Anda di halaman 1dari 29

BAB II TINJUAN PUSTAKA

2.1. Perilaku 2.1.1 Pengertian Perilaku manusia adalah refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, persepsi, minat, keinginan dan sikap. Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang sebagian terletak dalam diri individu sendiri yang disebut juga faktor internal sebagian lagi terletak di luar dirinya atau disebut dengan faktor eksternal yaitu factor lingkungan (Notoatmodjo, 1997). Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu : 1. Perubahan alamiah (natural change), ialah perubahan yang dikarenakan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas. 2. Perubahan terencana (planned change), ialah perubahan ini terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek. 3. Perubahan dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change), ialah perubahan yang terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda. Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu : 1. Pemikiran dan perasaan Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap dan lain-lain. 2. Orang penting sebagai referensi Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain. 3. Sumber-sumber daya Yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.

45

4. Kebudayaan Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku. Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa, alasan seseorang berperilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat berbeda-beda penyebab atau latar belakangnya. Perilaku yang optimal akan memberi dampak pada status kesehatan yang optimal juga. Perilaku yang optimal adalah seluruh pola kekuatan, kebiasaan pribadi atau masyarakat, baik secara sadar ataupun tidak yang mengarah kepada upaya pribadi atau masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dari masalah kesehatan. Pola kelakuan/kebiasaan yang berhubungan dengan tindakan promotif, preventif harus ada pada setiap pribadi atau masyarakat. Perilaku dapat dibatasi sebagai jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) (Notoatmodjo,1999). Untuk memberikan respon terhadap situasi tersebut. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan). 2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan Menurut L.W.Green, di dalam Notoatmodjo (2003) faktor penyebab masalah kesehatan adalah faktor perilaku dan faktor non perilaku. Faktor perilaku khususnya perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor, yaitu : 1. Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing Factors) Adalah faktor yang terwujud dalam kepercayaan, kayakinan, niali-nilai dan juga variasi demografi, seperti : status ekonomi, umur, jenis kelamin dan susunan keluarga. Faktor ini lebih bersifat dari dalam diri individu tersebut. a. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni: 1) Awareness (kesadaran) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). 2) Interest
46

Tertarik terhadap stimulus atau objek tersebut. Sikap subjek sudah muali timbul. 3) Evaluation Menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4) Trial Dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus. 5) Adoption Dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. b. Keyakinan Keyakinan adalah pendirian bahwa suatu fenomena atau objek benar atau nyata. Kebenaran adalah kata-kata yang sering digunakan untuk mengungkapkan atau menyiratkan keyakinan agar terjadi perubahan perilaku. 1) Seseorang harus yakin bahwa kesehatannya terancam 2) Orang tersebut harus merasakan potensi keseriusan kondisi itu dalam bentuk nyeri atau ketidaknyamanan, kehilangan waktu untuk bekerja, kesulitan ekonomi. 3) Dalam mengukur keadaan tersebut, orang yang bersangkutan harus yakin bahwa manfaat yang berasal dari perilaku sehat melebihi pengeluaran yang harus dibayarkan dan sangat mungkin dilaksanakan serta berada dalam kapasitas jangkauannya. 4) Harus ada isyarat kunci yang bertindak atau suatu kekuatan pencetus yang membuat orang itu merasa perlu mengambil tindakan. c. Nilai Secara langsung bahwa nilai-nilai perseorangan tidak dapat dipisahkan dari pilihan perilaku. Konflik dalam hal nilai yang menyangkut kesehatan merupakan satu dari delema dan tantangan penting bagi para penyelenggara pendidikan kesehatan. d. Sikap Sikap merupakan salah satu di antara kata yang paling samar namun paling sering digunakan di dalam kamus ilmu-ilmu perilaku. Sikap sebagai suatu kecenderung jiwa atau perasaan yang relatif tetap terhadap kategori tertentu dari objek, atau situasi ( Notoatmodjo, 2003).
47

2. Faktor-faktor Pemungkin (Enambling Factors) Adalah faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, termasuk di dalamnya adalah berbagai macam sarana dan prasarana, misal : dana, transportasi, fasilitas, kebijakan pemerintah dan lain sebagainya. a. Sarana adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. b. Prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. 1) Dana merupakan bentuk yang paling mudah yang dapt digunakan untuk menyatakan nilai ekonomis dan karena dana atau uang dapat dengan segera dirubah dalam bentuk barang dan jasa. 2) Transportasi adalah pemindahan manusia, hewan atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia dan atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. 3) Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah upaya dan memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan. 4) Kebijakan Pemerintah adalah yaitu suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan diberi sanksi sesuai dengan bobot pelanggarannya yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan didepan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan sanksi 3. Faktor-faktor Pendukung (Reinforcing Factors) Adalah faktor-faktor ini meliputi : faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, undang-undang peraturanperaturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. a. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan
48

untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok. b. Tokoh Masyarakat adalah orang yang dianggap serba tahu dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Sehingga segala tindak-tanduknya merupakan pola aturan patut diteladani oleh masyarakat. c. Tokoh Agama adalah panutan yang merepresentasikan kegalauan umatnya dan persoalan yang sudah diungkap oleh para tokoh agama menjadi perhatian untuk diselesaikan dan dicarikan jalan keluarnya. d. Petugas Kesehatan merupakan tenaga profesional, seyogyanya selalu menerapkan etika dalam sebagian besar aktifitas sehari-hari. Etika yang merupakan suatu norma perilaku atau biasa disebut dengan asas moral, sebaiknya selalu dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat kelompok manusia ( Notoatmodjo, 2003 ). 2.2 Buang Air Besar 2.2.1. Pengertian Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar. 2.2.2. Mekanisme Buang Air Besar Semua makanan yang masuk ke dalam tubuh, akan di cerna oleh organ pencernaan. Selama proses pencernaan makanan di hancurkan menjadi zat-zat sederhaa yang dapat diserap dan di gunakan oleh sel dan jaringan tubuh kemudian sisa-sisa pembuangan akan dikeluarkan oleh tubuh berupa tinja, urine atau gas karbondioksida. Akhir dari proses pencernaan yang di keluarkan berupa tinja disebut buang air besar ( Notoatmodjo, 2003 ) Seseorang yang mempunyai kebiasaan teratur, akan merasa kebutuhan membuang air besar pada kira-kira waktu yang sama setiap hari. Hal ini di sebabkan oleh reflek gastro kolika yang biasanya bekerja sesudah sarapan pagi. Makanan yang sudah sampai lambung akan
49

merangsang peristaltic di dalam usus, merambat ke kolon sisa makanan yang dari hari sebelumnya, yang waktu malam mencapai sekum, mulai bergerak isi kolon dan terjadi perasan di daerah perineum. Tekanan intra abdominal bertambah dengan penutupan glottis, kontraksi diafragma dan otot abdominal, spinter anus mengendor, dan kerjanya berakhir. Kerja defekasi dipengaruhi oleh faktor kebisaan ( Notoatmodjo, 2003 ). Seseorang hendaknya berlatih untuk buang air besar tiap pagi, sebelum kesibukan hari tertunda menyebabkan konstipasi (sembelit). Beberapa orang buang air besar sebelum sarapan pagi, atau ada juga yang sesudahnya. Ada yang harus keluar rumah pagi-pagi buang air besar setelah pulang kerja, ada pula yang pada malam hari karena mmebutuhkan waktu yang tenang untuk memenuhi kebutuhannya. Ada yang satu kali sehari, ada yang lebih sering, yang lain lagi dua hari sekali atau dengan jangka waktu lebih panjang. Jadi frekuensi buang air besar tiap orang berbeda-beda. Seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata 330 gram sehari. Tinja ini berisi bakteri, lepasan epithelium usus, nitrogen, gram, zat besi, selulosa dan sisa zat makanan lain yang tidak larut dalam air ( Notoatmodjo, 2007 ).

Gambar 2.1. Mekanisme BAB 2.2.3. Permasalahan Praktek Buang Air Besar dan Akibat yang ditimbulkan Sejak dahulu sampai kapan pun, masalah pembuangan kotoran manusia selalu menjadi perhatian kesehatan lingkungan. Dengan pertambahan penduduk yang tidak sebanding dengan area pemukiman. Masalah pembuangan tinja semkin meningkat tinja merupakan sumber penyebaran penyakit yang multi kompleks yang harus sedini mungkin diatasi. Pembuangan tinja yang tidak sanitasi dapat menyebabkan berbagai penyakit, karenanya perilaku buang air besar sembarangan, sebaiknya segera dihentikan. Keluarga masih banyak yang berperilaku tidak sehat dengan buang air besar di sungai. Pekarangan rumah, kebun atau tempat-tempat yang tidak selayaknya. Selain mengganggu udara segar karena bau yang tidak sedap juga menjadi peluang awal tempat berkembangnya vector penyebab penyakit akibat kebiasaan perilaku manusia sendiri (Notoatmodjo, 2003)

50

Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan pembuangan tinja dengan disertai cepatnya pertambahan penduduk, jelas akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit yang di tularkan melalui tinja. Untuk mencegah sekurang-kurangya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat (Notoatmodjo, 2003)

2.2.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Praktek Buang Air Besar a. Pengetahuan 1). Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau media massa dan elektronik. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over Behavior). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahaun dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, baik secara individu maupun kelompok, untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal. 2). Tingkat Pengetahuan di dalam Domain Kognitif Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu: a. Tahu (Know) Diartikan sebagai pengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bagian yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tabu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, mendefinisikan dan mengatakan. b. Pemahaman (Comprehension)

51

Diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah memahami terhadap objek atau materi atau harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyampaikan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan buku, rumus, metode, prinsip dlam konteks atau situasi lain. Misalnya adalah dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian dan dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasuskasus yang diberikan. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, yaitu : dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada. Misalnya: dapat menyususun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan kriteria yang telah ditentkan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. 3). Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) yaitu: a. Tingkat Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka dia akan lebih mudah dalam menerima hal hal baru sehingga akan lebih mudah pula untuk menyelesaikan hal hal baru tersebut.

