Anda di halaman 1dari 31

Putri Erlinda Kusumaninigarum 1 Pengantar Konseling

BAB I PENGERTIAN, TUJUAN, DAN FUNGSI KONSELING A. Pengertian Konseling Konseling adalah hubungan profesional antara konselor dan konseli dengan tujuan untuk membantu konseli dalam menjadi pribadi yang mandiri baik dalam mengambil keputusan maupun menyelesaikan permasalahan yang dimiliki konseli, dilakukan melalui komunikasi lisan baik secara langsung ataupun tidak, dan secara individu ataupun berkelompok.

B. Tujuan Konseling Secara khusus bimbingan dan konseling mempunyai tujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadisosial, belajar (akademik), dan karier. 1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait bidang pribadi-sosial a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya. b. Memliki sikap tpleransi terhadap umat agama lain , dengan saling menghormati dan memilihara hak dan kewajibannya masing-masing. c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang diannut. d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis. e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. f. Memilki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati, atau menghargai orang lain, tidak melecehkan maratabat atau harga dirinya. h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 2 Pengantar Konseling

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik, baik bersifat internal maupun dengan orang lain k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik adalah sebagai berikut : a. Memiliki kesadarn tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami bagaimana hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. b. Memilki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membeca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua peljaran, dan ektif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. c. Memilki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. d. Memiliki ketrampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti ketrampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapai ujian. e. Memiliki ketrampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam informasi tentang berbagai hal dalam rangka

mengembangkan wawasan yang lebiih luas. f. Memilki kesiapan mental dan kemampuan untuk menhadapi ujian.

3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan apek karier adalah sebagai berikut : a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait dengab pekerjaan b. Memiliki penegtahuan mengenai dunia kerja dan informasi karier yang menunjang kematangan kompetensi karier c. Memilki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama. d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasia pelajaran) dengan persyaratan keilmuan atau ketrampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita kariernya masa depan.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 3 Pengantar Konseling

e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karier, dengan mengenali ciriciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan

sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja. f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. g. Dapat membentu pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan kairer keguruan tersebut. h. Menganal ketrampilan, kemampuan, dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karier amat dipengaruhi oleh kemapuan dan minat yang dimilki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakh dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karier.

C. Fungsi Konseling Fungsi bimbigan dan konseling 1. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu agar konseli memilki pemahaman karier terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaiakn dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. 2. Fungsi fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. 3. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam mabantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif 4. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakulikuler, jurusan, atau program studi, dan memantapkan penguasaan karier atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, kehlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya di dalam maupun luar lembaga pendidikan.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 4 Pengantar Konseling

5. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program peniddikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Denganmenggunakan informasi yang memadai mengenai konseli,

pembimbing/konselor dapat membatntu guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. 6. Fungsi pencegahan (preventif), yaitu yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan ata kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberpa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak dihapkan, diantaranya bahanyanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas. 7. Fungsi perbaikan yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan, dan bertindak. Konselor melakukan intervens (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memilki pola berfikir yang sehat, rasional, dan memilki perasan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. 8. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching. 9. Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif, dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 5 Pengantar Konseling

10. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembanagn konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencenakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau brain storming, home room, dan karyawisata.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 6 Pengantar Konseling

BAB II LANDASAN HISTORIS, FILOSOFIS, PSIKOLOGIS, SOSIAL-BUDAYA, DAN TEORITIS KONSELING A. Landasan Historis 1. Ameraka serikat Di Amerika Serikat perkembangan konseling dapat diperinci sebagai berikut : a. Gerakan dalam bimbingan jabatan Gerakan ini dipelopori oleh Gerorge Merrill di san Fransisco pada tahun 1895 pada The California School of echanical Arts. Kemudian dialnjutkan oleh Frank Parson, dengan The Vocational Bureau di Boston pada tahun 1909 kemudian pada tahun 1911 Frank P. Goodwin menyelenggarakan usaha bimbingan secara menyeluruh di kota Cincinati, Ohio. Sebelumnya Jesse B. Davis (1898-1907) memusatkan perhatiannya kepada usaha penyuluhan dalam bidang jabatan dan pendidikan jabatan di Central High School, Detroit, Michigan, Eli W. Weaver (1908-1910) melakukan kegiatan-kegiata yang menarik perhatian dengan mengorganisir lembaga bimbingan yang disebut The New York City Vocatioanl Guidance Surevey (1911), dan mendorong diadakannya The Second Natioanl Conference on Vocational Guidance yang diadakan di New York pada tahun 1912. b. Gerakan kesehatan mental Gerkan ini dipelopori oleh Clifford Beers, dengan penerbitan bukunya yang berjudul A Mind that Found Itself yang sangat besar pengaruhnya. Dia memebrikan sumbangan dalam pendirian The National Committee for Mental Hygiene (1909) yang mendorong didirikannya berbagai klinik kesehatan mental. Pada tahun 1922 Universitas Yele memperlopori pendirian klini kesehatan mental pada tingkat perguruan tinggi. c. Gerakan bimbingan kanak-kanak Gerakan ini dipelopori oleh suami istri William Healy (1909) dengan mendirikan klinik kanak-kanak di Chicago, Illinois, yang kemudian diambil alih oleh pemerintah negara bagian Illinois dan dijadkan The Illinois of Juvenile Research. Sejak tahun 1914 beratus-ratus klinik bimbingan kanak-kanak didirikan. d. Kegiatan personel work

