Anda di halaman 1dari 11

1. Apa yang dimaksud dengan Overshot Jaw ?

Overshot Jaw merupakan kesalahan letak dari rahang (Jaw Malformation), yaitu terdapat penonjolan salah satu rahang. Bila rahang bawah yang menonjol disebut Overshot Jaw, tetapi bila rahang atas yang menonjol disebut Undershot Jaw.

2. Bagaimana struktur dan komposisi gigi tetap pada anjing ? Gigi pertama mulai bermunculan tumbuh pada saat puppy berumur 2-3minggu. Selanjutnya akan tumbuh gigi belakang atau geraham. Gigi geraham terakhir tumbuh pada umur 8 minggu. Trah anjing besar pertumbuhan giginya lebih cepat dari pada trah jenis kecil atau toy group. Pada umumnya puppy mempunyai 28 Gigi bayi atau gigi sementara, diantaranya adalah gigi depan, taring dan geraham. Puppy tidak mempunyai gigi geraham yg paling belakang. Gigi Dewasa berjumlah 42. Gigi bawah berjumlah 22 dan gigi atas berjumlah 20. Gigi depan atas ada 6, 2 taring, 8 geraham. Bagian bawah ada 6 geraham belakang, tapi hanya 4 bagian atas, dari jumlah yg berbeda ini kita bias menentukan usia si anjing saat dewasa.

3. Bagaimana struktur dan komposisi gigi sementara pada kucing ? Berbeda dengan manusia, selama hidupnya kucing mempunyai dua set gigi yaitu gigi susu dan gigi tetap/permanen. Anak kucing mempunyai 26 buah gigi susu, tanpa gigi geraham (molar). Sedangkan kucing dewasa mempunyai 30 gigi (dengan 4 buah gigi geraham). Semua gigi susu biasanya sudah digantikan oleh gigi permanen pada umur 6 bulan. pada umur 7 bulan biasanya sudah lengkap semua gigi permanen sebanyak 30 buah. Susunan, bentuk, warna dan jenis gigi sering dipakai oleh dokter hewan untuk memperkirakan umur kucing. Seperti karnivora (pemakan daging) lainnya, bentuk dan susunan gigi kucing sangat cocok untuk mencabik dan memotong makanan. 12 gigi seri kecil yang terdapat di bagian depan (diantara gigi taring) cock untuk fungsi mencabik dan memotong. 4 buah gigi taring berfungsi untuk merobek dan memegang mangsa/makanan. 10 gigi geraham depan (premolar) yang tajam bekerja sama dengan gigi geraham (molar) untuk memotong dan mengunyah makanan. 4. Apa perbedaan Regurgitasi dan Vomit ? Regurgitasi biasanya berkaitan dengan penyakit-penyakit daerah faring atau esofagus sedangkan vomit atau muntah biasaya berkaitan dengan gangguan lambung atau mungkin

penyakit sistemik. Karena hewan kesayangan tidak bias bicara, maka pemilik atau dokter hewan harus mengenali gejala-gejala yang mirip tersebut untuk memastikan kemungkinan penyakit yang diderita oleh hewan kesayangan tersebut. Bagi pemilik tentu bila dapat mengamati gejala ini dengan baik akan sangat membantu dokter hewan untuk mengindentifikasi penyakit yang terjadi pada hewan kesayangannya, hal ini karena seringkali gejala banyak tersebut terjadi di rumah dan tidak atau jarang terjadi di meja periksa dokter hewan, sehingga dokter hewan seringkali menanyakan gejala-gejala yang telah terjadi di rumah. Regurgitasi adalah keluarnya makanan melalui mulut, terjadi tanpa usaha atau tanpa adanya proses yang rumit dan tidak disertai tanda-tanda prodromal meski kadang disertai adanya hipersalivasi. Bahan yang dikeluarkan biasanya berupa bahan pakan yang belum terdigesti bercampur mukus atau saliva dan mempunyai pH normal, bahan pakan berupa bahan solid ataupun cair bila terjadi striktura pada esofagus, tercampur darah segar bila terjadi ulserasi, adanya rasa sakit saat menelan dan teraba adanya bolus di daerah esofagus. Waktu terjadinya biasanya segera setelah makan atau menelan. Bila terjadi agak lama setelah makan kemungkinan terjadi dilatasi esofagus atau divertikulum esofagus. Vomit atau muntah adalah keluarnya makanan melalui mulut yang merupakan suatu proses reflek yang terkoordinasi kontraksi otot-otot abdominal, retroperistaltik dan refleks menutupnya glottis. Muntah akan disertai adanya tandatanda prodormal seperti nausea, unease, anoreksia, hipersalivasi, menelan dan retching. Vomitus atau bahan yang dimuntahkan biasanya mempunyai pH rendah (asam) karena bercampur asam lambung, berwarna hijau karena bercampur empedu, bahan pakan yang sudah tercerna sebagian, pakan yang sudah tercerna, bercak darah atau bercampur darah segar atau darah yang terdigesti. Waktu terjadinya muntah sangat bervariasi namun jarang sekali terjadi dengan cepat setelah makan.

