Anda di halaman 1dari 8

RESUME

PERBANGKAN SYARIAH

Disusun Oleh : KHAIRUL RASYID 18201102010043

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN PRODI HUKUM PERDATA ISLAM JURUSAN SYARIAH 2012

judul buku Karangan Penerbit

: Perbangkan Syariah : Adrian Sutedi, S.H., M.H. : GHALIA INDONESIA

PERBANGKAN SYARIAH A. PERKEMBANGAN PERBANGKAN SYARIAH Melelihat gagasannya yang ingin membebaskan diri dari mekanisme bunga, pembentukan bank Islam mula-mula banyak menimbulkan keraguan. Hal tersebut muncul mengingat anggapan bahwa sistem perbankan bebas bunga adalah sesuatu yang mustahil dan tidak lazim sehingga timbul pula pertanyaan tentang bagaimana nantinya Bank Islam tersebut akan membiayai operasinya. Konsep teoretis mengenai bank Islam muncul pertama kali pada tahun 1940-an, dengan gagasan mengenai perbankan yang berdasarkan bagi hasil. Berkenaan dengan ini dapat disebutkan pemikiran-pemikiran dan beberapa penulis, antara lain Anwar Qureshi (1946), Naiem Siddiqi (1948), dan Malimud Ahmad (1952). Uraian yang lebih terpeninci mengenai gagasan pendahuluan mengenai perbankan Islam ditulis oleh ulama besar Pakistan, yakni Abul Ala Al-Mawdudi (1961) serta Muhammad Hamidullah (1944- l%2). Maududi Uzair merupakan seorang perintis teori perbankan Islam dengan karyanya yang berjudul; A Groundwork for Incerest Free Bank. Salah satu negara pelopor sistem perbankan syariah secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonversi seluruh sistem perbankan di negaranya pada tahun 1985 menjadi sistem perbankan syariah. Sebelumnya, pada tahun 1979, beberapa institus keuangan terbesar di Pakistan telah menghapus sistem bunga dan mulai tahun itu juga pemerintah Pakistan mensosialisasikan pinjaman tanpa bunga, terutama kepada petani dan nelayan Kehadiran bank syariah ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat muslim, tetapi juga bank milik non-muslim. Saat ini, bank Islam sudah tersebar di berbagai negara muslim dan non-muslim baik di benua Amerika, Australia, dan Eropa. Bahkan, banyak perusahaan keuangan dunia, seperti ANZ, Chase Chemical Bank, dan Citi Bank telah membuka cabang yang berdasarkan syariah. Dan berbagai laporan tentang bank Islam, ternyata bahwa operasi perbankan Islam dikendalikan oleh tiga prinsip dasar, yaitu :

(a) dihapuskannya bunga dalam segala bentuk transaksi, (b) dilakukannya segala bisnis yang sah, berdasarkan hukum serta perdagangan komersial dan perusahaan industri, serta (c) membenikin pelayanan sosial yang tercermin dalam penggunaan dana-dana zakat untuk kesejahteraan fakir miskin Di antara para pemikir sistem ekonomi Islam, terdapat pola kecenderungan yang berbeda-beda. Pada dasarnya, terdapat dua kelompok kecenderungan, yaitu kecenderungan teoretis dengan memberikan alternatif konsep dan kecenderungan pragmatis dengan mendirikan lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip Islam. B. PENDIRIAN BANK MUAMALAT DI INDONESIA Ide pendirian bank syariah di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970-an. Di mana pembicaraan mengenai bank syariah muncul pada seminar hubungan Indonesia-Timur Tengah pada 1974 dan pada tahun 1976 dalam seminar yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan (LSIK) dan Yayasan BhinekaTunggal Ika. Perkembangan pemikiran tentang perlunya umat Islam Indonesia memiliki perbankan Islam sendiri mulai berhembus sejak itu, seiring munculnya kesadaran baru kaum intelektual dan cendekiawan muslim dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Pada awalnya, memang sempat terjadi perdebatan yang melelahkan mengenai hukum bunga bank dan hukum zakat vs. pajak di kalangan para ulama, cendekiawan, dan intelektual muslim. Namun, ada beberapa alasan yang menghambat terealisasi ide pendirian bank syariah ini. Adapun alasan tersebut, antara lain; pertama, operasi bank syariah yang menerapkan prinsip bagi hasil belum diatur dan karena itu, tidak sejalan dengan undang-undang pokok perbankan yang berlaku, yakni UU No. 14 Tahun 1967. Kedua, konsep bank syariah dan segi politis berkonotasi ideologis, merupakan bagian dan atau berkaitan dengan konsep negara Islam dan karena itu, tidak dikehendaki pemerintah. Ketiga, masih dipertanyakan, siapa yang bersedia menaruh modal dalam ventura semacam itu, sementara pendiriaan bank baru dan Timur Tengah masih dicegah, antara lain pembatasan bank asing yang ingin membuka kantornya di Indonesia.

