Anda di halaman 1dari 10

Kista 1.

Definisi Suatu kantongan / rongga patologis yang dapat terjadi pada tulang atau jaringan lunak berisi cairan (cairan peradangan / steril) yang mempunyai dinding kapsul , yang berlapis epitel Kista merupakan suatu kavitas tertutup atau kantung yang bagian dalam dilapisi oleh epitelium, dan pusatnya terisi cairan atau bahan semisolid. Tandanya, bila epitelium tumbuh dalam suatu masa sel, bagian pusat kehilangan sumber nutrisi dari jaringan periferal. Perubahan ini menyebabkan nekrosis di pusat suatu kavitas terbentuk, dan terciptalah suatu kista Kista dapat terjadi dianatara tulang atau jaringan lunak. Dapat asymptomatic atau dapat dihubungkan dengan nyeri dan pembengkakan. Mayoritas kista beukuran kecil dan tidak menyebabkan pembengkakan di permukaan jaringan. Apabila tidak ada infeksi, maka secara klinis pembesarannya minimal dan berbatas jelas. Pembesaran kista dapat menyebabkan asimetri wajah, pergeseran gigi yang terlibat, hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga. -suatu rongga atau ruangan dalam jarongan abnormal yang dibatasi oleh jar epitel yang berisi cairan yang mengandung kolesterin. - suatu rongga yang secara patologis tidak ada dan di selingkupi oleh lapisan tipis masa kista dpt berisi cairan, cairan liquid/semiliquid dengan cairan keradangan atau steril. - suatu kantung tetutup tang dibatasi oleh dinding yang jelas yang berisi cairan yang tumbuh secara abnormal. 2. Klasifikasi Kista Epitel Berlapis a. Developmental origin - Odontogenik , dibagi menjadi 3 * Radikuler. Gambaran Klinis :: Lesi berukuran 10-14mm , merupakan indikasi adanya resorbsi akar gigi. Cairan berwarna kuning. Isi cairan kolesterin. Sifatnya Recurrent . Pada test vitalitas dihasilkan negative , artinya gigi tersebut sudah tidak vital lagi Etiologi (LI) :: timbul dari sisa epitel ligament periodontal , sbg akibat dari radang kronis , nekrosis pulpa mengeluarkan toksik Gambaran Radiografi : menunjukkan area radioluscent yang dibatasi lapisan tipis radiopak., Karies menginfeksi ujung akar gigi menginfeksi jaringan pendukung gigi abses ?? Pulpa nekrosis(karena infeksi / trauma) mengeluarkan toksik pada apikal memicu inflamasi periapikal periodontal granuloma?? merangsang epitel sel malases kista * Folikuler / kista dentigerous :: merupakan kista perkembangan pada sekitar mahkota gigi yang tidak erupsi setelah pembentukan enamel gigi selesai. Kista dentigerous merupakan salah satu kista yang menutupi mahkota gigi yang belum erupsi dan melekat pada leher gigi. Radiografi : Radioluscent unilokuler yang berkaitan dengan gigi yang tidak erupsi Gambaran Klinis : banyak pada usisa dewasa ,30 tahun pada laki-laki , 10-20 tahun pada wanita , terjadi pembengkakan secara perlahan , nyeri jika terjadi infeksi. Terjadi di gigi M1 , maxilla incisal , pada mukosa berwarna biru ke abuan , pada anak-anak , 11% di incisivus , 30% di caninus - Dentigerous, setelah struktur gigi terbentuk sempurna tapi belum erupsi. Kista yang melingkupi mahkota gigi yang belum/sedang erupsi/ impaksi . kista melekat pada serviks antara enamel sampai sementum junction dan membungkus mahkota gigi yang tidak erupsi. Terjadi pada gigi yang sudah terbentuk sempurna mahkotanya yang sedang erupsi yang dlapisi epitel squamosa. Berkembang disekitar mahkota gigi yang tidak erupsi/ gigi supernumerary Pemeriksaan klinis menunjukkan suatu missing, pembengkakan yang keras(hard swelling) dan biasanya mengakibatkan asimetri wajah.