5. Apa yang dimaksud vomit projektil ? Sebutkan contoh penyakitnya ! Vomit projektil / muntah proyektil adalah suatu kondisi tiba-tiba dan sesaat yang terjadi ketika sistem pencernaan memutuskan segera harus membersihkan atau mengeluarkan isi perut dari dalam tubuh. Muntah proyektil tidak hanya tak terduga dan tak terkendali, tetapi tidak mengejutkan dan juga cukup nyaman.

Arti Tidak seperti muntah pada umumnya, muntah proyektil terjadi tanpa peringatan tubuh tidak akan memberikan gejala khas seperti mual, tetapi sebaliknya akan bereaksi tiba-tiba, menyebabkan muntah proyektil yang tidak terkendali. Dalam keadaan tertentu, muntah proyektil singkat, namun jika kondisi tersebut terus berlangsung (terlepas dari usia), mungkin menunjukkan kesehatan masalah yang serius. Gejala Muntah proyektil ditandai sebagai muntah parah. Sesekali muntah proyektil tidak bisa dilihat sebagai masalah kesehatan, jika muntah terus menerus, dapat menjadi perhatian medis serius. Konsistensi muntah proyektil dapat menyebabkan dehidrasi dan sinyal kondisi medis yang serius. Kemungkinan Penyebab: Benda Asing Sebuah benda asing baik bersarang di tenggorokan atau di perut hewan dapat menyebabkan muntah. Dalam beberapa kasus, benda asing dapat dihilangkan tanpa operasi. Kemungkinan Penyebab: Racun Muntah proyektil dapat menjadi penyebab dari hewan yang menelan racun atau makanan busuk. Jika racun atau makanan tidak dikeluarkan, dapat terus meracuni hewan tersebut. Kemungkinan Penyebab: Pertumbuhan Spurts Pertumbuhan spurts dapat menyebabkan muntah proyektil. Hal ini karena lonjakan pertumbuhan mendadak yang dapat menyebabkan perut menjadi tidak enak atau kelebihan asam lambung. Selain itu, keinginan anak anjing/kucing untuk cepatcepat melahap makanan, bisa mengganggu perutnya dan menyebabkan muntah terus menerus. Contoh Penyakit Contoh Penyakit Vomit Projektil: IBD (Inflammatory Bowel Disease), Gastric Reflux, Food Allergy, Keracunan, Penyakit Neurologis.

6. Sebutkan dan jelaskan beberapa penyakit dental, kelenjar saliva, rongga mulut, oesophagus dan lambung a. Penyakit dental Pada penyakit dental biasanya penyakit diawali dengan bau tidak enak atau tidak sedap pada hewan peliharaan. Dapat diperiksa dengan mengangkat bibir dan membau bagaimana bau nafas hewan peliharaan yang diperiksa. Jika hewan peliharaan memiliki napas mengerikan ini merupakan indikator awal dan sensitif bahwa bakteri sedang berlabuh di mulut. Dari yang sangat ringan yaitu diawali dengan penumpukan kalkulus gigi sehingga nafas mulai berbau busuk.

Penyakit gusi : Penyakit gusi mengacu pada peradangan pada jaringan lunak (gusi) dan hilangnya secara abnormal tulang yang mengelilingi dan memegang gigi di tempatnya. Penyakit gusi disebabkan oleh racun yang dikeluarkan oleh bakteri tertentu dalam "plak" yang menumpuk dari waktu ke waktu sepanjang dan di bawah garis gusi. Plak ini adalah campuran dari makanan, air liur, dan bakteri. Gejala awal penyakit gusi ini adalah berdarahnya gusi tanpa rasa sakit. Jika timbul rasa nyeri maka ini menandakan gejala penyakit gusi sudah lebih parah sebagai akibat dari hilangnya tulang di sekitar gigi dan mengarah pada pembentukan kantong gusi dalam. Bakteri dalam kantong menyebabkan infeksi gusi, bengkak, nyeri, dan kerusakan tulang lebih lanjut. Penyakit gusi tingkat lanjut dapat menyebabkan tanggalnya gigi yang sehat.

