Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hewan dapat didefinisikan sebagai kelompok makhluk hidup multiseluler yang berevolusi dari organisme eukariot yang memilki nenek moyang protista sebagai organisme heterotrof sel tubuh hewan telah mengalami spesialisasi dan mempunyai bermacam-macam fungsi terutama untuk pembentukan struktur tubuh metabolisme, menerima rangsangan, pergerakan, dan reproduksi. Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa perunit. Atau persatuan luas atau persatuan volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung dari faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik bagi hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di habitatnya seperti mikroflora, tumbuhtumbuhan dan jenis hewan lainnya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan interaksi yang lainnya. Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi antara populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu sama lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan, natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama. Perhitungan populasi bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat. Dalam melakukan penelitian ekologi hewan di lakukan di pantai Sawarna, kecamatan Bayah kabupaten Lebak yaitu dengan menghitung kemelimpahan populasi (metode CMRR), kemelimpahan fauna tanah (metode Pit fall trap), dan menghitung kemelimpahan gastropoda (metode survey). Penelitian ini juga dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan.

1.1 Tujuan 1. Estimasi Kemelimpahan Populasi (Metode CMRR) Dapat memperkirakan populasi belalang dengan menggunakan capture-mark-release-recapture (CMRR) 1. Kemelimpahan Fauna Tanah Untuk mempelajari studi kemelimpahan makro dan mikro fauna tanah dengan metode Pit Fall Trap danHand sortir. 1. Studi Kemelimpahan Gastropoda Mempelajari kemelimpahan gastropoda di kawasan pantai Sawarna

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hewan sebagai komponen penyusun komonitas biotik dalam suatu ekosistem mempunyai peran dan fungsi penting untuk habitat dan lingkungan serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan adalah faktor-faktor di luar makhluk hidup yang berpengaruh langsung pada kemungkinan hewan untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembangbiak. Lingkungan ada yang berhubungan langsung dan ada yang tidak langsung dengan suatu organisme. Kondisi-kondisi lokal yang berhubungan langsung dengan suatu organisme disebut lingkungan mikro, sedang seluruh kondisi abiotik yang ada di luar lingkungan mikro disebut lingkungan makro. Di dalam habitatnya organisme sudah menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada seingga mampu bertahan hidup, tumbuh dan berkembangbiak. Suatu komunitas terdiri dari berbagai kumpulan populasi yang saling berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu dalam komunitas berarti ada keanekaragaman jenis-jenis ynag terkumpul membentuk populasi dan saling berinteraksi antar populasi tersebut membentuk komunitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam komunitas salah satu cirri utama adalah adanya keanekaragaman jenis. Keanekaragaman jenis dari seluruh jumlah jenis di dalam komponen tropic atau dalam suatu komunitas secara keseluruhan ditentukan oleh jenis yang jarang, dominan, atau umum (Odum, 1971). Untuk mengetahui keanekaragaman suatu organisme maka kita harus mengetahui kemelimpahan suatu individu, kemelimpahan dapat di ketahui dengan menggunakan beberapa metode yaitu CMRR (Capture, Mark, Release, dan Recapture), Pit Fall trap, dan Transek.

