Anda di halaman 1dari 2

PENGARUH UMUR BAMBU TERHADAP KUAT LENTUR BALOK LAMINASI BILAH BAMBU PETUNG

Taufik Maduretno 1 , Morisco 2 , Ashar Saputra

INTISARI
Bambu sebagai bahan bangunan alternatif kayu yang ramah lingkungan sangat dibutuhkan saat ini, mengingat bencana akibat kerusakan hutan sering terjadi. Dengan menggunakan bambu sebagai bahan bangunan, penggunaan kayu dapat dikurangi sehingga kerusakan hutan dapat dihentikan. Namun pemakaian bambu sebagai bahan bangunan dirasa belum maksimal akibat beberapa kendala, seperti anggapan bambu sebagai bahan bangunan masyarakat ekonomi rendah, ketahanan bambu terhadap serangan kumbang bubuk sehingga manfaat bambu relatif pendek. Dengan pengawetan yang baik maka umur manfaat bangunan bambu dapat diperpanjang, disamping itu bambu sebagai bahan bangunan mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dari bahan yang lainnya. Bambu dapat mudah diperoleh dilapangan, bambu bisa dibeli dipedagang bambu atau dibeli langsung dari pemilik bambu. Untuk membedakan bambu yang tua dan yang muda di tempat pembelian sulit hal ini disebabkan para pedagang telah mencampur bambu-bambu tersebut menjadi satu. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah untuk balok laminasi bambu muda dapat dipakai atau tidak karena pada saat membeli bambu muda dan tua tercampur. Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika bambu dengan menggunakan standar SNI03-1726-2002. Benda uji balok laminasi dibuat dalam tiga variasi umur yaitu bambu umur 1-2 tahun, 2-3 tahun dan > 3 tahun dengan pengujian lentur. Tiap variasi dibuat dalam 3 ulangan dan jumlah keseluruhan benda uji balok laminasi 9 buah. Ukuran balok laminasi yaitu lebar 60 mm, panjang 2000 mm dan tinggi balok 80 mm. Perekatan antara laminasi bambu menggunakan bahan perekat Urea Formaldehyde (UA-104). Pengempaan balok laminasi dilakukan dengan pengempaan dingin selama kurang lebih 24 jam. Hasil pengujian sifat fisika diperoleh nilai kerapatan dan kadar air bambu Petung 1-2 tahun 0,59 g/cm3 dan 12,50%, bambu Petung 2-3 tahun 0,77 g/cm3 dan 12,46%, bambu Petung > 3 tahun 0,78 gr/cm3 dan 12,36%. Hasil pengujian rata-rata sifat mekanika untuk kuat tekan sejajar serat, kuat tekan tegak lurus serat, kuat geser sejajar serat, kuat tarik sejajar serat, MOR dan MOE berturut-turut adalah umur 1-2 tahun 36,81 MPa, 9,40 MPa, 4,73 MPa, 99,99 MPa, 105,72 MPa dan 12443 MPa, umur 2-3 tahun 55,83 MPa, 14,71 MPa, 5,82 MPa, 87,69 MPa, 116,90 MPa dan 16211 MPa, umur > 3 tahun 58,77 MPa, 15,91 MPa, 5,84 MPa, 123,43 MPa, 119,16 MPa dan 16286 MPa. Dari hasil pengujian lentur balok laminasi besarnya kekuatan, kekakuaan kuat lentur dan kuat geser, MOR, MOE untuk balok laminasi muda adalah 1988 N/mm2, 239 N/mm, 77,19 Mpa, 0,57 MPa, 74,13 MPa, 15029 MPa sedang untuk balok laminasi sedang adalah 3203 N/mm2, 369 N/mm 113,11 MPa, 0,85 MPa, 114,21 MPa, 20017 MPa dan untuk balok laminasi tua adalah 3719 N/mm2, 385 N/mm, 129,88 MPa dan 0,95 MPa, 131,45 MPa, 20639 MPa. Kata kunci : umur bambu, perilaku keruntuhan, balok laminasi bambu Petung.
1 2

Dinas PU Bina Marga Kota Pasuruan, Jl. Pahlawan 22A Kota Pasuruan Staf Pengajar Magister Teknologi Bahan Bangunan Program Magister Teknik Sipil JTSL FT UGM

ABSTRACT Bamboo as alternative building material that is environmentally friendly is required today, because disaster due to forest degradation often occur. Using bamboo as building material can reduce use of timber, so forest degradation can be stopped. However, use of bamboo as building material is not maximal due to some obstacles such as opinion that bamboo is building material for low economic people, low resistance against powderpost beetle attack so its usage is short. With good preservation, bamboo usage can be prolonged. In addition, bamboo material is easy to find, and relatively cheap compared otjer material. Bamboo may be found in field, bought from bamboo trader or bought from bamboo owner. To differentiate young and ald bamboo in trading site is difficult because traders have mixed the differentage bamboos. This research was intended to study whether laminated beam of young bamboo can be used or not, because of the mix-age bamboo. Preliminary test was done to identify physical and chemical property of bamboo using SNI 103-1726-2002. Laminated beam sample was made in three age variations (1-2 years, 2-3 years, and > 3 years) for flexural test. Each variation was made in three repetitions and there were 9 total laminated beam samples. The laminated beam has diameter of 60 mm wide x 80 mm height x 2000 mm length. To stick bamboo laminated, it used Urea Formaldehyde (UA-104) adhesive. Laminated beam pressing was done using cold pressing for about 24 hours. Result of physical property test indicated density and water content of 1-2 years, 2-3 years, and > 3 years Petung bamboos were 0,59 g/cm3 and 12,50%, 0,77 g/cm3 and 12,46%, and 0,78 g/cm3 and 12,36%, respectively. Result of mechanic property of grain parallel pressure strength, grain perpendecular pressure strength, grain parallel shear stength, grain parallel tensile strength, MOR and MOE, were for 1-2 year bamboo 36,81 MPa, 9,40 MPa, 4,73 MPa, 99,99 MPa, 105,72 MPa and 12443 MPa, respectively; for 2-3 year old bamboo 55,85 MPa, 14,71 MPa, 5,82 MPa, 87,69 MPa, 116, 90 MPa and 16211 MPa, respectively; and for >3 year old bamboo 58,77 MPa, 15,91 MPa, 5,84 MPa, 123,43 MPa, 119,16 MPa and 12443 MPa, respectively. Results of flexural test of laminated beam for their stiffness, flexural strenght, shear strenght, MOR and MOE for young laminated beam were 239 N/mm, 77,19 MPa, 0,57 MPa, 74,13 MPa and 15029 MPa, respectively; those for moderate laminated beam were 369 N/mm, 113,11 MPa, 0,85 MPa, 114,21 MPa and 20017 MPa, respectively; and those for old laminated beam were 385 N/mm, 129,88 MPa, 0,95 MPa, 131,45 MPa, and 20639 MPa, respectively. Keywords: bamboo age, failure behavior, laminated Petung bamboo beam
1

Student of Civil and Environmental Enginering Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta 2 Lecturer of Civil and Environmental Enginering Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta 3 Lecturer of Forestry Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta

xvi