Anda di halaman 1dari 29

Bab I Pendahuluan

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan di dalam bidang oftalmologi, perkembangan obatobatan yang digunakan di bidang oftalmologi juga berkembang dengan cepat. Beberapa obat yang dulunya dianggap baik untuk pengobatan penyakit tertentu sekarang sudah mulai ditinggalkan dan digantikan penggunannya oleh obat- obatan lain dengan efektivitas yang lebih baik dan efek samping yang lebih minimal. Dalam referat ini akan dibahas beberapa macam obat yang umum dipakai di bidang oftalmologi, diantaranya : obat anestesi baik lokal maupun suntikan, midiatrika dan sikloplegia, obat obat untuk glaukoma( obat kolinergik, obat anti kolinesterase,obat adrenergik,obat penyekat adrenergik beta, penghambat karbonat anhidrase, analog prostaglandin, obat osmotik), kortikosteroid topikal, obat anti inflamasi non steroid (NSAID), Obat-obat lain yang dipakai dalam pengobatan konjungtivitis alergika, obat mata anti infeksi, larutan pewarna diagnosis, pengganti air mata dan gen pelumas, vasokonstriktor dan agen pelumas, agen pengering kornea.

Bab II Obat Anestesi

Anestesi Topikal Anestesi topikal berguna untuk sejumlah prosedur diagnostic dan terapeutik, termasuk tonometri, pengangkatan benda asing atau jahitan, gonioskopi, kerokan konjungtiva, dan tindakan bedah ringan pada kornea dan konjungtiva. Satu hingga dua tetes biasanya sudah cukup tetapi dosis dapat diulang selama tindakan berlangsung. Tetracaine 0.5%, cocaine 2-5% dan pantokain 2% adalah obat anestesi topical yang paling banyak dipakai. Obat ini mempunyai potensi anestetik yang setara.

Tetracaine 0,5% Sediaan : larutan 0,5% dan salep 0,5%. Dosis : 1 tetes dan diulang bila perlu. Mulai bekerja dalam 1 menit dan bertahan selama 15-20 menit.

Proparacaine hydrochloride Sediaan : larutan 0,5%. Dosis : 1 tetes dan diulang bila perlu. Mulai bekerja dalam 20 detik dan bertahan hinggal 10-15 menit.

Anestesi lokal untuk suntikan Lidokain,prokain, dan mepivakain adalah anestetik lokal yang umum dipakai untuk operasi mata. Obat yang bekerja lebih lama seperti bupivakain dan etidokain sering dicampur dengan obat anestetik lokal lain untuk memperpanjang efeknya. Penambahan hialuronidase sering dipakai pada penyuntikan retrobulbar sebelum ekstraksi katarak. Anestesi suntikan paling banyak dipakai ahli oftalmologi untuk pasien-pasien tua, yang rentan terhadap aritmia jantung.
2

Lidocain hidroklorida Karena mula kerjanya yang cepat dan efeknya yang lama (1-2 jam) merupakan anestesi lokal yang banyak dipakai. Larutan 1% tanpa epinefrin dapat dipakai hingga 30 ml. Pada operasi katarak dosisnya 15-20 ml. Dosis maksimal yang aman adalah 4,5mg/kg tanpa epinefrin dan 7mg/kg dengan epinefrin. Untuk anestesi bedah katarak dilakukan penyuntikan kedalam bilik mata tanpa pengawet.

Prokain hidroklorida Sediaan larutan 1%, 2% dan 10% Dosis maksimum yang aman adalah 10mg/kg Lama kerja 45-60 menit

Mepivacain hidroklorida Sediaan larutan 1%, 1,5%, 2% dan 3% Dosis infiltrasi blok dan saraf sampai 20 ml larutan 1% atau 2% Lama kerja kira-kira 2 jam

Bupivacain hidroklorida Sediaan Larutan 0,25%, 0,5%, 0,75% Dosis 250mg dengan epinefrin dan 200 mg tanpa epinefrin.Bupivacain sering dicampur dengan lidocain dengan jumlah yang sama Mulai dan lama kerja, mulai nya lebih lambat dari lidokain, tetapi bertahan lebih lama (610jam)

BAB III Midriatika dan sikloplegia

Midriatika Midriatika tetes mata berkeja pada otot iris dan berfungsi melebarkan pupil. Kegunaannya : Melebarkan pupil sehingga memudahkan melakukan pemeriksaan fundus okuli. Pada peradangan intraocular untuk menekan peradangan dan melepaskan sinekia. Melemahkan akomodasi pada pemeriksaan kelainan refraksi anak-anak. Melebarkan pupil selama pembedahan lensa yang membutuhkan pupil tetap lebar.

Contoh obat : Phenylephrine hydroclorida o Sediaan : larutan 0,12% , 2,5%, dan 10% o Dosis : 1 tetes dan diulang 5-10 menit o Mulai dan lama kerja : efek umumnya terjadi dalam 30 menit setelah penetesan dan bertahan 2-3 jam. o Fenilefrin dipakai sendirian atau bersama sikloplegik untuk mempermudah oftalmoskopi, dalam pengobatan uveitis dan untuk melebarkan pupil sebelum operasi katarak. o Larutan 10% tidak boleh digunakan pada bayi baru lahir atau pasien jantung atau antidepresan trisiklik karena adanya peningkatan aktivitas terhadap efek vasopressor.

