Anda di halaman 1dari 11

PROMOSI KESEHATAN PADA PRA NIKAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Promosi Kesehatan Dosen : Hesty Widyasih, M.Keb

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alfi Syifa Darmastuti Claresta Dianita Putri Eki Noor Istiqomah Eliza Budi Purnasari Ihrom Fatma Saputri Nur Anisah R Ratri Mulatsih Riska Rahmawati (P07124111004) (P07124111008) (P07124111014) (P07124111015) (P07124111021) (P07124111027) (P07124111029) (P07124111033)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEBIDANAN 2012

A. MASALAH PENDIDIKAN Masalah pendidikan - Minimnya pendidikan seks -Informasi pendidikan seks yang kurang terpercaya Kebutuhan Penyuluhan pendidikan seks ke SMA-SMA oleh mahasiswa kebidanan Bentuk Promosi - Langsung -Tidak langsung Media -Leaflet, LCD -Poster

B. MASALAH SOSIAL

Masalah sosial 1. Perkosaan

2. Hamil diluar nikah

Kebutuhan Bentuk Promosi - Membuat -Langsung perkumpulan khusus remaja korban perkosaan seprovinsi - Mengadakan seminar dengan mengundang salah satu korban yang telah mampu bangkit dan sukses berkarya - Mengadakan training motivation - Membuat -Langsung prenatal class untuk ibu-ibu berkebutuhan khusus - Training motivation

Media -Konseling

- Konseling - Penyuluhan

C. MASALAH EKONOMI Masalah ekonomi 1. Pasangan belum bekerja Kebutuhan Membuat jaringan job fair nasional diutamakan untuk pria/wanita yang akan menikah (+ 2th lagi) - Membuat pelatihan-pelatihan keterampilan yang sesuai - Membuat home industry untuk remaja-remaja putus sekolah - Membuat koperasi untuk menyalurkan hasilnya Bentuk Promosi - Langsung - Tidak Langsung Media - LCD - Konseling - Iklan layanan masyarakat

2. Kebutuhan biaya hidup kurang

D. MASALAH PSIKOLOGI

Masalah mental dan psikologi Takut mandul, takut hamil, takut melahirkan

Kebutuhan - Mengadakan reproduction class - skrinning test/ general check up bagi wanita/pria usia subur - Seminar tentang reproduksi, gangguan dan cara menanganinya

Bentuk promosi langsung

Media Leaflet, LCD, Laptop, Video

E. MASALAH KESEHATAN Masalah kesehatan Kekurangan energi kronis Anemia Kebutuhan -Nutrisi yang cukup - Memiliki lahan untuk ditanami sayuran -Penyuluhan tentang pemenuhan kebutuhan energy -Konseling ibu dan keluarga -Penerimaan dan keikhlasan -ANC teratur Bentuk Promosi -Langsung -Tidak langsung Media - LCD - Leaflet - Buku -poster

Hamil diluar nikah umur <20 atau >35

Langsung

MATERI ANEMIA
Apa Anemia Itu? Anemia adalah kekurangan hemoglobin (Hb). Hb adalah protein dalam sel darah merah, yang mengantar oksigen dari paru ke bagian tubuh yang lain. Anemia menyebabkan kelelahan, sesak napas dan kepusingan. Kalau kita mengalami anemia, kita umumnya merasa badan kurang enak dibandingkan waktu Hb yang normal. Kita juga merasa lebih sulit untuk bekerja. Artinya mutu hidup kita jelas lebih rendah. Tingkat Hb diukur sebagai bagian dari tes darah lengkap (complete blood count/CBC). Lihat Lembaran Informasi (LI) 121 untuk informasi lebih lanjut tentang tes laboratorium ini. Anemia didefinisikan oleh tingkat Hb. Sebagian besar dokter sepakat bahwa tingkat Hb di bawah 6,5 menunjukkan anemia yang gawat. Tingkat Hb yang normal adalah sedikitnya 12 untuk perempuan dan 14 untuk laki-laki. Secara keseluruhan, perempuan mempunyai tingkat Hb yang lebih rendah dibandingkan lakilaki. Begitu juga dengan orang yang sangat tua atau sangat muda. Apa Penyebab Anemia? Sumsum tulang membuat sel darah merah. Proses ini membutuhkan zat besi, serta vitamin B12 dan asam folat. Eritropoietin (EPO) merangsang pembuatan sel darah merah. EPO adalah hormon yang dibuat oleh ginjal. Anemia dapat terjadi bila tubuh kita tidak membuat sel darah merah secukupnya. Anemia juga disebabkan kehilangan atau kerusakan pada sel tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anemia: Kekurangan zat besi, vitamin B12 atau asam folat. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan jenis anemia yang disebut megaloblastik, dengan sel darah merah yang besar berwarna muda (lihat LI 121) Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal Kehilangan darah akibat perdarahan dalam atau pada siklus haid perempuan Penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik)

