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). 2. Memberikan konseling gizi. 3. Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar. Untuk tujuan pemantauan pertumbuhan balita dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Di dalam KMS berat badan balita hasil penimbangan bulan diisikan dengan titik dan dihubungkan dengan garis sehinggan membentuk garis pertumbuhan anak. berdasarkan garis pertumbuhan ini dapat dinilai apakah berat badan anak hasil penimbangan dua bulan berturut-turut: Naik (N) atau Tidak Naik (T) dengan cara yang telah ditetapkan dalam buku Panduan Penggunaan KMS bagi Petugas Kesehatan.4 Selain informasi N dan T, dari kegiatan penimbangan dicatat pula jumlah anak yang datang ke Posyandu dan ditimbang (D), jumlah anak yang tidak ditimbang bulan lalu (O), jumlah anak yang baru pertama kali ditimbang (B), dan banyaknya anak yang berat badannya di bawah garis merah (BGM). Catatan lain yang ada di Posyandu adalah jumlah seluruh

balita yang ada di wilayah kerja Posyandu (S), dan jumlah balita yang memiliki KMS pada bulan yang bersangkutan (K).4 Data yang tersedia di Posyandu dapat dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan fungsinya, yaitu:4 1. Kelompok data yang dapat digunakan untuk pemantauan pertumbuhan balita, baik untuk : a. Penilaian keadaan pertumbuhan individu (N atau T dan BGM), dan b. Penilaian keadaan pertumbuhan balita di suatu wilayah (% N/D). 2. Kelompok data yang digunakan untuk tujuan pengelolan program/ kegiatan di posyandu (% D/S dan K/S).

II.2. Posyandu II.2.1. Pengertian Menurut Depkes RI (2005), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Posyandu antara lain: Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), KB (Keluarga Berencana), P2M (Imunisasi dan Penanggulangan Diare), dan Gizi (penimbangan Balita). Sedangkan sasaran penduduk Posyandu ialah ibu hamil, ibu menyusui, Pasangan Usia Subur (PUS) dan Balita. Program Posyandu merupakan strategi pemerintah dalam menurunkan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate), angka kelahiran (Birth Rate), dan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate). Turunnya IMR, BR, dan MMR di suatu wilayah merupakan standar keberhasilan pelaksanaan program terpadu di wilayah tersebut. Untuk mempercepat penurunan IMR, BR, dan MMR tersebut, secara nasional diperlukan tumbuhnya peran serta masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan Posyandu, karena Posyandu adalah milik masyarakat.Untuk mengembangkan peran serta

masyarakat di Posyandu dapat dilakukan dengan penerapan asas-asas manajemen kesehatan.4

II.1.2.

Sistem Informasi di Posyandu (Sistem Lima Meja)3,4

1. Meja I Layanan meja I merupakan layanan pendaftaran, kader melakukan pendaftaran pada ibu dan Balita yang datang ke Posyandu. Alur pelayanan Posyandu menjadi terarah dan jelas dengan adanya petunjuk di meja pelayanan. Petunjuk ini memudahkan ibu dan Balita saat datang, sehingga antrian tidak terlalu panjang atau menumpuk di satu meja. 2. Meja II Layanan meja II merupakan layanan penimbangan 3. Meja III Kader melakukan pencatatan pada buku KIA atau KMS setelah ibu dan Balita mendaftar dan ditimbang di meja III. Pencatatan dengan mengisikan berat badan Balita ke dalam skala yang di sesuaikan dengan umur Balita. Di atas meja terdapat tulisan yang menunjukan pelayanan yang di berikan. 4. Meja IV Berat badan anak yang naik atau yang tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, pasangan usia subur yang belum mengikuti KB, penyuluhan kesehatan, pelayanan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), oralit, vitamin A, tablet zat besi dilakukan di meja IV 5. Meja V Pemberian imunisasi dan pelayanan kesehatan kepada Balita yang datang ke Posyandu dilayani di meja V, dilakukan oleh bidan desa atau petugas kesehatan lainnya. Imunisasi yang diberikan di posyandu adalah imunisasi dasar, yaitu: BCG, DPT, Hepatitis, Polio, Campak.

