Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan Nutrition Related Diseases yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Salah satu dampak kurang vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan - 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk sebagai akibat asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. Anak yang menderita KVA mudah sekali terserang infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, diare dan infeksi lain karena daya tahan anak tersebut menurun. Namun masalah KVA dapat juga terjadi pada keluarga dengan penghasilan cukup. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua/ibu tentang gizi yang baik. Gangguan penyerapan pada usus juga dapat menyebabkan KVA walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG) yang berkepanjangan akan menyebabkan anak menderita KVA, yang umumnya terjadi karena kemiskinan, dimana keluarga tidak mampu memberikan makan yang cukup. Sampai saat ini masalah KVA di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius. Meskipun hasil survei Xeroftalmia (1992) menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria WHO secara Klinis KVA di Indonesia sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat (< 0,5%). Namun pada survei yang sama menunjukkan bahwa 50% balita masih menderita KVA Sub Klinis (serum retinol < 20 ug/dl). Adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, dimana terjadi peningkatan kasus gizi buruk di berbagai daerah mengakibatkan masalah KVA muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi antara lain dari NTB dan Sumatera Selatan menunjukkan munculnya kembali kasus Xeroftalmia mulai dari tingkat ringan sampai berat bahkan menyebabkan kebutaan.

Ibarat fenomena gunung es dikhawatirkan kasus xeroftalmia masih banyak di masyarakat yang belum ditemukan dan dilaporkan oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendeteksi secara dini dan menangani kasus xeroftalmia ini dengan cepat dan tepat agar tidak terjadi kebutaan seumur hidup yang berakibat menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia.
1.1.

Anatomi dan Fisiologi Mata3,7


A. Adneksa Mata 1. Alis Mata 2. Kelopak Mata 3. Apparatus Lakrimalis Aparatus lakrimalis terdiri atas kelenjar lakrimal utama, kelenjar lakrimal aksesorius, dan jalur lakrimal yang terdiri dari pungtum lakrimal, kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus nasolakrimalis. Kelenjar lakrimalis nantinya berfungsi untuk mengeluarkan air mata.
-

Kelenjar lakrimal utama terdiri atas : a. Bagian orbita berbentuk kenari, terletak di dalam fossa glandula lakrimalis di segmen temporal atas anterior orbita yang dipisahkan dari bagian palpebra oleh kornu lateralis muskulus levator palpebra. b. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat diatas segmen temporal forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara pada sekitar 10 lubang kecil, menghubungkan bagian orbita dan palpebra kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior.

Kelenjar lakrimal aksesorius


a. Kelenjar Krause

Terletak dibalik konjungtiva palbebra, antara fornix dengan ujung dari tarsal b. Kelenjar Wolfring
2

Terletak dekat batas atas dari permukaan tarsal superior dan sepanjang batas bawah tarsal inferior.

B. Bola Mata

1. Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu: 1. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus 2. Konjungtiva bulbi menutupi sclera
3. Konjungtiva forniks yang merupakan peralihan konjungtiva tarsal dengan

konjungtiva bulbi. Secara histologi, lapisan epitel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan
3

mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri atas sel-sel epitel skuamosa bertingkat. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus yang terbentuk mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan dispersi lapisan air mata prakornea secara merata. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.

2. Sklera Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar, yang hampir seluruhnya terdiri atas kolagen. Jaringan ini padat dan berwarna putih serta berbatasan dengan kornea di sebelah anterior dan duramater nervus opticus di posterior. Permukaan luar sklera 3. Kornea Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis: a. Epitel Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel polygonal di depannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan b. Membran bowman

Terletak di bawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Membran bowman tidak mempunyai daya regenerasi c. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. d. Membrane descement Merupakan membrane aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya, bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempuyai tebal 40m. e. Endotel Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besarnya 20-40 m. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjdai edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. 4. Retina Retina melapisi dua pertiga dinding bagian dalam bola mata. Retina terdiri dari 10 lapisan dimulai dari sisi dalam keluar sebagai berikut: 1. Membran limitans retina 2. Lapisan serat saraf 3. Lapisan sel ganglion 4. Lapisan pleksiform dalam

5. Lapisan nukleus dalam


6. Lapisan pleksiform luar, merupakan lapis aselular dan merupakan tempat

sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.


7. Lapisan nukleus luar, merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang

8. Membran limitan eksterna


9. Lapisan fotoreseptor, terdiri dari sel batang dan sel kerucut. 10.

Epitelium pigmen retina.

Epitelium pigmen retina adalah suatu lapisan sel poligonal yang teratur, ke arah ora serrata bentuk selnya menjadi lebih gepeng. Inti sel berbentuk kuboid dengan sitoplasmanya kaya akan butir-butir melanin. Fungsi epitel pigmen adalah 1. Menyerap cahaya dan mencegah terjadinya pemantulan. 2. Berperan dalam nutrisi fotoreseptor 3. Penimbunan dan pelepasan vitamin A 4. Berperan dalam proses pembentukan rhodopsin Lapisan batang dan kerucut mengandung 2 jenis sel fotoreseptor yaitu sel batang dan sel kerucut yang merupakan modifikasi sel saraf. Lapisan ini mengandung badan sel batang dan kerucut. Sel batang merupakan sel khusus yang ramping dengan segmen luar berbentuk silindris dengan panjang 28 mikrometer mengandung fotopigmen rhodopsin dan suatu segmen dalam yang sedikit lebih panjang yaitu sekitar 32 mikrometer. Keduanya mempunyai ketebalan 1,5 mikrometer. Inti selnya terletak di dalam lapisan inti luar. Ujung segmen luar tertanam dalam epitel pigmen. Segmen luar dan dalam dihubungkan oleh suatu leher yang sempit. Dengan mikroskop electron segmen luar tampak mengandung banyak lamel-lamel membran dengan diameter yang seragam dan tersusun seperti tumpukan kue dadar. Sel batang ini di sebelah dalam membentuk suatu simpul akhir yang mengecil pada bagian akhirnya pada lapisan pleksiform
6

