Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

GBS adalah penyakit langka atau yang jarang terjadi, menyebabkan kelemahan dan kehilangan sensasi yang biasanya sembuh total dalam waktu mingguan atau bulanan. Nama GBS berdasarkan nama 2 orang dokter dari perancis yaitu Guillain Ghee-lan dan Barre ( Bar-ry ) yang menemukan pada tahun 1916 pada tentara yang terkena paralisis, tetapi kemudian sembuh. Penyakit ini mengenai sekitar 1 dari 40.000 tiap tahunnya yaitu sekitar 1500 orang tiap tahunnya di Inggris. Penyakit ini bisa timbul pada semua usia akan tetapi lebih sering pada usia tua. Lebih sering pada pria dibandingkan wanita. Bukan penyakit keturunan, bukan penyakit menular. Akan tetapi penyakit ini sering berkembang seminggu atau dua minggu setelah infeksi pada usus atau tenggorokan.

2. TUJUAN Tujuan umum : Tujuan dari pembuatan makalah ini asuhan keperawatan ini adalah untuk membahas mengenai cara mendiagnosis dini dan mekanisme terjadinya GBS. Tujuan Khusus : a. Untuk mengetahui proses timbulnya penyakit GBS b. Untuk mengetahui cara penanganan secara darurat pada pasien dengan GBS c. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang ditimbulkan jika tidak ditangani secara segera pada pasien GBS

3. MANFAAT PENULISAN Manfaat dari asuhan keperawatan dengan GBS ini adalah untuk melakukuan askep yang valid mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, proses kaperawatan, implementasi, dan evaluasi. 4. SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan makalah ini disusun secara sistematis dalam 3 bab, yaitu: Bab 1 : Pendahuluan yang berisi: latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. Bab 2 : Tinjauan teoritis yang terdiri dari; pengertian, etiologi, anatomi fisiologi, patofisiologi manifestasi klinik, penatalaksanaan medik dan pemeriksaan diagnostik. Asuhan keperawatan yang terdiri dari; pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, discharge pleaning dan evaluasi Bab 3: Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

BAB II TINJAUN TEORI

A. KONSEP DASAR MEDIK


1. PENGERTIAN GBS merupakan suatu sindroma klinis dari kelemahan akut ekstermitas tubuh yang disebabkan oleh kelainan saraf tepi dan bukan oleh penyakit yang sistematis. GBS merupakan suatu syndrome klinis yang ditandai adanya paralisis flasid yang terjadi secara akut berhubungan dengan proses autoimmune dimana targetnya adalah saraf perifer, radiks, dan nervus kranialis (Bosch, 1998). GBS adalah sindroma klinis yang ditunjukkan oleh awitan akut dari gejala-gejala yang mengenai saraf perifer dan kranial. Proses penyakit mencakup demielinisasi dan degerasi selaput mielin dari saraf perifer dan kranial GBS adalah penyakit akibat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem sarung saraf. Pada umumnya penyakit ini didahului oleh infeksi influenza saluran pernapasan. GBS merupakan suatu sindroma klinis dari kelemahan akut ekstermitas tubuh yang disebabkan oleh kelainan saraf tepi dan bukan oleh penyakit yang sistematis. 2. ANATOMI FISIOLOGI

System saraf dibagi menjadi: system saraf pusat (SSP) dan system saraf tepi (PNS). SSP terdiri dari otak dan medulla spinalis. PNS terdiri dari neuron aferen dan eferen system saraf somatic dan neuron system saraf autonom (visceral).

Secara anatomis, PNS dibagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan 12 pasang saraf cranial. Saraf perifer terdiri dari neuron-neuron yang menerima pesan-pesan neural sensorik (aferen) yang menuju ke SSP atau menerima pesan-pesan neural motorik (eferen) dan SSP, atau keduanya.