Sikloplegia Obat sikloplegia bekerja melumpuhkan otot sftingter iris sehingga terjadi dilatasi pupil, selain juga mengakibatkan paralisis otot siliar sehingga melumpuhkan akomodasi.

Atropin Sediaan : larutan 0,5-2%, salep 0,5% dan 1%. Dosis : anak-anak 1tetes larutan 0,25% sampai 0,5% pada masing-masing mata 2 kali sehari, 1-2 hari sebelum pemeriksaan dan kemudian 1 jam sebelum pemeriksaan. Mulai dan lama kerja : mulai kerja dalam 30-40 menit. Efek maksimum tercapai dalam 2 jam. Efek obat bertahan sampai 2 minggu pada mata normal. Pada radang akut obat harus diteteskan 2-3 kali sehari untuk mempertahankan efeknya. Toksisitas : gelisah dan perilaku penuh gairah , kulit muka kering dan kemerahan, mulut kering, demam, takikardi. Skopolamin hidrobromida Sediaan : larutan 0,25% Dosis 1 tetes dua atau tiga kali sehari. Mulai dan lama kerja : timbul dalam 40 menit dan bertahan 3-5 hari. Toksisitas : kadang-kadang menimbulkan pusing dan disorientasi terutama pada orang tua. Dipakai dalam pengobatan uveitis, pada refraksi anak dan pasca bedah.

Homatropin hidrobromida Sediaan : larutan 2% dan 5% Dosis : untuk refraksi 1 tetes pada tiap mata, dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 sampai 15 menit. Mulai dan lama kerja : maksimal bertahan selama 3 jam. Pemulihan sempurna kira-kira 36-48 jam. Toksisitas : jarang terjadi.

Siklopentolat hidroklorida Sediaan : larutan 0,5% , 1% dan 2% Dosis : untuk refraksi 1 tetes pada tiap mata, dan diulang setelah 10 menit. Mulai dan lama kerja : mulai bekerja dalam 30-60 menit, lama kerja kurang dari 24 jam.
5

Toksisitas : kadang terjadi neurotoksisitas yang bermanifestasi sebagai inkoherensi, halusinasi visual, bicara pelo, dan ataksia, reaksi ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Tropicamida Sediaan : larutan 0,5% dan 1% Dosis : 1 tetes larutan 1% 2-3 kali dengan interval 5 menit. Mulai dan lama kerja : memberikan efek setelah 15-20 menit dengan efek maksimal 2030 menit dan hilang setelah 5-6 jam. Sangat berguna untuk oftalmoskopi karena kerja sikloplegik lemah.

BAB IV Obat untuk glaucoma

Obat kolinergik (parasimpatomimetik) Pilokarpin hidroklorida Sediaan : larutan 0,5-6% Dosis : 1 tetes sampai enam kali sehari Mulai dan lama kerja : memberikan efek 4-6 jam Toksisitas : sakit pada alis akibat spasme otot siliar dan pengelihatan malam berkurang

Karbakol Sediaan : larutan 0,75%;1,5%;2,25%;dan 3% Doisis : 1 tetes pada setiap mata, tiga atau empat kali sehari Mulai dan lama kerja : memberikan efek 4-6 jam Karbakol kurang diabsorpsi melalui kornea dan umumnya dipakai jika pilokarpin tidak efektif

Obat anti kolinesterase Physostigmin salisilat dan sulfat Sediaan : larutan 0,25% dan salep 0,25% Dosis : 1 tetes tiga atau empat kali sehari atau salep sepanjang inci satu atau dua kali sehari Tingginya insiden reaksi alergi membatasi penggunaan obat anti glaucoma yang lama dan jarang digunakan ini Miosis yang dihasilkan sangat kuat; spasme siliaris dan myopia sering terjadi

Digunakan bila obat-obat anti glaucoma lain tidak dapat mengendalikan tekanan intraokular

Echotiophate iodide Sediaan : larutan 0,03%;0,06%; 0,125%; dan 0,25% Dosis : 1 tetes satu atau dua kali sehari atau lebih jarang, tergantung responnya Toksisitas sistemik dapat timbul dalam bentuk stimulasi kolinergik, antara lain banyak liur, mual dan muntah dan diare Efek samping pada mata adalah pembentukan katarak, spasme akomodasi dan pembentukan kista iris Demecarium bromide Sediaan : larutan 0,125% dan 0,25% Dosis : satu tetes 1 atau2 kali sehari Toksisitas sistemik dapat timbul dalam bentuk stimulasi kolinergik, antara lain banyak liur, mual dan muntah dan diare

Obat adrenergic (simpatomimetik) non spesifik Pada pengobatan glaucoma, epinefrin mempunyai keuntungan berupa durasi kerja yang lama (12-72 jam) dan tidak menimbulkan miosis. Ini terutama penting bagi pasien dengan katarak insipient ( efek pada penglihatan tidak menonjol). Sedikitnya 25% pasien menunjukan alergi lokal, yang lain mengeluh sakit kepala dan palpitasi jantung. Epinefrin menimbulkan efek pada tempat-tempat yang mempunyai efek pada reseptor alfa maupun beta. Epinefrin terutama bekerja dengan meningkatkan pengeluaran aquos humor. Namun obat ini juga mampu mengurangi produksi aquos humor pada pemakaian yang lama. Sediaannya epinefrin borate 0,5%, 1% dan 2%. Epinefrin hidroklorida 0,25%, 0,5%, 1% dan 2%. Dipivefrin hidroklorida 0,1%

Dosisnya satu tetes dua kali sehari.


