Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

ABORTUS INKOMPLIT

PEMBIMBING :

dr. Hesti D., Sp.OG

PENYAJI :

Venny Wijaya (2009.061.066)

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH R. SYAMSUDIN S.H SUKABUMI PERIODE : 21 Maret 2011 h 16 April 2011

PENDAHULUAN
Setiap tahunnya di Indonesia, berjuta-juta perempuan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, dan sebagian besar dari perempuan tersebut memilih untuk mengakhiri kehamilan mereka, walaupun dalam kenyataanya aborsi secara umum adalah illegal. Seperti di negara -negara berkembang lainnya dimana terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga -tenaga nonmedis yang menggunakan cara-cara antara lain dengan meminum ramuan-ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan penguguran kandungan yang membahayakan1 . Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di laur kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena banyak kasus ab ortus provokatus tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur kehamilannya hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak melapor atau berobat. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini disebabkan oleh kegagalan gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit).2 Di Indonesia saat ini hukum tentang aborsi didasarkan pada hukum kesehatan tahun 1992. Walaupun bahasa yang digunakan untuk aborsi adalah samar-samar, secara umum hukum tersebut mengizinkan aborsi bila perempuan yang akan melakukan aborsi mempunyai surat dokter yang mengatakan bahwa kehamilannya membahayakan kehidupannya, surat dari suami atau anggota keluarga yang mengijinkan penguguran kandungannya, test laboratorium yang menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang menjamin bahwa setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan menggunakan kontrasepsi.1

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN Identitas Istri Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Suku Alamat : Ny. W : 19 tahun : Islam : SD : Ibu Rumah Tangga : Sunda Identitas Suami Nama Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Suku : Tn. F : 26 tahun : Islam : SMP : Karyawan swasta : Sunda

: Perum Nangkalaya RT 07/RW 02 Kab. Sukabumi

II. ANAMNESIS

Autoanamnesis pada tanggal 27 Maret 2011 pukul 23.30. Keluhan Utama : pendarahan dari jalan lahir sejak 7 jam SMRS Riwayat Penyakit Sekarang : G1P0A0 mengaku hamil 3 bulan datang dengan keluhan pendarahan dari jalan lahir sebanyak 200 cc sejak 7 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Warna merah segar disertai keluarnya gumpalan merah seperti daging. Pasien juga mengeluh mulasmulas. Pasien mengaku mendapat haid terakhir tanggal 15 Desember 2010. Riwayat berhubungan terakhir dengan suami 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit, riwayat trauma disangkal, riwayat infeksi disangkal. Selama ini pasien berkunjung ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit paru, ginjal, kencing manis, darah tinggi disangkal. Riwayat Menstruasi :

- Menarche - Siklus - Lama haid - Dismenorhea - HPHT

: : : : :

14 tahun 28-30 hari 3-5 hari (-) 15 Desember 2010

Riwayat Pernikahan : Pertama kali, dengan suami sekarang sudah menikah 2 tahun. Riwayat Kontrasepsi : tidak pernah menggunakan kontrasepsi Riwayat Obstetrik Usia Jenis kelamin INI Usia Riwayat Tempat Keterangan

kehamilan persalinan

III. STATUS PRAESENS

Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu Tinggi badan Berat badan BMI

: tampak sakit sedang : compos mentis : 110/80 mmHg : 84x/menit : 20 x/menit : 36,8 C : 150 cm : 42 kg : 18,67 kg/m2

Pemeriksaan fisik : Wajah : konjungtiva ananemis, sklera anikterik, refleks cahaya pupil +/+

Thorax : o Jantung

   

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi Perkusi : Ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicularis sinistra : kesan kardiomegali -

Auskultasi : BJ I & II reguler. Murmur ( -) Gallop (-)

o Paru-paru

Inspeksi

: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis

  

Palpasi Perkusi

: Stem fremitus kanan = kiri : Sonor pada kedua paru

Auskultasi : Vesikuler +/+ . Ronki (-) , Wheezing (-)

o Payudara : hiperpigmentasi areola mammae +/+

Abdomen o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi : Datar. : Supel, tidak ada hepatosplenomegali. : Timpani pada keempat kuadran abdomen : Bising usus (+)

Extremitas Time < 2 detik Genital

: Edema (-) , Reflex fisiologis (+) , Reflex Patologis (-), Cappilary Refill

: Tampak pendarahan pervaginam. Perineum utuh.