Putri Erlinda Kusumaninigarum 7 Pengantar Konseling

Kegiatan ini bergerak dibidang industri yang dipelopori oleh Dr. Munsterburg dari Universitas Havard, bersama-sama dengan suatu perusahaan mobil dari Boston, yang memperkenalkan teknik analisa jabatan dalam industri, sebagai kelanjutan test kelompok tentang kemampuan mental. e. Gerakan penyelengaraan test Gerakan ini mulai berkembang dalam masa Perang Dunia I, diarahkan kepada pengukuran kemampuan mental seseorang dalam mengahdapi wajib militer, misalnya karya Otis dan Scott. f. Gerakan Dean of Girls Dipelopori oleh seorang Superintendant, Ella Flagg Young di Chicago pada tahun 1913. g. Usaha-usaha organasasi dalam tingkat negara bagian dan tingkat nasional, diantaranya : 1) National Vocational Guidance Association (NVGA), 1913 2) National Converence on Vocational Guidance (1910, 1912, 1913) 3) The National Occupatioanl Conference, 1933 4) The Presidents Advisoree on Education, 1936 5) Occupational Information and Guidance Service, yang didirikan pada tahun 1938 sebagai salah bagian United State Office of Education 6) The George-Barden Act, 1946. h. The National Defence Education Act of 1958, yang ditana tangani oleh Presiden Eisenhower pada tanggal 2 September 1958. i. Perkembangan terakhir dapat ditemukan di antaranya : 1) White house Conference on Children and Youth, 1960 2) Commision on guidance in American Schoo, 1960 3) Identification and Education of Academically Talented.

2. Di Indonesia a. Tahun 1960-1970 Diawali dengan wacana tentang bimbingan dan penyuluhan di tanah air. Bimbingan dan penyuluhan pendidikan dimasukkan kedalam kegiatan sekolah untuk menunjang misis sekolah mencapai tujuan pendidikannya. Untuk itu jurursan bimbingan dan penyuluhan didirikan guna menghasilkan tenaga pembimbing dan penyuluh pendidikan yang akan bekerja di sekolah.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 8 Pengantar Konseling

b. Tahun 1971 Berdirinya Proyek Perintris Sekolah Pembanguanan pada delapan IKIP, kemudian melalui proyek itu pelayanan bimbingan dan penyuluhan ikut dikembangkan. Dan kemudian berhasil disusun buku Pola Dasar Rencana dan Pengembanagn BimbinganPenyuluhan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan yang kemudian dimodifikasi menjadi buku Pedoman Operasioanal Bimbingan pada Proyek-Proyek Perintis Sekolah Pembangunan c. Tahun 1975 1) Lahir dan berlakunya Kurikulum sekolah Menengah Umum yang di dalamnay ada Buku Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan 2) Diadakannya konferensi Nasioanal Bimbngan I di Malang yang menghasilkan keputusan : a) Terbetuknya organisasi profesi bimbingan dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia b) Tersusunnya AD/ART IPBI, kode etik jabatan konselor, dan program kerja IPBI periode 1976-1978 3) Konverensi 1975 yang diikuti beberapa kali konvensi dan kongres secara berturut-turut. d. Tahun 1978 Diselenggarakannya progam PG SLT dan PG SLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP. e. Tahun 1989 1) Lahirnya Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatus Negara no. 026/Menpan/1989 tetntang Angka Kredit bagi jabatan guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2) Lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia no.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasisonal f. Tahun 1991-1993 1) Dibentuk divisi-divisi dalam IPBI 2) Diperjuangkan oleh IPBI jabtan fungsional tersendiri bagi petugas bimbingan di sekolah. g. Tahun 1993-1996 1) Perjuangan IPBI membuahakan hasil dengan diberlakukannya SK Menpan no. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan angka Kreditnya, SKB

Putri Erlinda Kusumaninigarum 9 Pengantar Konseling

Mendikbud dan Kepala BAKN No. 1433/1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya serta SK Mendikbud No.25/0/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketuntasan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya 2) Dilaksanakan penataran guru-guru pembimbimg SLTP dan SMU di seluruh Indonesia di PPP Kejuruan Jakarta 3) Sarjana BK lulusan jurusan PPB sudah mulai diangkat menjadi guru pembimbin di sekolah 4) Digalakannya kerjasama antara IPBI, Direktorat Jendral Pnedidikan dasar dan Menengah, dan IKIP Malang dalam menyelenggarakan sertifikasi kewenangan testing bagi para profeisonal bimbingan dan konseling 5) Dibentuknya divisi baru di IPBI h. Tahun 1996-2000 1) Diterbitkan dan dilaksanakannya Pedoman Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) 2) Diterbitkannya majalah Suara Pembimbing, setahun dua kali 3) Disusunnya sejumlah panduan untuk digunakan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah 4) Disusun dan diterbitkannya buku seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah 5) Perubahan 10 IKIP menjadi Universitas Negeri dan dua STKIP Negeri manjadi IKIP Negeri dengan arah wider mandate 6) Diselenggarakannya program rintisan Pendidikan Profesi Konselor 7) Pelayanan bimbingan dan konseling diperguruan tinggi, dikemas dalam bentuk program Student Support Service dan Carier Planning Development i. Tahun 2001-2002 1) Diselenggarakannya kongres IX IPBI 2) Dimulainya langkah profesionalisasi tenaga kependidikan 3) Disusunnya kompetensi guru pembimbing oleh direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen 4) Dilanjutkan program rintisan pendidikan profesi konselor di Universitas Negeri Padang 5) Diterbitkan Jurnal Bimbingan dan Konseling 6) Diterbitkan jurnal Konselor