Saraf spinal menghantarkan pesan-pesan aferen maupun pesan-pesan eferen dan dengan demikian saraf-saraf spinalis dinamakan saraf campuran.saraf cranial berasal dari bagian permukaan otak. Lima pasang merupakan saraf motorik, tiga pasang merupakan saraf sensorik, dan empat pasang merupakan saraf campur. Secara fungsuional PNS dibagi menjadi system saraf somatic dan system saraf autonom.

System saraf somatis terdiri dari saraf campuran. Bagian aferen membawa informasi sensorik yang disadari maupun informasi sensorik yang tak disadari (misalnya: nyeri, suhu, raba, propriosepsi yang disadari maupun yang tak disadari, penglihatan, pengecapan, pendengaran, dan penciuman) dari kepala, dinding tubuh, dan ekstrenitas. Saraf eferen terutama berhubungan dengan otot rangka tubuh. System saraf somatis menangani interaksi dan respons terhadap lingkungan luar.

System saraf autonom merupakan system saraf campuran. Serabut-serabut eferennya membawa masukan dari organ-organ visceral (menangani pengaturan denyut jantung, diameter pembuluh darah, pernapasan, pencernaan makanan, rasa lapar, mual, pembuangan dan sebagainya). Saraf eferen motorik system saraf autonom mempersarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjarkelenjar visceral. System saraf autonom terutama menangani pengaturan fungsi visceral dan interaksinya dengan lingkungan internal.

System saraf autonom dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah system saraf aotonom parasimpatis (PANS) dan sisitem saraf simpatis (SANS). Bagian simpatis meninggalkan SSP dari daerah torakal dan lumbal (torakolumbal) medulla spinalis. Bagian parasimpatis keluar dari otak (melalui komponen-komponen saraf cranial) dan bagian sacral medulla spinalis (kraniosakral). Beberapa fungsi simpatis adalah peningkatan kecepatan denyut jantung dan pernapasan, serta penurunan aktivitas saluran cerna. Tujuan utama SANS adalah mempersiapkan tubuh agar siap menghadapi stres, atau yang disebut respons bertempur atau lari. Sebaliknya, system saraf parasimpatis autonom menurunkan kecepatan denyut jantung dan pernapasan, dan meningkatkan pergerakan saluran cerna sesuai dengan kebutuhan pencernaan dan pembuangan. Jadi, saraf parasimpatis membantu konservasi dan homeostasis fungsi-fungsi tubuh.

Pada pasien dengan GBS yang terjadi gangguan pada Mielin. Myelin merupakan kompleks protein-lemak berwarna putih yang melapisi tonjolan saraf. Myelin menghalangi aliran ion natrium dan kalium melintasi membrane neuronal dengan hampir sempurna. Transmisi impuls saraf disepanjang serabut bermielin lebih cepat dari transmisi disepanjang serabut tak bermielin karena impuls berjalan dengan cara meloncat dari nodus satu ke nodus yang lain disepanjang selubung mielin. Cara transmisi seperti ini dinamakan konduksi saltatorik.

3. ETIOLOGI Etiologi tidak diketahui, tetapi respon alergi atau respon autoimun sangat mungkin sekali. Beberapa peneliti berkeyakinan bahwa sindroma tersebut mempunyai asal virus tetapi tidak ada virus yang dapat diisolasi. Sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan pasti penyebabnya dan masih menjadi bahan perdebatan. GBS diduga disebabkan oleh infeksi virus, tahap akhir-akhir ini terungkap bahwa virus bukan sebagai penyebab. Teori yang dianut sekarang adalah suatu kelainan imunologik, baik secara primariimmune response maupun mediated process. 4. PATOFISIOLOGI Pada GBS selaput mielin yang mengelilingi akson hilang. Selaput myelin cukup rentan terhadap cidera karena banyak agen dan kondisi, termasuk trauma fisik, hipoksemia, toksik kimia, insufisiensi vaskuler dan reaksi imunologi. Akson bermielin mengkonduksi impul saraf lebih cepat dibanding akson tidak bermielin. Sepanjang perjalanan serabut bermielin terjadi gangguan dalam selaput tempat kontak langsung antara membrane sel akson dengan cairan ekstra seluler. Membran sangat permiabel pada nodus tersebut sehingga konduksi menjadi baik. Gerakan ion-ion masuk dan keluar akson dapat terjadi dengan cepat hanya pada nodus ranvier, sehingga impuls saraf sepanjang serabut bermielin dapat melompat dari satu nodus ke nodus lainnya dengan cukup kuat. Kehilangan selaput myelin pada GBS membuat konduksi salfatori tidak mungkin terjadi, dan transmisi impul saraf dibatalkan.