52

b. Informasi Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan memberikan pengetahuan yang jelas. c. Budaya Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi informasi baru akan di saring kira kira sesuai dengan tidaknya dengan kebudayaan yang ada dan agama yang dianut. d. Pengalaman Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan luas sedang umur semakin banyak (bertambah tua). e. Sosial Ekonomi Tingkatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup disesuaikan dengan penghasilan yang ada, sehingga menuntut pengetahuan yang dimiliki harus dipergunakan semaksimal mungkin. Begitupun dalam mencari bantuan ke sarana kesehatan yang ada. Mereka sesuaikan dengan pendapatan keluarga. b. Pendidikan 1). Pengertian Merupakan hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuan untuk tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan (Budiono, 1998). Disamping itu pendidikan juga dikatakan sebagai pengembangan diri dari individu dan kepribadian yang dilaksanakan secara sadar dan penuh tanggung jawab. Untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan ketrampilan serta nilai-nilai sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan (Yusuf, 1992). Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya, bahwa ibu yang berpendidikan relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga. Yang lebih baik dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah. Karena pengetahuan buang air besar yang sering kurang dipahami oleh keluarga yang tingkat pendidikannya rendah. Sehingga memberi dampak dalam mengakses pengetahuan khususnya di bidang kesehatan untuk penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada keluarga yang berperilaku buang air besar di sembarang tempat (Notoatmojo, 2003).

53

2). Ruang lingkup pendidikan Ruang lingkup pendidikan terdiri dari pendidikan informal, non formal, dan formal. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dirumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan informal berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa orang tertentu yang diangkat atau ditunjuk sebagai pendidik tanpa suatu progam yang harus disesuaikan dalam jangka waktu tertentu dan tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian, sementara itu pendidikan non formal meliputi berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secara terorganisasi terutama generasi muda dan orang dewasa, yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak berkesempatan mengikuti pendidikan sekolah dapat memiliki pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar yang mereka perkirakan sebagai warga masyarakat yang produktif. Sedangkan pendidikan formal adalah pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu seperti terdapat disekolah atau universitas (Notoatmojo, 2003 3). Jenjang Pendidikan formal Menurut Undang-Undang Republik Indonesia tentang pendidikan No.20 Tahun 2003, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Pendidikan dasar yaitu jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah seperti SD,MI, SMP, dan MTS atau bentuk lain yang sederajat. Sementara itu pendidikan menengah yaitu lanjutan pendidikan dasar yang terdiri dari pendidikan menengah kejurusan seperti SMA, MA, SMK, dan MAK atau bentuk lain yang sederajat. Sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup progam pendidikan Diploma, Sarjana, Magister dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi ( Kartono, 1992 ). 4). Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat pendidikan Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan terbagi menjadi 3 yaitu a. faktor umur, b. faktor tingkat social ekonomi dan c. faktor lingkungan, d. faktor umum merupakan indikator kedewasaan seseorang. Semakin bertambah umur pendidikan yang didapat akan lebih banyak. Baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal yang diinginkan adalah terjadinya perubahan kemampuan, penampilan atau perilaku. Selanjutnya perubahan perilaku didasari adanya perubahan atau penambahan pengetahuan, sikap atau ketrampilannya (Notoatmojo,2003). Faktor tingkat sosial ekonomi ini sangat mempengaruhi perbaikan pendidikan dan perbaikan pelayanan kesehatan yang inginkan oleh masyarakat. Rata-rata keluarga dengan sosial ekonomi yang cukup baik akan memilih tingkat pendidikan dan sarana kesehatan yang bagus dan bermutu (Effendy, 1998). Sedangkan faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dalam pendidikan seseorang seperti contoh orang yang berada dalam lingkungan keluarga yang mendukung serta mengutamakan pendidikan mereka akan lebih termotivasi untuk belajar sehingga pengetahuan yang mereka peroleh akan lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang keluarganya tidak mendukung untuk\ merasakan bangku sekolah (Effendy,1998).
54