Putri Erlinda Kusumaninigarum 10 Pengantar Konseling

j. Tahun 2003-2005 1) Konselor sebagai pendidik 2) Dasar standardisasi Profesi Konselor 3) Konvensi Nasioanl di Bandung, Desember 2003 4) DSPK telah disosialisasikan ke seluruh Indonesia 5) Penyususnan panduan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Berbasis Kompetensi 6) Izin praktek bagi konselor 7) Formasi pengangkatan Guru Pembimbing membengkak 8) Beasiswa untuk mahasiswa PPK 9) Pengembanagn BK Pola 17 menjadi Pola 17 Plus 10) Ssuai pemberlakuan KBK, pelayanan konseling di sekolah harus mampu memberikan sumbanagn yang signifikan terhadap aktualisasi KBK tersebut 11) Secara yuridis keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, pemong belajar, tutor, widya-iswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6)

B. Landasan Filosofis Filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka pada hikamah da kebijaksanaan. Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi serangkaian kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapakanmerupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu dipersiapkan pemikiran filosofis tentang eberbagai hal yang bersangkut paut dalam layanan bimbingan dan konseling. Pemikiran bimbingan dan konseling pada umumnya yaitu mmebantu onselor dalam mengahdapai situasi konseling dalam membuat pilihan yang tepat. Disamping itu pemikiran dan pemahaman filosofis yang memungkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih mantap, lebih fasilitatif, serta lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya (Belkin, 1975 dalam prayitno dan erman Amti 2004 :138). Dalam hal ini konselor harus merasa puas dalam membentu konseli mengani masalahnya. Konselor menggunakan ketrampilannya untuk membantu konseli dalam mengatasi masalah dan ketrampilan hidupnya. John J. Pietrofosa et.al (dalam Syamsu dan Juntika, 2007 :107) selanjutnya mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan sebaga berikut:

Putri Erlinda Kusumaninigarum 11 Pengantar Konseling

1. Bmbingan hendaknya didasarkan pada pengakuan akan kemuliaan dan harga dari individu dan atas hak-haknua mendapatkan bantuan 2. Bimbingan merupakan proses pendidikan ang berkesinambungan, artinya bimbingan merupakan bagian integral dari pendidikan 3. Bimbingan harus respek terhadap hak-hak setiap konseli yang meminta bantuan dan pelayanan. 4. Bimbigan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental. Bimbingan dilaksanakan melalui kerjasama, yang masing-masing bekerja berdasarkan keahlian atau kompetensinya sendiri. 5. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya. 6. Bimbingan merupakan elemen pendidikanyang bersifat individualisasi, personalisasi, dan sosialisasi.

C. Landasan Psikologis Dalam proses pendidikan di sekolah, siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadipribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa sebagai individu yang dianamis dan berada dalam proses perkembangan, memilki kebutuhan dan dinamiaka dalam interaksinya dengan lingkungannya. Sebagai pribadi yang unik, terdapat perbedaan individual antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Di samping itu, siswa sebagai pelajar, senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil proses belajar. Hal tersebut di atas, merupakan beberapa aspek psikologis dalam pendidikan yang berusmber pada siswa sebagai subjek didik, dan dapat menimbulakn berbagai masalah. Timbulnya masalah-masalah psikologis menuntut adanya upaya pemecahan melalui pendekatan psikologis pula. Upaya ini dilakuakn melalui layanan bimbingan dan konseling. Berikut ini aakan diuraikan mengenai beberapa masalah psikologis yang merupakan latar belakang perlunya bimbingan di sekolah. a. Masalah perkembangan individu Sejak individu terbentuk, individu akan terus berkembang.proses perkembangan itu dipengaruhi beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar. Perkembanagn dapat berhasil jika faktor-faktor tersebut dapat saling melengkapi. Pendidikan sebagai salah satu lingkungan, bertnaggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan individu di dalam memperoleh penyesuasian diri sesuai dengan tingkat

