Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OSEANOGRAFI FISIKA PRA MODUL

Oleh : Sutarno Eko Arvianto (26020211130017) Asisten : Trika Agnestasia (26020210120039)

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

LEMBAR PENGESAHAN PENILAIAN

No. 1 2 3 4 5 6 BAB I BAB II BAB III BAB IV Daftar Pustaka Bonus

Keterangan

Nilai

Total

Semarang, 11 Oktober 2012 Asisten Praktikan

Trika Agnestasia NIM.26020210120039

Sutarno Eko Arvianto NIM.26020211130017

Mengetahui, Dosen Mata Kuliah

Indra Budi Prasetyawan, S.Si.M.T NIP. 19791003 200312 1 002

BAB I
Tujuan 1. Mengetahui jenis-jenis alat yang digunakan dalam praktikum oseanografi fisika 2. Mengetahui prinsip kerja, bentuk (gambaran), dan data yang dihasilkan dari tiap-tiap instrumen yang digunakan dalam praktikum oseanografi fisika 3. Mempelajari fungsi dan cara kerja alat (instrumen) yang digunakan dalam praktikum oseanografi fisika

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Alat Pengukur Salinitas dan Kecerahan

1.

Refraktometer

Refraktometer merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum. Juga disebut sebagai pengukur indeks pembiasan pada cairan yg dapat digunakan untuk mengukur kadar garam. Prinsip kerja dari refractometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya. Seperti terlihat pada Gambar di bawah ini sebuah sedotan yang dicelupkan ke dalam gelas yang berisi air akan terlihat terbengkok. Pada Gambar kedua sebuah sedotan dicelupkan ke dalam sebuah gelas yang berisi lauran gula. Terlihat sedotan terbengkok lebih tajam. Fenomena ini terjadi karena adanya refraksi cahaya. Semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut (Rapat Jenis Larutan), maka sedotan akan semakin terlihat bengkok secara proporsional. Besarnya sudut pembengkokan ini disebut Refractive Index (nD). Refractometer ditemukan oleh Dr. Ernst Abbe seorang ilmuwan dari German pada permulaan abad 20. Adapun prinsip kerja dari refractometer dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Dari gambar dibawah ini terdapat 3 bagian yaitu : Sample, Prisma dan Papan Skala. Refractive index prisma jauh lebih besar dibandingkan dengan sample. 2) Jika sample merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan lebar dikarenakan perbedaan refraksi dari prisma dan sample besar. Maka pada papan skala sinar a akan jatuh pada skala rendah. 3) Jika sample merupakan larutan pekat / konsentrasi tinggi, maka sudut refraksi akan kecil karena perbedaan refraksi prisma dan sample kecil. Pada gambar terlihar sinar b jatuh pada skala besar

2.

Salinometer

Salinometer adalah alat untuk mengukur salinitas dengan cara mengukur kepadatan dari air yang akan dihitung salinitasnya. Bekerjanya berdasarkan daya hantar listrik,semakin besar salinitas semakin Besar pula daya hantar listriknya. Alat ini digunakan di laboratorium, berbeda dengan refraktometer yang biasa digunakan di lapangan atau outdoor.

Sensor salinometer membran terdiri dari sel elektrokimia: AgIAgClSl / m + IS2jm-ISlAgClIAg, dimana S2 mewakili sampel yang tidak diketahui air laut, S1 sebuah membran seawaexchange dikenal standar. Potensi (AE) antara dua elektroda adalah jumlah dari potensi di dua membran dan dua potensi elektroda. Sejak air laut mengelilingi standar yang sama baik elektroda, dua potensial elektroda akan sama dan berlawanan, dan membatalkan keluar. Oleh karena respon dari sel dapat digambarkan oleh moldification empiris dari persamaan Nernst, di mana hanya dua potensi membran dipertimbangkan: AE = C. Penyisipan C faktor 'empiris memungkinkan usle salinitas bukan kegiatan untuk menggambarkan konsentrasi ion dan penggunaan log,, bukan log,.Nilainya juga dipengaruhi oleh kenyataan air laut yang merupakan campuran dari monovalen dan spesies divalen. (Untuk diskusi lengkap teori dari membran salinometer keluaran dari membran salinometer muncul dari tiga mekanisme yang berbeda. Pertama, untuk perubahan diberikan dalam suhu ambien yang tegangan kesalahan yang dihasilkan, sehingga 6AE 6T =AE T '(2) Jadi, pada suhu sekitar yang normal, perubahan (6T) dari 3C akan menimbulkan suatu kesalahan sekitar 1% pada tegangan yang diukur (AE). Besarnya mutlak kesalahan salinitas diukur karena efek ini tergantung pada nilai AE (yaitu, pada perbedaan salinitas melintasi membran) dan pada nilai salinitas sendiri. Pada 5% 0 dan suatu AE dari 10 mV perbedaan suhu 3C akan memberikan kesalahan dari c O.O13%; pada 35% 0 kesalahan akan c. O.O9% Efek suhu kedua terjadi ketika suhu dari dua elektroda berbeda. Dalam hal ini sinyal error muncul karena dua elektroda potensi tidak lagi membatalkan, besarnya adalah sebanding dengan perbedaan suhu.Sebuah efek, suhu ketiga yang lebih kecil yang dihasilkan oleh perbedaan suhu melintasi membran. Oleh karena itu, dalam setiap salinometer membran sensor yang praktis, perbedaan suhu melintasi membran dan juga antara elektroda harus diminimalkan dengan desain hati-hati untuk mencegah acak fluktuasi suhu dari merendahkan akurasi.