8

Obat adrenergic (simpatomimetik) relative spesifik alfa-2 Alpraklonidine hidroklorida Sediaan : larutan 0,5%, dan 1% Dosis : 1 tetes larutan 1% sebelum terapi laser segmen anterior dan tetesan kedua setelah tindakan hamper selesai. 1 tetes larutan 0,5% dua atau tiga kali sehari sebagai pengobatan jangka pendek pada pasien glaucoma yang menggunakan obat-obat lain. Alpraklonidine hidroklorida adalah agonis alfa -2 yang relative selektif, dipakai secara topikal untuk mencegah dan mengendalikan tekanan intraocular agak tidak naik setelah prosedur laser pada segmen anterior. Obat ini juga dipakai sebagai terapi tambahan jangka pendek dengan terapi medis maksimal yang masih di toleransi yang masih memerlukan penurunan tekanan intraocular. Alpraklonidine menurunkan tekanan intraokular dengan menekan pembentukan aquos humor. Berbeda dengan klonidin, alpraklonidin ternyata tidak mudah melewati sawar jaringan darah dan memiliki sedikit efek samping. Efek samping sistemik yang dilaporkan adalah turunnya tekanan diastolik, bradikardia, dan gejala sistem saraf pusat seperti insomnia, iritabilitas dan penurunan libido. Efek samping pada mata adalah memucatnya konjungtiva, elevasi palpebra superior, midriasis, dan rasa terbakar. Brimonidine tartat Brimonidine adalah agonis adrenergik alfa 2 yang relatif spesifik, yang menurunkan tekanan intraokular dengan menekan produksi aquos dan mungkin juga dengan meningkatkan pengaliran keluar aquos melalui jalur uveosklera. Obat ini mempunyai efek minimum pada frekuensi jantung dan tekanan darah. Sediaan : larutan 0,15% Dosis : 1 tetes 2 atau 3kali sehari. Mungkin digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan obat glaukoma lain. Seringkali digunakan sebagai obat pengganti pada pasien yang tidak tahan obat penyekat beta. Toksisitas : mulut kering, rasa menyengat dan kemerahan.

Obat penyekat adrenergik beta (simpatolitik) Timolol maleat Sediaan : larutan 0,25% dan 0,5%, gel 0,25% dan 0,5% Dosis : 1 tetes larutan 0,25% atau 0,5% disetiap mata 1-2 kali kalau perlu, 1 tetes gel satu kali sehari Timolol maleat adalah obat penyekat adrenergik beta non selektif yang diberikan secara topikal untuk pengobatan glaukoma sudut terbuka, glaukoma afakik, dan beberapa jenis glaukoma sekunder Satu kali pakai dapat menurunkan tekanan intraokular selama 12-24 jam. Timolol ternyata efektif pada beberapa pasien glaukoma berat yang tidak dapat terkontrol dengan obat-obat antiglaukoma lain yang telah ditoleransi maksimal. Obat ini tidak mempengaruhi ukuran pupil atau ketajaman penglihatan. Meskipun timolol biasanya ditoleransi baik, pemberiannya harus hati-hari pada pasien pasien yang diketahui kontraindikasi terhadap penggunaan obat penyekat adrenergik beta Betasolol hidroklorida Sediaan : larutan 0,25% dan 0,5% Dosis : 1 tetes 1 atau 2 kali sehari Betasolol mempunyai efikasi sebanding dengan timolol dalam pengobatan glaukoma. Selektifitas relatif terhadap reseptor beta 1 , mengurangi resiko efek samping pulmoner, khususnya pada pasien dengan penyakit jalan nafas reaktif Levobunolol hidroklorida Sediaan : larutan 0,25% dan 0,5% Dosis : 1 tetes 1 atau 2 kali sehari Levobunolol adalah penyekat beta 1 dan beta 2 selektif. Obat ini mempunyai efek yang sebanding dengan timolol dalam pengobatan glaukoma Metipranolol hidroklorida Sediaan : larutan 0,3%
10

Dosis : 1 tetes 1 atau 2 kali sehari Metipranolol adalah penyekat beta 1 dan beta 2 selektif. Obat ini mempunyai efek yang sebanding dengan timolol

Karteolol hidroklorida Sediaan : larutan 1% Dosis : 1 tetes 1 atau 2 kali sehari. Karteolol adalah penyekat beta non selektif dengan efek farmakologik serupa dengan penyekat beta topikal lain

