Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGAMATAN PENYAKIT TUMBUHAN

ACARA 1 SIMULASI PENENTUAN INTENSITAS PENYAKIT DENGAN METODE SKORING

Nama NIM Hari/Tanggal Asisten

: Valentina E F A : 11525 / PN : Kamis, 24 November 2011 : Ayu Lestiyani Lela Puspitasari

LABORATORIUM KLINIK TUMBUHAN JURUSAN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

ACARA 1 SIMULASI PENENTUAN INTENSITAS PENYAKIT DENGAN METODE SKORING


I. 1. 2. TUJUAN

Memahami dan mempelajari pengamatan penyakit tanaman dengan metode scoring. Dapat melakukan skoring dengan cepat dan tepat.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Biasanya tumbuhan sakit menunjukkan gejala yang khusus. Gejala (symptom) adalah perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan itu sendiri, sebagai akibat dari adanya penyebab penyakit. Seringkali penyakit tertentu tidak hanya menyebabkan timbulnya satu gejala, tetapi serangkaian gejala, yang sering disebut sindroma (syndrom). Tetapi seringkali beberapa macam penyakit pada tumbuhan tertentu menunjukkan gejala yangsama, sehingga dengan memperhatikan gejala saja kita tidak dapat menentukan diagnosis dengan pasti. Dalam hal ini di samping memperhatikan gejala saja kita tidak dapat menentukan diagnosis dengan pasti. Dalam hal ini di samping memperhatikan gejala kita juga harus memperhatikan tanda (sign) dari penyakit. Adapun yang dimaksud dengan tanda adalah semua pengenal dari penyakit selain reaksi tumbuhan inang (selain gejala), misalnya bentuk tubuh buah parasit, miselium, warna spora, dammar (blendok), lender, dan sebagainya (Semangun, 1996). Penilaian penyakit atau phytopathometry menurut Large (1966), melibatkan pengukuran dan penjumlahan penyakit tanaman, oleh karena itu sangat penting dalam studi dan analisis epidemi penyakit tanaman. Nutter et al. (2006) membedakan antara penilaian penyakit dan phytopathometry. Penilaian penyakit didefinisikan sebagai proses mengukur intensitas penyakit secara kuantitaif sedangkan phytopathometry sebagai teori dan praktek penilaian penyakit Pentingnya metode penilaian penyakit secara akurat diidentifikasi dalam review phytopathometry dan penilaian kerugian tanaman oleh Chester (1950) dan Large (1966). Setiap metode sampling yang digunakan dalam penilaian penyakit harus acak, representatif, dan obyektif, dan -tergantung pada penyakit yang terlibat- dapat merusak atau non-destruktif (Jones dan Clifford, 1978).

Penyakit dapat diukur dengan menggunakan metode langsung (yaitu menilai penyakit di dalam atau pada tanaman) atau metode tidak langsung (misalnya pemantauan populasi spora menggunakan perangkap spora). Jelas metode langsung cenderung lebih berkorelasi kuat dengan hasil kerugian pada tanaman dan oleh karena itu lebih sering digunakan. Namun, baru-baru ini metode remote sensing dan deteksi stres tanaman akibat penyakit cenderung meningkatkan akurasi pengukuran penyakit tidak langsung. Metode langsung digunakan untuk estimasi kuantitatif dan kualitatif dari penyakit (Cooke et al., 2006).

III.

METODOLOGI

Praktikum Teknik Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan bagian penyakit acara 1 yang berjudul Simulasi Penentuan Intensitas Penyakit dengan Moetode Skoring ini dilaksanakan pada hari Kamis, 24 November 2011 di Laboratorium Klinik Tumbuhan, Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan pada acara praktikum kali ini yaitu alat tulis, gambaran simulasi mengenai tingkat kerusakan daun. Pertama-tama, gambar visual simulasi diperhatikan dan diamati. Kemudian skoring kerusakan tanaman pada gambar tersebut ditentukan dengan waktu yang sudah ditentukan juga. Kemudian diamati 60 penyakit pada gambar dan dihitung intensitasnya dengan rumus :

IP =
m v N Z : skor penyakit

: jumlah tanaman dengan skor penyakit v

: jumlah tanaman sampel : skor penyakit tertinggi

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil simulasi skoring No. 1 2 3 4 5 6 Skor 0 1 2 3 4 5 Keterangan 0% (1-4)% (5-10)% (11-20)% (21-40)% >40% Jumlah 6 4 17 12 14 7