luar yang disebut sferul batang (rod spherule). Sel batang yang hanya teraktivasi dalam keadaan cahaya redup (dim light) sangat sensitive terhadap cahaya. Sel ini dapat menghasilkan suatu sinyal dari satu photon cahaya. Tetapi sel ini tidak dapat menghasilkan sinyal dalam cahaya terang (bright light) dan juga tidak peka terhadap warna. Cahaya yang masuk ke dalam retina diserap oleh rhodopsin, suatu protein yang tersusun dari opsin (protein transmembran) yang terikat pada aldehida vitamin A. Penyerapan cahaya ini akan menyebabkan isomerisasi rhodopsin dan memisahkan opsin dari ikatannya dengan aldehida vitamin A menjadi opsin bentuk aktif. Opsin bentuk aktif kemudian memfasilitasi pengikatan guanosin triphosphate (GTP) dengan protein transducin. Kompleks GTP-transducin ini kemudian mengaktifkan ensim cyclic guanosin monophosphate phosphodiesterase suatu ensim yang berperan dalam pembentukan senyawaan cyclic guanosin monophosphate (cGMP). Siklik guanosin monophosphate (cGMP) ini berperan dalam pembukaan kanal natrium di dalam plasmalema sel batang dan menyebabkan masuknya natrium dari segmen luar sel batang menuju ke segmen dalam sel batang. Keadaan ini akan menyebabkan hiperpolarisasi di segmen dalam sel batang dan merangsang dilepaskannya neurotransmitter dari sel batang menuju ke sel bipolar. Oleh sel bipolar rangsang kimiawi ini dirubah menjadi impuls listrik yang akan diteruskan menuju ke sel ganglion untuk selanjutnya dikirim ke otak. Sel-sel batang dan kerucut dilapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsang cahaya menjadi impuls saraf yang dihantarkan lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus hingga akhirnya kekorteks penglihatan. Pada retina perifer, makula pada retina berfungsi umtuk penglihatan sentral dan warna (fotopik) sedangkan bagian lainnya yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik). Penglihatan siang hari diperantarai oleh fotoreseptor kerucut, pada waktu senja kombinasi sel kerucut dengan batang dan penglihatan malam hari diperantarai oleh fotoreseptor batang.

1.2.

Lapisan (Film) Air Mata7,13


7

Lapisan atau film air mata normal dari luar ke dalam terdiri dari lapisan lipid, lapisan aqueous, lapisan lipid.
a. Lapisan lipid. Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang dihasilkan dari kelenjar

meibomian, zeis, dan moll. Lapisan ini mencegah air mata yang berlebihan, menghambat terjadinya evaporasi dan melubrikasi kelopak mata saat bergerak.
b. Lapisan aqueous. Lapisan ini merupakan penghasil terbesar film ar mata yang

mengandung air mata yang berasal dari kelenjar lakrimal utama dan kelenjar aksesorius dan berfungsi untuk menyediakan nutrisi bagi kornea yang avaskular, membantu dalam menyingkirkan kotoran ataupun debris dan melindungi permukaan bola mata dari bakteri ataupun antigen lainnya. Air mata mengandung air dan sejumlah kecil sodium klorida, gula, urea, protein, alkalin. Selain itu juga mengandung antibakterial seperti lisozim, betalysin, dan laktoferrin.
c. Lapisan mukus (musin). Lapisan ini dihasilkan oleh sel goblet dan kelenjar Manz.

Lapisan ini berfungsi untuk membentuk lapisan pelindung hidrofilik tipis bagi permukaan kornea, membasahi permukaan bola mata, dan mencegah mata permukaan bola mata menjadi kering.

1.3. Penyakit pada Konjungtiva


1.3.1.

Konjungtivitis4,8,12,14

Konjuntivitis dapat dibedakan berdasarkan penyebab dan keadaan klinisnya. Berdasarkan penyebabnya antara lain: - Konjungtivitis infeksi a. Konjungtivitis bakteri b. Konjungtivitis klamidia c. Konjungtivitis viral d. Konjungtivitis jamur e. Konjungtivitis parasit - Konjungtivitis alergi

- Konjungtivitis akibat penyakit autoimun

a.

Keratokonjungtivitis sika sika merupakan suatu keadaan keringnya

Keratokonjungtivitis

permukaan kornea dan konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan:

Gangguan produksi air mata Defisiensi komponen musin Gangguan fungsi kelopak mata Epiteliopati pada kornea Pemfigoid sikatrikal

b.

- Konjungtivitis iritatif - Keratokonjungtivitis karena sebab yang tidak diketahui a. b. c. d. Folikulosis Konjungtivitis folikular kronik Psoriasis Sindrom steven johnson

Berdasarkan keadaan klinisnya antara lain:


- Konjungtivitis mukopurulen

- Konjungtivitis purulen akut - Konjungtivitis serosa - Konjungtivitis simpel kronis - Konjungtivitis angular - Konjungtivitis pseudomembran - Konjungtivitis papil

- Konjungtivitis folikular - Oftalmia neonatorum - Konjungtivitis granulomatosa - Konjungtivitis ulseratif - Konjungtivitis sikatriks

1.3.2.

Kondisi simptomatik pada konjungtiva8

a. Konjungtiva hiperemis b. Kemosis Konjungtiva c. Ekimosis Konjungtiva d. Xerosis Konjungtiva Merupakan suatu kondisi dimana konjungtiva menjadi kering dan kusam. Konjungtiva normal dipertahankan kelembabannya dari sekresi kelenjar aksesorius. Berdasarkan etiologi, xerosis dibagi menjadi 2 golongan yaitu: - Parenkimatosa xerosis Gangguan ini muncul mengikuti Pembentukan sikatriks yang dapat disebabkan antara lain oleh adanya destruksi pada konjungtivitis interstitial yang dapat dilihat pada penyakit trakoma, konjungtivitis membranosa diphteri, SJS, pempfigus atau konjungtivitis pemfigoid - Epitelial xerosis Timbul akibat adanya hipovitaminosis A. gejala xerosis dapat dilihat bersamaan dengan gejala buta senja. Pengobatan dapat diberikan preparat air mata buatan (0.7% metilseluosa atau 0.3% hipromelosa atau polvinil alkohol) e. Diskolorisasi konjungtiva