3.

CTD (Conductivity Temperature Depth)

CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran. . a.Sensor Tekanan. Sensor tekanan merupakan sensor yang memanfaatkan hubungan langsung antara tekanan dan kedalaman. Sensor ini terdirai dari tahanan yang berbentuk seperti jembatan wheatsrone kemudian dinamakan strain gauge. Strain gauge merupakan alat resistansi yang berubah ketika mendapat tekanan, Tahanan ini akanmemegang peranan ketika mendapat gaya dalam bentuk fisika seperti tekanan, beban (berat), arus dll. b. Sensor Temperatur.

Sensor temperatur adalah sensor yang berpengaruh terhadap suatu hambatan, dalam bentuk termistor. Termistor (tahanan termal) merupakan alat semikonduktor yang berperan sebagai tahanan dengan besar koefisien tehanan temperatur yang tinggi dan biasanya bernilai negative. Alatini terbuat dari campuran Oksida-Oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel, kobalt dll. c. Sensor Konduktifitas. Sensor konduktofitas merupakan sensor yang mendeteksi adanya nilai daya hantar listrik di suatu perairan. Sensor ini merupakan sensor yang terdiri dari tabung berongga danempet buah terminal elektroda platina-rhodium di belakang sisinya. Sebagai sensor yang melewati nilai konduktifitas maka rata-rata hasil proses dalam pengukuran akan melewati nilai rendah (low pass fliter). Sensor ini akan mulai mengukur ketika alat telah bergerak masuk kedalam air sampai pada posisi yang diinginkan. Sebenarnya sensor ini mengukur nilai konduktifitas untuk mengetahui nilai salinitas atau kadar garam di sebuah perairan sacara tidak langsung. d. Prinsip Pengukuran CTD. Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via cabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal. Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas.

4.

Termometer

a.

Termometer Air Raksa

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu.Termometer Merkuri adalah jenis termometer yang seringdigunakan oleh masyarakat awam. Merkuri digunakan pada alat ukur suhu termometer karena koefisien muainya bisa terbilang konstan sehingga perubahan volume akibat kenaikan atau penurunan suhu hampir selalu sama. Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan. Merkuri di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat

sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat. Merkuri akan mengembang naik ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuaidengan skala yang telah ditentukan. Skala suhu yang paling banyak dipakai di seluruh dunia adala. Skala Celciusdengan poin 0 untuk titik beku dan poin 100 untuk titik didih. Temperatur Celsius yang diantara isinyamenjelaskan metoda kalibrasi alat termometer seperti dibawah ini: 1. Letakkan silinder termometer di air yang sedang mencair dan tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut berwujud cair seluruhnya. Poin ini adalah poin titik beku air. 2. Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut mendidih seluruhnya saatdipanaskan b. Termometer Digital

Termometer digital merupakan salah satu alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui suhu objek (benda/tubuh). Pembacaan pengukuran termometer ini dilakukan langsung dari nilai display dengan memperhatikan garis segmen yang ada. Prinsip kerja dari termometer digital adalah sebagai berikut : 1) Sensor yg berupa PTC atau NTC dengan tingkat sensitifitas tinggi akan berubah nilai tahanannya jikaterjadi sebuah prubahan suhu yg mengenainya. 2) Perubahan nilai tahanan ini linear dengan perubahan arus, sehingga nilai arus ini bisa dikonversi ke dalam bentuk tampilan display 3) Sebelum dikonversi, nilai arus ini di komparasi dengan nilai acuan dan nilai offset di bagian komparator,fungsinya untuk menerjemahkan setiap satuan amper ke dalam satuan volt yg akan dikonversi ke display. Kalibrasinya biasa menggunakan kalibrator manual atau otomatis, kalibrator manual suhu yg dikenakan kesensor adalah suhu pemanas nyata dimulai dari 0 derajat untuk setting ofsetnya. Kalibrasi otomatis terdiri dari suhu pemanas dan checker untuk gain dalam rangkaian komparatornya. 5. Secchi Disk

Tingkat kecerahan menyatakan tingkat cahaya yang diteruskan ke dalam kolom air dan yang jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan penetrasi cahaya matahari dipengaruhi kekeruhan air: -suspensi dalam air (lumpur) -planktonik ; jasad renik -warna air Secchi disk berisi bolak kuadran hitam dan putih. Ketika diturunkan ke dalam air, kedalaman maksimum yang diukur dalam meter di mana pengguna dapat dengan jelas melihat perbedaan antara hitam dan putih kuadran dikenal sebagai kedalaman Secchi disk. garis digunakan untuk menghubungkan ke disk secchie biasanya ditandai dalam 1 / 10 bertahap meter dan nilai yang dilaporkan tersebut (1.2m, 3.4m, dll).Pengukuran relatif ini berguna untuk membandingkan situs dalam periode sampling yang sama atau melakukan pembacaan mingguan di satu lokasi untuk mengamati perubahan kejernihan air.