Kecuali itu ada sebagian posyandu yang memberikan PMT kepada bayi dan anak balita secara swadaya, PMT ini diberikan setelah meja V (lima). Disamping itu ada pula Posyandu yang melakukan penyuluhan kelompok sebelum meja I (satu) ataupun setelah meja V (lima). Dalam penyelenggaraan posyandu ini sangatlah jelas bahwa yang mempunyai peranan besar adalah kader, dalam hal ini tentunya kader yang aktif dalam setiap kegiatan Posyandu. Tujuan Posyandu4

II.1.3.

1. Tujuan Umum Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. b. Meningkatkan peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. c. Meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. Program Kerja Posyandu7

II.1.4.

1. KIA 2. KB 3. lmunisasi. 4. Gizi. 5. Penggulangan Diare. II.1.5. Prinsip Dasar Posyandu4

Prinsip dasar Posyandu terdiri atas: 1. Posyandu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan profesional dan non profesional oleh masyarakat. 2. Adanya kerjasama, lintas program yang baik (KIA, KB, gizi, imunisasi, penanggulangan diare) maupun lintas sektoral (Depkes RI, Depdagri/ Bangdes, BKKBN) 3. Kelembagaan masyarakat 4. Mempunyai sasaran penduduk yang sama (bayi, balita, anak balita, ibu) Indikator Kegiatan Posyandu7

II.1.6.

Ada beberapa indikator dalam kegiatan Posyandu antara lain: 1. Liputan Program (K/S). Merupakan indikator mengenai kemampuan program untuk

menjangkau Balita yang ada di masing-masing wilayah kerja posyandu. Diperoleh dengan cara membagi jumlah balita yang ada dan mempunyai Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan jumlah keseluruhan Balita dikalikan 100. 2. Tingkat Kelangsungan Penimbangan (K/D). Merupakan tingkat kemantapan pengertian dan motivasi orang tua balita untuk menimbang balitanya setiap bulan. Indikator ini dapat dengan cara membagi jumlah Balita yang ditimbang (D) dengan jumlah Balita yang terdaftar dan mempunyai KMS (K) dikalikan 100. 3. Hasil Penimbangan (N/D). Merupakan indikator keadaan gizi Balita pada suatu waktu (bulan) di wilayah tertentu. Indikator ini didapat dengan membagi jumlah Balita yang naik berat badannya (N) dengan jumlah Balita yang ditimbang bulan ini (D). 4. Hasil Pencapaian Program (N/S). Indikator ini di dapat dengaan cara membagi jumlah Balita yang naik berat badannya (N) dengan jumlah seluruh Balita (S) dikalikan 100.

5. Partisipasi Masyarakat (D/S). Indikator ini merupakan keberhasilan program Posyandu, karena menunjukkan sampai sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dan orang tua Balita pada penimbangan Balita di Posyandu. Indikator ini di peroleh dengan cara membagi jumlah Balita yang ditimbang (D) dengan jumlah seluruh Balita yang ada (S) dikalikan 100. Tinggi rendahnya indikator ini dipengaruhi oleh aktif tidaknya bayi dan Balita ditimbangkan tiap bulannya. Penimbangan8 Penimbangan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memonitoring balita dengan melihat naik atau tidak berat badan dengan menggunakan alat timbang berupa dacin, yang dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Penimbangan merupakan salah satu pelaksanaan kegiatan posyandu dalam rangka mengoptimalisasi potensi tumbuh kembang anak

II.2.7.

II.3. Kartu Menuju Sehat (KMS)9 KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk Balita dan Balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang memuat data pertumbuhan serta beberapa informasi lain mengenai perkembangan anak, yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. Kartu menuju sehat adalah suatu kartu yang berisikan rekomendasi tentang standar pertumbuhan, prototipe grafik pertumbuhan dan petunjuk cara penggunaan grafik pada pelayanan kesehatan. Jenis-jenis catatan (informasi) pada KMS adalah: 1. Berat badan anak (pertumbuhan anak) 2. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif untuk bayi berumur 0 sampai 4 atau 6 bulan 3. Imunisasi yang sudah diberikan kepada anak

4. Pemberian vitamin A 5. Penyakit yang pernah diderita anak dan tindakan yang diberikan Manfaat KMS: 1. Catatan/ informasi pada KMS merupakan alat pemantau keadaan balita yang bisa dijadikan acuan untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dan keluarganya. 2. Sebagai acuan penyuluhan, catatan KMS juga dijadikan bahan acuan untuk memberikan rujukan, baik ke meja 5 maupun ke Puskesmas. 3. Rujukan ini diberikan apabila pada KMS terdapat catatan berikut ini: a. Berat Badan balita berada di bawah garis merah (BGM) pada KMS. b. Berat badan balita 2 kali (2 bulan) berturut-turut tidak naik.

