Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia mebungkus otototot dan organ dalam. Kulit merupakan jalinan pembuluh darah, saraf, dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk terserang penyakit. Kulit berfungsi melindungi tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan terhadap bakteri. Kehilangan panas dan penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh-pembuluh darah kulit atau sekresi kelenjar keringat. Organ-organ adneksa kulit seperti kuku dan rambut telah diketahui mempunyai nilai-nilai kosmetik. Kulit juga merupakan sensasi raba, tekan, suhu, nyeri, dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang saling bertautan. Secara mikroskopis kulit terdiri dari tiga lapisan: pidermis, dermis, dan lemak subkutan. Epidermis, bagian terluar dari kulit dibagi menjadi dua lapisan utama yaitu stratum korneum dan stratum malfigi. Dermis terletak tepat di bawah pidermis, dan terdiri dari serabut-serabut kolagen, elastin, dan retikulin yang tertanam dalam substansi dasar. Matriks kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis yang sedang tumbuh. Juga terdapat limfosit, histiosit, dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak subcutan yang merupakan bantalan untuk kulit,, isolasi untuk pertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi. Salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai yakni DERMATITIS yang lebih dikenal sebagai eksim, merupakan penyakit kulit yang mengalami peradangan. Dermatitis dapat terjadi karena bermacam sebab dan timbul dalam berbagai jenis, terutama kulit yang kering. Umumnya enzim dapat menyebabkan pembengkakan, memerah, dan gatal pada kulit. Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak

menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu. Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada berbeda, antara lain dermatitis kontak, neurodermatitis, dermatitis numularis, dermatitis statis, dan dermatofitosis. B. Tujuan 1. Umum Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan sistem integumen pada klien Dermatitis Kontak dan Dermatitis Statis 2. Khusus a. Agar mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami pengertian dari dermatitis kontak dan dermatitis statis b. Agar mahasiswa mampu mengetahui anatomi memaparkan fisiologis pada dermatitis kontak dan dermatitis statis. c. Agar mahasiswa mampu menjelaskan etiologi dari dermatitis kontak dan dermatitis statis. d. Agar mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala dari dermatitis kontak dan dermatitis statis e. Agar mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis dari dermatitis kontak dan dermatitis statis f. Agar mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi pada dermatitis kontak dan dermatitis statis g. Agar mahasiswa mampu menjelaskan pathway pada dermatitis kontak dan dermatitis statis

h. Agar mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang pada dermatitis kontak dan dermatitis statis. i. Agar mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan pada dermatitis kontak dan dermatitis statis. j. Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan pengkajian pada klien dengan dermatitis kontak dan dermatitis statis. k. Agar mahasiswa mampu melakukan intervensi dan implementasi pada klien dengan dermatitis kontak dan dermatitis statis. l. Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan evaluasi pada klien dengan dermatitis kontak dan dermatitis statis 3. Manfaat Manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah penulis lebih memahami proses terjadinya penyakit dermatitis kontak dan dermatitis statis penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala sampai pengobatan yang tepat sesuai dengan keadaan penyakit klien dan rasional sesuai dengan fakta yang ada. Selain itu diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu teman-teman dalam mengenal dan memahami penyakit dermatitis kontak dan dermatitis statis secara menyeluruh .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Dermatitis Kontak A. Definisi 1) Dermatitis kontak adalah dermatitis karena kontak eksternal yang menimbulkan fenomena sensitisasi (alergik) atau toksik (iritan). Dermatitis merupakan epiderma-dermatitis dengan gejala subjektif pruritus, obyek tampak inflamasi eritema, vesikulasi, eksudasi dan pembentukan sisik. (Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 2. Jakarta: Media Aesculapius) 2) Dermatitis kontak sering terjadi pada tempat tertentu dimana alergen mengadakan kontak dengan kulit. (Price, Sylvia Anderson. 1991. Patofisiologi. Jakarta: EGC) 3) Dermatitis kontak adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang disertai dengan adanya spongiosis/edeme interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bahan bahan kimia yang berkontak atau terpajan kulit .Bahan- bahan tersebut dapat bersifat toksik ataupun alergik. (Harahap Mawarli Prof.Dr. 2006.Ilmu Penyakit Kulit.Jakarta:Hipokrates) 4) Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan mekanisme imunologik dan dermatitis