C. PERKEMBANGAN PERBANGKAN SYARIAH DI BEBERAPA NEGARA banyaknya negara yang sudah menerapkan prinsip syariah pada sistem perbangkannya tentunya mempunyai suatu perkembangan yang signifikan baik itu ke arah maju ataupun mundur oleh karena itudapat digambarkan perkembangan dinegara lain adalah sebagai berikut. Pakistan, latar belakang pengembangannya oleh presiden Ziaul Haq pada tahun 1979, yang semata-mata political reasons (meraih dukungan masyarakat) pada akhir perkembangannya secara keseluruhan dapat dianggap kurang berhasil karena banyak hal yang diantaranya tidak ada upaya pembrantasan KKN serta tidak ada dukungan dari pejabat pemerintah, bank sentral, bahkan penolakan dari para birokrat terhadap sistem penerapan sistem perbangkan syariah. Iran, latar belakang pengembangan dimulai sejak timbulnya revolusi Iran tahun 1979 dan ditetapkan pada tahun 1984, pada akhir perkembangannya secara keseluruhan dapat dianggap cukup berhasil karena pemerintah memiliki upaya yang sungguh-sungguh dalam penerapan program perbangkan syariah dan penerapan hukum. Malaysia, latar belakang pengembangannya pada penerapan dual banking system di mulai sejak tahun 1983 dan pada akhir penyembanganya sangatlah bagus karena adanya undang-undang bank islam tersendiri dan pemahaman masyarakat terhadap operasi bank syariah. D. BEBERAPA PRINSIP PERBANKAN SYARIAH Meskpin UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah telah dikeluarkan, namun Indonesia masih menganut dual banking system (dua sistem perbankan). ini berarti memperkenankan dua sistem perbankan secara existance. Dua sistem perbankan itu adalah bank umum dan bank berdasarkan bagi hasil (yang secara implisit mengakui sistem perbankan berdasarkan prinsip Islam). Bank syariah dapat dilakukan melalui 1) bank umum syariah; 2) bank perkreditan rakyat syariah (BPRS); 3) Islamic windows, dan 4) office channeling. Bank umum syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam

penetapan fatwa di bidang syariah. Terkait dengan perjanjian, beberapa asas dan perangkat yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian menurut hukum Islam, sebagaimana yang disebutkan di atas, maka hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam adalah sebagai berikut. a. Dari subjek akad, yaitu para pihak yang membuat perjanjian. b. Melakukan kegiatan penyertaan modal berdasarkan prinsip musyarakah dan/ atau mudarabah untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan dengan syarat harus menarik kembali pernyataannya. c. Melakukan kegiatan pernyertaan modal sementara berdasarkan prinsip musyarakah dan atau mudarabah untuk mengatasi akibat. d. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus. Berdasarkan beberapa asas dan perangkat yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian menurut hukum Islam, sebagaimana yang disebutkan di atas, maka halhal yang perlu diperhatikan di dalam membuat perjanjian adalah sebagai berikut : a. Dari subyek akad, yaitu para pihak yang membuat pejanjian Para pihak haruslah cakap hukum Identitas para pihak dan kedudukannya masing-masing dalam perjanjian harus jelas Tempat dan saat perjanjian dibuat

b. Dari segi tujuan dan obyek akad Disebutkan secara jelas tujuan dari biduatnya akad tersebut Jangan menentukan suatu objek yang dilarang oleh ketentuan hukum islam

c. adanya kesepakatan waktu perjanjian jumlah dana mekanisme kerja jaminan penhyelesaian bila terjadi perselisihan atau adanya ketidak sesuaian objek yang diperjanjikan dan cara-cara pelaksanaannya

d. adanya persamaan/kesetaraan/dan kesederajatan/keadilan dalam menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban antar bank dan nasabah dalam penyelesaian dalam mengalami kegagalan usaha dan jaminan