10

1.4. Keratitis
A. Definisi Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lapis kornea yang terkena seperti keratitis superficial dan profunda atau berdasasrkan penyebabnya yaitu keratitis karena berkurangnya sekresi air mata, keracunan obat, reaksi alergi pada pemberian obat topikal dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun.4 Pada keratitis sering timbul sakit akibat kornea bergesekan dengan palpebra. Karena kornea berfungsi sebagai media refraksi dan media pembiasan sinar yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama bila lesi terletak di sentral. Fotofobia terutama disebabkan oleh iris yang meradang. Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau dan merasa ada yang mengganjal atau kelilipan.4 B. Klasifikasi 4,15,17 Klasifikasi keratitis berdasarkan terbentuknya ulkus, sebagai berikut: a. Ulserasi Kornea 1. Berdasarkan lokasi - Ulkus sentral - Ulkus perifer Yang termasuk dalam ulkus kornea perifer salah satunya adalah ulkus korna akibat defisiensi vitamin A. ulkus korna tipikal pada avitaminosis A trletak disntral dan bersifat bilatral, berwarna kelabu, indolen dan disertai dengan hilangnya kilau kornea. Selain itu, kornea juga melunak dan mengalami nekrotik (disebut keratomalasia), sering timbul perforasi, terbentuknya gambaran bercak bitot. Kekurangan vitamin A akan menyebabkan perubahan sistem imun meliputi fungsi barier sehingga terjadi perubahan metaplasia skuamosa dan keratinisasi serta perubahan membran mukosa yang normal pada konjungtiva, saluran pernapasan dan saluran urogenital. 2. Berdasarkan purulensi
11

- Ulkus purulen - Ulkus non purulen 3. Sehubungan dengan hipopion - Ulkus simpel - Ulkus hipopion 4. Berdasarkan kedalaman ulkus - Ulkus perifer - Ulkus dalam - Ulkus dikuti dengan perforasi - Perforasi ulkus b. Non-ulserasi Kornea 1. Keratitis superfsial - Keratitis difusa superfisial
- Keratitis pungtata superfisial4

Gambaran: infiltrat halus berupa titik-titik putih pada permukaan kornea. Dapat disebabkan karena sindrom dry eye, blefaritis, keratopati lagoftalmus, keracunan obat topikal, pemakaian lensa kontak, dll.
2. Keratitis letak dalam

- non supuratif o Keratitis interstitial


o Keratitis disiformis

o Keratitis Profunda
o Keratitis sklerotikan

- supuratif o Abses sentral kornea o Abss kornea posterior Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebabnya yaitu: 1. keratitis infeksi - Bakteri - Virus - Jamur - Klamidia - Protozoa
12

- spirochaeta 2. keratitis alergi - keratitis Phlyctenular - keratitis vernal - keratitis atopik 3. keratitis tropik
- keratitis pajanan

- keratitis neuroparalitik
- keratomalasia17

pada gangguan ini terjadi kerusakan lapisan stroma. Gangguan yang terjadi berpa kornea yang melunak, nekrotik dan sering timbul perforasi - ulkus ateroma 4. 5. 6. 7. keratitis terkait dengan penyakit kulit dan membran mukus keratitis terkait dengan gangguan vaskular dan kolagen keratitis akibat trauma keratitis idiopatik

1.5. Penyakit pada Retina


1.5.1.

Penyakit pada Makula9

a. Degenerasi makula terkait dengan usia

b. Degenerasi makula noneksudatif c. Degenerasi makula eksudatif d. Korioretinopati serosa sentralis e. Edema makula f. Gangguan peradangan yang mengenai makula
g. Angioid streaks/coreng angioid h. Degenerasi makula miopik

i. Membran makula epiretina

13

j. Makulopati traumatik k. Distrofi makula


1.5.2.

Penyakit Retina Perifer9

a. Ablasio retina b. Retinopati prematuritas c. Degenerasi retina - Retinitis pigmentosa Penyakit ini merupakan gangguan herediter yang ditandai denga disfungis progresif fotoreseptor terutama sel batang. Gejala pada RP antara lain buta senja dan gangguan lapangan pandang. - Amourosis kongenital leber - Atrofi girata - Atrofi korioretina perifer - Degenerasi lattice
1.5.3.

Penyakit Pembuluh Retina9

a. Retinopati diabetes

b. Sumbatan arteri retina sentralis c. Sumbatan sumbatan retina cabang d. Sumbatan vena retina sentralis e. Sumbatan vena retina cabang f. Makroaneurisma retinol retina
1.5.4.

Defek Penglihatan Warna9

Defek penglihatan warna dapat bersifat kongenital atau didapat. Defek penglihatan warna yang bersifat kongenital umumnya mengenai kedua mata
14

dengan tingkat keparahan yang setara sedangkan defek yang didapat, tingkat keparahan umumnya tidaka setara natara mata satu dengan yang lainnya.
1.5.5.

Tumor Intraokular9

a. Tumor jinak primer Contohnya anatara lain angioma retina dan hamartoma astrositik b. Tumor ganas primer Contohnya adalah retinoblastoma, yang umumnya terjad pada anak-anak.

2.

Vitamin A
Vitamin A diperoleh dari asupan makanan yang mengandung vitamin A. Terdapat 3 bentuk vitamin A yang penting bagi tubuh yaitu retinol, beta karoten, dan karotenoid. Dalam tubuh retinol merupakan bentuk dominan dari vitamin A. Begitu diserap dalam saluran pencernaan, vitamin A dibawa ke hati untuk disimpan.10 Saat dibutuhkan, vitamin A akan dilepas dalam bentuk retinol yang akan berikatan dengan protein, bentuk dari ikatan tersebut disebut juga retinol binding protein (RBP). RBP nantinya akan berikatan dengan sel-sel reseptor yang dituju kemudian protein akan melepaskan retinol ehingga dapat masuk kedalam sel yang dituju.17 Pada proses penglihatan vitamin A berperan dalam kerja retina, pembentukan cairan yang melapisi permukaan bola mata, serta dalam pertumbuhan sel-sel epitel.10 Vitamin A berperan sebagai retinal (retinene) yang merupakan komponen dari zat penglihat rhodopsin. Rhodopsin ini mempunyai bagian protein yang disebut opsin yang menjadi rhodopsin setelah bergabung dengan retinene. Rhodopsin merupakan zat yang dapat menerima rangsang cahaya dan mengubah energi cahaya menjadi energi biolistrik yang merangsang indera penglihatan. Rhodopsin terdapat pada bagian batang (rods) dari sel-sel retina. Dalam cones (kerucut) terdapat zat sejenis yang komponen proteinnya berbeda dengan opsin; zat penglihat yang terdapat di dalam cones disebut porphyropsin.1

15

3.