kontak alergik yang diakibatkan meka nisme imunologik yang spesifik. B. Etiologi Dermatitis kontak bisa ditimbulkan oleh bahan-bahan irritan primer atau penyebab alergic primary irritant contact dermatitis merupakan reaksi non alergik dari pada kulit yang disebabkan karena terkena irritantia. Zat diterjen ( seperti lisol ) desinfektan dan zat warna ( untuk pakaian, sepatu dan lain lain ) dapat mengakibatkan dermatitis. 1) Irritantia ringan, relatif atau marginal, memebutuhkan kontak berulang-ulang dan atau kontak yang lama untuk menimbulkan peradangan atau termasuk di sini adalah sabun, deterjen dan kebanyakan jenis bahan pelarut.Dermatitis pekerjaan tampak pula fisura ,skuama,dan paronikima sebagai akibat iritasi

kronik.dermatitis juga dapat terdapat pada rumah tangga yang terjadi karena insektisida dan pelbagai salep yang di jual secara bebas yang mengandung sulfonamid,penisilin,merkuri,atau sulfur. 2) Irritantia keras atau absolut merupakan zat-zat perusak yang keras sehingga akan melukai kulit dengan seketika jika mengenainya (asam kuat dan basa kuat). Penyebab yang baku dari dermatitis kontak Pada berbagai bagian tubuh
Bagian Tubuh Muka Cuping telinga Kelopak mata Bagian Tubuh Hidung, bibir dan sekitarnya Leher Aksila Dada Lengan dan kaki Tangan Penyebab Kosmetik, hairspray, semir rambut. Nikel, perhiasan imitasi Kosmetik, transfer oleh tangan, tangkai kaca mata Penyebab Pasta gigi, lipstick Parfum, pakaian (bahan wool) Deodoran, pakaian, parfum Bahan kuningan Deterjen, bahan pembersih, sepatu Sarung tangan, deterjen

C. Patofisiologi Dermatitis Kontak termasuk reaksi hipersensitivitas tipe IV, yaitu reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Patogenesisnya melalui dua fase: 1) Fase Induksi (sensitisasi) Saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit mengenal dan memberi respons, perlu waktu 2-3 minggu. Hapten (protein tidak lengkap) berpenetrasi ke dalam tubuh dan berikatan dengan protein karier membentuk ,antigen yang lengkap. Antigen ditangkap dan diproses oleh macrofag dan sel langerhans kemudian memicu reaksi limfosit T yang belum tersensitisasi di kulit, sehingga terjadi sensitisasi limfosit T melalui saluran limfe. 2) Fase Eksitasi Yaitu saat terjadinya kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa. Sel efektor yang telah tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik berbagai sel radang sehingga timbul gejala klinis.

D. Pathway Zat Kimia, protein dan bakteri (faktor endogen/eksogen) Interaksi antara antigen dan anti bodi Reaksi alergi Edema Intra seluler Vesikel Pecah Erosi dan ekskunasasi serta eksudasi Perubahan Body image Terbentuk krusta Skuama Kontaminasi dengan lingkungan luar infeksi skunder Kerusakan kulit Ganggua nyaman gatal

Rasa malu dan tidak percaya diri

Gangguan citra diri

E. Klasifikasi Dermatitis kontak ditimbulkan oleh fenomena alergik atau toksik. 1) Dermatitis kontak dapat berupa: a) Tipe dermatitis kontak alergi, merupakan manifestasi Delayed Hypersesitivity; hipersensitifitas yang tertunda dan merupakan terkena oleh alergen kontak pada orang yang sensitif. b) Tipe dermatitis kontak iritan, terjadi karena irritant primer dimana reaksi non alergik terjadi akibat pejanan terhadap substansi iritatif. 2) Perbedaan dermatitis kontak iritan dan alergi:
Faktor Penyebab Permulaan Penderita Lesi Faktor Uji tempel Dermatitis Kontak Iritan Iritan primer Pada kontak pertama Semua orang Batas lebih jelas, eritema Dermatitis Kontak Iritan sangat jelas Sesudah ditempel 24 jam bila iritan diangkat, reaksi akan segera Sabun, deterjen Dermatitis Kontak Alergi Alergen kontak sensitizer Pada kontak ulang Orang yang alergik Batas tidak begitu jelas, eritema Dermatitis Kontak Alergi kurang jelas Bila sesudah 24 jam bahan alergen diangkat, reaksi menetap/meluas berhenti Pemakaian terlalu lama, jam, sandal jepang, kalung imitasi