Infeksi HIV dapat menyebabkan anemia. Begitu juga banyak infeksi oportunistik (lihat LI 500) terkait dengan penyakit HIV. Beberapa obat yang umumnya dipakai untuk mengobati HIV dan infeksi terkait dapat menyebabkan anemia. Anemia dan HIV Dahulu, anemia berat jauh lebih umum. Lebih dari 80% yang didiagnosis AIDS mengalami anemia dengan tingkat tertentu. Semakin lanjut penyakit HIV, atau semakin rendah jumlah CD4, lebih semakin mungkin munculnya anemia. Angka anemia menurun setelah Odha mulai memakai terapi antiretroviral (ART). Anemia berat jarang terjadi di negara maju. Namun ART belum memberantas anemia. Satu penelitian besar menemukan bahwa kurang lebih 46% pasien mempunyai anemia ringan atau sedang, walaupun sudah memakai ART selama satu tahun. Beberapa faktor yang berhubungan dengan angka anemia semakin tinggi pada Odha: Jumlah CD4 yang lebih rendah (lihat LI 124) Viral load yang lebih tinggi (lihat LI 125) Tingkat vitamin D yang lebih rendah Memakai AZT (lihat LI 411) Memakai pengobatan untuk hepatitis C (lihat LI 680) Pada perempuan Kelanjutan penyakit HIV kurang lebih lima kali lebih umum pada orang dengan anemia. Anemia juga dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Mengobati anemia tampaknya dapat menghapuskan risiko ini. Bagaimana Anemia Diobati? Mengobati anemia tergantung pada penyebabnya. Pertama, mengobati perdarahan kronis. Ini mungkin perdarahan dalam, wasir, atau bahkan sering mimisan Kemudian, memperbaiki kelangkaan zat besi, vitamin B12 atau asam folat, jika ada Berhenti memakai atau mengurangi takaran obat penyebab anemia Pendekatan ini mungkin tidak berhasil. Mungkin mustahil berhenti memakai semua obat yang menyebabkan anemia. Dua pengobatan lain adalah transfusi darah dan suntikan EPO.

Transfusi darah dahulu satu-satunya pengobatan untuk anemia berat. Namun, transfusi darah dapat membawa infeksi dan menekan sistem kekebalan tubuh. Transfusi darah tampaknya mengakibatkan kelanjutan penyakit HIV yang lebih cepat dan meningkatkan risiko kematian pada Odha. EPO (eritropoietin) merangsang pembuatan sel darah merah. Pada 1985, ilmuwan berhasil membuat EPO sintetis (buatan manusia). EPO ini disuntik di bawah kulit, biasanya sekali seminggu. Namun EPO sangat mahal dan sulit terjangkau di Indonesia. Sebuah penelitian besar terhadap Odha menemukan bahwa suntikan EPO mengurangi risiko kematian. Sebaliknya, transfusi darah tampaknya meningkatkan risiko kematian. Karena risiko transfusi darah, sebaiknya kita berusaha hindari transfusi untuk mengobati anemia. Garis Dasar Anemia menyebabkan kelelahan dan rasa kurang enak. Anemia juga meningkatkan risiko kelanjutan penyakit dan kematian. Anemia dapat disebabkan oleh infeksi HIV atau penyakit lain. Beberapa obat yang dipakai untuk mengobati HIV dan infeksi terkait juga dapat menyebabkan anemia. Anemia sejak awal adalah masalah untuk Odha. Angka anemia berat menurun secara bermakna di negara maju sejak orang mulai memakai ART. Namun hampir separuh Odha masih mengalami anemia ringan atau sedang. Bagaimana mengobati anemia? Seperti halnya penyakit lain, pengobatan anemia juga harus ditujukan pada penyebab terjadinya anemia. Misalnya anemia yang disebabkan oleh perdarahan pada usus maka perdarahan itu harus kita hentikan untuk mencegah berlanjutnya anemia. Jika memang diperlukan, operasi dapat dilakukan pada keadaan tertentu. Suplemen besi diperlukan pada anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan zat besi. Pemberian suntikan vitamin B12 diperlukan untuk mengkoreksi anemia pernisiosa. Transfusi darah merupakan pilihan untuk anemia yang disebabkan oleh perdarahan hebat. Mengobati anemia meningkatkan kesehatan dan daya tahan hidup Odha. Memperbaiki perdarahan, atau kekurangan zat besi atau vitamin adalah langkah pertama. Jika memungkinkan, sebaiknya berhenti memakai obat penyebab anemia. Jika perlu, pasien sebaiknya diobati dengan eritropoietin (EPO), atau jika tidak ada pilihan lain, dengan transfusi darah.