II.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan (Cakupan Penimbangan Balita) Menurut Blum dalam The Force Field and Well Being Paradigma menjelaskan tentang empat faktor lapangan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu:10 1. Faktor lingkungan Termasuk di dalamnya adalah faktor fisik, sosial, ekonomi, pendidikan, biologi. 2. Faktor perilaku Termasuk didalamnya adalah tingkah laku dan kebiasaan. 3. Faktor pelayanan Kesehatan Termasuk rehabilitasi. 4. Faktor herediter atau Kependudukan Dari konsep Blum diatas, dapat dilihat bahwa peran dokter dalam menjaga agar seseorang atau masyarakat tetap dalam derajat kesehatan yang di dalamnya adalah pencegahan, pengobatan dan

optimum tidak cukup melalui cara mengobati dari orang yang sakit satu ke orang sakit yang lainnya. Oleh sebab itu, Leavel & Clark merumuskan Kedokteran Pencegahan dalam five level of prevention yang meliputi Pencegahan primer, sekunder, dan tersier yang mengandung arti bagaimana seseorang tidak menjadi sakit. Promosi kesehatan yang merupakan bagian pencegahan primer ditujukan kepada orang yang sehat yang belum sakit sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit. Salah satu usaha promosi kesehatan adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan.10 Pada pencegahan sekunder dimana salah satu isinya adalah diagnosis awal dan terapi yang adekuat, diharapkan setiap kasus yang ditemukan dapat segera didiagnosis dan diberikan terapi yang adekuat agar orang yang sakit tidak menjadi semakin parah. Dalam hal ini petugas kesehatan diharapkan mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap semua perlakuan yang harus diberikan pada setiap kasus yang ada sehingga terapi dapat diberikan dengan tepat.10 Pada penelitian ini, dikarenakan terbatasnya waktu dan dana maka kami mengambil 8 faktor dari uraian diatas, yaitu: 1. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan formal akan berpengaruh terhadap cara berfikir seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap lingkungan. Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesadaran kesehatan terhadap diri sendiri dan keluarganya. Dalam hal ini adalah kerutinan ibu untuk menimbangkan balitanya di posyandu.11 2. Status Pekerjaan Banyak ibu-ibu bekerja mencari nafkah, baik untuk kepentingan sendiri maupun keluarga. Faktor bekerja tampak berpengaruh pada ketidakaktifan ibu datang ke posyandu, karena mereka mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan yang belum cukup, yang berdampak pada tidak adanya waktu para ibu balita untuk aktif pada kunjungan ke Posyandu, serta tidak ada waktu ibu untuk mencari informasi karena

kesibukan mereka dalam bekerja. Kondisi kerja merupakan faktor yang mempengaruhi ketidakaktifan ibu datang ke posyandu. Hal ini dapat menyebabkan frekuensi ibu yang memiliki balita untuk kunjungan ke Posyandu akan berkurang.11 3. Tingkat Pendapatan Pendapatan adalah hasil perolehan usaha. Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. Pendapatan keluarga oleh suami dan istri rata-rata dalam satu bulan merupakan penghasilan dalam jumlah uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan. Tingkat pendapatan keluarga mencerminkan tingkat ekonomi

seseorang dimana secara tidak langsung berpengaruh dalam usaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini penimbangan balita di posyandu.8 4. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pengetahuan tentang Posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program Posyandu khususnya ketidakaktifan ibu balita untuk kunjungan ke Posyandu. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan Posyandu. Tanpa adanya pengetahuan maka para ibu balita akan sulit dalam menanamkan kebiasaan kunjungan ke Posyandu. Pengetahuan tentang Posyandu akan berdampak pada

sikap terhadap manfaat yang ada dan akan terlihat dari praktek dalam ketidakaktifan ibu balita terhadap masalah kesehatan balitanya.8 Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah ketidakaktifan ibu balita karena kurang percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta

kurang mampu dalam menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari.8 Tingkat pengetahuan seseorang banyak mempengaruhi perilaku individu, dimana semakin tinggi tingkat pengetahuan seorang ibu tentang manfaat Posyandu, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesadaran untuk berperan serta dalam program Posyandu.