Secchi disk pertama kali dikembangkan oleh limnologists (studi air tawar) untuk memantau produktivitas utama danau. Dengan mengambil harian atau mingguan ilmuwan pengukuran bisa mengamati peningkatan dalam komunitas plankton dan memprediksi kali produktivitas maksimum yang sering musiman. Turbidimeters lain adalah metode pengukuran kekeruhan yang menghasilkan nilai absolut dilaporkan dalam Kekeruhan Nephelometric Unit (NTU). Multi parameter instrumen seperti instrumen YSI digunakan di Stockton mengandalkan transmisi cahaya dan pengukuran yang sesuai hamburan cahaya yang probe dapat mengukur kekeruhan.

B.

Alat Pengukur Gelombang

1.

Buoy

Buoy adalah sebuah pelampung yang mengambang di permukaan laut sebagai perangkat untuk mendeteksi berbagai aktivuitas di dasar laut. Diberi nama buoy karena memang pada prinsip dasarnya, teknologi terbaru tersebut dipasang untuk memanfaatkan gelombang laut di permukaan. Berbeda dengan buoy yang digunakan untuk mendeteksi gelombang laut yang menyimpan potensi tsunami. Dalam kondisi normal Buoy mengirim data tiap satu jam, namun jika terjadi tsunami, Buoy akan mengirim data tiap satu menit. Waktu pengiriman data dari OBU sampai ke stasiun penerima adalah 1 hingga 2 menit.

2.

Palem gelombang

Pengukuran gelombang dilakukan dengan menggunakan Wave Pole adalah papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm.Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah,perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombangmelewati titik tertentu Alat ini digunakan untuk mengukur gelombang dengan cara mengetahui waktu yang dibutuhkan gelombang untuk membentuk satu gelombang (dengan mengetahui puncak gelombang dan lembah gelombang). Prinsip dari alat ini adalah mengetahui waktu yang dibutuhkan gelombang untuk membentuk satu gelombang (dengan mengetahui puncak gelombang dan lembah gelombang). Cara menggunakan alat ini yaiu: Sediakan palem gelombang, tulis ukurannya misalnya tiap cm dengan panjang 4m. sediakan pula stop watch untuk menghitung waktu yang ditempuh dalam satu periode gelombang puncak dan lembah. Misalnya satu periode 5 detik start dan stop (pada H max dan H min di palem gelombang). Kemudian catat waktu tersebut misalnya H max = 125 cm, H min = 123 cm.

3.

ADCP

ADCP merupakan salah satu alat pengukur kecepatan arus air berteknologi tinggi. ADCP menggunakan gelombang suara (sonar) sebagai alat pendeteksinya dan mempunyai akurasi yang tinggi. Informasi yang diukur oleh alat tersebut adalah meliputi besar dan arah arus air hingga 128 titik di kolom air dengan maksimum kedalaman pengukuran mencapai beberapa ratus meter,

tergantung pada frekwensi suara yang digunakannya. Selain itu, alat inipun memberikan informasi mengenai suhu air laut, lintasan kapal, topografi dasar perairan serta dapat dihubungkan dengan Global Positioning System (GPS) untuk penentuan posisi pengukuran. Ada tiga konfigurasi ADCP yang diproduksi RD Instruments (RD Instruments, 1995), yaitu : 1. Direct-reading ADCP (RD-ADCP) : dioperasikan dari kapal / perahu dan dihubungkan langsung ke komputer sehingga hasil pengukuran dapat diamati secara langsung; 2. Hull-mounted ADCP : terpasang permanen di kapal. Pengoperasiannya seperti halnya Directreading ADCP. 3. Mooring ADCP : dimaksudkan untuk pengukuran arus pada suatu titik tetap pada jangka waktu tertentu. Hasil pengukuran direkam pada memory di alat tersebut

C. Alat Pengukur Pasang Surut

1.

Tide Staff

Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat. 2. Tide gauge

Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer Dalam tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu : 3. Floating tide gauge (self registering) Pressure tide gauge (self registering)

Satelit

Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. D. Alat Pengukur Arus

1.