c. Sarana 1). Pengertian Sarana adalah adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Jamban keluarga atau tempat pembuangan kotoran adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia yang lazim disebut kakus/WC dan memenuhi syarat jamban sehat atau baik. Manfaat jamban keluarga adalah untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dan kotoran manusia ( Salimmadjid, 2009 ). 2). Menentukan letak pembuangan kotoran Untuk menentukan letak pembuangan kotoran, terlebih dahulu kita harus memperhatikan ada atau tidaknya sumber-sumber air. Kita perlu mempertimbangkan jarak dari tempat pembuangan kotoran ke sumber-sumber air terdekat. Pertimbangan jarak yang harus diambil antara tempat pembuangan kotoran dan sumber air, kita harus memperhatikan bagaimana keadaan tanah, kemiringannya, permukaan air tanah, pengaruh banjir pada musim hujan, dan sebagainya. ( Mubarak, 2009 ) d. Dukungan Keluarga 1). Pengertian Keluarga merupakan sebagai unit terkscil dalam masyakat merupakan klien keperawatan atau sebagai penerima asuhan keperawatan keluarga sangat berperan dalam menentukan cara asuhan yang di perlukan anggota keluarga yang sakit. Bila dalam keluarga tersebut salah satu anggotanya mengalami masalah kesehatan maka sistem dalam keluarga akan terpengaruh. (Friedman, 1998) 2). Struktur Keluarga Struktur kekuatan keluarga meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan keluarga untuk saling berbagi, kemampuan sistem pendukung di antara anggota keluarga, kemampuan perawatan diri, dan kemampuan menyelesaikan masalah Menurut Effendy (1995), struktur keluarga ada bermacam-macam diantaranya adalah : a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

55

b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal beserta bersama keluarga sedarah istri. d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal beserta bersama keluarga sedarah suami. e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri. 3). Fungsi Keluarga Menurut Friedman (1999), lima fungsi dasar keluarga adalah sebagai berikut: a. Fungsi afektif. Adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh, dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung. b. Fungsi sosialisasi. Adalah proses perkembangan dan perubahan individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar berperan di lingkungan sosial. c. Fungsi reproduksi. Adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. d. Fungsi ekonomi. Adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti sandang, pangan, dan papan. e. Fungsi perawatan kesehatan. Adalah kemampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. 4). Jenis Dukungan Keluarga Terdapat empat jenis atau dimensi dukungan ( Friedman, 1998 ) yaitu: a. Dukungan emosional
56

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi, meliputi empati, kepedulian, dan perhatian terhadap anggota keluarga yang masih buang air besar misalnya umpan balik, penegasan. b. Dukungan penghargaan (penilaian) Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas anggota. Yang terjadi lewat ungkapan hormat ( penghargaan ) positif untuk perilaku BAB, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif perilaku BAB dengan yang lain yaitu : orang orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya.(menambah penghargaan diri) c. Dukungan instrumental Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan kongkrit. Mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan, waktu, modifikasi, lingkungan, maupun menolong dengan pelajaran waktu mengalami stres. d. Dukungan informatif Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminato (penyedia) Informasi tentang dunia mencakup memberi nasehat, petunjuk-petunjuk,sarana-sarana, atau umpan balik. Bentuk dukungan yang diberikan oleh keluarga adalah dorongan semangat, pemberian nasihat, atau pengawasan tentang perilaku BAB sehari-hari. Dukungan keluarga juga merupakan perasaan individu yang dapat perhatian, disenangi, dihargai, dan termasuk bagian dari masyarakat ( Utami, 2003 ). 5). Hubungan dukungan keluarga dengan kesehatan Keluarga harus dilibatkan dalam progam pendidikan dan penyuluhan agar mereka mampu mendukung usaha keluarga yang masih buang air besar di sembarang tempat. Bimbingan/penyuluhan dan dorongan secara terus menerus biasanya diperlukan agar keluarga yang buang air besar sembarangan tersebut mampu melaksanakan rencana yang dapat diterima dan mematuhi peraturan. Keluarga selalu dilibatkan dalam progam pendidikan sehingga mereka dapat memperingati bahwa buang air besar sembarangan dapat berdampak penyakitpenyakit (Brunner dan Suddart, 2001) 2.3. Fasilitas MCK 2.3.1 Pengertian MCK singkatan dari Mandi, Cuci, Kakus adalah salah satu sarana fasilitas umum yang digunakan bersama oleh beberapa keluarga untuk keperluan mandi, mencuci,
57

dan buang air di lokasi permukiman tertentu yang dinilai berpenduduk cukup padat dan tingkat kemampuan ekonomi rendah (Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D), 2002). 2.3.2 Komponen MCK (Mandi, Cuci, Kakus) 2.3.3.1 Bilik/Ruangan MCK Disain bilik/ruang MCK dilaksanakan dengan mempertimbangkan kebiasaan dan budaya masyarakat penggunanya sehingga perlu dimusyawarahkan. Hal-hal tersebut biasanya terkait dengan antara lain tata letak, pemisahan pengguna laki- laki dan perempuan, jenis jamban dan lain lain. Perlu dipertimbangkan disain untuk pengguna yang menggunakan kursi roda (defabel). Untuk kapasitas pelayanan, semua ruangan dalam satu kesatuan dapat menampung pelayanan pada waktu (jam-jam) paling sibuk dan banyaknya ruangan pada setiap satu kesatuan MC.
2

