Anda di halaman 1dari 10

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

ANALISIS UNJUK KERJA BALLAST ELEKTRONIK DALAM IMPLEMENTASI EFISIENSI ENERGI

Oleh

Eka Firmansyah 1 , F Danang Wijaya 1 , Hugo Nandian Pradana 2 , Yusuf Susilo Wijoyo 1

Abstrak

Meningkatnya kebutuhan bahan bakar fosil untuk elektrifikasi menyebabkan produksi gas rumah kaca meningkat. Hal tersebut harus diantisipasi dengan penghematan penggunaan energy yang salah satunya dilakukan di sisi beban. Penggantian ballast konvensional dengan ballast elektronik pada lampu fluorescent adalah salah satu usaha tersebut. Dari pengamatan laboratorium, penggantian tersebut menghasilkan faktor daya yang lebih tinggi dan rugi-rugi daya yang lebih rendah sehingga memberikan potensi penghematan penggunaan energi mencapai 65 – 75% dari ballast konvensional. Kendala yang timbul adalah temuan yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampel uji menghasilkan intensitas cahaya yang lebih rendah bila dibandingkan dengan lampu fluorescent dengan ballast konvensional. Selain itu, ditemukan fatka bahwa THD arus yang dihasilkannya ballast elektronik sangat tinggi. Agar aspek penghematan energi dapat dicapai dengan baik, produk ballast yang dijual di Indonesia perlu distandarisasi.

Kata kunci: penghematan, ballast konvensional, ballast elektronik, unjuk kerja, dan standar

  • 1 Dosen Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

  • 2 Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

238

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang

Meningkatnya kebutuhan bahan bakar fosil untuk elektrifikasi menyebabkan meningkatnya produksi gas rumah kaca. Hal tersebut berdampak pada pemanasan global yang jika tidak ditanggulangi akan berakibat pada perubahan iklim, perubahan siklus air, dan meluasnya wabah penyakit tidak dapat dihin-darkan[1]. Kebutuhan elektrifikasi yang tinggi harus diim-bangi dengan penggunaannya secara efisien sehingga didapat penghematan energi yang dapat mengurangi pengaruh pemanasan global. Beberapa usaha telah dilakukan dalam meningkatkan efisiensi energi diantaranya pada sisi pembangkit tenaga listrik, trans-misi tenaga listrik, dan beban. Peluang besar untuk melakukan penghematan terdapat pada sisi beban, terutama untuk kebutuhan penerangan. Lampu fluorescent, yang sering disebut sebagai lampu TL, banyak digunakan sebagai sumber pene-rangan, baik untuk perumahan maupun industri. Keuntungan dari lampu fluorescent adalah daya yang dipakai relatif lebih kecil dibandingkan dengan lampu bolam (incandescent lamp) untuk kuat cahaya yang sama. Pada lampu fluorescent, komponen yang menentukan kinerjanya adalah ballast. Ballast yang umum digunakan adalah jenis induktif. Seiring dengan perkembangan teknologi elektronika daya, berkembanglah ballast elektronik. Ballast elektronik memiliki keunggulan dibanding ballast konvensional diantaranya: lebih hemat daya, tanpa kedipan (flicker-free), memiliki rasio konversi daya listrik ke cahaya yang tinggi, serta lebih ringan. Dengan kelebihan tersebut, semakin banyak ballast elektronik digunakan akan semakin banyak peng-hematan pada sisi beban [2]. Dalam penelitian ini akan dianalisis konsumsi daya sirkuit ballast untuk mengetahui seberapa efektif penghematan yang didapat dari penggantian ballast konvensional dengan ballast elektronik. Juga akan dianalisis intensitas pencahayaan, faktor daya (power factor), rugi-rugi daya, dan Total Harmonic Distortion (THD) yang ditimbulkan oleh 6 sampel ballast elektronik untuk mengetahui perbedaan masing- masing ballast dan kualitas daya yang dihasilkan.

  • 1.2. Tinjauan Pustaka

Penggunaan ballast elektronik untuk menggan-tikan ballast konvensional akan menghasilkan peng-hematan konsumsi daya yang signifikan, hingga lebih dari 43% [3]. Dari [8] diperoleh angka produksi CO2 sebesar 0.056 kg/kWh dengan bahan bakar batu bara, 0,077 kg/kWh untuk heavy fuel oil, dan 0,097 kg/kWh untuk batu bara. Angka-angka tersebut digabungkan dengan data neraca energi PLN tahun 1998 menghasilkan estimasi produksi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia sebesar 0,078 kg/kWh. Besaran tersebut dapat digunakan sebagai acuan penghitungan pengurangan emisi CO 2 yang terjadi akibat penggantian ballast konvensional dengan ballast elektronik. Lampu fluorescent bekerja berdasarkan pelepasan elektron di dalam tabung lampu (lamp tube). Pada prinsipnya ballast elektronik terdiri atas komponen yang