Contoh

F. Manifestasi Klinik Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan bergantung pada keparahan dermatitis. Dermatitis kontak umumnya mempunyai gambaran klinis dermatitis, yaitu terdapat efloresensi kulit yang bersifat polimorf dan berbatas tegas. Dermatitis kontak iritan umunya mempunyai ruam kulit yang lebih bersifat monomorf dan berbatas lebih tegas dibandingkan dermatitis kontak alergik. 1) Fase akut. Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat terjadinya kontak dengan bahan penyebab. Derajat kelainan kulit yang timbul bervariasi ada yang ringan ada pula yang berat. Pada yang ringan mungkin hanya berupa eritema dan edema, sedang pada yang berat selain eritema dan edema yang lebih hebat disertai pula vesikel atau bula yang bila pecah akan

terjadi erosi dan eksudasi. Lesi cenderung menyebar dan batasnya kurang jelas. Keluhan subyektif berupa gatal. 2) Fase Sub Akut. Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudah tidak ada maka proses akut akan menjadi subakut atau kronis. Pada fase ini akan terlihat eritema, edema ringan, vesikula, krusta dan pembentukan papul-papul. 3) Fase Kronis. Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan dari fase akut yang hilang timbul karena kontak yang berulang-ulang. Lesi cenderung simetris, batasnya kabur, kelainan kulit berupa likenifikasi, papula, skuama, terlihat pula bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi, krusta serta eritema ringan. Walaupun bahan yang dicurigai telah dapat dihindari, bentuk kronis ini sulit sembuh spontan oleh karena umumnya terjadi kontak dengan bahan lain yang tidak dikenal. Dermatitis Kontak Alergi. Sebagaimana disebutkan pada halaman sebelumnya bahwa ada dua jenis bahan iritan, maka dermatitis kontak iritan juga ada dua macam yaitu dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronis. Dermatititis kontak iritan akut. Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan. Kulit terasa pedih atau panas, eritema, vesikel, atau bula. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena, berbatas tegas. Pada umumnya kelainan kulit muncul segera, tetapi ada segera, tetapi ada sejumlah bahan kimia yang menimbulkan reaksi akut lambat misalnya podofilin, antralin, asam fluorohidrogenat, sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. Kelainan kulit baru terlihat setelah 12-24 jam atau lebih. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa pedih setelah esok harinya, pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis. (Dermatitis kontak iritan dengan bahan iritan air liur pada balita) Dermatitis kontak iritan kronis atau dermatitis iritan kumulatif, disebabkan oleh kontak dengan iritan lembah yang berulang-ulang (oleh

faktor fisik, misalnya gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; juga bahan contohnya detergen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air). Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi oleh karena kerjasama berbagai faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling penting. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan. Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Banyak pekerjaan yang beresiko tinggi yang memungkinkan terjadinya dermatitis kontak iritan kumulatif, misalnya : mencuci, memasak, membersihkan lantai, kerja bangunan, kerja di bengkel dan berkebun. (Dermatitis kontak iritan akibat detergen) Dermatitis Kontak Alergi Selain berdasarkan fase respon peradangannya, gambaran klinis dermatitis kontak alergi juga dapat dilihat menurut predileksi regionalnya. Hal ini akan memudahkan untuk mencari bahan penyebabnya. 1) Tangan Kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling sering di tangan, misalnya pada ibu rumah tangga. Demikian pula dermatitis kontak akibat kerja paling banyak ditemukan di tangan. Sebagian besar memang disebabkan oleh bahan iritan. Bahan penyebabnya misalnya deterjen, antiseptik, getah sayuran/tanaman,