Diagnosa pada pasien xerophtalmia


Diagnosa pada pasien dengan xeroftalmia, diagnosa ditegakkan melalui: 1. Anamnesis Keluhan pada pasien umumnya tergantung pada tahap mana gejala yang dialami, gambaran klinis yang dapat dilihat. Perlu juga dilakukan evaluasi riwayat pasien secara teliti.
2. Pemeriksaan Fisik

Diagnosa xeroftalmia juga dapat diperoleh dari gambaran klinis yang dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik pasien yaitu keadaan dari mata pasien saat ini.
3. Pemeriksaan laboratorium10

- Pemeriksaan serum retinol dengan kromatografi.


- Total retinol binding protein (RBP), namun nilainya kurang akurat karena

dipengaruhi oleh serum protein - Kadar albumin untuk mengukur kadar vitamin A secara tidak langsung - Pemeriksaan darah rutin untuk menilai kemungkinan adanya anemia, dan infeksi
4. Tes adaptasi gelap5,18

Tes dilakukan pada pasien yang sebelumnya mendapat penyinaran terang, dilihat kemampuan melihatnya setelah sekitarnya digelapkan dan perlahan-lahan dinaikkan intensitas sumber sinarnya.
5. Sitologi impresi konjungtiva18

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui abnormalitas dari lapisan epitel.


6. Pemeriksaan Stabilitas film air mata (Tear Film Break Up Time)8,19

Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan kadar musin dalam cairan air mata. Kekurangan musin berakibat tidak stabilnya lapisan air mata yang mengakibatkan lapisan tersebut mudah pecah. Hal ini mengakibatkan terbentuk Bintik-bintik kering dalam film air mata (meniskus) sehingga epitel kornea atau konjungtiva terpajan ke
16

dunia luar. Proses ini akhirnya akan merusak sel-sel epitel yang dapat diperiksa dengan bengal rose. Prosedur pemeriksaan yaitu:19 - fluorescein 2% atau strip fluorescein yang dibasahi dengan saline ditanamkan pada fornix posterior - pasien diminta untuk mengedipkan mata beberapa kali - kemudian pasien diminta untuk menahan mata agar tidak berkedip
- Lapisan air mata diperiksa dengan sinar luas dan filter cobalt pada slitlamp, setelah

beberapa waktu muncul black spot atau garis yang muncul pada lapisan yang terwarna fluoresen, dimana hal ini mengindikasikan pembentukan area yang kering. - TBUT merupakan interval antara kedipan terakhir hingga munculnya dry spot pertama yang letaknya acak.
7. Pemeriksaan kornea8

a. Pemulasan Fluorescein Pemeriksaan dengan cara menyentuh konjungtiva dengan kertas kering berfluorescein. Pemeriksaan dilakukan sebagai indikator derajat basahnya mata dan untuk melihat meniskus air mata. Pemeriksaan dengan menempelkan kertas saring pada konjungtiva kemudian meneteskan 1 tetes saline untuk mensaturasi pewarnaan. Fluorescein akan memulas daerah-daerah erosi dan terluka selain defek mikroskopis epitel kornea. b. Pemulasan Bengal Rose Pulasan bengal rose 1% memulas sel-sel epitel yang konjungtiva dan kornea yang mati, terganggu dan juga sel-sel yang sehat yang tidak dilapisi oleh musin secara adekuat dari daerah kornea.. Kerugian dari pemeriksaan ini umumnya zat bengal rose menyebabkan iritasi. c. Pemulasan lissamine hijau Pemulasan lissamine hijau memiliki fungsi yang sama dengan bengal rose, namun pulasan ini tidak nyata menimbulkan iritasi seperti bengal rose.
17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

18

2.1. Xeroftalmia
A. Definisi Xeroftalmia adalah istilah yang menerangkan gangguan kekurangan vitamin A termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang dapat berakibat kebutaan. Xeroftalmia berasal dari bahasa Yunani (xeros=kering; Opthalmos=mata) yang berarti kekeringan pada mata akibat mata gagal memproduksi air mata atau yang dikenal dengan dry eye yang mengakibatkan konjungtiva dan kornea kering.3

B. Etiologi Penyebab terjadinya xeroftalmia adalah karena kurangnya Vitamin A. Factor-faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia: 1. Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup Vitamin A atau Pro Vitamin A untuk jangka waktu yang lama 2. 3. Bayi tidak diberikan ASI eksklusif Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, protein, Zn/seng atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan Vitamin A dan penyerapan Vitamin A dalam tubuh 4. Adanya gangguan penyerapan Vitamin A atau Pro Vitamin A seperti pada penyekit-penyakit antara lain, diare kronik, KEP dan lain-lain. 5. Adanya kerusakan hati seperti pada kwashiorkor dan hepatitis kronis, menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan prealbumin yang penting dalam penyerapan Vitamin A.

C. Klasifikasi

Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982) yaitu:


- XN (Rabun Senja)1 19

Terjadi akibat gangguan pada retina sehubungan dengan adanya defisiensi vitamin A. Dari sudut fungsi terjadi hemeralopia atau nictalopia yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam (kotokan) yaitu ketidaksanggupan melihat pada cahaya remang-remang. Disebut buta senja karena terjadi bila sore hari (senja) anak masuk dari luar (cahaya terang) ke serambi rumah (cahaya remang-remang).
- X1A (Xerosis Konjungtiva)16,17,20,22

Umumnya tahap ini selalu diikuti dengan xerosis kornea. Xerosis terjadi akibat proses keratinisasi lapisan superfisial epitel tanpa sel goblet yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Manifestasi klinis: Daerah konjungtiva tampak kering dan kusam. Xerosis umumnya berhubungan dengan penebalan, pengeriputan, dan pigmentasi pada konjungtiva. Xerosis biasanya terjadi pada konjungtiva bulbi di daerah celah kelopak kantus eksternus. Bila mata digerakkan akan terlihat lipatan yang timbul pada konjungtiva bulbi.