239

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

memberikan arus dengan frekuensi tinggi di atas 18 kHz. Frekuensi tinggi tersebut akan meningkatkan rasio konversi daya listrik ke cahaya yang dihasilkan serta membuat tidak terdeteksinya kedipan oleh mata. Unjuk kerja ballast dapat diukur dengan beberapa kriteria, yaitu: intensitas pencahayaan, faktor daya (power factor), THD, serta rugi-rugi daya.

a.

Faktor Daya (Power factor)

 

Daya listrik terdiri atas daya aktif (P), daya reaktif (Q), dan daya semu (S). Faktor daya didefinisikan sebagai berikut:

 
(1)

(1)

Faktor daya merupakan perbandingan antara nilai watt dengan nilai RMS volt- ampere dari ballast. Nilai faktor daya mencerminkan seberapa besar nilai daya aktif dari daya semunya. Karena nilai P tidak mungkin lebih besar dibanding nilai S, maka nilai faktor daya tidak akan lebih besar dari 1 atau 100% [4]. Ballast dengan faktor daya yang tinggi menarik arus lebih kecil dibanding ballast dengan faktor daya rendah[5].

b.

Total Harmonic Distortion (THD)

 

Kualitas daya listrik salah satunya dipengaruhi oleh timbulnya harmonik pada sistem kelistrikan yang diakibatkan oleh distorsi gelombang arus dan tegangan pada sistem distribusi tenaga listrik. Besar total gangguan harmonik pada suatu sistem tenaga listrik dinyatakan dengan Total Harmonic Distortion (THD) terutama THD arus, yang didefenisikan sebagai berikut [6]:

 

THD

=

THD = (2)
THD = (2)

(2)

Dengan,

 

THD

: Total Harmonic Distortion (%)

 
: Arus harmonisa pada orde ke-n (mA)

:

Arus harmonisa pada orde ke-n (mA)

:

Arus fundamental I rms (mA)

c.

Rugi-rugi daya

 

Tingkat hemat energi ballast elektronik ditentukan oleh persentase daya yang dikonsumsi oleh ballast elektronik terhadap total daya ma-sukan pada rangkaian ballast dan lampu[4]. Ditentukan dengan persamaan:

(3)

(3)

d.

Intensitas pencahayaan

Dalam penerangan, kualitas penerangan diten-tukan oleh intensitas pencahayaan yang diha-silkan. Intensitas pencahayaan dapat diukur dari iluminasinya, yaitu suatu

240

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

ukuran dari cahaya yang jatuh pada sebuah bidang permukaan. Satuan iluminasi sesuai SI adalah lux, yaitu iluminasi yang dihasilkan oleh satu lumen cahaya pada permukaan seluas 1 m 2 [7]. Ballast factor merupakan rasio antara intensitas cahaya lampu oleh ballast tersebut dengan intensitas cahaya lampu oleh ballast referensi [5].

  • II METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian terhadap ballast elektronik untuk lampu T8 yang disyaratkan oleh IEC60081 dengan standar uji kinerja mengacu pada IEC60929. Adapun metode pengum-pulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Metode Observasi, yaitu dengan mengamati dan mengambil data obyek yang diamati melalui pengujian langsung. 2. Studi Pustaka, yaitu dengan membaca referensi mengenai efisiensi energi yang terkait dengan penggunaan ballast elektronik.

2.1

Alat dan Bahan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

a.

Alat:

1)

Sumber tegangan 220 V ± 5 %, dengan frekuensi 50 Hz ± 2,5 %.

2)

Power analyzer Voltech PM100, dengan ketelitian ± 0,1 %.

3)

Luxmeter, dengan ketelitian ± 1 %.

4)

Ruang uji, berdimensi 120cm x 120cm x 120cm.

b. Bahan:

1)

Tube lampu referensi fluorescent linear jenis T8: Philips TL-D 18W.

2)

Ballast referensi jenis induktif: Philips BTA 18W.

3)

6 merk sample uji ballast elektronik 18W.

Skema rangkaian dapat dilihat sebagai berikut:

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 ukuran dari cahaya yang jatuh pada sebuah

Gambar 1 Skema Rangkaian Pengujian

  • 2.2. Alur Pengujian

Alur pengujian pada penelitian ini digambarkan pada Gambar 2.