IV. STATUS GINEKOLOGI

Pemeriksaan luar : Abdomen : Tinggi fundus uteri : dua jari di atas simfisis Ballotement HIS : BJA : -

Pemeriksaan Dalam : vulva/vagina tak ada kelainan, portio tebal lunak, pembukaan 1-2 cm, teraba jaringan

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium darah : 27/3/2011 Hemoglobin Leukosit 10,7 g/dl 6500/ul

Hematokrit Trombosit PP test

28,2 % 216.000/ul + (positif)

VI. DIAGNOSIS

Pasien wanita, 19 tahun, G1P0A0 gravid 14mg dengan Abortus Inkomplit

VII. TERAPI

Rencana kuretase

VIII. PROGNOSIS

Ibu

: bonam

IX.

PERJALANAN PENYAKIT (Observasi harian)

27 Maret 2011 Pasien datang sendiri dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir. WD/ Abortus Inkomplit 28 Maret 2011 Subjektif : Objektif :
y y y y y y y

Keadaan umum baik Kesadaran compos mentis Tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 76 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,8 0C Konjungtiva ananemis TFU teraba 2 jari di atas simfisis Pemeriksaan dalam vulva vagina tidak ada kelainan, pembukaan 1-2 cm Perdarahan 20 cc

Assesment : G1P0A0 gravid 14mg dengan Abortus Inkomplit

Planning :
y

Rencana Kuret

Laporan kuret : 1. Penderita dalam posisi litotomi 2. Dilakukan tindakan a dan antisepsis di daerah vulva dan sekitarnya 3. Dipasang spekulum atas dan bawah 4. Dengan pertolongan speculum atas, bibir portio dijepit dengan tenakulum 5. Sonde uterus masuk sedalam 8 cm 6. Dilakukan kuretase tajam dengan sendok kuret no. 5 untuk mengeluarkan sisa kehamilan 7. Berhasil dikeluarkan sisa kehamilan sebanyak 50 gram. 8. Jumlah pendarahan : 50 cc

Diagnosa Pre kuret : G1P0A0 gravid 14mg dengan Abortus Inkomplit Diagnosa post kuret : P0A1 post curetase a.i Abortus inkomplit Therapy :
-

Tequinol tab 3 x 1 PO Pospargin tab 3 x 1 PO Atrilox tab 3 X 1 PO

Observasi post kuret : TD : 100/60 mmHg, N : 72x/menit, RR : 20x/menit, S : 36,9 0C 28 Maret 2011 Subjektif : Objektif :
y y y y y

Keadaan umum baik Kesadaran compos mentis Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 72 x/menit, RR 16 x/menit, suhu 36,9 0C Konjungtiva ananemis Perdarahan sedikit 10 cc

Assesment : P0A1 post curetase a.i Abortus Inkomplit

Planning : boleh pulang X. Diagnosis Akhir Wanita 19 tahun, P0A1 post curetase a.i Abortus Inkomplit

TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di laur kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.3 II. EPIDEMIOLOGI Insidensi dari aborsi bervariasi tergantung dari variabel yang digunakan untuk menentukan status aborsi dari suatu kehamilan.3 Menurut penelitian yang dilakukan Aan Guttmacher Institute, angka kejadian aborsi di Amerika Serikat adalah 1.287.000 kasus pada tahun 2003 dengan rasio 20.8 per 1000 kelahiran pada wanita usia produktif (15-49 tahun).4 Di Indonesia sendiri, sebuah penelitian menunjukkan angka kejadian aborsi sebesar 2.000.000 kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000 kelahiran pada wanita usia produktif (15 tahun). -49 Penelitian ini dilakukan pada fasilitas kesehatan dari 6 wilayah. Dari penelitian yang telah dilakukan, terbuktu sebagian besar perempuan yang melakukan aborsi memiliki profil khusus yaitu mereka cendering sudah menikah dan hampir dua pertiga sudah pernah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa hanya 38% dari perempuan pernah kawin yang pernah duduk di bangku Sekolah Menengah. Selanjutnya ditemukan bahwa hampir setiap klien yang melakukan aborsi berusia lebih dari 20 tahun (58% berusia lebih dari 30 tahun). Dan hampir separuh dari perempuanperempuan tersebut sudah memiliki paling sedikit dua anak. Hampir sebagian besar dari mereka yang melakukan praktek aborsi mengaku karena sudah tidak ingin memiliki anak lagi.

III.

Etiologi Aborsi memiliki banyak faktor penyebab, tetapi beberapa studi menunjukkan 60% disebabkan oleh kelainan kromosom. 5 Berikut adalah penyebab yang umum didapatkan dalam kasus aborsi:3 1. Faktor janin: a. Aborsi aneuploidi 95% dari kelainan kromosom yang berkaitan dengan aborsi disebabkan oleh kesalahan gametogenesis. Trisomi autosomal paling sering ditemukan berkaitan dengan kelainan kromosom pada aborsi pada trimester pertama. Sedangkan

monosomy X adalah kelainan kromosom tunggal spesifik yang paling sering ditemukan b. Aborsi eupliodi Janin dengan kromosom normal cenderung untuk aborsi lebih jauh di kemudian hari dibandingkan dengan aborsi aneuploidi. Angka kejadian dari aborsi euploidi berkurang dramatis setelah umur ibu lebih dari 35 tahun.

2. Faktor ibu: a. Infeksi Infeksi tidak umum menyebabkan aborsi. Studi yang dilakukan Simpson dan temanteman (1996) tidak menemukan bukti aborsi akibat infeksi. Studi lain yang dilakukan Oakshet dan teman-teman (2002) menunjukkan hubungan antara aborsi pada trimester kedua dengan bakterial vaginosis b. Hipotiroid Defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan aborsi. Efek dari hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan angka kejadian dari aborsi. c. Diabetes Mellitus Kadar gula darah yang tidak terkontrol meningkatakan angka kejadian aborsi d. Merokok Kebiasaan merokok berkaitan dengan meningkatnya resiko dari aborsi euploidi. Resiko ini meningkata sesuai dengan peningkatan frekuensi dan dosis dari merokok itu sendiri. e. Alkohol Konsumsi alkohol pada 8 minggu pertama kehamilan berkaitan erat dengan peningkata angka kejadian aborsi f. Kafein Peningkatan resiko aborsi baru terjadi pada mereka yang mengkonsumsi kafein lebih dari 500 mg per hari. g. Defek uterus Resiko aborsi meningkat pada sindrom Asherman h. Servix inkompeten

Servix inkompeten adalah terjadinya dilatasi servix yang tidak sakit pada trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap dan penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi expulsi dari janin prematur.

IV.

KLASIFIKASI Secara umum aborsi dibagi menjadi:6 1. Abortus Spontan: a. Abortus yang mengancam (iminens) Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang tidak disertai dengan dilatasi servix dan pengeluaran janin b. Abortus insipiens Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang disertai dengan dilatasi servix dan nyeri c. Abortus inkomplit Ditandai oleh pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari kavum uterus d. Abortus komplit8 Ditandai oleh pengeluaran seluruh hasil konsepsi e. Abortus tertunda Ditandai oleh kematian janin tanpa disertai pengeluaran hasil konsepsi f. Abortus Habitualis Ditandai oleh abortus yang berlangsung selama 3 kali atau lebih secara berurutan g. Abortus Septik8 Abortus yang disertai dengan infeksi pada uterus 2. Abortus yang diinduksi: Aborsi yang dicetuskan karena pertimbangan medis atau secara elektif.

