Anda di halaman 1dari 5

KECEPATAN REAKSI

Kecepatan reaksi merupakan perubahan jumlah pereaksi dan hasil reaksi yang terjadi per satuan waktu, misalnya per detik, per menit, atau per jam. Perubahan ini kebanyakan dinyatakan dalam perubahan konsentrasi molar. Pada umumnya komponen-komponen yang akan diukur perubahan konsentrasi selama reaksi berlangsung adalah komponen yang mudah diukur, diantaranya : Bila dalam reaksi tersebut melibatkan komponen-komponen yang berwarna, maka

pengukuran perubahan konsentrasinya dapat diukur dengan perubahan warna. Bila dalam reaksi tersebut menghasilkan produk yang bersifat asam, maka

perubahan konsentrasinya dapat diukur berdasarkan perubahan pH. Bila dalam reaksi tersebut menghasilkan komponen berupa gas, maka V nya dapat

diukur berdasarkan tekanan. Jalan pengukuran tersebut bersifat fisik maka pengukuran dapat dilakukan secara langsung, pengukuran tersebut tidak akan mengganggu proses reaksi. Namun, apabila pengukuran bersifat kimia misalnya secara titrasi maka harus diambil sebagia dari sampel campuran tersebut untuk dianalisa sehingga tidak mengganggu proses reaksi secara keseluruhan. Untuk reaksi yang proses reaksinya tidak terlalu cepat maka tidak terdapat kesulitan dalam mengukur perubahan konsentrasinya, tetapi bila reaksi berlangsung sangat cepat tentu akan terdapat kesulitan dalam mengukur perubahan konsentrasi dari komponenkomponen tersebut. Untuk mengukur kecepatan reaksi dari reaksi yang berlangsung cepat, dapat digunakan 2 metoda, yaitu : a. Metoda teknik aliran

Didalam metoda ini yang diperbaiki adalah teknik pencampuran komponen-komponen yang direaksikan. Dalam metoda ini komponen yang direaksikan, mula-mula diletakkan dalam wadah yang terpisah kemudian secara serentak dimasukkan dalam mixing jet. Dengan metoda ini dapat mencampurkan komponen-komponen secara sempurna dalam waktu sekitar 10-3 s (sangat cepat).

b. Metoda relaksasi Metoda relaksasi ini dikembangkan oleh Manfreed Eigen. Metoda relaksasi ini prinsipnya berbeda dengan metoda konvensional. Pada metoda konvensional titik awal dimulai dari titik pencampuran, sedangkan pada metoda relaksasi titik awal pengamatan dimulai dari titik dimana system telah berada dalam keadaan setimbang. Setelah dicapai kesetimbangan pertama maka kesetimbangan tersebut diganggu secara tiba-tiba, akibatnya tentu sistem akan melakukan reaksi terhadap gangguan yang diberikan tersebut. Sistem akan melakukan perubahan komposisi sehingga didapat kesetimbangan yang baru. Proses untuk mendapatkan kesetimbangan baru ini disebut relaksasi. Kecepatan perubahan konsentrasi komponen-komponen selama relaksasi dapat diukur baik secara spektro maupun kondukto. Kecepatan reaksi adalah suatu keadaan dimana berkurangnya konsentrasi dari reaktan dan bertambahnya konsentrasi produk. Kecepatan reaksi ini ada yang cepat dan ada yang lambat. Kecepatan suatu reaksi dipengaruhi oleh beberapa hal: 1. Temperatur 2. Konsentrasi 3. Luas Permukaan 4. Katalis 5. Pelarut 6. Cahaya Kecepatan reaksi dapat ditentukan secara kimia dan fisika. Masingmasing mempunyai kekurangan dan kelebihan. 1. Cara kimia