Gigi kalkulus : Kalkulus adalah pengerasan plak atau disebut dengan istilah mineralisasi dan kemudian mengikis jaringan gingival, merupakan deposito kuning atau coklat, terutama di dekat gusi anjing atau kucing mengunyah sebagian makanan mereka, dengan kalkulus digosok dari ujung gigi Kalkulus penuh dengan bakteri. Bakteri mengeluarkan racun yang terus menggerogoti ligamentum peridontal yang memegang gigi di gusi. Ini ditandai dengan adanya iritasi di garis merah dan pembulatan sedikit pada gusi yang memenuhi gigi. Bila ligamentemum mengalami penghancuran dan

berlanjut melebihi garis gusi terbentuk "kantong". Partikel makanan masuk ke dalam kantong dan membawa akumulasi kalkulus dan infeksi yang lebih parah. Kemudian, berisi nanah sehingga abses dapat terbentuk. Akhirnya, seluruh akar terinfeksi dan ligamentum peridontal dihancurkan sehingga memungkinkan gigi rontok atau hilang.

Abses gigi pengumpulan nanah yang telah menyebar dari sebuah gigi ke jaringan di sekitarnya, biasanya berasal dari suatu infeksi.

b. Penyakit pada rongga mulut dan kelenjar saliva Stomatitis Stomatitis adalah inflamasi pada mukosa mulut. Stomatitis bisa terjadi akibat factor lokal atau sistemik. Stomatitis lebih merupakan suatu gejala dibanding bentuk penyakit spesifik. Penyebab Degeneratif Anatomis (kongenital) Maloklusi, retensi gigi susu (decidua), cleft palatum (primer, sekunder). Metabolik Uremia, diabetes mellitus, hipoparatiroidism Nutrisional Malnutrisi protein, malnutrisi kalori, hipervitaminosis A (kucing) Neoplastik Malignant melanoma, squamous cell carcinoma, fibrosarcoma Infeksius Bakterial Penyakit periodontal, Ulceromembranous stomatitis karena Fusobacterium dan Spirocheta, Actinomyces, Nocardia, Mycobacterium leprae, Leptospira spp. Mikotik

Candida albican, Aspergillus dan Penicillinum (sebaran dari rongga hidung), Blastomycosis, Histoplasmosis. Viral Feline viral rhinotracheitis, Feline calicivirus, Feline leukemia virus, Feline immunodeficiency virus, Feline infectious peritonitis, Feline panleukopenia, Canine distemper. Imunologis Reaksi hipersensitif Induksi obat (toxic epidermal necrolysis), gigitan serangga. Penyakit autoimun Pemphigus vulgaris, Bullous pemphigoid, systemic lupus erythematosus, dyscoid lupus erythematosus Traumatik Laserasi, lesi Cheek-chewers, tersengat listrik, benda asing (tulang, kawat), gigitan ular Idiopathic Eosinophilic granulomatous, vasculitis. Toksik Bahan kimia iritan, kemoterapi, krisoterapi, Racun (difenbachia, thallium) Patofisiologi Lokasi dan keparahan penyakit bergantung pada penyebab. Pada kasus infeksi bakteri sekunder, gejala klinis lebih buruk. Gejala Klinis Halitosis, rasa sakit, mulut terbuka anoreksia, hipersalivasi. Perdarahan dari gusi atau mulut. Inflamasi atau ulserasi pada rongga mulut. Akumulasi palque atau tartar. Diagnosis Pemeriksaan laboratorium membantu untuk mendeteksi penyakit sistemik. Kultur bakteri atau fungi. Uji imunologis, serologi. Serum protein elektroforesis.

Toksikologi. Radiografi membantu melihat adanya abnormalitas dental atau tulang.

Salivary Mucocele Salivary mucocele dikenal juga dengan sebutan sublingual gland and diet injury. Salivary mucocele adalah pengumpulan mukus saliva yang disebabkan buntunya saluran saliva atau kerusakan jaringan saliva akibat inflamasi. Salivary mucocele ini dapat terjadi pada anjing dan kucing. Bangsa anjing yang sering menderita adalah AGJ dan Poodle (toy, miniatur). Tidak ada kecenderungan terhadap jenis kelamin dan masih belum ada laporan yang bersifat heriditer.