Putri Erlinda Kusumaninigarum 12 Pengantar Konseling

perkembangannya. Melalui bimbingan dan konseling siswa dibantu mencapai tugastugas perkembanganya dengan baik. Masa belajar di sekolah merupakan masa transisi, masa tercapainya kematangan, dan masa persiapan untuk mencapai kehidupan dewasa yang berarti. Dari sisnilah dapat diketahui bahwa bimbingan dan konseling memiliki posisi yang urgensial dalam pendidikan. b. Masalah perbedaan individu Di sekolah seringkali tampak masalah perbedaan individu, misalnya ada siswa yang sangat cepat dan ada yang lambat belajar , ada yang cerdas, dan ada yang berbakat dalam bidang tertentu, dan sebagainya. Kenyataan ini akan membawa konsekuensi begi pelayanan pendidikan, khususnya yang menyangkut bahan pelajran, metde mengajar, alat-alat pelajaran, penilaian. Dan pelayanan lainnya. Disamping itu, perbedaan-perbedaan ini seringali banyak menimbulkan masalah-masalah baik bagi siswa itu sendiri, maupun bagi lingkungan. Dengan demikian tampak sekali bahwa dalam dunia pendidikan diperlukan pelayanan yang mampu malayani siswa secara individual dengan segala keunikan yang mereka miliki, dan itulah bidang bimbingan dan konseling. c. Masalah kebutuhan individu Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini bersifat mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Dengan berpegang pada prinsip bahwa tingkah laku merupakan cara individu memenuhi kebutuhannya, maka kegiatan belajar hakikatnya merupakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan penyluhan merupakan salah satu ke arah itu. d. Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku Proses penyesuaian diri ini banyak sekali menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu sendiri. Jika individu gagal dalam memperoleh penyesuaian diri, maka ia akan dimanifestasikan dlam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau disebut dengan kelainan tingkah laku. Oleh karena iu diperlukan adanya suatu usaha nyata untuk menanggulanagi gejala-gejala tersebut. Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling memberikan peranan yang cukup penting. e. Masalah belajar

Putri Erlinda Kusumaninigarum 13 Pengantar Konseling

Dalam perbuatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pengajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Beberapa masalah belajar misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar perbuatan belajar berhasil, memilih metode dan alat-alat yang tepat sesuai dengan jenis dan situaso belajar, membuat rencana elajar bagi siswa, penialaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagaginya. Bagi siswa sendiri, masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, memeprsiapkan ujian, memilih mata kuliah yang cocok, dan sebagainya. Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar ini banyka masalah yang timbul terutama yang dirasakan oleh pelajar. Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajara. Disinilah letak penting dan perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu agar mereka berhasi dalam belajar.

D. Landasan Sosial-Budaya Kebutuhan akan bimbingan timbul karena adanya masalah-masalah yang dihadapi oleh individu yang terlibat dalam kehidupan masyarakat. Semakin rumit struktur masayarakat dan keadaannya, semakin banya dan rumit pulalah masalah yang dihadapi oleh individu yang terdapat dalam masyarakat itu. Jadi kebutuhan akan bimbingan itu muncul karena terdapat faktor yang menambha rumitnya keadaan masyarakat dimana itu hidup. Faktor-fakto itu diantaranya adalah sebagai berikut (John J. Pietrfosa dkk. 1980; M. Surya dan rochman N. 1986; dalam Syamsu dan Juntika 2008:119) a. Perubahan konselasi keluarga Pada tahun 1970 keluarga di Amerika mengalami perubahan ynag cukup berarti, seperti : melemahnya otoritas usami, meningkatnya tuntutan kesamaan hak dan kewajiban kaum perempuan dan itu meretakkan kehidupan kehidupan hubungan antar keluarga. Yang ekmudian berdampak pada banyaknya perceraian dan kehidupan single parents. Hal ini mendorong munculnya hal negatif lain pada moralitas anak. Bagi keluarga yang disfungsional seperti inidihadapkan pada kebutuhan atau kesulitan mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya, sehingga memerlukan bantuan dari luar. Salah satu bantuan yang dapat memfasilitasi keluarga memecahkan masalah yang dihadapinya adalah layanan bimbingan dan konseling yang berupaya membantu untuk memelihara kebutuhan dan keharmonisan keluarga.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 14 Pengantar Konseling

b. Perkembangan pendidikan Perkembangan pendidikan di indoensia memberikan kesempatan begitu besar untuk seluruh warga Indonesia dalam memperoleh pendidikan. Kesempatan yang terbuka ini menyebabkan munculnya peserta didik dari berbagai kalangan yang berebda latar belakang, agam, etis, keadaan sosial, adat istiadat, dan ekonomi. Hal semacam ni menimbulkan bertumpuknya masalah yang dihadapi leh orang yang terlibat dalam kelompok campuran itu. Pemecahan ini dapat diperoleh dengan ,elaksanakan bimbingan bagi anggota kelompok. c. Dunia kerja Berbagai perubahan dalam dunia kerja menuntut keahlian khusus dari para pekerja. Untuk itu perlu dipersiapkan tenaga-tenaga yang terampil dan memiliki sikap mental yang atngguh dalam bekerja. Bimbingan dan konseling diperlukan untuk membantu menyiapakn mental para pekerja yang tangguh itu. d. Perkembangan kota metropolitan Kecenderungan bertumbuhnya kota-kota metropolitan akan mendorong semakin meledaknya arus urbansasi. Kondisi ini menimbulkan dampak sosial yang buruk bagi masyarakat di perkotaan. Kondisi tersbeut dapata memicu masalah psikologis seperti gejala maladjustment dan pathologi. Bimbingan dan konseling dibutuhkan untuk membanti masyarkat mengenai masalah-masalah psikologis sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. e. Sekrisme dan rasisme Sekrisme merupakan paham yang mengunggulakn salah satu jenis kelamin dari jenis kelamin lainnya. Sementara rasiseme adalah paham yang mengunggulkan ras yang satu atas ras yang lainnya. Berdasarkan kondisi tersebut, program bimbingan dan konseling mempunyai peran penting dalam upaya memberikan pemahaman bahwa anak laki-laki dan perempuan mempunyai peluan sama dalam melakukan segala hal tanpa ada batasn-batasan gender dan memberikan pemahaman bahwa perlakuan diskrimintaif terhadap ras-ras yeng berbeda bukanlah suatu pemecahan masalah yang baik. f. Kesehatan mental Masalah kesehatan mental ini semakin marak muncul di beberapa tempat di dunia ini, seperti orang yang mengalami gangguan jiwa (neurotik), sakit jiwa (psikoses), kepribadian antisosial, gangguan emosial, orang dewasa atau remaja yang melakukan tindak kejahatan yang serius, orang yang kecanduan minuman keras,