10

semen dan pestisida. (Dermatitis kontak alergi karena nikel pada jam tangan) 2) Lengan Alergen umumnya sama dengan pada tangan, misalnya oleh jam tangan (nikel), sarung tangan karet, debu semen dan tanaman. Di aksila umumnya oleh bahan pengharum. 3) Wajah Dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan bahan kosmetik, obat topikal, alergen yang ada di udara, nikel (tangkai kaca mata). Bila di bibir atau sekitarnya mungkun disebabkan oleh lipstik, pasta gigi dan getah buah-buahan. Dermatitis di kelopak mata dapat disebabkan oleh cat kuku, cat rambut, perona mata dan obat mata. 4) Telinga Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab lainnya seperti obat topikal, tangkai kaca mata, cat rambut dan alat bantu pendengaran. 5) Leher dan Kepala Pada leher penyebabnya adalah kalung dari nikel, cat kuku (yang berasal dari ujung jari), parfum, alergen di udara dan zat warna pakaian. Kulit kepala relative tahan terhadap alergen kontak, namun dapat juga terkena oleh cat rambut, semprotan rambut, sampo atau larutan pengeriting rambut. 6) Badan Dapat disebabkan oleh pakaian, zat warna, kancing logam, karet (elastis, busa ), plastik dan deterjen. 7) Genitalia Penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom, pembalut wanita dan alergen yang berada di tangan.

11

8) Paha dan tungkai bawah Disebabkan oleh pakaian, dompet, kunci (nikel) di saku, kaos kaki nilon, obat topikal (anestesi lokal, neomisin, etilendiamin), semen, sandal dan sepatu. G. Penatalaksanaan Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit. 1) Pencegahan Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan deterjen. 2) Pengobatan Pengobatan yang diberikan dapat berupa pengobatan topikal dan sistemik. 3) Pengobatan topikal Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi kering. Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di dalam, diberi salep. Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan. Jenis-jenisnya adalah : Kortikosteroid Radiasi ultraviolet Siklosporin A Antibiotika dan antimikotika.

12

Imunosupresif topikal. Pengobatan sistemik. Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan atau edema, juga pada kasus-kasus sedang dan berat pada keadaan akut atau kronik. Jenis-jenisnya adalah : 1) Antihistamin 2) Kortikosteroid 3) Siklosporin 4) Pentoksifilin 5) FK 506 (Takrolimus). 6) Ca++ antagonis. 7) Derivat vitamin D3. 8) SDZ ASM 981. H. Pemeriksaan Penunjang. Alergi kontak dapat dibuktikan dengan tes in vivo dan tes in vitro. Tes in vivo dapat dilakukan dengan uji tempel. Berdasarkan tehnik pelaksanaannya dibagi tiga jenis tes tempel yaitu : 1) Tes Tempel Terbuka. Pada uji terbuka bahan yang dicurigai ditempelkan pada daerah belakang telinga karena daerah tersebut sukar dihapus selama 24 jam. Setelah itu dibaca dan dievaluasi hasilnya. Indikasi uji tempel terbuka adalah alergen yang menguap. 2) Tes Tempel Tertutup. Untuk uji tertutup diperlukan Unit Uji Tempel yang berbentuk semacam plester yang pada bagian tengahnya terdapat lokasi dimana bahan tersebut diletakkan. Bahan yang dicurigai ditempelkan dipunggung atau lengan atas penderita selama 48 jam setelah itu hasilnya dievaluasi. 3) Tes tempel dengan Sinar. Uji tempel sinar dilakukan untuk bahanbahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu bahan yang dengan sinar ultra violet baru akan bersifat sebagai alergen. Tehnik sama dengan uji tempel tertutup, hanya dilakukan secara duplo. Dua baris dimana