- X1B (Bercak Bitot / bitots spot)4,16,22

Merupakan suatu lapisan putih ireguler seperti sabun atau busa yang menutupi lesi xerosis konjungtiva terdiri dari deskuamasi epitel yang mengalami proliferasi dan keratinisasi disertai dengan pertumbuhan bakteri (seperti corynobacterium xerosis) tanpa disertai sel goblet. Manifestasi klinis: Terdapat bercak putih kekuningan seperti busa atatu sabun yang umumnya bilateral dengan letak temporal ke arah limbus.

20

http://motherchildnutrition.org/picture - X2 (Xerosis Kornea)4,16,17,22

Xerosis kornea yaitu adanya keratopati pungtata superfisisal yang terjadi akibat kekeringan pada daerah kornea. Pada pasien dengan xerosis kornea yang parah umumnya diikuti dengan defisiensi protein. Manifestasi klinis: Pada mata pasien yang tampak berupa kekeruhan pada kornea akibat adanya lapisan keratin. Kekeruhan akan lebih tampak jelas ketika mata di tahan untuk berkedip karena pada saat itu film air mata mempunyai waktu untuk menjadi kering sehingga dapat memperlihatkan lapisan dibawahnya.
- X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,22

Mengenai kurang dari sepertiga dari permukaan kornea. Manifestasi klinis: Pada tahap ini mulai terjadi kerusakan lapisan stroma pada kornea yang umumnya dari daerah inferior ke daerah sentral.
- X3B (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,20,22

Mengenai lebih dari sepertiga dari permukaan kornea. Kerusakan lapisan sroma pada tahap ini umumnya dapat menyebabkan kebutaan. Manifestasi klinis: Pada stadium ini mulai terlihat nekrosis pada kornea disertai dengan vaskularisasi kedalamnya. Manifestasi klinis berupa ulserasi yang melebihi stadium sebelumnya atau edema pada kornea disertai dengan penonjolan disekitarnya, dapat juga terjadi luluhnya kornea dengan kompilt yang berakhir dengan stafiloma kornea atau ptisis.
- XS (Xeroftalmia Scar)4,16,20,22

Gejala sisa dari lesi kornea atau sikatriks kornea akibat dari proses perbaikan dari lapisan stroma yang bisa terletak di tepi ataupun di sentral. Manifestasi klinis: Kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil. Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik atau jaringan parut.

21

http://webeye.ophth.uiowa.edu.com/picture - XF (Xeroftalmia Fundus)4,16

Fundus xeroftalmia atau disertai kelainan fundus xeroftalmia yaitu dimana pada fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yang tersebar dalam retina, umumnya terdapat di tepi sampai arkade vaskular temporal. Pada bagian ini hanya dapat diamati dengan funduskopi

Gambar 5 D. Epidemiologi6,20

Xeroftalmia merupakan salah satu dampak dari kekurangan vitamin A yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan - 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk akibat kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG) sehingga asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. 15-25% anak yang menderita KVA mengalami kebutaan total dan 58-60% mengalami buta sebagian. Anak yang menderita KVA mudah sekali terserang infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, diare dan infeksi lain karena daya tahan anak tersebut menurun. Namun masalah KVA dapat juga terjadi pada keluarga dengan penghasilan cukup karena kurangnya pengetahuan orang tua / ibu tentang gizi yang baik ataupun gangguan penyerapan di saluran cerna. Sampai saat ini masalah KVA di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang

22

serius. Survei menunjukkan bahwa 50% balita masih menderita KVA Sub Klinis (serum retinol < 20 ug/dl). Pada tahun 1994 Pemerintah Indonesia mendapat penghargaan Helen Keller Award, karena mampu menurunkan prevalensi xeroftalmia sampai 0,3%. Keberhasilan tersebut berkat program penanggulangan KVA dengan suplemen kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI (merah) sebanyak 2 kali setahun pada bulan Februari dan Agustus yang ditujukan kepada anak balita (1-5 tahun) dan 1 kapsul pada ibu nifas (< 30 hari sehabis melahirkan). Setelah tahun 1997 kemudian sasaran diperluas kepada bayi umur 6 11 bulan dengan pemberian kapsul vitamin A dosis 100.000 SI (biru). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 dimana terjadi peningkatan kasus gizi buruk di berbagai daerah mengakibatkan masalah KVA muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi antara lain dari NTB dan Sumatera Selatan menunjukkan munculnya kembali kasus Xeroftalmia mulai dari tingkat ringan sampai berat.

E. Patofisiologi1,2

Gejala kekeringan mata pada defisiensi vitamin A yang disebut xeroftalmia berturutturut terdiri atas buta senja, xerosis conjunctiva dan xerosis kornea yaitu kekeringan epitel biji mata dan kornea karena sekresi glandula lacrimalis menurun. Kornea kemudian mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak disebut keratomalasia dan dapat mengakibatkan kebutaan. Pada penyembuhan luka kornea ini dapat terjadi luka parut yang terdiri atas jaringan yang tidak tembus cahaya. Luka parut ini kadangkadang membonjol keputihan (atau kemerahan) disebut leucoma (biji kapas). Terdapat kelainan pada sklera di sebelah lateral dari kornea yang disebut bercak Bitot. Kelainan ini tampak sebagai kumpulan gelembung-gelembung busa sabun yang dapat dihapus dengan kapas dan meninggalkan epitel kering dengan pigmen kecoklatan. Xeroftalmia dibagi dalam 4 stadium yaitu stadium I (hemeralopia), stadium II (xerosis konjungtiva dengan atau tanpa hemeralopia dengan atau tanpa bercak Bitot), stadium III (stadium II ditambah xerosis kornea dan sering disertai ulkus kornea), stadium IV (keratomalasi). Pada stadium III dapat timbul ulkus kornea dan pada stadium IV kornea menjadi lembek seperti bubur berwarna keputih-putihan dan mudah
23

mengalami perforasi. Umumnya keratomalasia timbul pada anak dengan defisiensi vitamin A kronis yang menderita campak atau penyakit berat lainnya. Penderita xeroftalmia sering juga ditemukan pada penderita malnutrisi energi protein. Ciri histopatologis dari xeroftalmia berupa timbulnya bintik-bintik kering pada epitel kornea dan konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet konjungtiva, pembesaran abnormal sel epitel non-goblet, peningkatan stratifikasi sel, dan peningkatan keratinisasi.