I.TUJUAN Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah 1.Supaya diketahuinya tipe reaksi prilaku serangga terhadap cahaya 2.Supaya diketahuinya manfaat fototaksis dalam pengendalian hamaII. TIJNJAUAN PUSTAKA Hama merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan pada hasil pertanian baik dilapangan maupun ditempat penyimpanan. Kerugian akibat serangga hama dan penyakit diIndonesia diperkirakan rata-rata setiap tahun 1520% dari potensi produksi pertanian total. DiIndonesia telah diidentifikasi sekitar 20 jenis serangga yang terdapat pada bahan pangan yangdisimpan di gudang, namun hanya sebagian yang penting. Beberapa serangga seperti kupu-kupugabah ( Sitotroga cerealella ) , kumbang beras ( S. oryzae ), dan kumbang jagung ( S. zeamays )sudah dapat menyerang padi atau jagung di lapang untuk kemudian berkembang biak di gudang(Untung, 1993).Proses pemilihan inang oleh serangga dewasa melalui suatu rangkaian kejadian, tiapkejadian terdahulu membuka jalan untuk kejadian berikutnya. Serangga dewasa sampai padahabitat inang melalui mekanisme yang berhubungan dengan fototaksis, anemotaksis dangeotaksis. Penglihatan atau penciuman merupakan mekanisme indera jarak jauh yang dapatmembawa serangga yang sudah berada pada habitat inang ke tanaman inang. Dalam seleksiinang, bau yang dikeluarkan oleh senyawa volatile (mudah menguap) dari hasil metabolismesekunder tanaman dapat mengarahkan serangga fitofag pada tanaman. Setelah terjadi kontak antara serangga dengan tanaman inang maka informasi yang diterima melalui indera peraba danreseptor kimia akan menentukan apakah serangga akan diam atau meninggalkan tanamantersebut (WIJAYA, 2007).Faktor fisik tanaman dapat berperan dalam penemuan dan pengenalan inang olehserangga berdasarkan penglihatan. Salah satu faktor fisik yang dapat berperan positif dalampenemuan dan pengenalan inag adalah warna. Permukaan tanaman relatif hanya dapatmemantulkan cahaya dengan kisaran gelombang antara 350 650 nm (Owen 1983).Hama hama tanaman banyakyang melakukan kegiatannya pada malam hari, kupu kupu banyak pula meletakkan telurnya pada malam haroi, gerakan larva demikian pula dan selalu berlindung ditempat yang gelap atau banyak ditutupi daun- daunan. Ini menandakanbahwa hama tersebut pandai memenfaatkan waktu serta cahaya yang gelap agar aman bagidirinya dalam melancarkan segala kegiatan pengerusakannya. Hama ham gudang terutamapada saat melakukan kopulasi atau perkawinan dan meletakkan telurnya banyak yang menyukaikeadaan atau tempat yang gelap, demikian pula dalam kegiatan merusaknya (Kartasapoetra,1991).Tingkah laku serangga dalam memilih makanan, meletakkan telur, berpindah tempat(migrasi) pada umumnya banyak dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain kondisikelembaban udara, warna, temperatur, jenis makanan, dan cahaya. Pada serangga Sitophilus sp.,factor yang paling dominan berpengaruh terhadap perilaku serangga dalah kelembaban relativeudara sekitar. Selain kelembaban udara dan

warna, tingkah laku serangga juga dipengruhi olehintensitas cahaya. Pada serangga Spodoptera exigua, intensitas cahaya berpengaruh dalammencari makanan. Pada kondisi gelap, larva dari serangga ini cenderung mengumpul padapermukaan daun untuk makan, akan tetapi pada kondisi terang cahaya, larva dari serangga iniakan turun ke permukaan tanah untuk bersembunyi (Rugaya, 2010). Fotoreseptor adalah indera yang berfungsi untuk menerima cahaya. Komunikasi visualpada serangga terhadap tumbuhan terjadi karena adanya alat indera yang menerima cahayaseperti mata majemuk, mata tunggal dan stemata. Mata majemuk pada serangga dewasaumumnya terdiri dari dua buah yang letakkan sedemikian rupa dan menonjol, sehingga dapatmemberikan lapangan pandangan yang luas. Setiap mata majemuk terdiri dari sejumlahommatidia yang banyaknya bervariasi tergantung dari jenis serangganya. Mata majemuk lalatrumah terdiri dari 4000 ommatidia. Setiap ommatidium dilengkapi dengan lensa cembungtembus cahaya (cornea), bagian penerima cahaya dan bagian saraf yang berfungsi menangkapradiasi kemudian mengubahnya menjadi energi listrik yang selanjutnya diteruskan ke otak.Terangnya bayangan yang diterima oleh setiap ommatidium tergantung pada sudut datangnyacahaya dan gelombang cahaya (Sunjaya, 1970) BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Serangga termasuk filum Artropoda yang terbesar di dunia. 800.000 serangga telah dipertelakan dan diperkirakan terdapat 2.000.000 sampai 10.000.000 serangga yang menghuni bumi ini (Hawksworth, 1994). Dari sekian banyak serangga, ada segaian jenis serangga yang membawa keuntungan bagi manusia dan ada pula yang merugiakan. Oleh karena itu tedaklah mengherankan apabila perkembangan ilmu entomologi yang pesat belakangan ini. Entologi tidak lagi berkembang sebagai ilmu dasar yang mempelajari serangga namun telah berevolusi menjadi ilmu terapan, terutama dalam penanganan hama secara terpadu. Peranan ilmu entomologi di dalam hal penanggulangan masalah hama terhadap produk pertanian menjadi sangat penting. Hal ini berkaitan dengan usaha peningkatan sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan populasi manusia yang semakin meningkat jumlahnya. Oleh karena itu entomologi tidaklah meliputi sistimatika serangga namun juga mengenali bentuk serangga, dasar pengklasifikasian, dan peran dalam ekologi. Untuk itu dalam mempelajari entomolgi tidak ckup hanya teori semata. Namun praktik lapangan dan mengenal berbagai jenis serangga mutlah diperlukan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut sangat penting memperkenalkan berbagai jenis dan bentuk serangga secara langsung. Ini hanya bisa dipenuhi dengan kegiatan kuliah lapangan. Oleh karena itu kuliah lapangan entomologi ini dilakukan.