241

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

Prosedur pengujian pada penelitian ini mengacu pada IEC 60081, IEC60929, dan IEEE 519-1992:

  • a. Penetapan tube lampu referensi, Tube lampu jenis T8 yang telah aging selama lebih dari sama dengan 100 jam.

  • b. Penetapan ballast referensi,

Ballast jenis induktif dengan spesifikasi tegangan masukan dan spesifikasi daya nominal yang sesuai untuk lampu referensi yang dipilih.

  • c. Pengukuran nilai intensitas cahaya (lux) oleh ballast,

Pengukuran dilakukan dalam ruang uji berdimensi 120cm x 120cm x 120cm dengan menggunakan luxmeter. Pengukuran dilakukan setelah lampu mencapai kondisi stabil tanpa kedipan.

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 Prosedur pengujian pada penelitian ini mengacu pada

Gambar 2 Alur Pengujian

  • d. Pengukuran daya total, faktor daya, dan THD pada sirkuit lampu dan ballast,

Pengukuran dilakukan dengan power analyzer pada sisi terminal masukan ballast dan sisi terminal lampu. Nilai pengukuran yang dicatat adalah setelah nyala lampu mencapai kondisi stabil. Ketersediaan power analyzer yang digunakan terbatas sehingga pengukuran dilakukan bergantian antara sisi terminal masukan ballast dan sisi terminal lampu. Untuk masing-masing sisi, data yang diambil sebanyak tiga kali kemudian diambil nilai reratanya.

  • e. Penentuan tingkat efisiensi energi ballast,

Apabila semua kriteria yang tertera di bawah ini terpenuhi, maka ballast dikatakan hemat energi:

1)

Intensitas cahaya oleh ballast tidak kurang dari 95%.

2)

Faktor daya tidak kurang dari 0,80.

3)

Total harmonic distortion lebih kecil dari 20%.

4)

Rugi-rugi daya ballast lebih kecil dari 20%.

242

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

  • III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.

Hasil

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Gambar

Gambar 3 Chart Penghematan Energi oleh Ballast Elektronik

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Gambar

Gambar 4 Chart Pengurangan Emisi CO2 oleh Ballast Eletronik

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Gambar

Gambar 5

Chart Faktor Daya, Intensitas Pencahayaan dan Rugi-Rugi Daya Ballast

243

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011 Gambar 6 Chart THD Arus Ballast 3.2.

Gambar 6 Chart THD Arus Ballast

3.2. Pembahasan

Data hasil pengamatan mengenai konsumsi daya sirkuit ballast, seperti Gbr.3 dan Gbr.4, menunjukkan bahwa konsumsi daya ballast elektronik berada di bawah ballast konvensional dan menghasilkan penghematan energi sebesar 65 – 75% dari konsumsi daya ballast konvensional. Ballast elektronik, diurutkan dari yang paling hemat adalah:

sampel B, sampel D, sampel A, sampel C, sampel E, dan sampel F. Dengan melakukan penggantian ballast konvensional dengan ballast elektronik, diperoleh penghematan yang cukup signifikan pada sisi beban dari sistem elektrifikasi. Penghematan tersebut juga akan menghasilkan pengurangan emisi CO 2 (gas rumah kaca). Bila diasumsikan sebuah lampu menyala selama 12 jam sehari, didapat penghematan sebesar 234,155 – 270,193 kg CO 2 /tahun. Data hasil pengamatan mengenai intensitas pencahayaan, power factor, rugi- rugi daya, dan Total Harmonic Distortion (THD), seperti Gbr.5 dan Gbr.6, menunjukkan bahwa dari ke-6 sampel ballast elektronik, didapat unjuk kerja yang berbeda-beda.

  • a. Intensitas pencahayaan

Intensitas pencahayaan yang dihasilkan oleh ke-6 sampel ballast elektronik rata-rata lebih rendah dibanding intensitas pencahayaan yang dihasilkan oleh ballast referensi, nilainya berkisar pada 68 – 91 % dari intensitas pencahayaan ballast referensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ballast belum memenuhi standar intensitas pencahayaan. Urutan intensitas pencahayaan tertinggi hingga terendah adalah:

Sampel E, Sampel D, Sampel C, Sampel F, Sampel A. Terdapat satu sampel ballast elektronik yang memenuhi standar intensitas pencahayaan, yaitu Sampel B dengan nilai 104%.