Penghambat karbonat anhidrase Diberikan peroral. Penghambat anhidrase pada korpus siliaris mengurangi sekresi aquos. Pemberian penghambat karbonat anhidrase peroral terutama berguna dalam menurunkan tekanan intraokular pada kasus glaukoma sudut terbuka tertentu dan dapat dipakai pada glaukoma sudut tertutup dengan sedikit efek. Penghambat karbonat anhidrase yang digunakan adalah derivatderivat sulfonamide. Pemberian peroral menimbulkan efek maksimum kira-kira setelah dua jam. Pemberian intravena setelah 2 menit . lama efek maksimal adalah 4-6 jam setelah pemberian peroral. Penghambat karbonat anhidrase pada pasien dengan tekanan intraokular yang tidak dapat dikendalikan dengan tetes mata. Untuk itu obat obat ini berguna, tetapi mempunyai banyak efek samping yang tidak diinginkan seperti deplesi kalsium, gangguan lambung, diare, dermatitis eksfoliatif, pembentukan batu ginjal, nafas pendek, fatigue, asidosis, dan kesemutan pada ekstremitas. Penghambat karbonat anhidrase sistemik jarang dipakai sejak ada timolol, penghambat karbonat anhidrase topikal, dan terapi laser. Acetazolamide Sediaan dan dosis oral : tablet 125 mg dan 250 mg. Berikan 125-250 mg 2-4 kali sehari ( jangan melebihi 1 gr dalam 24 jam). Kapsul lepas berkala 500 mg berikan 1 kapsul 1 atau 2 kali sehari

11

Sediaan parenteral : dapat diberikan ampul 500 mg intramuskular atau intravena untuk waktu singkat bila pasien tidak bisa menerima peroral

Metazolamide Sediaan : tablet 25 mg dan 50 mg. Dosis : 50-100 mg , 2-3 kali sehari ( total tidak melebihi 600 mg/ hari)

Diclorphenamide Sediaan : tablet 50mg Dosis : dosis awal 100-200 mg, diikuti 100 mg setiap 12 jam sampai terjadi respon yang diinginkan. Dosis maintenance yang umum untuk glaukoma adalah 25 sampai 50 mg 3atau 4kali sehari. Dosis harian total jangan melebihi 300 mg

Penghambat karbonat anhidrase topikal Dorzolamide dan brinzolamide adalah obat penghambat karbonat anhidrase topikal. Keduanya merupakan produk sulfonamide dengan penetrasi kornea yang cukup untuk mencapai epitel sekretorik corpus siliare dan dapat menurunkan tekanan intraokular dengan menekan sekresi aquos. Dorzolamide hidroklorida Sediaan : larutan 2% Dosis : 1 tetes 2-4 kali sehari. Dapat dipakai preparat yang manapun (dorzolamide atau brinzolamide) Obat ini bisa digunakan sebagai monoterapi, tetapi lebih sering digunakan sebagai kombinasi dengan obat-obat glaukoma lain. Toksisitas : reaksi lokal seperti rasa terbakar dan tersengat, keratopati pungtata superficial dan reaksi alergi pada konjungtiva. Rasa pahit pasca penetesan sering didapat. Efek samping sistemik seperti yang ditemukan pada pemberian peroral jarang ditemukan

12

Brinzolamide oftalmik suspensi Sediaan : suspensi 1% Dosis : 1 tetes 2-4 kali sehari

Analog prostaglandin Obat ini tampaknya menurnkan tekanan intraokular dengan cara meningkatkan aliran keluar aquos humor, terutama melalui jalur uveosklera. Dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan obat glaukoma lain Lantanoprost Sediaan : larutan 0,005% Dosis : 1 tetes sehari Toksisitas : sama dengan unoproston isopropil

Trafoprost Sediaan : larutan 0,004% Dosis : 1 tetes sehari. Toksisitas : sama dengan unoproston isopropil

Imatoprost Sediaan : larutan 0,03% Dosis : 1 tetes sehari Toksisitas : sama dengan unoproston isopropil

Unoproston isopropil Sediaan : larutan 0,15% Dosis : 2 tetes sehari Toksisitas : menyebabkan peningkatan pigmentasi coklat pada iris, konjungtiva hiperemis, keratopati epitelial pungtata, dan sensasi benda asing.
13

Sebagai tambahan, obat obat ini bisa memperburuk peradangan mata dan telah dihubungkan dengan berkembangnya edema makula kistoid.

Preparat topikal kombinasi Saat ini makin dikembangkan sediaan obat yang menggabungkan berbagai senyawa dengan farmakologi yang berbeda, yang terutama ditunjukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien meskipun besar efek penurunan tekanan intraokular yang didapat tidak sebesar jumlah efek yang diperoleh pada penggunaan senyawa-senyawa tersebut secara terpisah . contoh sediaan obat tersebut xalacong (latanopros 0,005% dan timolol 0,5%) sekali sehari pada pagi hari. Cosopt ( dorzolamide 2% dan timolol 0,5%) dua kali sehari.

Obat osmotik Obat obat hiperosmotik seperti urea, manitol dan gliserin dipakai untuk mengurangi tekanan intraokular dengan membuat plasma menjadi hipertonik terhadap aquos humor. Obat obat ini umumnya dipakai dalam penanganan glaukoma akut sudut tertutup dan kadang-ladang pra atau paska bedah. Bila diindikasikan penurunan tekanan intraokular. Dosis semua obat rata-rata 1,5mg/kg. Gliserin Sediaan dan dosis : gliserin umumnya diberikan peroral dalam larutan 50% , dengan air, jus jeruk, atau larutan garam beraroma dengan es (1 mg gliserin beratnya 1,25 gr) Dosis : 1-1,5 gram / kg Mulai dan lama kerja : efek hipotensif maksimum dicapai dalam satu jam dan bertahan dalam 4-5 jam Toksisitas : mual muntah, dan sakit kepala kadang terjadi. Pemberian peroral dan tiadanya efek diuretik adalah keuntungan gliserin dibanding obatobat hiperosmotik lain

