Anda di halaman 1dari 3

PERSPEKTIF REALISME KRISTEN REINHOLD NIEBUHR Mata Kuluah : Teori Politik Internasional 2012 (HI UGM) Penyaji : Swastaji

Agung Rahmadi (10/297024/SP/23914)

Anggota aktif : 1. Syania Fajriandini, 2. Fitra Hayatun Nisa, 3. Ezka Amalia, 4. Maria Yovita Liem, Metode Diskusi 5. Bondan Dewanto, 6. Mudita, 7. Diah Nikmahayati, 8. Ernis Cahyaningtyas,

: Elisa (online) pertemuan ke-6, 23 Oktober 2012.

Pertanyaan Diskusi : 1) Bagaimana asumsi Reinhold Niebuhr terhadap nilai-nilai demokrasi yang menjadi global value saat ini ?, apakah nilai demokrasi tersebut sesuai dengan prinsip keadilan yang diasumsikan Niebuhr ? 2) Apa pendapat saudara pada perspektif realisme kristen dari Niebuhr, apakah hal tersebut masih relevan dengan kondisi politik global saat ini ?

ESSAY REPORT Pada kesempatan kali ini, penyaji akan merangkum kajian diskusi mengenai asumsi Reinhold Niebuhr tentang perspektif realisme kristennya, dan perkembangannya dalam politik internasional saat ini. Reinhold Niebuhr adalah seorang teolog Protestan yang terkenal karena penelitiannya hubungan ajaran Kristen dengan realitas hubungan internasional, politik modern, dan diplomasi. Realisme kristen tersebut lahir melalui pikiran Niebuhr, karena pada saat itu Amerika Serikat sedang mengalami industrialisasi. Industrialisasi tersebut menurut Niebuhr bermasalah, karena menimbulkan ketidakadilan yang dibuktikan dengan munculnya kelas-kelas sosial antara kelompok borjuis v.s. kelompok proletar. Niebuhr menggambarkan kondisi masyarakat saat itu, bahwa kelompok tenaga kerja tidak memiliki pilihan lain, selain bekerja ekstra tanpa lelah, sedangkan di sisi lain, kelompok elit menikmati hasil sumber-

sumber ekonomi. Mulai dari masalah tersebut, Niebuhr menganggap bahwa ketidakadilan disebabkan oleh tidak adanya moral sosial. Tidak adanya moral sosial mendorong manusia menjadi egois, individulistik, tanpa mengurus kepentingan orang lain. Solusi yang ditawarkan Niebuhr adalah menegakkan moral di tengah masyarakat, seperti pentingnya agama sebagai kontrol sosial dan penumbuh bibit kepedulian. Pada dasarnya, secara moral seorang individu mampu mempertimbangkan kepentingan orang lain dan bertindak untuk orang lain. Apabila dalam suatu masyarakat tidak ada nilai moral, maka konflik sosial mudah terjadi. Niebuhr juga menyinggung demokrasi bagai dua sisi mata uang. Niebuhr di satu sisi menganggap demokrasi sebagai suatu yang bermasalah, karena hanya dikuasai oleh segolongan elit politik yang selfish, tanpa menghasilkan kebijakan yang bermanfaat bagi semua. Hal yang Niebuhr cita-citakan adalah bahwa demokrasi harus tetap memiliki kontrol yang dapat memberikan keadilan sekaligus kesejahteraan bagi masyarakat. Meski demikian, beberapa partisipan diskusi merasa pandangan Niebuhr ini memiliki kontradiksi tersendiri. Hal ini dikarenakan Niebuhr percaya bahwa demokrasi itu dibutuhkan dalam kehidupan bernegara, tetapi Niebuhr sendiri percaya bahwa demokrasi tersebut bermasalah, karena kebebasan manusia hanya bergantung pada kebijakan politisi, elit penguasa yang mengontrol pemerintah. Kontrol ini membuat masyarakat menjadi tidak mandiri. Negara juga cenderung egois dan hipokrit karena sibuk dengan pemenuhan kepentingan nasional, tanpa memperhatikan collective interests. Seorang partisipan menyatakan bahwa yang dapat dikritisi mengenai demokrasi adalah pandangan Niebuhr dalam melihat adanya usaha bersama dari tiap individu untuk menjadi lebih baik, dengan mengedepankan keadilan sosial. Demokrasi yang dipikirkan Neibuhr haruslah dilanjankan pada lintasan substansif dan prosedural yang benar. Demokrasi adalah salah satu jalan untuk mencapai keadilan bagi masyarakat. Keadilan disini menurutnya adalah keadaan ketika setiap negara memiliki akses informasi dan pengetahuan yang sama untuk saling mengerti kepentingan negara lain, sehingga menciptakan pemahaman yang berimbang. Namun, di sisi lain, niebuhr mengkritik demokrasi yang gagal menciptakan keadilan. Ketika peristiwa bubarnya Liga Bangsa-Bangsa saat itu, semakin menguatkan skeptisme Niebuhr tentang nilai-nilai demokrasi, bahwa tidak ada satu struktur pun di dunia ini yang bisa mengontrol tingkah laku masyaraskat itu sendiri, entah atas dasar demokrasi atau tidak. Realisme Kristen ala Niebuhr menekankan bahwa cara lain yang dapat digunakan dalam menciptakan ketertiban global adalah dengan menghalakan implementasi just war theory, asalkan harus tetap selaras dengan tujuannya untuk menciptakan keadilan dan

perbaikan moral. Pemikiran ini digunakan sebagai landasan politik luar negeri Amerika Serikat ketika Perang Dunia II, Perang Dingin, Perang Teluk. Sebagian komentar muncul dalam diskusi ini bahwa Niebuhr sangat realis dalam menyikapi apa seharusnya yang negara lakukan dalam mencapai keadilan.