Meliputi lantai luasnya minimal 1,2 m (1,0 m x 1,2 m) dan dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah lubang tempat pembuangan kurang lebih 1 %. Pintu, ukuran: lebar 0,6 - 0,8 m dan tinggi minimal 1,8 m, untuk pengguna kursi roda (defabel) digunakan lebar pintu yang sesuai dengan lebar kursi roda. Bak mandi / bak penampung air untuk mandi dilengkapi gayung. Bilik harus diberi atap dan plafond yang bebas dari material asbes. (Proyek REKOMPAK JRF, 2008) 2.3.3.2 Sarana Tempat Cuci
2

Luas lantai minimal 2,40 m (1,20 m x 2,0 m) dan dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah lubang tempat pembuangan kurang lebih 1 %. Tempat menggilas pakaian dilakukan dengan jongkok atau berdiri, tinggi tempat menggilas pakaian dengan cara berdiri 0,75 m di atas lantai dengan ukuran sekurang-kurangnya 0,60 m x 0,80 m (Proyek REKOMPAK JRF, 2008). 2.3.3.3 Kakus/Jamban a. Pengertian Jamban Jamban keluarga didefinisikan suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja/kotoran manusia bagi keluarga, lazimnya disebut kakus. Penyediaan sarana pembuangan kotoran manusia atau tinja (kakus/jamban) adalah bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting peranannya, khususnya dalam usaha pencegahan penularan penyakit saluran pencernaan. Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan, maka pembuangan kotoran yang tidak saniter akan dapat mencemari lingkungan, terutama dalam mencemari tanah dan sumber air (Soeparman dan Suparmin, 2002). Untuk blok fasilitas sanitasi toilet dengan sistem komunal/umum, disarankan bahwa
58

1 toilet digunakan 25-50 orang dengan pembagian bilik terpisah antara laki- laki dan permpuan. Namun untuk daerah dengan kepadatan tinggi (>1000 jiwa/ hektar) jumlah penduduk yang dapat dilayani oleh 1 blok toilet adalah 200-500 jiwa. Tipe ideal taoilet untuk fasilitas sanitasi sistem komunal adalah toilet tuang siram (jamban leher angsa), dengan jumlah air yang digunakan 15-20 liter/orang/ hari (G.J.W de Kruijff, 1987). Jamban dapat dibedakan atas beberapa macam, yaitu : (Azwar, 1990) 1. Jamban cubluk (pit privy) adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun dibawah tempat pijakan atau dibawah bangunan jamban. Jenis jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak terlalu dalam karena akan mengotori air tanah, kedalamannya sekitar 1,5-3 meter (Mashuri, 1994). 2. Jamban empang (overhung Latrine) adalah jamban yang dibangun diatas empang, sungai ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang biasanya dipakai untuk makanan ikan, ayam. 3. Jamban kimia (chemical toilet) adalah model jamban yang dibangun ditempattempat rekreasi, pada transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang dan lain-lain. Pada model ini, tinja disenfeksi dengan zat-zat kimia seperti caustic soda dan pembersihnya dipakai kertas tisue (toilet paper). Jamban kimia ada dua macam, yaitu : a) Tipe lemari (commode type) Pada tipe ini terbagi lagi menjadi ruang-ruang kecil, seperti pada lemari. b) Tipe tangki (tank type) Pada tipe ini tidak terdapat pembagian ruangan atau dengan kata lain hanya terdiri dari satu ruang. 4. Jamban leher angsa (angsa trine) adalah jamban leher lubang closet berbentuk lengkungan, dengan demikian air akan terisi gunanya sebagai sumbat sehingga dapat mencegah bau busuk serta masuknya binatang-binatang kecil. Jamban model ini adalah model terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan (Warsito, 1996).

b. Syarat-Syarat Jamban Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (Depkes RI, 2004) 1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari sumber air bersih,
59