Putri Erlinda Kusumaninigarum 15 Pengantar Konseling

menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan lain-lain. Terkait dengan masalah ini, maka sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga, perusahaan dituntut untuk

menyelenggarakan program layanan bimbingan dan konseling dalam upaya mengembangakn mnetal yang sehat dan mencegah serta menyembuhkan mental yang tidak sehat. g. Perkembangan teknologi Dengan perkembangan teknologi yang pesat, timbul dua masalah penting yang menyebabkan kerumitan struktur dalam masyarakat yakni : 1) Penggantian secara besar tenaga kerja menusia dengan mesin menyebabkan jumlah pengangguaran meningkat 2) Bertambahnya jenis-jenis pekerjaan yang menghendaki keahlian khusus dan memerlukan pendidikan yang khusus pula. Kedua masalah tersebut membuat seseorang membutuhkan bantuan dari orang lain. Disinilah bimbingan dan konseling berperan. Selain itu ada pula dampak perkembangan teknologi yang lain, misalnya kemudahan untuk mendapatkan informasi baik dari media cetak maupun media elektronikyang mana baik kita sadari atau tidak, di dalamnya terkandung beberapa muatan negatif yang membuat seseorang untuk berbuat negatif pula. dalam Hal ini bimbingan dan konseling diperlukan untuk membimbing seseorang agar tidak larut dalam dampak negatif tersebut. h. Kondisi moral dan keagamaan Kebebasan utnuk menganut agam sesuai dengan keyakinan masing-masing individu menyebabkan individu berfikir dan menilai setiap agama yang dianutnya. Kadangkadang menilainya berdasarkan nilai moral umum yang dianggapnya paling baik, kadang berdasarkan kesenangan pribadi yang nyata membuata perasaan tertekan dengan norma-norma agama ataupun keraguan atau melemahnya keyakinan akan agama yang telah diwarisisnya. Ini tidak mudah untuk ditentukan segera karena menyangkut hal yang sanagt medasar dan peka. Oleh karena itu, makin dibutuhkanlah layanan bimbingan yang baik untu menanggulanginya. i. Kondisi sosial ekonomi Perbedaan yang besar dalam faktor ekonomi diantara anggota kelompok campuran, menimbulkan manusia yang berat. Masalah initerutama sangat dirasakan oleh

Putri Erlinda Kusumaninigarum 16 Pengantar Konseling

individudari golongan ekonomi rendah. Tidak mustahil timbul kecemburuan sosial atau perasaan tidak nyaman untuk bergaul dengan kelompok orang kaya. Untuk mengatasi hal ini dengan sendirinya memerlukan adanya bimbingan, baik mereka dri golongan ekonomi rendah atau pun dari golongan lain.

E. Teoritis Konseling

Putri Erlinda Kusumaninigarum 17 Pengantar Konseling

BAB III KAITAN KONSELING DENGAN LAYANAN LAIN

Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah tidak dapat dilepaskan dengan keterkaitan antara berbagai layanan lain yang juga behubungan dengan lingkungan seorang individu. Berikut ini adalah gambaran tentang kaitan antara konseling dengan layanan yang disajikan dalam mind map.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 18 Pengantar Konseling

KAITAN KONSELING
DENGAN LAYANAN LAIN Dengan layanan bimbingan di sekolah

Dengan psikoterapi Dengan layanan bimbingan belajar Psikoterapi terfokus mengatsi kelemhankelemahan yang ada dengan cara praktis, sedangkan konseling terfokus pada pengembangan kelebihan kearah positif

Konselor dibutuhkan untuk membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan akademik, melakukan training motivasi, tes psikologi, pembuatan angket, dll.

Memiliki hubungan timbal balik dengan layanan orientasi, melalui orientasi dapat diketahui seluk beluk tentang konseling, dan konseling menyelesaikan masalah yang muncul setelah orientasi

Dengan layanan pengobatan alternatif

Hubungan dengan layanan informasi : Melalui layanan informasi diketahui info tentang konseling, dan konseling memperjalas informasi yang belum mendetail

Layanan yang diberikan oleh kyai bisa dikatakan sebagai layanan konseling karena kyai adalah orang yang ahli dalam bidang agama, walaupun tidak memiliki dasar psikologis

Hubungan dengan layanan penempatan dan penyaluran : Layanan penempatan dan penyaluran memerlukan layanan konseling untuk melakukan assesment

Putri Erlinda Kusumaninigarum 19 Pengantar Konseling

BAB IV RAGAM KONSELING BERDASARKAN MASALAH, TAHAP PERKEMBANGAN, DAN JUMLAH KONSELI

Dalam praktek konseling terdapat pembagian konseling menurut masalah, tahap perkembangan, maupun jumlah konseli. Dari setiap pembagia tersebut digunakan untuk mengategorikan koneli dan permalahannya agar lebih mudah diketahui kecenderungan layanan seperti apa yang sesuai dan dapat diterapkan secara efektif dalam layanan bimbingan dan konseling.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 20 Pengantar Konseling