14

Isosorbid Sediaan : larutan 45% Dosis : 1,5 gram / kg/ oral Mulai dan lama kerja seperti gliserin Berbeda dengan gliserin, isosorbid tidak menghasilkan kalori atau menaikan kadar gula darah. Reaksi samping lainnya serupa dengan reaksi gliserin. Setiap 220 ml isosorbid mengandung 4,6mEq natrium Mannitol Sediaan : larutan 5-25% untuk suntikan Dosis : 1,5-2 gram / kg IV biasanya dengan kadar 20% Mulai dan lama kerja : efek hipotensif maksimum terjadi dalam 1 jam dan bertahan dalam 5-6 jam Masalah overload kardiovaskular dan edema paru lebih sering pada obat ini karena besarnya volume cairan yang dibutuhkan Urea Sediaan : larutan 30%lipofilik urea dalam gula invert Dosis : 1-1,5 g/kg iv Mulai dan lama kerja:efek hipotensi maksimum terjadi dalam 1 jam dan bertahan 5-6 jam Toksisitas : ekstravasasi aksidental pda tempat suntikan dapat menimbulkan reaksi lokal, yang berkisar dari iritasi ringan sampai nekrosis jaringan

15

BAB V Kortikosteroid topikal

Indikasi Terapi kortikosteroid topikal diindikasikan pada kondisi peradangan pada daerah anterior bola mata. Contohnya adalah konjungtivitis alergika, uveitis, episkleritis, skleritis, fliktenulosis, keratitis punctata supervisial, keratitis interstisial, dan konjungtivitis vernalis.

Pemeberian dan dosis aktivitas anti radang kortikosteroid dan turunannya bervariasi. Kekuatan relatif prednisolon terhadap hidrokortison adalah 4 kali; deksamethason dan bethamethason 25 kali. Efek sampingnyatidak berkurang dengan obat yang lebih kuat meskipun dosis terapheutiknya lebih kecil. Lama pengobatan tergantung jenis lesi dan berkisar antara beberapa hari sampai beberapa bulan. Terapi awal pada peradangan mata berat berupa penetesan setiap 1 atau 2 jam sewaktu pasien terjaga. Bila respon tampak baik, dosisnya siturunkan secara bertahap dan dihentikan sesegera mungkin.

Efek samping Eksaserbasi keratitis herpes simpleks, keratitis jamur, pembentukan katarak(tidak umum), dan glaukoma sudut terbuka(sering). Efek-efek ini lebih ringan pada terapi steroid sistemik. Setiap pasien yang menerima terapi steroid okular lokal atau terapi kortikosteroid sistemik jangka panjang harus dalam pengawasan seorang ahli oftalmologi.

16

Sediaan Salep hidrokortison 0,5%;0,12%;0,125%;dan 1% Suspensi prednisolon asetat 0,125%;dan 1% Laruran prednisolon natrium fosfat 0,125% dan 1% Suspensi deksamethason natrium fosfat 0,1%; salep 0,05% Suspensi medryson 1% Suspensi fluorometolon 0,1% dan 0,25%; salep 0,1% Suspensi rimexalon 1%

17

BAB VI Obat anti inflamasi non steroid (NSAID)

Obat-obat oral NSAID-indomethasin 75 mg per hari, flurbiprofen 150 mg per hari, atau ibuprofen 600 mg per hari- merupakan terapi lini pertama bagi skleritis. Sediaan mata topikal beberapa NSAID menyediakan bioavailabitas okular dengan sedikit toksisitas. Obat-obat ini terutama bekerja dengan menghalangi sintesisi prostaglandin melalui penghambatan

siklooksiogenase, enzim yang mengkatalis konversi asam arachidonat menjadi prostaglandin. Beberapa oftalmolog memakai kombinasi kortikosteroid topikal dan NSAID untuk mengatasi peradangan mata. Akhir-akhir ini flurbiprofen 0,03% dan suprofen 1% telah disetujui FDA untuk menghambat miosis selama operasi katarak. Ketorolak 0,5% disetujui untuk pemakaian dalam konjungtivitis alergika musiman. Diklofenak dan ketorolak merupakan sediaan NSAID topikal pertama yang disetujui untuk pengobatan radang pasca bedah setelah operasi katarak dan untuk meredakan nyeri dan fotofobia pasca bedah refraktif kornea dengan laser. Saat ini telah tersedia dua obat NSAID topikal tambahan, yaitu suspensi nepafenac dan larutan bromfenac.