13

satu baris bersifat sebagai kontrol. Setelah 24 jam ditempelkan pada kulit salah satu baris dibuka dan disinari dengan sinar ultraviolet dan 24 jam berikutnya dievaluasi hasilnya. Untuk menghindari efek daripada sinar, maka punggung atau bahan test tersebut dilindungi dengan secarik kain hitam atau plester hitam agar sinar tidak bisa menembus bahan tersebut. Untuk dapat melaksanakan uji tempel ini sebaiknya penderita sudah dalam keadaan tenang penyakitnya, karena bila masih dalam keadaan akut kemungkinan salah satu bahan uji tempel merupakan penyebab dermatitis sehingga akan menjadi lebih berat. Tidak perlu sembuh tapi dalam keadaan tenang. Disamping itu berbagai macam obat dapat mempengaruhi uji tempel sebaiknya juga dihindari paling tidak 24 jam sebelum melakukan uji tempel misalnya obat antihistamin dan kortikosteroid. Dalam melaksanakan uji tempel diperlukan bahan standar yang umumnya telah disediakan oleh International Contact dermatitis risert group, unit uji tempel dan penderita maka dengan mudah dilihat perubahan pada kulit penderita. Untuk mengambil kesimpulan dari hasil yang didapat dari penderita diperlukan keterampilan khusus karena bila gegabah mungkin akan merugikan penderita sendiri. Kadang-kadang hasil ini merupakan vonis penderita dimana misalnya hasilnya positif maka penderita diminta untuk menghindari bahan itu. Penderita harus hidup dengan menghindari ini itu, tidak boleh ini dan itu sehingga berdampak negatif dan penderita dapat jatuh ke dalam neurosis misalnya. Karenanya dalam mengevaluasi hasil uji tempel dilakukan oleh seorang yang sudah mendapat latihan dan berpengalaman di bidang itu. Tes in vitro menggunakan transformasi limfosit atau inhibisi migrasi makrofag untuk pengukuran dermatitis kontak alergik pada manusia dan hewan. Namun hal tersebut belum standar dan secara klinis belum bernilai diagnosis.

14

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Untuk menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontak alergik diperlukan anamnesis yang teliti, riwayat penyakit yang lengkap,

pemeriksaan fisik dan uji tempel. Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari kausanya. Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya, yaitu mencegah kekambuhan. Diperlukan kesabaran, ketelitian, pengertian dan kerjasama yang baik dengan pasien. Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat atopi, perjalanan penyakit, pekerjaan, hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri, obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama, kosmetika, kaca mata, dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan mungkin faktor psikologik. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema dan papula disusul dengan pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang membasah. Lesi pada umumnya timbul pada tempat kontak, tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke daerah sekitarnya. Karena beberapa bagian tubuh sangat mudah tersensitisasi dibandingkan bagian tubuh yang lain maka predileksi regional diagnosis regional akan sangat membantu penegakan diagnosis. Kriteria diagnosis dermatitis kontak alergik adalah : 1. Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama, beberapa kali atau satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak dengan bahan serupa. 2. Terdapat tanda-tanda dermatitis terutama pada tempat kontak. Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat yang serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat, yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak.

15

3. Rasa gatal Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif.

Berbagai jenis kelainan kulit yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding adalah : a. Dermatitis atopik : erupsi kulit yang bersifat kronik residif, pada tempat-tempat tertentu seperti lipat siku, lipat lutut dise rtai riwayat atopi pada penderita atau keluarganya. Penderita dermatitis atopik mengalami efek pada sisitem imunitas seluler, dimana sel TH2 akan memsekresi IL-4 yang akan merangsang sel Buntuk memproduksi IgE, dan IL-5 yang merangsang pembentukan eosinofil. Sebaliknya jumlah sel T dalam sirkulasi menurun dan kepekaan terhadap alergen kontak menurun. b. Dermatitis numularis : merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas. c. Dermatitis dishidrotik : erupsi bersifat kronik residif, sering dijumpai pada telapak tangan dan telapak kaki, dengan efloresensi berupa vesikel yang terletak di dalam. d. Dermatomikosis : infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dengan efloresensi kulit bersifat polimorf, berbatas tegas dengan tepi yang lebih aktif. e. Dermatitis seboroik : bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. Pada muka terdapat di sekitar alae nasi, alis mata dan di belakang f. Liken simplek kronikus : bersifat kronis dan redisif, sering mengalami iritasi atau sensitisasi. Harus dibedakan dengan dermatitis kontak alergik bentuk kronik.