Pada umumnya penyakit ini didahului oleh infeksi influenza saluran pernapasan. Pada saat inilah kita merasa nafas tersumbat seperti orang Flu. Setelah nafas tersumbat di dalam tubuh terjadi reaksi autoimun, yakni sistem kekebalan tubuh sendiri yang menyerang bagian dari ujung ujung saraf. Pada saat inilah terjadi kesemutan. Karena kesemutan atau Parestesia itu timbul bila terjadi gangguan pada serabut saraf. Pada penderita GBS yang akut, kesemutan tidak hanya pada tangan tetapi bisa menjalar ke kaki hingga ke perut. Itulah sebabnya penyakit GBS ini bisa menyebabkan kelumpuhan, bahkan bisa juga menyebabkan kematian apabila Perusakan saraf pernafasan sudah mencapai akar saraf di leher sehingga pasien kesulitasn bernafas dan menyebabkan kematian mendadak. Proses demyelinisasi saraf tepi pada GBS dipengaruhi oleh respon imunitas seluler dan imunitas humoral yang dipicu oleh berbagai peristiwa sebelumnya yang paling sering infeksi virus. 5. MANIFESTASI KLINIK Gejala pertama biasanya nafas tersumbat yang datang secara tiba-tiba seperti hidung yang sedang kena pilek, tapi pilek yang kering, disusul oleh kesemutan atau mati rasa yang dimulai dari jarijari kaki dan tangan, kaki terasa berat dan kaku, lengan terasa lumpuh dan dan tangan tidak bisa menggenggam atau memindahkan benda dengan tepat, pusing seperti terhuyung-huyung, mulut terasa asam, badan lemas, sesekali terasa dingin di telapak tangan atau kaki. Gejala ini bisa menghilang dalam waktu satu minggu atau dua minggu tanpa membutuhkan perawatan di rumah sakit. Flaksid, paralysis dengan cepat berkembang. Otot pernafasan dapat terkena, menyebabkan isufisiensi pernafasan. Gangguan anotomi seperti retensi urin dan hipotensi postural dapat terjadi. Refleks superficial dan tendon dalam dapat hilang. Biasanya tidak terjadi kehilangan masa otot karena paralysis terjadi dengan cepat. Jika saraf cranial terkena, maka saraf facial lebih sering terkena . tanda dan gejala disfungsi saraf fasial termasuk ketidak mampuan untuk tersenyum, bersiul atau cemberut.

6. PENATALAKSANAAN MEDIK Pada umumnya ada dua jenis pengobatannya adalah Plasma Exchange dan Intravenous immunoglobulin. Kedua cara itu saat ini sama-sama efektif, walaupun ada pihak tertentu yang mengklaim plasma exchange lebih baik, sedangkan di pihak lain immunoglobulin lebih baik. Tetapi jika ada yang mengusulkan menggunakan kedua cara tersebut secara bergantian maka sebaiknya anda jangan mau. pilihlah salah satu cara saja. karena pengobatan ini mungkin harus dilakukan berkali kali, tergantung dari keakutan GBS anda dan kestabilan kesehatan anda, jika anda sudah memutuskan satu terapi lakukan terapi yang sama untuk selanjutnya. Tujuan utama perawatan GBS adalah untuk memberikan pemeliharaan system tubuh, menatasi krisis yang mengancam jiwa dan mencegah komplikasi dan infeksi, memberikan dukungan psikologis pada pasien dan keluarga. Jika Respirasi terkena dibutuhkan ventilasi mekanik, perlu dilakukan trakeostomi jika pasien tidak dapat disapih dari ventilasi mekanik. Gagal nafas harus diantisipasi karena tidak jelas sejauh mana para lisis akan terjadi. Jika saraf otonom yang terkena akan terjadi perubahan drastic dalam tekanan darah dan frekuensi jantung sehingga harus dipantau secara ketat. Penatalaksanaan nyeri dapat menjadi bagian dalam pasien GBS. Beberapa obat dapat memberikan penyembuhan sementara. Narkotik dapat diberikan pada malam hari jika pasien tidak dapat mengkompensasi secara marginal karena norkotik dapat meningkatkan gagal nafas. Biasanya pasien di intubasi kemudian diberikan narkotik. Nutrisi yang adekuat harus dipertahankan, jika tidak mampu makan peroral dapat dipasang NGT tetapi harus dipantau terjadinya infeksi, diare dan keseimbangan elektrolit pasien. 7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pasien yang diduga mengidap GBS di haruskan melakukan test: 1. Darah Lengkap 2. Lumbal Puncture 3. EMG (elektromvogram)
7