RAGAM KONSELING BERDASARKAN MASALAH

Konseling Pribadi-Sosial Permasalahan yang ditangani adalah : Konflik, hubngan dangan masyarakta, sifat dan kemampuan diri, serta adaptasi dengan lingkungan

Merupakan usaha bimbingan dalam menghadapi dan memecahkan masalah pribadisosial

Konseling akademik

Konseling yang diharapkan untuk membentu para individu dalam memecahkan masalahmasalah akademik atau pendidikan

Mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar yang efektif, membantu keusksesan belajar, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan pendidikan

Konseling Karier

Merupakan proses dimana kegiatan, strategi, dan intervensi digunakan untuk membantu konseli dalam eksplorasi karier, perencanaan, dan pengambilan keputusan karier

Jenis layanan : Masalah akademis, masalah ssial, masalah keluarga dan pribadi, masalah berkaitan dengan emosi, dan masalah karier

Putri Erlinda Kusumaninigarum 21 Pengantar Konseling

RAGAM KONSELING BERDASARKAN TAHAP PERKEMBANGAN

Konseling pada anak

Fungsi konselor anak : Melaksanakan tes, menulis

Terdiri dari konseling anak usia dini, middle childhood, dan pra remaja (2-12 tahun)

dan menyimpan berbagai catatan, melakukan rujukan dan penempatan

Konseling pada remaja

Diberikan pada individu usia 12-18 tahun

konselor memfasilitasi konseli agar konseli tersebut bisa menemukan jati dirinya

Konseling pada orang dewasa

pada masa dewasa akan terus berlanjut dan terjadi banyak konflik intrapersonal dan interpersonal yang mengganggu proses adaptasi Konseling pada usia madya

Tugas konselor adalah memaksimalkan pertumbuhan dan kemampuan coping dan membantu mengeksplorasi berbagai area dalam kehidupan konseli

Seseorang telah mempunyai tujuan yang jelas kondisi keuangan yang telah mapan

Berkutat pada permasalahan pribadi

Konseling pada orang lanjut usia Konselor harus memahami sikap menarik yang dimiliki lansia

masa penarikan diri dari pekerjaan dan hubungan dengan lingkungan sosial

Putri Erlinda Kusumaninigarum 22 Pengantar Konseling

RAGAM KONSELING BERDASARKAN JUMLAH KONSELI

Konseling Individual

Terdiri dari satu konselor dan satu konseli

Konseling Kelompok

Proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara konselor dan konseli

Terdiri dari satu konselor dan lebih dari satu konseli Tanggung jawab konseli lebih banyak tergantung pada konselor

Merupakan usaha bantuan yang diberikan pada individu dalam suasana kelompok

Bersifat pencegahan serta perbaikan

Masalah yang dibicarakan bersifat sangat rahasia

Terdapat hubungan antara konselor-konseli, dan antar konseli

Berpusat pada hal-hal khusus yang disepakati anggota kelompok

Ditujukan untuk membantu konseli memecahkan masalah pribadi-sosial, akademik, dan karier

Putri Erlinda Kusumaninigarum 23 Pengantar Konseling

BAB V PROSES PELAKSANAAN KONSELING Faktor yang mempengaruhi kesiapan : Motivasi untuk memperoleh bantuan, pengetahuan konseli tentang konseling, tingkat kesadaran terhadap masalah, harapan terhadap peran konselor, sistem pertahan diri, dan fasilitas yang tersedia

Dapat berlangsung dalam satu kali pertemuan, beberapa kali, atau lebih banyak

Konseling merupakan proses yang digunakan untuk menolong konseli menyelesaikan masalah Kondisi yang Mempengaruhi Konseling

Cara mencapai kesiapan konseli : Pendekatan incaal-them, maintaingood-relation, developing-a-desirefor-counseling, dan interview condititon

PROSES KONSELING

Eksternal : Physical Setting Proxemics Privacy Belief Values Penerimaan

Internal : Rapport Empathy Genuineness Attentiveness

Tahap-tahap konseling :

Tahap kerja: o Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien secara lebih mendalam, reassessment , dan menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara

Tahap awal : o Rapport, memperjelas dan mendefinisikan masalah, membuat penaksiran dan perjajagan, serta menegosiasikan

Tahap akhir : Konselor bersama konseli membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling, menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan, dan mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera) o Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya

Putri Erlinda Kusumaninigarum 24 Pengantar Konseling

BAB VI HUBUNGAN, DIAGNOSIS, NILAI-MORAL-ETIKA HUKUM, PENELITIA DAN EVALUASI KERAGAMAN BUDAYA DAN GENDER HUBUNGAN DAN DIAGNOSIS NILAI MORAL ETIKA DALAM PRAKTIK KONSELING

Nilai dapat didefinisikan sebagai keyakinan kuat bahwa suatu kondisi akhir atau mode perbuatan adalah suatu yang bisa diterima. Rokeach (1973) membedakan antara nilai terminal dan instrumental

Moral dalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya

Hukumadalah suatu sistem aturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum.