16

Analisa Data
No Data Subjektif dan Objektif Ds : klien mengatakan nyeri bekas luka yang digaruk Do : Ada luka bekas garukan, skala nyeri 46 dari 10 Etiologi Erosi dan exudasi Permasalahan Nyeri

1.

Inkontinuitas jaringan kulit akibat iritasi kronik

Stimulasi saraf nyeri

2.

Ds : Klien mengatakan tidak siap untuk terjut ke masyarakat Do : Pasien selalu menutup diri

Eriteus, vesikel, papula dan skuama

Gangguan Citra Tubuh

Penampakan kulit tidak bagus

Gangguan citra tubuh

3.

Ds : Klien merasa kulit klien membengkak pada beberapa bagian tubuh Do: Terdapat lesi, udem dan pembengkakan

Peningkatan permeabilitas pembuluh darah

Kerusakan integritas kulit

Penumpukan cairan

Edema

B. Diagnosis Keperawatan Diagnosa keperawatan yang umumnya muncul pada klien penderita kelainan kulit seperti dermatitis kontak adalah sebagai berikut : 1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit/jaringan 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan reaksi inflamsi

17

C. No 1.

Intervensi Keperawatan Tujuan & Tindakan Kriteria Hasil Keperawatan Setelah dilakukan Mandiri : tindakan 1) Tutup luka keperawatan, sesegara mungkin diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol dengan KH: 1) Menunjukan 2) Berikan tempat ekspresi tidur ayunan wajah/ postur sesuai indikasi. tubuh rileks 2) Berpartisipasi dalam 3) Libatkan pasien aktivitas dan dalam penentuan tidur/istirahat jadwal aktivitas, dengan tepat. pengobatan, pemberian obat. 4) Dorong perasaan tentang nyeri Rasional 1) Suhu berubah dan gerakan udara dapat menyebabkan nyeri hebat pada pemanjanan ujung saraf. 2) Peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri 3) Meningkatkan rasa kontrol pasien dan kekuatan mekanisme koping.

Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan

4) Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping. Membantu mengurangi nyeri

2.

Kolaborasi : Berika obat analgesic sesuai indikasi Gangguan Setelah dilakukan Mandiri : citra tubuh tindakan 1. Kaji makna berhubungan keperawatan, kehilangan/perub dengan diharapkan agar ahan pada penampakan pasien dapat pasien/orang kulit yang melakukan terdekat tidak kembali mobilitas bagus(krisis secara normal.dengan 2. Lakukan latihan situasi). KH: ROM secara 1) Bicara dengan pasif. keluarga/orang terdekat 3. Ganti posisi tiap 2 tentang situasi, jam sekali perubahan yang terjadi. 4. Berikan 2) Kemasukan perawatan kulit

1) Episode traumatik mengakibatkan perubahan tiba-tiba, tak diantisipasi, membuat perasaan kehilangan pada kehilangan aktual/yang dirasakan. 2) Mencegah terjadinya kontraktur.

3) Penekanan terus-menerus menimbulkan dekubitus. 4) Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan
18

perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif

dengan cermat seperti massage dan memberi pelembab ganti linen atau pakaian yang basah. 5. Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi

menurunkan dekubitus.

5) Mempertahankan/membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan terus menerus pada pasien dan keluarga.

Kolaborasi : physiotherapy. aktivitas dengan ahli physioterapi. 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan reaksi inflamsi Setelah dilakukan tindakan keperawatan edema berkurang dengan KH: 1. meunjukkan peningkatan integritas kulit 2. Menunjukan regenerasi jaringan 1.kaji keadaaan kulit 1.Untuk memberikan informasi secara umum dasar tentang sirkulasi pada area kulit 2.pertahankan kelembaban kulit 2.Untuk melindungi agar sembuh jaringan

E. Evaluasi Evaluasi yang akan dilakukan yaitu mencakup tentang : 1) Nyeri hilang/terkontrol 2) Tidak ada lesi yang baru timbul 3) Mengembangkan kesadaran untuk penerimaan diri

19

20