Diagnosa GBS sangat tergantung pada riwayat penyakit dan perkembangan gejala klinik. Fungsi lumbal dapat menunjukkan kadar protein normal pada awalnya, dengan kenaikan pada minggu ke 4 atau ke 6. Pemeriksaan konduksi saraf mencatat tranmisi impuls sepanjang serabut saraf dan pada pasien GBS kecepatan konduksi menurun.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
PRIMARY SURVEY A. AIRWAY (Jalan Nafas) Pada airway yang perlu diperhatikan adalah mempertahankan kepatenan jalan napas, memperhatikan suara nafas, atau apakah ada retraksi otot pernapasan. Pada kasus GBS ditemukan adanya masalah pada jalan napas akan tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi penurunan reflek menelan. Diagnosa Keperawatan : Resiko terjadi bersihan saluran nafas tidak efektif b/d penurunan reflek menelan dan peningkatan produksi saliva Intervensi a. Lakukan auskultasi sebelum dan setelah tindakan fisiotherapi dan suction R/ mengetahui adanya sumbatan jalan nafas dan lokasi sumbatan tersebut b. Lakukan fisiotherapi nafas dan suction setiap 3 jam jika terdengar stridor R/ mengeluarkan sumbatan yang menghalangi jalan nafas c. Monitor respirasi dan cyanosis R/ cyanosis merupakan tanda adanya kekurangan oksigen yang akan berpengaruh pada suplai darah ke otak d. Kolaborasi dengan dokter R/ mengetahui tindakan selanjutnya dalam menangani sumbatan pada jalan nafas

B. BREATHING (Pernafasan) Meskipun jalan napas sudah bersih, pernapasan pasien mungkin belum adekuat. Amati dada dan lakukan auskultasi paru. Jika perlu, ventilasi dibantu dengan alat kantong berkatup yang

dihubungkan dengan masker atau ETT. Pada GBS kelemahan otot pernapasan akibat kerusakan saraf yang mempersarafi otot pernapasan tersebut. Diagnosa Keperawatan : Ketidakefektifan pola nafas b/d kelemahan otot pernafasan Intervensi : a. Kaji pernapasan klien dengan mendekatkan telinga diatas hidung atau mulut sambil mempertahankan pembukaan jalan napas R/ mengetahui ada tidaknya pernapasan b. Pertahankan jalan nafas R/ pantau adanya tanda dan gejala ketikmampuan nafas dalam dan pneomotoraks c. Berikan posisisemi fowler R/ mengurangi tahanan pada paru-paru,compliance paru d. Ajarkan cara batuk efektif R/ memungkin pengeluaran secret e. Anjurkan cara nafas dalam R/membantu membebaskan jalan nafas f. Kolaborasi dgn dokter dalam pemberian 02 R/ membantu mamenuhi kebutuhan oksigen yg di butuhkan pasien