18

BAB VII Obat-obat lain yang dipakai dalam pengobatan konjungtivitis alergika

Sodium kromolin Sediaan : larutan 4% Dosis : 1 tetes empat sampai enam kali sehari Kromolin berguna dalam pengobatan banyak jenis konjungtivitis alergika. Respon terhadap pengobatan umumnya terjadi dalam beberapa hari, tetapi terkadang belum muncul sampai pengobatan berlangsung selama beberapa minggu. Kromolin bekerja dengan menghambat pelepasan histamin dan SRS-A(slow reacting substance of anaphylaxis) sel mast. Obat ini tidak berguna untuk menghambat gejala akut Ketotifen Sediaan : larutan 0,025% Dosis : dua kali sehari Ketotifen mempunyai aktivitas antihistamin dan penstabil sel mast

Lodoxamide tromethamin Sediaan : larutan 0,1% Dosis : 1 tetes empat kali sehari Lodoxamide adalah penstabil sel mast yang menghambat reaksi hipersensitivitas segera tipe-1. Ini didindikasikan untuk pengobatan reaksi alergi jaringan mata luar, termasuk konjungtivitis vernal dan keratitis vernal. Seperti kromolin, respon terapheutik umumnya belum terjadi sampai beberapa hari pengobatan Nedokromil sodium Sediaan : larutan 2% Dosis : 2 kali sehari
19

Nedokromil mempunyai aktivitas antihistamin dan penstabil sel mast dengan mulam kerja yanmg cepat

Olapadin hidroklorida Sediaan : 0,1 % Dosis : 2 kali sehari Olapadin mempunyai aktivitas antihistamin dan penstabil sel mast

Levokabastin hidroklorida Sediaan : suspensi 0,05% Dosis : 1 tetes 4 kali sehari Levokabastin adalah anatagonis histamin poten yang selektif terhadap reseptor h1. Obat ini berguna untuk mengurangi gejala akut konjungtivitis alergika. Peredaan gejala terjadi dalam beberapa menit setelah penetesan dan bertahan setelah 2 jam Emedastin difumarat Sediaan : larutan 0,05%

Ketorolak trometamin Sediaan : larutan 0,05% Dosis : 1 tetes 4 kali sehari Obat ini adalah satu-satunya penghambat siklooksigenase yang disetujui untuk alregi oleh FDA Vasokonstriktor dan dekongestan Golongan obat- obat ini juga berkepentingan dalam pengobatan konjungtivitis alergika

20

BAB VIII Obat mata anti-infeksi

1. Larutan dan salep antibiotika topikal Antibiotik umumnya dipakai untuk mengobati infeksi mata luar, termasuk konjungtivitis bakteri, hordeolu, blefaritis marginal, ulkus kornea bakterial. Frekuensi pemakaian tergantung pada kondisi penyakit.Bacitracin, neomisin, polimiksin, eritromisin, tetrasiklin, gentamisin, tobramisin dan obat-obat antibiotik topikal yang paling banyak dipakai, sendiri-sendiri atau digabung dalam bentuk larutan atau salep. Bacitracin Sediaan : salep 500 U/g. Secara komersial dalam bentuk kombinasi dengan polymicin-B Kebanyakan organisme gram positif sensitif terhadap bacitracin. Obat ini tidak dipakai secara sistemik karena nefrotoksik Erythromicin Salep eritromisin 0,5% adalah obat yang efektik, khususnya untuk konjungtivitis stafilokok. Preparat ini dapat dipakai sebagai pengganti perak nitrat untuk profilaksis oftalmia neonatorum Neomycin Sediaan : larutan 2,5 dan 5 mg/mL, salep3,5-5 mg/g. Tersedia dalam bentuk kombinasi dengan bacitracin dan polimiksin-b Dosis : beri salep atau tetes 3 atau 4 kali sehari . Larutan 50-100 mg/mL dipakai untuk ulkus kornea Efektif terhadap organisme gram negatif dan gram positif. Neomisin biasanya di gabung dengan obat lain untuk memperluas spektrum kerjanya. Dalam praktek oftalmologi, paling banyak dikenal sebagai neosporin, baik bentuk salep maupun larutan, yang merupakan gabungan dengan polymicin dan bacitracin. Sensitivitas kontak kulit timbul pada 5% pasien jika obat dipakai lebih dari satu minggu

21

Polymixin B Sediaan : salep 10.000 U/g, suspensi 10.000 U/ml. Tersedia dalam bentuk kombinasi dengan bacitracin dan neomisin Efektif terhadap banyak organisme gram negatif

2. Sediaan topikal antibiotik sistemik Antibiotik yang biasa dipakai secara sistemik sedapat mungkin dihindari untuk pemakaian topikal karena sensitisasi pada pasien dapat mempengaruhi pemakaian sistemik dikemudian hari. Walaupun demikian, pada kondisi tertentu , pertimbangan klinis lebih penting daripada prinsip ini, jika obat ini terutama efektif secara lokal dan penyakitnya berat. Contoh nya misalnya tetrasiklin dalam pengobatan trakoma, infeksi umum pada mata di dunia Floroquinolone (ciprofloxacine, gatifloxacin, moxifloxacin, norfloxacine, dan ofloxacine) kini tersedia untuk pemakaian mata. Obat obat ini efektif terhadap sejumlah besar patogen mata gram positif dan negatif, termasuk pseudomonas aeruginosa. Mereka terutama dipakai dalam pengobatan ulkus kornea, tetapi juga telah diberikan untuk pengobatan konjungtivitis bakterial yang resisten. Tetrasiklin Sediaan : suspensi 10mg/mL, salep 10mg/g. Tetrasiklin , oksitetrasiklin dan klortetrasiklin terbatas pemakaiannya dalam oftalmologi karena efektifitas sangat sering terganggu oleh timbulnya strain yang resisten. Larutan senyawa ini tidak stabil, kecuali akromisin dalam minyak zaitun yang dipakai luas dalam pengobatan trakoma. Salep dapat dipakai sebagai profilaksis terhadap oftalmia neonatorum. Gentamisin Sediaan : larutan 3mg/ml, salep 3mg/g. Gentamisin diterima secara luas untuk digunakan pada infeksi mata berat, terutama ulkus kornea yang disebabkan oleh organisme gram negatif. Antibiotika ini juga efektif terhadap banyak stafilokok gram positif, tetapi tidak efektif