a. Dapat menentukan suatu konsentrasi produk atau reaktan sisa secara langsung dengan menggunakan metoda volumetrik dan gravimetrik. b. Sebelum dianalisa, reaksi harus dihentikan dahulu dengan cara mendinginkan secara tiba-tiba, menghilangkan katalis asam (katalis asam dihilangkan dengan penambahan basa, demikian pula sebaliknya). 2. Cara fisika a.Lebih mudah dari cara kimia karena hanya dengan mengukur perubahan sifat fisika yang mengalami perubahan selama reaksi. b.Tidak dapat menentukan konsentrasi produk dan reaktan yang tepat pada setiap saat. c. Metoda ini relatif singkat sehingga diperoleh data yang banyak. d. Pengukuran dapat berlangsung pada bejana reaksi tanpa perlu penghentian reaksi. e. Metoda ini tidak dapat menghilangkan efek reaksi samping. Dari hasil pengamatan atau secara empiris telah ditemukan bahwa kecepatan perubahan masing-masing komponen terhadap konsentrasi reaktan berpangkat bilangan tertentu yang disebut dengan orde reaksi. Kecepatan reaksi ada yang berlangsung cepat dan ada yang berlangsung lambat. Untuk reaksi yang lambat, kecepatannya dapat diukur namun untuk reaksi yang berlangsung sangat cepat, tidak dapat diukur atau sangat sulit untuk mengukurnya. Ada dua metoda pengukuran : 1. Metoda teknik aliran Pada metoda ini yang diperbaiki adalah teknik pencampuran dari komponen yang bereaksi. Dalam hal ini komponen yang ada direaksikan diletakkan dalam wadah yang terpisah, kemudian dicampur secara serentak dengan jet mixing dimana metoda ini dapat mencampurkan komponen tersebut secara serentak dengan waktu 1/1000 detik, setelah itu perubahannya dapat diamati. 2. Metoda relaksasi Metoda ini membiarkan reaksi berlangsung sedemikian rupa sehingga mencapai kesetimbangan. Setelah kesetimbangan pertama tercapai, kemudian kondisi kesetimbangan tersebut diganggu secara tiba-tiba dengan demikian sistem akan melakukan relaksasi terhadap tindakan gangguan sehingga didapat kesetimbangan baru.

Untuk kecepatan reaksi dari reaksi sederhana contohnya: A Kecepatan reaksi : d ( A) d ( B) VB = dt dt Untuk contoh di atas dapat dinyatakan sebagai berikut : VA = kA . A VB = kB . B Keterangan : kA = orde reaksi (orde parsial) A VA = kB = orde reaksi (orde parsial) B Reaksi sederhana adalah reaksi berorde satu yaitu reaksi yang aksi kecepatannya berbanding lurus dengan pangkat satu dari komponen. Untuk reaksi yang berorde dua contohnya adalah reaksi antara H2 dan I2. H2 + I2 2HI Reaksi ini beorde dua baik reaksi ke kanan maupun ke kiri: V1 = k1 [H2] . [I2] V2 = k2 [HI]2 Reaksi antara tiga komponen akan mempunyai orde reaksi yang sama dengan 3 yaitu apabila reaksi tersebut terjadi koalisi yang sederhana antara 3 komponen. Namun sangat jarang ditemukan. Untuk reaksi yang bersifat komplit (lebih dari satu tahap) tidak terdapat hubungan yang sederhana antara persamaan reaksi atau persamaan stoikiometri dengan orde reaksi. ORDE REAKSI Orde reaksi untuk reaksi-reaksi yang rumit tersebut tidak dapat diperoleh langsung dari persamaan stoikiometrinya. Namun untuk reaksi sederhana atau reaksi komplementer, orde parsial dari masing-masing sama dengan koefisien. Orde parsial dari masing-masing komponen hanya dapat diperoleh dari eksperimen. Kecepatan reaksi dari suatu komponen adalah sama dengan jumlah dari komponen tersebut baik yang terbentuk maupun yang hilang dibagi dengan lamanya waktu proses perubahan tersebut. Namun demikian orang tidak mendefinisikan kecepatan reaksi berdasarkan perubahan jumlah komponen, melainkan didefinisikan berdasarkan perubahan jumlah komponen per satuan volume yaitu dn/v. B

Jadi, kecepatan reaksi dinyatakan dengan kecepatan perubahan konsentrasi per satuan waktu. Nilai kecepatan seperti yang didefinisikan tersebut akan tergantung pada nilai koefisien stoikiometri yang digunakan. Oleh sebab itu di dalam menyatakan kecepatan reaksi perlu dinyatakan juga persamaan stoikiometri yang digunakan.