Kitchener (1984) mengidentifikasi empat level pemikiran moral berbeda yang dijadikan sandaran oleh konselor : intuisi personal, panduan etik yang dibakuakan oleh organisasi prosesi, prinsip etik, dan teori umum tindakan moral.

a. Undang-Undang dasar 1945, Bab XIII tentang pendidikan dan kebudayaan pasal 31 b. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bab 1 pasal 1 ayat 1, ayat 6 Bab II pasal 3, dan bab V pasal 12 ayat 1b c. Permendiknas No. 22/2006 tentang standar isi dan satuan pendidikan dasar dan menengah d. Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang standar kualifikasi akademik kompetensi konselor e. PP No. 38 tahun 1992 tentang tenaga kependidikan pasal 1 ayat 2 dan 3 serta pasal 3 ayat 2 f. SK Menpan No. 84/1993 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya pasal 3 dan pasal 5 g. SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanan jabatan funsional Guru dan angka kreditnya pasal 1,4, dan 5. h. SK Mendikbud No. 025/0/1995 tentang petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. i. SK Menpan No. 118/1996 tentang jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya. Pasal 1 dan 23. i. SK Mendikbud No. 020/U/1998 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 25 Pengantar Konseling

PENELITIAN ASESMEN DAN EVALUASI, KERAGAMAN BUDAYA, JENDER

Asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan

Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah

Aspek penilaian : a. Panilaian progarm bimbingan dan konseling b. Penilaian proses pelaksanaan bimbingan dan konseling c. Penilaian hasil dari pelaksanaan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling

Tujuan asesmen yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien

Ruang lingkup evaluasi : Ruang lingkup : a. System assesment b. Program planning c. Program implementation d. Program improvement e. Program certification a. Evaluasi peserta didik b. Evaluasi program c. Evaluasi proses

Langkah-langkah asessment : a. Perencanaan b. Pelaksanaan c. Analisis data d. Interpretasi data e. Tindak lanjut

Konseling lintas budaya mempunyai arti suatu hubungan konseling yang terdiri dari dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai-nilai dan gaya hidup.

Gender ialah suatu sifat laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh masyarakat baik secar kultural maupun sistematik

Konseling lintas budaya berfungsi membantu konselor dalam melakuakn pendekatan sesuai dengan keragaman budaya tersebut dalam melaksanakan konseling

Putri Erlinda Kusumaninigarum 26 Pengantar Konseling

BAB VII FAKTOR-FAKTOR EFEKTIVITAS KONSELING, KARAKTERISTIK KONSELOR, KARAKTERISTIK KONSELI, DAN SETTING LINGKUNGAN

FAKTOR-FAKTOR EFEKTIVITAS KONSELING

Karakteristik Konselor Efektif

Karakteristik Konseli

Memahami Konseli Menurut Brammer, Abrego & Shostrom : Sikap hangat, dapat memahami, positif regard, self-revealing, kondisi fasilitatif, dan keterbukaan diri konselor

Menurut Carl Rogers : Congruence (Genuineness, Authenticity), Unconditional positive

Keberhasilan dan kegagalan proses konseling ditentukan oleh tiga hal yaitu : a. Kepribadian Konseli b. Harapan Konseli c. Pengalaman dan Pendidikan Konseli

Menarik

Aneka Ragam Konseli : a. Konseli Suka Rela b. Konseli Terpaksa c. Konseli Enggan d. Konseli Bermusuhan / Menentang e. Konseli Krisis

Putri Erlinda Kusumaninigarum 27 Pengantar Konseling

BAB VIII LANGKAH-LANGKAH PROFESIONALISASI KONSELOR

Profesioanalisasi yaitu proses peningkatan kualitas maupun kemampuan para anggota suatu profesi dalam mencapai kriteria standar dalam penampilannya sebagai angota suatu profesi. Ciri utama dari profesi yaitu : a. Suatu profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang memiliki fungsi dan kebermaknaan sosial yang sangat menentukan b. Untuk mewujudkan fungsi para anggota harus menapilkan pelayanan yang khusus didasarkan pada teknik intelektual dan ketrampilan yang unik c. Penampilan pelayanan bersifat pemecahan masalah atau penanganan situasi krisis yang menuntut pemecahan dengan menggunakan teori dan metode ilmiah d. Para naggota memilki kerangka ilmu yang sama yaitu didasrkan atas ilmu yang jelas, sistematis, dan eksplisit. e. Untuk menguasai kerangka ilmu diperlukan pendidikan dan latihan dalam jangka waktu yang ukup lama. f. Dalam anggota secara tegas dituntut memilki kompetensi minimum melalui prosedur seleksi, pendidikan dan latihan, serta lisensi atau sertifikasi. g. Para anggota memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi dalam memeberikan pendapat dan pertimbangan serta membuat keputusan yang berkenaan dengan penyelenggaraan pelayanan profesional yang dimaksud. h. Pelayanan yang diberikan lebih bersifat sosial dari pada pelayanan yang mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi. i. Standar tingkah laku bagi anggotanya dirumuskan secara tersurat melalui kode etik ysng benar-banar diterapkan. j. Para anggota terus menerus berusaha menyegarkan dan meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Secara ideal seluruh persyaratan diatas harus dipenuhi oleh suatu profesi.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 28 Pengantar Konseling