22

terhadap streptokok. Telah ditemukan banyak strain bakteri yang resisten terhadap gentamisin. Tobramisin Sediaan : larutan 3mg/ml, salep 3mg/g. Aktifitas antimikroba serupa dengan gentamisin tetapi lebih efektif tehadap streptokok. Obat ini sebaiknya dicadangkan untuk pengobatan keratitis pseudomonas karena lebih efektif pada kasus tersebut. Kloramfenikol Sediaan : larutan 5 dan 10mg/ml, salep 10mg/g. Kloramfenikol efektif terhadap sejumlah besar organisme gram positif dan gram negatif. Obat ini jarang menimbulkan sensitisasi lokal, tetapi sejumlah kasus anemia aplastik pada terapi jangka panjang. Ciprfloxacin Sediaan : larutan 3mg/ml. Dosis : untuk pengobatan konjungtivitis 1 tetes setiap 2-4 jam. Untuk pengobatan ulkus kornea 1 tetes setiap 15-30 menit pada hari pertama, 1 tetes setiap jam pada hari kedua, dan 1 tetes setiap 4 jam seterusnya. Gatifloxacin Sediaan : larutan 3mg/ml. Dosis : untuk konjungtivitis dan ulkus kornea, sama seperti dosis ciprofloxacin Floroquinolon generasi ke 4 ini lebih efektif terhadap spektrum bakteri gram positif yang lebih luas dan mikrobakterial atipik dibandingkan generasi pendahulunya. Moxifloxacin Sediaan : larutan 5mg/ml. Dosis : fluoroquinolone generasi ke4 ini lebih efektif terhadap spektrum bakteri gram positif yang lebih luas dan mikrobakterial atipik dibandingkan generasi pendahulunya. Nofloxacine Sediaan : larutan 3 mg/ml. Dosis : untuk konjungtivitis dan ulkus kornea sama seperti dosis ciprofloxacin.
23

Ofloxacine Sediaan : larutan 3mg/ml. Dosis : untuk konjungtivitis dan ulkus kornea sama seperti dosis ciprofloxacin.

3. Kombinasi obat antibiotik Sejumlah sediaan mata yang tersedia mengandung campuran antibiotik dan bakteriostatik

4. Sulfonamide Sulfonamide adalah obat yang paling banyak dipakai untuk pengobatan konjungtivitis baktrial. Keuntungannya adalah aktif terhadap organisme gram positif dan negatif ; relatif murah; alergenitas rendah; pemakaian tidak disertai komplikasi infeksi jamur sekunder seperti yang kadang terjadi pada penggunaan antibiotika jangka panjang. Sulfonamide yang sering dipakai adalah sulfasetamide sodium dan sulfisoxazole. Sulfasetamide sodium Sediaan : larutan oftalmik 10 %, 15% dan 30% , salep 10 % Dosis : teteskan 1 tetes dengan frekuensi sering tergantung beratnya konjungtivitis. Sulfisoxazole Sediaan : larutan oftalmik 4% dan salep 4% Dosis seperti pada sulfasetamide sodium.

5. Obat antijamur topikal Natamisin Sediaan : suspensi 5% Dosis : 1 tetes setiap 1-2 jam Efektif terhadap bentuk filamen dan ragi. Obat awal pilihan bagi kebanyakan ulkus kornea mikotik

Nistatin Nistatin tidak tersedia dalam bentuk salep oftalmik, tetapi sediaan dermatologinya (100.000u/g ) tidak iritatif bagi jaringan mata dan dapat dipakai untuk pengobatan infeksi jamur pada mata
24

Amfoterisin B Lebih efektif dari pada nistatin, tetapi tidak terdapat dalam bentuk salep oftalmik. Sediaan dermatologiknya sangat iritatif. Larutan ( 1,5-8 mg/ml air suling dalam 5% dextrosa) harus dibuat di apotik dari obat bubuk. Banyak pasien merasa matanya sangat tidak nyaman setelah pemakaian obat ini Mikonazole Larutan 1% tersedia dalam preparat intravena, yang dapat langsung diteteskan pada mata. Obat ini tidak tersedia dalam bentuk oftalmik Fluconazole Sediaan parenteral 0,2% tersedia dan bisa diteteskan pada mata. Tidak tersedia dalam bentuk oftalmik