  • b. Faktor daya

Faktor daya yang dihasilkan oleh ke-6 sampel ballast elektronik lebih tinggi dibanding faktor daya ballast konvensional. Faktor daya ballast konvensional bernilai 0,3, sedangkan faktor daya ke-6 sampel ballast elektronik urut dari yang tertinggi adalah:

0,938, 0,579, 0,552, 0,506, 0,504, dan 0,461. Ballast dengan urutan yang sama adalah: Sampel B, Sampel D, Sampel E, Sampel C, Sampel A, Sampel F. Walaupun

244

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

faktor daya yang dihasilkan lebih tinggi, namun hanya Sampel B yang memenuhi standar faktor daya.

  • c. Rugi-rugi daya

Rugi-rugi daya pada ke-6 sampel ballast elektronik lebih kecil dibanding rugi-rugi daya ballast konvensional. Hal tersebut berarti tingkat hemat energi ballast elektronik lebih tinggi dibanding ballast konvensional. Sehingga, dapat dikatakan bahwa selain konsumsi daya lebih kecil, ballast elektronik juga memberikan tingkat hemat energi yang lebih tinggi. Nilai rugi-rugi daya ballast konvensional adalah 74%, sedangkan nilai rugi-rugi daya ballast elektronik urut dari yang terendah adalah: 13%, 51%, 52%, 59%, 60%, dan 60%. Ballast dengan urutan yang sama adalah: Sampel B, Sampel D, Sampel E, Sampel F, Sampel C, dan Sampel A. Dari ke-6 sampel ballast elektronik, yang memenuhi standar rugi-rugi daya hanya Sampel B.

  • d. Total Harmonic Distortion arus

THD arus pada ke-6 sampel ballast elektronik lebih tinggi dibanding THD arus ballast konvensional. Hal tersebut berarti nilai total gangguan atau nilai kualitas daya listrik yang diakibatkan oleh ballast elektronik lebih buruk dibanding ballast konvensional. Nilai THD arus ballast konvensional adalah 8,122%, sedangkan nilai THD arus ballast elektronik urut dari yang terendah adalah: 36%, 116,763%, 129,347%, 153,437%, 155,527%, 175,207%. Ballast dengan urutan yang sama adalah: Sampel B, Sampel D, Sampel E, Sampel A, Sampel C, dan Sampel F. Hal tersebut menunjukkan bahwa ke-6 sampel ballast elektronik tidak ada yang memenuhi standar THD arus.

IV KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan bahwa penggantian ballast konvensional dengan ballast elektronik memberikan penghematan energi listrik hingga 65 – 75%. Penghematan tersebut berpotensi mengurangi emisi CO 2 (gas rumah kaca) sebesar 234,155 – 270,193 kg/tahun. Selain itu, ballast elektronik memiliki kelebihan dibandingkan dengan ballast konvensional dari sisi faktor daya yang lebih tinggi dan rugi-rugi daya lebih rendah. Meski demikian, ditemukan fakta bahwa sample ballast elektronik yang diuji menghasilkan intensitas cahaya yang lebih rendah dibandingkan dengan lam-pu fluorescent dengan ballast konvensional. Umum-nya, THD arus yang dihasilkannya juga cukup tinggi. Kedua hal tersebut tidak terjadi pada sample B. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kinerja ballast elektronik yang diuji sangat tidak seragam. Secara keseluruhan, tidak dapat memenuhi standar internasional yang telah ditetapkan untuk ballast elektronik (IEC 60929) kecuali untuk sample B. Agar program penghematan energi pada sisi pengguna dapat berjalan dengan baik, perlu ditetapkan sebuah standar acuan kinerja untuk ballast elektronik yang dijual di Indonesia.

245

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

V

REFERENSI

  • 1. Anonim. 1997. Energy Efficient Fluorescent Ballasts. Pacific Gas and Electric Company, USA, May

  • 2. Hidayat, Asep Sarif; Samgita, Ary. 2010. Energy Efficiency in Dry Cell Battery Industry by MeLoK Project – in PT.International Chemical Industry. PT.International Chemical Industry, Colombo, June

  • 3. http://danulserbablog.blogspot.com/2011/02/ perbedaan-kinerja-antara- ballast.html

  • 4. http://www.manicore.com/anglais/missions_a/carbon_inventory.html, diakses 11 Juli
    2011

  • 5. Linsley, Trevor 2004. Instalasi Listrik Tingkat Lanjut – Edisi Ketiga. Penerbit Erlangga, Jakarta

  • 6. Nashelsky, Louis; Boylestad ,Robert. Electronic Devices and Circuit Theory.- Seventh Edition. Prentice Hall, Ohio

  • 7. Riebeek, Holli, 2010. Global Warming. NASA Earth Observatory, June

  • 8. Wildi, Theodore, 1981. Electrical Power Technology. Sperika Enterprises Ltd., United States of America

246

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta, 14 Juli 2011

247