1.2 PALAKSAAN KULIAH LAPANGAN ENTOMOLOGI Hari, Tanggal : Kamis, 25 Juni 2009 Waktu : 09.00-16.00 WIB Lokasi : LIPI Cibinong, Jawa Barat dan Museum Serangga TMII Jakarta. 1.3 TUJUAN KEGIATAN

Adapun tujuan dari Kuliah Lapangan Entomologi adalah sebagai berikut : Mengetahui dan mengamati langsung berbagai Famili serangga. Mengetahui ciri-ciri ordo serangga khususnya ordo Odonata (capung). Mengetahui teknik-teknik pengawetan spesimen, baik untuk spesimen basah maupun spesimen kering. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penyimpanan spesimen. 1.4 MANFAAT PENULISAN Manfaat penulisan ini yaitu memberi informasi kepada Mahasiswa mengenai serangga serta teknik-teknik yang baik dalam membuat spesimen awetan serangga baik spesimen basah maupun spesimen kering, selain itu juga sebagai sumber informasi ilmiah mengenai berbagai jenis koleksi serangga yang ada di Museum Zoologi Bogoriense (MZB) di LIPi Cibinong,Jawa Barat dan Museum Serangga dan taman Kupu di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SERANGGA Serangga merupakan hewan yang dominan di bumi ini, terdapat dimana-mana baik di darat maupun dalam air. Dominasi dari serangga tersebut disebabkan karena serangga mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Selain itu serangga memiliki waktu generasi yang singkat dan banyak serangga yang berukuran kecil. Serangga terdiri atas ratusan ribu jenis, bentuknya sangat bervariasi, ukurannya bermacammacam mulai dari yang mikroskopis sampai yang makroskopis. Saat ini yang sudah berhasil diidentifikasi dan diberi nama sekitar sejuta serangga. Saat ini jika diperkirakan seluruh makhluk hidup yang ada di dunia sekitar 10 juta, maka menurut perkiraan Rothschild (Ride, 1978) terdapat sekitar 7 juta serangga atau 70% dari seluruh makhluk hidup yang ada saat ini. Tubuh serangga beruas-ruas dan ruas-ruas tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu kepala, toraks (dada) dan abdomen (perut). Pada kepala terdapat mata, antena dan alat-alat mulut. Pada dada terdapat tiga pasang kaki, pada dada bagi serangga yang bersayap terdapat satu pasang sayap atau dua pasang sayap.

Serangga mempunyai rangka luar eksoskeleton yang berfungsi untuk memperkokoh tubuh dan tempat melekatnya otot. Sistem otot serangga lebih kompleks dari golongan invertebrata lainnya. Pada beberapa jenis serangga terdapat dari beberapa ratus sampai beberapa ribu otot, misalnya pada belalang terdapat 900 otot, dan pada ulat kupu-kupu terdapat 4000 otot (manusia hanya memiliki 800 otot). Berdasarkan strukturnya, otot serangga berupa otot lurik. Otot serangga ada yang dapat

berkontraksi secara terbatas ada pula yang dapat berkontraksi dengan sangat kuat, misalnya otot untuk menggerakan sayap. Energi untuk pergerakan otot diperoleh dari hasil pembakaran sumber cadangan energi berupa senyawa glikogen, prolin ataupun lemak. (Elzinga, 1987). Sistem pencernaan serangga berupa saluran pencernaan mulai dari mulut sampai ke anus. Sistem pengeluaran pada serangga melalui pembuluh malpighi. Sistem respirasi pada serangga dengan sistem trakea. Sistem sirkulasi pada serangga melalui pembuluh darah yang letaknya pada bagian dorsal yang memanjang dari dada sampai perut. Pembuluh darah pada bagian perut berupa lima pasang aorta yang biasa disebut jantung pembuluh karena ikut berperan di dalam memompa cairan darah untuk diedarkan ke sluruh tubuh.

Sistem saraf serangga terdiri atas otak dalam kepala di atas esofagus, ganglion subesofagus dihubungkan ke otak oleh dua penghubung, yang satu mengelilingi esofagus yang satu lagi menjadi saraf ventral. Sistem reproduksi dari serangga pada umumnya secara seksual. Selama perkembangannya serangga mengalami metamorfosis, baik metamorfosis sederhana maupun metamorfosis sempurna. 2.2 ODONATA Odonata biasa juga disebut dengan kelompok capung-capungan. Odonata biasanya memiliki ciri yaitu memiliki cerci yang pendek atau tidak ada, pada masing-masing sayap depan terdapat node (bongkol) dan menakik, antena berbentuk setaceous (pita).