V.

PATOGENESIS Walau sebagian besar kasus abortus spontan disebabkan oleh karena kelainan kromosom, pada prakteknya banyak ditemukan anak lahir dengan kelainan kromosom tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami proses terjadinya abortus secara umum. Dalam sebagian besar dari kasus aborsi, terdapat plasentasi yang tidak adekuat sehingga menyebabkan kegagalan dari sel-sel trofoblast untuk masuk dalam arteri spiralis. Kegagalan dari sel-sel trofoblast tersebut mengakibatkan terjadinya peredarahan dari dari ibu ke anak yang prematur. Masuknya darah ibu tersebut lama-kelamaan menyebabkan terjadinya

ekspulsi dari kantung kehamilan. Selain hal tersebut, kegagalan sel-sel trofoblast di atas mengakibatkan peningkatan tekanan oksigen di ruang intervili sehingga terjadi peningkatan stres dan berkurangnya fungsi dari plasenta.8 VI. GEJALA KLINIS Gejala klinis pada abortus pada umumnya sama, antara lain: 7 a. Perdarahan atau bercak darah dari jalan lahir pada trimester pertama b. Jumlah darah umumnya sedikit c. Warna darah bervariasi dari kecoklatan hingga merah segar d. Perdarahan bisa berlangsung hingga beberapa hari e. Biasa didahului oleh mulas-mulas atau sakit pinggang VII. DIAGNOSIS a. Abortus iminens:5
-

Anamnesis:
   

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Biasa berupa bercak-bercak Bisa atau tidak disertai dengan mulas atau nyeri pinggang Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak ditemukan jaringan

b. Abortus insipiens:5
-

Anamnesis:
   

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Biasa berupa darah segar yang mengalir Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina portio terbuka, , tidak ditemukan jaringan

c. Abortus inkomplit:5
-

Anamnesis:
  

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Biasa berupa darah segar yang mengalir Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

 -

Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, portio terbuka, bisa ditemukan jaringan di jalan lahir

d. Abortus komplit:5
-

Anamnesis:
   

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Darah biasa berupa bercak-bercak Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak ditemukan jaringan

e. Abortus tertunda:5
-

Anamnesis:
  

Uterus yang berkembang lebih rendah dibandingkan usia kehamilannya Bisa tidak ditemukan perdarahan atau hanya bercak-bercak Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak ditemukan jaringan

f.
-

Abortus septik:5 Anamnesis:


   -

Ditemukan satu atau lebih tanda-tanda abortus di atas Riwayat sedang menggunakan IUD Riwayat percobaan aborsi sendiri

Pemeriksaan Fisik:
 

Demam > 38 C Inspekulo: ditemukan salah satu tanda abortus seperti di atas

Pemeriksaan Penunjang:5
-

Serum -hCG Serum -hCG > 2500 IU per mL disertai dengan USG transvaginal merefleksikan 90% kehamilan intrauterine

Serum -hCG > 6500 IU per mL disertai dengan USG abdomen merefleksikan 90% kehamilan intrauterine
-

USG Gerakan jantung janin harusnya sudah bisa dilihat sejak masa gestasi 6-7 minggu

VIII.

TATALAKSANA Secara umum tatalaksana aborsi dibagi 2, yaitu: 9 a. Terapi medikasi Terapi medikasi menggunakan mifepristone yang disusul dengan penggunaan misoprostol atau mungkin hanya misoprostol saja. Terapi medikasi ini digunakan pada aborsi dengan masa gestasi 4-9 minggu dan lebih dari 14 minggu. Terapi bedah cenderung digunakan pada masa gestasi 9 -14 minggu. Regimen lain seperti methotrexate disusul dengan misroprostol juga sering digunakan. Indikasi penggunaan terapi medikasi:
-

Pilihan pasien Masa gestasi yang kecil Obesitas (BMI > 30) tanpa kelainan kardiovaskular Fibroma uterus Malformasi uterus Riwayat bedah sevik sebelumnya