Diperbarui 1 Juli 2012 berdasarkan FS 552 The AIDS Infonet 20 Juni 2012

MATERI KEK
Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil adalah kekurangan gizi pada ibu hamil yang berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun) (DepKes RI, 1999). Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK ( Arismas,2009). Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut : a.Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c.Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg. d.Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 e.Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2010).

MATERI PENDIDIKAN SEKS

Pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Sedangkan kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Definisi kesehatan reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses Pengertian Pendidikan Seks (Sex Education) Pendidikan seks (sex education) adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. Informasi itu meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Pendapat lain mengatakan bahwa Pendidikan Seks (sex education) adalah suatu pengetahuan yang kita ajarkan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin. Ini mencakup mulai dari pertumbuhan jenis kelamin (Laki-laki atau wanita). Bagaimana fungsi kelamin sebagai alat reproduksi. Bagaimana perkembangan alat kelamin itu pada wanita dan pada laki-laki. Tentang menstruasi, mimpi basah dan sebagainya, sampai kepada timbulnya birahi karena adanya perubahan pada hormon-hormon. Termasuk nantinya masalah perkawinan, kehamilan dan sebagainya. Pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi atau yang lebih trend-nya sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya sex education maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Pentingnya Pendidikan Seks (Sex Education) Bagi Remaja Ada beberapa hal mengenai Pentingnya Pendidikan Seks bagi Remaja, diantaranya yaitu: Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami masalah seksualitas

Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya Memahami masalah-masalah seksualitas remaja Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas Selain itu ada dua faktor mengapa pendidikan seks (sex education) sangat penting bagi remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Sehingga dari ketidak fahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya. Faktor kedua, dari ketidakfahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, hal ini ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakfahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya. Ada beberapa pendapat yang bilang, sex education memang pantas dimasukkan dalam kurikulum di sekolah menengah, apalagi siswa pada ini adalah masa pubertas. Pendidikan Seks Sex education sangat perlu sekali untuk mengantisipasi, mengetahui atau mencegah kegiatan seks bebas dan mampu menghindari dampak-dampak negatif lainnya. Mungkin kita baru menyadari betapa pentingnya pendidikan seks karena banyak kasus pergaulan bebas muncul di kalangan remaja dewasa ini. Kalau kita berbicara tentang pergaulan bebas, hal ini sebenarnya sudah muncul dari dulu, hanya saja sekarang ini terlihat semakin parah. Pergaulan bebas remaja ini bisa juga karena dipicu dengan semakin canggihnya kemajuan teknologi, juga sekaligus dari faktor perekonomian global. Namun hanya menyalahkan itu semua juga bukanlah hal yang tepat. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu memberikan pendidikan seks (sex education) kepada generasi muda. Oleh: Diana Septi Purnama

SUMBER

http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=552 http://www.blogdokter.net/2008/06/17/anemia/ http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/05/pengertian-kekurangan-energi-kronis-kek.html http://belajarpsikologi.com/kesehatan-reproduksi-remaja/ http://belajarpsikologi.com/pentingnya-pendidikan-seks-sex-education/