Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kaporit atau kalsium hipoklorit adalah padatan putih/ putih keabu-abuan. Zat ini didekomposisi di dalam air kemudian melepaskan oksigen dan klorin. Kaporit berbentuk granula atau pelet pipih. Memiliki aroma klorin yang kuat. Berat molekul 142,98. Rumus molekul CaCl2O2. Rumus struktur Ca(OCl)2. Titik penguraian 212oF (100oC). Gravitasi khusus (air = 1) 2,35. Kelarutan dalam air, terjadi penguraian dengan 21,4% kelarutan pada 76F (25C). Tidak larut dalam alkohol dan asam-asam encer. Terdekomposisi pada suhu 180oC (Kato, 2004). Produk kalsium hipoklorit di pasaran biasanya kalsium hipoklorit 60% atau 70%. Produk ini digunakan sebagai agen pemutih atau disinfektan. Digunakan dalam pemutih komersial, larutan pembersih, dan disinfektan untuk air minum, kolam renang, dan sistem pemurnian air. Jepang dan kebanyakan negara Eropa memiliki batas paparan klorin jangka panjang (8 jam) yaitu 0,5 ppm. Beberapa negara lainnya memiliki batas 1 ppm (Kato, 2004; ATSDR 2002). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen (2008), dampak buruk pada tubuh apabila terpajan klorin adalah menimbulkan kanker darah, merusak sel-sel darah, mengganggu fungsi hati/ liver, merusak sistem pernapasan dan selaput lendir dalam tubuh apabila terpajan klorin mencapai 3-5 ppm. Mengganggu kesehatan mata, kulit, dan batuk-batuk apabila terpajan klorin mencapai 15-30 ppm, serta dapat menyebabkan kematian apabila penggunaan klorin diatas 30 ppm. Adapun bentuk aktivitas bahan kimia sebagai radikal bebas toksik dalam tubuh adalah sebagai berikut: mengganggu sintesa protein, oksidasi dekarboksilasi dari asam amino menjadi nitrit dan aldehid, bereaksi dengan asam nukleat, purin, dan pirimidin, induksi asam deoksiribonukleat (DNA) dengan diiringi kehilangan kemampuan DNA-transforming (Kumar, 2005).

Antioksidan baik endogen maupun eksogen sangat penting bagi fungsi tubuh, karena antioksidan tersebut mampu meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh.Antioksidan endogen misalnya enzim superoksida dismutase (SOD),katalase, dan glutation peroksidase (GSH-Px), sedangkan antioksidan eksogen misalnya vitamin E, vitamin C, -karoten, flavonoid, asam urat, bilirubin dan albumin. Pemanfaatan senyawa antioksidan eksogen secara efektif sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya stres oksidatif. Antioksidan eksogen merupakan sistem pertahanan preventif, dimana sistem kerja antioksidan ini adalah dengan memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau dengan cara menangkapnya (Winarsi, 2007). Rumusan masalah
1. 2.

Bagaimanakah kaporit mempengaruhi tubuh? Bagaimanakah mangga (Mangifera indica L.) memberikan pengaruh terhadap tubuh sebagai antioksidan?

3.

Bagaimana pengaruh pemberian kaporit pada pakan hewan percobaan mencit (Mus Musculus) secara akut?

4.

Bagaimana mangga (Mangifera indica L.) memberikan pengaruh antioksidan pada hewan percobaan mencit (Mus Musculus) yang diberikan kaporit pada pakan secara akut?

I.1 2.1

Tujuan Tujuan umum Mengetahui efek Buah Mangga (Mangifera indica L.) sebagai antioksidan pada mencit yang telah diinduksi kaporit

2.2
a.

Tujuan khusus Mengetahui apa saja yang terkandungan dalam kaporit sehingga dapat mempengaruhi tubuh secara umum.

b.

Mengetahui apa saja yang terkandung dalam mangga (Mangifera indica L.) sehingga memberikan efek antioksidan dalam tubuh secara umum.

c.

Menganalisis efek akut dari pemberian kaporit pada hewan percobaan mencit (Mus Musculus).

d.

Mengetahui kerja antioksidan mangga (Mangifera indica L.) terhadap efek akut dari pemberian kaporit pada hewan percobaan mencit (Mus Musculus).

I.2

Manfaat Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah

wawasan, sebagai bahan informasi dan referensi bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya tentang efek ekstrak Buah Mangga (Mangifera indica L.) terhadap inflamasi sistemik akut pada tikus induksi kaporit.