A. Tugas profesionalisasi konselor Mc Cully mamandang bahwa bidang pelayanan konseling harus mampu menempuh dan behasil dalam enam tugas perkembangan apabila ia hendak menjadi bidang pekerjaan yang benar-benar profesional, yaitu : a. Pelayanan sosial yang unik yang ditampilkan oleh konselor harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga secara jelas memperlihatkan perbedaannya dari pelayanan ahli atau petugas lain b. Standar seleksi dan latihan bagi calon konselor dikembangkan, c. Agar standar seleksi dan latihan itu berguna dan menemui sasarannya perlu dirumuskan prosedur akreditasi terhadap lembaga penyiapan konselor d. Diselenggarakan program sertifikasi yang benar-benar sahih terhadap kompetensi minimum yang diharapkan e. Harus secara aktif memperjuangkan pengembangan dan penyelenggaraan kebebasan profesional yang memungkinkannya melaksanakan pelayanan khusus yang menjadi kewajiban f. Kelompok konselor harus memiliki dan menerapkan kode etik yang mengatur dan mengontrol tingkah laku para anggotanya.

B. Profil Konselor Sifat-sifat kepribadian yang menonjol yaitu : a) Konselor sebagai model Dalam konseling, konseli meniru tingkah laku konselor serta mengambil hal-hal yang diyakini baik menjadi miliknya sendiri. b) Hubungan konseling Konselor yang efektif adalah mereka yang dapat menciptakan hubungan yang bersifat memebantu dan tanpa mendapat tekanan dengan konseli c) Keberanian melakukan konseling Konselor memerlukan keberanian melakuakn keberanian dan kepercayaan terhadap diri sendiri guna memberi bantuan kepada konseli.

C. Pedoman konselor sekolah Pedoman yang hendaknya diikuti konselor disekolah apabila ingin diakui

keprofesionalannya konselor harus :

Putri Erlinda Kusumaninigarum 29 Pengantar Konseling

a. Memulai kariernya sejak hari-hari pertama konselor di sekolah dengan program kerja yang jelas dan siap untuk melaksanakan program tersebut b. Selalu mepertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personil sekolah dengan siswa. c. Tanggung jawab konselor untuk memahami peranannya sebagai konselor profesional dan menerjemahkan peranannya itu kegiatan nyata. d. Harus memahami tanggung jawabnya kepada semua siswa, baik siswa bermasalah, yang menimbulkan gangguan, gagal, yang kemungkinan putus sekolah, yang mengalami permasalahan emosional e. Harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa yang mengalami masalah dengan kadar yang cukup parah dan siswa yang menderita gangguan emosional, khususnya melalui penggunaan program-program kelompok, program kegiatan diluar sekolah dan kegiatan pendidikan pengajaran di sekolah, dan bentuk pelayanan lain.

D. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling a. Standardisasi untuk kerja professional konselor b. Standardisasi penyiapan konselor c. Akreditasi d. Stratifikasi dan lisensi e. Pengembangan organasi profesi

E. Dasar pemikiran standardisasi profesi konselor Keberadaan konselor dalam sistem penddikan nasioanal dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 6).

F. Sosok utuh kompetensi konselor a. Kompetensi akademik konselor 1) mengenal secara mendalam dengan penyikapan yang empatik serta menghormati keragaman yang mengedepankan permasalahn konseli yang dilayani 2) menguasai khasanah teoritik tentang konteks, pendekatan, asas, dan prosedur serta sarana yang digunakan dalam penyelenggaraan pelayanan ahli bimbingan 3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan

Putri Erlinda Kusumaninigarum 30 Pengantar Konseling

4) menegmbangkan profesioanlitas sebagaikonselor secara berkelanjutan. b. Kompetensi profesional Konselor c. Kompetensi profesional konselor mencerminkan penguasaan kiat pelayanan bimbingan dan konseling.

G. Assesmen pengauasaan kompetensi profesioanlisai konselor Penguasaan kemampuan profesoanl hanya dapat diferivikasi melalui pengamatan ahli lain yang dalam pelaksanaanya juga sering mempersyaratkan penggunaan sarana assesmen yang longgar untuk memberikan ruang gerak bagi diambilnya pertimbangan ahli secara langsung. Asessmen kemampuan profesional konselor itu tidak cukup apabila hanya dilaksanakan melalui pemotertan sesaat, melainkan harus melalui pengamatan berulang.

Putri Erlinda Kusumaninigarum 31 Pengantar Konseling

DAFTAR RUJUKAN C.Nelson, Richard. 1972. Guidance and Counseling in the Elementary School. Amerika : Holt, Rinehart, and winston, Inc. L.Dryanggi.2011. Landasan Bimbingan dan Konseling,(online),(dryanggilestari.blogspot.com/2011/07/landasan-bimbingandan-konseling.html ) diakses tanggal 3 Mei 2012 Mappiare, Andi AT. 2004. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Mc Leod, John. 2008. Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus Edisi Ketiga. Alhi bahasa oleh A.K. Anwar. Jakarta : Kencana Perdana Santoso, Djoko Budi. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Malang : Tanpa Penerbit. Sari, Hardika Denik. 2009. Landasan-Landasan Bimbingan dan Konseling,(online),(www.scribd.om/doc/24800435/landasan-BK). Diakses tanggal 3 Mei 2012