Penyebab Penyebab terjadinya salivary mucocele bermacam-macam. Traumatik dapat terjadi akibat penetrasi benda asing atau gigitan. Sebab inflamasi biasanya berupa sialoadenitis atau adanya benda asing. Sedangkan sebab sekunder, biasanya berasal dari carnassial abcess atau neoplasia. Gejala Gejala yang tampak bervariasi, berdasarkan tingkat keparahan dan lokasi lesi. Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva yang sering terkena. Kadang ditemukan rasa sakit, kadang tidak. Hewan bisanay akan mengalami disfagia, anoreksia, stridor hemoragi atau dispnea. Diagnosis Bedakan salivary mucocele dengan sialoadenitis, sialolith, neoplasia, congenital bronchial cleft cyst atau lymphoadenopathy. Diagnosis dapat ditegakkan dengan FNA (fine needle aspiration), biopsi atau sialografi. Uji hematologi biasnya normal kecuali bila disertai inflamasi akan tampak perubahan leukogram. Hasil FNA biasanya ditemukan warna grey gold dan mukus disertai bercak darah. Pewarnaan mukus spesifik dapat membantu (Periodik Acid Schiff).

c. Penyakit pada esophagus Divertikulum Oesophagus Suatu kondisi dimana esofagus mengalami ketidaknormalan anatomis, pembesaran atau dilatasi sehinga terjadi ruang tempat berkumpul atau akumulasi ingesta. Kondisi ini terbagi menjadi dua katagori bergantung penyebab. Pulsi divertikulum suatu divertikulum yang sesungguhnya yang berkaitan dengan tekanan intraluminal yang tinggi menyebabkan herniasi pada muskosa muskularis. Secara histologis sisa jaringan berupa epitelium dan jaringan ikat. Divertikulum traksi disebabkan tarikan dari luar pada jaringan ikat esofagus dan keempat lapisan penyusunnya (mukosa, submukosa, muskularis dan adventitia) masih tetap ada. Sebanyak 50-70% divertikulum (terutama pulsi) berkaitan dengan lesi yang lain dari esofagus atau diafragma. Kasus ini sering ditemukan pada anjing atau kucing, baik kongenital atau perolehan. Tidak ada predisposisi pada bangsa tertentu. Megaesophagus Penyakit ini dikenal juga dengan achalasia, yaitu terjadinya dilatasi esophagus dan hipomotilitas. Gangguan tersebut dapat terjadi akibat gangguan primer atau sekunder. Gangguan sekunder bisa akibat dari obstruksi atau disfungsi neuromuscular Congenital idiopathic megaesophagus is menurun pada anjing Wire-haired fox terriers (simple autosomal recessive) dan Miniature schnauzers (simple autosomal dominant atau 60% penetrance autosomal recessive). Lebih sering terjadi pada anjing dibandingkan kucing. Familial predispossi terjadi pada German shepherd, Newfoundland, Great dane, Irish setter, Sharpei, Pug, Greyhound, and kucing Siamese. Congenital megaesophagus dengan gejala regurgitasi pertama kali tampak pada saat sapih. Sedangkan bentuk dapatan sering terjadi pada anjing muda hingga pertengahan umur.

d. Penyakit pada lambung Gastritis Akut Gastritis akut adalah inflamasi pada gaster atau lambung yang ditandai dengan vomit kurang dari 7 hari, dan tidak menunjukkan gejala-gejala yang lain. Penyakit ini dapat

terjadi pada semua anjing dari segala umur. Hewan muda biasanya mengalami masalah karena mengingesti benda asing. Penyebab Gastrik Diet (makan basi, perubahan pakan mendadak, toksin bakterial, alergi, diet lemak tinggi pada hewan muda), ingesti benda asing, tanaman, obat (NSAID) aspirin, phenylbutazone, ibuprofen, glukokortikoid, agen infeksius (viral, bakterial), parasit. Non gastrik Gagal ginjal, penyakit hepar, sepsis, shock, stress, hipoadrenokortisism, penyakit neurologis. Patofisiologi Mukosa lambung mengalami perusakan yang selanjutnya memicu infiltrasi sel-sel radang ke lamina propria dan berpotensi menyebabkan erosi superfisial lambung. Gejala Klinis Vomit adalah gejala yang utama, biasanya segera pulih dalam 24-48 jam setelah penyebab dihilangkan. Hewan mungkin anoreksia, depresi, kadang disertai rasa sakit di abdomen. Retching atau vomit mungkin terjadi saat dipalpasi abdomen. Derajat dehidrasi bervariasi. Umumnya pemeriksaan fisik tidak menunjukkan banyak perubahan. Gejala sistemik akan ditemukan bila gastritis merupakan gejala sekunder akibat penyakit lain .