F. Gejala dan Manifestasi Klinis Xeroftalmia merupakan suatu kelainan pada mata yang terjadi akibat defisiensi vitamin A. Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama. Gejala paling sering yang dikeluhkan adalah sensasi tergores (scratchy) atau berpasir. Gejala umum lainnya adalah gatal, sektersi mucus berlebih, ketidakmampuan menghasilkan ait mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, kemerahan, sakit, dan sulit menggerakkan papebra. Pada kebanyakan pasien, manifestasi klinik yang dijumpai adalah tampilan mata yang secara kasar tampak normal. Namun pada pemeriksaan slit lamp ditemukan terputus atau tiadanya meniscus air mata di tepian palpebral inferior. Benang-benang mucus kental kekuningan kadang-kadang terlihat dalam fornix konjungtiva inferior. Pada konjungtiva bulbaris tidak Nampak kilauan yang normal dan mungkin menebal, edema dan hiperemis. Epitel kornea menunjukkan bercak-bercak pungtata halus di fissure interpalpebra dalam berbagai derajat. Gejala klinik pada pasien dengan xeroftalmia dapat dibagi 2:6
- Gejala reversible o

Xerosis konjungtiva: Pada stadium ini penderita merasakan tidak dapat melihat di sore hari disertai rasa tidak nyaman pada mata seperti terasa panas.

24

Xerosis kornea: Pada tahap ini perkembangan dari gangguan akibat defisiensi vitamin A diantaranya pandangan mata menjadi kabur, penglihatan pasien menurun pada ruangan terang dan pasien melihat halo pada sekitar objek.

o Bercak Bitot: benjolan yang berupa endapan kering dan berbusa yang berwarna abu-keperakan berisi sisa-sisa epitel konjungtiva yang rusak
- Gejala irreversible seperti ulserasi kornea dan sikatrik

Mengenai lebih dari sepertiga dari permukaan kornea. Kerusakan lapisan sroma pada tahap ini umumnya dapat menyebabkan kebutaan. Gejala klinis: Pada tahap ini pasien tidak dapat melihat apapun (total blindness). G. Diagnosa
8. Manifestasi Klinis8,14

Gejala yang dialami pasien berbeda beda, di antara nya buta senja, mata kering, seperti tergores, kelilipan, gatal, sakit, mata merah, sensasi terbakar hingga gangguan penglihatan dengan gambaran klinis yang dapat dilihat seperti kekeruhan pada kornea. Diagnosa juga ditegakkan dengan evaluasi riwayat pasien secara teliti sehubungan dengan adanya penyakit yang menyertai atau mendasari defisiensi vitamin A maupun dari hasil pemeriksaan fisik pada mata yang terlihat.
9. Pemeriksaan Fisik

Dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk, penyakitinfeksi, dan kelainan fungsi hati. Yang terdiri dari : - Antropometri: Pengukuran berat badan dan tinggi badan - Penilaian Status gizi - Periksa matanya apakah ada tanda-tanda xeroftalmia.

25

- Kelainan pada kulit : kering, bersisik


10. Pemeriksaan laboratorium20,21 -

Pemeriksaan serum retinol dengan kromatografi pada keadaan defisiensi protein maupun infeksi didapatkan kadar serum vitamin A umumnya akan menurun dengan nilai serum retinol < 20 ug/dl.

Total retinol binding protein (RBP). Pemeriksaan dilakukan dengan imunologik assay. RBP merupakan komponen yang lebih stabil dari retinol namun nilainya kurang akurat karena dipengaruhi oleh serum protein

Kadar albumin < 2.5 mcg/dl pada penderita xeroftalmia Pemeriksaan darah rutin untuk menilai kemungkinan anemia dan infeksi Skoring normal:21 Hematokrit: Laki-laki: 40% - 60%; Perempuan: 38% - 48% Hemoglobin (g/dl): Laki-laki: 13,5 18,0 ; Perempuan: 12 16 Trombosit (sel-sel x 106/dl): 150 350 Leukosit (sel-sel x 103/dl): 4,5 11,0

11. Tes adaptasi gelap5,18,20

Jika pasien menabrak sesuatu ketika cahaya diremangkan tiba-tiba di dalam ruangan maka kemungkinan pasien mengalami buta senja.
12. Sitologi impresi konjungtiva8,18

Dari pemeriksaan sitologi konjungtiva didapatkan keberadaan sel goblet dan selsel epitel abnormal yang mengalami keratinisasi. 13. Uji Schirmer, untuk menilai kuantitas air mata, menilai kecepatan

sekresi air mata dengan memakai kertas filter Whatman 41 bergaris 5 mm30 mm dan salah satu ujungnya berlekuk berjarak 5 mm dari ujung kertas . Kertas lakmus merah dapat juga dipakai dengan melihat perubahan warna. Perbedaan kertas lakmus dengan kertas filter hanya sedikit. Ratarata hasil bila memakai Whatman
26

41 adalah 12 mm (1 mm27 mm) sedangkan lakmus merah 10 mm (0 mm27 mm). a. Uji Schirmer I dilakukan tanpa anestesi topikal, ujung kertas berlekuk diinsersikan ke sakus konjuntiva forniks inferior pada pertemuan medial dan 1/3 temporal palpebra inferior. Pasien dianjurkan menutup mata perlahan lahan tetapi sebagian peneliti menganjurkan mata tetap dibuka dan melihat keatas. Lama pemeriksaan 5 menit dan diukur bagian kertas yang basah, diukur mulai dari lekukan. Nilai normal adalah 10 mm25 mm 11, 10 mm30 mm 12 b. Uji Schirmer II dengan penetesan anestesi topikal untuk menghilangkan efek iritasi lokal pada sakkus konjuntiva. Kemudian syaraf trigeminus dirangsang dengan memasukkan kapas lidi kemukosa nasal atau dengan zat aromatik amonium, maka nilai schirmer akan bertambah oleh adanya reflek sekresi. Pemeriksaan ini yang diukur adalah sekresi basal karena stimulasi dasar terhadap refleks sekresi telah dihilangkan. 14. Pemeriksaan osmolaritas air mata, air mata mempunyai osmolaritas 302 + 6,3 mOsm/l pada individu normal, pada KCS osmolaritas air mata meningkat antara 330 dan 340 mOsm/l karena penurunan aliran dan peningkatan evaporasi dari air mata. Osmolaritas air mata mempunyai sensitivitas 90 % dan spesifisitas 95 %, sayang besarnya biaya dan terbatasnya mikroosmolmeter untuk mengukur osmolaritas air mata mempunyai kegunaan klinis yang terbatas.
15. Pemeriksaan Stabilitas film air mata (Tear Film Break Up Time)8,18,19