Capung merupakan serangga yang menarik, memiliki 4 sayap yang berselaput dan banyak sekali urat sayapnya. Bentuk kepala besar dengan mata yang besar pula. Antena berukuran pendek dan ramping. Capung ini memiliki toraks yang kuat dan kaki yang sempurna. Abdomen panjang dan ramping, tidak mempunyai ekor, tetapi memiliki berbagai bentuk umbai ekor yang telah berkembang dengan baik. Mata capung sangat besar dan disebut mata majemuk, terdiri dari banyak mata kecil yang disebut ommatidium. Dengan mata ini capung mampu melihat ke segala arah dan dengan mudah dapat mencari mangsa atau meloloskan diri dari musuhnya, bahkan dapat mendeteksi gerakan yang jauhnya lebih dari 10 m dari tempatnya berada. Tubuh capung tidak berbulu dan biasanya berwarna-warni. Beberapa jenis capung ada yang mempunyai warna tubuh mengkilap (metalik). Kedua pasang sayap capung berurat-urat. Para ahli capung dapat mengidentifikasi dan membedakan kelompok capung dengan melihat susunan urat-urat pada sayap. Masing-masing susunan urat memiliki nama tersendiri. Kaki capung tidak terlalu kuat, oleh karena itu capung menggunakan kakiknya bukan untuk berjalan, melainkan untuk berdiri (hinggap) dan menangkap mangsanya. Kaki-kaki capung yang

ramping itu juga dapat membentuk kurungan untuk membawa mangsanya. Capung biasa dapat menangkap mangsa dan memakannya sambil terbang, sedangkan capung jarum makan sewaktu hinggap. Habitat Capung Capung menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai nimfa yang sangat bergantung pada habitat perairan seperti sawah, sungai, danau, kolam atau rawa. Tidak ada satu jenis pun capung yang hidup di laut, namun ada beberapa jenis yang tahan terhadap tigkat kadar garam tertentu. Ada juga nimfa capung hutan tropis yang lembab hidup di darat. Capung melakukan kegiatannya pada siang hari, saat matahari bersinar. Oleh karena itu, pada hari yang panas capung akan terbang sangat aktif dan sulit untuk didekati. Sedangkan pada dini hari atau di sore hari saat matahari tenggelam kadang-kadang capung lebih mudah didekati. Bila diperhatikan, ada 2 macam capung dengan perbedaan ukuran yang sangat mencolok yaitu capung jarum dan capung biasa. Capung jarum (anak bangsa Zygoptera) ukuran tubuhnya kecil dan ramping seperti jarum. Pada waktu hinggap, sayap capung jarum terlipat / menutup diatas punggungnya. Sedangkan capung biasa (anak bangsa Anisoptera) tubuhnya lebih besar dan lebih kekar daripada capung jarum, dan umumnya dapat terbang lebih cepat. Sayap capung bisa terentang pada waktu hinggap. Capung biasa termasuk penerbang ulung karena kecepatan terbangnya yang tinggi, bahkan ada jenis yang dapat terbang mencapai 64 km / jam. Daur Hidup capung Daur hidup capung merupakan metamorfosis Ametabola. Nimfa capung terkenal sebagai pemangsa yang ganas, mempunyai bibir bawah yang dapat dijulurkan untuk menagkap mangsanya. Nimfa hidup di dalam air dan bernafas dengan insang. Dalam jangka waktu beberapa bulan hingga lima tahun, bergantung jenisnya, nimfa kemudian akan naik ke permukaan air dengan memanjat daun atau tumbuhan untuk kemudian melepaskan kulit dan menjadi capung dewasa. Telur Telur capung ada yang berbentuk panjang silindris dan ada pula yang bulat. Disudut telur terdapat satu atau beberapa lubang sangat kecil (micropyle) yang dapat dimasuki sperma sebelum telur diletakan oleh induknya. Perkembangan telur terjadi setelah telur diletakkan, dan larvanya mulai menetas dlam waktu 1-3 minggu. Nimfa Tahap perkembangan nimfa disebut juga instar. Instar nimfa terakhir disebut F-0 (atau F saja), satu tahap sebelum disebut F-1, dua tahap sebelumnya F-2, dst. Nimfa mungkin saja masa istirahat (diapause) yang menunda perkembangannya serta memastikan kemunculannya pada musim yang sesuai. Selama masa istirahat, nimfa akan mengurangi kegiatan makan, dan perkembangannya serta kegiatan nya jauh berkurang dari biasanya. Dewasa Nimfa memerlukan waktu untuk menyusun kembali susunan tubuh serta perilakunya sebelum berubah menjadi capung dewasa. Satu atau dua hari sebelum menjadi bentuk dewasa, nimfa akan memilih tempat yang sesuai untuk kemunculannya. Sejenak sebelum kemunculannya, fungsi insang berhenti dan segera digantikan oleh lubang dubur. Perilaku menarik dari capung Kawin