Current meter

Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus). Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan partikel air yang melewatinya. Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran dapat memberikan kecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan rumus kalibrasi propeler tersebut. Jenis alat ini yang menggunakan sumbu propeler sejajar dengan arah arus disebut Ott propeler curent meter dan yang sumbunya tegak lurus terhadap arah arus disebut Price cup current meter. Peralatan dengan sumbu vertikal ini tidak peka terhadap arah aliran. 2. Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP)

Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) adalah alat ukur arus muka laut berperforma tinggi yang akurat, dapat diandalkan dan mudah untuk digunakan. ADCP menghitung kecepatan 3D dengan kedalaman yang spesifik dari setiap cell sampai kira-kira 220 m. Design pertama dari pengukur arus hanya sebatas untuk mengukur perairan dangkal. Prinsip kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial relatif, antara instrumen (alat) dan hamburan di laut. Tiga beam akustik yang berbeda arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam ke empat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap detik. Echo yang tiba kembali ke instrumen tersebut melebihi dari periode tambahan, dengan echo dari perairan dangkal tiba lebih dulu daripada echo yang berasal dari kisaran yang lebih lebar. Profil dasar laut dihasilkan dari kisaran yang didapat. Pada akhirnya, kecepatan relatif, dan parameter lainnya dikumpulkan diatas kapal menggunakan Data Acquisition System (DAS) yang juga secara optional merekam informasi navigasi, yang diproduksi oleh GPS. ADCP menghitung kecepatan dari air dengan menggunakan prinsip fisika yang dikenal disebut perubahan Dopler. Pada bagian ini jika sumber dari suara bergerak relative ke receiver frekuensi dari suara di receiver mengalami perubahan dari frekuensi transmisi. Fdoppler = -2Fsource ( V / C ) Dari persamaan ini , V adalah kecepatan relative diantara sumber dan receiver (i.e.; Gerakan mengindikasikan perubahan jarak diantara keduanya., C adalah kecepatan dari suara, Fdoppler perubahan dari frekuensi receiver di receiver (i.e., the Doppler shift), danFsource frekuensi dari transmisi suara. Ilustrasi dari operasional dari sistem Doppler monostatis, seperti ADP ( monostastis mengindikasikan fakta bahwa transducer yang sama digunakan sebagai receiver dan transmitteris. Transducer Son Tek SonTek transducers dibangun untuk menghasilkan beam sempit suara, dimana energi utama terkonsentrasi pada sebuah kerucut yang hanya beberapa derajat lebarnya. Setiap transducer menghasilkan pulsa suara yang frekuensinya diketahui. Pada saat suara merambat di air, suara itu memantul ke segala arah oleh partikelpartikel (sedimen, bahan biologis, gelembung). Sebagaimana beberapa bagian memantulkan energi yang merambat kembali sepanjang transducer axis,kearah transducer dimana, perhitungan proses elektronik berubah seiring frekuensi. Pergantian Doppler diukur dari pantulan single transducer, kecepatan diair sepanjang axis pasa beam akustik.

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN

A.

Alat Pengukur Salinitas, Temperatur, dan Kecerahan

1.

Refraktometer

Berikut merupakan langkah penggunaan instrumen tersebut : 1) Tetesi refraktometer dengan aquadest 2) Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal 3) Teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya 4) Lihat ditempat yang bercahaya 5) Akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih 6) Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya 7) Bilas kaca prisma dengan aquades, usap dengan tisyu dan simpan refraktometer di tempat kering

2.

Salinometer

Cara menggunaka salinometer adalah sebagai berikut : 1) Ambil gelas ukur yang panjang, isi dengan air sampel yang akan diukur salinitasnya 2) Salinitas akan terbaca pada skalanya

3.

CTD (Conductivity Temperature Depth)

Cara kerja CTD : CTD diletakan pada kerangka Rosette. Kemudian probe dihubungkan dengan kabel elektrik yang ada kerangka Rosette. Berat dari kerangka Rosette tersebut sekitar 25 Kg dan menghabiskan panjang kabel sekitar 5 meter untuk mengikat probe ke lengan-lengan kerangka. Setelah semua perangkat di pasang, akan lebih baik jika kita memeriksa keseimbangan peralatan, jika dipastikan fix maka kita dapat mulai memasukan CTD kedalam laut. Langkah-langkahnya sebagai berikut : 1) Mulai dengan program akusisi data dan dilengkapi profil untuk mengidentifikasi data. Siapkan peralatan yang akan digunakan dan letakkan botol sesuai dengan prosedur paemasangan. 2) Setelah kerangka (Rosette) diletakan pada posisinya dan CTD (Probe atau rangkaian sensor yang sudah di Set) diletakan di dalamnya, maka instrumen ini akan ke sisi (pinggir) kapal, lalu dihubungkan kabel-kabek interkoneksinya maka instrumen tersebut siap diturunkan 3) Setelah CTD siap untuk diturunkan maka kontrol unit di set untuk kondidi ON. Ketika kontrol unit sedang dipersiapkan maka instrumen (Rosette dan Probe) dapat diturunkan pelan-pelan mendekati permukaan air 4) CTD mulai diturunkan kedalam air secara pelan-pelan, dan pada saat inilah rangkaian Probe dan kontrol unit saling berhubungan untuk merekam data dalam benntuk sinyal analog pada tipe recorder. Pada saat ini juga prosedur akusisi dimulai dan kerangka Rosette pada CTD diturunkan dengan kecepatan tertentu sampai pada kedalaman yang diinginkan 5) Pada saat CTD probe diturunkan maka pengiriman data ke kontrol unit juga di mulai. Perhatikan data yang di dapat dan keaadaan kece[atan penurunannya. 6) Setelah mendapatkan data yang diinginkan maka stop penerimaan data dari Probe. Berhentikan juga perekaman data pada recorder. Kemudian dapat ditarik ke permukaan air, dengan catatan tidak ada lagi data yang di kirim oleh CTD dan dipastikan OFF. 7) Setelah unit data akusisi di-Offkan dan instrument diletakan di atas kapal maka tekan End of Profile data dan diberhentikan akusisi program. Data yang di dapat bisa langsung disambungkan ke personal Computer atau direkam oleh Tipe Recorder. 8) Proses pengambilan data selesai.