pasien tidak merasakan nyeri dan ketidaknyamanan Pada kista dentigerous yang meradang dapat terjadi penebalan pada dinding kista. * Kista Keratin / keratosit :: kista yang dilapisi oleh lapisan squamos yang menghasilkan keratin , secara miskrokopis nya lapisan basal terlihat sekali , tingkat keagresifannya lebih besar daripada kista yang lain. Sebuah bentuk kista primordial dari gigi bud dan bukannya bentuk gigi. Semua primordial kista adalah keratocysts tetapi semua keratocysts TIDAK kista primordial. keratocyst muncul secara langsung dari lamina gigi atau sisa-sisa daripadanya Terkadang terbentuk disekitar gigi yang tidak erupsi Biasanya asymtomatik walaupun terdapat pembengkakan ringan Nyeri bisa terjadi dengan infeksi sekunder Aspirasi menunjukkan suatu material tebal, kuning dan cheesy material (keratin) Kista ini cenderung berulang - Non Odontogenik , dibagi menjadi 2 (LI) 1. Kista duktus nasopalatinal Kista duktus nasopalatinus merupakan kista dengan dinding epirel dan termasuk kista nonodontogenik. Kista ini berasal dari sisa-sisa epitel embrionik dalam kanalis nasopalatinus, juga merupakan suatu saku berisi cairan yang berasal dari kanal insisivus atau papila. Gambaran klinis Asimtomatik atau dengan gejala minor yang dapat di tolerir dalam jangka waktu yang lama. Kista ini berbentuk kecil, pembengkakan berbatas tegas tepat pada posterior papila palatin. Pembengkakan biasanya fluktuan dan berwarna biru jika terdapat di permukaan. Perluasan kista dapat berpenetrasi pada plate labial dan mengakibatkan pembengkakan dibawah frenulum labial maksila. Terkadang lesi dapat meliputi rongga hidung dan merusak septum nasal. b. Inflamatory Origin - Kista Radikuler / Kista Periapikal - Kista Residual - Kista Paradental - Kista Inflamasi Colateral Kista Non Epitel Berlapis 1. Solitary Kista Tulang 2. Aneurysmal kista Tulang KISTA yang berhubungan dengan MAXILLA Kista pada operasi KISTA pada JARINGAN LUNAK ORAL , LEHER , WAJAH - Kista Nasopharyngeal - Kista Kelenjar Saliva , Kista Mucose Extra vasasi - Kista Dermoid dan Kista Epidermoid - Kista Ductus tyroglossus - Kista Parasitic - Anterior median lingual kista Thymic Kista 3. Diagnosa Pd Skenario Kista Radikuker KISTA RADIKULER 1. 1. Definisi Suatu kantongan / rongga patologis yang dapat terjadi pada tulang atau jaringan lunak berisi cairan (cairan peradangan / steril) yang mempunyai dinding kapsul , yang berlapis epitel Kista radikuler juga dikenal dengan nama kista periapikal atau kista apical periodontal yang merupakan kista yang paling sering ditemukan.