Pengetahuan tentang Posyandu yang rendah akan menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran ibu yang akan membawa balita untuk berkunjung ke Posyandu.8 5. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Komponen pokok sikap, Allport menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok, yaitu : Kepercayaan/keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu objek. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek Kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Penelitian tentang hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu terhadap status gizi balita di enam Kecamatan di Kabupaten Sragen tahun 2008, didapatkan bahwa ibu yang pengetahuan dan sikapnya baik mempunyai kemungkinan 17 kali lebih besar unttuk mempunyai anak balita dengan status gizi baik bila dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan dan sikap yang buruk. 6. Perilaku Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas, 2005). Dari pandangan

biologis perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Robert Kwick (1974), menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.Skinner (1938), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus/

rangsangan dari luar. Penelitian mengenai hubungan perilaku ibu dengan status gizi balita di Puskesmas Tanjung Beringin Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat tahun 2005, mendapati jumlah ibu yang perilakunya baik dengan status gizi balita baik sebesar 65,6% sedangkan jumlah ibu yang perilaku kurang dengan status gizi balita kurang sebesar 26,1%. Berdasarkan hasil uji statistic dari penelitian tersebut, diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku ibu dengan status gizi balita. Artinya status gizi balita sangat mempengaruhi oleh tindakan ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi balita 7. Paritas Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang wanita (primipara = 1, multipara = 2-5, grandemultipara = lebih dari 5). Jumlah balita dalam suatu keluarga mempengaruhi perhatian seorang ibu kepada balitanya, dimana semakin banyak anak dalam keluarga akan menambah kesibukan ibu dan pada akhirnya tidak punya waktu untuk keluarga dan akan gagal membawa balitanya ke Posyandu.1

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Identifikasi Masalah Puskesmas Kenten


Program Program Gizi Penimbangan Balita Target 80% Pencapaian 79% Masalah Cakupan peran serta masyarakat dalam penimbangan balita tidak tercapai

3.2

PEMECAHAN MASALAH
PRIORITAS MASALAH PENYEBAB MASALAH ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Laporan Petugas posyandu lengkap. Penyuluhan ditingkatkan. Penyuluhan kurang. : Kesadaran Ibu membawa Balita ke Posyandu kurang. Motivasi kader ke Masyarakat kurang. terhadap kader untuk mengajak masyarakat untuk memanfaatkan posyandu. Pentingnya Posyandu untuk tumbuh kembang anak. Pengadaan timbangan. Pelatihan dan penyegaran kader posyandu. PEMECAHAN MASALAH TERPILIH Penyuluhan di tingkatkan.

Cakupan peran serta Masyarakat tidak mencapai target ( D/S )

Laporan petugas kurang lengkap.

Tingkat pendidikan Masyarakat kurang.

Pelatihan dan penyegaran kader posyandu.

Tingkat Ekonomi Masyarakat kurang. Ibu ibu bekerja sehingga tidak ada waktu membawa anak ke Posyandu.

Pengadaan timbangan.

Timbangan rusak.

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Rendahnya cakupan penimbangan balita yang ada di Puskesmas Kenten disebabkan dari permasalahan faktor ibu, sarana, lingkungan. Faktor ibu bisa dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, penghasilan, perilaku, paritas, dan kedatangan ke posyandu. Dari faktor sarana dapat disebabkan oleh letak posyandu yang jauh, SDM tenaga kesehatan yang kurang dalam penyuluhan serta sarana dan prasaran yang kurang memadai. Kemudian yang terakhir adalah faktor lingkungan seperti kurangnya ekonomi masyarakat, dan tingkat pendidikan yang rendah.

4.2

Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran rendahnya cakupan

penimbangan balita di Pusyandu Sinar Purnomo Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur dengan memperhatikan kesimpulan yang telah dikemukakan penulis menyarakan : 1. Bagi Posyandu Sinar Purnomo Agar meningkatkan kualitas pelayanan posyandu sehingga dapat

meningkatkan peran serta ibu bayi dan balita dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu. 2. Bagi Ibu Balita

Menambah pengetahuan ibu tentang manfaat Posyandu dan sebagai masukan dan evaluasi peran serta ibu dalam kegiatan pelayanan Posyandu.