Pengukuran datapada CTD tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung. Contoh data yang ditampilkan oleh CTD :

4.

Termometer

a.

Termometer Air Raksa

Cara kerja Termometer Air Raksa : Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan air raksa di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan mengembang naik ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alatukur sesuai dengan skala yang telah ditentukan. Adapun cara kerja secara umum adalah sbb ; 1) Sebelum terjadi perubahan suhu, volume air raksa berada pada kondisi awal. 2) Perubahan suhu lingkungan di sekitar termometer direspon air raksa dengan perubahan volume.

3) Volume merkuri akan mengembang jika suhu meningkat dan akan menyusut jika suhu menurun. 4) Skala pada termometer akan menunjukkan nilai suhu sesuai keadaan lingkungan.

Data yang ditunjukkan dari termometer air raksa :


Termometer air raksa umumnya menggunakan skala suhu Celsius dan Fahrenhait. Celsius memakai dua titik penting pada skalanya: suhu saat es mencair dan suhu penguapan air. Es mencair pada tanda kalibrasi yang sama pada thermometer yaitu pada uap air yang mendidih. Saat dikeluarkan termometer dari uap air, ketinggian air raksaturun perlahan. Ini berhubungan dengan kecepatan pendinginan (dan pemuaian kaca tabung). Jadi pegukuran suhucelsius menggunakan suhu pencairan dan bukan suhu pembekuan. b. Termometer Digital

Sebelum penggunaan alat thermometer digital, terlebih dahulu harus dilakukan kalibrasi untuk menjaga nilai akurasi dari suhu yang akan diukur. Proses kalibrasi bisa dilakukan secara manual ataupun otomatis. Untuk proses kalibrasi manual dilakukan dengan menyetting ofsetnya untuk pemanas suhu pada angka nol. Sementara untuk kalibrasi otomatis Kalibrasi otomatis terdiri atas suhu pemanas serta checker untuk gain di dalam sistem rangkaian komparatornya. Teknik pembacaan thermometer digital dilakukan langsung dari nilai display, yakni dengan cara memperhatikan garis segmen yang ada pada alat. 5. Secchi Disk

Prosedur memasukkan secchi disk dalam air menurut Davies-Colley : Gunakan ukuran disk yang tepat untuk mengukur kecerahan (20 mm 0.15-0.5 m, 60 mm 0.5-1.5 m, 200 mm 1.5-5 m, 600 mm 5-15 m), yang dicat putih / hitam dan putih pada kuadran dan menggunakan pemberat agar menjaga agar tali tetap lurus. Pengukuran dilakukan disamping kapal yang terkena sinar matahari Waktu pembacaan cukup (minimal 2 menit) ketika disk dekat atau diangkat Catat kedalaman ketika disk hampir menghilang Angkat perlahan-lahan dan catat kedalaman ketik disk mulai terlihat kembali. Kedalaman secchi merupakan rata-rata dari hilang dan muncul kembali Pembacaan dilakukan dimungkinkan pada siang hari Kedalaman sedikitnya 50% lebih besar dibanding kedalaman secchi

Gambar menunjukkan array probe seluruh dari YSI 6600, termasuk probe kekeruhan. Seperti semua instrumen pemantauan ini harus hati-hati dikalibrasi di laboratorium menggunakan standar kekeruhan. Air suling digunakan sebagai standar nilai nol, sementara standar lainnya dibeli melalui perusahaan kimia memiliki nilai kekeruhan yang tepat (50, 100 dll.). nilai kekeruhan Estuari biasanya berkisar 2-25 NTUs.

B.

Alat Pengukur Gelombang

1.

Buoy

Dengan mengapungkannya di permukaan. Gelombang laut yang terus mengalun dan berirama bolak-balik dalam buoy ini akan diubah menjadi gerakan harmonis listrik. Sekilas bila dilihat dari bentuknya, buoy ini mirip dengan dinamo sepeda. Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. Buoy diapungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian lagi mengapung. Kunciya, terdapat pada perangkat elektrik yang berupa koil (kumparan yang mengelilingi batang magnet di dalam buoy). Saat ombak mencapai pelampung, maka pelampung akan bergerak naik dan turun secara relatif terhadap batang magnet sehingga bisa menimbukan beda potensial dan listrik dibangkitkan. Tentu saja agar dapat bergerak koil tersebut ditempelkan pada pelampung yang dikaitkan ke dasar laut.