-Kista radikular merupakan salah satu kista yang timbul dari sisa sisa epitel pada ligamentum periodontal sebagai akibat peradangan. -Biasanya peradangan mengikuti kematian pulpa gigi dan kista yang timbul dengan cara ini tersering ditemukan pada apeks gigi yang terkena. Tapi ia bisa juga ditemukan pada sisi lateral akar gigi. Kista yang terbentuk dari iritasi kronis gigi yang sudah tidak vital. Kista tumbuh dari epitel rest of Malassez yang mengalami proliferasi oleh karena respon terhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa yang nekrosis. Kista radikular adalah suatu kista yang berasal dari sisa-sisa epitel Malassez yang berada di ligamen periodontal, karena suatu infeksi gigi (gangren pulpa, gangren radik) ataupun trauma yang menyebabkan gigi nekrosis. -kista yang terbentuk pada apex akar akar gigi yang jar pulpanya sudah non vital yang merupaka lanjutan dari pulpitis. 2. Gambaran Klinis Lesi berukuran 10-14mm , merupakan indikasi adanya resorbsi akar gigi. Cairan berwarna kuning. Isi cairan kolesterin. Sifatnya Recurrent . Pada test vitalitas dihasilkan negative , artinya gigi tersebut sudah tidak vital lagi -gigi yang bersangkutan tersa nyeri saat diperkusi. gigi non vital berubah warna dan goyang berkembang bersamaan dg granuloma (akibat jar organisme hidup atau benda hidup) periapikal asimtomatik semakin membesarnya pulpa akan membentuk pembengkakan intraoral, bukal/lingual dapat terjadi pada seluruh rahang yag ada giginya. kista yang punya diameter besar dapat mengubah wajah jadi asimetri ada sisa akar gigi yang tertahan -Fluktuasi ada jika kista telah mengerosi tulang secara sempurna. -kista yang terbentuk pada ujung apeks (akar) gigi yang jaringan pulpanya sudah nonvital/mati. Kista ini merupakan lanjutan dari pulpitis (peradangan pulpa). Dapat terjadi di ujung gigi manapun, dan dapat terjadi pada semua umur. Ukurannya berkisar antara 0.5-2 cm, tapi bisa juga lebih. Bila kista mencapai ukuran diameter yang besar, ia dapat menyebabkan wajah menjadi tidak simetri karena adanya benjolan dan bahkan dapat menyebabkan parestesi () karena tertekannya syaraf oleh kista tersebut. 3. Etiologi (LI) sisa epitel lig perodontal sebag akibat dari radang kronis akibat stimulasi oleh produk inflamssi yang terbetuk setelah pulpa gigi mati. Infeksi bakteri pada pulpa yang nekrosis, Suatu infeksi gigi (gangren pulpa, gangren radik) ataupun trauma yang menyebabkan gigi nekrosis. Karena injuri fisis, kimiawi ataupun bakterial yang menyebabkan matinya pulpa, diikuti oleh stimulasi sisa epitel Malassez, yang biasanya dijumpai pada ligamen periodontal. 4. Gejala Sakit dan pembengkakan bila terinfeksi, Terjadi perubahan warna gigi yg berhubungan dengan vitalitas Tekanan kista dapat menggerakkan gigi disekitarnya, sehingga nampak gigi menjadi renggang dan dapat menjadi goyah berkembang bersamaan dengan granuloma periapikal yang merupakan respon dari kematian pulpa dan akibat dari nekrosis jaringan. tidak bergejala (asimtomatik) dan kadang ditemukan secara tidak sengaja selama dental radiografi yang dilakukan secara berkala. 1. Dapat terjadi pada seluruh rahang yang mempunyai gigi 2. Fluktuasi ada jika kista telah mengerosi tulang secara sempurna. 3. Adanya rasa nyeri dan infeksi . 4. wajahnya asimetris, pada palpasi berbatas -Adanya rasa nyeri dan infeksi .

-Suatu kista dapat menjadi cukup besar untuk secara nyata menjadi pembengkakan. Tekanan kista cukup untuk menggerakkan gigi yang bersangkutan, yang disebabkan oleh timbunan cairan kista. Pada kasus semacam itu, apeks-apeks gigi yang bersangkutan menjadi renggang, sehingga mahkota gigi dipaksa keluar jajaran. Gigi juga dapat menjadi goyang. Bila dibiarkan tidak dirawat, suatu kista dapat terus tumbuh dan merugikan rahang atas atau rahang bawah. 5. Tanda - Nyeri saat di perkusi - Gigi Non Vital , berubah warna dan goyang - Ada sisa akar yang bertahan - Terlihat menggelembung , saat ditekan ada cairan -Adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel yang tidak mengalami keratiisasi skuamosa dan mempunyai ketebalan yang bervariasi. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel neutrofil pada dinding kista tersebut. Pada dinding kista sering didapatkan kerusakan karena proses radang. 2. Gambaran Radiograf menunjukkan area radioluscent yang dibatasi lapisan tipis radiopak. Kista ini berupa rdiolusen bulat atau ovoid yang dikelilingi oleh tepiradiopak sempit yang meluas dari lamina dura gigiyang terlibat. lesi bulat berbatas jelas di regio apical gigi. Gambaran radiolusen melekat pada bagian apical gigi. Indikasi adanya resopsi akar gigi. 1. DD Periapikal Granuloma , Metastatik Tumor , Central Giant Cell Granuloma - odontogenik dan non odontogenik tumor 1. Gambaran Patologi - Dinding nya bervariasi tipis tebal , berkisar 5 mm, Permukaannya bisa licin atau berombak - Hampir semua dilapisi oleh lapisan berepitel squamos - Sediaan miskrokopis , bisa berupa massa kristik sferis atau ovoid yg utuh , tapi sering tidak teratur dan collapse - Isi berwarna kecoklatan jar epitelium : proliferasi sel2 epitelum yang membatasi rongga kista. jar granulasi : daerah yang dipenuhi oleh infiltrasi sel2 radang kronis. jar ikat fibrous : jar terluar yang merupakan kapsul atau pembungkus kista. hampir semua kista retikuler dilapisi oleh epitel berlapis gepeng 1. Perawatan - Ekstraksi gigi - Bedah periapikal / periapical surgery - Terapi Endodontik - Marsupilisasi (di lubangi di kistanya, agar ada ventilasi untuk cairan keluar) Marsupialisasi Merupakan metode pembedahan yang menghasilkan surgical window pada dinding kista, mengevakuasi isi kista dan memelihara kontinuitas antara kista dan rongga mulut, sinus maksilary atau rongga nasa - biopsy Pengambilan secara bedah seluruh kista radikular sehingga bersih tidak perlu dilakukan pada semua kasus. Kista di jumpai pada sekitar 42% atau kurang pada daerah rerefaksi akar gigi. Resolusi (hilangnya inflamasi) daerah rerefaksi ini terjadi setelah terapi saluran akar pada 80 sampai 98% kasus. Drainase juga bisa mengurangi tekanan kista pada dinding kavitas tulang dan merangsang fibroplasia dan perbaikan dari perifer lesi.