Kontraindikasi terapi medikasi;


-

Riwayat alergi mifepristone, misoprostol atau obat terapi medikasi lainnya Mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang Gagal ginjal kronik Kelainan pembekuan darah IUD yang masih terpasang Infeksi daerah panggul yang berat

Rekomendasi WHO dan IPPF:


-

Mifeprostone 200mg oral diikuti misprostol 800g 36-48 jam setelahnya (oral, sublingual, bukal atau intravaginal) dalam satu dosis atau dibagi menjadi dua dosis 400g yang diberikan selang 2 jam

Rekomendasi FDA Amerika Serikat:


-

Hari pertama: Mifepristone 600mg per oral dalam satu kali minum

Hari kedua: Rh-imunoglobin 50g tidak lebih dari 48 jam sesudah terjadinya tandatanda aborsi pada pasien dengan Rh

Hari ketiga: bila proses aborsi belum selesai dan dikonfirmasi dengan USG, berikan misoprostol 400g

Hari keempat belas: cek kembali keadaan aborsi pasien dengan USG atau serum hCG. Serum -hCG seharusnya berada di bawah 1.000IU/L setelah 2 minggu

pemberian mifepristone. Bila proses aborsi belum selesai, dilanjutkan dengan aspirasi vakum. b. Terapi bedah Indikasi terapi bedah:
-

Pilihan pasien Sterilisasi Terdapat kontraindikasi pada pemakaian terapi medikasi Pasien tidak mampu datang untuk kontrol setelah terapi medikasi:

Pendekatan terapi bedah yang umum dilakukan yaitu: 1. Aspirasi Vakum Aspirasi vakum adalah prosedur yang aman dan efektif dan menjadi terapi pilihan sebelum teknik dilatasi dan kuretase. Teknik ini bisa digunakan hingga masa gestasi 12 minggu dan 99,5% efektif. Komplikasi teknik ini lebih rendah dibandingkan teknik dilatasi dan kuretase, dilatasi servik yang dibutuhkan lebih kecil, harga yang lebih murah, tidak diperlukan anastesi umum. 2. Dilatasi dan Kuretase Teknik ini lebih berbahaya dan lebih sakit dibandingkan teknik aspirasi vakum sehingga pemilihan teknik ini umumnya dibatasi bila aspirasi dan terapi medikasi tidak bisa diberikan. Teknik ini bisa digunakan hingga masa gestasi 12 minggu an 99% efektif. IX. KOMPLIKASI Komplikasi pada aborsi dibagi dua antara lain:6 a. Komplikasi akut Komplikasi ini terjadi selama prosedur atau 3 jam sesudah proses abortus selesai:
-

Perdarahan Luka serviks Perforasi uterus Hematometra

b. Komplikasi lanjut:
-

Infeksi Jaringan sisa Sensitisasi Rh

X.

Follow Up Pasien yang mendapat terapi medikasi sebaiknya diobservasi selama 4-6jam telebih dahulu. Pada pasien dengan terapi medikasi yang ingin segera pulang, minum obat di rumah, atau yang proses abortusnya belum selesai sebaiknya kembali kontrol ke dokter 10 hari -15 setelah mendapat terapi untuk mengkonfirmasi status aborsinya.9 Setelah terapi bedah, pasien idealnya kembali kontrol ke dokter 7-10 hari setelah mendapat terapi. Pasien sebaiknya diberi informasi bahwa mungkin terdapat tanda -tanda perdarahan dari bercak hingga sebanyak darah menstruasi untuk beberapa minggu ke depan. Pasien juga sebaiknya mendapat informasi tentang gejala-gejala klinis yang memerlukan intervensi medis segera dan sebaiknya segera kembali ke rumah sakit seperti perdarahan yang banyak, demam lebih dari satu hari disertai nyeri panggul.9 Selain kontrol berkaitan dengan aborsinya, semua pasien sebaiknya mendapat informasi mengenai kontrasepsi. Secara umum, semua jenis kontrasepsi aman digunakan pada wanita post abortus. Penelitian menunjukkan bahwa kesuburan akan kembali normal dalam 2 minggu dan 75% wanita akan mengalami ovulasi dalam 6 minggu, setiap pasien sebaiknya diberi informasi bahwa ia bisa melahirkan kembali sebelum menstruasi berikutnya.8

XI.