2.

Palem Gelombang

Cara kerja : Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati batas puncak gelombangdan batas lembah gelombang yang melewati wave pole yang kami letakkan di sekitar 30meter dari garis pantai untuk kemudian dicatat. Perhitungan periode gelombang dilakukandengan cara ; pertama, menentukan titik tetap dari letak wave pole dengan jarak 2 meter,3 meter, 4 meter, dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukanperiode/waktu gelombang. Periode gelombang di hitung pada saat gelombang melewatiwave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telahditentukan (perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 5 kali ulangan)

3.

ADCP

Gambar ADCP

Pada prinsipnya, ADCP bekerja dengan mentransmisikan gelombang suara dengan pola tertentu ke kolom air dan menerima pantulannya yang disebabkan oleh partikel-partikel yang ada di dalam air. Informasi tersebut dianalisa berdasarkan pergeseran frekwensi menurut teori Doppler. Teori Doppler menjelaskan mengenai perubahan frekwensi gelombang yang berasal atau dipantulkan oleh objek yang bergerak. Jikalau objek bergerak mendekati. maka gelombang suara tersebut akan makin tinggi frekuensinya dibandingkan dengan frekuensi asalnya. Jikalau objeknya menjauhi, frekuensi gelombang yang diterima menjadi lebih rendah. Besarnya perbedaan frekuensi tersebut sebanding dengan kecepatan relatif antara ADCP dan partikel. Besarnya perbedaan nilai tersebut kemudian dikonversikan ke dalam bentuk komponen kecepatan arus.

Prinsip dasar perhitungan dari perhitungan arus/gelombang yaitu kecepatan orbit gelombang yang berada dibawah permukaan dapt diukur dari keakuratan ADCP. ADCP mempunyai dasar yang menjulang,dan mempunyai sensor tekanan untuk mengukur pasang surut dan rata-rata kedalaman laut. Time series dari kecepatan, terakumulasi dan dari time series ini, kecepatan spektral dapat dihitung. Untuk mendapatkan ketinggian diatas permukaan, kecepatan spektrum dierjemahkan oleh pergeseran permukaan menggunakan kinematika linear gelombang. Kegunaan ADCP pada berbagai aplikasi : 1. 2. 3. Perlindungan pesisir dan teknik pantai. Perancangan pelabuhan dan operasional Monitoring Lingkungan Keamanan Perkapalan

4.

Prinsip Pengoperasian : SonTek/YSI ADPs tergolong dalam kumpulan instrument yang dikenal sebagai akustikdopler current profiler. Lebih dari beberapa decade alat ini telah mengembangkankemampuan untuk mengukur arus secara lebih detail untuk aplikasi di lapangan. Sejakdiperkenalkan pada tahun 1984 sebagai alat pertama pengukuran arus untuk perairandangkal, ADP telah banyak mengalami kemajuan sebagai alat pengukur arus. Dokumendi bawah ini meliputi pengenalan dasar dari prinsip penggunaan ADCP.The ADP menghitung kecepatan dari air dengan menggunakan prinsip fisika yangdikenal disebut perubahan Dopler. Pada bagian ini jika sumber dari suara bergerakrelative ke receiver frekuensi dari suara di receiver mengalami perubahan dari frekuensitransmisi.

Data yang diperoleh :

C. Alat Pengukur Pasang Surut 1. Tide Staff

Syarat pemasangan papan pasut adalah : 1. Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air 2. Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai (aliran debit air). 3. Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air bergerak secara tidak teratur 4. Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan dipasang tegak lurus 5. Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah dikaitkan 6. Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi 7. Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil 8. Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah
2. Tide gauge

Floating tide gauge (self registering)

Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasut dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu pasut.