Gastritis Kronis Vomit intermiten lebih dari 1-2 minggu. Gastrik ulserasi atau erosi mungkin terjadi bergantung pada penyebab dan durasi. Anjing yang menderita umumnya berumur tua, breed kecil, dan kelamin jantan (Lhasa apso, Shih Tzu, Miniatur poodle).

Penyebab Lihat gastritis akut dan gastrik ulserasi dan erosi. Faktor risiko penyakit ini adalah pemberian NSAID, glukokortikoid. Lingkungan sehingga hewan memakan benda asing atau bahan lain. Memakan pakan atau antigen yang menyebabkan alergi atau intoleran. Patofisiologi Iritasi kronis pada mukosa gastrik terjadi akibat respon inflamasi pada mukosa yang meluas hingga lapisan submukosa. Gastritis kronis sekunder terjadi akibat respon imun atau alergi yang berhubungan dengan stimulasi antigenik kronis. Gejala Klinis Vomitus biasanya berwarna hijau (bercampur empedu) dan berisi pakan yang belum tercerna, ada bercak darah, atau darah yang terdigesti (coffe grounds). Frekuensi bervariasi secara intermiten (beberapa hari hingga minggu) dan biasanya semakin parah (progresif). Kondisi tersebut diperparah dengan stimulasi makan atau minum. Gejala yang lain adalah berat badan turun, anoreksia, melena dan diare.

Gastrik Ulserasi dan Erosi Gastrik erosi adalah terjadinya lesi erosi superfisial pada mukosa lambung, dan dapat meluas hingga lapisan muskularis mukosa. Faktor risiko adalah pemberian obat NSAID, glukokortikoid. Pada hewan dewasa atau tua biasanya karena neoplasia.

Penyebab Gastrik ulserasi dan erosi dapat terjadi karena pemberian obat (NSAID, glukokortikoid), penyakit metabolik (penyakit hepar, ginjal atau hipoadrenokortisism), Stress, Benda asing, Neoplasia, Helicobacter pylori, Gastritis (Lymphocytic/plasmacytic gastroenteritis, eosinophilic gastroenenteritis). Gejala Klinis Asipmtomatis pada beberapa penderita. Gejala yang tampak adalah hematemesis. Vomit dengan vomitus ditemukan bercak darah atau tidak. Melena, anoreksia, rasa sakit

abdominal. Membrana mukosa pucat dan lemah (bila terjadi anemia). Oedema (jika terjadi hipoproteinemia), depresi, kolaps, mati mendadak (perforasi gastrik). Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perforasi gaster, kekurangan darah, sepsis dan encephalohepatik jika disertai gangguan hepar.

Gastric Dilation / Volvulus Syndrome Gastric dilation dan volvulus syndrome (GDV) adalah suatu sindroma pada anjing dimana lambung mengalami distensi dan berputar atau melintir atau torsio sehingga menimbulkan perubahan patologi kompleks lokal atau sistemik dan perubahan fisiologis. Umumnya anjing tengah umur hingga tua yang sering menderita GDV. Sedangkan bangsa anjing yang sering menderita adalah anjing besar dengan postur dada lebar dan dalam seperti Herder, Great dane, Rottweiller, Labrador retriever, Alaskan malamute, Saint Bernard.

Penyebab Penyebab terjadi gastrik dilation adalah adanya obstruksi aliran pilorus, abnormalitas myoelektrik gastrik, gerakan lambung setelah mengingesti pakan atau air, aerofagia. Faktor risiko adalah aktifitas menelan makan atau air dalam jumlah besar dan aktifitas berat serta stress. Gejala Klinis Hewan biasanya mengalami retching non produktif, hipersalivasi, depresi, lemah dan distensi abdomen yang progresif. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya takikardia, timpani abdomen bagian depan, takipnea, gejala hipovolemik shock (pulsus lemah, CRT lambat, membrana mukosa pucat), temperatur rectal bervariasi.