2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus, 3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah sekitarnya, 4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya, 5. Dilengkapi dinding dan atap pelindungm dinding kedap air dan berwarna, 6. Cukup penerangan, 7. Lantai kedap air, 8. Ventilasi cukup baik, 9. Tersedia air dan alat pembersih. Jarak aman antara lubang kakus dengan sumber air minum dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : (Chandra, 2007) 1. Topografi tanah : Topografi tanah dipengaruhi oleh kondisi permukaan tanah dan sudut kemiringan tanah. 2. Faktor hidrologi : yang termasuk dalam faktor hidrologi antara lain Kedalaman air tanah, Arah dan kecepatan aliran tanah, Lapisan tanah yang berbatu dan berpasir. Pada lapisan jenis ini diperlukan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan jarak yang diperlukan untuk daerah yang lapisan tanahnya terbentuk dari tanah liat. 3. Faktor Meteorologi : di daerah yang curah hujannya tinggi, jarak sumur harus lebih jauh dari kakus. 4. Jenis mikroorganisme : Karakteristik beberapa mikroarganisme ini antra lain dapat disebutkan bahwa bakteri patogen lebih tahan pada tanah basah dan lembab. Cacing dapat bertahan pada tanah yang lembab dan basah selama 5 bulan, sedangkan pada tanah yang kering dapat bertahan selam 1 bulan. 5. Faktor Kebudayaan : Terdapat kebiasaan masyarakat yang membuat sumur tanpa dilengkapi dengan dinding sumur. 6. Frekuensi Pemompaan : Akibat makin banyaknya air sumur yang diambil untuk keperluan orang banyak, laju aliran tanah menjadi lebih cepat untuk mengisi kekosongan (Chandra, 2007). c. Manfaat dan Fungsi Jamban

Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan
60

memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu : 1. Melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit, 2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan sarana yang aman, 3. Bukan tempat berkembangbiakan serangga sebagai vektor penyakit, 4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan. 5. Pemeliharaan Jamban Jamban hendaknya selalu dijaga dan dipelihara dengan baik. Adapun cara pemeliharaan yang baik menurut Depkes RI, 2004 adalah sebagai berikut : 1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering, 2. Di sekeliling jamban tidak ada genangan air, 3. Tidak ada sampah berserakan, 4. Rumah jamban dalam keadaan baik, 5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat, 6. Lalat, tikus dan kecoa tidak ada, 7. Tersedia alat pembersih, 8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki. 9. Selain itu ditambahkan juga pemeliharaan jamban dapat dilakukan dengan : a. Air selalu tersedia dalam bak atau dalam ember. b. Sehabis digunakan, lantai dan lubang jongkok harus disiram bersih agar tidak bau dan mengundang lalat. c. Lantai jamban diusahakan selalu bersih dan tidak licin, sehingga tidak membahayakan pemakai. d. Tidak memasukkan bahan kima dan detergen pada lubang jamban.

2.4 Hubungan Penyakit dengan Air dari Tinja Penyakit menular seperti polio, kolera, hepatitis A dan lainnya merupakan penyakit yang disebabkan tidak tersedianya sanitasi dasar seperti penyediaan jamban. Bakteri E.Coli dijadaikan sebagai indikator tercemarnya air, dan seperti kita ketahui bahwa bakteri
61

ini hidup dalam saluran pencernaan manusia sebagai flora normal. Proses pemindahan kuman penyakit dari tinja yang dikeluarkan manusia sebagai pusat infeksi sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air, tangan, serangga, tanah, makanan, susu serta sayuran. Menurut Anderson dan Arnstein (dalam Wagner dan Lanoix, 1958) dalam buku M.Soeparman dan Suparmin, 2002, terjadi proses penularan penyakit diperlukan faktor sebagai berikut : 1. Kuman penyebab penyakit, 2. Sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, 3. Cara keluar dari sumber, 4. Cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru potensial, 5. Cara masuk ke inang baru, 6. Inang

Selain itu bila dilihat berdasarkan pola teori simpul pada gambar berikut :