Enukleasi Merupakan proses pengangkatan seluruh lesi kista tanpa terjadinya perpecahan pada kista.

KISTA 1. Definisi :

a. rongga/ruang dalam jaringan yang abnormal yang dibatasi oleh jaringan epitel yang berisi cairan yang mengandung kolesterin b. Suatu kantongan patologis yang dapat terjadi pada tulang atau jaringan lunak berisi cairan yang mempunyai dinding kapsul yang berlapis epitel c. suatu ruangan patologis yang berkapsul jaringan ikat berisi cairan kental,semiliquid atau darah dan dapat berada dalam jaringan lunak atau keras.

Kista adalah rongga patologis yang biasanya berdinding jaringan ikat dan berisi cairan kental atau semilikuid, dapat berada dalam jaringan lunak ataupun keras seperti tulang Kista Radikuler Beberpa penulis telah mengemukakan mengenai kelainan jaringan periapeks yang merupakan kelanjutan dari adanya inflamasi pada pulpa. Jaringan pulpa berhubungan dengan jaringan periapeks dan jaringan periodonsium disekitarnya. Pertemuan jaringan pulpa dan jaringan periapikal terjadi di foramen apikal atau di muara kanal tambahan. Hubungan ini disebut sebagai kompleks pulpo-periodontal. Melalui kompleks inilah keadaan kedua jaringan tersebut dapat saling mempengaruhi dalam dua arah. Kelainan yang terjadi pada jaringan pulpa dapat memicu perubahan pada jaringan periapeks, demikian pula sebaliknya.1,5,6,7 Penyakit periapeks yang timbul akibat berlanjutnya proses peradangan jaringan pulpa dikenal sebagai lesi periapeks odontogen. Lesi periapeks odontogen ini pada umumnya berhubungan dengan pulpa nekrosis. Penyakit periapeks atau yang dikenal juga dengan periodontitis apikalis merupakan kelainan yang terjadi akibat adanya penyakit pulpa yang berlanjut akibat karies maupun trauma. Periodontitis apikalis mempunyai fungsi protektif yang mencegah penyebaran radang ke arah periapeks dan jaringan pendukung disekitarnya. Reaksi pertahanan oleh jaringan periapeks merupakan