Pada pasien xeroftalmia kekurangan musin berakibat tidak stabilnya lapisan air mata yang mengakibatkan lapisan tersebut mudah pecah. Hal ini mengakibatkan terbentuk Bintik-bintik kering dalam film air mata (meniskus) sehingga epitel kornea atau konjungtiva terpajan ke dunia luar. Pada tes ini akan positif didapatkan sel epitel yang rusak dilepaskan dari kornea sehingga meninggalkan daerah-daerah yang kecil yang dapat dipulas dan daerah tersebut akan tampak jika dibasahi flourescein Pada mata normal, TBUT sekitar > 15 detik dan berkurang pada penggunaan anastetik lokal, manipulasi mata atau dengan menahan palbebra tetap terbuka.
27

Pasien dengan TBUT kurang dari 3 detik dklasifikasikan dalam mata kering. Jika terdapat defisiensi air, maka film air mata akan tampak lebih tipis.
16. Pemeriksaan kornea8

d.

Pemulasan Fluorescein

Pada pasein xeroftalmia fluorescein akan didapatkan positif daerah-daerah erosi dan terluka epitel kornea. e. Pemulasan Bengal Rose

Pulasan bengal rose 1% didapatkan sel-sel epitel konjungtiva dan kornea yang mati yang tidak dilapisi oleh musin secara adekuat dari daerah kornea. f. Pemulasan lissamine hijau

Pemulasan lissamine hijau memiliki fungsi yang sama dengan bengal rose. Didapatkan hasil positif sel-sel epitel yang mati pada penderita xeroftalmia.

H. Penatalaksanaan 1. Pencegahan Xeroftalmia disebabkan oleh defisiensi vitamin A dan sering dialami pada anak. 15-25% defisiensi vitamin A menyebabkan kebutaan total pada anak dan 58-60% menyebabkan buta sebagian. Karenanya untuk meminimalkan resiko terjadinya xeroftalmia pencegahan yang dapat kita lakukan antara lain: a. Pendekatan jangka pendek

Pemberian vitamin A dosis tinggi secara berkala. < 6 bulan dan tidak memperoleh ASI: pemberian vitamin A 50.000 IU sebelum bayi menginjak umur 6 bulan 6-12 bulan:

28

Pemberian vitamin A 100.000 IU tiap 3-6 bulan 1-6 tahun: Pemberian vitamin A 200.000 IU dalam bentuk kapsul berbasis minyak diberikan setiap 4-6 bulan Ibu menyusui: Pemberian vitamin A satu kali sebanyak 20.000 IU setelah melahirkan atau 2 bulan setelahnya b. Pendekatan jangka menengah

Fortifikasi makanan dengan vitamin A seperti penambahan pada susu dan mentega c. Pendekatan jangka panjang

Meningkatkan pemberian makanan yang banyak mengandung vitamin A. Terdapat 2 jenis makanan yang mengandung vitamin A yaitu: Vitamin A yang berasal dari derivat hewani yang disebut retinol merupakan suatu preformed vitamin A yang dapat langsung digunakan oleh tubuh kita. Contohnya antara lain hati sapi atau ayam, minyak ikan, susu, keju dan telur.

Vitamin A yang berasal dari buah-buahan ataupun sayuran termasuk dalam bentuk provitamin A atau beta karoten yang nantinya akan dikonversi menjadi retinol setelah masuk saluran pencernaan.contohnya antara lain wortel, tomat, mangga, kentang manis, bayam dan sayuran hijau lainnya.

2. Pengobatan Secara garis besar pengobatan xeroftalmia tebagi menjadi 4 hal yaitu: a. Memberi makanan TKTP (tinggi kalori tinggi protein)

29

Umumnya penderita xeroftalmia merupakan penderita PEM karena itu diperlukan pendapat ahli gizi untuk memperbaiki gizi anak dan dalam membantu pengobatan penyakit infeksi yang diderita. b. Mengobati penyakit infeksi ataupun gangguan yang mendasarinya Umumya anak dengan defisiensi vitamin A diikuti dengan infeksi ataupun gangguan-gangguan lainnya diantaranya campak, penyakit paru, gangguan elektrolit, dehidrasi dan gastroentritis. Karenanya diperlukan juga pengobatan terhadap penyakit-penyakit infeksi yang diderita anak. c. Memberi vitamin A (dosis terapeutik) Pemberian vitamin A yang dilarutkan dalam minyak dapat diberikan oral sedangkan vitamin A yang dilarutkan dalam air dapat diberikan dalam bentuk injeksi. Vitamin A dapat diberikan dengan dosis total 50.000-75.000 IU/kgBB dengan dosis maksimal 400.000 IU. Pemberian vitamin A berdasarkan WHO dijadwalkan sebagai berikut: - Usia > 1 tahun: 200.000 IU secara oral atau 100.000 secara injeksi muskular perlu diberikan segera dan diulang esoknya atau 4 minggu kemudian. - Usia < 1 tahun atau berat badan < 8 kg: Diberikan dosis setengah dari pasien diatas 1 tahun - Wanita dalam usia reproduktif (baik hamil atau tidak): Pada wanita yang menderita rabun senja, bercak bitot hingga xerosis konjungtiva perlu diberikan vitamin A dengan dosis 100.000 IU secara oral setiap harinya selama 2 minggu. Sedangkan pada penderita dengan gangguan pada korneanya diberikan dosis vitamin A sesuai dengan dosis pada anak diatas 1 tahun d. Mengobati kelainan mata

30

Pada pasien dengan xeroftalmia terjadi kekeringan pada mata baik kornea maupun konjungtiva disertai dengan gangguan retina karena itu perlu diberikan terapi diantaranya:
-

Air mata buatan yang diberikan tiap 3-4 jam. Terdapat beberapa jenis air mata buatan diantaranya: o Derivat selulosa untuk kasus ringan
o Alkohol povinil meningkatakan persistensi lapisan air mata dan berguna

untuk defisiensi mukus o Sodium hyaluronat untuk perbaikan epitel kornea dan konjungtiva
o Ointment atau salep berguna sebagai pelumas jangka panjang dan dapat

diberikan sewaktu tidur. Telah terbukti aman dan efektif dalam membantu proses penyembuhan. Sayangnya penggunaan obat ini meninggalkan bekas. - Antibiotik berupa topikal maupun sistemik. Antibiotik topikal yang dapat diberikan seperti ciprofloxacin (0.3%) atau ofloxacin (0.3%). Sedangkan antibiotik sisitemik yang dapat diberikan seperti ciprofloxacin 750 mg dua kali dalam sehari atau sefalosporin.