Pada beberapa jenis, capung jantan yang siap kawin memiliki kebiasaan untuk menguasai suatu wilayah. Capung jantan umumnya berwarna cerah atau lebih mencolok daripada betina. Warna yang mencolok ini membantu menunjukan wilayahnya kepada jantan lain. Perkelahian diantara capung-capung jantan sering terjadi dalam memperebutkan wilayah masing-masing. Bila ada seekor capung betina terbang mendekati salah satu wilayah, maka jantan penghuni akan mencoba mengawininya. Capung melakukan perkawinan sambil terbang, umumnya disekitar perairan ; dengan menggunakan umbai ekornya, capung jantan akan mencegnkeram bagian belakang kepala capung betina. Kemudian capung betina akan membengkokkan ujung perutnya menuju alat kelamin jantan - yang sebelumnya sudah terisi sel-sel sperma. Keadaan ini membentuk posisi yangf menarik seperti lingkaran yang disebut roda perkawinan. Setelah berhasil, sperma akan memasuki tubuh capung betina dan membassahi telur-telurnya. Bertelur Setelah kawin, capung betina siap untuk meletakan telur-telurnya dengan bernagai cara sesuai dengan jenisnya ; ada yang menyimpan di sela-sela batang tanaman air, ada pula yang menyelam ke dalam air untuk bertelur. Oleh sebab itu capung selalu terikat dengan air, baik untuk meletakkan telur-telurnya maupun untuk kehidupan nimfanya. Pada waktu capung betina meletakkan telur-telrnya, capung jantann melayang-layang diatasnya atau tetap menempel pada tubuh betina dalam posisi berboncengan atau tandem. Berjemur Capung mempunyai kebiasaan berjemur dibawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya dan menguatkan otot-otot sayapnya untuk terbang. Peran keberadaan capung bagi manusia Bentuk capung yang anggun serta warna yang indah sering menjadikan capung sebagai sumber inspirasi bagi para seniman lukis, perancang mode, perhiasan, penulis lagu maupun puisi. Gerakan terbangnya yang cepat dan dinamis menjadi inspirasi bagi pada seniman seni tari. Pada zaman dahulu di Madagaskar, Indonesia dan Malaysia konon capung digunakan sebagai makanan perangsang, dan ada pula yang menggunakannya sebagai obat. Di beberapa daerah di Indonesia, terutama di pedesaan, capung tentara sering digunakan untuk menghentikan kebiasaan mengompol pada anak-anak. Capung yang masih hidup di letakkan di atas pusar anakhingga kaki capung menggelitik pusar anak tersebut. Lain lagi di Jepang. Di negeri matahari terbit ini capung dilindungi dan tidak boleh dilukai atau di bunuh, sebab capung menurut kepercayaan orang jepang merupakan symbol kejayaan dan semangat serta penghubung jiwa orang yang sudah meninggal. Selain itu capung ternyata bermanfaat langsung bagi manusia karena nimfa capung memakan berbagai jenis binatang air termasuk jentik nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit malaria dan dmam berdarah. Di beberapa Negara-negara asia timur baru-baru ini teah terungkap bahwa capung dapat digunakan sebagai pembasmi efektif terhaap nyamuk penyebab penyakit.

