Anda di halaman 1dari 2

Kelompok Komodo Fasilitator: Nur Ariani (10/296950/SP/23899) Dine Chandra Devi (10/296561/SP/23851) Reza Ananta P.

(10/299665/SP/24188) Ratu Humairoh B. (10/297378/SP/23974) Ananta Aldi A. (09/280579/SP/23217) Dyah Dwi Astuti (09/282418/SP/23457) Dania Wijayanti (09/282514/SP/23491) Willarda Lucky D.A. (09/281999/SP/23363) Dhatu W. (09/280856/SP/23268)

Reinhold Niebuhr: Moral dan Kepentingan


Hasil Diskusi Pemikiran Reinhold Niebuhr (Selasa, 23 Oktober 2012)

Reinhold Niebuhr adalah seorang teolog neo-ortodoks dan realis yang juga berperan sebagai pengamat politik. Pemikiran dasar Niebuhr mengacu pada moralitas individu dan immoralitas sosial, moralitas dalam politik internasional, serta konsep keadilan. Dalam ilmu hubungan internasional, pemikiran ini menarik perhatian karena membahas kepentingan yang kemudian bersinggungan dengan moral. Berbicara mengenai asumsi Niebuhr bahwa individu akan kehilangan moralnya ketika sudah masuk dalam masyarakat, kami melihat ada tiga peluang yang mungkin terjadi. Pertama, kepentingan individu sejalan dengan kepentingan masyarakat sehingga tidak terjadi clash. Kedua, lingkungan (masyarakat) mendorong individu untuk menekan egonya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam hal ini, individu disebut bermoral karena pada akhirnya ia memilih untuk mengedepankan kepentingan bersama. Ketiga, kepentingan individu yang sangat nampak karena bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan ia enggan melepaskan kepentingannya tersebut. Individu melakukan semacam perlawanan dengan menghalalkan beragam cara dan inilah yang kemudian mengakibatkan ia dikatakan immoral. Untuk lingkup yang lebih luas, yakni negara, egoisme lebih terlihat nyata. Kami mengamini pandangan Niebuhr bahwa negara condong bersifat egois dan hipokrit. Hal ini dapat dimengerti mengingat negara memerlukan power untuk menunjukkan eksistensinya dan penting bagi pemerintah suatu negara untuk

mengedepankan/mencapai kepentingan nasional guna menjaga kredibilitas di mata rakyatnya. Egoisme menjadi niscaya dalam banyak kondisi, bahkan kadang kala bisa mencapai titik hipokrit. Ketika suatu negara merasa kerjasama atau organisasi dimana ia terlibat tidak mengakomodasi kepentingannya dengan baik, membelot atau mencederai kerjasama/organisasi tersebut adalah hal yang wajar. Teori Politik Internasional 2012/2013

Dalam hemat kami, peran organisasi internasional dibutuhkan guna meredam konflik antarnegara. Organisasi dapat menjadi wadah bagi negara-negara untuk memahami kepentingan satu sama lain dan merumuskan kepentingan bersama. Selain itu, regulasi yang diterapkan dalam suatu organisasi dapat menjadi alternatif untuk menyelesaikan konflik. Namun di sisi lain, interdependensi juga membuka peluang terjadinya lebih banyak konflik. Pertanyaan lain, yang masih berkaitan dengan organisasi internasional, yang muncul pada era kontemporer adalah bagaimana posisi keadilan dalam suatu organisasi menimbang fenomena adanya sebagian aktor yang berkuasa. Parameter adil sendiri masih menjadi sesuatu yang relatif bagi kami. Proporsional dan rasional menurut seseorang belum tentu proporsional dan rasional bagi yang lain. Ada yang beranggapan bahwa keadilan adalah ketika kepentingan organisasi sejalan dengan kepentingan nasional negara-negara. Ada pula yang menilai bahwa proporsi yang adil adalah yang sesuai dengan banyak/sedikitnya kontribusi yang telah diberikan oleh suatu negara. Preskripsi Niebuhr bisa menjadi solusi dalam hal ini. Di samping memahami kepentingan negara lainnya, mengingat organisasi internasional hanya merupakan wadah dan tidak dapat menjamin keadilan yang utuh bagi negara-negara, mereka perlu meningkatkan kekuatan negara masing-masing agar tidak dimarginalkan.

Teori Politik Internasional 2012/2013