Anda di halaman 1dari 2

Pemasungan pada orang yang bermasalah pada kejiwaan masih banyak ditemukan di Indonesia, terbukti sekitar 18.

000 orang yang mengalami kasus tersebut. Namun pemerintah mengharapkan Indonesia akan bebas pasung pada 2014. Hal ini disampaikan Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr. Irmansyah Sp KJ (K) pada acara media breafing mengenai 'roadmap' Indonesia bebas pasung, di Jakarta. "Walaupun tidak mudah mengetahui angka pastinya. Namun estimasi dari total penduduk di Indonesia, sekitar 18.800 orang yang mengalami pemasungan," kata dr Irmansyah. Dr Irmansyah menjelaskan saat ini sarana yang ada tidak sebanding dengan penderita. Artinya jumnlah penderita gangguan jiwa cukup besar namun cakupan pengobatannya masih sedikit. Selain itu adanya stigma, kurangnya kepedulian dan adanya pengabaian di masyarakat. Pasalnya, sambung dr. Irmansyah, masyarakat yang sakit belum tentu mau datang untuk berobat atau bahkan tidak tahu kalau kondisi yang dialaminya adalah suatu penyakit. Hal ini membuat banyak pasien yang tidak berobat, kalau berobat tidak secara efektif dan berkesinambungan. Sehingga pemasungan menjadi langkah akhir yang akan 'dijatuhkah' bagi penderita ganguan jiwa. "Pasung merupakan bentuk paling buruk atau ekstrem dari kondisi ini, padahal kesehatan jiwa adalah sesuatu yang bisa diobati," ujar dr Irmansyah. Dr Irmansyah menjelaskan pemasungan juga melanggar banyak undang-undang dan hak asasi manusia karena secara legalitas sangat dilarang serta harus dihindari. Selain itu semua penderita gangguan jiwa yang terlantar sebenarnya bisa tertanggulangi melalui jamkesmas. Untuk itu saat ini ada roadmap menuju Indonesia bebas pasung yang membutuhkan integrasi dari pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit umum dan puskesmas serta mengembangkan pelayanan berbasis masyarakat. Layanan kesehatan jiwa juga sebaiknya ada dekat dengan masyarakat, serta bagaimana caranya agar semua masyarakat bisa melaporkan jika menemui adanya kasus pemasungan dan respons dari layanan kesehatan.

Bandung, Kompas.com - Orang dengan masalah kejiwaan kerap terlantar dan mendapatkan tindakan penyiksaan, misalnya dengan pemasungan. Padahal gangguan kejiwaan merupakan penyakit yang bisa ditangani secara medis. Karena itu tahun 2011 ini pemerintah akan mencangkan Indonesia bebas dari pasung.

Hal tersebut disampaikan oleh drg. Suyatmi, Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, Non Fasilitas Pelayanan Kesehatan. "Pada tahun 2011 ini akan dicanangkan Indonesia bebas pasung oleh Wakil Presiden Boediono pada bulan Oktober," paparnya disela-sela acara Pertemuan Peningkatan Peran Media Masaa Tentang Kesehatan Jiwa, Kamis, (8/92011), Bandung. Pencanangan tersebut menurut Suyatmi akan dilakukan bertepatan dengan puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Seperti diketahui, layanan mengenai kesehatan jiwa sudah diatur dalam Undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 Bab IX. Salah satu isinya dalam pasal 144 mengatakan, masyarakat berhak mendapatkan pemberian informasi dan edukasi pada masyarakat tentang kesehatan jiwa. Suyatmi mengatakan, program terobosan yang saat ini tengah dilakukan Kementerian Kesehatan lebih menitik beratkan pada upaya preventif dan promotif. "Sekarang intinya hentikan orang-orang yang dipasung dengan melatih dokter, perawat di puskesmas. Disamping juga penyediaan obat-obatan di Puskesmas dan itu sudah kami mulai," tegasnya. Hal tersebut menurut Suyatmi sejalan dengan rekomendasi WHO, terutama dalam mengoptimalkan fungsi Puskesmas sebagai penyedia layanan untuk orang dengan masalah kejiwaan. Ia menambahkan, pada tahun 2011 ini sudah ada 900 Puskesmas yang sudah melayani terapi dan pengobatan kasus untuk gangguan jiwa. "Tahun 2014 nanti diharapkan akan meliputi 40 persen dari seluruh Puskesmas di Indonesia," katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, khusus untuk daerah Aceh, tahun 2011 ini pemerintah daerah (Pemda) Aceh telah menyatakan bebas pasung. "Tapi artinya kita menekankan bukan hanya terlepas dari pasung saja, tetapi bagaimana supaya tidak dipasung lagi," tandasnya. Selain pemaksimalan fungsi Puskesmas, upaya-upaya lain juga terus digalakkan seperti misalnya pembentukan kader kesehatan jiwa dan meningkatkan peran psikolog klinik dalam usaha preventif, dan promotif.