BAB III DISKUSI


3.1. Kesimpulan
31

Xeroftalmia merupakan suatu kelainan pada mata yang terjadi akibat defisiensi vitamin A. Kekurangan vitamin A dapat terjadi pada semua umur akan tetapi kekurangan yang disertai pada kelaina pada mata umumnya terjadi pada anak berusia 6 bulan samapai 4 tahun dan sering ditemukan pada anak dengan PEM (protein energi malnutrisi).4 Gejala klinik yang ditemukan pada pasien xerophtalmia berupa gangguan retina berupa rabun senja hingga kekeringan yang terjadi pada konjungtiva dan kornea yang disebut juga xerosis. Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982), yaitu: - XN rabun senja, terjadi akibat gangguan pada retina sehubungan dengan adanya defisiensi vitamin A. - X1A xerosis konjungtiva, umumnya tahap ini selalu diikuti dengan xerosis kornea. Xerosis terjadi akibat adanya proses keratinisasi lapisan superfisial epitel tanpa sel goblet yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A. manifestasi klinis berupa daerah konjungtiva yang kering, dan tampak kusam. Xerosis umumnya berhubungan dengan penebalan, pengeriputan, dan pigmentasi pada konjungtiva. xerosis biasanya terjadi pada konjungtiva bulbi didaerah celah kelopak kantus eksternus. Bila mata digerakkan akan terlihat lipatan yang timbul pada konjungtiva bulbi. - X1B bercak bitot (bitots spots), merupakan suatu lapisan putih ireguler seperti sabun atau busa yang menutupi lesi xerosis konjungtiva, terdiri dari deskuamasi epitel yang mengalami proliferasi dan keratinisasi disertai dengan pertumbuhan bakteri (seperti corynobacterium xerosis) tanpa disertai sel goblet. - X2 xerosis kornea, yaitu adanya keratopati pungtata superfisisal yang terjadi akibat kekeringan pada daerah kornea. Manifestasi yang tampak berupa kekeruhan pada kornea akibat adanya lapisan keratin. Pada tahap ini, perkembangan dari gangguan akibat defisiensi vitamin A diantaranya pandangan mata menjadi kabur,
32

penglihatan pasien menurun pada ruangan terang, dan pasien melihat halo pada sekitar objek. Pada pasien dengan xerosis kornea yang parah umumnya diikuti dengan defisiensi protein. - X3A ulserasi kornea / keratomalasia yang mengenai kurang dari sepertiga dari permukaan kornea. Pada tahap ini mulai terjadi kerusakan lapisan stroma pada kornea yang umumnya dari daerah inferior ke daerah sentral. - X3B ulserasi kornea / keratomalasia yang mengenai lebih dari sepertiga dari permukaan kornea. Pada stadium ini mulai terlihat nekrosis pada kornea disertai dengan vaskularisasi kedalamnya. Kerusakan lapisan sroma pada tahap ini umumnya dapat menyebabkan kebutaan. - XS gejala sisa dari lesi kornea atau sikatriks kornea akibat dari proses perbaikan dari lapisan stroma yang bisa terletak di tepi tanpa mengganggu penglihatan ataupun di sentral yang dapat mengganggu. - XF Fundus xeroftalmia atau disertai kelainan fundus xeroftalmia yaitu dimana pada fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yang tersebar dalam retina, umumnya terdapat di tepi sampai arkade vaskular temporal. Terdapat 4 hal penting dalam penatalaksanaan xeroftalmia, yaitu: a. Memberi makanan TKTP (tinggi kalori tinggi protein) b. Mengobati penyakit infeksi ataupun gangguan yang mendasarinya c. Memberi vitamin A (dosis terapeutik) Pemberian vitamin A berdasarkan WHO dijadwalkan sebagai berikut: - Usia > 1 tahun:
33

200.000 IU secara oral atau 100.000 secara injeksi muskular perlu diberikan segera dan diulang esoknya atau 4 minggu kemudian. - Usia < 1 tahun atau berat badan < 8 kg: Diberikan dosis setengah dari pasien diatas 1 tahun - Wanita dalam usia reproduktif (baik hamil atau tidak): Pada wanita yang menderita rabun senja, bercak bitot, hingga xerosis konjungtiva, perlu diberikan vitamin A dengan dosis 100.000 IU secara oral setiap harinya selama 2 minggu. Sedangkan pada penderita dengan gangguan pada korneanya, diberikan dosis vitamin A sesuai dengan dosis pada anak diatas 1 tahun d. Mengobati kelainan mata - Air mata buatan, diberikan tiap 3-4 jam jika terdapat kekeringan pada mata Retinoic acid 0.1%, satu hingga tiga kali dalam sehari untuk membantu

proses penyembuhan. Namun penggunaan obat ini meninggalkan bekas.


-

Antibiotik, berupa topikal maupun sistemik jika terdapat xerosis kornea

ataupun ulkus kornea. 3.2. Saran Vitamin A mempunyai peran penting dalam fungsi penglihatan, metabolism umum, dan membantu dalam proses reproduksi. Karenanya sangat penting agar kadar vitamin A dalam tubuh terpenuhi dalam tubuh terutama bagi anak-anak diusia balita. Pada pasien yang sudah menderita xeroftalmia, pengobatan utama yang diperlukan adalah vitamin A dengan dosis sesuai dengan usia pasien dan apabila sudah terjadi kekeringan ataupun ulkus pada kornea maka diperlukan pengobatan tambahan sesuai dengan gangguan yang terjadi pada mata pasien.

34