IP =

=55%
B. Pembahasan Pengukuran penyakit di lapangan sering menggunakan pengamatan secara visual sehingga bersifat subjektif. Oleh karena itu, untuk menghindari bias, perlu dibuat standar yang spesifik dalam pengelompokan jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi, dan bagian tanaman yang terserang (daun, akar, batang, dan lain-lain) (Sinaga, 2006). Diseases severity atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas penyakit merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit, baik pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009). Pengukuran intensitas penyakit dilakukan untuk mengetahui seberapa parah serangan penyakit di suatu area budidaya tanaman tertentu. Oleh karena itu terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intensitas atau keparahan penyakit. Salah satunya adalah metode skoring. Metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial (tidak sistemik), contohnya bercak daun. Penentuan skoring merupakan teknik mengurutkan tingkatan penyakit dalam bentuk gradiasi (menaik atau menurun). Teknik gradiasi untuk menentukan skor sangat penting artinya

bagi pengamat dan peneliti epidemi penyakit tanaman. Penentuan skoring biasanya didasari oleh karena ketidak puasan atribut tingkat penyakit yang kurang kuantitatif, misalnya : parah, sedang, dan sehat atau yang hanya memberikan atribut sangat merugikan, merugikan, dan kurang merugikan, dan sejenisnya (Purnomo, 2007). Cara menentukan skor, perlu ditentukan dulu titik awal dan titik akhirnya dengan angka mutlak yang bersifat kontinyu, misalnya: titik awal angka nol dan titik akhir angka sepuluh. Titik-titik tersebut dideskrpsi kriterianya yang juga bersifat kontinyu, misalnya untuk penyakit bercak : kriteria nol adalah bahwa pertanaman tidak menunjukan gejala bercak sama sekali dan pertumbuhan tanaman sesuai dengan fasenya sedangkan kriteria sepuluh adalah bahwa seluruh daun sudah tidak ada warna hijau. Kata pertumbuhan tanaman sesuai dengan fasenya disesuaikan dengan criteria fase pertumbuhan tanaman yang bersangkutan. Dari titik awal sampai titik akhir tersebut pembuat skor menilai pertanaman dengan skor diantara dua titik yang sudah ditentukan, kemudian dibuat kriterianya yang sesuai (Purnomo, 2007). Pada praktikum acara ini, dilakukan simulasi pengukuran intensitas penyakit dari 60 tanaman yang daunnya terserang penyakit. Pertama-tama, dilakukan pengamatan terhadap luasan penyakit tanaman pada daun-daunnya, kemudian ditentukan skoring 0-5 dengan persen luasan penyakit dari a% hingga b% (misalnya skor 1 :1%-4% luasan hawar pada daun). Setelah ditentukan, kemudian dilakukan perhitungan intensitas serangan dengan rumus yang telah ditentukan yang bermaksud menentukan tingkat keparahan suatu penyakit di lahan. Metode skoring termasuk metode pengukuran tidak langsung yang kurang efetif dibanding metode pengukuran langsung. Hal ini dikarenakan metode skoring memiliki ukuran yang lebih luas (kurang spesifik) dibandingkan dengan pengamatan dengan metode pengukuran langsung yang contohnya adalah metode proporsi langsung.

V.

KESIMPULAN

1. Metode pengukuran intensitas penyakit dapat dilakukan dengan metode skoring 2. Intensitas penyakit yang menyerang daun sebesar 55%.

DAFTAR PUSTAKA Adnan, Abdul Muin. 2009. Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Departemen Proteksi Tanaman IPB. Bogor. Chester, K.S. 1950. Plant disease losses: their appraisal and interpretation. Plant Disease Reporter Supplement 193: 189-362. Cooke, B.M. Jones, G.D., Kaye, B. 2006. The Epidemiology of Plant Disease. Springer. Netherlands. Jones, D.G. and Clifford, B.C. (1978) Pathological techniques, in cereal diseases, their pathology and control. BASF. Ipswich. UK. pp. 52-94. Large, E.C. (1966) Measuring plant disease. Annual Review of Phytopathology 4: 9-28. Nutter, F.W., Esker, P.D. and Netto, R.A.C. (2006) Disease assessment concepts and the role of psychophysics in phytopathology. European Journal of Plant Pathology. (in press). Purnomo, Bambang. 2007. Epidemiologi Penyakit Tanaman : Teori Pendekatan Epidemi.<http://www.geocities.ws/bpurnomo51/epi_files/epi2.pdf>. Diakses tanggal 30 November 2011. Semangun. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Sinaga, Meity Suradji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.