reaksi pertahanan kedua setelah pulpa gagal melokalisasi kerusakan yang disebabkan oleh bakteri di dalam saluran akar.5,6 Reaksi respon jaringan periapeks terhadap invasi bakteri dari pulpa meliputi beberapa fase. Pada fase awal ditandai dengan karakter inflamasi akut dan meluas dengan cepat. Ditandai dengan resorpsi tulang alveolar yang memberikan tempat bagi lesi jaringan lunak pada ujung apeks. Pada tahap ini dapat diikuti dengan gejala klinis maupun tidak memberikan gejala sama sekali.8 Setelah fase akut selesai terjadi proses respon penyeimbang oleh jaringan periodontal. Invasi bakteri akan terus berlanjut dan jaringan peripeks akan terus berusaha untuk melakukan perbaikan jaringan. Iritasi bakteri yang terus menerus mengakibatkan jaringan periapeks tidak mampu untuk melakukan reaksi pertahanan sehingga terjadi reaksi kronis yang dapat berlangsung selama beberapa tahun. Pada tahap ini terbentuk granuloma periapikal, yaitu jaringan granulasi pada daerah lesi. Dalam jangka waktu yang panjang granuloma dapat berkembang menjadi kista radikuler. Namun tidak semua granuloma akan berubah menjadi kista.5,6,7 Kista radikuler merupakan suatu rongga patologis pada periapeks berisi produk radang dalam bentuk cairan atau material semisolid yang terbungkus oleh lapisan epitel dan diliputi oleh jaringan ikat yang padat.1,5,6,8 Umumnya kista radikuler tidak memberikan gejala klinis, kecuali terinfeksi atau menjadi sangat luas. Kista dapat meluas hingga terjadi perforasi tulang kortikal. Bila hal ini terjadi maka pada palpasi akan terasa adanya fluktuasi.8 Dari seluruh kasus periodontitis apikalis kronis, kista radikuler mempunyai frekuensi tertinggi yaitu antara 52% sampai 68%. Insidensi tertinggi terjadi pada pasien dengan usia daswarsa ketiga dan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Kista radikuler dapat terjadi pada semua gigi, namun lebih sering terjadi pada maksila. Pada maksila, gigi-gigi anterior lebih rentan terhadap pembentukan kista, sedangkan pada

mandibula kista lebih sering ditemukan pada gigi-gigi premolar.5 Secara radiografis kista radikuler sulit dibedakan dengan keadaan periodontitis apikalis kronis lainnya. Pendekatan radiologis untuk penegakkan diagnosis kista radikuler tidak dapat diandalkan tanpa dilakukannya pemeriksaan sitologis.6 Kista radikuler dibagi menjadi dua kategori yaitu, true cyst dan pocket cyst. Pada true cyst tidak terdapat komunikasi langsung dengan saluran akar, sedangkan pada pocket cyst, kista merupakan berhubungan langsung dengan saluran akar.5,7,8(Gambar 2) Gambar 2 (Bergenholtz G.dkk.Textbook of Endodontology.2003)

2.3.1. Patogenesis dan Pertumbuhan Kista Radikuler Lapisan epitel kista radikuler berasal dari proliferasi sisa epitel Malassez yang terjadi sebagai efek dari proses inflamasi. Faktor pencetusnya belum diketahui secara pasti. Endotoksin bakteri dan sitokin dari sel-sel inflamasi dan faktor pertumbuhan epidermal terbukti sebagai salah satu pencetus proliferasi epitel. Proliferasi epitel ini akan terus berlanjut selama masih terdapat faktor yang menstimulasi.8 2.3.1.1 True cyst Proses pembentukan true cyst terjadi dalam tiga tahap. Tahap awal ditandai dengan proliferasi sisa sel Malassez sebagai reaksi dari inflamasi. Pada tahap kedua terbentuk rongga yang dilapisi oleh epitel. Ada dua hipotesis mengenai pembentukan rongga kista. Hipotesis pertama dikenal dengan nutritional deficiency theory. Teori ini berdasar pada asumsi bahwa sel-sel mengalami kekurangan nutrisi dan kemudian mengalami nekrosis dan degenerasi likuifaktif. Akumulasi produk nekrotik ini akan menarik granulosit neutrofilik ke daerah nekrotik. Sel-sel epitel yang berdegeneratif, leukosit yang berinfiltrasi dan eksudat jaringan akan menjadi satu dan membentuk rongga kista yang dilapisi oleh epitel

skuamosa non-keratinisasi. Hipotesis kedua adalah abscess theory yang menyimpulkan bahwa epitel yang berproliferasi akan menutupi abses yang terbentuk oleh jaringan yang mengalami nekrosis dan lisis. Secara alamiah sel-sel epitel akan melindungi jaringan ikat yang trerekspos. Pada tahap ketiga kista akan mulai membesar. Mekanisme pertumbuhan kista juga belum diketahui secara pasti. Telah dikemukakan teori tekanan osmosis sebagai salah satu faktor dalam pertumbuhan kista. Likuifaksi sel-sel menyebabkan tekanan osmotik di dalam rongga kista menjadi tinggi menyebabkan resorpsi tulang alveolar disekitarnya dan rongga kista membesar.5,7,8