Menunut Pasal 2 UU No. 21 Tahun 2008, perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan prinsip syariah, demokrasi ekonomi, dan pninsip kehati-hatian. Dalam penjelasan Pasal 2 dikemukakan kegiatan usaha yang berasaskan berikut ini. 1. Prinsip syariah, antara lain kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur: a. riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhi) , atau dalam transaksi pinjam meminjam yang mempersyaratkan nasabah penerima fasilitas

mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasiah); b. maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan; c. gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan, kecuali diatur lain dalam syariah; d. haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah; atau e. zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya. 2. Demokrasi ekonomi adalah kegiatan ekonomi syariah yang mengandung nilai keadilan, kebersamaan, pemerataan, dan kemanfaatan. 3. Prinsip kehati-hatian adalah pedoman pengelolaan bank yang wajib dianut guna mewujudkan perbankan yangsehat, kuat, dan efisien, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kegiatan usaha perbankan syariah diatur dalam Pasal 36-37 PBI No. 6/24/ PBI/2004. Agar memudahkan pemahaman, secara garis besar kegiatan usaha perbankan syariah meliputi 9 (sembilan) fungsi berikut ini: 1. Penghimpunan dana 2. penyaluran dana 3. jasa pelayanan perbankan 4. berkaitan dengan surat berharga 5. lalu lintas keuangan dan pembayaran 6. berkaitan pasar modal

7. invertasi 8. dana pensiun 9. sosial E. PRINSIP BAGI HASIL a. Mudarabah Ulama Hijaz menamakan mudarabah sebagai qiradh. Menurut jumhur ulama, mudarabah adalah bagian dari musyarakah. Dalam merumuskan pengertian mudarabah, Wahbah Az-Zuhaily mengemukakan bahwa pemilik modal

menyerahkan hartanya kepada pengusaha untuk diperdagangkan dengan pembagian keuntungan yang disepakati dengan ketentuan bahwa kerugian ditanggung oleh pemilik modal, sedangkan pengusaha tidak dibebani kerugian sedikitpun, kecuali kerugian berupa tenaga dan kesungguhannya. Mudarabah ada dua macam, yaltu mudarabah muthlaq, yakni mudarabah yang tidak terikat kepada syarat-syarat tertentu seputar materi usaha; dan mudarabah muqayyad, yakni mudarabah yang terikat kepada syarat-syarat tertentu mengenai materi usaha. b. Al-Musyarakah Musyarakah merupakan suatu bentuk organisasi usaha di mana dua orang atau lebih menyumbangkan pembiayaan dan manajemen usaha, dengan proporsi sama atau tidak sama. Keuntungan dibagi menurut perbandingan yang sama atau tidak sama, sesuai kesepakatan antara para mitra, dan kerugian akan dibagikan menurut proporsi modal. c. Wadiah Wadiah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat apabila nasabah yang bersangkutan menghendaki. Bank bertanggung jawab atas pengembalian titipan. Prinsip wadiah adalah di mana pihak pertama menitipkan dana atau benda kepada pihak kedua, selaku penerima titipan dengan konsekuensi, titipan tersebut sewaktu-waktu dapat diambil kembali, di mana penitip dapat dikenakan biaya penitipan. Berdasarkan kewenangan yang diberikan, maka wadiah dibedakan menjadi wadiah ya dhamanah, yang berarti penerima titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan untuk

didayagunakan tanpa ada kewajiban penerima titipan untuk memberikan imbalan kepada penitip dengan tetap pada kesepakatan dapat diambil setiap

saat diperlukan, sedang di sisi lain ada wadiah amanah, yaitu tidak memberikan kewenangan kepada penerima titipan untuk mendayagunakan barang/dana yang dititipkan. Prinsip wadiah yang diterapkan dalam perbankan syariah adalah wadiah yad dhamanah, yang diterapkan pada produk rekening giro. Dalam konsep wadiah yad-dhamanah, bank dapat mempergunakan dana yang dititipkan, tetapi bank bertanggung jawab penuh atas keutuhan dan dana yang dititipkan. F. PENGAWAS BANK SYARIAH Dewan pengawas syariah adalah bagian lembaga keuangan syariah yang bersangkutan, yang menempatannya atas persetujuan DSN 1. Syarat Anggota Dewan Pengawas Syariah a. Memiliki akhlaq karimah. b. Memiliki kompetensi kepakaran di bidang syariah muamalah dan pengetahuan di bidang perbankan dan/atau keuangan secara umum. c. Memiliki komitmen untuk mengembangkan keuangan berdasarkan syariah. d. Memiliki kelayakan sebagai pengawas syariah, yang dibuktikan dengan surat/sertifikat dan DSN. 2. Tugas dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah a. Tugas utama dewan pengawas syariah adalah mengawasi kegiatan usaha lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah yang telah difatwakan oleh DSN. b. Fungsi utama dewan pengawas syariah adalah: 1) sebagai penasihat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syariah dan pimpinan kantor cabang syariah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syariah; 2) sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan DSN dalam mengomunikasikan usul dan saran pengembangan produk dan jasa dan lembaga keuangan syariah yang memerlukan kajian dan fatwa dan DSN.