6. Obat antivirus Idoxuridine Sediaan : larutan oftalmik 0,1%, salep 0,5% Dosis : satu tetes setiap jam sepanjang siang hari, dan setiap 2 jam waktu malam. Bila ada perbaikan ( ditentukan dengan pemulasan fluoresein), frekuensi penetesan diturunkan secara bertahap. Salep dapat dipakai 4-6 kali sehari atau larutannya untuk siang hari dan salep untuk malam hari. Dipakai untuk pengobatan keratitis herpes simplex. Infeksi epitel umumnya membaik dalam beberapa hari. Pengobatan harus dilanjutkan sampai 3 atau 4 hari setelah tampak sembuh. Banyak ahli oftalmologi masih lebih suka mengelupas epitel kornea yang terinfeksi dan tidak memakai iodoxuridine Vidarabine Sediaan : salep oftalmik 3% Dosis : pada keratitis epitel herpetik pakai empat kali sehari selama 7- 10 hari. Vidarabine efektif terhadap virus herpes simplex tetapi tidak terhadap virus DNA atau RNA lainnya. Obat ini efektif untuk beberapa pasien yang tidak responsif terhadap iodoxuridine. Vidarabine mengganggu sintesis DNA virus. Metabolit utama adalah arabinosyllhypoxantine. Obat ini efektif terhadap penyakit epitel kornea herpetik dan efikasinya terbatas pada keratitis stroma atau uveitis.
25

Vidarabine dapat menyebabkan toksisitas selular dan memperlambat regenerasi kornea. Toksisitas selular lebih ringan dari pada toksisitas idoxuridine. Trifluridine Sediaan : larutan 1% Dosis : 1 tetes setiap 2 jam ( maksimum total 9 tetes perhari) Bekerja dengan menghambat sintesis DNA virus. Lebih larut dibanding iodoxurid, vidarabine dan agaknya lebih efektif untuk penyakit stroma. Acyclovir Sediaan : 200mg, 400 mg, dan 800 mg. Acyclovir adalah obat antivirus dengan aktivitas terhadap herpes simplex tipe 1 dan 2, virus varicella zoster , virus epstein barr dan citomegalo virus. Awalnya obat ini mengalami fosforilasi oleh kinasi timidin spesifik virus menjadi asiklofir monoklosfat dan oleh kinase seluler menjadi asiklofir trifosfat, yang menghambat polimerasi DNA virus. Jadi, terdapat selektifitas yang tinggi untuk sel-sel yang terinfeksi virus. Toksisitas asiklofir ini rendah. Tidak ada sediaan oftalmik komersial, sediaan topikal untuk pengobatan herpes genitalis jangan dipakai pada mata. Preparat oral bisa dipakai untuk pengobatan herpes zoster mata tertentu. Ganciclovir Sediaan : implan intravitreal 4,5mg Dosis : diganti setiap 5-8 bulan tergantung kebutuhan Penyisipan ganciclovir intravitreal memungkinkan pengobatan retinitis

citomegalo virus tanpa efek samping terapi sistemik

26

BAB IX OBAT-OBAT LAIN

Larutan pewarna diagnosis

Fluorescein sodium Sediaan : larutan 2% dalam unit dosis tunggal disposable . Berupa secarik kertas steril; sebagai larutan steril 10% untuk pemakaian intravena pada angiografi fluorescein. Dosis : 1 tetes Dipakai sebagai agen diagnostik untuk medeteksi defek epitel kornea pada tonometri aplanasi pada waktu memasang lensa kontak. Rose bengal Sediaan : larutan 1% dan strip 1,3mg Dosis : 1 tetes Dipakai untuk diagnosis keratokonjungtivitis sica. Sekret mukosa dan epitel kornea yang mati dapat terpulas dengan rose bengal

Pengganti air mata dan agen pelumas

Metilselulosa dan senyawa kimia terkait, alkohol polifinil dan senyawa kimia terkait, serta gelain dipakai dalam formula air mata buatan, pelumas oftalmik, larutan lensa kontak dan larutan lensa gonioskopik. Agen agen ini terutama berguna untuk pengobatan keratokonjungtivitis sica. Untuk meningkatan viskositas dan waktu kontak dengan kornea yang panjang, metilselulosa kadang ditambahkan pada larutan mata( misalkan pilokarpin). Sediaan yang bebas pengawet tersedia bagi pasien dengan sensitivitas terhadap suspesi

27

Vasoknstriktor dan dekongestan

Banyak agen vasokostriktor oftalmik yang dijual bebas di pasaran. Bahan utama dalam agen ini umumnya adalah efedrin 0,123%;naphazolin 0,012-0,1%, fenilefrin 0,12%; atau tetrahidrozolin 0,05-0,15%. Agen-agen ini mengkonstriksi pembuluh-pembuluh

superfisial di konjungtiva dan meredakan kemerahan. Obat ini juga mengatasi iritasi ringan di permukaan dan gatal pada konjungtiva, yang dapat menandai suatu respon terhadap agen berbahaya atau yang merangsang seperti asap kabut, klor dalam kolam renang,dll. Juga tersedia produk yang mengandungantihistamin, anthazolin fosfat 0,250,5% atau feniramin maleat 0,3%.

Agen pengering kornea

Larutan dan salep pengering(penyebab dehidrasi) yang secara topikal diberikan ke mata mengurangi edema kornea dengan menciptakan gradien osmotik; film air mata dibuat hipertonikterhadap jaringan kornea. Hasilnya adalah pengurangan edema kornea untuk sementara. Sediaan : larutan gliserin anhidrat; larutan dan salep natrium hidroklorida hipertonik 2% dan 5% Dosis : 1 tetes larutan atau inci panjang salep untuk menjernihkan kornea. Dapat diulangi setiap 3-4 jam.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2010. 2. Vaughan, daniel G, dkk. Oftalmologi Umum. Edisi ke 17. ECG. Jakarta. 2008.

29