2.3.1.2 Pocket cyst Pembentukan pocket cyst dimulai dengan akumulasi neutofil disekitar foramen apikalis sebagai respon terhadap eksistensi bakteri di dalam saluran akar. Kemudian terjadi mikroabses yang dilapisi oleh epitel yang berproliferasi. Ketika berkontak dengan ujung akar akan terbentuk leher epitel dengan perlekatan epitel. Keadaan ini akan memisahkan saluran akar yang terinfeksi dan mikroabses dengan lingkungan periapeks. Neutrofil di dalam mikroabses akan mati dan berdisintegrasi membentuk kantung mikrokistik. Bakteri dalam saluran akar dan produknya dan sel-sel yang mati akan menarik lebih banyak granulosit neutrofilik ke dalam lumen kista. Akumulasi sel-sel nekrotik akan menyebabkan kantung membesar untuk mengakomodasi debris yang terbentuk membentuk perpanjangan dari ruang saluran akar kearah periapeks. Secara histologis lapisan epitel dan dinding kista mirip dengan true cyst.7 2.3.2. Penyembuhan kista radikuler. Sebagian besar praktisi endodontik setuju bahwa pada umumnya kista radikuler sembuh dengan perawatan endodontik konvensional. Tingkat kesuksesan perawatan

endodontik konvensional menggunakan kalsium hidroksida mencapai 85-95%.5,6,7 Tujuan dari perawatan endodontik konvensional adalah untuk mengeliminasi agen infeksi dari saluran akar dan mencegah reinfeksi setelah obturasi saluran akar. Pada true cyst, terutama yang besar, bukan merupakan indikasi perawatan saluran akar konvensional. Dinamika jaringan true cyst tidak bergantung pad ada tidaknya iritasi di dalam saluran akar Pemeriksaan kista radikuler dapat dilakukan dengan cara biopsy yang meliputi: 1. Aspirasi jarum halus (FNAB) jarum diameter < 1mm, ujung jarum ditusukkan 5x, kemudian dibuat hapusan (smear) one layer smear 2. Eksisi digunakan untuk pengambilan lesi kecil yang secara klinis merupakan lesi yang jinak ( < 1cm), baik lesi superfisial maupun lesi profundus, lunak atau keras. Pendekatan yang dilakukan bisa dengan insisi berbentuk elips (untuk lesi permukaan (atau modifikasinya, apabila lesi terletak di dalam jaringan lunak. 3. Insisi pemeriksaan ini bila lesi ini berukuran besar atau potensial ganas (nantinya memerlukan eksisi yang luas) atau untuk menghindari strukstur penting di sekitarnya, misalnya arteri atau saraf. Biopsy insisional biasanya dipilih untuk lesi yang besar dan terletak di dalam tulang, baik lesi kistik maupun solid, untuk menentukan sifatnya, sehingga dapat digunakan untuk merencanakan tindakan rehabilitatif. 4. Aspirasi suatu pendekatan untuk fluktuan di dalam lesi jaringan lunak baik superficial atau profunda. Lesi sentral pada tulang diaspirasi dahulu sebelum diambil, karena dikhawatirkan akan terjadi perdarahan yang disebabkan oleh adanya hemangioma sentral atau anomaly vaskuler. Aspirasi kurang bermanfaat untuk diagnosi lesi yang solid. Perawatan kista radikuler adalah dengan cara enukleasi melalui alveolus pada saat ekstraksi. Bila ukurannya bertambah besar (2-3cm) dan melibatkan gigi & struktur di sekitarnya, maka penatalaksanaannya menjadi kompleks memerlukan tindakan kontrol infeksi, marsupialisasi dengan biopsi dan penyembuhannya lama. Perawatan terdiri dari perawatan saluran akar, atau pencabutan gigi yang bersangkutan kemudian kista dikuretase.

Epithelial cell rests of Malassez


From Wikipedia, the free encyclopedia

(1) The HERS, (2) ERM, (3) Dental follicle, (4) cementoblasts, (5) periodontal ligament, (6) alveolar cells, (7) bone, (8) odontoblasts.

In dentistry, the epithelial cell rests of Malassez or epithelial rests of Malassez (frequently abbreviated as ERM) are part of the periodontal ligament cells around a tooth. They are discrete clusters of residual cells from Hertwig's epithelial root sheath (HERS) that didn't completely disappear. It is considered that these cell rests proliferate to form epithelial lining of various odontogenic cysts such as radicular cyst under the influence of various stimuli. They are named after Louis-Charles Malassez (18421909) who described them. Some rests become calcified in the periodontal ligament (cementicles)