C. CIRCULATION (Sirkulasi) Kesulitan bernapas dapat menimbulkan resiko gangguan sirkulasi pada seluruh tubuh, khususnya pada daerah perifer. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya suplai O2 ke jaringan. Diagnosa Keperawatan: Resiko gangguan perfusi jaringan serebral b/d kurangnya suplai O2 ke otak Intervensi: a. Observasi TTV tiap 2 jam R/ dyspnea, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardi dan capillary reffil time yang memanjang/lama. b. Pantau TTV (nadi, warna kulit) dengan menyentuh nadi jugularis R/ mengetahui masih adanya denyut nadi yang teraba c. Observasi denyut jantung dan nadi perifer
9

R/ peningkatan tekanan darah dapat ditandai dengan meningkatnya denyut nadi d. Kolaborasi dalam pemberian cairan parienteral R/ memenuhi kebutuhan cairan klien

D. DISABILITY (Kesadaran) Pada pasien GBS kemungkin akan mengalami penurunan kesadaran Diagnosa Keperawatan: Resiko injuri b/d penurunan kesadaran. Intervensi: a. Berikan posisi dgn kepala lebih tinggi R /meminimalisasi rangsangan yang dapat meningkatkan TIK b. Kaji tanda-tanda kesadaran R/ menentukan tindan keperawatan selanjutnya. c. Pantau TTV R/ mengetahui keadaaa pasien d. Atur posisi pasien untuk menghindari kerusakan kerena tekanan R/ perubahan posisi secara teratur menyebabkan penyebaran terhadap bb dan meningkatkan sirkulsi pada seluru bagian tubuh. e. Beri/bantu untuk melakukan latihan gerak R/ beri bantu untuk melakukan mobilisasi fisik dan mempertahan kan kekutan sendi

E. EXPOSURE Pada pasien GBS, resiko infeksi mungkin ada akibat pemakaian alat-alat perawatan seperti infuse dan kateter. Diagnosa Keperawatan: Resiko tinggi terjadi infeksi b/d pemakaian alat perawatan seperti kateter dan infuse Intervensi: a. Rawat tempat insersi infus dan kateter setiap hari R/ menghindari terjadinya infeksi b. Ganti kateter setiap 72 jam R/ menghindari terjadinya sepsis
10

c. Kolaborasi dengan dokter R/ mengetahui tindakan lebih lanjut unutk proses penyembuhan SECONDARY SURVEY EVALUASI Kebutuhan oksigen pasien adekuat Jalan nafas pasien kembali efektif Pola napas pasien menjadi 16-24 x/ menit Tampak pergerakan dada pasien simetris pada saat bernapas Tekanan darah kembali pada nilai 120/80 Tampak tidak adanya sianosis Paru-paru dapat berkembang dengan baik

11

BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN GBS adalah sindroma klinis yang ditunjukkan oleh awitan akut dari gejala-gejala yang mengenai saraf perifer dan kranial. Proses penyakit mencakup demielinisasi dan degerasi selaput mielin dari saraf perifer dan kranial. Pada kasus ini, gejala yang paling nampak adalah terjadinya penurunan fungsi otot-otot pergerakan sehingga terjadi paralisis baik sebagian, maupun seluruh tubuh. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan tindakan melalui fisioterapi untuk mencegah terjadi atrofi pada otot-otot yang terganggu.

2. SARAN Untuk menangani kasus gawat darurat dengan masalah OPEN PNEUMOTORAKS Hal yang perlu dilakukan adalah : a. Tekankan tindakan pertolongan untuk mengatasi masalah pernapasan yang dialami. b. Kita perlu memperhatikan linkungan sekitar demi keamanan dan kenyaman penolong dan korban. c. Prioritaskan ke-3 hal penting yaitu system kardi, pulmoner, dan serebral yang mana jika tidak ditangani segera dalam waktu 4-6 menit maka akan menyebabkan kematian biologis. d. Jangan cepat menyerah apabila tindakannya yang kita berikan belum mencapai hasil yang kita inginkan. Tetap monitor dan berikan tindakan untuk membantu menyelamatkan nyawa korban.

12