penagkapan serangga BAB II TINJAUAN PUSTAKA Cara Pengumpulan Serangga Serangga dapat ditemukan di mana-mana. Adapun cara mengumpulkan serangga pun dapat dilakukan beberapa macam, tergantung pada maksudnya. Jika akan dibuat daur hidupnya, maka kita harus mengumpulkan mulai dari telur, nympha, larva, pupa hingga serangga dewasa (imago). Sedangkan jika hendak mengumpulkan serangga terbang, maka kita harus membawa alat jaring yang disautkan atau dijala dan kalau hendak mengumpulkan serangga air, maka kita harus membawa jaring yang ditenggelamkan di air (tentu saja menjadi basah) dan kemudian dikeringkan. Jika hendak menangkap serangga seperti kupu-kupu atau mengumpulkan ulat, pupa dan nympha, maka kita hanya perlu membawa pinset atau penjepit serta tempat yang tertutup rapat (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Kadang-kadang dapat juga menjebak dengan menggunakan lem untuk menangkap lalatcicada di pohon tinggi. Dengan getah nangka, juga bisa dengan tabung pengisap yang diberi batas kapas. Lampu yang digunakan pada waktu menangkap serangga pada malam hari sangat memegang peranan. Kita hanya menunggu sampai keesokan harinya, ternyata tempat kantung di bawah alat sudah terisi banyak serangga (alat light trap) (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Alat-alat yang digunakan 1. Alat-alat pendukung. Fungsi alat ini sebagai sarana makan untuk membuat atau menyiapkan alat-alat pokok seperti palu, gergaji, pisau, pahat, catut, kawat berbagai ukuran, paku, gunting, penjepit atau pinset, penusuk, jarum jahit, pisau skatel, kertas akrton, kertas koran, lem, jarum serangga, papan, kayu lunak (sengon atau balsa). 2. Jaring serangga. Alat ini dapat dibuat dari kayu, kawat, kain kelambu yang ukuran serta panjangnya dapat diukur semau kita (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Jaring serangga udara (Butterfly net) dibuat dari bahan yang ringan dan kuat, yaitu kain kasa atau blacu. Panjang tangkai jaring sekitar 75-100 cm. Mulut jaring terbuka dengan garis tengah 30 cm, panjang kantong kain kasa sekitar dua kali panjang garis tengah lingkaran mulut jaring. Jaring serangga dapat digunakan dengan dua cara, mengayunkan pada tanaman, dalam keadaan ini diperlukan kecepatan dan keterampilan, khususnya bagi serangga yang terbang cepat. Kedua menyapukan disekitar tanaman, di sini akan diperoleh jumlah dan jenis serangga yang relatif kecil. Jaring serangga air (Aquatic net) tidak jauh berbeda dengan jaring serangga biasa, akan tetapi biasanya lebih kuat. Garis tengah lingkaran mulut jaring sebaiknya 10-15 cm saja. Panjang kantong biasanya tidak lebih dari garis tengah, panjang tangkai kayu antara 1,5-2 m. bentuk mulut jaring ada yang bulat, segitiga atau seperti huruf

D. jaring serangga darat (Sweep net) lebih sesuai digunakan untuk menangkap seranggaserangga yang menempel atau terdapat pada tanaman-tanaman perdu. Sesungguhnys bentuk jaring serangga darat ini relatif sama dengan jaring serangga udara, hanya dibuat dari bahan yang lebih kuat. Jaring serangga darat terdiri dari dua lapis. Jaring bagian luar panjangnya 45-60 cm, sedangkan bagian dalam panjangnya hanya 30 cm dengan bagian ujung terbuka. Panjang gagang atau tangkai 75 cm dan diameter lingkaran mulut jaring 30 cm. Jaring ini digunakan dengan cara mengayunkannya atau menyapukannya di atas permukaan tanaman (Jumar, 2000). 3. Tabung pengisap. Alat ini dapat dibuat dari kaca atau pipa yang dibuat membelok dan diberi sekat kapas. 4. Botol pembunuh. Alat ini harus tertutup rapat, oleh karena uapnya sangat beracun, yaitu berupabotol plastik berbagai ukuran dapat ditutup rapat dengan cara putar atau langsung. 5. Sampul serangga. Dikenal dengan nama papilot. Fungsinya sebagai tempat menyimpan serangga untuk sementara, berupa amplop-amplop plastik. 6. Papan perentang sayap. Alat ini dibuat dari kayu lunak seperti sengon atau balsa, lapisan kardus, sekrup pengencang, jarum-jarum untuk mengatur sayap dan antena, kertas penjepit. 7. Jarum serangga. Alt ini dapat digunakan untuk mengatur sayap, antena dan penusuk punggung di kotak-kotak penyimpanan. Jarum harus tahan karat dan nomor-nomornya tergantung jenis serangga. 8. Kotak pengering. Alat ini sebaiknya diberi lampu 25 watt, untuk mengeringkan serangga sebelum disimpan, harus rapat tidak dapat dimasuki serangga hama seperti semut dan sebangsanya. 9. Bejana pelemas. Untuk melemaskan badan serangga dan alat-alat, misalnya untuk praktikum mahasiswa, maka kita terlebih dahulu harus membuat lemas serangga dengan mencelupkan ke dalam tawas atau alkohol 70% atau hanya diuapi air panas. 10. Kotak penyimpan. Lemari penyimpan atau kotak koleksi dibuat agar raktis, mudah diawasi dan mudah diambil. Berupa rak-rak dorong dengan lampu 25 watt dan untuk mengering seperti kapur tohor, silikagel dan paradkhlorbenzen. Juga sebagai pencegah serangga digunakan kantung merica, serbuk nafta len dan kamfer gantung. 11. Alat penangkap serangga. a. Menggunakan cahaya: Lampu perangkap: beberapa serangga akan tertarik pada beberapa intensitas cahaya. Oleh sebab itu ada beberapa macam lampu perangkap serangga yakni Rothamsted light trap dan light trap. b. Menggunakan umpan:

Jebakan berumpan (Baited traps): umpan yang sering digunakan untuk menarik serangga adalah dari jenis yang manis seperti gula, bir, sirup. Umpan biasanya dipakai dengan mengoleskannya ke pangkal permukaan pohon. c. Lubang jebakkan berumpan (Baited pit all traps): Alat ini sering digunakan untuk menangkap serangga dari ordo Coleoptera seperti kumbang dan kepik. Alat ini terdiri dari sebuah pot yang dimasukkan ke dalam tanah. d. Perangkap kupu-kupu (Butterfly traps): Alat ini sering digunakan untuk menangkap serangga kupu-kupu, ngengat dan lalat. Perangkap ini terdiri dari jaring net yang berbentuk silinder bagian atasnya digantungkan papan dengan celah berukuran kurang lebih 3 cm. alat ini ddapat digantungkan di pohon atau diletakkan di pohon belukar. Umpan diletakkan di tengah-tengah papan. Serangga kupu-kupu yang tertarik pada umpan akan masuk melalui celah. Kupu-kupu yang telah memakan umpan akan terbang ke atas di dalam jala net dan tidak keluar lagi (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Ordo Lepidoptera Lepidoptera berasal dari kata lepido berarti sisik dan ptera berarti sayap (bahasa Yunani). Serangga ini memiliki dua pasang sayap, sayap belakang biasanya sedikitkecil dari pada sayap depan. Sayap ditutup oleh bulu-bulu atau sisik. Imago dari ordo lepidoptera disebut kupu-kupu (jika aktif pada siang hari) atau ngengat (jika katif pada malam hari). Kupu-kupu (butterfly)memiliki sayap yang relatif indah dengan warna menarik, sedangkan ngengat (moth) bersayap kusam dan kurang menarik, biasanya tertarik pada cahaya lampu. Antena panjang, ramping dan kadang-kadang plumose (banyak rambut) atau membongkol pada ujungnya. Larva biasanya dengan tiga pasang kaki toraksial dan lima pasang kaki abdominal atau kurang. Tubuh ada yang berbulu dan ada yang tidak. Metamorfosis sempurna, hampir semua larva (ulat) sebagai pemakan tanaman, baik daun, batang, bunga maupun pucuk. Beberapa spesies sebagai penggerek batang, buah dan membuat puru. Serangga dewasa dapat membantu proses penyerbukan (Jumar, 2000). Ordo lepidoptera ukurannya bermacam-macam lebar 3-250 mm. bagian mulut unutk menjahit pada larva, menusuk pada dewasa, tanpa mandibula. Maxillae bersendi seperti lingkaran saluran atau belalai (proboscis) untuk mengisap cairan. Mata besar, bersayap 4, membraneus biasanya luas degang beberapa vena menyilang dan ditutupi oleh sisik-sisik mikroskopis yang saling menutupi, badan bersisik atau berambut. Warnanya jelas, larva seperti cacing dengan 3 pasang kaki dan kaki depan ke perut. 2 kelenjar sutera pada bibir dipakai untuk memintal coccon berisi pulpa (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Antenanya ada yang seperti sikat dan ada yang seperti benang. Bagian mulutnya saling berhubungan membentuk tabung. Pengisap seperti spiral. Badan larva terdiri dari 13 segmen.