Di pantai dimana terdapat ombak pecah, atau dimanapun ada gangguan permukaan airyang minima kisaran pasang surut dapat diukur dengan rangkaian papan yang sudahterbagi-bagi dalam kelas-kelas tertentu. Air yang mengarah ke pantai akan terukur padainterval-interval yang tertera pada papan.Papan yang paling dekat dengan pantai harus mencapai atas air pada saat terjadi highwater, dan yang jauh dari pantai harus mencapai mean low water level agar pada saatsurut terendah dapat terbaca skalanya. Perlu berhati-hati dalam pembacaan pada papanyang sudah lapuk. Papan pengukur pasang surut juga dapat dipasang pada tebing tebingdekat pantai, di penggalangan kapal dan struktur-struktur lain yang airnya tenang.Jika inginkan pengukuran yang tepat maka pengukuran dilkukan di tempat yangpengaruh gelombangnya sedikit. Dekat pantai di atas mean high water biasanya dibuatpenampungan yang dasarnya kira-kira 3 sampai 6 kaki ke bawah dari level lowest lowwater.Penampungan dihubungkan ke laut dengan pipa yang sempit yang menurun sampai kedasar. Ujung dari pipa dibuat semacam alat penyiram air yang dimaksudkan untukpengairan dan boya akan menahannya pada dasar laut. Jika pengaruh gelombang tidakterasa pada kedalaman ini maka level air pada penampungan hanya menggambarkanpergerakan pasang surut. Pada saat lautan terlihat tenang di permukaan, maka padapenampungan air alirannya lancar dan level air akan terukur oleh papan berskala.Mengukur pasang surut akan sulit dan akan menghabiskan waktu, untuk mengatasimasalah ini digunakanlah marigraph. Marigraph adalah alat pengukur pasang surutotom atik yang akan mencatat sendiri kisaran pasang surut. Alat ini akan memberikancatatan yang konstan dari level air. Berikut ini adalah gambar marigraph:Pelampung, yaitu F akan naik turun dengan terisinya air di penampungan yaitu R. Kawattembaga dihubungkan ke pelampung yang melewati drum yaitu G, dikere nakan padadrum akan terjadi perubahan level air. Pergerakan pada drum ditransmisikan ke sty (pena jarum untuk mencatat) yang akan mencatat perubahan yang terus-menerus padascarik kertas.

Pressure tide gauge (self registering) Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut. D. Alat Pengukur Arus 1. Current Meter

Salah satu alat ukur arus dengan metode Euler adalah Current Meter, Pada alat tersebut dilengkapi dengan sensor suhu, conductivitas untuk mengukur salinitas, rotor untuk kecepatan dan kompas magnetik untuk menentukan arah. Cara menggunakan alat ini yaitu dimasukkan ke dalam air yang sebelumnya telah dihubungkan dengan perangkat computer, yang nanti hasilnya akan terbaca oleh computer berupa grafik.

Tahapan pengukuran dengan menggunakan current meter adalah sebagai berikut: 1) 2) Siapkan peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran Bentangkan kabel pada lokasi yang memenuhi persyaratan dan posisi tegak lurus dengan

arah arus air dan tidak melendut 3) 4) 5) 6) Tentukan titik pengukuran dengan jarak antar vertikal Berikan tanda pada masing-masing titik Baca ketinggian muka air pada pelskal Tulis semua informasi/keterangan yang ada pada kartu pengukuran seperti nama pantai dan Catat jumlah putaran baling baling selama interval waktu yang telah ditentukan (40 70

tempat, tanggal pengukuran, nama petugas dll. 7)

detik), apabila arus air lambat waktu yang digunakan lebih lama (misal 70 detik), apabila arus air cepat waktu yang digunakan lebih pendek (misal 40 detik)

8)

Hitung kecepatan arus dari jumlah putaran yang didapat dengan menggunakan rumus baling

balingtergantung dari alat bantu yang digunakan (tongkat penduga dan berat bandul) 9)

Hitung kecepatan (v) rata-rata pada setiap vertikal dengan rumus : Apabilapengukuran dilakukan pada 1 titik (0.5 atau 0.6 d) contoh (vertikal 2) maka v rata Apabilapengukuran dilakukan pada 2 titik (0.2 dan 0.8 d) contoh (vertikal 3) maka v rata Apabilapengukuran dilakukan pada 3 titik (0.2 0.8 d dan 0.6 d) contoh (vertikal 4) maka v

rata = v pada titik tersebut

rata = (v0.2 + v0.8) / 2

rata rata = [{(v0.2 + v0.8) / 2} + (v0.5 atau v0.6 )] / 2 10) Hitung luas sub/bagian penampang melintang 11). Hitung debit pada setiap sub/bagian penampang melintang 12). Ulangi kegiatan pada butir 10 sampai dengan butir 12 untuk seluruh sub bagian penampang 13). Hitung debit total (Q total) Debit total dihitung dengan cara menjumlahkan debit dari seluruh debit pada sub/ bagian penampang Q (total) = q1 + q2 + q3 + + qn 14). Hitung luas seluruh penampang melintang (A) Luas seluruh penampang melintang dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh luas pada sub/bagian penampang dengan : A = a1 + a2 + a3 + + an

15). Hitung kecepatan rata-rata seluruh penampang melintang (V) Kecepatan rata-rata seluruh penampang melintang = debit total / luas seluruh penampang melintang atau V = Q total / A 16). Catat waktu dan tinggi muka air pada pelskal segera setelah pengukuran selesai pada kartu pengukuran. 17). Catat hasil perhitungan butir 14 sampai dengan 16 pada kartu pengukuran

2.

Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP)

(a)Standard and Mini ADPs, (b) ADPs Depth Cells (c) View ADP

Cara bekerjanya peralatan ADCP adalah lautan yang mengandung larutan sedimen, tanaman, kayu, dll. merupakan media untuk memantulkan gelombang supersonic didalam air secara tegak lurus dalam 2 arah yang dikirim oleh peralatan ADCP. Dengan menghitung data sistim transmisi, distribusi kecepatan arus 3 dimensi pada tampang aliran dapat diketahui. Profil kecepatan arus digunakan untuk mengintegrasikan arah aliran vertikal dan susunan keepatan arus terhadap tampang horizontal laut dan digunakan untuk menghitung debit aliran.

Metode ADCP

Keuntungan dan kerugian menggunakan peralaran ADCP ini :


Pengukuran kecepatan dapat dilakukan secara cepat Distribusi kecepatan arus secara 3 dimensi dapat teramati Kondisi kecepatan aliran, dan debit dapat langsung diketahui Pada kondisi dimana banyak kayu besar yang terbawa dapat menghantam alat ADCP Pengukuran sulit untuk dilakukan pada malam hari dan sungai yang berkelok-kelok Komunikasi antara perahu radio kontrol dan kontrol transmisi radio maksimum berjarak

1000 meter Salah satu contoh data yang diperoleh dengan menggunakan ADCP :

BAB IV KESIMPULAN

Oseanografi fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang kenampakan fisik, fenomena, dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas secara fisik di laut hingga laut lepas (samudera). Adapun fenomena tersebut seperti adanya gelombang, arus, pasang surut, dan sebagainya. Faktor yang mempengaruhi seperti salinitas, suhu, pH, densitas, dan sebagainya. Dalam mempelajari dan mengkaji segala kenampakan tersebut diperlukan piranti atau instrumen pendukung, seperti : 1. Alat pengukur salinitas, suhu, dan kecerahan a. Refraktometer, merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum. Juga disebut sebagai pengukur indeks pembiasan pada cairan yg dapat digunakan untuk mengukur kadar garam. b. Salinometer, yaitu alat untuk mengukur salinitas dengan cara mengukur kepadatan dari air yang akan dihitung salinitasnya. c. CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas. d. Termometer, merupakan salah satu piranti untuk mengukur suhu atau pasah suatu benda/lingkungan. e. Secchi disk berisi bolak kuadran hitam dan putih, yaitu alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan suatu perairan. 2. Alat pengukur gelombang laut a. Buoy adalah sebuah pelampung yang mengambang di permukaan laut sebagai perangkat untuk mendeteksi berbagai aktivuitas di dasar laut. b. Palem gelombang, digunakan untuk mengukur gelombang dengan cara mengetahui waktu yang dibutuhkan gelombang untuk membentuk satu gelombang (dengan mengetahui puncak gelombang dan lembah gelombang). c. ADCP merupakan salah satu alat pengukur kecepatan arus dan gelombang air berteknologi tinggi. 3. Alat pengukur pasang surut a. Tide Staff, merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. b. Tide gauge, merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. c. Satelit, mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. 4. Alat pengukur arus a. Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus). b. Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) adalah alat ukur arus muka laut berperforma tinggi yang akurat, dapat diandalkan dan mudah untuk digunakan. Dengan instrumentasi tersebut maka pengkajian terhadap keadaan laut secara fisik lebih mudah.

DAFTAR PUSTAKA
Davies-Colley, R.J. 1988. Measurig water clarity with a black disk. Limnologi and Oceanogrphy. 33: 616-623. Pariwono, J.I. 1989. Gaya Penggerak Pasang Surut. Dalam Pasang Surut. Ed. Ongkosongo, O.S.R. dan Suyarso. P3O-LIPI. Jakarta. Triatmodjo, Bambang. 1996. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta Supangat, Agus. (2000) Pengantar Oseanografi, ITB : Bandung Priyana, 1994. Studi pola Arus Pasang Surut di Teluk Labuhantereng Lombok. Nusa Tenggara Barat. Skripsi. Skripsi. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanandan Kelautan.Institut Pertanian Bogor Open University Team. 1989. Ocean Circulation. Pergamon Press. Diposaptono, S. 2007. Karakteristik Laut Pada Kota Pantai. Direktorat Bina Pesisir, Direktorat Jendral Urusan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. http://www.oseanografi.lipi.go.id/sites/default/files/oseana_xviii%281%2935-44.pdf/ pada, 15 oktober 2012, 20:21 WIB http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=adcp&source=web&cd=8&ved=0CF0QFjAH&url=http %3A%2F%2Fadios19.files.wordpress.com%2F2011%2F05%2Flaporan-akustik-kelautanadcp.docx&ei=tTF8UOLUGcnwrQeS64DIDw&usg=AFQjCNGUoZgAOCRRdQAwEAuU8Q8HL Tbzog&cad=rja diunduh pada, 15 oktober 2012, 21:15 WIB http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Salinometer& ei=7XKHTcyPIY3orQfpu4wa&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CCIQ7gEwAA&p rev=/search%3Fq%3Dsalinometer%26hl%3Did%26client%3Dfirefoxa%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26channel%3Ds%26prmd%3Divns/ diunduh pada 17 Oktober 2012, 21:09 WIB Diunduh