SIMPUL I

SIMPULII

SIMPUL III

SIMPUL IV

Sumber Penyakit Media

Biomarker

Sakit/sehat

62

Sumber : Achmadi, 1991

Gambar 2.2 Teori Simpul

Maka untuk penyakit akibat tinja, yang menjadi sumber penyakit adalah tinja yang mengandung bakteri patogen E.coli yang dapat masuk melalui air, makanan dan minuman yang mengandung bakteri tersebut. Kemudian pada simpul tiga yang merupakan biomarkernya adalah sistem pencernaan yang terinfeksi oleh bakteri E.coli yang berlebihan, sehingga pada simpul empat manusianya akan menderita sakit akibat tinja atau sehat. Dari gambar gambar 2.2 dapat dipahami bahwa sumber terjadinya penyakit adalah tinja. Dengan demikian untuk memutuskan rantai penularan penyakit dapat dilakukan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan. Tersediannya jamban, merupakan usaha untuk memperbaiki sanitasi dasar dan dapat memutuskan rantai penularan penyakit. Selain disebabkan oleh tinja, terjadiya suatu penyakit juga berhubungan dengan kualitas dan kuantitas air bersih yang tersedia. Sebab apabila kualitas air tidak memenuhi syarat kesehatan yang berlaku maka akan memungkinkan terjadinya suatu penyakit akibat air. Dalam hal ini untuk mencegah hubungan penyakit dengan air antara lain, misalnya : Lokasi sumur/sumber air yang memenuhi syarat kesehatan terutama dari sumber penglontoran seperti kakus, kandang ternak, saluran air limbah rumah tangga, dan lain-lain. 1. Konstruksi sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan. 2. Penggunaan dan pemeliharaan sumur gali yang baik dan benar. Peran air dalam menularkan penyakit, menurut Soemirat (2002) adalah : 1. Air sebagai penyebar mikroba patogen. 2. Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit. 3. Jumlah air yang tersedia tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik. 4. Air sebagai sarang hospes sementara penyakit. Menurut Departemen Kesehatan RI (2000), penyakit yang ditularkan melalui air adalah :

45

1. Water Borne Disease Adalah penyakit yang ditularkan langsnung melalui air minum, dimana air minum tersebut mengandung kuman patogen dan terminum oleh manusia maka dapat menimbulkan penyakit. Penyakit tersebut adalah penyakit kholera, Typoid, Hepatitis infektiosa, dysentri, dan Gastro enteritis. 2. Water Washed Disease Adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air untuk pemeliharaan hygiene perorangan dan kebersihan alat-alat terutama dapur dan alat makan. Dengan terjaminnya kebersihan oleh tersediannya air yang cukup maka penularan penyakit tertentu pada manusia dapat dikurangi. Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropis. Penyakit ini sangat dpengaruhi oleh cara penulran diantaranya, penyakit infeksi saluran pencernaan. 3. Water Based Disease Adalah penyakit yang ditularkan melalui bibit penyakit yang sebagian besar siklus hidupnya di air, seperti schistosomiasis. Larva schistosomiasis hidup dalam keong-keong air. Setelah waktunya larva ini akan mengubah bentuk menjadi cercaria dan menembus kulit (kaki) manusia yang berada dalam air tersebut. 4. Water Related Insects Vektors Adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor yang hidupnya tergantung pada air, misalnya malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), Filariasis, Yellow fever dan sebagainya.

2.5 Penyakit yang Ditimbulkan Akibat BAB yang Buruk 2.5.1 Diare Diare dibagi atas diare akut dan kronik menurut World Health Organization (WHO). Diare akut adalah bila terjadi buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari selama kurang dari 3 minggu. Sementara yang dimaksud dengan diare kronik adalah bila terjadi perubahan frekuensi buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari selama lebih dari 3 minggu, pada umumnya disertai dengan malabsorbsi dan malnutrisi4. Ditinjau dari sudut penyebab langsung dan penyebab tidak langsung (dari faktor-faktor luar yang mempermudah terjadinya diare) dari diare, maka dapat dibedakan sebagai berikut : o Infeksi: Infeksi Bakteri
46

Infeksi bakteri pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri (Vibrio cholera, Eschercia coli, Salmonella, Shigella, dll) Infeksi Virus, seperti : Rotavirus, Enterovirus ( Echo Virus, Coxacie, Poliomyelitis), Adenovirus, Astrovirus, dll Infeksi Parasit Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyoides) Protozoa (Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis) Jamur (Candida albicans)

o Makanan: Keracunan makanan Keracunan makanan bisa disebabkan oleh: - Makanan itu sendiri beracun - Makanan tersebut tercampur racun - Makanan yang beracun (Clostiridium botilinum, Staphylococcus) Sindrom Malabsorbsi Karbohidrat Paling sering diare dikarenakan intolerasi laktosa ( laktosa intolerance) Lemak Terutama lemak yang gugus kimianya Long Chain trigliseride (LCT) Protein Terutama golongan asam amino dan B Laktoglobulin Vitamin dan Mineral Hipervitaminosis C Alergi, seperti: Diare disebabkan karena usus alergi terhadap makanan : Cows Milk Protein Sensitive Enteropathy (CMPSE) o Penggunaan Antibiotik Beberapa individu ada yang tidak tahan terhadap pemberian antibiotik. Biasanya tidak diperlukan pengobatan tertentu. Diare akan berhenti dengan sendirinya setelah pemberian antibiotik dihentikan. o Faktor Psikologis

47

Beberapa reaksi psikologis seperti rasa takut, cemas yang umumnya yang dapat menimbulkan diare. Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 2 kali per tahun. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB (kejadian luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, terutama disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit: Lingkungan - Sumber air bersih (tidak terlindung, jarak dengan kakus < 10m) Tidak ada jamban yang memenuhi syarat kesehatan Makanan/minuman yang tidak bersih