Bagian mulutnya dilengkapi alat untuk menggigit. Larva ini mempunyai 3 pasang kaki pada dada (thorak) dan biasanya ada kaki 5 pasang kaki pada bagian perut (abdomen), yang disebut kaki semu (proleg). Tiap pasang kaki semu ini terikat pada segmen perut ke 6, 7, 8, 9 dan 12, pada ujung kaki (proleg) terdapat semacam kait dari khitin. Perkembangannya secara holomet bolis, yakni ulat menjadi pupa kemudian menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang kecil biasanya dikelompokkan dalam Microlepidoptera, sedangkan yang besar dalam kelompok Macrolepidoptera (Pracaya, 1991). Ordo Hymenoptera Hymenoptera berasal dari bahasa Yunani kuno human atau hymen yang artinya kulit tipis, membran dan ptera yang artinya sayap. Disebut demikian karena sayap ordo seperti membran yang telanjang tak ada pelindungnya. Dalam ordo terdapat beberapa keluarga pemakan tanaman, tetapi sebagian besar merupakan pemakan binatang lain (Pracaya, 1991). Bagian ulit tipe menjahit, mengelus-menusuk, mengisap pada lebah. Bersayap 4, kecil, membraneus, ada vena, waktu terbang bergetar. Betina dengan ovipositor untuk menggergaji, menusuk dan menyengat, larva serupa u;at, tak berkaki, pupa pada umumnya dalam coccon. Mengalami metamorfosis sempurna, kebanyakan solitair, tetapi sosial dalam koloni. Larva sering parasit. Ada 103 spesies (Simanjuntak dan Hadikastowo, 1996). Lokasi dan Waktu Pengumpulan Serangga Tiap serangga memiliki masa aktif sendiri-sendiri sehingga berbeda antara satu jenis serangga dengan serangga lainnya. Oleh karena itu , jika kita ingin mengumpulkan satu jenis serangga tertentu maka kapan masa aktif serangga tersebut perlu diketahui terlebih dahulu. Ada serangga yang aktif pada pagi hari, siang hari, sore hari dan bahkan ada yang aktif pada malam hari. Ada baiknya jika sebelum melakukan pengumpulan serangga terlebih dahulu mengetahui gejala atau tanda yang ditimbulkan maupun yang ditinggalkan oleh serangga pada tanamna serta bagian-bagiannya. (Jumar, 2000). DAFTAR PUSTAKA Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: PT. Renika Cipta. Pracaya. 1991. Hama dan Penyskit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya. Simanjuntak, R. H dan Hadikastowo. 1996. Mengumpulkan dan Mengawetkan Serangga.Jakarta: Penerbit Bhratara.

Fungsi warna cerah bagi serangga Meskipun pewarnaan pada tubuh organisme, termasuk serangga merupakan hal yang umum, hal ini masih menyisakan pertanyaan, bahkan debat yang berkepanjangan di antara ahli biologi. Di satu sisi, warna cerah pada tubuh mereka berguna sebagai pemikat lawan jenis untuk diajak kawin. Nah, di sinilah teka-teki tersebut timbul. Meskipun warna cerah berguna untuk tujuan tersebut, namun bukankah warna cerah juga menjadi penanda yang sangat jelas akan keberadaan mereka di alam. Jika organisme yang berwarna kusam begitu sempurna tersamar di lingkungannya, maka organisme dengan warna cerah justru akan terlihat amat jelas oleh pemangsanya! Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi mereka. Menurut situs wikipedia, warna cerah sering dihubungkan dengan mekanisme Warning Coloration (Pewarnaan tubuh untuk memperingatkan) atau Aposematisme (Apo- berarti menjauh/ mengusir, dan Sematic berarti peringatan). Umumnya, warna oranye, merah, kuning yang kontras dengan warna hitam pada serangga merupakan petunjuk bahwa serangga tersebut beracun, atau minimal berasa tidak enak. Menariknya, demikian kuatnya pengaruh warna ini bagi sekelompok serangga tertentu, sehingga beberapa kelompok yang lain meniru atau menyamar sesuai dengan warna dari kelompok serangga yang memang benar-benar berbahaya tersebut (silakan baca tulisan sebelumnya Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!).

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji pengaruh intensitas cahaya terhadap perilaku serangga (hama), sehingga intensitas cahaya dapat dimanfaatkan guna menangkap serangga (hama) yang mana penangkapan serangga (hama) tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian (pengendalian hama serangga) serta dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak.

Cahaya memiliki daya tarik dan mampu mempengaruhi perilaku serangga (hama), dengan intensitas tertentu akan diperoleh efesiensi sumber energi (catu daya), serta daya pikat untuk mengumpulkan serangga (hama). Kemampuan ini dapat dijadikan sebagai alat pengendalian populasi serangga yang tidak menguntungkan (hama) dengan pendekatan ramah lingkungan, disamping juga serangga yang diperoleh dapat dijadikan sumber pakan ternak yang berkualitas.

Piranti yang efektif dan efesien dirancang agar cayaha dapat dipergunakan secara praktis di lahan-lahan pertanian, dengan memperhatikan jangka waktu penggunaan dan sumber listrik yang diperlukan.

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur besaran intensitas cahaya yang efektif dapat digunakan menangkap serangga -untuk memperoleh optimasi rancangan prototype-, serta mengamati dan mengkalsifikasi serangga yang terperangankap berdasarkan besar ukuran fisiknya.