PROGNOSIS Resiko dari kematian atau komplikasi medis yang serius lebih banyak terjadi pada wanita dengan kehamilan cukup bulan dibandingkan aborsi, kesehatan secara umum lebih baik pada pasien aboertus dibandingkan kelahiran cukup bulan. Resiko kematian yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran berkisar 7-8 per 100.000 kelahiran sedangkan bila dikaitkan dengan abortus, berkisar kurang dari 1 per 100.000 kelahiran. Beberapa studi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara aborsi dengan penurunan kesuburan atau resiko terjadinya kehamilan ektopik. Sebuah studi di Cina berkaitan dengan pemakaian mifepristone dan misoprostol menunjukkan tidak adanya hubungan antara pemakaian obat tersebut dengan peningkatan resiko kehamilan prematur.10

ANALISA KASUS
1. Penegakan diagnosis abortus inkomplit pada pasien ini cukup jelas dimana didapatkan tanda tanda khas dari abortus inkomplit yaitu: a. Anamnesa: seorang wanita hamil dengan masa gestasi 14 minggu datang dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir disertai keluarnya gumpalan seperti daging dan perutnya terasa mules. b. Pemeriksaan fisik : ditemukan cervix dalam keadaan dilatasi sebesar 1-2cm disertai dengan jaringan di sekitar dinding vagina. c. Pemeriksaan penunjang: -hCG ataupun USG sebaiknya dilakukan pada pasien ini untuk memperkuat diagnosa. 2. Tatalaksana pada pasien ini sesuai dengan tatalaksana yang harus dilakukan pada pasiendengan abortus inkomplit yaitu evakuasi berupa tindakan kuretase, untuk mengeluarkan sisa jaringan buah kehamilan. Kemudian terapi medikamentosa yang diberikan pada pasien ini berupa antibiotika sebagai terapi profilaksis untuk mencegah terjadinya infeksi yang mungkin terjadi akibat tindakan kuretase yang dilakukan, dan juga di berikan uterotonika untuk kontraksi uterus. Selain itu diberikan juga golongan NSAID sebagai analgetik untuk mengurangi nyeri post kuretase. 3. Prognosis pada pasien ini terbilang baik karena umur pasien yang masih muda disertai dengan keadaan klinis pasien yang stabil setelah kuretase. Pasien sebaiknya diedukasi untuk kontrol kembali ke dokter spesialis 1 minggu kemudian.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guttmatcher Institute. Aborsi di Indonesia. Guttmatcher Institue. 2008 2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2009 3. Norman F. Gant MD, Kenneth J., Md Leveno, Larry C., Iii, Md Gilstrap, John C., Md Hauth, Katharine D., Md Wenstrom, John C. Hauth, J. Whitridge Obstetrics Williams (Editor), Steven L. Clark, Katharine D. Wenstrom. Williams Obstetrics 23rd Ed: McGraw-Hill Professional 4. McBride, Dorothy E. Abortion in United State. ABC-CLIO.2008 5. Evans, Arthur T. Manual of Obstetric 7th ed. Lippincot Williams and Willkins. 2007 6. Morgan, Mark. Siddighi, Sam. Obstetrics and Gynecology Volume 1. Lippincot Williams and Willkins. 2004 7. R. James. Scoot, Md. S. Ronald et al. Danforth s Obstetric and Gynecology 9th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2003 8. Keeling, Jean W. Khong T Yee.Fetal and Neonatal Pathology. Springer. 2007 9. World Health Organization. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for Health Systems. World Health Organization. 2003 10. Hatcher, Robert A. Trussell, James. Nelson, Anita L. Contraceptice Technology. Ardent Media. 2008