Perilaku - Kebiasaan jajan sembarangan Kebiasaan buang air besar sembarangan Kebiasaan menggunakan susu botol bagi bayi yang masih menyusui (cara mencuci botol dan penyajiannya) Kebiasaan tidak cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar Kebiasaan cuci alat makan / minum, lalap sayuran, bahkan gosok gigi dengan air kolam / sungai. Bermain di tempat pembuangan limbah Pembuangan air limbah yang tidak benar

48

49

2.5.2 Infeksi Cacing Ankilostomiasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di daerah subtropik dan tropik.. Di Indonesia angka prevalensi cacing ini masih cukup tinggi seperti yang dilaporkan oleh Depkes dan beberapa peneliti. Tingginya angka prevalensi ini erat hubungannya dengan beberapa faktor, yaitu: 1. Indonesia terletak di daerah iklim tropik, dimana hal ini merupakan tempat yang ideal bagi perkembangan telur cacing. 2. Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti kebiasaan buang air besar disembarang tempat dan tanpa alas kaki. 3. Sosial ekonomi Spesies yang termasuk parasit pada manusia adalah : a) Ankilostoma Duodenale (Ankilostomiasis=cacing tambang) b) c) d) Askaris lumbricoides (Ascariasis= cacing gelang) Enterobius vermicularis (Enterobiasis = cacing kremi) Wuchereria bancrofti (Filariasis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit: Lingkungan - Lantai rumah / dapur masih tanah Perilaku Kuku penderita kotor Buang air besar sembarangan Tidak cuci tangan sebelum makan dan sesudah BAB Tidak menggunakan alas kaki Kebiasaan makan lalap mentah yang tidak dicuci dulu dengan air bersih. Kebiasaan anak bermain ditempat kotor / becek Rumah dan lingkungan sangat kotor, becek Tidak ada kakus yang memenuhi syarat kesehatan

50

2.5.3 Penyakit Kulit Penyakit kulit biasa dikenal dengan nama kudis, skabies. Penyebab penyakit ini adalah tungau atau sejenis kutu yang sangat kecil yang bernama sarcoptes scabies. Tungau ini berkembang biak dengan cara menembus lapisan tanduk kulit kita dan membuat terowongan dibawah kulit kita sambil bertelur.

51

Cara penularan penyakit ini dengan cara kontak langsung atau melalui peralatan seperti baju, handuk, seprei, tikar, bantal, dan lain lain. Sedangkan cara pencegahan penyakit ini dengan cara, antara lain : 1. Menjaga kebersihan diri, mandi dengan air bersih minimal 2 kali sehari dengan sabun, dan menghindari kebiasaan tukar menukar baju dan handuk. 2. Menjaga kebersihan lingkungan, serta biasakan selalu membuka jendela agar sinar matahari dapat masuk. Faktor faktor yang mermpengaruhi timbulnya penyakit : a. Lingkungan Sumber air untuk mandi tidak memenuhi syarat kesehatan (baik secara kontruski bangunan atau kualitas airnya) Kondisi rumah, sampah tidak memenuhi syarat kesehatan Tempat tidur yang jarang sekali dibersihkan, diganti spreinya Sumber air yang tercemar

b. Perilaku Frekuensi mandi setiap hari <2 kali Pakaian sudah kotor dan bau masih di pakai Kebiasaan mandi di empang / sungai Kebiasaan mandi tidak pakai sabun Menggunakan handuk / sabun secara bersamaan Tidak selalu mencuci tangan sehabis memegang barang-barang yang kotor Kebiasaan memanjangkan kuku tanpa dipelihara kebersihannya

52

2.6. Kerangka Teori

Perilaku Buang Air Besar

Faktor Predisposisi : - Pengetahuan - Pendidikan - Sikap - Kepercayaan - Nilai-nilai

Faktor Pendukung : - Ketersediaan sumber daya - Sarana -Ekonomi - Kebiasaan

Faktor Pendorong : - Perilaku Petugas - Dukungan keluarga - Sosial-budaya

Skema 2.1 kerangka teori Sumber : L. W Green, di dalam Notoatmodjo, 2003

53

2.7. Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat


Variabel Terikat

Pengetahuan Sikap

Ekonomi PERILAKU BUANG AIR BESAR

Sarana

Kebiasaan

Sosial-Budaya

Skema 2.2 kerangka konsep

54

2.8. Variabel Penelitian Variabel-variabel yang di teliti meliputi : 1. Variabel Independen : pengetahuan, ekonomi, sarana, sosial-budaya, kebiasaan, dan sikap 2. Variabel Dependen : Perilaku buang air besar

55